Anda di halaman 1dari 3

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut chordee. Hipospadia terdapat pada kira-kira 1 diantara 500 bayi baru lahir. Pada kasus yang paling ringan meatus uretra bermuara pada bagian ventral glans penis, terdapat berbagai derajat malformasi glans, dan kulup zakar tidak keparahan penis berbelok ke arah ventral (chordee) dan uretra pada penis lebih pendek secara progresif, tetapi jarak antara meatus dan glans tidak dapat bertambah secara signifikan sampai khordee dikoreksi. (Nelson,ILmu Kesehatan Anak) Istilah hipospadia berasal dari bahasa Yunani, yaitu Hypo(below) dan spaden (opening). Hipospadia menyebabkan terjadinya berbagai tingkatan defisiensi uretra. Jaringan fibrosis yang menyebabkan chordee menggantikan fascia Bucksdan tunika dartos. Kulit dan preputium pada bagian ventral menjadi tipis, tidak sempurna dan membentuk kerudung dorsal di atas glans. Kelainan kongenital yang sering dijumpai pada bayi laki-laki yang baru lahir adalah hipospadia. Pada hipospadia, muara meatus uretra terletak pada permukaan ventral penis dan lebih proksimal dibandingkan lokasi meatus yang normal. Secara embriologis, hipospadia disebabkan oleh kegagalan penutupan yang sempurna pada bagian ventral lekuk uretra. Diferensiasi uretra pada penis bergantung pada androgen dihidrotestosteron (DHT). Oleh karena itu, hipospadia dapat disebabkan oleh defisiensi produksi testosteron (T), konversi T menjadi DHT yang tidak adekuat, atau defisiensi lokal pada pengenalan androgen (kekurangan jumlah atau fungsi reseptor androgen). Terdapat predisposisi genetik nonmendelian pada hipospadia. Jika salah satu saudara kandung mengalami hipospadia, risiko kejadian berulang pada keluarga kandung mengalami hipospadia, risiko kejadian berulang pada keluarga tersebutadalah 12%. Jika bapak dan anak lakilakinya terkena, maka risiko untuk anak laki-laki berikutnya adalah 25%.

Belakangan ini di beberapa negara terjadi peningkatan angka kejadian hipospadia seperti di daerah Atlantameningkat 3 sampai 5 kali lipat dari 1,1 per 1000 kelahiran pada tahun 1990 sampai tahun1993. Banyak penulis melaporkan angka kejadian hipospadia yang bervariasi berkisar antara 1 : 350 per kelahiran laki-laki. Bila ini kita asumsikan ke negara Indonesia karena Indonesia belum mempunyai data pasti berapa jumlah penderita hipospadia dan berapa angka kejadian hipospadia. Maka berdasarkan data dari Biro Pusat Statistik tahun 2000 menurut kelompok umur dan jenis kelamin usia 0 4 tahun yaitu 10.295.701 anak yang menderita hipospadia sekitar 29 ribu anak yang memerlukan penanganan repair hipospadia. Pada tahun 1960, Hinderer memperkenalkan teknik one-stage repair untuk mengurangi komplikasi dari teknik multi-stage repair. Cara ini dianggap sebagai rekonstruksi uretra yang ideal dari segi anatomi dan fungsionalnya, dari segi estetik dianggap lebih baik, komplikasi, dan mengurangi social cost.Penatalaksanaan hipospadia pada bayi dan anak dilakukan dengan prosedur pembedahan. Tujuan utama pembedahan ini adalah untuk merekontruksi penis menjadi lurus dengan meatus uretra ditempat yang normal atau dekat normal sehingga pancaran kencing arahnya kedepan. Umumnya di Indonesia banyak terjadi kasus hipospadia karena kurangnya pengetahuan paramedis saat menangani kelahiran karena seharusnya anak yang lahir itu laki-laki namun karena melihat lubang kencingnya di bawah maka di katakan anak itu perempuan. Oleh karena itu kita sebagai seorang tenanga medis harus memberikan informasi yang adekuat kepada para orang tua tentang penyakit ini. Para orang tua hendaknya menghindari faktor- faktor yang dapat menyebabkan yang dapat menyebabkan hipospadia dan mendeteksi secara dini kelainan pada anak mereka sehingga dapat dilakukan penanganan yang tepat. 1.2 Rumusan masalah 1. Apakah pengertian hipospadia ? 2. Apa sajakah klasifikasi hipospadia ? 3. Bagaimanakah etiologi dari hipospadia ? 4. Bagaimanakah tanda gejala hipospadia ? 5. Bagaimanakah patofisiologi hipospadia ? 6. Bagaimanakah penatalaksanaan hipospadia ? 7. Bagaimanakah komplikasi hipospadia ? 8. Bagaimanakah pemeriksaan penunjang hipospadia ? 9. Bagaimanakah asuhan keperawatan pada kasus hipospadia ?

1.3 Tujuan 1. Tujuan umum Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah sistem perkemihan tentang konsep dan asuhan keperawatan pada kasus hipospedia. 2. Tujuan khusus 1. untuk menjelaskan dan memahami tentang pengertian hipospadia 2. untuk menjelaskan dan memahami klasifikasi hipospadia 3. untuk menjelaskan dan memahami etiologi hipospadia 4. untuk menjelaskan dan memahami tanda gejala hipospadia 5. untuk menjelaskan dan memahami patofisiologi hipospadia 6. untuk menjelaskan dan memahami penatalaksanaan hipospadia 7. untuk menjelaskan dan memahami komplikasi hipospadia 8. untuk menjelaskan dan memahami pemeriksaan penunjang hipospadia 9. untuk menjelaskan asuhan keperawatan pada kasus hipospadia 1.4 Manfaat Terkait dengan tujuan maka makalah pembelajaran ini diharapkan dapat memberi manfaat : 1. Dari segi akademis, merupakan sumbangan bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien hipospadia 2. Dari segi praktis, makalah pembelajaran ini bermanfaat bagi : a. Bagi mahasiswa stikes hangtuah surabaya Hasil makalah pembelajaran ini dapat menjadi masukan bagi mahasiswa stikes hangtuah surabaya lainnya dalam penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien hipospadia b. Untuk penulis Hasil penulisan makalah ini dapat menjadi salah saturujukan bagi penulis berikutnya, yang akan melakukan penulisan penatalaksanaan asuhan keperawatan pada pasien hipospadia.