Anda di halaman 1dari 25

Tugas kelompok

KEPERAWATAN MATERNITAS ASUHAN KEPERAWATAN NEONATUS HIPERBILIRUBIN HIPERBILIRUBIN

Disusun oleh: AHMAD SAYUTI ANDI BATARI OLA 70300111003 70300111008 008

AULYA KARTINI DG. KARRA 70300111013 ERNAWATI FITRIANI HARTINA IRWAN HADI WIRAWAN KHUMAIRAH 70300111018 70300111024 70300111030 70300111036 70300111040 040

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UIN ALAUDDIN MAKASSAR 2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah di berikan kepada saya selaku makhluk ciptaan-Nya sehingga Asuhan Keperawatan Neonatus Hiperbilirubin ini dapat saya selesaikan sesuai dengan waktu yang telah di tentukan. Dan tak lupa kami kirimkan shalawat dan salam kepada Nabiullah Muhammad SAW sebagai sang pembawa kebenaran dimuka bumi ini serta para sahabat-sahabatnya. Dan tidak lupa pula saya ucapkan terima kasih kepada ibu telah membimbing saya dalam menyelesaikan makalah ini serta teman-teman yang turut berpartisipasi. Namun kami menyadari bahwa ini masih jauh dari kesempurnaan maka dari itu saya mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk penyempurnaan laporan ini. Dan semoga bermanfaat bagi kita semua dan mendapat pahala di sisi Allah SWT. Amin.

Samata, 02 Desember 2013

Kelompok III

DAFTAR ISI HAL HALAMAN JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang B. Tujuan penulisan BAB II TINJAUAN TEORI A. B. C. D. E. F. G. H. I. Pengertian Klasifikasi Etiologi Manifestasi klinis Patofisiologi Pemeriksaan penunjang komplikasi Penatalaksanaan Pencegahan 3 3 5 5 6 7 9 9 11 1 2 i ii

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian B. Diagnosa keperawatan C. Intervensi keperawatan BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA 21 21 13 13 14

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Salah satu keadaan yang menyerupai penyakit hati yang terdapat pada bayi baru lahir adalah terjadinya hiperbillirubinemia yang merupakan salah satu kegawatan pada bayi baru lahir karena dapat menjadi penyebab gangguan tumbuh kembang bayi. Kelainan ini tidak termasuk kelompok penyakit saluran pencernaan makanan, namun karena kasusnya banyak dijumpai maka harus dikemukakan. Kasus ikterus ditemukan pada ruang neonatus sekitar 60% bayi aterm dan pada 80 % bayi prematur selama minggu pertama kehidupan. Ikterus tersebut timbul akibat penimbunan pigmen bilirubin tak terkonjugasi dalam kulit. Bilirubin tak terkonjugasi tersebut bersifat

neurotoksik bagi bayi pada tingkat tertentu dan pada berbagai keadaan. Ikterus pada bayi baru lahir dapat merupakan suatu gejala fisiologis atau patologis. Ikterus fisiologis terdapat pada 25-50% neonatus cukup bulan dan lebih tinggi lagi pada neonatus kurang bulan sebesar 80%. Ikterus tersebut timbul pada hari kedua atau ketiga, tidak punya dasar patologis, kadarnya tidak membahayakan, dan tidak menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologis adalah ikterus yang punya dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang disebut

hiperbilirubinemia. Dasar patologis yang dimaksud yaitu jenis bilirubin, saat timbul dan hilangnya ikterus, serta penyebabnya.

Neonatus yang mengalami ikterus dapat mengalami komplikasi akibat gejala sisa yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan

perkembangannya. Oleh sebab itu perlu kiranya penanganan yang intensif untuk mencegah hal-hal yang berbahaya bagi kehidupannya dikemudian hari. Perawat sebagai pemberi perawatan sekaligus pendidik harus dapat memberikan pelayanan yang terbaik dengan berdasar pada ilmu pengetahuan yang dimilikinya. B. Tujuan penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tinjauan teori dari neonatus hiperbilirubin dan asuhan keperawatan dari mola hedatidosa.

