Anda di halaman 1dari 27

Materi tata laksana perikanan bertanggun jawab

Ahli K3 Umum Basic Safety Training K3 by M.Rahmat Efendi Tamuru on October 22, 2012 at 7:33 am 3 comments Pendahuluan Setiap perusahaan dalam bisnis bertujuan untuk membuat keuntungan, termasuk dengan memastikan bahwa seluruh tenaga kerja terlatih dalam konsep keselamatan dasar agar mereka dapat memaksimalkan keuntungan tersebut. Kursus ini bertujuan untuk membantu membangun budaya keselamatan awal di masing-masing delegasi yang tidak hanya berlaku di tempat kerja, tapi juga sepanjang hari [...]

ISO 26000 ISO 26000 Yang penting

by M.Rahmat Efendi Tamuru on June 4, 2011 at 6:26 am 0 comments Halaman ini memberikan pemahaman dasar dari Standar Internasional sukarela, ISO 26000:2010, Panduan untuk tanggung jawab sosial. Ini bertujuan untuk menjadi langkah pertama dalam membantu semua jenis organisasi baik di sektor publik dan swasta untuk mempertimbangkan untuk menerapkan ISO 26000 sebagai cara untuk mencapai keuntungan beroperasi secara sosial bertanggung jawab. Mengapa [...]

Ahli K3 Umum / Industri / Industrial company / Training Training Untuk Gas Tester by M.Rahmat Efendi Tamuru on February 24, 2011 at 11:04 am 1 comment Training pengajaran GSI & Gas Tester ini dirancang untuk menjamin dan memberikan bekal pengetahuan dan kemampuan bagi karyawan karyawan yang ditunjuk untuk menguasai GSI atau Gas tester bagi perusahaan tempat ia kerja,dalam hal ini karyawan di tuntut untuk menguasai dan mampu menguasai safety precaution yang merupakan tindakan untuk menjamin keselamatan [...]

ISO 9001

Apakah ISO 9001 2008? by M.Rahmat Efendi Tamuru on February 17, 2011 at 11:58 am 0 comments ISO 9001 adalah standar internasional manajemen mutu diterapkan untuk setiap organisasi dalam setiap sektor atau kegiatan. Didasarkan pada delapan prinsip manajemen mutu yang merupakan dasar untuk tata kelola perusahaan yang baik. * Fokus pada pelanggan. * Kepemimpinan. * Partisipasi staf. * Pendekatan Proses. * Sistem pendekatan manajemen. * perbaikan terus [...]

Ahli K3 Umum / Industri / Industrial company / Training Sertifikasi dan Fungsi Training Overhead Crane Operator by M.Rahmat Efendi Tamuru on February 26, 2011 at 5:16 am 2 comments Pada Peraturan Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI NO. Per.01/MEN/1989 Tealah di tetapkan tentang persyaratan menjadi Crane crane overhead (hoist crane). Masing-masing Overhead Crane harus memiliki sertifikat yang diperoleh melalui pelatihan. Operator yang memiliki sertifikat memegang peran penting dalam mencegah kemungkinan kecelakaan dalam pengoprasian Overhead Crane, karena operator mengetahui dan memahami [...]

ISO 31000

Fungsi Pembentukan / Rancangan ISO 31000 by M.Rahmat Efendi Tamuru on June 13, 2011 at 8:23 pm 1 comment ISO 31000 dirancang untuk membantu organisasi: Meningkatkan kemungkinan untuk mencapai tujuan Mendorong manajemen proaktif Menyadari kebutuhan untuk mengidentifikasi dan mengobati resiko di seluruh organisasi Meningkatkan identifikasi peluang dan ancaman Mematuhi persyaratan hukum dan peraturan yang relevan dan norma-norma internasional Meningkatkan pelaporan keuangan Meningkatkan tata kelola Meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan dan [...]

Info Pelatihan / NEBOSH Training Sertifikat NEBOSH Umum Nasional Keselamatan dan Kesehatan (NGC) by M.Rahmat Efendi Tamuru on January 30, 2011 at 8:01 am 4 comments Apa saja yang termasuk dalam harga? * Semua program studi NEBOSH materi online * Gratis dukungan online * Dukungan Gratis telepon * Free support 24 Bulan Informasi tentang kualifikasi NGC The NEBOSH Umum Nasional Sertifikat didirikan sebagai pemimpin dalam premium kesehatan dan keselamatan yang dimiliki oleh lebih dari 100.000 orang. [...]

Ahli K3 Umum / Industri / Training

Tata laksana perikanan yang bertanggung jawab Tata laksana perikanan yang bertanggung jawab (CCRF) adalah salah satu kesepakatan dalam konferensi Committee on Fisheries (COFI) ke 28 FAO di Roma pada tanggal 31 Oktober 1995, yang tercantum dalam resolusi nomor 4 / 1995 yang secara resmi mengadopsi dokumen code of conduct for responsible fisheries. Resolusi yang sama juga meminta pada Fao berkolaborasi dengan anggota dan organisasi yang relevan untuk menyusun technical guidelines yang mendukung pelaksanaan dari code of conduct for responsible fiheries tersebut. Tata laksana ini menjadi asas dan standar internasional mengenai pola perilaku bagi praktek yang bertanggung jawab, dalam pengusahaan sumberdaya perikanan dengan maksud untuk menjamin terlaksananya aspek konservasi, pengelolaan dan pengembangan efektif sumberdaya hayati akuatik berkenaan dengan pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati. Tata laksana ini mengakui arti penting aspek gizi, ekonomi, social, lingkungan dan budaya yang menyangkut kegiatan perikanan dan terkait dengan semua pihak yang berkepentingan yang peduli terhadap sector perikanan. Tata laksana ini memperhatikan karakteristik biologi sumberdaya perikanan yang terkait dengan lingkungan / habitatnya serta menjaga terwujudnya secara adil dan berkelanjutan kepentingan para konsumen maupun pengguna hasil pengusahaan perikanan lainnya. Pelaksanaan konvensi ini bersifat sukarela. Namun beberapa bagian dari pola perilaku tersebut disusun dengan merujuk pada UNCLOS 1982. Standar pola perilaku tersebut juga memuat beberapa ketentuan yang mungkin atau bahkan sudah memberikan efek mengikat berdasarkan instrument hukum lainnya diantara peserta, seperti pada agreement promote compliance with international conservation and management measures by fishing vessels on the high seas (compliance agreement 1993). Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF) Tata Laksana Perikanan Yang Bertanggung Jawab Code Of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF) adalah salah satu kesepakatan dalam konferensi Committee on Fisheries (COFI) ke-28 FAO di Roma pada tanggal 31 Oktober 1995, yang tercantum dalam resolusi Nomor: 4/1995 yang secara resmi mengadopsi dokumen Code of Conduct for Responsible Fisheries. Resolusi yang sama juga meminta pada FAO berkolaborasi dengan anggota dan organisasi yang relevan untuk menyusun technical guidelines yang mendukung pelaksanaan dari Code of Conduct for Responsible Fisheries tersebut. Tatalaksana ini menjadi asas dan standar internasional mengenai pola perilaku bagi praktek yang bertanggung jawab, dalam pengusahaan sumberdaya perikanan dengan maksud untuk menjamin terlaksananya aspek konservasi, pengelolaan dan pengembangan efektif sumberdaya hayati akuatik berkenaan dengan pelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati. Tatalaksana ini mengakui arti penting aspek gizi, ekonomi, sosial, lingkungan dan budaya yang menyangkut kegiatan perikanan dan terkait dengan semua pihak yang berkepertingan yang peduli terhadap sektor perikanan. Tatalaksana ini memperhatikan karakteristik biologi sumberdaya perikanan yang terkait dengan

lingkungan/habitatnya serta menjaga terwujudnya secara adil dan berkelanjutan kepentingan para konsumen maupun pengguna hasil pengusahaan perikanan lainnya. Pelaksanaan konvensi ini bersifat sukarela. Namun beberapa bagian dari pola perilaku tersebut disusun dengan merujuk pada UNCLOS 1982. Standar pola perilaku tersebut juga memuat beberapa ketentuan yang mungkin atau bahkan sudah memberikan efek mengikat berdasarkan instrumen hukum lainnya di antara peserta, seperti pada "Agreement to Promote Compliance with International Conservation and Management Measures by Fishing Vessels on the High Seas (Compliance Agreement 1993J'. Oleh sebab itu negaranegara dan semua yang terlibat dalam pengusahaan perikanan didorong untuk memberlakukan Tatalaksana ini dan mulai menerapkannya. Latar belakang Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF), 1. Keprihatinan para pakar perikanan dunia terhadap semakin tidak terkendali, mengancam sumberdaya ikan. 2. Issue Lingkungan 3. Illegal, Unreported dan Unregulated (IUU) Fishing. 4. Ikan sebagai sumber pangan bagi penduduk dunia. 5. Pengelolaan sumberdaya ikan tidak berbasis masyarakat. 6. Pengelolaan Sumberdaya ikan dan lingkungannya yang tidak mencakup konservasi. 7. Didukung oleh berbagai konferensi Internasional mengenai perikanan berusaha untuk mewujudkan Keprihatinan tersebut, Tujuan Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) 1. Menetapkan azas sesuai dengan hukum (adat, nasional, dan international), bagi penangkapan ikan dan kegiatan perikanan yang bertanggung jawab. 2. Menetapkan azas dan kriteria kebijakan, 3. Bersifat sebagai rujukan (himbauan), 4. Menjadiakan tuntunan dalam setiap menghadapi permasalahan, 5. Memberi kemudahan dalam kerjasama teknis dan pembiayaan, 6. Meningkatkan kontribusi pangan, 7. Meningkatkan upaya perlindungan sumberdaya ikan, 8. Menggalakan bisnis Perikanan sesuai dengan hukum 9. Memajukan penelitian, Enam (6) Topik yang diatur dalam Tatalaksana ini adalah 1. Pengelolaan Perikanan; 2. Operasi Penangkapan; 3. Pengembangan Akuakultur; 4. Integrasi Perikanan ke Dalam Pengelolaan Kawasan Pesisir; 5. Penanganan Pasca Panen dan Perdagangan 6. Penelitian Perikanan.

