Anda di halaman 1dari 18

TUBERKULOSIS PENYAKIT YANG SUDAH UMUM DENGAN GAMBARAN DI MULUT YANG TIDAK BIASA LAPORAN 2 KASUS DENGAN TINJAUAN

N PUSTAKA

Disadur dari Shamimul Hasan, Mohd. Abbas Khan AbstrakTuberkulosis digambarkan sebagai raja penyakit di !edas dan telah disebutkan Sushruta dan "hakra #$$ SM. Tuberkulosis adalah penyakit in%eksius kronis yang telah berkembang pre&alensinya yang disebabkan My'oba'terium Tuberkulosis. Tempat in%eksi primer Tuberkulosis biasanya di paru(paru, meskipun demikian dapat memengaruhi organ tubuh lainnya, termasuk rongga mulut. )alaupun mani%estasi oral tuberkulosis jarang, dokter sebaiknya mengetahui kemungkinan terjadinya itu pada pasiennya dalam bentuk ulser, granuloma, keterlibatan kelenjar sali&a dan TM*, osteomielitis, deskuamasi gingi&itis dan tuberkulosis limphadenitis. Hal ini dapat membantu dalam mendiagnosa tuberkulosis pada tahap a+al, dengan demikian dapat men'egah komplikasi sistemik dan kontaminasi. Makalah ini menguraikan tentang dua kasus tuberkulosis yang didiagnosa dari mani%estasi oral, sehingga menekankan pentingnya peran dokter gigi dalam mendiagnosa gangguan multisistemik. Kata kunci--- Tuberkulosis, Mani%estasi oral, penyakit granulomatous kronis. I. PENDAHULUAN Tuberkulosis adalah penyakit granulomatous kronis yang multisistemik dan menular yang disebabkan Mycobacterium Tuberkulosis dan sebagai masalah kesehatan utama di negara(negara berkembang. T, dapat mengenai organ tubuh lainnya, termasuk rongga mulut, +alaupun kasusnya jarang. Kejadiannya -$.(-/. dari semua kasus.

Tuberkulosis biasanya disebabkan Mycobacterium Tuberkulosis dan hanya sedikit karena terin%eksi Mycobacterium atau jenis Mycobactera lainnya. ,erdasarkan sistem organ yang terlibat, se'ara klinis Tuberkulosis diklasi%ikasikan atas tuberkulosis paru dan tuberkulosis ektra paru. Tuberkulosis paru merupakan penyakit yang paling sering dari T,. 0amun, tuberkulosis juga dapat terjadi di kelenjar getah bening, mening, ginjal, tulang, kulit dan rongga mulut. Sejak pengenalan kemoterapi e%ekti%, lesi tuberkulosis di rongga mulut menjadi sangat jarang bah+a sebenarnya merupakan penyakit terlupakan yang ada dan menimbulkan masalah diagnosa. Kurang dari -. dari kasus T, di luar paru, biasanya berhubungan dengan penyakit di bagian tubuh lain dan pembesaran dan teraba saat kelenjar getah bening di leher dipalpasi. 1esi T, oral relati% jarang terjadi. Mani%estasi oral terjadi sekitar 2. dari kasus yang melibatkan paru dalam jangka +aktu lama dan atau in%eksi sistemik. T, oral dapat menjadi primer atau sekunder. ,entuk primer jarang sekali dan umumnya terjadi pada de+asa muda. ,iasanya meliputi gingi&a dan dikaitkan dengan penyakit yang tergantung getah bening3 lesi tersebut meninggalkan tanpa rasa sakit pada kasus yang paling banyak. 1esi primer berkembang saat basil T, se'ara langsung diokulasikan ke jaringan mulut seseorang yang belum memperoleh kekebalan penyakit dan kenyataannya, setiap area yang rentan terhadap inokulasi langsung basil dari sumber oksigen menjadi area potensial. Hal ini sering melibatkan gingi&a, soket pen'abutan gigi dan lipatan bukkal. Sebaliknya, bentuk sekunder adalah yang biasa 4$,$$/.(-,/. kasus5 dan biasanya terjadi pada orangtua. 6n%eksi sekunder dari jaringan mulut dapat menghasilkan bentuk hematogen atau lim%atik yang menyebar atau inokulasi dengan sputum yang terin%eksi dan perluasan langsung dari struktur yang berdekatan. Daerah intra oral yang sering terlibat meliputi lidah, palatum, bibir, mukosa al&eolar dan tulang rahang. T, pada regio oro(%asial dapat bermani%estasi dalam berbagai bentuk7 T, ulser, T, gingi&itis, T, limpadenitis, tuber'uloma, T, osteomielitis, T, sialadenitis, dan T, karena keterlibatan TM*. Makalah ini menguraikan dua kasus T, oro(%asial dan menekankan peran dokter gigi dalam mendiagnosa T, se'ara dini berdasarkan gambaran oralnya, ditambah dengan tinjauan pustaka dari mani%estasi oral T,. 8

