Anda di halaman 1dari 33

DERET TAK HINGGA DAN

DERET PANGKAT






PRODI TEKNIK INFORMATIKA
STT POMOSDA NGANJUK
TAHUN 2014

DERET TAK HINGGA DAN DERET PANGKAT


Tujuan Pembelajaran:
Dapat mendefinisikan pengertian deret
Dapat membedakan deret konvergen dan divergen
Dapat menguji suatu deret konvergen atau divergen
Dapat mengaplikasikan deret konvergen dalam pemecahan masalah
fisika
Dapat mengalikasikan deret divergen dalam penyelesaian masalah
fisika
Dapat menguraikan fungsi menjadi deret (menggunakan deret Taylor
dan Maclaurin)
Dapat mengaplikasikan deret pangkat dalam penyelsaian
permasalahan fisika
Dapat menerapkan aplikasi deret binomial

1. DERET GEOMETRI
Deret geomeri adalah jumlah dari barisan dimana setiap dua suku yang
berurutan mempunyai pebandingan (ratio) yang sama.
Bentuk umummnya :
a+ ar+ar
2
+ar
3
+ar
n-1

Jumlah suku ke n
Rumus


dimana a : adalah suku pertama
r : perbandingan /ratio dua suku beraturan
S
n
: adalah jumlah n suku yang pertama

Deret geometri tak hingga
Suatu deret geometri memiliki limit jumlah jika deret geometri tersebut konvergen.

dengan Syarat : || < 1


Dari

untuk n maka

,
maka :



Contoh soal
1. 0.555 = 5/10+5/100+5/1000+5/10000+5/100000+..
a = 5/10, r=1/10


2. 4/3+4/9+4/27+4/81+..



2. DEFENISI DAN NOTASI
Deret tak hingga adalah pernyataan penjumlahan bilangan yang tak hingga
banyaknya berbentuk :
a
1
+a
2
+a
3
++a
n
+..
Penulisan deret tak hingga lazimnya ditulis dengan notasi jumlah


(dibaca sigma n =1 sampai dengan tak hingga) diikutin dengan bentuk umum
suku a
n
. Jadi deret tak hingga dalam notasi ditulis sebagai berikut :

a
1
+a
2
+a
3
+a
n
+.=



contoh soal :
1.



2. 1/6+1/12+1/20+1/30+



3. APLIKASI DARI DERET GEOMETRI
Sebuah kelereng kecil yang dilepas jatuh menumbuk sebuah lantai datar tegar.
Bila kelentingan kelereng cukup tinggi, ia akan terpantul berulang kali dari lantai ke
udara dengan ketinggian yang semakin rendah hingga pada akhirnya berhenti dilanyai.
Andaikan kelereng dijatuhkan dari ketinggian 1 m dan ketinggian yang dicapainya
setelah terpantul adalah kali ketinggian sebelumnya. Maka ketinggian pencapaiannya
secara berturut-turut adalah

1, 3/4, (3/4)
2
, (1.1)

Jadi jarak total yang ditempuh kelereng adalah jumlah tinggi awal kelereng 1 m,
ditambah 2 kali jumlah semua tinggi berikutnya (karena kelereng menempuh lintasan
bolak balik yang sama panjang), yaitu

1, 2(3/4), 2(3/4)
2
, 2(3/4)
3
(1.2)

Menghitung jumlah bilangan yang tak terhingga banyaknya ini secar pasti
tidaklah mudah, tetapi intuisi dan pengalaman menyatakkn bahwa jumlahnya menuju
suatu nilai tak berhingga.
Pernyataan jumlah bilangan yang dimulai dari suku kedua persamaan (1.2)
yakni;
2(3/4), 2(3/4)
2
, 2(3/4)
3

Memperlihatkan suatu pola teratur dalam mana suku-sukunya, mulai dari suku
kedua, besarnya adalah kali suku sebelumnya. Jumlah bilangan persamaan (1.3)
diatas adalah contoh pernyataan matematik yang disebut deret tak terhingga




Contoh 1:
Sebuah bola tenis memantul dengan ketinggian 9 m, setelah mengenai lantaibola itu
memantul 2/3 tinggi sebelumnya. Panjang lintasan yang ditempuh bola sampai berhenti
adalah
Penyelesaian :






Perhatikan diagram dari lintasan bola tersebut
a = 9 , r= 2/3 maka

= 2



(ada angka 2 karena bola menempuh lintasan tegak bolak balik yang sama panjang) .
Maka panjang lintasan itu adalah 54 m.

