Anda di halaman 1dari 32

REVIEW HEWAN PARASIT DAN PENCEGAHAN PENYAKIT YANG DITIMBULKAN

ANNELIDA

Oleh : SGD 2
1. NI WAYAN AYU WIDIANTARI 2. NI NYM NANIK YULIASIH 3. I GEDE SUBAGIA 4. NI PUTU DEVI YUSTINA CANDRA S 5. I MADE YUDI INDRA WIBAWA 6. I KADEK AGUS MAHENDRA PUTRA 7. NI WAYAN SUCI DIANATARI 8. NI KOMANG ERNA INDRAWATI 9. NI PUTU INTAN MERTANINGSIH 10. LUH KETUT VICKY NOVI ANDANI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2013 1202105007 1202105012 1202105039 1202105046 1202105051 1202105053 1202105072 1202105076 1202105080 1202105082

LEARNING TASK IDK 1 REVIEW HEWAN PARASIT DAN PENCEGAHAN PENYAKIT YANG DITIMBULKAN

SGD 1&2 :ANNELIDA

1. 2. 3. 4. 5.

Apa yg dimaksud dengan hewan annelida (sertakan dengan gambarnya) Jelaskan klasifikasi dari hewan annelida! (sertakan dengan gambarnya) Sebutkan tempat hidup dari hewan annelida! Jelaskan siklus hidup dari hewan annelida! Jelaskan penyakit-penyakit yang mungkin ditimbulkan oleh hewan annelida! a. Pengertian b. Etiologi c. Rute infeksi d. Manifestasi klinis e. Patofisiologi f. Diagnosis g. Penatalaksanaan h. Pencegahan 6. Jelaskan manfaat yang diperoleh oleh perawat dengan mempelajari hewan annelida! 7. Carilah dan analisis secara singkat satu jurnal terkait dengan mempelajari hewan annelida! 8. Jelaskan implikasi keperawatan dari jurnal tersebut!

JAWABAN 1. Annelida berasal dari bahasa latin: annulus = cincin/gelang, maka sering juga disebut cacing gelang karena tubuhnya tersusun atas segmen yang menyerupai cincin atau gelang. Annelida merupakan binatang triploblastik selomata, tubuhnya bersegmen. Setiap segmen dibatasi oleh sekat (septum).

Sudah memiliki sistem syaraf, pencernaan, ekskresi, reproduksi dan sistem pembuluh. Annelida adalah cacing protostome dengan tiga lapisan sel, saluran cerna dengan mulut dan anus, sebuah dinding tubuh dengan otot membujur dan melingkar. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1mm sampai 3 m, tubuhnya simetri bilateral, berbentuk seperti gelang ('anellus' = cincin), memiliki alat gerak berupa bulu-bulu kaku pada setiap segmen dan memiliki sistem peredaran darah tertutup serta tubuh tertutupi oleh kutikula yang licin yang terletak diatas ephitelium.

Rongga tubuh coelomic terbentuk karena pemisahan mesoderm embrio. Epidermis luar diselubungi oleh kulit ari tipis, sejenis bulu-bulu chitinous (chaetae atau setae).Segmentasi metamerik,yang selalu ditunjukkan dalam muskular dan sistem saraf adalah karakteristik yang jelas.Sistem saraf memiliki ganglion supraoesophaegal (kelompok tubuh utama sel saraf) yang disebut otak meskipun lebih banyak daripada sensor penyampai pesan, dan kawat saraf ventral yang menuju segmen ganglia memberikan segmen saraf.Terdapat sistem darah tertutup dengan darah yang bergerak menuju pembuluh membujur dorsal.Pembuluh segmen antara coelom dan luar digunakan untuk sekresi dan reproduksi 2. Klasifikasi Filum Annelida terdiri dari tiga kelas yaitu : a. Polychaeta Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly = banyak, chaetae = rambut kaku). Tubuhnya dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Tubuh memanjang dan mempunyai segmen. Mereka memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut

parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya kecuali pada segmen terakhir. Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin. Polychaeta hidup dalam pasir atau menggali batu-batuan di daerah pasang surut air laut. Contoh cacing ini adalah
Eunice viridis (cacing wawo) Lysidice oele (cacing palolo) Nereis virens (kelabang laut)

Gambar a.

Gambar b

b. Oligochaeta Oligochaeta dalam bahasa yunani berasal dari dua kata yaitu oligo = sedikit dan chaetae = rambut kaku. Oligochaeta merupakan annelida air tawar atau terrestial umumnya, tanpa parapodia dan beberapa chaetae tanpa sendi. Cara makannya bersifat suctorial yaitu tidak memiliki rahang. Oligochaetes dikenali dengan clitellum berbentuk tongkat, epiderm kental yang mengeluarkan kepompong. Contohnya :

Lumbricus terrestris (cacing tanah Eropa dan Amerika) Perichaeta (cacing hutan) Tubifex (cacing air) Pheretima posthurna (cacing tanah Asia)

Gambar c.

Gambar d

c. Hirudina (lintah).
Hirudina merupakan kelas annelida dengan jenis yang paling sedikit. Mereka memiliki ciri cirri antara lain: tidak memiliki parapodium maupun seta pada segmen tubuhnya, panjang bervariasi dari 1 30 cm, tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing, pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Lintah ada yang bersifat ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya yang berupa hewan vertebrata termasuk manusiadengan mengisap darah inangnya dan ada pula yang hidup bebas dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh Hirudinea parasit : Haemadipsa (pacet), hidup di rawa-rawa dan di hutan basah Hirudo medicinalis (lintah).

Hirudo medicinalis (lintah)

Haemadipsa (pacet)

Saat merobek atau membuat lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak menyadari adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah (hirudin). Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin.

