Anda di halaman 1dari 90

PEMBESARAN UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI FARM ANUGERAH TAMBAK PERKASINDO PT.

INTRACO AGRO INDUSTRY Tbk, DELI SERDANG SUMATERA UTARA

(LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN)

DISUSUN OLEH : FAQIH AHMAD NIS. 800.3.11.378

SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI KOTAAGUNG TANGGAMUS 2013

PEMBESARAN UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI FARM ANUGERAH TAMBAK PERKASINDO PT. INTRACO AGRO INDUSTRY Tbk, DELI SERDANG SUMATERA UTARA

(LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN)

DISUSUN OLEH : FAQIH AHMAD NIS. 800.3.11.378

JURUSAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PERIKANAN SEKOLAH USAHA PERIKANAN MENENGAH NEGERI KOTAAGUNG TANGGAMUS 2013

HALAMAN PENGESAHAN

Nama NIS Jurusan Judul Laporan

: FAQIH AHMAD : N. 800.3.11.378 : Teknologi Budidaya Perikanan : PEMBESARAN UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI FARM ANUGERAH TAMBAK PERKASINDO PT. INTRACO AGRO INDUSTRY Tbk, DELI SERDANG SUMATERA UTARA Menyutujui,

Penguji I

Penguji II

Penguji III

Umidayati, S.Pi NIP. 19730302 200604 2 004

Jamal Akbar, S.St.Pi NIP. 19831009 200502 1 001

Wiwit Riana, S.Pd NIP. 19810819 200901 2 005 Guru Pembimbing

Wakasek Pengajaran

Kurman, S.Ag, M.Pd NIP. 19710704 200312 1 004 Mengesahkan, Kepala SUPM Negeri Kotaagung

Juarsa S.St.Pi NIP. 19720810 2003121 004

Ir. Agus Surachmat, M.Si NIP. 19590814 198803 1 002

KATA PENGANTAR Alhamdulillahhirobbil alamin, puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktik Kerja

Lapangan (PKL) 2 dan Alhamdulillah telah menyelesaikan Laporan Praktik Kerja Lapangan 2 yang penulis beri judul PEMBESARAN UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI FARM ANUGERAH TAMBAK

PERKASINDO PT. INTRACO AGRO INDUSTRY Tbk, DELI SERDANG SUMATERA UTARA pembuatan laporan ini merupakan pertanggung jawaban atas Praktik Kerja Lapangan 2 yang telah penulis laksanakan dari tanggal 29 Januari 2013 sampai dengan tanggal 23 Mei 2013. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak pihak yang telah membantu dan mendukung penulis sehingga dapat terselesaikannya PKL 2 dan tersusunnya laporan ini, diantaranya kepada: 1. Ayahanda dan Ibunda tercinta yang senantiasa mencurahkan kasih dan sayang serta perhatian dalam bentuk dukungan moril maupun materil. 2. Ir. Agus Surachmat. M.Si selaku Kepala Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri Kotaagung 3. Kurman S.Ag.M.Pd selaku waka pengajaran 4. Sunaryo S.Pi selaku ketua pelaksanaan PKL 2

5. Bapak Kaisar Sidabutar selaku manajer dari farm Anugerah Tambak Perkasindo 6. Juarsa S.St.Pi selaku guru pembimbing intern yang selalu memberikan dukungan serta masukan kepada penulis. 7. Teman Teman yang selalu memberikan semangat dan selalu memberikan dukungan 8. Teman - teman di farm Anugerah Tambak Perkasindo yang telah menerima dan memberikan pengalaman nyata di dunia kerja Semoga laporan ini bermanfaat dan dapat di jadikan sumber informasi bagi yang semua orang yang membaca. Penulis sangat menyadari kekurangan dalam penulisan laporan ini maka dari itu penulis

mengharapkan saran dan kritik dari pembaca yang bersifat membangun agar lebih baik di laporan selanjutnya.

