Anda di halaman 1dari 42

STUDY FEASIBILITY LUMPUR WTP BUARAN

2012

Outline
Maksud dan Tujuan Kondisi Eksisting

Metodologi

Karakteristik Lumpur

Alternatif Teknologi Pengolahan

Penentuan Jumlah Lumpur

DED dan RAB

MAKSUD DAN TUJUAN


Melakukan feasibility study terhadap pengolahan

lumpur di WTP Buaran Memberikan rekomendasi teknologi yang akan digunakan Menyiapkan DED dan RAB dari teknologi terpilih Menyiapkan dokumen tender

KONDISI EKSISTING
Pengolahan lumpur eksisting di IPA Buaran

berupa sludge drying bed. Sludge drying bed ini hanya menampung 10 % dari volume lumpur total. Jumlah unit SDB : 5 buah Ukuran 1 unit : 4 m x 30 m Kedalaman total : 60 cm

METODOLOGI
Pengumpulan Data Primer (oleh Konsultan) Pengumpulan Data Sekunder (Data Eksisting) Matriks Pembobotan
Karakteristik air baku Karakteristik lumpur Volume lumpur di sludge basin

Data Lab WTP Buaran Data Feasibility Study West Tarum Canal Data Manual Operation Handbook WTP Buaran

Penentuan teknologi terpilih

Karakteristik Air Baku

Ket. : Mott MacDonald : Rata-rata periode Februari Mei 2011 FS WTC (PJT-II) : Rata-rata periode Tahun 2006 2010 Infratama Yakti 1 : 20 Januari 2012 Infratama Yakti 2 : 8 Februari 2012

Karakteristik Lumpur (1)


Hasil Uji Karakteristik Lumpur (19 Januari 2012)
Satua Hasil No. 1. 2. 3. 4. Parameter Analisis pH TS BOD Dry Solid

n
mg/l mg/l

Metoda Analisis SMEWW-4500-H-B SMEWW-2540-B JIS K3602

Analisis
7,78 6164 121 23,68

Hasil Spin Test I (9 Januari 2012)


Kode Test
S1 S2 S3 S4 S5 S.1.1 S.1.2 S.1.3 S.1.4 S.1.5

Koagulan
PAC PAC PAC Kapur Kapur PAC PAC Kapur Kapur PAC

Dosis (ppm)
25 50 37,5 150 300 25 37,5 150 75 12.5

Turbidity Sebelum (NTU)


32 12,8 34,5 42,4 3,22 17,59 16,32 19,57 19,25

Turbidity Sesudah (NTU)


1,96 15,7 3,61 10,74 5,9 1,08 5,95 4,5 4,2 0,88

Keterangan

Secara visual dengan kapur sludge lebih kompak

Secara visual dengan kapur sludge lebih kompak

Karakteristik Lumpur (2)


Hasil Spin Test II (16 Februari 2012)
PE Kode Test
S1 S2 S3 S4 S5 S6

Turbidity (NTU) Tipe


A C A C A C

PAC (ppm)
20 20 20 20 20 20

ppm
1 1 1 1 1 1

Sebelum
32,8 32,8 34,4 34,4 15,3 15,3

Sesudah
12,5 28,2 9,3 14,1 14,2 7,3

Hasil Uji Supernatant


Parameter
pH Fe ppm

Satuan

Nilai
7,3 0,04

Mn
Nitrat BOD COD

ppm
ppm ppm ppm

0,05
5,4 <3 < 10

Karakteristik Lumpur (3)


Hasil Uji TCLP (10 Januari 2012)
Parameter
No Inorganic
1 2 Arsenic Barium mg/L mg/L < 0,003 0,14 0,003 0,1 5 100

Unit

Test Results

Detection Limit

Requirements**)

3
4 5

Boron
Cadmium Chromium

mg/L
mg/L mg/L

0,08
< 0,02 < 0,05

0,008
0,02 0,1

500
1 5

6
7 8 9 10

Copper
Free Cyanide Fluoride Lead Mercury

mg/L
mg/L mg/L mg/L mg/L

< 0,1
< 0,01 0,39 < 0,09 < 0,001

0,1
0,01 0,02 0,09 0,001

10
20 150 5 0,2

11
12 13 14 15

Nitrat + Nitrit
Nitrite Selenium Silver Zinc

mg/L
mg/L mg/L mg/L mg/L

< 0,11
< 0,03 < 0,02 < 0,1 0,37

0,11
0,03 0,02 0,1 0,2

1000
100 1 5 50

Alternatif Pengolahan Lumpur


Teknologi sludge dewatering yang sering digunakan

antara lain :
Sludge Drying Bed Belt Filter Press Decanter Centrifuge

Perbandingan Alternatif Teknologi


Metode
Centrifuge (Decanter) 1.