BAB II TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana kadar bilirubin dalam darah melebihi batas atas nilai normal bilirubin serum. Hiperbilirubin adalah suatu keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus. Hiperbilirubin adalah kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tertentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus ditandai joudince pada sclera mata, kulit, membrane mukosa dan cairan tubuh. Hiperbilirubin adalah peningkatan kadar bilirubin serum

(hiperbilirubinemia) yang disebabkan oleh kelainan bawaan, juga dapat menimbulkan ikterus. Hiperbilirubinemia adalah kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek pathologis. B. KLASIFIKASI 1. Ikterus prehepatik Disebabkan oleh produksi bilirubin yang berlebihan akibat hemolisis sel darah merah. Kemampuan hati untuk melaksanakan konjugasi terbatas terutama pada disfungsi hati sehingga

menyebabkan kenaikan bilirubin yang tidak terkonjugasi.

2. Ikterus hepatic Disebabkan karena adanya kerusakan sel parenkim hati. Akibat kerusakan hati maka terjadi gangguan bilirubin tidak terkonjugasi masuk ke dalam hati serta gangguan akibat konjugasi bilirubin yang tidak sempurna dikeluarkan ke dalam doktus hepatikus karena terjadi retensi dan regurgitasi. 3. Ikterus kolestatik Disebabkan oleh bendungan dalam saluran empedu sehingga empedu dan bilirubin terkonjugasi tidak dapat dialirkan ke dalam usus halus. Akibatnya adalah peningkatan bilirubin terkonjugasi dalam serum dan bilirubin dalam urin, tetapi tidak didaptkan urobilirubin dalam tinja dan urin.

4. Ikterus neonatus fisiologi Terjadi pada 2-4 hari setelah bayi baru lahir dan akan sembuh pada hari ke-7. penyebabnya organ hati yang belum matang dalam memproses bilirubin 5. Ikterus neonatus patologis Terjadi karena factor penyakit atau infeksi. Biasanya disertai suhu badan yang tinggi dan berat badan tidak bertambah. C. ETIOLOGI 1. Pembentukan bilirubin yang berlebihan. 2. Gangguan pengambilan (uptake) dan transportasi bilirubin dalam hati 3. Gangguan konjugasi bilirubin. 4. Penyakit Hemolitik, yaitu meningkatnya kecepatan pemecahan sel darah merah. Disebut juga ikterus hemolitik. Hemolisis dapat pula timbul karena adanya perdarahan tertutup. 5. Gangguan transportasi akibat penurunan kapasitas pengangkutan, misalnya Hipoalbuminemia atau karena pengaruh obat-obatan tertentu. 6. Gangguan fungsi hati yang disebabkan oleh beberapa mikroorganisme atau toksin yang dapat langsung merusak sel hati dan sel darah merah seperti : infeksi toxoplasma. Siphilis. D. MANIFESTASI KLINIS 1. Kulit berwarna kuning sampe jingga 2. Pasien tampak lemah

3. Nafsu makan berkurang 4. Refleks hisap kurang 5. Urine pekat 6. Perut buncit 7. Pembesaran lien dan hati 8. Gangguan neurologik 9. Feses seperti dempul 10. Kadar bilirubin total mencapai 29 mg/dl. 11. Terdapat ikterus pada sklera, kuku/kulit dan membran mukosa. a. Jaundice yang tampak 24 jam pertama disebabkan penyakit hemolitik pada bayi baru lahir, sepsis atau ibu dengan diabetk atau infeksi. b. Jaundice yang tampak pada hari ke 2 atau 3 dan mencapai puncak pada hari ke 3-4 dan menurun hari ke 5-7 yang biasanya merupakan jaundice fisiologi. E. PATOFISIOLOGI Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan. Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia. Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar protein berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan lain yang

memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu bilirubin akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan pada bilirubin indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi di otak disebut kernikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kadar bilirubin indirek lebih dari 20mg/dl. Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila bayi terdapat keadaan berat badan lahir rendah, hipoksia, dan hipoglikemia. (Markum, 1991) F. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan bilirubin serum a. Pada bayi cukup bulan, bilirubin mencapai kurang lebih 6mg/dl antara 2-4 hari setelah lahir. Apabila nilainya lebih dari 10mg/dl tidak fisiologis. b. Pada bayi premature, kadar bilirubin mencapai puncak 10-12 mg/dl antara 5-7 hari setelah lahir. Kadar bilirubin yang lebih dari 14mg/dl tidak fisiologis.

