Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Dermatofitosis adalah penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut, kuku yang disebabkan oleh golongan jamur dermatofita. Dermatofita termasuk kelas Fungi imperfecti yang terbagi dalam tiga genus, yaitu: Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton. 1 Pembagian dermatofitosis yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit adalah yang berdaraskan lokasi. Dengan demikian dikenal bentuk-bentuk tinea capitis, tinea barbe, tinea cruris, tinea pedis et manum, tinea unguium, tinea corporis.1 Tinea capitis atau infeksi jamur kulit kepala disebabkan oleh Microsporum gypseum (geofilik), Microsporum ferrugineum (antropofilik) dan Trichophyton mentagrophytes (zoofilik yang dijumpai pada hewan kucing, anjing, sapi, kambing, babi, kuda, binatang pengerat dan kera)10.yang menyerang folikel rambut dari kulit kepala dan kulit disekitarnya Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat 1,2 Insiden penyakit ini sepertinya meningkat di Amerika utara dan Eropa. Di Negara seperti Ethopia, dimana akses perawatan medis yang sulit tingkat infeksi telah mencapai lebih dari 25%. Pathogen yang dominan bervariasi sesuai lokasi geografis.5 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis lain di Medan adalah 0,4% (1996 -1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 - 1991) dan Semarang 0,2%.5.Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33% anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. 10 Di dalam klinik tinea kapitis dapat dilihat sebagai tiga bentuk yang jelas adalah Grey patch ringworm, kerion, dan black dot ringworm. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood dan pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH. Diagnosis
1

laboratorium dari dermatofitosis tergantung pada pemeriksaan dan kultur dari kikisan lesi.Infeksi pada rambut ditandai dengan kerusakan yang ditemukan pada pemeriksaan. 1 Ada beberapa penyakit pada kulit kepala yang dapat dijadikan sebagai diagnosa banding tinea kapitis, yaitu alopesia areata rambut bagian pinggir, dermatitis seboroik, trikotilomania. Pengobatan standar tinea kapitis di amerika serikat masih menggunakan grisofulvin, triazole oral (itrakonazole, flukonazol) dan terbinafin merupakan antijamur yang aman, efektif dan memiliki keuntungan karena durasi pengobatan yang lebih pendek.3 Sering kali pada praktek di rumah sakit, manifestasi dari tinea capitis didiagnosa dengan penyakit lain, seperti alopesia areata, dermatitis seboroik, cellulitis, furunkel, karbunkel, folikulitis dan psoriasis. Sehingga hal ini menarik untuk dibahas lebih lanjut.

1.2 Tujuan 1. Mengetahui definisi dari Tinea Capitis 2. Mengetahui faktor predisposisi Tinea Capitis 3. Mengetahui klasifikasi Tinea Capitis 4. Memahami pathogenesis dari bentuk-bentuk tinea capitis 5. Dapat mendiagnosis dan mengelola tinea capitis

BAB II STATUS PASIEN

SUBJEKTIF I. IDENTITAS PASIEN No. RM Nama Usia Jenis Kelamin Tanggal Lahir Agama Alamat Masuk Hari/ Tanggal : 082155 : An. Gasa : 4 tahun 4 bulan : Laki-Laki : 13 Oktober 2008 : Islam : Mertoyudan : Senin, 11 Februari 2013

II. ANAMNESA Dilakukan secara Autoanamnesa di Poli Penyakit Kulit dan Kelamin, Keluhan Utama : gatal pada kulit kepala disertai kebotakan setempat RPS: Keluhan timbul pertama kali berupa benjolan kecil di daerah kulit kepala sebelah kanan sejak 3 minggu lalu, kemudian melebar dan membentuk bercak dan seperti bersisik. Rambut di sekitar nya menjadi keabuan, rapuh, lama-lama terjadi kebotakan setempat di daerah kulit kepala tersebut disertai rasa gatal. RPD: Keluhan ini baru pertama kali pasien alami RPO: Riwayat Imunisasi : Hb0 BCG Polio :+ :+ :+ DPT :+

Campak: +

Riwayat Lingkungan Sekitar: orang-orang sekitar tidak ada yang mengalami hal serupa, sering beraktivitas di luar ruangan, mandi dan mencuci rambut masih berhubungan dengan orangtua.
3

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan umum Kesadaran Tanda-tanda vital - Tekanan darah - Nadi - Suhu - Pernafasan B. Status Lokalis: UKK: papul-papul miliar dan skuama di sekitar muara rambut, tampak alopesia setempat, rambut di sekitar keabuan dan rapuh Lokasi: kulit kepala kanan :: 100x/menit : 36,7C : 30 x/menit : Baik : Compos mentis

IV. DIAGNOSIS BANDING Tinea Kapitis Dermatitis Seboroik Alopesia Areata

V. DIAGNOSA SEMENTARA Tinea Kapitis tipe Grey Patch

VI. PENATALAKSANAAN Non Medikamentosa Menjaga kebersihan rambut Medikamentosa 1. Sistemik : a. Griseofulvin 500 mg 1/3 b. Mebhydrolin napadysilate 50 mg (Lafihistin) Mf pulv IX, 1 dd 2. Topikal : a. Lafinazole cream 10 gr 3x1 b. Ketokonazol Shampo 2% (Ketomed) 2-3x/minggu

Monitoring Observasi efloresensi lesi

BAB II PEMBAHASAN

Pada pasien ini didiagnosis penyakit Tinea Kapitis tipe Gray Patch dikarenakan : Biasanya mengenai anak-anak Umumnya pasien datang dengan keluhan rasa gatal dan rambut mudah patah. Penyakit ini dimulai dengan papul merah kecil di sekitar rambut. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal. Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah yang terserang jamur bisa membentuk alopesia setempat

Diagnosis Banding Pada Pasien ini adalah 1. Dermatitis Seboroik : rambut tampak berminyak, kulit kepala ditutupi skuama yang berminyak. 2. Alopesia Areata : biasanya kulit tampak licin dan berwarna coklat.

