Anda di halaman 1dari 110

DIMENSI PARTISI GRAF MULTIPARTIT DAN GRAF HASIL

KORONA DUA GRAF TERHUBUNG


DISERTASI
Karya tulis sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Doktor dari
Institut Teknologi Bandung
Oleh
DARMAJI
NIM: 30107003
Program Studi Doktor Matematika
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2011
Abstrak
DIMENSI PARTISI GRAF MULTIPARTIT DAN GRAF HASIL
KORONA DUA GRAF TERHUBUNG
Oleh
Darmaji
NIM: 30107003
Penentuan basis/partisi pembeda dari suatu graf adalah kajian menarik dalam teori
graf karena mempunyai banyak aplikasi. Klasikasi senyawa kimia, navigasi robot
dan jaringan, dan perancangan sensor adalah tiga contoh aplikasi tersebut. Slater
(1975) dan Harary dan Melter (1976) mengenalkan konsep himpunan pembeda
dalam suatu graf. Misalkan G = (V, E) adalah suatu graf terhubung. Untuk
W = w
1
, w
2
, , w
k
V (G) dan v V (G), representasi v terhadap W adalah
r(v[W) = (d(v, w
1
), d(v, w
2
), , d(v, w
k
)). Himpunan W disebut himpunan
pembeda dari V (G) jika r(u[W) ,= r(v[W) untuk sebarang dua simpul berbeda
u, v V (G). Dimensi metrik dari suatu graf G, disimbolkan dim(G), adalah
bilangan bulat terkecil k sedemikian hingga G mempunyai sebuah himpunan
pembeda dengan k anggota.
Selanjutnya, Chartrand dkk. (1998) mengenalkan ragam lain dari konsep
dimensi metrik yang disebut dimensi partisi graf. Misalkan v V (G) dan
S V (G), jarak antara v dan S adalah d(v, S) = min d(v, x)[x S. Untuk
sebuah partisi = S
1
, S
2
, , S
k
dari V (G), representasi v terhadap adalah
r(v[) = (d(v, S
1
), d(v, S
2
), , d(v, S
k
)). Partisi disebut partisi pembeda dari
G jika semua representasi dari setiap simpul v V (G) berbeda. Dimensi partisi
pd(G) adalah bilangan bulat terkecil k sedemikian hingga G mempunyai sebuah
partisi pembeda dengan k anggota.
Penelitian dalam dimensi partisi graf telah mendapatkan banyak perhatian.
Sebagai hasil pertama, Chartrand dkk. (1998) menentukan dimensi partisi dari
beberapa kelas pohon, yaitu graf bintang ganda dan graf ulat. Selanjutnya, dalam
(Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000), mereka mengkarakterisasi semua graf order
n dengan dimensi partisi 2, n dan n 1 berturut-turut. Mereka juga menunjukkan
bahwa pd(K
m,n
) = maxm, n. Kemudian, Tomescu (2008) mengkarakterisasi
semua graf order n dengan partisi dimensi n 2. Mereka juga meneliti dimensi
partisi beberapa graf tak-hingga. Akan tetapi, penentuan dimensi partisi dari
sebarang graf secara umum diklasikasikan sebagai NP-hard problem (Chartrand,
Salehi dan Zhang, 2000).
Dalam disertasi ini, kami menentukan dimensi partisi dari pohon kelas tertentu,
yaitu graf ulat (caterpillar), graf kembang api (recracker), dan graf pohon
ii
pisang (banana tree). Kami juga menentukan dimensi partisi graf multipartit, graf
bipartit lengkap minus matching, dan graf tripartit lengkap minus matching. Hasil
penelitian ini memperbaiki hasil dari Chartrand dkk. (1998) dan Chartrand, Salehi
dan Zhang (2000).
Untuk graf G dan H, graf hasil korona G H didenisikan sebagai graf
yang yang diperoleh dari G dan H dengan mengambil sebuah kopi graf G dan
[V (G)[ kopi graf H dan kemudian menghubungkan setiap simpul dari kopi ke-i graf
H dengan sebuah titik ke-i dari G. Kami mendapatkan batas atas dimensi partisi
graf GH jika diameter H paling banyak 2, yaitu pd(GH) pd(G) +pd(H).
Kami menunjukkan bahwa batas atas ini ketat. Untuk kasus tertentu, kami
mendapatkan pd(G H), jika G adalah graf lintasan P
m
, graf bintang K
1,m
atau
graf lengkap K
m
dan H adalah graf lengkap K
m
, graf bintang K
1,m
atau beberapa
kopi saling lepas dari graf lengkap K
m
.
Kata kunci: himpunan pembeda, partisi pembeda, dimensi metrik, dimensi partisi,
graf multipartisi, matching, graf hasil korona.
iii
Abstract
THE PARTITION DIMENSION OF MULTIPARTITE
GRAPHS AND CORONA PRODUCT OF TWO CONNECTED
GRAPHS
by
Darmaji
NIM: 30107003
Finding a set of vertices of a connected graph so that representations of all
vertices to such a set are distinct is an interesting research domain in Graph
Theory, due to many applications. Compound classication in chemistry, robotic
navigation and network, and censor design are some examples for these appli-
cations. Slater (1975) dan Harary dan Melter (1976) introduced the concept of
a resolving partition for a graph. Let G = (V, E) be a connected graph. For
W = w
1
, w
2
, , w
k
V (G) and v V (G), the representation of v with
respect to W is r(v[W) = (d(v, w
1
), d(v, w
2
), , d(v, w
k
)). The set W is called a
resolving set for V (G) if r(u[W) ,= r(v[W) for any two vertices u, v V (G). The
metric dimension dim(G) is the smallest integer k such that G has a resolving set
with k elements.
Furthermore, Chartrand dkk. (1998) introduced a variant of metric dimension
concept called partition dimension of a graph, as follows. Let v V (G) and
S V (G), the distance between v and S is d(v, S) = min d(v, x)[x S.
For an ordered partition = S
1
, S
2
, , S
k
of V (G), the representation of v
with respect to is r(v[) = (d(v, S
1
), d(v, S
2
), , d(v, S
k
)). The partition
is called a resolving partition of G if all representations of vertices are distinct.
The partition dimension of a graph G is the smallest integer k such that G has a
resolving partition with k elements.
The investigations on the partition dimension of graphs have been receiving
much attention. As the rst result, Chartrand dkk. (1998) determined the partition
dimension of special classes of trees, namely double stars and certain caterpillars.
Furthermore, in Chartrand, Salehi dan Zhang (2000), they characterized all graphs
on n vertices with partition dimension 2, n and n 1 respectively. They also
showed that pd(K
m,n
) = maxm, n. Lately, Tomescu (2008) characterized all
graphs on n vertices with partition dimension (n 2). They also investigated the
partition dimension for some innite graphs. However, determining of the partition
dimension of any graph in general is classied as an NP-hard problem (Chartrand,
Salehi dan Zhang, 2000).
In this dissertation, we determine the partition dimension of specied classes
iv
of trees, namely caterpillars, recrackers and banana trees. Our result for cater-
pillars improved the result of Chartrand dkk. (1998). We also determine the
partition dimension of multipartite graphs, complete bipartite graphs minus a
matchings and complete tripartite graphs minus matchings. These works are an
improvement of the results in Chartrand dkk. (1998) dan Chartrand, Salehi dan
Zhang (2000).
For graphs G and H, the corona product G H is dened as the graph
obtained from G and H by taking one copy of G and [V (G)[ copies of H and then
joining each vertex of the i
th
-copy of H with the i
th
-vertex of G by an edge . We
shall derive an upper bound of the partition dimension of GH if the diameter of
H is at most 2, namely pd(GH) pd(G) + pd(H). We show that this bound is
tight. For specic cases, we investigate pd(G H), if G is either a path P
m
, a star
K
1,m
or a complete graph K
m
and H is a complete graph K
m
, a star K
1,m
or some
disjoin copies of K
m
.
Key words: resolving set, resolving partition, metric dimension, partition
dimension, multipartite graph, matching, corona product graph.
v
DIMENSI PARTISI GRAF MULTIPARTIT DAN GRAF HASIL
KORONA DUA GRAF TERHUBUNG
Oleh
Darmaji
NIM: 30107003
Program Studi Doktor Matematika
Institut Teknologi Bandung
Menyetujui
Tim Pembimbing
Tanggal 14 Juni 2011
Ketua
Prof. Dr. Edy Tri Baskoro
Anggota Anggota
Dr. Saladin Uttunggadewa Dr. Rinovia Simanjuntak
vi
Karena paduka memintaku terus berguru maka aku terus berguru.
Peluh dalam berguru adalah kegembiraan tiada berbilang
karena cinta paduka menebar tak berkesudahan,
di dalam setiap ihtiar dan perolehan.
vii
Pedoman Penggunaan Disertasi
Disertasi Doktor yang tidak dipublikasikan ini terdaftar dan tersedia di Perpus-
takaan Institut Teknologi Bandung, dan terbuka untuk umum dengan ketentuan
bahwa hak cipta ada pada pengarang dengan mengikuti aturan HaKI yang berlaku
di Institut Teknologi Bandung.
Referensi kepustakaan diperkenankan dicatat, tetapi pengutipan atau peringkasan
hanya dapat dilakukan seizin pengarang dan harus disertai dengan kebiasaan ilmiah
untuk menyebutkan sumbernya.
Memperbanyak atau menerbitkan sebagian atau seluruh disertasi haruslah seizin
Dekan Sekolah Pascasarjana, Institut Teknologi Bandung.
viii
Ucapan Terima Kasih
Yang ada hanya cinta karena yang kita sebut sebagai bukan cinta sesungguhnya
adalah cinta jua, hanya saja ia tak menemukan wilayah untuk tumbuh dan bersemi.
Karena cinta pula penulis dapat menyelesaikan pendidikan Program Doktor
Matematika ITB. Kegembiraan penulis adalah kegembiraan karena cinta yang
menebar.
Cinta dari Prof. Dr. Edy Tri Baskoro (promotor), Dr. Saladin Uttunggadewa
(ko-promotor I) dan Dr. Rinovia Simanjuntak (ko-promotor II) adalah cinta yang
melimpah mengalir tak berkesudahan dalam diskusi dan pembimbingan. Cinta
beliau adalah cinta yang menggerakkan untuk menjadi matematikawan yang baik
karena beliau matematikawan yang sangat baik. Beliau mumpuni dalam keilmuan,
jernih dalam penyampaian, dan terampil dalam memadukan kepakaran akademik
dan indahnya silaturahim.
Cinta dari Prof. Martin Ba ca adalah cinta yang memberi makna pada indahnya
keragaman dan hangatnya komunikasi akademik pada tiga bulan masa-masa
program sandwich-like di Technical University of Kosice, Republik Slovakia.
Cinta dari segenap kolega di Institut Teknologi Bandung adalah cinta yang
menguak cakrawala keilmuan, memberi sejumlah petunjuk dan memandu bergerak
ke depan. Terus bergerak. Belajar tak berkesudahan sambil tetap menjaga
kerendah-hatian.
Cinta dari segenap kolega di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya
adalah cinta sawah ladang yang memberi kesuburan bagi tumbuh-kembangnya
kehidupan akademik penulis. Cinta dari segenap kolega di Jurusan Matematika ITS
adalah cinta yang memberi kerelaan ketika harus melakoni tugas, yang semestinya
menjadi tugas penulis, selama masa-masa menempuh jenjang pendidikan S3.
Cinta dari Kementerian Negara Pendidikan Nasional dan Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi adalah cinta yang memfasilitasi dengan beragam skema
pendanaan: BPPS (Beasiswa Pendidikan Pasca Sarjana), Program Sandwich-like,
Program Penelitian Doktor, dan Program Insentif Penulisan untuk Jurnal Interna-
ix
sional.
Cinta dari istri, anak, dan keluarga besar adalah cinta yang men-samudra.
Ke mana hendak berlayar, samudra memberi air dan kapal. Ke mana hendak
bergerak, samudra memberi layar, angin dan bintang. Ketika letih menjadi kenis-
cayaan, samudra dan segala anasirnya bersekutu memberi energi. Cinta istri dan
anak adalah cinta yang juga mewujud dalam bentuk kesanggupan mengambil porsi
sangat besar peran ayah pada masa-masa si ayah menempuh jenjang pendidikan S3.
Cinta dari kawan-kawan di Program Doktor Matematika Program Pasca Sarjana
(PPS) ITB adalah cinta yang memurnikan melaui beragam diskusi dan perbin-
cangan yang mencerahkan; adalah cinta yang tak memberi ruang bagi segala
hal yang tak membahagiakan; adalah cinta yang selalu hadir ketika semua yang
bernama keluarga berada dalam jarak ratusan kilometer dari Bandung.
Karena cinta dan atas nama cinta, penulis menghaturkan terima kasih tak
berkesudahan kepada semua yang telah memberikan cinta kepada penulis.
Karena cinta penulis tumbuh dari ketulusan, tentulah ia bergerak meninggi,
menjangkau langit, dan sampai jua ke Sang Maha Cinta.
Bandung, 14 Juni 2011
Penulis
x
Daftar Isi
Abstrak . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ii
Abstract . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . iv
Pedoman Penggunaan Disertasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . viii
Ucapan Terima Kasih. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . ix
Daftar Isi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xi
Daftar Gambar . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xiii
Daftar Lambang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . xv
Bab I Pendahuluan. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
I.1 Latar Belakang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
I.2 Tujuan dan Lingkup Penelitian . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
I.3 Sistematika Penulisan Disertasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
Bab II Berbagai Konsep Dimensi dalam Graf . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
II.1 Denisi dan operasi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
II.2 Dimensi metrik . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
II.3 Dimensi partisi . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 12
II.4 Kaitan antara dimensi partisi dan parameter lainnya . . . . . . . . 14
II.5 Dimensi partisi graf asal dan graf hasil operasi . . . . . . . . . . . . . 18
Bab III Dimensi Partisi Sejumlah Graf Pohon . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
III.1 Dimensi partisi graf ulat . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 28
III.2 Dimensi partisi graf kembang api . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
III.3 Dimensi partisi graf pohon pisang . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
Bab IV Dimensi Partisi Graf Multipartit . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 48
IV.1 Dimensi partisi graf multipartit lengkap. . . . . . . . . . . . . . . . . . . 48
IV.2 Dimensi partisi graf bipartit minus matching. . . . . . . . . . . . . . . 52
IV.3 Dimensi partisi graf tripartit minus matching . . . . . . . . . . . . . . 59
Bab V Dimensi Partisi Graf Hasil Operasi Korona . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 63
V.1 Batas atas dimensi partisi graf hasil operasi korona . . . . . . . . . 63
V.2 Dimensi partisi graf lintasan korona graf lengkap . . . . . . . . . . . 64
V.3 Dimensi partisi graf lintasan korona graf bintang . . . . . . . . . . . 68
V.4 Dimensi partisi graf lengkap korona graf lengkap . . . . . . . . . . 73
V.5 Dimensi partisi graf persahabatan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 78
V.6 Dimensi partisi graf kincir . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 79
V.7 Dimensi partisi graf bintang korona graf lengkap . . . . . . . . . . . 81
Bab VI Simpulan dan Masalah Terbuka. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 85
VI.1 Simpulan . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 85
VI.2 Masalah terbuka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 86
Daftar Pustaka . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 88
xi
Indeks . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 90
xii
Daftar Gambar
Gambar II.1 Graf terhubung G dengan diam(G) = 4 . . . . . . . . . . . . . . 6
Gambar II.2 a.Union graf lintasan P
3
dan P
5
, dan b.Join graf
lintasan P
3
dan P
5
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
Gambar II.3 a.Graf lengkap K
3
dan graf lintasan P
3
, b.Graf hasil
kartesian P
3
K
3
, dan c.Graf hasil korona P
3
K
3
. . . 8
Gambar II.4 Himpunan pembeda dari K
2,4
: a.W
1
= a
1
, b
1
, b
2
, b
3
,
b
4
, b.W
2
= a
1
, b
1
, b
2
, b
3
, dan c.W
3
= a
1
, b
1
, b
2
. . . . 9
Gambar II.5 Sebuah graf G dengan q (G) dan p / (G) . . . . . . . . 10
Gambar II.6 Partisi pembeda dari K
2,4
: a.
1
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, S
5
,
b.
2
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, dan c.
3
= S
1
, S
2
, S
3
. . . . . . 13
Gambar II.7 a.pd(Z
2
,
4
) = 3 dan b.pd(Z
2
,
8
) = 4, namun dimensi
metrik kedua graf tak berhingga . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 16
Gambar II.8 a.Dimensi partisi dari graf G dinyatakan oleh banyak
simpul anting pada simpul x
1
dan b.Dimensi metrik
dari graf G dinyatakan oleh banyak simpul putih pada
graf tersebut . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 17
Gambar II.9 Graf bintang ganda T(r, s) dengan deg(u) = r +1 dan
deg(v) = s + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19
Gambar II.10 Graf pohon dengan
t
(T) = 3 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 20
Gambar II.11 Graf gir G
8
dan graf helm H
4
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
Gambar II.12 Graf bunga matahari SF
4
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22
Gambar III.1 a.Graf ulat homogen C(3; 4) dan b.Graf ulat tak-
homogen C(4; 4, 3, 2, 4) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 29
Gambar III.2 Dua kondisi subgraf graf ulat K
1,n
i
dan K
1,n
j
yang
berjarak sama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 30
Gambar III.3 Partisi pembeda minimum graf C(10; 3, 4, 3, 1, 3, 4,
2, 2, 4, 4) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 33
Gambar III.4 Partisi pembeda minimum graf C(11; 3, 4, 3, 1, 3, 4, 2,
2, 4, 4, 4) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 34
Gambar III.5 a.Partisi pembeda minimum graf C(6; 1, 1, 1, 1, 1, 1)
dan b.Partisi pembeda minimum graf C(4; 2, 2, 2, 2) . . . . 35
Gambar III.6 a.Graf kembang api homogen dan b.Graf kembang api
tak-homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
Gambar III.7 Dua kondisi subgraf kembang api K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 37
Gambar III.8 a.Partisi pembeda minimum dari graf F(2; 3) dan
b.Partisi pembeda minimum dari graf F(2; 4) . . . . . . . . . 41
Gambar III.9 Partisi pembeda minimum graf F(6; 2, 2, 2, 2, 2, 2) . . . . . 42
Gambar III.10 Graf pohon pisang homogen B(3; 5) . . . . . . . . . . . . . . . . . 44
Gambar III.11 Partisi pembeda minimum graf pohon pisang B(3; 5) . . . 45
Gambar III.12 Partisi pembeda minimum graf pohon pisang B(16; 4) . . 46
xiii
Gambar IV.1 a.Graf tripartit K
4,4,4
dan b.Contoh himpunan ber-
indeks I
i
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 49
Gambar IV.2 a.Graf bipartit K
4,4
minus perfect matching dan b.Graf
bipartit K
4,6
minus maximum matching . . . . . . . . . . . . . . 52
Gambar IV.3 a.Sisi perfect matching graf K
4,4,4
dan b.Sisi near-
perfect matching graf K
5,5,5
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 60
Gambar V.1 Partisi pembeda graf P
6
K
4
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 65
Gambar V.2 a.Partisi pembeda graf P
m
K
1,2
dengan m = 3 dan
b.Partisi pembeda graf P
m
K
1,2
dengan m = 4 . . . . . . 72
Gambar V.3 Partisi pembeda graf K
11
K
3
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 74
Gambar V.4 a.Graf persahabatan f
4
dan b.Graf kincir W
4
4
. . . . . . . . . . 80
Gambar V.5 Graf K
1,m
korona K
n
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 81
xiv
Daftar Lambang
Pemakaian
Lambang Keterangan pertama kali
pada halaman
B(m; n) Graf pohon pisang homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 43
C(m; n) Graf ulat homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 29
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) Graf ulat tak-homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 29
cpd(G) Dimensi partisi terhubung graf G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
deg(v) Derajat simpul v . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 19
diam(G) Diameter graf G . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
dim(G) Dimensi metrik graf G . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
d(u, v) Jarak dari simpul u ke v . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 6
d(v, S) Jarak dari simpul u ke subhimpunan S . . . . . . . . . . . . . . . . 7

t
(T) = 3 Derajat terminal maksimum simpul mayor eksterior dari
pohon T . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
F(m; n) Graf kembang api homogen. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
F(m; n
1
, n
2
, , n
m
) Graf kembang api tak-homogen . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 36
g(n, d) Bilangan bulat positif terkecil k sedemikian hingga (d +
1)
k
n . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 18
G
1
+G
2
Graf G
1
join G
2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
G
1
G
2
Graf G
1
kartesian G
2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
G
1
G
2
Graf G
1
korona G
2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 8
G
1
G
2
Graf G
1
union G
2
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 7
G
2n
Graf gir order 2n + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 21
xv
H
n
Graf helm order 2n + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22
K
1,n
Graf bintang order n + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
K
n
Graf lengkap order n . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
K
n
1
,n
2
, ,n
r
Graf r-partit lengkap . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 48
K
n,n,n
Graf tripartit homogen lengkap. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 59
mK
n
m buah kopi disjoin dari graf lengkap K
n
. . . . . . . . . . . . . 4
pd(G) Dimensi partisi graf G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
ppd(G) Dimensi partisi lintasan graf G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
P
n
Graf lintasan order n . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 2
spd(G) Dimensi partisi bintang graf G. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 14
SF
n
Graf bunga matahari order 2n + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 22
V (G) Himpunan simpul graf G = (V, E) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
w W Simpul w anggota himpunan W . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 1
W
m
n
Graf kincir order mn + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 4
W
n
Graf roda order n + 1 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
W V (G) W himpunan bagian dari atau sama dengan V (G) . . . . . . 1
(Z
2
,
4
) Graf planar teratur-4 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
(Z
2
,
8
) Graf teratur-8. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . 3
xvi
Bab I Pendahuluan
Pada Bab I ini diberikan latar belakang pemilihan topik penelitian dalam disertasi,
tujuan dan ruang lingkup, dan sistematika penulisan.
I.1 Latar Belakang
Representasi dan klasikasi senyawa kimia adalah salah satu masalah yang dihadapi
oleh para kimiawan. Permasalahan ini dapat diuraikan sebagai berikut: Pertama,
bagaimana merepresentasikan dua atau lebih senyawa kimia yang mempunyai
rumus kimia sama tetapi mempunyai struktur berbeda. Kedua, bagaimana
merepresentasikan dua senyawa kimia yang mempunyai rumus kimia berbeda
tetapi mempunyai struktur sama. Dalam reaksi kimia, struktur sebuah senyawa
kimia menentukan karakteristik senyawa tersebut. Representasi yang unik akan
memudahkan klasikasi sebuah senyawa kimia.
Johnson (1993), seorang kimiawan pada sebuah perusahaan farmasi, menggunakan
konsep himpunan pembeda yang dikenalkan secara terpisah oleh Slater (1975) dan
oleh Harary dan Melter (1976). Dengan konsep ini, senyawa kimia direpresen-
tasikan secara unik sebagai objek matematika. Klasikasi senyawa kimia dilakukan
dengan mempelajari dan mengklasikasi objek matematika ini (Chartrand dan
Zhang, 2003). Senyawa kimia direpresentasikan dalam bentuk graf. Simpul
graf menyatakan atom, dan sisi graf menyatakan ikatan valensi antara dua atom.
Misalkan V (G) adalah himpunan semua simpul di graf G dan W adalah himpunan
sejumlah simpul terurut, dengan W V (G). Dengan menghitung jarak setiap
simpul v V (G) terhadap setiap simpul w W, konsep himpunan pembeda
memastikan setiap simpul v V (G) mempunyai representasi berbeda. Jika dua
senyawa berbeda mempunyai himpunan V (G) dan jarak v ke w yang sama, untuk
semua v V (G) dan w W, maka kedua senyawa tersebut dalam satu klasikasi.
Selanjutnya, Chartrand dkk. (1998) mengenalkan konsep partisi pembeda yang
merupakan bentuk serupa dari himpunan pembeda suatu graf. Chartrand dkk.
(1998) melakukan pengelompokan simpul di graf G ke dalam sejumlah kelas
partisi dan menghitung jarak setiap simpul di G terhadap semua kelas partisi untuk
1
merepresentasikan setiap simpul pada graf G.
Himpunan pembeda W memastikan representasi berbeda untuk semua simpul di
graf G, yaitu dengan menunjukkan jarak simpul v V (G) ke semua simpul di W
V (G) dan dimensi metrik memastikan kardinalitas W adalah minimal. Sedangkan
partisi pembeda memastikan representasi berbeda untuk semua simpul di graf G,
yaitu dengan menunjukkan jarak simpul v V (G) ke semua kelas partisi dalam
dan dimensi partisi memastikan kardinalitas adalah minimal.
Pada paper pertama tentang dimensi partisi, Chartrand dkk. (1998) menunjukkan
dimensi partisi graf bintang ganda T dan memberikan batas atas dan batas bawah
dimensi partisi graf ulat (caterpillar). Dua tahun kemudian Chartrand, Salehi dan
Zhang (2000) membuktikan bahwa sebuah graf G mempunyai pd(G) = 2 jika dan
hanya jika G adalah graf lintasan P
n
dan menunjukkan bahwa graf G mempunyai
pd(G) = n jika dan hanya jika G

= K
n
.
Selain itu, Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) mengkarakterisasi semua graf
terhubung G order n yang mempunyai dimensi partisi (n 1). Jika G adalah graf
terhubung order n 2 maka pd(G) = n1 jika dan hanya jika Gadalah salah satu
dari graf berikut: K
1,n1
, K
n
e, atau K
1
+(K
1
K
n2
). Karakterisasi berikutnya
dilakukan oleh Tomescu (2008), yaitu mengkarakterisasi semua graf terhubung G
order n yang mempunyai dimensi partisi (n 2). Tomescu (2008) menunjukkan
hanya terdapat 23 graf tak-isomork yang mempunyai dimensi partisi n2. Dengan
demikian, dimensi partisi dari sebarang graf terhubung G order n lainnya terletak
pada selang [3, (n3)]. Namun, problem penentuan dimensi partisi untuk sebarang
graf terhubung G adalah NP-Complete (Garey dan Johnson, 1979).
Dimensi partisi untuk beberapa kelas graf tertentu telah dikaji oleh banyak peneliti,
misalnya dimensi partisi graf pohon (graf bintang ganda, graf ulat (Chartrand dkk.,
1998), graf bintang, graf bipartit (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000)), graf roda
(Tomescu dkk., 2007), dan graf mirip roda (graf gir, graf helm, graf bunga matahari
(Javaid dan Shokat, 2008)). Lebih jauh, Chartrand dkk. (1998) dan Yero dkk. (2010)
menentukan dimensi partisi graf hasil operasi kartesian antara dua graf terhubung.
Penelitian dimensi partisi untuk graf tak hingga dimulai oleh Tomescu (2008). Ia
menunjukkan graf planar teratur-4 (Z
2
,
4
) mempunyai dimensi partisi 3 dan graf
teratur-8 (Z
2
,
8
) mempunyai dimensi partisi 4. Graf planar teratur-4 (Z
2
,
4
)
adalah graf yang memiliki himpunan simpul V ((Z
2
,
4
)) = Z
2
dan himpunan sisi
2
graf (Z
2
,
4
) adalah semua pasangan simpul di (Z
2
,
4
) yang memiliki jarak blok
kota 1. Jarak blok kota dari dua simpul (i, j) dan (i

, j

) pada (Z
2
,
4
) dide-
nisikan dengan d
4
((i, j), (i

, j

)) = [i i

[ + [j j

[. Semua daerah pada graf


planar teratur-4 (Z
2
,
4
) berupa bujursangkar. Graf teratur-8 (Z
2
,
8
) adalah graf
yang memiliki himpunan simpul V ((Z
2
,
8
)) = Z
2
dan himpunan sisi graf (Z
2
,
8
)
adalah semua pasangan simpul di (Z
2
,
8
) yang memiliki jarak papan catur 1. Jarak
papan catur dari dua simpul (i, j) dan (i

, j

) pada (Z
2
,
8
) didenisikan sebagai
d
8
((i, j), (i

, j

)) = maks([i i

[, [j j

[). Graf teratur-8 (Z


2
,
8
) dapat diperoleh
dengan menggambarkan semua diagonal pada setiap daerah bujursangkar dari graf
(Z
2
,
4
).
Dalam hal nilai dimensi partisi dari suatu graf belum dapat ditentukan, peneliti
memberikan batas atas dan batas bawah dimensi partisi dari graf tersebut. Misalkan
graf roda W
n
, dimensi partisi graf roda pd(W
n
) diberikan dalam selang (2n)
1/3
|
pd(W
n
) p + 1, dengan p adalah bilangan prima terkecil sedemikian hingga
p(p 1) n (Tomescu dkk., 2007).
Di antara banyak kelas graf, graf pohon termasuk kelas graf sederhana yang penting
karena digunakan secara luas tidak hanya di banyak bidang aplikasi tetapi juga
dalam Teori Graf sendiri. Graf pohon adalah graf terhubung yang tidak memuat
siklus. Graf pohon digunakan antara lain pada analisis hirarki bisnis, penentuan
biaya minimum pada jaringan transportasi, dan dasar struktur data pada ilmu
komputer (B ona, 2002). Ketika berdiskusi tentang suatu konsep atau dugaan dalam
teroi graf, biasanya orang mengkaji konsep tersebut atau memeriksa dugaan tersebut
pada kelas pohon terlebih dahulu (Bin dan Zhongyi, 2010).
Dalam hal dimensi metrik, Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann (2000) telah
berhasil memberikan dimensi metrik untuk sebarang graf pohon T secara lengkap.
Namun, tidak demikian untuk dimensi partisi graf pohon. Hanya beberapa graf
dalam kelas pohon yang telah diketahui dimensi partisinya, seperti graf bintang
ganda dan graf bintang. Lebih jauh, dimensi partisi graf ulat baru didapatkan batas
atas dan batas bawahnya (Chartrand dkk., 1998). Untuk itu, kami akan membahas
dimensi partisi beberapa graf dalam kelas pohon, yaitu graf ulat (caterpillar), graf
kembang api (recracker), dan graf pohon pisang (banana tree).
Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) mengawali penelitian dimensi partisi untuk
kelas graf multipartit dengan menentukan dimensi partisi graf bipartit. Oleh karena
3
baru dimensi partisi graf bipartit yang telah diketahui, dalam disertasi ini kami
membahas pula dimensi partisi graf r-partit, graf bipartit minus sebuah matching,
dan graf tripartit minus sebuah matching.
Demikian pula halnya dengan penentuan dimensi partisi graf hasil operasi biner
antara dua graf. Chartrand dkk. (1998) dan Yero dkk. (2010) memberikan dimensi
partisi graf hasil operasi kartesian antara dua graf terhubung. Dalam disertasi ini
kami membahas dimensi partisi graf hasil operasi korona antara dua graf terhubung.
I.2 Tujuan dan Lingkup Penelitian
Penelitian dalam disertasi ini mempunyai 3 tujuan berikut:
Pertama, menentukan dimensi partisi graf kelas pohon, yaitu graf ulat, graf
kembang api, dan graf pohon pisang .
Kedua, menentukan dimensi partisi graf r-partit. Tujuan kedua ini dapat dipandang
sebagai perumuman dari dimensi partisi graf bipartit hasil penelitian (Chartrand,
Salehi dan Zhang, 2000). Lebih dari itu, kami juga menentukan dimensi partisi graf
bipartit minus sebuah matching dan graf tripartit minus sebuah matching.
Ketiga, menentukan dimensi partisi graf hasil operasi korona antara dua graf
terhubung, yaitu F

