Anda di halaman 1dari 102

LAPORAN PENDAHULUAN Skizofrenia

LAPORAN PENDAHULUAN A. Konsep Dasar Skizofrenia 1. Pengertian Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997; 46). 2. Penyebab a. Keturunan Telah dibuktikan dengan penelitian bahwa angka kesakitan bagi saudara tiri 0,9-1,8 %, bagi saudara kandung 7-15 %, bagi anak dengan salah satu orang tua yang menderita Skizofrenia 40-68 %, kembar 2 telur 2-15 % dan kembar satu telur 61-86 % (Maramis, 1998; 215 ). b. Endokrin Teori ini dikemukakan berhubung dengan sering timbulnya Skizofrenia pada waktu pubertas, waktu kehamilan atau puerperium dan waktu klimakterium., tetapi teori ini tidak dapat dibuktikan. c. Metabolisme Teori ini didasarkan karena penderita Skizofrenia tampak pucat, tidak sehat, ujung extremitas agak sianosis, nafsu makan berkurang dan berat badan menurun serta pada penderita dengan stupor katatonik konsumsi zat asam menurun. Hipotesa ini masih dalam pembuktian dengan pemberian obat halusinogenik. d. Susunan saraf pusat Penyebab Skizofrenia diarahkan pada kelainan SSP yaitu pada diensefalon atau kortek otak, tetapi kelainan patologis yang ditemukan mungkin disebabkan oleh perubahan postmortem atau merupakan artefakt pada waktu membuat sediaan. e. Teori Adolf Meyer : Skizofrenia tidak disebabkan oleh penyakit badaniah sebab hingga sekarang tidak dapat ditemukan kelainan patologis anatomis atau fisiologis yang khas pada SSP tetapi Meyer mengakui bahwa suatu suatu konstitusi yang inferior atau penyakit badaniah dapat mempengaruhi timbulnya Skizofrenia. Menurut Meyer Skizofrenia merupakan suatu reaksi yang salah, suatu maladaptasi, sehingga timbul disorganisasi kepribadian dan lama kelamaan orang tersebut menjauhkan diri dari kenyataan (otisme). f. Teori Sigmund Freud Skizofrenia terdapat (1) kelemahan ego, yang dapat timbul karena penyebab psikogenik ataupun somatik (2) superego dikesampingkan sehingga tidak bertenaga lagi dan Id yamg berkuasa serta terjadi suatu regresi ke fase narsisisme dan (3) kehilangaan kapasitas untuk pemindahan (transference) sehingga terapi psikoanalitik tidak mungkin. g. Eugen Bleuler Penggunaan istilah Skizofrenia menonjolkan gejala utama penyakit ini yaitu jiwa yang terpecah belah, adanya keretakan atau disharmoni antara proses berfikir, perasaan dan

perbuatan. Bleuler membagi gejala Skizofrenia menjadi 2 kelompok yaitu gejala primer (gaangguan proses pikiran, gangguan emosi, gangguan kemauan dan otisme) gejala sekunder (waham, halusinasi dan gejala katatonik atau gangguan psikomotorik yang lain). h. Teori lain Skizofrenia sebagai suatu sindroma yang dapat disebabkan oleh bermacam-macaam sebab antara lain keturunan, pendidikan yang salah, maladaptasi, tekanan jiwa, penyakit badaniah seperti lues otak, arterosklerosis otak dan penyakit lain yang belum diketahui. i. Ringkasan Sampai sekarang belum diketahui dasar penyebab Skizofrenia. Dapat dikatakan bahwa faktor keturunan mempunyai pengaruh. Faktor yang mempercepat, yang menjadikan manifest atau faktor pencetus (presipitating factors) seperti penyakit badaniah atau stress psikologis, biasanya tidak menyebabkan Skizofrenia, walaupun pengaruhnyaa terhadap suatu penyakit Skizofrenia yang sudah ada tidak dapat disangkal.( Maramis, 1998;218 ). 3. Pembagian Skizofrenia Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala utama antara lain : a. Skizofrenia Simplek Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-lahan. b. Skizofrenia Hebefrenia Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada masa remaja atau antara 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak sekali. c. Skizofrenia Katatonia Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau stupor katatonik. d. Skizofrenia Paranoid Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan. e. Episode Skizofrenia akut Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya. f. Skizofrenia Residual Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali serangan Skizofrenia. g. Skizofrenia Skizo Afektif

Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik). Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga timbul serangan lagi. Konsep Dasar Skizofrenia Hebefrenik 1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ; 1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized). 2. Tidak terdapat wamam yang sistemik 3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol tololan. 2. Gejala Klinik Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa : - Inkoherensi yang jelas - Afek datar tak serasi atau ketolol tololan. - Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar. - Waham / halusinasi yang terpecah pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai. - Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar. - Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial. - Berbagai perilaku tanpa tujuan. Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain.

agi Anda yang belum mengenal sama sekali apa pengertian penyakit Skizofrenia

(schizophrenia), di postingan kali ini saya akan coba membagikan informasinya kepada Anda. Skizofrenia (schizophrenia) merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Saya pribadi mengartikan Skizofrenia (schizophrenia) sebagai bentuk gangguan psikotik di mana si penderitanya seringkali "memerdekakan" keyakinannya sendiri. Maksud dari kalimat "memerdekakan" keyakinan sendiri di sini adalah bahwa si penderita sering menganggap kuat tentang apa-apa yang dia nilai, dia anggap, atau dia rasakan terhadap sesuatu yang menjadi objek pikirannya --padahal, belum tentu secara faktanya bahwa penilaiannya terhadap objek yang dipikirkannya itu adalah benar--. Kalau saya kaitkan dengan istilah dari agama Islam, tak jarang pikirannya tersebut cenderung mengarah pada Su'uzhan (buruk sangka). Itulah karenanya mengapa saya menyebutnya dengan kalimat "memerdekakan" keyakinannya sendiri. Skizofrenia (schizophrenia) bisa mengenai siapa saja. Bahkan, data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan, satu persen populasi penduduk dunia menderita skizofrenia. 75% Penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang berisiko tinggi karena tahap kehidupan ini penuh stresor.

Kondisi penderita sering terlambat disadari keluarga dan lingkungannya karena dianggap sebagai bagian dari tahap penyesuaian diri. Pengenalan dan intervensi dini berupa obat dan psikososial sangat penting karena semakin lama ia tidak diobati, kemungkinan kambuh semakin sering dan resistensi terhadap upaya terapi semakin kuat. Seseorang yang mengalami gejala skizofrenia sebaiknya segera dibawa ke psikiater dan psikolog.

Scribd Upload a Document


pendahulua

Search Documents

Explore

Sign Up | Log In

/ 8

Download this Document for Free

202-

2-

-07 -

8 -

202-

202-

7 -

0-

0-

5 -

9 -

2-

LAPORAN PENDAHULUAN Skizofrenia


Download this Document for FreePrintMobileCollectionsReport Document

Info and Rating


Follow HeWry_TElmy_5199

Share & Embed More from this user


PreviousNext 1.