Pengobatan yang diberikan antara lain: Non Medikamentosa Menjaga kebersihan rambut Medikamentosa 1. Sistemik : a. Griseofulvin Termasuk fungistatik yang secara invitro memiliki aktivitas terhadap jamurjamur dari species Microsporum, Epidermophyton, dan Trichophyton. Tidak memiliki efek bakteri atau genera lain dari fungi. Ditimbun dalam selsel pembentuk keratin sehingga memperbesar daya tahan kulit terhadap infeksi jamur. Efisiensi penyerapan pada gastrointestinal diperbesar oleh bentuk Kristal yang sangat halus (micronized).

Indikasi

Griseofulvin tablet diindikasikan untuk pengobatan infeksi jamur pada kulit ,rambut dan kuku seperti : - Tinea corporis - Tinea pedis - Tinea cruris - Tinea unguium - Tinea barbae - Tinea capitis

Yang disebabkan oleh salah satu atau lebih genera-genera fungi berikut : - Trichophyton rubrum - Trichophyton tonsurans Trichophyton mentagrophytes - Trichophyton crateriform - Trichophyton sulphureum - Trichophyton schoenleini

- Trichophyton interdigitale - Microsporum audouini - Trichophyton verrucosum - Microsporum canis - Trichophyton magnini - Trichophyton gallinae - Microsporum gypseum - Edidermophyton floccosum

Posologi: o Dewasa : 1 x sehari 500 mg

atau infeksi berat dosis yang dianjurkan 1 gram sehari o Anak-anak : dengan berat badan 15-25 kg : 125-250 mg per hari, dengan berat badan lebih dari 25 kg: 250 - 500 mg per hari. Obat diminum sesudah makan. Pengobatan diterapkan untuk 4-6 minggu untuk tinea capitis, 2-4 minggu untuk tinea corporis,4-8 minggu untuk tinea pedis, 4 bulan untuk tinea unguium (tergantung pada kecepatan pertumbuhan kuku jari tangan ), 6 bulan untuk kuku jari kaki. b. Lafihistin antihistamin generasi ke II G: Mebhydrolin napadisylate I: alergi, rhinitis, urtikaria
7

KI: serangan asma akut, ES: sedasi, gangguan GI, sakit kepala Dosis: 50 mg 2. Topikal Ketokonazol shampo 2% (Ketomed) KETOMED SCALP SOLUTION adalah shampoo paling laris dan ampuh sebagai antimikotik terhadap dermatofitosis seperti: ketombe (Pityriasis Capitis), jamur (Pityriasis Versicolor) atau infeksi ragi (Pityrosporum). Tumbuhnya jamur dan ragi dikepala akibat kurang bersihnya perawatan kulit kepala, jarang menyampoo, cuaca yang lembab dan panas sehingga kulit kepala terinfeksi jamur yang menyebabkan rasa gatal menjengkelkan dan menjadi infeksi. Bila tidak diobati, infeksi tersebut menjadi lebih serius sehingga kulit kepala berkerak, luka, borok dan rambut rontok. Cara kerja farmakologis obat ini adalah mengacaukan kerja membrane sel fungi sehingga tidak mampu berkembang biak lagi. Dosis: KETOMBE Keramas dengan KETOMED Scalp Solution

(Ketockonazole 2 %) sore/malam, sebanyak 2 kali seminggu selama 2 minggu hingga 4 minggu. Di antara selang pemakaian shampoo KETOMED, kulit kepala tetap harus dibersihkan dengan shampoo yang cocok. JAMUR KULIT KEPALA - Keramas dengan KETOMED Scalp Solution (Ketockonazole 2 %) setiap sore/malam selama 5 hari berturut-turut. Cara Pemakaian : Gunakan KETOMED scalp solution (Ketockonazole 2%) untuk mencuci rambut setiap sore/malam. Pijat ringan seluruh kulit kepala, batas rambut, hingga belakang telinga. Diamkan minimal 3 menit maksimal 5 menit lalu bilas hingga bersih. Keringkan rambut dengan handuk biasa. (Tidak menggunakan Hair Dyer). Efek Samping : Gatal, Iritasi, Pedih Lafinazol krim 10 gram : senyawa imidazol yang berkhasiat fungistatis dan pada dosis tinggi bekerja fungisid terhadap fungi tertentu dengan menghambat ergosterol.
8

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit kepala yang disebabkan oleh jamur dermatofit Trichophyton tonsuran dan Microsporum canis yang menyerang folikel rambut dari kulit kepala dan kulit disekitarnya. Tinea kapitis biasanya terjadi terutama pada anak anak, meskipun ada juga kasus pada orang dewasa yang biasanya terinfeksi Trichophyton tonsurans. Tinea kapitis juga dapat dilihat pada orang dewasa dengan AIDS. 2,3,4

