Anda di halaman 1dari 25

LATAR BELAKANG

Struma adalah pembesaran kelenjar tiroid yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar tiroid itu sendiri. Pembesaran kelenjar tiroid ini ada yang menyebabkan perubahan fungsi pada tubuh dan ada juga yang tidak mempengaruhi fungsi. Struma merupakan suatu penyakit yang sering dijumpai sehari-hari, dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti, struma dengan atau tanpa kelainan fungsi metabolisme dapat didiagnosis secara tepat. Survey epidemiologi untuk struma endemik sering ditemukan di daerah pegunungan seperti pegunungan Alpen, Himalaya, Bukit Barisan dan daerah pegunungan lainnya. ntuk struma toksika prevalensinya !" kali lebih sering pada #anita dibanding pria. Pada #anita ditemukan $"-$% kasus dari !.""" #anita, sedangkan pria !-& dari !.""" pria.

PEMBAHASAN A. Definisi 'elainan glandula thyroidea dapat berupa gangguan fungsi, seperti tirotoksikosis, atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya, seperti penyakit noduler. Berdasarkan patologinya, pembesaran tiroid umumnya disebut struma. ! Pembesaran ( !) Struma *oksik, yaitu struma yang menimbulkan gejala klinis pada tubuh, berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi a. +iffusa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid meliputi seluruh lobus, seperti yang ditemukan pada ,rave-s disease. b. .odosa, yaitu jika pembesaran kelenjar tiroid hanya mengenai salah satu lobus, seperti yang ditemukan pada Plummer-s disease. $) Struma .ontoksik, yaitu struma yang tidak menimbulkan gejala klinis pada tubuh, berdasarkan perubahan bentuknya dapat dibagi lagi menjadi a. +iffusa, seperti yang ditemukan pada endemik goiter b. .odosa, seperti yang ditemukan pada keganasan tiroid B. Etiologi Pembesaran kelenjar tiroid dapat disebabkan oleh ( kelenjar tiroid atau struma diklasifikasikan berdasarkan efek fisiologisnya, klinis, dan perubahan bentuk yang terjadi. Struma dapat dibagi menjadi

!) Hiperplasia dan Hipertrofi Setiap organ apabila dipicu untuk bekerja akan mengalami kompensasi dengan cara memperbesar dan memperbanyak jumlah selnya. +emikian juga dengan kelenjar tiroid pada saat pertumnuhan akan dipacu untuk bekerja memproduksi hormon tiroksin sehingga lama kelamaan akan membesar, misalnya saat pubertas dan kehamilan. $) /nflamasi atau /nfeksi Proses peradangan pada kelenjar tiroid seperti pada tiroiditis akut, tiroiditis subakut 0de 1uervain) dan tiroiditis kronis 0Hashimoto) 2) .eoplasma 3inak dan ganas Struma menimbulkan gejala klinis dikarenakan oleh perubahan kadar hormon tiroid di dalam darah. 'elenjar tiroid dapat menghasilkan hormon tiroid dalam kadar berlebih atau biasa disebut hipertiroid maupun dalam kadar kurang dari normal atau biasa disebut hipotiroid. ,ejala yang timbul pada hipertiroid adalah ( Peningkatan nafsu makan dan penurunan berat badan *idak tahan panas dan hiperhidrosis Palpitasi, sistolik yang tinggi dan diastolik yang rendah sehingga menghasilkan tekanan nadi yang tinggi 0pulsus celler) dan dalam jangka panjang dapat menjadi fibrilasi atrium *remor +iare

/nfertilitas, amenorrhae pada #anita dan atrofi testis pada pria 45ophtalmus

,ejala yang timbul pada hipotiroid adalah kebalikan dari hipertiroid ( .afsu makan menurun dan berat badan bertambah *idak tahan dingin dan kulit kering bersisik Bradikardi, tekanan sistolik yang rendah dan tekanan nadi yang lemah ,erak tubuh menjadi lamban dan edema pada #ajah, kelopak mata dan tungkai

