Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA FARMASI

PENENTUAN VISKOSITAS LARUTAN NEWTON DENGAN VISKOMETER OSTWALD

Disusun Oleh : Nama No. Mahasiswa Tgl Praktikum Hari Dosen Pembimbing : Imas Rilo Pambudi : 11.0169 : 7 November 2012 : Jumat : Paulina Maya O., S.Farm., Apt.

LABORATORIUM FISIKA FARMASI AKADEMI FARMASI THERESIANA SEMARANG 2012

PENENTUAN VISKOSITAS LARUTAN NEWTON DENGAN VISKOMETER OSTWALD

I.

TUJUAN Mahasiswa mampu mempelajari cara penentuan viskositas larutan Newton dengan Viskometer Ostwald. Mahasiswa mampu memahami pengaruh kadar larutan terhadap viskositas larutan.

II.

DASAR TEORI Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan untuk mengalir dari suatu sistem yang mendapat suatu tekanan. Makin kental suatu cairan makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan tertentu (Moechtar, 1989). Rheologi berasal dari bahasa Yunani yaitu rheo dan logos. Rheo berarti mengalir, dan logos berarti ilmu. Sehingga rheologi adalah ilmu yang mempelajari tentang aliran zat cair dan deformasi zat padat. Rheologi erat kaitannya dengan viskositas. Viskositas merupakan suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir; semakin tinggi viskositas, semakin besar tahanannya untuk mengalir. Viskositas dinyatakan dalam simbol (Martin, 1993). Dalam bidang farmasi, prinsip-prinsip rheologi diaplikasikan dalam pembuatan krim, suspensi, emulsi, losion, pasta, penyalut tablet, dan lainlain. Selain itu, prinsip rheologi digunakan juga untuk karakterisasi produk sediaan farmasi (dosage form) sebagai penjaminan kualitas yang sama untuk setiap batch. Rheologi juga meliputi pencampuran aliran dari bahan, penuangan, pengeluaran dari tube, atau pelewatan dari jarum suntik. Rheologi dari suatu zat tertentu dapat mempengaruhi penerimaan obat bagi pasien, stabilitas fisika obat, bahkan ketersediaan hayati dalam tubuh

(bioavailability). Sehingga viskositas telah terbukti dapat mempengaruhi laju absorbsi obat dalam tubuh (Martin, 1993). Sifat reologi dari sistem farmasi dapat mempengaruhi pemilihan peralatan untuk prosessing yang digunakan dalam pembutannya. Pemilihan alat yang tidak tepat dapat menghasilkan yang produk yang tidak alirnya.

dikehendaki,setidak

tidaknya

menyangkut

sifat

Diklasifikasikan menurut tipe alir dan deformasinya pada umumnya zat dibagi menjadi 2 kategori yaitu sistem Newton dan sistem bukan Newton di antaranya Time independent pseudoplastik, plastik dan dilatan. Time Dependent tiksotropi, reopeksi, anti tiksotropi dan anti reopeksi. Pemilihannya tergantung pada sifat alir yang sesuai dengan hukum alir Newton atau tidak (Moectar, 1989). Pada cairan Newton hubungan antara shearing rate dan shearing stress memiliki hubungan linier, dengan suatu tetapan yang dikenal dengan viskositas atau koefisien viskositas. Namun demikian pada cairan newton kedua besaran tersebut tidak mempunyai hubungan linier, dengan perkataan lain viskositasnya akan berubah-ubah tergantung dari besar tekanan yang diberikan. Disamping itu beberapa tipe zat cair jika tekanan tersebut dihentikan viskositas cairan tidak segera kembali ke keadaan semula. Dalam hal yang demikian, maka penetuan viskositas kurang sekali mnfaatnya, sedangkan penentuan sifat alir justru banyak bermanfaat (Martin, 1993). Penggolongan bahan menurut tipe alirnya dan deformasi yaitu sistem Newton dan Non Newton. Pemilihan tergantung pada sifat alirnya, apakah sesuai dengan hukum aliran dari Newton atau tidak. Newton adalah orang yang pertama mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kualitatif. Dia menemukan bahwa semakin besar viskositasnya suatu cairan akan makin besar pula gaya per satuan luas (shearing stress). a. Sistem Newton (kekentalan ideal) Kekentalan ideal memiliki suatu koefisien viskositas konstan yang tidak tergantung dari jumlah absolut tegangan geser.

