Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK

Disusun Oleh :
1. Nila Anggraini 2. Sulis Ratnawati 3. Syahril Mustofa

KAMPUS TERPADU SAKINAH PASURUAN 2013

Kata Pengantar

Syukur Alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya lah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad Saw. Dengan terselesaikannya makalah ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Semoga Allah SWT membalas amal baiknya. Amin. Penulis harap, dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita khususnya bagi penulis. Memang makalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Gempol, Nopember 2013

Penyusun

LAPORAN PENDAHULUAN GAGAL GINJAL KRONIK (Chronic Renal Failure)

I.

PENGERTIAN Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan penurunan faal ginjal yang menahun, dan umumnya tidak riversibel dan cukup lanjut. (Suparman, 1990 : 349) Gagal ginjak kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang bersifat progresif dan lambat, biasanya berlangsung dalam beberapa tahun (Lorraine M Wilson, 1995 : 812)

II.

ETIOLOGI Penyebab gagak ginjal kronik cukup banyak tetapi untuk keperluan klinis dapat dibagi dalam 2 kelompok : 1. Penyakit parenkim ginjal a. Penyakit ginjal primer : Glomerulonefritis, Mielonefritis, Ginjal polikistik, TBC ginjal b. Penyakit ginjal sekunder : Nefritis lupus, Nefropati, Amilordosis ginjal, Poliarteritis nodasa, Sclerosis sistemik progresif, DM 2. Penyakit ginjal obstruktif : pembesaran prostat, batu saluran kemih, refluks ureter. Secara garis besar penyebab gagal ginjal dapat dikategorikan: a. Infeksi yang berulang dan nefron yang memburuk b. Obstruksi saluran kemih c. Destruksi pembuluh darah akibat diabetes dan hipertensi yang lama d. Scar pada jaringan dan trauma langsung pada ginjal

III.

PATOFISIOLOGI Penurunan fungsi nefron Mekanisme kompensasi dan adaptasi asimptomatik BUN dan Creatinin meningkat Penurunan toksin uranik Gangguan gagal ginjal kronik simptomatik

Hematologi Gastro intestinal Sistam saraf Endokrin Kardiovaskuler

Neurologis

IV.

KLASIFIKASI Sesuai dengan test kreatinin klirens, maka GGK dapat diklasifikasikan menjadi 4, sesuai dengan pembagian sebagai berikut : 1. 100-76 ml/mnt, disebut insufisiensi ginjal berkurang 2. 75-26 ml/mnt, insufisiensi ginjal kronik 3. 25-5 ml/mnt, disebut gagal ginjal kronik 4. < 5 ml/mnt, disebut gagal ginjal terminal

V.

KOMPLIKASI 1. Hiperkalsemia adalah akibat penurunan eksresi, asidosis metabolik,

katabolisme, masukan diet berlebih 2. Perikarditis adalah akibat retensi produk sampai uremik dan dialisis yang tidak adekuat 3. Hipertensi adalah akibat retensi cairan dan Na, malfungsi sistem renin anggiotensia aldasteron 4. Anemia adalah akibat penurunan eritroprotein 5. Penyakit tulang serta klasifikasi metastasis akibat retensi forfat, kadar ca cenderung rendah

VI.

GEJALA DAN TANDA 1. Hematologik Anemia normokrom, gangguan fungsi trombosit, trombositopenia,

gangguan leukosit, defisit imun, mudah mengalami perdarahan. 2. Gastrointestinal Anoreksia, nausea, vomiting, fector uremicum, hiccup, gastritis erosiva. 3. Syaraf dan otot Miopati, ensefalopati metabolik, burning feet sindrome, restless leg syndrome. 4. Kulit Berwarna pucat, gatal-gatal dengan eksorasi, echymosis, urea frost, bekas garukan karena gatal, mudah lecet. 5. Kardiovaskuler Hipertensi, nyeri dada, sesak nafas, gangguan irama jantung, edema, gagal jantung, perikarditis uremik, penyakit vaskuler 6. Pernafasan Hiperventilasi asidosis, edema paru, efusi pleura. 7. Endokrin Gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolisme lemak, gangguan seksual libido, fertilitas, dan ereksi menurun pada laki-laki, gangguan metabolisme vit. D 8. Kemih Nokturia, poliuria, hasu, proteinuria, penyakit ginjal yang mendasarinya. 9. Reproduksi Penurunan libido, impotensi, amenore, galaktase. 10. Tulang Hiperparatiroidisme, defisit vit D 11. Sendi Gout, klasifikasi ekstra tulang 12. Mata Fundus hipertensif, mata merah. 13. Farmakologi Obat-obatan yang dieskresi oleh ginjal

VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Radiologi Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai derajat dari komplikasi yang terjadi. 2. Foto polos abdomen untuk menilai bentuk dan besar ginjal (batu atau obstruksi) Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu penderita diharapkan tidak puasa. 3. IVP (Intra Vena Pielografi) Untuk menilai sistem pelviokalises dan ureter, pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu, misalnya : usia lanjut, DM, nefropati asam urat. 4. USG Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginjal, kepadatan parenkim ginjal, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat. 5. Renogram Untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vaskuler, parenkim, ekskresi), serta sisa fungsi ginjal. 6. Pemeriksaan radiologi jantung Untuk mencari kardiomegali, efusi perikardial. 7. Pemeriksaan radiologi tulang Untuk mencari osteodistrofi (terutama untuk falank jari), klasifikasi metastasik. 8. Pemeriksaan radiologi paru Untuk mencari uremik lung, yang terakhir ini dianggap sebagai bendungan. 9. Pemeriksaan pielografi retrograd Bila dicurigai obstruksi yang reversibel 10. EKG Untuk melihat kemungkinan : hipertropi ventrikel kiri, tanda-tanda perikarditis, aritmia, gangguan elektrolit (hiperkalemia) 11. Biopsi ginjal 12. Pemeriksaan laboratorium yang umumnya dianggap menunjang,

kemungkinan adanya suatu gagal ginjal kronik Ureum dan kreatinin : meninggi, biasanya perbandingan antara ureum dan kratinin lebih kurang 20 : 1. Ingat perbandingan bisa meninggi oleh karena perdarhan saluran cerna, demam, luka bakar luas, pengobatan steroid dan obstruksi saluran kemih

Perbandingan ini berkurang : ureum lebih kecil dari kreatinin, pada diet rendah protein, dan tes klirens kreatinin yang menurun. Hiponatremia : umumnya karena kelebihan cairan Hiperkalemia : biasanya terjadi pada gagal ginjal lanjut bersama dengan menurunnya diuresis Hipertrigliserida : akibat gangguan metabolik lemak disebabkan peninggian hormon insulin, hormon somatotropik dan menurunnya lipoprotein lipase.

VIII. PENATALAKSANAAN 1. Tentukan dan tatalaksanakan terhadap penyebab. 2. Optimalisasi dan pertahankan keseimbangan cairan dan garam 3. Kendalikan hipertensi 4. Jaga keseimbangan elektrolit 5. Mencegah dan tatalaksana penyakit tulang akibat GGK 6. Modifikasi terapi obat sesuai dengan keadaan ginjal 7. Diet TKRPRG Diet rendah protein (20-40 gr/hari), dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksia dan neusea dari unemia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan yang berlebihan dari K dan garam. 8. Deteksi dini terhadap komplikasi dan berikan terapi 9. Persiapkan program hemodialisis 10. Transplantasi ginjal 11. Modifikasi terapi obat dengan fungsi gejala Banyak obat-obat yang harus diturunkan dosisnya karena metabolik tosik dan dikeluarkan oleh ginjal, misal : digoksin, aminoglikosoid, analgesik, opiat, amfesterisin dan alapurinol.

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN MUNCUL DAN INTERVENSI 1. Anemia berhubungan dengan menurunnya produksi eritropeitin 2. Gangguan pemenuhan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan metabolisme protein 3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala

II. RENCANA DAN IMPLEMENTASI KEPERAWATAN 1. Anemia berhubungan dengan menurunnya produksi eritropeitin Tujuan : terjadi peningkatan kadar Hb Kriteria : kadar Hb dalam batas normal, perfusi jaringan baik, akral hangat, merah dan kering. Rencana : a. Pertahankan kebersihan tanpa menyebabkan kulit kering R/ : kekeringan meningkatkan sensitivitas kulit dengan b. Cegah penghangatan yang berlebihan dengan mempertahankan suhu ruangan yang sejuk dengan kelembaban yang rendah, hindari pakaian yang terlalu tebal R/ : penghangatan yang berlebihan meningkatkan sensivitas melalui vasodilatasi c. Anjurkan tidak menggaruk R/ : garukan merangsang pelepasan histamin d. Observasi tanda-tanda vital R/ : deteksi dini terhadap perkembangan klien dan penentuan terhadap tindakan selanjutnya e. Kolaborasi dalam Pemberian tranfusi Pemeriksaan laboratorium ttb