Prinsip-prinsip Umum Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) 1. Pelaksanaan hak untuk menangkap ikan bersamaan dengan kewajiban untuk hak tersebut secara berkelanjutan dan lestari agar dapat menjamin keberhasilan upaya konservasi dan pengelolaannya; 2. Pengelolaan sumber-sumber perikanan harus menggalakkan upaya untuk mempertahankan kualitas, keanekaragaman hayati, dan ketersediaan sumbersumber perikanan dalam jumlah yang mencukupi untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang; 3. Pengembangan armada perikanan harus mempertimbangkan ketersediaan sumberdaya sesuai dengan kemampuan reproduksi demi keberlanjutan pemanfaatannya; 4. Perumusan kebijakan dalam pengelolaan perikanan harus didasarkan pada buktibukti ilmiah yang terbaik, dengan memperhatikan pengetahuan tradisional tentang pengelolaan sumber-sumber perikanan serta habitatnya; 5. Dalam rangka konservasi dan pengelolaan sumber-sumber perikanan, setiap negara dan organisasi perikanan regional harus menerapkan prinsip kehati-hatian (precautionary approach) seluas-luasnya; 6. Alat-alat penangkapan harus dikembangkan sedemikian rupa agar semakin selektif dan aman terhadap kelestarian lingkungan hidup sehingga dapat mempertahankan keanekaragaman jenis dan populasinya; 7. Cara penangkapan ikan, penanganan, pemrosesan, dan pendistribusiannya harus dilakukan sedemikian rupa agar dapat mempertahankan nilai kandungan nutrisinya; 8. Habitat sumber-sumber perikanan yang kritis sedapat mungkin harus dilindungi dan direhabilitasi; 9. Setiap negara harus mengintegrasikan pengelolaan sumber-sumber perikanannya kedalam kebijakan pengelolaan wilayah pesisir; 10. Setiap negara harus mentaati dan melaksanakan mekanisme Monitoring, Controlling and Surveillance (MCS) yang diarahkan pada penataan dan penegakan hukum di bidang konservasi sumber-sumber perikanan; 11. Negara bendera harus mampu melaksanakan pengendalian secara efektif terhadap kapal-kapal perikanan yang mengibarkan benderanya guna menjamin pelaksanaan tata laksana ini secara efektif; 12. Setiap negara harus bekerjasama melalui organisasi regional untuk mengembangkan cara penangkapan ikan secara bertanggungjawab, baik di dalam maupun di luar wilayah yurisdiksinya; 13. Setiap negara harus mengembangkan mekanisme pengambilan keputusan secara transparan dengan melibatkan semua pihak yang berkepentingan terhadap pengembangan peraturan dan kebijakan pengelolaan di bidang perikanan; 14. Perdagangan perikanan harus diselenggarakan sesuai dengan prinsip-prinsip, hak, dan kewajiban sebagaimana diatur dalam persetujuan World Trade Organization (WT-0); 15. Apabila terjadi sengketa, setiap negara harus bekerjasama secara damai untuk mencapai penyelesaian sementara sesuai dengan persetujuan internasional yang relevan; 16. Setiap negara harus mengembangkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi melalui pendidikan dan latihan, serta melibatkan mereka di dalam

proses pengambilan keputusan; 17. Setiap negara harus menjamin bahwa segala fasilitas dan peralatan perikanan serta lingkungan kerjanya memenuhi standar keselamatan internasional; 18. Setiap negara harus memberikan perlindungan terhadap lahan kehidupan nelayan kecil dengan mengingat kontribusinya yang besar terhadap penyediaan kesempatan kerja, sumber penghasilan, dan keamanan pangan; 19. Setiap negara harus mempertimbangkan pengembangan budidaya perikanan untuk menciptakan keragaman sumber penghasilan dan bahan makanan. Sasaran-Sasaran Penting Implementasi Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) di Indonesia 1. Fisheries management (pengelolaan perikanan) Memperhatikan prinsip kehati-hatian (precautionary approach) dalam merencanakan pemanfaatan sumberdaya ikan. Menetapkan kerangka hukum kebijakan. Menghindari Ghost Fishing atau tertangkapnya ikan oleh alat tangkap yang terbuang / terlantar. Mengembangkan kerjasama pengelolaan, tukar menukar informasi antar instansi dan Negara. Memperhatikan kelestarian lingkungan. 2. Fishing operations (Operasi Penangkapan). Penanganan over fishing atau penangkapan ikan berlebih. Pengaturan sistem perijinan penangkapan. Membangun sistem Monitoring Controlling Surveillance (MCS). 3. Aquaculture development (Pembangunan Akuakultur) Menetapkan strategi dan rencana pengembangan budidaya . Melindungi ekosistem akuatik. Menjamin keamanan produk budidaya. 4.Integration of fisheries into coastal area management (Integrasi Perikanan ke dalam pengelolaan kawasan pesisir) Mengembangkan penelitian dan pengkajian sumberdaya ikan di kawasan pesisir beserta tingkat pemanfaatannya. 5. Post-harvest practices and trade (Penanganan Pasca Panen dan Perdagangan). Bekerjasama untuk harmonisasi dalam program sanitasi, prosedur sertitikasi dan lembaga sertifikasi. Mengembangkan produk value added atau produk yang bernilai tambah. Mengembangkan perdagangan produk perikanan. Memperhatikan dampak lingkungan kegiatan pasca panen. 6. Fisheries research (Penelitian Perikanan)

Pengembangan penelitian. Pengembangan pusat data hasil penelitian. Aliansi kelembagaan internasional. Kewajiban Mengikuti Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) 1. Semua Negara yang memanfaatkan sumberdya ikan dan lingkungannya. 2. Semua Pelaku Perikanan (baik penangkap dan prosesing). 3. Pelabuhan-Pelabuhan Perikanan (kontruksi, pelayanan, inspeksi, dan pelaporan); 4. Industri disamping harus menggunakan alat tangkap yang sesuai. 5. Peneliti untuk pengembangan alat tangkap yang selektiv. 6. Observer program (pendataan diatas kapal). 7. Perikanan rakyat, perlu mengantisipasi dampak terhadap lingkungan dan penggunaan energi yang efisien. Kewajiban Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) Yang Harus Dipenuhi Oleh : 1. NEGARA * Mengambil langkah precautionary (hati-hati) dalam rangka melindungi atau membatasi penangkapan ikan sesuai dengan daya dukung sumber. * Menegakkan mekanisme yang efektif untuk monitoring, control, surveillance dan law enforcement . * Mengambil langkah-langkah konservasi jangka panjang dan pemanfaatan sumberdaya ikan yang lestari. 2. PENGUSAHA * Supaya berperan serta dalam upaya-upaya konservasi, ikut dalam pertemuanpertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi pengelolaan perikanan(misalnya FKPPS). * Ikut serta mensosialisasi dan mempublikasikan langkah-langkah konservasi dan pengelolaan serta menjamin pelaksanaan peraturan. * Membantu mengembangkan kerjasama (lokal, regional) dan koordinasi dalam segala hal yang berkaitan dengan perikanan, misalnya menyediakan kesempatan dan fasilitas diatas kapal untuk para peneliti. 3. NELAYAN * Memenuhi ketentuan pengelolaan sumberdaya ikan secara benar. * Ikut serta mendukung langkah-langkah konservasi dan pengelolaan. * Membantu pengelola dalam mengembangkan kerjasama pengelolaan, dan berkoordinasi dalam segala hal yang berkaitan dengan pengelolaan dan pengembangan perikanan.