b. Sistem Non Newton (kekentalan struktur) Kekentalan struktur tergantung pada tegangan geser. Sistem aliran ini meliputidispersi heterogen cairan pada padatan seperti koloid, emulsi, suspensi cair, salep, dan produk serupa. Jika bahan Non Newton dianalisis dalam suatu viskometer putar dan hasilnya diplot, diperoleh berbagai kurva konsistensi yang menggambarkan adanya 3 kelas cairan yaitu plastis, pseudoplastis dan dilatan. Suatu cgs viskositas adalah poise, gaya gesek yang diperlukan untuk mendapat hasil kecepatan 1 cm/detik antara 2 bidang paralel dari zat cair yang luas 1 cm2 dan dipisahkan oleh jarak 1 cm (Moechtar, 1990). Hukum aliran newton diasumsikan sebagai sebuah balok cairan yang terdiri dari lapisan-lapisan molekul paralel bagaikan setumpuk kayu. Lapisan dasar dianggap menempel pada tempatnya. Jika bidang cairan paling atas bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan bawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan konstan, setiap lapisan bawahnya akan bergerak dengan suatu kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak dari lapisan dasar yang diam Perbedaan kecepatan (dv) antara dua bidang cairan dipisahkan oleh suatu jarak yang kecil sekali (dr) adalah perbedaan kece patan atau rate of shear, dv/dr. Gaya per satuan luas F/A diperlukan untuk menyebabkan aliran, ini yang disebut dengan shearing stress. Newton adalah orang pertama yang mempelajari sifat-sifat aliran dari cairan secara kuantitatif. Dia menemukan bahwa makin besar viskositas suatu cairan, maka makin besar pula gaya per satuan luas (shearing stress) yang diperlukan untuk menghasilkan suatu rate of shear tertentu (Martin, 1993). Menentukan viskositas cairan Newton dapat digunakan semua alat pengukur viskotitas, misalnya viscometer Oswald, Viscometer Hoppler, Viscometer Brookfield, dan Viscometer Stomer. Dasar penentuan viskositas dengan Viscometr Brookfield adalah cone and plate yaitu menggunakan intrumen yang terdiri dari rotating cone dengan sudut tumpul dan flat plate yang lebih rendah dan tidak bergerak. Lempeng dinaikkan sampai puncak

kerucut benar-benar menyentuh permukaan. Cairan diisikan melalui celah segitiga antara cone and plate. Tegangan permukaan mencegahnya dari penyebaran pada plate. Plate dipertahankan sampai temperatur konstan dengan membentuk sirkulasi air. Cone diatur dengan kecepatan yang teratur. Tarikan kental pada putaran cone mendesak tenaga putaran pada dinamometer dengan gaya gesekan. Sudut yang dibentuk oleh cone and plate biasanya 30 dan rata-rata kedalaman celah 2 mm (Martin, 1993). 1. Viskometer Kapiler atau Viskometer Ostwald Alat ini hanya dapat diguanakan untuk menentukan viskositas cairan Newton, dengan cara mengukur waktu yang dibutuhkan cairan tersebut melintas antara dua tanda, pada waktu ia mengalir karena gravitasi melalui pipa kapiler vertikal. Maka dapat dirumuskan sebagai berikut : 1 = 2 2 x t2 1 x t1 , Nilai = 2 1 = re

Dimana : 1 = viskositas zat cair 1 2 = viskositas zat cair 2 1 = kerapatan zat cair 1 2 = kerapatan zat cair 2 t1 t2 = suhu zat cair 1 (dalam 0K) = suhu zat cair 2 (dalam 0K)

re = viskositas relatif dari zat cair yang diselidiki 2. Viskometer Cup and Bob atau Viskometer Stormer Alat ini dapat digunakan untuk menentukan viskositas cairan Newton dan cairan Non-Newton. Viskometer ini hendaknya jangan digunakan untuk sistem-sistem yang mempunyai viskositas di bawah 20 cps. Kelemahan dari viskometer ini adalah adanya bermacam-macam

tekanan geser dalam ruang antara bob dan cup. Yang dapat dirumuskan sebagai berikut : = Kv w v Dimana : Kv w v 3. = viskositas zat cair = suatu tetapan untuk alat = beban (gram) = kecepatan putaran per menit (rpm)