Gambar e

gambar f

3. . Sebagian besar annelida hidup bebas didasar laut dan perairan tawar atau ada juga yang hidup ditanah dan tempat-tempat lembab. Sebagian juga ada yang hidup sebagai parasit yang menempel sementara pada tubuh vertebrata termasuk manusi itu sendiri - Polychaeta Sebagian besar merupakan hewan laut. Beberapa di antaranya bergerak dan berenang di antara plankton, banyak di antaranya merangkak pada atau membuat lubang di dasar laut atau hidup dalam tabung yang dibuat oleh cacing itu dengan mencampur mukus dengan sedikit pasir dan cangkang yang pecah. Oligochaeta Hidup di air tawar dan tanah yang mengandung humus. Meliputi hewan terrestrial dan berbagai hewan akuatik Hirudinea Mayoritas hidup di air tawar(lintah), tetapi terdapat beberapa species yang hidup di tanah atau darat (pacet) yang bergerak melalui vegetasi yang lembab

4. Siklus hidup Annelida Cacing dewasa menembus dinding alveoli, dan menuju bronkus dan selanjutnya menuju kerongkongan. Dari kerongkongan cacing dewasa menuju ke usus halus. Cacing dapat hidup di usus halus selama 2-3 tahun.
3-6 telur cacing mengalami perkembangan (18 hari) dan dibawa oleh peredaran darah menuju paru-paru. Cacing menetas dan berkembang menjadi cacing dewasa di dlam paru-paru (10-14 hari)

Cacing dewasa hidup di dalam usus halus dan bertelur

Telur dikeluarkan manusia melalui feses. Tanaman yang ditempeli telur cacing, mungkin termakan manusia dan masuk ke mukosa mukosa usus halus.

5. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh hewan annelida ada dua, yaitu :

ASCARIASIS

PENGERTIAN Ascariasis merupakan infeksi cacing yang paling sering ditemui. Diperkirakan prevalensi di dunia 25 % atau 1,25 miliar penduduk di dunia. Biasanya bersifat symtomatis. Prevalensi terbesar pada daerah tropis dan di negara berkembang dimana sering terjadi kontaminasi tanah oleh tinja manusia atau penggunaan tinja sebagai pupuk (Soegijanto, 2005). Dilihat dari uraian diatas jelas negara Indonesia adalah salah satu negara yang berisiko tinggi adanya kasus ascariasis ini.

Menurut Behrman (1999), infeksi paling sering terjadi pada anak pra sekolah atau anak umur sekolah awal, dan jumlah kasus terbesar pada negara-negara yang memiliki iklim yang lebih panas. Meskipun demikian, ada sekitar 4 juta individu yang terinfeksi terutama anak, di Amerika Utara.

ETIOLOGI

Ascariasis disebabkan oleh Ascaris Lumbricoides. Stadium infektif Ascaris Lumbricoides adalah telur yang berisi larva matang. Sesudah tertelan oleh hospes manusia, larva dilepaskan dari telur dan menembus diding usus sebelum migrasi ke paru-paru melalui sirkulasi vena. Mereka kemudian memecah jaringan paru-paru masuk ke dalam ruang alveolus, naik ke cabang bronkus dan trakea, dan tertelan kembali. Setelah sampai ke usus kecil larva berkembang menjadi cacing dewasa (jantan berukuran 15-25cm x 3mm dan betina 25-35cm x 4mm).

Cacing betina mempunyai masa hidup 1-2 tahun dan dapat menghasilkan 200.000 telur setiap hari. Telur fertil berbentuk oval dengan panjang 45-60 m dan lebar 35-50 m. Setelah keluar bersama tinja, embrio dalam telur akan berkembang menjadi infektif dalam 5-10 hari pada kondisi lingkungan yang mendukung.

RUTE INFEKSI

Telur ascaris yang infektif tertelan manusia dan mencapai duodenum, di sini telur menjadi larva Larva ini menembus dinding usus, melalui saluran limfe bermigrasi ke hepar dan paru Banyaknya larva di paru-paru menimbulkan gejala Loefller Syndrome/ Atypical Pneumonia Larva mencapai epiglottis dan kembali ke usus kecil. Di sini tumbuh menjadi cacing dewasa, cacing betina bertelur lagi Perjalanan cacing hingga menjadi dewasa 3 bulan

MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis menurut Soegijanto (2005), tergantung pada intensitas infeksi dan organ yang terlibat. Pada sebagian besar penderita dengan infeksi rendah sampai dengan gejalanya asymtomatis. Gejala klinis paling sering ditemui berkaitan dengan penyakit paru atau sumbatan pada usus atau saluran empedu. Ascaris dapat menyebabkanPulmonari ascariasis ketika memasuki alveoli dan bermigrasi ke bronki dan trakea. Manifestasi pada paru mirip dengan Syndrom Loffler dengan gejala infiltrat paru sementara. Tanda-tanda yang paling khas adalah batuk, spuntum bercak darah, dan eosinofilia. Tanda lain adalah sesak. Cacing dewasa dapat menimbulkan penyakit dengan menyumbat usus atau cabang-cabang saluran empedu sehingga mempengaruhi nutrisi hospes. Cacing dewasa akan memakan sari makanan hasil pencernaan host. Anak-anak terinfeksi yang memiliki pola makan yang tidak baik dapat mengalami kekurangan protein, kalori, atau vitamin A, yang akhirnya akan mengalami pertumbuhan lambat.

Adanya cacing dalam usus halus menyebabkan keluhan tidak jelas seperti nyeri perut, dan kembung. Obstruksi usus juga dapat terjadi walaupun jarang yang dikarenakan oleh massa cacing pada anak yang terinfeksi berat, insiden puncak terjadi pada umur 1-6 tahun. Mulainya biasanya mendadak dengan nyeri perut kolik berat dan muntah, yang dapat berbrcak empedu ; gejala ini dapat memburuk dengan cepat dan menyertai perjalanan yang serupa dengan obstruksi usus akut dengan etiologi lain. Migrasi cacing Ascaris ke saluran empedu telah dilaporkan, terutama yang terjadi di Filiphina dan Cina; kemungkinan keadaan ini bertambah pada anak yang terinfeksi berat.mulainya adalah akut dengan nyeri kolik perut, nausea, muntah, dan demam. Ikterus jarang ditemukan (Berhman, 1999).

