Anda di halaman 1dari 16

QANUN

A. Pendahuluan
Hukum Islam adalah seperangkat aturan yang mempunyai kekuatan
mengikat dan memaksa umat Islam untuk menjalankan aturan-aturan atau
hukum tersebut. Hukum yang kaku atau tidak fleksibel akan menimbulkan
kompleksitas dan aneka konflik dalam kehidupan sosial, sehingga diperlukan
konsepsi hukum yang dapat diterima dan beradaptasi sesuai dengan pola
kehidupan bermasyarakat.
Salah satu bentuk pemikiran hukum Islam adalah qanun atau peraturan
perundangan. Penetrasi hukum Islam ke dalam peraturan perundangan di
Indonesia dapat dibedakan menjadi dua model, yaitu penetrasi hukum Islam ke
dalam peraturan perundangan secara subtantif dan tidak dinyatakan secara
eksplisit sebagai hukum-hukum Islam dan penetrasi hukum Islam ke dalam
peraturan perundangan yang secara eksplisit dinyatakan sebagai hukum Islam.
Hukum Islam sebagai salah satu bahan baku dalam pembangunan hukum
nasional dituntut untuk mampu berperan dan berkompetisi dengan hukum
lainnya. Konfigurasi legislasi hukum Islam dipahami sebagai upaya mencari
bentuk pembuatan undang-undang atau peraturan perundangan dengan
menetapkan hukum Islam ke dalam hukum nasional suatu negara1.

1Ali Imron HS, Pertanggungjawaban Hukum: Konsep Hukum Islam dan


Relevansinya dengan Cita Hukum Nasional Indonesia, Walingso Press,
Semarang, 2009, hlm. 68-69

B. Definisi Qanun
Secara etimologis, kata qanun berakar dari Bahasa Yunani, kanon / ,
yang berarti untuk memerintah, tolok ukur atau mengukur. Seiring luasnya
penggunaan dalam tradisi formal, artinya meluas menjadi "aturan baku yang
diterima oleh sebuah majelis2. Dalam bahasa Arab, bentuk past tense atau fiil
madhi qanun adalah qanna dan bentuk present tense-nya atau fiil mudhari-nya
adalah yaqunnu, yang berarti membuat hukum (to make law), atau membuat
undang-undang (to legislate).
Dalam bahasa Inggris, qanun disebut canon, yang antara lain, sinonim
artinya dengan peraturan (regulation, rule atau ordinance), hukum (law), norma
(norm), undang-undang (statute atau code), dan peraturan dasar (basic rule).
Qanun lazim juga ditulis dengan menggunakan huruf alif dan lam (al) menjadi alqanun yang dirangkaikan dengan kata (al-asasi) yang secara lengkap ditulis
menjadi

(al-qanun

al-asasi),

yang

berati

undang-undang

dasar

(basic

constitutional law).
Ada beberapa istilah yang sinonim dengan qanun, yaitu: 1) hukm, jamaknya
ahkam, 2) kaidah, jamaknya qawaid, 3) dustur (konstitusi), 4) dhabithah,
jamaknya dhawabith, dan 5) rasm, jamaknya rusum3.
Secara terminologis, qanun dapat diartikan sebagai bentuk hukum nasional
yang telah menjadi legal-formal. Artinya hukum yang telah memiliki dasar dan
teori yang matang dengan melalui dua proses, yaitu proses pembudidayaan
hukum dan diformalkan oleh lembaga legislatif. Dengan kata lain, qanun

2Anonim, Qanun, http://id.wikipedia.org/wiki/Qanun, diakses tanggal 13


Desember 2013, jam 15.10 WIB
3Ahmad Sukardja dan Mujar Ibnu Syarif, Tiga Kategori Hukum Syariat, Fikih, &
Kanun, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hlm. 120-121