C. Klasifikasi Pembesaran tiroid selain keganasan menurut American Society for Study of Goiter membagi( Struma Difusa Toksik Struma difusa toksik dapat kita temukan pada ,rave-s +isease. Penyakit ini juga biasa disebut Basedo#. *rias Basedo# meliputi pembesaran kelenjar tiroid difus, hipertiroidi dan eksoftalmus. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada orang muda dengan gejala seperti berkeringat berlebihan, tremor tangan, menurunnya toleransi terhafap panas, penurunan berat badan, ketidakstabilan emosi, gangguan menstruasi berupa amenorrhea, dan polidefekasi 0 sering buang air besar ). 'linis sering ditemukan adanya pembesaran kelenjar tiroid, kadang terdapat juga manifestasi pada mata berupa exophthalmus dan miopatia ekstrabulbi. 6alaupun

etiologi penyakit ,raves tidak diketahui pasti, tampaknya terdapat peran dari suatu antibodi yang dapat ditangkap reseptor *SH, yang menimbulkan stimulus terhadap peningkatan hormon tiroid. Penyakit ini juga ditandai dengan peningkatan absorbsi yodium radiokatif oleh kelenjar tiroid. Patofisiologi ,rave-s +isease merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh kelainan sistem imun dalam tubuh, di mana terdapat suatu 7at yang disebut sebagai Thyroid Receptor Antibodies. 8at ini menempati reseptor *SH di sel-sel tiroid dan menstimulasinya secara berlebiham, sehingga *SH tidak dapat menempati reseptornya dan kadar hormone tiroid dalam tubuh menjadi meningkat. ,ejala dan tanda yang timbul merupakan manifestasi dari peningkatan metabolisme di semua sistem tubuh dan organ yang mungkin secara klinis terlihat jelas. Peningkatan metabolisme menyebabkan peningkatan kebutuhan kalori, dan seringkali asupan 0 intake) kalori tidak mencukupi kebutuhan sehingga terjadi penurunan berat badan secara drastis. Peningkatan metabolisme pada sistem kardiovaskuler terlihat dalam bentuk peningkatan sirkulasi darah, antara lain dengan peningkatan curah jantung9 cardiac output sampai dua-tiga kali normal, dan juga dalam keadaan istirahat. /rama nadi meningkat dan tekanan denyut bertambah sehingga menjadi pulsus celer: penderita akan mengalami takikardia dan palpitasi. Beban pada miokard, dan rangsangan saraf autonom dapat mengakibatkan kekacauan irama jantung berupa ektrasistol, fibrilasi atrium, dan fibrilasi ventrikel. Pada saluran cerna sekresi maupun peristaltik meningkat sehingga sering timbul polidefekasi dan diare. Hipermetabolisme susunan saraf biasanya menyebabkan tremor, penderita sulit tidur, sering terbangun di #aktu malam. Penderita mengalami ketidakstabilan

emosi, kegelisahan, kekacauan pikiran, dan ketakutan yang tidak beralasan yang sangat menggangu. Pada saluran napas, hipermetabolisme menimbulkan dispnea dan takipnea yang tidak terlalu mengganggu. 'elemahan otot terutama otot-otot bagian proksimal, biasanya cukup mengganggu dan sering muncul secara tiba-tiba. Hal ini disebabkan oleh gangguan elektrolit yang dipicu oleh adanya hipertiroidi tersebut. ,angguan menstruasi dapat berupa amenorea sekunder atau metrorhagia. 'elainan mata disebabkan oleh reaksi autoimun berupa ikatan antibodi terhadap reseptor pada jaringan ikat dan otot ekstrabulbi dalam rongga mata. 3aringan ikat dan jaringan lemaknya menjadi hiperplastik sehingga bola mata terdorong ke luar dan otot mata terjepit. Akibatnya terjadi eksoftalmus yang dapat menyebabkan kerusakan bola mata akibat keratitis. ,angguan gerak otot akan menyebabkan strabismus. *erapi penyakit ,raves ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas9 hipertiroidi dengan pemberian antitiroid, seperti propil-tiourasil 0 P* ) atau karbima7ol. *erapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radiokatif, atau tiroidektomi. Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar. Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.

Struma No!osa Toksik Struma nodosa toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus yang disertai dengan tanda-tanda hipertiroid. Pembesaran noduler terjadi pada usia de#asa muda sebagai suatu struma yang nontoksik. Bila tidak diobati, dalam !&-$"

