Anda di halaman 1dari 5

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No.

1, (2012) 1-5 1
AbstrakGardu Induk memiliki peranan penting dalam
proses transmisi listrik dan proteksi sistem kelistrikan terhadap
gangguan. Kinerja gardu induk (substation) akan mengalami
penurunan kondisi setelah beroperasi dalam jangka waktu
tertentu sehingga berdampak pada kerugian operasional
maupun non-operasional. Pada penelitian ini, dibangun
perangkat lunak dengan pemrograman PHP dan MySQL yang
berisikan informasi berupa database dan modelbase meliputi
fungsi, kegagalan fungsi, bentuk kegagalan, efek kegagalan,
konsekuensi kegagalan, data kerusakan dan teknis dari tiap
peralatan serta komponen pada gardu induk untuk kegiatan
perawatan dengan metode reliability-centered maintenance
(RCM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode RCM
merekomendasikan sebanyak 75 proposed task untuk diterapkan
pada gardu induk. Perangkat lunak yang dibuat dapat
mempermudah pengguna dalam menentukan kegiatan
perawatan gardu induk serta dapat diperbaharui dan diakses
pada cakupan area tertentu.

Kata KunciGardu Induk, Reliability-Centered Maintenance,
Pemrograman PHP dan MySQL, Perawatan Aset
I. PENDAHULUAN
ELIABILITY-centered maintenance (RCM) merupakan
suatu proses yang akhir-akhir ini digunakan untuk
menentukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menjamin
aset dapat berjalan dengan baik sesuai dengan fungsi yang
diinginkan oleh pengguna [1],[2]. Salah satu aset yang
memiliki peranan penting dalam industri listrik adalah gardu
induk. Kegagalan fungsi tiap peralatan dan komponen dapat
mempengaruhi kinerja gardu induk. Untuk mengatasi hal ini,
dibutuhkan strategi perawatan yang baik dengan metode RCM
untuk menjamin gardu induk dapat memenuhi fungsi sesuai
konteks operasinya. Penerapan metode RCM untuk gardu
induk harus didukung dengan dokumentasi proses data yang
terstruktur dikarenakan banyaknya informasi pada RCM dapat
menghambat kegiatan perawatan itu sendiri [2], [3].
Penelitian ini difokuskan untuk analisis secara kualitatif dan
kuantitatif pada peralatan serta komponen gardu induk dengan
menggunakan metode RCM. Analisis kualitatif meliputi
penentuan kegagalan fungsi, bentuk kegagalan, efek
kegagalan, konsekuensi kegagalan dan kegiatan perawatan.
Sedangkan analisis kuantitatif meliputi model keandalan, laju
kerusakan, dan interval perawatan berdasarkan data time-to
failure. Selain itu dibuat perangkat lunak RCM yang dapat
diakses pada cakupan area tertentu.
Bagian berikutnya pada makalah ini menjelaskan tentang
konsep RCM dan dilanjutkan dengan penjelasan tentang
perancangan sistem meliputi deskripsi gardu induk, fault tree
analysis, information dan decision worksheet RCM, penentuan
model distribusi, serta rancangan perangkat lunak itu sendiri
pada bagian berikutnya. Kemudian pada bagian selanjutnya
menjelaskan tentang pengujian sistem perangkat lunak RCM
untuk Gardu Induk Sukolilo Surabaya. Bagian akhir dari
makalah ini berisi kesimpulan dan saran untuk pengembangan
penelitian selanjutnya.
II. RELIABILITY-CENTERED MAINTENANCE
Reliability-centered maintenance pertama kali digunakan
pada tahun 1975 untuk industri pesawat militer di USA.
Seiring dengan dampak-dampak yang ditimbulkan maka pada
tahun 1990 mulai diluncurkan RCM II yang merupakan hasil
proses pengembangan RCM sebelumnya yakni dengan
menambahkan safety dan environtment consequence pada
decision diagram-nya [1]. RCM telah banyak digunakan pada
berbagai sektor industri, mulai dari nuklir hingga listrik [3].
Penentuan strategi perawatan berbasis RCM melalui tujuh
tahapan yang tercakup dalam information dan decision
worksheet, mulai dari pemahaman terhadap fungsi sistem dan
performansi standar yang diharapkan, hingga menentukan
default action yang sesuai apabila alternatif proactive task
yang tersedia tidak efisien dan efektif untuk diaplikasikan
pada sistem [1]-[3]. Berikut tujuh pertanyaan dasar yang
dijadikan tahapan untuk merancang strategi perawatan
berbasis RCM,
1. Apakah fungsi serta standar performansi yang
berkaitan dengan asset dalam konteks operasinya saat
ini? (function)
2. Dalam kondisi seperti apakah asset gagal dalam
memenuhi fungsinya? (functional failure)
3. Apa yang menyebabkan terjadinya kegagalan fungsi
tersebut? (failure modes)
4. Apa yang terjadi pada saat kegagalan tersebut
berlangsung? (failure effect)
5. Bagaimana masalah yang ditimbulkan akibat kegagalan
yang terjadi? (failure consequences)
6. Apa yang dapat dilakukan untuk memprediksi atau
mencegah terjadinya kegagalan fungsi? (proactive task)
7. Apa yang harus dilakukan jika proactive task yang
sesuai tidak dapat diberikan? (default action)
Penerapan RCM merupakan gabungan beberapa metode
Rancang Bangun Perangkat Lunak Reliability-
Centered Maintenance untuk Gardu Induk
Farid Rafli Putra, Nurlita Gamayanti, dan Abdullah Alkaff
Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111
E-mail: lita@ee.its.ac.id
R
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 2-5 2
untuk menganalisa keandalan suatu sistem, diantaranya fault
tree analysis (FTA), failure mode and effect analysis (FMEA),
dan perhitungan secara kuantitatif menggunakan model
distribusi peralatan atau komponen. Untuk menghitung
keandalan suatu sistem atau peralatan, langkah pertama adalah
menentukan model probabilitas yang biasanya dinyatakan
dengan distribusi statistik [4]. Dalam analisis keandalan, ada
beberapa distribusi statistik, dan yang umum dipergunakan,
antara lain distribusi eksponensial dan weibull.
a. Distribusi Eksponensial
Fungsi keandalan untuk distribusi eksponensial
dinyatakan dengan persamaan:

t
e t R

= ) (

(1)
Laju kerusakan (failure rate):

( ) = = t h t) (

(2)
Rata-rata waktu kerusakan (MTTF):

}

= =
0
1
) (

dt t R MTTF

(3)
dengan menyatakan parameter yang menentukan
karakteristik life time dan t menyatakan lama operasi.
b. Distribusi Weibull
Distribusi ini biasa digunakan untuk komponen atau
peralatan elektromekanik dengan fungsi keandalan
dinyatakan dengan persamaan [4]:

|
) ( exp ) ( t t R =

(4)
Laju kerusakan (failure rate) [4]:

( ) ( )
1
) (

= =
|
| t t h t (5)
Rata-rata waktu kerusakan (MTTF) [4]:

|
|
.
|

\
|
+ I = 1
1 1
|
MTTF
(6)
dengan adalah kemiringan (slope) dari fungsi
weibull.
Untuk interval perawatan, secara matematis ditentukan
dengan menggunakan fungsi keandalan dari sistem atau
peralatan. Penentuan interval perawatan dengan nilai
keandalan dan lama operasi yang diinginkan, dinyatakan
dengan persamaan [4]:

( ) (7)
dengan

menyatakan nilai keandalan yang diinginkan, t


lama waktu operasi yang dinginkan, n adalah intensitas
banyaknya kegiatan perawatan yang dilakukan, dan s
menyatakan interval waktu perawatan.
Keberhasilan implementasi RCM akan menyebabkan
peningkatan integritas keselamatan dan lingkungan, efektivitas
biaya, uptime mesin, database yang lengkap, serta
pemahaman yang lebih baik tentang tingkat resiko yang
mungkin muncul [1].
III. PERANCANGAN SISTEM
Bagian ini menjelaskan tentang beberapa tahapan dalam
merancang sistem perangkat lunak sebagai pendukung
penerapan RCM di gardu induk (lihat Gambar 1). Tahap
pertama adalah mengetahui deskripsi dari gardu induk
meliputi fungsi yang ada didalamnya untuk memahami
konteks operasinya. Kemudian dilakukan identifikasi
penyebab tiap kegagalan fungsi yang ada dengan fault tree
analysis. Model fault tree digunakan untuk analisis RCM dan
menentukan kegiatan perawatan dari tiap bentuk kegagalan.
Setelah didapatkan model keandalan dari data kerusakan,
information, dan decision worksheet RCM, dibuatlah suatu
sistem pendukung penerapan RCM untuk gardu induk berupa
perangkat lunak dengan menggunakan bahasa pemrograman
PHP dan MySQL.