merupakan hukum positif yang berlaku pada satu negara yang dibuat oleh
pemerintah, sifatnya mengikat, dan ada sanksi bagi yang melanggarnya4.
Proses penyusunan qanun disebut taqnin. Secara terminologis, taqnin
memiliki 2 arti, yaitu arti umum dan arti khusus. Dalam pengertian umum taqnin
berarti penetapan sekumpulan peraturan atau undang-undang oleh penguasa
yang memiliki daya paksa untuk mengatur hubungan sesama manusia dalam
suatu masyarakat. Sedang dalam pengertian khusus taqnin itu berarti penetapan
sekumpulan peraturan atau undang-undang oleh penguasa yang memiliki daya
paksa untuk mengatur suatu masalah tertentu, seperti masalah perdata, pidana,
atau yang lainnya5.
Dalam pen-taqnin-an ini, ijtihad yang dilakukan pada umumnya adalah
Ijtihad fi Tatbiq al-Ahkam (ijtihad di dalam penerapan hukum) dengan
menggunakan metoda Ijtihad Jamai (ijtihad kolektif); prosesnya adalah dengan
menghadirkan para pakar dibidang ilmu-ilmu yang berhubungan dengan materi
yang dibahas, untuk memberikan pertimbangan keadaan yang sesungguhnya
dan dihadiri pula oleh para ahli agama, khususnya ahli hukum Islam, untuk
memberikan pertimbangan hukumnya (al-hukm qabla bayan dhulmun, wa tark alhukm bada bayan dhulmun). Dengan cara ini diharapkan hasil ijtihadnya lebih
benar, lebih baik dan indah serta lebih arif untuk kemaslahatan hidup bersama6.
Dalam penggunaannya, menurut Subhi Mahmassani, sebagaimana
disinggung di muka, qanun digunakan dalam tiga macam makna sebagai berikut:
4Ujang Sutaryat, Metodologi Penelitian Qanun dan Sariah,
http://ujeberkarya.blogspot.com/2010/01/metodologi-penelitian-qanun-dansariah.html, diakses tanggal 13 Desember 2013, jam 15.27 WIB
5Ahmad Sukardja dan Mujar Ibnu Syarif, Op.Cit ., hlm. 125
6A. Djazuli, Ilmu Fiqh: Penggalaian, Perkembangan, dan Penerapan Hukum
Islam, Edisi Revisi, Prenada Media Group, Jakarta, 2005, hlm. 165

1. Kumpulan peraturan-peraturan hukum atau undang-undang (Kitab


Undang-undang). Istilah ini, antara lain digunakan untuk menyebut
Qanun Pidana Usmani (KUH Pidana Turki Usmani), Qanun Perdata
Libanon (KUH Perdata Libanon), dan lain-lain.
2. Sinonim bagi kata hukum, sehingga istilah ilmu qanun sama artinya
dengan ilmu hukkum. Karena itu qanun Inggris misalnya, sama artinya
dengan hukum Inggris, qanun Islam sama dengan hukum Islam, dan
lain-lain.
3. Sinonim bagi kata undang-undang. Perbedaan pengertian yang ketiga ini
dengan yang pertama adalah bahwa yang pertama itu lebih umum dan
mencakup banyak hal. Sedangkan yang ketiga ini khusus untuk
permasalahan tertentu saja. Umpamanya, Qanun Perkawinan sama
artinya dengan Undang-Undang Perkawinan.
Sebagai istilah yang mempunyai pengertian yang sama dengan undangundang, maka qanun ini mempunyai kekuasaan atau kekuatan untuk
pelaksanaannya,

persis

seperti

undang-undang.

Ada

pelaksanaan

dan

penegakan hukum, ketika terjadi sengketa atau perkara yang memerlukan


putusan hakim di pengadilan, negara menyediakan perangkat atau alat untuk
memaksakan putusan hukum tersebut. Ini berbeda dengan karakter fikih, yang
implementasinya lebih bersifat suka rela dan pada umumnya hanya didasari oleh
perasaan tanggung jawab atau sanksi di akhirat kelak.
Subhi Mahmassani, sebagaimana dikutip Qadri Azizy, menyatakan bahwa
pada zaman Usmani kata qanun sering digunakan sebagai istilah hukum untuk
aturan-aturan hukum yang dibuat oleh negara, yaitu untuk membedakannya dari
aturan hukum syariah, terutama dalam hal bilamana terdapat perbedaan
ketentuan hukum pada masalah tertentu antara qanun dengan syariah. Misalnya