2. Pemeriksaan radiology Diperlukan untuk melihat adanya metastasis di paru atau peningkatan diafragma kanan pada pembesaran hati, seperti abses hati atau hepatoma 3. Ultrasonografi Digunakan untuk membedakan antara kolestatis intra hepatic dengan ekstra hepatic.

4. Biopsy hati Digunakan untuk memastikan diagnosa terutama pada kasus yang sukar seperti untuk membedakan obstruksi ekstra hepatic dengan intra hepatic selain itu juga untuk memastikan keadaan seperti hepatitis, serosis hati, hepatoma. 5. Peritoneoskopi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. 6. Laparatomi Dilakukan untuk memastikan diagnosis dan dapat dibuat foto dokumentasi untuk perbandingan pada pemeriksaan ulangan pada penderita penyakit ini. G. KOMPLIKASI 1. Retardasi mental - Kerusakan neurologis 2. Gangguan pendengaran dan penglihatan 3. Kematian. 4. Kernikterus H. PENATALAKSANAAN 1. Tindakan umum Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) pada waktu hamil Mencegah truma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikhterus, infeksi dan dehidrasi.

Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir. Imunisasi yang cukup baik di tempat bayi dirawat. 2. Tindakan khusus Fototerapi Dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbilirubin patologis dan berfungsi untuk menurunkan bilirubin dalam kulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto. 3. Pemberian fenobarbital Mempercepat konjugasi dan mempermudah ekskresi. Namun pemberian ini tidak efektif karena dapat menyebabkan gangguan metabolic dan pernafasan baik pada ibu dan bayi.

Memberi substrat yang kurang untuk transportasi/ konjugasi misalnya pemberian albumin karena akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstravaskuler ke vaskuler sehingga bilirubin lebih mudah Melakukan dikeluarkan dekomposisi dengan bilirubin transfuse dengan tukar. fototerapi

untuk mencegah efek cahaya berlebihan dari sinar yang ditimbulkan dan dikhawatirkan akan merusak retina. Terapi ini juga digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin serum pada neonatus dengan hiperbilirubin jinak hingga moderat. 4. Terapi transfuse digunakan untuk menurunkan kadar bilirubin yang tinggi.

5. Terapi obat-obatan misalnya obat phenorbarbital/luminal untuk meningkatkan

bilirubin di sel hati yang menyebabkan sifat indirect menjadi direct, selain itu juga berguna untuk mengurangi timbulnya bilirubin dan mengangkut bilirubin bebas ke organ hari. I. PENCEGAHAN Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan: 1. Pengawasan antenatal yang baik 2. Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi dan masa kehamilan dan kelahiran, contoh :sulfaforazol, novobiosin, oksitosin. 3. Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus. 4. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus. 5. Imunisasi yang baik pada bayi baru lahir

6. Pemberian makanan yang dini. 7. Pencegahan infeksi.

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian 1. Riwayat orang tua: Ketidakseimbangan golongan darah ibu dan anak seperti Rh, ABO, Polisitemia, Infeksi, Hematoma, Obstruksi Pencernaan dan ASI. 2. Pemeriksaan Fisik: Kuning, Pallor Konvulsi, Letargi, Hipotonik, menangis melengking, refleks menyusui yang lemah, Iritabilitas. 3. Pengkajian Psikososial: Dampak sakit anak pada hubungan dengan orang tua, apakah orang tua merasa bersalah, masalah Bonding, perpisahan dengan anak. 4. Pengetahuan Keluarga meliputi: Penyebab penyakit dan pengobatan, perawatan lebih lanjut, apakah mengenal keluarga lain yang memiliki yang sama, tingkat pendidikan, kemampuan mempelajari Hiperbilirubinemia (Cindy Smith

Greenberg. 1988) B. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Risiko/defisit volume cairan berhubungan dengan tidak adekuatnya intake cairan, serta peningkatan Insensible Water Loss (IWL) dan defikasi sekunder fototherapi. 2. Risiko/gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi.