Contoh 2 :
sebuah bola dijatuhka dari ketinggian 2 m. Setiap kali bola menyentuh tanah bola
dipantulkan kembali keatas dengan ketinggian dari jarak dimana bola jatuh. Tentukan
jarak total yang ditempuh sebelum bola jatuh ?
Penyelesaian :





Dari diagram dari lintasan bola tersebut didapat
a = 2 , r= 3/4 maka

= 2


= 2

= 16 m
( ada angka 2 karena bola menempuh lintasan tegak bolak balik yang sama panjang) .

4. DERET KONVERGEN DAN DIVERGEN
Deret tak hingga terbagi menjadi 2. Yaitu, deret tak hingga yang konvergen dan
deret tak hingga yang divergen. Konvergen artinya mempunyai jumlah tertentu.
Sedangkan divergen artinya tidak bisa ditentukan jumlahnya, besarnya yaitu tak hingga.

Misalnya deret yang konvergen yaitu seperti deret berikut ini :


Deret tersebut adalah termasuk deret konvergen. Karena jika dijumlahkan sampai suku
yang tak hingga, jumlahnya masih bisa ditentukan (jumlahnya masih berhingga). Kita
akan mencari hasil dari deret tak hingga tersebut
Misalnya


N = 1
Jumlah deret tak hingga tersebut adalah 1.
Deret yang divergen misalnya


Misalnya


Perhatikan bahwa


Jumlah deret ini tidak bisa ditentukan. Dengan kata lain jumlahnya adalah tak hingga..
Contoh soal :

= 1 ini adalah deret konvergen



= 0 ini adalah konvergen



APLIKASI DERET DIVERGEN DALAM FISIKA
Reaksi fisi (pembelahan inti) bahan radioaktif

Deret dari reaksi fisik berantai seperti gambar di atas adalah
1 + 2 + 4 + 8 +

Maka deret dari rekasi fisi berantai tersebut adalah


Dimana deret tersebut divergen, karena reaks fisi tidak akan berhenti sebelum ada
kondisi yang menyebabkan reaksi tersebut berhenti.


5. UJI DERET KONVERGEN
Untuk menguji apakah deret tersebut konvergen atau divergen kita harus
melakukan uji awal terlebih dahulu sebelum kita uji dengan metode lain, uji awal ini
adalah dengan menguji apakah untuk barisan yang tak terhingga

Bila
didapatkan hasilnya

maka dapat kita pastikan deret tersebut divergen,


akan tetapi kita harus berhati-hati bila

maka belum tentu deret ini


konvergen, maka untuk mendapatkan kepastiannya harus dilakukan pengujian lebih
lanjut dengan tes yang lain, jadi dapat kita simpulkan bahwa uji awal bukan digunakan
untuk menguji deret konvergen atau tidak, akan tetapi untuk menguji deret tersebut
divergen atau tidak.
Contoh
1.

, apakah deret ini divergen atau kemungkinan konvergen?


Jawab :
Dengan menggunakan

maka jelas deret ini divergen karena



2.

, apakah deret ini divergen atau kemnungkinan konvergen?


Jawab
Dengan menggunakan

maka deret ini kemungkinan konvergen


karena


Latihan
Tunjukkan deret dibawah ini apakah Divergen atau perlu tes lebih lanjut?
1.


2.



6. UJI KONVERGENSI DERET POSITIF
Setelah kita melakukan uji awal dan ternyata di dapatkan hasil


maka tentu saja kita memerlukan beberapa tes lanjutan untuk menentukan kepastian
konvergensinya. Untuk pembahasan berikut kita akan membatasi pada deret yang
bertanda positif saja untuk semua barisanya (deret positif).


A. UJI BANDING
Uji banding ini digunakan untuk menguji konvergensi dan divergensi. Untuk
menguji deret yang akan kita tinjau dibutuhkan suatu deret lain yang sudah
diketahu konvergensi dan divergensinya, Teorema
- Jika |

| < m
n
untuk n =1 , 2 , 3 dan

konvergen , Maka


konvergen
- Jika |

| > d
n
untuk n = 1, 2, 3 dan

, divergen, Maka


Contoh.
Tinjaulah konvergensi deret berikut dengan pembanding
-


Konvergen,
-

Divergen ;
1.