19 p.

1 p.

27 p.

2.

6 p.

21 p.

40 p.

3.

14 p.

23 p.

14 p.

4.

22 p.

18 p.

33 p.

5.

28 p.

30 p.

29 p.

6.

13 p.

13 p.

10 p.

7.

2 p.

2 p.

25 p.

8.

20 p.

34 p.

25 p.

9.

2 p.

Add a Comment

Upload a Document
pendahulua

Search Documents

Follow Us! scribd.com/scribd twitter.com/scribd facebook.com/scribd About Press Blog Partners Scribd 101 Web Stuff Support FAQ Developers / API Jobs Terms Copyright Privacy

Copyright 2011 Scribd Inc. Language: English

askep45,health,,,,
saya ingin berbagi,,, kepada teman2 mahasiswa, semoga bermanfaat. terimakasih.

Selasa, 18 Oktober 2011

Laporan Pendahuluan Konsep Dasar Skizofrenia


LAPORAN PENDAHULUAN A. Konsep Dasar Skizofrenia 1. Pengertian Skizofrenia adalah suatu keadaan jiwa yang terpecah belah adanya kerekatan atau disharmoni antara proses berpikir, perasaan dan perbuatan. 2. Etiologi a. Paktor keturunan Pada penelitian menunjukan bahwa keturunan juga menentukan timbulnya skizofrenia, angka kesakitan bagi saudara kandung 7 15 % anak dengan salah satu orang tua menderita 40 68 % kembar heterozigot 2-15%, kembar monozigot 61-86% b. Faktor Biologi Hal ini di kemukakan berhubungan dengan sering munculnya skizofrenia pada waktu pubertas, kehamilan atau klimakterium juga dapat disebabkan oleh gangguan metabolisme tubuh. c. Faktor Sosial Kultural Keluarga 1) Teori Adolf Meyer Skizofrenia merupakan suatu keadaan maladaprasi 2) Teort sigmound freud Skizofrenia merupakan kelemahan 90 oleh karena psikogenik atau pun Somatogenik, selain itu super ego di kesampingkan id berkuasa sehingga terjadi regresi ke fase narcisarme dan kehilangan kapastian untuk pemindahan. 3) Eligen Bleuler Memberikan istilah Skizofrenia Ischizot = penuh belah atau bercabang, phien = jiwa yaitu jiwa yang terpecah belah. Konsep Dasar Skizofrenia Hebeprenik 1. Batasan : Salah satu tipe skizofrenia yang mempunyai ciri ; 1. Inkoherensi yang jelas dan bentuk pikiran yang kacau (disorganized). 2. Tidak terdapat wamam yang sistemik 3. Efek yang datar dan tak serasi / ketolol tololan. 2. Gejala Klinik Gambaran utama skizofrenia tipe hebefrenik berupa : - Inkoherensi yang jelas - Afek datar tak serasi atau ketolol tololan. - Sering disertai tertawa kecil (gigling) atau senyum tak wajar.

- Waham / halusinasi yang terpecah pecah isi temanya tidak terorganisasi sebagai suatu kesadaran, tidak ada waham sistemik yang jelas gambaran penyerta yang sering di jumpai. - Menyertai pelangaran (mennerism) berkelakar. - Kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrem dari hubungan sosial. - Berbagai perilaku tanpa tujuan. Gambaran klinik ini di mulai dalam usia muda (15-25 th) berlangsung pelan pelan menahan tanpa remisi yang berarti peterroasi kepribadian dan sosial terjadi paling hebat di banding tipe yang lain. Konsep Dasar Gangguan arus pikiran 1. Pengertian Gangguan arus pikiran yaitu tentang cara dan lajunya proses asosiasi dalam pemikiran, 2. Jenis gangguan arus pikiran : a. Perseverasi : Berulang-ulang menceritakan suatu idea, pikiran atau tema secara berlebihan. b. Asosiasi longgar : mengatakan hal-hal yang tidak ada hubungan nya satu sama lain, umpamanya saya mau makan. Semua orang dapat berjalan Bila ekstrim, maka akan terjadi inkoheren. c. Inkoherensi : Gangguan dalam bentuk bicara, sehingga satu kalimatpun sudah sukar di tangkap atau di ikuti maksudnya. Suatu waham yang aneh mungkin diterangkan secara inkoherent. Inkoherensi itu boleh di katakan merupakan asosiasi longgar secara ekstrim. d. Kecepatan bicara : Untuk mengungkapkan pikiran mungkin lambat sekali atau cepat sekali. e. Blocking : Jalan pikiran tiba-tiba berhenti atau berhenti di tengah sebuah kalimat. f. Logores : Banyak bicara, kata-kata dikeluarkan bertubi-tubi tanpa kontrol, mungkin koherent atau inkoherent. g. Pikiran melayang (Flight of ideas) : perubahan yang mendadak lagi cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu idea yang belum selesai diceritakan sudah disususl oleh idea yang lain. h. Asosiasi bunyi : Mengucapkan perkataan yang mempunyai persamaan bunyi. i. Neologisme Membentuk kata-kata baru yang tidak ddipahami secara umum. j. IrelevansiIsi pikiran atau ucapan yang yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan atau hal yang sedang di bicarakan. k. Pikiran berputar-putar : Membicarakan hal-hal lain dulu sebelum ke pokok permasalah secara jauh. l. Main-main dengan kata-kata : Menyajak secara tidak wajar. m. Afasi : Sukar mengerti bicara orang lain atau motorik tidak dapat atau sukar berbicara.

PENGKAJIAN Pengkajian merupakan awal dan dasar utama dari proses keperawatan tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan kebutuhan atau masalah klien. Data yang dikupulkan meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Pengelompokan data pada pengakajian kesehatan jiwa dapat pula berupa faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien (stant dan sunden, 1995). Cara pengkajian lain berfokus pada 5 (lima) dimensi : fisik, emosional, intelektual, sosial dan spiritual. Isi pengkajian meliputi : 1. Identitas klien

2. Keluhan utama/alasan masuk 3. Faktor predisposisi 4. Dimensi fisik / biologis 5. Dimensi psikososial 6. Status mental 7. Kebutuhan persiapan pulang 8. Mekanisme koping 9. Masalah psikososial dan lingkungan 10. Aspek medik Data yang didapat melalui observasi atau pemeriksaan langsung di sebut data obyektif, sedangkan data yang disampaikan secara lisan oleh klien dan keluarga melalui wawancara perawatan disebut data subyektif. Dari data yang dikumpulkan, perawatan langsung merumuskan masalah keperawatan pada setiap kelompok data yang terkumpul. Umumnya sejumlah masalah klien saling berhubungan dan dapat digambarkan sebagai pohon masalah (Fasio, 1983 dan INJF, 1996). Agar penentuan pohon masalah dapat di pahami dengan jelas, penting untuk diperhatikan yang terdapat pada pohon masalah : Penyebab (kausa), masalah utama (core problem) dan effect (akibat). Masalah utama adalah priotas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki oleh klien. Umumnya masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang menyebabkan masalah utama. Akibat adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang merupakan efek / akibat dari masalah utama. Pohon masalah ini diharapkan dapat memudahkan perawat dalam menyusun diagnosa keperawatan ANALISA DATA

