Anda di halaman 1dari 16

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit paget merupakan penyakit gangguan pada osteoklas dimana osteoklas lebih aktif dibanding osteoblast, sehingga terjadi absorbsi tulang yang berlebihan dan diikuti oleh pembentukan tulang baru yang juga berlebihan oleh osteoblas. Tulang menjadi lebih besar dari normal, namun struktur dalam tulangnya sangat kacau. Hal ini dapat menyebabkan nyeri tulang, deformitas, dan kerapuhan tulang. Sampai saat ini penyebab penyakit paget masih belum diketahui secara pasti. Selain itu, penyakit paget juga mempunyai tanda dan gejala yang sangat susah untuk diketahui sejak dini, karena tanda dan gejala awal yang muncul sangat susah dibedakan dengan penyakit tulang lainnya. Sehingga sebagian besar penderita penyakit ini mengetahui bahwa dirinya menderita penyakit paget secara pasti setelah adanya pemeriksaan-pemeriksaan yang mendukung untuk penyakit ini. Oleh sebab itu, diperlukan pembelajaran yang lebih lanjut dalam memahami dan mengerti dari penyakit paget ini.

1.2 Rumusan Masalah 1) Definisi Penyakit paget ? 2) Etiologi/penyebab Penyakit paget ? 3) Manifestasi klinis Penyakit paget ? 4) Patofisiologi Penyakit paget ? 5) Pemeriksaan penunjang Penyakit paget ? 6) Pentalaksanaan Penyakit paget ? 7) Komplikasi Penyakit paget ? 8) Asuhan Keperawatan Penyakit paget ? 9) Diagnosa Penyakit paget ? 10) Intervensi dan Rasional Penyakit paget ?

1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1 Tujuan Umum Tujuan umum penulisan makalah ini adalah agar kita dapat meningkatkan pengetahuan dan menemukan wawasan tentang keperawatan khususnya Asuhan Keperawatan pada pasien gangguan Skeletal (penyakit paget). Mahasiswa juga mampu memahami pengertian, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan penunjang, penatalaksanaan , dan komplikasi penyakit paget. 1.3.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah agar para mahasiswa keperawatan mengetahui dan memahami : 1) Mengetahui Definisi Penyakit paget. 2) Mengetahui Etiologi/penyebab Penyakit paget. 3) Mengetahui Manifestasi klinis Penyakit paget. 4) Mengetahui Patofisiologi Penyakit paget. 5) Mengetahui Pemeriksaan penunjang Penyakit paget. 6) Mengetahui Pentalaksanaan Penyakit paget. 7) Mengetahui Komplikasi Penyakit paget. 8) Mengetahui Asuhan Keperawatan Penyakit paget. 9) Mengetahui Diagnosa Penyakit paget. 10) Mengetahui Intervensi dan Rasional Penyakit paget.

1.4 Metode Penulisan Metode penulisan makalah ini menggunakan study kepustakaan dan media elektronik. Study kepustakaan adalah metode dengan cara membaca dan

mengumpulkan data-data dari buku, dan media elektronik adalah metode denga cara membaca dan mengumpulkan data dari internet.

1.5 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan dalam makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan dan wawasan para mahasiswa/mahasiswi keperawatan, khususnya keluarga besar STIKES EKA HARAP agar dapat lebih mengetahui dan mengerti mengenai PENYAKIT PAGET serta penyebab dari penyakit paget itu sendiri.

BAB 2 TINJAUAN TEORI

2.1. TINJAUAN TEORI 2.1.1 Definisi Penyakit Paget (Osteitis Deformans) merupakan salah satu gangguan metabolisme tulang yang ditandai dengan proses remodelling tulang yang abnormal. Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti, namun umumnya abnormalitas fungsi osteoklast atau osteoblast pada penderita penyakit paget menjadi sangat aktif sehingga mengubah homoestasis normal dari remodelling tulang. Laju pertumbuhan tulang lebih cepat dari seharusnya, sehingga tulang bisa berubah bentuk, lunak dan rentan terhadap patah tulang. Kelainan ini dapat mengenai tulang manapun, tetapi yang paling sering terkena adalah tulang panggul, tulang paha, tulang tengkorak, tulang kering, tulang belakang, tulang selangka dan tulang lengan atas.