PATOFISIOLOGI

Ascaris Lumbricoides adalah nematoda terbesar yang umumnya menginfeksi manusia. Cacing dewasa berwarna putih atau kuning yang hidup selama 10-24 bulandi jejunum dan bagian tengah ileum. Cacing betina menghasilkan 200.000 telur per hari yang akan terbawa bersama tinja.

Telur fertil apabila terjatuh pada kondisi tanah yang sesuai, dalam waktu 5-10 hari telur tersebut dapat menginfeksi manusia. Telur dapar hidup dalam tanah selama 17 bulan. Infeksi umumnya terjadi melalui tangan pada tangan atau makanan kemudian masuk ke dalam usus kecil (deudenum). Pada tahap kedua larva akan melewati dinding usus dan melewati sistem porta menuju hepar dan kemudian ke paru melalui sirkulasi vena. Mereka kemudian memecah jaringan paru-paru masuk ke dalam ruang alveolus, naik ke cabang bronkus dan trakea, dan tertelan kembali. Diperlukan 65 hari untuk menjadi cacing dewasa. Infeksi yang berat dapat diikuti pneumonia dan eosinofilia (Soegijanto, 2005). - DIAGNOSA a. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan mikroskopis pada hapusan tinja dan dihitung dengan metode apus tebal kato. Infeksi biseksual menyebabkan ekskresi telur fertil matang, sedangkan telur infertil ditemukan pada individu yang terinfeksi hanya dengan cacing betina.

2. Ditemukan larva pada lambung atau saluran pernafasan pada penyakit paru. 3. Pada pemeriksaan darah ditemukan periferal eosinofilia. b. Pemeriksaan foto 1. Foto thorak menunjukkan gambaran opak pada lapang pandang paru seperti pada sindrom Loeffler. 2. Penyakit pada saluran empedu Endoscopic retrogade cholangiopancreatography (ERCP) memiliki sensitifitas 90 % dalam membantu mendiagnosis biliary ascariasis. Ultrasonography memiliki sensitivitas 50 % untuk membantu membuat diagnosis biliary ascariasis.

PENATALAKSANAAN

1. Pada anak dengan infeksi berat garam piperazin (sitrat, adipat, atau fosfat) diberikan secara oral dengan dosis per hari 50-75 mg/kg selama 2 hari. Dosis tunggal lebih efektif dari pada regimen 2, dalam mengurangi beban cacing pada anak yang terinfeksi. Karera piperazin menyebabkan paralisis neuromuskuler parasit dan pengeluaran cacing relatif cepat , maka obat ini adalah obat plihan untuk obstruksi usus atau saluran empedu (Berhman, 1999). 2. Obat ascariasis usus tanpa komplikasi dapat digunakan albendazole (400 mg P.O. sekali untuk segala usia), mabendazole (10 mg P.O. untuk 3 hari atau 500 mg P.O. sekali untuk segala usia).

- PENCEGAHAN Menurut Soegijanto (2005), program pemberian antihelmitik yang dilakukan dengan cara
sebagai berikut : 1. Memberikan pengobatan ada semua individu pada daerah endemis. 2. Memberikan pengobatan pada kelompok tertentu dengan frekuensi infeksi tinggi seperti anak-anak sekolah dasar. 3. Memberikan pengobatan pada individu berdasarkan intensitas penyakit atau infeksi tinggi seperti yang telah lalu. 4. Peningkatan kondisi sanitasi. 5. Menghentikan penggunaan tinja sebagai pupuk. 6. Memberikan pendidikan kesehatan tentang cara-cara pencegahan ascariasis. Menurut Berhman (1999), praktek-praktek pencegahan seperti menghindari pengunaan tinja sebagai pupuk dan menjaga kondisi sanitasi lingkungan yang baik serta upaya penyediaan fasilitas pembuangan sampah yang baik adalah cara-cara pencegahan ascariasis yang paling efektif.

TRICHOMONAS VAGINALIS PENGERTIAN

Keputihan yang dalam istilah medis disebut fluor albus atau leucorrhoea merupakan cairan yang keluar dari vagina selain darah menstruasi. Produksinya dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor hormonal, rangsangan seksual, kelelahan fisik dan kejiwaan (stress) serta adanya benda asing. Cairan yang keluar tersebut harus dibedakan antara cairan yang normal dan cairan yang tidak normal. Dalam keadaan normal, cairan yang keluar berwarna jernih, tidak berbau, dan tidak gatal atau pedih. Secara alamiah cairan ini diperlukan sebagai pelumas. Jumlah cairan yang keluar bisa sedikit atau cukup banyak. Keluarnya cairan dianggap normal jika terjadi sebelum dan sesudah menstruasi, saat ovulasi dan saat mendapat rangsangan seksual. Namun, bila cairan yang keluar jumlahnya banyak, berwarna putih kekuningan atau kehijauan, disertai rasa gatal atau pedih, dan terkadang berbau amis atau busuk, maka ini dapat dikategorikan tidak normal. Keputihan seringkali dianggap sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter. Padahal, keputihan tidak normal karena infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Ada beberapa penyebab keputihan yang tidak normal, salah satunya adalah Trichomoniasis atau infeksi akibat parasit Trichomonas vaginalis. Trichomonas vaginalis adalah parasit yang biasanya menyerang saluran kemih dan kelamin manusia yang terinfeksi. Infeksi parasit ini dapat menyerang baik pria maupun wanita, tetapi frekuensinya lebih banyak terjadi pada wanita. Umumnya, uretra adalah tempat infeksi yang paling umum pada laki-laki dan vagina adalah tempat infeksi yang paling umum pada wanita. Cara penularannya terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman atau secara tidak langsung melalui alat mandi seperti handuk dan dudukan toilet.