= GH. Kami menentukan batas atas dimensi partisi GH
untuk sebarang graf G dan graf H berdiameter paling banyak 2. Untuk kasus
tertentu, kami menentukan dimensi partisi graf dari: P
m
K
n
, P
m
K
1,n
, K
m
K
n
,
K
1
mK
n
, dan K
1,m
K
n
, dengan P
m
, K
m
, K
1,m
dan mK
n
masing-masing adalah
graf lintasan order m, graf lengkap order m, graf bintang order m + 1, dan m kopi
disjoin graf lengkap K
n
. Graf K
1
mK
n
isomorf dengan graf kincir W
m
n
. Untuk
n = 2 graf kincir W
m
n
isomorf dengan graf persahabatan f
m
.
I.3 Sistematika Penulisan Disertasi
Disertasi ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut.
Bab I memberi paparan tentang latar belakang dan perumusan masalah. Peta
jalan (road map) penelitian dalam bidang dimensi partisi, dari sejak awal sebagai
topik penelitian sampai penelitian terbaru, juga diberikan dalam bab ini. Dengan
demikian, pembaca akan menemukan keterkaitan penelitian dalam disertasi ini
4
dengan hasil-hasil yang sudah diperoleh oleh para peneliti sebelumnya dan, pada
saat yang sama, dapat melihat kecenderungan penelitian dalam bidang ini pada
masa yang akan datang.
Dasar-dasar teori graf, denisi dan peristilahan yang diperlukan dalam pembahasan
dimensi partisi sebuah graf diberikan dalam Bab II. Seperti disampaikan di atas,
dimensi partisi dapat dipandang sebagai ragam lain dari konsep himpunan pembeda
dan dimensi metrik sebuah graf. Dengan demikian, agar pembaca lebih mudah
memahami konsep dimensi partisi, paparan tentang dimensi metrik diberikan
mendahului paparan tentang konsep dimensi partisi. Pada bagian akhir Bab II
diberikan teorema-teorema dimensi partisi hasil penelitian peneliti sebelumnya.
Sejumlah teorema yang terkait langsung dengan penelitian dalam disertasi ini
disertai dengan pembuktiannya.
Hasil-hasil penelitian dalam disertasi ini diberikan dalam Bab III dan Bab IV. Bab
III berisi bahasan dimensi partisi dari sejumlah graf dalam kelas pohon, seperti graf
ulat, graf kembang api, dan graf pohon pisang. Pada bagian akhir Bab III diberikan
bahasan dimensi partisi dari graf multipartit, graf bipartit minus sebuah matching,
dan graf tripartit minus sebuah matching.
Hasil-hasil dan pembahasan dimensi partisi graf hasil operasi korona antara dua graf
terhubung G dan H diberikan dalam Bab IV. Pembahasan diawali dengan teorema
yang memberi batas atas dari dimensi partisi graf F

= G H dengan diameter
diam(H) 2. Graf hasil operasi korona yang juga dibahas dimensi partisinya
dalambab ini adalah graf P
m
K
n
, P
m
K
1,n
, K
m
K
n
, K
1
mK
n
, dan K
1,m
K
n
.
Bab V berisi simpulan dan sejumlah masalah terbuka dalam penelitian dimensi
partisi. Masalah terbuka pada bab ini diharapkan dapat menjadi bahan diskusi
dan stimulasi dimulainya penelitian lanjut dalam bidang dimensi partisi sebuah graf
terhubung G.
Hasil utama penelitian disertasi ini dinyatakan dalam bentuk lema, teorema, dan
akibat yang diberi tanda .
5
Bab II Berbagai Konsep Dimensi dalam Graf
Pada Bab II ini akan dipaparkan beberapa denisi dan istilah dalam teori graf yang
terkait dengan dimensi partisi sebuah graf terhubung G. Di bagian akhir bab ini
juga diberikan hasil-hasil penelitian dalam bidang dimensi partisi dari para peneliti
sebelumnya.
II.1 Denisi dan operasi
Graf G = (V, E) didenisikan sebagai suatu sistem yang terdiri atas dua himpunan,
yaitu himpunan tak kosong V (G) yang elemennya disebut simpul (vertex) dan
himpunan (mungkin kosong) E(G) V
2
= u, v[u, v V . Setiap elemen di
E(G) disebut sisi (edge). Jika e = u, v E(G) maka u dikatakan bertetangga
dengan v dan sisi e dikatakan melekat pada simpul u dan v. Untuk penyederhanaan
penulisan, sisi e = u, v ditulis e = uv dan graf G = (V, E) ditulis G.
Simpul u dikatakan terhubung dengan simpul v jika terdapat lintasan dari u ke v
di G. Dalam hal ini, simpul v disebut dapat dicapai (accessible) dari simpul u.
Jika simpul u dan v terhubung maka panjang lintasan terpendek dari u ke v disebut
jarak dari u ke v dan dinotasikan dengan d(u, v). Jika G tidak memiliki lintasan
dari u ke v maka didenisikan d(u, v) = . Graf Gdikatakan terhubung jika setiap
dua simpul berbeda u, v V (G) terhubung. Graf G pada Gambar II.1 adalah graf
terhubung. Jarak simpul a ke g, d(a, g) = 3.
Jika simpul u V (G) dan subhimpunan S V (G), maka jarak dari u ke
S didenisikan sebagai mind(u, x)[x S dan dinotasikan dengan d(u, S).
Jelas, untuk u S, d(u, S) = 0. Diameter dari graf G didenisikan sebagai
D
DD
D
D
DD
D
a
D
b c
d
e
f
g
h
i
S
Gambar II.1: Graf terhubung G dengan diam(G) = 4
.
6
D D DD
D DD
D D DD
D DD
DD
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
1 2 3
1 2 3
Gambar II.2: a.Union graf lintasan P
3
dan P
5
, dan b.Join graf lintasan P
3
dan P
5
.
maxd(x, y)[x, y V (G) dan dinotasikan dengan diam(G). Perhatikan graf G
pada Gambar II.1, d(a, S) = 2 dan diam(G) = 4.
Misalkan G
1
= (V
1
, E
1
) dan G
2
= (V
2
, E
2
) dua graf terhubung. Suatu graf baru
G dapat dibangun dengan mengenakan operasi biner pada graf G
1
dan G
2
. Berikut
ini diberikan empat contoh operasi biner, yaitu union, join, kartesian, dan korona.
Union G

= G
1
G
2
adalah graf G(V, E) dengan V (G) = V (G
1
) V (G
2
) dan
E(G) = E(G
1
) E(G
2
). Jadi, graf G

= G
1
G
2
terdiri atas sebuah kopi graf G
1
bersama-sama dengan sebuah kopi graf G
2
. Gambar II.2.a memberikan gambaran
graf hasil operasi union P
3
dan P
4
.
Join dua graf G
1
dan G
2
, dinotasikan dengan G

= G
1
+G
2
, mempunyai himpunan
simpul V (G) = V (G
1
) V (G
2
) dan himpunan sisi E(G) = E(G
1
) E(G
2
)
uv[u V (G
1
) dan v V (G
2
). Dengan kata lain, graf G

= G
1
+ G
2
diperoleh
dengan menambahkan pada G
1
G
2
sisi-sisi yang mempunyai satu simpul ujung di
G
1
dan simpul ujung lainnya di G
2
. Jika graf G
1
dan G
2
masing-masing berorder
m dan n, maka untuk mendapatkan graf G
1
+ G
2
kita menambahkan mn buah sisi
pada graf G
1
G
2
. Gambar II.2.b memberikan gambaran graf hasil operasi join P
3
dan P
4
.
Hasil kali kartesian antara graf G
1
dan graf G
2
, dinotasikan dengan G

= G
1

G
2
, menghasilkan sebuah graf baru G yang mempunyai himpunan simpul V (G) =
V (G
1
) V (G
2
) dan himpunan sisi E(G) = E(G
1
) V (G
2
) V (G
1
) E(G
2
).
Simpul ujung sisi (d, v) E(G) V (G
2
) adalah simpul-simpul (x, v) dan (y, v)
dengan x dan y adalah simpul ujung dari sisi d E(G
1
). Simpul ujung sisi (u, e)
V (G) E(G
2
) adalah simpul (u, s) dan (u, t), dengan s dan t adalah simpul ujung
dari sisi e E(G
2
). Gambar II.3.b mengilustrasikan graf hasil kali kartesian P
3

K
3
.
7
D
x
D
D
D
b1
(c)
a1
D
y
D
D
D
D
z
D
D
D
D D
D
D D
D
D D
D
(a,x)
(a)
D D
D
D
D
D
x
y
z
a
b c
(c,x) (b,x)
(a,y)
(c,y) (b,y)
(a,z)
(c,z) (b,z)
K3 :
P3 :
c1 b2 b3 c2 c3
a2 a3
(b)
Gambar II.3: a.Graf lengkap K
3
dan graf lintasan P
3
, b.Graf hasil kartesian P
3

K
3
, dan c.Graf hasil korona P
3
K
3
Hasil kali korona G

= G
1
G
2
didenisikan sebagai graf yang yang diperoleh
dari G
1
dan G
2
dengan mengambil sebuah kopi dari G
1
dan [V (G
1
)[ kopi dari G
2
dan kemudian menghubungkan dengan sebuah sisi setiap simpul dari kopi ke-i dari
G
2
dengan sebuah simpul ke-i dari G
1
, dengan 1 i [V (G
1
)[, Gambar II.3.b
mengilustrasikan graf hasil kali korona P
3
K
3
.
Misalkan G
i
2
adalah kopi ke-i dari graf G
2
dalam G
1
G
2
. Karena semua simpul
pada G
i
2
dihubungkan dengan sebuah simpul di G
1
, dan bila diam(G
2
) 3,
maka operasi korona menyebabkan diam(G
i
2
K
1
) = 2. Jika diam(G
2
) 2,
maka diam(G
i
2
) K
1
tidak berubah. Seperti ditunjukkan pada Gambar II.3.b, graf
lengkap K
3
mempunyai diam(K
3
) = 1 = diam(K
i
3
x
i
) untuk suatu i pada selang
[1, 3].
II.2 Dimensi metrik
Slater (1975) mengenalkan konsep himpunan pembeda dengan istilah locating
set, sedangkan Harary dan Melter (1976) menamakan konsep tersebut dengan
resolving set. Misalkan G = (V, E) adalah graf dengan himpunan simpul
V (G) dan himpunan sisi E(G). Jika subhimpunan terurut W V (G), dengan
W = w
1
,w
2
, , w
k
, dan v V (G) maka representasi v terhadap W dideni-
sikan sebagai pasangan-k terurut (d(v, w
1
),d(v, w
2
), , d(v, w
k
)) dan dinotasikan
dengan r(v[W). Jika untuk setiap dua simpul berbeda u, v V (G) berlaku
r(u[W) ,= r(v[W), maka W disebut himpunan pembeda dari V (G). Himpunan
pembeda W dengan kardinalitas minimum disebut himpunan pembeda minimum
atau basis dari G. Semua simpul anggota basis dari G disebut simpul basis dari G.
Dimensi metrik dari graf G, dinotasikan dim(G), adalah banyak simpul dalam basis
8
(c) (a) (b)
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
Gambar II.4: Himpunan pembeda dari K
2,4
: a.W
1
= a
1
, b
1
, b
2
, b
3
, b
4
, b.W
2
=
a
1
, b
1
, b
2
, b
3
, dan c.W
3
= a
1
, b
1
, b
2

G. Jika dim(G) = k maka G dikatakan berdimensi metrik k.


Representasi dari dua sebarang simpul w
i
, w
j
W, dengan i ,= j, masing-
masing mempunyai 0 pada koordinat ke-i dan ke-j. Oleh karena itu, representasi
r(w
i
[W) ,= r(w
j
[W) berbeda untuk i ,= j .Dengan demikian, untuk menentukan
apakah W adalah sebuah himpunan pembeda pada graf G, pemeriksaan cukup
dilakukan pada semua simpul di V (G) W. Jika d(u, x) ,= d(v, x) maka simpul x
dikatakan membedakan simpul u dan v, atau simpul u dan v dapat dibedakan oleh
simpul x. Hal yang sama, jika r(u[W) ,= r(v[W), maka dikatakan himpunan W
membedakan simpul u dan v, atau simpul u dan v dibedakan oleh himpunan W.
Gambar II.4 mengilustrasikan suatu himpunan terurut W K
2,4
untuk graf
bipartit lengkap K
2,4
. Gambar II.4.a menunjukkan bahwa W
1
= a
1
, b
1
, b
2
, b
3
, b
4

adalah himpunan pembeda karena semua simpul di K


2,4
mempunyai representasi
yang berbeda. Akan tetapi, kardinalitas W
1
tidak minimum, karena pada Gambar
II.4.b dapat ditunjukkan bahwa W
2
= a
1
, b
1
, b
2
, b
3
adalah himpunan pembeda.
Himpunan W
3
= a
1
, b
1
, b
2
pada Gambar II.4.c bukanlah himpunan pembeda,
karena representasi r(b
3
[W
3
) = r(b
4
[W
3
) = (1, 2, 2). Selanjutnya, kami
menunjukkan himpunan pembeda dari K
2,4
mempunyai kardinalitas sedikitnya 4.
Misalkan terdapat himpunan pembeda W dari K
2,4
dengan [W[ = 3 dan V
1
dan
V
2
masing-masing adalah partisi dari K
2,4
. Karena order K
2,4
sama dengan 6,
maka sedikitnya terdapat dua simpul u, v V
1
atau u, v V
2
sedemikian hingga
u, v , W. Oleh karena d(u, w) = d(v, w) untuk semua w V (K
2,4
) u, v,
maka r(u[W) = r(v[W), kontradiksi dengan pemisalan W sebagai himpunan
pembeda. Jadi, [W[ 4. Dengan demikian, W
2
adalah salah satu himpunan
pembeda minimum dari K
2,4
dan karena itu dimensi metrik dari graf K
2,4
adalah 4.
Saputro dkk. (2010) memberikan Teorema II.1 untuk menentukan dimensi metrik
dari graf r-partit lengkap untuk r 2.
9
D DDD
D DDD
DD
Gambar II.5: Sebuah graf G dengan q (G) dan p / (G)
.
Teorema II.1. (Saputro dkk., 2010) Jika G

= K
n
1
,n
2
, ,n
r
adalah graf multipartit
lengkap untuk r 2 dengan m partisi tunggal, maka
dim(G) =

[V (G)[ 1 (r m) , jika m > 0,


[V (G)[ r , jika m=0.
Lebih jauh, Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann (2000) memberikan batas
bawah dan batas atas untuk dimensi metrik G, dim(G), yang dinyatakan dalam
diameter dari G pada Teorema II.2 berikut ini.
Teorema II.2. (Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann, 2000) Misalkan G
adalah graf terhubung dengan diameter k dan orde n 2, dimana k < n. Maka,
berlaku
f(n, k) dim(G) n k,
f(n, k) adalah bilangan bulat positif terkecil r sedemikian hingga k +k
r
n.
Pandang sebuah graf G = (V, E). Misalkan u, v V (G). Simpul u disebut
simpul batas dari simpul v jika d(w, v) d(u, v) untuk setiap w N(u), dengan
N(u) adalah himpunan semua simpul di G yang bertetangga dengan u. Selan-
jutnya, simpul u disebut simpul batas dari G jika u adalah sebuah simpul batas
untuk suatu simpul di G. Himpunan semua simpul batas dari G disebut batas dari
G, dinotasikan dengan (G) (Chartrand dkk., 2003). Gambar II.5 menunjukkan
bahwa simpul q adalah simpul batas dari p tapi tidak untuk sebaliknya. Lebih jauh,
simpul p / (G).
Caceres dkk. (2005) menyatakan bahwa batas atas dimensi metrik suatu graf
G adalah kardinalitas himpunan batas G sebagaimana yang dinyatakan dalam
10
Teorema II.3 berikut ini.
Teorema II.3. (Caceres dkk., 2005) Misalkan Gadalah graf terhubung tak trivial
dan (G) adalah himpunan batas dari G. Maka dim(G) (G).
Dimensi metrik untuk beberapa graf G dapat ditentukan dengan menggunakan
Teorema II.2. Jika G = P
n
maka diameter G adalah n 1 dan fungsi f(n, k)
pada II.2 bernilai 1. Dengan menggunakan Teorema II.2, diperoleh dim(P
n
) = 1.
Selanjutnya, andaikan ada graf lain G yang terhubung orde n dengan dim(G) = 1
dan basis W = w. Untuk setiap simpul v G, r(v[W) = d(v, w) adalah
suatu bilangan bulat tak negatif yang kurang dari n. Karena representasi dari setiap
simpul v V (G) terhadap W berbeda maka terdapat sebuah simpul u V (G)
sedemikian hingga d(u, w) = n 1. Oleh karena itu, diameter G adalah n 1 dan
mengakibatkan G

= P
n
.
Misalkan G = K
n
dengan n 2 dan W adalah basis dari G. Jika u / W maka
setiap komponen dari representasi r(u[W) bernilai 1. Sehingga setiap himpunan
pembeda pada G harus memuat semua simpul kecuali satu simpul dari G. Jadi,
dim(K
n
) = n1. Dengan menggunakan Teorema II.2, jika Ggraf terhubung yang
bukan graf lengkap maka dim(G) n2. Dengan demikian, jika dim(G) n2
maka haruslah graf G ,

= K
n
.
Selain mengkarakterisasi dim(G) = 1 dan n 1 seperti pada dua paragraf di atas,
Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann (2000) juga menunjukkan karakterisasi
dim(G) = n 2, dan menentukan dimensi metrik dari graf lingkaran C
n
dan graf
pohon T. Hasil-hasil di atas ditulis dalam Teorema II.4 berikut ini dan merupakan
hasil fundamental untuk dimensi metrik graf G.
Teorema II.4. (Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann, 2000) Misalkan G
adalah sebuah graf terhubung dengan orde n 2.
(i) dim(G) = 1 jika dan hanya jika G = P
n
.
(ii) dim(G) = n 1 jika dan hanya jika G = K
n
.
(iii) Untuk n 3, dim(C
n
) = 2.
(iv) Untuk n 4, dim(G) = n 2 jika dan hanya jika G = K
r,s
, (r, s 1),
G = K
r
+K
s
, (r 1, s 2), atau G = K
r
+ (K
1
K
s
), (r, s 1).
11
(v) Jika T adalah graf pohon yang bukan lintasan maka dim(T) = (T) ex(T),
dimana (T) menyatakan jumlah derajat terminal dari simpul utama T, dan
ex(T) menyatakan jumlah simpul utama bagian luar T.
II.3 Dimensi partisi
Dimensi partisi dari sebuah graf G dikenalkan oleh Chartrand dkk. pada tahun
1998. Mereka mengelompokkan semua simpul di Gke dalam sejumlah kelas partisi
dan menentukan jarak setiap simpul terhadap setiap kelas partisi tersebut. Secara
tepat, misalkan = S
1
, S
2
, , S
k
merupakan partisi terurut dari V (G) dan
v V (G). Representasi dari v V (G) terhadap didenisikan sebagai pasangan-
k terurut (d(v, S
1
), d(v, S
2
), , d(v, S
k
)). Jika untuk setiap dua simpul berbeda
u, v V (G) berlaku r(u[) ,= r(v[), maka disebut partisi pembeda dari V (G).
Partisi pembeda dengan kardinalitas minimum disebut partisi pembeda minimum
dari G. Dimensi partisi pd(G) dari graf G adalah kardinalitas dari partisi pembeda
minimum dari G.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
k
adalah partisi terurut dari V (G). Jika u S
i
dan
v S
j
, dan i ,= j, maka jelas bahwa r(u[) ,= r(v[) (karena d(u, S
i
) = 0
tetapi d(v, S
i
) ,= 0). Dengan demikian, ketika diberikan sebuah partisi dari
V (G) dan hendak menentukan apakah adalah partisi pembeda untuk V (G) atau
bukan, pemeriksaan cukup dilakukan pada semua simpul yang termasuk dalam
suatu kelas partisi yang sama. Jika semua simpul dalam setiap kelas partisi yang
sama mempunyai representasi berbeda terhadap , maka merupakan partisi
pembeda. Jika d(u, S
i
) ,= d(v, S
i
), maka kelas partisi S
i
dikatakan memisahkan
simpul u dan v di G. Sebuah kelas partisi yang mempunyai satu anggota disebut
kelas partisi singleton. Dengan sendirinya, simpul dalam kelas partisi singleton
mempunyai representasi yang unik.
Sekarang, pandang dua simpul berbeda u, v V (G). Jika d(u, w) = d(v, w) untuk
setiap w V (G) u, v maka u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang
berbeda di G. Hal ini jelas, karena jika tidak demikian, r(u[) = r(v[). Dengan
demikian diperoleh Lema II.1 berikut ini.
Lema II.1. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Misalkan G suatu graf
terhubung tak-trivial. Misalkan suatu partisi pembeda dari G dan u, v V (G).
12
(c) (a) (b)
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
D
a1 a2
b1 b2 b3 b4
S1
S2 S3
S4 S1
S2 S3
S4 S5
S3
S2 S1
Gambar II.6: Partisi pembeda dari K
2,4
: a.
1
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, S
5
, b.
2
=
S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, dan c.
3
= S
1
, S
2
, S
3

Jika d(u, w) = d(v, w) untuk setiap w V (G) u, v, maka u dan v harus


termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Pada bab-bab selanjutnya Lema II.1 ini banyak digunakan dalam menentukan
dimensi partisi sebuah graf terhubung G.
Pada Gambar II.6, diilustrasikan sebuah partisi untuk graf bipartit lengkap K
2,4
.
Gambar II.6.a menunjukkan bahwa
1
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
, S
5
, dengan S
1
= b
1
,
S
2
= a
1
, b
2
, S
3
= a
2
,S
4
= b
3
dan S
5
= b
4
, adalah partisi pembeda
karena semua simpul di K
2,4
mempunyai representasi terhadap
1
) yang berbeda.
Akan tetapi
1
bukan partisi pembeda minimum karena pada Gambar II.4.b dapat
ditunjukkan bahwa
2
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
dengan S
1
= b
1
, S
2
= a
1
, b
2
,
S
3
= a
2
, b
3
dan S
4
= b
4
, adalah partisi pembeda dari G juga. Partisi

3
= S
1
, S
2
, S
3
, dengan S
1
= a
1
, b
1
, S
2
= a
2
, b
2
dan S
3
= b
3
, b
4
, pada
Gambar II.6.c bukanlah partisi pembeda karena r(b
3
[
3
) = r(b
4
[
3
) = (1, 1, 0).
Untuk menunjukkan pd(K
2,4
) = 4, andaikan terdapat partisi pembeda dari K
2,4
dan [[ = 3. Misalkan V (K
2,4
) terdiri atas partit V
1
dan V
2
dengan [V
1
[ = 2 dan
[V
2
[ = 4. Maka, sedikitnya terdapat dua simpul u, v V
2
sedemikian hingga u, v
termuat dalam kelas partisi yang sama. Oleh karena d(u, w) = d(v, w) untuk semua
w V (K
2,4
) u, v, maka r(u[W) = r(v[W), kontradiksi dengan pemisalan
sebagai partisi pembeda. Jadi, [[ 4 dan karena Gambar II.6.b telah memberikan
partisi pembeda dengan 4 anggota dari K
2,4
maka pd(K
2,4
) = 4.
Fehr dkk. (2006) mengembangkan konsep dimensi partisi graf berarah dengan
menerapkan dimensi partisi pada graf berarah D. Misalkan D adalah sebuah graf
berarah dan u, v V (D). Sisi berarah e E(D) disebut busur. Kemudian
jarak dari u ke v, dinotasikan dengan d(u, v), adalah jumlah busur dalam lintasan
13
terpendek dari u ke v. Jika S V (D), jarak v ke S didenisikan dengan
d(v, S) = mind(v, x)[x S. Sebagaimana pada graf tak berarah, simpul
x V (D) (atau subhimpunan S V (D)) membedakan dua simpul u dan v jika
d(u, x) ,= d(v, x) (atau d(u, S) ,= d(v, S).
Saenpholphat dan Zhang (2002) mengenalkan konsep partisi pembeda terhubung.
Suatu himpunan partisi = S
1
, S
2
, , S
k
disebut partisi pembeda terhubung
jika (1) suatu partisi pembeda dari G dan (2) setiap subgraf yang diinduksi oleh
S
i
adalah graf terhubung di G, dengan 1 i k. Nilai minimum k sedemikian
hingga terdapat suatu k-partisi pembeda terhubung dari V (G) adalah nilai dimensi
partisi terhubung dari G dan ditulis cpd(G) = k.
Selanjutnya, Ruxandra (2009) mengkaji partisi pembeda dari suatu graf yang setiap
subgraf S
i
) berbentuk lintasan. Suatu himpunan partisi = S
1
, S
2
, , S
k

disebut partisi pembeda lintasan jika (1) suatu partisi pembeda dan (2) setiap
subgraf yang diinduksi oleh S
i
adalah graf lintasan di G, dengan 1 i k. Jika
k adalah kardinalitas minimum dari sebarang partisi pembeda lintasan untuk V (G)
maka dimensi partisi lintasan dari G adalah k dan ditulis ppd(G) = k.
Lebih jauh, Marinescu-Ghemeci dan Tomescu (2010) mengenalkan partisi pembeda
bintang. Suatu himpunan partisi = S
1
, S
2
, , S
k
disebut partisi pembeda
bintang jika (1) suatu partisi pembeda dan (2) setiap subgraf yang diinduksi oleh
S
i
adalah graf bintang di G, dengan 1 i k. Nilai k minimum sedemikian
hingga terdapat suatu k-partisi pembeda bintang dari V (G) adalah nilai dimensi
partisi bintang dari G dan ditulis spd(G) = k.
II.4 Kaitan antara dimensi partisi dan parameter lainnya
Misalkan Gsuatu graf dengan dimensi metrik k dan W = w
1
, w
2
, , w
k
adalah
himpunan pembeda dari G. Pandang partisi terurut = S
1
, S
2
, , S
k+1
dari
V (G), dengan S
i
= w
i
, bila i [1, k], dan S
k+1
= V (G) W. Maka, diperoleh
r(v[) = (d(v, w
1
), d(v, w
2
), , d(v, w
k
), 0) berbeda untuk semua simpul
v S
k+1
karena W himpunan pembeda dari G. Selain itu, bila v = w
i
, untuk
suatu i [1, k], maka r(w
i
[) mempunyai nilai 0 pada entri ke-i tetapi tidak untuk
entri lainnya. Dengan demikian, r(w
i
[) juga unik. Oleh karena itu, merupakan
partisi pembeda dari G. Sehingga diperoleh Teorema II.5 berikut ini.
14
Teorema II.5. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Jika G adalah graf
terhubung tak-trivial, maka pd(G) dim(G) + 1.
Batas atas Teorema II.5 dipenuhi di antaranya oleh graf lintasan P
n
, graf siklus C
n
,
graf lengkap K
n
dan graf bintang K
1,n
.
Dimensi partisi dari graf G tidak selalu sedikit lebih kecil dari dimensi metriknya.
Hal ini ditunjukkan oleh graf planar teratur-4 (Z
2
,
4
) dan graf teratur-8 (Z
2
,
8
)
yang memiliki dimensi metrik tidak berhingga (Melter dan Tomescu, 1984), namun
dimensi partisinya berturut-turut 3 dan 4 (Tomescu, 2008). Graf (Z
2
,
4
) adalah graf
planar teratur-4 yang daerahnya berbentuk bujursangkar, sedangkan graf teratur-
8 (Z
2
,
8
) dapat diperoleh dengan menggambarkan semua diagonal pada daerah
bujursangkar pada graf (Z
2
,
4
). Indeks 4 dan 8 masing-masing menunjukkan
banyak simpul berjarak 1 dari sebarang simpul pada graf tersebut. Simpul u pada
Gambar II.7.a mempunyai empat buah simpul tetangga dan simpul v pada Gambar
II.7.b mempunyai delapan buah simpul tetangga.
Teorema II.6. (Tomescu, 2008) Dimensi partisi graf planar teratur 4
pd(Z
2
,
4
) = 3 dan dimensi partisi graf teratur 8 pd(Z
2
,
8
) = 4.
Bukti. Misalkan
1
= S
1
, S
2
, S
3
adalah partisi pembeda dari graf (Z
2
,
4
)
dengan S
1
= (x, y) Z
2
[x 0, y 0, S
2
= (x, y) Z
2
[x 1, y 0
dan S
3
= (x, y) Z
2
[y 1 (lihat Gambar II.7.a). Maka, dapat ditun-
jukkan bahwa setiap simpul v V ((Z
2
,
4
)) mempunyai representasi r(v[
1
)
unik. Dengan demikian, pd(Z
2
,
4
) 3. Selanjutnya, Chartrand, Salehi dan Zhang
(2000) menunjukkan bahwa pd(G) = 2 jika dan hanya jika G adalah graf lintasan.
Oleh karena itu, pd(Z
2
,
4
) 3. Jadi, pd(Z
2
,
4
) = 3.
Selanjutnya, misalkan
2
= S
1
, S
2
, S
3
, S
4
adalah partisi pembeda dari graf
(Z
2
,
8
) dengan S
1
= (x, y) Z
2
[x 0, y 0, S
2
= (x, y) Z
2
[x
1, y 0, S
3
= (x, y) Z
2
[x 0, y 1 dan S
4
= (x, y) Z
2
[x
1, y 1 (lihat Gambar II.7.b). Maka, dapat ditunjukkan bahwa setiap dua
simpul berbeda u, v V ((Z
2
,
8
)) mempunyai r(u[
2
) ,= r(v[
2
). Dengan
demikian, pd(Z
2
,
8
) 4. Lebih jauh, dapat ditunjukkan bahwa jika terdapat
suatu partisi pembeda
2
dari graf (Z
2
,
8
) maka terdapat sedikitnya sebarang
dua simpul berbeda u, v V ((Z
2
,
8
)) sedemikian hingga r(u[
2
) = r(v[
2
),
kontradiksi.
15
2 1
3 4
1
2
3
Gambar II.7: a.pd(Z
2
,
4
) = 3 dan b.pd(Z
2
,
8
) = 4, namun dimensi metrik kedua
graf tak berhingga
Lebih jauh, dalam Teorema II.7 berikut, Chartrand, Salehi dan Zhang (2000)
menunjukkan bahwa untuk setiap pasang bilangan bulat positif a, b, dengan
b
2
| +
1 a b + 1, terdapat suatu graf terhubung G yang mempunyai pd(G) = a dan
dim(G) = b. Misalkan K
s,t
adalah graf bipartit dengan s = a, t = b a + 2,
dan memenuhi
b
2
| + 1 a b + 1. Teorema II.4 menunjukkan bahwa
dim(K
s,t
) = s + t 2 = a + (b a + 2) 2 = b. Selanjutnya, jelas dari
nilai s, t, dan syarat yang diberikan, bahwa s > t. Menurut Teorema II.17,
pd(K
s,t
) = maxs, t = s = a.
Teorema II.7. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Untuk setiap pasang
bilangan bulat positif a, b dengan
b
2
|+1 a b+1, terdapat suatu graf terhubung
G yang mempunyai dimensi partisi pd(G) = a dan dimensi metrik dim(G) = b.
Dari Teorema II.7, muncul pertanyaan baru, yakni apakah ada graf Gyang memiliki
dimensi partisi kurang dari separuh dimensi metriknya. Pertanyaan ini selanjutnya
dijawab oleh Chappell dkk. (2008) dengan menunjukkan bahwa graf seperti pada
Gambar II.8 mempunyai dim(G) = b, pd(G) = a dan 3 a b + 1 dengan
himpunan pembeda dan partisi pembedanya ditunjukkan pada Gambar II.8.a dan
Gambar II.8.b , berturut-turut.
Karena terdapat a buah simpul anting yang terkait dengan simpul x
1
, dan a adalah
banyak simpul anting maksimum di graf G, maka berdasarkan Lema II.1 pd(G)
a. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
a
adalah suatu partisi untuk V (G), dengan S
1
=
16
DDD
D
D
...
DD
D
DD
D
DD
D
...
DD
D
x1 x2 x3 x4
D
D
...
D
D
D
D
D
D
...
D
D
(a) (b)
a
b-a+1
a
b-a+2
xb-a+2 x1 x2 x3 x4 xb-a+2
1 2 a-1 a
1 1 1 1 1
1 1
1 1 2 2
2 2
Gambar II.8: a.Dimensi partisi dari graf G dinyatakan oleh banyak simpul anting
pada simpul x
1
dan b.Dimensi metrik dari graf G dinyatakan oleh
banyak simpul putih pada graf tersebut
x
i
, u
i1
[1 i ba+2, S
2
= u
i2
[1 i ba+2 dan S
i
= u
1i
[3 i a.
Karena semua r(u[) berbeda untuk semua simpul u G, maka adalah partisi
pembeda untuk V (G) dan pd(G) a. Jadi, pd(G) = a.
Misalkan graf Gmempunyai simpul pemutus (cut-vertex) v dan U adalah himpunan
k simpul terisolasi pada graf Gv. Maka himpunan pembeda minimum dari graf
G terdiri atas paling sedikit k 1 simpul di U. Pandang graf ulat G pada Gambar
II.8.b. Dengan demikian dim(G) = (a 1) + (b a + 1) = b.
Teorema II.8. (Chappell dkk., 2008) Untuk setiap pasang bilangan bulat positif
a, b dengan 3 a b + 1, terdapat sebuah graf terhubung G sedemikian hingga
mempunyai dimensi partisi pd(G) = a dan dimensi metrik dim(G) = b.
Untuk beberapa graf, dimensi partisinya relatif konstan (tidak bergantung pada
order dari graf tersebut), misalnya lintasan dan siklus. Namun, secara umum,
Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) menunjukkan hubungan antara dimensi partisi,
order dan diameter sebagai berikut.
Teorema II.9. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Jika G adalah graf order
(n 3) dan diameter d, maka g(n, d) pd(G) n d + 1, dengan g(n, d)
merupakan bilangan bulat positif terkecil k sedemikian hingga (d + 1)
k
n.
Bukti. Pandang sebuah graf G order n, diameter d dan V (G) =
v
1
, v
2
, ,v
d
, v
d+1
, , v
n
. Ambil u, v V (G) yang memenuhi d(u, v) = d.
Misalkan u = v
1
, v
2
, , v
d+1
= v adalah lintasan dari u ke v dengan panjang d.
Dapat ditunjukkan bahwa = S
1
, S
2
, , S
nd+1
adalah partisi pembeda untuk
17
V (G), dengan S
1
= v
1
, v
2
, , v
d
dan S
i
= v
i+d1
untuk 2 i n d + 1.
Oleh karena itu, pd(G) n d + 1.
Selanjutnya, denisikan g(n, d) sebagai bilangan bulat positif terkecil k sedemikian
hingga (d + 1)
k
n. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk V (G)
dan [[ = k. Karena representasi setiap simpul di G adalah vektor-k, maka
setiap koordinat dari vektor-k tersebut adalah bilangan bulat tak-negatif yang tidak
melebihi d. Karena adalah partisi pembeda, maka n buah simpul di Gmempunyai
representasi berbeda terhadapnya. Oleh karena itu, (d + 1)
k
n. Jadi, dan
g(n, d) = k pd(G).
Selanjutnya, Chappell dkk. (2008) menunjukkan hubungan antara dimensi partisi,
order dan diameter dari sebuah graf G pada Teorema II.10 berikut ini.
Teorema II.10. (Chappell dkk., 2008) Jika G adalah graf order n ( 3), dimensi
partisi k dan diameter d, maka n kd
k1
.
Bukti. Pandang sebuah graf G order n dengan diameter d. Misalkan =
S
1
, S
2
, , S
k
adalah suatu partisi pembeda minimum dari graf G. Karena
adalah partisi pembeda, maka representasi r(v[) unik untuk setiap simpul
v V (G). Dengan kata lain, graf G mempunyai sedikitnya n buah representasi
berbeda. Karena simpul v berada tepat di satu S
i
, dengan 1 i k, maka
representasi r(v[) memuat tepat satu 0 dan koordinat lainnya adalah bilangan bulat
tak negatif dari 1 sampai k. Posisi 0 dalam r(v[) mempunyai k pilihan posisi.
Setiap koordinat pada k 1 sisa representasi k-vektor adalah satu dari d nilai yang
berbeda. Oleh karena itu, n kd
k1
.
II.5 Dimensi partisi graf asal dan graf hasil operasi
Dalam subbab ini diberikan beberapa hasil yang telah diketahui dari beberapa graf
dalam kelas pohon, yaitu graf bintang ganda, dan graf ulat. Pada bagian lain,
diberikan juga pengetahuan tentang dimensi partisi dari graf mirip roda (seperti
graf gir, graf helm, dan graf bunga matahari) dan dimensi partisi graf hasil operasi
kartesian.
Sebuah graf pohon disebut graf bintang ganda jika graf pohon tersebut mempunyai
tepat dua simpul u dan v berderajat lebih dari satu. Jika u dan v berderajat r +1 dan
18
D
D
D
D
3
D
D
D
D
D
1
2
3
r
1
2
s
Gambar II.9: Graf bintang ganda T(r, s) dengan deg(u) = r+1 dan deg(v) = s+1
s+1 berturut-turut maka graf bintang ganda ini dinotasikan dengan T(r, s). Gambar
II.9 adalah graf bintang ganda T(r, s) dengan deg(u) = r +1 dan deg(v) = s +1.
Graf bintang ganda order 4 adalah sebuah lintasan P
4
yang mempunyai dimensi
partisi 2. Graf bintang ganda order 5 mempunyai dimensi partisi 3. Secara umum,
dimensi partisi graf bintang ganda diberikan oleh Teorema II.11.
Teorema II.11. (Chartrand dkk., 1998) Misalkan T(r, s) adalah graf bintang
ganda order n 6, dengan u dan v adalah simpul yang berderajat r + 1 dan
s + 1, berturut-turut. Maka, pd(T(r, s)) = maxr, s.
Bukti. Misalkan r s, simpul u
1
, u
2
, , u
r
adalah simpul ujung dari T(r, s)
yang terkait ke simpul u dan simpul v
1
, v
2
, , v
s
adalah simpul ujung T(r, s) yang
terkait ke simpul v. Dua simpul sebarang u
i
, u
j
, dengan 1 i ,= j r, mempunyai
jarak sama ke semua simpul di T u
i
, u
j
. Menurut Lema II.1 simpul u
i
dan u
j
harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda. Karena r s, maka pd(T(r, s))
r.
Sekarang akan ditunjukkan bahwa pd(T(r, s)) r. Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1. r = s.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
r
adalah partisi pembeda dengan S
1
= u, u
1
, v
1
,
S
2
= v, u
2
, v
2
dan S
i
= u
i
, v
i
untuk 3 i r. Periksa representasi simpul
di S
1
: r(u
1
[) = (0, 2, 2, 2, , 2), r(v
1
[) = (0, 1, 2, 2, , 2) dan r(u[) =
(0, 1, 1, 1, , 1). Demikian pula simpul di S
2
: r(u
2
[) = (1, 0, 2, 2, , 2),
r(v
2
[) = (2, 0, 2, 2, , 2) dan r(v[) = (1, 0, 1, 1, , 1). Untuk 3 i r,
r(u
i
[) = (1, 2, , 0, ) dan r(v
i
[) = (2, 1, , 0, ) dengan koordinat ke-
i pada setiap representasi adalah 0. Dapat dilihat bahwa setiap simpul di T(r, s)
mempunyai representasi yang berbeda. Oleh karena itu, adalah partisi pembeda
dan pd(T(r, s)) r.
19
D
D
D
D
D
D
D
1
D
D
D
D
D
2
3
4
5
6
7
1
2
3
4
5
Gambar II.10: Graf pohon dengan
t
(T) = 3
Kasus 2. r > s. Pandang dua subkasus dalam Kasus 2 ini.
Subkasus 2.1. s = 1.
Karena n 6, dengan sendirinya r 3. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
r