Tanggamus, Juni 2013

Penulis

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Perikanan adalah suatu kegiatan perekonomian yang memanfaatkan sumber daya alam perikanan dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kesejahteraan manusia dengan mengoptimalisasikan dan memelihara produktivitas sumber daya perikanan dan kelestarian lingkungan. Salah satu komoditas perikanan Indonesia yang sampai sekarang masih menjadi primadona adalah udang. Udang merupakan salah satru sumber daya hayati laut yang tersedia hampir di seluruh perairan Indonesia dan merupakan salah satu komoditas ekspor andalan dari sub sector perikanan. Setiap tahunnya, terjadi peningkatan pangsa pasar ekspor udang ke Negara-negara tujuan ekspor seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Uni Eropa (Departemen Pertanian 1999). Setelah banyaknya serangan penyakit pada budidaya udang windu (Penaeus monodon), ada kecenderungan udang introduksi, seperti L. Vannamei, menjadi komoditas alternatif pada budidaya udang di tambak. Meskipun udang vannamei merupakan udang asli dari belahan bumi lain yaitu dari bagian barat pantai Amerika Latin, mulai dari Peru di sebelah selatan, hingga Meksiko, di sebelah utara, (Briggs, et al. 2004), udang ini dapat dibudidayakan di daerah tropis, seperti Indonesia.

Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh udang vannamei antara lain responsif terhadap pakan yang diberikan atau nafsu makan yang tinggi, lebih tahan terhadap serangan penyakit dan lingkungan yang kurang baik. Udang vannamei juga memiliki pasaran yang pesat di tingkat internasional (Ariawan, 2005). Bahkan udang ini sudah laku dijual pada saat berukuran 7,0 - 10,0 gram/ekor atau pada saat udang berumur sekitar 60 hari di tambak. Karena beberapa keunggulan yang dimiliki udang jenis L. Vannamei ini maka dibangunlah Farm Anugerah Tambak Perkasindo yang terletak di desa Sei Nagalawan, kecamatan Perbaungan, Kabupaten Deli Serdang yang merupakan cabang dari PT Itraco Agro Industry yang sebelumnya hanya memproduksi pakan sejak tahun 1996. Untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan udang maka didirikanlah Farm Anugerah Tambak Perkasindo yang akan melengkapi kebutuhan masyarakat akan udang serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, ilmu pengembangan dan pembesaran tentang udang L. vannamei ini menarik untuk di pelajari, maka penulis mengambil judul PEMBESARAN UDANG PUTIH (Litopenaeus vannamei) DI FARM ANUGERAH TAMBAK PERKASINDO PT. INTRACO AGRO INDUSTRY Tbk, DELI SERDANG SUMATERA UTARA

B. Tujuan Pelaksanaan PKL Adapun tujuan dari pelaksanaan praktik kerja lapangan 2 ini adalah : 1. Mampu melakukan pesiapan tambak yang baik 2. Mampu mempersiapkan air budidaya 3. Dapat melakukan penebaran benur yang baik 4. Dapat mengelola kualitas air tambak dengan baik 5. Menghitung serta memperkirakan pemberian pakan ke udang 6. Mampu menghitung tentang sampling udang 7. Mampu mengolah dasar tambak agar tetap terjaga

kebersihannya sebagai area bersih untuk udang 8. Mampu mengetahui tentang hama dan penyakit yang dapat menyerang udang 9. Mampu menjalankan proses biosecurity dengan baik 10. Mampu mempraktekkan secara langsung untuk masalah panen dan pascapanen pada budidaya udang 11. Mampu mengetahui alur serta managemen pemasaran atau penjualan udang hasil produksi 12. Mampu menganalisa usaha yang telah berjalan unuk mencapai keuntungan secara ekonomis 13. Mampu mempertanggung jawabkan hasil Paktik Kerja Lapangan II secara lisan dan tulisan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Klasifikasi Udang vannamei digolongkan kedalam genus Litopenaeus pada filum arthropoda, berikut klasifikasi udang vannamei menurut Boone, 1931 Kingdom Phylum Class Subclass Series Superorder Order Suborder Infraorder Superfamily Family Genus Subgenus Species : Animalia : Arthopoda : Crustacea : Malacostraca : Eumalostraca : Eucarida : Decapoda : Dendrobranchiata : Peneidae : Penaeoidea : Penaeidae : Penaeus : Litopenaeus : Litopenaeus vannamei