Masalah Keperawatan Yang kemungkinan Timbul : 1. Resiko Tinggi Mencederai diri sendiri atau lingkungan b/d Kerusakan interaksi sosial 2. Kerusakan Komunikasi verbal b/d Perubahan Proses Berfikir 3. Sidroma defisit perawatan diri b/d Intoleransi Aktifitas

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN NO DIAGNOSA KEPERAWATAN RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN 1

Resiko mencederai diri sendiri dan atau orang lain/lingkungan berhubungan dengan perubahan persepsi sensori/halusinasi

Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan proses pikir (waham).

Difisit perawatan diri berhubungan dengan koping individu tidak efektif

Tujuan Umum : Klien tidak mencederi diri sendiri dan atau orang lain / lingkungan.

Tujuan khusus : 1. Klien dapat hubungan saling percaya : a. Bina hubungan saling percaya - Salam terapeutik - Perkenalan diri - Jelaskan tujuan interaksi - Ciptakan lingkungan yang tenang - Buat kontrak yang jelas pada setiap pertemuan (topik, waktu dan tempat berbicara). b. Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya. c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati. 2. Klien dapat mengenal halusinasinya a. Lakukan kontak sering dan singkat rasional : untuk mengurangi kontak klien dengan halusinasinya. b. Obeservasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya; bicara dan tertawa tanpa stimulus, memandang kesekitarnya seolah olah ada teman bicara. c. Bantu klien untuk mengenal halusinasinya; - Bila klien menjawab ada, lanjutkan; apa yang dikatakan ? - Katakan bahwa perawat percaya klien mendengarnya. - Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti klien. - Katakan bahwa perawatan akan membantu klien. d. Diskusikan dengan klien tentang ; - Situasi yang dapat menimbulkan / tidak menimbulkan halusinasi. - Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang sore, malam atau bila sendiri atau bila jengkel / sedih). e. Diskusikan dengan klien tentang apa yang dirasakan bila terjadi halusinasi (marah / takut / sedih / senang) dan berkesempatan mengungkapkan perasaan. 3. Klien dapat mengontrol halusinasinya a. Identifikasi bersama klien cara / tindakan yang dilakukan bila terjadi halusinasi (tidur/marah/menyibukkan diri) b. Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, bila bermanfaat beri pujian. c. Diskusi cara baru untuk memutus / mengontrol timbulnya halusinasi : - Katakan saya tidak mau dengan kamu (pada halusinasi). - Menemui orang lain (perawat / teman / anggota keluarga untuk bercakap cakap . mengatakan halusinaasinya. - Membuat jadwal kegiatan sehari hari agar halusinasi tidak sempat muncul. - Meminta orang lain (perawat / teman anggota keluarga) menyapa bila tampak bicara sendiri. d. Bantu klien memilih dan melatih cara memutus / mengontrol halusinasi secara bertahap. e. Berikan kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih, evaluasi hasilnya dan pujian bila berhasil. f. Anjurkan klien untuk mengikuti terapi aktivitas kelompok (orientasi realisasi dan stimulasi

persepsi). 4. Klien dapat dukungan keluarga dalam mengotrol halusinasinya : a. Anjurkan klien memberitahu keluarga bila mengalami halusinasi. b. Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung / pada saat kunjungan rumah) - Gejala halusinasinya yang dialami klien - Cara yang dapat dilakukan klien dan ke-luarga untuk memutus halusinasi - Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi di rumah : Beri kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, berpergian bersama - Berikan informasi waktu follow up atau kapan perlu mandapat bantuan; halusinasi tak terkontrol dan resiko mencederai orang lain. 5. Klien dapat memanfaatkan obat dengan baik : a. Diskusi dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat obat. b. Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat merasakan manfaatnya. c. Anjurkan klien bicara dengan dokter / perawat tentang efek dan efek samping obat yang dirasakan. d. Diskusikan akibat berhenti obat tanpa kon-sultasi. e. Bantu klien menggunakan obat, dengan prinsip 5 (lima) benar (benar dosis, benar cara, benar waktu) Tujuan Umum : Klien dapat melakukan komunikasi verbal yang efektif Tujuan Khusus : 1. Klien dapat membina hubungan saling percaya a. Bina hubungan saling percaya dengan klien. b. Jangan membantah dan mendukung waham klien. - Katakan perawat menerima : saya menerima keyakinan anda, disertai ekspresi menerima. - Katakan perawat tidak mendukung : sadar bagi saya untuk mempercayainya disertai ekspresi ragu dan empati. - Tidak membicarakan isi waham klien. c. Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindung. - Gunakan keterbukaan dan kejujuran - Jangan tinggalkan klien sendirian - Klien diyakinkan berada di tempat aman, tidak sendirian. 2. Klien dapat mengindentifikasi kemampuan yang dimilki a. Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realitas. b. Diskusikan dengan klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis. c. Tanyakan apa yang bisa dilakukan (aktiviotas sehari hari) d. Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai waham tidak ada. 3. Klien dapat mengindentifikasi kebutuhan yang tidak terpenuhi :

a. Observasi kebutuhan klien sehari hari. b. Diskusi kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah / di RS. c. Hubungan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham. d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien (buat jadwal aktivitas klien). 4. Klien dapat berhubungan dengan realitas : a. Berbicara dengan klien dalam kontek realita (diri orang lain, tempat, waktu) b. Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok: orientasi realitas c. Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien. 5. Klien dapat dukungan keluarga : a. Gejala waham. b. Cara merawatnya. c. Lingkungan keluarga. 6. Klien dapat menggunakan obat dengan benar - Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang obat, dosis, frekuensi, efek samping obat, akibat penghentian. - Diskusikan perasaan klien setelah minum obat - Berikan obat dengan prinsip 5 tepat Tujuan Umum : Klien mampuan merawat diri sehingga penampilan diri menjadi adekuat Tujuan Khusus : 1. klien dapat mengindentifikasi kebersihan diri a. Dorong klien mengungkakan perasaan tentang keadaan dan kebersihan dirinya. b. Dengan ungkapan klien dengan penuh perhatian dan empati. c. Beri pujian atas kemapuan klien mengungkapkan perasaan tentang kebersihan dirinya. d. Diskusi dengn klien tentang arti kebersihan diri e. Diskusikan dengan klien tujuan kebersihan diri. 2. Klien mendapat dukungan keluarga dalam meningkatkan kebersihan dirinya. a. Kaji tentang tingkat pengetahuan keluarga tentang kebutuhan perawatan diri klien b. Diskusikan dengan keluarga c. Motivasi keluarga dalam berperan aktif memenuhi kebutuhan perawatan diri klien. d. Beri pujian atas tindakan positif yang telah dilakukan keluaga