ketentuan larangan riba menurut syariah di mana undang-undang membolehkan


pemungutan bunga7.
Dari beberapa paparan di atas, secara sederhana qanun dapat disimpulkan
sebagai undang-undang buatan manusia yang terinspirasi dari semangat syariat.
C. Tujuan Qanun
Tujuan qanun pada dasarnya adalah untuk mengatur hubungan sesama
manusia dalam suatu masyarakat. Dengan demikian diharapkan kehidupan
masyarakat akan menjadi lebih baik, aman, tertib, dan penuh keharmonisan.
Argumentasinya adalah mengingat adanya qanun yang ditetapkan berlakunya
secara resmi oleh penguasa, tidak ada seorang pun anggota masyarakat yang
dibenarkan melakukan tindakan sewenang-wenang atau sekehendak hatinya
sendiri. Selain itu, jiwa, harta, kehormatan, dan hak-hak asasi setiap warga
masyarakat juga dapat dilindungi oleh peraturan atau undang-undang yang
berlaku. Bila ada pihak-pihak tertentu yang bermaksud merusak, menodai, dan
merendahkannya, maka dapat dikenakan sanksi sesuai hukum yang berlaku8.
Pendapat lain mengatakan bahwa tujuan dari qanun adalah menyiapkan
pedoman yang seragam (unifikasi) dan menjadi hukum positif yang wajib dipatuhi
oleh seluruh umat Islam9.
Dapat disimpulkan, qanun dalam arti hukum tertulis yang telah diundangkan
oleh negara bertujuan untuk:
a. Mendatangkan kemakmuran;
b. Mengatur pergaulan hidup manusia secara damai;
c. Mencapai dan menegakkan keadilan;
d. Menjaga kepentingan tiap-tiap manusia supaya tidak terganggu10.
7Ahmad Sukardja dan Mujar Ibnu Syarif, Op.Cit ., hlm. 122-123
8Ibid, hlm. 125-126
9Zainuddin Ali, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Sinar
Grafika, Jakarta, 2008, hlm. 100
10Ujang Sutaryat, Loc.Cit

Upaya legislasi pelaksanaan syariat Islam sebagaimana diatur dalam Qanun


adalah juga dalam upaya membina, menjaga, memelihara, dan melindungi
akidah orang Islam11.
D. Kelebihan dan Kekurangan Qanun
Qanun memiliki beberapa kelebihan. Namun seperti yang kita tau bahwa
setiap hal yang terdapat di dalam bumi ini selalu berpasangan. Begitu juga
dengan qanun, selain memiliki kelebihan, qanun juga memiliki beberapa
kekurangan.
Kelebihan dari qanun adalah sebagai berikut:
1. Seorang hakim tidak perlu bersusah payah lagi untuk mencari ketentuan
hukum persoalan yang diajukan kepadanya dalam berbagai buku fikih
yang ada. Tetapi ia dapat segera menunjuk pada undang-undang yang
sudah tersedia dihadapannya. Dengan begitu, proses penyelesaian
kasusnya diharapkan bisa berjalan lebih cepat dan lebih lancar sesuai
yang diinginkan para pencari keadilan;
2. Tertutup kemungkinan masalah yang sama dan dengan latar belakang
yang sama pula diputuskan dengan hukum yang berbeda-beda, sebab
setiap hakim wajib merujuk kepada qanun yang sama dan dinyatakan
berlak secara nasional oleh penguasa. Artinya, mau tidak mau hukum
yang diundangkan itu akan dipatuhi masyarakat, sebab bila mereka tidak
mematuhinya, niscaya dapat dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan
hukum yang berlaku12.
Sedangkan beberapa kekurangan dari qanun dapat diuraikan sebagai
berikut:
11Mardani, Hukum Islam: Kumpulan Peraturan tentang Hukum Islam di
Indonesia, Prenada Media Group, Jakarta, 2013, hlm. 642
12Ahmad Sukardja dan Mujar Ibnu Syarif, Op.Cit ., hlm. 126