Hubungan Bilateral Indonesia Dengan Negara Lain Hubungan bilateral adalah hubungan antar dua negara yang sah berlandaskan kepentingan nasionalnya. Hubungan Indonesia-Australia sudah terjalin sebelum kemerdekaan. Pada masa kolonial (1788 1901), saat Australia masih terjajah oleh Inggris dan Indonesia terjajah oleh Belanda, kedua negara tersebut mulai mengembangkan jalur pelayaran dibawah kepemimpinan Inggris dan Belanda.Dalam bidang ekonomi, Australia adalah negara dengan perekonomian terbaik di dunia. Begitu pula Australia menganggap bahwa wilayah Indonesia merupakan wilayah yang strategis dan sebagai mitra perekonomian yang penting. Hubungan mesra perekonomian Indonesia-Australia terlihat saat krisis 1997 yang menerka Indonesia. Hal ini merupakan faktor utama Indonesia mengadakan hubungan dengan Australia yang memiliki perekonomian terbaik di dunia. Sejak itulah Australia menanamkan investasi kepada Indonesia dan menjadi mitra bisnisnya. Hubungan keduanya berpengaruh sangat baik bagi ekonomi Indonesia. Tingkat inflasi menurun drastis, nilai tukar terhadap US$ menjadi stabil, dan devisa meningkat. Meningkatnya perekonomian Indonesia dan Australia juga bersumber dari bidang pariwisata. Ketertarikan wisatawan Indonesia terhadap Australia dan begitu pula sebaliknya juga berpengaruh pada hubungan kedua negara. Pada tahun 1989, Indonesia-Australia mendirikan suatu lembaga untuk mengembangkan kestabilan hubungan, memberikan informasi serta mengembangkan peluang kerjasama ekonomi antar keduanya. Australia merupakan negara kelima terbesar sebagai pemberi donor kepada Indonesia untuk menangani kasus kemiskinan, kesehatan dan keuangan negara. Hubungan keduanya tidak terlepas dari kepentingan nasionalnya masing-masing. Keduanya merupakan mitra yang saling menguntungkan. Sekarang pun dibawah kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhyono masih meningkatkan hubungan dengan Australia dengan menyepakati kemitraan ekonomi komprehensif guna meningkatkan perekonomian dengan peluang yang lebih besar lagi serta meningkatkan investasi dan perdagangan yang lebih erat, imbang dan saling menguntungkan. CONTOH KERJASAMA BILATERAL INDONESIA DENGAN NEGARA LAIN Kerjasama Indonesia Australia Dari hasil kerjasama dengan Australia ini telah dicapai kesepakatan dan beberapa kerjasama yang cukup menguntungkan kedua belah pihak terutama di sector peternakan. Kerjasama bilateral Indonesia - Australia di bidang Pertanian khususnya sector peternakan telah berlangsung dalam waktu yang lama. Australia telah membantu Indonesia lebih dari 20 tahun untuk memberantas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), dan kini Indonesia termasuk negara yang bebas PMK dan diakui secara internasional. Australia juga telah membantu Indonesia membangun Balai Penelitian Peternakan di Ciawi - Bogor. Kerjasama di bidang pertanian antara Indonesia dan Australia diwadahi dalam suatu Working Group yaitu WGAFC. Pada pelaksanaan Sidang WGAFC XI di Melbourne, Ketua WGAFC Australia dipimpin Dr. Paul Morris, Executive Manager of Market Access and Biosecurity-AFFA, sedangkan Ketua WGAFC XI Indonesia adalah Dr. Delima Hasri Azahari. Struktur organisasi WGAFC terdiri dari 4 Task Force yaitu (1) Task Force on Crops and Plant Products, (2) Task Force on Agribusiness and Support System, (3) Task Force on Livestock and Animal Products, (4) Quarantine Consultation.

Beberapa kesepakatan dalam pertemuan WGAFC XI tanggal 3 5 Maret 2005 di Melbourne tersebut adalah sebagai berikut : 1. Investment opportunities in Indonesian Food and Agriculture Sector Bayiss Associates Pty Ltd telah melakukan analisis dan menyampaikan informasi bahwa beberapa sektor yang berpeluang dan perlu dilihat serta dipertimbangkan oleh pengusahapengusaha Australia diantaranya dalam: pengolahan keju, pengolahan sapi, pengembangan usaha roti, pengolahan dan pengepakan. 2. Post Tsunami Reconstruction

Australia melalui ACIAR (Dr. John Skerritt) menginformasikan bahwa pemerintah Australia telah memberikan bantuan kemanusiaan diantaranya : kesehatan dan sanitasi air; koordinasi dan jasa pendukung; produk-produk makanan berkisar $ 33 juta. Hal ini ditegaskan pula dalam pernyataan Perdana Menteri Howard, bantuan Australia sebesar $ 1 milyar melalui Australia Indonesia Partnership for Reconstruction and Development (AIPRD). Bantuan yang diberikan berupa hibah sebesar $ 500 juta dan loan jangka panjang sebesar $ 500 juta. Fokus bantuan dalam proyek pengembangan ekonomi dan sosial . 3. Task Force on Crops and Plant Products: 1. Proyek yang disepakati diantaranya adalah : the Efficiency of the Indonesian Vegetable Supply Chain (pihak Indonesia mengharapkan pendanaan dapat diarahkan kepada ACIAR, sementara pihak Australia masih melihat kemungkinannya dari Victorian Government, ACIAR atau DAFF); Revitalisation of the potato seed project (sumber pendanaan dari pemerintah Western Australia); New project proposal for the cotton, mango, sugar and cashew nut industries (akan didiskusikan lebih lanjut oleh kedua belah pihak melalui Ketua Task Force masing-masing). 2. A Fresh project proposal on a horticultural centre of information (akan diperbaiki dan dikomunikasikan lebih lanjut oleh ketua TF masing-masing). 4. Task Force on Agribusiness Support System: Sebagai follow-up dari kesepakatan Joint Meeting WGTII dan WGAFC telah dilakukan survey dan penelitian oleh Bayiss Associates Pty Ltd Investment Opportunities in the Indonesian Food and Agriculture Sector direncanakan akan dipublikasikan, namun dalam pertemuan Task Force ini telah dibahas dan diputuskan untuk lebih disempurnakan oleh DAFF dan akan dikomunikasikan antara Ketua Task Force masing-masing. 5.

Task Force on Livestock and Animal Products Disepakati pula untuk mengkomunikasikan lebih lanjut dalam setahun ini dalam melaksanakan: pelatihan bagi pegawai pemerintahan Indonesia dalam bidang management and business planning; joint investasi dalam industri penyamakan kulit di Indonesia, peluang investasi dalam industri susu di Indonesia, realisasi dari peluang ekspor pakan ternak ke Australia dan kerjasama dengan Universitas Murdoch.

Isu pihak Indonesia tentang memberikan batasan berat sapi hidup yang akan diekspor ke Indonesia guna melindungi para peternak lokal, pihak Australia perlu klarifikasi lebih lanjut.

6.

Quarantine Consultation 1. Australia akan menyediakan overview untuk kegiatan-kegiatan dari capacity building, termasuk SPS Capacity Building Program dan PRA workshops yang ditanggung DAFF. Pihak Indonesia sangat mendukung pelaksanaan whokshop dimaksud dan akan lebih bagus lagi PRA seminar akan dilaksanakan di Jakarta. 2. Isu-isu yang diangkat dalam pertemuan Tripartite (Indonesia Australia PNG) dan Bilateral (Indonesia Australia) bidang Perkarantinaan dan Kesehatan Hewan dan 3. 4. 5. Tumbuhan, Pebruari 2005 di Canberra Australia Pembatasan usia ekspor sapi hidup ke Indonesia, pihak Indonesia mengusulkan sebaiknya mengadakan komunikasi yang intensif dengan institusi terkait dalam hal ini Ditjen Peternakan. Penyelundupan Daging, disepakati kedua belah pihak bahwa untuk menanggulangi penyelundupan daging ke Indonesia ini perlu lebih meningkatkan kerjasama melalui tukar menukar informasi dalam pengiriman daging termasuk pengapalannya. Kegiatan survey-survey pest and disease, selama ini dilakukan oleh Northern Australia Quarantine Strategy (NAQS) dari pihak Australia termasuk dalam penanganan Avian Influenza (Flu Burung), pihak Indonesia mengusulkan agar kegiatan tersebut juga mencakup penyakit mulut dan kuku di batas-batas wilayah. Operasi Perbatasan, disepakati antara pihak Indonesia, Australia, Papua New Guinea dan Timor Leste untuk mendirikan Joint Study Team untuk meneliti infrastruktur dan fasilitas karantina yang diperlukan di perbatasan Timor Leste dan Papua New Guinea. ISPM 15 (Pengemasan kayu), Indonesia telah memulai mengimplementasikan ISPM 15 (pengemasan kayu) dan berusaha menambah jumlah perusahaan yang memenuhi syarat/berakreditasi dalam hal ini, sedangkan Australia memberikan pandangannya mengenai hal-hal yang berkenaan dengan pengemasan kayu. Bencana Tsunami telah menghancurkan sejumlah fasilitas karantina dan laboratorium, pihak Indonesia mengusulkan adanya bantuan pihak Australia pada area bencana merupakan bagian dari usaha untuk pembangunan kembali NAD dan Sumut. Pertemuan ASEAN untuk Fruit Flies, Indonesia mengharapkan konfirmasi perkembangan lebih lanjut terkait dengan fruit flies project. Pihak Australia bersedia akan memberikan informasi project dimaksud.

6. 7.

8. 9.

C.2. Indonesia Suriname Pada bulan Juli 1991 telah berkunjung rombongan Menteri Sosial, Tenaga Kerja dan Perumahan Rakyat Suriname kepada Menteri Pertanian RI, pokok pembicaraan mengenai kemungkinan diadakan kerjasama 2 negara di bidang pertanian. Pada kesempatan tersebut Bapak Menteri Pertanian RI memberikan bibit bawang putih varietas Tawang Mangu Baru dan bawang merah varietas Bima Tegal dengan berat masing-masing 5,5 kg untuk dicoba di Suriname. Pada bulan Juni 1993 telah berkunjung tim inventarisasi industri kelapa sawit dan gula Indonesia ke Suriname dan merekomendasikan hal-hal sebagai berikut:

1. Untuk industri kelapa sawit Pemerintah Indonesia dapat membantu Pemerintah Suriname dengan mengirimkan 1 (satu) orang tenaga ahli agronomi dan 1 (satu) orang tenaga ahli di bidang teknik pengolahan kelapa sawit dari swasta selama 6-12 bulan. 2. Di bidang industri gula, PT Barata Indonesia telah bersedia mengirimkan tenaga ahlinya untuk merehabilitasi pabrik gula di Suriname. 3. Pemerintah RI mengundang teknisi Suriname di bidang industri gula dan kelapa sawit untuk mengikuti program magang selama 1-2 bulan di PT Perkebunan terkait. 4. Untuk pelaksanaan kerjasama tersebut Pemerintah RI bersedia menyediakan tenaga ahlinya, sedangkan pendanaannya disarankan untuk mencari pinjaman lunak dari negara donor misalnya anggota MEE dan Lembaga Keuangan Internasional (Bank Dunia, dll). Pada bulan Mei 1994 rombongan Presiden Suriname telah melakukan kunjungan ke Indonesia. Pihak Suriname berkeinginan untuk mengimpor CPO (Crude Palm Oil) sebanyak 4000-6000 ton per tahun dari Indonesia dan membeli teh (raw material) untuk diolah di Suriname. Pada bulan Juli 1944 sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden Suriname ke Indonesia, rombongan pengusaha Indonesia telah berkunjung ke Suriname dalam rangka mengadakan orientasi/penjajakan kemungkinan mengadakan investasi dan kerjasama perdagangan dengan mitra dagang Suriname di bidang sumberdaya hutan, kelapa sawit, industri alat berat pertanian, dll. Pada bulan September 1997 Deptan memberikan informasi bahwa belum dipenuhinya permintaan bantuan kepada Suriname oleh pihak Indonesia disebabkan karena belum adanya kejelasan mengenai pembiayaan serta bentuk kerjasama yang diinginkan.