2.2 Epidemiologi Insiden penyakit ini sepertinya meningkat di Amerika utara dan Eropa. Di Negara seperti Ethopia, dimana akses perawatan medis yang sulit tingkat infeksi telah mencapai lebih dari 25%. Pathogen yang dominan bervariasi sesuai lokasi geografis. Di Amerika utara dan Inggris jamur antropolitik seperti Trichophiton tonsurans ditemukan pada 90% kasus. Jamur zoofilik seperti Microsporum canis ditemukan di Eropa, terutama di Mediterania dan Eropa tengah.5 Insidens tinea kapitis dibandingkan dermatomikosis lain di Medan adalah 0,4% (1996 1998), RSCM Jakarta 0,61 - 0,87% (1989 - 1992), Manado 2,2 - 6% (1990 - 1991) dan Semarang 0,2%.5.Di Surabaya kasus baru tinea kapitis antara tahun 2001 - 2006 insidennya dibandingkan kasus baru dermatomikosis di Poli Dermatomikosis URJ Kulit dan Kelamin RSU Dr. Soetomo antara 0,31% - 1,55%. Pasien tinea kapitis terbanyak pada masa anak-anak < 14 tahun 93,33% anak laki-laki lebih banyak (54,5%) dibanding anak perempuan (45,5%). Di Surabaya tersering tipe kerion (62,5%) daripada tipe Gray Patch (37,5%). Tipe Black dot tidak diketemukan. 10

2.3 Patogenesis o Infeksi ektotrik (diluar rambut) Infeksinya khas di stratum korneum perifolikulitis, menyebar sekitar batang rambut dan dibatang rambut bawah kutikula dari pertengahan sampai akhir anagen saja3 sebelum turun ke folikel rambut untuk menembus kortek rambut. Hifa-hifa intrapilari kemudian turun ke batas daerah keratin, dimana rambut tumbuh dalam keseimbangan dengan proses keratinisasi, tidak pernah memasuki daerah berinti. Ujung-ujung hifa-hifa
9

pada daerah batas ini disebut Adamsons fringe, dan dari sini hifa-hifa berpolifrasi dan membagi menjadi artrokonidia yang mencapai kortek rambut dan dibawa keatas pada permukaan rambut. Rambut-rambut akan patah tepat diatas fringe tersebut, dimana rambutnya sekarang menjadi sangat rapuh sekali.Secara mikroskop hanya artrokonidia ektotrik yang tampak pada rambut yang patah,walaupun hifa intrapilari ada juga.10 o Infeksi endotrik (didalam rambut) Kurang lebih sama dengan dengan ektotrik kecuali kutikula tidak terkena dan artrokonidia hanya tinggal dalam batang rambut menggantikan keratin intrapilari dan meninggalkan kortek yang intak. Akibatnya rambutnya sangat rapuh dan patah pada permukaan kepala dimana penyanggah dan dinding folikuler hilang meninggalkan titik hitam kecil (black dot). Infeksi endotrik juga lebih kronis karena kemampuannya tetap berlangsung di fase anagen ke fase telogen. 10

2.4 Manifestasi Klinik Ada 3 bentuk klinis tinea kapitis (Rippon, 1970 dan Conant dkk, 1971)1,6 1. Grey patch ringworm Merupakan tinea kapitis yang biasanya disebabkan oleh genus Microsporum dan sering ditemukan pada anak-anak. Umumnya pasien datang dengan keluhan rasa gatal dan rambut mudah patah. Penyakit ini dimulai dengan papul merah kecil di sekitar rambut. Biasanya ada skuama, tetapi keradangan minimal.1,10 Papul ini melebar dan membentuk bercak, yang menjadi pucat dan bersisik. Warna rambut menjadi abu-abu dan tidak berkilat lagi. Rambut mudah patah dan terlepas dari akarnya, sehingga mudah dicabut tanpa rasa nyeri. Semua rambut di daerah yang terserang jamur bisa membentuk alopesia setempat. Tempattempat tersebut terlihat sebagai grey patch. Namun grey patch yang terlihat sebagian tidak menunjukkan batas jelas.1 Seringkali lesinya tampak satu atau beberapa daerah yang berbatas jelas pada daerah oksiput atau leher belakang.10 Kesembuhan spontan biasanya terjadi pada infeksi Microsporum. Ini

berhubungan dengan mulainya masa puber yang terjadi perubahan komposisi sebum dengan meningkatnya asam lemak-lemak yang fungistatik, bahkan asam lemak yang

10

berantai medium mempunyai efek fungistatik yang terbesar. Juga bahan wetting (pembasah) pada shampo merugikan jamur seperti M. audouinii. 11

Gambar 1: Grey Patch Ringworm

2. Kerion Biasanya terlihat pada jamur ektotrik zoofilik (M. canis) atau geofilik (M.gypseum). Merupakan reaksi peradangan yang berat pada tinea kapitis, berupa pembengkakan yang menyerupai sarang lebah dengan sebukan sel radang yang padat disekitarnya. Keradangannya mulai dari folikulitis pustula sampai kerion yaitu pembengkakan yang dipenuhi dengan rambut-rambut yang patah-patah dan lubanglubang folikular yang mengandung pus.
10