ETIOLOGI

Gejala infeksi Trichomonas vaginalis pada wanita berupa keputihan berwarna kuning kehijauan, berbau tidak sedap dan pada kasus yang berat cairan dapat berbusa, disertai rasa gatal, panas, nyeri saat kencing dan saat berhubungan seksual yang disertai perdarahan, iritasi dan terkadang sakit pinggang. Sedangkan pada pria biasanya tidak menunjukkan gejala. Kalaupun ada gejala yang muncul umumnya lebih ringan dibandingkan dengan wanita, sepert iritasi di dalam penis, keluar cairan keruh namun tidak banyak, rasa panas dan nyeri setelah berkemih atau setelah ejakulasi.

RUTE INFEKSI

Berdasarkan penelitian infeksi Trichomonas vaginalis diketahui berhubungan dengan komplikasi pada organ reproduksi, seperti infeksi pasca operasi caesar, infertilitas, dan kelahiran prematur serta diperkirakan dapat meningkatkan risiko penularan HIV dan mengakibatkan keganasan pada serviks (kanker serviks). Oleh sebab itu, infeksi parasit ini harus diterapi dengan baik sampai tuntas.

1.

MANIFESTASI KLINIS
Keputihan/flour albus/leucorrhoea (pada wanita)

Vagina terasa gatal, mengeluarkan secret yang encer berwarna kuning kehijauan, kadang-kadang disertai buih dengan bau yang abnormal, vulva yang kemerahan dan membengkak. 2. Vaginitis (pada wanita) Keputihan dengan kondisi yang lebih parah, juga sakit pada bagian dalam paha, labio mayora berdarah, sangat gatal dan perih. 3. Uretritis (pada pria) Kira-kira setengah dari kasus vaginitis trichomonalis juga mengenai uretra pria akibat hubungan seksual, keadaan ini sering disebut uretritis dan bersifat asimtomatik (tanpa gejala).

PATOFISIOLOGI

T. vaginalis menginfeksi sel epitel vagina sehingga terjadi proses kematian sel pejamu (host-cell death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel tersebut adalah mikrofilamen dari T. vaginalis. Selama proses invasi, T.vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun eritrosit. Trichomonas vaginalis menginfeksi sel epitel (dinding bagian dalam) vagina sehingga terjadi proses kematian sel hospes (host-cell-death). Komponen yang berperan dalam proses kematian sel tersebut adalah mikrofilamen dari Trichomonas vaginalis. Selama proses invasi, Trichomonas vaginalis tidak hanya merusak sel epitel namun juga eritrosit. Eritrosit mengandung kolesterol dan asam lemak yang diperlukan bagi pembentukan membran trichomonad. Proses pengikatan dan pengenalan trichomonad dengan sel epitel

hospes melibatkan spesifik dari Trichomonas vaginalis, yang dikenal dengan sistein proteinase. Setelah proses pengikatan, akan timbul reaksi kaskade yang mengakibatkan sitoktosisitas dan hemolisis pada sel epitel vagina sehingga vagina mengeluarkan cairan putih berbau tidak sedap, vulva membengkak dan terasa nyeri serta gatal-gatal (keputihan/flour albus/ leucorrhoea), bahkan dalam kondisi lebih parah akan terjadi peradangan dan sangat gatal (vaginitis).

DIAGNOSIS

Diagnosa trikomoniasis boleh ditegakkan melalui gejala klinis namun menjadi sulit apabila pasiennya asimptomatik. Maka boleh dilakukan pemeriksaan mikroskopik yaitu secara langsung yang dilakukan dengan membuat sediaan dari sekret vagina. Sediaan vagina dengan pH lebih dari 5,0 dicampurkan dengan saline normal maka akam terlihat trokomonas yang motil dan predominan PMNs. Cara lain adalah melalui kultur sekret vagina atau urethra pada pasien akut atau kronik. Hasil kultur positif bila sel clue dan test bau amine positif, hapusan saline mount

atau Gram akan menunjukkan perubahan flora bakteri vagina. Pemeriksaan serologi dan immnunologi juga boleh dijalankan namun belum cukup sensitif untuk mendiagnosis T.vaginalis (Parija, 2004).

PENATALAKSANAAN

Trikomoniasis boleh diobati dengan Metronidazole 2 gr dosis tunggal, atau 2 x 0,5 gr selama 7 hari. Mitra seksual turut harus diobati. Pada neonatus lebih dari 4 bulan diberi metronidazole 5 mg/kgBB oral 3 x /hari selama 5 hari. Prognosis penyakit ini baik yaitu dengan pengambilan pengobatan secara teratur dan mengamalkan aktivitas seksual yang aman dan benar (Slaven, 2007).

PENCEGAHAN

Pencegahan bagi trikomoniasis adalah dengan penyuluhan dan pendidikan kepada masyarakat yang dimulai pada tahap persekolahan. Mendiagnosis dan menangani penyakit ini dengan benar. Pencegahan primer dan sekunder trikomoniasis termasuk dalam pencegahan penyakit menular seksual. Pencegahan primer adalah untuk mencegah orang untuk terinfeksi dengan trikomoniasis dan

pengamalan perilaku koitus yang aman dan selamat. Pencegahan tahap sekunder adalah memberi terapi dan rehabilitasi untuk individu yang terinfeksi untuk mencegah terjadi transmisi kepada orang lain (CDC, 2007). Tindakan pengobatan pada penderita dilakukan sebagai tindakan pencegahan agar tidak menularkan kepada pasangannya. Selain itu, kebersihan pribadi dan alat-alat toilet pun harus dijaga untuk menghindari penularan secara tidak langsung. Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah keputihan yang tidak normal antara lain :

Tidak berhubungan seksual dengan penderita Memakai kondom Tidak berbagi handuk atau pakaian renang Menjaga kebersihan genitalia,membersihkan vagina dengan air bersih yang mengalir dengan cara mengusap dari depan ke belakang. Minimalisir penggunaan sabun antiseptik karena dapat menggangu keseimbangan pH vagina. Mengganti pembalut tepat waktu minimal 3 kali sehari. Memilih pakaian dalam yang tepat, memakai celana yang yang tidak ketat dan menyerap keringat. Menghindarkan faktor risiko infeksi seperti berganti-ganti pasangan seksual, serta pemeriksaan ginekologi secara teratur Jika merasa ada gejala, segera konsultasi ke dokter.