tahun dapat menjadi toksik. Pertama kali dibedakan dari penyakit ,rave-s oleh Plummer, maka disebut juga Plummer-s disease. Penyakit ini dia#ali dengan timbulnya pembesaran noduler pada kelenjar tiroid yang tidak menimbulkan gejala-gejala toksisitas, namun jika tidak segera diobati, dalam !&-$" tahun dapat menimbulkan hipertiroid. ;aktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dari nontoksik menjadi toksik antara lain adalah nodul tersebut berubah menjadi otonom sendiri 0berhubungan dengan penyakit autoimun), pemberian hormon tiroid dari luar, pemberian yodium radioaktif sebagai pengobatan. Saat anamnesis, sulit untuk membedakan antara ,rave-s disease dengan Plummer-s disease karena sama-sama menunjukan gejala-gejala hipertiroid. <ang membedakan adalah saat pemeriksaan fisik di mana pada saat palpasi kita dapat merasakan pembesaran yang hanya terjadi pada salah satu lobus. *erapi yang diberikan pada Plummer-s +isease juga sama dengan ,rave-s yaitu ditujukan pada pengendalian keadaan tirotoksisitas9 hipertiroidi dengan pemberian antitiroid, seperti propil-tiourasil 0 P* ) atau karbima7ol. *erapi definitif dapat dipilih antara pengobatan anti-tiroid jangka panjang, ablasio dengan yodium radiokatif, atau tiroidektomi. Pembedahan terhadap tiroid dengan hipertiroidi dilakukan terutama jika pengobatan dengan medikamentosa gagal dengan kelenjar tiroid besar. Pembedahan yang baik biasanya memberikan kesembuhan yang permanen meskipun kadang dijumpai terjadinya hipotiroidi dan komplikasi yang minimal.

Struma Difusa Nontoksik Struma endemik Struma endemik adalah penyakit yang ditandai dengan

pembesaran kelenjar tiroid yang terjadi pada suatu populasi, dan diperkirakan berhubungan dengan defisiensi diet dalam harian. 4pidemologi 4ndemik goiter

diperkirakan

terdapat

kurang

lebih

&=

pada

populasi

anak

sekolah

dasar9preadolescent 0>-!$ tahun), seperti terbukti dari beberapa penelitian. ,oiter endemik terjadi karena defisiensi yodium dalam diet. 'ejadian goiter endemik sering terjadi di derah pegnungan, seperti di himalaya, alpens, daerah dengan ketersediaan yodium alam dan cakupan pemberian yodium tambahan belum terlaksana dengan baik mumnya, mekanisme terjadinya goiter disebabkan oleh adanya

defisiensi intake iodin oleh tubuh. Selain itu, goiter juga dapat disebabkan oleh kelainan sintesis hormon tiroid kongenital ataupun goitrogen 0agen penyebab goiter seperti intake kalsium berlebihan maupun sayuran familiBrassica). 'urangnya iodin menyebabkan kurangnya hormon tiroid yang dapat disintesis. Hal ini akan memicu peningkatan pelepasan *SH 0thyroid-stimulating hormone) ke dalam darah sebagai efek kompensatoriknya. 4fek tersebut menyebabkan terjadinya hipertrofi dan hiperplasi dari sel folikuler tiroid, sehingga terjadi pembesaran tiroid secara makroskopik. Pembesaran ini dapat menormalkan kerja tubuh, oleh karena pada efek kompensatorik tersebut kebutuhan hormon tiroid terpenuhi. Akan tetapi, pada beberapa kasus, seperti defisiensi iodin endemik, pembesaran ini tidak akan dapat mengompensasi penyakit yang ada. 'ondisi itulah yang dikenal dengan goiter hipotiroid. +erajat pembesaran tiroid mengikuti level dan durasi defisiensi hormon tiroid yang terjadi pada seseorang. Goiter Difus ,oiter difus adalah bentuk goiter yang membentuk satu buah pembesaran yang tampak tanpa membentuk nodul. Benttuk ini biasa ditemukan dengan sifat nontoksik 0fungsi tiroid normal), oleh karena itu bentuk ini disebut juga goiter simpel. +apat juga disebut sebagai goiter koloid karena sel folikel yang membesar tesebut umumnya dipenuhi oleh koloid. 'elainan ini muncul pada goiter endemik dan sporadik.