Bila penyebabnya Microsporum canis dan

Microsporum gypseum, pembentukan kerion ini lehih sering dilihat. Agak kurang bila penyebabnya Tricophyton tonsurans, dan sedikit sekali bila penyebabnya adalah Tricophyton violaceum. Kelainan ini dapat menimbulkan jaringan parut dan berakibat alopesia yang menetap. Jaringan parut yang menonjol kadang kadang dapat terbentuk.1 Lesi keradangan biasanya gatal dan dapat nyeri, limfadenopati servikal, panas badan dan lesi tambahan pada kulit halus.10

11

Gambar 2: Kerion

3. Black dot ringworm Terutama disebabkan oleh Trichophyton tonsurans dan Tricophyton violaceum. Gambaran klinisnya menyerupai kelainan yang disebabkan oleh genus Microsporum. Rambut yang terkena infeksi mudah patah, tepat pada muara folikel dan yang tertinggal adalah ujung rambut yang penuh spora. Ujung rambut yang hitam di dalam folikel rambut ini member gambaran khas yaitu black dot. Ujung rambut yang patah, kalau tumbuh kadang kadang masuk ke bawah permukaan kulit. Dalam hal ini perlu dilakukan irisan kulit untuk mendapat bahan biakan jamur.1 Biasanya disertai skuama yang difus, tetapi keradangannya bervariasi dari minimal sampai folikulitis pustula atau lesi seperti furunkel sampai kerion. Daerah yang terkena biasanya banyak atau poligonal dengan batas yang tidak bagus, tepi seperti jarijari yang membuka. Rambut-rambut normal biasanya masih ada dalam alopesianya.10

12

Gambar 3: Black Dot Ringworm 4. Favus Favus, atau nama lainnya tinea favosa, adalah suatu infeksi dermatofita kronis yang biasanya disebabkan oleh Trichophyton schoenleinii. Jarang ditemukan favus yang disebabkan oleh Trichophyton violaceum, Trichophyton mentagrophytes var

quinckeanum, or Microsporum gypseum. Favus biasanya menyerang rambut di kepala tapi juga menyerang glabella dan kuku. Causative agent dari favus yang menyerang tikus adalah T.mentagrophytes var quinckeanum, dan juga Trichophyton quinckeanum, yang dapat menyebabkan favus pada manusia walaupun jarang terjadi.13 Favus biasanya dimulai pada scalp, sering terjadi pada masa kanak-kanak dan bertahan disana beberapa tahun tanpa gejala yang berupa plak berkrusta. Berdasarkan tingkat keparahannya, favus dibagi dalam 3 stadium yaitu:

Stadium pertama: hanya tampak eritema di kulit kepala yang terlihat, biasanya disekitar folikel rambut. Rambut tidak rontok ataupun patah.

Stadium kedua: tampak mulainya kerontokan rambut. Stadium ketiga: stadium terparah karena melibatkan area scalp yang luas, kerontokan rambut yang berkepanjangan, strofi dan munculnya jaringan parut. Munculnya scutula baru pada tepi plak sering terjadi. Bentuk khas dari scutulum adalah kerak cangkir berwarna kuning yang

mengelilingi rambut dan menembus pusat. Scutula membentuk plak padat, masingmasing terdiri dari miselia dan puing-puing epidermis. Seringkali, infeksi bakteri
13

sekunder terjadi pada plak. Penghapusan plak meninggalkan basis eritematosa lembab. Massa padat kerak kuning mungkin soliter atau banyak, dan pada pasien yang terkena dampak parah, melibatkan seluruh kulit kepala. Bau biasanya hadir. Kulit berbulu mungkin menunjukkan krusta kuning serupa.13 Pada kulit berbulu, favus adalah letusan papulovesikular dan papulosquamous di mana scutula khas mungkin jelas.Sebagai sebuah onikomikosis, favosa tinea menyerupai bentuk-bentuk tinea unguium.13

Gambar 4: Favus

2.5 Diagnosa Banding 1. Diagnosis banding tinea kapitis grey patch ringworm : o Dermatitis seboroik Dermatitis seboroik dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat-tempat seboroik.
1

Keradangan yang biasanya terjadi pada sebelum usia 1 tahun atau sesudah pubertas yang berhubungan dengan rangsangan kelenjar sebasia. Tampak eritema dengan skuama diatasnya sering berminyak, rambut yang terkena biasanya difus, tidak setempat11. Distribusi umumnya di kepala, leher dan daerah-daerah pelipatan.

14

Dermatitis seboroik yang ringan hanya mengenai kulit kepala berupa skuama yang halus, mulai sebagai bercak kecil kemudian mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama yang halus dan kasar. Rambut pada tempat tersebut mempunyai kecenderungan rontok, mulai di bagian vertex dan frontal. 9 Alopesia sementara dapat terjadi dengan penipisan rambut daerah kepala, alis mata, bulu mata atau belakang telinga. Sering tampak pada pasien penyakit syaraf atau immunodefisiensi.