LAPORANAN KASUS A. PENGKAJIAN Pada tahap pengkajian ini dilakukan wawancara langsung dengan klien dan ibu klien, serta menganalisa catatan medik dan catatan keperawatan untuk mendapatkan data, disamping mengobservasi lagsung tehadap klien. I. IDENTITAS : Nama : Rachman S. Jenis Kelamin : Laki-Laki Umur : 17 tahun Pekerjaan : Tani Alamat : Majenang Sawahan- Lamongan Agama : Islam Tanggal Pengkajian : 30 Oktober 2002 Tanggal MRS : 14 Oktober 2002 Register No : Informan : Ibu penderita DX Medis : Skizofrenia Hebefrenik Observasi II. ALASAN MRS/KELUHAN UTAMA Klian ngomel-ngomel, ketawa-ketawa sendiri, dan jalan-jalan terus atau selalu mondar-mandir tanpa tujuan hal ini sudsah berlangsung selama 6 hari, SMRS Klien tidak mau makan sudah 6 hari yang lalu dan tidak tidur sudah 3 hari yang lalu.dan klien mulai tidak mau mandi sehingga dimandikan ibunya. III. FAKTOR PREDISPOSISI : Menurut ibu klien, klien pernah dirawat di RS Jiwa Menur selama 3 hari tanggal. Dirujuk ke RSUD DR Soetomo dan dirawat di Ruang Tropik Laki selama 3 hari. Klien tidak pernah melakukan atau mengalami maupun menyaksikan penganiayaan fisik, seksual, penolakan dari lingkungan, kekerasan dalam keluarga atau tidakan kriminal. Anggota keluarga sendiri tidak ada yang mengalami gangguan jiwa hanya keluarga dari ibu yaitu bibinya pernah mengalami gangguan jiwa dan dirawat di RSJiwa Menur tapi sekarang sudah sembuh. Pengalaman klien yaitu hidup di dalam keluarga Petani dan Klien hidup bersaudarakan 4 orang semuanya sudak kawin dan klien bekerja sebagai pembantu di warung Nasi bibinya Klien pernah mendapat gejala typoid sebilan bulan yang lalu selama seminggu ditangani dengan berobat jalan. IV. PEMERIKSAAN FISIK 1. Tanda vital : TD : 150/80 mm Hg, Nadi :100 x / menit S = 38,5C, RR : 20 x / menit 2. Ukur : TB = 147 cm, BB = 43 kg 3. Berat badan turun 2 kg dibandingkan sbelum MRS. 4. Klien mengeluh badan terasa lemas, pusing dan perut merasa tidak enak dan merasa malas. V. PSIKOSOSIAL 1. Genogram

17

Keterangan = Perempuan = Laki-laki = Meninggal = Meninggal = Orang yang tinggal serumah = Klien 2. Konsep diri : a. Citra tubuh Klien tidak memberikan jawaban yang sesuai pertanyaan. b. Identitas diri Klien belum menikah Di tempat kerja klien disenangi bibinya karena rajin c. Peran Klien belum menyadari sebagai apa hanya bekerja saja d. Ideal diri Harapan klien ia bisa bekerja. e. Harga diri Klien merasa sangat kecil kalau dibandingkan dengan orang lain karena klien merasa sebagai anak orang yang tak mampu. 3. Hubungan sosial a. Orang yang terdekat adalah ibunya. b. Peran serta dalam masyarakat (menurut Ibunya). Klien sebelum sakit ikut kerja sebagai pembantu di warung tempat bibinya berjual nasi c. Hambatan dalam berhubungan klien pendiam jarang berkumpul dengan teman-temannya suka menyendiri dan sering melamun. 4. Spiritual a. Nilai dan keyakinan Klien selalu menyebut Nur,Nabi Malaikat.

b. Kegiatan ibadah Klien sebelum sakit rajin sholat setelah sakit tidak pernah sholat lagi. VI. STATUS MENTAL 1. Penampilan klien kurang rapi. 2. Pembicaraan klien : cepat dan ngelantur. 3. Aktivitas motorik : Motorik meningkat, pasien sering jalan-jalan terus atau mondar-mandir tanpa tujuan. 4. Alam perasaan : Kadang-kadang pasien menunjukkan ketegangan yang berlebihan yang terjadi secara tiba-tiba. 5. Afek : Datar 6. Interaksi selama wawancara : Kontak mata kurang. 7. Persepsi : Kadang-kadang ia mendengar adanya suara-suara disekitarnya. 8. Proses pikir : a. Bentuk pikir : Non realistis b. Arus pikir : Koheren kadang inkoheren c. Isi pikir : Phobia 9. Tingkat kesadaran : Kadang-kadang bingung 10. Memori : Gangguan daya ingat jangka pendek. 11. Tingkat konsentrasi dan berhitung : - Perhatian klien mudah berganti dan satu obyek ke obyek lain. - Tidak mampu berkonsentrasi. - Tidak mampu berhitung. 12. Kemampuan penilaian Gangguan kemampuan penilaian ringan. 13. Daya tilik diri Klien menyadari kalau dirinya sakit.

PROSES KEPERAWATAN UNTUK DX KEPERAWATAN KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL PENERAPAN PROSES KEPERAWATAAN KESEHATAN JIWA KLIEN DENGAN MASALAH UTAMA KERUSAKAN KOMUNIKASI VERBAL : BICARA MELANTUR

Gambaran Kasus. Klien Sdr R S 17 tahun, anak ke 4 dari 4 bersaudara, dari keluarga Bpk A.R dan Ibu M bertempat tinggal di Majenang Sawahan Lamongan, agama Islam. Klien masuk RS tanggal 14 10 2002, dengan keluhan utama klien sering ngomel-ngomel, melantur, dan jalan-jalan terus atau selalu mondar-mandir tanpa tujuan. Pada umur 10 tahun klien sudah mengalami penyakit tipoid.. Setelah tamat SMP klien bekerja diwarung tempat bibinya berjualan nasi. Saat bekerja di bibinya klien dapat sakit tipoid lagi berobat jalan selamam seminggu dan sembuh. (9 bulan sebelum MRS). Kebiasaan di rumah klien pendiam dan mau kerja. Satu minggu sebelum dirawat di RSJ Menur klien mgomel atau bicara melantur dan panas kemudian dari RSJ Menur Rujuk Ke RSUD Dr Soetomo dan dirawat di Ruang Tropik Laki selama 3 hari dengan dugaan tipoid kemudian di pindah ke ruang Jiwa C RSUD Dr Soetomo sejak tanggal 14 Oktober sampai sekarang Pohon Masalah