Kerjasama KTNB, sejak 1982/1983-1994/1995, Pemerintah Suriname telah memanfaatkan program KTNB Indonesia dengan mengirim 41 orang peserta untuk mengikuti berbagai program sesuai dengan kebutuhannya (bidang pertanian, penerangan dan hubungan masyarakat, pertambangan dan energi, pekerjaan umum, social, perdagangan dan perindustrian). Tahun 1996 Pemerintah Suriname mengirim 4 orang petani untuk mengikuti program KTNB di bidang pertanian di daerah Jawa Barat. Pada tanggal 10 Desember 1999 melalui surat dari KBRI di Suriname, Pemerintah Suriname meminta supaya dipertimbangkan untuk diikutsertakan dalam program magang petani Deptan dan program-program KTNB dan bidang lain. Program pelatihan yang dapat ditawarkan kepada Pemerintah Suriname adalah: (1). Rice Production Technique Course. (2). Workshop Production Agriculture Extension Methodology. Pada tanggal 15 Oktober 1997 telah ditandatangani MOU RI Suriname di bidang pertanian di Jakarta. Pada bulan Maret 1998 Dubes RI untuk Suriname dan Dubes Suriname untuk Indonesia telah mengadakan pertemuan guna menindaklanjuti MoU RI-Suriname di bidang kerjasama pertanian yang ditandatangani di Jakarta tanggal 15 Oktober 1997. Beberapa pokok pembicaraan adalah sebagai berikut : 1. Guna merehabilitasi perkebunan kelapa sawit seluas 500 ha yang aktivitasnya terhenti sejak beberapa tahun lalu, Pemerintah Suriname membutuhkan tenaga ahli di bidang kelapa sawit,

2. Sebuah pabrik minyak kelapa sawit yang mengolah kopra di Distrik Coronie membutuhkan tenaga ahli di bidang pemrosesan kopra, 3. Patomaca, sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit seluas 2000 km yang sedang melakukan rehabilitasi kebunnya sejak 1992, membutuhkan tenaga ahli di bidang pemrosesan FFB (Fresh Fruit Bunches). Tanggal 28 April-2 Mei 1999 KBRI Paramaribo telah turut serta dalam Pameran Pertanian Agro 99. KBRI merupakan satu-satunya perwakilan asing di Suriname yang mengikuti pameran tersebut. KBRI menampilkan buku-buku dan brosur-brosur yang berisi informasi mengenai pertanian seperti jamu, saos, kecap, bahan kosmetik, bumbu masak, rokok kretek, contoh kayu, dll. Pada tanggal 22 April 2003 melalui KBRI di Suriname, Pemerintah Suriname mengharapkan bantuan Indonesia dalam hal: a. Program pendidikan dan pelatihan untuk para petani padi serta pertukaran ahli b. Pengembangan buah-buahan (exotic fruits) seperti rambutan, durian, mangga, duku, manggis, dll. c. Bantuan tenaga ahli untuk merintis budi daya perikanan air tawar di kawasan Marienburg. Hasil Sidang I Komisi Bersama RI-Suriname di Paramaribo tahun 2003: 1. Mengharapkan agar beberapa sub - sektor pertanian dapat dijadikan bidang kerjasama kedua negara dalam waktu dekat, juga perlunya kerjasama di bidang riset dan pengembangan beberapa komoditi seperti sektor padi, buah-buahan, pertanian organic, aquaculture, program pelatihan untuk petani padi, penelitian tanaman padi, pertukaran teknologi dan informasi di bidang tersebut. pengembangan buah-buahan (exotic fruits) 2. Delegasi Suriname juga mengharapkan agar MOU mengenai kerjasama di bidang pertanian yang akan berakhir pada tahun 2004 dapat diperpanjang untuk lima tahun lagi. 3. Pihak Suriname mengharapkan agar dapat lebih dikembangkan kerjasama teknik antara kedua negara termasuk kemungkinan Suriname kembali dimasukkan dalam program TCDC Indonesia. Pihak Suriname sangat mengharapkan pelaksanaan program kerjasama teknik tersebut dan telah mengusulkan program-program pelatihan antara lain di bidang pertanian, perikanan, mekanik, otomotif, kesehatan, pertambangan, program pelatihan dalam rangka pemberdayaan peran perempuan dan lain-lain. Indonesia pada dasarnya menyambut baik berbagai usulan program kerjasama tersebut dan hal ini akan dibahas lebih lanjut dengan instansi-instansi terkait di Indonesia. Sidang II Komisi Bersama Indonesia Suriname diselenggarakan tanggal 22 November 2004 di Yogyakarta dengan hasil kesepakatan sebagai berikut : a. Perlunya memperpanjang kesepakatan yang telah dituangkan oleh kedua belah pihak dalam Memorandum of Understanding (MOU) yang akan berakhir tahun 2004 serta dipertimbangkan untuk memisahkan sektor perikanan dalam MOU tersendiri. b. Pihak Suriname mengharapkan bantuan teknik berupa tenaga ahli Indonesia khususnya untuk komoditi beras dan rambutan dengan dilengkapi proposal untuk kedua komoditi

tersebut. Pihak Suriname akan menanggung seluruh biaya akomodasi dan konsumsi selama tenaga ahli dimaksud bertugas di Suriname, sedangkan biaya ticket internasional (Jakarta Paramaribo pp) diharapkan dapat dibiayai oleh Pemerintah RI. Dalam sidang disepakati akan dijajaki kemungkinan bantuan pembiayaan dari negara/lembaga donor untuk pelaksanaan kegiatan kerjasama kedua negara. C.3. Indonesia Gambia Dalam rangka kerjasama Selatan-selatan, Indonesia sejak dinyatakan sebagai negara yang berhasil dalam berswasembada pangan pada awal tahun 1982, telah memberikan bantuan pertanian kepada 28 negara yang sedang berkembang diantaranya 15 negara di Afrika termasuk Gambia untuk membantu meningkatkan sektor pertanian rakyat antara lain dengan mengirim para petani dan pejabat negara-negara Afrika tersebut untuk dilatih di Indonesia. Pada tahun 1996, Pemerintah Indonesia bekerjasama dengan FAO membangun 2 pusat pelatihan pertanian (Agriculture Rural Farmers Training Centre /ARFTC), masing-masing di Jenoi, Gambia untuk wilayah Afrika Barat dan di Tanzania untuk wilayah Afrika Timur. ARFTC Jenoi, Gambia yang dioperasikan sejak tahun 1998 telah melatih sebanyak lebih dari 1500 petani Gambia dan diantaranya sekitar 60 orang petani dari 6 negara Afrika Barat (Senegal, Mali, Niger, Sierra Leone, Guinea Bissau, Guinea Conakry). Bantuan Pemerintah Indonesia kepada Gambia tersebut seluruhnya mencapai US$ 1, 4 juta yang direalisasikan dalam beberapa tahap sejak tahun 1996 dan bantuan tersebut berakhir bulan Desember 2003. Pada Bulan September 2003 Tim Evaluasi Pertanian dari Indonesia telah mengunjungi kedua pusat pelatihan ARFTC di Jenoi Gambia dan di Dar Es Salaam Tanzania dan hasilnya ARFTC Jenoi Gambia dinyatakan sebagai Pusat Pelatihan Pertanian yang terbaik. Pusat Pelatihan ARFTC dinilai sangat bermanfaat dan para petani yang telah dilatih di Pusat tersebut telah mengembangkan dan menerapkan pengetahuannya di lapangan dan hasilnya menunjukkan produksi pertanian mereka meningkat 2 sampai 3 kali lipat dari sebelumnya. Menteri Pertanian RI telah memutuskan memberikan bantuan berupa 4 unit Hand tractors (power tiller), 400 buah cangkul dan 400 buah sabit. Bantuan ini dianggarkan dalam DIP TA 2004 dan telah disampaikan kepada Gambia pada tahun 2004 dengan bantuan transportasinya berasal dari FAO. C.4. Indonesia Tanzania Tanzania telah aktif turut serta dalam program KTNB yang diselenggarakan Indonesia sejak tahun 1982. Sampai dengan program tahun 1995/1996 sudah tercatat 177 warga negara Tanzania yang mengikuti program KTNB. Program magang bagi petani Tanzania sejak tahun 1990 - 1998 sebanyak 4 angkatan (28 orang petani dan 5 penyuluh peranian) ; Program pelatihan bagi pejabat pertanian Tanzania pada tahun 1995 sebanyak 2 orang (1 orang untuk Program Field Workshop on Agriculture Extension dan 1 orang untuk Rice Production Technique Course).