Gambar 2.1: Kaki penderita penyakit paget

Gambar 2.2 : Bagian tulang yang sering terkena penyakit paget

Penyakit paget lebih sering menyerang tulang secara multifokal. Penyakit paget tidak menyebar dari satu tulang ke tulang lainnya, melainkan secara progressif memperburuk tulang yang telah terkena penyakit ini. Penyakit Paget dibagi menjadi tiga fase yaitu : 1) Fase Osteolitik, ditandai dengan resorpsi tulang oleh sejumlah osteoklast yang abnormal. Kemudian adanya reaksi dari osteoblast dalam memproduksi tulang baru secara berlebihan namun sangat tidak terkontrol. 2) Fase Menengah 3) Pada tahap ini aktivitas osteoblast mendominasi. Hal ini ditunjukkan dengan perubahan struktur tulang atau deformitas. 4) Fase Quiescent 5) Pada fase ini aktivitas osteoblastik berkurang. Tulang menjadi diam dan proses remodelling tulang tidak mengalami peningkatan. Tulang membesar dan melebar dari ukuran normal. Jaringan vaskular fibrosa menggantikan sumsum.

2.1.2 Etiologi Faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab penyakit paget dan sering terjadi adalah : 1) Autoimun 2) Kelainan Endokrin yang berhubungan dengan penyakit hiperparatiroid 3) Kelainan kongenital pada jaringan ikat 4) Kelainan vaskular 5) Kelainan sistem saraf otonom 6) Infeksi virusparamyxoviruses 7) Kelainan genetik (teori ini masih sangat lemah) 8) Faktor lingkungan

2.1.3 Manifestasi Klinis Kebanyakan penderita tidak sadar bahwa dirinya telah menderita penyakit paget, karena kebanyakan gejala yang muncul biasanya tidak terlalu signifikan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Kelainan biasanya didapat ketika melakukan pemeriksaan radiologis ataupun pemeriksaan penunjang lainnya.

Jika yang terkena adalah tulang tengkorak, maka kepala tampak membesar dan kening terlihat lebih menonjol. Pembesaran tulang tengkorak dapat menyebabkan : . Ketulian karena rusaknya telinga sebelah dalam ( koklea ) . Sakit kepala karena penekanan saraf . Penonjolan vena di kulit kepala Karena adanya peningkatan aliran darah kekepala . Gigi mulai goyah dan tanggal. . Saraf yang menuju kemata mungkin akan terpengaruh, menyebabkan beberapa kehilangan visual. Jika yang terkena adalah tulang belakang, maka keluhan utamanya adalah nyeri punggung bagian bawah. Kanalisspinalis menjadi sempit (keadaan ini disebut sebagai stenosis spinalis) dan bisa menyebabkan mati rasa atau lumpuh.

Patah tulang kompresi pada tulang belakang bisa menyebabkan Tulang belakang bisa membesar, menjadi lemah dan melengkung, sehingga tinggi badan berkurang. Pada anggota gerak (terutama tungkai yang menyangga berat badan), tulang mudah mengalami patah, dengan masa penyembuhan yang lebih lama dan mulai melengkung atau mengalami kelainan bentuk. Kaki menjadi bengkok dan langkah menjadi pendek dan sedikit goyah. Kerusakan pada tulang rawan sendi bisa menyebabkan terjadinya artritis. Dapat disimpulkan bahwa beberapa tanda dan gejala yang timbul pada penderita penyakit paget adalah: 1. 2. 3. 4. 5. Nyeri dan kaku didaerah yang terkena penyakit Osteoarthritis sekunder (ketika penyakit paget terjadi disekitar sendi) Deformitas tulang Panas tinggi ( karena adanya hipervaskularity) Komplikasi neurologis (adanya kompresi jaringan saraf)

2.1.4 Patofisiologi Faktor pencetus lainnya

Infeksi Virus

Genetik

Lingkungan

Abnormalitas Osteoklast

Resopsi tulang meningkat

Mekanisme kompensasi fisiologis oleh osteoblast

Peningkatan kinerja Osteoblast

Proses remodelling tulang meningkat

Tulang baru abnormal (lunak, membesar dan rentan)