Masalah Keperawatan 1. Mencederai, risiko tinggi 2. Interaksi sosial, kerusakan 3. Gangguan komunikasi verbal 4. Sindrom defisit perawatan diri 5. Gangguan pemenuhan kebutuhan istirahat dan tidur

RENCANA KEPERAWATAN Diagnosa Keperawatan : Kerusakan interaksi sosial b/d gangguan komunikasi verbal (bicara melantur) Tujuan jangka panjang Klien mengembangkan dan menggunakan koping yang sesuai dan dapat diterima secara sosial Tujuan jangka pendek : Klien dapat berkomunikasi verbal yang efektif Intervensi Rasional Bina hubungan saling percaya

Berikan aktivitas motorik yang besar

Tidak melakukan perdebatan, perang mulut atau melakukan tawar-menawar Berikan dorongan untuk mengungkapkan masalah atau perasaannya. Bantu klien mengindentifikasi obyek dari sikap bermusuhan Diskusikan bersama klien cara-cara alternatif untuk mengatasi rasa frustasi yang paling cocok dengan gaya hidup klien. Berikan dukungan dan umpan balik positif sambil mencoba strategi-strategi baru Memfasilitasi keterbukaan dalam pengungkapan dan penyelesaian masalah Untuk mempermudah mengurangi ketegangan, meningkatkan perkemba-ngan hubungan Merusak hubungan yang terbangun, mengurangi perilaku manipulatif Menghadapi perasaan secara jujur dan mencegah pemindahan perasaan secara destruktif

Positif reinforcement mendorong semangat menggunakan perilaku pengembangan koping yang dapat diterima

Diagnosa Keperawatan : Gangguan Pola tidur b.d bicara melantur pada kondisi serangan akut Tujuan Jangka Panjang : Klien tidak mengalami gangguan tidur Tujuan jangka Pendek : Klien mampu mengikuti teknik-teknik untuk mengembangkan pola tidur setelah tiga hari perawatan Intervensi Rasional Amati pola tidur pasien, catat keadaan yang mengganggu tidur Kaji gangguan yang berhubungan dengan rasa takut dan ansietas tertentu Duduk disamping pasien sampai ia tertidur Hindarkan makanan/minuman mengandung kafein Ajarkan relaksasi sebelum tidur, lakukan aktivitas motorik/ fungsional sebelum tidur Buat/jadwalkan jam tidur rutin Masalah harus diidentifikasi sebelum diberikan bantuan seperlunya

Kehadiran orang yang dipercaya memberikan rasa nyaman

Kafein merupakan stimulan SSP yang dapat menggangu tidur Sarana relaksasi diharapkan dapat meningkatkan aktivitas tidur Tubuh memberikan reaksi menyesuaikan pada uatu siklus rutin dari istirahat dan aktivitas Diagnosa Keperawatan : Sindroma Defisit perawatan diri b.d intoleransi aktifitas Tujuan Jangka Panjang : Klien mampu membentuk hubungan sosial dengan lingkungan setelah dirumah Tujuan jangka Pendek : Klien mampu melakukan aktivitas kelompok, terapi bermain dan olahraga secara aktif setelah tiga hari perawatan Intervensi Rasional Kaji tingkat kekuatan dan kemampuan Berikan dukungan untuk mengikuti kegiatan kelompok Buat jadwal aktivitas sehari-hari bersama dengan klien

Pantau kemampuan mengembangkan aktivitas, berikan reinforcemen seperlunya Mengembangkan pola dan variasi dalam penyelenggaraan aktivitas Meningkatkan minat dan semangat untuk mengikuti kegiatan sosial dalam lingkungan rumah sakit Memberikan kesempatan pengembangan diri dengan mengacu pada kekuatan klien; memfasilitasi dorongan dari dalam individu Meningkatkan harga diri dan sekaligus mengembangkan koping IMPLEMENTASI DAN EVALUASI Tanggal 1 Nopember 2002 Dx.I Jam Implementasi Respon 10.10 Mengajak klien untuk bercakap-cakap tujuan komunikasi Mengajak klien membicarakan masalah yang dihadapi manfaat dan fungsi komunikasi Menanyakan alasan klien masuk rumah sakit Menguatkan kontrak Membuat kontrak sepihak, Klien mau bercakap-cakap, seputar pekerjaan dan gangguan tidur yang dialami Kien menolak, mengatakan tidak mau dengan tetap mempertahankan kontrak mata sambil berlalu Klien mengatakan pusing

Klien diam, bicara sendiri, Klien diam, bicara melantur Jam Evaluasi 12.40 S : Bicara melantur, tidak nyambung O: Kontak mata (+) Verbal jelas koheren, Motorik meningkat A : Hubungan saling percaya belum terbangun P : Kuatkan/prioritas bangun hubungan saling percaya

Dx.II Jam Implementasi Respon 12.10 Mengajak klien membicarakan masalah tidur yang dihadapi Mengajak klien untuk membicarakan masalah tidurnya Menguatkan kontrak Membuat kontrak sepihak, Klien mau bercakap-cakap seputar gangguan tidur yang dialami dengan bicara melantur Kien menolak, mengatakan hal-hal lain dengan tetap mempertahankan kontrak mata sambil berlalu Klien diam sejenak kemudian bicara melantur Klien diam Jam Evaluasi 12.40 S : Klien bertahan tidak tidur siang dan malam O: Kontak mata (+) Verbal jelas koheren, Motorik meningkat A : Hubungan saling percaya belum terbangun; pemecaham masalah kompleks P : Kuatkan/prioritas bangun hubungan saling percaya Pembicaraan/pemecahan masalah dilakukan pada waktu berbeda Tanggal 2 Nopember 2002 DX. III Jam Implementasi Respon 07.30

10.30 Menggali kemampuan dalam melakukan olahraga/permainan Memberikan dorongan pentingnya mengikuti kegiatan

Menrasionalkan pentingnya aktivitas; dan hubungan untuk mengatasi gangguan tidur Mengajak klien untuk bermain Membuat kontrak menentukan masalah Mengingatkan kontrak Mendiskusikan masalah

Memberikan reinforcemen Membuat kontrak baru Klien mengungkapkan kembali kemampu-annya dalam olahraga dan permainan Klien mendengarkan., tidak menyangkal

Klien menolak dengan alasan mengantuk Klien mengatakan akan bangun nanti siang Klien diam, kontak mata (+) Klien sependapat akan kondisinya dan mengatakan akan mencoba untuk melakukan latihan/olahraga esok hari Klien diam saja dan tersenyum Klien diam dan mengangguk Jam Evaluasi 10.45 S : Klien belum merespon untuk kegiatan olah raga O: -Bicara meantun , aktifitas menurun dan lemah A: Peningkatan motivasi dan pemberian reinforcemen untuk pencapaian tujuan dipertahankan P:- Gali respon setelah aktivitas - Kaji kegiatan/aktivitas yang dapat dilakukan klien sesuai kondisi RS

