Anda di halaman 1dari 46

HERNIA

A. Pengertian Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Pada hernia abdomen, isi perut menonjol melalui defek atau bagian lemah dari lapisan muskulo-aponeurotik dinding perut. Hernia terdiri atas cincin, kantong, dan isi hernia. Berdasarkan terjadinya, hernia dibagi atas hernia bawaan atau kongenital dan hernia dapatan atau akuisita. Hernia diberi nama menurut letaknya, misalnya diafragma, inguinal, umbilikal, femoral. Adapun pada hernia insisional defek dinding abdomen terjadi pada bekas luka sayatan prosedur operasi yang tidak menyatu dengan sempurna. Dinding abdominal membatasi secara langsung rongga abdomen, rongga dimana terdapat organ abdominal. Bagian dorsal, lateral, dan ventral dinding abdominal disusun oleh otot abdominis eksterna, interna, dan transversa. Otot abdominis eksterna terdapat mulai dari rusuk ke-5 hingga ke-12 dengan arah medio-caudal. Otot interna terdapat pada bagian atas tulang sacroiliac dengan arah medio-proksimal. Otot transversa terdapat pada bagian bawah rusuk ke-6, lumbodorsal fascia, dan tulang sacroiliac. Serabut dari otot-otot ini tersusun horizontal. Gabungan ketiga otot ini selanjutnya membentuk lapisan rectus yang melapisi otot rectus abdominis. Rectus abdominis memasuki celah tulang rusuk bagian suferior dan tulang pubis bagian inferior. Serabutnya

tersusun secara vertikal dan diselang-selingi oleh tiga atau empat perpotongan tendon. Lapisan yang melapisi otot rectus abdominis juga berhubungan langsung dengan otot contralateral rectus abdominis. Kedua otot ini membentuk struktur avaskular yang dinamakan linea alba. Tekanan dalam rongga abdomen dipertahankan dalam rentang nilai positif 2-20 mmHg (dalam posisi berbaring atau berdiri). Tekanan ini dapat meningkat hingga melebihi 150 mmHg pada saat batuk dan muntah. Pada kondisi peningkatan tekanan rongga abdomen, jaringan dan otot abdominal akan menegang. Menurut sifatnya, hernia dapat disebut hernia reponibel bila isi hernia dapat keluar masuk. Usus keluar jika berdiri atau mengedan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk ke perut, tidak ada keluhan nyeri atau gejala obstruksi usus. Bila isi kantong tidak dapat direposisi kembali ke dalam rongga perut, hernia disebut hernia ireponibel. Ini biasanya disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia. Tidak ada keluhan rasa nyeri ataupun tanda sumbatan usus. Hernia disebut hernia inkarserata atau hernia strangulata bila isinya terjepit oleh cincin hernia sehingga isi kantong terperangkap dan tidak dapat kembali ke dalam rongga perut. Akibatnya, terjadi gangguan pasase atau vaskularisasi. Secara klinis, hernia inkarserata lebih dimaksudkan untuk hernia ireponibel dengan gangguan pasase, sedangkan gangguan vaskularisasi disebut sebagai hernia strangulata. Pada keadaan

sebenarnya, gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat jepitan

dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan sampai nekrosis.

Bagian-bagian hernia yaitu : 1. Kantong hernia: pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis; 2. Isi hernia: berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia. Pada hernia abdominalis berupa usus; 3. Locus Minoris Resistence (LMR); 4. Cincin hernia: Merupakan bagian locus minoris resistence yang dilalui kantong hernia; 5. Leher hernia: Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.

B. Klasifikasi Hernia Berdasarkan Arah Herniasi 1. Hernia Interna, bila isi hernia masuk ke dalam rongga lain, misalnya cavum thorax, cavum abdomen : a. Hernia Epiploici Winslowi : Herniasi viscera abdomen melalui foramen omentale b. Hernia Bursa Omentalis c. Hernia Mesenterica d. Hernia Retroperitonealis e. Hernia Diafragmatic 2. Hernia Eksterna, penonjolannya dapat dilihat dari luar : a. Hernia Inguinalis Medialis dan Lateralis b. Hernia Femoralis c. Hernia Umbilicus d. Hernia Epigastrica e. Hernia Lumbalis f. Hernia Obturatoria g. Hernia Semilunaris h. Hernia Perinealis i. HerniaIschiadica

a. Hernia Inguinalis Hernia yang paling sering terjadi (sekitar 75% dari hernia abdominalis) adalah hernia inguinalis. Hernia inguinalis dibagi menjadi: hernia inguinalis indirek (lateralis), di mana isi hernia masuk ke dalam kanalis inguinalis melalui locus minoris resistence (annulus inguinalis internus); dan hernia inguinalis direk (medialis), di mana isi hernia masuk melalui titik yang lemah pada dinding belakang kanalis inguinalis. Hernia inguinalis lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, sementara hernia femoralis lebih sering terjadi pada wanita.

Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali kongenital atau karena sebab yang didapat. Faktor yang dipandang berperan kausal adalah prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan otot dinding perut karena usia. Tekanan intra abdomen yang meninggi secara kronik seperti batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi dan asites sering disertai hernia inguinalis. Hernia juga mudah terjadi pada individu yang kelebihan berat badan, sering mengangkat benda berat, atau mengedan. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai scrotum maka disebut hernia skrotalis. Hernia ini harus dibedakan dari hidrokel atau elefantiasis skrotum. Testis yang teraba dapat dipakai sebagai pegangan untuk membedakannya.

