Anda di halaman 1dari 15

Keperawatan Medikal Bedah I

Asuhan Keperawatan pada


Klien dengan Pneumotorak
Oleh:
Kelompok II
Dessy Octarina
Ummul Khairina
Nurul Fauziah
Afriyani
Yoza Misra fatmi
Sari Juwita
Andika Fernando
Wita Nofianti
Rury Sartika
Febri Widya
Syafrisar Meri A
Mariza Arfianti

01121016
021210
04121001
04121004
04121010
04121016
04121018
04121022
04121026
04121028
04121032
04121034

Program Studi Ilmu


Keperawatan

Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas
Padang, Januari 2007

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
BAB I.

PENDAHULUAN................................................................................ 1

BAB II. ISI


II.1. Definisi............................................................................................... 2
II.2. Etiologi............................................................................................... 2
II.3 Klasifikasi........................................................................................... 3
II.4. Manifestasi Klinis.............................................................................. 3
II.5. Komplikasi......................................................................................... 3
II.6. Penatalaksanaan
II.6.1 Penatalaksanaan Medik........................................................
II.6.2 Penatalaksanaan Keperawatan.............................................
II.7. Proses Keperawatan
II.7.1 Pengkajian............................................................................
II.7.2 Diagnosa...............................................................................
II.7.3 Implementasi........................................................................
II.7.4 Intervensi..............................................................................
II.7.5 Evaluasi................................................................................
BAB III. PENUTUP
III.1. Kesimpulan.......................................................................................
III.2. Saran.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. ISI


II.1. DEFINISI
Pneumotorak adalah terdapatnya udara pada rongga pleura yang
menyebabkan kolapsnya paru.
II.2. ETIOLOGI
Tersering disebabkan oleh ruptur spontan pleura visceralis yang
menimbulkan kebocoran udara ke rongga torak. Pneumotorak dapat terjadi
berulang kali. Dapat disebabkan oleh: Chest trauma, excessive pressure on
the lungs, or an underlying lung disease such as COPD, asthma, Fibrosis
kistik, Tuberkulosis, dan Whooping cough.
II.3. KLASIFIKASI
Dikenal dua jenis:
a) Pneumotorak primer
Tanpa penyakit dasar yang jelas. Lebih sering pada lakilaki muda sehat dibandingkan wanita. Timbul akibat ruptur bulla
kecil (12 cm) subpleural, terutama di bagian puncak paru.
b) Pneumotorak sekunder
Tersering pada pasien bronkitis dan emfisema yang
mengalami ruptur emfisema subpleura atau bulla. Penyakit dasar
lain: Tb paru, asma lanjut, pneumonia, abses paru atau Ca paru.
Pneumotorak

berhubungan

dengan

peningkatan

tekanan

intrapulmoner yang meluas sampai ke rongga udara subpleura


dan permukaan pleura karena adanya obstruksi jalan nafas,
alveoli yang besar, kista paru atau bulla.
Tergantung pada kebocoran udara yang terjadi dikenal 3 tipe:
a) Pneumotorak tertutup/ Tekanan/Tegangan
Lubang tertutup spontan dari udara dalam rongga torak di
serap kembali. Pneumonia ini terjadi ketika udara ditarik ke dalam
ruang pleura dari paru yang mengalami laserasi atau melalui

lubang kecil dalam dinding dada. Pada kedua kasus tersebut, udara
yang memasuki rongga dada bersamaan dengan setiap inspirasi
akan terjebak di sini; udara tidak dapat dikeluarkan melalui jalan
udara atau lubang kecil dalam dinding dada. Dengan demikian
tekanan terbentuk di dalam ruang pleura yang menyebabkan paru
kolaps dan jantung, pembuluh darah yang besar, dan trakea
bergeser ke arah sisi yang tidak sakit. Baik fungsi pernafasan dan
sirkulasi mengalami kerusakan karena meningkatnya tekanan
intratoraks, arus balik vena ke jantung mengalami gangguan,
menyebabkan penurunan curah jantung dan merusak sirkulasi
perifer. Pada kasus yang ekstrim, denyut nadi tidak teraba dikenal
dengan pulseless electrical activity (PEA). Gambaran klinisnya
adalah lapar udara, agitasi, hipotensi, t akikardi, diaforesis yang
sangat banyak, dan sianosis.

