Anda di halaman 1dari 7

SCENARIO FOR THE FUTURE, SEBUAH PEMIKIRAN KORUP TENTANG PANDEMI VIRUS, GEMPA BUMI DI INDONESIA, TERORISME DAN

BIOMETRIC ID CARD
Assalamualaikum dear brothers and sisters, Sebelum mendiskusikan catatan ini, saya lebih dulu ingin menyampaikan pada teman-teman bahwa umat Islam yang sedemikian besarnya telah dijanjikan oleh Baginda Rasul untuk menegakkan daulah Islam di akhir zaman, dan bila sekarang dng populasi terbanyak di dunia kita masih terpecah belah maka jangan pernah bermimpi untuk mempercepat prosesnya. Kita perlu mempersatukan diri dalam shaf yang benar, tidak saling menghujat dan tidak saling mencibir. Syaitan adalah musuh yang nyata, apa yang ditampakkan kepada kita seharusnya kita lihat dengan mata, hati dan pikiran kita. Mari perkaya sudut pandang kita, jangan hanya melihat sesuatu dari satu kacamata saja, apalagi bila kita mengikuti petunjuk-petunjuk baku yang sudah ada dan berpikir mainstream seperti orang kebanyakan. Anyway, terima kasih kepada saudara-saudaraku yg sudah mengingatkan dengan bahasa yang santun, yang mengkritisi pemikiran-pemikiran saya dan berdiskusi dengan saya mengenai konspirasi zionisme. Mari sama-sama belajar mengenai hal ini.

Beberapa hari lalu saya mendownload sebuah PDF dari situs resmi Yayasan Rockefeller, yang berjudul Scenario for The Future of Technology and International Development. Sebenarnya catatan tentang skenario ini sudah banyak beredar, namun kita perlu memahami bagian besar dari rancang bangun skenario tersebut bukan sekedar membaca satu dua paragraf yang kontroversial saja.

Halaman 9 skenario ini menjelaskan, Importantly, scenarios are not predictions. Rather, they are thoughtfulhy potheses that allow us to imagine, and then to rehearse, different strategies for how to be moreprepared for the future or more ambitiously, how to help shape better futures ourselves.Skenario ini bukanlah prediksi, namun lebih kepada hipotesa bijaksana yang akan membuat kita membayangkan lalu menyiapkan strategi untuk menghadapi masa depan, atau lebih ambisius lagi bagaimana membentuk kondisi yang lebih baik bagi masa depan kita.

Saya ingin menggaris bawahi bahwa skenario ini bukanlah prediksi, serta kalimat tentang 'bagaimana kita membentuk kondisi yang lebih baik bagi masa depan kita'. Bila sebuah skenario adalah hipotesa maka harusnya skenario tersebut diujicobakan, karena hipotesa memerlukan pembuktian. Ini sekaligus menegaskan kepada kita bahwa skenario ini adalah rancangan besar yang sistematis yang disiapkan oleh sekelompok elite internasional untuk dijalankan oleh sebagian besar negara berkembang.

Ada empat narasi utama dalam rancangan tersebut, namun membahas seluruhnya akan menyita waktu dan pikiran kita. Saya hanya akan mengupas bagian penting dari skenario ini, sementara hal lain yang berkaitan silakan didonlod langsung di alamat http://www.rockefellerfoundation.org/news/publications/scenarios-future-technology

Pada dasarnya skenario ini menjelaskan tentang pandemi global yang akan membunuh umat manusia, biometric ID cards, menuju negara totalitarian atau marshall law, hingga uji coba HAARP.

Dalam salah satu narasi skenario berjudul 'Lock Step' dijelaskan mengenai kontrol elitis terhadap negaranegara berkembang dengan inovasi2 terbatas yang akan memancing reaksi warga negara. Salah satu disain skenario menerangkan,

After global H1N1 pandemic originating from geese infects 20 per cent of the global population and kills 8 million people, the economy grinds to a halt and governments impose authoritarian measures to respond to the crisis. Ini mengingatkan saya pada film Contagion (Matt Damon), yang entah sengaja atau tidak, dirilis setelah kasus flu burung dan flu babi merebak, bukan sebelumnya. Film ini nampaknya disiapkan untuk menjelaskan sesuatu pada kita. Di luar itu semua saya merekomendasikan film ini untuk ditonton, dan kemudian silakan menjabarkan penyesuaiannya dengan skenario Rockefeller ini.

Di salah satu halaman PDF juga dijelaskan mengenai 'Negara Paternalistik' yang membuat regulasi tentang biometrik ID Card, kita melihat dua sistem ini sedang dijalankan di negara kita sekarang, yaitu EKTP dan Inafis. Ada pro-kontra mengenai E-KTP, dan saya sendiri tidak pernah mempersoalkan niat baik pemerintah untuk memudahkan administrasi kependudukan dan memodernisasi sistem, namun prinsip kehati-hatian adalah lebih baik daripada kita sekedar percaya apa yang dikatakan oleh sekelompok orang yang memiliki tujuan tertentu dalam proyek-proyek kontrol populasi.

