Anda di halaman 1dari 32

Ruang Bedah Kelas RSUP PERSAHABATAN (23 26 Desember 2013)

Anggota kelompok

Outline
0 Anatomi & Fisiologi otak

0 Cedera Kepala (Brain Injury)


0 Pengkajian Cedera Kepala 0 Analisis Data 0 Diagnosa Keperawatan 0 Rencana Asuhan Keperawatan 0 Catatan Perkembangan

Anatomi fisiologi Otak

Anatomi fisiologi Otak

Cedera Kepala
0 Cedera kepala meliputi trauma kulit kepala, tulang

tengkorak, dan otak, paling sering terjadi dan merupakan penyakit neurologik yamg serius diantara penyakit neurologi juga merupakan proporsi epidemiologi sebagai hasil kecelakaan jalan raya (Brunner and Suddart, 2001)

Kecelakaan lalu lintas dan industri. Jatuh. Perkelahian. Cidera saat olah raga. Trombosis. Emboli. Spasme pembuluh darah. Pecah pembuluh darah karena aneurisma, hipertensi berat Trauma atau luka akibat persalinan.\ Oleh benda/ serpihan tulang yang menembus jaringan otak. Efek dari kekuatan atau energi yang di teruskan ke otak. Efek percepatan dan perlambatan (akselerasi-deselerasi) pada otak. 0 Cidera kepala terbuka sering oleh peluru atau pisau
0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Klasifikasi Cedera Kepala


Berdasarkan mekanisme Cidera Kepala Terbuka (fraktur tengkorak) Cidera Kepala Tertutup 1.Comosio Cerebri (gegar otak) biasa disebut cidera kepala ringan 2.Contosio Cerebri (memar otak). Berdasarkan derajat keparahan Cidera kepala ringan Cidera kepala sedang Cidera kepala berat

Berdasarkan Morfologi Fraktur tengkorak. Lesi intracranial

Berdasarkan Patofisiologi
Cidera Kepala Primer Cedera Kepala Sekunder

Berdasarkan Derajat Keparahan


Kehilangan kesadaran kurang dari atau sama dengan 30 menit atau kurang dari sama dengan 2 jam. Tidak ada fraktur tengkorak, contosio/hematom. Pusing 10 menit, tidak ada deficit neurology Gambaran scaning otak normal Kehilangan kesadran/ pingsan . > 10 menit sampai 30 menit (bahkan bisa 24 jam atau antara 2-6 jam Dapat mengalami fraktur tengkorak, disorientasi ringan (bingung) Terdapat deficit neurology Gambaran scanning otak abnormal

Kehilanggan kesadaran Pingsan > 6 jam sampai lebih dari 24 jam Contosio cerebri, laserasi/adanya hematom/edema serebral Defisit neurology terjadi Gambaran scaning otak abnormal

Cidera kepala ringan GCS : 13-15

Cidera kepala sedang GCS : 9-12

Cidera kepala berat GCS: 3-8

Pathways

Kenaikan tekanan intrakranial (TIK) dihubungkan dengan penurunan tekanan perfusi dan aliran darah serebral (CBF) dibawah tingkat kritis (60 mmHg) dan akanberakibat kerusakan otak iskemik. 0 TIK yang normal: 5-15 mmHg 0 TIK Ringan : 15 25 mmHg 0 TIK sedang : 25-40 mmHg 0 TIK berat : > 40 mmHg

Trias klasik peningkatan tekanan intrakranial: 0 Nyeri kepala karena regangan dura dan pembuluh darah 0 Papiledema yang disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan diskus optikus. 0 Muntah sering proyektil Tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial lainnya; 0 Hipertermia 0 Perubahan motorik dan sensorik 0 Perubahan berbicara 0 Kejang

Fraktur tulang tengkorak


1.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Frontal. : Expose otak dengan agen yang mengkontaminasi melalui sinis frontal dapat terlihat CSF rinorrhea (kebocoran CSF dari hidung), pneomo cranium. Orbital: Echimosis peri orbital Temporal : Otak temporal menebal karena akstravasai darah, battle sign Parietal : Tuli, CSF atau otorrhea (kebocoran CSF dari telinga), otak, membrane timpani bengkok karena darah . Posterior : Buta karena memar oksipital, penurunan lapang pandang, atraksia. Basiler : Otorrhea, membrane timpani membengkak, battle sign, vertigo. Komusio : Hilang kesadaran selama 5 menit atau kurang amnesia retrograde post traumatic, pusing, sakit kepala, mual,dan muntah-muntah.