Viskometer Bola Jatuh atau Viskometer Hoeppler Alat ini juga hanya dapat digunakan untuk menentukan viskositas cairan Newton saja. Dalam viskometer ini, bola gelas atau baja menggelinding melalui tabung gelas yang hampir vertikal berisi zat cair yang diselidiki pada temperatur konstan yang diketahui. Maka dapat dirumuskan sebagai berikut : = t (Sb Sf) B Dimana : t titik Sb Sf B = bobot jenis bola = bobot jenis zat cair = suatu tetapan untuk bola tertentu, yang disediakan oleh = viskositas zat cair = interval waktu dalam detik untuk bola yang jatuh antara 2

pabrik pembuatnya. Bermacam-macam bola gelas dan bola baja dengan diameter yang berbeda-beda, maka alat ini dapat digunakan meliputi jarak viskositas 0,5 sampai 200.000 poise. Agar dapat diperoleh hasil yang baik, bola hendaknya digunakan sedemikian hingga dan tidak kurang dari 30 detik.

4. Viskometer Cone and Plate atau Viskometer Brookfield Alat ini juga dapat digunakan untuk menentukan viskositas dari cairan Newton dan cairan Non-Newton. Viskometer ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain kecepatan gesernya konstan di semua bagian dari sampel yang mengalami tekanan geser, terjadinya aliran sumbat dapat dihindarkan, dan tidak tergantung lagi pada jari-jari kerucut. Sudut kerucut pada umumnya berkisar antara 0,30 sampai 40, sudut-sudut kecil lebih disukai. Keuntungan yang lain adalah menghemat waktu dalam membersihkan dan mengisinya, dan selama percobaan, temperatur stabil. Dapat ditentukan dengan rumus : = C T v Dimana : = viskositas zat cair C = suatu tetapan untuk alat T = pembacaan putaran v = kecepatan putaran per menit (rpm) (Moechtar, 1990).

III.

ALAT DAN BAHAN Alat : Bekerglass Pyrex Gelas Ukur Pyrex Pipet Volume 5 ml Pyrex Pipet Filler Pyrex Piknometer Brand Duran Germany Batang Pengaduk Viskometer Ostwald Klem, Statip Neraca Digital Kern EMB 200-2

Bahan : Alkohol Aseton Alkohol 5%, 10%, X% Aquadest Air Es

IV.

CARA KERJA

A. Pembuatan Larutan Gula 5 %, 10 % Dihitung gula yang dibutuhkan untuk membuat larutan gula 5 % , 10 % (2,5 g untuk 50 ml larutan gula 5 %, 5 g untuk 50 ml larutan gula 10 %)

Ditimbang gula yang dibutuhkan

Dilarutkan dalam aquadest sampai 50 ml B. Pembuatan Larutan Alkohol 70 % Dihitung alcohol 96 % yang dibutuhkan untuk membuat larutan alcohol 70 %

Diukur alcohol 96% yang dibutuhkan

Ditambahkan aquadest sampai 50 ml C. Penentuan volume piknometer pada suhu percobaan Di timbang piknometer kosong yang bersih dan kering dengan seksama Isi piknometer dengan air hingga penuh rendam dalam air es hingga suhu 2 0 di bawah suhu percobaan Buka Tutup pinometer biarkan pipa kapiler terbuka dan suhu air naik sampai mencapai suhu percobaan (25C) tutup pipa kapiler piknometer

Biarkan suhu air dalam piknometer mencapai suhu kamar (27C) Air yang menempel diusap dengan tissue timbang piknometer dengan seksama Lihat dalam tabel berapa kerapatan air pada suhu percobaan yang digunakan untuk menghitung volume air = volume piknometer Cara perhitungan : Bobot piknometer + air Bobot piknometer kosong Bobot air = = = A (gram) B ( gram) _ C (gram)

Kerapatan air pada suhu percobaan (tabel) = air C (gram) volume piknometer = air (gram/ml)

D. Penentuan kerapatan zat cair ( alkohol 70%, larutan gula 5%, 10%, X%) Ditimbang piknometer kosong yang telah bersih dan kering, kemudian dicatat bobotnya Diisi piknometer dengan alkohol 70% hingga penuh, lalu direndam dalam air es hingga suhu 2 di bawah suhu percobaan (23C) Ditutup piknometer, dibiarkan pipa kapiler terbuka dan suhu parafin naik sampai mencapai suhu percobaan (25C) lalu ditutup pipa kapiler piknometer Dibiarkan suhu alkohol dalam piknometer mencapai suhu kamar (27C). Air yang menempel diusap dengan tissue, ditimbang piknometer dengan seksama dan dicatat bobotnya Dihitung kerapatan alkohol 70%

