Anda di halaman 1dari 26

BAB II LANDASAN TEORI

II.1. Tinjauan Pustaka II.1.1. Lansia II.1.1.1. Definisi dan Batasan Lanjut Usia Lanjut usia adalah kelompok orang yang sedang mengalami suatu proses perubahan yang bertahap dalam jangka waktu beberapa dekade (Notoatmodjo,2007). Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995), lanjut usia (lansia) adalah tahap masa tua dalam perkembangan individu dengan batas usia 60 tahun ke atas. Menurut WHO, lansia dikelompokkan menjadi 4 kelompok yaitu: Usia pertengahan (middle age) : usia 45-59 tahun, Lansia (elderly): usia 60-74 tahun, Lansia tua (old): usia 75-90 tahun, Usia sangat tua (very old) : usia di atas 90 tahun Menurut UU no.13 tahun 1998 Pasal 1 Ayat 2 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia menyatakan bahwa lanjut usia adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Batasan usia lanjut menurut Departemen Kesehatan (2006) dibagi atas : Virilitas (praseneium) : Masa persiapan usia lanjut yang menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun); Usia lanjut dini (senescen) : Kelompok yang mulai memasuki masa usia lanjut dini (usia 60-64 tahun), Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degeneratif : usia di atas 65 tahun.

II.1.2. Proses Menua II.1.2.1. Definisi Menua (aging) merupakan proses normal yang dimulai sejak konsepsi dan berakhir saat kematian (Maryam, 2008). Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat
5

bertahan terhadap trauma (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Darmojo, 2006). Menua merupakan proses yang harus terjadi secara umum pada seluruh spesies secara progresif seiring waktu yang menghasilkan perubahan yang menyebabkan disfungsi organ dan menyebabkan kegagalan suatu organ atau sistem tubuh tertentu (Fatmah, 2010). II.1.2.2.Teori Proses Menua Menurut Maryam (2008), ada beberapa teori yang berkaitan dengan proses penuaan: Teori Biologi Teori biologi mencakup teori : Teori genetik dan mutasi Menua terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh molekul-molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami mutasi. Pada teori biologi dikenal istilah pemakaian dan perusakan (wear and tear) yang terjadi karena kelebihan usaha dan stres yang menyebabkan sel-sel tubuh menjadi lelah (pemakaian). Pada teori ini juga didapatkan terjadinya peningkatan jumlah kolagen dalam tubuh lansia, tidak ada perlindungan terhadap radiasi, penyakit dan kekurangan gizi. Immunology slow theory Menurut immunolgy slow theory, sistem imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh. Teori Stres Teori stres mengungkapkan menua terjadi akibat hilangnya sel-sel yang biasa digunakan tubuh. Regenerasi jaringan tidak dapat mempertahankan kestabilan lingkungan internal, kelebihan usaha, dan stres yang menyebabkan sel-sel tubuh lelah terpakai. Teori radikal bebas Radikal bebas dapat terbentuk di alam bebas, tidak stabilnya radikal bebas (kelompok atom) yang mengakibatkan oksidasi

oksigen bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein. Radikal ini menyebabkan sel-sel tidak dapat melakukan regenerasi. Teori rantai silang Pada teori rantai silang diungkapkan bahwa reaksi kimia selsel yang tua atau usang menyebabkan ikatan yang kuat, khususnya jaringan kolagen. Ikatan ini menyebabkan kurangnya elastisitas, kekacauan dan hilangnya fungsi sel. Teori Psikologi Pada usia lanjut, proses penuaaan terjadi secara alamiah seiring dengan penambahan usia. Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula dengan keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya penurunan dari intelektualitas yang meliputi persepsi, kemampuan kognitif, memori dan belajar pada usia lanjut menyebabkan mereka sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Persepsi merupakan kemampuan interpretasi pada lingkungan. Dengan adanya penurunan fungsi sensorik, maka akan terjadi pula penurunan kemampuan untuk menerima, memproses dan merespons stimulus sehingga terkadang akan muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang ada. Kemampuan kognitif dapat dikaitkan dengan penurunan fisiologis organ otak. Namun untuk fungsi-fungsi positif yang dapat dikaji ternyata mempunyai fungsi lebih tinggi, seperti simpanan informasi usia lanjut, kemampuan penghitungan. Memori adalah kemampuan daya ingat lansia terhadap suat kejadian/peristiwa baik jangka pendek maupun jangka panjang. Memori terdiri atas tiga komponen sebagai berikut ingatan yang paling singkat segera (contohnya : pengulangan angka), ingatan jangka pendek (contohnya: peristiwa beberapa menit hingga beberapa hari lalu) dan ingatan jangka panjang. memberi alasan secara abstrak, dan melakukan