2.


penyelesaian :
Maka dari hasil pembandingan deret di atas jelas terlihat bahwa
1. Berlaku

, untuk seluruh n sehingga dengan demikian deret tersebut


Konvergen berdasarkan uji ini. Sedangakan ;
2. Berlaku

, untuk = 2 dan seterusnya, dengan demikian deret tersebut


divergen.
Latihan
1. Apakah

konvergen atau divergen, bila diketahui

adalah
divergen
2. APakah

konvergen atau divergen



B. UJI INTEGRAL
Dalam uji kovergensi dengan integral yang dilakukan adalah melakukan
integrasi secara kontinyu terhadap n dimana

jika hasil deret


yang di uji tersebut hasilnya berhingga maka deret tersebut konvergen, dan
sebaliknya jika hasilnya tak-hingga maka deret tersebut divergen.
Contoh : Uji Konvergensi deret berikut ini
1.

dengan tes integral


Penyelesaian

[]

[ ] =
Maka deret tersebut divergen

2. Selidiki konvergensi

dengan tes integral


Penyelesaian



Konvergen

Latihan
Selidiki konvergensi deret
1.


2.



C. TES RASIO
Jika kita meninjau deret

dan misalkan

+= , maka
a) Deret konvergen jika < 1
b) Deret divergen jika > 1
c) Pengujian tidak dapat menetukan konvergen atau divergen bila = 1

Contoh :
Tes Konvergensi Deret berikut
1. 1 +

+ +

+
2. 1 +

+ +

+
Jawab :
1.

dan

|
=

)
Karena , maka deret tersebut konvergen

2. |

| =


Karena maka berdasarka uji rasio tidak bisa ditentukan apakah deret ini
konvergen atau divergen, maka deret ini harus di uji dengan uji yang lain.
Latihan
Apakah deret berikut konvergen atau divergen
1.


2.


D. UJI BANDING LIMIT
Pada uji ini terbagi atas uji konvergensi dan uji devergensi. Jika

adalah
deret yang ingin di uji konvergensinya dengan ketentuan

dan terdapat
deret lain :
a.

yang telah diketahui deret konvergen bentuk positif, jika a


n
0 dan

< (bukan tak hingga) maka

adalah deret konvergen


b.

yang telah diketahui divergen bentuk positif, dan jika,

,
maka

adalah divergen,
Contoh
1. Tes konvergensi

dan bila diketahui


adalah deret konvergen berdasarkan uji integral.
Penyelesaian ;

)
=

, maka

< , maka deret tersebut konvergen


2. Tinjau konvergensi dari deret

sebagai pembanding kita gunakan deret

sebagai deret
divergen.

3 > 0 Divergen

Latihan
Tentukan apakah deret berikut konvergen atau divergen
1.


2.



7. DERET BOLAK-BALIK
Deret bolak-balik merupakan penjumlahan deret yang memiliki tanda berubah-
ubah dari positif dan negatif. Sebagai contoh :


Untuk memeriksa konvergensi deret seperti di atas, kondisi yang akan dipenuhi jika
deret tersebut konvergen adalah sebagai berikut :
a. |

| |

| dimana keduanya adalah nilai mutlak


b.

|
Contoh :
Selidiki konvergensi deret di bawah ini
1.

,
Penyelesaian
(1) |

| |

| Terpenuhi
(2)

terpenuhi , maka deret ini konvergen


2.


Penyeleaian
(1) |

| |

| Terpenuhi
(2)

tak terpenuhi, maka deret ini divergen


Latihan
Tentukan apakah deret dibawah ini konvergen atau divergen
1.


2.



8. KONVERGENSI ABSOLUT DAN KONVERGENSI BERSYARAT
Misalkan deret

merupakan deret bolak-balik, maka berlaku teorema beriku


: jika deret mutlaknya |

| merupakan sebuah deret yang konvergen maka


konvergen. Tetapi tidak berlaku sebaliknya, jika

konvergen maka belum tentu


|

| konvergen. Jika sebuah deret bolak-balik konvergen dan juga deret mutlak yang
terkait dengannya konvergen maka deret tersebut dikatakan memiliki konvergensi
mutlak. Sedangkan jika deret bolak-balik tersebut konvergen sementara deret mutlaknya
divergen maka deret tersebut dikatakan memiliki konvergensi bersyarat.
Contoh ;
1.