Cara perhitungan : Bobot piknometer + alkohol Bobot piknometer kosong Bobot alcohol 70% = A (gram) = B (gram) = C (gram)

Kerapatan Alkohol 70% dihitung dengan rumus :

= ...... gram.ml-1

Dengan cara yang sama, dilakukan penentuan kerapatan larutan gula 5%, larutan gula 10%, larutan gula X% E. Penentuan Viskositas Larutan Disiapkan viscometer Ostwald dan dipasang di statip

Dipipet 5 ml larutan yang akan ditentukan viskositasnya (air)

Dimasukkan ke dalam viskometer ostwald lalu di sedot dengan vaccum hingga larutan naik di atas batas atas viskometer ostwald

Ditunggu hingga larutan turun di batas atas viskometer ostwald, dinyalakan stopwatch

Ditunggu hingga larutan sampai di batas bawah viskometer ostwald, catat waktu yang dibutuhkan

Dilakukan pengulangan hingga 3 kali uji coba

Dihitung viskositas larutan dengan rumus

Dilakukan dengan cara yang sama untuk mengukur viskositas larutan gula 5%, 10%, larutan alcohol 70%

V.

HASIL DAN PENGOLAHAN DATA 5.1 Kelompok 1 Penentuan Kerapatan Larutan Alkohol 70% Bobot Pikno + air Bobot Pikno kosong Bobot air Volume Air = = 24,33 ml = = = 55,99 g 31,76 g 24,23 g

Bobot pikno + alkohol 70% Bobot pikno kosong Bobot alkohol 70% Kerapatan alkohol 70% =

= = =

55,79 g 31,76 g 24,03 g

= 0,988 g/ml

Penentuan Kerapatan Larutan Gula X % Bobot Pikno + air Bobot Pikno kosong Bobot air = = = 59,24 g 35,12 g 24,12 g

Volume air = = 24,22 ml

Bobot pikno + larutan gula X% Bobot pikno kosong Bobot larutan gula X% Kerapatan larutan gula X%

= = = =

59,85 g 35,12 g 23,73 g

= 0,980 g/ml

Pengukuran Viskositas Pada suhu 2 No Nama Larutan

C Replikasi 1(detik) 2(detik) 25,96 28,97 28,91 3(detik) 26,10 28,62 28,12 25,72 28,94 29,00 Rata-rata

1 2 3

Air Alkohol 70% Larutan Gula X %

25,10 29,22 29,94

Perhitungan Viskositas Alkohol 70%

Perhitungan Viskositas Larutan Gula X% 5.2 Kelompok 2 Penentuan Kerapatan Larutan Gula 5% Larutan gula 5% b/v Gula = 5% x 100 ml = 5 gram Aquadest ad 100 ml

Bobot Pikno+ air Bobot Pikno kosong Bobot air Volume Air

= 58,77 = 34,20 = 24,57

g g g

= 24,67 ml

Bobot pikno + larutan gula 5% Bobot pikno kosong Bobot larutan gula 5% Kerapatan larutan gula 5% =

= = =

59,32 34,20 25,12

g g g

= 1,018 g/ml

Penentuan Kerapatan Larutan Gula X % Bobot Pikno + air Bobot Pikno kosong Bobot air = = = 58,94 34,21 24,73 g g g

Volume air = Bobot pikno + larutan gula X% Bobot pikno kosong Bobot larutan gula X% Kerapatan larutan gula X% = = 1,023 g/ml C Rata-rata 2(detik) 26,59 30,43 31,20 3(detik) 26,63 29,88 31,47 26,27 30,16 31,35 = 24,83 ml = = = 59,60 34,21 25,39 g g g

Pengukuran Viskositas Pada suhu 2 No Nama Larutan

Replikasi 1(detik)

1 2 3

Air Larutan Gula 5 % Larutan Gula X %

25,59 30,16 31,37

Perhitungan Viskositas Larutan Gula 5%

Perhitungan Viskositas Larutan Gula X%

5.3

Kelompok 3

Penentuan Kerapatan Larutan Gula 10% Larutan gula 10% b/v Gula = 10% x 100 ml = 10 gram Aquadest ad 100 ml Bobot Pikno + air Bobot Pikno kosong Bobot air Volume Air = = 24,77 ml = = = 57,91 g 33,24 g 24,67 g