Kemampuan belajar yang menurun dapat terjadi karena banyak hal. Selain keadaan fungsional organ otak, kurangnya motivasi pada lansia juga berperan. Motivasi akan semakin menurun dengan menganggap bahwa lansia sendiri merupakan beban bagi orang lain dan keluarga. Teori Sosial Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan yaitu Teori interaksi sosial Teori ini mencoba menjelaskan mengapa lansia bertindak pada suatu situasi tertentu, yaitu atas dasar hal-hal yang dihargai masyarakat. Mauss (1954), Homans (1961), dan Blau (1964) mengemukakan bahwa interaksi sosial terjadi berdasarkan atas hukum pertukaran barang dan jasa. Sedangkan pakar lain Simmons (1945), mengemukakan bahwa kemampuan lansia untuk terus menjalin interaksi sosial merupakan kunci untuk mempertahankan status sosialnya atas dasar kemampuannya untuk melakukan tukarmenukar. Menurut Dowd (1980), interaksi antara pribadi dan kelompok merupakan upaya untuk meraih keuntungan sebesarbesarnya dan menekan kerugian hingga sesedikit mungkin. Kekuasaan akan timbul apabila seseorang atau kelompok mendapatkan keuntungan lebih besar dibandingkan dengan pribadi atau kelompok lainnya. Pada lansia, kekuasaan dan prestisenya berkurang, sehingga menyebabkan interaksi sosial mereka juga berkurang, yang tersisa hanyalah harga diri dan kemampuan mereka untuk mengikuti perintah. Pokok-pokok interaksi sosial adalah sebagai berikut: masyarakat terdiri atas aktor-aktor sosial yang berupaya mencapai tujuannya masing-masing, dalam upaya tersebut terjadi interaksi sosial yang memerlukan biaya dan waktu, untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai seorang aktor harus mengeluarkan biaya, aktor senantiasa berusaha mencari keuntungan dan mencegah

terjadinya kerugian, hanya interaksi yang ekonomis saja yang dipertahankan olehnya. Teori penarikan diri Teori ini merupakan teori sosial tentang penuaan yang paling awal dan pertama kali diperkenalkan oleh Gumming dan Henry (1961). Kemiskinan yang diderita lansia dan menurunnya derajat kesehatan mengakibatkan seorang lansia secara perlahan-lahan menarik diri dari pergaulan sekitarnya. Para lansia juga terjadi kehilangan ganda (triple loss), yaitu : kehilangan peran, hambatan kontak sosial, berkurangnya

komitmen. Menurut teori ini seorang lansia dinyatakan mengalami proses penuaan yang berhasil apabila ia menarik diri dari kegiatan terdahulu dan dapat memusatkan diri pada persoalan pribadi serta mempersiapkan diri dalam menghadapi kematiannya. Pokok-pokok teori menarik diri adalah sebagai berikut : pada pria, kehilangan peran hidup terutama terjadi pada masa pensiun. Sedangkan pada wanita terjadi pada masa ketika peran dalam keluarga berkurang, misalnya saat anak menginjak dewasa serta meninggalkan rumah untuk belajar dan menikah; lansia dan masyarakat mampu mengambil manfaat dari hal ini, karena lansia dapat merasakan bahwa tekanan sosial berkurang,sedangkan kaum muda memperoleh kerja yang lebih luas. Tiga aspek utama dalam teori ini adalah proses menarik diri yang terjadi sepanjang hidup. Proses ini tidak dapat dihindari serta hal ini harus diterima oleh lansia dan masyarakat. Teori aktivitas Teori aktivitas dikembangkan oleh Palmore (1965) dan Lemon et al. (1972) yang menyatakan bahwa penuaan yang sukses bergantung dari bagaimana seorang lansia merasakan kepuasan dalam melakukan aktivitas serta mempertahankan aktivitas tersebut lebih penting dibandingkan kuantitas dan aktivitas yang dilakukan. Dari satu sisi aktivitas lansia dapat menurun, akan tetapi di lain sisi

10

dapat dikembangkan, misalnya peran baru lansia sebagai relawan, kakek atau nenek, seorang duda atau janda, serta karena ditinggal wafat pasangan hidupnya. Dari pihak lansia sendiri terdapat anggapan bahwa proses penuaan merupakan suatu perjuangan untuk tetap muda dan berusaha mudanya. Pokok-pokok teori aktivitas adalah: moral dan kepuasan berkaitan dengan interaksi sosial dan keterlibatan sepenuhnya dari lansia di masyarakat; kehilangan peran akan menghilangkan kepuasan seorang lansia. Teori kesinambungan Teori ini dianut oleh banyak pakar sosial. Teori ini mengemukakan adanya kesinambungan dalam siklus kehidupan lansia. Pengalaman hidup seseorang pada suatu saat merupakan gambarannya kelak pada saat ia menjadi lansia. Hal ini dapat terlihat bahwa gaya hidup, perilaku, dan harapan seseorang ternyata tidak berubah meskipun ia telah menjadi lansia. Pokok-pokok teori kesinambungan adalah sebagai berikut: lansia tidak disarankan untuk melepaskan peran atau harus aktif dalam proses penuaan, tetapi berdasarkan pada pengalamannya di masa lalu, lansia harus memilih peran apa yang harus dipertahankan atau dihilangkan; peran lansia yang hilang tak perlu diganti; lansia berkesempatan untuk memilih berbagai macam cara untuk beradaptasi. Teori perkembangan Havighurst dan Duvali menguraikan tujuh jenis tugas perkembangan (developmental tasks) selama hidup yang harus dilaksanakan lansia yaitu: penyesuaian terhadap penurunan kemampuan fisik dan psikis; penyesuaian terhadap pensiun dan penurunan pendapatan; menemukan makna kehidupan; untuk mempertahankan perilaku mereka semasa

mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan; menemukan

11

kepuasan dalam hidup berkeluarga; penyesuaian diri terhadap kenyataan akan meninggal dunia; menerima dirinya sebagai seorang lansia. Teori perkembangan menjelaskan bagaimana proses menjadi tua merupakan suatu tantangan dan bagaimana jawaban lansia terhadap berbagai tantangan tersebut yang dapat bernilai positif ataupun negatif. Pokok-pokok dalam teori perkembangan adalah sebagai berikut: masa tua merupakan saat lansia merumuskan seluruh masa kehidupannya; masa tua merupakan masa penyesuaian diri terhadap kenyataan sosial yang baru, yaitu pensiun dan/ atau menduda/ menjanda; lansia harus menyesuaikan diri sebgai akibat perannya yang berakhir dalam keluarga, kehilangan identitas dan hubungan sosialnya akibat pensiun, serta ditinggal mati oleh pasangan hidup dan teman-temannya. Teori stratifikasi usia Wiley (1971) menyusun stratifikasi usia berdasarkan usia kronologis yang menggambarkan serta membentuk adanya perbedaan kapasitas, peran, kewajiban, dan hak mereka

berdasarkan usia. Dua elemen penting dari model stratifikasi usia tersebut adalah struktur dan prosesnya. Pokok-pokok dari teori stratifikasi usia adalah sebagai berikut: arti usia dan posisi kelompok usia bagi masyarakat, terdapatnya transisi yang dialami oleh kelompok, terdapatnya mekanisme pengalokasian peran di antara penduduk. Keunggulan teori stratifikasi usia adalah bahwa pendekatan yang dilakukan bersifat deterministik dan dapat dipergunakan untuk mempelajari sifat lansia secara kelompok dan bersifat makro. Kelemahannya adalah teori ini tidak dapat dipergunakan untuk menilai lansia secara perorangan, mengingat bahwa stratifikasi sangat kompleks dan dinamis serta terkait dengan klasifikasi kelas dan kelompok etnik (Maryam,2008).

12

Teori Spiritual Komponen spiritual dan tumbuh kembang merujuk pada pengertian hubungan individu dengan alam semesta dan persepsi individu tentang arti kehidupan. James Fowler mengungkapkan tujuh tahap perkembangan kepercayaan (Wong, et.al. 1999). Fowler juga meyakini bahwa kepercayaan/ demensi spiritual adalah suatu kekuatan yang memberi arti bagi kehidupan seseorang. Fowler juga berpendapat bahwa

perkembangan spiritual pada lansia berada pada tahap penjelmaan dari prinsip cinta dan keadilan. II.1.2.3. Konsep Menua Sehat Menua atau menjadi tua (aging) merupakan proses yang akan dialami oleh semua orang dan tidak dapat dihindari. Yang diusahakan adalah tetap sehat pada saat menua (menua sehat atau healthy aging). Proses menua dipengaruhi oleh faktor eksogen dan endogen yang dapat menjadi faktor risiko penyakit degeneratif yang bisa dimulai sejak usia muda atau produktif, namun bersifat subklinis. Menua sehat akan dipengaruhi oleh faktor-faktor berikut ini : 1. Menua endogenik yang dimulai dengan menuanya sel-sel tubuh, jaringan tubuh, dan anatomi tubuh ke arah proses menuanya organ tubuh. 2. Faktor eksogenik dapat dibagi dalam sebab lingkungan di mana seseorang hidup dan faktor sosio-budaya yang paling tepat disebut gaya hidup (Fatmah,2010).

13

Gambar 1. Model Menua Sehat Sumber : Fatmah, 2010 Menurut R.Boedhi Darmojo mengemukakan 7 kiat menuju usia tua yang sehat disebut BAHAGIA 1. 2. 3. 4. Berat badan berlebihan harus dihindari Atur makanan menuju gizi seimbang Hindari faktor resiko penyakit degeneratif Agar tetap berguna dengan mempunyai kegiatan yang bermanfaat 5. 6. 7. Gerak badan teratur wajib dilakukan Iman dan taqwa ditingkatkan Awasi kesehatan dengan pemeriksaan badan secara berkala (Handayani.2003) II.1.2.4. Perubahan Pada Lansia Menurut Maryam (2008), perubahan yang terjadi pada lansia meliputi perubahan fisik, sosial, dan psikologis. Perubahan Fisiologis Tubuh Penurunan Fungsi Panca Indera Pengelihatan :respons terhadap sinar menurun, adaptasi terhadap gelap menurun, akomodasi menurun, lapang pandang menurun, dan katarak.