Gambar 1. Tahapan merancang sistem perangkat lunak
A. Gardu Induk
Pada penelitian ini, data yang digunakan didapat dari Gardu
Induk Sukolilo Surabaya. Selain untuk menurunkan daya
listrik dan mendistribusikan daya ke beban, gardu induk juga
memiliki fungsi lain yaitu proteksi sistem tenaga listrik dari
gangguan arus dan tegangan berlebih, komunikasi dengan
SCADATEL untuk pemantauan proses dari pusat, serta fungsi
yang berkaitan dengan keselamatan agar sesuai dengan standar
kerja yang telah ditentukan.


Gambar 2. Functional block diagram GI Sukolilo
Guna menunjang peran gardu induk pada sistem kelistrikan
Surabaya, terdapat beberapa peralatan pendukung yang
Deskripsi Fungsi
Aset (Gardu Induk
Sukolilo)
Identifikasi
Penyebab Kegagalan
dengan Metode FTA
Analisis Kualitatif
RCM (Information
and Decision
Worksheet)
Model Keandalan
Peralatan/Komponen
(Weibull ++ 7)
Merancang Perangkat Lunak
RCM (PHP dan MySQL)
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 3-5 3
memiliki fungsi masing-masing. Pada Gambar 2 merupakan
functional block diagram (FBD) yang merepresentasikan
keterkaitan tiap fungsi yang ada serta peralatan-peralatan yang
mempengaruhi kinerja dari masing-masing fungsi.
B. Pemodelan Fault Tree
Terdapat lima fungsi yang dijadikan top event, untuk
kemudian dianalisis dan didapatkan model fault tree-nya.
Pemodelan fault tree ini dilakukan dengan menganalisa
elemen-elemen kritis yang dapat menyebabkan terganggunya
kinerja sistem atau peralatan sehingga tidak terpenuhinya
fungsi dari gardu induk.
Gambar 3 menunjukkan fault tree dari fungsi utama Gardu
Induk Sukolilo, yaitu mentransmisikan tenaga listrik sebesar
20 kV. Fungsi utama dideskripsikan menjadi lima fungsi
pendukung, yaitu menurunkan tegangan 150 kV menjadi 20
kV, membagi beban, proteksi dari gangguan, komunikasi
operasi SCADATEL, dan fungsi untuk keselamatan tentang
kesesuaian standar kerja yang berlaku. Simbol segitiga yang
berisikan angka menunjukkan bahwa penyebab kegagalan tiap
fungsi dianalisis lebih lanjut hingga didapatkan bentuk
kegagalannya. Analisis fault tree dilakukan berdasarkan pada
konteks operasi dan catatan kerusakan sebelumnya serta
observasi secara langsung.


Gambar 3. Model fault tree Gardu Induk Sukolilo
C. Information Worksheet RCM
Worksheet ini digunakan untuk mengidentifikasi bentuk dan
efek kegagalan fungsi Gardu Induk Sukolilo yang terjadi
akibat kerusakan peralatan dan komponen. Biasanya proses ini
disebut juga dengan failure mode and effect analysis (FMEA).
Berdasarkan model fault tree analysis dari lima fungsi yang
dianalisis bentuk dan efek kegagalannya, terdapat 75 bentuk
kegagalan yang memiliki efek masing-masing (lihat Gambar
4). Tiap fungsi dimungkinkan memiliki bentuk kegagalan
yang sama, seperti bentuk kegagalan yang disebabkan oleh
circuit breaker.


Gambar 4. Contoh information worksheet RCM GI Sukolilo
Pada worksheet ini, efek kegagalan yang ditimbulkan tidak
hanya berpengaruh pada operasional dan kerusakan peralatan
lainnya. Terdapat efek non-operasional, keselamatan, dan
lingkungan yang juga diperhatikan. Hasil information
worksheet ini diteruskan untuk dianalisis lebih lanjut guna
mendapatkan strategi perawatan yang baik berdasarkan RCM
decision diagram yang direkam dalam decision worksheet.
D. Decision Worksheet RCM
Worksheet ini digunakan untuk menganalisa konsekuensi
dari masing-masing penyebab kegagalan (failure modes),
untuk mencari jenis kegiatan perawatan (proposed task) yang
layak dan juga keterangan siapa yang bertanggung jawab
dalam melaksanakannya pada kolom can be done by. Pada
tahap ini peneliti akan menentukan konsekuensi meliputi
keselamatan (S), lingkungan (E), operasional (O), dan non-
operasional (N) (lihat Gambar 5). Dalam menentukan
konsekuensi dan kegiatan perawatan yang sesuai, digunakan
RCM decision diagram.


