Anda di halaman 1dari 34

MENGEDAN SAAT BERKEMIH

Refky Juliandri 405090149

LO 1. MM ANATOMI & HISTOLOGI PROSTAT

BENTUK, STRUKTUR, LETAK PROSTAT


Berwarna pucat, konsistensiya keras, sebagian berupa kelenjar & sebagian lagi berupa otot, & terletak tepat di bawah cervix vesicae urinariae pada bagian awal urethra. Berbentuk seperti kerucut, ukuran sekitar 4x3x2 cm. Di dalam rongga pelvis, prostat terletak di belakang symphisis pubica & menempel pada permukaan depan rectum teraba pada pemeriksaan rectal touche (terutama kalau membesar) Mempunyai basis, apex, 3 facies (anterior, posterior, lateralis)

HUBUNGAN DENGAN STRUKTUR SEKITARNYA


Ditembus ole 2 saluran: urethra & D. ejaculatorius. Urethra menembus prostat kira-kira pada pertengahan basis prostat & meninggalkan prostat pada facies anterior tepat di atas apex prostat. D. ejaculatorius menembus prostat tepa di depan tepi posterior basis prostat berjalan miring ke depan bawah & bermuara pada pars prostatica urethrae di samping utriculus prostaticus. Di depan prostat terdapat jalinan vena (plexus prostaticus). Terbungkus dalam sebuah kapsul jaringan ikat dilapisi oleh fascia prostatica yang tebal.

KORELASI KLINIS
Dipengaruhi oleh hormon seks laki-laki. Selama pubertas, prostat membesar dengan cepat seiring perkembangan organ seks primer. Sesudah umur 40 tahun, pembesaran prostat bisa terjadi lagi, terutama disebabkan oleh pembentukan nodul-nodul dari jaringan kelenjar & jaringan ikat yang hiperplastik. Prostat sering menjadi sarang peradangan gonorrhoea, tuberculosis, & trauma. Karena lapisan pembungkusnya padat, abses yang terbentuk terkumpul di dalam kelenjar & menimbulkan nyeri hebat selama fase akut peradangan.

PEMBULUH DARAH, PERSARAFAN, & ALIRAN LIMFE


Perdarahan prostat berasal dari cabang-cabang a. vesicalisinferior, a. rectalis media, & a. pudenda interna. Vena-venanya membentuk plexus nevosus prostaticus yang mengalirkan darahnya menuju v. iliaca interna.
Plexus ini mempunyai hubungan dengan plexus venosus vertebralis tumor ganas pada prostat dapat menyebar ke columna vertebralis.

Persarafan berasal dari plexus hypogastricus inferior. Aliran limfenya berhubungan dengan aliran limfe dari vesicula seminalis & cervix vesicae urinariae.

HISTOLOGI PROSTAT

Secara umumnya, kalenjar prostat terbentuk dari glandular fibromaskuler dan juga stroma, di mana, prostat berbentuk piramida, berada di dasar musculofascial pelvis dimana dan dikelilingi oleh selaput tipis dari jaringan ikat Secara histologinya, prostat dapat dibagi menjadi 3 bagian:
Perifer Sentral Transisi.

Zona perifer
Memenuhi hampir 70% dari bagian kalenjar prostat di mana ia mempunyai duktus yang menyambung dengan urethra prostat bagian distal

Zona sentral
Mengambil 25% ruang prostat dan memiliki duktus yang menyambung dengan uretra prostat di bagian tengah, sesuai dengan bagiannya

Zona transisi
Terdiri dari dua lobus, memiliki duktus yang mana duktusnya menyambung hampir ke daerah sphincter pada urethra prostat dan menempati 5% ruangan prostat

Seluruh duktus ini, selain duktus ejakulator dilapisi oleh sel sekretori kolumnar dan terpisah dari stroma prostat oleh lapisan sel basal yang berasal dari membrana basal

LO 2. MM FISIOLOGI PROSTAT

Prostat adalah suatu alat tubuh yang tergantung kepada pengaruh endokrin.
Bagian yang peka terhadap estrogen adalah bagian tengah, sedangkan bagian tepi peka terhadap androgen. Oleh karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang mengalami hiperplasi karena sekresi androgen berkurang sehingga kadar estrogen relatif bertambah.