Male Inguinal hernia

Female Inguinal hernia

b. Hernia Femoralis Lokasi : medial dari vena femoralis, didalam lacuna vasorum dorsal dari ligamentum inguinal. Sering dijumpai pada wanita usia lanjut. Sering mengalami inkarserasi c. Hernia Umbilikal Merupakan hernia congenital yang disebabkan oleh kelemahan pada daerah umbilicus yang hanya ditutup peritoneum dan kulit d. Hernia Paraumbilikal Berada pada tepi umbilicus, seringkali sukar dibedakan dari hernia umbilical. e. Hernia Epigastrika Keluar dari defek di linea alba (antara umbilicus dan prosesus xyphoideus) f. Hernia Spiegel Muncul dari daerah lemah antara m. rektus dengan linea semisirkuralis g. Nernia Insisionalis Hernia yang terjadi pada bekas sayatan operasi pada dinding abdomen. Diakibat adanya saraf tersayat sehingga timbul paralisis otot pada daerah yang dipersarafi oleh serabut saraf tersebut serta penyatuan fascia yang tidak menyatu dengan sempurna h. Hernia Obturatoria Hernia interna yang melalui foramen obturator.

C. Pemeriksaan Hernia Inspeksi Daerah Inguinal dan Femoral Meskipun hernia dapat didefinisikan sebagai setiap penonjolan viskus, atau sebagian daripadanya, melalui lubang normal atau abnormal, 90% dari semua hernia ditemukan di daerah inguinal. Biasanya impuls hernia lebih jelas dilihat daripada diraba. Pasien disuruh memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Lakukan inspeksi daerah inguinal dan femoral untuk melihat timbulnya benjolan mendadak selama batuk, yang dapat menunjukkan hernia. Jika terlihat benjolan mendadak, mintalah pasien untuk batuk lagi dan bandingkan impuls ini dengan impuls pada sisi lainnya. Jika pasien mengeluh nyeri selama batuk, tentukanlah lokasi nyeri dan periksalah kembali.

Pemeriksaan Hernia Inguinalis Palpasi hernia inguinal dilakukan dengan meletakan jari pemeriksa di dalam skrotum di atas testis kiri dan menekan kulit skrotum ke dalam. Harus ada kulit skrotum yang cukup banyak untuk mencapai cincin inguinal eksterna. Jari harus diletakkan dengan kuku menghadap ke luar dan bantal jari ke dalam. Tangan kiri pemeriksa dapat diletakkan pada pinggul kanan pasien untuk sokongan yang lebih baik. Telunjuk kanan pemeriksa harus mengikuti korda spermatika di lateral masuk ke dalam kanalis inguinalis sejajar dengan ligamentum

inguinalis dan digerakkan ke atas ke arah cincin inguinal eksterna, yang terletak superior dan lateral dari tuberkulum pubikum. Cincin eksterna dapat diperlebar dan dimasuki oleh jari tangan. Dengan jari telunjuk ditempatkan pada cincin eksterna atau di dalam kanalis inguinalis, mintalah pasien untuk memutar kepalanya ke samping dan batuk atau mengejan. Seandainya ada hernia, akan terasa impuls tiba-tiba yang menyentuh ujung atau bantal jari penderita. Jika ada hernia, suruh pasien berbaring terlentang dan perhatikanlah apakah hernia itu dapat direduksi dengan tekanan yang lembut dan terus-menerus pada massa itu. Jika pemeriksaan hernia dilakukan dengan perlahanlahan, tindakan ini tidak akan menimbulkan nyeri. Setelah memeriksa sisi kiri, prosedur ini diulangi dengan memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan. Sebagian pemeriksa lebih suka memakai jari telunjuk kanan untuk memeriksa sisi kanan pasien, dan jari telunjuk kiri untuk memeriksa sisi kiri pasien. Cobalah kedua teknik ini dan lihatlah cara mana yang anda rasakan lebih nyaman. Jika ada massa skrotum berukuran besar yang tidak tembus cahaya, suatu hernia inguinal indirek mungkin ada di dalam skrotum. Auskultasi massa itu dapat dipakai untuk menentukan apakah ada bunyi usus di dalam skrotum, suatu tanda yang berguna untuk menegakkan diagnosis hernia inguinal indirek.

Transluminasi Massa Skrotum Jika anda menemukan massa skrotum, lakukanlah transluminasi. Di dalam suatu ruang yang gelap, sumber cahaya diletakkan pada sisi pembesaran skrotum. Struktur vaskuler, tumor, darah, hernia dan testis normal tidak dapat ditembus sinar. Transmisi cahaya sebagai bayangan merah menunjukkan rongga yang mengandung cairan serosa, seperti hidrokel atau spermatokel. Tabel 1. Diagnosis Banding Pembesaran Skrotum yang Lazim Dijumpai Umur Lazim (Tahun) Semua umur Torsio testis Tumor testis Hidrokel < 35 < 35 Semua umur Spermatokel Semua umur Hernia Semua umur Tidak Tidak Tidak ada sampai sedang* Varikokel > 15 Tidak Tidak Tidak ada Ya Tidak Tidak ada Tidak Tidak Ya Ya Tidak Tidak Berat Minimal Tidak ada Eritema Skrotum Ya

Diagnosis Epididimitis

Transiluminasi Tidak

Nyeri Berat

* Kecuali kalau mengalami inkarserasi, di mana nyerinya mungkin berat

D. Penatalaksanaan 1. Konservatif Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. 2. Operatif Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu diagnosis ditegakkan. Prinsip dasar operasi hernia adalah hernioraphy, yang terdiri dari herniotomi dan hernioplasti. a. Herniotomi Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke lehernya. Kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan, kemudian direposisi, kantong hernia dijahit-ikat setinggi mungkin lalu dipotong. b. Hernioplasti Pada hernioplasti dilakukan tindakan memperkecil anulus inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Hernioplasti lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode

hernioplasti seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus, menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan m. tranversus internus abdominis dan m.

oblikus internus abdominis yang dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale poupart menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia tranversa m. transversus abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum cooper pada metode Mc Vay. Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian bahan sintesis seperti mersilene, prolene mesh atau marleks untuk menutup defek.