DX. II Jam Implementasi Respon 07.45 Menanyakan bagaimana tidurnya semalam Mngingatkan kontrak Menggali apa yang menyebab-kan klien tidak bisa tidur Merumuskan sebagai masalah Menyusun rencana untuk mengatasi masalah : menghindari kopi, coklat, minum obat sesuai anjuran, melakukan latihan relaksasi, membuat jadwal tidur dan jadwal kegiatan

Menyemangati klien untuk mulai membiasakan tidur malam selama di rumah sakit Klien mengatakan masih belum bisa tidur, tidur lelap l.k 4 jam Mengatakan tidak tahu, menyangkal memikirkan masalah tertentu Klien diam Klien mendengarkan dan tidak menyangkal penjelasan perawat

Klien menanyakan tentang relaksasi

Klien mengatakan menjawab dengan bicara melantur. Jam Evaluasi 08.00 S : O: klien tidur, tidak mengikuti kegiatan/aktivitas A: Pemahaman terhadap masalah (+) Pemahaman terhadap upaya mengatasi masalah (+). Penyesuaian terhadap dampak obat dan kondisi kurang tidur (-) P : Meningkatkan reinforcemen Meningkatkan pemahaman realitas masalah Mengontrol pelaksanaan rencana peningkatan kemampuan tidur

DX.I Jam Implementasi Respon 12.30 Mengingatkan kembali kontrak Mengajak klien membicarakan masalah yang dihadapi tentang pentingnya, manfaat dan fungsi komunikasi Mengajak klien menulis dan menggambar Membuat kontrak Klien diam dan tersenyum Kien, mengatakan dengan bicara melantur Klien mengatakan pusing dan mulai bicara melantur lagi

Klien menulis namanya sendiri dan keluarganya Klien mengatakan dengan bicara melantur, dan mengucapkan terimakasih Jam Evaluasi 12.10 S : O: Kontak mata (+) Verbal jelas koheren, Motorik menurun A : Hubungan saling percaya belum terbangun sepenuhnya P : Kuatkan/prioritas bangun hubungan saling percaya

Tanggal 4 Nopember 2002 DX.II Jam Implementasi Respon 07.15

12.00 Menanyakan bagaimana tidurnya semalam Memberikan reinforcemen terhadap peningkatan kuantitas tidur Mngingatkan kontrak

Menyemangati klien untuk mulai membiasakan tidur malam selama di rumah sakit Mengajarkan relaksasi Klien mengatakan masih belum bisa tidur, tidur lelap l.k 5 jam Klien mengatakan bisa tidur dan sudah sembuh Klien mengatakan ia berada di RS Karang Menjangan. Klien mendengarkan dan tidak menyangkal penjelasan perawat Klien berlatih melakukan relaksasi nafas dalam Jam Evaluasi 08.00 S : Klien mengatakan akan mencoba latihan nafas dalam dan olahraga hari ini O: Klien melakukan olah raga (sekitar 10 menit) dan tidur siang pukul 11.00 13.00 WIB. Sore 15.00-17.00 WIB dan malam dapat tidur A: Penyesuaian terhadap jadwal yang telah dibuat belum optimal P : Mengontrol pelaksanaan rencana peningkatan kemampuan tidur

DX.I Jam Implementasi Respon 11.00 Mengingatkan kontrak Mengajak klien berjalan-jalan di lingkungan rumah sakit

Menunjukkan kondisi lingkungan rumah sakit Melakukan sharing masalah : mengembangkan konsep rasionalisasi Membuat kesimpulan mengadakan kolaborasi untuk TX Medik Membuat reinforcemen Membuat kontrak Klien mengatakan ia mau membicarakan masalahnya Klien mengikuti perawat

Klien memperhatikan yang dibicarakan perawat Klien mulai bicara melantur lagi

Klien masih bicara melantur terus dan mau minum obat Klien masih bicara melantur terus Klien masih bicara melantur terus Jam Evaluasi 13.00 S : Klien mengungkapkan bicara Nur,Malaikat dan wali-wali O : Klien tampak mampu berbicara dengan lancar, suara mantap, kontak mata (+) A: Ego oriented-defence mechanism dan task oriented-defence mechanisme belum dikembangkan secara optimal P : Pengembangan EO-DM dan TO-DM Peningkatan Harga diri dan reinforcement

5 Nopember 2002 DX.III Jam Implementasi Respon 08.00

08.30 Mengajak klien membersihkan diri yaitu mandi Mengajak klien bermain Memberikan reinforcemen positif Menanyakan respon klien tentang aktivitas hari ini Klien mau dan mengambil sabun ,handuk sikat gigi serta handuk ke kamar mandi Klien bermain bulutangkis dan senam Klien mengatakan senang bisa ikut bermain

Klien menjawab dengan peragaan yaitu tangannya diayung ayung seperti lagi senam poco-poco. Jam Evaluasi 10.00 S : Klien mengatakan senang melakukan senam poco-poco O : Melakukan aktivitas : Mau mandi sendiri A : Reinforcement dan dukungan/pengembangan kegiatan P : - Diskusikan kegiatan lain yang dapat dilakukan klien - Rencanakan secara bersama kegiatan yang mampu dilakukan klien DX.I Jam Implementasi Respon 12.30 Mengingatkan kontrak Menganjurkan klien untuk menuliskan apasaja yang difikirkannya bila ia tidak mampu menyampaikan pada orang lain Memberikan alasan pentingnya menulis apa yang difikirkan Klien mengatakan akan mencoba setelah nanti tiba dirumah, ia ingin mencoba dan percaya bahwa cara itu baik bagiya yang memang sulit ngomong pada orang lain Mengulangi kembali ingin mencoba nanti dirumah saja Jam Evaluasi 13.00 S : Ingin mencoba menuliskan apasaja yang di fikirkannya setelah nanti dirumah O : Klien berbicara dengan tegas A : Kemungkinan Perilaku Manipulatif P : - Pengembangan kepercayaan diri - Tunjukkan pada klien pentingnya peran diri - Pengembangan EO-DM dan PO-DM Diposkan oleh el suetopoe di 09:27 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: LP Reaksi: 0 komentar:

Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda Langgan: Poskan Komentar (Atom)

askep45kesehatan.blogspot.com
el_suetopoe 30 maret 2011, in Al_bar Ketika anda melakukan kebenaran, anda akan mendapat cukup banyak teguran mulai dari orang yang berpihak kepada anda

Mengenai Saya

el suetopoe yogyakarta, yogyakarta, Indonesia seseorang yang tidak suka menyerah, bekerja keras,ceria dan humoris belajar dari kesalahan, Lihat profil lengkapku

www.babastudio.com

Web Link

Kategori
1 (1) anak (2) Fraktur (1) hukum (6) islam (5) jiwa (10) KDM (2) KMB (45) komunitas (6) KUK (7) kumpulan askep (7) kumpulan makalah (15) LP (7) Makalah Herbal (4) maternitas (2) riset (1) sop (20) sp (1) Teknologi (1) tinjauan kasus (2) umum (19) www.babastudio.com (1)

Share it http://feedburner.google.com

Follow by Email

NetworkedBlogs

Follow this blog

Statistik web

Your website value?