Yayasan Rockefeller juga menjelaskan bahwa studi Kementerian Pertahanan Inggris tahun 2007 membahas kemungkinan penggunaan implan chip pada masyarakat kelas menengah. Selain itu yang agak mengejutkan adalah keterangan mengenai upaya teror pada olimpiade 2012 di London serta uji coba HAARP di Indonesia pada tahun yang sama. Lihat gambar pada dokumen di atas dan di bawah.

Lihatlah maskot Olimpiade ini, Wenlock dan Mandeville, meskipun dikritik banyak orang maskot bermata satu inilah yang akan menjadi representasi persatuan umat manusia di seluruh dunia pada Juli 2012 nanti. Motto Olimipiade London adalah Live as One.

Amatilah pula kalimat tentang gempa bumi di Indonesia yang menewaskan 40,000 orang. Tariklah garis lurus dengan kalimat sebelumnya tentang peristiwa 11 September, Tsunami Aceh dan Haiti. Maka keempat kejadian maha-dahsyat ini menjadi relevan satu sama lain. Benarkah teror London dan gempa bumi di Indonesia, tsunami Nikaragua serta China akan terjadi setelah Olimpiade berlangsung? Benarkah pandemi virus akan terjadi di negara2 berkembang tahun ini? Wallahua'lam.

BANTAHAN DAN SANGGAHAN

Tentu saja skenario ini menuai kontroversi di mana-mana. Seorang teman yang bekerjadi LIPI mentertawakan skenario ini dan mengajukan pertanyaan yang banyak diajukan oleh orang lain juga, "Jika kita menganggap orang-orang dalam Yayasan Rockefeller adalah elitis, cerdas, menguasai teknologi dan berpikir sedemikian maju, mengapa mereka begitu bodoh meletakkan skenario rahasia dalam bentuk PDF yang bisa didonlod oleh siapa saja? Tidakkah ente memikirkan hal ini?"

Ya, saya memikirkannya. tetapi saya memiliki alasan sendiri, menurut pemahaman subyektif saya sbb :

1. Dalam dunia informasi yang begitu chaostik seperti sekarang, maka kata 'rahasia' menurut pendapat saya sudah tidak korelatif lagi digunakan. Kerahasiaan menjadi sangat sumir. Beberapa hari yang lalu website CIA diretas hacker dan dokumen-dokumen mereka diutak-atik, belum lagi persoalan rahasia kabel-kabel internasional yang dibocorkan Wikileaks, serta bagaimana dokumen rahasia isu lingkungan Univ. of East Anglia beredar dan menyerang para pakar lingkungan pro Al-Gore sebegitu dahsyatnya. Satu kebocoran kecil di dunia informasi spt sekarang maka dalam sedetik semuanya akan menyebar seperti virus yang membelah diri berlipat ganda melalui internet. Namun demikian tidak semua hal yang menyebar itu juga bisa diyakini kebenarannya, karena modus untuk mengacaukan pikiran kita dengan informasi yang saling tumpang tindih sudah dilakukan jauh sebelum internet ditemukan.

2. Untuk kasus dokumen PDF Rockefeller ini, hemat saya ini sama sekali bukan dokumen rahasia. Dokumen ini memang untuk dipublikasikan. Informasi-informasi mengenai rancang bangun upaya-upaya mereka menuju Satu Dunia, bisa ditemukan di mana-mana. Hasil rapat-rapat Bilderberg atau Club of Rome sekarang bisa didonlod siapa saja. Saya justru melihat ini sebagai bagian dari StratFor (Strategic Forecasting), atau bagian dari upaya membuat chaostic information. Ini agenda provokasi, terlepas dari apakah benar-benar akan terjadi atau tidak, namun setidaknya menciptakan ketakutan adalah bagian dari skema mereka untuk memanipulasi pikiran kita terhadap begitu besarnya kekuasaan mereka.

Seorang teman lain mengatakan bahwa ini semua perlu pembuktian. Artinya, dia baru percaya apabila skenario ini sudah terjadi. Untuk apa kita percaya ketika sebuah virus sudah merebak dan membunuh ribuan saudara-saudara kita? Kepercayaan yang terlambat, bukan? Sekali lagi, ini bukan bentuk paranoid atau kegelisahan tapi peringatan kecil saja, bila skenario ini tidak terjadi alhamdulillah, berarti Allah SWT tidak mengizinkannya terjadi. Bila apa yang dicetuskan dalam skenario ini terjadi, maka setidaknya kita sudah mengetahui dan mempersiapkan diri.