,oiter endemik muncul di tempat yang tanah, air, maupun suplai makanannya mengandung sedikit iodin, sehingga terjadi defisiensi iodin secara meluas di daerah teresebut. ?ontoh daerahnya adalah daerah pegunungan Alps, Andes atau Himalaya. Sementara itu, goiter sporadik muncul lebih jarang dan dapat disebabkan oleh berbagai hal, yaitu konsumsi bahan yang menghambat sintesis hormon tiroid atau gangguan en7im untuk sintesis hormon tiroid yang turun secara herediter. Pada goiter simpel, terdapat dua fase evolusinya, yaitu hiperplastik dan involusi koloid. Pada fase hiperplastik, kelenjar tiroid membesar secara difus dan simetris, #alaupun pembesarannya tidak terlalu besar 0hingga !""-!&" gram). ;olikelfolikelnya dilapisi oleh sel kolumner yang banyak dan berdesakan. Akumulasi sel ini tidak sama di keseluruhan kelenjar. Apabila setelah itu konsumsi iodin ditingkatkan atau kebutuhan tubuh akan hormon tiroid menurun, terjadi involusi sel epitel folikel sehingga terbentuk folikel yang besar dan dipenuhi oleh koloid. Biasanya secara makroskopik tiroid akan terlihat coklat dan translusen, sementara secara histologis akan terlihat bah#a folikel dipenuhi oleh koloid serta sel epitelnya gepeng dan kuboid. Sebagian besar manifestasi klinik berhubungan dengan pembesaran kelenjar tiroid. Sebagian besar pasien tetap menunjukkan keadaan eutiroid, namun sebagian lagi mengalami keadaaan hipotiroid. Hipotiroidisme lebih sering terjadi pada anakanak dengan defek biosintetik sebagai penyebabnya, termasuk defek pada transfer yodium. *ujuan dari pengobatan struma endemik adalah untuk mengecilkan struma dan mengatasi hipotiroidisme yang mungkin ada, yaitu dengan pemberian So@ @ugoli selama A-> bulan. Bila ada perbaikan, pengobatan dilanjutkan sampai tahun dan kemudian tapering off dalam A minggu. Bila > bulan sesudah pengobatan struma tidak juga mengecil maka pengobatan medikamentosa tidak berhasil dan harus dilakukan tindakan operatif.

Struma No!osa Nontoksik Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tiroid yang secara

klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hipertiroidisme. /stilah struma nodosa menunjukkan adanya suatu proses, baik fisiologis maupun patologis yang menyebabkan pembesaran asimetris dari kelenjar tiroid. 'arena tidak disertai tanda-tanda toksisitas pada tubuh, maka pembesaran asimetris ini disebut sebagai struma nodosa nontoksik. 'elainan ini sangat sering dijumpai sehari-hari, dan harus di#aspadai tanda-tanda keganasan yang mungkin ada. S..* dapat juga disebut sebagai goiter sporadis. 3ika goiter endemis terjadi !"= populasi di daerah dengan defisiensi yodium, maka goiter sporadis terjadi pada seseorang yang tidak tinggal di daerah endemik beryodium rendah. Penyebabnya sampai sekarang belum diketahui dengan jelas, bisa terdapat gangguan en7im yang penting dalam sintesis hormon tiroid atau konsumsi obat-obatan yang mengandung litium, propiltiourasil, fenilbuta7one, atau aminoglutatimid. Pada umumnya struma nodosa non toksik tidak mengalami keluhan karena tidak ada hipo- atau hipertiroidisme. <ang penting pada diagnosis S..* adalah tidak adanya gejala toksik yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid, dan pada palpasi dirasakan adanya pembesaran kelenjar tiroid pada salah satu lobus. Biasanya tiroid mulai membesar pada usia muda dan berkembang menjadi multinodular pada saat de#asa. 'arena pertumbuhannya berangsur-angsur, struma dapat menjadi besar tanpa gejala kecuali benjolan di leher. Sebagian besar penderita dengan struma nodosa dapat hidup dengan strumanya tanpa keluhan.

10

6alaupun sebagian struma nodosa tidak mengganggu pernafasan karena menonjol ke depan, sebagian lain dapat menyebabkan penyempitan trakea bila pembesarannya bilateral. Struma nodosa unilateral dapat menyebabkan pendorongan sampai jauh ke arah kontra lateral. Pendorongan demikian mungkin tidak mengakibatkan gangguan pernafasan. Penyempitan yang berarti menyebabkan gangguan pernafasan sampai akhirnya terjadi dispnea dengan stridor. 'eluhan yang ada ialah rasa berat di leher. Se#aktu menelan trakea naik untuk menutup laring dan epiglotis sehingga terasa berat karena terfiksasi pada trakea. Ada beberapa macam untuk penatalaksanaan medis jenis-jenis struma antara lain sebagai berikut ( a. Bperasi9Pembedahan 3enis pembedahan tiroid adalah Biopsi insisi ( Struma difus pradiagnosis Biopsi eksisi ( *umor 0nodul) terbatas pradiagnosis *iroidektomi ( Hipertiroid 0,raves) Subtotal ( Struma nodusa benigna Hemititroidektomi 0ismolobektomi) ( 'elainan unilateral 0adenoma) *iroidektomi total ( 'eganasan terbatas tanpa kelainan kelenjar limfe *iroidektomi radikal ( 'eganasan tiroid dengan

kemungkinan metastasis ke kelenjar limfe regional /ndikasi tindak bedah struma nontoksik adalah 'osmetik 0tiroidektomi subtotal)

11

4ksisi nodulus tunggal 0yang mungkin ganas) Struma multinoduler yang berat Struma yang menyebabkan kompresi laring atau struktur leher lain