1. Hukum berada pada posisi yang amat tergantung pada penguasa. Artinya,
hukum Islam baru dapat berlaku dalam suatu masyarakat bila sudah
diundangkan oleh penguasa, dan tanpa itu, praktis hukum Islam tidak dapat
diterapkan dalam masyarakat. Padahal, sebelum adanya taqnin, hukum
Islam dapat berlaku, sekalipun tanpa adanya legislasi oleh penguasa. Hal ini
tentu kurang menguntungkan bagi hukum Islam, sebab posisinya menjadi
sedemikian lemah. Dalam arti berlaku atau tidaknya hukum Islam tergantung
pada dukungan penguasa (mulzim bi ghayrih);
2. Akan terjadinya reduksi pemahaman dan persepsi umat Islam mengenai
sesuatu yang disebut sebagai hukum. Sesuatu hanya baru dianggap
sebagai hukum bila sudah diundangkan. Dengan kata lain, hanya hukum
Islam yang termaktub dalam qanun (undang-undang) saja yang dianggap
sebagi hukum. Di luar itu, yang tidak diformat dalam bentuk undang-undang,
tidak dapat dipandang sebagai hukum. Ini jelas merugikan, sebab yang
dimaksud dengan hukum Islam sebenarnya lebih luas dari hanya sekedar
undang-undang sebagaimana dipahami oleh masyarakat yang hidup dengan
budaya taqnin al-ahkam13.

13Ibid, hlm. 126-128

E. Qanun di Dunia Islam


Pembentukan qanun

(undang-undang)

adalah

untuk

kepentingan

masyarakat sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhannya, mendapatkan


kedamaian dan kerukunan di antara masyarakat itu sendiri.
Di dunia Islam, masyarakatnya mengabdi dengan cara-cara Islam, bahkan
tata masyarakatnya pun berdiri atas dasar syariat Islam, dan pandanganpandangan hidupnya kembali pada Islam14.
Secara umum syariat Islam meliputi aspek akidah, ibadah, muamalah, dan
akhlak. Setiap muslim dituntut untuk mentaati keseluruhan aspek tersebut.
Upaya legislasi pelaksanaan syariat Islam bidang akidah, ibadah (sholat dan
puasa Ramadhan) serta syiar Islam bukanlah upaya untuk mengatur substansi
dari akidah dan ibadah. Masalah substansi telah diatur nash dan telah
dikembangkan para ulama dalam berbagai disiplin ilmu keislaman.
Dalam sistem hukum Islam terdapat dua jenis hukuman, yaitu:
1. Hukuman yang bersifat ukhrawi, yang akan diterima di akhirat kelak, dan;
2. Hukuman duniawi yang diterapkan manusia melalui ketetapan eksekutif,
legislatif, dan yudikatif.
Kedua jenis hukuman tersebut mendorong masyarakat untuk patuh pada
ketentuan hukum. Dalam banyak hal penegakan hukum menurut peranan
negara. Hukum tidak mempunyai arti bila tidak ditegakkan oleh negara. Di sisi
lain suatu negara tidak akan tertib bila hukum tidak ditegakkan15.

14Abd. Kadir Audah, Islam dan Perundang-undangan, Cetakan ke-6, PT. Bulan
Bintang, Jakarta, 1984, hlm. 24
15Mardani, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Pustaka
Pelajar, Yogyakarta, 2010, hlm. 221

Dengan demikian upaya legislasi pelaksanaan syariat Islam sebagaimana


diatur dalam Qanun ini adalah dalam upaya membina, menjaga, memelihara dan
melindungi akidah orang Islam di masa kini16.
Terintegrasinya hukum Islam ke dalam hukum nasional disebut transformasi
dari fiqh ke qanun. Ketika sudah mengalami transformasi, fiqh menjadi hukum
yang mengikat, mengatur, dan berdampak sanksi, padahal sebelumnya tidak
demikian.
Transformasi fiqh ke qanun di dalam dunia Islam tampak dalam administrasi
perkawinan, pengelolaan zakat, haji, dan sertifikasi halal makanan dan
minuman17.
Agar lebih mudah, penerapan qanun di dunia Islam dapat dilihat di
Indonesia. Indonesia adalah negara yang mayoritas penduduknya muslim. Ada
kota di Indonesia yang menerapkan qanun, yaitu Aceh. Aceh mengintegrasikan
hukum-hukum Islam ke dalam hukum daerah mereka.
Adanya UU dan qanun tersebut bukan hal yang bagi rakyat Aceh, karena
secara historis memang di daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi
Mekkah itu kehidupan beragama dan nuansa-nuansa Islam sudah begitu kental
dan mengakar dan hukum Islam telah diterapkan sejak masih berbentuk
kerajaan18. Di samping itu, sejarah perjuangan rakyat Aceh membuktikan adanya
16Ibid, hlm. 222
17Dedi Ismatullah, Sejarah Sosial Hukum Islam, CV Pustaka Setia, Bandung,
2011, hlm. 372
18Mardani, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Op.Cit .,
hlm. 216

