Anda di halaman 1dari 9

BAB II PEMBAHASAN

1.1 Pengertian-Pengertian Pokok Dalam Teori Perkembangan Kognitif Jean Peaget pada mulanya adalah seorang ahli biologi. Sebuah profesi yang jauh dari seorang ahli psikologi pendidikan. Dia tidak begitu tertarik dengan pendidikan, melainkan pada genetik epistemonologhy, atau studi terhadap perkambangan ilmu pengetahuan. Teori Piaget ini lahir dari hasil observasi terhadap anaknya, metode penelitiannya sangat berbeda dengan tradisi Behavioris yang masyur di Amerika Setikat. Hasil penelitian Peaget ini berpengaruh pada pandangan Behavioris terhadap perkembangan dan pembelajaran. Untuk mengilustrasikan konsep perkembangan dapat dilihat dari perubahanperubahan yang bertahan lama pada seorang pelajar akibat dari kombinasi pembelajaran, pengalaman dan kedewasaan. Perubahan yang terjadi akibat interaksi pembelajaran, kedewasaan dan pengalaman. Kognisi adalah perkembangan yang luas mengenai berfikir dan mengamati, jadi tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengertian atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengertian. Teori Piaget banyak dipengaruhi oleh biologi dan epistemology (ajaran mengenai pengenalan). Biologi : dalam teorinya Piaget banyak menggunakan pengertian yang langsung diambil dari istilah biologi. Misalnya dalam definisi mengenai intelegensi dipakainya pengertian-pengertian seperti adaptasi , organisasi, stadium, pertumbuhan dan sebagainya. Epistemology : perhatian terhadap cabang ilmu pengetahuan ini antara lain Nampak dalam penelitian empiris terhadap timbulnya pengertian atau konsep mengenai waktu luang, ruang, kausalitasnya pengertian atau konsep mengenai waktu, ruang, kausalitas dan kesadaran akan aturan. Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecendrungan fundamental, yaitu kecendrungan untuk :

a. Adaptasi Adaptasi adalah proses menyesuaikan skema skema dari pengalamam antara satu dengan yang lain untuk memelihara keseimbangan. Contoh, jika kita belajar mengendarai mobil dengan transmisi otomatis dan kita membeli satu dengan sebuah tongkat penggeser, kita harus menyesuaikan skema untuk mengakomodasi perseneling dengan sebuah penggeser standar. Adaptasi terdiri dari dua proses timbal balik , akomodasi dan asimilasi. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecendrungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Kecendrungan adaptasi ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer, yaitu: Asimilasi, yaitu kecendrungan organism untuk mengubah lingkungan guna menyesuaikan dengan dirinya sendiri. Contohnya yang sederhana dalam bidang biologis adalah makan. Bila seseorang makan, maka yang burubah bukanlah system pencernaannya, melainkan makanan yang dimakannya. Begitu juga dalam proses pembelajaran, prinsip asimilasi ikut memegang peranan penting. Menurut Piaget maka setiap anak selalu ada dalam salah satu stadium perkembangan.stadium ini sebahagian besar menentukan cara anak menginterprestasi suatu tugas verbal, misalnya anak umur 4 tahun dan umur 10 tahun dapat diberikan tugas verbal yang identik, tetapi harus disadari bahwa anak hanya akan mengerti tugas tadi sepanjang struktur kognitif, yaitu stadium perkembangan kognitifnya memungkinkan untuk hal itu. Anak mengasimilasi tugas tadi dengan struktur kognitifnya (ia mengerti tugasnya sepanjang ia mampu untuk mengerti). Akomodasi, yaitu kecendrungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri dengan keliling. Contohnya bila organisme memakan makanan yang asing (yang tidak pernah dimakan), maka system fisiologisnya seringkali harus menyesuaikan diri dengan faktor lingkungan yang berubah itu. Akomodasi juga merupakan sebuah bentuk adaptasi

dimana skema yang ada dimodifikasi dalam respon pengalaman baru seperti belajar mengemudi tadi. Asimilasi adalah sebuah bentuk adaptasi pengalaman alamiah dipadukan dalam sebuah skema yang ada. Akomodasi

