Anda di halaman 1dari 7

HADITS PALSU (HADITS MAUDHU)

A. Pengertian Hadits Palsu Hadits Palsu atau yang biasa dikenal dengan sebutan Hadits Maudhu memiliki beberapa pengertian. Secara etimologi, Hadits Maudhu memiliki arti : Menggugurkan, meninggalkan, mengada-ada atau membuat-buat. Secara terminologi, menurut ulama ahli hadits, hadits Maudhu berarti sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW secara mengada-ada atau dusta, padahal beliau sama sekali tidak sabdakan, kerjakan, dan taqrir-kan. B. Masa Mulainya Pemalsuan Hadits Di kalangan para ulama terjadi kontroversi diseputar terjadinya pemalsuan hadits, apakah hal ini telah terjadi sejak masa Nabi SAW masih hidup, atau sesudah masa beliau. Menanggapi masalah ini sedikitnya ada tiga pendapat yang berkembang, diantaranya: Pertama, menurut sebagian para ulama bahwa pemalsuan hadits telah terjadi sejak masa Rasullah saw. masih hidup. Pendapat tersebut didasarkan pada hadits Nabi saw. yang menyatakan bahwa Barangsiapa yang secara sengaja membuat berita bohong dengan mengatas-namakan Nabi, maka hendaklah orang itu bersiap-siap menempati tempat duduknya di neraka. Hal ini disebabkan karena kekawatiran beliau terhadap keberadaan hadits yang pada masa yang akan datang setelah wafat. Kedua, bahwa pemalsuan hadits yang sifatnya semata-mata

melakukan kebohongan terhadap Rasullah, yang berhubungan dengan masalah keduniawian telah terjadi pada zamannya, hal ini sebagaimana dilakukan oleh orang-orang munafik. Dan ketiga, bahwa pemalsuan hadits baru terjadi untuk pertama kalinya setelah tahun 40H, yaitu pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Pada masa ini terjadi konflik dan masing-masing kelompok mencari legitimasi dari al-Quran dan hadits dan mereka tidak mendapatkannya, mereka pun mulai membuat hadits-hadits palsu.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa Hadits-Hadits palsu muncul sejak terbunuhnya Kholifah Utsman bin Affan dan tampilnya Ali bin Abu Tholib serta Muawiyah yang masing-masing ingin memegang jabatan Kholifah. Maka umat Islam terpecah belah menjadi 3 golongan, yaitu Syiah, Muawiyah, dan Khawarij. C. Alasan Terjadinya Pemalsuan Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya hadits-hadits palsu / Maudhu, antara lain : 1. Fanatisme terhadap salah satu golongan politik Munculnya kaum-kaum fanatik pembela golongan-golongan politik merjadi awal mula penyebab munculnya hadits-hadits palsu. Perpecahan umat Islam menjadikan tumbuhnya golongan-golongan fanatik buta yang saking fanatiknya hingga berani membuat hadits-hadits palsu yang isinya mendukung tokoh-tokoh pada golongan tersebut dan menjatuhkan golongan-golongan yang lain. Ada beberapa contoh hadits palsu yang berisi sanjungan terhadap dua tokoh yang saling bertentangan yaitu : Ali sebaik-baik manusia, barang siapa meragukannya maka dia kafir Sosok yang berkarakter jujur ada tiga : aku, Jibril, dan Muawiyyah 2. Mencari muka kepada para pembesar Cara ini dilakukan oleh para ahlu hikayah (tukang cerita) yang ingin mendapatkan kedudukan yang dekat dengan para penguasa dan pembesar ataupun untuk mendapatkan materi atau harta dengan menciptakan hadits palsu. Seperti contoh pada masa pemerintahan alMahdi al Abbasi pada dinasti Abbasiyah, ketika itu datang seorang ahlu hikayah bernama Ghiyats bin Ibrahim ketika al-Mahdi sedang bermain adu merpati. Kemudian al-Mahdi bertanya kepadanya, coba jelaskan tentang hadits yang kau ketahui dari rasulullah. Ghiyats kemudian menjawab, Rasulullah SAW bersabda : Tidak boleh seseorang melakukan lomba dan aduan kecuali pada ketangkasan memanah,

