Anda di halaman 1dari 25

Yotin Bayu Merryani DM FK-UMM SMF THT RSUD GAMBIRAN

Intro

Disfonia merupakan istilah umum untuk setiap gangguan suara yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring, baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan dalam ketegangan serta gangguan dalam pendekatan (aduksi) kedua pita suara kiri dan kanan akan menimbulkan disfonia

Disfonia dapat berupa:


Suara parau ((hoarseness) Suara terdengar kasar (roughness) Suara lemah / nada lebih rendah dari biasanya

(hipofonia) Hilang Suara (Afonia) Suara tegang dan susah keluar (spastik) Suara terdiri dari beberapa nada (Diplofonia) Nyeri saat suara (Odinofonia) dan ketidak mampuan mencapai nada atau intensitas tertentu

Etiologi Disfonia

Dapat bermacam-macam yang prinsipnya menimpa laring dan sekitarnya. Dapat berupa radang tumor (neoplasma), paralisis otot-otot laring, vocal abuse (penyalahgunaan suara. Ex: berteriak, berbicara keras), kelainan laring seperti sikatriks akibat operas, fiksasi pada sendi krikoaritenoid, dll.

Ada 1 keadaan yang disebut sebagai disfonia ventrikular yaitu keadaan pita ventrikular yang mengambil alih fungsi fonasi dari pita suara misalnya sebagai akibat pemakaian suara yang terus menerus pada pasien laringitis akut. Inilah pentingnya istirahat bicara (vocal rest) disamping pemberian obat-obatan

Anamnesis Disfonia

Jenis keluhan gangguan suara, lama keluhan, progresifitas, keluhan yang mneyertai, pekerjaan, kebiasaan merokok, minum kopi atau alkohol, honi atau aktifitas diluar pekerjaan, penyakit yang pernah atau sedang diderita, alergi, lingkungan tempat tinggal dan bekerja, dll

Pmx Klinik dan Penunjang


Pemeriksaan klinik meliputi pmx umum (status generalis), pmx THT termasuk pmx laringoskopi tak langsung. Pmx Penunjang:

Rigid telescope Fiberoptic telescope Video laringoskop Stroboskopi Analisis suara Direct laringoskopi Radiologi EMG (Elektromiografi) Mikrobiologi Patologi anatomi

Suara Parau (Hoarseness)

Suara parau disebabkan karena:


1. Laringitis Akut
2. Laringitis Kronis Laringitis Kronik Spesifik
a.
b.

Laringitis Tuberkulosis Laringitis Leutika

3. Lesi Jinak Laring a. Nodul Pita suara (vocal nodule) b. Polip Pita suara c. Kista Pita Suara

1. Laringitis Akut
Pada umumnya merupakan kelanjutan dari rinofaringitis (common cold). Pada anak laringitis akut ini dapat menimbulkan sumbatan jalan nafas Etiologi: bakteri yang menyebabkan radang lokal atau virus yang menyebabkan peradangan sistemik

Gejala:
Radang umum seperti demam, dedar (malaise) Gejala lokal: suara parau sampai afoni, nyeri

telan atau berbicara serta gejala sumbatan laring Batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak kental

Hasil pmx:
Mukosa laring hiperemis, membengkak

terutama diatas dan dibawah pita suara Biasanya terdapat juga tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal atau paru

Terapi:
Vocal rest 2-3 hari
Menghirup udara lembab Menghindari rokok, makanan pedas dan es

AB jika berasal dari radang paru


Bila ada sumbatan laring dilakukan

pemasangan ET atau trakeostomi

2. Laringitis Kronis
Sering disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi septum yang berat, polip hidung atau bronkitis kronik. Mungkin juga disebabkan oleh vocal abuse. Pada peradangan ini seluruh mukosa laring hiperemis dan menebal dan kadang pada pemeriksaan patologik terdapat metaplasi skuamosa

Gejala: suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorokan sehingga pasien sering mendehem tanpa mengeluarkan sekret karena mukosa yang menebal. Pada pmx: tampak mukosa menebal, perumkaan tak rata dan hiperemi. Bila tdp daerah yang dicurigai menyerupai tumor maka perlu dilakukan biopsi.

Terapi yang terpenting mengobati peradangan di hidung, faring serta bronkus yang mungkin menjadi penyebab laringitis kronis itu dan vocal rest

2.a Laringitis Kronik Spesifik (Tuberkulosis)

Seringkali setelah diberi pengobatan, TB parunya sembuh tetapi laringitis TB menetap. Hal ini terjadi karena struktur mukosa laring yang sangat lekat pada kartilago serta vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga bila infeksi sudah mengenai kartilago, pengobatannya lebih lama

Gambaran klinis terdiri dari 4 stadium:


Infiltrasi Yang pertama mengalami pembengkakan dan hiperemis ialah mukosa laring bagian posterior. Pada stadium ini mukosa laring berwarna pucat. Kemudian di daerah submukosa terbentuk tuberkel sehingga mukosa tidak rata, tampak bintik2 kebiruan. Tuberkel itu makin membesar serta beberapa berdekatan bersatu sehingga muksoa diatasnya meregang. Pada suatu saat, karena sangat meregang maka akan pecah dan timbul ulkus

Ulserasi Ulkus yang timbul pada akhir infiltrasi membesar. Ulkus ini dangkal, dasarnya ditutupi oleh perkejuan serta dirasakan sangat nyeri oleh pasien. Perikondritis Ulkus makin dalam sehingga mengenai kartilago laring dan yang paling sering terkena ialah kartilago aritenoid dan epiglotis. Dengan demikian terjadi kerusakan tulang rawan sehingga terbentuk nanah yang berbau. Proses ini akan melanjut dan terbentuk squester. Pada stadium ini keadaan umum pasien sangat buruk dan dapat meninggal dunia. Bila pasien dapat bertahan , maka proses penyakit berlanjut dan masuk dalam stadium akhir

Fibrotuberkulosis Pada stadium ini terbentuk fibrotuberkulosis pada dinding posterior, pita suara dan subglotik. Gejala klinis:
Rasa kering, panas, tertekan di daerah laring Suara parau berlangsung berminggu-minggu. Pada

stadium lanjut afoni Nyeri telan KU memburuk Pada pmx paru terdapat proses aktif (biasanya oada stadium eksudatif atau pada pembentukan kaverne)

DD:
Laringitis Leutika
Ca Laring Aktinomikosis laring

Lupus vulgaris laring

Terapi:
OAT

Vocal Rest

2.b Laringitis Kronik Spesifik (Luetika)


Radang menahun ini jarang ditemukan. Bentuk ini kadang seperti keganasan laring Gambaran klinik: apabila guma pecah maka timbul ulkus. Ulkus ini mempunyai sifat yang khas yaitu sangat dalam bertepi dengan dasar yang keras berwarna merah tua serta mengeluarkan eksudat yang berwarna kekuningan. Ulkus ini tidak menyebabkan nyeri dan menjalar sangat cepat, sehingga bila tidak terbentuk proses ini akan menjadi perikondritis

Gejala: suara parau dan batuk kronis. Disfagia timbul bila guma terdapat dekat introitus esofagus. Diagnosis ditegakkan selain dg pmx laringoskopi juga dg pmx serologik. Komplikasi: stenosis laring karena terbentuk jaringan parut

Terapi:
Penisilin dosis tinggi
Pengangkatan squester Bila terdapat sumbatan laring trakeostomi

3. Lesi Jinak Laring