adalah partisi pembeda dengan S


1
= u, u
1
, S
2
= v, u
2
, S
3
= u
3
, v
1
,
dan S
i
= u
i
untuk 4 i r. Karena r(u
1
[) = (0, 2, 2, , , , ),
r(u
2
[) = (1, 0, 2, , , , ), r(u
3
[) = (1, 2, 0, , , , ),
r(u[) = (0, 1, 1, , , , ), r(v[) = (1, 0, 1, , , , ) dan
r(v
1
[) = (2, 1, 0, , , , ) dengan adalah koordinat yang tidak berpen-
garuh. Dengan demikian, adalah partisi pembeda dan pd(T(r, s)) r.
Subkasus 2.2. s 2.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
r
adalah partisi pembeda dengan S
1
= u, u
1
, v
1
,
S
2
= v, u
2
, v
2
, S
i
= u
i
, v
i
untuk 3 i s dan S
i
= u
i
untuk s+1 i r.
Dengan pembuktian yang serupa dengan Subkasus 2.1., dapat ditunjukkan bahwa
adalah partisi pembeda dan pd(T(r, s)) r.
Graf ulat adalah sebuah graf pohon T yang mempunyai sifat apabila semua daunnya
dihilangkan, graf pohon tersebut menjadi sebuah lintasan. Sebuah simpul di graf
pohon T dengan derajat paling sedikit 3 disebut simpul mayor dari T. Simpul ujung
u V (T) disebut simpul terminal dari simpul mayor v V (T) jika d(u, v) <
d(u, w) untuk setiap simpul mayor w V (T) v. Derajat terminal dari simpul
mayor v adalah banyak simpul terminal dari v. Sebuah simpul mayor v V (T)
disebut simpul mayor eksterior dari T jika v mempunyai derajat terminal positif.
Sebagai contoh, graf pohon pada Gambar II.10 mempunyai empat simpul mayor
v
1
, v
2
, v
3
, v
4
. Simpul terminal dari v
1
adalah u
1
dan u
2
, simpul terminal dari v
3
adalah u
3
, u
4
dan u
5
, dan simpul terminal dari v
4
adalah u
6
dan u
7
. Simpul mayor v
2
20
8
0
1
2
3
4
5
6
7
4
0
1
2
3
0
1
2
3
Gambar II.11: Graf gir G
8
dan graf helm H
4
tidak mempunyai simpul terminal dan, karenanya, v
2
bukan simpul mayor eksterior
dari T. Misalkan
t
(T) menyatakan derajat terminal maksimum dari semua simpul
mayor eksterior dari pohon T. Gambar II.10 menunjukkan sebuah graf pohon
T dengan
t
(T) = 3. Maka, (Chartrand dkk., 1998) menunjukkan batas atas
dan batas bawah dari dimensi partisi graf T yang dinyatakan dalam
t
(T) pada
Teorema II.12 berikut ini.
Teorema II.12. (Chartrand dkk., 1998) Misalkan T adalah graf ulat dengan

t
(T) 3. Maka,
t
(T) 2 pd(T)
t
(T) + 1.
Selain graf pohon, graf mirip roda juga menjadi kajian menarik dalam penelitian
dimensi partisi. Graf mirip roda adalah graf yang diperoleh dengan memberi
perubahan kecil, misalkan dengan penambahan simpul atau sisi, pada sebuah graf
roda. Graf gir, graf helm, dan graf bunga matahari adalah tiga contoh graf mirip
roda.
Graf gir G
2n
didenisikan sebagai graf yang diperoleh dari sebuah graf siklus genap
C
2n
dengan himpunan simpul V (C
2n
) = v
0
, v
1
, , v
2n1
, dengan n 2 dan
sebuah simpul baru c yang terkait dengan n buah simpul C
2n
, yaitu v
0
, v
2
, v
2n2
.
Graf gir G
2n
mempunyai order 2n + 1 dan 3n sisi. Dengan cara lain, graf gir
G
2n
diperoleh dari sebuah graf roda W
n
dengan menambah sebuah simpul di antara
sepasang simpul (bukan pusat) yang bertetangga di graf roda W
n
. Gambar II.11.a
memberi ilustrasi graf gir G
8
.
Teorema II.13. (Javaid dan Shokat, 2008) Misalkan n 2 dan k menyatakan
partisi dimensi dari graf gir G
2n
. Maka berlaku 2n + 1 < 3k
4
(k + 2)2
k7
.
21
0
1
2
3
0
1 2
3
Gambar II.12: Graf bunga matahari SF
4
Graf Helm H
n
adalah sebuah graf yang diperoleh dari sebuah roda W
n
dengan
siklus C
n
dengan menambah sebuah simpul anting (pendant) yang terkait dengan
setiap simpul (bukan pusat) dari siklus tersebut. Graf helmH
n
terdiri atas himpunan
simpul V (H
n
) = v
i
[0 i n 1 a
i
[0 i n 1 c dan himpunan sisi
E(H
n
) = v
i
v
i+1
[0 i n 1 v
i
a
i
[0 i n 1 v
i
c[0 i n 1
dengan i + 1 diambil modulo n. Gambar II.11.b memberi ilustrasi graf gir H
4
.
Teorema II.14. (Javaid dan Shokat, 2008) Misalkan n 3 dan k menyatakan
partisi dimensi dari graf helm H
n
. Maka, berlaku 2n + 1 < 2
k1
+

3
i=0
2
ki1

k1
i

(k i)+

1
j=0

2
i=0
2
kij2

k1
i,j

(k i j + 1).
Graf bunga matahari didenisikan sebagai graf yang diperoleh dari sebuah graf
roda W
n
, yang terdiri simpul pusat c dan n-siklus v
0
, v
1
, , v
n1
, dan penambahan
n buah simpul tambahan w
0
, w
2
, w
n1
, dengan w
i
dihubungkan oleh sebuah sisi
ke v
i
, v
i+1
untuk setiap i = 1, 2, , n
1
dan i + 1 diambil modulo n. Graf bunga
matahari SF
n
mempunyai order 2n+1 dan 4n sisi. Gambar II.12 memberi ilustrasi
graf bunga matahari SF
4
. SF
n
Teorema II.15. (Javaid dan Shokat, 2008) Misalkan n 3 dan k menyatakan
partisi dimensi dari graf bunga matahari SF
n
. Maka, 2n+1 <2
k1
+

4
i=0
2
ki2

k1
i

(k i + 1)+

2
j=0

4
i=0
2
kij1

k1
i,j

(k i j).
Selanjutnya, Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) menunjukkan dimensi partisi graf
bipartit G((V
1
, V
2
), E) dalam Teorema II.16 berikut ini. Graf bipartit adalah sebuah
graf yang himpunan simpulnya dapat dipartisi dalam dua subhimpunan, katakan V
1
dan V
2
, sedemikian hingga setiap sisi e E(G) mempunyai sebuah simpul ujung
di V
1
dan simpul ujung lainnya di V
2
.
22
Teorema II.16. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Jika graf G((V
1
, V
2
), E)
adalah graf bipartit dengan partisi V
1
dan V
2
, dimana [V
1
[ = m dan [V
2
[ = n,
maka
pd(G((V
1
, V
2
), E))

m+ 1 , jika m = n,
maxm, n , jika m ,= n.
Bukti. Misalkan G((V
1
, V
2
), E) adalah graf bipartit, dengan V
1
= a
1
, a
2
, , a
m

dan V
2
= b
1
, b
2
, , b
n
. Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1. m = n.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
m+1
adalah partisi pembeda untuk graf
G((V
1
, V
2
), E), dengan S
i
= a
i
, b
i
dengan 1 i m 1, S
m
= a
m
dan
S
m+1
= b
n
. Jarak d(a
i
, S
m
) selalu genap dan jarak d(b
i
, S
m
) selalu gasal. Jadi,
r(a
i
[) ,= r(b
i
[) untuk 1 i m 1. Selanjutnya, S
m
dan S
m+1
adalah kelas
partisi singleton, maka a
m
dan b
m
mempunyai representasi yang unik. Oleh karena
itu, pd(K
m,n
) m+ 1.
Kasus 2. m ,= n.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
m
adalah partisi pembeda untuk graf G((V
1
, V
2
), E),
dengan S
i
= a
i
, b
i
untuk 1 i n dan S
i
= a
i
untuk n + 1 i m. Jarak
d(a
i
, S
m
) selalu genap dan jarak d(b
i
, S
m
) selalu gasal. Jadi, r(a
i
[) ,= r(b
i
[)
untuk 1 i n. Selanjutnya, karena S
i
untuk n + 1 i m adalah kelas partisi
singleton, maka a
i
S
i
mempunyai representasi yang unik. Dengan demikian
pd(K
m,n
) m.
Pandang graf bipartit graf G((V
1
, V
2
), E). Jika setiap simpul u V
1
bertetangga
dengan semua simpul v V
2
dan setiap simpul v V
2
bertetangga dengan semua
simpul u V
1
maka graf bipartit G((V
1
, V
2
), E) disebut graf bipartit lengkap dan
dinotasikan dengan K
m,n
, dengan m dan n masing-masing adalah kardinalitas V
1
dan V
2
. Teorema II.17 berikut ini menunjukkan bahwa batas atas Teorema II.16
dipenuhi oleh graf bipartit lengkap.
Teorema II.17. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) Jika K
m,n
adalah graf
23
bipartit lengkap dengan kardinalitas partisi masing-masing m dan n, maka
pd(K
m,n
) =

m+ 1 , jika m = n,
maxm, n , jika m ,= n.
Bukti. Misalkan K
m,n
adalah graf bipartit lengkap , dengan [V
1
[ = mdan [V
2
[ = n.
Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1. m = n.
Menurut Teorema II.16, kita cukup menunjukkan batas bawah dari pd(K
m,n
). Jika
simpul a
i
, a
j
V (K
m,n
) dan a
i
, a
j
V
1
, dengan 1 i ,= j mmaka berdasarkan
Lema II.1, a
i
dan a
j
harus berada pada partisi yang berbeda. Lebih jauh, jika a
i

V
1
, b
i
V
2
dan keduanya termuat dalam kelas partisi yang sama, katakan S
i
,
maka a
i
dan b
i
harus dibedakan oleh sedikitnya sebuah kelas partisi yang beranggota
simpul-simpul di V
1
saja (atau V
2
saja). Jika tidak, r(a
i
[) = r(b
i
[). Oleh karena
itu, pd(K
m,n
) m+ 1.
Kasus 2. m ,= n.
Menurut Lema II.1 pd(K
m,n
) maxm, n dan Teorema II.16 memberi batasnya,
yaitu pd(K
m,n
) maxm, n. Dengan demikian, pd(K
m,n
) = maxm, n.
Menentukan dimensi partisi dari suatu graf baru yang dibangun dengan operasi
biner pada dua graf asal merupakan ranah riset yang menarik. Operasi biner adalah
operasi yang dikenakan pada dua buah graf operan, misalkan G dan H, untuk
mendapatkan sebuah graf baru F. Operasi kartesian dan operasi korona merupakan
dua contoh dari operasi biner. Caceres dkk. (2005) dan Caceres dkk. (2007) menun-
jukkan hubungan antara dimensi metrik graf hasil operasi kartesian dengan dimensi
metrik graf faktornya. Sedangkan Chartrand dkk. (1998) dan Yero dkk. (2010)
menunjukkan hubungan antara dimensi partisi graf hasil operasi kartesian dengan
dimensi partisi graf faktornya.
Teorema II.18. (Chartrand dkk., 1998) Untuk setiap graf terhubung tak-trivial
G, pd(GK
2
) pd(G) + 1.
Bukti. Misalkan G

= H K
2
, dengan H adalah graf terhubung non-trivial.
Misalkan pd(H) = k dan = S
1
, S
2
, , S
k
merupakan suatu partisi pembeda
dari V (H). Untuk dua kopi graf H dalam konstruksi G, misalkan H
1
dan H
2
.
Selanjutnya, misalkan
1
= W
1
, W
2
, , W
k
dan
2
= U
1
, U
2
, , U
k

24
merupakan partisi pembeda masing-masing dari V (H
1
) dan V (H
2
). Kami klaim
bahwa

= W
1
U
1
, W
2
U
2
, , W
k1
U
k1
, W
k
, U
k

merupakan partisi pembeda dari V (G). Misalkan x, y V (G) sedemikian hingga


r(x[

) = r(y[

). Akan ditunjukkan bahwa x = y. Pandang dua kasus berikut:


Kasus 1. x, y H
1
(atau x, y H
2
).
Tanpa mengurangi keumuman, katakan x, y H
1
. Maka, untuk 1 i k 1,
d
G
(x, W
i
U
i
) = d
H
1
(x, W
i
), d
G
(y, W
i
U
i
) = d
H
1
(y, W
i
) d
G
(x, W
k
) =
d
H
1
(x, W
k
), d
G
(y, W
k
) = d
H
1
(y, W
k
), d
G
(x, U
k
) = d
H
1
(x, W
k
) + 1, dan
d
G
(y, U
k
) = d
H
1
(y, W
k
) + 1. Andaikan x ,= y. Karena
1
merupakan partisi
pembeda dari V (H
1
), maka d
H
1
(x, W
i
) ,= d
H
1
(y, W
i
) untuk sebuah i dengan
1 i k. Oleh karena itu, d
G
(x, W
i
) ,= d
G
(y, W
i
), kontradiksi dengan kenyataan
r(x[

) = r(y[

). Dengan demikian, x = y.
Kasus 2. x H
1
dan y H
2
(atau x H
2
dan y H
1
).
Tanpa mengurangi keumuman, katakan x H
1
dan y H
2
. Dalam kasus ini,
d
G
(x, W
k
) = d
G
(x, U
k
) 1 dan d
G
(y, W
k
) = d
G
(y, U
k
) + 1. Jadi, d
G
(x, W
k
) ,=
d
G
(y, W
k
) dan d
G
(x, U
k
) ,= d
G
(y, U
k
), kontradiksi dengan r(x[

) = r(y[

).
Dengan demikian, x = y.
Secara umum, pada Teorema II.19, Yero dkk. (2010) menunjukkan batas atas dari
dimensi partisi graf hasil operasi kartesian antara dua graf terhubung G
1
dan G
2
sebarang, dan menyatakannya dalam pd(G
1
) dan pd(G
2
).
Teorema II.19. (Yero dkk., 2010) Untuk sebarang graf terhubung G
1
dan G
2
,
pd(G
1
G
2
) pd(G
1
) +pd(G
2
).
Bukti. Misalkan
1
= W
1
, W
2
, , W
k
dan
2
= U
1
, U
2
, , U
l
masing-
masing merupakan partisi pembeda dari G
1
= (V
1
, E
1
) dan G
2
= (V
2
, E
2
). Kami
akan menunjukkan bahwa
1
= W
1
U
1
, W
1
U
2
, , W
1
U
l
, W
2
U
1
, W
3

U
1
, , W
k
U
1
, C, dengan C = (V
1
V
2
)((V
1
U
1
)(W
1
V
2
)), merupakan
partisi pembeda dari G
1
G
2
.
Pandang dua simpul berbeda (a, b), (c, d) V (V
1
V
2
). Jika a = c maka terdapat
U
i

2
sedemikian hingga d
G
2
(b, U
i
) ,= d
G
2
(d, U
i
). Oleh karena itu, terdapat
d
G
1
G
2
((a, b), W
1
U
i
) = d
G
1
(a, W
1
) + d
G
2
(b, U
i
) ,= d
G
1
(c, W
1
) + d
G
2
(d, U
i
) =
25
d
G
1
G
2
((c, d), W
1
U
i
).
Sekarang, jika a ,= c, periksa dua kasus berikut:
Kasus 1. a W
i
dan c W
j
, dengan i ,= j.
Jika d
G
1
G
2
((a, b), W
i
U
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
i
U
1
), dan d
G
1
G
2
((a, b), W
j

U
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
j
U
1
), maka d
G
2
(b, U
1
) = d
G
1
G
2
((a, b), W
i

U
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
i
U
1
) = d
G
1
(c, W
i
) + d
G
2
(d, U
1
) = d
G
1
(c, W
i
) +
d
G
1
G
2
((c, d), W
j
U
1
) = d
G
1
(c, W
i
) + d
G
1
G
2
((a, b), W
j
U
1
) = d
G
1
(c, W
i
) +
d
G
1
(c, W
j
) +d
G
2
(b, U
1
), sebuah kontradiksi.
Kasus 2. a, c W
i
.
Kasus 2.1. b, d U
l
. Misalkan W
j

1
sedemikian hingga d
G
1
(a, W
j
) ,=
d
G
1
(c, W
j
). Dalam kasus ini, jika d
G
2
(b, U
1
) = d
G
2
(d, U
1
) maka terdapat
d
G
1
G
2
((a, b), W
j
U
1
) = d
G
1
(a, W
j
) + d
G
2
(b, U
1
) ,= d
G
1
(c, W
j
) + d
G
2
(d, U
1
) =
d
G
1
G
2
((c, d), W
j
U
1
). Sebaliknya, jika d
G
2
(b, U
1
) ,= d
G
2
(d, U
1
) maka terdapat
d
G
1
G
2
((a, b), W
i
U
1
) = d
G
2
(b, U
1
) ,= d
G
2
(d, U
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
i
U
1
)
Kasus 2.2. b U
j
dan d U
l
, j ,= l.
Kasus ini serupa dengan Kasus 1. Oleh karena itu, setiap simpul berbeda
(a, b), (c, d) V (V
1
V
2
), terdapat r((a, b)[) ,= r((c, d)[).
Dari Teorema II.5 dan Teorema II.19 diperoleh akibat berikut ini.
Akibat II.1. Untuk sebarang dua graf terhubung G
1
dan G
2
, pd(G
1
G
2
)
pd(G
1
) +dim(G
2
) + 1.
Lebih jauh, Yero dkk. (2010) memperbaiki batas yang diberikan oleh Akibat II.1
dan menyatakannya dalam Teorema II.20.
Teorema II.20. (Yero dkk., 2010) Untuk sebarang graf terhubung G dan H,
pd(GH) pd(G) +dim(H).
Bukti. Misalkan
1
= W
1
, W
2
, , W
k
merupakan suatu partisi pembeda dari
G
1
= (V
1
, E
1
) dan S = u
1
, u
2
, , u
t
merupakan suatu himpunan pembeda
dari G
2
= (V
2
, E
2
). Misalkan C = (V
1
V
2
) ((V
1
u
1
) (W
1
u
2
)
(W
1
u
t
)). Sekarang, kami menunjukkan bahwa
1
= W
1
u
1
, W
2

u
1
, , W
k
u
1
, W
1
u
2
, W
1
u
3
, , W
1
u
t
, C merupakan suatu
26
partisi pembeda dari G
1
G
2
.
Pandang dua simpul berbeda (a, b), (c, d) V (V
1
V
2
). Jika a = c maka b ,=
d. Oleh karena itu, terdapat u
j
S sedemikian hingga d
G
2
(b, u
j
) ,= d
G
2
(d, u
j
).
Selanjutnya, d
G
1
G
2
((a, b), W
1
u
j
) = d
G
1
(a, W
1
) +d
G
2
(b, u
j
) ,= d
G
1
(c, W
1
) +
d
G
2
(d, u
j
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
1
u
j
).
Sekarang, jika a ,= c, maka periksa dua kasus berikut:
Kasus 1. a W
i
dan c W
j
, i ,= j.
Misalkan, d
G
2
(b, u
1
) d
G
2
(d, u
1
). Dalam kasus ini terdapat d
G
1
G
2
((a, b), W
i

u
1
) = d
G
2
(b, u
1
) d
G
2
(d, u
1
) < d
G
1
(c, W
i
) + d
G
2
(d, u
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
i

u
1
). Dengan cara yang serupa, jika d
G
2
(b, u
1
) d
G
2
(d, u
1
), maka terdapat
d
G
1
G
2
((a, b), W
j
u
1
) > d
G
1
G
2
((c, d), W
j
u
1
).
Kasus 2. a, c W
i
.
Misalkan d
G
2
(b, u
1
) = d
G
2
(d, u
1
). Karena terdapat j ,= i sedemikian hingga
d
G
(a, W
j
) ,= d
G
(c, W
j
), maka d
G
1
G
2
((a, b), W
j
u
1
) = d
G
1
(a, W
j
) +
d
G
2
(b, u
1
) ,= d
G
1
(c, W
j
)+d
G
2
(d, u
1
) = d
G
1
G
2
((c, d), W
j
u
1
). Jika d
G
2
(b, u
1
) ,=
d
G
2
(d, u
1
), maka terdapat d
G
1
G
2
((a, b), W
i
u
1
) = d
G
2
(b, u
1
) ,= d
G
2
(d, u
1
) =
d
G
1
G
2
((c, d), W
i
u
1
). Oleh karena itu, untuk setiap simpul berbeda (a, b), (c, d)
terdapat r((a, b)[) ,= r((c, d)[).
Dari Teorema II.5 dan Teorema II.20 diperoleh Akibat II.2 berikut ini.
Akibat II.2. Untuk sebarang dua graf terhubung G dan H, pd(G H)
dim(G) +dim(H) + 1.
27
Bab III Dimensi Partisi Sejumlah Graf Pohon
Graf pohon termasuk kelas graf yang digunakan secara luas tidak hanya di banyak
bidang aplikasi tetapi juga dalam Teori Graf sendiri. Graf pohon digunakan antara
lain pada analisis hirarki bisnis, penentuan biaya minimum pada jaringan trans-
portasi, dan dasar struktur data pada ilmu komputer (B ona, 2002). Dalam Teori
Graf, Chartrand, Eroh, Johnson dan Oellermann (2000) telah berhasil memberikan
dimensi metrik dari sebarang graf pohon secara lengkap. Namun, tidak demikian
halnya untuk dimensi partisi graf pohon, baru beberapa graf saja yang telah
diperoleh dimensi partisinya. Chartrand dkk. (1998) mengawali penelitian dalam
bidang dimensi partisi dari graf dalam kelas graf pohon, yaitu dengan menentukan
batas atas dan bawah dapatkan dimensi partisi graf ulat, dan dimensi partisi graf
bintang ganda. Selanjutnya, Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) mengkarakterisasi
semua graf G order n dengan dimesi partisi 2, yaitu pd(G) = 2 jika dan hanya jika
G adalah graf lintasan P
n
. Graf lintasan P
n
adalah graf dalam kelas graf pohon
juga.
Pada Subbab III.1 dibahas dimensi partisi dari graf ulat (caterpillar) secara tepat.
Hasil ini merupakan penyempurnaan hasil dari Chartrand dkk. (1998). Selanjutnya,
pada Subbab III.2 dan Subbab III.3 dibahas dimensi partisi dari graf kembang
api (recracker) dan graf pohon pisang (banana tree), berturut-turut. Kedua graf
tersebut termasuk dalam kelas pohon mempunyai struktur yang mirip dengan graf
ulat.
III.1 Dimensi partisi graf ulat
Misalkan terdapat graf lintasan P
m
dengan himpunan simpul V (P
m
) =
x
1
, x
2
, , x
m
dan himpunan sisi E(P
m
) = x
1
x
2
, x
2
x
3
, , x
m1
x
m
. Graf
ulat diperoleh dengan menambahkan n
i
buah sisi anting pada setiap simpul x
i
dari sebuah graf lintasan P
m
, dengan 1 i m, dan dinotasikan dengan
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Graf ulat C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) terdiri atas himpunan
simpul V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) = a
ij
[1 i m, 1 j n
i
x
i
[1
i m dan himpunan sisi E(C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) = x
i
a
ij
[1 i m, 1
j n
i
x
i
x
i+1
[1 i m 1. Untuk n
1
= n
2
= = n
m
= n, graf
ulat disebut homogen dan dinotasikan dengan C(m; n). Gambar III.1.a mengilus-
28
D D D D
D
2
24 23 22 21
DDDD
D
1
31 32 33 34
DDDD
D
11 12 13 14
D D D
D
2
23 22 21
DDDD
D
1
41 42 43 44
DDDD
D
11 12 13 14
D D
D
3
32
4
31
3
Gambar III.1: a.Graf ulat homogen C(3; 4) dan b.Graf ulat tak-homogen C(4; 4,
3, 2, 4)
trasikan graf ulat homogen C(3; 4) dan Gambar III.1.b mengilustrasikan graf ulat
tak-homogen C(4; 4, 3, 2, 4).
Jelas, bahwa setiap graf C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) memuat tepat m buah subgraf
K
1,n
i
. Notasikan himpunan simpul dan sisi dari K
1,n
i
sebagai berikut: V (K
1,n
i
) =
a
ij
[1 j n
i
x
i
dan E(K
1,n
i
) = x
i
a
ij
[1 j n
i
. Denisikan
n
maks
= maxn
1
, n
2
, . . . , n
m
. Subgraf K
1,n
maks
disebut sebagai subgraf ulat
maksimum pada C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Dalam hal terdapat p 1 buah K
1,n
maks
,
masing-masing subgraf, dari kiri ke kanan, dinotasikan dengan K
i
1,n
maks
dengan
1 i p.
Pada Teorema II.12, Chartrand dkk. (1998) menunjukkan batas atas dan batas
bawah dimensi partisi graf ulat dan menyatakannya dalam
t
(T), yaitu derajat
terminal maksimum simpul mayor eksterior dari T. Secara khusus untuk m = 2,
graf ulat C(2; n
1
, n
2
) disebut graf bintang ganda. Pada Teorema II.11, Chartrand
dkk. (1998) memberikan dimensi partisi graf bintang ganda secara tepat. Pemba-
hasan berikut akan memberikan dimensi partisi dari sebarang graf ulat secara tepat.
Denisi III.1. Misalkan K
1,n
i
, K
1,n
j
C(m; n
1
, n
2
, . . . , n
m
), dengan 1 i ,=
j m. Jika n
i
= n
j
= n
maks
1, sedemikian hingga
1. d(x
i
, x
m
) = d(x
j
, x
m
), dengan x
m
anggota dari suatu K
1,n
maks
(Lihat Gambar
III.2.a), atau
2. d(x
i
, x
o
) = d(x
j
, x
p
), dengan x
o
dan x
p
masing-masing anggota dari suatu
K
1,n
maks
yang berbeda (Lihat Gambar III.2.b),
maka subgraf K
1,n
i
dan K
1,n
j
disebut subgraf ulat berjarak sama.
29
D D D
D
D D D
D
D D DD
D D D
D
D D
D
DD
D
xp
d(xi,xm)
xm xi xj xk
d(xj,xm) d(xk,xp)
D D D
D
D D D
D
D D
D
DD
d(xi,xm)
xm xi xj
d(xj,xm)
D D D
D
D D DD
D
xp xj
d(xj,xp)
D D DD
D
xo
D D D
D
xi
d(xi,xo)
(a) (b)
Gambar III.2: Dua kondisi subgraf graf ulat K
1,n
i
dan K
1,n
j
yang berjarak sama
Lema II.1 secara langsung memberikan Akibat III.3 berikut ini:
Akibat III.1. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)) dan K
1,n
i
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Jika u dan v adalah sebarang
dua simpul anting berbeda di K
1,n
i
, dengan n
i
2, maka u dan v harus berada
dalam kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan u dan v dua simpul anting berbeda di K
1,n
i
. Karena jarak
d(u, w) = d(v, w) untuk semua simpul w V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) u, v,
maka menurut Lema II.1 simpul anting u dan v harus termuat dalam kelas partisi
yang berbeda di .
Lema III.1. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)). Jika K
i
1,n
maks
dan K
j
1,n
maks
dua subgraf ulat maksimum, dengan
i ,= j, maka x
i
V (K
i
1,n
maks
) dan x
j
V (K
j
1,n
maks
) harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n
maks
suatu partisi pembeda dari graf
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Akibat III.1 memastikan setiap simpul anting pada K
i
1,n
maks
(atau K
j
1,n
maks
) harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda. Oleh karena itu,
setiap simpul anting pada K
1,n
maks
dapat diasosiasikan dengan n
maks
kelas partisi
di . Misalkan simpul x
i
V (K
i
1,n
maks
) dan x
j
V (K
j
1,n
maks
) berada dalam kelas
partisi yang sama. Maka, d(x
i
, Z) = d(x
j
, Z) = 0, dengan Z adalah kelas partisi
yang memuat simpul x
i
dan x
j
, dan d(x
i
, Y ) = d(x
j
, Y ) = 1, dengan Y adalah
kelas partisi selain Z. Dengan demikian, r(x
i
[) = r(x
j
[), kontradiksi.
Lema III.2. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)) untuk m 2. Jika sebarang dua subgraf berbeda K
1,n
i
, K
1,n
j