menunggang kuda, dan onta. hadits berhenti di sini, namun Ghiyats menambahkan, atau yang bersayap. Mendengar pernyataan tersebut al-Mahdi memberi imbalan kepada Ghiyats. Setelah ia pergi al-Mahdi berkata, ketahuilah bahwa dia itu seorang pendusta. Kemudian alMahdi memotong merpatinya dan tidak pernah bermain adu merpati lagi. 3. Bertujuan untuk targhib wa Tarhib Berbeda dengan faktor-faktor lain sebelumnya, targhib wa tarhib bermula dari tujuan yang baik, namun tidak disertai dengan pemahaman yang baik pula. Mereka yang menciptakan hadits palsu ini merupakan sekelompok orang yang menisbatkan dirinya sebagai seorang sufi. Hadits palsu yang mereka buat bertujuan untuk mengajak orang berbuat kebaikan atau kembali ke jalan yang lurus. Memang apa yang mereka lakukan merupakan tindakan yang baik, namun tanpa disadari mereka telah melakukan dusta besar pula yang mengatasnamakan Rasulullah SAW. seperti contoh pada hadits berikut : barang siapa mengucapkan Laa Ilaha illallah maka Allah akan menciptakan baginya -pada setiap kalimat- seekor burung yang paruhnya terbuat dari emas dan bulunya dari permata dan.... : 4. Pertentangan Politik Dalamm Soal Pemilihan Khalifah Kejadian ini timbul sesudah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan oleh para pemberontak. Pada masa itu Umat Islam terpecah-belah menjadi beberapa golongan. Diantara golongan-golongan tersebut, untuk mendukung golongannya masing-masing, mereka membuat hadits palsu, yang pertama yang paling banyak membuat hadits Maudhu adalah golongan Syiah dan Rafidhah. 5. Adanya Kesengajaan dari pihak lain untuk merusak Ajaran Islam Golongan ini adalah dari golongan Zindiq, Yahudi, Majusi, dan Nasrani yang senantiasa menyimpan dendam terhadap agama Islam. Mereka tidak mampu untuk melawan kekuatan Islam secara terbuka maka mereka mengambil jalan yang buruk ini. Mereka menciptakan sejumlah besar hadits Maudhu dengan tujuan merusak ajaran Islam.

Sejarah mencatatAbdullah Bin Saba adalah seorang Yahudi yang berpura-pura memeluk Agama Islam. Oleh sebab itu, dia berani menciptakan hadits Maudhu pada saat masih banyak sahabat utama masih hidup. Tokoh-tokoh terkenal yang membuat hadits Maudhu dari kalangan Zindiq, adalah: 1) Abdul Karim bin Abi Al-Auja, telah membuat sekitar 4.000 hadits Maudhu tentang hukum halal-haram. 2) Muhammad bin Said Al-Mashubi, yang akhirnya dibunuh oleh Abu Jafar Al-Mansur 3) Bayan bin Saman Al-Mahdi, yang akhirnya dihukum mati oleh Khalid bin Abdillah. 6. Mempertahankan Mahzab dalam masalah Fiqh dan masalah Kalam Mereka yang fanati terhadap Madzhab Abu Hanifah yang menganggap tidak sah shalat mengagkut kedua tangan shalat, membuat hadits Maudhusebagai berikut.


Barang siapa mengagkat kedua tangannya didalam shalat, tidak sah shalatnya. 7. Membangkitkan gairah beribadah untuk Mendekatkan diri kepada Allah Mereka membuat hadits-hadits palsu dengan tujuan menarik orang untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah. Melalui amalanamalan yang mereka ciptakan. Seperti hadits-hadits yang dibuat oleh Nuh ibn Maryam, seorang tokoh hadits maudhu,tentang keutamaan AlQuran. Ketika ditanya alasannya melakukan hal seperti itu, ia menjawab: Saya dapati manusia telah berpaling dari membaca AlQuran maka saya membuat hadits-hadits ini untuk menarik minat umat kembali kepada Al-quran.

8.