II. LAPORAN KASUS 1 Seorang pasien +anita berumur -9 tahun berobat ke departemen penyakit mulut dan radiogra%i, :akultas Kedokteran ;igi, <ni&ersitas *amia Milia 6slamia, 0e+ Delhi dengan keluhan ulserasi kronis dan rasa terbakar di mulut sejak setahun yang lalu. Dari ri+ayat penyakit menyatakan bah+a timbul sebuah ulser ke'il di gingi&a daerah anterior atas setahun yang le+at, yang berkembang menjadi besar. <lserasi ini disertai dengan nyeri dan rasa terbakar. Dari 'atatan medis, terjadi penurunan berat badan skitar 8,/ kg 2 bulan yang lalu. Dari ri+ayat keluarga tidak ada yang seperti ini. =asien menggunakan obat topikal yang diresepkan dokter untuk mengobati ulser namun, tidak berkurang. =ada pemeriksaan e>tra oral, pasien kelihatan malnutrisi. Saat dipalpasi bilateral, nodul kelenjar lim%a submandibular bergerak, tunggal, tidak lunak, dan konsistensinya terasa. =emeriksaan intra oral menunjukkan tunggal dan besar, daerah ulserasi eritematous dari gingi&a labial sampai ke marginal, men'apai gingi&a, papilla interdental, dan hubungan mukigongi&a 4M;*5, gigi -2(82, bentuk bulat, panjang #>8 'ms, dengan tepi yang tidak teratur. Dasar ulser adalah eritematous dengan sedikit perubahan +arna kebiruan pada tepi(tepi mukosa 4gbr -.5. Diagnosis banding meliputi gingi&itis pubertas, 1i'hen planus, =emphigus, dan T, gingi&itis. =emeriksaan darah rutin menunjukkan peningkatan )," dan peningkatan sedimentasi eritrosit 4?/ mm setelah - jam5. Hasil test tuberkulin positip, sali&a positip untuk A'id %ast ,a'illi dan <ji @16SA tidak reakti%. ,iopsi insisi dilakukan dengan anestesi lokal. ;ambaran histopatologis menunjukkan jaringan %ibro kolagen dengan granuloma yang terdiri dari sel epitheloid, sel 1angerhans, giant 'ell 4sel yang sangat besar5, gambaran yang sesuai dengan diagnosis T, 4gbr 8.5. ,erdasarkan ri+ayat penurunan berat badan, penyembuhan ulserasi non kronis hingga mukosa al&eolar dengan tepi yang tidak teratur, kelenjar lim%a submandibular yang tidak li'in dan karakteristik histopatologi menunjukkan granuloma dan sel ephiteloid, lesi didiagnosa T, gingi&itis.pasien diterapi dengan anti(tuberkuler. Ai%ampi'in 9/$ mgBtab sebelum makan selama 2 bulan, 6soniaCid 2$$ mgBtab sebelum makan selama 2

2 bulan, =yraCinamide ?/$ mgBtab sebelum sarapan selama 2 bulan dan kapsul multi&itamin dengan dosis 8 kapsul sehari selama D bulan. =asien melapor setelah bulan diterapi dan menunjukkan resolusi lengkap 4gbr 2.5. Se'ara beraturan ditindaklanjuti dan lesi tidak kambuh.