Gambar 5: Dermatitis Seboroik


o

Alopesia areata Rambut bagian pinggir. Kelainan mula-mula mudah dicabut dari folikel. Tetapi pada rambut yang patah tersebut tidak tampak pangkal yang patah. Selain itu, pada alopesia areata tidak terdapat skuama.1 Beberapa ciri khas alopesia areata dapat dijumpai, misalnya berupa batang rambut tidak berpigmen dengan diameter bervariasi, dan kadang-kadang tumbuh lebih menonjol ke atas (rambut-rambut pendek yang bagian proksimalnya lebih tipis di banding bagian distal sehingga mudah dicabut), disebut exclamation mark hairs atau exclamation point. Hal ini merupakan patognomosis pada alopesia areata. Bentuk lain berupa rambut kurus, pendek dan berpigmen yang disebut black dots.7 Alopesia areata mempunyai tepi yang eritematus pada stadium permulaan, tetapi dapat berubah kembali ke kulit normal. Juga jarang ada skuama dan rambut-rambut pada tepinya tidak patah tetapi mudah dicabut.11,12 Alopesia areata yang difus memberikan gambaran rambut yang tipis,
15

sehingga sulit dibedakan dengan telogen effluvium (kerontokan rambut). Seiring pertumbuhan rambut, rambut yang tumbuh seringkali berwarna putih atau abuabu.7

Gambar 6: Alopesia Areata o Trikotilomania Merupakan kelainan rambut dimana rambut putus tidak tepat pada kulit kepala, daerah kelainannya tidak pernah botak seluruhnya serta batas kelainan tidak tegas.1 Trikotilomania timbul karena penderita setiap kali menarik rambut pada salah satu area, misalnua rambut kepala,alis, kelopak mata, ketiak atau daerah pubis. 8 Trikotilomania merupakan alopesia neurosis. Rambut ditarik berulang kali sehingga putus. Sering terjadi pada gadis yang mengalami depresi8

Gambar 7: Trikotilomania
16

2. Diagnosis banding tinea capitis kerion o Furunkel dan Karbunkel Furunkel adalah infeksi nekrosis akut dari folikel rambut dan daerah sekitarnya yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Jika lebih daripada sebuah disebut furunkolisis. Karbunkel ialah kumpulan dari furunkel. Pasien biasanya mengeluh nyeri. Kelainan berupa nodul eritematosa berbentuk kerucut, ditengahnya terdapat pustule, kemudian melunak menjadi abses yang berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah membentuk fistel. Tempat predileksinya ialah tempat yang banyak friksi, misalnya aksila dan bokong. 1,14

Gambar 8: Furunkel o Folikulitis

Gambar 9: Karbunkel

Folikulitis adalah peradangan pada selubung akar rambut( folikel) yang umumnya di sebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus. Folikulitis timbul sebagai bintik bintik kecil di sekeliling folikel rambut. Sebagian besar infeksi hanya superfisial, yang hanya mempengaruhi bagian atas folikelnya. Biasanya gatal dan jarang menimbulkan keluhan sakit. Folikulitis dapat terjadi hampir pada seluruh tubuh dimana lebih sering terjadi pada kulit kepala, dagu, ketiak dan extremitas. Folikulitis seringkali di awali dengan kerusakan folikel rambut sebagai akibat dari penyumbatan folikel rambut, gesekan pakaian ataupun bercukur. Sekali cedera folikel akan lebih mudah terinfeksi oleh bakteri, ragi, ataupun jamur.1,15,16,17

17

Gambar 10: Penampang kulit yang terkena folikulitis

Folikulitis dapat mengenai semua umur, tetapi lebih sering di jumpai pada anak anak dan folikulitis juga tidak di pengaruhi oleh jenis kelamin. Jadi pria dan wanita memiliki angka resiko yang sama untuk terkena folikulitis, dan folkulitis lebih sering timbul pada daerah panas atau beriklim tropis.1,15,16 Secara umum folikulitis menimmbulkan rasa gatal seperti terbakar pada daerah rambut. Gejala konstitusional yang sedang juga dapat muncul pada folikulitis seperti badan panas, malaise dan mual. Kelainan di kulitnya dapat berupa papul atau pustul yang erimatosa yang dan di tengahnya terdapat rambut dan biasanya multiple serta adanya krusta di sekitar daerah inflamasi. Tempat predileksi biasanya pada tungkai bawah1,15

Gambar 11: Folikulitis

18

3. Diagnosis banding tinea capitis black dot o Psoriasis Psoriasis kepala khas seperti lesi psoriasis dikulit, plak eritematos berbatas jelas dan berskuama lebih jelas dan keperakan diatasnya, dan rambut-rambut tidak patah11. Kepadatan rambut berkurang di plak psoriasis juga meningkatnya menyeluruh dalam kerapuhan rambut dan kecepatan rontoknya rambut telogen. 10% psoriasis terjadi pada anak kurang 10 tahun dan 50% mengenai kepala6 , dan sering lesi psoriasis anak terjadi pada kepala saja, maka kelainan kuku dapat membantu diagnosis psoriasis12

Gambar 12: Psoriasis 2.6 Diagnosis Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood, pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH dan kultur jamur. 1. Gejala Klinis Dipertimbangkan diagnosis tinea capitis bila: Pasien datang dengan kepala berskuama, alopesia, limfadenopati servikal posterior atau limfadenopati aurikuler posterior atau kerion. Juga termasuk pustule atau abses, dissecting cellulitis atau black dot.18 2. Pemeriksaan penunjang o Pemeriksaan Lampu Wood