dan asimilasi dimaksudkan untuk memelihara keseimbangan disisi lain, jika pengetahuan yang baru hanya diasimilasikan dalam bentuk skema mereka tidak akan berubah dan perkembangan tidak akan terjadi. Proses asimilasi dan akomodasi bersatu untuk memajukan perkembangan kognitif pada anak. Dalam lapangan psikologi dapat diambil contoh yaitu bila bayi hendak meraih sesuatu, bayi tersebut menyesuaikan pengamatannya dengan objek tersebutuntuk dapat melihatnya dengan baik. Dia harus menyesuaikan pola gerakannya sedemikian rupa. Dalam situasi sekolah akomodasi memegang peranan penting, anak harus bersedia untuk selalu memperoleh pengeetahuan baru guna dapat mengatasi masalah-masalah yang baru. Hubungan antara asimilasi dan akomodasi. Kedua proses tersebut seperti telah dikemukakan adalah komplementer. Dalam setiap tingkah laku organisme dapat dikemukakan aspek asimilasi dan akomodasi. b. Kecendrungan Organisasi Organisasi adalah proses pembentukan skema : skema adalah pola pola mental atau sistem yang menggambarkan cara berpikir seseorang terhadap dunia atau skema adalah sesuatu yang terstruktur dalam pikiran. Hal ini dapat dilukiskan sebagai kecendrungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi prosesproses sendiri menjadi sistem-sistemyang koheren. Kecendrungan ini juga dapat ditemukan dalam bidang biologis dan psikologis. Contoh yang paling mudah dalam bidang biologis adalah berfungsinya system fisiologis sendiri sebagai kesatuan yang terintegrasi. Bila ada gangguan dalam integrasinya hal itu berarti penyakit. Dalam bidang psikologis dapat dilihat bahwa bayi pada mulanya mempunyai dua struktur tingkah laku yang terpisah, yaitu dapat meraih dan dapat mengamati sesuatu.semula anak tidak mampu untuk mengintegra dua struktur tingkah laku ini. Baru kemudian kedua struktur ini dikoordinasi menjadi satu struktur dalam tingkatan yang lebih tinggi, yaitu dalam apa yang disebut koordinasi mata dan tangan atau koordinasi visio-motorik.

Hubungan antara adaptasi dan organisasi. Yaitu dua proses yang bersifat komplementer. Bila suatu organism mengadakan organisasi aktivitasnya, maka ia mengasimilasi kejadian baru pada struktur yang sudah ada dan mengakomodasi struktur yang sudah ada pada situasi baru. Piaget menamakan kedua proses tadi sebagai faktor biologis, alasannya ialah bahwa dua kecendrungan tadi selalu ada pada organism hidup. Kedua kecendrungan ini merupakan sifat turunan.

1.1.1 Tahap Perkembangan Kognitif pada Remaja Tahap perkembangan kognitif pada remaja secara garis besar dapat ditinjau dari dua segi perubahan-perubahan perkembangan kognitif, diantaranya adalah: a. Pemikiran Operasional Formal (formal operational though), yaitu suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai pada usia kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada tahap ini anak sudah dapat berpikir secara abstrak dan hipotesis serta mampu memikirkan sesuatu yang akan terjadi(sesuatu yang abstrak), (Samsunuwiyati, 2005, hal 195). Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget bahwa pemikiran operasional berlangsung antara usia 11 hingga 15 tahun. Beberapa gagasan Piaget tentang pemikiran operasional formal baru-baru ini ditantang (Byrnes, 1988; Danner, 1989; Keating, sedang dicetak; Lapsley, 1989; Overton & Byrnes, 1991; Overton & Montangero, 1991), ternyata terdapat lebih banyak variasi individual pada pemikiran operasional formal dari pada yang dibayangkan oleh piaget. Hanya kirakira satu dari tiga remaja muda adalah pemikir operasional formal. (John W. Santrock, 2002, hal 10) Ketika remaja berpikir lebih abstrak dan idealistis, mereka mereka juga berpikir lebih logis. Remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana-rencana untuk memecahkan masalah-masalah dan menguji pemecahan masalah secara sistematis. Tipe pemecahan masalah ini diberi nama penalaran deduktif hipotestis. Penalaran deduktif hipotetis (hypothetical deductive reasoning) adalah konsep operasional