30
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) berjarak sama dan sebarang dua simpul anting a
ik
K
1,n
i
dan a
jk
K
1,n
j
, dengan 1 k n
i
, termuat dalam kelas partisi yang sama, maka
x
i
dan x
j
harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n
maks
suatu partisi pembeda dari graf
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Misalkan x
i
, x
j
X untuk suatu kelas partisi X .
Karena subgraf K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama dan sebarang dua simpul anting
a
ik
K
1,n
i
dan a
jk
K
1,n
j
, dengan 1 k n
i
, termuat dalam kelas partisi
yang sama, maka d(a
ik
, X) = d(a
ik
, X) = 1 untuk suatu kelas partisi X
yang memuat x
i
dan x
j
, dan d(a
ik
, Y ) = d(a
jk
, Y ) = 2 untuk suatu kelas partisi
Y yang memuat simpul anting pada subgraf K
1,n
i
(atau K
1,n
j
). Lebih jauh,
d(a
ik
, Z) = d(a
jk
, Z) untuk suatu kelas partisi Z yang tidak memuat simpul
anting pada subgraf K
1,n
i
(atau K
1,n
j
). Dengan demikian, r(a
jk
[) = r(a
ik
[),
untuk suatu k pada selang tertutup [1, n
i
], kontradiksi.
Teorema III.3 berikut ini menunjukkan dimensi partisi dari graf ulat C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
).
Teorema III.1. Misalkan K
1,n
maks
adalah subgraf ulat maksimum dari
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) dan p menyatakan banyak subgraf K
1,n
maks
. Maka, untuk
n
maks
3, dimensi partisi graf ulat C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) adalah
pd(C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) =

n
maks
, jika p n
maks
,
n
maks
+ 1 , jika p > n
maks
.
Bukti. Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1: p n
maks
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
p
untuk graf C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
). Akibat III.1 memastikan setiap simpul anting pada K
1,n
i
termuat
dalam kelas partisi yang berbeda. Karena K
1,n
maks
memiliki n
maks
simpul anting,
maka sedikitnya terdapat n
maks
kelas partisi di untuk C(m; n
1
, n
2
, , n
m
).
Dengan demikian p n
maks
.
Sekarang, pandang graf C(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Misalkan terdapat suatu partisi
pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
maks
untuk graf V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)).
Letakkan setiap simpul v V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) ke dalam kelas partisi
S
j
, untuk suatu 1 j n
maks
, menurut algoritma berikut ini:
31
a. Hitung banyak subgraf K
1,n
maks
dan nyatakan dengan p. Notasikan masing-
masing subgraf tersebut, secara berurut dari kiri ke kanan, dengan K
k
1,n
maks
,
dengan 1 k p,
b. Setiap simpul x
k
V (K
k
1,n
maks
) secara berurut diletakkan pada kelas partisi S
j
,
untuk suatu 1 j p,
c. Setiap simpul anting pada K
k
1,n
maks
, secara berurut diletakkan pada kelas partisi
S
1
, S
2
, S
3
, , S
n
maks
,
d. Denisikan A
1
sebagai selang terbuka sebelum graf bintang K
1
1,n
maks
, A
k+1
sebagai selang terbuka antara K
k
1,n
maks
dan K
k+1
1,n
maks
, dengan 1 k p 1,
dan A
p+1
sebagai selang terbuka setelah K
p
1,n
maks
,
e. Denisikan himpunan T = semua kombinasi-(n
maks
1) dari n
maks
buah kelas
partisi di , sedemikian hingga T = T
1
, T
2
, , T
n
maks
dengan T
i
T
adalah kombinasi yang tidak memuat kelas partisi S
i
,
f. Identikasi letak subgraf K
1,n
i
pada selang sebagaimana yang didenisikan pada
item d,
g. Jika K
1,n
i
terletak pada selang A
1
atau A
2
maka setiap simpul anting pada K
1,n
i
secara berurut diletakkan pada kelas partisi yang berasosiasi dengan T
1
,
h. Jika K
1,n
i
terletak pada selang A
k
, dengan 3 k p + 1 maka setiap simpul
anting pada K
1,n
i
secara berurut diletakkan pada kelas partisi yang berasosiasi
dengan T
k1
i. Jika K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama terhadap suatu K
1,n
maks
, maka berdasarkan
Lema III.2 x
i
V (K
1,n
i
) dan x
j
V (K
1,n
j
) harus termuat dalam kelas partisi
yang berbeda di .
j. Setiap simpul pusat x
k
V (K
k
1,n
i
), dengan K
k
1,n
i
bukan subgraf ulat maksimum
dan subgraf ulat berjarak sama, x
k
diletakkan pada kelas partisi yang memuat
salah satu antingnya.
Untuk memastikan bahwa adalah partisi pembeda dari graf C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
), pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)) sedemikian hingga u dan v dalamkelas partisi yang sama. Jika simpul
anting u V (K
1,n
i
) dan v V (K
1,n
j
), dengan n
i
= n
j
= n
maks
, maka u dan v
dibedakan oleh sebuah kelas partisi yang memuat x
i
atau x
j
. Jika simpul anting
u V (K
1,n
i
) dan v V (K
1,n
j
), dengan K
1,n
i
dan K
1,n
j
berada dalam selang yang
berbeda, katakan A
o
dan A
p
, maka u dan v dibedakan oleh kelas partisi S
o
atau S
p
.
Jika simpul anting u V (K
1,n
i
) dan v V (K
1,n
j
), dengan K
1,n
i
dan K
1,n
j
berada
dalam selang sama, katakan A
o
, dan subgraf K
1,n
i
dan K
1,n
j
tidak berjarak sama,
32
DDD
D
D
1
1
2 3 4
DDD
D
D
1
2
2 3 4
DDD
D
D
1
3
2 3 4
DDD
D
D
1
4
2 3 4
DD
D
DDD
D
DDD
D
D D
D
D
D
DD
D
D
2 3 2 4 1 3
2 3 4 2 3 4 2 3 4 2 1 3 1 3
Gambar III.3: Partisi pembeda minimum graf C(10; 3, 4, 3, 1, 3, 4, 2, 2, 4, 4)
maka u dan v dibedakan oleh kelas partisi S
o
. Jika K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama
maka u dan v dibedakan kelas partisi yang memuat x
i
atau x
j
.
Selanjutnya, jika simpul anting u V (K
1,n
i
) dan v V (K
1,n
j
), dengan salah satu
dari n
i
atau n
j
adalah n
maks
, tanpa mengurangi keumunan katakan n
i
= n
maks
dan
n
j
< n
maks
, maka u dan v dibedakan kelas partisi X, dengan X adalah kelas partisi
yang memuat simpul anting K
1,n
i
tetapi tidak memuat simpul anting K
1,n
j
. Dengan
demikian, untuk setiap u, v V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)), r(u[) ,= r(v[). (Lihat
Gambar III.3).
Kasus 2: p > n
maks
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
p
untuk V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)). Jika p > n
maks
maka, menurut Lema III.1 terdapat paling sedikit dua
buah simpul x
i
V (K
i
1,n
maks
) dan x
j
V (K
j
1,n
maks
), sedemikian hingga simpul
x
i
dan x
j
termuat dalam kelas partisi yang sama, kontradiksi. Dengan demikian,
p n
maks
+ 1.
Selanjutnya, denisikan partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
maks
+1
untuk graf
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) menurut algoritma berikut ini:
a. Setiap simpul anting pada V (K
1,n
i
), dengan 1 i m, secara berurut
diletakkan pada kelas partisi S
1
, S
2
, S
3
, , S
n
i
,
b. Letakkan simpul x
1
pada kelas partisi S
n
maks
+1
,
c. Letakkan simpul x
i
lainnya sedemikian hingga x
2
S
1
, x
3
S
2
, x
4
S
3
,
x
5
S
1
dan seterusnya dengan pola pengulangan yang sama.
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) sedemikian
hingga simpul u dan v termuat dalam kelas partisi yang sama. Jika u V (K
1,n
i
)
dan v V (K
1,n
j
), untuk i ,= j, maka jarak d(u, S
n
maks
+1
) ,= d(v, S
n
maks
+1
)
dan oleh karena itu r(u[) ,= r(v[). Jika simpul u V (K
1,n
i
) x
i
dan
33
DDD
D
D
1
1
2 3 4
DDD
D
D
1
2
2 3 4
DDD
D
D
1
2
2 3 4
DDD
D
D
1
1
2 3 4
DD
D
DDD
D
DDD
D
D D
D
D
D
DD
D
D
5 2 3 1 3 1
1 2 3 1 2 3 1 2 3 1 1 2 1 2
D D D
D
D
1 2 3 4
3
Gambar III.4: Partisi pembeda minimum graf C(11; 3, 4, 3, 1, 3, 4, 2, 2, 4, 4, 4)
v = x
i+1
, untuk suatu i pada selang tertutup 1 i m 1, maka u dan
v dibedakan oleh sedikitnya satu kelas partisi X , dengan X adalah kelas
partisi yang memuat simpul anting K
1,n
i+1
, sedemikian hingga d(v, X) = 1
dan d(u, X) ,= 1. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian,
setiap simpul v V (C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) mempunyai representasi unik dan
pd(C(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) n
maks
+ 1. (Lihat Gambar III.4).
Dalam hal n
i
= n untuk setiap i, Teorema III.1 memberikan akibat berikut ini:
Akibat III.2. Jika C(m; n) adalah graf ulat homogen yang dibangun dengan
menambahkan n buah sisi anting pada setiap simpul pada lintasan P
m
, dengan
n 3, maka
pd(C(m; n) =

n , jika m n,
n + 1 , jika m > n.
Selanjutnya, pandang kasus khusus graf ulat homogen C(m; n), dengan n = 1
dan m 2, yaitu C(1; 1) dan C(2; 1). Keduanya adalah graf ulat yang isomork
masing-masing dengan graf lintasan P
2
dan P
4
. Dengan demikian, pd(C(1; 1)) =
pd(C(2; 1)) = 2. Dimensi partisi graf ulat homogen C(m; n) untuk n = 1, 2 dan
m 3 mengikuti teorema berikut:
Teorema III.2. Jika m 3 maka pd(C(m; 1)) = pd(C(m; 2)) = 3.
Bukti. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) menunjukkan bahwa dimensi partisi
graf terhubung pd(G) = 2 jika dan hanya jika G adalah graf lintasan. Karena graf
C(m; 1) dan C(m; 2) bukan graf lintasan, maka pd(C(m; 1)) = pd(C(m; 2)) 3.
Sekarang, denisikan partisi pembeda = S
1
, S
2
, S
3
untuk V (C(m; 1))
34
D
D
1
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
1 1 1 1 1
3 2 2 2 2 2
D
DD
1 2
3
D
DD
1 2
2
D
DD
1 2
2
D
DD
1 2
2
(b) (a)
Gambar III.5: a.Partisi pembeda minimum graf C(6; 1, 1, 1, 1, 1, 1) dan b.Partisi
pembeda minimum graf C(4; 2, 2, 2, 2)
sedemikian hingga
S
q
=

a
i1
[3 i m , jika q = 1,
x
i
[2 i m , jika q = 2,
x
1
, jika q = 3.
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (C(m; 1)) sedemikian hingga u dan
v dalam kelas partisi yang sama. Jarak simpul anting d(a
i1
, S
3
) = d(a
(i+1)
, S
3
) 1
dan d(x
i
, S
3
) = d(x
(i+1)
, S
3
) 1, untuk 2 i m 1. Dengan demikian, setiap
simpul u V (C(m; 1)) mempunyai representasi berbeda. Demikian pula halnya
simpul dalam kelas partisi S
2
, setiap simpul x
i
V (C(m; 1)) mempunyai repre-
sentasi yang berbeda. Karena kelas partisi S
3
adalah singleton, dengan sendirinya
x
m
S
3
mempunyai representasi yang unik. Jadi, pd(C(m; 1)) 3. (Lihat
Gambar III.5.a.
Batas atas dimensi partisi dari graf C(m; 2) dapat dapat ditunjukkan dengan
mendenisikan partisi pembeda = S
1
, S
2
, S
3
untuk V (C(m; 2)) sedemikian
hingga
S
q
=

a
i1
[3 i m , jika q = 1,
a
i2
, x
i
[2 i m , jika q = 2,
x
1
, jika q = 3.
Setiap simpul anggota S
1
dibedakan oleh kelas partisi S
3
dan setiap simpul di S
2
dibedakan oleh oleh kelas partisi S
1
dan S
3
. Oleh karena S
3
merupakan kelas partisi
singleton, maka x
1
S
3
dengan sendirinya unik. Dengan demikian untuk sebarang
dua simpul berbeda u, v C(m; 2), r(u[) ,= r(v[). Jadi, pd(C(m; 2)) 3.
(Lihat Gambar III.5.b.
35
D D D D
D
2
24 23 22 21
DDDD
D
1
31 32 33 34
DDDD
D
11 12 13 14
D D D
D
2
23 22 21
DDDD
D
1
41 42 43 44
DDDD
D
11 12 13 14
D D
D
3
32
4
31
3
DDD
1
2
3
DD
D D
1
2 3
4
Gambar III.6: a.Graf kembang api homogen dan b.Graf kembang api tak-homogen
III.2 Dimensi partisi graf kembang api
Graf kembang api (recracker) adalah sebuah graf yang diperoleh dengan
menghubungkan m buah graf bintang K
1,n
i
dengan cara menghubungkan satu
simpul anting dari setiap graf bintang K
1,n
i
dengan 1 i m (Chen dkk., 1997)
dan dinotasikan dengan F(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Graf kembang api F(m; n
1
,
n
2
, , n
m
) terdiri atas himpunan simpul V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) = c
i
[1
i m a
ij
[1 i m, 1 j n
i
1 x
i
[1 i m dan himpunan sisi
E(F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) = c
i
x
i
, c
i
a
ij
[1 i m, 1 j n
i
1x
i
x
i+1
[1
i m1. Jika n
1
= n
2
= = n
m
= n, graf kembang api disebut graf kembang
api homogen dan dinotasikan dengan F(m; n). Gambar III.6.a adalah graf kembang
api homogen F(3; 5) dan Gambar III.6.b adalah graf kembang api tak-homogen
F(4; 5, 4, 3, 5).
Untuk suatu i dalam selang tertutup [1, m], subgraf K
1,n
i
F(m; n
1
, n
2
, . . . , n
m
)
adalah subgraf kembang api yang terdiri atas himpunan simpul V (K
1,n
i
) =
x
i
, c
i
, a
ij
[1 i m, 1 j n
i
1 dan himpunan sisi E(K
1,n
i
) =
x
i
c
i
, c
i
a
ij
[1 i m, 1 j n
i
1. Dalam hal n
maks
= maxn
1
, n
2
, . . . , n
m
,
maka K
1,n
maks
disebut subgraf kembang api maksimum. Jika terdapat p buah
K
1,n
maks
, masing-masing subgraf ulat maksimum, secara berurut dari kiri ke kanan,
dinotasikan dengan K
i
1,n
maks
dengan 1 i p.
Denisi III.2. Misalkan K
1,n
i
, K
1,n
j
F(m; n
1
, n
2
, . . . , n
m
), dengan 1 i ,=
j m. Jika n
i
= n
j
= n
maks
2, sedemikian hingga
1. d(x
i
, x
m
) = d(x
j
, x
m
), dengan x
m
anggota dari suatu K
1,n
maks
(Lihat Gambar
III.7.a), atau
2. d(x
i
, x
o
) = d(x
j
, x
p
), dengan x
o
dan x
p
masing-masing anggota dari suatu
36
D D D
D
D D D
D
D D
D
DD
d(xi,xm)
cm ci cj
d(xj,xm)
D D D
D
D D DD
D
xp xj
d(xj,xp)
D D DD
D
co
D D D
D
xi
d(xi,xo)
(a) (b)
DDDDDDD
xo
ci cj cp
xi xm xj
Gambar III.7: Dua kondisi subgraf kembang api K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama
K
1,n
maks
yang berbeda (Lihat Gambar III.7.b),
maka subgraf K
1,n
i
dan K
1,n
j
disebut subgraf kembang api berjarak sama.
Akibat III.3 berikut ini adalah konsekuensi dari Lema II.1.
Akibat III.3. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (F(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)). Jika u dan v adalah sebarang dua simpul anting pada (K
1,n
i
),
dengan n
i
2, maka u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda
di .
Bukti. Misalkan sebarang dua simpul anting berbeda u, v V (K
1,n
i
). Karena
d(u, w) = d(v, w) untuk setiap simpul w V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) u, v,
maka menurut Lema II.1 simpul anting u dan v harus termuat dalam kelas partisi
yang berbeda di .
Lema III.3. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n
maks
1
adalah partisi pembeda
untuk V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)). Jika subgraf K
i
1,n
maks
dan K
j
1,n
maks
, dengan i ,= j,
maka simpul pusat c
i
V (K
i
1,n
maks
) dan c
j
V (K
j
1,n
maks
) harus termuat dalam
kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
maks
1
untuk
graf F(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Akibat III.3 memastikan setiap dua simpul anting di
K
1,n
i
termuat dalam kelas partisi yang berbeda di . Oleh karena subgraf K
1,n
i
dan K
1,n
j
masing-masing memiliki n
maks
1 simpul anting, maka semua simpul
anting pada K
1,n
i
dan K
1,n
j
dapat diasosiasikan dengan n
maks
1 kelas partisi yang
terdapat di . Jika simpul pusat c
i
dan c
j
berada dalam kelas partisi yang sama,
37
katakan c
i
, c
j
X, maka d(c
i
, X) = d(c
j
, X) = 0, dan d(c
i
, Y ) = d(c
j
, Y ) = 1,
untuk setiap kelas partisi Y yang tidak memuat simpul c
i
dan c
j
. Oleh karena itu,
r(c
i
[) = r(c
j
[), kontradiksi.
Lema III.4. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (C(m; n
1
,
n
2
, , n
m
)) untuk m 2. Jika sebarang dua subgraf berbeda dari graf kembang
api K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama dan sebarang dua simpul anting a
ik
K
1,n
i
dan
a
jk
K
1,n
j
, dengan 1 k n
i
1, termuat dalam kelas partisi yang sama, maka
maka c
i
, x
i
X dan c
j
, x
j
Y , dengan X dan Y merupakan dua kelas partisi
berbeda di .
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
maks
1
untuk
V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)). Asumsikan X, Y dan X = Y sedemikian
hingga c
i
, x
i
, c
j
, x
j
X (atau c
i
, x
i
, c
j
, x
j
Y ). Tanpa kehilangan keumuman,
ambil kemungkinan yang pertama, yaitu c
i
, x
i
, c
j
, x
j
X. Karena simpul anting
dari K
1,n
i
dan K
1,n
j
didistribusikan ke sejumlah kelas partisi yang sama, maka
d(c
i
, X) = d(c
j
, X) = 0 dan d(c
i
, Z) = d(c
j
, Z) = 1 untuk setiap kelas partisi
Z di selain X serta d(c
i
, W) = d(c
j
, W) untuk sebuah kelas partisi W yang
memuat simpul dari K
1,n
k
tetapi tidak memuat simpul dari K
1,n
i
dan K
1,n
j
. Dengan
demikian, r(c
i
[) = r(c
j
[), kontradiksi.
Teorema III.3 berikut ini memberikan dimensi partisi graf kembang api F(m; n
1
,
n
2
, , n
m
) dengan m 2 dan n
maks
5.
Teorema III.3. Misalkan p menyatakan banyak subgraf K
1,n
maks
pada graf
F(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Maka, untuk n
maks
5 dan m 2,
pd(F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) =

n
maks
1 , jika p n
maks
1,
n
maks
, jika p > n
maks
1.
Bukti. Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1: p n
maks
1
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
p
dari graf F(m; n
1
,
n
2
, , n
m
). Akibat III.3 memastikan setiap simpul anting di K
1,n
i
termuat dalam
kelas partisi yang berbeda di . Karena K
1,n
maks
memiliki n
maks
1 buah simpul
anting, maka sedikitnya terdapat n
maks
1 buah kelas partisi berbeda di . Dengan
38
demikian, p n
maks
1.
Sekarang, denisikan suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
maks
1
untuk
V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) sedemikian hingga mengikuti algoritma berikut:
a. Hitung jumlah subgraf K
1,n
maks
dan nyatakan dengan p. Notasikan masing-
masing subgraf tersebut, berurut dari kiri ke kanan, dengan K
k
1,n
maks
, dengan
1 k p,
b. Setiap simpul pusat c
k
V (K
k
1,n
maks
) secara berurut diletakkan pada kelas
partisi S
k
, dengan 1 k p,
c. Setiap simpul x
k
V (K
k
1,n
maks
) secara berurut diletakkan pada kelas partisi
S
n
maks
1
, S
n
maks
2
, , S
n
maks
p
,
d. Setiap simpul anting pada K
k
1,n
maks
, secara berurut diletakkan pada kelas partisi
S
1
, S
2
, S
3
, , S
n
maks
1
,
e. Denisikan A
1
sebagai selang terbuka sebelum subgraf K
1
1,n
maks
, A
k+1
sebagai
selang antara K
k
1,n
maks
dan K
k+1
1,n
maks
, dengan 1 k p, dan A
p+1
sebagai selang
setelah subgraf K
p
1,n
maks
,
f. Denisikan himpunan T = semua kombinasi-(n
maks
2) dari n
maks
1 buah
kelas partisi di , sedemikian hingga T = T
1
, T
2
, , T
n
maks1
dengan T
i

T, dengan T
i
adalah kombinasi yang tidak memuat kelas partisi S
i
,
g. Identikasi letak K
1,n
maks1
pada selang sebagaimana didenisikan pada item e,
h. Jika K
1,n
maks1
terletak pada selang A
1
atau A
2
maka setiap simpul anting pada
K
1,n
maks1
secara berurut diletakkan pada kelas partisi yang berasosiasi dengan
T
1
,
i. Jika K
1,n
maks1
terletak pada selang A
k
, dengan 3 k p + 1 maka setiap
simpul anting pada K
1,n
maks1
secara berurut diletakkan pada kelas partisi yang
berasosiasi dengan T
k1
j. Jika K
i
1,n
maks1
dan K
j
1,n
maks1
berjarak sama, dengan i ,= j, berdasarkan Lema
III.4, maka c
l
, x
l
X dan c
m
, x
m
Y sedemikian hingga kelas partisi X, Y
dan X ,= Y ,
Untuk memastikan bahwa adalah partisi pembeda untuk F(m; n
1
, n
2
, , n
m
),
pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) sedemikian
hingga u dan v dalam kelas partisi yang sama. Jika simpul anting u V (K
1,n
maks
)
dan v V (K
1,n
maks
), maka u dan v dibedakan oleh sebuah kelas partisi yang
memuat c
i
atau c
j
. Jika simpul u = c
i
dan v = x
i
, maka d(u, X) = 1 untuk
semua kelas partisi X di kecuali kelas partisi yang mememuat c
i
dan sedikitnya
39
terdapat suatu kelas partisi X sedemikian d(v, X) = 2, yaitu kelas partisi di yang
tidak memuat c
i
(atau x
i
), dan tidak memuat simpul yang bertetangga dengan x
i
.
Dengan demikian, r(u[) ,= r(v[).
Sekarang, pandang dua simpul anting berbeda u V (K
1,n
i
) dan v V (K
1,n
j
),
dengan n
i
= n
j
< n
maks
. Jika K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak sama, maka u dan v
dibedakan oleh sebuah kelas partisi yang memuat c
i
atau c
j
. Sebaliknya, jika K
1,n
i
dan K
1,n
j
berjarak tidak sama maka u dan v dibedakan oleh sebuah kelas partisi Z
sedemikian hingga Z memuat simpul dari K
1,n
maks
dan tidak memuat simpul dari
K
1,n
i
maupun K
1,n
j
. Demikian pula halnya jika u = c
i
dan v = x
i
maka u dan v
dibedakan oleh kelas partisi Z.
Selanjutnya, jika u V (K
1,n
maks
) dan v V (K
1,n
maks
) dan kedua subgraf
tersebut terletak pada selang yang berbeda, maka simpul-simpul dari K
1,n
i
dan
K
1,n
j
dibedakan oleh sebuah kelas partisi Y , yaitu sebuah kelas partisi yang memuat
simpul dari K
1,n
i
tetapi tidak memuat simpul dari K
1,n
j
, atau sebaliknya. Dengan
demikian, r(u[) ,= r(v[).
Kasus 2: p > n
maks
1
Kami akan menunjukkan bahwa pd(F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) = n
maks
. Misalkan
terdapat suatu partisi pembeda untuk V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) dengan n
maks

1 buah kelas partisi, yaitu = S


1
, S
2
, , S
n
maks
1
. Jika p > n
maks
1,
maka sedikitnya terdapat dua simpul pusat, katakan c
i
dan c
j
, termuat dalam kelas
partisi yang sama. Oleh karena itu, Lema III.3 tidak terpenuhi. Dengan demikian,
pd(F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) n
maks
.
Selanjutnya akan ditunjukkan batas atas dimensi partisi untuk graf kembang
api F(m; n
1
, n
2
, , n
m
). Denisikan suatu partisi pembeda = S
1
,
S
2
, , S
n
maks
untuk graf F(m; n
1
, n
2
, , n
m
) sedemikian hingga mengikuti
algoritma berikut ini:
a. Setiap simpul anting pada K
1,n
i
, secara berurut diletakkan pada kelas partisi
S
1
, S
2
, S
3
, , S
n
i
, dengan 1 i m,
b. Letakkan simpul pusat c
1
pada kelas partisi S
1
,
c. Letakkan simpul pusat x
1
pada kelas partisi S
n
maks
,
c. Letakkan simpul c
2
dan x
2
pada kelas partisi S
1
, c
3
, x
3
pada kelas partisi S
2
,
c
4
, x
4
pada kelas partisi S
3
, c
5
, x
5
pada kelas partisi S
1
dan seterusnya dengan
pola pengulangan yang sama.
40
D D
D
1 2
1
D
3
D D
D
1 2
1
D
2
D D
D
1 3
1
D
3
D D
D
1 3
2
D
2
DD
2 2
(b) (a)
Gambar III.8: a.Partisi pembeda minimum dari graf F(2; 3) dan b.Partisi pembeda
minimum dari graf F(2; 4)
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) sedemikian
hingga simpul u dan v termuat dalam kelas partisi yang sama. Jika u V (K
1,n
i
)
dan v V (K
1,n
j
), untuk i ,= j, maka jarak d(u, x
1
) ,= d(v, x
1
). Selan-
jutnya, d(u, S
n
maks
) ,= d(v, S
n
maks
) dan oleh karena itu r(u[) ,= r(v[). Jika
simpul u, v V (K
1,n
i
), untuk sebuah i dalam selang tertutup 1 i m,
maka satu di antara dua simpul tersebut adalah simpul anting dan yang lainnya
adalah sebuah simpul pusat. Tanpa mengurangi keumuman, misalkan u = c
i
dan
v V (K
1,n
i
) x
i
, c
i
. Oleh karena itu, d(u, H) = 1 dan jarak d(v, H) = 2,
dengan H adalah kelas partisi yang tidak memuat simpul u maupun v. Dengan
demikian, r(u[) ,= r(v[). Demikian pula halnya jika u = x
i
dan v = x
j
, dengan
i ,= j, representasi kedua simpul tersebut dibedakan oleh jaraknya terhadap kelas
partisi S
n
maks
. Dengan demikian, pd(F(m; n
1
, n
2
, , n
m
)) n
maks
.
Sekarang, pandang beberapa kasus khusus dari graf kembang api, yaitu F(1; n)
dan F(2; n). Graf kembang api F(1; n) isomork dengan graf bintang K
1,n
. Oleh
karena dimensi partisi pd(K
1,n
) = n (Chartrand dkk., 1998), maka partisi dimensi
pd(F(1; n)) = pd(K
1,n
) = n.
Selanjutnya, pandang F(2; n) untuk n = 1, 2, 3, 4. Graf kembang api F(2; 1) dan
F(2; 2) adalah graf yang isomork dengan graf lintasan P
4
dan P
6
, berturut-turut.
Dengan demikian dimensi partisi pd(F(2; 2)) = pd(F(2; 3)) = 2. Lebih jauh,
kami menunjukkan bahwa pd(F(2; 3)) = pd((2; 4)) = 3. Batas bawah untuk
dimensi partisi kedua graf tersebut adalah 3 karena graf F(2; 3) dan F(2; 4) adalah
graf terhubung dan bukan graf lintasan. Menurut Chartrand, Salehi dan Zhang
(2000), pd(G) = 2 jika dan hanya jika graf G adalah sebuah graf lintasan. Dengan
demikian, pd(F(2; 3)) = pd((2; 3)) 3. Batas atas pd(F(2; 3)) dapat ditunjukkan
dengan mendenisikan = S
1
, S
2
, S
3
sebagai partisi pembeda untuk V (F(2; 3))
sedemikian hingga S
1
= a
11
, a
21
, c
1
, c
2
, S
2
= a
12
, a
22
, x
2
dan S
3
= x
1
.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa setiap simpul v V (F(2; 4)) mempunyai
41
D
D
1
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
1 1 1 1 1
3 2 2 2 2 2
DDD DD D
2 2 2 2 2 2
Gambar III.9: Partisi pembeda minimum graf F(6; 2, 2, 2, 2, 2, 2)
representasi unik. Jadi, pd(F(2; 3)) 3. (Lihat Gambar III.8.a).
Demikian pula halnya dengan batas atas dimensi partisi graf F(2; 4). Deni-
sikan = S
1
, S
2
, S
3
sebagai partisi pembeda untuk V (F(2; 4)) sedemikian
hingga S
1
= a
11
, a
21
, c
1
, S
2
= a
12
, a
22
, c
2
, x
2
dan S
3
= a
13
, a
23
, x
1
. Hasil
pemeriksaan menunjukkan bahwa setiap simpul v V (F(2; 4)) mempunyai repre-
sentasi berbeda. Jadi, pd(F(2; 4)) 3. (Lihat Gambar III.8.b).
Teorema III.4. Jika m 3 maka pd(F(m; 1)) = pd(F(m; 2)) = 3.
Bukti. (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) membuktikan bahwa dimensi partisi
graf terhubung pd(G) = 2 jika dan hanya jika G adalah graf lintasan. Karena graf
F(m; 1) dan F(m; 2) bukan graf lintasan, maka pd(F(m; 1)) = pd(F(m; 2)) 3.
Karena graf F(m; 1) isomorf dengan graf C(m; 1), maka menurut Teorema III.2
pd(F(m; 1) 3. Sekarang, denisikan partisi pembeda = S
1
, S
2
, S
3
untuk
V (F(m; 2)) sedemikian hingga
S
q
=

a
i1
[2 i m , jika q = 1,
c
i
, x
i
[1 i m , jika q = 2,
a
11
, jika q = 3.
Setiap simpul anggota S
1
dibedakan oleh kelas partisi S
3
dan setiap simpul di S
2
dibedakan oleh oleh kelas partisi S
1
dan S
3
. Oleh karena S
3
merupakan kelas partisi
singleton, maka x
1
S
3
dengan sendirinya unik. Dengan demikian untuk sebarang
dua simpul berbeda u, v C(m; 2), r(u[) ,= r(v[). Jadi, pd(F(m; 2)) 3.
(Lihat Gambar III.9.