Pengikut News
Apple Google Microsoft Google Music Facebook Microsoft: Windows Store Lebih Luwes dari Apple Store Detikcom Dikutip detikINET dari TechCrunch, Kamis (8/12/2011), seperti Apple, Microsoft akan mengambil keuntungan sebesar 30 persen. Diklaim Microsoft, toko aplikasinya ini akan lebih luwes ketimbang App Store milik Apple. "Beberapa toko aplikasi memaksa Anda ... Artikel Terkait

Kata Bos Google, Android Kalahkan iOS Tempo Interaktif Di tengah persaingan ini, Eric Schmidt, CEO Google, dengan percaya diri mengeluarkan pernyataan panas bahwa saat ini Android telah mengalahkan OS buatan Apple tersebut. "Saat ini Android berada di depan iPhone," ujarnya saat menjadi pembicara dalam ... Artikel Terkait Ternyata Apple iOS Pun Punya "Nama Panggilan" KOMPAS.com Ternyata tak hanya Android yang punya penamaan unik tersebut, Apple iOS pun punya. Penamaan atau sebutan untuk setiap versi sistem operasi iOS besutan Apple tersebut sepertinya telah ada sejak lama, tetapi baru terungkap di Internet sekarang. ... Artikel Terkait iPad Sudah Ada Sejak Tahun 2000 Tempo Interaktif CO, Hong Kong - Sebuah pengadilan di Cina Selatan menolak gugatan pelanggaran merek yang diajukan Apple Inc. Di dalam gugatan tersebut, Apple menuding sebuah sebuah perusahaan teknologi asal Negeri Tirai Bambu itu telah menjiplak nama iPad. ... diberdayakan oleh

Hubungi Kami
Dinomor 087839875596 el.sutopoe@gmail.com <a href="http://www.shoutmix.com/?irfan45">View shoutbox</a> ShoutMix chat widget

Baris Video

baguskah blog ini.?


diberdayakan oleh Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.

Skizofrenia dikenal sebagai salah satu sindrom klinis yang paling membingungkan dan melumpuhkan. Skizofrenia juga merupakan sindrome yang dikenal paling dekat dengan istilah gila yang selama ini dikenal oleh banyak orang. Kenyataan yang ada menimbulkan pernyataan bahwa ternyata selama ini skizofrenia sangat sering menimbulkan ketakutan, kesalah pahaman, baik bagi orang di sekitar penderita dan mungkin bagi penderita sendiri. Dengan adanya konsepsi yang terusterusan salah maka tidak menutup kemungkinan nantinya skizofrenia menjadi sesuatu yang seperti virus akut yang sangat ditakuti. Sejarah juga berkata bahwa memang pada kenyataannya patologi macam skizofrenia masih jarang dikenal walaupun pada kenyataannya telah menyerang paling tidak 1% dari populasi di Amerika maupun eropa. Jelas hal ini perlu mendapatkan penyikapan yang cukup serius, baik di kalangan akademisi maupun kalangan umum. A. Pengertian: Skizofrenia adalah bentuk kegilaan dengan disintegrasi pribadi, tingkah laku emosional dan intelektual yang ambigious ( majemuk) dan terganggu secara serius, mengalami regresi atau dementiasi total pasien banyak melarikan diri dari kenyataan hidup dan berdiam dalam dunia fantasi. B. 1. Ciri-Ciri Utama Gangguan Dalam Pikiran Dan Pembicaraan Gangguan Isi Pikiran

Biasanya bentuk gangguan dalam isi pikiran ini adalah waham atau keyakinan yang salah yang menetap pada pikiran seseorang tanpa mempertimbangkan dasar yang tidak logis dan tidak adanya bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Kita bisa memberi contoh seperti John Nash yang berwaham seolah dikejar-kejar oleh agen rahasia kelompok pembebasan dari soviet. Gangguan Bentuk Pikiran Kalau orang normal biasanya cenderung memiliki pemikiran yang logis dan koheren maka berbeda lagi seorang skizofren yang berpikir secara nonorganisir dan bahkan tidak logis biasanya ditandai dengan pembicaraan yang tidak teratur, kacau, melompat dari satu topik ke topik lainnya dan tentunya pembicaraannya sulit dipahami 2. Kekurangan dalam pemusatan Perhatian Orang yang menderita gangguan skizofrenia akan kesulitan sekali untuk bisa memustkan perhatian, tanda-tandanya biasanya adalah mereka sulit untuk menyaring keluar stimulus yang tidakrelevan dan mengganggu dan tidak penting, para penderita skizofren biasanya juga sulit m,enyaring suara-suara yang mengganggu. 3. Gangguan Persepsi Mereka yang mengalami skizofrenia umumnya mengalami gangguan persepsi dan kebanyakan berupa halusinasi, mereka sering seolah mendengar suara, melihat sesuatu, mengalami,melakukan sesuatu yang pada kenyataannya hanya terjadi di realitas khayalan

mereka. 4. Gangguan Emosional Gangguan emosi dari penderita skizofrenia biasanya ditandai dengan afek yang tumpul atau, afek yang datar atau juga afek yang tidak sesuai. C. 1. 2. 3. 4. Gejala-Gejala Skizofrenia Dingin perasaanya, acuh tak acuh, tak ada reksi emosional pada orang dekatnya. Melamun dan menyendiri, menghindari pergaulan Mudah berprasangka, misal: ada orang yang sedang berbicara dan biasnya dikira Sering terjadi salah tanggapan? Terhenti pikiran. Misal: berbicara kadang-kadang

membicarakan dirinya. lupa apa yang dibicarakan, bicara satu masalah pindah ke masalah lain yang tak ada hubungannya. 5. 6. D. 1. Penderita banyak merasa putus asa dan ia merasa sebagai korban dari kejahatan Keinginan menjauhkan diri dari masyarakat, tak mau makan/ minum. Penyebab. Belum diketahui, sementara peneliti menyatakan 60 % berasal dari keluarga yang orang/ masyarakat.

pernah sakit jiwa. Jika salah satu orang tuanya pernah sakit jiwa 10 % keturunannya akan menderita, jika kedua-duanya sakit maka setengah dari anaknya akan sakit. E. 1. Macam-Macam Skizofrenia Tipe Tidak Terorganisasi