formal Piaget, yang menyatakan bahwa remaja memiliki kemampuan kognitif untuk mengembangkan hipotesis, atau dugaan terbaik, mengenai cara memecahkan masalah, seperti persamaan aljabar. Kemudian mereka menarik kesimpulan secara sistematis, atau menyimpulkan, pola mana yang diterapkan dalam memecahkan masalah.(John W. Santrock, 2002, hal 10) Akan tetapi, anak tahap formal operasional mulai mampu memecahkan masalah dengan membuat perencanaan kegiatan terlebih dahhulu dan berusaha mengantisipasi berbagai macam informasi yang akan diperlukannya untuk memecahkan masalah tersebut. Piaget membedakan gaya pemikiran formal operasional dari gaya pemikiran konkrit operasional dalam tiga hal penting (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 196), yaitu: 1. penekanan pada kemungkinan versus kenyataan (emphasizing the possible versus the real) 2. penggunaan penalaran ilmiah (using scientific reason), kualitas ini terlihat ketika remaja harus memecahkan beberapa masalah secara sistematis. 3. kecakapan dalam mengkombinasikan ide-ide (skillfully combinting ideas) ciri-ciri pemikiran operasional formal dapat dirumuskan dalam 3 bentuk yaitu remaja berpikir secara abstrack, idealistis dan logis (dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), yaitu: 1. berpikir abstrak yaitu remaja dapat memecahkan persamaan-persamaan aljabar yang abstrak. 2. berpikir idealistis yaitu remaja sering berpikir tentang apa yang mungkin, mererka berpikir tentang ciri ideal diri mereka sendiri, orang lain dan dunia. 3. berpikir logis yaitu remaja mulai berpikir seperti ilmuwan, yang menyusun rencana unutk memecahkan masalah-masalah dan menguji secara sistematis pemecahan-pemecahan masalah.

b.Perkembangan Pengambilan Keputusan Remaja adalah masa dimana terjadi peningkatan pengambilan keputusan. Dalam hal ini mulai mengambil keputusan-keputusan tentang masa depan, keputusan dalam memilih teman, keputusan tentang apakah melanjutkan kuliah setelah tamat SMU atau mencari kerja, keputusan untuk mengikuti les bahasa inggris atau computer, dan sebagainya. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198) Transisi dalam pengambilan keputusan muncul kira-kira pada usia 11 hingga 12 tahun dan pada usia 15 hingga 16 tahun. Misalnya, dalam suatu studi, murid-murid kelas delapan, sepuluh, dan dua belas diberikan dilemma-dilemayang meliputi pilihan atas suatu prosedur medis. Murid-murid yang paling tua cendrung menyebutkan secara spontan berbagai resiko, menyarankan konsultasi dengan seorang ahli luar, dan mengantisipasi akibat-akibat masa depan. (dalam John W. Santrock, 2002, hal 13) Pengambilan keputusan oleh remaja yang lebih tua sering kali jauh dari sempurna, dan kemampuan untuk mengambil keputusan tidak menjamin bahwa keputusan semacam itu akan dibuat dalam kehidupan sehari-hari, luasnya pengalaman sering memainkan peran yang sangat penting. Untuk itu, remaja perlu memiliki lebih banyak peluang untuk mempraktekan dan mendiskusikan pengambilan keputusanyang realistis. Salah satu strategi untuk meningkatkan keterampilan pengambilan keputusan remaja terhadap pilihan-pilihan dalam dunia nyata seperti masalah seks, obat-obatan dan dan kebut-kebutan di jalan adalah dengan mengembangkan lebih banyak peluang bagi remaja untuk terlibat dalam permainan peran dan pemecahan masalah kelompok yang berkaitaqn dengan kondisi-kondisi semacam itu di sekolah. (dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 198)

1.1.2 Perkembangan Orientasi Masa Depan Seperti yang dikemukakan Elizabet B. Hurlock(1981, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 199), remaja mulai memikirkan tentang masa masa depan mereka secara sungguh-sungguh. Remaja mulai memberikan perhatian yang besar terhadap berbagai lapangan kehidupan yang akan dijalaninya sebagai manusai dewasa dimasa yang