Departemen Pertanian RI telah melaksanakan beberapa kerjasama teknik di bidang pertanian diantaranya adalah program magang bagi petani Tanzania, Program pelatihan bagi pejabat pertanian Tanzania, mendirikan Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) atau Farmers Agriculture and Rural Training Center (FARTC), serta pengiriman tenaga ahli pertanian Indonesia ke Tanzania. Pendirian FARTC di desa Mkido-Morogoro-Tanzania merupakan kerjasama Pemerintah RI dengan Pemerintah Jepang serta FAO Representative di Dar Es Salaam yang bertujuan untuk memfasilitasi para petani Alumni Program Magang di Indonesia sehingga diharapkan dapat memberikan/ menyebarluaskan pengalaman yang diperoleh selama mengikuti program magang di Indonesia. Bangunan FARTC (gedung serba guna), pengadaan kendaraan dan motor serta sarana diklat dan bantuan pompa air senilai US$ 155,000 merupakan sumbangan dari masyarakat petani Indonesia dimana penyalurannya dilakukan melalui dana abadi petani Indonesia yang disimpan oleh FAO Roma. Pembangunan FARTC merupakan inisiatif Indonesia sebagai salah satu usaha untuk meningkatkan produksi pangan di Tanzania melalui pertanian. Dengan bantuan ini telah menunjukkan hasil yang cukup berarti yaitu hasil gabah telah meningkat dari sebelumnya 3,8 ton/ha menjadi 6 ton/ha.

Pengiriman Tenaga Ahli : a. Tahun 1995 telah dikirimkan 3 orang Tim Tenaga Ahli Indonesia ke Tanzania yang terdiri dari 1 (satu) orang peneliti, 1 (satu) orang penyuluh, dan 1 (satu) orang petani. b. Tahun 1998 telah dikirimkan 3 orang tim teknis (1 orang petani, 1 orang Teknisi Mekanisasi, dan 1 orang penyuluh) ke Zanzibar dan 2 orang Tim teknis (Penyuluh Pertanian Senior / PPS) ke Tanzania. Pengiriman ke Zanzibar bertujuan untuk membantu petani Zanzibar dengan melakukan Dem-farm padi di desa Cheju, Zanzibar. Sedangkan yang ke Tanzania bertujuan untuk membantu kegiatan Agricultural Training Centre di FATRC di Desa Mkindo-Morogoro, Tanzania dengan bantuan dana dari TCPFAO Roma. c. Tenaga ahli Indonesia ke KATC (Kalimanjaro Agricultural Training Centre) dalam proyek pelatihan dan pemanfaatan hewan (kerbau) di lahan pertanian.Kerjasama ini dilaksanakan dengan konsep Tripartite Financing Management dan Triangle Cooperation. Pengiriman pertama adalah seorang expert dari petani pada bulan Oktober Desember 1997, sedangkan pada tahap berikutnya adalah 2 orang tenaga ahli pertanian pada bulan FebruariApril 1999. Selain dari pengiriman tenaga ahli, pemerintah Indonesia juga telah memberikan bantuan peralatan mesin pertanian berupa hand tractor sebanyak 2 (dua) buah yang merupakan realisasi kerjasama bilateral kedua negara di bidang pertanian lainnya. C.5. Indonesia Madagaskar Kerjasama dengan Pemerintah Madagaskar di bidang petanian belum terlaksana secara kontinyu, tetapi berdasarkan permintaan Pemerintah Madagaskar Pemerintah Indonesia telah 2 kali mengirimkan tenaga ahli Pertanian melalui Pola kerjasama Tripartit Indonesia Jepang

(JICA) Madagaskar. Tahun 2002 2003 2 (dua) orang tenaga ahli pertanian dan tahun 2004 2005 2 (dua) orang tenaga ahli pertanian Indonesia yaitu di bidang Rice Cultivation dan Agriculture Machinary yang ditempatkan di daerah Ambatondrazaka. Madagaskar sangat membutuhkan bantuan Indonesia terutama di bidang pertanian dan mengharapkan keahlian dan kemajuan pertanian di Indonesia dapat ditransfer ke Madagaskar, Madagaskar juga mengharapkan Indonesia untuk dapat mempertimbangkan kembali membeli cengkeh Madagaskar dan Madagaskar akan menawarkan harga khusus. C.6. Indonesia Fiji Pemerintah Fiji mengharapkan bantuan dari Pemerintah Indonesia untuk bidang pertanian. Permintaan bantuan pertanian diajukan oleh PM Fiji, Laisenia Qarase kepada Presiden RI dalam pertemuan di KTT Johannesburg tahun 2002. Kunjungan Tim Deptan untuk persiapan pemberian bantuan sudah dilaksanakan pada tanggal 21 22 Desember 2003 di wilayah Dreketi Fiji Utara, kunjungan ini untuk meninjau kondisi fisik lahan pertanian, sarana pengairan, benih padi, jenis pupuk, dan sarana yang digunakan, serta pusat pelatihan yang akan digunakan untuk proyek percontohan dimaksud. Pada tanggal 27 29 April 2004 Menteri Pertanian mengadakan kunjungan ke Fiji dalam rangka mewakili Presiden RI untuk menyerahkan bantuan kepada Pemerintah Fiji untuk memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Pada tanggal 28 April 2004, bantuan tersebut telah diserahkan berupa 10 (sepuluh) traktor tangan dan penempatan tiga penyuluh pertanian. Penyerahan bantuan ini ditandai dengan penandatanganan nota penyerahan bantuan yang dilakukan oleh Dubes RI untuk Fiji, Albert Matondang dan Sekjen Kementrian Pertanian Fiji, Luke Ratuvuki. Bantuan diserahkan secara langsung oleh Menteri Pertanian RI, Dr. Bungaran Saragih kepada wakil Pemerintah Fiji, Mr. Luke Ratuvuki. Bantuan ini merupakan wujud kerjasama Selatan-Selatan Indonesia, yang sebelumnya banyak dilakukan dengan negaranegara di Afrika. Selain itu juga menyadari bahwa Indonesia adalah bagian dari kawasan Pasifik, maka Indonesia ingin meningkatkan kerjasama dengan negara-negara di kawasan ini dan Fiji menjadi negara pertama penerima bantuan, dan akan disusul dengan negara-negara Pasifik lainnya. Pada kunjungan kerja ini juga dilakukan pertemuan dengan Menteri Petanian Fiji Mr Jonetani Galuinadi dan jajarannya, serta Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Luar Negeri Mr. Kaliopate Tavola. Pembicaraan diarahkan pada berbagai peluang yang dapat dikembangkan sebagai sesama negara kepulauan dan tropis serta berkembang yang memiliki kesamaan masalah dan peluang yang dapat saling menguatkan atau komplementer. Peluang perdagangan dan investasi di bidang pertanian antara lain terbuka kemungkinan pemasaran gula dari Fiji ke Indonesia, sementara dari Indonesia berpeluang meningkatkan ekspor produk olahan makanan, peralatan rumah tangga, minyak kelapa sawit, mesin pertanian, perkapalan, serta kendaraan rakitan Toyota kijang. Selain itu juga dibicarakan kemungkinan membuka jalur

penerbangan langsung Denpasar Nadi untuk meningkatkan arus perdagangan dan pariwisata antar kedua negara. Menteri Pertanian RI juga mengusulkan perlunya mempererat kerjasama dalam memperjuangkan kepentingan negara berkembang di forum WTO khususnya menyangkut Strategic Special Product di bidang pertanian, yang memerlukan perlakuan tersendiri demi mengamankan kepentingan negara berkembang. Menlu Tavola mendukung penuh saran tersebut dan akan memerintahkan Duta Besar Fiji di Jenewa untuk menggalang kerjasama dengan Watapri di Jenewa. Selain itu Menlu Tavola mengulangi arti pentingnya Indonesia di dalam mensukseskan kebijakan menoleh ke Utara, dan karena itu menyambut hangat pembukaan KBRI di Suva. Sebagai imbalannya Fiji sudah mengajukan pencalonan Dubes Fiji untuk Jakarta berkedudukan di Kuala Lumpur yang merupakan langkah pertama karena Fiji bermaksud membuka perwakilannya di Jakarta di masa mendatang. Peluang kerjasama di bidang pertanian disepakati untuk mengkaji peningkatan kapasitas, penelitian dan alih teknologi, pengelolaan daerah aliran sungai dan system irigasi serta kerjasama di bidang karantina pertanian. Secara khusus Menteri Pertanian Fiji menyampaikan harapan untuk mendapatkan penambahan pelatihan pertanian bagi pejabat Fiji di Indonesia. Tanggal 22 Oktober 2004, bertempat di Training Center Pertanian Dreketi Fiji telah dilakukan acara penutupan pelatihan pertanian yang dilaksanakan selama 3 bulan oleh para tenaga ahli (peneliti dan penyuluh) asal Indonesia dengan hasil yang sangat memuaskan. Acara penutupan ini mendapat sambutan yang sangat luas dari masyarakat setempat dan diliput oleh media cetak dan elektronik nasional, juga dilakukan kunjungan lapangan ke area percontohan tanam. Menteri Pertanian Fiji terkejut ketika melihat begitu banyaknya bulir-bulir padi yang dihasilkan pada setiap batangnya padahal bibit yang digunakan adalah bibit varietas lokal karena bibit asal Indonesia masih dalam karantina. Pada kesempatan tersebut juga diberitahukan bahwa para petani juga diajarkan sistem tanam baru yang dikenal di Indonesia sebagai sistem Legowo. Pada tanggal 29 Desember 2004 1 Januari 2005 Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian, DR. Soedijanto Padmowihardjo telah melakukan kunjungan ke Fiji dengan hasil antara lain sbb: (1) Hasil pelatihan Expert dari Indonesia di Fiji untuk budidaya padi sangat memberikan manfaat dan sudah berhasil meningkatkan produksi sebanyak 30 % dengan benih local Fiji (semula 3 ton/ha menjadi 3,9 ton/ha dengan menggunakan Sistem Legowo). Sedangkan benih unggul asal Indonesia (Varietas IR64, Situ Bagendit dan Ciherang) yang ditanam mampu menghasilkan minimal dua kali lipat dari benih local. Untuk itu Pemerintah Fiji mengharapkan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui penggunaan benih unggul asal Indonesia dan juga penggunaan alat-alat pertanian seperti yang telah diberikan oleh Pemerintah Indonesia. (2) Pihak Fiji (petani, petugas, pengusaha, pejabat) mengharapkan kerjasama ini diteruskan dan cakupannya diperluas yaitu bukan hanya untuk tanaman padi tetapi untuk tanaman sayuran, palawija, buah-buahan, obat-obatan. Tidak hanya menyangkut masalah agronomi,