Struma retrosternal yang menyebabkan kompresi trakea atau struktur lain

/ndikasi tindak bedah pada hipertiroid adalah perlu mencapai hasil definitif yang cepat, keberatan terhadap antitiroid, penanggulangan dengan antitiroid tidak memuaskan, struma multinoduler dengan hipertiroid, nodul toksik soliter. Pembedahan menghasilkan hipotiroidisme permanen yang kurang sering dibandingkan dengan yodium radioaktif. *erapi ini tepat untuk para pasien hipotiroidisme yang tidak mau mempertimbangkan yodium radioaktif dan tidak dapat diterapi dengan obat-obat anti tiroid. Ceaksireaksi yang merugikan yang dialami dan untuk pasien hamil dengan tirotoksikosis parah atau kekambuhan. Pada #anita hamil atau #anita yang menggunakan kontrasepsi hormonal 0suntik atau pil 'B), kadar hormon tiroid total tampak meningkat. Hal ini disebabkan makin banyak tiroid yang terikat oleh protein maka perlu dilakukan pemeriksaan kadar *A sehingga dapat diketahui keadaan fungsi tiroid. Pembedahan dapat dilakukan biopsi insisi hal ini sudah jarang dilakukan, @obektomi total, lobektomi subtotal, ismo-lobektomi, tiroidektomi dan *iroidektomi total9radikal biasanya pada karsinoma. Pembedahan dengan mengangkat sebagian besar kelenjar tiroid, sebelum pembedahan tidak perlu pengobatan dan sesudah pembedahan akan

12

dira#at sekitar 2 hari. 'emudian diberikan obat tiroksin karena jaringan tiroid yang tersisa mungkin tidak cukup memproduksi hormon dalam jumlah yang adekuat dan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan struma dilakukan 2-A minggu setelah tindakan pembedahan. a. <odium Cadioaktif <odium radioaktif memberikan radiasi dengan dosis yang tinggi pada kelenjar tiroid sehingga menghasilkan ablasi jaringan. Pasien yang tidak mau dioperasi maka pemberian yodium radioaktif dapat mengurangi gondok sekitar &" =. <odium radioaktif tersebut berkumpul dalam kelenjar tiroid sehingga memperkecil penyinaran terhadap jaringan tubuh lainnya. *erapi ini tidak meningkatkan resiko kanker, leukimia, atau kelainan genetik 2& <odium radioaktif diberikan dalam bentuk kapsul atau cairan yang harus diminum di rumah sakit, obat ini ini biasanya diberikan empat minggu setelah operasi, sebelum pemberian obat tiroksin. b. Pemberian *iroksin dan obat Anti-*iroid *iroksin digunakan untuk menyusutkan ukuran struma, selama ini diyakini bah#a pertumbuhan sel kanker tiroid dipengaruhi hormon *SH. Bleh karena itu untuk menekan *SH serendah mungkin diberikan hormon tiroksin 0*A) ini juga diberikan untuk mengatasi hipotiroidisme yang terjadi sesudah operasi pengangkatan kelenjar tiroid. Bbat anti-tiroid 0tionamid) yang digunakan saat ini adalah propiltiourasil 0P* ) dan metimasol9karbimasol. *indakan operatif masih merupakan pilihan utama pada S..*. Dacam-macam teknik operasinya antara lain ( a. @obektomi, yaitu mengangkat satu lobus, bila subtotal maka kelenjar disisakan seberat 2 gram

13

b. /sthmolobektomi, yaitu pengangkatan salah satu lobus diikuti oleh isthmus c. *iroidektomi total, yaitu pengangkatan seluruh kelenjar tiroid d. *iroidektomi subtotal bilateral, yaitu pengangkatan sebagian lobus kanan dan sebagian kiri, sisa jaringan $-A gram di bagian posterior dilakukan untuk mencegah kerusakan pada kelenjar paratiroid atau .. Cekurens @aryngeus

". Diagnosis Ban!ing 'arsinoma tiroid adalah suatu keganasan 0pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang terjadi pada kelenjar tiroid. 'anker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki A tipe yaitu( papiler, folikuler, anaplastik dan meduller. 'anker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil 0nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan 'anker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme .odul tiroid ganas sia EA" tahun 'elamin laki-laki Benjolan tunggal @amanya baru *erapi supresi mungkin berpengaruh +iagnosis radioaktif dingin9fungsi 0-)

