Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KASUS

A HANAFIE
DEPARTEMEN/SMF- ANESTESIOLOGI DAN REANIMASI FK USU/RSUP H ADAM MALIK MEDAN

KONSUL MRS 9-2-08 JAM 12.45 WIB


ANESTESI UNTUK SC CITO

14-2-08 JAM 01.45 WIB


INSISI
01.55 BAYI LAHIR

14-2-08
JAM 01.15

02.45 WIB OPERASI SELESAI PACU

WIB

Seorang perempuan, 40 tahun, BB 70 kg, G4P2A1 36-38 minggu datang ke RS Adam Malik Medan dengan keluhan sakit mau melahirkan, sakit kepala, nyeri ulu hati dan pandangan kabur, Riwayat ANC (+) ke bidan Riwayat persalinan 1 dan 2 normal, ditolong bidan, hamil ke 3 abortus (penyebab ?) RPT tidak jelas RPO tidak jelas

PEMERIKSAAN FISIK
B1 B2 B3 B4 B5 B6 : RR 20 x/i, SP ves/ves, ST -/: A: H/M/K, N 124 x/i, t/v cukup, TD 160/100 mmHg, EKG sinus takikardi : Sens CM, kejang (-), sakit kepala (+), pandangan kabur (+), RC +/+, pupil bulat isokor, 3/3 mm : urin (+), vol 100 mL/3 jam, pekat, warna kuning kecoklatan : perut membesar, DJJ (+), 148 x/i, MMT 6 jam yang lalu, : oedem (+) pre tibial,

Hb/Ht/L/T Proteinuri

15,7 gr%/47,3%/14,3 K/uL/85 K/uL (+3)

Ureum 40 mg/dL Serum Creatinin 0,63 mg/dL Na/K/Cl 147/4,2/105 mEq/L

SGOT/SGPT LDH KGD ad random


Bilirubin Total PT aPTT TT

1386 u/L/105 u/L 750 u/L 103 md/dL


3,0 mg/dL 13(C:13,5) 31(C:32,6) 13 (C:12,6)

Nifedipine 10 mg/SL, Magnesium Sulfat 20% bolus 20 mL (4 gr)/IV. Magnesium Sulfat 40% 15 ml (6 gr) drips 14 tts/mnt Dexametason 4 mg/6 jam

Setelah 4 jam pemberian MgSO4 dan Nifedipin: denyut nadi 104 x/menit tekanan darah 160/100 mmHg urin output 300 ml/4 jam

Diberikan kembali :
Nifedipin 10 mg/SL

Hasil :
TD Nadi 140/90 mmHg 98x/mnt

Persiapan Ibu/janin :
O2 2L/I IVFD HES 6% 500 mL IVFD RL 14 gtt/m (MgSO4 40%) Puasa, Antasida MgTrisilikat (Gelusil) 30 mL Left lateral tilt position (bokong kanan diganjal) Monitoring DJJ

Obat Obat Obat

dan alat anestesi

emergensi
dan alat resusitasi untuk infus

bayi
Cairan

Regional

Anestesi :

Epidural anestesi Sub Arachnoid block

Teknik anestesi sub-arachnoid blok dengan bupivacaine 15 mg

Co-load : koloid HES 500 mL

Lama operasi 1 jam Incision delivery time 10 menit jumlah perdarahan 400 mL Jumlah penguapan 8x60= 480 mL Input RL 500 mL RR spontan 20-24 x/i TD 120-160/80-100 mmHg, N 90-110 x/i, Urine out put 100 mL, Lahir bayi pr, 2400 gram, AS 1/5 : 6/9 Rawat Perinatologi

B1 B2 B3
B4 B5 B6

: RR 20 x/i, SP ves/ves, ST -/: A: H/M/K, N 96 x/i, t/v cukup, TD 150/90 mmHg : Sens CM, kejang (-), sakit kepala (-), pandangan kabur (-), RC +/+, pupil bulat isokor, 3/3 mm : urin (+), vol 100 mL/jam, warna kuning kecoklatan : peristaltik (+) N : oedem (+) pre tibial,

O2 2L/i IVFD RL 500 mL+ MgSO4 40% 15 mL (6 gr) 14 gtt/m IVFD RL 500 mL + Sintocynon 10 iu 10 gtt/m Diet MSS Cefotaxim 1 gr/8 jam/iv Deksamethason 4 mg/6 jam/iv Morfin 1 mg/jam (syringe pump) Omeprazole 10 mg/hari/iv