14

Pendengaran : membran timpani atrofi sehingga terjadi gangguan pendengaran. Tulang-tulang pendengaran mengalami kekakuan. Kulit : keriput serta kulit kepala dan rambut menipis. Rambut dalam hidung dan telinga menebal. Elastisitas menurun, vaskularisasi menurun, rambut memutih (uban), kelenjar keringat menurun, kuku keras dan rapuh, serta kuku kaki tumbuh berlebihan seperti tanduk. Penurunan Sistem Tubuh Sistem Imun : Penurunan respons imunitas selular yang disebabkan oleh perubahan terhadap antigennya atau kehilangan memori imunologik, kadar IgM cenderung menurun di dalam darah. Sistem Persarafan : saraf panca indera mengecil sehingga fungsinya menurun serta lambat dalam merespons dan waktu bereaksi khususnya yang berhubungan dengan stres. Berkurang atau hilangnya lapisan mielin akson, sehingga menyebabkan berkurangnya respons motorik dan refleks. Sistem Gastrointestinal : banyak gigi yang tanggal dan kerusakan gusi karena proses degenerasi, fungsi pengecap berkurang karena papila di ujung lidah berkurang, esofagus melebar, asam lambung menurun, lapar menurun dan peristaltik menurun sehingga daya absorpsi juga ikut menurun. Ukuran lambung mengecil serta fungsi organ aksesori menurun sehingga menyebabkan

berkurangnya produksi hormon dan enzim pencernaan. Sistem Respirasi : otot-otot pernafasan kekuatannya menurun dan kaku, elastisitas paru menurun, kapasitas residu meningkat sehingga menarik nafas lebih berat, alveoli melebar dan jumlahnya menurun, kemampuan batuk menurun, serta terjadi penyempitan pada bronkus. Sistem Endokrin : produksi hormon menurun, menurunnya kativitas BMR (basal metabolic rate).

15

Sistem Muskuloskletal : cairan tulang menurun sehingga mudah rapuh (osteoporosis), bungkuk (kifosis), persendian membesar dan menjadi kaku (atrofi otot), kram, tremor, tendon mengerut dan mengalami skoliosis.

Sistem Genitourinaria : ginjal mengecil, aliran darah ke ginjal menurun, penyaringan di glomerulus menurun, dan fungsi tubulus menurun sehingga kemampuan mengonsentrasi urin ikut

menurun, otot-otot vesika urinaria melemah, kapasitasnya menurun, dan retensi urine. Sistem Kardiovaskular : katup pompa jantung menebal,

kemampuan memompa dara menurun, elastisitas pembuluh darah menurun, serta meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer sehingga tekanan darah meningkat. Perubahan Komposisi Tubuh Menua ditandai dengan kehilangan secara progresif massa otot dan tulang serta peningkatan lemak tubuh yang ditandai dngan terdistribusinya lemak subkutan dari ekstremitas ke batang tubuh yang dimulai pada usia awal 40 tahun. Perubahan Sosial Peran : post power syndrome, single woman dan single parent ; Keluarga : kesendirian, kehampaan; Teman : ketika teman lansia meninggal, muncul perasaan kapan ia meninggal; Abuse : kekerasan dalam bentuk verbal (dibentak); Masalah hukum : berkaitan dengan perlindungan aset dan kekayaan pribadi yang dikumpulkan sewaktu muda; Pensiun; Ekonomi; Rekreasi; Keamanan; Transportasi; Politik; Pendidikan; Agama; Panti jompo. Perubahan Psikologis Perubahan psikologis pada lansia meliputi short term memory, frustasi, kesepian, takut kehilangan kebebasan, takut menghadapi kematian, perubahan keinginan, depresi dan kecemasan.

16

II.1.3. Gizi Lansia II.1.3.1. Definisi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan, mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energi (Supariasa,2001). II.1.3.2. Peranan Zat-Zat Gizi Pada Lansia Saat mulai terjadinya proses penuaan tidak sama untuk setiap orang, ada yang lebih cepat, tetapi ada pula yang lebih lambat dibandingkan dengan usianya. Dibedakan 2 macam usia yaitu : 1. Usia kronologis (chronological age) 2. Usia biologis (biological age) Yang dimaksud dengan usia kronologis adalah usia yang dicapai seseorang dalam kehidupan dihitung menurut kalender, sedangkan usia biologis adalah usia yang terlihat dari kondisi jaringan tubuh orang tersebut.usia biologis dipengaruhi oleh banyak faktor misalnya faktor lingkungan, sinar matahari, stres, rokok, gizi dan sebagainya. Bukti-bukti menunjukkan bahwa zat gizi tertentu dapat

memperlambat proses penuaan (Fatmah,2010). II.1.3.3. Kebutuhan Zat Gizi Lansia Banyaknya tiap-tiap zat gizi esensial yang harus dipenuhi dari makanan sehari-hari untuk mencegah defisiensi zat gizi disebut Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, berat badan, aktivitas fisik, dan keadaan fisiologis seperti hamil atau menyusui (Fatmah,2010). II.1.3.4. Pedoman Umum Gizi Seimbang Indonesia Untuk mendapatkan gizi yang seimbang, lansia perlu

memperhatikan hal-hal berikut ini : 1. Makan Aneka Ragam Makanan 2. Makan Sumber Karbohidrat Kompleks 3. Batasi Konsumsi Lemak dan Minyak