42
Sekarang, pandang kasus khusus graf kembang api F(m; n), dengan n = 3, 4. Dari
pemeriksaan diperoleh bahwa pd(F(m, 3)) = 3 jika m 3, dan pd(F(m, 3)) = 4
jika m > 3. Selanjutnya, pd(F(m, 4)) = 3 jika m 2, dan pd(F(m, 3)) = 4
jika m > 2. Sementara itu, untuk dimensi partisi graf kembang api tak-homogen
dengan n
maks
4 masih merupakan masalah terbuka.
III.3 Dimensi partisi graf pohon pisang
Sebuah graf pohon pisang (banana tree) B(m; n) adalah sebuah graf yang diperoleh
dengan menghubungkan satu simpul anting dari setiap m buah kopi graf bintang
K
1,n
ke sebuah simpul baru yang disebut simpul akar r (Chen dkk., 1997). Oleh
karena graf bintang yang menyusun graf B(m; n) mempunyai order yang sama,
graf B(m; n) disebut graf pohon pisang homogen. Graf pohon pisang B(m; n)
terdiri atas himpunan simpul V (B(m; n)) = c
i
[1 i m a
ij
[1 i
m, 1 j n 1 x
i
[1 i m r dan himpunan sisi E(B(m; n)) =
c
i
a
ij
[1 i m, 1 j n1x
i
c
i
[1 i mrx
i
[1 i m. Gambar
III.10 adalah graf pohon pisang homogen B(3; 5).
Selanjutnya, didenisikan subgraf K
i
1,n
B(m; n) adalah kopi ke-i dari graf
bintang K
1,n
di B(m; n) sedemikian hingga V (K
i
1,n
) = x
i
, c
i
, a
ij
[1 i m, 1
j n 1 dan E(K
i
1,n
) = x
i
c
i
, c
i
a
ij
[1 i m, 1 j n 1.
Akibat III.4 berikut ini adalah konsekuensi dari Lema II.1.
Akibat III.4. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk graf pohon
pisang B(m; n). Jika sebarang dua simpul anting berbeda u, v V (K
i
1,n
) maka u
dan v harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan sebarang dua simpul berbeda u, v V (K
i
1,n
). Karena d(u, w) =
d(v, w) untuk semua w V (B(m; n)) u, v, maka menurut Lema II.1 simpul u
dan v harus berada pada kelas partisi berbeda di .
Lema III.5. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n1

untuk V (B(m; n)). Misalkan K


i
1,n
dan K
j
1,n
adalah kopi ke-i dan ke-j dari bintang
K
1,n
di B(m; n). Jika c
i
dan c
j
masing-masing adalah simpul pusat K
i
1,n
dan K
j
1,n
maka c
i
dan c
j
harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
43
D D D D
D
2
24 23 22 21
D D D D
1
31 32 33 34
D D D D
11 12 13 14
3
D D
D
D D
1 2
D
3
Gambar III.10: Graf pohon pisang homogen B(3; 5)
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n1
untuk
V (B(m; n)) yang terdiri atas n 1 buah kelas partisi. Akibat III.4 memastikan
bahwa setiap simpul anting di K
i
1,n
termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Oleh karena itu, setiap simpul anting di K
i
1,n
, dengan 1 i m, dapat diasosi-
asikan dengan n 1 buah kelas partisi di . Misalkan simpul pusat c
i
dan c
j
termuat dalam kelas partisi yang sama, katakan c
i
, c
j
X dan X . Karena
d(c
i
, X) = d(c
j
, X) = 0 dan d(c
i
, Y ) = d(c
j
, Y ) = 1, dimana Y adalah kelas
partisi di dan X ,= Y , maka r(c
i
[) = r(c
j
[), kontradiksi.
Lema III.6. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n1

untuk V (B(m; n)). Jika r dan c


i
, dengan 1 i m, masing-masing adalah simpul
akar dan simpul pusat subgraf K
i
1,n
B(m; n), maka r dan c
i
harus termuat dalam
kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan simpul r, c
i
X, dengan X adalah sebuah kelas partisi di .
Pandanga subgraf K
i
1,n
. Karena kardinalitas adalah n 1, maka terdapat n 1
buah kelas partisi untuk simpul-simpul pada K
i
1,n
. Lebih jauh, simpul x
i
dan sebuah
simpul anting K
i
1,n
, katakan a
ij
, harus termuat dalam kelas partisi yang sama,
misalkan Y . Oleh karena itu, d(x
i
, Y ) = d(a
ij
, Y ) = 0, d(x
i
, X) = d(a
ij
, X) = 1
dan d(x
i
, Z) = d(a
ij
, Z) = 2, dengan Z adalah kelas partisi di selain X dan Y .
Dengan demikian, r(a
ij
[) = r(x
i
[), kontradiksi.
Teorema III.5 berikut ini menunjukkan dimensi partisi graf pohon pisang B(m; n).
Teorema III.5. Untuk n 2, dimensi partisi dari graf pohon pisang B(m; n)
adalah sebagai berikut:
pd(B(m; n)) =

n 1 , jika m n 2,
n , jika n 2 < m

n
n1

(n 1),
44
D D DDD
D
D D DDD
D
D D DDD
D
D D DDD
D
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5
D
1 2 3 4
5
Gambar III.11: Partisi pembeda minimum graf pohon pisang B(3; 5)
Bukti. Kasus 1: m n 2
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
p
untuk V (B(m; n)).
Akibat III.4 memastikan setiap simpul anting di K
i
1,n
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda. Oleh karena itu, p n 1.
Sekarang, pandang graf pohon pisang B(m; n), dengan m n 2. Denisikan
sebuah partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n1
untuk V (B(m; n)) sedemikian
hingga
S
q
=

a
1q
, a
2q
, , a
nq
, c
q
, x
q
, jika 1 q n,
a
1q
, a
2q
, , a
nq
, jika m q n 2,
a
1q
, a
2q
, , a
nq
, r , jika q = n 1.
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (B(m; n)) yang termuat dalam
kelas partisi yang sama. Jika u dan v, masing-masing, adalah simpul anting di
K
i
1,n
dan K
j
1,n
, untuk i ,= j, maka simpul u dan v dibedakan oleh kelas partisi
yang memuat kedua simpul c
i
maupun c
j
(Lema III.5). Jika u adalah simpul anting
di K
i
1,n
dan v = x
i
, maka kedua simpul tersebut dibedakan oleh kelas partisi yang
memuat simpul akar r (Lema III.6). Jika u = c
i
dan v = x
i
, maka u dan v dibedakan
oleh kelas partisi yang tidak memuat r. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[) untuk
semua simpul u, v V (B(m; n)). Dengan demikian, pd(B(m; n)) n 1 untuk
m n 2. (Lihat Gambar III.11).
Kasus 2: n 2 < m

n
n1

(n 1)
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk V (B(m; n)) dengan n 1 buah
kelas partisi, yaitu = S
1
, S
2
, , S
n1
. Karena m > n 2, maka terdapat
sedikitnya sebuah simpul c
i
, untuk 1 i ,= j m, sedemikian hingga c
i
dan r
termuat dalam kelas partisi yang sama. Oleh karena itu, Lema III.6 tidak terpenuhi.
Dengan demikian, pd(B(m; n)) n.
45
D DD
D
2 3 4
D DD
D
2 3 4
D DD
D
2 3 4
D DD
D
1 3 4
D DD
D
1 3 4
D DD
D
1 3 4
D DD
D
1 2 4
D DD
D
1 2 4
D DD
D
1 2 4
1 2 3 1 2 3 1 2 3
D
4
Gambar III.12: Partisi pembeda minimum graf pohon pisang B(16; 4)
Selanjutnya, pandang graf pohon pisang B(m; n) dengan m

n
n1

(n1). Deni-
sikan sebuah himpunan T yang beranggotakan semua kombinasi-(n1) dari n buah
kelas partisi di , yaitu T = T
1
, T
2
, , T
n
dengan T
i
T adalah kombinasi-
(n 1) yang tidak memuat kelas partisi S
i
untuk sebuah i dalam selang tertutup
[1, n]. Denisikan suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
n
untuk V (B(m; n))
dengan mengikuti algoritma berikut:
a. Denisikan n buah himpunan, katakan A
1
, A
2
, , A
n
, yang masing-masing
beranggotakan paling banyak n 1 buah kopi subgraf K
i
1,n
. Subgraf K
i
1,n
pada
himpunan A
k
dinotasikan dengan K
ki
1,n
,
b. Pandang himpunan A
j
, dengan 1 j n. Simpul anting pada setiap kopi
subgraf K
ji
1,n
, pada himpunan A
j
, secara berurut diletakkan pada kelas partisi
yang berasosiasi dengan T
i
,
c. Simpul pusat setiap kopi subgraf K
ki
1,n
, pada kelompok A
k
, diletakkan secara
berurut pada kelas partisi S
1
, S
2
, , S
|A
k
|
, dengan 1 k n,
d. Simpul x
ij
pada setiap subgraf K
ki
1,n
pada kelompok A
k
diletakkan pada kelas
partisi S
k
.
e. Simpul akar r diletakkan ke dalam kelas partisi S
n
.
Selanjutnya, akan ditunjukkan bahwa adalah partisi pembeda dari V (B(m; n)).
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (B(m; n)) sedemikian hingga u, v
dalam kelas patisi yang sama di . Jika simpul u dan v, masing-masing, adalah
simpul anting dari K
ki
1,n
dan K
kj
1,n
, dengan K
ki
1,n
dan K
kj
1,n
masing-masing adalah
subgraf K
i
1,n
dan K
j
1,n
dalam himpunan yang sama A
k
, maka u dan v dibedakan
oleh sebuah kelas partisi yang memuat simpul pusat c
ki
atau c
kj
. Jika simpul u
dan v, masing-masing, adalah simpul anting pada K
ki
1,n
dan K
li
1,n
, dengan subgraf
K
ki
1,n
danK
li
1,n
tidak dalam himpunan yang sama, katakan A
k
dan A
l
, maka u dan
v dibedakan oleh S
k
(atau S
l
). Jika simpul u adalah simpul anting pada K
ki
1,n
dan
v = x
ki
(atau v = x
kj
), dengan i ,= j, maka u dan v dibedakan oleh S
n
, yaitu kelas
46
partisi yang memuat simpul r. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[) dan adalah
partisi pembeda untuk V (B(m; n)), dengan n 2 < m

n
n1

(n 1). (Lihat
Gambar III.12).
Dimensi partisi graf pohon pisang B(m; n) ditentukan oleh m dan n, yang masing-
masing menyatakan banyak subgraf K
i
1,n
pada graf B(m; n), dan banyak simpul
anting pada subgraf graf K
i
1,n
. Dalam hal m

n
n1

(n 1), dimensi partisi dari


graf B(m; n) masih menjadi masalah terbuka.
47
Bab IV Dimensi Partisi Graf Multipartit
Graf bipartit digunakan dalam beberapa bidang aplikasi, seperti menentukan
jenis pekerjaan yang tepat bagi para pelamar sesuai dengan kualikasi yang
dimilikinya, dan dalam penjejakan (tracking) sejumlah objek (misalkan kapal selam
dan peluru kendali) yang bergerak dalam suatu selang waktu tertentu) (Gross
dan Yellen, 2004). Dalam Teori Graf, Chartrand, Salehi dan Zhang (2000)
mengkaji graf bipartit untuk mendapatkan dimensi partisinya. Pada Subbab III.1
ini dibahas dimensi partisi graf multipartit dan merupakan perumuman dari hasil
dari Chartrand, Salehi dan Zhang (2000).
Selanjutnya, pada Subbab III.2 dan Subbab III.3 dikaji lebih lanjut dimensi dari graf
bipartit dan tripartit minus sisi matching, berturut-turut.
IV.1 Dimensi partisi graf multipartit lengkap
Suatu graf multipartit adalah sebuah graf yang himpunan simpulnya dapat
dipartisi ke dalam sejumlah subhimpunan simpul sedemikian hingga setiap sisinya
mempunyai simpul ujung pada subhimpunan simpul yang berbeda. Jika graf multi-
partit mempunyai r buah subhimpunan simpul, yaitu V
1
, V
2
, , V
r
, maka graf
tersebut disebut graf r-partit dan dinotasikan dengan G((V
1
, V
2
, , V
r
), E). Setiap
sisi pada G((V
1
, V
2
, , V
r
), E) mempunyai simpul ujung di V
i
dan V
j
, dengan
i ,= j.
Pandang sebarang dua simpul berbeda u V
i
dan v V
j
, dengan 1 i ,=
j r. Jika simpul u dan v selalu bertetangga maka graf r-partit disebut graf
r-partit lengkap dan disimbolkan dengan K
n
1
,n
2
, ,n
r
, dengan n
1
= [V
1
[, n
2
=
[V
2
[, , n
r
= [V
r
[. Sebuah simpul ke- j dalam subhimpunan simpul V
i
disim-
bolkan dengan v
i,j
dengan 1 i r dan 1 j n
i
.
Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
t
untuk graf
K
n
1
,n
2
, ,n
r
. Untuk setiap subhimpunan simpul V
i
didenisikan sebuah himpunan
berindeks I
i
sedemikian hingga j I
i
jika dan hanya jika (V
i
S
j
) ,= , dengan
1 i r dan 1 j t. Jika j I
i
maka j merepresentasikan sebuah
simpul x V
i
dan x S
j
. Gambar IV.1.a adalah graf tripartit K
4,4,4
dan Gambar
48
a24
a23
a22
a21
a31 a32 a33 a34
D
D
D
D
a11
a12
a13
a14
D
D
D
D
DDDD
V1
V2
V3
V1 V2 V3
D D D
D D D
D D D
D D D
S1
S2
S3
S4 S5 S6
(a) (b)
Gambar IV.1: a.Graf tripartit K
4,4,4
dan b.Contoh himpunan ber-indeks I
i
IV.1.b contoh partisi graf K
4,4,4
. Himpunan indeks yang terkait dengan Gambar
IV.1 adalah I
1
= 1, 2, 3, 4, I
2
= 1, 2, 3, 5 dan I
3
= 1, 2, 3, 4.
Lema IV.1. Jika adalah sebuah partisi pembeda untuk V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
),
dimana n
1
= n
2
= = n
r
= n, maka terdapat sebuah partisi pembeda

sedemikian hingga:
a. Setiap himpunan berindeks mempunyai sebuah anggota yang termuat dalam
sebuah kelas partisi singleton, dan
b. Kardinalitas dari

sama dengan kardinalitas dari .


Bukti. Misalkan adalah partisi pembeda sebarang untuk V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
). Jika
setiap himpunan berindeks I
i
, dengan 1 i r, telah memuat sebuah
anggota yang termuat ke dalam kelas partisi singleton, maka

= . Jika
tidak, maka terdapat sedikitnya satu himpunan berindeks, katakan I
j
, yang tidak
mempunyai kelas partisi singleton. Untuk setiap partisi berindeks I
j
, tanpa mengu-
rangi keumuman, ambil anggota terakhir dari I
j
, misalkan m. Karena I
j
tidak
mempunyai kelas partisi singleton, maka setidaknya terdapat sebuah himpunan
berindeks lainnya yang memuat m, katakan I
k
, dengan j ,= k. Gantilah m I
k
dengan sebuah nilai lain, misalkan o, sedemikian hingga o ,= m dan o / I
k
.
Prosedur tersebut diulang untuk setiap himpunan berindeks yang tidak mempunyai
kelas partisi singleton sampai terdapat kelas partisi singleton di setiap subhim-
punan simpul V
1
, V
2
, , V
r
. Partisi pembeda yang diperoleh setelah menjalankan
prosedur tersebut disimbolkan dengan

.
Karena kedua nilai m dan o pada prosedur penggantian di atas adalah anggota dari
I
1
I
2
I
r
, maka penggantian itu tidak mengubah banyak indeks dalam
I
1
I
2
I
r
. Karena banyak indeks menyatakan kardinalitas partisi pembeda,
49
maka [

[ = [[.
Setiap simpul v K
n
1
,n
2
, ,n
r
mempunyai representasi terhadap

yang unik,
karena mereka dibedakan oleh kelas partisi singleton. Dengan demikian, adalah
partisi pembeda.
Akibat IV.1 berikut ini merupakan akibat dari Lema II.1.
Akibat IV.1. Misalkan adalah suatu partisi pembeda untuk V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
)
dengan subhimpunan simpul V
1
, V
2
, , V
r
. Jika u, v V
i
, dengan 1 i r
maka u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan sebarang dua simpul berbeda u, v V
i
, untuk suatu i pada
selang 1 i r. Karena jarak d(u, w) = d(v, w) untuk semua simpul
w V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
) u, v, maka berdasarkan Lema II.1, simpul u dan v harus
termuat dalam kelas partisi yang berbeda di .
Dimensi partisi graf multipartit lengkap K
n
1
,n
2
, ,n
r
ditunjukkan oleh Teorema IV.1
berikut ini:
Teorema IV.1. Dimensi partisi graf lengkap r-partit K
n
1
,n
2
, ,n
r
adalah
pd(K
n
1
,n
2
, ,n
r
) =

n +r 1 , jika n
i
= n untuk 1 i r,
n +r 2 , jika n = n
1
n
2
> n
r
.
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
t
untuk
V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
). Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1: n
i
= n untuk 1 i r.
Lema IV.1 memastikan bahwa terdapat sebuah kelas partisi singleton pada setiap
himpunan berindeks. Oleh karena itu, pada setiap subhimpunan simpul V
i
, dengan
1 i r, terdapat sebuah simpul yang termuat dalam kelas partisi singleton.
Berdasarkan Akibat IV.1, setiap simpul di V
i
, dengan 1 i r, harus termuat
dalam kelas partisi yang berbeda di . Dengan demikian, partisi pembeda terdiri
atas r +n 1 buah kelas partisi. Oleh karena itu, t r +n 1.
50
Selanjutnya, denisikan partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
r+n1
untuk
K
n
1
,n
2
, ,n
r
sedemikian hingga
S
j
=

v
1,j
, v
2,j
, v
3,j
, , v
r,j
, jika 1 j n 1,
v
(jn+1),n
, jika n j r +n 1.
Untuk memastikan bahwa adalah partisi pembeda, pandang sebarang dua simpul
berbeda u, v V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
) sedemikian hingga u dan v dalam kelas partisi yang
sama. Jika u V
i
dan v V
j
, untuk 1 i ,= j r, maka d(u, X) = 2
dan d(v, X) = 1, dengan X adalah sebuah kelas partisi singleton yang memuat
satu simpul di V
i
atau d(u, Y ) = 1 dan d(v, Y ) = 2, dengan Y adalah sebuah
kelas partisi singleton yang memuat satu simpul di V
j
. Oleh karena itu, r(u[) ,=
r(v[). Simpul dalam kelas partisi singleton dengan sendirinya mempunyai repre-
sentasi yang unik. Dengan demikian, adalah sebuah partisi pembeda untuk
V (K
n
1
,n
2
, ,n
r
).
Kasus 2: n = n
1
n
2
> n
r
.
Kardinalitas maksimum V
i
, dimana 1 i r, adalah n. Pandang subhimpunan
simpul V
1
dan V
r
, dengan kardilatas V
1
maksimum dan kardinalitas V
r
minimum.
Dengan Lema IV.1, terdapat kelas partisi singleton sebanyak r di . Dengan Akibat
IV.1, sisa simpul dalam himpunan berindeks I
1
harus didistribusikan ke dalamn1
buah kelas partisi yang berbeda. Oleh karena itu, partisi pembeda terdiri atas
r+n1 buah kelas partisi. Selanjutnya, dengan mengganti I
r
dengan I

r
I
j
c
untuk sebuah j 1, 2, , r 1, dan c adalah anggota yang termuat dalam
sebuah kelas partisi singleton, seluruh simpul di K
n
1
,n
2
, ,n
r
masih dapat dibedakan.
Dengan demikian, t (r +n 1) 1 = r +n 2.
Untuk menunjukkan bahwa pd(K
n
1
,n
2
, ,n
r
) r+n2, denisikan partisi pembeda
= S
1
, S
2
, , S
r+n2
dengan S
i
= v
i,n
i
, untuk i = 1, 2, , r 1; dan
S
(r1)+j
v
1,j
untuk j = 1, 2, , n 1 dan seluruh simpul lainnya dalam
V
2
V
3
V
n
didistribusikan ke dalam S
(r1)+j
sedemikian hingga Akibat IV.1
terpenuhi. Dengan demikian, setiap simpul dalam setiap kelas partisi mempunyai
representasi berbeda terhadap karena simpul-simpul tersebut dibedakan oleh
kelas partisi singleton.
51
D D D D
1 2 3 4
D D D D
2 3 4 1
D D D D
1 2 3 4
D D D D
2 3 4 1
D D
5 6
Gambar IV.2: a.Graf bipartit K
4,4
minus perfect matching dan b.Graf bipartit K
4,6
minus maximum matching
IV.2 Dimensi partisi graf bipartit minus matching
Sebuah graf bipartit lengkap dengan subhimpunan simpul V
1
dan V
2
, dengan [V
1
[ =
m dan [V
2
[ = n, disimbolkan dengan K
m,n
. Dimensi partisi dari graf bipartit telah
ditunjukkan oleh (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000) sebagaimana telah ditun-
jukkan dalam Teorema II.16 dan II.17. Pada subbab ini akan ditunjukkan dimensi
partisi graf bipartit minus sebuah matching.
Sebuah matching dalamgraf Gadalah subhimpunan M E(G) sedemikian hingga
tidak ada dua sisi di M mempunyai titik ujung bersama. Perfect matching, disim-
bolkan dengan M
p
adalah sebuah matching sedemikian hingga setiap simpul v
V (G) merupakan simpul ujung dari sisi-sisi matching. Matching dengan banyak
sisi terbesar pada sebuah graf G disebut maximum matching dan disimbolkan
dengan M
q
. Misalkan V
1
= a
i
[i = 1, 2, , n dan V
2
= b
i
[i = 1, 2, , n
adalah subhimpunan simpul graf bipartit K
n,n
. Sebuah perfect matching dari graf
K
n,n
adalah himpunan sisi M
p
sedemikian hingga M = a
i
b
i
[i = 1, 2, , n. Sisi
putus-putus Gambar IV.2.a menunjukkan sebuah perfect matching M
p
pada graf
bipartit K
4,4
dan sisi putus-putus Gambar IV.2.b menunjukkan sebuah maximum
matching M
m
pada graf bipartit K
4,6
.
Pandang sebuah graf bipartit minus sebuah perfect matching, yaitu G

= K
n,n
M.
Andaikan terdapat suatu partisi pembeda untuk V (G). Untuk setiap simpul v
V (G), notasi [v] dimaksudkan untuk menyatakan bahwa sebuah kelas partisi di
yang memuat simpul v. Dengan demikian, untuk dua simpul sebarang u, v V (G),
jika [u] = [v] maka simpul u dan v termuat dalam kelas partisi yang sama, katakan
u, v X dimana X .
Lema IV.2. Misalkan K
n,n
adalah graf bipartit order 2n dengan dua subhim-
52
punan V
1
dan V
2
. Misalkan simpul a
i
, a
j
V
1
dan b
i
, b
j
V
2
, dengan 1 i ,= j
n. Jika [a
i
] = [a
j
], dimana 1 i ,= j n, maka [b
i
] ,= [b
j
].
Bukti. Misalkan [b
i
] = [b
j
]. Karena simpul b
i
dan b
j
termuat dalam kelas partisi
yang sama, katakan b
i
, b
j
X dengan X , maka d(a
i
, X) = d(a
j
, X) = 1.
Lebih jauh, d(a
i
, Y ) = d(a
j
, Y ) = 1 untuk semua kelas partisi Y . Dengan
demikian, r(a
i
[) = r(a
j
[), sebuah kontradiksi.
Lema IV.3. Misalkan K
n,n
adalah graf bipartit order 2n dengan dua subhim-
punan V
1
dan V
2
. Misalkan simpul a
i
, a
j
, a
k
, a
l
V
1
dan b
i
, b
j
, b
k
, b
l
V
2
,
dengan 1 i ,= j ,= k ,= l n. Jika [a
i
] = [a
j
] dan [a
k
] = [a
l
], dengan
1 i ,= j ,= k ,= l n, maka simpul b
i
, b
j
, b
k
dan b
l
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda di .
Bukti. Misalkan terdapat sedikitnya dua simpul b
i
, b
j
, b
k
dan b
l
termuat dalam kelas
partisi yang sama. Tanpa kehilangan keumuman, misalkan [b
j
] = [b
k
] = X dengan
X . Oleh karena itu, d(b
j
, X) = d(b
k
, X) = 0. Selanjutnya, karena [a
i
] =
[a
j
], katakan [a
i
] = [a
j
] = Y dengan Y , maka d(b
j
, Y ) = d(b
k
, Y ) = 1.
Demikian pula halnya dengan d(b
j
, Z) = d(b
k
, Z) untuk sebuah kelas partisi Z di
sedemikian hingga X ,= Y ,= Z. Dengan demikian, r(b
j
[) = r(b
k
[), sebuah
kontradiksi.
Teorema IV.2 berikut ini menunjukkan dimensi partisi sebuah graf bipartit minus
sebuah perfect matching.
Teorema IV.2. Misalkan K
n,n
adalah graf bipartit order 2n dengan dua
subhimpunan V
1
dan V
2
dan M
p
adalah sebuah perfect matching di K
n,n
. Maka,
untuk n 3,
pd(K
n,n
M
p
) =


n
2
| + 2 , jika n gasal,

n
2
| + 1 , jika n genap.
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
k
untuk
V (K
n,n
M
p
) sedemikian hingga:
53
Untuk n gasal:
S
k
=

a
1
, a
2
, , a

n
2

, jika k = 1,
b

n
2

, b

n
2
+1
, , b
n
, jika k = 2,
a

n
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
n
2
| + 2.
Untuk n genap:
S
k
=

a
1
, a
2
, , a
n
2
, b
n
2
, b
n
2
+1
, , b
n
, jika k = 1,
a
n
, jika k = 2,
a
n
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
n
2
| + 1.
Untuk memastikan bahwa adalah partisi pembeda, pandang sebarang dua simpul
berbeda u, v V (K
n,n
M
p
) sedemikian hingga u, v dalam kelas partisi yang
sama. Tinjau dua kasus berikut:
Kasus 1: n gasal
Jika u = a
i
dan v = a
j
sedemikian hingga u, v S
1
maka u dan v dibedakan oleh
[b
i
] dan [b
j
]. Demikian pula jika u = b
i
dan v = b
j
sedemikian hingga u, v S
2
maka u dan v dibedakan oleh [a
i
] dan [a
j
]. Selanjutnya, jika u = a
i
dan v = b
j
sedemikian hingga u, v S
q
, dimana 3 q
n
2
|+2 maka u dan v dibedakan oleh
S
1
dan S
2
. Oleh karena itu, untuk setiap v V (K
n,n
M
p
), simpul v mempunyai
representasi unik.
Kasus 2: n genap
Pandang sebarang dua simpul berbeda u dan v sedemikian hingga u, v S
1
. Jika
u = a
i
dan v = a
j
(atau u = b
i
dan v = b
j
) maka u dan v dibedakan oleh [b
i
] dan
[b
j
] atau [a
i
] dan [a
j
]. Jika u = a
i
dan v = b
j
maka u dan v dibedakan oleh kelas
partisi S
2
. Kelas partisi S
2
adalah kelas partisi singleton, dengan demikian simpul
yang termuat dalamS
2
mempunyai representasi yang unik. Selanjutnya, jika u = a
i
dan v = b
j
sedemikian hingga u, v S
q
, dimana 3 q
n
2
| + 1, maka u dan v
dibedakan oleh S
2
. Oleh karena itu, untuk setiap dua simpul u, v V (K
n,n
M
p
),
maka r(u[) ,= r(u[).
Dengan demikian, pd(K
n,n
M
p
)
n
2
| +c, dengan c = 2 jika n gasal dan c = 1
jika n genap.
54
Selanjutnya, untuk menunjukkan batas bawah dimensi partisi untuk graf K
n,n

M
p
, misalkan = S
1
, S
2
, , S
r
suatu partisi pembeda dari V (K
n,n
M
p
).
Denisikan A
1
= S : [S V
1
[ = 1 dan A
2
= S : [S V
1
[ > 1.
Karena setiap simpul v V
1
harus termuat dalam sebuah kelas partisi, maka simpul
v termuat dalam A
1
atau A
2
. Sekarang, pandang tiga kasus berikut:
Kasus 1: [A
1
[
n
2
| + 1
Jika n genap maka [[ [A
1
[ =
n
2
| + 1 dan oleh karena itu, Kasus 1 terpenuhi.
Sekarang, pandang n gasal untuk n 5. Maka, A
2
harus mempunyai paling sedikit
satu anggota yang berbeda dengan seluruh anggota A
1
. Oleh karena itu, ketika
digabung dengan seluruh kelas partisi di A
1
diperoleh [[ [A
1
[ + 1 =
n
2
| + 2.
Jika n = 3 maka [A
1
[ haruslah bernilai tiga. Oleh karena itu, dalam kasus ini juga
diperoleh [[
n
2
| + 2.
Kasus 2: [A
1
[ =
n
2
|
Karena A
2
mempunyai paling sedikit satu anggota, maka untuk kasus dengan n
genap diperoleh [[ [A
1
[+[A
2
[ =
n
2
|+1 dan, oleh karena itu, Kasus 2 terpenuhi.
Sekarang, misalkan n adalah sebuah bilangan gasal dan [a
1
], [a
2
], , [a

n
2

]
anggota dari A
1
. Jika A
2
mempunyai dua anggota maka [[
n
2
| + 2 dan,
oleh karena itu, Kasus 2 terpenuhi. Asumsikan A
2
mempunyai satu anggota, dan
misalkan T A
2
. Perhatikan bahwa T = [a

n
2
+1
] = a

n
2
+1
, a

n
2
+2
, , a
n
.
Sekarang, kami menunjukkan bahwa himpunan yang membentuk bukan hanya T
dan himpunan di A
1
. Asumsikan = A
1
T. Misalkan K
1
= 1, 2, ,
n
2
|
dan K
2
=
n
2
| + 1,
n
2
| + 2, , n. Berdasarkan Lema IV.2, [b
i
] ,= [b
j
]
untuk sebarang i, j K
2
yang berbeda. Oleh karena itu, terdapat suatu bijeksi
f : K
2
K
1

n
2
| + 1 sedemikian hingga [b
x
] = [a
f(x)
] untuk setiap x K
2
.
Hal ini berarti terdapat satu simpul b
j
0
, untuk suatu j
0
K
2
, yang harus termuat
dalam kelas partisi T. Oleh karena itu, r(b
j
0
[) = r(a
j0
[), suatau kontradiksi,
karena terdapat dua simpul berjarak 1 ke seluruh himpunan kelas partisi yang lain
di . Dengan demikian, pd(G)
n
2
| +c, dengan c = 2 jika n gasal dan c = 1 jika
n genap.
Kasus 3: 1 [A
1
[
n
2
| 1
Banyaknya simpul yang tidak termuat dalam A
1
paling sedikit sebesar
n
2
| + c,
dengan c = 2 jika n gasal dan c = 1 jika n genap. Simpul-simpul ini membentuk
kelas partisi tidak singleton ( di A
2
). Oleh karena itu, berdasarkan Lemma IV.3,
simpul yang bersesuaian di V
2
haruslah termuat dalam kelas partisi yang berbeda.
55
Oleh karena itu, [[
n
2
| + c, dengan c = 2 jika n gasal dan c = 1 jika n
genap.
Untuk n = 1 dan n = 2, graf K
n,n
M
p
, yaitu graf K
1,1
M
p
dan K
2,2