6. Jelaskan manfaat yang diperoleh oleh perawat dengan mempelajari hewan anelida yaitu :

Dapat mengetahui apa itu hewan anelida. Dimana yang dimaksud dengan hewan anelida adalah hewan triploblastik yang sudah mempunyai rongga sejati sehingga disebut selomata. triploblastik

Dapat mengetahui bagaimana struktur tubuh dan juga habitatnya.

Hewan anelida mempunyai bentuk tubuh simetri bilateral, dengan tubuh beruas-ruas dan dilapisi lapisan kutikula. Annelida dapat hidup di berbagai tempat, baik di air tawar, air laut, atau daratan.Umumnya hidup bebas, meskipun ada juga yang bersifat parasit.

Dapat mengetahui klasifikasi hewan anelida. Anelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Polychaeta (cacing berambut banyak), Oligochaeta (cacing berambut sedikit), dan Hirudinea. Dapat mengetahui keuntungan dan kerugian hewan anelida. Tidak selamanya hewan annelida dapat merugikan , ada beberapa jenis Anelida dapat dimakan yaitu : Eunice viridis (cacing palolo) dan Lysidice (cacing dapat wawo). pula Selain itu cacing sampah tanah dapat menggemburkan dapat membantu tanah ,dengan demikian oksigen dapat masuk ke dalam tanah.Cacing tanah menghancurkan sehingga pengembalian air mineral dalam ekosistem tanah. Selain itu cacing tanah dapat dimanfaatkan sebagai makanan ikan, bahkan sekarang cacing tanah digunakan sebagai obat dan untuk meningkatkan vitalitas tubuh. Hirudinea medicinalis dapat menghasilkan zat hirudin yang berguna untuk zat anti koagulasi (anti pembekuan darah). Sedangkan kelompok anelida yang merugikan yaitu pacet yang dapat menghisap darah manusia atau vertebrata lainnya.

Dapat mengetahui penyakit yang disebabkan oleh hewan anelida - Ascaris Lumbricoides merupakan infeksi cacing yang paling sering ditemui. Diperkirakan prevalensi di dunia 25 % atau 1,25 miliar penduduk di dunia. Biasanya bersifat symtomatis. Prevalensi terbesar pada daerah tropis dan di negara berkembang dimana sering terjadi kontaminasi tanah oleh tinja manusia atau penggunaan tinja sebagai pupuk - Trihconomans vaginalis adalah parasit yang biasanya menyerang saluran kemih dan kelamin manusia yang terinfeksi. Infeksi parasit ini dapat menyerang baik pria maupun wanita, tetapi frekuensinya lebih banyak

terjadi pada wanita. Umumnya uretra adalah tempat infeksi wanita. Cara penularannya terjadi melalui hubungan seksual yang tidak aman atau secara tidak langsung melalui alat mandi seperti handuk dan dudukan toilet.

7. Analisis jurnal terkait dengan hewan annelida BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Diare merupakan permasalahan yang masih umum di seluruh dunia, dengan

insiden yang tinggi baik di negara maju maupun di negara berkembang. Kondisi patologis biasanya ringan dan sembuh sendiri, tetapi diantaranya ada yang berkembang menjadi penyakit yang mengancam nyawa. Diare dapat menyerang siapa saja karena penyakit ini umum di masyarakat. Diare adalah defekasi dengan feses berbentuk cair atau setengah cair lebih dari 3 kali dalam 24 jam. Berat feses dapat mencapai lebih dari 10 gr/kg/24 jam pada bayi dan anak-anak, atau lebih dari 200 gr/24 jam pada dewasa. Tingginya morbiditas dan mortalitas diare berpengaruh terhadap tingkat pengangguran dan hilangnya produktivitas kerja. Infeksi semacam ini dapat bersifat akut ataupun kronis, yang dapat disebabkan oleh infeksi mendadak, berlangsung kurang dari 14 hari, ditandai dengan feses berbentuk cair, sering disertai demam, sakit perut, muntah dan lemas. Penyebab diare akut antara lain infeksi bakteri, virus, parasit, atau keracunan makanan. Infeksi pada diare akut biasanya berdurasi kurang dari 2 minggu yang disebabkan oleh bakteri ( Eschericia coli, Vibrio cholera,Salmonella sp ), parasit ( Entamoeba histolyticia, Giardia lamblia ), dan virus enteropatogen ( Rotavirus ). Bahaya utama diare akut adalah dehidrasi dan gangguan keseimbangan elektrolit ( Zein, Sagala, Ginting, 2008 ). Enteropathogenic Escherichia coli (EPEC), Enterotoxigenic Escherichia coli (ETEC), Shigella sp., Salmonella sp., dan Helicobacter pylori.

Dimana selama ini yang sering kita jumpai bakteri menyebabkan diare akut.

yaitu Escherichia coli yang

Penangan diare akut selama ini biasanya dilakukan dengan obat-obat sintetik, contohnya loperamid. Tetapi, banyak obat sintetik antidiare memiliki harga yang relatif mahal dan dapat menimbulkan efek samping yang cukup membahayakan, seperti ileus paralitik dan toksik megakolon. Berdasarkan hal tersebut, banyak orang menggunakan bahan alami baik dari tanaman ataupun hewan sebagai salah satu alternatif pengobatan karena efek sampingnya relatif kecil bila digunakan secara benar dan tepat, harganya pun relatif terjangkau, dan mudah didapat.

Cacing tanah adalah jenis adalah anggota annelida yang memiliki segmen baik secara internal maupun eksternal. Banyak struktur internal berulang segmen demi segmen. Secara eksternal masing-masing segmen memilki 4 pasang setae, bulu yang pergerakannya memungkinkan cacing untuk membuat lubang. Cacing tanah dan banyak hewan annelid lainnya merangkak atau bersembunyi masuk lubang dengan mengkordininasikan 2 kumpulan otot, otot longitudinal dan sirkuler.