19

Rambut yang tampak dengan jamur M. Canis, M. audouinii dan M. ferrugineum memberikan fluoresen warna hijau terang oleh karena adanya bahan pteridin1 Jamur lain penyebab tiena capitis pada manusia yang memberikan fluoresen negative (warnanya tetap ungu) yaitu M. gypsium dan spesies Trichophyton (kecuali T. schoenleinii penyebab tinea favosa yang fluoresennya berwarna hijau gelap). Bahan fluoresen diproduksi oleh jamur yang tumbuh aktif di rambut yang terinfeksi1

Gambar 13: Pemeriksaan dengan lampu wood pada daerah gray patch pada kulit kepala. Pada infeksi Microsporum canis, rambut kulit kepala memancarkan fluoresensi hijau. Trichophyton tonsurans tidak berpendar dengan lampu Wood. o Pemeriksaan sediaan KOH Kepala dikerok dengan obyek glas, atau scalpel. Juga kasa basah digunakan untuk mengusap kepala, akan ada potongan pendek patahan rambut atau pangkal rambut dicabut yang ditaruh di obyek glas selain skuama18,19, KOH 20% ditambahkan dan ditutup kaca penutup. Hanya potongan rambut pada kepala, termasuk akar rambut, folikel rambut dan skuama kulit. Skuama kulit akan terisi hifa dan artrokonidia. Yang menunjukkan elemen jamur adalah artrokonidia oleh karena rambut yang lebih panjang mungkin tidak terinfeksi jamur.18 Pada pemeriksaan mikroskop akan tampak infeksi ektotrik yaitu pecahan miselium
20

menjadi konidia sekitar batang rambut atau tepat dibawah kutikula rambut dengan kerusakan kutikula. Pada infeksi endotrik, bentukan artrokonidia yang terbentuk karena pecahan miselium di dalam batang rambut tanpa kerusakan kutikula rambut.1 o Kultur Memakai swab kapas steril yang dibasahi aqua steril dan digosokkan diatas kepala yang berskuama atau dengan sikat gigi steril dipakai untuk menggosok rambut-rambut dan skuama dari daerah luar di kepala atau pangkal rambut yang dicabut langsung ke media kultur. Specimen yang didapat dioleskan di media Mycosel atau Mycobiotic (Sabourraud dextrose agar+khloramfenikol+sikloheksimid) atau Dermatophyte Test Medium (DMT). Perlu 7-10 hari untuk mulai tumbuh jamurnya. Dengan DTM ada perubahan warna merah pada hari 2-3 oleh karena ada bahan fenol di medianya, walau belum tumbuh jamurnya berarti jamur dermatofit positif18,19

2.7 Komplikasi 1. Infeksi sekunder 2. Alopesia sikatrik permanen 3. Kambuh

2.8 Penatalaksanaan Anti jamur sistemik dan topical memiliki beberapa khasiat melawan dermatopit. Infeksi yang melibatkan rambut dan kulit memerlukan antijamur oral untuk menembus dermatofit yang menembus folikel rambur. 1. Penatalaksanaan umum21 Mencari binatang penyebab dan diobati di dokter hewan untuk mencegah infeksi pada anak-anak lain Mencari kontak manusia atau keluarga dan bila perlu dikultur Anak-anak tidak menggunakan bersama sisir, sikat rambut atau topi, handuk, sarung bantal dan lain yang dipakai di kepala.

21

Anak-anak kontak di sekolah atau penitipan anak diperiksakan ke dokter bila anak-anak terdapat kerontokan rambut yang disertai skuama. Dapat diperiksa dengan lampu Wood

Pasien diberitahukan bila rambut tumbuh kembali secara pelan, sering perlu 3-6 bulan. Bila ada kerion dapat terjadi beberapa sikatrik dan alopesia permanen.

Mencuci berulang kali untuk sisir rambut, sikat rambut, handuk, boneka dan pakaian pasien dan sarung bantal pasien dengan air panas dan sabun atau lebih baik dibuang

Begitu pengobatan dimulai dengan obat anti jamur oral dan shampoo, pasien dapat pergi ke sekolah

Tidak perlu pasien mencukur gundul rambutnya atau memakai penutup kepala

2. Terapi medis a. Terapi utama o Tablet Griseofulvin Sebagai Gold Standart Dosis: Tablet microsize (125,250,500mg) 20 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu Tablet ultramicrosize (330mg) 15 mg/Kg BB/hari, 1-2 kali/hari selama 6-12 minggu Diminum bersama susu atau es krim karena absorbsinya dipercepat dengan makanan berlemak 13 Baik untuk Microsporum maupun Trichophyton Pemberian pertama untuk 2 minggu kemudian dilakukan pemeriksaan lampu wood, KOH dan kultur. Bila masih ada yang positif maka sebaiknya dosis dinaikkan. Bila hasil negative maka obat diteruskan sampai 6 minggu. Bila hasil kultur negative, sebaiknya diteruskan 4-6 minggu. 13 Kegagalan pengobatan tinea capitis dengan griseofulvin dapat disebabkan karena 14,16:
22

