Anda di halaman 1dari 3

1. Apakah Mitral Stenosis?

Mitral Stenosis adalah suatu penyakit jantung, dimana katup atau pintu yang menghubungkan ruang atrium(serambi) dan ventrikel(bilik) jantung bagian kiri mengalami penyempitan, sehingga tidak bisa membuka dengan sempurna. Seperti kita ketahui, jantung terdiri atas 4 ruang besar. Pertama adalah atrium(serambi) kanan, yang menerima darah dari seluruh tubuh, kedua : ventrikel(bilik) kanan yang memompa darah kotor ke paru-paru, ketiga : atrium kiri yang menampung darah bersih penuh oksigen dari paru-paru, dan keempat : ventrikel kiri yang memompanya ke seluruh tubuh. Nah, pintu penghubung antara atrium dan ventrikel kiri disebut pintu mitral. Apabila terjadi penyempitan pada pintu penghubung antara serambi kiri dan bilik kiri, itulah kondisi yang disebut mitral stenosis.

2. Mengapa bisa terjadi Mitral Stenosis? Sebagian besar dari penyempitan katup mitral terjadi karena proses peradangan yang disebut demam rematik. Peradangan ini disebabkan oleh suatu reaksi radang akibat infeksi kuman streptokokus di masa kanak-kanak, yang biasanya tidak begitu disadari. Akibat peradangan ini terjadilah perubahan bentuk dari katup mitral, menjadi lebih kaku, lebih sempit, hingga mengganggu terbukanya pintu mitral secara sempurna. Ini akan berakibat jumlah darah yang masuk ke ventrikel kiri menurun.

3. Apa yang terjadi bila Mitral Stenosis tidak ditangani? Akan timbul beberapa gejala. Mula-mula akan timbul gejala mudah lelah. Mudah lelah terjadi karena penyempitan pintu mitral menyebabkan pengisian darah ke ventrikel kiri berkurang, hingga darah yang dipompakan ke seluruh tubuh juga menurun. Pada fase lanjut terjadi gejala sesak napas, mula-mula saat aktifitas berat, yang apabila tidak diatasi akan timbul pada aktifitas yang lebih ringan. Sesak ini terjadi karena darah yang seharusnya mengalir lancar melalu pintu mitral tertahan di paru-paru, menyebabkan paru-paru terisi cairan. Dan seperti antrian mobil yang panjang akibat gangguan di pintu tol, lama kelamaan cairan juga akan menumpuk di kaki (bengkak) dan perut (perut sebah dan membesar). Selain itu, juga akan terjadi pembesaran ruangruang jantung yang lain, seperti atrium kiri dan ventrikel kanan karena peningkatan tekanan akibat darah yang mengalir tidak lancar. Perubahan bentuk ruang jantung tersebut sering menimbulkan gangguan irama, yang akan memberi keluhan berdebar-debar. Bila tetap tidak ditangani, pasien bisa meninggal karena sesak napas yang sangat berat akibat timbunan cairan di paru-paru, atau penurunan tekanan darah yang berat (syok), dan bisa meninggal mendadak akibat gangguan irama jantung. 4. Tindakan apa yang harus dilakukan? Tindakan paling utama adalah melebarkan pintu mitral yang menyempit, selain beberapa obat untuk mengurangi gejala. Pelebaran bisa dilakukan secara bedah jantung terbuka, atau dengan tindakan non bedah. Saat ini hampir sebagian besar pelebaran katup mitral dilakukan tanpa bedah jantung terbuka atau non bedah. Tindakan ini disebut Percutaneus Transvenous Mitral Commisurotomy (PTMC) atau Percutaneus Ballooning Valvulotomy(PBV) 5. Apakah semua Mitral Stenosis harus dilakukan PTMC? Hampir semua pasien dengan mitral stenosis berat harus dilakukan upaya untuk melebarkan katup mitral. Tetapi sebelumnya harus dilakukan berbagai macam pemeriksaan. Mulai dari pemeriksaan fisik, laboratorium, elektrokardiografi (rekam listrik jantung), foto rontgen dada, ekhokardiografi(USG untuk jantung). Berdasar pemeriksaan-pemeriksaan ini, akan ditentukan apakah pasien memenuhi syarat untuk tindakan PTMC atau tidak. Selanjutnya dilakukan kateterisasi jantung. Kateterisasi jantung adalah suatu pemeriksaan yang sangat penting untuk penderita dengan mitral stenosis. Karena bisa digunakan untuk menilai derajat penyempitan katup dan saat itu pula dilakukan PTMC. Hasil tindakan PTMC akan optimal apabila dilakukan sedini mungkin. 6. Bagaimana persiapan untuk PTMC? Persiapannya sangat mudah. Sebaiknya pasien masuk ke rumah sakit 1-2 hari sebelum PTMC dengan membawa hasil-hasil pemeriksaan laboratorium, elektrokradiografi, ekhokardiografi, dll. Malamnya penderita tidak usah puasa, dan obat-obat diminum seperti biasa. 7. Apakah ada resikonya? Secara umum, PTMC aman dilakukan. Hanya saja perlu diketahui, bahwa setiap tindakan medis pasti memiliki resiko. Resiko dari PTMC antara lain adalah terjadinya tamponade jantung, atau perdarahan dalam selaput jantung. Untungnya dengan kemajuan tekhnik, keadaan di atas sangat jarang terjadi (hanya 0,5-5%). Resiko yang lain adalah terjadinya kebocoran katup mitral(mitral regurgitasi) setelah PTMC (2-13%), dan lepasnya trombus(gumpalan darah) dari atrium kiri, yang bisa menyebabkan penyumbatan pembuluh darah (0,5-4%). Resiko tindakan ini

