Anda di halaman 1dari 24

COST EFFECTIVENESS AND COST UTILITY ANALYSIS OF MULTIDISCIPLINARY CARE IN PATIENTS WITH RHEUMATOID ARTHRITIS: A RANDOMISED COMPARISON OF CLINICAL

NURSE SPECIALIST CARE, INPATIENT TEAM CARE, AND DAY PATIENT TEAM CARE
Nama anggota : 1. Afradilla N. Taufik 2. Resti Pratiwi 3. Trias Maharani 4. Vitriyanti S.U 5. Ayu Angger (1090045) (1090054) (1090080) (1090134) (1090951)

BAB I. INTRODUCTION

Penyakit rheumatoid arthritis menyebabkan kerusakan pada sendi pasien, sehingga pasien mengalami kesulitan dalam beraktivitas,. Hal ini berpengaruh juga terhadap kehidupan sosial pasien. Saat ini tersedia berbagi macam layanan kesehatan. Untuk pasien rhematoid artritis antara lain layanan spesialis perawatan klinis, Layanan rawat inap dan Layanan rawat jalan. Karena tersedianya berbagai layanan kesehatan tersebut membuat peneliti melakukan penelitian untuk menentukan pilihan mana yang lebih baik.

Telah dilakukan penelitian tentang Cost Efectiveness Analysis dan Cost Utility Analysis pada pasien Rheumatoid Artritis. Dengan membandingkan kualitas dan kuantitas hidup pasien pada layanan spesialis perawatan klinik, layanan rawat inap dan layanan rawat jalan.

Rumusan Masalah: 1. Manakah dari ketiga layanan kesehatan untuk pasien RA yang lebih efektif ? 2. Bagaimana kualitas dan kuantitas hidup pasien setelah menjalani perawatan?

BAB II. METODOLOGI

A.

Type of Analysis/ Study design

Jenis penelitian ini adalah cost effectiveness dan cost utility design penelitiannya adalah studi berbasis populasi randomised controlled trial (setiap subyek dilakukan pengukuran secara acak terkontrol). Studi ini diadakan antara bulan Desember 1996 dan Januari 1999. Metode pengambilan sampel Pasien di randomisasi dialokasikan ke clinical nurse specialist care, inpatient multidisciplinary team care,or day patient multidisciplinary team care.

Metode Penelitian Outcome:


-Diukur CEA : dengan RAQoL dalam bentuk kuisioner diberikan minggu ke 0 (sebelum treatment), minggu ke 6, 12, 26, 52,104 (setelah treatment). Range skor antara 0-30, dimana skor yang lebih rendah menunjukkan kualitas hidup yang lebih baik. -Diukur CUA : dengan QALY, metode pengukuran utiliti dengan ranting scales (TRS), time trade off (TTO), SFGD dalam bentuk kuisioner diberikan pada minggu ke 0 (sebelum treatment), minggu 6, 26, 52, 104 (setelah treatment).

B. Subjects

Subjek penelitian

Kriteria inklusi : 210 pasien dengan RA (75% perempuan, usia rata-rata 59 tahun), kriteria RA seperti yang didefinisikan oleh Amerika Rematik Association criteria 1987 , mengalami peningkatan kesulitan dalam melakukan aktivitas sehari-hari selama enam minggu.
Kriteria eksklusi : pasien RA yang memiliki komplikasi.

C. Assumptions Biaya nurse tidak dapat dipisahkan , jadi harus digabung dengan biaya kesehatan lain diperkirakan 212 (dilihat dari rata-rata kunjungan + durasi kunjungan).

Pasien

Durasi rawat inap


Tingkat keparahan penyakit Berdasarkan nursering poin

Nursering poin terdaftar setiap hari maximal 4 poin perpasien. Staf planning berdasarkan pada asumsi bahwa 1 perawat dapat memberikan perawatan untuk pasien dengan total paling banyak 6 poin perpasien.

D. Discounting Rate: Perhitungan cost menggunakan discount rate 3% per tahun dalam mata uang euro.

Sensitivity analysis dilakukan terhadap societal cost dimana perbedaan pengurangan cost secara statistik signifikan 5%.

D. Costs and Consequences Cost meliputi direct dan indirect cost Yang termasuk ke dalam direct cost : a.Pembelian obat b. Jasa tenaga kesehatan c. Home care d.Tes laboratorium e.Terapi f.Biaya makan dan transportasi untuk kesehatan

Sedangkan indirect cost tidak ada data.

BAB III. HASIL

BASELINE KARAKTERISTIK PASIEN RA

PENGUKURAN RAQOL, SF-6D, TRS, AND TTO.

EFEKTIVITAS SETELAH 2 TAHUN TERAPI

ANALISA INITIAL TREATMENT COST ANTARA PASIEN RAWAT INAP DAN PASIEN RAWAT JALAN

BIAYA DAN KONSUMSI LAYANAN KESEHATAN RATA-RATA SELAMA 2 TAHUN PERPASIEN

SOCIETAL COST PERPASIEN TIAP SEMESTER

BAB IV. DISKUSI

Dari 270 pasien yang di randomisasi terdapat 60 pasien yang tidak memenuhi kriteria, sehingga yang digunakan 210 pasien setelah follow up 2 tahun ada 26 pasien yang tidak mengembalikan kuisioner sehingga outcome yang didapat berdasarkan 184 pasien.

Selama 2 tahun periode follow up tidak ada perbedaan signifikan antara jumlah RAQoL dan juga QALYs yang berdasar SF-6D, TRS, TTO. Dari ke-4 instrumen yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup pasien dan Utility dengan metode CEA dan CUA, semua instrumen tersebut menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketiga layanan kesehatan (inpatient care, daypatient care, clinical nurse specialist).

Untuk total societal cost tidak berbeda significant antara inpatient (rawat inap) dan daypatient (rawat jalan). Societal cost per pasien lebih rendah significant pada layanan clinical nurse specialist dimana selisihnya 10.876 dengan inpatient care dan 5.324 dengan daypatient care.

Bab V. KESIMPULAN

Dibandingkan dengan inpatient dan daypatient timecare, pasien pada clinical spesialis kualitas hidupnya sama tetapi dalam hal biaya lebih rendah sehingga jika ditinjau dari sudut pandang health economic yang lebih disukai adalah clinical nurse spesialis.