Penyelesaian :
Berdasarakan teorema pertama maka deret di atas di mutlakkan

+ ..+

deret positif konvergen


Maka deret

adalah deret konvergen absolute


2. 1


Penyelesaian
(1) |

| |

| Terpenuhi
(2)

terpenuhi , maka deret ini konvergen


Kemudian deret dimutlakkan menjadi
1 +

divergen (sudah di buktikan dengan uji


banding).
Maka deret

, merupakan deret konvergen bersyarat



9. ADA BEBERAPA HAL YANG DIPERHATIKAN TENTANG DERET
1. Deret konvergen atau divergen tidak dipengaruhi oleh pengalianpada setiap
suku deret. Namun konvergen atau divergen dipengaruhi oleh penjumlahansuku
Dari deret.
2. Dua buah deret yang diketahui konvergen yaitu

dan

dapat
dijumlahkan atau dikurangkan pada setiap sukunya ( sehingga penjumlahan
suku n adalah a
n
+ b
n
). Akibatnya, deret tetap konvergen
3. Susunan deret konvergendapat diatur, tetapi tidak mengakibatkan berubahnya
kekonvergenan sebuah deret


Contoh :


Penyelesaian :
Bila

, maka :

|

|
|

| |


Untuk n = 1,2, 3,



Karena

dan


Dan


Latihan :
Tentukan nilai dari


10. INTERVAL KONVERGEN
Deret yang telah dipaparkan sebelumnya adalah deret tetapan. Adapun deret lain
yang biasa digunakan adalah deret fungsi, misalnya fungsi x. kita megenal beberapa
penampilan deret pangkat yang pada suku ke n berbentuk x
n
atau (x-a)
n
,dimana a adalah
sebuah tetapan.
Berikut adalah sebuah deret pangkat berbentuk :


0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ a
3
x
3
+ atau


n
= a
0
+ a
1
(x-a) + a
2
(x-a)
2
+ a
3
(x-a)
3
+

Metode uji yang biasa kita gunakan pada pengujian deret pangkat ini adalah uji
rasio. Pada uji ini diperoleh
n
(n yang merupakan nilai mutlak hasil bagi suku ne
(n+1), sebut saja (A
n+1
), terhadap suku ke n, sebut saja (A
n
), Artinya =

|

Contoh 1:
1-

+ +

+

Penyelesaian:

n
=|

| |

|

= |

|

Menurut rasio, deret ini disebut konvergen jika < 1, yang dipenuhi oleh
| | || , artinya, deret itu divergen jika || . Jadi
|| atau -2 < x <2.

Contoh 2 :


Penyelesaian :

n
= |

| |

|

=

| = ||
Artinya, deret itu konvergen jika dipenuhi = || sehingga ada batas
kekonvergenan x = 1 dan x = -1, deret itu akan menjadi 1

-seling harmonic dan termasuk deret konvergen.


Sebaliknya, jika x = -1, deret menjadi -1

yang merupakan
deret harmonic dengan factor pengali (-1) dan termasuk deret divergen. Artinya
interval konvergen deret itu adalah


Latihan 1:
Tentukan apakah deret ini konvergen atau tidak, dan nyatakan batasnya



11. TEOREMA TENTANG DERET
Telah dipaparkan sebelumnya bahwa deret

disebut deret konvergen


jika nilai x tertentu membuat nilai itu terhingga. Jadi konvergen deret itu bergantung
pada nilai x. berikutnya nilai dari deret itu kita sebut S(x) =

yang
kekonvergenannya bergantung pada x. jika S(x) merupakan sebuah fungsi, S(x)
dikatakan konvergen ke fungsi S(x). akibatnya, fingsi S(x) dapat dipresentasikan ke
dalam deret atau sebaliknya, deret merupakn representasi dari sebuah fungsi. Deret yang
merupakan representasi dari sebuah fungsi dikuasai oleh empat buah teorema, yaitu:


Teorema 1 :
sebuah deret dapat didiferensialkan atau di integralkan pembagian apabila deret yang
didiferensialkan atau diintegralkan itu konvergenn, dan hasil diferensiasi atau integrasi
juga konvergen
Teorema 2 :
Pada dua deret dapat dilakukan operasi penambahan, pengurangan, atau perkalian
asalkan deret hasil operasi itu konvergen atau setidaknya memiliki interval
kekonvergenan yang sama. Jika pembilang atau pembagi sama-sama nol ( misalnya