Cacing tanah atau Lumbricus Rubellus telah lama dikenal oleh manusia sebagai hewan yang menjijikan. Hewan yang hidup di tempat atau tanah yang telindung dari sinar matahari lembab, gembur dan serasah. Habitat ini sangat spesifik bagi cacing tanah untuk tumbuh dan berkembang biak dengan baik, tubuh cacing tanah banyak mengandung lendir sehingga seringkali orang menganggapnya menjijikan (Palungkun, 1999 dalam Ovianto). Namun di balik itu cacing tanah memiliki manfaat dalam penangan diare. Hal ini di dasari atas kandungan cacing tanah yang menghasilkan zat pengendali bakteri yang bernama lumbricin, dimana lumbricin mempunyai aktifitas antimikroba berspektrum luas, yaitu menghambat bakteri gram negative, bakteeri gram posistif dan beberapa fungi (Cho et al., 1998 dalam Damayanti, 2000).

1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang disusun penulis, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut..

1.2.1 bagaimana Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli yang meyebabkan diare?

1.2.2 kandungan apa yang terdapat pada cacing tanah ( lumbricus rubellus ) yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli.

1.3

Tujuan
sehingga mengakibatkan diare akut.

1.3.1 Untuk mengetahui cara Escherichia coli menginfeksi tubuh manusia 1.3.2 Untuk mengetahui Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli.

1.4

Manfaat
1.4.1 Penulis 1) Menambah khasanah ilmu pengetahuan mengenai patofisiologi diare oleh Escherichia coli 2) Menambah 1.4.2 kemampuan berpikir kritis dalam menanggapi permasalahan kesehatan masyarakat dan alternative pengobatan. Bagi Pembaca 1) Pembaca dapat mengetahui penyakit diare berhubungan dengan Escherichia coli 2) Masyarakat dapat mengetahui pemanfaatan cacing tanah ( Lumbriccus Rubellus ) 1.4.3 Institusi Pendidikan 1) Dapat dijadikan sumber pengetahuan untuk meneliti lebih lanjut mengenai manfaat air rebusan cacing tanah terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli 1.4.4 Institusi Kesehatan 1) Dapat menambah data mengenai salah satu cara pengobatan diare akut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Diare Akut Diare akut adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung

kurang dari 14 hari, sedang diare kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit.

2.2

Patofisiologi Diare Akut Diare akut infeksi diklasifikasikan secara klinis dan patofisiologis menjadi diare

non inflamasi dan diare inflamasi. Diare Inflamasi disebabkan invasi bakteri dan sitotoksin di kolon dengan manifestasi sindroma disentri dengan diare yang disertai lendir dan darah. Gejala klinis yang menyertai keluhan abdomen seperti mulas sampai nyeri seperti kolik, mual, muntah, demam, tenesmus, serta gejala dan tanda dehidrasi. Pada pemeriksaan tinja rutin secara makroskopis ditemukan lendir dan/atau darah, serta mikroskopis didapati sel leukosit polimorfonuklear. Pada diare non inflamasi, diare disebabkan oleh enterotoksin yang

mengakibatkan diare cair dengan volume yang besar tanpa lendir dan darah. Keluhan abdomen biasanya minimal atau tidak ada sama sekali, namun gejala dan tanda dehidrasi cepat timbul, terutama pada kasus yang tidak mendapat cairan pengganti. Pada pemeriksaan tinja secara rutin tidak ditemukan leukosit. Mekanisme terjadinya diare yang akut dapat dibagi menjadi kelompok osmotik, sekretorik, eksudatif dan gangguan motilitas. Diare osmotik terjadi bila ada bahan yang tidak dapat diserap meningkatkan osmolaritas dalam lumen yang menarik air dari plasma sehingga terjadi diare. Contohnya adalah malabsorbsi karbohidrat akibat defisiensi laktase atau akibat garam magnesium. Diare sekretorik bila terjadi gangguan transport elektrolit baik absorbsi yang berkurang ataupun sekresi yang meningkat. Hal ini dapat terjadi akibat toksin yang dikeluarkan bakteri misalnya toksin kolera atau pengaruh garam empedu, asam lemak rantai pendek, atau laksantif non osmotik. Beberapa hormon intestinal

seperti gastrin vasoactive intestinal polypeptide (VIP) juga dapat menyebabkan diare sekretorik. Diare eksudatif, inflamasi akan mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti gluten sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi. Kelompok lain adalah akibat gangguan motilitas yang mengakibatkan waktu tansit usus menjadi lebih cepat. Hal ini terjadi pada keadaan tirotoksikosis, sindroma usus iritabel atau diabetes melitus. Diare dapat terjadi akibat lebih dari satu mekanisme. Pada infeksi bakteri paling tidak ada dua mekanisme yang bekerja peningkatan sekresi usus dan penurunan absorbsi di usus. Infeksi bakteri menyebabkan inflamasi dan mengeluarkan toksin yang menyebabkan terjadinya diare. Infeksi bakteri yang invasif mengakibatkan perdarahan atau adanya leukosit dalam feses.

2.3

Escherichia coli penyebab diare Eschericia coli merupakan anggota mikrobiota usus yang paling dikenal pada

saluran pencernaan manusia. Varietas E. coli yang dapat menyebabkan diare dinamakan sebagai pathotypes, termasuk di antaranya enterotoxigenic, enteroinvasive, enteropathogenic, dan enterohemorrhagic E. coli. Individual strain pathotypes memiliki perbedaan sekumpulan virulensi yaitu karakteristik yang ditentukan secara klinis, patologi, dan ciri epidemologi dari penyakit yang ditimbulkannya (Brownie dan Hartland 2002). Escherichia coli enterotoxigenic merupakan penyebab utama dari travelers diarrhea dan diare pada bayi yang berada pada negara-negara berkembang. Enteroinvansive menyebabkan disentri, Enteropathogenic penyebab penting diare pada bayi, dan enterohemorrhagic penyebab hemorrhagic colitis dan hemolytic uremic syndrome (Jay et al. 2005). EPEC melekat pada permukaan mukosa usus dan menyebabkan terjadinya perubahan struktur sel. EPEC kemudian melakukan invasi menembus sel mukosa.