Gambar 5. Contoh decision worksheet RCM GI Sukolilo
Hasil dari analisis ini didapatkan 75 proposed task untuk
lima fungsi Gardu Induk Sukolilo. Rinciannya adalah 5.33%
(4 task) predictive maintenance, 26.67% (20 task) preventive
maintenance, dan 68% (51 task) default action. Pihak-pihak
yang bertanggung jawab dalam proses perawatan hasil analisis
ini adalah electrician, mechanic, instrumentation, operator,
dan supervisor.
E. Penentuan Model Distribusi
Data kerusakan tiap bentuk kegagalan yang didapat, diolah
dengan weibull++7 software versi trial untuk mendapatkan
model distribusinya. Data kerusakan dari suatu komponen
dimasukkan, kemudian keluaran yang dihasilkan adalah
alternatif distribusi berdasarkan urutan ranking, dimana
distribusi dengan urutan ranking terbaiklah yang dipilih.
Selain itu, software ini juga akan memberikan parameter
distribusi yang nantinya dapat digunakan untuk mencari nilai
MTTF dan diolah kembali untuk mendapatkan model
keandalan, laju kerusakannya, dan interval perawatan.
F. Perangkat Lunak RCM Gardu Induk
Sistem perawatan gardu induk dengan menggunakan
metode RCM ini teraplikasikan dalam bentuk perangkat lunak
dan terdiri dari bagian RCM, gardu induk, analisis RCM,
laporan, administrator dan pelengkap. Masing-masing bagian
tentunya memiliki peran dan fungsi serta keterkaitan satu
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 4-5 4
dengan yang lainnya. Khusus untuk bagian analisis RCM
hanya bisa diakses oleh admin dan pengguna yang telah
terdaftar. Proses kerja perangkat lunak secara umum dapat
dilihat pada Gambar 6.

Pemilihan
menu RCM
Proses
pemanggilan data
dengan script PHP
Data tentang RCM
sesuai dengan yang
diinginkan
Data tentang
RCM pada
database SQL

Gambar 6. Proses kerja perangkat lunak RCM secara umum
Perangkat lunak ini bekerja dengan menggunakan database
yang terdapat pada bagian administrator. Bagian ini
merupakan perwujudan dari database MySQL yang ada
sehingga lebih mudah dalam memodifikasinya. Modifikasi
yang bisa dilakukan diantaranya, konten perangkat lunak,
information dan decision worksheet, serta model keandalan
komponen.
Inti dari perangkat lunak ini terletak pada bagian analisis
RCM. Pada bagian ini terdapat analisis kualitatif dan
kuantitatif terhadap suatu kegagalan. Analisis kualitatif,
seperti yang terlihat pada Gambar 7, meliputi hasil dari
information dan decision worksheet RCM yang ada pada
database ketika di-input-kan kegagalan fungsi yang terjadi.

Data information
worksheet RCM
dari database
Kegagalan
fungsi yang
terjadi
Bentuk kegagalan
yang mungkin serta
efeknya
Tindakan yang
dilakukan beserta
penanggung jawab
Data decision
worksheet RCM
dari database
Hasil analisis
kualitatif pada
suatu kegagalan
fungsi
Gambar 7. Proses analisis kualitatif
Analisis kuantitatif meliputi nilai keandalan, laju kerusakan,
MTTF, dan interval perawatan sesuai dengan model
distribusinya. Gambar 8 menunjukkan flow chart analisis
kuantitatif yang ada pada perangkat lunak.

START
Data waktu operasi (t)
Nilai MTTF komponen
Mencari nilai keandalan berdasarkan waktu operasi (R(t))
Mencari laju kerusakan (h(t))
Nilai keandalan yang diinginkan
Ekpektasi waktu operasi yang dinginkan
Mencari jadwal (u) dan banyaknya
interval perawatan (n)
Mendapatkan nilai R(t), h(t), dan jadwal
perawatan dari suatu bentuk kegagalan
STOP

