Anda di halaman 1dari 3

Terapi yang digunakan pada penderita gangguan depresi mayor antara lain : 1.

ELECTRO CONVULSIVE THERAPY ( ECT ) ECT adalah terapi dengan melewatkan arus listrik ke otak. Metode terapi semacam ini sering digunakan pada kasus depresi mayor berat atau mempunyai risiko bunuh diri yang besar dan respon terapi dengan obat antidepresan kurang baik. Pada penderita dengan risiko bunuh diri, ECT menjadi sangat penting karena ECT akan menurunkan risiko bunuh diri dan dengan ECT lama rawat di rumah sakit menjadi lebih pendek. Pada keadaan tertentu tidak dianjurkan ECT, bahkan pada beberapa kondisi tindakan ECT merupakan kontra indikasi. ECT tidak dianjurkan pada keadaan :

Usia yang masih terlalu muda ( kurang dari 15 tahun ) Masih sekolah atau kuliah Mempunyai riwayat kejang Psikosis kronik Kondisi fisik kurang baik Wanita hamil dan menyusui

Selain itu, ECT dikontraindikasikan pada : penderita yang menderita epilepsi, TBC milier, tekanan tinggi intra kracial dan kelainan infark jantung. Depresi mayor berisiko kambuh manakala penderita tidak patuh, ketidaktahuan, pengaruh tradisi yang tidak percaya dokter, dan tidak nyaman dengan efek samping obat. Terapi ECT dapat menjadi pilihan yang paling efektif dan efek samping kecil. Terapi perubahan perilaku meliputi penghapusan perilaku yang mendorong terjadinya depresi dan pembiasaan perilaku baru yang lebih sehat. Berbagai metode dapat dilakukan seperti CBT (Cognitive Behaviour Therapy) yang biasanya dilakukan oleh konselor, psikolog dan psikiater.

2. PSIKOTERAPI Psikoterapi merupakan terapi yang digunakan untuk menghilangkan atau mengurangi keluhankeluhan dan mencegah kambuhnya gangguan psikologik atau pola perilaku maladaptif. Terapi dilakukan dengan jalan pembentukan hubungan profesional antara terapis dengan penderita. Psikoterapi pada penderita gangguan depresi mayor dapat diberikan secara individu, kelompok, atau pasangan disesuaikan dengan gangguan psikologik yang mendasarinya. Psikoterapi dilakukan dengan memberikan kehangatan, empati, pengertian dan optimisme. Dalam pengambilan keputusan untuk melakukan psikoterapi sangat dipengaruhi oleh penilaian dari dokter atau penderitanya. 3. FARMAKOTERAPI Farmakoterapi atau terapi obat merupakan komponen penting dalam pengobatan gangguan depresi mayor. Ada banyak faktor yang harus diperhitungkan, misalnya target simptom, kerja obat, farmakokinetik, cara pemberian, efek samping, interaksi obat, sampai pada harga obat. Saat merencanakan intervensi pengobatan, penting untuk menekankan kepada penderita bahwa ada beberapa fase pengobatan sesuai dengan perjalanan gangguan depresi, yaitu : 1. Fase akut, biasanya berlangsung selama 6-10 minggu 2. Fase lanjutan, sering berlangsung sekitar 16-20 minggu dan dapat hingga 9-12 bulan 3. Fase rumatan; pada pasien depresi rekuren, fase ini dapat berlangsung selama hidup. Ada pula tahapan dalam pengobatan depresi, antara lain: Meningkatkan dosis obat, bila tidak ada respons Hal ini dapat dilakukan bila obat memiliki efek samping minimal atau tidak ada efek samping. Mengganti dengan antidepresan lain

Sering dilakukan dengan mengganti obat, terutama dari kelas yang sama. Terjadi peningkatan efikasi setelah SSRI diganti dengan venlafaxine. Potensi interaksi farmakokinetik atau farmakodinamik perlu diperhatikan. Misalnya, penggantian dari monoamine oxidase inhibitor (MAOI) ke SSRI dapat menimbulkan sindrom serotonin. Penambahan obat lain Terdapat bukti adanya perbaikan depresi setelah antidepresan ditambah dengan lithium, olanzapine, risperidone, quetiapine, atau aripiprazole. Penambahan dengan aripiprazole terlihat lebih efektif. Dalam pengaturan dosis perlu mempertimbangkan onset efek primer (efek klinis) sekitar 2-4 minggu, efek sekunder (efek samping) sekitar 12-24 jam, serta waktu paruh sekitar 12-48 jam (pemberian 1-2 kali per hari). Ada 5 proses dalam pengaturan dosis, yaitu: Initiating dosage (tes dosage), untuk mencapai dosis anjuran selama 1 minggu, misalnya amitriptylin 25 mg/hari pada hari 1-2,50 mg/hari pada hari ke 3 dan ke 4, 100 mg/hari pada hari ke 5 dan ke 6. Titrating dosage (optimal dose), dimulai pada dosis anjuran sampai dosis efektif, kemudian menjadi dosis optimal. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari selama hari ke 7-15 ( minggu II), kemudian minggu ke III 200 mg/hari dan minggu ke IV 300 mg/hari. Stabilizing dosage (Stabilzation dose), dosis optimal dipertahankan selama 2-3 bulan. Misalnya amitriptylin 300 mg/hari (dosis optimal) kemudian diturunkan sampai dosis pemeliharaan. Maintaning dosage (maintanance dose), selama 3-6 bulan. Biasanya dosis pemeliharaan dosis optimal. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari. Tapering dosage (tapering dose), selama 1 bulan, kebalikan dari proses initialing dose. Misalnya amitriptylin 150 mg/hari 100 mg/hari selama 1 minggu. 100 mg 75 mg/hari selama 1 minggu, 75 mg 50 mg/hari selama 1 minggu, 50 mg/hari 25 mg/hari selama 1 minggu. Dengan demikian obat anti depresan dapat dihentikan total. Kalau kemudian sindrom depresi kambuh lagi, proses dimulai lagi dari awal dan seterusnya.