Gangguan citra tubuh

Deformitas

Resiko tinggi cedera maupun fraktur

Nyeri

Resiko HDR

Intoleransi Aktivitas

Kurang Pengetahuan

Koping tidak efektif

Ansietas

2.1.5 Pemeriksaan Penunjang A. Radiologis Tampilan dari radiologis sangatlah karakteristik untuk penyakit paget, sehingga diagnosis jarang meragukan. Saat fase resorpsi tampak daerah osteolisis yang terlokalisasi; gambaran yang paling khas adalah gambaran seperti api yang memanjang sepanjang diafisis dari tulang (flame shaped lesion atau blade of grass), atau bercak osteoporosis berbatas tegas di tulang tengkorak (osteoporosis circumscripta). Kemudian tulang menjadi menebal dan sklerotik dengan gambaran trabekula yang kasar. B. CT-Scan dan MRI CT-Scan dan MRI tidak diperlukan dalam penegakan diagnosis penyakit paget, namun keduanya sangat berguna untuk mengevaluasi komplikasi penyakit paget, seperti degenerasi ganas, kelainan artikular, dan keterlibatan tulang belakang dengan

gangguan neurologis. Kelainan pada sendi membutuhkan CT-Scan atau MRI untuk menggambarkan sejauh mana komplikasi sendi yang terjadi. CT-Scan dan MRI juga berguna untuk mendiagnosa dan mengevaluasi komplikasi neurologis seperti invaginasi basilar, kompresi medulla spinalis, atau hydrocephalus. Stenosis spinal dan keterlibatan vertebra paling baik di evaluasi menggunakan CT-Scan atau MRI CT-Scan memberikan visualisasi yang lebih baik untuk tulang dan fossa posterior, sedangkan MRI memberikan gambaran yang lebih detil untuk otak, medulla spinalis, cauda equina, dan jaringan lunak. Oleh karena itu, perubahan neoplastik seperti sarcoma paget dan penyebarannya lebih baik dievaluasi menggunakan MRI C. Investigasi Biokimia Kadar serum kalsium dan fosfat biasanya normal, namun pasien yang imobilisasi dapat mengalami hiperkalsemia. Test rutin yang paling berguna untuk mendiagnosa penyakit paget adalah penilaian konsentrasi serum alkaline phospatase (merefleksikan aktifitas osteoblas dan menunjukkan tingkat keparahan penyakit), dan kadar hydroxyproline di urine selama 24 jam (berkorelasi dengan proses resoprsi tulang).

D. Bone Scan Pemindaian tulang adalah alat bantu diagnostik yang sangat sensitif untuk mengevaluasi sejauh mana lesi tulang yang terkena penyakit paget. Namun pemindaian tulang kurang spesifik daripada foto radiologis polos, sehingga perubahan yang dideteksi pada skintigrafi harus dikonfirmasi oleh adanya perubahan pada minimal satu tempat pada tulang dengan foto radiologis polos.

2.1.5 Penatalaksanaan Biasanya, tidak ada tindakan yang dianjurkan bagi pasien tanpa gejala. Nyeri biasanya berespon dengan pemberian NSAID. Biphosphonate adalah obat antiresorptive yang paling banyak digunakan dan saat ini dianggap sebagai pilihan utama untuk terapi penyakit paget. Banyak klinis yang merasa aminobiphosphonates seperti pamidronate, risedronate, dan zoledronic acid lebih baik daripada jenis biphosphonate yang lama seperti etidronate dan tiludronate karena aminobiphosphonates lebih efektif dalam mengurangi bone turnover. Biphosphonate dapat diberikan secara oral maupun secara intravena. Kalsitonin, suatu hormon polipeptid dapat memeperlambat resorbsi tulang dengan menurunkan jumlah dan ketersediaan osteoklas. Terapi kalsitonin memungkinkan remodelling tulang pagetik abnormal menjadi tulang lamelar normal, mengurangi nyeri tulang dan membantu mengurangi komplikasi neurologis dan biokimia. Kalsitonin diberikan secara subkutan. Efek samping berupa aliran panas pada wajah dan mual dapat diatasi dengan memakai obat sebelum tidur atau bersama dengan antihistamin. Efek ini cenderung kurang bersama dengan waktu. Terapi kalsitonin dilanjutkan untuk 3 bulan. Disodium Etidronat (EHDP), suatu senyawa difosfat, menghasilkan pengurangan pergantian tulangcepat dan mengurangi nyeri. Juga menurunkan peningkatan fosfatase alkali serum dan kadar hidroksiprolin urine. Makanan dapat menghambat

penyerapannya. Efek samping mual, kram perut dan diare dapat terjadi dan dapat dikurangi dengan menurunkan dosis. Dosis tinggi dapat mencegah penyembuhan fraktur dan dapat berperan terjadinya osteomalasia. Kalsitonin dan EHDP dapat dikombinasikan dan diberikan kepada pasien dengan penyakit yang sangat aktif.