Pneumotorak Terbuka

Pneumotorak Tertutup

Gambar 1. Pneumotoraks terbuka (atas) dan Pneumotoraks Tertutup (bawah).


Pada pneumotoraks terbuka udara memasuki dada selama inspirasi

dan keluar selama ekspirasi. Sedikit pergeseran paru yang sakit


dapat terjadi karena penurunan tekanan ketika udara bergerak keluar
dada. Pada pneumotoraks Tertutup udara masuk tapi tidak dapat
keluar dari rongga dada. Dengan meningkatnya tekanan , jantung
dan pembuluh darah besar tertekan dan struktur mediastinum
bergeser ke arah dada yang berlawanan. Trakea terdorong dari posisi
normal di midline ke arah yang berlawanan dari dada. Dan paru
yang tidak sakit tertekan. (Dari Porth C. Pathophysiology: Concepts
of Altered Health States, ed ke-4. Philadelphia, JB Lippicott.1994)

b) Pneumotorak terbuka
Lubang pada pleura viseralis tetap terbuka dan paru-paru
tetap kuncup. Terkadang terdapat fistel bronkopleura, yaitu adanya
hubungan langsung antara bronkus dan rongga torak.
Pneumotoraks terbuka terjadi bila lubang dalam dinding dada
cukup besar untuk memungkinkan udara mengalir dengan bebas
masuk dan keluar rongga toraks bersama setiap upaya pernafasan.
Karena dorongan udara melalui lubang dalam dinding dada
menghasilkan bunyi menghisap, cedera demikian disebut sucking
wounds dada. Pada pasien ini, bukan hanya paru yang kolaps,
tetapi struktur mediastinum (jantung dan pembuluh darah besar)
bergeser ke arah sisi yang tidak cedera bersama setiap kali inspirasi
dan pada arah yang berlawanan dengan setiap kali ekspirasi. Ini
disebut denganmediastinal flutter, dan kondisi ini mengakibatkan
masalah sirkulasi yang serius.
c) Pneumotorak Ventil
Terjadi peningkatan progresif tekanan intrapleural yang
menimbulkan kolaps paru yang progresif dan diikuti pendorongan
mediastinal dan kompresi paru kontralateral. Pada pneumotorak
berat terjadi penurunan ventilasi dan AV shunt diikuti hipoksemi.
Hal ini lebih berat dan cepat terjadi pada pneumotorak sekunder
yang disertai penyakit paru lain.
II.4. Manifestasi Klinis
1. Nyeri dada
2. Nafas pendek
3. Dada tightness

4. Easy fatique
5. Rapid HR
6. Bluish Color of skin caused by lack of oksigen
7. Nasal Flaring
8. Ansietas, Stress and tension
9. hipotensi
II.5. Komplikasi
1. Hemopneumotorak
2. Pneumomediastinum
3. Emfisema kutis
4. Fistel bronkopleural
5. Empiema.
II.6. Penatalaksanaan
II.6.1 Penatalaksanaan Medik
Tujuan pengobatan adalah untuk mengevakuasi udara dari ruang
pleura. Selang

dada yang kecil (28F) dipasang dekat ruang

interkostal kedua. Ruang ini digunakan karena merupakan bagian


tertipis dari dinding dada, meminimalkan bahaya menyentuh saraf
toraks, dan akan meninggalkan jaringan parut lebih sedikit. Sekali
selang dada terpasang, dekompensasi ruang pleura yang cepat dan
efektif (drainase udara) biasanya terjadi. Jika terdapat jumlah darah
yang berlebihan dalam selang dada dalam waktu yang relative
singkat, mungkin diperlukan autotranfusi.
Jika diduga pneumotoraks tegangan, pasien harus segera diberi
oksigen kosentrasi tinggi untuk mengatasi hipoksia. Dalam
keadaan darurat, pneumotorak tegangan dapat diubah dengan cepat
menjadi pneumotoraks dengan memasangkan jarum berdiameter
besar pada garis midklavikular ruang interkostal kedua pada sisi
yang sakit. Tindakan ini akan menghilangkan tekanan dan
mengalirkan udara intratoraks ke luar. Selang dada kemudian
dipasang dan dihubungkan dengan pengisap untuk membuang

udara dan cairan sisanya dan mengembangkan kembali paru. Jika


paru mengembang dan kebocoran dari paru berhenti, drainase lebih
lanjut mungkin tidak diperlukan lagi. Jika paru terus bocor, seperti
yang ditunjukkan dengan penumpukan kembali volume udara yang
tidak

dapat

dikeluarkan

selama

torasentesis,

udara

harus

dikeluarkan dengan selang dada menggunakan drainase water-seal.