Pada dosis 105-1010 sel, EPEC dapat menyebabkan diare (Sussman 1997). EPEC melekat pada sel mukosa yang kecil. Infeksi EPEC yang melibatkan gen EPEC adherence factor (EAF) menyebabkan perubahan konsentrasi kalsium interseluler dan arsitektur sitoskleton di bawah membran mikrovilus. EPEC menyebabkan diare melalui molekular kolonisasi pada sel usus. EPEC memiliki sedikit fibria, menghasilkan sitotoksin, dan menggunakan adhesin yang dikenal sebagi intimin untuk mengikat inang sel usus. Sel EPEC tersebut invasif jika memasuki sel inang dan menyebabkan radang. Tanda-tanda infeksi yang disebabkan oleh E. coli dimulai kira-kira tujuh hari setelah seseorang terinfeksi oleh bakteri. Tanda awal adalah kram pada bagian perut yang hebat. Setelah beberapa jam, diare berair dimulai. Diare akan menyebabkan tubuh kehilangan cairan dan elektrolit sehingga penderita mengalami dehidrasi, sakit dan lemas. Infeksi ini menyebabkan usus besar penderita mengalami infeksi bahkan dapat menyebabkan diare berdarah. Diare berdarah dapat mengalami pusing Klasifikasi cacing tanah (L. rubellus) adalah: Kingdom Animalia, Phylum Annelida, Kelas Oligochaeta, Ordo Torriselae, Family Lumbricidae, Genus Lumbricus, Spesies L. rubellus. Cacing tanah yang termasuk phylum Annelida, tubuhnya bersegmensegmen. Hidup didalam tanah yang lembab, dalam laut dan dalam air, pada umumnya hidup bebas, ada yang hidup dalam liang, beberapa bersifat komensial pada hewan-hewan aquatis, dan ada juga bersifat parasit pada vertebrata. Tubuhnya juga tertutup oleh kutikula yang merupakan hasil sekresi dari epidermis, sudah mempunyai system norvesum, system cardiovascular, dan sudah ada rongga tubuh (coelom) (Kastawi dkk., 2001). Cacing tanah jenis L. rubellus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah cincin yana melingkari tubuhnya (segmen) yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum (penebalan pada tubuh cacing) terletak pada segmen 27-23. L. rubellus, merupakan cacing berukuran relative kecil dengan panjang anatara 4-6cm. Bagian punggungnya bewarna merah coklat atau bewarna merah violet. Selain warna dasar cacing ini juga memiliki warna iridescent atau warna pelangi. Pada umumnya L. rubellus akan mencapai usia dewasa pada umur 179 hari, Sedangkan umurnya sampai 2.5 tahun (Dewangga, 2009). berlangsung selama 2 hingga 5 hari. Penderita juga dapat mengalami pergerakan isi perut selama sepuluh kali atau lebih dan dapat juga

BAB III PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis jurnal penelitian dan beberapa teori yang telah dilakukan, diperoleh pembahasan sebagai berikut.

3.1

Data

hasil

pengamatan

terhadap

diameter

zona

hambat

terhadap

pertumbuhan bakteri Escherichia coli yang dianalis dengan Analisis of Variance (ANNOVA). Rata-rata diameter zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli seperti pada Tabel 1. Tabel 1. Rata-rata diameter zona hambat Rata-rata diameter daerah bebas bakteri dalam bakteri Escherichia coli. Konsentrasi Escherichia coli C = (air rebusan 20%) A = (Kontrol Amoxcilin 10 %) E = (air rebusan 60 %) D = (air rebusan 40 %) F = (air rebusan 80 %) 14,97 a 12,71 a b 9,56 b 9,36 b 7,92 b (mm)

Berdasarkan hasil Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada konsentrasi air rebusan cacing tanah 20 % sudah dapat menekan pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan zona hambat sebesar (14,97 mm). Berarti pada konsentrasi tersebut air rebusan cacing tanah sudah bersifat bakteriostatik.

Dari hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan baik. Daya hambat yang terbentuk pada masing-masing perlakuan berbeda-beda. Pada konsentrasi 20 % menunjukkan rata- rata daerah hambat terbesar yaitu 14,49 mm dan pada konsentrasi 80 % menunjukkan rata-rata daerah hambat terkecil yaitu 7,92 mm. Sebagai kontrol positif digunakan amoxicillin 10 % yang menghasilkan rata-rata diameter 12,70 mm dan kontrol negatif yang tanpa menggunakan air rebusan cacing tanah tidak menunjukkan adanya daya hambat. Sehingga data yang didapat tersebut dapat di analisis berdasarkan PICOT yaitu: P: None I: Pengaruh Air Rebusan Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli C: kadar rebusan air cacing tanah dengan kadar 20%, 40%, 60% , 80% , air rebusan tanpa cacing tanah, dan control amoxilin 10% O: dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia Coli yang dapat

menyebabkan diare akut. T: 6 bulan dilaksanakan terhitung dari November 2011 sampai mei 2012

3.2

Cacing tanah (L. rubellus) banyak mengandung protein 64 - 76 dan

mengandung asam amino prolin sekitar 15 % dari 62 asam amino (Cho et al., 1998 dalam Damayanti, 2009). Didalarn ekstrak cacing tanah juga terdapat zat antipurin, antipiretik, peroksidase, antidota, katalase vitamin dan dan beberapa yang enzim misalnya untuk lumbrokinase, pengobatan selulose berkhasiat

(Priosoeryanto 2001). Adanya daya hambat bakteri yang dibentuk oleh air rebusan cacing tanah (L. rubellus) disebabkan adanya aktifitas antimikroba terhadap bakteri E. coli, kemampuan dari air rebusan cacing tanah (L. rubellus), karena mempunyai

senyawa antimikroba yaitu Lumbricin. Cacing tanah (L. rubellus) mengandung bioaktif Lumbricin atau senyawa-senyawa peptida yang dapat menghambat bakteri gram positif maupun negatif (broad spectrum). Selain itu cacing tanah ( L. rubellus) juga kaya senyawa peptida seperti coelomocytes (bagian sel darah putih) didalamnya terdapat lysozym yang berperan dalam aktivitas fagositosis serta berfungsi untuk meningkatkan kekebalan (Cho et al, 1998 dalam Julendra 2007). Adapun senyawa aktif cacing tanah adalah golongan senyawa alkaloid, senyawa alkaloid pada cacing tanah mengandung atom nitrogen dan bersifat basa (pH lebih dari 7) yang juga dimiliki tumbuhan seperti kina dan tembakau sebagai antibakteri (Khairuman dan Khairul, 2009).

