Anda di halaman 1dari 8

HUKUM ACARA PERDATA LANJUT PROBLEMATIKA UPAYA HUKUM PENINJAUAN KEMBALI

IAN MANUEL PURBA 11010111130439 KELAS D

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2014

BAB I PENDAHULUAN
Dalam hukum acara perdata terhadap upaya hukum dapat di bagi menjadi upaya hukum biasa berupa perlawanan (verzet), banding (revisi) dan kasasi (cassatie) dan upaya hukum luar biasa yang dapat berupa peninjauan kembali (PK) dan derden verzet (verzet door darden). Akan tetapi, pada perkara perdata niaga maupun PHI tidak dikenal upaya hukum banding, sehingga dalam perkara niaga hanya dapat dilakukan upaya hukum biasa berupa kasasi, serta upaya hukum luar biasa yang dapat berupa Peninjauan Kembali. Dalam perkara perdata, peninjauan kembali semula diatur dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering disingkat R.V. yaitu hukum acara perdata yang dulu berlaku bagi golongan Eropa. Peninjauan kembali ini disebut Request Civiel dan diatur dalam pasal 385 dan seterusnya. Meskipun dalam H.I.R tidak terdapat suatu peraturan tentang peninjauan kembali, namun dalam praktek sejak lama Request Civiel Pada hakekatnya, upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) secara umum diatur dalam ketentuan Pasal 23 undang-undang Nomor 48 Tahun 2009, Pasal 34 dan Pasal 66-77 Undang-undang nomor 3 Tahun 2009 dan untuk perkara perdata Niaga diatur dalam ketentuan Pasal 14, 295, 296, 297 dan 298 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004. Tetapi, kita harus mengetahui juga tentang Lembaga Peninjauan Kembali dari masa ke masa. Dalam hukum acara yang diatur dalam R.V untuk memenuhi rasa keadilan bagi para pencari keadilan, dibuka kemungkinan untuk membuka kembali perkara yang sudah diputus oleh pengadilan dan putusan tersebut sudah memperoleh kekuatan hukum tetap diberlakukan dengan berpedoman pada ketentuanketentuan yang terdapat dalam R.V. Hal itu dilakukan dengan mempergunakan kesempatan yang diberikan oleh pasal 393 H.I.R dimana apabila praktek memang benar-benar membutuhkan.

Lembaga Peninjauan Kembali yang semula diatur dalam pasal 15 Undangundang No.19 tahun 1964 diatur kembali dalam pasal 21 Undang-undang No. 14 tahun 1970 yang berbunyi apabila terdapat hal-hal atau keadaan yang ditentukan dengan undang-undang, terdapat putusan pengadilan, yang memperoleh kekuatan hukum yang tepat dapat dimintakan peninjauan kembali pada Mahkamah Agung dalam perkara perdata dan pidana oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Pada tanggal 1 Desember 1980, Mahkamah Agung mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung No.1 tahun 1980 tentang peninjauan kembali putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap, baik perkara perdata maupun perkara pidana. Setelah Undang-undang No. 8 tahun 1981 yaitu Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana berlaku. Maka dengan Peraturan Mahkamah Agung No. 1 tahun 1980 yang disempurnakan, Mahkamah Agung mencabut kembali Surat Edaran Mahkamah Agung No. 1 tahun 1980 tanggal 1 desember 1980, sepanjang mengenai peninjauan kembali putusan perkara pidana, yang selanjutnya diatur oleh Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Pada dasarnya prosedural administrasi pengajuan permohonan peninjauan kembali berdasarkan alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 295 ayat 2 huruf (a) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 yang berbunyi, setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di pengadilan sudah ada, tetapi belum bisa ditemukan, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 180 (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali mempunyai kekuatan hukum tetap. Sedangkan alasannya, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 295 ayat 2 huruf (b) Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 yang berbunyi, dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata, dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tigapuluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap. Kemudian, pernyataan peninjauan kembali dapat diminta apabila panjar perkara yang ditaksir dalam SKUM oleh meja pertama Panitra Muda Perdata yang telah dibayar lunas. Dalam menaksir biaya peninjauan kembali ini, ditentukan dengan besarnya biaya peninjauan kembali yang ditentukan oleh ketua

Pengadilan dan ongkos pengiriman uang ke Mahkamah Agung ditambah dengan biaya berupa:

Biaya registrasi (pencatatan) Biaya pemberitahuan adanya peninjauan kembali Ongkos pengiriman (pengiriman uang dan pengiriman berkas) dan Biaya pengiriman jawaban peninjauan kembali ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Pemohon peninjauan kembali wajib menyampaikan kepada Panitra

Pengadilan bukti pendukung yang menjadi dasar pengajuan permohonan peninjauan kembali dan untuk termohon salinan permohonan peninjauan kembali berikut salinan bukti pendukung yang bersangkutan pada tanggal permohonan peninjauan kembali didaftarkan. Panitra Pengadilan menyampaikan salinan permohonan Peninjauan kembali berikut salinan bukti pendukung kepada termohon dalam jangka waktu paling lambat 2 (dua) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan. Pihak termohon dapat mengajukan jawaban terhadap permohonan peninjauan kembali yang diajukan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) hari setelah tanggal permohonan peninjauan kembali didaftarkan. Panitra Pengadilan wajib menyampaikan jawaban kepada Panitra Mahkamah Agung dalam jangka waktu paling lambat 12 (duabelas) hari setelah tanggal permohonan didaftarkan (pasal 297 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004). Alasan-alasan Peninjauan Kembali terhadap putusan Pengadilan yang berkekuatan hukum tetap adalah:
1.

Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan.

2.

Hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata

BAB II PERMASALAHAN
Suatu putusan hakim tidak luput dari kekeliruan atau kekhilafan, bahkan tidak mustahil bersifat memihak. Maka oleh karena itu demi kebenaran dan keadilan setiap keputusan hakim perlu dimungkinkan untuk diperiksa ulang agar kekeliruan atau kekhilafan yang terjadi pada putusan dapat diperbaiki. Bagi setiap putusan hakim pada umumnya tersedia upaya hukum, yaitu upaya atau alat untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam suatu putusan (Sudikno Mertokusumo, 1982:232). * Dalam hukum acara perdata terhadap upaya hukum dapat di bagi menjadi upaya hukum biasa berupa perlawanan (verzet), banding (revisi) dan kasasi (cassatie) dan upaya hukum luar biasa yang dapat berupa peninjauan kembali (PK) dan derden verzet (verzet door darden). Upaya hukum peninjauan kembali merupakan upaya hukum yang terdakhir yang dapat dilakukan dalam menyelesaikan suatu perkara. Upaya hukum peninjauan kembali dilakukan sebagai reaksi atas suatu putusan kasasi di Mahkamah Agung atau suatu putusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap. Namun pada pelaksanaannya, upaya hukum peninjauan kembali ini sangatlah jarang ditempuh oleh pihak pihak yang berperkara. Hal ini dikarenakan alasan lamanya waktu yang diperlukan untuk berperkara di tingkat PK, selain itu juga dikarenakan alasan biaya berperkara yang semakin besar seiring dengan lamanya jangka waktu berperkara. Butuh waktu bertahun tahun agar suatu perkara yang sedang diperkarakan untuk dipersidangkan di tingkat kasasi, dengan dilanjutnkannya ke tingkat PK, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan.

* Prof Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. Liberty, Yogyakarta, 1982.

Hukum Acara Perdata Indonesia,

BAB III PEMBAHASAN


Sistematika peradilan di Indonesia bias dikatakan cukup rumit. Selain karena rumitnya proses berperkara di pengadilan, waktu yang diperlukan untuk selesainya suatu perkara di pengadilan bias dikatakan cukup lama. Pada kenyataannya agar suatu perkara sampai disidangkan ditingkat Kasasi, butuh waktu tiga sampai lima tahun. Hal ini belum lagi sampai pada tingkat Peninjauan Kembali. Hal ini juga disebabkan kerena banyaknya kasus yang masuk ke Mahkamah Agung, padahal sebenarnya kasus tersebut sudah terselesaikan secara adil pada pengadilan negeri atau pengadilan tinggi. Seandainya penerapan penyelesaian perkara diluar pengadilan baik dengan mediasi atau metode lainnya popular untuk diterapkan, lamanya proses peradilan tidak akan memakan waktu yang lama seperti yang terjadi seperti saat ini. Peninjauan Kembali yang merupakan upaya hukum terakhir yang dapat dilakukan oleh pihak yang berperkara merupakan upaya hukum yang dilakukan setelah putusan mempunyai kekuatan hukum tetap. Upaya hukum ini hanya dapat dilakukan dengan menyampaikan alasan alasan tertentu seperti yang diatu dalam undang undang Mahkamah Agung. Alasan yang dapat dikemukakan dalam peninjauan kembali adalah sebagai berikut.