17

4. Makan Cukup Sumber Zat Besi 5. Minum Air 6. Kurangi Jajanan 7. Perbanyak Konsumsi Hewan Laut 8. Gunakan Garam Beriodium 9. Perbanyak Konsumsi Sayur dan Buah Berwarna Hijau, Kuning, Oranye 10. Hindari Minuman Beralkohol 11. Dianjurkan untuk Minum Susu Skim atau Rendah Lemak 12. Sarapan 13. Berhati-hati Menggunakan Makanan Dalam Kemasan (Darmojo,2006). II.1.4. Status Gizi II.1.4.1. Pengertian Status Gizi Status Gizi adalah keadaan kesehatan individu-individu atau kelompok-kelompok yang ditentukan oleh derajat kebutuhan fisik akan energi dan zat gizi yang diperoleh dari pangan dan makanan yang dampak fisiknya diukur secara antropometri (Almatsier, 2001). Menurut Supariasa (2001), status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu, atau perwujudan nutriture dalam bentuk variabel tertentu. II.1.4.2. Penilaian Status Gizi Lansia Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Antropometri Adalah serangkaian teknik pengukuran dimensi kerangka tubuh manusia secara kuantitatif. Penilaian status gizi lansia diukur dengan antropometri atau ukuran tubuh, yaitu tinggi badan (TB) dan berat badan (BB). Akan tetapi, pengukuran tinggi badan lansia sangat sulit dilakukan mengingat adanya masalah postur tubuh seperti terjadinya kifosis atau

pembengkokan tulang punggung, sehingga lansia tidak dapat berdiri

18

tegak. Oleh karena itu, pengukuran tinggi lutut, panjang depa, dan tinggi duduk dapat digunakan untuk memperkirakan tinggi badan. Tinggi Lutut

Direkomendasikan oleh WHO (1999) untuk digunakan sebagai prediktor tinggi badan pada seseorang lansia yang berusia kurang lebih 60 tahun. Proses bertambahnya usia tidak berpengaruh terhadap tulang yang panjang sepeerti lengan dan tungkai, tetapi sangat berpengaruh terhadap tulang belakang. Tinggi lutut diukur dengan kaliper berisi mistar pengukuran dengan mata pisau menempel pada sudut 90o. Alat yang digunakan adalah alat ukur tinggi lutut yang terbuat dari kayu. Subjek yang diukur ditempatkan dalam posisi duduk, atau berbaring (atau tidur). Pengukuran dilakukan pada kaki kiri subjek antara tulang tibia dengan tulang paha dengan membentuk sudut 90o. Alat ukurnya ditempatkan di antara tumit sampai bagian proksimal dari tulang patela. Pembacaan skala dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm. Hasil pengukuran dalam sentimeter dikonversikan menjadi tinggi badan (TB) menggunakan rumus Chumlea: TB pria = 64,19 (0,04 x usia dalam tahun) + (2,02 x tinggi lutut dalam cm) TB wanita = 84,88 (0,24 x usia dalam tahun) + (1,83 x tinggi lutut dalam cm) Panjang Depa

Panjang depa merupakan salah satu prediktor tinggi badan lansia. Pengukuran panjang depan pada lansia diukur dengan alat mistar panjang 2 meter. Subjek yang diukur harus memiliki kedua tangan yang dapat direntangkan sepanjang mungkin dalam posisi lurus lateral dan tidak dikepal. Subjek berdiri dengan kaki dan bahu menempel pada tembok sepanjang pita pengukuran yang ditempel di tembok. Pembacaan dilakukan dengan skala 0,1 cm mulai dari bagian ujung jari tengah tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri.