), deret itu memiliki beberapakawasan kekonvergenan dan harus di uji dengan uji
yang lain.
Teorema 3 : Sebuah deret dapat disubsitusikan ke deret yang lain asalkan dalam
kawasan kekonvergenan yang sama.
Teorema 4 : Deret (

) dapat merepresentasikan sebuah fugsi apabila deret itu


konvergen ke fungsi itu.
12. EKSPANSI FUNGSI KE BENTUK DERET
Fungsi yang mengandung peubah dapat direpresentasikan sebagai deret peubah
itu dengan factor pengali di setiap sukunya asalkan deret tersebut bersifat konvergen.
Sebagai contoh, fungsi sin x dapat dideretkan dalam bentuk :

sin x =a
0
+a
1
x +a
2
x
2
+ + a
n
x
n
+

Nilai tetapan a
0
, a
1
,a
2
,,a
n
ditentukan dengan mengambil nilai khusus dari x sehingga
sin x diketahui (sin 0 = 0 berarti a
0
= 0), serta dengan cara diferensial pada penentuan
koefisien derajat berikutnya. Turunan dari sin x adalah cos x sehingga :

+ + (n - 1)a
n
x
n-1
+
Jika cos 0 = 1 sehingga a
1
= 1. Bentuk turunan berikutnya adalah

2a
2
+ 3.2a
3
+ 4. 3a
4
x
2
+
Yang memberikan 0 = a
2
, selanjutnya:

-cos x = 3.2a
3
+ 4.3.2a
4
x +
Atau -1 = 3!a
3
, yang berarti a
3
= -1/3!. Demikian seterusnya sehingga diperoleh bentuk
penderetan dari sinx yang konvergen pada semua nilai x dan berbentuk


Cara penderetan fungsi ini disebut cara penderetan Maclaurin atau disebut deret Taylor
di sekitar titik asal (x=0).
Adapun fungsi deret Maclaurin:


Sedangkan Fungsi Taylor dinyatakan dalam deret pangkat dari (x-a)
Rumus :



dimana a adalah tetapan. Melalui pengambilan fungsi x = f(x) disekitar x = a dan f(x)
yang didiferensialkan diperoleh bentuk f(x) ,f(x)=

()=
d
2
f()
d
2
, , f


f(x) = a
0
+ a
1
(x-a) + a
2
(x-a)
2
+ a
3
(x-a)
3
+ a
4
(x-a)
4
+ + a
n
(x-a)
n
+
f(x) = a
1
+ 2a
2
(x-a) + 3a
3
(x-a)
2
+ 4a
4
(x-a)
3
+ + na
n
(x-a)
n-1
+
f(x) = 2a
2
+ 3.2a
3
(x-a) + 4.3a
4
(x-a)
2
+ + n(n-1)a
n
(x-a)
n-2
+
f(x) = 3!a
3
+ 4.3.2a
4
(x-a) + +n(n-1)(n-2)a
n
(x-a)
n-3
+
F
(n)
(x) = n(n-1)(n-2)1.a
n
+ (x-a)

Mengingat f(x-a)= f(a)= a
0
f(a) = a
0,
f(a) = a
1
, f(a) = 2a
2
,
f(a) = 3!a
3
, , f
(n)
(a) = n!a
n

Selanjutnya f(x) dapat dinyataakan:
f(x) = f(a) + (x-a) f(a) +


Pada saat x = 0, bentuk f)x) adalah :
f(x) = f(0) + xf(0)+

f(0) +



Sebagai contoh ke 2 yaitu fungsi cos x dapat dideretkan dalam bentuk :
Penyelesaian :
cos x = a
0
+ a
1
x + a
2
x
2
+ + a
n
x
n
+
Bila nilai tetapan a
0
, a
1
, a
2
, ditentukan dengan mengambil nilai x sehingga x diketahui
bahwa cos 0 = 1 berarti a
0
= 1.
Secara diferensial pada koefisien derajat berikutnya turunan cos x = -sin x, sehingga:



Misalkan sin x= 0, maka a
1
= 0, sehingga menjadi:


Jika cos x = -1, maka a
2
= -1 selanjutnya


Jika sin x= 0, maka a
3
= 0


Jika cos x= 1, maka a
4
= 1
Atau 1= 4!a
4
yang berarti a
4
= 1/4!,sehingga diperoleh bentuk penderetan cos x
yang konvergen pada semua nilai x, yaitu:



Latihan :
Tuliskan (1 + x)
2
sebagai suatu deret Maclaurin pada selang -1 < x< 1.