M
p
merupakan graf tak terhubung. Dengan demikian, dimensi partisi kedua graf
tersebut tidak didenisikan.
Sekarang, pandang sebuah graf bipartit K
m,n
, dengan m > n. Karena setiap sisi
pada K
m,n
mempunyai satu simpul ujung di a
i
V
1
dan simpul ujung lainnya di
b
j
V
2
untuk suatu i dan j pada selang tertutup 1 i m dan 1 j n, maka
maksimum matching M
q
di K
m,n
mempunyai kardinalitas n. Tanpa kehilangan
keumuman, misalkan M
q
= a
i
b
i
[a
i
V
1
, b
i
V
2
dan 1 i n.
Akibat IV.2 berikut ini merupakan akibat dari Lema II.1.
Akibat IV.2. Misalkan adalah suatu partisi pembeda untuk V (K
m,n
M
q
)
dengan kardinalitas subhimpunan simpul [V
1
[ = m dan [V
2
[ = n. Jika a
i
, a
j
V
1
,
dengan n+1 i ,= j m, maka a
i
dan a
j
harus termuat dalam kelas partisi yang
berbeda di .
Bukti. Misalkan a
i
, a
j
V
1
sedemikian hingga n + 1 i ,= j m.
Karena d(a
i
, w) = d(a
j
, w) untuk semua simpul w V (K
m,n
) a
i
, a
j
, maka
berdasarkan Lema II.1, simpul a
i
dan a
j
harus termuat dalam kelas partisi yang
berbeda di .
Teorema IV.3 berikut ini menunjukkan dimensi partisi graf bipartit K
m,n
minus
sebuah maksimum matching M
q
, dengan n + 1 m.
Teorema IV.3. Misalkan K
m,n
M
q
adalah graf bipartit lengkap K
m,n
minus
suatu maksimum matching M
q
, dengan n + 1 m. Maka,
pd(K
m,n
M
q
) =


m
2
| + 1 , jika n + 1 m < 2n + 1,
mn , jika 2n + 1 m.
Bukti. Untuk menunjukkan batas atas, denisikan suatu partisi pembeda =
S
1
, S
2
, , S
k
dari graf K
m,n
M
q
sedemikian hingga memenuhi dua kasus
berikut:
56
Kasus 1: n + 1 m < 2n + 1
Pandang empat subkasus berikut:
Subkasus 1.1: n gasal dan m gasal
S
k
=

a
1
, a
2
, , a

m
2

, jika k = 1,
b

m
2

, b

m
2
+1
, b

m
2
+2
, , b
n
, jika k = 2,
b

m
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
m
2
| + 1,
Subkasus 1.2: n gasal dan m genap
S
k
=

a
1
, a
2
, , a
m
2
, jika k = 1,
b
m
2
, b
m
2
+1
, b
m
2
+2
, , b
n
, a
m
, jika k = 2,
b
m
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
m
2
| + 1,
Subkasus 1.3: n genap dan m gasal.
S
k
=

a
1
, a
2
, , a

m
2

, jika k = 1,
b

m
2
+1
, b

m
2
+2
, , b
n
, a
m
, jika k = 2,
b

m
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
m
2
| + 1,
Subkasus 1.4: n genap dan m genap
S
k
=

a
1
, a
2
, , a
m
2
1
, a
m1
, jika k = 1,
b
m
2
, b
m
2
+1
, , b
n
, a
m
, jika k = 2,
b
m
2
+k2
, b
k2
, jika 3 k
m
2
| + 1,
Untuk memastikan adalah partisi pembeda dari graf K
m,n
M
q
, periksa sebarang
dua simpul berbeda u, v V (K
m,n
M
q
) sedemikian hingga u, v dalam kelas
partisi yang sama. Jika u = a
i
dan v = a
j
sedemikian hingga u, v S
1
, maka
u dan v dibedakan oleh [b
i
] dan [b
j
]. Jika u = a
i
, dengan i n, dan v = a
j
,
dengan n + 1 j, maka u dan v dibedakan oleh [b
i
], karena d(u, [b
i
]) = 2 dan
d(v, [b
i
]) = 1. Dengan demikian, r(u[) ,= r(v[). Sekarang, pandang sebarang
dua simpul berbeda u, v S
2
. Jika u = b
i
dan v = b
j
, maka u dan v dibedakan
oleh [a
i
] dan [a
j
]. Untuk m genap, a
m
, b
n
S
2
dan jika u = a
m
dan v = b
n
maka
u dan v dibedakan oleh kelas partisi S
1
, karena d(u, S
1
) = 2 dan d(v, S
1
= 1).
Dengan demikian, r(u[) ,= r(v[). Demikian pula hanya dengan kelas partisi
57
S
k
, dengan 3 k
m
2
+ 1. S
k
mempunyai anggota dua buah simpul, katakan u
dan v, sedemikian hingga u V
1
dan v V
2
. Oleh karenanya, u dan v dibedakan
oleh kelas partisi S
1
, yaitu 2 = d(u, S
1
) ,= d(v, S
1
) = 1, dan oleh karena itu
r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian, k
m
2
| + 1.
Untuk menunjukkan batas bawah dimensi partisi graf K
m,n
M
q
, perhatikan Lema
IV.2 dan Lema IV.3. Kedua lema tersebut memastikan bahwa jika simpul a
i
dan
a
j
, dengan 1 i ,= j n, termuat dalam kelas partisi yang sama, maka simpul
b
i
dan b
j
harus termuat dalam kelas yang berbeda. Lebih dari itu, paling banyak
hanya satu, [b
i
] saja atau [b
j
] saja, yang mempunyai anggota simpul lain, katakan
b
k
, sedmikian hingga b
k
V
2
. Selanjutnya, perhatikan pula Akibat IV.2. Akibat
tersebut memastikan setiap simpul a
l
V
1
, dengan n + 1 l m harus termuat
dalam kelas partisi yang berbeda.
Misalkan adalah partisi pembeda dari graf K
m,n
M
q
dan S . berdasarkan
Lema IV.2 dan Lema IV.3, jika kelas partisi a
i
S, untuk 1 i
m
2
|, maka
terdapat
m
2
| kelas partisi di V
2
. Untuk nilai m yang semakin besar, jumlah kelas
partisi di V
2
, yaitu
m
2
|, juga semakin besar sampai maksimum
m
2
| = n.
Denisikan B
1
= S : [S V
2
[ = 1 dan B
2
= S : [S V
2
[ > 1.
Karena setiap simpul b V
2
harus termuat dalam sebuah kelas partisi, maka simpul
b termuat dalam B
1
atau B
2
. Sekarang, pandang tiga kasus berikut:
Kasus 1.1: [B
1
[ >
m
2
|
Jika [B
1
[
m
2
| maka B
2
harus mempunyai paling sedikit satu anggota yang
berbeda dengan seluruh anggota B
1
. Oleh karena itu, ketika digabung dengan
seluruh kelas partisi di B
1
diperoleh [[ [B
1
[ + 1 =
m
2
| + 1.
Kasus 1.2: [B
1
[ =
m
2
|
Karena B
2
mempunyai paling sedikit satu anggota, maka diperoleh [[ [B
1
[ +
[B
2
[ =
m
2
| + 1. Dengan demikian, Kasus 2 terpenuhi.
Kasus 1.3: 1 [B
1
[ <
m
2
|
Banyaknya simpul yang tidak termuat dalam B
1
paling sedikit sebesar
m
2
|.
Simpul-simpul ini membentuk kelas partisi tidak singleton ( di B
2
). Oleh karena itu,
berdasarkan Lemma IV.3, simpul yang bersesuaian di V
1
haruslah termuat dalam
kelas partisi yang berbeda. Oleh karena itu, [[
m
2
| + 1.
Dengan demikian, batas bawah untuk pd(K
m,n
M
q
) adalah
m
2
| + 1.
58
Kasus 2: 2n + 1 m
Untuk menunjukkan batas atas, denisikan suatu partisi pembeda = S
1
,
S
2
, , S
k
untuk V (K
m,n
M
q
) sedemikian hingga,
S
k
=

a
1
, a
2
, , a
n
, a
n+1
, jika k = 1,
a
n+k
, b
k1
, jika 2 k n + 1,
a
n+k
, jika n + 2 k mn,
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (K
m,n
M
q
) sedemikian hingga
simpul u dan v termuat dalam kelas partisi yang sama. Misalkan simpul u, v S
1
.
Jika u = a
i
dan v = a
j
, dengan 1 i ,= j n, maka u dan v dibedakan oleh
[b
i
] atau [b
j
], karena d(u, [b
i
]) = 2 dan d(v, [b
i
]) = 1 (atau d(u, [b
j
]) = 1 dan
d(v, [b
j
]) = 2). Jika u = a
i
, untuk suatu i dalam selang 1 i n, dan v = a
n+1
,
maka u dan v dibedakan oleh [b
i
], karena d(u, [b
i
]) = 2 dan d(v, [b
i
]) = 1. Dengan
demikian, r(u[) ,= r(v[). Selanjutnya, pandang sebarang dua simpul berbeda
u, v S
k
, dengan 2 k n + 1. Jika u = a
i
dan v = b
j
, dengan n + 2 i
2n + 1 dan 1 j n, maka u dan v dibedakan oleh S
1
, yaitu d(u, S
1
) = 2 dan
d(v, S
1
) = 1. Dengan demikian, r(u[) ,= r(v[). Lebih jauh, kelas partisi S
k
,
dengan n + 2 k m n, adalah kelas partisi singleton, oleh karena itu setiap
simpul di dalamnya mempunyai representasi unik. Dengan demikian, k mn.
Pandang simpul a
i
V
1
pada graf K
m,n
M
q
, dengan n + 1 i m. Misalkan
terdapat suatu partisi pembeda untuk graf K
m,n
M
q
. Akibat IV.2 memastikan
bahwa setiap simpul a
i
, dengan n + 1 i m, termuat dalam kelas partisi yang
berbeda. Oleh karena itu, [[ mn.
IV.3 Dimensi partisi graf tripartit minus matching
Sebuah graf tripartit G((V
1
, V
2
, V
3
), E) adalah suatu graf r-partit dengan r = 3.
Himpunan simpul graf V (G) dipartisi ke dalam tiga subhimpunan simpul V
1
, V
2
dan V
3
, dan setiap sisi di E(G) mempunyai titik ujung di subhimpunan simpul yang
berbeda. Graf tripartit lengkap adalah graf tripartit sederhana sedemikian hingga
setiap simpul u V
i
terdapat sebuah sisi uv untuk setiap v V
j
V
k
, dengan
1 i ,= j ,= k 3. Sebarang graf tripartit lengkap dengan [V
1
[ = [V
2
[ = [V
3
[ = n
disimbolkan dengan K
n,n,n
. Suatu simpul ke i anggota subhimpunan simpul V
1
, V
2
dan V
3
masing masing disimbolkan dengan a
i
, b
i
dan c
i
, dengan 1 i n.
59
c4
c3
c2
c1
a1 a2 a3 a4
D
D
D
D
b1
b2
b3
b4
D
D
D
D
D D D D
V1
V2 V3
(a)
c4
c3
c2
c1
a1 a2 a3 a4
D
D
D
D
b1
b2
b3
b4
D
D
D
D
D D D D
V1
V2 V3
(b)
D
D D
a5
c5 b5
Gambar IV.3: a.Sisi perfect matching graf K
4,4,4
dan b.Sisi near-perfect matching
graf K
5,5,5
Selain perfect matching dan maksimum matching, seperti yang telah didenisikan
dalam Subbab III.5 di atas, dalam subbab ini didenisikan sebuah near-perfect
matching, yaitu matching dari suatu graf G sedemikian hingga menyisakan tepat
satu simpul di G yang tidak menjadi simpul ujung sisi matching. Sebuah near-
perfect matching terjadi pada graf G order gasal. Dua simpul ujung dari sisi
e M masing-masing disimbolkan dengan x dan x

. Gambar IV.3.a adalah perfect


matching pada graf tripartit K
4,4,4
dan Gambar IV.3.b adalah near-perfect matching
pada graf tripartit K
5,5,5
.
Perfect matching dan near-perfect matching pada sebuah graf tripartit lengkap
K
n,n,n
selalu dalam kongurasi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar IV.3. Jika
tidak, maka akan menyisakan sedikitnya dua buah simpul u dan v sedemikian
hingga u, v V
i
untuk suatu i pada selang [1, 3].
Pandang graf tripartit lengkap K
n,n,n
M, dengan M adalah sebuah perfect
matching atau near-perfect matching.
Lema IV.4. Misalkan K
n,n,n
M adalah graf tripartit lengkap minus sebuah
perfect matching (atau near-perfect matching) M dan xx

, yy

M. Untuk suatu
i, j, k pada selang [1, 3] dan i ,= j ,= k, jika [x] = [y] dan x, y V
i
, maka
[x

] (V
j
V
k
) = x

atau [y

] (V
j
V
k
) = y

.
Bukti. Untuk kontradiksi, misalkan [x

] (V
j
V
k
) ,= x

dan [y

] (V
j
V
k
) ,=
y

. Karena [x

] dan [y

] tidak singleton, maka sedikitnya terdapat dua simpul


p, q (V
j
V
k
) sedemikian hingga p [x

] dan q [y

] (atau sebaliknya). Pandang


dua kasus berikut:
Kasus 1: [x

] = [y

]
60
Karena x

dan y

dalam kelas partisi yang sama, katakan X , maka d(x, X) =


d(y, X) = 1. Lebih jauh, d(x, Z) = d(y, Z) untuk semua kelas partisi Z .
Dengan demikian, r(x[) = r(y[), sebuah kontradiksi.
Kasus 1: [x

] ,= [y

]
Misalkan x, y V
i
. Karena [x

] ,= [y

] maka terdapat sedikitnya dua simpul p [x

]
dan q [y

] sedemikian hingga p, q (V
j
V
k
). Karena d(x, [x

]) = d(x, p) = 1
dan d(y, [y

]) = d(y, q) = 1, maka d(x, X) = d(y, X) untuk semua kelas partisi


X . Dengan demikian, r(x[) = r(y[), sebuah kontradiksi.
Dimensi partisi dari sebuah graf tripartit lengkap minus perfect matching (atau near-
perfect matching) diberikan oleh IV.4 berikut ini.
Teorema IV.4. Misalkan terdapat suatu graf tripartit K
n,n,n
dengan perfect
matching (atau near-perfect matching) M. Maka pd(K
n,n,n
M) = n + 1.
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda
1
= S
1
, S
2
, , S
k
untuk
V (K
n,n,n
M) sedemikian hingga, jika n gasal:
S
k
=

an+1
2
, an+1
2
+1
, , a
n
, c
1
, c
2
, , cn+1
2
, jika k = 1,
b
1
, jika k = 2,
b
k1
, cn+1
2
+k2
, jika 3 k
n+1
2
+ 1,
b
k1
, a
k
n+1
2
1
, jika
n+1
2
+ 2 k n + 1.
dan jika n genap:
S
k
=

a
n
2
+1
, a
n
2
+2
, , a
n
, c
1
, c
2
, , c
n
2
+1
, jika k = 1,
b
1
, jika k = 2,
b
k1
, c
n
2
+k1
, jika 3 k
n
2
+ 1,
b
k1
, a
k
n
2
1
, jika
n
2
+ 2 k n + 1.
Pandang dua simpul u, v V (K
n,n,n
M). Jika u, v S
1
maka simpul u dan v
dibedakan oleh [u

] atau [v

], yaitu kelas partisi yang memuat simpul u

atau v

, atau
oleh simpul w S
2
. Karena S
2
adalah kelas partisi singleton, dengan sendirinya
simpul u S
2
mempunyai r(u[) unik. Jika u, v S
j
, dengan 3 j n + 1,
maka simpul u dan v dibedakan oleh S
2
. Dengan demikian, r(u[) ,= r(v[),
61
untuk sebarang dua simpul berbeda u, v V (K
n,n,n
M).
Selanjutnya, untuk menunjukkan batas bawah dimensi partisi pd(K
n,n,n
M), tanpa
menghilangkan keumuman, untuk n genap, denisikan perfect matching sebagai
berikut:
M =

b
i
c
i
, a
i
c
n
2
+i
, jika 1 i
n
2
,
a
i
b
i
, jika
n
2
+ 1 i n.
dan, untuk n gasal, denisikan near-perfect matching sebagai berikut:
M =

b
i
c
i
, a
i
cn+1
2
+i
, jika 1 i
n
2
,
a
i1
b
i
, jika
n
2
+ 1 i n.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
r
suatu partisi pembeda dari V (K
n,n,n
M). Deni-
sikan A
1
= S : [S V
i
[ = 1 dan A
2
= S : [S V
i
[ > 1,
tanpa kehilangan keumuman, misalkan i = 1. Karena setiap simpul v V
1
harus
termuat dalam sebuah kelas partisi, maka simpul v termuat dalam A
1
atau A
2
. Jika
[A
1
[ = m maka nm simpul (selain simpul yang termaut dalam A
1
) harus termuat
dalam paling sedikit satu kelas partisi dalam A
2
. Jika sebarang dua simpul berbeda
u, v A
2
, maka, berdasarkan Lema IV.4, [u

] ,= [v

]. Karena [A
2
[ = n m, maka
terdapat n m kelas partisi berbeda untuk setiap pasangan simpul di A
2
. Oleh
karena itu, sedikitnya terdapat m + 1 + (n m) = n + 1 kelas partisi. Dengan
demikian, pd(K
n,n,n
M) n + 1.
62
Bab V Dimensi Partisi Graf Hasil Operasi Korona
Mendapatkan graf baru dengan mengenakan operasi biner pada dua graf asal dan
kemudian menyatakan dimensi partisinya dalam dimensi partisi graf operannya
diawali oleh Chartrand dkk. (1998). Mereka membuktikan bahwa pd(H K
2
)
pd(H) +1 untuk setiap graf terhubung nontrivial H (Chartrand dkk., 1998). Selan-
jutnya, Yero dkk. (2010) menunjukkan bahwa pd(G
1
G
2
) pd(G
1
) + pd(G
2
),
untuk sebarang dua graf terhubung G
1
dan G
2
. Pada bab ini dikaji dimensi partisi
graf hasil operasi biner lainnya, yaitu operasi korona. Pada Subbab III.1 kami
membuktikan bahwa pd(G H) pd(G) + pd(H) dengan graf H berdiameter
paling banyak 2. Pada subbab berikutnya masing-masing dibahas dimensi partisi
dari graf lintasan korona graf lengkap, graf lintasan korona graf bintang, graf
lengkap korona graf lengkap, graf kincir (yang diperoleh dari graf lengkap K
1
korona m kopi disjoin graf lengkap K
n
), dan graf bintang korona graf lengkap.
V.1 Batas atas dimensi partisi graf hasil operasi korona
Pada bagian ini akan ditentukan batas atas dari pd(G H) dengan menyatakan
dalam pd(G) dan pd(H) bila H graf berdiameter paling banyak 2.
Lema V.1. Misalkan G dan H adalah graf terhubung. Misalkan graf H
i
adalah kopi ke i dari graf H di G H. Maka, sebarang dua simpul berbeda
u, v V (H
i
) dibedakan hanya oleh sebuah himpunan yang mempunyai irisan tidak
kosong dengan himpunan simpul V (H
i
).
Bukti. Karena d(u, w) = d(v, w) untuk setiap simpul w V (G H) V (H
i
),
maka simpul u dan v dapat dibedakan hanya oleh satu atau lebih simpul di (H
i
).
Teorema V.1. Misalkan G dan H adalah graf terhubung, dengan diameter
diam(H) 2. Maka, dimensi partisi pd(GH) pd(G) +pd(H).
Bukti. Misalkan
G
dan
H
masing masing merupakan partisi pembeda minimum
untuk V (G) dan V (H). Misalkan [V (G)[ = n. Untuk i = 1, 2, , n,
simpul di setiap H
i
dipartisi dengan mengacu
H
, yaitu H
1
i
, H
2
i
, , H
s
i
, dengan
63
s = pd(H). Sekarang, pandang partisi =
1

2
, dengan
1
=
n
i=1
H
1
i
,

n
i=1
H
2
i
, ,
n
i=1
H
s
i
dan
2
=
G
. Kami akan menunjukkan bahwa adalah
suatu partisi pembeda untuk GH. Karena diameter H paling besar 2, maka jarak
antara sebarang dua simpul berbeda u, v V (H
i
), untuk sebarang i, dalam graf
corona GH adalah sama dengan jarak dari u ke v pada graf H mula-mula. Oleh
karena itu, jika dua simpul u, v V (H
i
), untuk sebarang i, dibedakan oleh
H
maka u dan v juga dibedakan oleh
1
. Pandang sebarang dua simpul berbeda u dan
v pada graf G H. Jika u, v V (H
i
) maka u dan v jelas dibedakan oleh
n
i=1
H
t
i
untuk sebuah t. Jika u, v V (G) maka u dan v dibedakan oleh sebuah kelas di
G
.
Sekarang, asumsikan u V (H
i
) dan v V (G). Jika u
n
i=1
H
t
i
untuk sebuah
t, maka jarak u dan v ke
n
i=1
H
t
i
masing masing adalah 0 dan 1. Oleh karena itu,
u dan v terbedakan. Sekarang, jika u V (H
i
) dan v V (H
j
), untuk i ,= j, dan
u, v
n
i=1
H
t
i
, untuk sebuah t, maka simpul u dan v dibedakan oleh sebuah kelas
di
G
.
V.2 Dimensi partisi graf lintasan korona graf lengkap
Pandang graf hasil operasi corona G

= P
m
K
n
, dengan P
m
adalah sebuah graf
lintasan order m dan K
n
adalah graf lengkap order n. Graf G terdiri atas himpunan
simpul V (G) = x
i
[1 i m a
ij
[1 i m, 1 j n dan himpunan sisi
E(G) = x
i1
x
i
[2 i m x
i
a
ij
[1 i m, 1 j n a
ik
a
il
[1 i
m, 1 k < l n.
Teorema V.2 berikut ini menunjukkan dimensi partisi dari graf G

= P
m
K
n
.
Lebih dari itu, kami menunjukkan bahwa batas atas dari Teorema V.1 dipenuhi oleh
pd(P
m
K
n
) untuk m n + 3.
Teorema V.2. Untuk m 2 dan n 4, dimensi partisi dari P
m
K
n
adalah
sebagai berikut:
pd(P
m
K
n
) =

n + 1 , jika m n + 2,
n + 2 , jika m n + 3.
Bukti. Misalkan = S
1
, S
2
, , S
k
sebuah partisi pembeda dari himpunan
simpul graf G

= P
m
K
n
. Untuk i = 1, 2, , m, misalkan H
i
adalah kopi
ke-i dari K
n
di G dan V (H
i
) = a
i1
, a
i2
, , a
in
. Maka, jelas bahwa setiap dua
simpul di H
i
harus termuat di kelas partisi yang berbeda di . Karena m 2, maka
64
DD
DD
D
1
DD
DD
D
2
DD
DD
D
3
DD
DD
D
4
DD
DD
D
5
DD
DD
D
6
Gambar V.1: Partisi pembeda graf P
6
K
4
diperlukan paling sedikit n + 1 buah kelas partisi di . Jika tidak, untuk i ,= j,
simpul a
i1
dan a
j1
mempunyai representasi yang sama. Oleh karena itu, k n +1.
Sekarang, pandang kasus untuk m n + 2. Denisikan sebuah partisi pembeda
untuk V (G), yaitu = S
1
, S
2
, , S
n+1
, sedemikian hingga:
a. x
1
S
1
, x
2
, x
3
, x
4
S
5
, x
5
, x
6
, , x
m
S
1
.
b. Seluruh simpul dari H
1
didistribusikan secara merata ke n buah kelas partisi
selain S
1
.
c. Seluruh simpul dari H
2
didistribusikan secara merata ke n buah kelas partisi
selain S
2
.
d. Seluruh simpul dari H
3
didistribusikan secara merata ke n buah kelas partisi
selain S
1
.
e. Untuk t = 4, 5, , m, seluruh simpul dari H
t
didistribusikan secara merata ke
n buah kelas partisi selain S
t1
. Label pada Gambar V.1 menunjukkan distribusi
simpul pada kelas partisi tertentu.
Akan dibuktikan bahwa adalah partisi pembeda dari graf G. Untuk membuk-
tikan itu, pandang dua simpul berbeda u, v di G yang termuat dalam kelas partisi
yang sama. Jika u H
i
, v H
j
untuk i < j, dan i, j , = 1, 3 maka jarak
d(u, S
j1
) ,= d(v, S
j1
) atau jarak d(u, S
1
) ,= d(v, S
1
). Oleh karena itu, repre-
sentasi r(u[) ,= r(v[). Sekarang, jika u, v x
1
, x
2
, , x
m
maka jelas
r(u[) ,= r(v[). Jika u = x
i
dan v = a
jk
maka d(u, S) ,= d(v, S), dengan S
adalah kelas partisi yang memuat simpul yang tidak ada di H
j
. Oleh karena itu,
r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian, adalah suatu partisi pembeda dari graf G
dan hal ini mengakibatkan partisi dimensi pd(G) = n + 1 jika m n + 2.
Sekarang, pandang untuk kasus m n + 3. Kami menunjukkan bahwa pd(G) =
n + 2. Untuk menunjukkan batas bawah, asumsikan terdapat partisi pembeda =
65
S
1
, S
2
, , S
n+1
pada graf G. Berdasarkan Lemma II.1, setiap dua simpul di H
i
termuat dalamkelas yang berbeda di . Oleh karena itu, untuk i = 1, 2, m, dapat
didenisikan c
i
= b jika tidak ada simpul di H
i
yang termuat dalamS
b
. Selanjutnya,
karena m n+3 dan 1 b n+1 maka terdapat i, j, l dan i < j < l sedemikian
hingga c
i
= c
j
= c
l
= b untuk suatu b atau terdapat i, j, l, s dan i < j < l < s
sedemikian hingga c
i
= c
j
= b dan c
l
= c
s
= c untuk suatu b dan c.
Jelas bahwa jika H
i
= H
j
maka j ,= i + 1. Jika tidak, maka d(x
j
, S
b
) = d(w, S
b
)
untuk sebuah simpul w V (H
i
) atau d(x
i
, S
b
) = d(w, S
b
) untuk sebuah simpul
w V (H
j
). Karena d(x
i
, S
t
) = d(x
j
, S
t
) = d(w, S
t
) = 1 untuk setiap t ,= b,
maka r(x
j
[) = r(w[) atau r(x
i
[) = r(w[), suatu kontradiksi. Oleh karena
itu, j i > 1, l j > 1, dan s l > 1.
Sekarang, pandang kasus c
i
= c
j
= c
l
= b. Agar representasi terhadap dari setiap
simpul di G berbeda maka d(H
i
, S
b
),d(H
j
, S
b
),d(H
l
, S
b
) = 1, 2, 3 (karena j
i > 1 dan l j > 1), dengan jarak d(H
i
, S
b
) merupakan jarak antara seluruh
simpul di H
i
terhadap kelas partisi S
b
. Hal ini mengakibatkan salah satu dari simpul
x
i
, x
j
, x
l
termuat dalam kelas partisi S
b
. Misalkan, x
i
S
b
dan satu dari x
j
, x
l
,
misalkan x
j
, berjarak 1 dengan S
b
. Selanjutnya, didapatkan r(x
j
[) = r(w[)
untuk sebuah simpul w V (H
i
), suatu kontradiksi. Oleh karena itu kasus pertama
tidak mungkin terjadi.
Selanjutnya, pandang kasus c
i
= c
j
= b dan c
l
= c
s
= c untuk suatu b dan c,
dengan b ,= c. Sekali lagi, karena j i > 1, l j > 1, dan s l > 1 maka
d(H
i
, S
b
), d(H
j
, S
b
) 1, 2, 3 dan d(H
l
, S
c
), d(H
s
, S
c
) 1, 2, 3. Dapat
dilihat, paling banyak satu dari simpul x
i
, x
j
termuat dalam kelas partisi S
b
. Jika
x
i
S
b
maka seluruh simpul di H
i
bersama dengan simpul x
i
menjadi simpul
dominan, yaitu sebuah simpul yang mempunyai jarak 1 ke semua kelas partisi di
selain kelas partisi yang memuat simpul tersebut.
Kemudian, jika simpul x
i
S
b
maka tidak satupun simpul x
l
, x
s
termuat
dalam kelas partisi S
c
. Karena jika tidak, maka terdapat terlalu banyak simpul
dominan di G, yaitu banyak simpul dominan melebihi dimensi partisinya. Oleh
karena itu, d(H
l
, S
c
), d(H
s
, S
c
) = 2, 3. Dengan demikian, salah satu dari
simpul x
l
, x
s
, katakan x
l
, berjarak 1 ke kelas partisi S
c
. Hal ini menjadikan
x
l
sebagai simpul dominan dan menyebabkan r(x
l
[) = r(w[), untuk sebuah
simpul w H
i
x
i
. Oleh karena itu, tidak satupun simpul x
i
, x
j
termuat
66
dalam kelas partisi S
b
( dan dengan cara yang sama, tidak satupun simpul x
l
, x
s

termuat dalam kelas partisi S


c
). Sehingga, d(H
i
, S
b
), d(H
j
, S
b
) = 2, 3 dan
d(H
l
, S
c
), d(H
s
, S
c
) = 2, 3. Pada kasus ini, dapat diandaikan d(H
i
, S
b
) = 2
dan d(H
j
, S
b
) = 3. Tetapi, kemudian menyebabkan r(x
j
[) = r(w[), untuk
sebuah simpul w V (H
i
), suatu kontradiksi. Oleh karena itu, kasus kedua juga
tidak mungkin terjadi. Hal ini berarti pd(G) n + 2 jika m n + 3.
Sekarang, untuk menunjukkan pd(G) n + 2, bila m n + 3, denisikan partisi
pembeda = S
1
, S
2
, , S
n+2
pada graf G sedemikian hingga:
S
k
=

a
1k
, a
2k
, , a
mk
, jika 1 k n,
x
2
, x
3
, , x
m
, jika k = n + 1,
x
1
, jika k = n + 2.
Dapat dilihat, bahwa setiap sebarang dua simpul berbeda u, v S
k
, untuk k
1, 2, , n + 1, mempunyai jarak berbeda terhadap kelas partisi singleton S
n+2
.
Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian, adalah partisi pembeda
pada graf G. Jadi, pd(G) n + 2 untuk m n + 3.
Sekarang, pandang graf G

= P
m
K
n
, dengan m 2, dan n = 2, 3. Untuk m
n + 2, denisikan sebuah partisi = S
1
, S
2
, , S
n+1
untuk V (G) sedemikian
hingga:
a. S
1
= a
21
, a
41
, x
3
, S
2
= a
11
, a
31
, a
42
, x
4
, S
3
= a
12
, a
22
, a
32
, x
1
, x
2
, untuk
n = 2, m = 4;
b. S
1
= a
21
, a
41
, a
51
, x
3
, S
2
= a
11
, a
31
, a
42
, a
52
, x
4
, x
5
, S
3
= a
12
, a
22
,
a
32
, a
53
, x
1
, x
2
, S
4
= a
13
, a
23
, a
33
, a
43
, untuk n = 3, m = 5.
Dapat diperiksa bahwa adalah sebuah partisi pembeda untuk V (G). Dari item (a)
diperoleh batas atas pd(P
m
K
2
) 4 dan dari (b) diperoleh batas atas pd(P
m

K
3
) 5.
Sekarang, pandang graf P
m
K
2
untuk 2 m 4. Chartrand, Salehi dan Zhang
(2000) membuktikan bahwa pd(G) = 2 jika dan hanya jika G adalah graf lintasan,
dengan demikian pd(P
m
K
2
) 3. Jadi, pd(P
m
K
2
= 5. Selanjutnya, untuk
2 m 4, batas bawah pd(P
m
K
3
5 dapat dibuktikan dengan cara serupa
dengan kasus m n + 3 dan n 4 pada Teorema V.2. Oleh karena itu, kami
mendapatkan Teorema berikut ini.
67
Teorema V.3. Untuk m 2 dan n = 2, 3, dimensi partisi dari P
m
K
n
adalah
sebagai berikut:
pd(P
m
K
n
) =

n + 1 , jika m n + 2,
n + 2 , jika m n + 3.
Dimensi partisi graf lintasan order m P
m
dan graf lengkap order n K
n
adalah 2 dan
n berturut-turut (Chartrand, Salehi dan Zhang, 2000). Oleh karena itu, Teorema V.2
dan V.3, untuk m n + 3, memenuhi batas atas Teorema V.1. Dengan demikian,
Teorema V.1 memberi batas atas yang ketat.
V.3 Dimensi partisi graf lintasan korona graf bintang
Misalkan P
m
adalah graf lintasan order m dan K
1,n
adalah graf bintang order n+1.
Pada subbab ini akan dibahas dimensi partisi graf hasil korona G