B. Anatomi dan Morfologi Udang vannamaei merupakan organisme akuatik asli pantai Pasifik Meksiko, Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing. Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi. Bagian kepala lainnya adalah : Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat. Sepasang sungut besar atau antena. Dua pasang sungut kecil atau antennula. Sepasang sirip kepala (Scophocerit). Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped).

Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela. Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang. Badan dan Perut (Abdomen) bagian agian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

Gambar 1. Morfologi Udang Vannamei

Anatomi

adalah bagian tubuh yang tidak dapat dilihat secara

langsung dari tampilan luarnya melainkan dengan cara membedah makhluk hidup yang ingin diketahui anatominya, anatomi makhluk hidup terdiri dari organ pernapasan , organ pencernaan, dan organ peredaran darah. Anatomi dari tubuh udang dapat dilihat pada gambar di bawah.

Gambar 2. Anatomi udang

C. Kebiasaan Hidup Udang vannamei memiliki aktifitas berganti kulit luar atau biasa

disebut moulting secara periodik. Molting juga tergantung pada umur udang saat udang masih kecil proses molting terjadi setiap hari, dengan bertambahnya umur siklus udang semakin lama diantaranya 7-20 hari sekali . Udang termasuk golongan omnivora, dan makan secara terus menerus dan aktif pada malam hari (nokturnal) sedangkan pada siang hari lebih suka membenamkan diri dalam lumpur atau ditempat yang teduh, makanan udang vannamei dihabitat aslinya bermacam macam seperti cacing, plankton, lumut, larva kerang dan bahkan dalam keadaan tertentu dapat bersifat kanibalisme.

Sifat sifat udang vannamei diantaranya adalah Nocturnal yaitu aktif pada malam hari, Diurnal atau aktif pada siang hari, Omnivora yaitu pemakan segala, Forager yang berarti gerak aktif untuk mencari makan, Detrivora atau pemakan destritus yaitu bahan organic yang di kerubuti oleh bakteri bakteri, Eury Haline udang vannamei dapat hidup di kisaran salinitas yang tinggi.

D. Habitat dan Penyebaran Udang putih yang dikenal masyarakat dengan udang vannamei ini berasal dari Perairan Amerika Tengah. Negara-negara di Amerika Tengah dan Selatan seperti Ekuador, Venezuela, Panama,Brasil, dan meksiko sudah lama membudidayakan jenis udang yang dikenal juga dengan nama pasific white shrimp ini.

(http://teknisbudidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-udang.html) Di Indonesia, udang vannamei baru dibudidayakan mulai awal tahun 2000-an dengan menunjukkan hasil yang menggembirakan. Masuknya udang vannamei ini telah menyemangati kembali usaha pertambakan Indonesia yang mengalami kegagalan budidaya akibat serangan penyakit, terutama bintik putih (white spot). White spot telah menyerang tambaktambak udang windu baik yang dikelola secara tradisional maupun intensif meskipun telah menerapkan teknologi tinggi dengan fasilitas yang lengkap. Penyebaran dan habitat asli udang vannamei dapat di lihat pada gambar di bawah ini

Gambar 3. Penyebaran Udang Vannamei

BAB III. KEADAAN UMUM

A. Potensi Wilayah PT. Anugerah Tambak Perkasindo terletak di Desa Nagalawan, Kecamatan Perbaungan , Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Luas daerah ini adalah 875 Ha yang memiliki 3 desa dengan Jarak lokasi perusahaan ini

banyak penduduk sebanyak 3100 orang.