13. TEKNIK UNTUK MEMPEROLEH EKSPANSI DERET PANGKAT
Terdapat teknik sederhana yang sering digunakan untuk menemukan deret
pangkat dari suatu fungsi dibandingkan dengan menggunakan proses penurunan
berturut. Melalui teorema 4 pada bagian 11 kita mengetahui bahwa fungsi apapun yang
diberikan hanya terdapat satu deret pangkat, yaitu deret pangkat dengan bentuk

. Walaupun kita dapat memperolehnya dengan banyak metode yang tepat


dan yakin bahwa sama bentuknya dengan deret Maclaurin yang didapat pada bagian 12.
Kita dapat mengilustrasikan variasi metode untuk memperoleh deret pangkat. Di bawah
ini merupakan beberapa penyederhanaan dari deret.
a. Deret Geometris

||

b. Deret Binomial

||
(deret binomial; p adalah bilangan real bernilai positif atau negatif)


c. Fungsi Eksponensial



d. Fungsi Trigonometri dan Hiperbolik



e. Fungsi Logaritma

)

Berikut ini merupakan beberapa contoh untuk memperoleh ekspansi deret.
a. PERKALIAN DERET DENGAN POLINOM ATAU DERET DENGAN
DERET
1. CONTOH PENGGUNAAN
CONTOH 1: Tentukan deret untuk ( x + 1) sin x!
Penyelesaian :
(



Contoh 2: Tentukan deret untuk e
x
cos x!
Penyelesaian:

)(



Contoh 3: Tentukan deret untuk (1 + x
2
) cos x!
Penyelesaian:


2. APLIKASI DALAM FISIKA
Contoh yang paling sederhana yang biasa kita jumpai dalam persoalan Fisika
dasar adalah persoalan bandul sederhana yang disimpangkan dan akan
mengalami gerak periodik ketika dilepaskan akibat gaya gravitasi yang
bertindak sebagai gaya pemulih seperti yang diperlihatkan pada gambar 1 untuk
bandul bermassa m dengan panjang tali l.

Berdasarkan hukum kedua Newton, penggambaran dinamika gerak bandul
dengan massa m tersebut diberikan oleh persamaan diferensial berikut:


Untuk sin u dapat digunakan deret binomial.

+

Untuk deret kedua nilai u sangat kecil, sehingga sin u = u

3. LATIHAN
1. Tentukan deret dari (1 + x) ln (1 + x)!
2. Tentukan deret dari

!

b. PEMBAGIAN DUA DERET ATAU DERET DENGAN POLINOM
1. CONTOH PENGGUNAAN
Contoh: Tentukan deret dari

!
Penyelesaian:


2. LATIHAN
1. Tentukan deret dari fungsi

!
2. Tentukan deret dari fungsi

!

c. DERET BINOMIAL
1. CONTOH PENGGUNAAN
Contoh 1: Tentukan deret dari

!
Penyelesaian:


Rumus dasar Maclaurin untuk deret binomial


Maka deret dari

adalah:



Contoh 2: Tentukan uraian fungsi f(x) =

!
Penyelesaian:



2. APLIKASI DALAM FISIKA
1) Energi Kinetik Relatif Energi Kinetik Newton (v << c)
Dalam relatifitas khusus, untuk sebuah partikel dengan massa m
0
,

(Total energi partikel bebas)


(Energi kinetic relatif)


Dimana


Dengan v = kecepatan partikel
c = kecepatan cahaya
(asas korespondensi fisika/ asas yang saling berhubungan)
Tinjau fungsi

dengan x = v/ c . Untuk kasus non-relativistik,


dimana x << 1, uraian Taylor fungsi tersebut hingga orde pertama di sekitar
x = 0 adalah:
Sesuai dengan deret binomial

||
(

) (

)
Sehingga jika di subsitusikan ke dalam persamaan energi kinetik relatif
diperoleh:
(

))


Dapat dilihat bahwa K

untuk |v| << c, sehingga energi kinetik


relatif menjadi Energi Kinetik Umum Newton (non relativistik).

2) Aproxsimasi Medan Jauh (Far Field Approximation)



-q q P
d
x
Untuk menentukan medan pada titik P, dengan x >> d.