= P
m
K
1,n
.
Graf hasil korona G

= P
m
K
1,n
mempunyai m buah kopi graf bintang K
1,n
.
Untuk penyederhanaan, kopi graf bintang ke-i dinotasikan dengan H
i
untuk suatu
i dalam selang [1, m]. Graf hasil korona G

= P
m
K
1,n
terdiri atas himpunan
simpul V (G) = x
1
, x
2
, , x
m
c
i
, a
ij
[1 i m, 1 j n dan himpunan
sisi E(G) = x
i
a
ij
, x
i
c
i
[1 i m, 1 j n c
i
a
ij
[1 i m, 1 j
n +1 x
i
x
i+1
[1 i m1. Pandang subgraf x
i
H
i
P
m
K
1,n
. Karena
jarak d(c
i
, v) = 1 untuk semua simpul v V (x
i
H
i
)c
i
dan jarak d(x
i
, v) = 1
untuk semua simpul v V (x
i
H
i
) x
i
, maka x
i
dan c
i
disebut simpul pusat
dari subgraf x
i
H
i
.
Dimensi partisi graf P
m
K
1,n
, dengan m 1, n 3 diberikan oleh Teorema V.4
berikut ini.
Teorema V.4. Misalkan P
m
adalah graf lintasan order mdan K
1,n
adalah graf
bintang order n + 1. Untuk m 1, n 3, dimensi partisi dari sebuah graf hasil
korona P
m
K
1,n
adalah sebagai berikut:
pd(P
m
K
1,n
) =

n , jika m
n
2
|,
n + 1 , jika m >
n
2
|.
Bukti. Pandang dua kasus berikut.
Kasus 1: m
n
2
|.
68
Untuk sebarang dua simpul berbeda u, v V (H
i
)c
i
, untuk sebuah i dalam selang
[1, m], d(u, w) = d(v, w), dengan w V (H
i
) u, v. Dengan Lema II.1, simpul
u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda. Jadi, subgraf H
i
(P
m

K
1,n
) mempunyai sedikitnya n buah kelas partisi. Oleh karena itu, pd(G) n.
Selanjutnya, denisikan suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
k
dari graf G

=
P
m
K
1,n
sedemikian hingga:
S
k
=

c
k
, a
1k
, a
2k
, , a
mk
, jika 1 k m
x
km
, a
1k
, a
2k
, , a
mk
, jika m < k 2m
a
1k
, a
2k
, , a
mk
, jika 2m < k n
Kami akan menunjukkan bahwa, untuk sebarang dua simpul berbeda u, v V (G)
sedemikian hingga u, v S
i
, mempunyai r(u[) ,= r(v[). Jika u = a
ij
dan
v = c
i
(atau v = x
i
), untuk suatu j dalam selang [1, n], maka 2 = d(u, S) ,=
d(v, S) = 1 dengan S adalah kelas partisi di yang tidak memuat baik simpul
pusat c
l
maupun x
l
. Oleh karena itu, representasi r(u[) ,= r(v[). Selanjutnya,
jika u = a
li
dan v = a
mi
, untuk 1 l ,= m n, maka d(u, S
l
) = 1 dan
d(u, S
m
) = 2 (atau d(v, S
l
) = 2 dan d(v, S
m
) = 1). Oleh karena itu, r(u[) ,=
r(v[). Dengan demikian, setiap simpul v V (G) mempunyai representasi yang
unik. Jadi, pd(G) n.
Kasus 2: m >
n
2
|.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n
adalah suatu partisi pembeda dari graf G. Simpul v
didenisikan sebagi simpul dominan jika v V (G) maka d(v, S) = 1 untuk semua
kelas partisi S yang tidak memuat v. Dengan demikian, setiap simpul pusat,
yaitu c
i
dan x
i
, adalah simpul dominan di graf G. Karena m >
n
2
|, maka graf G
mempunyai sedikitnya n + 1 simpul dominan. Oleh karena itu, terdapat sedikitnya
dua simpul pusat, katakan x dan c, termuat dalam kelas partisi yang sama. Dengan
demikian, r(x[) ,= r(c[), suatu kontradiksi. Jadi, pd(G) n + 1.
Selanjutnya, denisikan suatu partisi = S
1
, S
2
, , S
k
dari graf G sedemikian
hingga:
69
S
k
=

c
1
, c
2
, , c
m
, a
11
, a
21
, , a
m1
, jika k = 1,
x
1
, x
2
, , x
m1
, a
21
, a
22
, , a
m2
, jika k = 2,
a
1k
, a
2k
, , a
mk
, jika 3 k n,
x
m
, jika k = n + 1.
Pandang sebarang dua simpul berbeda u, v V (G) sedemikian hingga u, v S
i
untuk sebuah i. Jika u = a
ij
dan v = c
i
(atau v = x
i
), untuk 1 j n, maka jarak
d(u, S) = 2 dan d(v, S) = 1, dengan S adalah kelas partisi di yang tidak memuat
simpul c
l
maupun x
l
. Oleh karena itu r(u[) ,= r(v[). Selanjutnya, jika u = a
li
dan v = a
mi
, dengan 1 l ,= m n (karena d(u, S
n+1
) ,= d(v, S
n+1
)) maka
r(u[) ,= r(v[). Selanjutnya, karena jarak d(c
k
, S
n+1
) ,= d(c
l
, S
n+1
), dengan
k ,= l, setiap simpul pusat di graf Gmempunyai representasi yang berbeda. Dengan
demikian bahwa batas atas partisi dimensi G adalah pd(G) n + 1 untuk m >

n
2
|.
Untuk graf bintang K
1,n
dengan n = 2, dimensi partisi P
m
K
1,2
diberikan oleh
Teorema V.5.
Teorema V.5. Misalkan P
m
adalah graf lintasan order m dan K
1,2
adalah graf
bintang order 3. Untuk m 1, dimensi partisi sebuah graf hasil korona P
m
K
1,2
adalah
pd(P
m
K
1,2
) =

3 , jika 1 m 3,
4 , jika m 4.
Bukti. Pandang dua kasus berikut:
Kasus 1: 1 m 3.
Chartrand, Salehi dan Zhang (2000) membuktikan bahwa pd(G) = 2 jika dan hanya
jika G adalah sebuah graf lintasan P
m
. Karena G

= P
m
K
1,2
bukan sebuah graf
lintasan, maka batas bawah pd(G) 3.
Selanjutnya, denisikan suatu partisi = S
1
, S
2
, S
3
sedemikian hingga:
S
k
=

c
1
, c
3
, x
1
, x
3
, a
11
, a
31
, jika k = 1,
c
2
, x
2
, a
21
, a
12
, jika k = 2,
a
22
, a
32
, jika k = 3.
70
Dapat ditunjukkan bahwa setiap simpul v V (G) mempunyai representasi r(v[)
berbeda. Representasi simpul a
11
, c
1
, x
1
S
1
masing-masing adalah (0, 2, 3),
(0, 1, 3), (0, 1, 2), (0, 2, 2), (0, 2, 1) dan (0, 1, 1). Karena sebarang dua simpul
berbeda u, v S
2
mempunyai d(u, S
1
) ,= d(v, S
1
), maka r(u[) ,= r(v[). Selan-
jutnya, untuk a
22
, a
32
S
3
masing-masing mempunyai representasi (2, 1, 0) dan
(1, 2, 0). Oleh karena itu, batas atas pd(G) 3. Jadi, pd(P
m
K
1,2
) = 3.
Kasus 2: m 4.
Sekarang kami akan menunjukkan bahwa jika m 4 maka pd(P
m
K
1,2
) = 4.
Untuk kontradiksi, misalkan terdapat suatu partisi pembeda dari graf P
m
K
1,2
,
yaitu = S
1
, S
2
, S
3
. Karena simpul a
i1
dan a
i2
, untuk i = 1, 2, , m,
mempunyai jarak sama ke simpul w V (P
m
K
1,2
) a
i1
, a
i2
, , maka menurut
Lema II.1, kedua u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda di
. Karena hanya terdapat tiga kelas partisi, maka paling banyak terdapat tiga
kombinasi-2 kelas partisi untuk pasangan simpul tersebut, yaitu (S
1
, S
2
), (S
1
, S
3
)
dan (S
2
, S
3
). Oleh karena itu, jika m 4 maka terdapat paling sedikit dua pasang
simpul mempunyai kombinasi-2 yang sama.
Denisikan z
i
= b jika tidak ada simpul dari H
i
yang termuat dalam S
b
. Selan-
jutnya, pandang dua kasus berikut ini.
Kasus 2.1: z
i
= z
i+1
= 3 untuk 1 i m1.
tanpa kehilangan keumuman, misalkan z
1
= z
2
= 3, yaitu a
11
, a
21
S
1
dan
a
12
, a
22
S
2
. Karena z
3
,= 3, paling sedikit sebuah simpul v V (H
3
) sedemikian
hingga v S
3
. Satu dari c
1
, c
2
, x
1
, x
2
harus termuat dalam kelas partisi S
3
,
katakan c
1
S
3
. Oleh karena itu, terdapat tiga simpul dominan pada subgraf
x
1
H
1
. Jika tidak, untuk w V (H
2
) c
2
, d(x
1
, S
3
) = d(w, S
3
). Selanjutnya,
r(x
1
[) = r(w[), sebuah kontradiksi. Karena c
1
S
3
, simpul c
2
, x
2
harus
termuat dlam kelas partisi yang sama. Jika tidak, jarak d(x
2
, S
3
) = d(u, S
3
) dan
r(x
2
[) = r(u[), dengan u V (H
2
) c
2
. Misalkan x
1
S
1
dan x
2
, c
2
S
2
.
Pandang simpul x
3
. Jika x
3
S
1
(atau x
3
S
3
) maka x
1
(atau x
2
) adalah sebuah
simpul dominan, sebuah kontradiksi. Sekarang, misalkan x
3
S
2
. Pandang x
4
.
Karena z
4
,= 3, paling sedikit terdapat sebuah simpul v V (H
4
) sedemikian hingga
v S
3
. Jika x
4
S
1
maka x
4
adalah simpul dominan. Jika x
4
S
2
maka c
3
dan
x
4
harus dibedakan oleh sebuah w S
1
dengan w V (H
4
). Akan tetapi, untuk
w V (H
4
) sedemikian hingga w S
1
, menjadikan x
4
sebagai simpul dominan,
sebuah kontradiksi. Dengan penjelasan yang sama, jika x
4
S
3
maka x
4
adalah
simpul dominan, sebuah kontradiksi.
71
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
D
Gambar V.2: a.Partisi pembeda graf P
m
K
1,2
dengan m = 3 dan b.Partisi
pembeda graf P
m
K
1,2
dengan m = 4
Kasus 2.2: z
i
= z
i+2
= 3 untuk 1 i m2.
tanpa kehilangan keumuman, misalkan z
1
= z
3
= 3, yaitu a
11
, a
31
S
1
dan
a
12
, a
32
S
2
. Karena z
2
,= 3, maka sedikitnya satu simpul v V (H
2
) sedemikian
hingga v S
3
. Selanjutnya, satu dari c
1
, c
2
, x
1
, x
2
harus termuat dalam kelas
partisi S
3
, katakan c
1
S
3
. Oleh karena itu, terdapat tiga buah simpul dominan
pada subgraf x
1
H
1
. Jika tidak, untuk sebuah u V (H
1
) dan v V (H
3
),
d(u, S
3
) = d(v, S
3
) dan r(u[) = r(v[), sebuah kontradiksi. Karena c
1
S
3
,
maka simpul c
3
, x
3
harus termuat dalam kelas partisi yang sama. Jika tidak,
d(x
1
, S
3
) = d(u, S
3
) dan r(x
1
[) = r(u[), dengan u V (H
3
). Misalkan
x
1
S
1
dan x
3
, c
3
S
2
. Simpul x
2
menjadi sebuah simpul dominan untuk setiap
kelas partisi yang memuat x
2
, sebuah kontradiksi. Oleh karena itu, batas bawah
pd(G) 4.
Selanjutnya, denisikan suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, S
3
, S
4
dari graf G

=
P
m
K
1,2
sedemikian hingga:
S
k
=

c
i
, a
i1
[1 i m , jika k = 1,
a
i2
[1 i m , jika k = 2,
x
i
[1 i m1 , jika k = 3,
x
m
, jika k = 4.
Sebarang dua simpul berbeda u, v S
1
dibedakan oleh kelas partisi S
2
dan S
4
.
sebarang dua simpul berbeda u, v S
2
dibedakan oleh kelas partisi S
4
. Selanjutnya,
sebarang dua simpul berbeda u, v S
3
dibedakan oleh kelas partisi S
4
. Karena
kelas partisi S
4
adalah singleton, maka dengan sendirinya representasi r(x
m
[)
unik. Dengan demikian, batas atas pd(G) 4. Jadi, pd(G) = 4.
72
V.4 Dimensi partisi graf lengkap korona graf lengkap
Misalkan K
m
dan K
n
adalah graf lengkap order m dan n berturut-turut. Teorema
V.6 berikut ini menunjukkan dimensi partisi graf hasil operasi korona graf lengkap
K
m
dengan graf lengkap K
n
. Graf G

= K
m
K
n
terdiri atas himpunan simpul
V (G) = x
i
[1 i m a
ij
[1 i m, 1 j n dan himpunan sisi
E(G) = x
i
x
j
[1 i < j m x
i
a
ij
[1 i m, 1 j n a
ik
a
il
[1
i m, 1 k < l n. Subgraf H
i
(K
m
K
n
) didenisikan sebagai kopi graf
K
n
yang terkait dengan sebuah simpul x
i
V (K
m
). Himpunan simpul subgraf H
i
adalah V (H
i
) = a
i1
, a
i2
, , a
in
.
Teorema V.6. Misalkan K
m
dan K
n
adalah graf lengkap order m dan n
berturut-turut. Misalkan G

= K
m
K
n
, dengan m 2 dan n 3. Maka,
a. pd(G) = n + 1 jika dan hanya jika 2 m

n+1
n

,
b. pd(G) = n + 2 jika dan hanya jika

n+1
n

+ 1 m

n+2
n

+ 1,
c. pd(G) n +k, jika

n+k1
n

+ 1 m

n+k
n

, dan k 3.
Bukti. Kami akan membagi pembuktian teorema ini ke dalam tiga kasus berikut.
Kasus 1: 2 m

n+1
n

.
Pandang simpul dari H
i
di graf G, untuk sebuah i. Berdasarkan Lemma II.1,
sebarang dua simpul berbeda dari H
i
harus termuat dalamkelas partisi yang berbeda
di untuk graf G. Oleh karena itu, diperlukan sedikitnya n buah kelas partisi di
untuk simpul-simpul di H
i
saja. Tetapi, karena m 2 maka [[ n+1. Sekarang,
jika m

n+1
n

, denisikan sebuah partisi = S


1
, S
2
, , S
n+1
untuk V (G)
sedemikian hingga:
a. Semua simpul x
i
, untuk i = 1, 2, , m termuat dalam kelas partisi S
1
,
b. Untuk setiap i, distribusikan secara merata n buah simpul di H
i
ke n buah kelas
partisi yang berbeda selain S
i
.
Kemudian, berdasarkan denisi ini, hasil pemeriksaan memastikan bahwa adalah
sebuah partisi pembeda untuk V (G). Sekarang, untuk kontradiksi, misalkan m

n+1
n

+1 dan [[ = n+1. Maka, terdapat dua H


i
dan H
j
yang berbeda sedemikian
hingga masing-masing simpulnya didistribusikan ke kombinasi yang sama dari n
buah kelas partisi di . Misalkan c
i
= c
j
= b jika tidak ada simpul di H
i
(H
j
)
termuat dalam kelas partisi S
b
. Maka, simpul x
i
dan x
j
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda dan salah satu dari simpul x
i
, x
j
termuat dalam kelas partisi
73
H1
C1={1,2}
3 4
5
1
H2
C2={1,2}
3 4
5
2
H3
C3={1,3}
2 4
5
2
H4
C4={1,4}
2 3
5
2
H5
C5={1,5}
2 3
4
2
H6
C6={2,3}
1 4
5
1
H7
C7={2,4}
3 1
5
1
H8
C8={2,5}
3 1
4
1
H9
C9={3,4}
2 1
5
2
H10
C10={3,5}
2 1
4
2
H11
C11={4,5}
2 1
3
2 K11
Gambar V.3: Partisi pembeda graf K
11
K
3
S
b
, katakan simpul x
i
. Akan tetapi, sekarang representasi r(x
j
[) = r(w[) untuk
sebuah simpul w V (H
i
). Kontradiksi. Oleh karena itu, pernyataan pertama dan
batas bawah pernyataan kedua telah terbukti.
Kasus 2:

n+1
n

+ 1 m

n+2
n

+ 1.
Misalkan T = seluruh kombinasi-n dari n + 2 buah bilangan yang berbeda.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n+2
. Karena seluruh simpul dari setiap H
i
harus
termuat dalam n buah kelas partisi yang berbeda, maka setiap H
i
dapat diasosi-
asikan dengan sebuah kombinasi-n di himpunan T. Sekarang, denisikan c
i
=
a, b jika S
a
dan S
b
dua-duanya tidak memuat sebuah simpul di H
i
. Untuk menun-
jukkan bahwa pd(G) = n + 2, denisikan partisi pembeda sedemikian hingga
a. Tandai simpul-simpul H
i
, untuk i = 1, 2, , m dengan kombinasi-n anggota
dari T sedemikian hingga c
1
= 1, 2, c
2
= 1, 2 , c
3
= 1, 3, c
4
=
1, 4, , c
m1
, c
m
berada di sebuah urutan lexico-graphical,
b. x
1
S
1
, x
2
S
2
, dan
c. Untuk i = 3, 4, , m, letakkan simpul x
i
dalam kelas partisi S
1
jika 2 c
i
; Jika
tidak, letakkan simpul x
i
dalam kelas partisi S
2
. Pandang Gambar V.3.
Dengan pemeriksaan, kami mendapatkan bahwa sebuah partisi pembeda dari
V (G). Ambil sebarang dua simpul berbeda u, v yang termuat dalam kelas partisi
yang sama di . Jika simpul u H
i
dan simpul v H
j
, dengan i < j, maka jarak
d(u, S
b
) ,= d(v, S
b
) dengan b c
i
c
j
dan b ,= 1, 2 (diperoleh c
i
c
j
,= ; jika
tidak, b = 1). Oleh karena itu, representasi r(u[) ,= r(v[). Jika simpul u H
i
dan simpul v = x
j
untuk sebuah i dan j, maka simpul u, v S
1
atau simpul
u, v S
2
. Pada kedua kasus tersebut, kami mendapatkan d(u, S
b
) ,= d(v, S
b
)
74
dengan b c
i
c
j
dan b ,= 1, 2 (diberikan i ,= j; jika tidak, ambil sebarang b c
i
).
Oleh karena itu, sekali lagi, representasi r(u[) ,= r(v[). Sekarang, misalkan
simpul u x
i
dan simpul v x
j
untuk i < j. Dengan menggunakan alasan yang
sama kami dapat menunjukkan bahwa r(u[) ,= r(v[). Oleh karena itu, adalah
sebuah partisi pembeda untuk V (G) untuk

n+1
n

+ 1 m

n+2
n

+ 1.
Selanjutnya, kami menunjukkan bahwa jika pd(K
m
K
n
) = n+2 maka

n+1
n

+1
m

n+2
n

+ 1. Untuk kontradiksi, asumsikan pd(K


m
K
n
) = n + 2 untuk
m =

n+2
n

+ 2 . Misalkan sebuah partisi pembeda dari K


m
K
n
. Karena
m =

n+2
n

+ 2, maka terdapat i, j, l dan i < j < l sedemikian hingga c


i
=
c
j
= c
l
= a, b atau terdapat i, j, l, s dan i < j < l < s sedemikian hingga
c
i
= c
j
= a, b dan c
l
= c
s
= s, t.
Untuk kasus pertama, tanpa kehilangan keumuman, asumsikan c
i
= c
j
= c
l
=
1, 2. Untuk membedakan seluruh simpul di H
i
, H
j
, dan H
l
, simpul x
i
, x
j
, x
l
harus termuat dalam partisi yang berbeda di dan dua di antara mereka harus
termuat dalam kelas partisi S
1
dan S
2
, misalkan simpul x
i
S
1
, simpul x
j
S
2
,
simpul x
l
S
3
. Maka, tiga simpul x
i
, x
j
, x
l
tersebut adalah simpul dominan, yaitu
simpul dengan ordinat representasinya adalah 1. Sekarang, pandang simpul simpul
x
r
1
bertetangga dengan H
r
1
dengan c
r
1
= 1, 3. Akibatnya, x
r
1
menjadi simpul
dominan juga. Oleh karena itu, simpul x
r
1
, S
1
S
2
S
3
. Asumsikan x
r
1

S
4
. Sekarang, pandang simpul x
r
2
bertetangga dengan H
r
2
dengan c
r
2
= 1, 4.
Dengan cara yang serupa, Asumsikan simpul x
r
2
S
5
. Jika proses ini dilakukan
untuk seluruh simpul x
h
di K
m
maka dapat diketahui bahwa semua simpul tersebut
adalah dominan. Oleh karena terdapat lebih dari n +2 buah simpul dominan, maka
terjadi sebuah kontradiksi. Dengan demikian, kasus pertama tidak mungkin.
Untuk kasus kedua, tanpa kehilangan keumuman, asumsikan, (c
i
= c
j
= 1, 2 dan
c
l
= c
s
= 1, 3) atau (c
i
= c
j
= 1, 2 dan c
l
= c
s
= 3, 4). Pertama, misalkan
c
i
= c
j
= 1, 2 dan c
l
= c
s
= 1, 3. Untuk membedakan seluruh simpul di
H
i
, H
j
dan H
l
, H
s
, salah satu dari simpul x
i
, x
j
harus termuat dalam kelas partisi
S
1
atau S
2
, dan salah satu dari simpul x
l
, x
s
harus termuat dalam kelas partisi S
1
atau S
3
. Berdasarkan sifat simetri, dapat diasumsikan bahwa simpul x
1
, x
l
S
1
.
Sekarang, pandang simpul x
j
dan x
s
. Jika simpul x
j
S
2
maka x
i
dan x
j
simpul
dominan. Simpul x
s
tidak dapat termuat dalam kelas partisi S
3
, karena jika tidak, x
l
menjadi simpul dominan (terlalu banyak dominan di S
1
, yaitu lebih dari satu simpul
75
dalam kelas partisi S
1
menjadi simpul dominan). Jadi, simpul x
s
termuat dalam
kelas partisi S
2
atau S
t
untuk t 4. Jika simpul x
s
S
2
, maka pandang simpul
x
r
1
bertetangga dengan H
r
1
dengan c
r
1
= 2, 3. Untuk meyakinkan, simpul x
r
1
tidak dapat termuat dalam kelas partisi S
1
S
2
, karena jika tidak, representasinya
akan sama dengan salah satu dari x
l
atau x
s
. Tetapi, simpul x
r
1
tidak dapat termuat
dalam kelas partisi S
3
untuk menghindari x
l
dan x
i
menjadi simpul dominan dari
kelas partisi yang sama. Oleh karena itu, simpul x
r
1
harus termuat dalam S
t
, t 4,
misalkan simpul x
r
1
S
4
. Sekarang, pandang simpul x
r
2
bertetangga dengan H
r
2
dengan c
r
2
= 2, 4. Maka, simpul x
r
2
harus berupa simpul dominan karena x
r
2
bertetangga dengan simpul x
j
dan x
r
1
. Sehingga, tanpa kehilangan keumuman,
c
r
2
S
4
atau S
5
.
Kami melakukan proses ini untuk seluruh x
h
di K
m
dan mendapatkan bahwa semua
simpul ini menjadi dominan. Oleh karena itu, terdapat lebih dari n +2 buah simpul
dominan, maka terjadi sebuah kontradiksi. Berikutnya, pandang simpul x
j
S
2
dan x
s
S
4
. Pada kasus ini, x
i
, x
j
menjadi simpul dominan. Sekarang, pandang
simpul x
r
1
bertetangga dengan H
r
1
dengan c
r
1
= 1, 4. Simpul x
r
1
juga dominan,
karena bertetangga dengan simpul x
i
dan x
s
. Oleh karena itu, simpul x
r
1
juga harus
termuat dalam kelas partisi S
t
, dengan t 4. Misalkan, simpul x
r
1
S
4
. Jika
proses ini dilakukan pada semua simpul x
h
di K
m
, maka dapat diketahui bahwa
semua simpul tersebut adalah dominan. Oleh karena terdapat lebih dari n + 2 buah
simpul dominan, maka terjadi sebuah kontradiksi.
Selanjutnya, pandang simpul x
i
, x
l
S
1
dan x
j
S
3
. Pada kasus ini, x
l
menjadi simpul dominan. Untuk memastikan, simpul x
s
tidak dapat termuat dalam
kelas partisi S
2
(karena x
i
dan x
l
dua-duanya menjadi simpul dominan) atau S
3
(berdasarkan alasan simetri di atas). Oleh karena itu, simpul x
s
harus termuat
dalam S
t
, dengan t 4. Misalkan, tanpa kehilangan keumuman, simpul x
s
S
4
.
Sekarang, pandang simpul x
r
1
bertetangga dengan H
r
1
dengan c
r
1
= 1, 4.
Sehingga, x
r
1
haruslah simpul dominan. Oleh karena itu, simpul x
r
1
harus termuat
dalam kelas partisi S
t
, dengan t 3, misalkan simpul x
r
1
S
3
. Tetapi,hal tersebut
mengakibatkan simpul x
s
juga menjadi simpul dominan. Sekarang, misalkan
simpul x
r
2
bertetangga dengan H
r
2
dengan c
r
2
= 3, 4. Maka, x
r
2
haruslah simpul
dominan karena x
r
2
bertetangga dengan simpul x
s
dan x
r
1
. Dengan demikian, tanpa
kehilangan keumuman, c
r
2
S
5
. Kami lakukan proses ini untuk seluruh x
h
di K
m
dan mendapatkan seluruh simpul ini menjadi simpul dominan. Oleh karena itu,
kami mempunyai lebih dari n + 2 buah simpul dominan dan menyebabkan sebuah
76
kontradiksi.
Kedua, pandang c
i
= c
j
= 1, 2 dan c
l
= c
s
= 3, 4. Untuk membe-
dakan seluruh simpul di H
i
, H
j
dan H
l
, H
s
, maka simpul x
i
dan x
j
harus termuat
dalam kelas partisi yang berbeda dan salah satu dari simpul x
i
, x
j
termuat dalam
kelas partisi S
1
atau S
2
, dan salah satu dari simpul x
l
, x
s
harus termuat dalam
kelas partisi S
3
atau S
4
dan mereka termuat dalam kelas partisi yang berbeda.
Berdasarkan sifat simetri, kami dapat mengasumsikan bahwa simpul x
i
S
1
dan x
l
S
3
. Sekarang, pandang simpul x
j
dan x
s
. Jika salah satu dari simpul
x
j
, S
3
atau x
s
, S
1
terpenuhi maka kami mempunyai tiga buah kelas partisi yang
memuat simpul x
i
, x
j
, x
l
, x
s
. Dengan cara yang sama, dua kombinasi sebarang akan
memberikan simpul dominan yang lain, yaitu x
r
1
. Kami melakukan proses ini pada
semua x
h
di K
m
dan mendapatkan bahwa semua simpul ini adalah simpul dominan.
Oleh karena itu, kami mempunyai lebih dari n + 2 buah simpul dominan, sebuah
kontradiksi.
Sekarang, kasus yang tersisa adalah simpul x
i
S
1
, simpul x
l
S
3
, simpul x
j
S
3
dan simpul x
s
S
1
. Pandang simpul x
r
1
bertetangga H
r
1
dengan c
r
1
= 1, 3.
Karena simpul x
r
1
juga bertetangga dengan simpul x
i
dan x
l
maka x
r
1
haruslah
simpul dominan. Jika simpul x
r
1
, S
1
S
3
maka kami mempunyai tiga buah
kelas partisi yang memuat simpul x
i
, x
j
, x
l
, x
s
dan x
r
1
. Oleh karena itu, dengan
menggunakan metode yang sama di atas, kami mempunyai terlalu banyak simpul
dominan dan menyebabka sebuah kontradiksi. Dengan, x
r
1
S
1
. Tetapi, sekarang
pandang simpul x
r
2
bertetangga dengan H
r
2
dengan c
r
2
= 2, 3. Simpul ini tidak
dapat termuat dalam kelas partisi S
1
S
2
S
3
. Oleh karena itu, simpul x
r
2
S
t
,
dengan t 4. Sehingga, kami mempunyai tiga kelas partisi yang memuat simpul-
simpul ini. Hal ini mengakibatkan akan terdapat terlalu banyak simpul dominan dan
menyebabkn suatu kontradiksi. Hal ini melengkapi bukti dari pernyataan kedua.
Kasus 3:

n+k1
n

+ 1 m

n+k
n

, dan k 3.
Misalkan T = semua kombinasi-n dari n +k buah bilangan yang berbeda.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
n+k
. Karena seluruh simpul di setiap H
i
harus
termuat dalam n buah kelas partisi yang berbeda maka setiap H
i
dapat diasosiasi
dengan kombinasi-n anggota himpunan T. Selanjutnya, denisikan sedemikian
hingga
a. Tandai simpul-simpul H
i
, untuk i = 1, 2, , m dengan kombinasi-n anggota
dari T sedemikian hingga tidak ada dua dari H
i
, H
j
yang telah mempunyai
77
kombinasi-n anggota yang sama dari T,
b. Letakkan seluruh simpul x
i
ke dalam kelas partisi S
1
.
Dapat dilihat bahwa adalah sebuah partisi pembeda untuk V (G). Oleh karena itu,
pada kasus ini, pd(G) n +k.
V.5 Dimensi partisi graf persahabatan
Graf nK
2
adalah graf K
2
yang digandakan sebanyak n buah, dengan masing-
masing kopi adalah disjoin. Sebuah graf persahabatan ( friendship) f
n
dapat
diperoleh dengan menghubungkan semua simpul dari graf nK
2
dengan sebuah
simpul K
1
. Untuk selanjutnya, simpul K
1
pada graf persahabatan ini, disebut
simpul pusat c. Graf pada Gambar V.4.a adalah contoh graf persahabatan f
4
. Sebuah
graf persahabatan f
n
mempunyai n buah pasang simpul dan masing-masing disim-
bolkan dengan a
i
dan b
i
, dengan 1 i n.
Lema V.2. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk graf persa-
habatan f
n
, dengan V (f
n
) = c, a
i
, b
i
[i = 1, 2, , n dan E(f
n
) =
ca
i
, a
i
b
i
, c
i
b
i
[i = 1, 2, , n. Maka simpul a
i
dan b
i
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda di .
Bukti. Karena d(a
i
, v) = d(b
i
, v) untuk setiap v V (f
n
) a
i
, b
i
, menurut Lema
II.1 maka a
i
dan b
i
harus termuat dalam kelas partisi berbeda. .
Lema V.3. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk graf persa-
habatan f
n
, dengan V (f
n
) = c, a
i
, b
i
[i = 1, 2, , n dan E(f
n
) =
ca
i
, a
i
b
i
, c
i
b
i
[i = 1, 2, , n. Misalkan S
x
adalah sebuah kelas partisi di yang
memuat x. Jika, untuk setiap i, didenisikan L
i
= u, v, sedemikian hingga simpul
a
i
S
u
dan simpul b
i
S
v
, maka L
i
,= L
j
untuk i ,= j.
Bukti. Untuk suatu kontradiksi, misalkan terdapat i dan j, dengan 1 i < j n,
sedemikian hingga L
i
= L
j
= u, v. tanpa kehilangan keumuman, asumsikan
a
i
, a
j
S
u
dan b
i
, b
j
S
v
. Maka, r(a
i
[) = r(b
i
[) karena d(a
i
[S) =
d(a
j
[S) untuk setiap S , sebuah kontradiksi terhadap sebagai suatu partisi
pembeda.
78
Teorema V.7. Dimensi partisi sebuah graf persahabatan f
n
adalah k, dengan
k merupakan bilangan bulat terkecil sedemikian hingga

k
2

m.
Bukti. Untuk setiap i = 1, 2, ..., m, misalkan a
i
, b
i
adalah dua simpul berte-
tangga di graf f
n
. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda untuk graf frienship
f
n
. Berdasarkan Lema V.2 dan V.3, simpul a
i
dan b
i
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda di , dan L
i
,= L
j
untuk i ,= j. Denisi untuk L
i
mengikuti
yang terdapat di Lema V.2 dan V.3. Oleh karena itu, jumlah kelas partisi di
sedikitnya k buah kelas partisi, dengan k merupakan bilangan bulat terkecil yang
memenuhi

k
2

m. Dengan demikian, pd(f


n
) k. Sekarang, akan ditunjukkan
bahwa pd(f
n
) k.
Pandang suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
k
yang diperoleh dengan
menandai L
i
(i = 1, 2, , m) dengan kombinasi-2 dari 1, 2, ..., k sedemikian
hingga L
i
,= L
j
, dengan i ,= j, dan andaikan c S
1
. Karena representasi r(v[)
adalah unik untuk setiap v V (f
n
), maka adalah suatu partisi pembeda dari graf
f
n
. Dengan demikian, pd(f
n
) k, dengan k bilangan bulat terkecil sedemikian
hingga

k
2

m.
V.6 Dimensi partisi graf kincir
Graf kincir W
m
n
adalah bentuk umum dari graf persahabatan f
n
. Keduanya dapat
dibangun dengan operasi korona graf K
1
dengan mK
n
. Graf persahabatan f
n
adalah bentuk khusus graf kincir W
m
n
dengan n = 2. Pada subbab ini akan dibahas
dimensi partisi graf kincir, yaitu W
m
n