2. Gangguan pemenuhan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan metabolisme protein Tujuan : kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi Kriteria : - Berat badan dan tinggi badan ideal - Pasien mematuhi dietnya - Mual berkurang dan muntah tidak ada - Tekanan darah 140/90 mmHg Rencana : a. Kaji / catat pemasukan diet status nutrisi dan kebiasaan makan R/ : Untuk mengetahui tentang keadaan dan kebutuhan nutrisi pasien sehingga dapat diberikan tindakan dan pengetahuan diet yang adekuat b. Indentifikasi perubahan pola makan R/ : Mengetahui apakah pasien telah melaksanakan program diet yang ditetapkan

c. Berikan makanan sedikit dan sering R/ : Meminimalkan anorexia dan mual d. Anjurkan pasien untuk mematuhi diet yang telah diprogramkan R/ : Kepatuhan terhadap diet dapat mencegah komplikasi terjadinya hipertensi yang lebih berat e. Tawarkan perawatan mulutm berikan permen karet atau penyegar mulut diantara waktu R/ : Menghindari membran mukosa mulut kering dan pecah f. Timbang berat badan seminggu sekali R/ : Mengetahui perkembangan berat badan pasien (berat badan merupakan salah satu indikasi untuk menentukan diet) g. Kolaborasi : konsul dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi, nabic, anti emetik anti hipertensi R/ : Nabic dapat mengatasi / memperbaiki asidosis, anti emetik akan mencegah mual / muntah dan obat anti hipertensi akan mempercepat penurunan tekanan darah h. Kolaborasi : konsul dengan ahli gizi untuk pemberian diet tinggi kalori, rendah protein, rendah garam (TKRPRG) R/ : Pemberian diet yang sesuai dapat mempercepat penurunan tekanand arah dan mencegah komplikasi

3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada kepala Tujuan : Gangguan pola tidur pasien akan teratasi Kriteria : - Klien mudah tidur dalam waktu 30 40 menit - Klien tenang dan wajah segar - Klien mengungkapkan dapat istirahat dengan cukup Rencana : a. Kaji tanda-tanda kurangnya pemenuhan kebutuhan tidur pasien R/ : Untuk mengetahui terpenuhi atau tidaknya kebutuhan tidur pasien akibat gangguan pola tidur sehingga dapat diambil tindakan yang tepat. b. Kaji tentang kebiasaan tidur pasien dirumah R/ : Mengetahui perubahan dari hal-hal yang merupakan kebiasaan pasien ketika tidur akan mempengaruhi pola tidur pasien c. Kaji adanya faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain seperti cemas, efek obt-obatan dan suasana ramai

R/ : Mengetahui faktor penyebab gangguan pola tidur yang lain dialami dan dirasakan d. Anjurkan pasien yntuk menggunakan pengantar tidur dan teknik relaksasi R/ : Pengantar tidur akan memudahkan pasien jatuh dalam tidur, teknik relaksasi akan mengurangi ketegangan dan rasa nyeri e. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang R/ : Lingkungan yang nyaman dapat membantu meningkatkan tidur / istirahat

ASUHAN KEPERAWATAN 1. Pengkajian a. Identitas Klien Pada kassus GGK dapat terjadi pada segala usia dan semua jenis kelamin, (tidak ada perbandingan antara pria dan wanita). b. Keluhan Utama Biasanya klien mengeluh kencing sedikit, tidak dapat kencing, gelisah, tidak selera makan (anoreksi), mual, muntah, mulut terasa kering, rasa lelah, nafas berbau (ureum), gatal pada kulit. c. Riwayat Kesehatan Riwayat Penyakit Sekarang Pada kasus GGk faktor yang mempengaruhi dan memperberat hingga klien MRS dalah falig, malaise, gagal tumbuh, pucat dan mudah lecet, rapuh, leukonika, lidah kering, berselaput, fundus, hipertensi, penurunan libido, anemia defisiensi imun, mudah mengalami pendarahan. Riwayat Penyakit Dahulu Biasanya sebelum klien di diagnosa GGK, klien sakit seperti : glomesolus nefritis, netropabi analgesik, ginjal polikistik, penyebab lain seperti HT, obstruksi GOUT. Riwayat Penyakit Keluarga Gambaran mengenai kesehatan dan adakah penyakit keturunan atau menular. d. Pola-pola Fungsi Kesehatan - Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat Perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan sehingga dapat menimbulkan perawatan diri. - Pola Nutrisi dan Metabolisme Pola klien GGK akan terjadi anoreksia, nourea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein didalam usus. - Pola Eliminasi Klien akan menunjukkan perubahan warna urine, abdomen, kembung, diare, konstipasi. - Pola Istirahat dan Aktivitas Pada penderita GGK akan terjadi kelelahan ekstrim, kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan gerak rentang.