Catatan :

)]



Persamaan tersebut merupakan aproksimasi medan jauh, menunjukkan
bagaimana sebaran dominan dari E dengan jarak.

3. LATIHAN.
1. Tentukan deret binomial dari

!
2. Tentukan deret binomial dari

!
3. Tentukan deret binomial dari

!
4. Tentukan deret binomial dari

!

d. DERET TAYLOR MENGGUNAKAN DASAR DERET MACLAURIN
1. CONTOH PENGGUNAAN
Contoh 1. Tentukan deret fungsi ln x disekitar x = 1!
Penyelesaian.
Ini artinya deret dari pangkat (x 1) dekat dengan x, sehingga dapat dituliskan:
ln x = ln [1 + (x 1)]
dengan menggunakan persamaan, dapat kita subsitusikan x dengan (x 1)


Maka didapat



Contoh 2: Uraikan cos x disekitar x = 3/2!
Penyelesaian:
[

)]
Dengan menggunakan sifat: cos (AB) = cos (A) cos (B) sin (A) sin (B)
Maka persamaan di atas dapat diuraikan menjadi
[

)]
(

) (

) (

) (

)
(

) (

)
(

)

Dengan menggunakan persamaan,

, subsutusi x dengan (

)
Maka
[

)] (

)
(

) (


2. APLIKASI DALAM FISIKA
1) Penentuan Besar Waktu Paruh pada Peluruhan Radioaktif Pada
Nuklida Radioaktif yang Berumur Panjang (Long-Life Nuclide)
Pernahkah kamu membayangkan waktu paru untuk nuklida yang
berumur panjang dapat ditentukan dengan periode waktu yang singkat?
Selama peluruhan adalah proses acak, kita tidak dapat menentukan kapan
sebuah atom tertentu akan meluruh. Banyaknya peuruhan dN pada waktu
tertentu bergantung pada nomor atom sampel, N. Jadi -


Peluruhan nuklida bervariasi, sehingga setiap radionuklida memiliki
konstanta peluruhan tersendiri yaitu . Kebalikan dari konstanta peluruah
adalah waktu T sebuah partikel sebelum meluruh. Peluang untuk peluruhan,

sebanding dengan waktu peningkatan dt.



Tanda negatif menunjukkan bahwa N berkurang tiap pertambahan
waktu. Hasil dari penurunan persamaan di atas adalah


Dimana N
0
adalah nilai N saat t = 0. Persamaan tersebut dapat ditulis:


Dimana adalah banyaknya nuklida yang meluruh selama waktu t. Dapat
kita gunakan deret Taylor untuk mengembangkan


Karena t jauh lebih kecil dari T. Oleh karena itu, di dapat



Hubungan di atas dapat digunakan untuk menentukan waktu paruh dari
sebuah nuklida yang berumur lama.


2) Penentuan Besar Energi Potensial
Mengapa V = m gy untuk gravitasi?
Bukankah dalam permasalahan ini











Sehingga dengan menggunakan ekpansi Taylor untuk V (r) sekitar r = R


Dari gambar dapat dilihat bahwa (r R) merupakan ketinggian dari atas
tanah sehingga nilai

= g = 9,81

Maka :



Inilah yang sering kita sebut dengan Energi Potensial = mgy = mgh, di dekat
permukaan bumi.

3. LATIHAN.
1. Uraikan sin x disekitar a = 3/2!
2. Uraikan cos x disekitar a = !
3. Uraikan cot x disekitar a = 3/2!
4. Uraikan

disekitar a = 3/2!

R
r
m
M


14. AKURASI DALAM PERHITUNGAN
Karena suku-suku deret Taylor tidak berhingga banyaknya, maka -untuk alasan
praktis- deret Taylor dipotong sampai suku orde tertentu.
Deret Taylor yang dipotong sampai suku orde ke-n dinamakan deret Taylor
terpotong dan dinyatakan oleh:

+

Atau sering ditemui persamaan:




Dimana c adalah titik diantara a dan x. formula ini dapat digunakan untuk membuktikan
deret Taylor dan Maclaurin untuk sebuah fungsi konvergen atau tidak.