B1 B2 B3
B4 B5 B6

: RR 18 x/i, SP ves/ves, ST -/: A: H/M/K, N 96 x/i, t/v cukup, TD 150/90 mmHg, CVP 14 cmH2O : Sens CM, kejang (-), sakit kepala (-), pandangan kabur (-), RC +/+, pupil bulat isokor, 3/3 mm : urin (+), vol 100 mL/jam, warna kuning kecoklatan : peristaltik (+) N : oedem (+) pre tibial,

O2 2L/i IVFD RL 500 mL+ MgSO4 40% 15 mL (6 gr) 14 gtt/m IVFD RL 500 mL + Sintocynon 10 iu 10 gtt/m Diet MB Cefotaxim 1 gr/8 jam/iv Deksamethason 4 mg/6 jam/iv Morfin 1 mg/jam (syringe pump) Omeprazole 10 mg/hari/iv

B1 B2 B3
B4 B5 B6

: RR 16 x/i, SP ves/ves, ST -/: A: H/M/K, N 96 x/i, t/v cukup, TD 150/90 mmHg, CVP 16 cmH2O : Sens CM, kejang (-), sakit kepala (-), pandangan kabur (-), RC +/+, pupil bulat isokor, 3/3 mm : urin (+), vol 100 mL/jam, warna kuning jernih : peristaltik (+) N : oedem (-) pre tibial,

IVFD RL s/s D5 10 gtt/m Diet MB Cefotaxim 1 gr/8 jam/iv Deksamethason 4 mg/6 jam/iv Tramadol 100 mg/8 jam/iv Furosemide 20 mg/8 jam/iv Omeprazole 10 mg/hari/iv

Pasien pindah ke ruangan Obgin

Sebagaimana kasus preeklamsi berat, sindroma HELLP bayi harus segera dilahirkan

pada

Namun demikian morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi masih cukup tinggi Pemilihan regional anestesi pada sindroma HELLP masih kontroversi, terutama pada keadaan adanya trombositopenia Trombosit > 100 K/uL dianggap batas yang aman untuk tindakan regional anestesia

Mortalitas ibu pada sindroma HELLP dilaporkan berkisar antara 1,1% dan 24,2%.

Hal ini berhubungan dengan trombositopenia (< 50 K/uL), pada diagnosis terlambat sudah terjadi perdarahan di hepar atau intrakranial atau gangguan vaskular yang mengakibatkan gangguan sistem kardiopulmoner dan renal.

Komplikasi signifikan dari sindroma HELLP adalah acute renal failure (35%). Angka mortalitas dari pasien sindroma HELLP yang mengalami acute renal failure bervariasi, karena beberapa pasien mengalami reversible acute renal failure.

Pada keadaan acute renal failure pemasangan kanulasi vena sentral harus dilakukan untuk mengatur balans cairan

Vigi P dkk melakukan penelitian retrospektif terhadap 75 pasien sindroma HELLP dengan jumlah trombosit 19.000-143.000/mm3
58% anastesia epidural 9% anastesia umum 4% anastesia spinal 7% pasien menerima transfusi trombosit sebelum anastesia neuroaksial

Tidak dijumpai komplikasi maupun hematologik pada anastesi neuroaksial

neurologik kelompok

Tompkins MJ dkk menemukan 5 kasus komplikasi dari 43 pasien yang mendapat anastesi umum sedangkan pada 51 pasien yang mendapat anastesi epidural hanya terdapat satu kasus komplikasi

Komplikasi mayoritas pada anastesi umum: hipotensi, edema pulmonum, hipoksia ibu dan komplikasi pernafasan. Terjadi hipotensi ibu setelah penempatan anastesi epidural ada pada 1 kasus, namun tidak dijumpai hematom, perdarahan maupun abses pada tempat penusukan. Walaupun jumlah trombosit kurang, waktu perdarahan, waktu protrombin dan waktu tromboplastin parsial normal pada pasien ini.

Komplikasi sistem saraf pusat (eklamsi), lebih sering terjadi pada sindroma HELLP dibandingkan dengan preeklamsi berat. Eklamsi yang terjadi bersamaan dengan sindroma HELLP mempunyai mortalitas yang tinggi.

Prognosis ibu dengan eklamsi dan sindroma HELLP lebih buruk dibandingkan dengan ibu yang hanya dengan eklamsi. Komplikasi hepatic pada sindroma HELLP termasuk subkapsular hematom, massive liver necrosis dan liver rupture.