Kelebihan
Estetika baik, tidak menimbulkan bau, mudah menyalakan dan mematikan. 1. 2.

Kekurangan
Permasalahan terkait pemeliharaan cukup tinggi Memerlukan penyisihan pasir dan penggilingan di feed stream Cenderung memiliki hasil suspended solids tinggi

2.
3. 4. 5. 6. Belt-Filter Press 1. 2. 3. 4.

Menghasilkan sludge cake yang relatif kering


3. Rasio antara modal dan kapasitas rendah Rasio kapasitas pengolahan terhadap lahan tinggi Tidak memerlukan banyak operator Tidak memerlukan tenaga ahli untuk mengoperasikan sistem Kebutuhan energi rendah 1. Biaya operasi dan modal realatif rendah Peralatan mekanis tidak kompleks dan mudah dalam hal pemeliharaan Merupakan mesin bertekanan tinggi sehingga memiliki kemampuan untuk menghasilkan cake yang sangat kering Modal pembangunan paling rendah jika lahan tersedia 1. Tidak perlu kontrol dari operator secara terus menerus 2. dan tidak perlu banyak tenaga ahli Kebutuhan energi dan bahan kimia rendah Tingkat sensitivitas terhadap variasi lumpur rendah 3. 4. 5. 2. 3.

Potensi menimbulkan bau tinggi Membutuhkan alat pemotong (sludge grinder) di fixed stream Sangat sensitif terhadap karakteristik lumpur yang masuk

Sludge Drying Bed 1. 2. 3. 4.

Membutuhkan area yang cukup besar Membutuhkan proses stabilisasi lumpur setelah proses berlangsung Desain perlu disesuaikan dengan kondisi iklim setempat Pengukuran hasil penyisihan lumpur perlu dilakukan secara intensif Sulit dioperasikan pada daerah dengan tingkat kelembaban yang tinggi

Matriks Pembobotan (1)

Matriks Pembobotan (2)

Matriks Pembobotan (3)

Alternatif teknologi terpilih adalah Decanter Centrifuge.

Penentuan Jumlah Decanter


Penentuan jumlah decanter yang dibutuhkan untuk pengolahan lumpur dilakukan dengan beberapa pendekatan, yaitu :
1. Uji Jar Test 2. Pendekatan Mass Balance 3. Pendekatan Degreemont

1. Uji Jar Test


Prosedur
Mencampur air baku dengan koagulan, setelah itu dilakukan pengadukan cepat (rapid mix) selama 2 menit, pengadukan sedang selama 4 menit, dan pengadukan lambat (slow mix) selama 4 menit. Setelah dilakukan pengadukan, air yang diuji dipindahkan ke dalam imhoff cone untuk diukur jumlah volume lumpur yang terendapkan.

Hasil
Waktu Rabu, 1 Feb Senin, 6 Feb Selasa, 7 Feb Selasa, 7 Feb Turbidity Air Baku (NTU) 55 71,5 185 205 Volume Sludge (mL/L) 4 4,8 6 6,5

Untuk kapasitas air baku eksisting dan turbidity aktual


Q air baku = 5000 L/det = 18.000 m3/jam Turbidity = 205 NTU Volume Sludge = 6,5mL/1000mL

Volume lumpur dapat dihitung dengan menggunakan pendekatan :

Volume Lumpur = 18000 m3/jam x ( 6,5 mL/1000 mL) Volume Lumpur = 128 m3/jam Untuk mengolah volume lumpur sebesar 128 m3/jam, dibutuhkan Decanter sebanyak 2 unit. Dengan kapasitas masing masing Decanter yaitu : 50-75 m3/jam.

Untuk kapasitas air baku 2022 dan turbidity pasca konstruksi siphon

Q air baku = 5500 L/det = 19.800 m3/jam

Turbidity = 170 NTU (digunakan 185 NTU)


Volume Sludge = 6ml/1000ml

Volume Lumpur = 19.800 m3/jam x ( 6 mL/1000 mL) Volume Lumpur = 119 m3/jam Untuk mengolah volume lumpur sebesar 119 m3/jam, dibutuhkan Decanter sebanyak 2 unit. Dengan kapasitas masing masing Decanter yaitu : 50-75 m3/jam.