Kontusio
1. 2. 3. 4. 1.

Kontosio cerebral Lobus temporal: agitasi, kebingungan tetapi tetap terjaga. Lobus frontal: hemi paresis Froto temporal: apasia. Terjadi gangguan kesadaran selama beberapa jam, hari/minggu Respirasi dapat normal, atraksia, periodic atau sangat cepat. Pupil biasanya kecil, sama dan reaktif. Gangguan gerakan bola mata. Gangguan kesadaran, konfusi, awitan tiba-tiba deficit neurologist, perubahan tanda-tanda vital, disfungsi sensori, kejang otot, syok mungkin menunjukkan cedera multi system, suhu tubuh yang sulit dikendalikan, tekanan darah menurun, bradikardia, papil edema, kesadaran makin menurun.

Kontosio batang otak


2.
3. 4. 5.

0 Status Mental : Orientasi , Registration (memori),

Perhatian dan perhitungan, Daya ingat (recall), Bahasa : (Memberikan nama , Pengulangan kata, Tiga perintah berurutan, Membaca , Menulis, Mengkopi(menyalin)) 0 Skor maksimun pada test ini adalah 30, sedangkan rata-rata normal dengan nilai 27.

0 Afasia motorik, karena lesi di area Broca, klien tidak

mampu menyatakan pikiran dengan kata-kata, namun mengerti bahasa verbal dan visual serta dapat melaksanakan sesuatu sesuai perintah. 0 Afasia sensorik / perseptif, karena lesi pada area Wernicke, ditandai dengan hilangnya kemampuan untuk mengerti bahasa verbal dan visual tapi memiliki kemampuan secara aktif mengucapkan kata-kata dan menuliskannya. Apa yang diucapkan dan ditulis tidal mempunyai arti apa-apa. 0 Disatria, gangguan pengucapan kata-kata secara jelas dan tegas karena lesi pada upper motor neuron (UMN) lateral bersifat ringan dan lesi UMN bilateral bersifat berat.

0 Alert : Composmentis / kesadaran penuh


0 Lethargic 0 Obtuned 0 Stuporus 0 Koma

GCS
RESPON 1. Membuka Mata = Eye open (E) Spontan membuka mata Terhadap suara membuka mata Terhadap nyeri membuka mata Tidak ada respon 1. Motorik = Motoric response (M) Menurut perintah Dapat melokalisir rangsangan sensorik di kulit (raba) Menolak rangsangan nyeri pada anggota gerak Menjauhi rangsangan nyeri (fleksi abnormal)/postur dekortikasi Ekstensi abnormal/postur deserebrasi Tidak ada respon SCORING
4 3 2 1

6 5 4 3 2 1

1.

Verbal = Verbal response (V) Berorientasi baik Bingung Kata-kata respon tidak tepat Respon suara tidak bermakna Tidak ada respon

5 4 3 2 1

N O
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

NERVUS CRANIALIS
OLFACTORIUS OPTICUS OCULOMOTORIUS TROCHLEARIS TRIGEMINUS ABDUCENS FACIALIS VESTIBULOCOCHLEARIS GLOSSOPHARINGEUS VAGUS ACCESSORIUS HYPOGLOSSUS

FUNGSI
PENCIUMAN PENGLIHATAN OTOT PENGGERAK BOLA MATA OTOT PENGGERAK BOLA MATA OTOT MASTIKASI, SENSORIK WAJAH, CORNEA, GUSI, PALATUM OTOT PENGGERAK BOLA MATA OTOT WAJAH; KELENJAR LUDAH; TASTE 2/3 ANTERIOR LIDAH PENDENGARAN & KESEIMBANGAN TUBUH KELENJAR POROTIS; OTOT MENELAN; TASTE 1/3 POSTERIOR LIDAH OTOT PALATUM; SENSORIK VISCERA ; MOTORIK VISCERA OTOT PENGGERAK LEHER OTOT LIDAH