Bobot pikno + larutan gula 10% Bobot pikno kosong Bobot larutan gula 10% Kerapatan larutan gula 10% = = 1,032 g/ml

= = =

58,80 g 33,24 g 25,56 g

Penentuan Kerapatan Larutan Gula X % Bobot Pikno + air Bobot Pikno kosong Bobot air = = = 57,61 g 33,26 g 24,35 g

Volume air = = 24,45 ml

Bobot pikno + larutan gula X% Bobot pikno kosong Bobot larutan gula X% Kerapatan larutan gula X% = = 1,022 g/ml

= = = =

58,25 g 33,26 g 24,99 g

Pengukuran Viskositas Pada suhu 27 C No Nama Larutan 1(detik) 1 2 3 Air Larutan Gula 10 % Larutan Gula X % 26,00 32,71 32,72 Replikasi 2(detik) 26,00 34,75 32,04 3(detik) 25,55 34,29 31,90 25,83 33,92 31,95 Rata-rata

Perhitungan Viskositas Larutan Gula 10% Perhitungan Viskositas Larutan Gula X%

TABEL DATA VISKOSITAS No Larutan (kelompok) 1 Air (1) Air (2) Air (3) 2 Larutan Gula X% (1) Larutan Gula X% (2) Larutan Gula X% (3) 3 4 5 Larutan Gula 5 % (2) Larutan Gula 10 %(3) Alkohol 70% (1) 1 25,10 25,59 26,00 29,94 31,37 32,72 30,16 32,71 29,22 Replikasi 2 25,96 26,59 26,00 28,91 31,20 32,04 30,43 34,75 28,97 3 26,10 26,63 25,55 28,12 31,47 31,90 29,88 34,29 28,62 25,72 26,27 25,83 29,00 31,35 31,95 30,16 33,92 28,94 0,8904 0,8904 0,8904 0,988 1,091 1,130 1,045 1,2115 Rata-rata

KADAR LARUTAN GULA X% Data Fiktif Larutan Gula Kadar / % (x) 5% X% 10 % 15 % 20 % 25 % Viskositas / (cps) (y) 1,045 Rata-rata : 1,070 1,2115 1,2810 1,3051 1,3575

A = 1,0244 B = 0,0144 r = 0,9390

Kadar larutan gula X% y 1,070 = Bx + A = 0,0144x + 1,0244

= 1,070 1,0244 0,0144 = 3,16 %

% Penyimpangan : (3,16 % - 7,5 %) : 7,5 % x 100 % = 57,86 %

VI.

PEMBAHASAN Praktikum farmasi fisika penentuan viskositas larutan newton ini bertujuan

untuk mengetahui bagaimana cara penentuan viskositas suatu larutan dengan menggunakan viskometer Ostwald dan untuk memahami pengaruh kadar terhadap viskositas suatu larutan. Larutan newton adalah larutan yang mengandung zat tunggal terlarut yang ukuran molekulnya kecil sehingga memiliki sifat mudah mengalir dalam pipa sempit. Penentuan Viskositas larutan newton dilakukan dengan menggunakan viskometer Oswald. Keuntungan dari penggunaan viskometer Ostwald dibandingkan dengan viskometer lain, yaitu cara penggunaan viskometer Ostwald mudah dan tidak rumit serta viskometer ostwald mudah didapatkan. Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir. Makin besar resistensi suatu zat untuk mengalir semakin besar pula viskositasnya sehingga semakin tinggi kekentalan dari suatu zat maka daya alirnya semakin lambat karena viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya gesekan antar lapisan material, viskositas menunjukkan tingkat ketahanan suatu cairan untuk mengalir. Penentuan viskositas suatu cairan dengan menggunakan viskometer Ostwald dilakukan dengan tingkat ketelitian yang tinggi, karena merupakan penggabungan antara prosedur penentuan kerapatan suatu zat dan penentuan waktu alir suatu zat. Titik kritis prosedur pelaksanaannya diantaranya adalah suhu pengujian pada saat penentuan kerapatan suatu zat harus bena-benar tepat karena suhu berpengaruh terhadap viskositas suatu larutan, dimana semakin tinggi suhu suatu zat maka viskositasnya semakin rendah dan sebaliknya. Volume suatu zat uji juga sangat berpengaruh terhadap besarnya viskositas sehingga pada saat pengisian zat pada piknometer harus dipastikan terisi penuh dan massa zat pada saat penimbangan