tetapi juga masalah pengolahan makanan, teknologi pasca panen, irigasi, pengendalian hama dan penyakit, teknologi informasi dan komunikasi, mekanisasi, small mobile rice milling unit, dan karantina. Kerjasama ini memerlukan adanya dukungan fihak ketiga yang mau menyediakan dana, sehingga terjadi kerjasama trilateral, misalnya dari JICA, FAO, atau AUSAID. (3) Alat-alat pertanian (traktor tangan dan sabit) yang telah disumbangkan Pemerintah RI kepada petani Fiji sangat berguna dan membantu petani setempat. Para petani Fiji telah menyampaikan minatnya untuk membeli secara komersial traktor tangan Quick G-1000 dan juga alat pemanen padi (reapers). (4) Pemerintah Fiji mengusulkan untuk membentuk Bilateral Quarantine Agreement (BQA) agar di masa mendatang kedua negara dapat saling memperdagangkan/menukar produk pertanian, ternak dan turunannya. Standar karantina yang digunakan di Fiji adalah standar karantina model Australia. (5) Dalam kunjungan Menteri Pertanian, Gula dan Land Resettlement Fiji ke Indonesia tentative agenda diusulkan sebagai berikut :

Menandatangani MOU follow up kerjasama (setingkat Menteri) Menandatangani BQA (by letter Quarantine Agreement) : setingkat Direktur Jenderal Menyusun JAC (Joint Agriculture Cooperation) : setingkat Dirjen atau Direktur. Bidang yang diminati adalah : Irrigasi, Agronomi (padi, hortikultura, secondary crops, spice crops seperti vanili, jahe, lada hitam), alat dan mesin pertanian, teknologi pasca panen, teknologi pangan dan ICT (information Communication Technology).

Bantuan Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah Fiji tahun 2004 membuka peluang untuk menjual produk pertanian Indonesia ke Fiji di masa mendatang. Pada tanggal 10 Pebruari 2005 telah dilakukan pertemuan segitiga antara Kementerian Pertanian Fiji (dipimpin langsung oleh Menteri Pertanian Fiji, Mr. Ilaitia Bulidiri Tuisese), Kepala JICA (Mr. Ikeshiro Tadashi), dan Dubes RI untuk Fiji serta Sekretaris III Bidang Ekonomi KBRI Suva. Dalam pertemuan ini dilakukan pembicaraan tahap awal mengenai gagasan agar JICA dapat menjadi penyandang dana program pelatihan pertanian yang akan diberikan oleh para ahli Indonesia karena sejak ditutupnya pelatihan pertanian di Fiji, banyak para petani setempat yang berharap akan kelanjutan dari proyek ini. Pada tanggal 1 7 Mei 2005 Menteri Pertanian, Gula, dan Pertanahan Fiji, HE Mr. Ilaitia Bulidiri Tuisese mengadakan kunjungan kerja ke Indonesia disertai dua pejabat yaitu : Mr. Luke V. Ratuvuki (Chief Executive Officer for Agriculture, Sugar, and Land Resettlement) dan Mr. Viliame Gucake (Acting Principal Economic Planning Officer) Acara dengan Menteri Pertanian RI pada tgl. 2 Mei 2005 di Deptan :

Courtesy Call dilanjutkan Pertemuan Bilateral. Presentasi Kerjasama Trilateral (RI-Fiji-Jepang/JICA) oleh Kepala Badan Pengembangan SDM Pertanian. Presentasi Kerjasama Perkarantinaan oleh pihak Fiji.

Presentasi mengenai Sugar Export Mechanism oleh Ketua DGI Penandatanganan MOU Kerjasama Pertanian oleh kedua Menteri. Speech oleh Menteri Pertanian RI dan Return Speech oleh Menteri Pertanian Fiji.

Tanggal 3 7 Mei 2005 dilanjutkan dengan mengunjungi Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali, untuk meninjau sentra kerajinan tangan berbahan kayu, perusahaan alsintan dan subak. Selama berada di Indonesia, Tamu didampingi oleh Pejabat Eselon II dari Ditjen BSP dan Badan SDM Pertanian. Pada bulan Agustus 2005 ada informasi bahwa tanaman padi di Dreketi terserang jamur dan media massa menyatakan bahwa jamur tersebut dari Indonesia namun Pihak Pertanian Fiji membantah bahwa jamur tersebut sudah ada di Fiji sejak tahun 1970an. Fiji tetap berkeinginan untuk melanjutkan kerjasama di bidang pertanian dan menyatakan keinginannya untuk membeli alat dan mesin seperti kapal keruk dan traktor tangan dari Indonesia. C.7. Indonesia Papua New Guinea Di bidang kerjasama teknik, PNG selama ini telah memanfaatkan dan mengikuti secara aktif program-program "Kerjasama Teknik antara Negara Berkembang (KTNB)" Indonesia. Programprogram KTNB yang diikuti adalah di bidang pertanian, perindustrian, perdagangan, pembangunan desa, pekerjaan umum dan koperasi. Pemerintah PNG menghargai bantuan yang telah diberikan Pemerintah Indonesia di bidang ini. Untuk mengembangkan sumberdaya manusia di masa yang akan datang, Pemerintah PNG juga mengharapkan agar latihan yang diberikan selama ini terus dapat dilanjutkan terutama di bidang pertanian. Pada dasarnya kerjasama bilateral di bidang pertanian antara Indonesia - Papua New Guinea belum dilakukan secara optimal. Dasar hubungan bilateral RI-PNG mengacu pada Basic Arrangement yang ditandatangani oleh kedua negara pada tahun 1990. Pertemuan bilateral I RIPNG dilaksanakan pada tanggal 12-13 Februari 2001, di Jayapura, Irian Jaya, sebagai Review Basic Arrangement yang mengatur tentang masalah-masalah di perbatasan kedua negara tahun 1990, yang telah diperpanjang selama 1 (satu) tahun. Pada pertemuan tersebut telah dihasilkan kesepakatan-kesepakatan untuk perubahan/usul-usul kedua negara antara lain tentang pengaturan masalah-masalah pabean dan karantina. Pada tanggal 16 Nopember s/d 2 Desember 1996 telah berkunjung ke Indonesia rombongan Mahasiswa dari Higlands Agricultural College, Mt. Hagen, Papua New Guinea yang berjumlah 50 orang. Kunjungan tersebut dilaksanakan dalam rangka mempelajari dari dekat tentang perkembangan pertanian di Indonesia, khususnya bidang peternakan, perikanan, manajemen pelayanan penyuluhan, strategi pemasaran dan fasilitas-fasilitas pinjaman keuangan dalam menunjang pengembangan pertanian. Pada tanggal 8 s/d 18 Juli 1996 telah berkunjung rombongan dari PNG yang terdiri dari petani dan asosiasi kelapa sawit. Maksud kunjungan adalah dalam rangka : (a) Menambah pengetahuan/pengalaman para petani/ pejabat terkait tentang kemajuan-kemajuan di bidang "Processing dan Marketing" kelapa sawit di Indonesia, (b) Mengadakan pertemuan dengan para petani, tenaga ahli maupun para peneliti di pusat-pusat penelitian kelapa sawit, (c) Mengadakan