Refleks yang dinilai


0 Refleks patella

0 Refleks biceps
0 Refleks triceps 0 Refleks achilles 0 Refleks abdominal 0 Refleks Babinski

Pemeriksaan khusus sistem persarafan Untuk mengetahui rangsangan selaput otak (misalnya pada meningitis) dilakukan pemeriksaan
0 Kaku kuduk : Bila leher ditekuk secara pasif terdapat tahanan, sehingga 0

0 0

dagu tidak dapat menempel pada dada ---- kaku kuduk positif (+). Tanda Brudzinski I : Letakkan satu tangan pemeriksa dibawah kepala klien dan tangan lain didada klien untuk mencegah badan tidak terangkat. Kemudian kepala klien difleksikan kedada secara pasif. Brudzinski I positif (+) bila kedua tungkai bawah akan fleksi pada sendi panggul dan sendi lutut. Tanda Brudzinski II : Tanda Brudzinski II positif (+) bila fleksi tungkai klien pada sendi panggul secara pasif akan diikuti oleh fleksi tungkai lainnya pada sendi panggul dan lutut. Tanda Kernig : Fleksi tungkai atas tegak lurus, lalu dicoba meluruskan tungkai bawah pada sendi lutut. Normal, bila tungkai bawah membentuk sudut 1350 terhadap tungkai atas. Kernig + bila ekstensi lutut pasif akan menyebabkan rasa sakit terhadap hambatan. Test Laseque : Fleksi sendi paha dengan sendi lutut yang lurus akan menimbulkan nyeri sepanjang m. ischiadicus.

0 Decorticate posturing, terjadi jika ada lesi pada

traktus corticospinal. Nampak kedua lengan atas menutup kesamping, kedua siku, kedua pergelangan tangan dan jari fleksi, kedua kaki ekstensi dengan memutar kedalam dan kaki plantar fleksi. 0 Decerebrate posturing, terjadi jika ada lesi pada midbrain, pons atau diencephalon. Leher ekstensi, dengan rahang mengepal, kedua lengan pronasi, ekstensi dan menutup kesamping, kedua kaki lurus keluar dan kaki plantar fleksi.

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

CT scan (tanpa/dengan kontras) MRI EEG Sinar X-Ray BAER (Brain Auditori Evoked Respon) PET (Positron Emission Tomografi) Pungsi lumbal GDA : Mengetahui adanya masalah ventilasi atau oksigenisasi yang akan dapat meningkatkan TIK. Kimia/elektrolit darah Perubahan/Screen toksikologi Kadar anti konfulsan darah : Mengetahui tingkat terapi yang cukup efektif untuk mengatasi kejang. ABGs: Mendeteksi keberadaan ventilasi atau masalah pernapasan

Cedera Kepala

CVD

0 Jika terdapat luka pada kulit kepala, diusahakan ditutup, dan kontrol perdarahan yang terjadi. 0 Luka pada kulit kepala yang tidak diatas fraktur, segera dianastesi local, dibersihkan dan dijahit. 0 Pada depresi tengkorak dilakukan pembedahan untuk menata kembali fragmen tulang dalan lapisan durameter yang robek. 0 Pembedahan :
0 Kraniotomy 0 Membuka tengkorak untuk mengangkat bekuan darah atau tumor, menghentikann

perdarahan intrakranial, memperbaiki jaringan otak, atau pembuluh darah yang rusak. 0 Kraniaektomy : mengangkat bagian tulang tengkorak. 0 Kranioplasty : Memperbaiki tulang tengkorak dengan logam, lempeng plastik, untuk menutup area yang terbuka dan memperkuat area kerusakan tulang.

0 Pembedahan. Trepanasi melakukan evakuasi terhadap perdarahan yang timbul dan menghentikan perdarahan.

0 Konservatif: Memperbaiki keadaan umum, pemberian vasodilator, mengurangi edema cerebri, dengan : Tirah baring total, Pemberian obat-obatan, Observasi tanda-tanda vital (GCS dan tingkat kesadaran).

0 Anti Seizure ( serangan tiba-tiba), seperti phenitoin 0 Antagonis, histamine untuk mengurangi resiko stress ulcer. 0 Analgetik : acenaminoven, kodein 0 Diuretik untuk menurunkan TIK 0 Antibiotika yang mengandung barrier darah otak

(penisillin) atau untuk infeksi anaerob diberikan metronidazol 0 Dexamethason/kalmethason sebagai pengobatan anti edema serebral, dosis sesuai dengan berat ringanya trauma.