Dosis tidak adekuat. Maka sebaiknya dosis dinaikkan sampai 25 mg/Kg BB/hari terutama untuk kasus yang sulit sembuh. 3 Pasien tidak patuh Gangguan absorbsi pencernaan Interaksi obat: Phenobarbital mengurangi absorbs griseofulvin. Terjadi reinfeksi terutama dari anggota keluarga atau teman bermain

o Kapsul Itrakonazole (100mg) Dosis: 3-5 mg/Kg BB/hari selama 4-6 minggu21 Terapi denyut: Dosis 5 mg/Kg BB/hari selama 1 minggu, istirahat 2 minggu/siklus bila belum sembuh diulang dapat sampai 23siklus. Bersifat fungisidal sekunder oleh karena terjadi fungitoksik. Sama efektifnya untuk infeksi karena M. canis maupun Trichophyton Tidak boleh diminum bersama antasida atau H2 blocker karena absorbsinya memerlukan suasana asam Bila diberikan bersama phenytoin dan h2 antagonis akan

meningkatkan kadar kedua obat tersebut. Sedang kadar Itrakonazole akan lebih rendah bila diberikan bersama rifampisin, isoniasid, phenytoin, dan karbamazepin. Monitor fungsi hepar dan darah lengkap bila pemakaian lebih dari 4 minggu o Tablet Terbinafin (tablet 250mg)21 Bersifat fungisidal primer terhadap dermatofit Dosis 3-6mg/KgBB/hari selama 4 minggu Bila karena M. canis perlu 6-8 minggu, lebih sukar untuk dibasmi dari pada karena Trichophyton oleh karena virulensinya atau karena infeksi ektotriknya masih belum diketahui Monitor laboratorium fungsi liver dan darah lengkap diperiksa bila pemakaian lebih 6 minggu10
23

o Tablet Flukonazole 10,21 Sebetulnya juga bisa digunakan untuk terapi tinea capitis namun tidak lebih ampuh daripada obat lainnya. Lebih diindikasikan untuk infeksi mukosa dan infeksi sistemik pada kasus candidiasis dan kriptokokosis, terutama pada pasien imunosupremais. Flukonazol lebih cepat resisten disbanding obat jamur lain. Sedangkan untuk tinea capitis, flukonazol tidak lebih superior sehingga sebaiknya flukonazol digunakan untuk kasus selektif. Dosis: 8 mg/Kg BB/minggu selama 8-16minggu10 Efektif untuk Microsporum maupun Trichophyton21

b. Terapi adjuvant o Shampo10,21 Shampo berguna untuk mempercepat penyembuhan, mecegah kekambuhan dan mencegah penularan21, serta membuang skuama dan membasmi spora viable, diberikan sampai sembuh klinis dan mikologis: Shampo Selenium Sulfit 1%-1,8% Dipakai 2-3 kali/minggu didiamkan 5 menit baru dicuci Shampoo Ketokonazole 1%-2% Dipakai 2-3 kali/minggu didiamkan 5 menit baru dicuci Shampo Providine Iodine Dipakai 2 kali/minggu selama 15 menit Shampoo juga dipakai untuk karieer asimptomatik yaitu kontak dekat dengan pasien, digunakan seminggu 2 kali selama 4 minggu. Karena asimptomatik lebih menyebarkan tinea capitis di sekolah atau penitipan anak yang kontak dekat dengan karier daripada anak-anak yang terinfeksi jelas o Terapi kerion Beberapa penelitian menyatakan:

24

Kerion lebih cepat kempes pada kelompok yang menerima griseofulvin saja 18 Sedangkan skuama dan gatal lebih cepat bersih dengan kelompok yang menerima ketiga obat yaitu griseofulvin, antibiotika dan kortikosteroid oral18 Kortikosteroid oral mungkin menurunkan insiden sikatrik. Juga bermanfaat menyembuhkan nyeri dan pembengkakan. Dosis Prednison 1mg/KgBB/pagi untuk 10-15 hari pertama terapi.10 Pemberian antibiotika dapat dipertimbangkan terutama bila dijumpai banyak krusta

2.9 Prognosis Tinea capitis tipe Grey patch sembuh sendirinya dengan waktu, biasanya permulaan dewasa. Semakin meradang reaksinya, semakin dini selesainya penyakit itu, yaitu zoofilik (M. canis, T.mentagrophytes dan T. verrucosum). Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan penyakit normal tanpa pengobatan. Namun pasien menyebarkan jamur penyebab kelainan selama waktu infeksi.11 Sebaliknya infeksi endotrik menjadi kronis dan berlangsung sampai dewasa. T. violacaum, T. tonsurans menyebabkan infeksi tetap, pasien menjadi vector untuk menyebarkan penyakit dalam keluarga dan masyarakat, pasien seharusnya cepat diobati secara aktif untuk mengakhiri infeksinya dan mencegah penularannya.11