Weinstein L. Syndrome of haemolysis, elevated liver enzyme, low platelet count: a severe consequences of hypertension in pregnancy. Am J Obstect Gynecol 1982; 142 : 159-167. Sibai BM, The HELLP Syndrome (Haemolysis, Elevated Liver Enzyme, Low Platelet): much a do about nothing? Am J Obstect Gynecol 1990; 162 : 311-6. Poldre PA. Haptoglobin helps diagnose the HELLP syndrome. Am J Obstect Gynecol 1987; 157: 1267. Crosby, Edward T. Obstetrical anaesthesia for a parturient with preeclampsia, HELLP syndrome and acute cortical blindness. Can J Anaesth 1998; 45 : 452-459. P. C. A. Kam et al. Thrombocytopenia in the parturient. Anaesthesia 2004; 59 : 255264.

TERIMA KASIH

Hemolysis

Abnormal peripherical blood smear Elevated Bilirubin >1.2 mg/dl

Elevated liver enzymes


SGOT >72 UI / L LDH >600 UI / L

Low Platelets

Platelet Count < 100 103 /mm3

1. ANTISIPASI PADA KASUS PREEKLAMSI 2. EVALUASI KONDISI IBU 3. EVALUASI KONDISI JANIN 4. KONTROL HIPERTENSI 5. PROFILAKSIS KEJANG DENGAN MgSO4 6. KESEIMBANGAN AIR DAN ELEKTROLIT 7. HEMOTERAPI 8. MANAJEMEN PERSALINAN 9. PERAWATAN PERINATAL YANG OPTIMAL 10. PERAWATAN INTENSIF PASIEN POSTPARTUM 11. WASPADAI KEGAGALAN ORGAN MULTIPEL 12. SARAN UNTUK KEHAMILAN SELANJUTNYA

WEINSTEIN(1982)

HELLP

HEMOLYSIS

EL

ELEVATED LIVER ENZYMES

LP

LOW PLATELETS

HELLP syndrome : kelainan pada ibu hamil yang merupakan komplikasi dari Preeklampsi berat. Insiden diantara kasus preeklamsi: 4-12%. Nyeri abdominal dan gejala gastrointestinal atas seperti mual dan muntah sering dijumpai dan oleh karena itu diagnosis sering terlambat.

Morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal meningkat dengan adanya HELLP syndrome.
Sectio caesarea dilakukan emergensi untuk menghalangi proses HELLP syndrome-nya berlanjut.

Ibu dengan HELLP syndrome mempunyai resiko acute renal failure, gangguan paru, abruption plasenta dan rupture hepar sehingga memperberat keadaan ibu.

Istilah sindroma HELLP diperkenalkan pertama kali oleh Weinstein pada tahun 1982 untuk menggambarkan suatu sindrom yang terdiri dari hemolisis, peningkatan fungsi hati dan trombositopenia
Menurut Sibai angka kejadian sindroma HELLP berkisar antara 4-14% dari seluruh penderita PE berat.

Keluhan : sakit kepala, nyeri ulu hati, mual disertai dengan muntah, malaise, gangguan penglihatan dan perdarahan Tanda klinis : hipertensi, proteinuria, edema, ikterus Pemeriksaan laboratorium pada sindroma HELLP mutlak diperlukan sebab diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil laboratorium

Hemolisis pada gambaran darah tepi: terlihat spherocytes, schistocytes, triangular dan Burr cell. Kerusakan eritrosit menyebabkan hemoglobin terlepas dan kemudian terikat dengan haptoglobin kompleks hemoglobin-haptoglobin akan dimetabolisme di hepar dengan cepat. Konsentrasi haptoglobin serum menurun (< 0,7 mg/mL).

Hemolisis

peningkatan kadar bilirubin darah (> 1,2 mg/dL)

Hemolisis intravascular sumsum tulang merespon dengan mengaktifkan proses eritropoesis, beredarnya sel darah merah yang imatur.

Sel darah merah imatur mudah mengalami destruksi dan mengeluarkan isoenzim eritrosit
Isoenzim akan terikat Dehydrogenase (LDH) dengan plasma Lactic Kadar LDH tinggi

Amino transferase serum meningkat pada kerusakan sel hati. Kadar SGOT > SGPT pada sindroma HELLP. Peningkatan ini menunjukkan fase akut dan progresifitas dari sindroma ini.

Trombositopenia juga terjadi pada sindroma HELLP, disebabkan oleh peningkatan konsumsi dan destruksi fibrin.