E. Pencegahan Kelainan kongenital yang menyebabkan hernia memang tidak dapat dicegah, namun langkah-langkah berikut ini dapat mengurangi tekanan pada otot-otot dan jaringan abdomen: a. Menjaga berat badan ideal. Jika anda merasa kelebihan berat badan, konsultasikan dengan dokter mengenai program latihan dan diet yang sesuai. b. Konsumsi makanan berserat tinggi. Buah-buahan segar, sayursayuran dan gandum baik untuk kesehatan. Makanan-makanan tersebut kaya akan serat yang dapat mencegah konstipasi. c. Mengangkat benda berat dengan hati-hati atau menghindari dari mengangkat benda berat. Jika harus mengangkat benda berat, biasakan untuk selalu menekuk lutut dan jangan membungkuk dengan bertumpu pada pinggang.

d. Berhenti merokok. Selain meningkatkan resiko terhadap penyakitpenyakit serius seperti kanker dan penyakit jantung, merokok seringkali menyebabkan batuk kronik yang dapat menyebabkan hernia inguinalis.

DISPEPSIA A. Pengertian Dyspepsia merupakan gangguan saluran cerna pada bagian epigastrium, kadang kala disertai dengan keluhan gastrointestinal lainnya. dyspepsia merupakan gejala dan bukan diagnosis. Dyspepsia mencakup gejala heterogen pada saluran cerna dengan patofisiologi yang belum diketahui dengan jelas. Beberapa studi menunjukkan perubahan dan dismotilitas lambung (misalnya pada gastroparesis, disritmia lambung, akumulasi fundus abnormal, disfungsi spingter pilori) pada 80 % penderita dyspepsia. Derajat dismotilitas yang ditemukan tidak mempengaruhi gejala yang dirasakan oleh pasien. Kriteria Rome digunakan pada dyspepsia dan disusun serta dimodifikasi secara berkala oleh komite khusus. Kriteria ini meliputi Rome I, Rome II, dan Rome III. Dalam kriteria Rome III, dispepsia ditandai oleh beberapa gejala berikut: 1. Post-prandial fullness yaitu sensasi penuh dan tidak menyenangkan pada saluran cerna seolah-olah makanan tertahan pada saluran cerna. 2. Early satiety yaitu perasaan kenyang (overfilled) yang berlebihan sesaat setelah memulai makan. Perasaan kenyang yang timbul tidak sesuai dengan jumlah makanan yang dikonsumsi. 3. Epigastric pain yaitu nyeri antara umbilikus dan bagian bawah sternum (diantara midclavukular). Nyeri yang timbul sangat tidak

menyenangkan dan terkadang sulit dideskripsikan oleh penderita.

4. Epigastric burn yaitu nyeri yang berada pada epigastrum yang terasa membakar.

Meskipun dahulu gejala dispepsia juga termasuk heartburn (nyeri terbakar pada retrosternal), saat ini gejala ini sudah tidak termasuk dalam kriteria diagnostik dan gejala spesifik dispepsia serta GERD tetapi gejala ini seringkali ditemukan pada pasien dengan dispepsia fungsional.

Pasien

dengan

gejala

dyspepsia

yang

belum

menjalani

pemeriksaan apapun dinamakan univestigated dyspepsia. Investigasi diagnostik (upper gastrointestinal endoscopy, pemeriksaan laboratorium, dan sinar-X) memberikan hasil normal pada sekitar40-60 % penderita (dyspepsia fungsonal), dan pada penderita lain penyebab organic atau structural dapat ditemukan.

Dyspepsia Organik atau Struktural Pada pasien dengan dyspepsia ini penyebab utamanya yaitu gangguan refluks esophageal (dengan atau tanpa esofagitis), penyakit ulkus peptic kronik, dan tumor atau kanker pada saluran cerna. Prevalensi gangguan refluks esophageal (GERD) pada dyspepsia sekitar 25 %. Esofagitis yang erosif yang terlihat pada pemeriksaan endoskopi ditemukan pada 5-15 % penderita dyspepsia. Gejala umum dari GERD, heartburn, bukan indicator yang dapat digunakan dalam membedakan GERD atau dyspepsia. Ulkus peptic ditemukan pada sekitar 5-15 % pasien dengan dyspepsia. Adenokarsinoma lambung atau esophageal ditemukan < 2 % penderita. Penyebab dyspepsia organic lainnya jarang ditemukan. Nyeri klasik pada saluran empedu dapat dibedakan dengan dyspepsia dengan mengkaji temuan klinis penyakit. Pada nyeri saluran empedu terjadi nyeri akut dan hebat pada daerah abdomen bagian atas, biasanya pada epigastrium, dan bertahan selama kurang lebih 1 jam (kadang beberapa