kunjungan ke lapangan (petani kelapa sawit) yang telah sukses mengembangkan perkebunan kelapa sawit, (d) Mengadakan tukar menukar informasi/pengalaman dengan sesama petani kelapa sawit di Indonesia. (e) Mengunjungi instansi terkait lainnya yang mempunyai kontribusi penting di dalam mengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Dalam rangka melakukan studi banding teknik pengembangan tanaman padi, Tim Studi Banding PNG meninjau dan belajar tentang sistim tanaman/ pertanian padi di Jayapura dan sekitarnya, pada tanggal 11-12 Maret 2000 telah berkunjung rombongan dari Gulf Province salah satu propinsi di PNG. Rombongan terdiri dari para pejabat Pemerintahan, Ketua Kelompok Pertanian serta wakil dari para petani setempat. Pelaksanaan kunjungan dimaksud diatur dan dikoordinir oleh Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Propinsi Irian Jaya. Hasil pertemuan Sidang I Komisi Bersama RI PNG di Port Moresby 4 6 Juni 2003 disepakati untuk membentuk Working Group Agriculture, Quarantine, Marine and Fisheries. Departemen Pertanian diharapkan menjadi Focal Point untuk Working Group tersebut. Sebagai anggota Working Group Dep. Kelautan dan Perikanan telah Menindaklanjuti kesepaktan pada Sidang I Komisi Bersama melalui pertemuan berskala internasional guna membahas masalah pulau-pulau kecil di perbatasan. Pada saat ini sedang dipelajari kemungkinan pembuatan Kepres yang berkaitan dengan pulau-pulau kecil terluar. Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil serta Ditjen Perikanan Tangkap diusulkan untuk ikut berperan dalam hal ini. Pada tanggal 28 30 Oktober 2003 telah dilaksanakan Sidang Perundingan Joint Border Committee (JBC) RI PNG ke-22 di Madang, Papua New Guinea. Hasil dari sidang tersebut yang berkaitan dengan bidang pertanian adalah : a. Kedua belah pihak sepakat akan mebuka Pos Lintas Batas, apabila dimungkinkan akan dibuka pada bulan Juni 2004. Hal ini didukung pihak PNG karena waktu pembukaan pos perbatasan pada bulan Juni 2004 bersamaan dengan waktu pelaksanaan Launching Cross-Border Vehicle Movements Arrangements. b. Telah ditandatangani MoU on Collaborative Plant and Animal Health and Quarantine Activities between PNG and Indonesia. Pengiriman tenaga ahli pertanian Indonesia, melalui kerjasama Tripartite Indonesia PNG Jepang, pada tanggal 27 Oktober 2003 24 Januari 2004 telah dikirimkan expert dari Indonesia dibidang Rice Cultivation untuk kegiatan Promotion of Smallholder Rice Production Development, dan telah dilaksanakan dengan baik, dan untuk saat ini telah dilakukan perpanjangan selama 1 tahun. Dibidang pertukaran informasi, memenuhi permintaan pihak East Britain Provincial Administartion (ENBPA), PNG Indonesia telah menyampaikan informasi tentang processing kelapa sawit di Indonesia, sebagai berikut : Historical Statistics (development, production, export, Indonesian consumption): a. Structure of the Industry

b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Location of the Industry Intended Expansion Soils (most suitable) Planting Material Climate (rainfall, sunlight/solar radiation) most suitable Transport Infrastructure Social Infrastructure (schools, hospitals, community centers) Production Models (eg. Nucleus Estate/Settlers) Incentive to Develop. What is meant by "plasma/tree crop transmigration program"

Pada tanggal 1 9 Maret 2004 telah diadakan kunjungan 4 (empat) orang pejabat Deptan PNG dengan dikoordinir oleh JICA yang akan mempelajari bidang Rice Farmers, Group and Activities dalam rangka kerjasama teknik dengan Pemerintah Jepang (JICA). Pada tanggal 24 26 Juni 2004 telah dilaksanakan Informal Bilateral Meeting RI PNG di Jayapura. DELRI dipimpin oleh Kepala Badan Karantina. Agenda yang dibahas adalah (1) Agribusiness and Trade Consultation dan (2) Sanitary and Phytosanitary Consultation. Pada tanggal 6 13 Desember 2004 telah berkunjung 2 (dua) orang pejabat Deptan PNG dan 2 (dua) orang petani PNG dan JICA bertindak sebagai fasilitator bermaksud untuk mempelajari Rice Farmers, Group and Activities terutama untuk dataran tinggi. C.8. Indonesia - Vanuatu Pada tanggal 19 21 Februari 2001 Dubes RI telah mengadakan kunjungan pamitan kepada sejumlah pejabat tinggi yang disertai juga oleh Delegasi Deptan dan 6 pengusaha. Pada kesempatan tersebut dibahas mengenai kemungkinan impor ternak dan daging sapi dari Vanuatu serta tindak lanjut kemungkinan impor ternak dan daging sapi dari Vanuatu serta tindak lanjut kemungkinan ekspor barang produksi Indonesia ke Vanuatu. Kerjasama bilateral RI Vanuatu di bidang peternakan, pada tanggal 19 Februari 2001 di Vanuatu telah ditandatangani kesepakatan bilateral dalam bentuk Record of Discussion antara Ditjen BP Peternakan dengan Ditjen Kementrian Pertanian, Karantina, Kehutanan dan Perikanan Republik Vanuatu. Ekspor ternak sapi Vanuatu ke Indonesia telah berjalan 1 kali sebanyak 1750 ekor pada tahun 2002, dan pada tahun 2003 tidak ada impor. Hal ini tidak terealisir karena hal-hal sebagai berikut: a. Ternak sapi bibit bakalan tidak tersedia dalam jumlah yang cukup banyak untuk dikirim ke Indonesia secara kontinyu. b. Pelabuhan untuk keperluan tersebut tidak memenuhi persyaratan antara lain jaraknya terlalu jauh c. Kerjasama antar negara tadinya dimaksudkan untuk pendekatan politis yaitu melalui bisnis dengan feedlotter atau peternak sapi bakalan.

Pada tanggal 9 Maret 2004 Menteri Luar negeri Vanuatu H.E Moana Jacques Carcasses Kalosil dan rombongan (H.E Kalo Toara Daniel Member of Parliament, Mr. Kalfau G. Kaloris Director of the Department of Foreign Affairs, Mr. Nato Taiwia) serta didampingi Kepala Bidang Politik KBRI di Canberra mengadakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Pertanian RI. Hal-hal penting yang dibicarakan adalah: a. Perlunya peningkatan kerjasama antara kedua negara khususnya di bidang pertanian, mengingat kerjasama kedua negara mempunyai dampak politis terutama terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Kerjasama yang telah dirintis untuk komoditi peternakan perlu dilanjutkan kembali. c. Bapak menteri Pertanian berkeinginan untuk berkunjung ke Vanuatu bersamaan dengan rencana kunjungan kerja ke Fiji yaitu dalam rangka menyerahkan secara resmi bantuan Pemerintah Indonesia sekaligus pembukaan pelatihan bidang pertanian. Pada tanggal 29 April 1 Mei 2004 Menteri Pertanian RI telah mengadakan kunjungan ke Vanuatu (dalam satu rangkaian kunjungan ke Fiji). Misi utama Delegasi RI adalah meningkatkan kerjasama bilateral bidang pertanian sekaligus merupakan salah satu upaya mendukung kepentingan nasional dalam rangka mencegah potensi disintegrasi Irian Jaya/Papua dari wilayah NKRI oleh kelompok separatis yang cenderung menjadikan Vanuatu sebagai basis operasinya di Pasifik. Disamping itu juga untuk memantau sejauh mana tekanantekanan partai oposisi untuk mempengaruhi perkembangan politik para pimpinan Pemerintah Vanuatu terhadap masalah Papua dan langkah kerjasama bilateral di berbagai bidang yang berpotensi untuk meningkatkan hubungan bilateral kedua negara. Beberapa hal lain yang dibicarakan pada kunjungan tersebut mencakup penjajakan untuk kerjasama di bidang perdagangan, pertanian, perikanan, perhubungan, koperasi dan pariwisata. Pada kesempatan tersebut pemerintah Vanuatu telah menyampaikan ucapan terima kasih dan memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada Pemerintah RI atas sumbangan sebesar US$40.000,- sebagai tanda simpati atas musibah badai Ivy yang melanda Vanuatu pada akhir Februari 2004. Mengingat badai tersebut juga telah merusak sekitar 40% lahan pertanian penduduk Vanuatu, untuk meringankan beban petani Vanuatu, Mentan RI telah pula menyampaikan pledge kepada Pemerintah Vanuatu untuk memberikan bantuan berupa 5 perangkat hand tractors. Bantuan 5 buah hand tractor sudah disediakan oleh Ditjen Bina Sarana Pertanian, namun berdasarkan saran dari Dep. Luar Negeri bantuan ditunda dahulu, karena kondisi politik di Vanuatu masih belum memungkinkan. Rangkuman kerjasama bilateral sampai dengan 2005 untuk 19 negara di kawasan Amerika, Afrika, dan Pasifik secara rinci pada Tabel 3 berikut. Kerjasama RI Arab Saudi Kunjungan Delegasi Bank Pertanian Saudi cabang Jeddah / 7-11 Pebruari 2005