;br -. daerah ulserasi eritematous dari gingi&a labial sampai ke mukosa oral gigi -2(82

;br 8. *aringan %ibro lolagen menunjukkan pengkejuan granuloma dengan giant 'ell dan lim%osit

;br 2. =enyenbuhan lesi setelah pemberian anti tuberkuler

III. LAPORAN KASUS 2 Seorang pasien laki(laki berusia 28 tahun berobat ke departemen penyakit mulut dan radiologi, :akultas Kedokteran ;igi, <ni&ersitas *amia Milia 6slamia, 0e+ Delhi dengan keluhan bengkak di ba+ah dagu sejak 2 bulan lalu. Dari ri+ayat diperoleh bah+a pasien demam dan dingin 2 bulan lalu. Demam dan dingin hilang setelah diobati. Kemudian pada pasien timbul pembengkakan ke'il di ba+ah rahang ba+ah sebelah kanan dengan ukuran ke'il dan keras. ,eberapa hari kemudian pembengkakan banyak di ba+ah rahang ba+ah sebelah kanan dan kiri. Tidak ada nyeri yang terkait dengan pembengkakan. Sejak 8 bulan lalu, pembengkakan menunjukkan perubahan peningkatan men'apai ukuran sekarang ini. Tidak sama seperti pembengkakan yang terjadi di bagian tubuh lainnya. Dari ri+ayat medis, ri+ayat pribadi dan keluarga tidak ada, ke'uali ri+ata T, sebelumnya yang telah mendapat pera+atan E tahun silam. =ada pemeriksaan ekstra oral, dipalpasi kelenjar lim%a dan ada pembengkakan di kanan dan kiri regio submandibular dan submental 4gbr - dan 8.5. =embengkakan kelenjar lim%a dapat dilihat kanan dan kiri regio submandibular dan submental 4gbr 2.5. ukuran pembesaran berdiameter -'m > -'m. 0odul tidak lunak saat dipalpasi, sedikit keras, konsistensinya tidak li'in, tidak dikeluarkan dari nodul saat palpasi. =emeriksaan intra oral biasa. Kedalaman karies gigi 2#, 9? dan gigi 9E yang impa'ted se'ara horiContal terlihat 4gbr 9.5. Karena banyak, tidak li'in, pembesaran, palpasai kelenjar lim%a di submandibular dan sub mental positip dengan pera+atan ri+ayat T, sebelumnya, pembesaran kelenjar lim%a ini didiagnosa sementara T, lim%adenitis. =rosedur pemeriksaan yang dilaksanakan7 -. =emeriksaan darah rutin Hb mengandung D,/ gm., peningkatan )," ?2$$ selBmm2, @SA #/ mm dalam jam. 8. Aadigra%i dagu =emeriksaan dagu menunjukkan gambaran radiopak dengan pengerasan di paru /

sebelum lesi disembuhkan 4gbr /.5. 2. Aadiogra%i panoramik Tidak ada perubahan tulang yang dapat dilihat melalui panoramik 4gbr #.5. 9. <ji Mantou> =ostip 2$ mm dalam 9E jam 4gbr ?.5. /. ,iopsi =engambilan sedimen biopsi kelenjar lim%a submandibular dilakukan. =hotomikrogra%i menunjukkan granuloma seperti daerah nekrosis, sel epitheloid, makro%ag, giant 'ell 4tipe langhans5, dan beberapa sel plasma di balik lim%oid. "ukup &askularisasi dan daerah haemorhage 4gbr E.5. Adanya hubungan dengan ri+ayat T, yang diobati sebelumnya, pembesaran yang banyak, tidak lunak, lim%a tidak li'in, didukung hasil pemeriksaan radiogra%i dengan gambaran opak pada radigra%i dagu, uji mantou> positip dan terakhir pemeriksaan histopatilogis maka didiagnosa sebagai T, lim%adenitis. =asien dira+at dengan anti tuberkuler dan se'ara periodik dipantau. Timbul pengurangan gejala setelah diobati.