dengan ibukota kecamatan adalah sekitar 7 km dan dari ibukota kabupaten adalah sekitar 17 km. Pencapaian lokasi perusahaan ini

dapat dilakukan dengan mudah karena adanya sarana dan prasarana jalan beraspal yang relatif bagus. Lokasi PT. Anugerah Tambak Perkasindo memiliki ketinggian tempat 1 5 meter di atas permukaan laut. PT. Anugerah Tambak Perkasindo ini berbatasan dengan: Sebelah Timur Sebelah Barat Sebelah Utara Sebelah selatan : Teluk Mengkudu ( Batas Alam / Laut ) : Pantai Cermin ( Batas Buatan ) : Selat Malaka ( Batas Alam / Laut ) : Desa Lubuk Layas ( Batas Buatan )

Lokasi perusahaan ini bersebelahan langsung dengan pantai yang menjadi sumber air laut yang menjadi media hidup untuk tumbuh dan berkembangnya L. vannamei lokasi tambak ini juga bersebelahan dengan tambak ikan nila milik perusahaan lain.

B. Saranan dan Prasarana 1. Sarana Pokok Sarana pokok yang mencakup dalam proses budidaya adalah kolam kolam budidaya berukuan luas 3.200 m dengan

ketinggian dinding 140 cm, data luas tambak yang lainnya berikut adalah data kolam yang ada di farm Anugerah Tambak Perkasindo dan luasannya :

Tabel 1. Luas kolam


Kolam budidaya A1 A2 A3 A4 A5 B1 B2 B3 B4 B5 C1 C2 C3 C4 C5 D1 D2 D3 D4 D5 F1 F2 F3 Jumlah Ukuran Luas m 5896 5896 5940 4704 2000 2500 2500 2500 2500 2500 3168 3219 3204 3420 3420 3840 3404 3367 3200 3000 3500 3100 3500 80.278

2. Sarana Penunjang yang ada di farm

Tabel 2. Sarana penunjang no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 jenis barang instalasi listrik Mess Kantor Aboratorium Genset gudang kapur gudang pakan pos jaga Bengkel ruang makan Musholla Gerobak Angkong gerobak mesin (jetor) instalasi blower instalasi air pos satpam jumlah (unit) 1 set perusahaan tiap blok 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit 1 unit tiap blok 1 unit 1 unit 1 unit tiap blok tiap blok 1 unit tiap blok tiap blok 1 unit

BAB IV. PELAKSANAAN PERAKTIK KERJA LAPANGAN

A. Waktu dan Pelaksanaan Waktu pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan II Semester IV Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri Kotaagung dengan materi

Pembesaran udang putih (Litopenaeus Vannamei) di laksanakan di lokasi PT. Anugerah Tambak Perkasindo yang berlokasi di Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Peraktik Kerja Lapangan II ini di laksanakan sejak tanggal 29 Januari 2013 sampai dengan tanggal 22 Mei 2013 . B. Cara Pengambilan Data Metode yang dilakukan pada saat pengambilan data terbagi menjadi 2 cara yaitu : 1. Data Primer Dapat diperoleh langsung dari tempatnya dengan metode Wawancara, Obserfasi, dan Partisifasi aktif a. Wawancara Wawancara adalah suatu metode yang dipergunakan untuk mengumpulkan data, dimana peneliti mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seseorang sasaran penelitian

(responden) atau berhadapan muka pada orang tersebut (face to face).

b.

Observasi Pengamatan adalah suatu prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat dan mencatat jumlah dan taraf aktivitas tertentu yang ada hubungannya dengan masalah yang diteliti. Adapun beberapa jenis pengamatan adalah sebagai berikut : - Pengamatan terlibat (Observasi Partisipatif) - Pengamatan sistematis - Observasi eksperimental

c.

Partisipasi aktif Partisifasi aktif adalah proses pengambilan data secara langsung dari lapangan pada saat pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan (PKL) II.

2. Literatur Literatur merupakan cara penggambilan data dari buku-buku dan internet yang berhubungan dengan pembesaran udang. Sebagai pembanding dengan kenyataan dilapangan atau sebagai pelengkap data dari lapangan.

C. Persiapan Lahan Persiapan lahan merupakan kegiatan mempersiapkan tambak sebagai tempat hidup dan tempat tumbuh untuk udang sebelum proses pengisian air. Kegiatan persiapan lahan di ambak dengan luas 3.200 m dengan panjang tambak 80 meter dan lebar 40 meter, dengan ketinggian dinding 1,7 meter meliputi : 1. Pembersihan Tambak dan Peralatannya Pembersihan tambak dan peralatannya merupakan suatu kegiatan yang di lakukan di tambak budidaya, treatment pond dan sistem irigasi, untuk mengeluarkan dan menseterilkan semua material yang ada di dalamnya yang akan di gunakan untuk siklus berikutnya dan pembuangan barang barang yang tidak di inginkan di dalamnya untuk di buang. Bila kondisi tambak dan peralatannya tidak bersih atau steril maka akan mengakibatkan terkontaminasinya oleh pathogen, dan berkembangnya organisme pengganngu atau sering di sebut dengan parasit misalnya hewan dari kelas crustacea. Pada saat proses pembersihan biasanya terjadi beberapa tahapan yaitu : Pengangkatan instalasi air tube (selang, batu pemberat, batu aerasi), water level, tiang kincir, ancho, secchi disk, sampan, dan kemudian di sterilisasi dengan kaporit atau deinfektan lain. Pembersihan dasar dan dinding tambak dari kotoran setelah proses panen. Dengan cara dinding dan dasar tambak di gosok

gosok dengan jaring agar lumut dan kotoran lainnya hilang kemudian langsung di semprot air menuju ke arah

pembuangan. Pemberian kaporit atau desinfektan lain ke instalasi kincir yang tidak di angkat ke bengkel. Pembersihan distribution canal dan inlet pump. Pembersihan seluruh saringan kondom (multiple screening) yang telah di gunakan pada periode produksi sebelumnya, dan di sterilisasi.

2. Perbaikan Dinding dan Dasar Tambak. Lakukan pemeriksaan keadaan dasar dan dinding tambak setelah proses pencucian. Kriteria dasar tambak yang baik adalah tidak ada cekungan kecuali di bagian central drain yang memungkinkan untuk berkumpulnya kotoran di bagian tengah pada saat proses budidaya terutama pada perlakuan terhadap dasar tambak. Kemiringan dasar tambak menuju ke outlet yang baik adalah memiliki kemiringan senilai 1%. Dan jika pada saat pengecekan dasar dan dinding tambak di temukan kondisi terpal yang sobek atau berlubang maka langsung di beri perlakuan dengan penambalan dan kemudian di jait. Cara penambalannya adalah gunting plastik linear yang sama dengan plastik yang akan di tambal sesuai ukuran lubang yang akan di tambal.

Jait sisi terpal yang sudah menutupi lubang agar tertutup semua lubangnya, kemudian beri lem agar semakin kuat melekat sehingga resiko kebocoran pun menurun, dan untuk memastikan agar kondisi terpal tambak tidak menggembung di gunakan pasir yang di masukkan kedalam karung dan yang kemudian di ikat mulutnya. Selanjutnya karung itu di letakkan di atas dari tambalan terpal (linear plastic). 3. Perbaikan Instalasi Pipa Dasar Tambak. Cek uji kelayakan terhadap instalasi pipa, cari keadaan pipa yang bocor atau pecah, tersumbat, dan berubah posisi. Perbaikan instalasi pipa dasasar tambak selesai bila semua pipa dalam keadaan baik tidak bocor, tidak tersumbat dan tersambung dengan baik. 4. Perbaikan kincir,mesin sipon, dan instalasi listrik. Pemeriksaan di laksanakn oleh mekanik di ruang bengkel, kecuali untuk perbaikan instalasi listrik dan penambahan panel listrik, perbaikan langsung di lakukan di lapangan, kriteria keadaan yang baik untuk kincir , mesin sipon dan instalasi listrik adalah jka seluruhnya dalam keadaan 100% lancar dan dapat beroperasi dengan baik.