jam). Nyeri dapat terasa hingga punggung dengan keluhan lain berupa kegelisahan, berkeringat, atau muntah. Batu empedu biasanya

merupakan sumber timbulnya gejala dyspepsia. Obat-obatan AINS juga dapat menyebabkan dyspepsia dan penggunaan obat-obatan ini

sebaiknya dihentikan. Beberapa obat yang juga menyebabkan dyspepsia antara lain calcium chanel blocker (CCB), metilxantin, alendronate, orlistat, suplemen potassium, akarbose, dan beberapa antibiotic meliputi

eritromisin dan metronidazol. Gastroparesis timbul sebagai akibat adanya gangguan motilitas, muscular, atau neural pada saluran cerna. Hal ini lebih sering ditemukan pada wanita dan pada pasien dengan diabetes. Pankreaititis kronis dan intoleransi laktosa juga dapat ditemukan pada penderita dyspepsia, serta dapat menjadi salah satu penyebab dyspepsia. Penyebab lainnya yaitu gastritis eosinofilik, sarkoidosis, serta gangguan metabolism (hiperkalsemia, hiperkalemia), angina intestinal,parasites intestinal, dan kanker pancreas.

Dyspepsia Fungsional

Dyspepsia fungsional merupakan dyspepsia yang terjadi selama kurang lebih 3 bulan tanpa ditemukan adanya gangguan metabolism atau sistemik. Patofisiologi dyspepsia fungsional belum diketahui dengan jelas. Sekitar 25-45 % pasien mengalami panundaan waktu pengosongan lambung, 40 % mengalami gangguan akomodasi fundus, dan sepertiga penderita mengalami hipersensitivitas visceral.Tidak ada gejala spesifik pada dyspepsia jenis ini. Rome I dan II mendefinisikan dyspepsia fungsional sebagai adanya nyeri dan perasaan tidak nyaman pada abdomen bagian atas tanpa adanya penyakit yang mencetuskannya. Rome II membagi pasien dengan dyspepsia dalam tiga grup yaitu : 1. Ulcer-like dyspepsia, gejala utamanya yaitu nyeri dirasakan pada abdomen bagian atas (uluhati)

2. Dysmotility-like dyspepsia, sensasi yang tidak menyenangkan dan mengganggu yang berpusat pada abdomen bagian atas merupakan gejala yang dominan, sensasi ini dapat dirasakan sebagai perasaan penuh pada abdomen, mual, dan bengkak pada abdomen dan kandung kemih. 3. Unspecified dyspepsia, yaitu dyspepsia yang tidak memenuhi criteria diagnostic untuk ulcer-like dyspepsia dan dysmotility-like dyspepsia

Rome III kemudian memodifikasi gejala fungsional dyspepsia menjadi empat gejala utama, yaitu : 1. Postprandial fullness 2. Early satiety 3. Epigastric pain 4. Epigastric burning Setidaknya salah satu dari gejala timbul sekitar 3 bulan. Gejala lainnya juga dapat timbul seperti bengkak pada abdomen, mual, muntah, sendawa, dan heartburn. Rome III menggolongkan dyspepsia fungsional kedalam 2 kategori yaitu : 1. Meal-induced postprandial distress syndrome (PDS) ditandai oleh adanya gejala postprandial fullness dan early satiety 2. Epigastricpain syndrome (EPS) ditandai oleh adanya gejala nyeri dan perasaan terbakar pada epigastrik.

Kriteria diagnostic untuk PDS, gejala-gejala yang dirasakan berupa: 1. Postprandial fullness yang terjadi setelah makan dengan porsi biasa yang dirasakan beberapa kali dalam seminggu 2. Early satiety Kriteria suportif : 1. Bengkak pada abdomen bagian atas dan mual 2. Timbulnya EPS

Kriteria diagnostic untuk EPS : 1. Nyeri dan rasa terbakar pada epigastrium 2. Nyeri intermiten pada abdomen 3. Nyeri berada pada bagian abdominal atau bagian dada 4. Nyeri tidak berhenti setelah defekasi Kriteria suportif : 1. Nyeri dapat berupa perassan terbakar tetapi tidak mencapai daerah retrosternal 2. Nyeri dapat berhenti setelah makan dan dapat terjadi pada saat puasa 3. Dapat disertai PDS

B. Penyebab Penyakit Ada beberapa hal yang menjadi penyebab timbulnya dispepsia, yaitu pengleuaran asam lambung berlebih, pertahanan dindins lambung yang lemah, infeksi Helicobacter pylori (sejenis bakteri yang hidup di dalam lambung dalam jumlah kecil, gangguan gerakan saluran

pencernaan, dan stress psikologis. Terkadang dispepsia dapat menjadi tanda dari masalah serius, contohnya penyakit ulkus lambung yang parah. Tak jarang, dispepsia disebabkan karena kanker lambung, sehingga harus diatasi dengan serius. Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan bila terdapat salah satu dari tanda ini, yaitu:

1. Usia 50 tahun keatas 2. Kehilangan berat badan tanpa disengaja 3. Kesulitan menelan 4. Terkadang mual-muntah 5. Buang air besar tidak lancar 6. Merasa penuh di daerah perut Penyebab dispepsia secara rinci adalah: 1. Menelan udara (aerofagi) 2. Regurgitasi (alir balik, refluks) asam dari lambung 3. Iritasi lambung (gastritis) 4. Ulkus gastrikum atau ulkus duodenalis 5. Kanker lambung 6. Peradangan kandung empedu (kolesistitis) 7. Intoleransi laktosa (ketidakmampuan mencerna susu dan produknya) 8. Kelainan gerakan usus 9. Stress psikologis, kecemasan, atau depresi 10. Infeksi Helicobacter pylory