;br.- pembengkakan di kanan

;br. 8 pembengkakan di kiri

;br. -,8 F 2 =embesaran Kelenjar 1im%e di regio submandibular kiri dan kanan dan regio sub mental

;br. 9 gigi 2#, 9# karies dan gigi 9E impaksi horiContal

;br. / =engapuran radiopaG Di parenkim =aru

;br. # ;ambaran panoramik tidak menunjukkan keterlibatan tulang

;br ?. 6ndurasi lengan ba+ah menunjukkan uji tuberkulin H

;br. E 1esi granulomatous dengan sel epiteloid dan lim%osit ?

IV. PEMBAHASAN Tuberkulosis adalah penyakit in%eksius spesi%ik granulamatous yang disebabkan oleh My'oba'terium tuber'ulosa, yang berbentuk batang, nonspora, bersi%at asam, basil. T, juga mengenai he+an ternak yang dikenal dengan bakteri ,o&ine tuber'ulosis yang kadang(kadang ditularkan pada manusia. =enemu pertama kali bakteri tuber'ulosis adalah Aobert Ko'h tahun -EE8. ,akteri ini diba+a oleh partikel udara yang disebut droplet yang dihasilkan saat orang yang terin%eksi T, batuk, bersin, berteriak, nyanyi atau berbi'ara. Setiap tahun, sekitar 8 juta penduduk 6ndia menularkan tuberkulosis. Seperempat dari pengidap tuberkulosis baru di dunia. 6nsidens T, di 6ndia -#EB-$$$$$ populasi per tahun dengan pre&alensi 2-8B-$$$$$ populasi per tahun. Di 6ndia, T, merupakan masalah kesehatan yang sangat penting dengan tingkat kematian 2$B-$$$$$Btahun, setelah dilakukan program 0T=" terjadi penurunan pre&alensi yang signi%ikan. T, menjadi in%eksi oportunistik yang paling sering pada orang yang terkena H6!. T, primer yang terjadi pada mulut jarang karena adanya mukosa oral utuh, pembersihan sali&a sendiri, enCim sali&a, antibodi, dan aksi sapro%it yang menghalangi in%eksi. Setiap mekanisme seperti abrasi, in%lamasi kronis,erupsi gigi, soket akibat pen'abutan, penyakit periodontal dan kasus pulpa terbuka dapat terin%eksi oleh tuberkel basil. Kondisi sosial ekonomi yang miskin dengan nutrisi yang kurang, dan kurangnya kebersihan merupakan %aktor predisposisi T,. 1esi oral T, bersi%at non spesi%ik jarang diperhatikan dokter. T, oral sering terjadi pada usia 8$(9$ tahun dengan perbandingan pria dan +anita 97-. ,erbagai mani%estasi oro(%asial dari T, yang terlihat7 -. <lser Tuberkulous Mani%estasi yang paling sering dari T, oral adalah lesi ulserati% di mukosa. 1esi ini didahului &esikel atau nodul sebagai hasil nekrosis bentuk ulser. ;ambaran khas ulsernya tidak teratur, indurasi minimal, dan sering granular yang ditutupi pseudomembran kekuningan. )alaupun lidah merupakan lokasi yang paling sering, dapat juga terjadi di gingi&a, dasar mulut, palatum, bibir dan mukosa bukkal. E

