Anda di halaman 1dari 5

PARADIGMA INTERPRETIF

A. Pendahuluan Burrel dan Morgan (1994) berpendapat bahwa paradigma interpretif menggunakan cara pandang yang nominalis yang melihat realitas sosial sebagai sesuatu yang hanya merupakan tabel, nama, atau konsep yang digunakan untuk membangun realitas, dan bukanlah sesuatu yang nyata, melainkan hanyalah penamaan atas sesuatu yang diciptakan oleh manusia atau merupakan produk manusia itu sendiri. lternatif paradigma interpretif berasal dari filosofis !erman yang lebih menekankan pada peran bahasa, interpretasi (penafsiran), dan pemahaman dalam ilmu sosial (social science). "alam gagasannya, #hua (19$%) men&elaskan paradigma interpretif ini dalam asumsi' asumsi yang sudah diklasifikasikannya( a. Keyakinan tentang realita fisik dan sosial )chult* (19%+) dalam #hua (19$,) memulai gagasan bahwa apa yang diberikan kepada kehidupan sosial adalah pengalaman hidup yang tidak pernah terputus. -esadaran ini tidak memiliki arti atau identitas diskrit sampai manusia mengalihkan perhatian mereka (self-reflect) pada hal tersebut dan memberi arti di dalamnya. .engalaman bermakna yang ter&adi dimasa lalu disebut dengan perilaku. /lmu sosial umumnya berkaitan dengan perilaku (tindakan) bermakna yang berorientasi ke masa depan dan diarahkan menu&u pencapaian tu&uan tertentu. -arena tindakan secara intrinsik diberkahi dengan arti sub&ektif oleh pelaku dan selalu disenga&a, tindakan tidak dapat dipahami tanpa meru&uk pada maknanya. 0amun dalam kehidupan sehari'hari, tindakan penuh dengan makna sub&ektif. )ementara manusia akan terus menerus menyusun dan mengklasifikasikan pengalaman yang sedang berlangsung sesuai dengan skema interpretatif, skema ini pada dasarnya sosial dan intersub&ektif. -ita tidak hanya menafsirkan tindakan kita sendiri tetapi &uga orang lain dengan siapa kita bertindak, dan sebaliknya.

b. Keyakinan tentang pengetahuan

.aradigma interpretatif berusaha untuk memahami tindakan manusia dengan memposisikan mereka ke dalam satu set tu&uan dari tu&uan indi1idu dan struktur sosial yang bermakna. .en&elasan tersebut harus sesuai dengan kriteria tertentu.

.ertama adalah konsistensi logis. )chult* (19%+, hal.42) menulis bahwa 3sistem konstruk khas yang dirancang oleh ilmuwan harus didirikan dengan tingkat tertinggi ke&elasan dan keunikan dari kerangka konseptual tersirat dan harus sepenuhnya sesuai dengan prinsip'prinsip logika formal3. "alil tersebut diperlukan untuk men&amin 31aliditas ob&ektif dari ob&ek pemikiran yang dibangun oleh ilmuwan sosial3.

-edua adalah 3penafsiran subyektif3. 4al ini berarti bahwa ilmuwan mencari arti suatu tindakan yang dilakukan oleh pelaku.

Masih terdapat kesulitan untuk menentukan prosedur yang tepat guna pelaksanaan penelitian interpretif, karena metode yang diterapkan mirip dengan antropolog. Mereka menekankan pengamatan, kesadaran isyarat linguistik (bahasa), dan perhatian terhadap detail.

c. Keyakinan tentang dunia sosial -eyakinan utama tentang manusia adalah (a) anggapan tentang tu&uan tindakan manusia, dan (b) asumsi penyusunan, makna yang telah diberikan menyusun tindakan. 0amun, )chult* berpendapat tu&uan itu selalu memiliki unsur masa lalu, hanya yang sudah berpengalaman mungkin diberkahi dengan makna pada masa lalunya. )elan&utnya, tu&uan didasarkan pada perubahan konteks sosial dan tidak serta merta ada. d. Teori dan Praktek 5ay (19,6) menun&ukkan bahwa pengetahuan interpretatif mengungkapkan kepada orang apa yang mereka dan orang lain lakukan ketika mereka bertindak dan berbicara seperti yang mereka lakukan. /a melakukannya dengan menyorot struktur simbolik dan diambil untuk diberikan'tema yang memberikan pola pada dunia ini dengan cara berbeda. /nterpretatif tidak berusaha untuk mengontrol fenomena empiris, ia tidak memiliki aplikasi teknis. )ebaliknya, tu&uan dari interpretatif adalah untuk memperkaya pemahaman masyarakat akan arti tindakan mereka, sehingga meningkatkan kemungkinan komunikasi timbal balik dan pengaruh. "engan menun&ukkan apa yang

dilakukan orang, itu memungkinkan kita untuk memahami bahasa baru dan bentuk kehidupan.