C. Penatalaksanaan Pengobatan Pemeriksaan untuk penanganan dispepsia terbagi beberapa bagian, yaitu: 1. Pemeriksaan laboratorium biasanya meliputi hitung jenis sel darah yang lengkap dan pemeriksaan darah dalam tinja, dan urine. Dari hasil pemeriksaan darah bila ditemukan lekositosis berarti ada tanda-tanda infeksi. Pada pemeriksaan tinja, jika tampak cair berlendir atau banyak mengandung lemak berarti kemungkinan menderita malabsorpsi. Seseorang yang diduga menderita dispepsia tukak,

sebaiknya diperiksa asam lambung pencernaan perlu diperiksa petanda

Pada karsinoma saluran tumor, misalnya dugaan

karsinoma kolon perlu diperiksa CEA, dugaan karsinoma pankreas perlu diperiksa CA 2. Barium enema untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus halus dapat dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah, penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk bila penderita makan. 3. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari lapisan lambung.Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh

Helicobacter pylori. Endoskopi merupakan pemeriksaan baku emas, selain sebagai diagnostik sekaligus terapeutik. 4. Pemeriksaan penunjang meliputi pemeriksaan radiologi, yaitu OMD dengan kontras ganda, serologi Helicobacter pylori, dan urea breath test (belum tersedia di Indonesia). Pemeriksaan radiologis dilakukan terhadap saluranDapat menutup gejala malignant ulcers Kemungkinan besar untuk menyediakan jaminan pasien paling kurang. Jarang, efek samping yang serius

Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu: 1. Antasid 20-150 ml/hari Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na

bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi rasa nyeri. Mg trisilikat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa MgCl2. 2. Antikolinergik Perlu diperhatikan, karena kerja obat ini tidak spesifik. Obat yang agak selektif yaitu pirenzepin bekerja sebagai anti reseptor muskarinik yang dapat menekan seksresi asama lambung sekitar 28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif. 3. Antagonis reseptor H2 Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia organic atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin, ranitidin, dan famotidin. 4. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI) Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol. 5. Sitoprotektif Prostoglandin sintetik seperti misoprostol (PGE1) dan enprostil (PGE2). Selain bersifat sitoprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh

sel parietal. Sukralfat berfungsi meningkatkan sekresi prostoglandin endogen, yang selanjutnya memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan meningkatkan sekresi bikarbonat mukosa, serta membentuk lapisan protektif (site protective), yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi mukosa saluran cerna bagian atas (SCBA). 6. Golongan prokinetik Obat yang termasuk golongan ini, yaitu sisaprid, domperidon, dan metoklopramid. Golongan ini cukup efektif untuk mengobati dispepsia fungsional dan refluks esofagitis dengan mencegah refluks dan memperbaiki bersihan asam lambung (acid clearance). Kadang kala juga dibutuhkan psikoterapi dan psikofarmaka (obat anti- depresi dan cemas) pada pasien dengan dispepsia fungsional, karena tidak jarang keluhan yang muncul berhubungan dengan faktor kejiwaan seperti cemas dan depresi

USUS BUNTU A. Pengertian Usus buntu atau sekum (Bahasa Latin: caecus, "buta") dalam istilah anatomi adalah suatu kantung yang terhubung pada usus halus serta bagian kolon menanjak dari usus besar. Usus buntu atau yang dalam bahasa kedokteran adalah appendix vermiformis merupakan organ bagian dari usus, besarnya kira-kira sejari kelingking, terhubung dengan usus besar dan terletak pada perut kanan bawah.

Fungsi dari usus buntu adalah untuk menyekresikan IgA yang sangat efektif untuk perlindungan terhadap infeksi. Tetapi perlu diketahui bahwa pengangkatan usus buntu hanya akan sedikit mempengaruhi

system pertahanan tubuh karena IgA yang disekresi disini sangat sedikit sekali.

Seperti organ-organ tubuh yang lain, appendiks atau usus buntu ini dapat mengalami kerusakan ataupun gangguan serangan penyakit. Hal ini yang sering kali kita kenal dengan nama Penyakit Radang Usus Buntu (Appendicitis). Apabila gejala menyerupai gangguan maag Anda kumat, hati-hati bisa jadi Anda sedang terserang peradangan usus buntu yang akut. Pada penderita yang memiliki riwayat gangguan lambung sebelumnya, sering disangka karena kesalahan makan sebagai penyebab utama serangan ini. Akan dirasakan tidak nyaman di uluhati, mual bahkan muntah, perut terasa kembung serta tidak dapat menentukan secara pasti di perut bagian mana nyeri itu berasal. Tanda-tanda ini merupakan perjalanan khas seseorang terkena apendecitis acut atau infeksi usus buntu yang akut.