Tuberkulosis lidah menunjukkan gambaran sebagai Makroglossia. Di lidah, lokasi yang paling sering di bagian lateral, ujung, dorsum anterior, dan permukaan &entral. 0odul tunggal atau pun multiple yang disebut tuberkel sentinel yang terdapat di sekitar ul'er. 1esi di lidah biasanya nyeri, kekuningan. 1esi di palatal dilihat sebagai lesi granulomas atau ulseras dan lebih sering di palatum keras daripada palatum lunak. <lser T, mempengaruhi tempat yang tidak biasa seperti al&eolus dan oro( pharing, naso(pharing, dan laringo(pharing. 8. ;ingi&itis Tuberkulous T, lesi gingi&a dapat sebagai eksuberant dan granulasi atau sebagai erosi mukosa. Kadang(kadang lesi ini dapat dilihat bersamaan dengan periodontitis marginal
8-

. Deskuamati% gingi&itis kronis dikaitkan dengan in%eksi kronis yang


88

memengaruhi gingi&a, paling umum dari T,". 1aporan kasus tuberkulosis gingi&a kelihatan sebagai di%us pembesaran gingi&a ini. 2. Tuberkuloma Tuberkulosis juga dapat melibatkan tulang rahang atas atau ba+ah. Sering mikroorganisme masuk ke daerah in%lamasi peri(apikal melaui aliran darah 4anakoresis5. Mikroorganisme ini dapat masuk ke jaringan peri(apikal oleh imigrasi langsung kamar pulpa dan saluran akar dengan ka&itas terbuka. 1esi(lesi yang dihasilkan dasarnya tuberkulous peri(apikal granuloma atau tuber'uloma. 1esi ini biasanya menimbulkan rasa sakit dan kadang(kadang melibatkan sejumlah besar tulangD. 9. 1im%adenitis Tuberkulous Tuberkulosis dari sistem lim%atik adalah salah satu paling umum dari semua T, ekstra paru, dengan radang tuberkulous. Keterlibatan kelenjar lim%a di leher telah diketahui berabad(abad sebagai penyakit kelenjar atau raja setan82. 1im%adenitis Tuberkulous lebih sering pada +anita usia muda. ,erla+anan dengan T, paru yang paling sering pada pria usia tua. 6n%eksi tuberkulous leher dan kelenjar lim%a submaksillary atau penyakit kelenjar, lim%adenitis tuberkulous dapat berkembang ke D , daripada mani%estasi biasa sebagai ulkus atau massa granular terlokalisasi, juga telah didokumentasikan dalam literatur

pembentukan abses atau tetap sebagai lesi granulamatous. =ada kasus lain, pembengkakan jelas terlihat se'ara klinis. 1esinya tidak lunak atau nyeri, sering menunjukkan in%lamasi yang menutupi kulit dan saat abses keluar, khasnya per%orasi dan mengeluarkan pus. T, pada sistem lim%atik sebagian besar terbatas pada kelenjar lim%a leher, terutama karena amandel dan kelenjar tiroid memudahkan masuknya mikobakteri. :0A" adalah alat diagnostik untuk menegakkannya. Di negara berkembang seperti 6ndia, dimana in%eksi tuberkuler sering dan in%eksi granulamatous jarang, gambaran granulamatous pada :0A" yang jelas sangat membantu menegakkan T,. =ada kasus ini, pasien memiliki ri+ayat T,, pembesaran tanpa rasa sakit dari kelenjar lim%a, hematologi berubah, test tuberkulin positip, adanya pengapuran di %oto dada I Aay bersamaan dengan histopatologi khas dari penyakit granulomatosa. *uga tidak ada sumber odontogenik untuk pembesaran kelenjar. /. Jsteomyelitis Tuberkulous Keterlibatan maksila atau mandibula juga dapat terjadi, biasanya melalui penyebaran in%eksi hematogen, tetapi kadang(kadang se'ara langsung atau bahkan setelah pen'abutan gigi. Keterlibatan mandibula oleh in%eksi T, jarang karena sedikit mengandung tulang 'an'ellous. Tetapi keterlibatan mandibula lebih sering daripada maksila dan tulang al&eolar dan regio sudut memiliki a%%initas yang lebih besar. "hapotel mendeskripsikan 9 tanda klinis T, di mandibula7 -. dangkal atau bentuk al&eolar dimana proses al&eolar yang terlibat dengan ekstensi langsung dari jaringan gingi&a tuberkulous atau melaui kedalaman karies. ,iasanya kronis dan tulang nekrosis dengan pembentukan abses dan %istula. 8. dalam atau pusat lesi, diman lesi melibatkan sudut mandibula. Hal ini ditemukan menurut 'hapotel hampir se'ara ekslusi% pada anak(anak selama periode erupsi gigi molar. 2. bentuk di%us, ditandai dengan perubahan nekrosis mandibula yang kadang melibatkan artikulasi tempromandibular pada periode pembengkakan dan pernanahan. Tanpa rasa sakit dapat terjadi. =ada kejadian yang parah, terjadi