ketahanan dan daya juang tinggi yang bersumber pada pandangan hidup,
karakter sosial, dan kemasyarakatan yang islami19.
Di Aceh, cita-cita penegakan syariat Islam dengan cakupan yang lebih luas
(dibanding provinsi lain) tampaknya kian mendekati realitas. Dibanding daerahdaerah lain, Aceh tampak lebih progresif dalam upaya membumikan syariat20.
Selain di Aceh, transformasi hukum Islam ke hukum nasional juga tercermin
dari tugas dan wewenang Pengadilan Agama, sesuai dengan pasal 49 UU No. 3
tahun 2006 adalah untuk memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di
tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang:
a. Perkawinan;d.
b. Waris; e.
c. Wasiat;

Hibah;
Zakat;
f. Infaq; dan

g.

Ekonomi Syariah21.

A. Perkawinan
Yang dimaksud dengan perkawinan adalah hal-hal yang diatur
dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang
berlaku yang dilakukan menurut syariah, antara lain:
1. Izin beristeri lebih dari seorang;
2. Izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21
(dua puluh satu) tahun, dalam hal orang tua wali, atau keluarga
3.
4.
5.
6.

dalam garis lurus ada perbedaan pendapat;


Dispensasi kawin;
Pencegahan perkawinan;
Penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah;
Pembatalan perkawinan;

19Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam: Penegakan Syariat Islam


dalam Wacana dan Agenda, Gema Insani Press, Jakarta, 2003, hlm. 106
20Ibid
21Dedi Supriyadi, Sejarah Hukum Islam (Dari Kawasan Jazirah Arab sampai
Indonesia), CV Pustaka Setia, Bandung, 2007, hlm. 352

10

7. Gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan isteri;


8. Perceraian karena talak;
9. Gugatan perceraian;
10. Penyelesaian harta bersama;
11. Penguasaan anak-anak;
12. Ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak
bilamana

bapak

yang

seharusnya

bertanggung

jawab

tidak

mematuhinya;
13. Penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami
kepada bekas isteri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas
isteri;
14. Putusan tentang sah tidaknya seorang anak;
15. Putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua;
16. Pencabutan kekuasaan wali;
17. Penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal
kekuasaan seorang wali dicabut;
18. Penunjukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup
umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya;
19. Pembentukan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang
ada di bawah kekuasaannya;
20. Penetapan asal-usul seorang anak dan penetapan pengangkatan
anak berdasarkan hukum Islam;
21. Putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk
melakukan perkawinan campuran;
22. Pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan
dijalankan menurut peraturan yang lain.
B. Waris
Yang dimaksud dengan waris adalah penentuan siapa yang menjadi
ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian
masing-masing

ahli

waris,

dan

melaksanakan

pembagian

harta

peninggalan tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan

11

seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan


bagian masing-masing ahli waris.
C. Wasiat
Yang dimaksud dengan wasiat adalah perbuatan seseorang
memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/
badan hukum, yang berlaku setelah yang memberi tersebut meninggal
dunia.
D. Hibah
Hibah adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa
imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan
hukum untuk dimiliki.

12

E. Zakat
Zakat adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau
badan hukum yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan
syariah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya.
F. Infaq
Yang dimaksud dengan infaq adalah perbuatan

seseorang

memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi kebutuhan, baik


berupa makanan, minuman, mendermakan, memberikan rezeki (karunia),
atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas,
dan karena Allah Subhanahu Wataala.
G. Ekonomi Syariah
Yang dimaksud dengan ekonomi syariah adalah perbuatan atau
kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syariah, meliputi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Bank syariah;
Asuransi syariah dan reasuransi syariah;
Reksadana syariah;
Obligasi syariah dan surat berharga berjangka menengah syariah;
Sekuritas syariah;
Pembiayaan syariah;
Pegadaian syariah;
Dana pensiun lembaga keuangan syariah;
Bisnis syariah; dan
Lembaga keuangan mikro syariah22.