benar-benar valid. Selain itu, pengukuran 5 ml volume zat uji untuk pengujian viskositas juga harus benar-benar teliti, ketinggian mata harus sejajar dengan pipet volume dalam pengambilan sampel zat uji. Pemasangan viskometer Ostwald pada klem dan statif juga mempengaruhi viskositasnya. Keadaan viskometer Ostwald harus terpasang tegak lurus dan tidak dalam keadaan miring, karena tegakmiringnya pemasangan alat berpengaruh pada waktu alir zat uji. Pandangan mata juga harus sejajar dengan viskometer Ostwald pada saat penentuan mulai dan berakhirnya waktu alir zat cair. Prosedur pembersihan alat juga harus dilakukan hingga benar-benar bersih tanpa menggunakan proses pemanasan agar suhu pengujian tetap stabil dan tidak mempengaruhi kondisi alat dan zat uji. Besarnya viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : a. Temperatur Semakin tinggi temperatur maka viskositasnya semakin rendah dan semakin rendah temperatur maka viskositasnya semakin kental. b. Gaya tarik antar molekul Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan antara molekul. c. Konsentrasi larutan Semakin tinggi konsentrasi suatu larutan maka kerapatan jenisnya semakin tinggi dan semakin tinggi pula viskositasnya dan sebaliknya. Dari data percobaan yang dilakukan, dapat diketahui bahwa suatu larutan sejenis apabila konsentrasinya meningkat, maka viskositasnya akan meningkat pula, hal ini dikarenakan adanya peningkatan gaya tarik antar molekul apabila konsentrasinya besar. Terbukti pada larutan gula 5% dan 10%, viskositas larutan gula 10% lebih besar daripada larutan gula 5%. Suatu larutan yang tidak diketahui konsentrasinya (X%) dapat ditetapkan konsentrasinya dengan cara membandingkan viskositas larutan X% dengan larutan sejenis yang konsentrasinya telah diketahui, kemudian dilakukan penentuan konsentrasi dengan regresi linear. Untuk menentukan kadar dengan regresi linear diperlukan minimal data percobaan adalah 5, namun pada percobaan

praktikum hanya dilakukan 2 kadar yang berbeda, yakni larutan gula 5% dan 10%. Oleh karena itu, sebagai pembanding diberikan data fiktif yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Sehingga dari hasil perhitungan kadar larutan gula dengan regresi linear didapatkan hasil bahwa kadar gula X% sesuai percobaan adalah 3,16 %, padahal sesungguhnya kadar gula X % adalah 7.5 %. Penyimpangan kadar ini dapat terjadi karena beberapa factor, antara lain dikarenakan kemurnian suatu zat, pengaruh suhu, pengaruh kerapatan zat . Dalam pembuatan larutan gula, ada kemungkinan gula yang digunakan kemurniannya rendah, sehingga tidak dapat dihasilkan larutan gula dengan kadar yang tepat sesuai dengan perhitungan yang dilakukan.

VII. KESIMPULAN a. Dari hasil praktikum penentuan viskositas larutan Newton dapat diketahui data viskositas larutan sebagai berikut : No Nama Larutan 1 2 3 4 5 Air Larutan Gula X% Larutan Gula 5 % (2) Larutan Gula 10 %(3) Alkohol 70% (1) Replikasi kelompok : 1 0,8904 0,988 2 0,8904 1,091 1,045 3 0,8904 1,130 1,2115 Rata-rata 0,8904 1,070 1,045 1,2115

b. Pada perhitungan kadar larutan gula X% dengan menggunakan bantuan data fiktif secara regresi linear didapatkan kadar larutan gula X% adalah 3,16 %, padahal sesungguhnya kadar gula X % adalah 7.5 %. c. Hubungan konsentrasi atau kadar suatu larutan dengan viskositas larutan adalah semakin tinggi konsentrasi suatu larutan maka kerapatan jenisnya semakin tinggi dan semakin tinggi pula viskositasnya dan sebaliknya.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA Anonim.1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Martin, A. 1993.Farmasi Fisik Edisi III. Jakarta : UI Press Moechtar. 1990. Farmasi Fisika : Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Jogjakarta : Gajah Mada University Press.

Semarang, 14 Desmber 2012 Dosen Pengampu Praktikan

Paulina Maya O., S.Farm., Apt

Imas Rilo Pambudi