BAB IV PENUTUP

4.1

Simpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan antara

lain: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa air rebusan cacing tanah dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Air rebusan cacing tanah yang efektif dalam menghambat Escherichia coli adalah pada konsentrasi 20 %.

4.2 1. 2.

Saran
Perlu diadakan penelitian terkait KHM pada biakan bakteri lainnya Perlu lebih dikembangkan lagi usaha perawat dalam meneliti serta

menginformasikan kepada masyarakat menegenai potensi cacing tanah terutama dalam pengobatan diare akut.

KESIMPULAN

Annelida berasal dari bahasa latin: annulus = cincin/gelang, maka sering juga disebut cacing gelang karena tubuhnya tersusun atas segmen yang menyerupai cincin atau gelang. Annelida merupakan binatang triploblastik selomata, tubuhnya bersegmen. Setiap segmen dibatasi oleh sekat (septum). cacing protostome dengan tiga lapisan sel, saluran cerna dengan mulut dan anus, sebuah dinding tubuh dengan otot membujur dan melingkar. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1mm sampai 3 m, tubuhnya simetri bilateral, berbentuk seperti gelang ('anellus' = cincin), memiliki alat gerak berupa bulu-bulu kaku pada setiap segmen dan memiliki sistem peredaran darah tertutup serta tubuh tertutupi oleh kutikula yang licin yang terletak diatas ephitelium. Annelida dikelompokan menjadi 3 kelas yaitu : polychaeta (cacing berambut

banyak), oligochaeta (cacing berambut sedikit), hirudinea (lintah). Sebagian besar annelida hidup bebas didasar laut dan perairan tawar atau ada juga yang hidup ditanah dan tempat-tempat lembab. Ada 2 penyakit yang disebabkan oleh hewan annelida yaitu : Ascariasis disebabkan oleh Ascaris Lumbricoides dan keputihan yang disebabkan oleh Trichomoniasis atau infeksi akibat parasit Trichomonas vaginalis. Selain itu ada beberapa manfaat yg dapat diperoleh perawat dengan mempelajari hewan annelida, yaitu : Dapat mengetahui apa itu hewan anelida, bagaimana struktur tubuh dan juga habitatnya, klasifikasi hewan anelida,keuntungan dan kerugian dari hewan anelida, dan mengetahui penyakit yang disebabkan oleh hewan anelida.

DAFTAR PUSTAKA

Berhman RE, Kliegman RM, dan Arvin AM. 1999. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Volume 2. Editor edisi bahasa Indonesia A. Samik Wahab. Edisi 15. Jakarta : EGC. Soegijanto, Soegeng. 2005. Kumpulan Makalah Penyakit Ttopis dan Infeksi di Indonesia. Cetakan 1. Surabaya : Airlangga University Press. Kasdu, Dra. Dini, M.Kes. 2005. Solusi Problem Wanita Dewasa. Jakarta : Puspa Swara.

Muslim, H. M, M.Kes. 2005. Parasitologi untuk Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Zulkoni, Akhsin. 2011. Parasitologi. Yogyakarta: Nuha Medika. http://www.googleimage.Trichomonas vaginalis.com Indriati, gustina. 2012. Pengaruh air rebusan cacing tanah (Lumbricus rubellus) terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli. Medan : Universitas negeri medan. Ciesla WP, Guerrant RL. Infectious Diarrhea. In: Wilson WR, Drew WL, Henry NK, et al editors. Current Diagnosis and Treatment in Infectious Disease. New York: Lange Medical Books, 2003. 225 68

Damayanti, E. Sofyan, A. Julendra, H. Untari T. 2009. Pemanfaatan Tepung Cacing Tanah (Lumbricus rubellus) Sebagai Agensia Anti-Pullorum Dalam Imbuhan Pakan Ayam Broiler. Jurnal Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada: Yogyakarta Dewangga, A, G. (2009). Pengaruh Penggunaan Tepung Cacing Tanah Lumbricus rubellus) Terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik Ransum Domba Lokal Jantan. Skripsi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta: Surakata.

Lu L, Walker WA. 2001. Pathologic and physiologic interactions of bacteria with the gastrointestinal epithelium. Am J Clin Nutr 73 (suppl) ; 1124S-1130S. Soewondo ES. Penatalaksanaan diare akut akibat infeksi (Infectious Diarrhoea). Dalam : Suharto, Hadi U, Nasronudin, editor. Seri Penyakit Tropik Infeksi Perkembangan Terkini Dalam Pengelolaan Beberapa penyakit Tropik Infeksi. Surabaya : Airlangga University Press, 2002. 34 40.

Sujaya, I Nengah, dkk. Potensi Lactobacilus spp. Isolat Susu Kuda Sumbawa sebagai Prebiotik. Jurnal Veteriner. 2008. Vol. 9 No. 1 :33-40, ISSN : 1411-8327.

Rani HAA. Masalah Dalam Penatalaksanaan Diare Akut pada Orang Dewasa. Dalam: Setiati S, Alwi I, Kasjmir YI, dkk, Editor. Current Diagnosis and Treatment in Internal Medicine 2002. Jakarta: Pusat Informasi Penerbitan Bagian Penyakit Dalam FK UI, 2002. 49-56.