14

.odul tiroid jinak -

S, tampak padat

FA" tahun Perempuan Dultipel @ama Ada kemungkinan regresi Pada S, mungkin kista

a. Papillary carcinoma 'arsinoma ini merupakan jenis karsinoma yang banyak diderita pada umur muda. Sebanyak !92 penderita umumnya menunjukkan metastase intraglanduler lymphatic 0yang sebelumnya dianggap multisentrik). Detastasis yang paling sering terutama ke limfonodi servikal, namun karsinoma ini relatif tidak terlalu ganas. Secara histologis, terciri atas struktur papiler yang sangat bercabang dilapisi sel-sel yang tersusun tidak teratur dengan inti yang umumnya jernih opaGue. Benda-benda psamoma 0konkremen kapur dengan susunan berlapis konsentris) sering didapatkan.

b. 'arsinoma folikuler 'arsinoma folikuler biasanya terjadi pada penderita yang lebih tua. 'arsinoma ini bersifat lebih ganas dibandingkan tipe papiler. Selain

15

itu, karsinoma ini sering merupakan komplikasi dari adenoma benigna soliter ataupun struma multinoduler. Detastasis jauh sering ditemukan terutama secara hematogen ke dalam otot dan paru. Secara histologi, sering menyerupai jaringan kelenjar tiroid normal. Bleh karena secara mikroskopik terlihat sel teratur dalam bentuk aciner 0sel kolumner rendah atau kuboid), terkadang digambarkan seperti halnya karsinoma alveolar. c. Anaplastic carcinoma 'arsinoma jenis ini merupakan tumor yang tidak menunjukkan diferensiasi ke arah folikuler ataupun papiler dan terdiri dari rangkaian sel-sel solid yang tidak mempunyai aspek khas untuk karsinoma meduler. Biasanya diderita pada usia lanjut. Penyebaran biasanya secara limfogen ataupun hematogen pada stadium a#al. Secara histologi, terdapat $ tipe sel yaitu tipe small cell dan giant cell. 'edua tipe menunjukkan gambaran pleomorphi tetapi tipe giant cell lebih ganas. d. Dedullary carcinoma 'arsinoma ini berasal dari sel parafolikuler ? 0derivat dari corpus ultimobranchial) dan beberapa ragu-ragu bah#a ini berasal dari jaringan tiroid. Ada $ tipe, yaitu familial dan sporadis. *ipe familial sering melibatkan dua lobus dan dapat berasal multifocal sebagai sel parafolikular pada jaringan interstisial dari kelenjar tiroid. Detastasis dengan limfonodi dalam persentase yang tinggi penderita dan prognosis buruk. *ipe sporadis biasanya unilobar dan kurang malignant. Histologi menunjukkan karakter undifferentiated terdiri dari berkas-berkas gel bulat dan dapat menyerupai tumor karsinoid. 'arakteristik adanya amiloid baik mikroskopik maupun makroskopik.

16

'arsinoma tiroid adalah suatu keganasan 0pertumbuhan tidak terkontrol dari sel) yang terjadi pada kelenjar tiroid. 'anker tiroid adalah sutu keganasan pada tiroid yang memiliki A tipe yaitu( papiler, folikuler, anaplastik dan meduller. 'anker tiroid jarang menyebabkan pembesaran kelenjar, lebih sering menyebabkan pertumbuhan kecil 0nodul) dalam kelenjar. Sebagian besar nodul tiroid bersifat jinak, biasanya kanker tiroid bisa disembuhkan 'anker tiroid sering kali membatasi kemampuan menyerap yodium dan membatasi kemampuan menghasilkan hormon tiroid, tetapi kadang menghasilkan cukup banyak hormon tiroid sehingga terjadi hipertiroidisme. Perbedaan .odul *iroid 3inak dan ,anas sekitar &= struma nodosa mengalami keganasan. +i klinik perlu dibedakan nodul tiroid jinak dan nodul ganas yang memiliki karakteristik ( !. 'onsistensi keras pada beberapa bagian atau menyeluruh pada nodul dan sukar digerakkan, #alaupun nodul ganas dapat mengalami degenerasi kistik dan kemudian menjadi lunak. $. Sebaliknya nodul dengan konsistensi lunak lebih sering jinak, #alaupun nodul yang mengalami kalsifikasi dapat ditemukan pada hiperplasia adenomatosa yang sudah berlangsung lama. 2. /nfiltrasi nodul ke jaringan sekitarnya merupaka tanda keganasan, #alaupun nodul ganas tidak selalu melakukan infiltrasi. 3ika ditemukan ptosis, miosis, dan enoftalmus merupakan tanda infiltrasi ke jaringan sekitar A. $"= nodul soliter bersifat ganas sedangkan nodul multipel jarang yang ganas. &. .odul yang muncul tiba-tiba atau cepat membesar perlu dicurigai ganas terutama yang tidak disertai nyeri. Atau nodul lama yang tiba-tiba membesar progresif