25

BAB IV KESIMPULAN

Tinea capitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang disebabkan oleh spesies dermatofita, Trichophyton tonsuran dan Microsporum canis yang menyerang folikel rambut dari kulit kepala dan kulit disekitarnya. Tinea kapitis biasanya terjadi terutama pada anak anak, meskipun ada juga kasus pada orang dewasa yang biasanya terinfeksi Trichophyton tonsurans. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi bersisik, kemerah-merahan, alopesia dan kadang terjadi gambaran klinis yang lebih berat, yang disebut kerion. Di dalam klinik tinea kapitis dapat dilihat sebagai 3 bentuk yang jelas yaitu Grey patch ringworm, kerion dan black dot ringworm. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan dengan lampu wood, pemeriksaan mikroskopik rambut langsung dengan KOH dan kultur jamur. Pada pemeriksaan mikroskopik akan terlihat spora di luar rambut (ektotriks) atau di dalam rambut (endotriks). Kompikasi yang mungkin dapat terjadi dalam perjalanan tinea capitis yaitu infeksi sekunder, alopesia sikatrik yang permanen dan kambuh lagi jika pengobatan tidak tuntas atau jika masih kontrak dengan karier. Pengobatan tinea kapitis dengan pemberian obat anti jamur sistemik yang memiliki beberapa khasiat melawan dermatofit. Infeksi yang melibatkan rambut dan kulit memerlukan anti jamur oral untuk menembus dermatofit yang menembus folikel rambut. Tablet Griseofulvin adalah pengobatan yang efektif dan aman dan obat ini merupakan gold standart. Obat lini kedua yaitu Itrakonazole, Contoh pengobatan adjuvant yang dipakai adalah selenium sulfide, iodine, dan ketoconazole. Prognosis dari tinea capitis untuk tipe Grey patch sembuh sendirinya dengan waktu, biasanya permulaan dewasa. Infeksi ektotrik sembuh selama perjalanan penyakit normal tanpa pengobatan. Sebaliknya infeksi endotrik menjadi kronis dan berlangsung sampai dewasa. T. violacaum, T. tonsurans menyebabkan infeksi tetap, pasien menjadi vector untuk menyebarkan penyakit dalam keluarga dan masyarakat, pasien seharusnya cepat diobati secara aktif untuk mengakhiri infeksinya dan mencegah penularannya.

26

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi,dkk. Dermatofitosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; edisi keenam, hal.92-100. Badan Penerbit FK UI, Jakarta 2011. 2. Higgins, E.M, Fuller, L.C, Smith, C.H. Guidelines for the Management of Tinea Capitis. In British Journal of Dermatology 2000. Vol 143. London, Inggris. 2000. P.53-58. 3. Verma. S, Heffernan. MP. Fungal Disease. In, Fitzpatricks Dermatology in General Medicine. Ed.7th. Vol 1 & 2. New York, Amerika. 2008. P.1807-1818. 4. Hay.R.J, Ashbee.H.R . Mycology . In, Rooks Text Book Of Dermatology. Ed.7th. Vol 1 & 4. New Salford, Manchester. P.36.25- 36.27. 5. Chan. YC, Friedlander. SF. Journal of New Treatment for Tinea Capitis. [online] 2010, [cited 2013 February 15]. 6. Hermawan, A. Danny dan Wijayanto. Mengenal Penyakit Jamur Kulit yang Sering Ditemukan di Indonesia. Meditek vol.8 no.23 September-Desember 2000 hal.46-53. 7. Thomas E, Kadyan RS. Alopecia Areata an Autoimunity. Indian J Dermatol 2008; 53(2):70-73. 8. Djuanda, Adhi,dkk. Dermatofitosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; edisi keenam, hal.306&329. Badan Penerbit FK UI, Jakarta 2011. 9. Djuanda, Adhi,dkk. Dermatofitosis dalam Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin; edisi keenam, hal.200-202. Badan Penerbit FK UI, Jakarta 2011. 10. Nelson MM; Martin AG, Heffernan MP. Superficial Fungal infection:Dermatophytosis, Onychomycosis, Tinea Nigra, Piedra. Dalam : Freedberg IM, Eisen AZ, Wolff K, Austen KF, Goldsmith LA, Katz SI. Fitzpatricks Dermatology in General Medicine 6th ed. New York Mc Graw Hill, 2003 : p 1989-2005. 11. Rippon JW. Medical Mycology 3rd ed. Philadelphia: WB Saunders Co, 1988. 12. Schroeder TL, Levy ML. Treatment of hair loss disorders in children. DermatolTher 1997; 2 : 84-92. 13. Szepietowski. JC, Journal of Tinea Favus Capitis. 2012. 14. El-Gilany. Abdel-Hady, Risk factors of Recurrent Furunculosis, Dermatology Online Journal 2009 15 (1): 16.

27

15. Siregar R. S. Atlas Berwarna, Saripati Penyakit Kuli, Edisi 2, EGC, Jakarta, 2005, hal 50 51. 16. Airlangga Universitas, ATLAS Penyakit Kulit dan Kelami, SMF Penyakit Kulit dan Kelamin Universitas Airlangga, Surabaya, 2007, hal 30 33. 17. Sumaryo Sugastiasri, Pioderma, Quality for Undergraduated Education Project Bacth III FK Universitas Diponegoro, Semarang, 2001, hal 11 12. 18. Hebert AA. Diagnosis and Treatment of Hair Loss Disorders in Children. Dermatol Ther 1997; 2 : 78-83. 19. Cohen BA. Pediatric Dermatology 3rd ed. Philadelphia; Elsevier Mosby,2005. 20. Indranarum T, Suyoso S. Penatalaksanaan Tinea Kapitis. Berkala I. Penyakit Kulit dan Kelamin 2001; 13;30-5. 21. Mercurio MG, Elewski B. Tinea Capitis Treatment. Dermatol Ther 1997; 3 : 79-83.

28