-$

penyebaran luas dari T, yang memengaruhi hati, paru(paru, ginjal, meninges, sebagai bentuk karakteristik paling %atal. 9. ,entuk osteomielitis akut, dimana karena implied, mendadak, mani%estasi akut lokal dan umum dan rapid mensimulasikan osteomielitis akut mandibula. ,entuk ini, bagaimanapun, sangat jarang diobser&asi. T, pada rahang menyebabkan nekrosis tulang dan melibatkan mandibula. Tidak ada karakteristik tampilan radiogra%i T, rahang atau tulang al&eolar dan sebagian besar lesi dapat dibedakan dari penyebab organisme piogenik. Kehan'uran tulang pada gambaran radiogra%i mun'ul sebagai bentuk trabekular dengan dareah radiolusen yang tidak teratur. Terdapat erosi di korteks dengan sedikit ke'enderungan untuk memperbaiki. Se'ara bertahap tulang digantikan oleh jaringan granulasi tuberkulosis. =enyakit timbul diikuti bentuk lunak dan 'air. Absess subperiosteal menimbulkan sakit, pembengkakan yang lunak. Abses ini pe'ah baik intra atau e>tra oral yang membentuk sinus tunggal atau ganda. :raktur patologis mandibula dan penyerapan dapat terjadi. #. Sialadenitis Tuber'ulous Tuberkulosis parotitis pertama kali dijelaskan pada -DE- oleh Kuru&illa. =arotitis tuberkulosis dengan in%eksi paru terlihat lebih umum, tetapi tipe utama terisolasi parotis T, terlihat sangat jarang. =arotitis tuberkulosis terjadi pada 8,/. ( -$. dari lesi kelenjar parotid bahkan di negara di mana penyakit ini endemik yaitu india. =aling sering massa terlokaliser, hasil in%eksi dari intrakapsular atau perikapsular kelenjar lim%a. Dapat juga sebagai sialadenitis akut dengan pembesaran kelenjar yang menyebar. ,entuk ini melibatkan jaringan parenkim kelenjar sali&a. Dapat juga sebagai %istula periauri'ular atau sebagai abses. "ara lain seperti yang dinyatakan "armo'y adalah in%eksi gigi molar. Kang paling umum agen yang terlibat adalah my'oba'terium bo&is. Mikoba'terium yang jarang mengin%eksi parotis. T, primer dari kelenjar parotis dalam 8 bentuk7 pertama lesi in%lamasi akut yang lebih meniru sialadenitis, yang terdiri dari abses ke'il dan besar, jaringan parotis edema, --

gembur dan pengerasan. Kedua adalah lesi tuberkulous yang terbatas. 1esi mun'ul bertahap dengan massa yang meningkat selama berbulan(bulan hingga bertahun( tahun dengan tanpa gejala selain pembengkakan. =ada pemeriksaan klinis mustahil untuk membedakannya dari neoplasam parotis. T@K06K D6A;0JST6K A at !"a#$%st"k M&t%!& -. T<,@A"<160 SK60 Dengan T@ST 4TST5 a. Hea% test suntikan. K&'$t'$#a$ K&t&rbatasa$ multiple 1ebih mudah Metode suntikan untuk dengan suntikan. #