Jika diduga pneumotoraks terbuka, maka membutuhkan intervensi
kedaruratan dengan menghentikan

aliran udara yang melewati

lubang pada dinding dada.


Pada situasi darurat tersebut, apa saja dapat digunakan yang cukup
besar untuk mengisi luka dada-handuk, saputangan, atau punggung
tangan. Jika sadar, pasien diinstruksikan untuk menghirup dan
mengejan

dengan

glotis

tertutup.

Aksi

ini

membantu

mengembangkan kembali paru dan mengeluarkan udara dari


toraks. Di RS, lubang ditutup dengan kasa yang dibasahi dengan
petrolium. Balutan tekan dipasang dan diamankan dengan lilitan
melingkar. Biasanya, selang dada yang dihubungkan dengan
drainase water-seal dipasang untuk memungkinkan udara dan
cairan mengalir. Antibiotik biasanya diresepkan untuk melawan
infeksi akibat kontaminasi.
II.6.2 Penatalaksanaan Keperawatan
Pemeriksaan Diagnostik
A. Anamnesis:
Sulit bernafas yang timbul mendadak dengan disertai nyeri dada
yang terkadang dirasakan menjalar ke bahu. Dapat disertai batuk
dan terkadang terjadi hemoptisis. Perlu ditanyakan adanya penyakit
paru atau pleura lain yang mendasari pneumotorak, dan
menyingkirkan adanya penyakit jantung.
B. Pemeriksaan fisik:
Sesak nafas dan takikardi yang dapat disertai sianosis pada
pneumotorak ventil atau ada penyakit dasar paru. Gerakan torak

mungkin tampak tertinggal, deviasi trakhea, ruang interkostal


melebar, perkusi hipersonor dan penurunan suara pernafasan.
Dapat menghilangkan atau mengurangi pekak jantung atau hati.
Pada tingkat yang berat terdapat gangguan respirasi/sianosis,
gangguan vaskuler/syok.
C. Foto torak:
Gambaran paru yang kolaps ke arah hilus dengan radiolusen ke
sebelah perifer. Gambaran ini akan membesar pada posisi
ekspirasi. Singkirkan kemungkinan bulla yang besar, emfisema
paru, kista paru, kaverne yang besar.
Terapi
a) Pneumotorak ringan non ventil, kurang dari 30%.
Pasien diobservasi dan disuruh meniup balon. Bila pneumotorak
memburuk dapat dipasang water sealed drainage (WSD).
b) Pneumotorak besar atau tipe ventil
Dipasang WSD.Pada keadaan gawat dapat dilakukan punksi
dengan jarum infus sel atau jarum besar, yang kemudian di
hubungkan dengan slang ke botol berisi air. Bila perlu sebelum
dibuat foto toraks.
Bila dalam 24 jam pemasangan kateter paru tidak mengembang
slang dapat disambungkan ke alat penghisap. Bila dalam 5 hari
tidak berhasil dan keadaan pasien buruk pentu dipikirkan
kemungkinan tindakan bedah untuk menutupi kebocoran. Bila paru
sudah mengembang sempurna, WSD diklem selama 3 hari. Bila
hasil observasi dan torak baik WSD dapat dicabut.
c) Pencegahan

pneumotorak

rekuren,

dilakukan

dengan

menggunakan:
Pleurodesis kimia, menggunakan larutan tetrasiklin / bedak talk.
Pleurektomi parietal. Dengan ligasi atau reseksi bullae atau bleb.
Terapi Komplikasi
Hemopneumotorak: pembedahan.
Gangguan fungsi respirasi atau vaskuler: terapi suportif.

Emfisema kulit/mediastinal: observasi dan suportif

II.7. Proses Keperawatan


1. Pengkajian
2. Diagnosa Keperawatan
3. Intervensi
4. Implementasi
5. Evaluasi

BAB III. PENUTUP


III.1. Kesimpulan
III.2. Saran

DAFTAR PUSTAKA