2. Pendekatan Mass Balance


Prosedur
Memperkirakan dry solid yang terbentuk dengan mengetahui turbiditas air baku. Dengan mengetahui jumlah dry solid yang terbentuk maka dapat ditentukan nilai solid loading rate untuk penentuan jumlah decanter. Setelah mengetahui nilai TSS dan Debit air baku (Q) maka kita dapat memperkirakan jumlah solid loading lumpur dengan pendekatan matematis di bawah ini :

Hasil
NTU : TSS

Turbidit y (NTU) 1 : 0.8 1 : 0.9 1:1 1 : 1.1 170,8 170,8 170,8 170,8

TSS (mg/L) 136,64 153,72 170,8 187,88

Q (L/s) 5.500 5.500 5.500 5.500

Solid Loading Rate (Kg/Jam) 2.705,5 3.043,7 3.381,8 3.720,0

Dengan menggunakan perbandingan antara turbiditas

: TSS = 1 : 0,9 maka untuk Turbiditas future = 170,80 NTU maka TSS yang terbentuk adalah 153 mg/L.
Solid loading rate = 153 mg/L x 5500 L/s = 3.043

kg/jam
Spesifikasi decanter yang digunakan mampu mengolah dry solid hingga 1800 kg/jam. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah unit decanter yang diperlukan adalah 2 unit.

3. Pendekatan Tabel Degremont


Berdasarkan

data dari Manual Operation Handbook IPA Buaran (Degreemont), diperoleh data hubungan antara Turbiditas dan Produksi Lumpur.

TINGKAT

VOLUME LUMPUR m3/hari 684 853 1133 1686 4066 4608 5317 11520 23040 34560 m3/jam 28,5 35,5 47,2 70,3 169,4 192 221,5 480 960 1440

KEKERUHAN AIR
BAKU (NTU) <100 100-150

Data pada tabel tersebut merupakan

151-200 201-500 501-1000 1001-2000 2001-3000 3001-4000 4001-5000 >5000

perkiraan hubungan antara Turbiditas dan Produksi lumpur pada kapasitas instalasi air minum sebesar 2000 L/s.

Namun, pada tahun 2022, kapasitas

pengolahan di WTP Pulo Gadung direncanakan akan meningkat menjadi 4700 L/s. Untuk itu, diperlukan hubungan antara turbiditas dan produksi lumpur pada kapasitas WTP sebesar 4700 L/s yang dapat diperkirakan dengan pendekatan seperti berikut :
Volume lumpur pada 4700 L/s =

VOLUME LUMPUR TURBIDITAS Untuk Q=2000L/det Untuk Q=4700 L/det

(NTU)
<100 100-150 151-200 201-500 501-1000 1001-2000 2001-3000 3001-4000

(m3/jam)
28,5 35,5 47,2 70,3 169,4 192 221,5 480 960 1440

(m3/jam)
78,4 97,6 129,8 193,3 465,9 528 609,1 1320 2640 3960

4700 / 2000 * Volume lumpur pada 2000 L/s


Berdasarkan

tabel tersebut jika kekeruhan air baku di intake adalah 170,80 NTU, maka produksi lumpur yang dihasilkan adalah 110,9 m3/jam. Apabila digunakan decanter berkapasitas 50-75 m3/jam, maka jumlah decanter yang diperlukan

4001-5000 >5000

Penentuan jumlah decanter dilakukan dengan menggunakan 3

metode dan hasilnya dapat diliat pada tabel di bawah ini :


No 1 2 Uji Jar Test Pendekatan Mass balance Metode Jumlah Decanter 2 Unit 2 Unit

Pendekatan Degreemont

2 Unit

Jadi untuk dapat mengolah semua lumpur yang dihasilkan oleh

IPA Pulo Gadung, diperlukan 2 Unit Decanter.

Diagram Alir Proses

Detailed Engineering Design

Detail Lay Out Buaran

Lay Out Jalur Pipa dan Kabel

Denah

RAB
Total biaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan

pembangunan unit pengolahan lumpur di WTP Buaran adalah Rp 7.791.043.470,08.

TERIMA KASIH