Beberapa jam setelah itu barulah dirasakan nyeri yang lebih menetap di perut bagian kanan bawah, lokasi dimana appendik atau usus buntu itu berada. Lebih sering disertai juga dengan gangguan buang air besar. Mengalami diare sesaat atau mungkin saja sembelit dan badan sedikit terasa meriang. Seiring dengan itu nyeri di perut kanan bawah akan semakin parah. Sampai di situ, jika perjalanan khas keluhan dirasakan semuanya seperti di atas bisa dikatakan ketepatan diagnosa ke arah peradangan usus buntu sudah mendekati 50%. Ditambah lagi dengan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh dokter serta pemeriksaan penunjang yang mendukung, maka kecurigaan penyakit ini semakin mendekati kebenaran. Pemeriksaan penunjang yang menyokong apabila didapatkan peningkatan jumlah leukosit atau sel darah putih sebagai petanda infeksi pada test darah dan bila perlu dilakukan pemeriksaan USG atau CT scan sebagai pelengkap lainnya. Usus buntu atau appendik adalah salah satu nama organ bagian dari usus yang letaknya di bagian kanan bawah perut merupakan tonjolan usus yang ukurannya kurang lebih sepanjang dan sebesar jari telunjuk orang bersangkutan. Sesuai namanya, usus yang relatif kecil dan sempit ini pada ujungnya membuntu dan karena anatominya yang seperti itu maka organ ini begitu rentan terhadap kejadian infeksi. Dengan pangkal saluran yang kecil ini relatif mudah terjadi sumbatan, baik oleh karena sisa makanan, faeces yang membantu, cacing atau lendir. Tekanan ini lalu menghambat pula aliran darah menuju ke organ tersebut sehingga sedikit

saja ada bakteri yang terjangkit akan sulit ditoleransi tubuh. Dan terjadilah pembengkakan pada dinding, terbentuk pernanahan hingga

mengakibatkan kebocoran atau perforasi. Peradangan usus buntu hampir dapat mengenai semua kelompok umur sekalipun didapatkan kaum laki hampir satu setengah kali terjangkit dibanding wanita. Kasusnya di Amerika cukup tinggi hampir 17% dari populasi. Dan ternyata diagnostik pada golongan anak anak serta bayi jauh lebih sulit dibanding dewasa. Appendicitis Acut merupakan penyakit infeksi di dalam rongga perut yang membutuhkan pembedahan hampir pada sebagian besar kasus.

Peradangan usus buntu yang akut dapat berkembang menjadi radang kronis dan kebanyakan jika tidak mendapat penanganan yang optimal bisa berakibat fatal, bisa menjadi abses (pernanahan), kebocoran pada dindingnya dan penyebaran infeksi ke bagian rongga perut yang lain hingga ke seluruh tubuh. Sehingga penyakit ini membutuhkan

pembedahan emergensi untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan. Penyakit radang usus buntu ini umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, maupun faktor pencetusnya ada beberapa kemungkinan yang sampai sekarang belum dapat diketahui secara pasti. Di antaranya faktor penyumbatan (obstruksi) pada lapisan saluran (lumen) appendiks oleh timbunan tinja/feses yang keras (fekalit), hyperplasia (pembesaran) jaringan limfoid, penyakit cacing, parasit, benda asing dalam tubuh, cancer primer dan striktur.

Diantara beberapa faktor diatas, maka yang paling sering ditemukan dan kuat dugaannya sebagai penyebab adalah faktor penyumbatan oleh tinja/feses dan hyperplasia jaringan limfoid. Penyumbatan atau pembesaran inilah yang menjadi media bagi bakteri untuk berkembang biak. Perlu diketahui bahwa dalam tinja/feses manusia sangat mungkin sekali telah tercemari oleh bakteri/kuman Escherichia coli, inilah yang sering kali mengakibatkan infeksi yang berakibat pada peradangan usus buntu. Makan cabai bersama bijinya atau jambu klutuk beserta bijinya seringkali tak tercerna dalam tinja dan menyelinap ke saluran appendiks sebagai benda asing. Seseorang yang mengalami penyakit cacing (cacingan), apabila cacing yang beternak di dalam usus besar lalu tersasar memasuki usus buntu maka dapat menimbulkan penyakit radang usus buntu. Radang usus buntu atau istilah medisnya appendicitis merupakan proses peradangan dari usus buntu yang disebabkan penyumbatan pada saluran usus buntu oleh karena adanya timbunan tinja yang keras (fekalit) atau pembesaran jaringan limfoid atau karena penyakit cacingan atau parasit atau akibat adanya benda asing yang menyumbat atau karena tumor. Radang usus buntu (appendicitis), bisa terjadi pada segala usia. Kasus terbanyak pada usia delapan tahun sampai 25 tahun. Radang usus buntu jarang terjadi pada anak di bawah dua tahun. Operasi dilakukan untuk penyembuhan radang usus yang membengkak, operasi ini

membutuhkan perawatan terlebih dahulu kira-kira 3 bulan yang tentunya akan sangat memakan banyak biaya. Bila terjadi gejala usus buntu dalam waktu tiga hari berturut-turut, penderita harap segera menghubungi dokter atau dating ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis sehingga bisa langsung dioperasi, akan tetapi jika gejala usus buntu dibiarkan lebih dari satu minggu, maka perawatan medis serius sangat diperlukan untuk meredakan radang usus yan terjadi sebelum penderita melakukan operasi penyembuhan. Sumbatan ini mengakibatkan peningkatan tekanan dalam saluran usus buntu dan pertumbuhan kuman sehingga usus buntu membengkak. Inilah yang dikenal sebagai akut atau fokal appendicitis. Bila dibiarkan terus menerus, akan terjadi penyumbatan pada vena dan memperparah membengkakan pada usus buntu dan menyebabkan terjadinya iskemia (jaringan kekurangan O2) pada usus buntu. Ujung-ujungnya, terjadi pecahnya (perforasi) dari usus buntu, yang dapat menyebabkan terjadinya peritonitis atau radang rongga perut dan segala akibatnya.