- Pola Persepsi dan Konsep Diri Klien tidak bisa menjalankan tugasnya sehari-hari yang disebabkan oleh perawatan yang lama. - Pola Sensori dan Kognitif - Pola Reproduksi dan Seksual Akan terjadi penurunan libido, impotensi, amenore, galaktose. - Pola Hubungan Peran Kseulitan menentukan kondisi : contoh tak mampu bekerjam

mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga. - Pola Penanggulangan Stress Biasanya penderita GGK mengalami fraktrus stress, contoh finansial, hubungan dan sebabnua, perasaan tidak berdaya, tidak ada harapan, tidak ada kekuatan, menolak, ansietasm takutm marah, mudah tersinggung, perubahan kepribadian. - Pola Tata Nilai dan KEpercayaan e. Pemeriksaan Fisik - Status Kesehatan Umum - Sistem Respirasi Nafas pendek, batuk dengan atau tanpa sputum kental dan banyak tekipnea batuk produktif dengan sputum merah darah encer (edema peru). - Kulit, Rambut, Kuku Pada klien GGK ditemukan dalam pemeriksaan pada kulit yaitu kulit kuning, perubahan turgor kulit (kering), bintik-bintik perdarahan kecil dan lebih besar dikulit. Penyebaran proses pengapusan dikulit, pada kuku tipis dan rapuh serta pada rambut tipis. - Kepala, Leher Pada klien GGK mengeluh sakuit kepala, muka pucat memerah, tidak adanya pembesaran tiroid. - Mata Pada klien GGK mata mengalami pandangan kabur. - Telinga Pada klien GGK telinga, hidung dan tenggorokan tidak mengalami gangguan, pada mulut ditemukan adanya perdarahan pada gusi dan lidah.

- Pada Thorax dan Abdomen Pada pemeriksaan abdomen dan thorax ditemukan adanya nyeri pada dada abdomen ditemukan disterusi perut (asietas atau penumpukan cairan, pembesaran hepar pada stadium akhir). - Sistem Kardiovaskuler GGK berlanjut menjadi tekanan darah tinggi, detak jantung menjadi irreguler (termasuk detak jantung yang mengancam kehidupan atau terjadi fibrilasi). - Sistem Genitourinaria Karena ginjal kehilangan kesanggupan mengeksresi natrium, penderita mengalami rekensi natrium dan kelebihan natrium sehingga penderita mengalami iritasi dan menjadi lemah. Pengeluaran urine mengalami penurunan serta mempengaruhi komposisi kimianya, berkurangnya frekwensi kencing, urine sedikit, urine tidak ada pada gagal ginja, perut mengembung, diare atau justru sulit BAB, perubahan warna urine, misalnya : Kuning, coklat, merah, gelapm urine sedikit dan beda negatif. - Sistem Gastro Intestinal Pada saluran pendernaan terjadi peradangan ulserasi pada sebagian besar alat pencernaan, gejala lainnya adalah terasa metal dimulut, nafas bau amonia, nafsu makan menurun, mual muntah, perut mengembung, diare dan justru sulit BAB. - Sistem Muskuluskeletal Pada GGK adanya kelemahan otot atau kekuatan otot hilang, kurangnya respon-respon otot dan tulang, ketidak seimbangan mineral dan hormon, tulang terasa sakit, kehilangan tulang, mudah patah, defisit kalsium dalam otak, mata, gusi, persendiaan, jantungn bagian dalam dan pembuluh darah, fraktur atau otak tulang, penumpukan CaPO4 pada jaringan lemak, sendi pembatasan gerak sendi. - Sistem Endokrin Pada GGK memberikan pertumbuhan lambat pada anak-anak, kurang subur serta nafsu sex menurun pada kedua jenis kelamin. Mestruasi berkurang bahkan dapat berhenti sama sekalo. Impotensi dan produksi sperma menurun serta peningkatan kadar gula darah seperti pada diabetes. - Sistem Persyarafan Pada klien GGK sindroma tungkai bergerak-gerak salah satu pertanda kerusakan saraf, rasa sakit seperti terbakar, gatal pada kaki dan tungkai,