mendatang. Diantara lapangan kehidupan dimasa depan yang banyak mendapat perhatian remaja adalah lapangan pendidikan (Nurmi, 1959 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), disamping dunia kerja dan hidup berumah tangga. Menurut G. Trosmnisdorff (1983 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 199), orientasi masa depan merupakan fenomena motivasional yang kompleks yakni antisipasi dan evaluasi tentang dari masa depan dalam interaksinya dengan lingkungan. Menurut Nurmi orientasi masa depan berkaitan erat dengan harapan, tujuan, standar, rencana dan strategi pencapaian tujuan di masa yang akan datang. Sebagai suatu fenomena kognitif motivasional yang kompleks, orietasi masa depan berkaitan erat dengan skema kognitif yaitu suatu organisasi perceptual dari pengalaman masa lalu beserta kaitannya dengan pengalaman masa kini dan di masa yang akan datang. Menurut Nurmi (1991 dalam Samsunuwiyati, 2005, hal 200), skema kognitif tersebut berinteraksi dengan tiga tahap proses pembentukan orientasi masa depan yaitu : 1. Tahap Motivasional Merupakan tahap awal pembentukan orientasi masa depan remaja. Tahap ini mencakup motif, minat dan tujuan yang berkaitan dengan orientasi masa depan. 2. Tahap Planning Perencanaan merupakan tahap kedua proses pembentukan orientasi masa depan individu, yaitu bagaimana remaja membuat perencanaan tentang perwujudan minat dan tujuan mereka. Dalam hal ini memiliki ciriciri sebagai berikut: penentuan subtujuan penyusunan rencana melaksanakan rencana dan strategi yang telah disusun 3. Tahap Evaluation merupakan tahap akhir dari proses pembentukan orientasi masa depan.

1.1.3 Perkembangan Kognisi Sosial Menurut David Elkind (1976 dalam John W. Santrock, 2002, hal 11), pemikiran remaja bersifat egosentris, yakin bahwa egosentrisme remaja (adolescent egocentrism) memiliki dua bagian yaitu: 1. penonton khayalan (imaginary audience) Merupakan keyakinan remaja bahwa orang lain memperhatikan dirinya sebagaimana halnya dengan dirinya sendiri. Perilaku mengundang perhatian, umumnya terjadi pada masa remaja, mencerminkan egosentrisme dan

keinginan untuk tampil diatas pentas, diperhatikan, dan terlihat. Bayangkan anak laki-laki kelas delapan yang menganggap diri sebagai seorang aktor dan semua orang lain adalah penonton ketika ia menatap kebintik kecil dicelana panjangnya. Bayangkan seorang anak perempuan kelas tujuh yang

menganggap bahwa semua mata terpaku kepada corak kulitnya karena ada cacat yang kecil sekali pada wajahnya. 2. dongeng pribadi merupakan bagian dari egosentrisme remaja yang meliputi perasaanperasaan unik seorang remaja. Rasa unik pribadi remaja membuat mereka merasa bahwa tidak seorang pun dapat mengerti bagaimana perasaan mereka sebenarnya.

1.1.4 Perkembangan Penalaran Moral Menurut Kohlberg adalah bagian dari penalaran (reasoning), sehingga ia menamakannya dengan penalaran moral (moral reasoning), penalaran atau

pertimbangan tersebut berkenaan dengan keluasan wawasan mengenai relasi antara diri dan orang lain, hak dan kewajiban. Relasi diri dengan orang lain ini didasarkan atas prinsip equality artinya orang lain sama derajatnya dengan diri. Jadi, antara diri dan diri orang lain dapat dipertukarkan. Ini disebut prinsip reciprocity. Moralitas pada hakikatnya adalah penyelasaian konflik antara diri dan diri orang lain, antara hak dan kewajiban. (Samsunuwiyati, 2003, hal 206) Dengan demikian, orang yang bertindak sesuai dengan moral adalah orang yang mendasarkan tindakannya atas penilaian baik buruknya sesuatu. Karena bersifat penalaran maka perkembangan

moral menurut Kohlberg sejalan dengan perkembangan nalar sebagaimana yang dikemukakan oleh Piaget. Makin tinggi tingkat penalaran seseorang menurut tahaptahap perkembangan Piaget tersebut, makin tinggi pula tingkatan moralnya. Dengan penekanannya pada penalaran ini, berarti Kohlberg ingin melihat struktur proses kognitif yang mendasari jawaban atau pun perbuatan-perbuatan moral.

1.1.5 Perkembangan Pemahaman tentang Agama Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, sebagaimana dijelaskan oleh Adam & Gullotta (1983, dalam Samsunuwiyati, 2003, hal 208), agama memberikan sebuah kerangka moral, sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama dapat menstabilkan tingkah laku dan bisa memberikan penjelasan mengapa dan untuk apa seseorang berada didunia ini. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang tengah mencari eksistensi dirinya. 1.2 Perkembangan Psikososial .

Anda mungkin juga menyukai