Plikamisin (Mithrachin), suatu antibiotik sitotoksik, dicadangkan bagi pasien berat dengan gangguan neurologis atau bagi mereka yang resisten terhadap terapi yang lain. Obat ini memiliki efek dramatik pada pengurangan nyeri dan pada kalsium serum, alkali fosfatase dan kadar hidroksiprolin urine. Diberikan secara infus intra avena dan perlu pemantauan fungsi hepar, ginjal dan sumsum tulang selama terapi. Kehilangan pendengaran ditangani dengan alat bantu dengar dan teknik komunikasi dilakukan pada orang yang menderita gangguan pendengaran (mis. Membaca bibir, bahasa tubuh). Operasi Orthopaedi, biasanya operasi dilakukan jika ada salah satu komplikasi berikut : Osteoarthritis yang menyebabkan nyeri Fraktur pada tulang panjang Deformitas berat Nerve entrapment Spinal stenosis Osteosarcoma yang dapat didiagnosis dini

2.1.5 Komplikasi 1. Fraktur 2. Gagal jantung dapat terjadi karena tingginya kebutuhan aliran darah pada tulang yang mengalami remodelling (gagal jantung high-output) 3. Gagal napas dapat terjadi apabila tulang toraks terkena dan mengalami deformitas 4. Penyakit paget merupakan salah satu faktor resiko terjadinya sarkoma (kanker tulang), mungkin hal ini berkaitan dengan tingginya kecepatan siklus sel yang terjadi pada penyakit ini. 5. Komplikasi neurologis:kompresi saraf kranial, tuli konduktif (karena osifikasi tendon stapedius/kompresi N.VIII) dan stenosis spinal.

10

2.2 ASUHAN KEPERAWATAN 2.2.1 Pengkajian 1) Identitas klien Identitas klien meliputi biodata umum klien (nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan lain-lain), ras/suku bangsa, berat badan, dan faktor lingkunagan ( pekerja berat ) 2) Keluhan Utama Adanya nyeri yang timbul pada daerah yang terkena. Nyeri bertambah jika melakukan aktivitas atau bergerak. Terjadi penurunan tinggi badan dan adanya deformitas pada daerah yang terkena. Rasa sakit tulang punggung (bagian bawah), leher, dan pinggang, berat badan menurun. 3) Riwayat Kesehatan Sekarang 4) Riwayat Kesehatan Masa Lalu 5) Riwayat Psikososial 6) Pola Nutrisi Kurangnya asupan kalsium, pola makan yang tiadak teratur, adanya riwayat perokok dan riwayat mengkonsumsi alkohol serta riwayat minum minuman yang juga bersoda. 7) Pola Aktivitas Keterbatasan/kehilangan fungsi pada bagian yang terkena, nyeri (mungkin segera atau terjadi secara sekunder dari pembengkakan jaringan) 8) Neurosensori Kesemutan, kelemahana tau hilang fungsi, penurunan visual, auditori, hilang gerakan/sensasi, spasmeotot, terjadi penekanan saraf cranial dan kanalis spinalis 9) Pernapasan Terjadi perubahan pernafasan pada kasus kiposis berat, karena penekanan pada fungsional paru. 10) Skeletal Inspeksi dan palpasi seluruh tubuh pasien, penderita dengan penyakit paget berat sering menunjukkan adanya perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, nyeri pada daerah tulang yang terkena.

11

2.2.2 Diagnosa 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera. 2. Resiko tinggi cedera (fraktur) berhubungan dengan penurunan masa tulang, penurunan fungsi tubuh, dampak sekunder perubahan skeletal 3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, penurunan kemampuan otot 4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas skeletal,

ketidakseimbangan mobilitas fisik 5. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan gangguan citra tubuh, penyakit fisik 6. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan, ancaman kematian, stres.