Gambar 8. Flow chart analisis kuantitatif
Hasil analisis kualitatif dan kuantitatif pada bagian analisis
RCM kemudian disimpan pada laporan sebagai history
kerusakan dan perawatan Gardu Induk Sukolilo. Dalam bagian
ini, pengguna dapat mengetahui kerusakan yang sebelumnya
terjadi dan jadwal perawatannya.
IV. PENGUJIAN SISTEM
Pengujian dilakukan dengan memberikan masukan tertentu
pada perangkat lunak, sehingga akan dihasilkan suatu keluaran
tertentu. Keluaran yang dihasilkan dari perangkat lunak akan
dibandingkan dengan RCM worksheet dan dianalisis secara
matematis sehingga dapat diketahui kesesuaiannya.
Pelaksanaan pengujian dilaksanakan dalam kondisi sistem
telah terintegrasi secara keseluruhan.
Contoh kasus ketika terjadi kegagalan pada fungsi
menurunkan tegangan 150 kV menjadi 20 kV dan bentuk
kegagalannya adalah high pressure tank circuit breaker (CB)
yang rusak. Pada Gambar 9, perangkat lunak akan
menampilkan hasil analisis kualitatif yang sesuai dengan
worksheet RCM.



Gambar 9. Hasil analisis kualitatif untuk kegagalan high pressure tank CB
Untuk analisis kuantitatif lama operasi dihitung dari waktu
saat kerusakan dikurangi dengan waktu awal operasi high
pressure tank CB. Interval perawatan dihitung dengan
memisalkan waktu operasi yang diinginkan 1200 hari dengan
nilai keandalan yang diinginkan 0.88 sehingga hasilnya dapat
dilihat pada Gambar 10.


Gambar 10. Hasil analisis kuantitatif perangkat lunak untuk kegagalan high
pressure tank CB
JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2012) 5-5 5
Perhitungan yang didapat sesuai dengan perhitungan
manual secara matematis dari model keandalan dan laju
kerusakan high pressure tank CB seperti yang terlihat pada
Tabel 1 dengan waktu operasi (t) = 516 hari.
Tabel 1
Hasil perhitungan kegagalan high pressure tank CB
Model
Hasil
perhitungan
= exp0.0021t
2.8
0.28590857
= 0.0058(0.0021t)
1.8
0.0006701811/hari

() =
1200/
1200 (1200/) 0.88
u=94 hari dan
n=12 kali
Data kerusakan terbaru, yaitu 516 hari pada contoh kasus
untuk high pressure tank CB, direkap dalam data kerusakan
dan dapat dilihat grafiknya pada bagian laporan.
V. KESIMPULAN
RCM dapat mempertahankan performa aset dan
mengurangi resiko kegagalan serta konsekuensi terhadap
operasional, non-operasional, keselamatan, dan lingkungan.
Sistem perangkat lunak ini dapat mempermudah pengguna
dalam menentukan kegiatan perawatan dan membantu
karyawan atau operator baru dalam memahami serta
menjalankan kegiatan perawatan dengan adanya catatan
tentang tindakan yang dilakukan dan data history-nya.
Perangkat lunak ini dapat dikembangkan dengan data
kerusakan yang lebih lengkap dan memperhitungkan biaya
operasional yang ada. Pengembangan juga dapat dilakukan
dengan menerapkan perangkat lunak RCM ini untuk aset
industri lainnya.
LAMPIRAN

Gambar 11. Tampilan log in administrator



Gambar 12. Halaman depan perangkat lunak


Gambar 13. Bagian administrator
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada orang tua yang selalu memberikan doa
serta dukungan tulus tiada henti, Bapak Prof. Ir. Abdullah
Alkaff, M. Sc., Ph.D., dan Ibu Nurlita Gamayanti, S.T., M.T.,
atas segala bimbingan ilmu, moral, dan spiritual dari awal
hingga terselesaikannya penelitian ini. Semoga penelitian ini
dapat bermanfaat untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan
solusi bagi permasalahan yang ada di industri.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Moubray, John, Reliability-Centered Maintenance II, Industrial Press
Inc., New York, 1997.
[2] Siqueira, Iony P., Software Requirements for Reliability-Centered
Maintenance Application, Proceeding of International Conference on
Probabilistic Methods Applied to Power Systems, KTH, Stockholm,
Sweden, June, 2006.
[3] Carretero, J., Study of Existing Reliability-Centered Maintenance
Approaches Used in Different Industries, Universidad Politecnica de
Madrid, Madrid, 2000.
[4] Alkaff, Abdullah, Teknik Keandalan dan Keselamatan Sistem, Jurusan
Teknik Elektro FTI-ITS, Surabaya, 1992.