Sel-sel kelenjar prostat dapat membentuk enzim asam fosfatase yang paling aktif bekerja pada ph 5. Kelenjar prostat mensekresi sedikit cairan yang berwarna putih susu dan bersifat alkalis.
Cairan ini mengandung asam sitrat, asam fosfatase, kalsium dan koagulase serta fibrinolisis.

Selama pengeluaran cairan prostat, kapsul kelenjar prostat akan berkontraksi bersamaan dengan kontraksi vas deferen dan cairan prostat keluar bercampur dengan semen yang lainnya.

Cairan prostat merupakan 70% volume cairan ejakulat dan berfungsi memberikan makanan spermatozoa dan menjaga agar spermatozoa tidak cepat mati di dalam tubuh wanita, dimana sekret vagina sangat asam (PH: 3,5-4).
Dengan demikian sperma dapat hidup lebih lama dan dapat melanjutkan perjalanan menuju tuba uterina dan melakukan pembuahan.

LO 4. MM BPH

DEFINISI
Istilah BPH atau benign prostatic hyperplasia sebenarnya merupakan istilah histopatologis terdapat hiperplasia sel-sel stroma dan selsel epitel kelenjar prostat. Hiperplasia prostat benigna ini dapat dialami oleh sekitar 70% pria di atas usia 60 tahun. Angka ini akan meningkat hingga 90% pada pria berusia di atas 80 tahun.

DIAGNOSIS
Anamnesis:
Keluhan yang dirasakan dan seberapa lama keluhan itu telah mengganggu Riwayat penyakit lain dan penyakit pada saluran urogenitalia (pernah mengalami cedera, infeksi, atau pem-bedahan) Riwayat kesehatan secara umum dan keadaan fungsi seksual Obat-obatan yang saat ini dikonsumsi yang dapat menimbulkan keluhan miksi Tingkat kebugaran pasien yang mungkin diperlukan untuk tindakan pembedahan

Salah satu pemandu yang tepat untuk mengarahkan dan menentukan adanya gejala obstruksi akibat pembesaran prostat adalah International Prostate Symptom Score (IPSS).
Skor 0-7: bergejala ringan Skor 8-19: bergejala sedang Skor 20-35: bergejala berat.

Pemeriksaan Fisik:
Colok dubur atau digital rectal examina-tion (DRE) Pemeriksaan fisik pada regio suprapubik untuk mencari kemungkinan adanya distensi buli-buli

URINALISIS
Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkapkan adanya leukosituria dan hematuria. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, batu buli-buli atau penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi, di antara-nya:
Karsinoma buli-buli in situ Striktura uretra

PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL


Obstruksi infravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Pasien LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan kadar kreatinin serum

PEMERIKSAAN PSA
PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer specific Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH; jika kadar PSA tinggi berarti:
Pertumbuhan volume prostat lebih cepat Keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek Lebih mudah terjadinya retensi urine akut

Laju pertumbuhan volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0,2- 1,3 ng/dl laju adalah 0,7 mL/tahun, sedangkan pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl sebesar 2,1 mL/tahun, dan kadar PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun

CATATAN HARIAN MIKSI


Voiding diaries saat ini dipakai secara luas untuk menilai fungsi traktus urinarius bagian bawah dengan reliabilitas dan validitas yang cukup baik. Pencatatan miksi ini sangat ber-guna pada pasien yang mengeluh nokturia sebagai keluhan yang menonjol. Dengan mencatat kapan dan berapa jumlah asupan cairan yang dikonsumsi serta kapan dan berapa jumlah urine yang dikemihkan dapat diketahui seorang pasien menderita nokturia idiopatik, instabilitas detrusor akibat obstruksi infra-vesika, atau karena poliuria akibat asupan air yang berlebih

UROFLOMETRI
Uroflometri adalah pencatatan tentang pancaran urine selama proses miksi secara elektronik. Pemeriksaan ini ditujukan untuk mendeteksi gejala obstruksi saluran kemih bagian bawah yang tidak invasif Hasil uroflometri tidak spesifik menunjukkan penyebab terjadinya kelainan pancaran urine, sebab pancaran urine yang lemah dapat disebabkan karena BOO atau kelemahan otot detrusor.