19

Tinggi Duduk

Tinggi duduk diukur dengan alat ukur antropometer yang terdiri dari bangku duduk ukuran 44 x 44 x 44 cm bagi lansia pria, dan 40 x 40 x 40 cm bagi lansia wanita, dan mikrotoa untuk membaca hasil pengukuran. Lansia yang akan diukur harus duduk dengan posisi tubuh tegak, tangan menggantung lemas di atas paha, kedua kaki tanpa alas kaki dirapatkan ke dinding bangku, dan mata menatap lurus ke depan. Pembacaan dilakukan pada mikrotoa yang tertempel di dinding dan selanjutnya dihitung tinggi dari atas kepala hingga permukaan bangku dalam satuan cm. Berat Badan

Adalah variabel antropometri yang sering digunakan dan hasilnya cukup akurat. Alat yang digunakan untuk mengukur berat badan adalah timbangan injak digital (seca). Subjek diukur dalam posisi berdiri dengan ketentuan subjek memakai pakaian seminimal mungkin, tanpa isi kantong dan sandal. Pembacaan skala dilakukan pada alat dengan ketelitian 0,1 kg. Selanjutnya data tinggi lutut dan berat badan dimasukkan ke dalam rumus IMT :

Dengan pengelompokan IMT untuk klasifikasi status gizi lansia Tabel 1. Klasifikasi Status Gizi Lansia IMT <20 kg/m2 20-25 kg/m2 25-30 kg/m2 >30 kg/m2 Sumber : WHO,1999 Status Gizi Gizi kurang (underweight) Normal Gizi lebih (overweight) Obesitas

20

Tabel 2. Kategori status gizi lansia berdasarkan Indeks Massa Tubuh IMT <18,5 kg/m2 18,5-25 kg/m2 >25 kg/m2 Sumber : Depkes RI,2005 Klinis Cara pengukuran ini didasarkan pada perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan epitel atau bagian tubuh lain terutama pada mata, kulit, dan rambut. Selain itu, pengamatan juga dapat dilakukan pada bagian tubuh yang dapat diraba dan dilihat atau bagian tubuh lain yang terletak dekat permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Cara ini relatif murah dan tidak memerlukan peralatan canggih, namun hasilnya sangat subjektif dan membutuhkan tenaga terlatih (Fatmah,2010). Biokimia Merupakan cara penilaian yang lebih sensitif dan mampu menggambarkan perubahan status gizi lebih dini pada lansia, seperti hiperlipidemia, kurang kalori protein, dan anemia defisiensi besi (Fe) dan asam folat. Plasma dan serum memberikan gambaran hasil masukan jangka pendek, sedangkan cadangan dalam jaringan menggambarkan status gizi dalam waktu lama (Fatmah,2010). Biofisik Metode penentuan status gizi dengan melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja epidemik dan cara yang digunakan adalah tes adaptasi gelap. Penilaian status gizi secara tidak langsung dapat dibagi menjadi tiga yaitu: survei konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi. Survei Konsumsi Makanan Status Gizi Gizi kurang Gizi normal Gizi lebih

Metode penentuan status gizi secara tidak langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi.

21

Metode yang umum digunakan terbagi 2 : Jangka pendek : mengumpulkan informasi data makanan saat ini. Alat ukur : 24 hours food recall dan lebih dari 2 hari (dietary record). Jangka panjang : mengumpulkan informasi tentang makanan yang biasa dikonsumsi sebulan atau setahun yang lalu. Alat ukur : dietary history atau food frequency questionnaire (FFQ).

22

Tabel 3. Keunggulan dan Kelemahan Metode Survei Konsumsi Makanan


Jenis pengukuran 24 hours food recall Wawancara langsung kepada responden oleh pewawancara. Menanyakan jenis dan jumlah seluruh makanan berserat dan minuman yang dikonsumsi dalam 24 jam terakhir sebelum wawancara berlangsung. Keandalan cukup tinggi, sehingga dapat diterapkan pada populasi dngan etnik yang berbeda-beda. Tidak harus bisa membaca dan menulis. Penolakan responden kemungkinannya kecil. Memerlukan ketrampilan pewawancara yang tinggi. Pewawancara harus mengenal kebiasaan makan pendduk setempat guna memperoleh jawaban lengkap dan rinci, serta untuk mengontrol data. Teknik Keunggulan Kelemahan

dietary record

Pengumpulan data konsumsi makanan dan minuman selama 3 hari terakhir pada hari kerja dan akhir pekan untuk memperoleh informasi rata-rata makanan yang dikonsumsi dalam satu individu.

Lebih akurat karena menggunakan metode penimbangan yang dianggap sebagai gold standard. Tidak tergantung pada memori responden.

Pola makan harian bisa berubah atau dipengaruhi oleh proses pencatatan. Tidak buta huruf. Kemungkinan terjadi penolakan cukup tinggi.

food frequency questionnaire (FFQ).

Menanyakan responden tentang frekuensi konsumsi makanan telah terdaftar dalam formulir untuk waktu-waktu tertentu (biasanya pada bulan lalu), dan biasanya diisi sendiri oleh responden. Rancangan FFQ yang menyeluruh digunakan untuk mengestimasi sejumlah besar nutrien dalam 50150 jenis makanan.

Memerlukan waktu yang singkat untuk mengecek jawaban responden dalam kuesioner. Relatif murah. Tidak mempengaruhi kebiasaan makan responden. Penolakan oleh responden biasanya kecil. Cocok bagi survei untuk jumlah populasi besar.

Memerlukan memori atas pola makan di masa lalu dan asupan saat ini mungkin mempengaruhi pelaporan di masa lampau. Mungkin kurang teliti dan seringkali perhitungan kompleks dibtuhkan untuk estimasi frekuensi.