Multiple # jarum memahami biasanya di lengan. dengan sedikit 1ihat tipe. 2(? hari. &ariasi diamati. mengelola dan memba'a. kurang Terbagi dalam 9 1atihan untuk

b. Mantou> test

Menyuntikkan

Tidak direkomendasikan pada bayi yang dari -8 minggu. Aeaksi

tuberkulin dan lihat diperlukan. selang 9E(?8 jam. Menggunakan /(-/ mm Membantu mendiagnosa tepat 8. Aadiogra%i radiogra%i. Area =engapuran, Mudah ka&itas radiolusen. 6n%iltratBkonsolidasi atau dilakukan.

=ositi% jika indurasi alat s'reening. kurang

montou> melebihi

T, akti%. 1ebih -/ mm. dari Sebelum penyakit T, Terpapar sinar I. Sensiti&itas kurang. Sulit membedakan T, akti% dan sembuh

-8

2. =e+arnaan a. Liehl(0elson

,asil tahan asam Sederhana, dapat dengan +arna tidak in&asi&.

dalam bentuk skar Kurang dari -$9 hasilnya negatip. ;ambaran terlihat sama sapro%it. dengan ,utuh mikobakteri

dilihat ekonomis dan mikobakteri

merah hingga biru, hijau, kuning.

b.%luoresensi auramine memperlihatkan +arna

,asil melihat

dapat peralatan mahal. di alat s'reening,

,asil tahan asam diba'a dengan Menggunakan terang ba+ah tinngi. 1ebih sensiti%. tidak untuk akhir diagnosa.

hingga gelap yang pengeringan menggunakan mikroskop %luoresen 9. @16SA Mendeteksi dan igM dikultur antigen mikobakteria 6;AAs a. Muanti :@AJ0 T, *umlah ;old gamma sebagai untuk ig; 1ebih

sensiti% A#$ sering

antigen pada

saat daripada dengan pe+arnaan. dari sederhana. Hasil 'epat lebih

mi'obakteria lepara, T, dan bo&ine

membersihkan A#$ Metode

inter%eon Hasil dalam 89 Sampel 460:(K5 jam. Tidak harus dalam respon menaikkan dengan subseGuent -8

darah diproses jam

kontak ukuran respons setelah uji pengumpulan saat ),"s masih -2

antigen T, diukur.

yang b. T(S=JT. T, Sejumlah peri%er mononuklear menggunakan sel T sel TST Tidak

dapat akti%.

Darah terjadi dengan ,anyak data yang H6, yang

terpengaruh

untuk uji ini pada terin%eksi anak(anak, 89 mudah terserang. =rosesnya # jam. dan

kadar logam dan oleh &aksinasi pasien indi&idu ,"; menghasilkan 6:0( sebelumnya. K setelah stimulasi Hasil antigenik, memberikan pengukuran immun. /. Kultur a. 1o+enstein(*ensen Saat 4dalam jam5. Mera+at

'epat kelompok

antigen pada sistem mengontrol penyakit lebih baik berkembang Sedikit mahal ,utuh 9(# minggu untuk memperoleh koloni di media. Tidak M. ada ,A"T@". Sedikit koloni kemungkinan

media 41* media5

di media 1*, M. daripada Tuberkulosis menunjukkan gambaran granular 'oklat.

terkontaminasi. perbedaan antara Tuberkulosis spesies dengan

mikobakteria Mendeteksi b. ,A"T@" %luoresensi oksigen Deteksi oleh Sampel lainnya. a+al Mahal. lebih dibutuhkan. Aesiko -9

pe+arnaan perbedaan M. Teknologi medis positip dari

setelah tiap jam. Tuberkulosis

mengandung -$# ":<Bml.