17

>. .odul dicurigai ganas bila disertai dengan pembesaran kelenjar getah bening regional atau perubahan suara menjadi serak. %. Pulsasi arteri karotis teraba dari arah tepi belakang muskulus

sternokleidomastoideus karena desakan pembesaran nodul 0Berry-s Sign) D.Ge#ala klinis Pada anamnesis, keluhan utama yang diutarakan oleh pasien bisa berupa benjolan di leher yang sudah berlangsung lama, maupun gejala-gejala hipertiroid atau hipotiroidnya. 3ika pasien mengeluhkan adanya benjolan di leher, maka harus digali lebih jauh apakah pembesaran terjadi sangat progresif atau lamban, disertai dengan gangguan menelan, gangguan bernafas dan perubahan suara. Setelah itu baru ditanyakan ada tidaknya gejala-gejala hiper dan hipofungsi dari kelenjer tiroid. Perlu juga ditanyakan tempat tinggal pasien dan asupan garamnya untuk mengetahui apakah ada kecendrungan ke arah struma endemik. Sebaliknya jika pasien datang dengan keluhan ke arah gejala-gejala hiper maupun hipofungsi dari tiroid, harus digali lebih jauh ke arah hiper atau hipo dan ada tidaknya benjolan di leher. E. Pemeriksaan "isik Pada pemeriksaan fisik status lokalis pada regio coli anterior, yang paling pertama dilakukan adalah inspeksi, dilihat apakah pembesaran simetris atau tidak, timbul tanda-tanda gangguan pernapasan atau tidak, ikut bergerak saat menelan atau tidak. Pada palpasi sangat penting untuk menentukan apakah bejolan tersebut benar adalah kelenjar tiroid atau kelenjar getah bening. Perbedaannya terasa pada saat pasien diminta untuk menelan. 3ika benar pembesaran tiroid maka benjolan akan ikut bergerak saat menelan, sementara jika tidak ikut bergerak maka harus dipikirkan kemungkinan pembesaran kelenjar getah bening leher. Pembesaran yang teraba harus dideskripsikan (

18

@okasi( kuran( 3umlah .yeri( Dobilitas( nodul( ada ada

lobus dalam satu nyeri atau

kanan, sentimeter, atau

lobos lebih lunak, pada saat terhadap dari

kiri, diameter satu kenyal, dilakukan trakea,

ismus panjang 0multinodosa) keras palpasi muskulus

0uninodosa) kistik, atau tidak

'onsistensinya(

tidak

perlekatan

sternokleidomastoidea - 'elenjar getah bening di sekitar tiroid ( ada pembesaran atau tidak

". Pemeriksaan Penun#ang Pemeriksaan laboratorium yang digunakan dalam mendiagnosis penyakit tiroid terbagi atas ( !. Pemeriksaan untuk mengukur fungsi tiroid. Pemeriksaan untuk mengetahui kadar *2 dan *A serta *SH paling sering menggunakan teknik radioimmunoassay 0C/A) dan 4@/SA dalam serum atau plasma darah. 'adar normal *A total pada orang de#asa adalah &"-!$" ng9dl. 'adar normal untuk *2 pada orang de#asa adalah ",>&-!,% ng9dl. $. Pemeriksaan untuk menunjukkan penyebab gangguan tiroid. Antibodi terhadap macam-macam antigen tiroid yang ditemukan pada serum penderita dengan penyakit tiroid autoimun. Seperti antibodi tiroglobulin dan thyroid stimulating hormone antibody

2.

Pemeriksaan radiologis

19

;oto rontgen dapat memperjelas adanya deviasi trakea atau

pembesaran struma retrosternal yang pada umumnya secara klinis pun sudah bisa diduga. ;oto rontgen leher posisi AP dan lateral biasanya menjadi pilihan. S, tiroid yang bermanfaat untuk menentukan jumlah

nodul, membedakan antara lesi kistik maupun padat, mendeteksi adanya jaringan kanker yang tidak menangkap iodium dan bisa dilihat dengan scanning tiroid. Scanning *iroid dasarnya adalah presentasi uptake dari / !2!

yang didistribusikan tiroid. +ari uptake dapat ditentukan teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama ialah fungsi bagian-bagian tiroid 0distribusi dalam kelenjar). ptake normal !&-A"= dalam $A jam. +ari hasil scanning tiroid dapat dibedakan 2 bentuk, yaitu cold nodule bila uptake nihil atau kurang dari normal dibandingkan dengan daerah disekitarnya, ini menunjukkan fungsi yang rendah dan sering terjadi pada neoplasma. Bentuk yang kedua adalah #arm nodule bila uptakenya sama dengan sekitarnya, menunjukkan fungsi yang nodul sama dengan bagian tiroid lain. *erakhir adalah hot nodule bila uptake lebih dari normal, berarti aktifitasnya berlebih dan jarang pada neoplasma. A. ;.AB. Pemeriksaan histopatologis akurasinya H"=. Hal ini perlu diingat agar jangan sampai menentukan terapi definitif hanya berdasarkan hasil ;.AB saja.