Dietary History

Terdri dari 3 komponen alat ukur yaitu : 1. 24 hours recall 2.FFQ 3. 3 hari dietary record

Membutuhkan ketrampilan pewawancara yang tinggi, waktu yang lama, dan kemungkinan penolakan oleh responden yang cukup tinggi.

Sumber : Fatmah, 2010

23

Statistik Vital Dengan menganalisis data beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian akibat penyakit tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi (Fatmah,2010).

Faktor Ekologi Merupakan hasil interaksi beberapa faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Adat dapat diperoleh dari sumber sebagai berikut : observasi, catatan lokal dari balai desa ataupun dari survei khusus menggunakan kuesioner.

(Fatmah,2010). II.1.4.3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia Usia Seiring pertambahan usia, kebutuhan zat gizi karbohidrat dan lemak menurun, sedangkan kebutuhan protein, vitamin, dan mineral meningkat karena ketiganya berfungsi sebagai antioksidan untuk melindungi sel-sel tubuh dari radikal bebas. Beberapa perubahan pada komposisi tubuh manusia terjadi seiring peningkatan usia. Studi tentang perubahan antropometri pada lansia di Kanada menunjukkan perubahan tinggi badan lansia di panti werdha sebesar 2 cm terutama pada lansia di atas usia 90 tahun dan lansia dengan demensia (Fatmah,2010). Jenis Kelamin Dibandingkan lansia wanita, lansia pria lebih banyak memerlukan kalori, protein, dan lemak. Ini disebabkan karena perbedaan tingkat aktivitas fisik. Suatu longitudinal studi terhadap pria dan wanita lansia yang dilakukan di Swedia menunjukkan penurunan berat badan pada usia 7081 tahun, dengan rata-rata penurunan 7 kg pada pria dan 6 kg pada wanita selama 10 tahun. Penurunan berat badan ini disebabkan oleh adanya penurunan lemak tubuh. Data cross sectional juga menunjukkan adanya perubahan tinggi badan. Tinggi badan pada usia 60-64 tahun

24

jika dibandingkan dengan tinggi badan pada usia 20-24 tahun lebih rendah 5-6 cm pada pria, dan 3 cm pada wanita. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kelurusan tulang (Fatmah,2010). Sosioekonomi Pencapaian tinggi badan merupakan hasil kombinasi antara faktorfaktor-faktor lingkungan dan genetik. Peningkatan standar kehidupan ekonomi dapat memperbaiki pertumbuhan tinggi badan manusia melalui gizi dan berkurangnya penyakit. Tinggi badan yang rendah atau pendek dihubungkan dengan rendahnya tingkat pendidikan.

Kemiskinan mempengaruhi pola asupan makanan yang mengandung zat gizi, sehingga individu yang berasal dari keluarga kurang mampu cenderung kurang mengkonsumsi makanan bergizi antara lain Ca dan P yang penting bagi pertumbuhan tulang (Fatmah,2010). Status perkawinan merupakan salah satu karakteristik sosial yang mendapat perhatian para demografer. Perubahan lingkungan sosial seperti perubahan kondisi ekonomi karena pensiun dan kehilangan pasangan hidup dapat membuat lansia merasa terisolasi dari kehidupan sosial dan mengalami depresi. Akibatnya, lansia kehilangan nafsu makan yang berdampak pada penurunan status gizi lansia

(Herry,2008). Menurut Berg (1987), kualitas dan kuantitas konsumsi makanan dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya. Pengetahuan makanan yang sehat sering kurang dipahami oleh golongan tingkat pendidikannya rendah, mereka lebih mengutamakan rasa dan harga daripada nilai sehat makanan. Pendidikan yang telah ditempuh lansia akan mempengaruhi wawasan, pola pikir, dan pola perilaku dalam kehidupannya (Herry,2008). Menurut Powers (1980) terdapat kecenderungan bahwa dengan meningkatnya pendapatan nasional maka akan meningkat pula prevalensi kegemukan. Kemajuan di bidang sosial ekonomi akan mengakibatkan terjadinya perubahan pola konsumsi ke arah pangan yang berkalori dengan harga yang lebih mahal (Herry,2008).

25

Gaya Hidup Gaya hidup sehat menggambarkan pola perilaku sehari-hari yang mengarah pada upaya memelihara kondisi fisik, mental dan sosial berada dalam keadaan positif. Gaya hidup sehat meliputi kebiasaan tidur, makan, pengendalian berat badan, tidak merokok atau minumminuman beralkohol, berolahraga secara teratur dan terampil dalam mengelola stres yang dialami (Puspita.2009). Aktivitas Fisik Semakin bertambahnya usia seseorang, maka aktivitas fisik yang dilakukannya semakin menurun. Pada lansia yang aktivitas fisiknya menurun, asupan energi harus dikurangi untuk mencapai keseimbangan energi dan mencegah terjadinya obesitas, karena salah satu faktor yang menentukan berat badan seseorang adalah keseimbangan antara masukan energi dengan keluaran energi. Selain memberi keuntungan pada kontrol berat badan, aktivitas fisik juga memberikan keuntungan lain, di antaranya yaitu efek positif terhadap metabolisme energi, memberikan latihan pada jantung, dan menurunkan risiko diabetes mellitus karena kativitas fisik meningkatkan sensitivitas insulin. Penurunan aktivitas fisik pada lansia dapat meningkatkan risiko penyakit degeneratif (Fatmah,2010). Menurut Almatsier (2003), untuk menaksir kebutuhan energi, aktivitas fisik dikelompokkan menurut berat ringannya aktivitas : ringan, sedang, berat.