= K
1
mK
n
. Graf pada Gambar V.4.b adalah
contoh graf kincir W
4
4
. Kopi ke-i graf lengkap K
n
pada graf W
m
n
disimbolkan
dengan H
i
. Simpul-simpul di H
i
disimbolkan dengan a
ij
, dengan 1 i m dan
1 j n.
Akibat V.1. Misalkan adalah partisi pembeda untuk V (W
m
n
) dan subgraf
H
i
W
m
n
. Jika sebarang dua simpul berbeda u, v V (H
i
), maka u dan v harus
berada dalam kelas partisi yang berbeda di .
Bukti. Karena jarak d(u, w) = d(v, w) untuk semua simpul w V (W
m
n
) u, v,
maka menurut Lema II.1 simpul u dan v harus termuat dalam kelas partisi yang
berbeda di .
79
11 12
13 14
24
21
22
23
31 32
33
34
41
42
43
44
1 1
2
3
4 2
3
4
Gambar V.4: a.Graf persahabatan f
4
dan b.Graf kincir W
4
4
Lema V.4. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
k

untuk graf kincir W


m
n
. Misalkan L
i
dan L
j
adalah kombinasi n buah kelas partisi
untuk simpul-simpul masing-masing dari subgraf H
i
dan H
j
. Maka, L
i
,= L
j
,
dengan 1 i ,= j m.
Bukti. Untuk kontradiksi, misalkan L
i
= L
j
. Pandang dua simpul u H
i
dan
v H
j
sedemikian hingga u dan v dalam kelas partisi yang sama. Karena
d(u, Z) = d(v, Z), untuk setiap kelas partisi Z , maka r(u[) = r(v[),
sebuah kontradiksi.
Teorema V.8 berikut ini menentukan nilai dimensi partisi graf kincir W
m
n
, dengan
m > 1 dan n 1.
Teorema V.8. Misalkan terdapat suatu graf kincir W
m
n
. Maka, untuk m > 1
dan n 1, pd(W
m
n
) = k, dengan k adalah bilangan bulat terkecil sedemikian
hingga

k
n

m.
Bukti. Misalkan terdapat suatu partisi pembeda = S
1
, S
2
, , S
k
dari graf
W
m
n
. Akibat V.1 memastikan semua simpul dari H
i
harus termuat dalam kelas
partisi yang berbeda di . Oleh karena itu, terdapat kombinasi-n yang berasosiasi
dengan setiap H
i
untuk suatu i dalam selang 1 i m. Selanjutnya, Lema V.4
memastikan L
i
,= L
j
, dengan 1 i ,= j m. Dengan demikian, harus terdapat
sedikitnya mbuah kombinasi-n yang berbeda dari k buah kelas partisi. Oleh karena
itu, [[ k, dengan k adalah bilangan bulat terkecil sedemikian hingga

k
n

m.
Sekarang, untuk menunjukkan pd(W
m
n
) k, dengan k adalah bilangan bulat
terkecil sedemikian hingga

k
n

m, pandang himpunan L = 1, 2, , k dan


80
11 12
13 14
21 22
23 24
51 52
53 54
31 32
33 34
41 42
43 44
1 2 3 4
Gambar V.5: Graf K
1,m
korona K
n
semua kombinasi-n dari k. Denisikan partisi = S
1
, S
2
, , S
k
sebagai
berikut. Untuk i = 1, 2, , m, denisikan sebarang fungsi bijeksi f
i
: H
i
L
i
.
Jika f
i
(x) = b maka berarti x S
b
. Selanjutnya, denisikan c S
1
. Kemudian,
dengan mudah dapat diperiksa bahwa adalah partisi pembeda dari W
m
n
.
Untuk m = 1, graf K
1
mK
n
isomork dengan graf lengkap K
n+1
. Dengan
demikian, pd(K
1
K
n
) = pd(K
n+1
) = n + 1.
V.7 Dimensi partisi graf bintang korona graf lengkap
Graf K
1,m
adalah sebuah graf bintang order m+1 dan graf K
n
adalah graf lengkap
order n. Pada subbab ini, akan dibahas dimensi partisi graf G

= K
1,m
K
n
.
Sebuah graf hasil korona G mempunyai m + 1 buah kopi graf lengkap K
n
dan
untuk penyederhanaan penulisan masing-masing kopi graf K
n
pada K
1,m
K
n
disimbolkan dengan H
1
, H
2
, , H
m
dan H
m+1
. Setiap simpul dari H
i
terhubung
dengan sebuah simpul anting x
i
V (K
1,m
), dengan 1 i m. Setiap simpul pada
H
m+1
terhubung dengan sebuah simpul pusat c V (K
1,m
). Simpul ke-j dari H
i
disimbolkan dengan a
ij
, dengan 1 j n. Sebuah graf hasil korona G terdiri atas
himpunan simpul V (G) = a
ij
[1 i m + 1, 1 j n x
1
, x
2
, , x
m
, c
dan himpunan sisi E(G) = a
ik
a
il
[1 i m + 1, 1 k < l n x
i
a
ij
[1
i m, 1 j nca
(m+1)j
[1 j ncx
i
[1 i m. Graf pada Gambar
V.5 adalah contoh graf hasil korona K
1,m
K
n
.
Teorema V.9. Misalkan graf G adalah graf hasil operasi korona K
1,m
K
n
.
Untuk m 2, n 2, dimensi partisi G

= K
1,m
K
n
adalah sebagai berikut:
a. pd(G) = n + 1, jika dan hanya jika 2 m n,
b. pd(G) = n + 2, jika n + 1 m

n+2
n

n+2
n+1

.
81
Bukti. Pandang dua kasus berikut.
Kasus 1: 2 m n.
Misalkan = S
1
, S
2
, , S
k
adalah suatu partisi pembeda untuk V (G). Karena
dua simpul sebarang u, v H
i
mempunyai jarak sama, maka setiap simpul di
subgraf H
i
harus termuat dalam kelas partisi yang berbeda (Lema II.1). Karena
m 2, maka diperlukan sedikitnya n +1 buah kelas partisi di . Jika tidak, paling
sedikit dua simpul di H
i
termuat dalam kelas partisi yang sama dan, karenanya,
kedua simpul tersebut mempunyai representasi yang sama, sebuah kontradiksi.
Dengan demikian, k n + 1.
Untuk menunjukkan k n +1, denisikan sebuah partisi = S
1
, S
2
, , S
n+1

untuk V (G) sedemikian hingga


a. x
1
, x
2
, x
m
, c S
1
,
b. Untuk t = 1, 2, , n, n + 1, n buah simpul di H
t
didistribusikan merata ke n
buah kelas partisi selain S
t
.
Dapat dilihat bahwa untuk setiap dua simpul berbeda u, v V (G), u dan v
mempunyai representasi yang berbeda. Jika simpul u H
i
dan v H
j
, dengan
i ,= j, maka d(u, S
j
) = 1 dan d(v, S
j
) ,= 1. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[).
Jika simpul u H
i
dan v = x
i
, maka d(u, S
i
) = d(v, S
i
) + 1. Oleh karena itu,
r(u[) ,= r(v[). Sekarang, jika simpul u = x
i
dan v = x
j
, maka d(u, S
i
) = 1
dan d(v, S
i
) ,= 1. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian, adalah
partisi pembeda untuk V (G) dan batas atas dimensi partisi pd(G) n + 1 untuk
1 < m n.
Berikutnya, akan ditunjukkan bahwa jika pd(G) = n + 1 maka 2 m n.
Untuk kontradiksi, misalkan pd(G) = n + 1 untuk m n + 1. Oleh karena itu
terdapat n + 1 buah kelas partisi untuk sedikitnya n + 2 buah kopi graf lengkap
K
n
di G. Selanjutnya, terdapat paling sedikit dua kopi H
i
dan H
j
yang berbeda
sedemikian hingga simpul dari H
i
(atau H
j
) didistribusikan ke kombinasi-n yang
sama. Pandang dua kasus berikut:
Subkasus 1.1: 1 i ,= j m.
Tanpa kehilangan keumuman, katakan i = 1 dan j = 3 sedemikian hingga Z
1
= 1
dan Z
3
= 1. Kemudian, satu dari x
1
, x
2
harus termuat dalam kelas partisi S
1
.
Jika tidak, simpul sebarang u H
1
mempunyai representasi yang sama dengan
sebuah simpul v H
2
. Kontradiksi. Sekarang, jika x
1
S
1
maka setiap simpul
82
pada subgraf x
1
H
1
adalah simpul dominan. Selanjutnya, simpul c harus termuat
dalam kelas partisi S
1
. Jika tidak, terdapat terlalu banyak karena simpul x
3
menjadi
simpul dominan juga. Kontradiksi. Sekarang, jika simpul c , S
1
, katakan c S
e
,
untuk sebuah e, 1 e n, maka terdapat terlalu banyak simpul dominan karena
terdapat sebuah i, dengan 1 i m sedemikian hingga x
i
= e.Oleh karena itu, x
i
merupakan simpul dominan juga dan menyebabkan sebuah kontradiksi.
Subkasus 1.2: n + 1 m

n+2
n

n+2
n+1

tanpa kehilangan keumuman, katakan i = 1 dan j = m+1 sedemikian hingga Z


1
=
1 dan Z
m+1
= 1. Kemudian, satu dari simpul x
1
, c harus termuat dalam kelas
partisi S
1
, katakan c S
1
. Hal ini mengakibatkan terlalu banyak simpul dominan,
karena bersama dengan x
1
, setiap simpul pada subgraf c H
m+1
adalah simpul
dominan. Jika tidak, untuk sebuah u H
m+1
, representasi r(w[) = r(x
1
[).
Kontradiksi. Semua kemungkinan yang ada menyebabkan kontradiksi. Oleh karena
itu, [[ n + 2.
Kasus 2: n + 1 m 2

n+2
n

1.
Batas bawah untuk kasus 2 ini sudah dibuktikan pada Kasus 1. Sekarang, kami
akan menunjukkan batas atasnya. Andaikan T
1
= semua kombinasi-n dari n + 2
buah bilangan yang berbeda dan T
2
= semua kombinasi-(n + 1) dari n + 2
buah bilangan yang berbeda. Andaikan = S
1
, S
2
, , S
n+2
. Karena semua
simpul pada setiap H
i
harus termuat dalam n buah kelas partisi yang berbeda, maka
setiap H
i
dapat diasosiasikan dengan sebuah kombinasi-n anggota himpunan T.
Denisikan Z
i
= a, b jika kelas partisi S
a
maupun S
b
tidak memuat simpul dari
H
i
. Untuk menunjukkan pd(G) = n + 2, denisikan sebagai berikut:
a. Untuk i = 1, 2, , s, tandai simpul-simpul H
i
dengan kombinasi-n anggota
dari T
1
sedemikian hingga Z
1
= 1, 2, Z
2
= 1, 3, Z
3
= 1, 4, , Z
s
=
adalah sebuah urutan lexico-gracal dengan s =

n+2
n

,
b. Letakkan simpul x
i
sebagai anggota X dengan X adalah sebuah kelas partisi
yang tidak memuat simpul di H
i
,
c. Untuk j = s +1, s +2 s +(n+1), tandai semua simpul dari subgraf H
j
x
j
dengan anggota dari T
2
,
d. Untuk j = s + (n + 2), tandai semua simpul dari subgraf H
j
c dengan satu-
satunya anggota dari T
2
yang tersisa.
Kami akan menunjukkan bahwa adalah suatu partisi pembeda dari G. Pandang
sebarang dua simpul berbeda u H
i
dan v H
j
, katakan u = a
ik
dan v = a
jk
83
untuk 1 k n, sedemikian hingga kedua simpul tersebut temuat dalam kelas
partisi yang sama. Jika Z
i
,= Z
j
maka sedikitnya terdapat suatu kelas partisi di
yang memuat sebarang simpul di H
i
tetapi tidak memuat simpul di H
j
, katakan
kelas partisi tersebut adalah Y . Oleh karena itu, d(u, Y ) = 1 dan d(v, Y ) ,= 1.
Selanjutnya, r(u[) ,= r(v[). Jika Z
i
= Z
j
, katakan Z
i
= Z
j
= a, b, maka
satu dari x
i
, x
j
harus termuat dalam kelas partisi S
a
atau S
b
, tanpa kehilangan
keumuman, katakan x
i
S
a
. Oleh karena itu, d(a
ik
, S
a
) = 1 dan d(a
jk
, S
a
) ,= 1
untuk 1 k n. Selanjutnya, r(u[) ,= r(v[).
Sekarang, jika simpul u = x
i
dan v = x
j
maka Z
i
,= Z
j
sedemikian hingga
d(u, Y ) ,= d(v, Y ) dengan Y adalah kelas partisi di yang memuat sebarang
simpul di H
i
, tetapi tidak memuat simpul di H
j
. Oleh karena itu, r(u[) ,= r(v[).
Dengan alasan yang serupa, dapat diperiksa bahwa jika simpul u = x
i
dan v = c
maka r(u[) ,= r(v[). Dengan demikian, pd(G) n + 2 untuk n + 1 m

n+2
n

n+2
n+1

.
84
Bab VI Simpulan dan Masalah Terbuka
VI.1 Simpulan
Penelitian dalam disertasi ini telah memberi dua jenis kontribusi pada bidang
dimensi partisi sebuah graf terhubung G. Pertama, memperbaiki dan melengkapi
hasil penelitian para peneliti sebelumnya, seperti dimensi partisi dari graf ulat,
graf kincir, graf multipartit, graf bipartit lengkap minus matching dan graf tripartit
lengkap minus matching. Kedua, memberi hasil baru, seperti graf kembang api,
graf pohon pisang dan graf hasil operasi korona antara dua buah graf terhubung.
Kami telah mendapatkan dimensi partisi dari tiga buah graf dalam kelas pohon,
yaitu graf ulat, graf kembang api dan graf pohon pisang. Dimensi partisi graf ulat
C(m; n
1
, n
2
, , n
m
) adalah n
maks
jika p n
maks
dan n
maks
+ 1 jika p > n
maks
,
dengan p menyatakan jumlah subgraf ulat maksimum. Hasil ini memperbaiki
dan melengkapi hasil dari Chartrand dkk. (1998). Selanjutnya, kami memperoleh
dimensi partisi graf kembang api F(m; n
1
, n
2
, , n
m
), yaitu n
maks
1 jika
p n
maks
1, atau n
maks
jika p > n
maks
1, dengan p menyatakan jumlah
subgraf kembang api maksimum. Untuk n 2, dimensi partisi dari graf pohon
pisang B(m; n) adalah n1 jika m n2 dan n jika n2 < m

n
n1

(n1).
Pada disertasi ini, kami juga menunjukkan dimensi partisi graf multipartit. Dimensi
partisi pd(K
n
1
,n
2
, ,n
r
) = n + r c, dengan c = 1 jika n
i
= n untuk 1 i r
dan c = 2 jika n = n
1
n
2
n
r
. Hasil ini memperumum dimensi partisi
graf bipartit yang diperoleh oleh Chartrand, Salehi dan Zhang (2000). Lebih jauh,
kami memperoleh dimensi partisi graf bipartit dan tripartit minus matching. Jika
M
p
adalah sebuah perfect matching dan n 3, maka pd(K
n,n
M
p
) =
n
2
| + c
dengan c = 1 jika n genap dan c = 2 jika n gasal. Untuk graf bipartit K
m,n
,
dengan m > n dan maksimum matching M
q
, kami dapat menunjukkan bahwa
pd(K
m,n
M
q
) =
m
2
|+1 jika n+1 m < 2n+1 dan pd(K
m,n
M
q
) = mnjika
2n + 1 m. Kemudian, dapat pula kami buktikan bahwa dimensi partisi dari garf
tripartit lengkap K
n,n,n
minus sebuah sebuah perfect matching (atau near perfect
matching) adalah n + 1.
Secara umum, kami mendapatkan batas atas dimensi partisi GH, dengan diameter
85
H paling banyak 2, dan menyatakannya dalam dimensi partisi graf G dan H, yaitu
pd(G H) pd(G) + pd(H). Untuk beberapa graf G dan H, kami telah menda-
patkan pd(G H) secara tepat. Untuk m 2 dan n 4, dimensi partisi dari graf
lintasan korona graf lengkap, yaitu P
m
K
n
, adalah n + 1 jika m n + 2, dan
n + 2 jika m n + 3. Selanjutnya, untuk graf lintasan order m dan graf bintang
order n + 1, pd(P
m
K
1,n
) = n + c, dengan c = 0 jika m
n
2
| dan c = 1 jika
m >
n
2
|.
Jika G dan H masing-masing adalah graf lengkap K
n
dan K
n
dimensi partisi graf
K
m
K
n
ditentukan oleh order K
m
dan K
n
. Untuk m 2 dan n 3, dimensi
partisi K
m
K
n
diberikan oleh hasil berikut:
a. pd(K
m
K
n
) = n + 1 jika dan hanya jika 2 m

n+1
n

,
b. pd(K
m
K
n
) = n + 2 jika dan hanya jika

n+1
n

+ 1 m

n+2
n

+ 1,
c. pd(K
m
K
n
) n +k, jika

n+k1
n

+ 1 m

n+k
n

, dan k 3.
Demikian juga halnya untuk pd(K
1,m
K
n
), nilai dimensi partisinya ditentukan
oleh m dan n. Untuk m 2, n 2, dimensi partisi G

= K
1,m
K
n
adalah:
a. pd(G) = n + 1, jika dan hanya jika 2 m n,
b. pd(G) = n + 2, jika n + 1 m

n+2
n

n+2
n+1

.
Kami juga memperoleh dimensi partisi graf kincir W
m
n
. Untuk m > 1 dan n 1,
pd(W
m
n
) = k dengan k adalah bilangan bulat terkecil sedemikian hingga

k
n

m.
Graf persahabatan f
n
adalah bentuk khusus graf kincir W
m
n
untuk n = 2. Dengan
demikian, pd(f
n
) = k dengan k adalah bilangan bulat terkecil sedemikian hingga

k
n

m.
VI.2 Masalah terbuka
Masalah terbuka berikut ini dapat digunakan sebagai titik tolak penelitian dalam
bidang dimensi partisi dari suatu graf terhubung:
1. Menentukan dimensi partisi dari sebarang graf pohon,
2. Menentukan dimensi partisi graf kembang api tak-homogen dengan n
maks
4,
3. Menentukan dimensi partisi dari graf pohon pisang B(m; n),
4. Menentukan dimensi partisi dari graf tripartit lengkap tak-homogen K
n
1
,n
2
,n
3
minus matching M, dan
86
5. Menentukan dimensi partisi graf hasil korona G H dengan diameter H lebih
dari 2.
87
Daftar Pustaka
Bin, X. dan Zhongyi, Z. (2010), Graph Theory, Mathematical Olympiad
Series, East China Normal University Press and World Scientic Publishing
Co.Pte.Ltd, Shanghai.
B ona, M. (2002), A Walk Through Combinatorics, World Scientic Publishing
Co.Pte.Ltd, Singapore.
Caceres, J., Hernando, C., Mora, M., Pelayo, I., Puertas, M., Seara, C. dan Wood,
D. (2007), On the metric dimension of cartesian product of graphs, SIAM
Journal of Discrete Mathematics 21(2), 273 302.
Caceres, J., Hernando, C., Mora, M., Puertas, M., Pelayo, I. dan Seara, C. (2005),
On the metric dimension of some families of graphs, Electronic Notes in
Discrete Mathematics 22, 129 133.
Chappell, G., Gimbel, J. dan Hartman, C. (2008), Bounds on the metric and
partition dimensions of a graph, Ars Combinatoria 88, 349 366.
Chartrand, G., Eroh, L., Johnson, M. dan Oellermann, O. (2000), Resolvability in
graphs and the metric dimension of a graph, Discrete Applied Mathematics
105, 99 113.
Chartrand, G., Erwin, D., Johns, G. dan Zhang, P. (2003), Boundary vertices in
graphs, Discrete Mathematics 263, 25 34.
Chartrand, G., Salehi, E. dan Zhang, P. (2000), The partition dimension of a graph,
Aequationes Mathematicae 59, 45 54.
Chartrand, G. dan Zhang, P. (2003), The theory and appllications of resolvability
in graphs: a survey, Congressus Numerantium 160, 47 68.
Chartrand, G., Zhang, P. dan Salehi, E. (1998), On the partition dimension of a
graph, Congressus Numerantium 130, 157 160.
Chen, W., L, H. dan Yeh, Y. (1997), Operations of interlaced trees and graceful
trees, Southeast Asian Bulletin of Mathematics 21, 337 348.
Fehr, M., Gosselin, S. dan Oellermann, O. (2006), The partition dimension of
Cayley digraphs, Aequationes Mathematicae 71, 1 18.
Garey, M. dan Johnson, D. (1979), Computers and Intractability: A Guide to the
Theory of NP-completeness, W.H. Freeman, California.
Gross, J. L. dan Yellen, J. (2004), Hand Book of Graph Theory, CRC Press LLC,
Florida.
Harary, F. dan Melter, R. (1976), On the metric dimension of a graph, Ars Combi-
natoria 2, 191 195.
Javaid, I. dan Shokat, S. (2008), On the partition dimension of some wheel related
graphs, Journal of Prime Research in Mathematics 4, 154 164.
Johnson, M. (1993), Structure-activity maps for visualizing the graph variables
88
arising in drug design, Journal of Biopharmaceutical Statistics 3, 203 236.
Marinescu-Ghemeci, R. dan Tomescu, I. (2010), On star partition dimension
of generalized gear graph, Bulletin Mathmatique de la Socit des Sciences
Mathmatiques de Roumanie 53(101)(3), 261 268.
Melter, R. dan Tomescu, I. (1984), Metric bases in digital geometri, Computer
Vision Graphics and Image Processing 25, 113 121.
Ruxandra, V. (2009), Path partition dimension of a graph, preprint.
Saenpholphat, V. dan Zhang, P. (2002), Connected partition dimensions of graphs,
Discussiones Mathematicae Graph Theory 22, 305 323.
Saputro, S., Baskoro, E., Salman, A., Suprijanto, D. dan Ba ca, M. (2010), The
metric dimension of regular bipartite graphs, Discrete Mathematics and
Theoretical Computer Science submitted.
Slater, P. (1975), Leaves of trees, Congressus Numerantium 14, 549 559.
Tomescu, I. (2008), Discrepancies between metric dimension and partition
dimension of a connected graph, Discrete Mathematics 308, 5026 5031.
Tomescu, I., Javaid, I. dan Slamin (2007), On the partition dimension and
connected partition dimension of wheels, Ars Combinatoria 84, 311 317.
Yero, I., Kuziak, D. dan Rodrguez-Vel azquez, J. (2010), On the metric dimension
of corona product graphs, arXiv:1009.2586v2 .
89
Indeks
accessible, 6
join, 7
locating set, 8
matching, 52
near-perfect matching, 60
perfect matching, 52
resolving set, 8
union, 7
busur, 13
basis, 9
batas atas, 3
batas bawah, 3
derajat terminal, 20
dimensi metrik, 9
dimensi partisi, 12
dimensi partisi bintang, 14
dimensi partisi graf berarah, 13
dimensi partisi lintasan, 14
dimensi partisi terhubung, 14
graf bintang ganda, 18
graf bunga matahari, 22
graf gir, 21
graf hasil korona, 68
graf helm, 22
graf kincir, 79
graf lengkap, 73
graf lintasan, 64
graf multipartit, 48
graf planar teratur-4, 15
graf pohon pisang, 43
graf tripartit, 59
graf tripartit lengkap, 59
graf ulat, 20
graf friendship, 78
himpunan pembeda, 1
himpunan pembeda minimal, 9
jarak, 6
kartesian, 7
kelas partisi, 12
kelas partisi singleton, 12
korona, 8
partisi pembeda, 1, 12
partisi pembeda bintang, 14
partisi pembeda lintasan, 14
partisi pembeda minimal, 12
partisi pembeda terhubung, 14
partisi terurut, 12
pohon, 5
representasi, 8
simpul, 6
simpul akar, 43
simpul mayor, 20
simpul mayor eksterior, 20
simpul terminal, 20
sisi, 6
sisi berarah, 13
terhubung, 6
90
RIWAYAT HIDUP
Perjalanan mencari ilmu adalah perjalanan tak berkesudahan sepanjang kehidupan
masih berlangsung. Demikianlah yang diyakini penulis sebagai tumpuan dan
darinya penulis mendapatkan energi untuk memelihara stamina dalam menyele-
saikan beragam jenjang pendidikannya. Jenjang pendidikan dasar dan menengah
diselesaikan pada 1988 di daerah kelahirannya, Lamongan Jawa Timur. Jenjang S1
diselesaikan pada 1994 di Jurusan Matematika Intitut Teknologi Sepuluh Nopember
(ITS) Surabaya. Jenjang S2 dan S3 diselesaikan di Institut Teknologi Bandung,
masing-masing pada jurusan Teknik Informatika (1998) dalam bidang rekayasa
perangkat lunak dan Program Doktor Matematika Program Pasca Sarjana ITB
(2011) dalam bidang teori graf. Terhitung sejak April tahun 1995, enam bulan
setelah lulus S1, penulis menjadi dosen di Jurusan Matematika Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Intitut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)
Surabaya.
Penulis dilahirkan di kawasan agraris di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, pada
tanggal 15 Oktober 1969. Terlahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara dari
pasangan Bapak Sumoredjo (alm.) dan Ibu Sarpinah. Saat ini, penulis telah
menikah dengan Ulwiyatur Rifah dan, sementara ini, mempunyai seorang putra
(16 tahun: Chudzai Alawil HaddadeGusti, namanya.
Dalam melakoni pendidikan jenjang S3, penulis memperoleh beasiswa BPPS.
Penulis juga memperoleh dukungan dana dari beberapa sumber lainnya untuk
sejumlah kegiatan ad hoc seperti worshop, seminar dan program sandwich-like di
Republik Slovakia.
Kegiatan-kegiatan ilmiah yang penulis lakukan selama pendidikan program
Doktoral Matematika ITB dapat dilihat pada uraian berikut.
Seminar/Konferensi/Workshop Internasional
1. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, A note on the partition dimension
of banana tree, disajikan pada South East Asian Conference on Mathematics
and ITS Applications (SEACMA) 2010, 6 Nopember 2010, Institut Teknologi
Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Surabaya, Indonesia.
2. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, Martin Ba ca, The
partition dimension of tripartite graph minus a matching, disajikan pada Kosice
Combinatorial Seminar (KOKOS), Institute of Mathematics, Faculty of Science,
24 Nopember 2009, Univerzita Pavla Jozefa afrika in Koiciach, Kosice,
Slovakia
3. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The partition
dimension of complete bipartite graph minus a matching, disajikan pada The5
th
IMT-GT International Conference on Mathematics, Statistics and Their Appli-
cations (ICMSA) 2009, 9 - 11 Juni 2009 di Hotel Hills, Bukit Tinggi, Indonesia.
4. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The partition
91
dimension of complete multipartite graph, disajikan pada The Second Interna-
tional Conference on Mathematics and Natural Sciences (ICMNS) 2008, 28-30
Oktober 2008, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia.
5. E.T. Baskoro, Darmaji, The partition dimension of a corona product of two
graphs, disajikan pada The Third International Conference on Mathematics
and Natural Sciences (ICMNS) 2010, 23-25 Oktober 2008, Institut Teknologi
Bandung, Bandung, Indonesia.
6. Darmaji, S. Uttunggadewa, E.T. Baskoro, On the partition dimension of
windmill graph, disajikan pada The 3
rd
International Conference on Mathe-
matics and Statistics (3
rd
ICoMS), 5-6 Agustus 2008, Institut Pertanian Bogor,
Bogor, Indonesia.
7. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The partition
dimension of r-partite complete regular graph, disajikan pada The4
th
IMT-
GT International Conference on Mathematics, Statistics and Their Applications
(ICMSA) 2008, 9-11 Juni 2008, Universitas Syiah Kuala Aceh, Banda Aceh,
Indonesia.
Seminar/Konferensi/Workshop Nasional
1. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The partition
dimension of complete bipartite graph minus a matching and tripartite graph
minus a matching, disajikan pada Konferensi Nasional Matematika XV dan
Kongres Himpunan Matematika Indonesia 2010, 31 Juni - 03 Juli 2010, Univer-
sitas Negeri Manado (Unima), Manado.
2. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, Dimensi partisi
graf bipartisi K
m,n
minus n buah sisi matching, disajikan pada Seminar
dan Konferensi Forum Komunikasi Mahasiswa Program Doktor Matematika
Indonesia (Indonesian Mathematics Ph.D Students Communication Forum -
InDuctif),8 Augustus 2009, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Surabaya.
3. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The the partition
dimension of windmill graph W
m
n
, disajikan pada Konferensi Nasional
Matematika XIV dan Kongres Himpunan Matematika Indonesia 2008, 24 - 27
Juli 2008, Universitas Sriwijaya (Unsri), Palembang.
4. Darmaji, S. Uttunggadewa, E.T. Baskoro, Dimensi partisi graf caterpillar,
disajikan pada Seminar Nasional Mahasiswa S3 matematika dan Pendidikan
Matematika 2008, 31 Mei 2008, Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta.
Proyek Penelitian
1. Graphs with Relatively Small Metric Dimension, Program Riset Internasional
ITB, 2009, Anggota.
2. Karakterisasi Graf yang berdimensi relatif kecil, Hibah Kompetensi, 2009,
Anggota.
3. Dimensi Partisi graf multipartisi minus sebuah matching, Penelitian Disertasi
Doktor, 2010, Ketua.
92
Kepanitiaan
1. GraphMasters Workshop, Kelompok Keahlian Matematika Kombinatorika
FMIPA Institut Teknologi Bandung, 18-19 Desember 2010, Institut Teknologi
Bandung (ITB), Bandung.
2. The CIMPA-UNESCO-Indonesia School on Extremal Problems and Hamil-
tonicity in Graphs, Kelompok Keahlian Matematika Kombinatorika FMIPA
Institut Teknologi Bandung, 2-13 Pebruari 2009, Institut Teknologi Bandung
(ITB), Bandung
3. Konferensi Nasional Matematika XIV, 24 - 27 Juli 2008, Universitas Sriwijaya
(Unsri), Palembang.
4. Seminar Mahasiswa S3 Matematika dan Pendidikan Matematika 2008, 31 Mei
2008, Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta.
Publikasi Ilmiah
1. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, E.T. Baskoro, The partition
dimension of complete multipartite graph, a special caterpillar and a windmill,
The Journal of Combinatorial Mathematics and Combinatorial Computing
(JCMCC), 71 (2009), pp. 209-215.
2. E.T. Baskoro, Darmaji, The partition dimension of corona product of two
graphs, The Iranian Journal of Mathematical Sciences and Informatics (IJMSI),
terkirim.
2. Darmaji, E.T. Baskoro, Further results on partition dimension of corona
products, terkirim.
3. Darmaji, S. Uttunggadewa, R. Simanjuntak, A note on the partition dimension
of a banana tree, Prosiding South East Asia Conference on Mathematics and
Its Applications (SEACMA), 6 Nopember 2010, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS), Surabaya.
Program Sandwich
1. Sandwich-like Program Dikti 2009, 14 Oktober - 30 Desember 2009,
Department of Applied Mathematics Faculty of Mechanical Engineering,
Technical University of Kosice, Republic of Slovakia
93
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
Info cetak .....
Revisi/cetak terakhir: 20 Juni 2011, pukul 18:19
Nomor halaman: ixvi, 193 Total: 109 halaman
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .