Anda di halaman 1dari 8

1.

Pengertian keagenan kapal Keagenan adalah hubungan berkekuatan secara hukum yang terjadi bilamana dua pihak bersepakat membuat perjanjian dimana salah satu pihak yang dinamakan pemilik (principal) dengan syarat bahwa pemilik tetap mempunyai hak untuk mengawasi agentnya mengenai kewenangan yang direncanakan kepadanya. Dan agent kapal itu sendiri secara garis besar dikenal jenis agent kapal, yaitu : a. General Agent. b. Sub Agent atau Agent. 1. Agent umum (General agent) adalah perusahaan angkutan laut yang ditunjuk oleh perusahaan angkutan laut asing maupun perusahaan angkutan nasional,di luar negeri atau pun dalam negeri untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan kapalnya (baik kapal milik, kapal charter maupun kapal yang dioperasikannya). 2. Sub agent adalah perusahaan angkutan laut nasional yang ditunjukan oleh agent umum (General Agent) untuk melayani kepentingan kapal yang diageni oleh agent umum (General Agent) di pelabuhan tertentu Tugas keagenan kapal: 1. Tugas general agent secara garis besar ada dua jenis yakni tugas pengurusan perizinan dan tugas koordinasi. 2. Tugas sub agent atauagent secara garis besar ada dua, yaitu pelayanan kapal (ship husbandling) dan operasi keagenan (cargo operation). Pengertian general agent dan sub agent menurut keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. KM. 33 Tahun 2001

1.Pengertian keagenan kapal Keagenan adalah hubungan berkekuatan secara hukum yang terjadi bilamana dua pihak bersepakat membuat perjanjian dimana salah satu pihak yang dinamakan pemilik (principal) dengan syarat bahwa pemilik tetap mempunyai hak untuk mengawasi agentnya mengenai kewenangan yang direncanakan kepadanya. Dan agent kapal itu sendiri secara garis besar dikenal jenis agent kapal, yaitu : a. General Agent. b. Sub Agent atau Agent. 1. Agent umum (General agent) adalah perusahaan angkutan laut yang ditunjuk oleh perusahaan angkutan laut asing maupun perusahaan angkutan nasional,di luar negeri atau pun dalam negeri untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan kapalnya (baik kapal milik, kapal charter maupun kapal yang dioperasikannya).

2. Sub agent adalah perusahaan angkutan laut nasional yang ditunjukan oleh agent umum (General Agent) untuk melayani kepentingan kapal yang diageni oleh agent umum (General Agent) di pelabuhan tertentu Tugas keagenan kapal: 1. Tugas general agent secara garis besar ada dua jenis yakni tugas pengurusan perizinan dan tugas koordinasi. 2. Tugas sub agent atauagent secara garis besar ada dua, yaitu pelayanan kapal (ship husbandling) dan operasi keagenan (cargo operation). Pengertian general agent dan sub agent menurut keputusan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. KM. 33 Tahun 2001

Sertifikasi / Sertifikat Kapal


Sekian lama cuti ngepos blog ini karena kesibukan di kantor maka sesuai janji sebelumnya akan mengulas mengenai sertifikat kapal. Berikut ini merupakan jenis/macam sertifikat kapal : I. Surat Kebangsaan Kapal Sertifikat / surat ini sebagai bukti kebangsaan kapal, Ada 4 Jenis Surat Kebagsaan Kapal (hanya 3 macam yang aku ngerti) 1. Pas Perairan daratan untuk kapal-kapal yang berlayar di perairan daratan (belum pernah tau untuk yang ini). 2. Pas Kecil untuk kapal-kapal yang berlayar di perairan laut dengan tonase kotor kurang dari 7 GT. Sertifikat ini berlaku selama 1 tahun 3. Pas Tahunan untuk kapal-kapal yang berlayar di perairan laut dengan tonase kotor 7 GT s/d 174 GT. Masa berlaku sertifikat ini selama 1 Tahun, bila sertifikat masih model E / sementara masa berlakunya hanya 3 bulan. 4. Surat Laut untuk kapal-kapal yang berlayar di perairan laut dengan tonase kotor mulai 175 GT ke atas. Masa berlakunya tetap, bila masih model E / sementara, masa berlakunya hanya 3 bulan. Model E atau surat kebangsaan kapal sementara timbul karena masih ada persyaratan yang belum dipenuhi misalnya belum membuat gross akte kapal atau DU (daftar ukur) belum disyahkan dari Dirjen Perla. II. Surat Ukur Surat Ukur masa berlakunya tetap apabila DU (daftar ukur) sudah ditetapkan / disyahkan dari Dirjen Perla, apabila masih bersifat sementara maka surat ini diberikan masa berlaku selama 3 bulan. III. Sertifikat Kesempurnaan / Keselamatan

Sertifikat ini ada 2 surat sebelumnya hanya 1 surat saja yaitu sertifikat keselamatan / kesempurnaan (Seaworthiness Certificate), kedua surat itu yaitu : 1. Cargo Ship Safety Equipment Certificate, sertifikat ini terbit karena perlengkapan keselamatan dan navigasi kapal sudah memenuhi persyaratan (setelah diperiksa oleh Marine Inspector). selain itu sertifikat ini mengacu kepada sertifikat lainnya misalnya BKI, Setifikat ILR, Pemadam dll. 2. Cargo Ship Safety Construction, sertifikat ini terbit karena telah memenuhi persyaratan setelah dilakukan pemeriksaan dari Marine Inspector dari Dinas Perhubungan Laut. Bagian kapal yang diperiksa yaitu yang berhubungan dengan mesin dan instalasinya, rancang bangun kapal, persediaan / persiapan alat pemadam kebakaran dll. Sertifikat ini terbagi berdasarkan luas daerah pelayarannya yaitu 1. Kawasan Terbatas, kapal hanya boleh berlayar di areal pelabuhan saja seperti kapal pandu, kapal bunker yang hanya beroperasi di wilayah pelabuhan tertentu. 2. Kawasan Lokal, untuk daerah pelayaran ini kapal berlayar dibatasi sejauh 500 mil dari pelabuhan asal. 3. Kawasan Indonesia/Near Coastal Voyage, sesuai namanya berarti kapal dapat berlayar kemana saja asalkan masih termasuk wilayah negara Indonesia 4. Kawasan Tak Terbatas/Unrestricted Voyage, untuk daerah pelayaran ini kapal dapat berlayar kemana saja tanpa batasan. IV. SKP (Surat Keterangan Perwira) Surat ini berisi mengenai susunan perwira di kapal (Nama Perwira kapal, Jabatan beserta Ijazahnya). Apabila SKP ini memenuhi persyaratan maka masa berlakunya tetap selama tidak ada pergantian. SKP ini juga mengikuti daerah pelayaran yang tercantum di Cargo Ship Safety Construction. Semakin luas daerah jangkauan pelayarannya maka semakin tinggi pula Ijazah yang harus dimiliki ABK dalam hal ini perwiranya. Perwira Dek mengacu kepada besar GT kapal sedangkan Perwira Mesin mengacu kepada horse power mesin kapal. V. Safe Manning Certificate Sertifikat ini juga hampir mirip dengan SKP yang menjelaskan Susunan perwira kapal hanya saja Nama Perwira kapalnya tidak dicantumkan. Bila kapal berbendera Indonesia akan berlayar ke luar negeri/ocean going maka harus mempunyai sertifikat ini. Sertifikat ini tanpa masa berlaku hanya saja bila ada perubahan susunan perwira dengan Ijazah yang berbeda maka sertifikat ini harus dirubah. VI. Sertifikat Perangkat Radio Telekomunikasi Sesuai namanya sertifikat ini terbit karena Perangkat Radio di atas kapal telah memenuhi persyaratan. Perangkat Radio yang harus ada di atas kapal yaitu Radio VHF, SSB, Radar, GPS, EPIRB, SART, Radio Two way, alat komunikasi dari anjungan ke ruang mesin. Ijazah dan sertifikat yang mendukung adalah Sertifikat SIKR (Ijin stasiun radio pantai yang dikeluarkan dari Dirjen Postel) dan Ijazah Radio Perwira Dek. oke deh sigini dulu aja nanti dilanjut lagi soalnya lagi ada kerjaan nih, he..he... Diposkan oleh Kang Ewing di 02.12 1 komentar:

Selasa, 28 Agustus 2012


Inilah tugas-tugas rutin-ku (di Pelabuhan Tanjung Priok):

Selalu memeriksa validitas dari semua dokumen kapal yang aku urus / pegang Aku harus mengetahui waktu kedatangan kapal/ETA (Estimated Time Arrival), berapa banyak muatan yang akan dibongkar dan/atau dimuat, berapa lama kapal sandar didermaga/kade, kegiatan apa yang akan dilakukan kapal selama di Pelabuhan, dokumen apa yang harus divalidasi dan kapan kapal akan berangkat (ETD-Estimated Time Departure) Mempersiapkan perizinan kapal dari PELINDO, sebelum kapal tiba dipelabuhan Setelah kapal dekat pelabuhan aku langsung menuju instansi yang bernama Kepanduan/pilot station untuk booking pandu, setelah semuanya ok dan pandu pun menuju kapal, akupun langsung menuju dermaga/kade untuk mempersiapkan segala sesuatunya Setelah kapal tiba dan sandar di dermaga, seorang agen harus menemui Nakhoda untuk meminta semua dokumen kapal dan menanyakan apa yang mereka perlukan Setelah dokumen diambil lalu diserahkan ke instansi yang bernama Syahbandar (di bawah naungan ADPEL-Administrator Pelabuhan) untuk diperiksa keabsahan dan validitas dari dokumen kapal tersebut lalu dokumen tersebut disimpan di Syahbandar sampai kapal tersebut akan berangkat. Apabila kegiatan bongkar-muat telah selesai dan kapal akan diberangkatkan, tugas seorang agen adalah harus mengurus yang namanya SIB (Surat Ijin Berlayar) atau istilah asingnya disebut "Port Clearance" yang dikeluarkan/diterbitkan dari Syahbandar. Pada tahap inilah "tugas terberat" dari seorang agen karena tidak jarang permohonan SIB atau Port Clearance tidak diterbitkan/ditolak karena beberapa alasan (faktor cuaca atau kapal tidak memenuhi syarat untuk berlayar) Apabila permohonan SIB disetujui / terbit maka semua dokumen yang sebelumnya disimpan di Syahbandar maka kemudian diserahkan kembali untuk diserahkan kepada Nakhoda (dijadikan satu dengan SIB, crew list, manifest cargo) tugas selanjutnya adalah menuju ke PELINDO untuk membuat dokumen keberangkatan (yang nantinya akan berhubungan dengan kepanduan/pilot station selanjutnya aku tinggal membuat semua laporan kegiatan yang sudah dilakukan kapal tersebut juga mengumpulkan semua dokumen kapal yang telah aku urus

Ok deh segitu aja dulu, biar bacanya ngga BETE, he..he.. Nanti akan dibahas masalah sertifikat kapal, tunggu aja tulisan berikutnya :-D

Diposkan oleh Kang Ewing di 02.48 2 komentar:

Minggu, 01 Agustus 2010


Tugas Seorang Shipping Agency
Dalam tulisanku yang pertama ini aku akan mengulas Tugas sebagai staff operasional di bidang Keagenan Kapal atau istilah kerennya Shipping Agency, banyak orang yang mengira bahwa aku bekerja dibidang penjualan tiket perjalanan kapal, padahal perusahaanku adalah bergerak dibidang pengurusan perizinan dan dokumentasi kapal. Tugas lain dari pekerjaanku (selain mengurus perizinan dan dokumentasi kapal) adalah memenuhi semua kebutuhan / permintaan crew / owner kapal misalnya menyediakan/mensupply air tawar, BBM, oli, spare part kapal, peralatan navigasi juga sampai supply makanan (biasanya untuk kapal-kapal asing). Awalnya sebelum terjun sebagai staff operasional aku ditempatkan sebagai staff admnistrasi di kantor tapi karena semua staff operasional perusahaanku diberhentikan oleh kantor maka kemudian aku dipromosikan sebagai staff operasional oleh perusahaan padahal aku pada saat itu tidak mengerti sama sekali prosedur dan apa yang harus dikerjakan oleh seorang staff operasional. Tapi karena tuntutan dari perusahaan akhirnya aku jalani juga walaupun berat dan banyak mengalami hambatan namun aku beruntung karena bosku sangat sabar dan selalu mensupport aku. Yang lebih beruntung lagi pengalamanku lebih luas lagi dari teman-teman (satu profesi)seniorku dipelabuhan, dari mulai mengatasi berbagai permasalahan yang timbul sampai dengan jenis kapal yang pernah aku pegang/urus. Masing-masing jenis kapal mempunyai ciri khas tertentu dalam pengurusan dan aturannya juga ruang lingkupnya.

Berikut ini adalah jenis-jenis kapal dan peruntukannya, LCT - Landing Craft Tank Tug Boat / kapal Kapal khusus untuk mengangkut alat-alat berat mis. bulldozer, dumptruck, crane, excavator dll tapi kadang-kadang bisa muat untuk alat-alat proyek Kapal untuk menarik/menggandeng kapal lainnya (umumnya untuk

tunda

menarik kapal tongkang) kapal tidak bermesin untuk mengangkut muatan seperti batu bara, batu Tongkang split, pulp, pasir, besi konstruksi AWB kapal tanpa mesin yang didalamnya terdapat fasilitas komplit seperti Accomodation Work hotel dan diatasnya terdapat helly pad/landasan helikopter. kapal ini Barge untuk menunjang kegiatan offshore/pengeboran lepas pantai AHTS - Anchor kapal untuk mensupply kebutuhan minyak di areal rig/pengeboran. Handling Tug Kadang juga dipakai untuk menangani kegiatan darurat seperti proses Supply perbaikan kapal (ERRV - Emergency Rescue and Recovery Vessel

Dokumen Kapal SHIPPING DOCUMENT


Secara kronologis diuraikan jenis-jenis dokumen muatan kapal yang lazim digunakan dalam pengapalan muatan kapal General Cargo Carrier dan disamping itu juga akan diberikan beberapa jenis dokumen bagi pemakaian fasilitas kapal: 1. Shipping Order (S/O), yang juga disebut shipping Instruction (S/I) atau Booking Note, adalah dokumen yang menjadi sumber dari semua jenis dokumen muatan kapal niaga. Dalam dokumen Booking Note ini pengirim muatan menyatakan kehendaknya -secara tertulis- untuk mengapalkan muatan tertentu dari pelabuhan pemuatan tertentu dan ditujukkan kepelabuhan tujuan tertentu (atau yang akan ditentukan kemudian), menggunakan kapal tertentu (tepatnya: sailing tertentu). Shipping Instruction merupakan sumber pengapalan, oleh karena itu kalau S/I sudah diterima oleh agen pelayaran (accepeted by the agent) maka kedua belah pihak yaitu shipper dan carrier terikat kepada kesepakatan tersebut, yaitu pengapalan muatan. kalau shipper membatalkan pengapalannya, carrier yang bersangkutan mempunyai hak atas ganti rugi yang dinamakan dead freight. Sebaliknya kalau carrier membatalkan sailing, harus mengganti ganti rugi kepada shipper.

2. Resi Gudang, yaitu surat tanda muatan yang dikeluarkan oleh kepala gudang yang menerima muatan tersebut dari shipper. Biasanya shipper menyerahkan muatan yang akan dikapalkan itu satu dua hari sebelum saat kedatangan kapal yang bersangkutan dipelabuhan pemuatan, untuk melakukan pemuatan.

Resi Gudang dibuat dalam lembar (atau lebih, sesuai kebutuhan) menggunaan warna yang berbeda-beda; masing-masing lembar mempunyai fungsi yang berbeda sbb:

* Lembar ke-1 (asli), warna putih, sebagai surat Muat, yaitu surat penterahan muatan dari

gudang ke perwira kapal; * Lembar ke-2, kuning, sebagai mate's receipt (resi mualim) asli, setelah muatan diterima oleh mualim dan segala kondisi muatan dicatat disitu, untuk shipper; * Lembar ke-3, warna merah jambu, sebagai Tembusan Resi Mualim, diserahkan kepada agen setempat sebagai dasar pembuatan bill of Lading; * Lembar ke-4, warna hijau, untuk arsip kapal; * Lebar ke-5 dan lembat ke-6, warna putih, untuk eperluan lainnya.

Lembar-lembar kedua dan seterusnya menggunakan kertas tipis sedangkan lembar kesatu menggunakan kertas HVS. Perusahaan-perusahaan pelayaran tertentu menggunakan formulir yang merupakan satu set dari mulai S/O sampai Resi Mualim. 3. Bill of Lading (B/L), yaitu surat perjanjian pengangutan antar pengangkut dengan pengirim muatan. Dokumen ini juga disebut konosemen atau surat muatan. 4. Manifest, yaitu daftar muatan yang dimuat oleh kapal pada pelabuhan-pelabuhan muatan dan akan dibongkar dipelabuhan-pelabuhan tujuan masing-masing. Ada dua jenis manifest yang sering digunakan yaitu Cargo Manifest dan Freight Manifest (dalam hal-hal tertentu sering digabung menjadi Cargo & Freight Manifest). 5. Daftar Pembongkaran (Outturn Report), yaitu daftar yang memuat barang-barang yang dibongkar dipelabuhan tujuannya masing-masing. 6. Damaged Cargo List, yaitu daftar yang memuat muatan yang mengalami kerusakan. 7. Short & Over-landed List (Daftar kekurangan dan kelebihan Pembongkaran), yaitu daftar yang memuat barang-barang yang kurang dibongkar dan/atau kelebihan dibongkar. 8. Cargo Tracer, yaitu dokumen yang digunakan untuk melacak muatan yang kurang dibongkar dipelabuhan tujuannya dan diperkiraan terbawa ke (overcarried to) pelabuhan berikutnya atau kurang dimuat (short shipped) dari pelabuhan pemuatannya. Sehubungan dengan itu maka Cargo Tracer dikirimkan ke semua pelabuhan yang telah dan akan disinggahi oleh kapal yang bersangkutan (juga dikirimkan kepada nahkoda yang bersangkutan). 9. Survey Report (disebut juga Claim Constatering Bewijs,CCB), yaitu dokumen yang menyebutkan kerusakkan atas muatan yang dibongkar dipelabuhan tujuannya. Dewasa ini perusahaan pelayaran lebih menyukai penggunaan Survey Report karena sifat pelaporannya adalah fact finding (melaporkan kerusakkan yang ditemukan), berbeda dengan CCB yang selain mengemukakan fakta juga memberikan taksiran mengenai besarnya taksiran dan pemberian ganti rugi.

10. Delivery Report, yang disebut juga Except Bewijs (EB), yaitu laporan mengenai collie muatan yang hilang (tidak dibongkar dipelabuhan tujuannya dan tida dapat ditemukan). 11. Delivery Order (D/O) atau disebut juga surat perintah penyerahan barang atau surat penyerahan yang diberikan oleh agen perusahaan pelayaran kepada kepala gudang dimana barang disimpan, untu menyerahkan muatan yang bersangkutan kepada pembawa surat tersebut. D/O dapat dikeluarkan oleh agen kalau consignee menyerahkan B/L asli yang bersangkutan, atau kalau dokumen ini belum ada, dapat diganti dengan B/L copy yang didukung oleh garansi bank. jalesveva jayamahe thanks Read more: http://www.maritimeworld.web.id/2011/04/dokumen-kapal-shippingdocument.html#ixzz2dPa70HhV