26

Tabel 4. Angka kecukupan energi untuk tingkat aktivitas fisik untuk laki-laki dan perempuan
Kelompok aktivitas Ringan Jenis kegiatan 75% waktu digunakan Faktor aktivitas 1.56 (laki-laki) 1.55 (perempuan)

untuk duduk. 25% waktu untuk berdiri dan bergerak Sedang 40% waktu digunakan

1.76 (laki-laki) 1.75 (perempuan)

untuk duduk atau berdiri. 60% waktu digunakan

untuk aktivitas pekerjaan tertentu Berat 25% waktu digunakan 2,10 (laki-laki) 2.00 (perempuan)

untuk duduk atau berdiri. 75% waktu digunakan

untuk aktivitas pekerjaan tertentu.

Sumber : Almatsier,2003

Perubahan Fisiologi Tubuh Akibat Penuaan Kemunduran fungsi organ tubuh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari lansia seperti perubahan hormon, penurunan fungsi sistem tubuh, perubahan komposisi tubuh (Fatmah,2010). Penyakit Jika seorang lansia memiliki penyakit degeneratif, maka asupan gizinya sangat penting untuk diperhatikan, serta disesuaikan dengan ketersediaan dan kebutuhan zat gizi dalam tubuh lansia. Sebagai contoh, lansia yang mnderita penyakit jantung koroner sebaiknya meningkatkan konsumsi serat untuk menurunkan plasma kolesterol (Fatmah,2010). Pengobatan Obat-obatan yang dikonsumsi untuk menyembuhkan penyakit dapat menimbulkan efek samping dan menghasilkan interaksi negatif dengan zat-zat gizi dalam tubuh. Beberapa obat, misalnya obat untuk pasien kanker, dapat menurunkan nafsu makan, bahkan dapat menyebabkan mual, muntah dan berbagai rasa tidak enak lainnya (Fatmah,2010).

27

Asupan Zat Gizi Asupan gizi dari makanan mempengaruhi proses menjadi tua karena seluruh aktivitas sel (metabolisme tubuh) memerlukan nutrien yang cukup selain faktor penyakit dan lingkungan. Berkurangnya BMR yang disebabkan karena kehilangan berat badan akan menyebabkan penurunan aktivitas fisik tubuh,menurunnya kebutuhan energi serta berkurangnya asupan makanan (Fatmah.2010).

28

II.2. Kerangka Teori

Bagan 1. Kerangka Teori

29

II.3. Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian Variabel Independen 1. Status perkawinan lansia wanita 2. Pekerjaan lansia wanita 3. Pendidikan lansia wanita 4. Pendapatan lansia wanita Bagan 2. Kerangka Konsep Variabel dependen

STATUS GIZI LANSIA WANITA

II.4. Penelitian Terkait


No Judul Penelitian Nama Peneliti Tempat & Tahun Penelitian 1. Hubungan Karakteristik Individu, Gaya Hidup, dan Faktor Gizi terhadap Status IMT Herry Di 3 Posbindu Kelurahan Rangkapan Jaya Lama Kecamatan Pancoran Mas,Depok tahun 2008 Metode pendekatan kuantitatif dengan menggunakan desain crosssectional Karakteristik, gaya hidup, faktor gizi lansia Status IMT lansia terdapat hubungan antara merokok dengan status gizi. Rancangan Penelitian Variabel Penelitian Hasil Penelitian

2.

Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Gizi Lansia

Tatiek Di Sasana Tresna Metode analitik Sukesi Werdha Karya Bhakti Ria Pembangunan Jakarta tahun 2002 dengan menggunakan desain crosssectional

Karakte-

ristik

Terdapat hubungan antara jenis kelamin, status perkawinan, status pekerjaan, lama

individu, status kesehatan, aktivitas fisik, konsumsi

energy, nafsu makan tinggal di panti, keluhan Status gizi lansia dan status kesehatan.

30

II.5. Hipotesis Penelitian H1 : Ada hubungan antara status perkawinan dengan status gizi lansia wanita. H2: Ada hubungan antara pendidikan dengan status gizi lansia wanita. H3: Ada hubungan antara pekerjaan dengan status gizi lansia wanita. H4: Ada hubungan antara pendapatan dengan status gizi lansia wanita.