Menjilat Para Penguasa untuk Mencari Kedudukan atau Hadiah. Seperti kisah Ghiyats bin Ibrahim An-Nakhai yang datang kepada Amirul mukminin Al-Mahdi, yang sedang bermain merpati. Lalu iya mentyebut hadits dengan sanadnya secara berturut-turut sampai kepada nabi Saw., bahwasanya beliau bersabda:


Tidak ada perlombaan, kecuali dalam anak panah, ketangkasan, menunggang kuda, atau burung yang bersayap. Ia menambahkan kata, atau burung yang bersayap, untuk

meyenagkanAl-Mahdi, lalu Al-Mahdi memberinya sepuluh dinar. Setelah ia berpaling, sang Amir berkata, Aku bersaksi bahwa tengkukmu adalah tengkuk pendusta atas nama Rasulullah SAW. Lalu memerintahkanuntuk menyembelih mengerti itu. D. Cara Mendeteksi Hadist Palsu 1. 2. 3. Pengamalannya ditolak Bertentangan dengan al-Quran Pengakuan Pemalsu Pengakuan Abu Ishmah Muh Bin Abu Maryam al-Wamawazi, ia mengakui membuat Hadits palsu yang berkaitan dengna fadhilah (keutamaan) membaca surat-surat al-Quran. 4. Semi pengakuan Pemalsu hadita terkadang tidak mengakui bahwa ia memalsukan Hadits. Namun ketika ditanya kapan ia lahir dan kapan gurunya wafat. Ia memberikan jawaban yang tidak tepat. 5. Rawinya Pendusta Apabila dalam sanad Hadits terdapat rawi yang pendusta, maka para ahli Hadits itu palsu.

E. Referensi Hadits-Hadits Palsu 1. Kitab Al-La ali al-Mashnuah fi al-Hadits al-Maudhuah, karya alHafidz Jalaluddin ash-Shuyuti. Merupakan revisi dari karya al-Jauziy sebelumnya. 2. Kitab Tanzih al-Syariah al-Marfuah an al-Hadits al-Syaniah alMaudhuah, karya al-Hafidz abi al-Hasan Ali bin Muhammad bin Iraq alKanani. Kitab ini juga merupakan revisi dari kitab al-Jauziy. 3. Al-Maudhu Al-Kubra, karya Ibn Al-jauzi (ulama yang paling awal menulis dalam ilmu ini). 4. 5. Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifak, karya Al-albani Tadzkirah Al-Mawdhuat, karya Abu Al-Fadhal Muhammad bin Thahir Al-Maqdisi (448-507 H). Kitab ini menyebutkan hadits secara alphabet dan disebutkan nama perawi yang dinilai cacat (Tajrih). 6. Al-Mawdhuat Al-Kubra, karya Abu Al-Faraj Abdurrahman Al-Jauzi (504-597 H) 4 jilid. 7. Al-Laali Al-Mashnuahfi Al-Ahadits Al-Maudhuah, karya Jalaluddin As-Suyuthi (849-911 H). 8. Al-Baits ala Al-Khalash min Hawadits Al-Qashash, karya Zainuddin Abdurrahim Al-Iraqi (725-806 H). 9. Al-Fawaid Al-Majmuah fi Al-Ahadits Al-Mawdhuah, karya Al-Qadhi Abu Abdullah Muhammad bin Ali Asy-Syaukani (1173-1255 H).

DAFTAR PUSTAKA
1. Drs. M. Agus Solahudin, M. Ag, dan Agus Suyadi, Lc. M. Ag, Ulumul Hadits, Bandung: Pustaka Setia, 2009 2. 3. Khusniati Rofiah, studi ilmu Hadits, stain po prees, bandung, 2010 Smeer, Zeid B. 2008. ULUMUL HADIS Pengantar Studi Hadis Praktis. UINMalang Press: Malang. 4. Pettalongi, M Noor Sulaiman. 2008. Antogi Ilmu Hadits. Gaung Persada Press: Jakarta. 5. Ali Mustafa Yaqub, Hadis-hadis Bermasalah (Cet. VI; Jakarta: P.T. Pustaka Firdaus,2008). 6. Muhammad Najib, Pergolakan Politik Umat Islam dalam Kemunculan Hadis Maudhu, (Cet. I; Bandung: C.V. Pustaka Setia, 2001). Ahmad Umar 7. 8. 9. Yaqub, Musthofa Ali, 2000. Kritik Hadits. Jakarta: Pustaka Firdaus. Ahmad, Muhammad. 2000. Ulumul Hadits. Bandung: Pustaka Setia Azami. M.M. 2003. memahami Ilmu Hadits. Jakarta: Lentera

10. Al-Khatib. Ajaj Muhammad. 2003. Usuhul al-Hadits. Jakarta: Gata Media Pratawa