G. Penatalaksanaan

20

*indakan Pembedahan /ndikasi operasi pada struma adalah ( !. Struma difus toksik yang gagal dengan terapi medikamentosa $. Struma uni atau multinodosa dengan kemungkinan keganasan 2. Struma dengan gangguan kompresi A. 'osmetik 'ontraindikasi pada operasi struma ( !. Struma toksik yang belum dipersiapkan sebelumnya $. Struma dengan dekompensasi kordis dan penyakit sistemik lain yang belum terkontrol 2. Struma besar yang melekat erat ke jaringan leher sehingga sulit digerakkan yang biasanya karena karsinoma. 'arsinoma yang demikian biasanya sering dari tipe anaplastik yang jelek prognosisnya. Perlekatan pada trakea ataupun laring dapat sekaligus dilakukanreseksi trakea atau laringektomi, tetapi perlekatan dengan jaringan lunak leher yang luas sulit dilakukan eksisi yang baik. Pertama-tama dilakukan pemeriksaan klinis untuk menentukan apakah nodul tiroid tersebut suspek maligna atau suspek benigna. Bila nodul tersebut suspek maligna, maka dibedakan apakah kasus tersebut operable atau inoperable. Bila kasus yang dihadapi adalah inoperable maka dilakukan tidakan biopsi insisi untuk keperluan pemeriksaan histopatologis. +ilanjutkan dengan

21

tindakan debulking dan radiasi eksterna atau kemoradioterapi. Bila nodul tiroid suspek maligna yang operable atau suspek benigna dapat dilakukan tindakan isthmolobektomi atau lobektomi. 3ika setelah hasil PA membuktikan bah#a lesi tersebut jinak maka operasi selesai, tetapi jika ganas maka harus ditentukan terlebih dahulu jenis karsinoma yang terjadi. 'omplikasi pembedahan tiroid ( a. Perdarahan dari A. *iroidea superior b. +ispneu c. Paralisis .. Cekurens @aryngeus. Akibatnya otot-oto laring terjadi kelemahan d. Paralisis .. @aryngeus Superior. Akibatnya suara penderita menjadi lenih lemah dan sukar mengontrol suara nada tinggi, karena terjadi pemendekan pita suara oleh karena relaksasi D. 'rikotiroid. 'emungkinan nervus terligasi saat operasi

22

KES$MP%LAN

Struma adalah suatu penyakit yang sering kita jumpai sehari-hari. Sangat penting untuk melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti dan cermat untuk mengetahui ada tidaknya tanda-tanda toksisitas yang disebabkan oleh perubahan kadar hormon tiroid dalam tubuh. Begitu juga dengan tanda-tanda keganasan yang dapat diketahui secara dini. Selanjutnya adalah menentukan pemeriksaan penunjang yang tepat untuk menentukan diagnosis pasti dari jenis struma yang ada. +engan menegakkan diagnosis pasti maka kita dapat mnentukkan tatalaksana yang tepat bagi struma yang dialami oleh pasie. Apakah memerlukan tindakan pembedahan, atau cukup diberi pengobatan dalam jangka #aktu tertentu.

23

DA"TAR P%STAKA !. 6idjosono, ,aritno, Sistem 4ndokrin ( Buku Ajar /lmu Bedah. 4ditor Syamsuhidayat C.3ong 6B, 4disi Cevisi, 4,?, 3akarta, !II% ( I$&-I&$. $. 'ariadi 'S Sri Hartini, Sumual A., Struma .odosa .on *oksik J Hipertiroidisme ( Buku Ajar /lmu Pneyakit +alam, 4disi 'eiga, Penerbit ;' /, 3akarta, !II> ( %&%-%%H. 2. Schteingert +avid 4., Penyakit 'elenjar *iroid, Patofisiologi, 4disi 'eempat, Buku +ua, 4,?, 3akarta, !II& ( !"%!-!"%H.

24

A. @iberty 'im H, 'elenjar *iroid ( Buku *eks /lmu Bedah, 3ilid Satu, Penerbit Binarupa Aksara, 3akarta, !II% ( !&-!I.

25