-$/( mikobakteria lain. 1ebih sensiti% 1* daripada

terkontaminasi.

#.

=olymeriCed

"hain Membantu mendeteksi in%eksius membedakan patogen patogen.

media. <kuran sangat 1okalisasi agen ke'il non lebih tinggi membuat deteksi in%eksi bahkan sebelum penyakita a+alnya. &irus dan segera setelah dari jaringan mudah. =engadaan penyalit tidak mungkin. ="A mikobakteria tidak dan D0Adijelaskan mungkin. dari Sensiti%itas

Aea'tion 4="A5

PERA(ATAN PEN)EGAHAN 6munisasi dengan ,"; My'obakterium bo&is akti% paling sering digunakan untuk men'egah dan mengotrol perkembangan T,. Dosis untuk bayi adalah tunggal, men'egah penyakit berat dan mengurangi kematian diantara anak(anak dan penyakit meningitis. 0amun, ,"; tidak melindungi serangan T, paru pada anak atau de+asa. Karena telah disebutkan mudah, respon imun optimal ke in%eksi M,T melibatkan "D9 dan "DE dan sel T.

-/

Standar pera+atan antimikroba termasuk antibodi bah+a target seperti sintesis 0A;( arabinogala'tan dan tahap mi'oli' dan sintesis asam. !ariasi obat anti mikobakteria yang digunakan dalam pera+atan7 P" "*a$ %bat +&rta,a Jbat -. ethambutol 8. =yraCinamide 2. 6soniaCid Mekanisme Menghambat arabinosil lemak lemak @%ek obat trans%er Jptik neuritis Kehilangan penglihatan Arthralgias, Hepatitis =eripheral neuropathy Menghambat 9. Ai%ami'ins7 Ai%ampin Ai%aputin Ai%apentin Mengikat A0A dan transkripsi menghambat :lu(seperti gejala Aeddish urination ;6T disturban'es sitokrom polimerisasi enCim p9/$, hepatitis

Menghambat sintesis asam Morbili%orm rash Menghambat sintesis asam hiperrurikemia

P" "*a$ %bat k&!'a

-#

Jbat -. 'y'loserine

Mekanisme Menghambat monomer

@%ek obat sintesis =sy'hosis SeiCures =eripheral neuropathy

8. @thinamine 2. Aminogli'osid7 Streptomi'in "apreomy'in Kanami'in Amika'in 9. :luoroGuinolon7 "ipro%lo>a'in J%lo>a'in ;atilo%lo>a'in 1e&o%lo>a'in Me>i%lo>a'in /. asam aminosalisilat KJM,60AS6 J,AT3 Ai%amate ri%ater

Menghambat sintesis asam Hepatitis lemak menghambat translasi Hipotiroidsm 0ephroto>i'ity 0euromus'ular blokade Mengikat 2$s ribosom dan Jtoto>i'ity

Menghambat

topo( 0ausea Abdominal rashes Aestlessness ,ingung

isomerase 66 4D0A gyrase5

Kompetiti%

asam

para( ;angguan ;6T

amino benCoat antagonis 6soniaCidHAi%ampin 6soniaCidHAi%ampin H

pyraCinamaid DJTS7 obat untuk mera+at kasus T,. KESIMPULAN Sebagai kesimpulan, lesi T, di mulut jarang. 0amun demikian, %akta bah+a tuberkulosis dapat bermani%estasi oral, bersama(sama dengan tanda klinis spesi%ik dan in%eksius. Dokter gigi perlu menyadari bah+a T, dapat terjadi dalam rongga mulut dan sebaiknya memasukkan diagnosis banding dari ulser, indurasi dan

-?

penyembuhan lesi rongga mulut,khususnya pada masyarakat dengan kondisi sosial ekonomi rendah. Diagnosis a+al dan ren'ana pera+atan dapat membantu dalam men'egah kematian yang terjadi karena penyakit in%eksius sering komplikasi dengan gangguan multisistemik.

-E