Anda di halaman 1dari 4

DIAGNOSIS BANDING Meningitis Tuberkulosis

Etiologi yaitu Mycobacterium tuberculosis yang mencapai menings karena penyebaran secara hematogen dari fokus organ yang terinfeksi tuberkulosis. Gejala biasanya muncul secara bertahap. Demam febris sering tetapi tidak selamanya ada. Proses infeksinya terjadi di basal otak sehingga biasa disebut basal meningitis. Kelumpuhan nervus kranialis biasanya umum terjadi, dan yang sering terjadi yaitu nervus yang mengatur pergerakan bola mata ( N. III, IV, VI ) dan nervus fasialis (N. VII). Selain itu, arteritis pada arteri serebral dapat menyebabkan focal brain infarction. [x]

Acute Bacterial Meningitis Bakterial meningitis akut dapat disebabkan oleh bakteri yang dapat mencapai otak melalui hematogen, perluasan secara terus menerus dari tempat infeksi, dan kontaminasi langsung. Onset klinis dari meningitis purulen biasanya akut atau subakut dan kondisi pasien menburuk dengan cepat. Penyebab meningitis purulen: [x] Bayi : Escherichia coli, grup B streptococcus, dan Listeria

monocytogenes; Anak-anak : Hemophilus influenzae, pneumococcus, dan meningococcus (Neisseria meningitidis); Dewasa: pneumococcus, meningococcus, dan jarang oleh staphylococcus dan gram negatif enterobacteria.

Gejala klinis berupa gejala meningitis secara umum dan nyeri otot, nyeri punggung, fotofobia, kejang epileptik, defisit nervus kranialis, dan gangguan kesadaran yang bervariasi. [x]

Abses otak Abses otak disebabkan oleh streptococcus dan staphylococcus, kasus yang jarang disebabkan oleh Pseudomonas, Actinomyces, dan fungi. Gejalanya yaitu demam, leukositosis, dan hipertensi intrakranial yang progressive. Ditandai dengan edema perifokal akibat efek massa pada otak berupa emfiema subdural atau abses epidural. Demam, sakit kepala, gejala meningitis, disertai defisit

neurologis merupakan gejala utama. Prognosis dapat mengancam jiwa. [x]

Terapi Ampoterisin B Kadar ampoterisin B dapat menstimulasi dan meningkatkan respon imun penderita. Ampoterisin B memiliki efek immunostimulatory yang spesifik. Ampoterisin B diberikan intratekal dengan dosis 0,25-0,5 mg/hari untuk mencapai level yang maksimal karena pemberian secara intravena menghasilan konsentrasi yang rendah pada ruang subarachnoid. Pemberian intravena diberikan dengan dosis 0,25-1 mg/kgBB dalam 500 ml pada 5 % dextrosa dalam air lebih dari periode 6 jam selama minimal 4 minggu. Efek samping berupa demam, menggigil, anemia akibat depresi sum-sum tulang, gangguan ginjal, tromboplebitis, mual, muntah, anemia, hipokalemia, uremia. [y]

Flusitosin Flusitosin memiliki penetrasi yang baik pada CSF mencapai level konsentrasi hingga 75% pada serum. Walaupun memiliki farmakokinetik yang

sangat baik, tetapi konsumsi tunggal obat ini tidak dianjurkan untuk terapi infeksi jamur karena dapat menimbulkan resistensi. Biasanya dikombinasikan dengan ampoterisin B untuk terapi infeksi SSP. Mikonazol Obat ini biasanya digunakan untuk terapi topikal candida atau infeksi dermatofita superfisial. Mikonazol intravena digunakan untuk terapi mikosis pada SSP tetapi penetrasi mikonazol pada ruang subarachnoid kurang baik, sehingga pemberian obat secara intratekal sebaiknya diberikan untuk terapi meningitis. Ketokonazol Obat ini memiliki aktivitas in vitro pada berbagai macam jamur yang menyebabkan infeksi SSP, tetapi penetrasinya yang melalui darah, cairan serebrospinal, dan sawar darah otak menyebabkan terbatasnya kegunaannya dalam terapi meningitis. Dosis yang diberikan yaitu maksimal 1.200 mg/hr karena memiliki efek samping. Pemberian dikombinasikan dengan ampoterisin B atau flusitosin. Flukonazol Merupakan obat yang paling baik dalam terapi infeksi SSP. Obat dengan mudah melewati darah, CSF, sawar darah otak, dan memiliki waktu paruh yang lama . Selain sukses dalam terapi meningitis jamur, obat ini juga digunakan untuk terapi supresif pada infeksi HIV-AIDS. Diberikan flukonazol selama 3 bulan sampai cairan serebrospinal steril dari infeksi jamur.

Prognosis Prognosis biasanya fatal dalam waktu beberapa bulan jika tidak diterapi, tetapi kadang-kadang dapat berlangsung lebih lama dalam waktu beberapa tahun dengan

kekambuhan yang berulang dan eksaserbasi. Kadang-kadang jamur telah tercatat dapat bertahan pada CSF selama 3 tahun atau lebih. Kasus yang sembuh spontan telah dilaporkan pada beberapa kasus. [z]

Daftar Isi [x] Mumentaler M, Mattle H, Taub E. Fundamentals of neurology an illustrated guide. New York: Thieme Stuttgart; 2006; p.112-114 [y] Mazzoni P, Pearson TS, Rowland LP. Merritts neurology handbook, 2nd edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2006; p.125 [z] Rowland Lewis P. Merritts neurology , 11th edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2005; p.229-230