juga dijumpai otot menjadi kram dan bergerak-gerak daya ingat berkurang, mengantuk, iritabilitas, bingung dan kejang.

2. Diagnosa a. Kelebihan volume cairan, berhubungan dengan penurunan kemampuan ginjal mengelurakan air dan menahan natrium Tujuan : Cairan seimbang Kriteria Hasil : - Masukan dan pengeluaran seimbang - BB stabil / normal - Bunyi nafas jantung normal - Elektrolit dalam batas normal Rencana Tindakan : Pantau dan dokumentasikan masukan dan keluaran tiap jam secara akurat Timbang berat badan klien tiap hari Pantau peningkatan tekanan darah Kaji edema perifer distensi vena leher dan peningkatan sesak nafas Batasi cairan sesuai program pemberian obat-obatan dengan makanan jika mungkin bagi cairan selama sehari Rasional : Klien yang menunjukkan bukti kelebihan cairan memelukan pembatasan berdasarkan pengeluaran urine Klien dengan gagal ginjal kronis cenderunya mengalami fluktasi BB sering membutuhkan evaluasi ulang yang sering terhadang keseimbangan cairan optimal. Perubahan BB interdialik yang diteri adalah 1 2 atau lebih 24 jam Volume sirkulasi harus dipantau pada gagal ginjal kronik untuk mencegah hipervolemia Dengan mengkaji edema perifer distensi vena leher dan peningkatan sesak nafas dapat mengetahui terjadinya gagal jantung kongestif.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, mual muntah, kehilangan selera makan, nafsu makan, bau stomatitis dan diet tidak enak. Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria Hasil : Klien akan menghubungkan pentingnya masukan nutrisi adekuat dan mentaati program diet yang diprogramkan

Rencana Tindakan : Lakukan pendekatan dengan klien dan keluarga Siapkan dan berikan dorongan oral hygiene yang baik sebelum dan sesudah makan Berikan lingkungan yang menyenangkan selama waktu makan dan bantu sesuai kebutuhan Periksa baik makanan untuk mengetahui isisnya dan dorong klien untuk makan Dokumentasikan semua masukan cairan dan makanan

Rasional : Mudah dalam pemberian HE tentang nutrisi Hygiene oral yang tepat mengurangi mikroorganisme dan membantu stomatitis Nafsu makan dirangsang pada waktu yang rileks dan menyenangkan Umpat balik positif untuk ketaatan diet dalam meningkatkan kepatuhan Dokumentasi akurat penting untuk pengkajian status nutrisi

3. Penatalaksanaan Merupakan realisasi dari rencana tindakan keperawatan. Dalam fase pelaksanaan terdiri dari beberapa kegiatan validasi (penyerahan) rencana keperawatan, menulis dan mendokumentasikan rencana keperawatan, memberi asuhan keperawatan dan pengumpulan data (H. Lismidar : 1990).

4. Evaluasi Evaluasi merupakan langkah berakhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah kegiatan yang disengaja dan terus menerus dengan melibatkan klien, perawat dengan anggota tim kesehatan lainnya. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai datau tidak untuk melakukan pengkajian ulang (H. Lismidar : 1990).

DAFTAR PUSTAKA
Suparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, FKUI : Jakarta. Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan dan Dokumentasu Keperawatan, Edisi 2 ; EGC : Jakarta. Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan dan Dokumentasu Keperawatan, Edisi 6 ; EGC : Jakarta. Price, Sylvia Anderson. (1985). Patofisiologi Konsep Klinik Proses-proses Penyakit, EGC : Jakarta. Marlyn E. Doenges. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi Tiga Buku Kedokteran EGC Jakarta : 2000. H. M. Syarfuliah Noer dkk. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Balai Penerbit FK UI Jakarta, 1996.