Anda di halaman 1dari 3

Kerajaan Bali adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pulau berukuran kecil yang tak jauh dari

Pulau Jawa dan berada di sebelah timur. Berada di sebuah pulau kecil yang dahulu masih dinamakan Pulau Jawa. Menganut kepercayaan Hindu dan Budha yang masih terdapat aliran nenek moyang sangat kental. Hingga muncul juga animisme dan dinamisme. A. Asal Mula Kerajaan Bali Pusat Kerajaan Bali pertama di Singhamandawa. Raja pertama Sri Kesariwarmadewa. Beberapa prasasti yang ditemukan tidak begitu jelas menggambarkan bagaimana pergantian diantara 1 keluarga raja dengan keluarga raja yang lain. Prasasti yang ditemukan di Jawa Timur hanya menerangkan bahwa Bali pernah dikuasai Singasari pada abad ke 10, tunduk oleh Kertanegara (raja Singosari) pada th 1284 M & Majapahit abad ke 14. B. Segi Politik

a. Prasasti Sanur (913 M oleh Sri Kesariwarmadewa)


- Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa. - Mengalahkan suku-suku pedalaman Bali, memerintah Kerajaan Bali berpusat di Singhamandawa. b. Pengganti Sri Keariwarmadewa adalah Ugrasena. - Membuat beberapa kebijakan, yaitu pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 915. - Th 933, dibangun juga tempat-tempat suci dan pesanggrahan bagi peziarah dan perantau yang kemalaman. c. Pengganti Ugrasena adalah Tabanendra Warmadewa memerintah bersama permaisurinya - Pengganti Tabanendra adl raja Jayasingha Warmadewa. Kemudian Jayasadhu Earmadewa. Masa pemerintahan kedua raja ini tidak diketahui secara pasti. d. Pemerintahan kerajaan Bali selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu, bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Mataram Kuno. e. Selanjutya adalah Dharma Udayana Warmadewa. Pada masa pemerintahan Udayana, hubungan Kerajaan Bali dan Mataram Kuno berjalan sangat baik. Hal ini disebabkan oleh adanya pernikahan antara Udayana dengan Gunapriya Dharmapatni, cicit Mpu Sendok yang kemudian dikenal sebagai Mahendradata. Pada masa itu banyak dihasilkan prasasti-prasasti yang menggunakan huruf Nagari dan Kawi serta bahasa Bali Kuno dan Sansekerta. f. Setelah Udayana wafat, Marakatapangkaja naik tahta sebagai raja Kerajaan Bali. Putra kedua Udayana ini menjadi raja Bali berikutnya karena putra mahkota Airlangga menjadi raja Medang Kemulan. Airlangga menikah dengan putri dari Darmawangsa dari kerajaan Medang Kemulan. Dari prasasti-prasasti yang ditemukan terlihat bahwa Marakatapangkaja sangat menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas termasuk Gianjar, Buleleng. Tampaksiring dan Bwahan (Danau Batur). Ia juga mengusahakan pembangunan candi di Gunung Kawi.

g. Pengganti raja Marakatapangkaja adalah adiknya sendiri yang bernama Anak Wungsu. Ia mengeluarkan 28 buah prasasti yang menunjukkan kegiatan pemerintahannya. Anak Wungsu adalah raja dari Wangsa Warmadewa terakhir yang berkuasa di kerajaan Bali karena ia tidak mempunyai keturunan. Ia meninggal pada tahun 1080 dan dimakamkan di Gunung Kawi (Tampak Siring). h. Setelah anak Wungsu, kerajaan Bali dipimpin oleh Sri Sakalendukirana, lalu digantikan Sri Suradhipa. Kemudian digantikan Jayasakti. Setelah Raja Jayasakti, yang memerintah adalah Ragajaya selitar dan digantikan oleh Raja Jayapangus. Raja terakhir Bali adalah Paduka Batara Sri Artasura yang bergelar Ratna Bumi banten (Manikan Pulau Bali). Raja ini berusaha mempertahahankan kemerdekaan Bali dari seranggan Majapahit yang di pimpin oleh Gajah Mada. Sayangnya upaya ini mengalami kegagalan. Pada tahun taun 1343, Bali dikuasai Majapahit. Pusat kekuasaan mula-mula di Samprang, kemudian dipindah ke Gelgel dan Klungkung. Masa Kejayaan pada masa pem. Dharma Udayana. Sistem pemerintahan Kerajaan Bali semakin jelas. Perkawinan antara Dharma Udayana dengan Mahendradata yang merupakan putri dari raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur, sehingga kedudukan Kerajaan Bali semakin kuat.

Kehidupan Sosial Pada masa Kerajaan Bali Kuno, struktur masyarakatnya didasarkan pada sistem kasta, sistem hak waris, sistem kesenian, serta agama dan kepercayaan. Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Pada golongan Brahmana dan Ksatria untuk anak pertama disebut Putu. Pemberian nama tersebut diperkirakan dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan berkaitan dengan upaya pengendalian jumlah penduduk. Kehidupan Ekonomi Kegiatan ekonomi masyarakat Kerajaan Bali adalah bercocok tanam. Hal tersebut dapat di ketahui dari beberapa prasasti Bali yang menyebutkan sawah, parlak ( sawah kering ), gaja (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (pengairan sawah). Peninggalan; Komplek candi gunung kawi, di tampaksiring Prasasti blanjong Prasasti2 raja Jayapangus, Udayana, Jayasakti dan Anak Wungsu Seni Keraton Seni rakyat

a) b) c) d) e) f)

Kehidupan Budaya Pada prasasti-prasasti sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu, telah disebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Namun baru pada zaman Raja Anak Wungsu dapat membedakan jenis seni ke dalam dua kelompok besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat yang biasanya berkeliling menghibur rakyat. Berikut jenis-jenis seni yang berkembang pada masa itu : Patapukan (atapuk/topeng) Pamukul (amukul/penabuh gamelan) Abanwal (permainan badut) Abonjing (bujing musik Angklung) Bhangin (peniup suling) Perbwayang (permainan wayang)

Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bali Dikisahkan seorang raja Bali yang saat itu bernama Raja Bedahulu atau yang dikenal dengan nama Mayadenawa yang memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Ki Kebo Iwa. Kedatangan Gadjah Mada dari kerajaan majapahit ke Bali adalah ingin menaklukan Bali di bawah pimpinan Kerajaan Majapahit, namun karena tidak mampu patih Majapahit itu mengajak Ki Kebo Iwa ke jawa dan disana disuruh membuat sumur dan setelah sumur itu selesai Ki Kebo Iwa di kubur hidup-hidup dengan tanah dan batu namun dalam lontar Bali Ki Kebo Iwa tidak dapat dibunuh dengan cara yang mudah seperti itu. Tanah dan batu yang dilemparkan ke sumur balik dilemparkan ke atas. Pada akhirnya dia menyerahkan diri sampai ia merelakan dirinya untuk dibunuh baru dia dapat dibunuh. Setelah kematian Ki Kebo Iwa, Bali dapat ditaklukan oleh Gadjah Mada pada tahun 1343. Setelah ditaklukkan oleh Majapahit, penduduk kerajaan bali melarikan diri ke pegunungan, dan masyarakat bali kuno ini sering disebut Bali Aga. Kini, mereka bisa ditemui di daerah Pulau Bali seperti Desa Tenganan. Mereka memiliki adat dan pakaian adat sendiri yang khas dan sedikit berbeda dengan pakaian adat bali pada umumnya.