B. Gejala penyakit Gejala radang usus buntu sangat bervariasi. Gejala awal umumnya nyeri atau merasa tidak enak di bagian tengah perut. Gejala ini datang dan pergi sehingga sering dikira sakit perut biasa. Setelah beberapa saat, nyeri makin terasa dan menetap di perut kanan bawah. Rasa nyeri meningkat jika bergerak atau batuk. Sering kali disertai kehilangan nafsu

makan, tidak enak badan, muntah, demam dan kulit memerah, nafas uga menjadi bau. Karena gejala tidak terlalu khas, diagnosis penyakit juga tidak mudah. Umumnya, dokter akan menanyakan sejarah kesehatan serta sejarah keluarga. Orang yang ada di dalam keluarga ada penderita radang usus buntu cenderung mengalami gangguan serupa. Dokter akan menekan perut bagian kanan bawah untuk mengatasi sumber nyeri. Kadangkala dokter melakukan pemeriksaan dalam dengan memasukkan jari ke anus atau vagina. Juga dilakukan pemeriksaan darah dan urine untuk mengetahui ada tidaknya infeksi. Jika dokter mau lebih pasti, bisa dilakukan pemeriksaan tambahan berupa rontgen perut, ultrasonografi usus buntu atau pemeriksaan computed tomography (CT-scan). Sering kali pemeriksaan tambahan dianggap berlebihan dan mahal. Jika dugaan kuat ada radang usus buntu, biasanya dokter langsung menyarankan operasi. Karena gejalanya mirip dengan sejumlah gangguan perut lain, tak heran tiga diantara 10 operasi terjadi pada usus buntu normal. Beberapa ilmuwan Kanada menemukan bahwa polusi udara mungkin menyebabkan peradangan usus buntu, demikian satu studi baru yang disiarkan di dalam Canadian Medical Association Journal. Ahli gastroenterologi Dr Gilaad G Kaplan dari University of Calgary dan timnnya mengkaji 5.191 orang dewasa yang di rawat di rumah sakit di Calgary, antara 1999 dan 2006. Mereka mendapati bahwa makin banyak orang di rawat di rumah sakit karena menderita radang usus buntu selama

beberapa bulan musim yang lebih hangat antara april dan September ketika orang lebih mungkin berada di luar rumah dan terpajan (exposed) terhadap polusi udara. Tim itu memeriksa silang data pendaftaran rumah sakit dengan analisis bahan pencemar polusi udara satu pecan sebelum mereka di rawat. Mereka mencapai pendaftaran mencapai angka tertinggi pada hari-hari konsentrasi paling tinggi ozon dan nitrogen dioksida. Pria tampaknya lebih mungkin terpengaruh oleh radang usus buntu selama pajanan terhadap polusi udara, tapi tidak jelas apakah perbedaan jenis kelamin itu memang ada, kata para peneliti tersebut sebagaimana dilaporkan kantor berita resmi Cina, Xinhua. Tak seorang pun mengetahui apa penyebab radang usus buntu, yang merupakan radang pada bagian tubuh yang mirip kantung dan menempel pada usus yang lebih besar. Sebagian ahli telah menyatakan bahwa makanan rendah serat menjadi cirri khas negara industri mungkin mengakibatkan kotoran mengganggu pembukaan usus buntu sehingga terjadi infeksi. Namun, Kaplan menyatakan bahwa belum ada peningkatan besar dalam kandungan serat dalam makanan orang Kanada selama 20 tahun belakangan, tapi telah terjadi penurunan yang sangat besar dalam peristiwa radang usus buntu dalam setengah abad belakangan. Kasus radang usus buntu meningkat secara tajam di Negara industri pada abad XIXdan awal abad XX, tapi kemudian turun lagi pada pertengahan dan penghujung abad XX, kata Kaplan dan penulis lain.

Penurunan itu terjadi bersama dengan adanya peraturan guna mengurangi kemerosotan kualitas udara. Sementara itu, peristiwa radang usus buntu di negara berkembang telah meningkat sewaktu mereka menjadi lebih industrialis. Kaplan mengakui timnya baru mengetahui hubungan antara pajanan terhadap polusi udara dn radang usus buntu yang lebih tinggi, mereka belum membuktikan sebab akibat tersebut. Gejala usus buntu berdasarkan stadiumnya : 1. Penyakit Radang Usus Buntu akut. Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan tubuh akan panas tinggi, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, buat berjalan jadi sakit sehingga agak terbongkok, namun tidak semua orang akan

menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja. 2. Penyakit Radang Usus Buntu kronik. Pada stadium ini gejala yang timbul sedikit mirip dengan sakit maag dimana terjadi nyeri samar (tumpul) di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul. Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut yaitu nyeri pd titik Mc Burney. Penyebaran rasa nyeri akan bergantung pada arah posisi/letak usus buntu itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter,

nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih. Bila posisi usus buntunya ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak spesifik begitu. Dapat pula diuji radang usus buntu atau peradangan selaput perut (peritonitis) dengan cara tekanlah pelan-pelan dinding perut diatas lipat paha kiri sampai terasa sedikit sakit.Kemudian angkatlah tangan anda dengan cepat. Jika timbul rasa sakit yang menusuk ketika tangan dilepas (sakit lepas tekan), maka kemungkinan penyakitnya adlah radang usus buntu atau peradangan selaput perut. Jika tidak terasa sakit ketika tangan dilepas, cobalah hal yang sama di atas lipat paha kanan. Tindakan yang perlu dilakukan pada penderita radang usus buntu atau radang selaput perut : 1. Mintalah pertolongan dokter segera. Kalau mungkin, bawalah