2.2.3 Intervensi Keperawatan 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera. Tujuan: Nyeri berkurang sampai dengan hilang Kriteria hasil: - Menunjukkan nyeri berkurang sampai dengan hilang - Terlihat rileks, dapat tidur / beristirahat dan berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan. Intervensi: - Selidiki keluhan nyeri. Catat lokasi, kualitas, pencetus, skala (0-10) dan waktu datangnya nyeri. Catat dan kaji faktor-faktor yang mempercepat dan tanda-tanda rasa sakit nonverbal. Rasional: membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan program. - Ajarkan dan bantu pasien mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur atau duduk dikursi. Pantau posisi yang aman. Rasional: mengurasngi rasa nyeri dan meningkatkan relaksasi - Berikan matras/kasur keras, bantal kecil. Tinggikan linen tempat tidur sesuai kebutuhan.

12

Rasional: matras yang lembut/empuk, bantal yang besar akan mencegah pemeliharaan kesejajaran tubuh yang tepat, menempatkan stres pada daerah yang sakit. - Dorong penggunaan teknik manajemen stres, misalnya relaksasi, sentuhan terapeutik, hipnosis diri, dan pengendalian napas. Rasional: meningkatkan relaksasi, memberikan rasa kontrol, dan mungkin meningkatkan kemampuan koping. - Libatkan kilen dalam aktivitas hiburan yang sesuai untuk situasi individu Rasional: memfokuskan kembali perhatian, memberikan stimulasi, dan

meningkatkan rasa percaya diri dan perasaan sehat. - Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan. Mis. Aspirin, ibuprofen, sulindak Rasional: mempercepat proses penyembuhan klien dengan mengurangi tingkat nyeri

2.

Resiko tinggi cedera (fraktur) b.d penurunan masa tulang, penurunan fungsi tubuh, dampak sekunder perubahan skeletal.

Tujuan : Resiko cedera tidak menjadi aktual Kriteria hasil : Klien tidak jatuh dan fraktur tidak terjadi, klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur. Intervensi Keperawatan : - Observasi aktivitas klien selama dirumah sakit. Hindari membungkuk tiba-tiba, gerakan mendadak, dan mengangkat berat. Rasional: mencegah resiko terjadinya kecelakaan dan mencegah terjadinya nyeri yang lebih berat. - Ajarkan penggunaan mekanik tubuh yang baik dan postur tubuh yang benar saat duduk maupun berdiri. Rasional: mempertahankan atau mengembalikan postur tubuh yang benar. - Berikan support ambulasi sesuai dengan kebutuhan Rasional: mengurangi resiko kecelakaan dan skala nyeri bertambah - Beri lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien. Rasional: mengurangi resiko terjadinya kecelakaan.

13

- Kolaborasi dalam pemberian terapi obat obatan misalnya pemberian terapi hormonal dan terapi non hormonal. Rasional: memperbaiki kepadatan tulang

3.

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan deformitas skeletal, nyeri, penurunan kemampuan otot.

Tujuan: memperbaiki gangguan mobilisasi fisik Kriteria hasil: - Mempertahankan ataupun meningkatkan kekuatan dan fungsi dari dan/atau kompensasi bagian tubuh. - Menunjukan teknik/perilaku yang memungkinkan melakukan aktivitas Intervensi: - Evaluasi/lanjutkan pemantauan tingkat rasa sakit/inflamasi pada daerah yang terkena penyakit Rasional: tingkat aktivitas/latihan tergantung dari perkembangan/resolusi dari proses inflamasi - Pertahankan istirahat tirah baring/duduk jika diperlukan. Jadwal aktivitas untuk memberikan periode istirahat yang terus menerus dan tisur malam hari yang tidak terganggu. Rasional: istirahat sistemik dianjurkan selama eksaserbasi akut dan seluruh fase penyakit yang penting untuk mencegah kelelahan, mempertahankan kekuatan. - Bantu dan ajarkan rentang gerak pasif/aktif Rasional: mempertahankan/meningkatkan fungsi sendi, kekuatan otot dan stamina umum. - Ubah posisi klien dengan sering. Rasional:menghilangkan tekanan pada jaringan dan meningkatkan sirkulasi. Mempermudah perawatan diri dan kemandirian klien. - Demonstrasikan/bantu teknik pemindahan dan penggunaan bantuan mobilitas. Rasional: Teknik pemindahan yang tepat dapat mencegah robekan/abrasi kulit. - Bantu klien menggunakan alat bantu walker atau tongkat. Rasional: Alat bantu walker atau tongkat berfungsi dalam membantu mobilitas fisik klien.