sangat tergantung dari pengalaman operator. Dan di RSUD Dr Soetomo angka-angka ini jauh lebih rendah. Bagaimanapun, resiko ini harus dibandingkan dengan komplikasi yang akan dialami pasien apabila tidak dilakukan PTMC. Seperti serangan sesak napas berulang yang hebat, syok, dan gangguan irama jantung yang semuanya menjadi penyebab utama kematian. 8. Bagaimana pelaksanaan PTMC? PTMC dikerjakan di laboratorium kateterisasi jantung (di Jawa Timur : RSUD Dr Soetomo). Mula-mula dokter akan melakukan pembiusan lokal di sekitar pembuluh darah di lipat paha. Kemudian kateter(sejenis selang kecil) dimasukkan lewat pembuluh darah tersebut sampai kateter berada di atrium kanan atau serambi kanan jantung. Kemudian dilakukan penembusan sekat di antara kedua serambi hingga kateter bisa masuk ke atrium kiri dengan sulur pemandu. Dari sini bisa dilakukan pengukuran perbedaan tekanan antara serambi kiri dan bilik kiri jantung, sehingga derajat penyempitan katup mitral dapat ditentukan. Selanjutnya kateter diupayakan bisa melalui pintu mitral yang menyempit menuju bilik kiri jantung. Dan dilakukanlah peniupan balon kateter secara bertahap hingga pintu katup mitral akan melebar. Setelah peniupan, dilakukan evaluasi pengukuran tekanan di serambi kiri jantung untuk mengukur keberhasilan tindakan. Bila katup rhasil dilebarkan, maka tekanan di serambi kiri akan menurun. Setelah tindakan berhasil, maka balon kateter dikempiskan dan dikeluarkan. Secara keseluruhan prosedur ini akan memakan waktu kurang lebih 1 2 jam.

9. Apakah hasilnya dapat langsung dirasakan? Tentu. Apabila PTMC berhasil dilakukan, bagi pasien yang dalam kondisi kritis akibat penyempitan katup yang berat, PTMC akan mengurangi keluhan sesak napas, dan memperbaiki kondisi pasien. Bagi pasien yang dalam kondisi stabil, kualitas ketahanan tubuh saat aktifitas akan meningkat beberapa hari setelah tindakan, dan hal ini dapat dirasakan oleh pasien. 10. Apa yang dilakukan setelah PTMC? Penderita dimasukkan ke dalam ruang perawatan untuk diawasi tekanan darah, nadi, dll. Pasien harus berada di tempat tidur selama 24 jam, dan dapat makan dan minum segera setelah PTMC selesai. Bila tidak ada keluhan, pasien dapat pulang 1-2 hari kemudian.