Setelah perkara diputus ditemukan bukti baru yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksa di Pengadilan sudah ada, tetapi belum ditemukan. Pada asasnya, Aspek ini lazim disebut dengan istilah Novum, dan

mengenai tenggang waktunya adalah 180 hari (seratus delapan puluh) hari setelah tanggal putusan yang dimohonkan peninjauan kembali memperoleh kekuatan hukum tetap (Pasal 296 ayat 1 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 dengan hari dan tanggal ditemukan Novum dibuat dibawah sumpah serta disahkan pejabat berwenang (Pasal 69 huruf b Undang-undang Nomor 3 Tahun 2009).

Hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata Pada dasarnya, pembentuk Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tidak

menyebutkan bagaimana dimensi dari ketentuan Pasal 295 ayat 2 huruf b

Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang, dalam putusan hakim yang bersangkutan terdapat kekeliruan yang nyata. Dikaji dari praktik peradilan, hakikat kekeliruan yang nyata diartikan secara letterlijke tentang kekeliruan yang nyata sebagaimana bunyi Undang-Undang dan kemudian di implementasikan sebagai kesalahan berat dalam penerapan hukum. Dalam pasal 67 Undang-undang No. 15 tahun 1985 dinyatakan, bahwa permohonan peninjauan kembali putusan perkara perdata yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dapat diajukan hanya berdasarkan alasan-alasan sebagai beikut: (a) Apabila putusan didasarkan pada suatu kebohongan atau tipu muslihat pihak lawan yang diketahui setelah perkaranya diputus atau didasarkan pada bukti-bukti yang kemudian oleh hakim pidana dinyatakan palsu. (b) Apabila setelah pekara diputus, ditemukan surat-surat bukti yang bersifat menentukan yang pada waktu perkara diperiksan tidak dapat diketemukan. (c) Apabila telah dikabulkan suatu hal yang tidak dituntut atau lebih daripada yang dituntut. (d) Apabila mengenai suatu bagian dari tuntutan belum diputus tanpa dipertimbangkan sebab-sebabnya. (e) Apabila antara pihak-pihak yang sama mengenai suatu soal yang sama, atas dasar yang sama oleh pengadilan yang sama atau sama tingkatannya telah diberikan putusan yang bertentangan satu dengan lain. (f) Apabila dalam suatu putusan terdapat suatu kehilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata. Walaupun demikian upaya hukum peninjauan kembali (PK) bukanlah upaya hukum yang popular dikalangan masyarakat. Masyarakat belum terlalu mengerti akan upaya hukum ini, tidak seperti upaya hukum lain seperti banding atau kasasi.

BAB IV SIMPULAN DAN SARAN


Upaya hukum Peninjauan Kembali (PK) bukanlah upaya hukum yang popular dikalangan masyarakat. Masyarakat belum terlalu mengerti akan upaya hukum ini, tidak seperti upaya hukum lain seperti banding atau kasasi. Untuk mencapai upaya hukum peninjauan kembali juga diperlukan waktu yang cukup lama, yaitu kisaran tiga sampai lima tahun sejak dari pertama kali perkara didaftarkan di pengadilan negeri. Hal ini dikarenakan sebelum upaya hukum peninjauan kembali terdapat tahap tahap peradilan yaitu tingkat pengadilan negeri, pengadilan tinggi, dan kasasi. Peninjauan Kembali (PK) merupakan upaya hukum terakhir yang dapat ditempuh oleh para pihak untuk mencapai keadilan. Namun, proses yang rumit dan waktu yang lama untuk proses peradilan membuat masyarakat terkesan acuh terhadap upaya hukum ini. Seandainya sistematika peradilan di Indonesia tidak rumit seperti yang ada sekarang, penyelesaian perkara di peradilan tidak akan memakan waktu yang lama dan tidak akan memakan biaya yang besar.

DAFTAR PUSTAKA
Prof Dr. Sudikno Mertokusumo, S.H. Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1982. Prof. Dr. Soepomo, S.H., Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. Jakarta: pradnya paramita. 1993 Retnowulan Sutantio, S.H. Iskandar Oeripkartawinata S.H., Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktik, Mandar Maju, Bandung, 2002. Prof R. Subekti S.H., Hukum Acara Perdata, Binacipta, Bandung, 1977. Setiawan, Aneka Masalah Hukum dan Hukum Acara Perdata. Bandung : PT. Alumni.1992