3. Risiko hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi. 4. Gangguan parenting (perubahan peran orang tua) berhubungan dengan perpisahan dan penghalangan untuk gabung. 5. Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. 6. Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi 7. Risiko tinggi komplikasi (trombosis, aritmia, gangguan elektrolit, infeksi) berhubungan dengan tranfusi tukar. C. INTERVENSI KEPERAWATAN DX 1: Risiko/defisit volume cairan b/d tidak adekuatnya intake cairan serta peningkatan IWL dan defikasi sekunder fototherapi Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi deficit volume cairan dengan kriteria : 1. Jumlah intake dan output seimbang 2. Turgor kulit baik, tanda vital dalam batas normal 3. Penurunan BB tidak lebih dari 10 % BB

Intervensi: 1. Kaji reflek hisap bayi Rasional: mengetahui kemampuan hisap bayi 2. Beri minum per oral/menyusui bila reflek hisap adekuat Rasional: menjamin keadekuatan intake 3. Catat jumlah intake dan output , frekuensi dan konsistensi faeces Rasional: mengetahui kecukupan intake.

4. Pantau turgor kulit, tanda- tanda vital ( suhu, HR ) setiap 4 jam Rasional: turgor menurun, suhu meningkat HR meningkat adalah tanda-tanda dehidrasi. 5. Timbang BB setiap hari Rasional: mengetahui kecukupan cairan dan nutrisi. DX 2: Risiko/hipertermi berhubungan dengan efek fototerapi Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi hipertermi dengan kriteria suhu aksilla stabil antara 36,5-37 0 Intervensi: 1. Observasi suhu tubuh ( aksilla ) setiap 4 - 6 jam Rasional: suhu terpantau secara rutin. 2. Matikan lampu sementara bila terjadi kenaikan suhu, dan berikan kompres dingin serta ekstra minum. Rasional: mengurangi pajanan sinar sementara. 3. Kolaborasi dengan dokter bila suhu tetap tinggi 4. Memberi terapi lebih dini atau mencari penyebab lain dari hipertermi. DX 3: Risiko/Gangguan integritas kulit berhubungan dengan ekskresi bilirubin, efek fototerapi. Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria:

1. Tidak terjadi decubitus 2. Kulit bersih dan lembab Intervensi: 1. Kaji warna kulit tiap 8 jam Rasional: mengetahui adanya perubahan warna kulit. 2. Ubah posisi setiap 2 jam Rasional: mencegah penekanan kulit pada daerah tertentu dalam waktu lama . 3. Masase daerah yang menonjol Rasional: melancarkan peredaran darah sehingga mencegah luka tekan di daerah tersebut. 4. Jaga kebersihan kulit bayi dan berikan baby oil atau lotion pelembab Rasional: mencegah lecet. 5. Kolaborasi untuk pemeriksaan kadar bilirubin, bila kadar bilirubin turun menjadi 7,5 mg% fototerafi dihentikan Rasional: untuk mencegah pemajanan sinar yang terlalu lama DX 4: Gangguan parenting ( perubahan peran orangtua) berhubungan dengan perpisahan dan penghalangan untuk gabung. Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan orang tua dan bayi menunjukan tingkah laku Attachment , orang tua dapat mengekspresikan ketidak mengertian proses Bounding.

Intervensi : 1. Bawa bayi ke ibu untuk disusui Rasional: mempererat kontak sosial ibu dan bayi. 2. Buka tutup mata saat disusui Rasional: untuk stimulasi sosial dengan ibu 3. Anjurkan orangtua untuk mengajak bicara anaknya Rasional: mempererat kontak dan stimulasi sosial 4. Libatkan orang tua dalam perawatan bila memungkinkan Rasional: meningkatkan peran orangtua untuk merawat bayi. 5. Dorong orang tua mengekspresikan perasaannya Rasional: mengurangi beban psikis orangtua DX 5: Kecemasan meningkat berhubungan dengan therapi yang diberikan pada bayi. Tujuan: Setelah diberikan penjelasan selama 2x15 menit diharapkan orang tua menyatakan mengerti tentang perawatan bayi hiperbilirubin dan kooperatif dalam perawatan. Intervensi : 1. Kaji pengetahuan keluarga tentang penyakit pasien Rasional: mengetahui tingkat pemahaman keluarga tentang penyakit 2. Beri pendidikan kesehatan penyebab dari kuning, proses terapi dan perawatannya. Rasional: Meningkatkan pemahaman tentang keadaan penyakit