Maksud daripada kunjungan tersebut adalah untuk menggali potensi kerjasama bilateral antara kedua negara di bidang peternakan, perkebunan dan perikanan serta juga melihat kemungkinan melakukan investasi di indonesia. Pada tanggal 7 Pebruari 2005 kunjungan lapangan dilakukan ke peternakan skala menengah yaitu layer farm (peternakan ayam ras petelur) dan broiler farm (peternakan ayam ras pedaging) di Kabupaten Bogor. Pada hari berikutnya delegasi berkesempatan mengunjungi perkebunan dan pabrik teh di Gunung Mas milik PT. Perkebunan Nusantara VIII untuk meninjau proses produksi teh dari pemetikan hingga pengepakan dan dilanjutkan kunjungan ke Taman Bunga Nusantara. Pada kunjungan ini delegasi bermaksud untuk mengadaptasi pola perkebunan rumah kaca yang dikelola untuk berbagai jenis tanaman terutama untuk jenis tanaman yang hidup didaerah tropis. Pada hari terakhir kunjungan, dengan berkoordinasi dengan DKP, delegasi melakukan kunjungan ke Usaha Pembudidayaan Ikan Hias dan Usaha Pembudidayaan Ikan Lele di Parung, Jawa Barat. Setelah itu delegasi melanjutkan kunjungan ke Industri Kapal Ikan, PT. Prima Maritim Nusantara Nusantara di Gunung Putri, Jawa Barat. Pada kesempatan ini delegasi berminat dengan teknologi pembuatan kapal yang diterapkan yang dapat menghasilkan tiga kapal dalam satu hari dan berminat pula untuk melakukan pembelian beberapa unit kapal. Dari hasil kunjungan ini delegasi merangkum semua informasi yang telah diperoleh mengenai keinginan untuk mengimport atau melakukan invetasi dalam bentuk laporan dan menyampaikan ke Lembaga Pemerintah terkait untuk dapat ditindak lanjuti dan direalisasikan ke dalam suatu kerjasama bilateral dua negara. Kerjasama RI Qatar, Kuwait dan Arab Saudi Kunjungan kerja Menteri Pertanian RI ke Qatar, Kuwait dan Saudi Arabia / 21-28 Mei 2005 Menteri Pertanian RI telah melakukan kunjungan kerja ke Qatar (21-22 Mei 2005), Kuwait (2324 Mei 2005) dan Saudi Arabia (24-28 Mei 2005). Selain didampingi oleh beberapa pejabat dari lingkup Departemen Pertanian dan Departemen Luar Negeri, juga mengikutsertakan para pelaku usaha agribisnis diberbagai bidang. Dalam berbagai acara yang diadakan, Menteri Pertanian didampingi oleh Duta Besar RI dan Konsul Jenderal RI di masing-masing negara tersebut. Kunjungan kerja tersebut membawa misi Pemerintah untuk peningkatan kerjasama dengan negara-negara di kawasan Timur-Tengah. Secara khusus tujuan kunjungan kerja tersebut sebagai langkah pendekatan secara langsung dalam rangka peningkatan hubungan kerjasama ekonomi dan teknis melalui sektor pertanian, yang selama ini belum banyak dilakukan. Bentuk kerjasama yang dipromosikan meliputi investasi atau usaha patungan terutama di Indonesia melalui kerangka kerjasama antar pihak swasta, peningkatan akses pasar komoditi pertanian Indonesia, serta membuka berbagai sumber pembiayaan untuk mendukung pembangunan

infrastruktur pertanian Indonesia terutama melalui jalur pemerintah dan pembiayaan untuk mendukung kegiatan pelaku usaha agribisnis. Dalam kunjungan kerja ke tiga negara tersebut, dilakukan pertemuan dengan Menteri yang membidangi pertanian, berbagai lembaga keuangan pemerintah maupun internasional, Forum Temu Bisnis yang difasilitasi pihak swasta dan KADIN. Disamping itu berlangsung pula pertemuan dengan masyarakat Indonesia di masing-masing KBRI, peninjauan pameran Internasional Riyadh-Food 2005 dan meninjau ke obyek pertanian di Qatar, Kuwait dan Saudi Arabia. Dalam menjalankan tugas kunjungan kerja ini, Menteri Pertanian membawa pesan khusus Presiden RI yang ditujukan kepada Kepala Negara/Pemerintahan Qatar, Kuwait dan saudi Arabia yang berisikan dukungan dan perlunya peningkatan kerjasama disektor pertanian yang menjadi andalan pembangunan perekonomian di Indonesia. Khusus kepada Perdana Menteri Kuwait, Presiden RI mengharapkan dapat berkunjung ke Indonesia pada kesempatan rangkaian lawatannya ke Asia dalam waktu dekat. Kerjasama Indonesia Belanda Working Group on Agriculture ke-10 Indonesia Belanda, 16 Juni 2005 Merupakan tindak lanjut dari pertemuan ke-9 di Belanda. Pada pertemuan kali ini Indonesia kembali mengusulkan kembali 4 bentuk kerjasama yang berpeluang untuk memperoleh bantuan dari Pemerintah Belanda, yaitu : Support to the Meraukes Rice Seed Institute; Request for Dutch Support to the center for Alleviation of Poverty through Secondary Crops/CAPSA; Improving the Control of Golden Potato Cyst Nematoda; Development of Horticultural Organic Farming. Dalam kerangka kerjasama antar swasta melalui Program for Cooperation with Emerging Market (PSOM), pihak Belanda mengharapkan pelaku agribisnis Indonesia untuk lebih aktif dalam mencari partner bisnisnya di Belanda. Berkaitan dengan masalah import bibit kentang dari Belanda, pihak Belanda memahami penjelasan Indonesia mengenai aturandan syarat impor bibit kentang ke Indonesia yang harus pula mengikuti peraturan perkarantinaan yang berlaku. Menindaklanjuti proyek PBSI (Programme Bilateral Sammenwerken Indonesia)yang bertujuan untuk pengembangan capacity building penanganan masalah-masalah perdagangan internasional/WTO, pihak Belanda menyetujui untuk kelanjutan proyek tersebut dan mengharapkan Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan dapat membuat dan memformulasikan proposal baru untuk kegiatan tersebut. Kerjasama RI Belanda Malaysia Trilateral Meeting ke-3, Indonesia-Malaysia-Belanda / 15-17 Juni 2005

Pertemuan Trilateral Indonesia, Malaysia dan Belanda yang dibentuk tahun 2003 bertujuan untuk meningkatkan akses pasar produk-produk pertanian Indonesia dan Malaysia ke pasar Uni Eropa dengan bantuan Belanda termasuk bantuan teknis mengenai food safety. Dalam tahap pertama, cakupan kerjasama trilateral tersebut disepakati untuk tiga komoditi yaitu Palm Oil, shrimps, sayuran dan buah tropis yang pada pertemuan ini dibentuk kedalan Working Group untuk masing-masing komoditi. WG on Palm Oil Usulan kerjasama yang dibahas dan memperoleh respon positif dari pihak Belanda adalah 4 proyek yaitu Study on Possible of Minerals Oil in Crude Palm oil in Malaysia; Establishment of MRLs for Pesticide Residues in Crude Palm Oil; Workshop on Food Safety Guidelines at Province Level; RSPO Satelite Office. WG on Tropical Fruits and Vegetables Pada pertemuan tersebut dilaporkan mengenai pengalaman yang diperoleh dari pertemuan Fruit Logistica, February 2005 tentang akses pasar untuk buah tropis dan sayuran bagi pasar Belanda dan Uni Eropa. Disampaikan pula tentang beberapa trend dan permintaan pasar bagi produk hortikultura di pasar Belanda dan Uni Eropa seperti permintaan kontak langsung, focus pada kekhasan produk, hubungan dan komunikasi langsung, promosi dan pendidikan orientasi konsumen. WG on Shrimp Pertemuan melaporkan kemajuan pelaksanaan proyek dan menyampaikan rencana kerja bidang shrimp termasuk Safe and Sustainable Shrimp Farming at Farm Level; Mangrove Rehabilitation; Shrimp Farming in Aceh Policy and Practice. Kerjasama RI Mesir Joint Commission Meeting ke-4, Indonesia Mesir / 18-19 Juni 2005 Sidang yang berlangsung di Cairo menghasilkan beberapa kesepakatan yang dituangkan kedalam Agreed Minutes yang ditandatangani oleh masing-masing Ketua delegasi. Pada Sidang ini delegasi Indonesia dipimpin oleh Menteri Perdagangan RI dan delegasi Mesir dipimpin oleh Menteri Kerjasama Internasional Mesir. Bidang yang kerjasama yang disepakati pada Agreed Minutes tersebut adalah :

Hubungan perdagangan Teknik dan ekonomi Industri Investasi Pariwisata Transportasi

Bank Sentral Komunikasi, teknologi dan Informasi IPTEK Budaya, Pendidikan, Pemuda dan olah raga Kesehatan Pertanian

Khusus di bidang pertanian kedua negara menegaskan kembali pentingnya realisasi usulan kerjasama yang pernah disampaikan sebelumnya, dimana pihak Mesir mengusulkan i) peningkatan kerjasama bidang pertanian; ii) pertukaran ilmu; iii) pengembangan kerjasama dibidang produksi pertanian dan peternakan di daerah Toshka; iv) joint venture revitalisasi pabrik gula di Indonesia, produksi dan industri pupuk, palm oil refinery berikut produknya; v) eksportasi produk sampingan industri gula. Sedangkan dari pihak Indonesia juga menggaris bawahi pentingnya merealisasikan sejumlah usulan pada pertemuan-pertemuan sebelumnya antara lain : peningkatan kerjasama dibidang agribisnis pertanian, kerjasama pembangunan irigasi pertanian, pengembangan produk hortikultura, pengembangan industri pupuk, joint venture dibidang pergulaan, CPO dan perkapasan. Kedua pihak sepakat melaksanakan kerjasama disektor peternakan yang ditandai dengan ditandatanganinya MoU on Veterinary Services and Quarantine Cooperation oleh Dirjen ASPASAF Departemen Luar Negeri sebagai Ketua Delri pada tingkat SOM) dan Dirjen Peternakan Mesir.

Untuk kerjasama teknik disepakati akan diadakan pertukaran tenaga ahli; program pelatihan; teknologi dan trainees di bidang pertanian. Kerjasama RI dengan Negara Timteng Pertemuan Informal Menteri Pertanian RI dengan Duta Besar Kawasan Timur Tengah / 29 Juli 2005 Pertemuan yang berlangsung di Perkebunan Teh milik PT. Perkebunan Nusantara VIII di hadiri perwakilan dari 12 negara Timur Tengah dan sejumlah pejabat dari berbagai instansi Pemerintah seperti Dep. Perdagangan, Dep. Keuangan, Dep. Luar Negeri, Dep. Kehutanan, Dep. Kelautan dan Perikanan, Bappenas, BKPM, Meneg BUMN, Perbankan dan beberapa pengusaha swasta. Pertemuan tersebut juga dimaksudkan untuk mempromosikan potensi industri teh yang dimiliki PT. Perkebunan Nusantara VIII yang pada bulan Mei juga turut sebagai delegasi pada kunjungan kerja Menteri Pertanian ke Timur Tengah.