penderita ke tempat dimana dapat dilakukan operasi. 2. Jangan berikan apapun melalui mulut dan jangan berikan larutan perangsang buang air besar pada dubur (enema). Pemberian beberapa teguk air atau minuman rehidrasi hanya kalau penderita memperlihatkan tanda-tanda kehabisan cairan (dehidrasi)-tapi harus diingat: jangan diberi makanan atau minuman lainnya. 3. Penderita harus berbaring setengah duduk dengan tenang. Jika peradangan selaput perut sudah lanjut, dinding perut menjadi keras

seperti papan. Penderita merasa sakit hebat ketika perutnya disentuh meskipun secara ringan. Jiwanya dalam keadaan bahaya. Bawalah penderita secepatnya ke rumah sakit dan dalam perjalanan, berikan obat-obatan.

C. Penatalaksanaan Pengobatan Ada beberapa pemeriksaan yang dapat dilakukan oleh Tim Kesehatan untuk menentukan dan mendiagnosa adanya penyakit radang usus buntu (Appendicitis) oleh Pasiennya. Diantaranya adalah

pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiology :

Pemeriksaan fisik. Pada appendicitis akut, dengan pengamatan akan tampak adanya pembengkakan (swelling) rongga perut dimana dinding perut tampak mengencang (distensi). Pada perabaan (palpasi) didaerah perut kanan bawah, seringkali bila ditekan akan terasa nyeri dan bila tekanan dilepas juga akan terasa nyeri (Blumberg sign) yang mana merupakan kunci dari diagnosis apendisitis akut. Dengan tindakan tungkai kanan dan paha

ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah. Kecurigaan adanya peradangan usus buntu semakin bertambah bila pemeriksaan dubur dan atau vagina menimbulkan rasa nyeri juga. Suhu dubur (rectal) yang lebih tinggi dari suhu ketiak (axilla), lebih menunjang lagi adanya radang usus buntu.

Pemeriksaan Laboratorium. Pada pemeriksaan laboratorium darah, yang dapat ditemukan adalah kenaikan dari sel darah putih (leukosit) hingga sekitar 10.000 ?18.000/mm3. Jika terjadi peningkatan yang lebih dari itu, maka kemungkinan apendiks sudah mengalami perforasi (pecah).

Pemeriksaan radiologi. Foto polos perut dapat memperlihatkan adanya fekalit. Namun pemeriksaan ini jarang membantu dalam menegakkan diagnosis

apendisitis. Ultrasonografi (USG) cukup membantu dalam penegakkan diagnosis apendisitis (71 97 %), terutama untuk wanita hamil dan anakanak. Tingkat keakuratan yang paling tinggi adalah dengan pemeriksaan CT scan (93 98 %). Dengan CT scan dapat terlihat jelas gambaran apendiks. Bila diagnosis sudah pasti, maka penatalaksanaan standar untuk penyakit radang usus buntu (appendicitis) adalah operasi. Pada kondisi dini apabila sudah dapat langsung terdiagnosa kemungkinan pemberian obat antibiotika dapat saja dilakukan, namun demikian tingkat

kekambuhannya mencapai 35%. Pembedahan dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan, harus diberikan antibiotika selama 7 10 hari. Selanjutnya adalah perawatan luka operasi yang harus terhindar dari kemungkinan infeksi sekunder dari alat yang terkontaminasi dll.

Tak ada kontraindikasi untuk melakukan pembedahan pada penderita appendicitis, tapi pada penderita yang telah terjadi abses akibat perforasi mungkin perlu di terapi dengan drainase cairan dan antibiotic infuse dan dioperasi setelahnya jika kondisinya sudah cukup stabil. Setelah mendapat terapi bedah, diharapkan kontrol 1 s/d 2 minggu untuk merawat luka dan penerangan sebab terjadinya radang usus buntu. Penderita dapat kembali beraktivitas seperti biasa 2 s/d 6 minggu setelah operasi, tergantung keadaan penderita sebelum operasi dan cara operasi yang dipilih.

Obat tradisional yang digunakan untuk mengobati radang usus buntu : 1. 15 gram sambiloto kering + 90 daun lidah buaya secukupnya (dikupas kulit luarnya dan dipotong-potong) + 30 gram rumput lidah ular atau rumput mutiara kering, masukan dalam wadah dan ditutup, lalu direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, kemudian airnya diminum untuk 2 kali sehari. 2. 60 gram jombang + 60 gram krokot, dicuci dan direbus dengan 800 cc air hingga tersisa 400 cc, disaring, airnya diminum untuk 2 kali sehari. 3. 100 gram umbi bidara upas + 60 gram krokot + 60 gram gendola, dicuci sampai bersih lalu dijus, airnya diminum. Lakukan 2 kali sehari. 4. Daun belimbing sayur dapat dipakai sebagai obat usus buntu. Ambil daun belimbing, cuci bersih dengan air hangat lalu tumbuk hingga halus. Beri sedikit air, kemudian peras sehingga mendapatkan ramuan yang kental. Seduhlah ramuan ini dengan menggunakan setengah cangkir air panas. Minumlah dua kali sehari, pagi dan malam hingga Anda sembuh.