3. Beri pendidikan kesehatan mengenai cara perawatan bayi dirumah Rasional: meningkatkan tanggung jawab dan peran orang tua dalam erawat bayi DX 6: Risiko tinggi injury berhubungan dengan efek fototherapi Tujuan: Setelah diberikan tindakan perawatan selama 3x24 jam diharapkan tidak terjadi injury akibat fototerapi (misal; konjungtivitis, kerusakan jaringan kornea) Intervensi: 1. Tempatkan neonatus pada jarak 40-45 cm dari sumber cahaya Rasional: mencegah iritasi yang berlebihan. 2. Biarkan neonatus dalam keadaan telanjang, kecuali pada mata dan daerah genetal serta bokong ditutup dengan kain yang dapat memantulkan cahaya usahakan agar penutup mata tidak menutupi hidung dan bibir. Rasional: mencegah paparan sinar pada daerah yang sensitif. 3. Matikan lampu, buka penutup mata untuk mengkaji adanya konjungtivitis tiap 8 jam. Rasional: pemantauan dini terhadap kerusakan daerah mata. 4. Buka penutup mata setiap akan disusukan. Rasional: memberi kesempatan pada bayi untuk kontak mata dengan ibu. 5. Ajak bicara dan beri sentuhan setiap memberikan perawatan Rasional: memberi rasa aman pada bayi.

DX 7: Risiko tinggi terhadap komplikasi berhubungan dengan tranfusi tukar Tujuan: Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1x24 jam diharapkan tranfusi tukar dapat dilakukan tanpa komplikasi Intervensi: 1. Catat kondisi umbilikal jika vena umbilikal yang digunakan Rasional: menjamin keadekuatan akses vaskuler. 2. Basahi umbilikal dengan NaCl selama 30 menit sebelum melakukan tindakan. Rasional: mencegah trauma pada vena umbilical. 3. Puasakan neonatus 4 jam sebelum tindakan Rasional: mencegah aspirasi 4. Pertahankan suhu tubuh sebelum, selama dan setelah prosedur Rasional: mencegah hipotermi. 5. Catat jenis darah ibu dan Rhesus memastikan darah yang akan ditranfusikan adalah darah segar. Rasional: mencegah tertukarnya darah dan reaksi tranfusi yang berlebihan. 6. Pantau tanda-tanda vital, adanya perdarahan, gangguan cairan dan elektrolit, kejang selama dan sesudah tranfusi. Rasional: Meningkatkan kewaspadaan terhadap komplikasi dan dapat melakukan tindakan lebih dini.

7. Jamin ketersediaan alat-alat resusitatif Rasional: dapat melakukan tindakan segera bila terjadi kegawatan

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan Hiperbilirubin adalah keadaan icterus yang terjadi pada bayi baru lahir, yang dimaksud dengan ikterus yang terjadi pada bayi baru lahir adalah meningginya kadar bilirubin di dalam jaringan ekstravaskuler sehingga terjadi perubahaan warna menjadi kuning pada kulit,

konjungtiva, mukosa dan alat tubuh lainnya. (Ngastiyah, 2000) Nilai normal: bilirubin indirek 0,3 1,1 mg/dl, bilirubin direk 0,1 0,4 mg/dl. B. Saran Kita sebagai tenaga kesehatan (keperawatan ) harus meningkatkan kualitas pelayanan pada maternal maupun neonatal sehingga dapat mengurangi insiden terjadinya hiperbilirubin.

DAFTAR PUSTAKA Carpenito, L. J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.

Doengoes, M. E. 1999. Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.

Santosa,Budi.2006. Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta: Prima Medika.