Biasanya dihubungkan dengan tipe peilaku yang kacau, pembicaraan yang tidak koheren, halusinasi yang jelas dan sering, afek yang datar atau tidak sesuai, dan waham yang tidak terorganisasi dn sering bertema tentang religi atau seks 2. Tipe Katatonik Merupakan salah satu tipe skizofrenia yang ditandai dengan hendaya yang jelas dalam perilaku motorik dan perlambatan aktivitas yang berkembang menjadi stupor namun mungkin berubah secara tiba-tiba menjadi fase agitasi. Orang dengan skizofrenia jenis ini biasanya sering memperlihatkan perangai yang aneh, mempertahankan postur yang aneh dsb 3. 1. 2. 3. Tipe Paranoid Penderita diliputi macam-macam delusi dan halusinasi yang terus menerus Emosinya pada umumnya beku dan sangat apatis. Pasien tampak lebih waras dan tidak sebanding jika dibanding dengan penderita Ciri-Ciri Scyzophrenia Paranoid: sepertimerasa iri hati, cemburu, curiga, dendam.

szhyzophrenia jenis lainnya, namun biasanya bersikap bermusuhan terhadap siapapun

juga. 4. Merasa dirinya sangat penting, besar grandeous, sering sangat fanatik religius secara berlebihan. F. 1. Pendekatan Penanganan Pendekatan Biologis

Biasanya dengan diberi obat antipsikotik/ penenang mayor. Obat ini membantu dalam mengendalika pola perilaku yang lebih mencolok pada skizofrenia dan mengurangi kebutuhan untuk perawatan rumah sakit jngka panjang, masalah lain yang ditimbulkan melalui cara ini adalah adanya berbagai efek negatif. 2. Penanganan Psikososial Dari penelitian ternyata diketahui bahwa pengobatan psikiatris dan tingkatan dosis bervariasi sesuai dengan etnik pasien, enik juga berperan dalam keterlibatan keluarga dlam penanganan skizofrenia. Dengan pembuatan tempat tinggal yang terstruktur dapat membantu pasien skizofrenia menyesuaikan diri dengan kehidupan komunitas. 3. Rehabilitasi Psikososial Orang yang mengalami skizofrenia biasanya mengalami kesulitan untuk berfungsi dalam peran-peran sosial maupun pekerjaan, berdasarkan fakta telah banyak ditemukan club yang kegiatannya berusaha untuk membantu penserita skizofrenia agar menemukan/ mendapatkan tempat di masyarakat, dan hasilnya dengan kegiatan kegiatan yang berbasis keterampilan dan lain-lain sedikit banyak telah membantu penderita skizofrenia. 4. Program Intervensi Keluarga Konflik dikeluarga dapat menumpuk stress pada penderita skizofrenia, dengan adanya Program intervensi keluarga yang dibuat oleh klinisi dengan penyesuaian yang diperlukan ternyata dapat membantu penderita skizofrenia dalam proses pengobatan. Terapi: 1. 2. TA : pada umumnya schizophrenia kemungkinannya untuk sembuh sangat kecil, Yang terpenting adalah usaha preventif berupa: Dihindari frustasi-frustasi dan bermacam-macam kesulitan psikis. Kemudian Pasien dibiasakan mengembangkan sikaphidup yang positif dan melihat hari depan Diusahakan agar pasien menjadi ekstrovert. terutama jika konfliknya sangat parah . pengobatannya dengan kuur obat-obatan.

menciptakan kontak sosial yang sehat dan baik. dengan penuh keberanian, serta menghadapi realitas dengan rasa optimis. Pada dasarnya tidak ada pendekatan penanganan tunggal yang memenuhi semua kebutuhan orang yang menderita skizofrenia. G. Contoh Kasus Dalam film yang berjudul Beautiful Mind dimana film tersebut mengisahkan kisah nyata

hidup seorang Tokoh matematika yang bernama John Nash. Dia menderita keabnormalan itu sejak dia kuliah S3 di Universitas Princeton. Sewaktu kuliah dia mempunyai teman maya yang bernama Charles Herman, Charles Herman Seolah olah nyata bagi John Nash, dia bisa di ajak berbicara bercanda, bermain, tapi hanya oleh John Nash, tidak bagi lingkungannya karena lingkungan sekitar tidak bisa melihat sosok Charles. Dalam kehidupannya John Nash dikenal sebagai orang yang jenius, bahkan dia merupakan salah satu tokoh matematika terbesar di zamannya dan dia juga berhasil mematahkan teori dinamika penggerak milik Adam Smith yang sudah dipakai kurang lebih selama 150 tahun. Tapi di balik kebrilianannya itu ternyata dia dikenal sebagai si Jenius Virginia Barat yang Misterius orang yang minim interaksi sosial, suka menyendiri, minim afeks, kaku, bahkan lebih menyukai matematika/ benda bila dibanding dengan bergaul dengan orang lain. Setelah John Nash lulus dari Princeton University dia bekerja di Laboratorium Pertahanan Wheeler kampus MIT, di sana tugasnya terlihat berhasil, prestasinya sangta bagus bahkan dia diundang ke Pentagon sampai sekitar 2X dalam 4 tahun, prestasi yang hebat saat itu, masalah yang tidak disadari bertambah lagi dengan kehadiran tokoh William Parcher yang bagi John Nash adalah orang yang mengangkatnya menjadi semacam agen rahasia yang akan menyelamatkan dunia dengan cara menganalisis berita di beberapa majalah dan surat berita dengan keahlian alaminya akan kode-kode untuk menemukan jalur rahasia dari bom yang akan di ledakkan oleh Uni Soviet.dia juga mengenal marcee keponakan dari Charles yang sudah tidak punya orang tua. Dengan kejadian ini patologi dari John semakin nampak hingga istrinya Alicia Larde menyadari kejanggalan itu dan melaporkan ke Psikiater(dr Rosen) dan akhirnya dia di rawat di rumah sakit jiwa Mac Arthur, di sana ia didiagnosis sebagai orang yang terkena psikofrenia dan mendapatkan semacam terapi yang bernama Shock terapi Insulin, semacam terapi yang akan membantu John untuk bisa membedakan antara yang nyata dan yang hanya sekedar khayalannya. Singkat cerita akhirnya John Nash bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak dan memilih untuk tidak mengakui tokoh-tokoh khayalannya tersebut dengan berbagai cara semisal diet pikira mengurangi seleranya akan pola, simbol, imajinasi mimpi dll. Dari analisa kasus di atas kami menyimpulkan bahwa skizofrenia yang diderita John Nash adalah jenis Skizofrenia Paranoid.Scyzophrenia Paranoid adalah kekalutan/ penyakit mental serius yang berupa gangguan emosional dan suasana hati yang ekstrim yang terus menerus bergerak antara gembira ria sampai pada rasa depresi, sedih putus asa. H. Kesimpulan dapat kami simpulkan bahwa sesungguhnya sampai sejauh ini skizofrenia merupakan salah satu simptom psikologi yang paling rumit penanganannya dan juga sampai sekarang penanganan skizofrenia hanya bisa sampai tataran membedakan realitas yang nyata dengan yang tidak nyata.

http://husniabdillah.multiply.com/journal/item/12/Skizofrenia?&show_interstitial=1&u =%2Fjournal%2Fitem