Anda di halaman 1dari 8

TUGAS PAPER MATA KULIAH HEAT TRANSFER

ANALISA HUBUNGAN VARIABEL DALAM PROSES REFRIGERASI

Candra Aditya Wiguna 6512010005 Konsentrasi Pengolahan Gas Program Diploma III LNG Academy, kerjasama PT Badak NGL - PNJ

Bontang 14 November 2013

Dalam analisis kali ini terdapat dua permasalahan yang akan dibahas, yang pertama adalah analisis mengenai hubungan P, T, Duty dengan mass flow. Yang kedua adalah analisis mengenai perubahan energi di unit condenser jika tekanan inlet mengalami kenaikan.

ANALISIS PERTAMA
DASAR TEORI
Untuk mensirkulasikan refrigerant dalam proses refrigerasi kompresi diperlukan kompresor unit yang berfungsi sebagai alat untuk menaikkan tekanan dari refrigerant.

Di dalam proses kompresi di dalam kompresor selain tekanan dari refrigerant yang mengalami kenaikan, temperature dan enthalpy dari refrigerant juga mengalami kenaikan.

PERMASALAHAN
Permodelan dilakukan dalam program computer HYSYSTM permodelan yang dilakukan adalah kompresor dalam siklus refrigerant. Berikut permodelan kompresor dalam program HYSYSTM:

dalam model tersebut terdapat stream 1 dan 2. Dalam menginput , kita hanya akan menginputkan variable tekanan dan temperature pada kedua stream tersebut. Sementara pada unit kompresor, kita akan menginputkan powernya:

jika kita menginputkan ketiga variable tersebut maka mass flownya otomatis terhitung oleh HYSYSTM. Mengapa bisa terjadi demikian? Hal inilah yang akan dibahas pada analisis pertama kali ini.

ANALISIS
Tiga variable yang diinputkan adalah tekanan dan temperature di kedua stream, dan power dari kompresornya. rumus yang digunakan adalah:

Dalam rumus tersebut menunjukkan hubungan antara W (work/duty/power) dengan dan (mass flow). Data W telah diketahui, sementara data belum kita ketahui. dapat dicari dengan mengetahui tekanan awal, temperature awal, tekanan akhir

dan temperature akhir. Kedua tekanan dan temperature inilah yang telah diinputkan kedalam masing masing stream. Maka, dengan menggunakan data temperature dan tekanan yang telah diinputkan, akan dicari dengan menggunakan PH diagram: Tekanan awal adalah: 500 kPa dan tekanan akhir adalah: 1500 kPa, tarik garis lurus pada kedua tekanan tersebut. Kemudian berikan titik temperature awal 298 K di tekanan 500 kPa dan temperature akhir 349 K di tekanan 1500 kPa.

Setelah itu tarik garis lurus di titik kedua temperature, jarak dari dua gari inilah yang menunjukkan

diketahui melalui jarak garis yaitu sebesar 73 kJ/kg, maka mass flow akan diketahui pula:
Setelah

25000 kJ/s = 73 kJ/kg x = 25000 kJ/s / 73 kJ/kg = 342,47 kg/s

KESIMPULAN
Dengan hanya menginputkan data temperature, dan tekanan di kedua stream. Dan juga Duty dari kompresor, maka mass flownya akan otomatis diketahui, hal ini telah terbukti dengan menggunakan rumus dan diagram PH dari propane. Maka permodelan yang dilakukan di dalam HYSYS terbukti benar.

ANALISIS KEDUA
DASAR TEORI
Dalam suatu system refrigerant terdapat empat komponen penting yang masing masing mewakili 4 proses dalam siklus refrigerant. Berikut skema siklus refrigerant:

Dalam proses kondensasi terdapat dua equipment yang mempunyai tugas berbeda tetapi tetap mempunyai satu tujuan yaitu mengubah fase refrigerant dari vapor ke liquid. Akan tetapi mengubah fase vapor ke liquid diperlukan dua proses, karena bentuk vapor refrigerant keluaran dari

kompresor dalam bentuk saturated vapor. Maka dari itu kita harus menurunkan temperaturnya sampai menjadi temperature saturated vapor dengan equipment cooler. Lalu mengubah fasenya dari saturated vapor ke saturated liquid menggunakan condenser.

PERMASALAHAN
Dari peristiwa diatas, kita bisa memodelkan di program computer HYSYSTM. Berikut permodelan yang dilakukan dalam program HYSYSTM:

Dari permodelan diatas, kita melakukan studi kasus pada proses pendinginan MCR mengguanakan refrigerant propane. jika input tekanan dari proses kondensasi bertambah, apa efek dari cooler dan condenser? Ternyata setelah melakukan studi kasus menggunakan HYSYSTM inputan tekanan yang semakin besar akan berpengaruh pada energi cooler yang semakin besar dan energi condenser yang makin kecil. Mengapa terjadi demikian? Hal inilah yang akan dibahas dalam analisis kali ini. Grafik perubahan energi condenser dan cooler terhadap tekanan:

ANALISIS
Jika kita kilas balik melihat diagram P-H dari refrigerant (yang digunakan dalam contoh kasus diatas adalah propane) kita akan mendapatkan diagram seperti berikut:

dan kita masukkan tekanan awal dan akhir dari inlet unit condenser: yaitu 1000 kPa dan 2000 kPa, lalu tarik garis lurus. Setelah itu masukkan temperature awal dan akhir dari inlet unit condenser yang sudah dikalkulasi di HYSYSTM dan hubungkan keduanya. Kemudian tarik garis lurus dari titik perpotongan antara garis tekanan dengan garis saturater liquid, lalu tarik garis lurus dari titik perpotongan garis tekanan dengan garis saturated vapor. Jarak kedua garis yang telah terbentuk ini adalah Q1 condenser. Tarik garis lurus dari perpotongan antara garis tekanan dengan garis saturated vapor, kemudian tarik garis lurus dari titik temperature yang berada di garis tekanan. Jarak kedua garis yang terbentuk ini adalah Q1 cooler.

Dengan langkah yang sama kita mencari Q2 kondenser dan Q2 cooler, maka diagram PHnya adalah:

2000 kPa 383 K

1000 kPa

343 K

Q1 Condenser Q2 Condenser

Q1 Cooler

Q2 Cooler

KESIMPULAN
Dari diagram diatas Q1 kondenser = 330 kJ/kg dan menurun menjadi Q2 kondensernya = 193 kJ/kg. sementara Q1 cooler = 92 kJ/kg naik menjadi Q2 cooler = 100 kJ/kg. Hal ini membuktikan bahwa permodelan HYSYS benar secara teori dari diagram pH, yaitu jika masukan tekanan inlet bertambah besar, maka energi cooler bertambah besar sementara energi condenser semakin kecil.