15. BEBERAPA PENGGUNAAN DERET
Perhitungan Numerik
Aplikasi deret pangkat dapat digunakan untuk menghitung nilai dari suatu fungsi tanpa
menggunakan alat bantu hitung/kalkulator. penggunaan deret untuk perhitungan nilai
fungsi yang tidak dapat dengan mudah dilakukan dengan menggunakan kalkulator.
Contoh 1.
Tentukan nilai dari ln tan x dengan x = 0,0015.
Penyelesaian.

) (


= 5,06 x 10
-16


Dengan galat sebesar x
7
atau 10
-21
.

Contoh 2.
x = 0,0015 x = 0,0015
x = 0,0015
Tentukan nilai

)

Penyelesaian.


Kemudian persaaman tersebut di turunkan empat kali dan dihitung nilainya dengan x =
0,1


Atau sekitar -2 dengan eror 10
-4


Penjumlahan Deret
Contoh. Tentukan jumlah dari deret harmonik berikut:


Bentuk ini sama dengan deret.


Dengan mensubsitusi nilai x = 1



Evaluasi Deret Tentu
Contoh.
Integral Fresnel (integral dari sin x
2
dan cos x
2
) muncul dalam permasalahan difraksi
Fresnel dalam optik.



= 0,33333 0,02381 + 0,00076
= 0, 31028 (dengan galat kurang dari 1/(15.7!) atau sekitar 10
-5
)
x = 0,1
RANGKUMAN

1. Deret adalah penjumlahan semua suku-suku suatu barisan.
2. Jika jumlah deret S menuju harga tertentu, maka deretnya disebut konvergen.
Sedangkan jika S nilainya takhingga, maka deret disebut divergen.
3. Uji konvergensi deret positif
a. Uji Pendahuluan
Jika , 0 lim =

n
n
a maka deret divergen. Tetapi jika , 0 lim =

n
n
a maka perlu uji
lanjut.
b. Uji banding
i). Jika suku demi suku dari deret

, dengan

adalah deret
konvergen, maka

juga konvergen.
ii). Jika suku demi suku deret

, dengan

adalah deret divergen,


maka

juga divergen.
c. Uji integral

divergen deret ,
konvergen deret tertentu, berharga

=
=
}

dn a I
n

d. Uji banding limit
Pengujian deret positif

=1 n
n
a menggunakan uji banding limit terdiri dari dua
bagian yaitu uji konvergen dan uji divergen.
(i). Jika deret positif

=1 n
n
b konvergen dan <

n
n
n
b
a
lim (bukan takhingga),
maka deret

=1 n
n
a konvergen.
(ii). Jika deret positif

=1 n
n
d divergen dan , 0 lim >

n
n
n
d
a
maka deret

=1 n
n
a
divergen.
e. Uji bagi (Rasio)
n
n
n
n
n
a
a
1
lim lim
+

= =

Kriteria uji hasil bagi dinyatakan sebagai berikut:
(i). Jika , 1 < deret konvergen
(ii). Jika , 1 > deret divergen
(iii). Jika , 1 = uji bagi tidak dapat memberikan kesimpulan

4. Uji konvergensi deret ganti tanda
Deret ganti tanda

dengan , 0 >
n
a konvergen jika memenuhi
dua persyaratan berikut:
(i). . 0 lim =

n
n
a
(ii). Setiap suku deret ini nilainya selalu lebih kecil dari suku-suku sebelumnya,
yaitu .
1 n n
a a <
+

Untuk deret ganti tanda yang konvergen, jika deret mutlak dari deret ganti tanda
juga konvergen, maka dikatakan bahwa deret ganti tanda konvergen mutlak.
Sebaliknya apabila deret mutlaknya divergen, maka dikatakan sebagai
konvergen bersyarat.
5. Deret Taylor dirumuskan sebagai:

=
=
0 n
1
(
n (n)
b) (b)(x f
n!
x f . Jika b = 0, uraian dikenal sebagai deret
Maclaurin yaitu

=
=
0
) (
) (
!
1
) (
n
n n
x b f
n
x f

6. Interval konvergensi deret pangkat dapat ditentukan menggunakan uji bagi.
7. Deret pangkat digunakan untuk perhitungan numerik, penjumlahan deret,
evaluasi hasil dari integral tentu.
8. Aplikasi deret pangkat Taylor pada fisika ditemui pada energy kinetik relative,
penentuan waktu paruh nuklida berumur panjang (long half life nuclide), energy
potensial pada benda dekat dengan permukaan bumi, dan pendekatan medan
jauh dalam elektostatis.