14

- Berikan dan atur lingkungan yang aman dan nyaman Rasional: menghindari cedera akibat kecelakaan/jatuh - Kolaborasi dengan ahli terapi fisik/okupasi dan spesialis vokasional Rasional: berguna dalam memformulasikan program latihan/aktivitas yang berdasarkan pada kebutuhan individual dan dalam mengdentifikasikan alat/bantuan mobilitas.

4.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan deformitas skeletal, ketidakseimbangan mobilitas fisik.

Tujuan: meningkatkan tingkat pemahaman klien mengenai proses penyakit Kriteria hasil: mengungkapkan peningkatan rasa percaya diri dalam kemampuan untuk menghadapi penyakit, perubahan pada gaya hidup, dan kemungkinan keterbatasan. Intervensi: - Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu

memperhatikan tubuh/perubahan. Rasional: dapat menunjukan emosional ataupun metode koping yang maladaptif, membutuhkan intervensi lebih lanjut/dukungan psikologis. - Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa depan. Rasional: berikan kesempatan untuk mengidentifikasi rasa takut/kesalahan konsep dan menghadapinya secara langsung. - Bantu dengan kebutuhan keperawatan yang diperlukan Rasional: mempertahankan penampilan yang dapat meningkatkan citra diri. - Bantu pasien untuk mengidentifikasi perilaku positif yang dapat membantu koping. Rasional: membantu pasien untuk mempertahankan kontrol diri., yang dapat meningkatkan perasaan harga diri. - Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas. Rasional: meningkatkan perasaan kompetensi/harga diri, mendorong kemandirian, dan mendorong partisipasi dalam terapi. - Kolaborasi kepada ahli psikiatri. Mis. Perawat spesialis psikiatri. Rasional: klien/orang terdekat mungkin membutuhkan dukungan selama

berhadapan dengan proses jangka panjang/ketidakmampuan.

15

BAB 3 PENUTUP

3.1 Simpulan Penyakit Paget adalah kelainan metabolik tulang kronik yang secara khas mengakibatkan pembesaran, deformitas tulang, kerusakan formasi jaringan tulang dan irregularitas struktur dalam tulang yang ditandai oleh peningkatan remodelling tulang akibat kinerja osteoklas yang berlebihan dan diikuti oleh peningkatan aktivitas osteoblas sehingga pada akhirnya akan menyebabkan kerapuhan dan kelemahan tulang. Penyakit ini juga dikenal dengan nama Osteitis Deformans.

3.2 Saran Kebanyakan penderita tidak sadar bahwa dirinya telah menderita penyakit paget, karena kebanyakan gejala yang muncul biasanya tidak terlalu signifikan atau bahkan tidak menunjukkan gejala sama sekali. Penyakit paget biasanya dapat didiagnosa setelah melakukan pemeriksaan diagnostik terhadap klien atau setelah klien mengalami kelainan bentuk tulang atau rasa nyeri hebat pada tulang. Oleh sebab itu diperlukan pembelajaran lebih lanjut mengenai pemahaman dari penyakit paget ini.

15

16

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. (2007). Buku Saku Patofisiologi Edisi 3. Jakarta. Buku Kedokteran EGC Davies, Kim.(2007). Buku pintar Nyeri Tulang dan Otot. Jakarta. Erlangga Doenges, Marilynn dkk.(2000). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.Jakarta. EGC Robbins & Cotran.(2006). Buku Saku Dasar Patologis Edisi 7. Jakarta. EGC Sudiono, Janti. (2007). Gangguan Tumbuh Kembang Dentokraniofasial. Jakarta. Buku Kedokteran EGC http://www.scribd.com/doc/88815460/BAB-II ( Di unduh tanggal 31 Oktober 3013 ; Pukul 20.10) http://www.slideshare.net/theshizuka11/asuhan-keperawatan-pada-penyakit-paget ( Di unduh tanggal 31 Oktober 2013; Pukul 22.00) http://skydrugz.blogspot.com/2012/01/refarat-penyakit-paget-pagets-disease.html ( Di unduh tanggal 31 Oktober 2013; Pukul 22.25)

Anda mungkin juga menyukai