PEMERIKSAAN RESIDUAL URINE


Residual urine atau post voiding residual urine (PVR) adalah sisa urine yang tertinggal di dalam buli-buli setelah miksi Jumlah residual urine ini pada orang normal adalah 0,092,24 mL dengan rata-rata 0,53 mL. Tujuh puluh delapan persen pria normal mempunyai residual urine kurang dari 5 mL dan semua pria normal mempunyai residu urine tidak lebih dari 12 mL. Pemeriksaan residual urine dapat dilakukan secara invasif, yaitu dengan melakukan pengukuran langsung sisa urine melalui kateterisasi uretra setelah pasien berkemih, maupun non invasif, yaitu dengan mengukur sisa urine melalui USG atau bladder scan

PENCITRAAN TRAKTUS URINARIUS


Pemeriksaan pencitraan terhadap pasien BPH dengan memakai IVP atau USG, ternyata bahwa 70-75% tidak menunjukkan adanya kelainan pada saluran kemih bagian atas; sedangkan yang menunjukkan kelainan, hanya sebagian kecil saja (10%) yang membutuhkan penanganan berbeda dari yang lain. Oleh karena itu pencitraan saluran kemih bagian atas tidak direkomendasikan sebagai pemeriksaan pada BPH, kecuali jika pada pemeriksaan awal diketemukan adanya:
Hematuria Infeksi saluran kemih insufisiensi renal (dengan melakukan pemeriksaan USG) Riwayat Urolitiasis riwayat pernah menjalani pembedahan pada saluran urogenitalia

URETROSISTOSKOPI
Pemeriksaan ini secara visual dapat mengetahui keadaan uretra prostatika dan buli-buli. Terlihat adanya pembesaran prostat, obstruksi uretra dan leher buli-buli, batu buli-buli, trabekulasi buli-buli, selule, dan divertikel buli-buli Selain itu sesaat sebelum dilakukan sistoskopi diukur volume residual urine pasca miksi. Sayangnya pemeriksaan ini tidak mengenakkan bagi pasien, bisa menimbulkan komplikasi perdarahan, infeksi, cedera uretra, dan retensi urine sehingga tidak dianjurkan sebagai pemeriksaan rutin pada BPH

PEMERIKSAAN URODINAMIKA
Kalau pemeriksaan uroflometri hanya dapat menilai bahwa pasien mempunyai pancaran urine yang lemah tanpa dapat menerangkan penyebabnya, pemeriksaan uro-dinamika (pressure flow study) dapat mem-bedakan pancaran urine yang lemah itu disebabkan karena obstruksi leher buli-buli dan uretra (BOO) atau kelemahan kontraksi otot detrusor. Pemeriksaan ini cocok untuk pasien yang hendak menjalani pembedahan. Mungkin saja LUTS yang dikeluhkan oleh pasien bukan disebabkan oleh BPO melainkan disebabkan oleh kelemahan kontraksi otot detrusor sehingga pada keadaan ini tindakan desobstruksi tidak akan bermanfaat

IVU

PEMERIKSAAN YANG TIDAK DIREKOMENDASIKAN PADA PASIEN BPH


kecuali jika pada pemeriksaan awal didapatkan adanya: hematuria, infeksi saluran kemih berulang, riwayat pernah menderita urolitiasis, dan pernah menjalani operasi saluran kemih.

Uretrografi retrograd
kecuali pada pemeriksaan awal sudah dicurigai adanya striktura uretra.

Urethral pressure profilometry (UPP) Voiding cystourethrography (VCU) External urethral sphincter electromyography Filling cystometrography

PENATALAKSANAAN