"engan demikian berdasarkan uraian di atas kami menyimpulkan bahwa paradigma interpretif merupakan suatu sudut pandang yang menitikberatkan pada B. Struktur Paradigma Interpretif )truktur paradigma menurut Burrel dan Morgan (1994) yaitu( a. Hermeneutics Hermeneutics menginterpretasikan dan memahami hasil pemikiran manusia yang memberikan ciri pada dunia sosial dan kultural. b. Solipsism Solipsism mewakili bentuk paling ekstrim dari idealis subyektif yang menolak bahwa di dalam dunia tidak terdapat realitas independen yang berbeda. 7ntuk seorang yang beraliran solipis, dunia adalah hasil ciptaan pikirannya, secara ontologis tidak ada eksistensi diluar sensasi yang diadakan oleh pikiran dan tubuhnya. . Phenomenology Phenomenology terpecah men&adi dua yaitu fenomenologi transendental dan fenomenologi eksistensial. Phenomenology transendental dikembangkan oleh 4usserl menyatakan bahwa sains sangat ditentukan oleh karakter intensionalitas. liran ini berupaya mencapai obyektifitas absolut dalam menghasilkan sains. 8leh karena itu, penelitian model ini cenderung menggunakan analisis kesadaran dan mengabaikan realita. Phenomenology eksistensial muncul dengan adanya penelitian 4eidegger, Merleau'.onty, )artre dan )hut* dimana mereka memiliki kesamaan dengan menempatkan dunia nyata dengan kehidupan sehari'harinya sebagai lawan dari kesadaran transedental. d. Phenomenological Sociology Phenomenological sociology berkembang men&adi dua aliran yaitu Ethnomethodology dan Symbolic Interaction.

Ethnomethodology, aliran ini merupakan suatu pemahaman mendetail dari dunia dengan kesehariannya sehingga pada dasarnya aliran ini mencari suatu aktifitas praktek, kondisi praktek serta alasan sosiologis praktik dalam suatu penelitian empiris dan mengganggap ter&adinya suatu e1en tertentu sebagai suatu fenomena.

Symbolic Interaction menekankan perlunya interaksi dimana indi1idu menciptakan dunia sosial mereka sendiri bukan hanya bereaksi terhadapnya, dengan demikian aliran ini diturunkan dari lingkungannya bukan dari indi1idu atau pelaku. 9ambar 1 )truktur paradigma Burrell dan Morgan (1994)

!. Paradigma Interpretif dalam Penelitian Berikut ini merupakan aspek'aspek kunci dalam melakukan penelitian dengan menggunakan paradigma interpretif( N" 1 + A#pek $un i lasan melakukan penelitian sumsi tentang $eterangan 7ntuk memahami dan men&elaskan tindakan'tindakan manusia. :ealita diciptakan oleh manusia sendiri melalui tindakan dan

N" 2 4 6 % , $ 9

A#pek $un i sifat realita sosial sumsi tentang sifat manusia .eran common sense )ifat dari teori yang dihasilkan .en&elasan yang dianggap baik Bukti yang dianggap baik 0ilainilai pribadi pelaku dalam ilmu dan penelitian Metode penelitian yang digunakan

$eterangan interaksi mereka. Makhluk sosial yang bersamasama menciptakan arti untuk digunakan sebagai pegangan hidup. )ebagai pegangan yang digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari'hari. 9ambaran tentang berbagai sistem makna dari sebuah kelompok terbentuk dan men&adi langgeng. Masuk akal bagi para pelakunya dan dapat membantu orang lain memahami dunia para pelakunya. "iperoleh langsung dari pelakunya dalam sebuah konteks yang spesifik. 0ilainilai adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan. ;idak ada yang salah<benar, yang ada hanya =berbeda. )tudi kasus spesifik dengan penggunaan alat'alat kualitatif secara intensif, meliputi wawancara, obser1asi, dan analisis dokumen.