Keenam hal yang diatur oleh Pengadilan Agama di Indonesia adalah


beberapa perkara Islam yang diintegrasikan ke dalam hukum nasional Indonesia.
Tentunya hal tersebut membuktikan bahwa qanun di dunia Islam kini telah
meresap ke sendi-sendi hukum nasional.

F. Penutup
22Sukris Sarmadi, Perkembangan Terakhir Hukum Islam Di Indonesia,
http://kuliahhukumkeluargaislam12.blogspot.com/2012/03/perkembanganterakhir-hukum-islam-di.html?m=1, diakses tanggal 20 Desember 2013, jam
12.44 WIB

13

Berdasarkan pembahasan tentang qanun yang mencakup definisi, tujuan,


kelebihan dan kekurangan, serta bagaimana qanun di dalam dunia Islam
diharapkan membuka cakrawala pemikiran kita bahwa qanun yang merupakan
undang-undang memiliki tujuan baik yaitu untuk mendatangkan kemakmuran dan
kebaikan serta mengatur masyarakat agar tercipta ketertiban dan perdamaian.
Qanun secara jelas menunjukkan ke dunia bahwa hukum Islam masih eksis
dan bahkan diterapkan di beberapa negara di dunia. Namun beberapa
kekurangan qanun sampai saat ini masih terus diperbaiki agar lebih sempurna ke
depannya dan menjadi pedoman hukum yang lebih baik.

14

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-buku:
Ali, Z., 2008, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Cet. 2,
Sinar Grafika, Jakarta.
Audah, A. K., 1984, Islam dan Perundang-Undangan, Cet. 6, (diterjemahkan
oleh: K.H. Firdaus A.N.), P.T. Bulan Bintang, Jakarta.
Djazuli, H.A., 2005, Ilmu Fiqh: Penggalian, Perkembangan, dan Penerapan
Hukum Islam, Edisi Revisi, Cet. 5, Prenada Media Group, Jakarta.
Imron, A., 2009, Pertanggungjawaban Hukum: Konsep Hukum Islam dan
Relevansinya dengan Cita Hukum Nasional Indonesia, Cet. 1, Walisongo
Press, Semarang.
Ismatullah, D., 2011, Sejarah Sosial Hukum Islam, Cet. 1, CV Pustaka Setia,
Bandung.
Mardani, 2010, Hukum Islam: Pengantar Ilmu Hukum Islam di Indonesia, Cet. 1,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Mardani, 2013, Hukum Islam: Kumpulan Peraturan tentang Hukum Islam di
Indonesia, Cet. 1, Prenada Media Group, Jakarta.
Santoso, T., 2003, Membumikan Hukum Pidana Islam: Penegakan Syariat dalam
Wacana dan Agenda, Cet. 1, Gema Insani Press, Jakarta.
Sukardja, A. dan Mujar Ibnu Syarif, 2012, Tiga Kategori Hukum: Syariat, Fikih, &
Kanun, Cet. 1, Sinar Grafika, Jakarta.
Supriyadi, D., 2007, Sejarah Hukum Islam (Dari Kawasan Jazirah Arab sampai
Indonesia), Cet. 1, CV Pustaka Setia, Bandung.

15

B. Website/Situs Internet:

Anonim, Qanun, http://id.wikipedia.org/wiki/Qanun,


Desember 2013, jam 15.10 WIB.

diakses

tanggal

13

Dr. H. A. Sukris Sarmadi, M.H., Perkembangan Terakhir Hukum Islam Di


Indonesia,
http://kuliahhukumkeluargaislam12.blogspot.com/2012/03/perkembanganterakhir-hukum-islam-di.html?m=1, diakses tanggal 20 Desember 2013,
jam 12.44 WIB.
Ujang
Sutaryat,
Metodologi
Penelitian
Qanun
dan
Sariah,
http://ujeberkarya.blogspot.com/2010/01/metodologi-penelitian-qanun-dansariah.html, diakses tanggal 13 Desember 2013, jam 15.27 WIB.

16

Anda mungkin juga menyukai