Saudaraku, ingatlah, pada tahun 1972 Club of Rome mengeluarkan sebuah buku berjudul The Limits to Growth, yang salah satu tujuannya menjelaskan sbb : From present indication it will be generation to a generation and a half before environmental pollution will be sufficiently menacing on a global scale, to offer a solution allow the pollution to deliberately get worse until it can be manipulated by the controlled media in to a world crisis." Mari kita lihat presisinya, generation and generation and a half berarti 25 tahun. Maka 1972+25 = 1997, ini adalah tahun di mana Protokol Kyoto dinegosiasikan. Protokol Kyoto adalah landasan berpikir dan membuat regulasi bagi setiap negara yang ikut dalam

ratifikasi untuk mendukung isu lingkungan. Apa yang mereka agendakan selama seperempat abad sebelumnya benar-benar direalisasikan sesuai kalkulasi waktu mereka. Kita (yang mendukung isu lingkungan) benar-benar telah terjebak...

Bila melihat skenario tersebut, mestinya agenda mereka menjadi rahasia, bukan? Namun buku itu justru dijual bebas dan pada saat itu menjadi buku lingkungan dengan penjualan tertinggi, sold out 12 juta kopi di seluruh dunia. Akan tetapi pada tahun tersebut, dunia sedang mengalami puncak era industri, tingkat kemakmuran yang baik dan inovasi-inovasi industri yang menggugah dunia, spt penemuan microwave, walk-man, inovasi komputer dll. Masyarakat dunia tidak peduli dengan skenario tersebut, mereka melupakannya. Hingga dua puluh lima tahun kemudian, mereka baru menyadarinya.

Jadi skenario PDF yang saat ini secara sengaja diletakkan di website Rockefeller.org memiliki muatan politik, apakah ini akan terjadi atau hanya berupa strategi untuk memecah belah pikiran kita, hanya Allah SWT yang tahu.

Saya teringat kata-kata pak dokter Jose Rizal Jurnalis di Republika (ketika kasus ibu Siti Fadillah Supari mengemuka), "Pembela NAMRU-2 adalah adalah Dino Patti Jalal (Dubes RI di AS). Novus Ordo Seclorum ini punya jaringan di kejaksaan dan kepolisian. Presiden SBY seolah-olah tidak tahu."

Novus Ordo Seclorum atau Tatanan Dunia Baru adalah kata yang kita semua menutup diri darinya. Kita membutakan diri kita, karena kita terus ingin berada dalam zona nyaman seperti saat ini. Ibu Siti Fadillah jelas-jelas telah menerangkan adanya upaya sistematis merekayasa virus yang dilakukan oleh korporasi besar. Tapi kita masih menggeleng dan mengatakan "Itu (rekayasa genetik) tidak mungkin terjadi."

Chavez, Presiden Venezuela dalam wawancara di RT Channel mengatakan gempa bumi di Haiti merupakan uji coba HAARP Amerika. Seorang Chavez yang dikelilingi oleh pakar-pakar geologi dan intelijen tidak akan membohongi rakyatnya dengan keterangan yang tidak benar.Tapi kita masih menggeleng dan mengatakan, "HAARP tidak dapat menyebabkan gempa bumi."

Ahmaddinejad, Presiden Iran mengatakan gempa bumi di Bam Iran yang menemwaskan 41,000 orang adalah ulah Amerika. Meskipun ia tidak mengatakan itu adalah kerja HAARP, namun saat ini hanya ada satu proyek maha-dahsyat yang bisa mendesposisi sebuah gempa bumi, its HAARP. Tapi kita masih menggeleng dan mengatakan, "Itu tidak masuk akal."

Tentu saja, dalam logika akal sehat saya yang cetek ini, HAARP juga tidak masuk akal. Dan entah sampai kapan saya bisa menerima pengetahuan tersebut sebagai sesuatu yang masuk akal. Tapi itulah yang terjadi. Rekayasa virus, rekayasa gempa bumi, terorisme, biometric ID Card, menuju negara totalitarian, GMO Crops dan Do It Yourself, itulah rancang bangun elitis sepanjang dua dekade ke depan 2010-2030. Sebagai ummatan wasatha, setiap diri kita mengemban amanah untuk menyelamatkan umat manusia dari kehancuran, bukan dengan menjadi Super Hero tetapi dengan wacana-wacana kecil.

Saya teringat cerita masa kecil yang disampaikan oleh guru ngaji saya, kisah di zaman Nabi Ibrahim, semasa beliau dibakar oleh Namrud, seekor burung kecil terbang bolak-balik mengisi air dalam paruhnya lalu menyiram ke atas api yang membakar. Itulah yang dilakukannya berulangkali. Tingkah lakunya diperhatikan oleh makhluk Allah yang lain yang lalu bertanya kepada burung kecil itu, buat apa kau berlelah-lelah mengambil air bolak-balik, sedangkan api yang membakar Nabi Ibrahim takkan padam dengan air yang kau siramkan itu. Lalu dijawab oleh burung tersebut, Memang ia tidak akan memadamkan api tersebut, tetapi aku lebih takut kepada Allah karena Allah nanti akan bertanya, apakah yang aku lakukan untuk agama Allah, dan Allah tidak akan bertanya tentang apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak."

Saudaraku, do not under estimate your enemy, coz Allah SWT has been suspended this evil life in order to plunge human race until the end of the world.

Wallahua'lam.

Zaynur Ridhwan Penulis Novel Novus Ordo Seclorum