5.

Pengeringan Pencucian

dan

Penjemuran

Ulang

Tambak

setelah

Pengeringan

dan

penjemuran

tambak

ulang

di

laksanakan pada saat kondisi tambak selesai di cuci dan di perkirakan masih terkontaminasi oleh pathogen sisa pencucian yang di khawatirkan datang dari air yang di gunakan pada saat pencucian. Pengeringan ulang akan selesai jika kondisi tambak sudah kering 100%, namun jika masih ada genangan di dasar tambak maka di beri perlakuan dengan cara penebaran kaporit 20 ppm untuk mensterilisasi kondisi air genangan itu. 6. Pembenahan dan Pemasangan Perlengkapan Tambak. Pembenahan terhadap perlengkapan tambak yang harus dalam keadaan baik di antaranya adalah : a. Benang burung (Bird Scaring Device) cek terlebih dahulu kondisi BSD yang ada, dan jika ada benang yang putus harus dig anti dengan benang baru. Dan ketinggiannya maksimal 2 meter dan jarak yang di anjurkan antar benang adalah 30 centimeter b. Pagar kepiting (Crab Protecting Device) bahan yang digunakan dalam pembuatan dan pembenahan ulang CPD dapat memanfaatkan karung pakan udang yang

mempunyai permukaan licin (bagian dalam) di buat dengan

ketinggian 30 50 centimeter dari tanah dan di tanam sedalam 20 50 centimeter ke tanah yang bertujuan untuk menghalang kepiting yang memiliki kebiasaan hidup untuk membuat lubang di tanah untuk rumah dan mencari makan. c. Kincir dan kelengkapannya pemasangan kincir berfungsi untuk menyuplai oksigen ke air melalui difusi udara yang terjadi akibat sentuhan putaran kipasan kincir yang terjadi dengan air, tujuan lainnya adalah untuk membuat arus air yang berguna pada saat pengolahan dasar tambak.

Kelengkapan dari set kincir adalah kincir , batu pondblock, stick kincir, dan instalasi listrik. Pemasangan kincir di tambak tergantung pada padat tebar udang yang sedang di budidayakan, pemasangan kincir menurut luas dan padat tebar dapat dilihat pada tabel di bawah.
Tabel 3. Jumlah kincir padat tebar (m) 80 -100 100 - 130 130 - 150 150 - 200 jumlah kincir (hp) 18 - 20 24 - 28 28 - 30 32 - 48

d. Pemasangan air tube, selain digunakan kincir sebagai penyuplai oksigen digunakan juga instalasi air tube atau biasa di sebut dengan instalasi blower. Selain mempunyai tujuan yang sama dengan penggunaan kincir , perbedaan antara kincir dan instalasi air tube adalah kincir mensuplai

oksigen secara horizontal dari permukaan, sedangkan air tube mensuplai oksigen dari dasar secara vertical. Selain itu tujuan air tube adalah meratakan floc yang berada di dasar agar tercampur secara merata ke seluruh bagian air. Bagian dari instalasi air tube diantaranya adalah mesin blower, selang dan pipa, batu aerasi, batu pemberat. e. Water level Water level adalah suatu alat ukur untuk mengukur ketinggian air yang ada di tambak agar mudah mengetahui ketinggiannya yang akan di gunakan untuk mengkalkulasi volume air di tambak, biasanya terbuat dari pipa yang di cat dengan ukuran perbedaan jarak antara garis adalah 10 centimeter. Water level di letakkan pada tempat yang memiliki dasar yang rata dan dapat terlihat secara jelas. f. Pemasangan kondom (multiple screening) Kondom (multiple screening) adalah saringan yang di letakkan pada saluran inlet dan outlet tambak yang

bertujuan untuk menyaring mikroorganisme dan kotoran kotoran yang tidak di harapkan di dalam tambak. Kondom (multiple screening) ini terdiri dari 3 lapis yang berukuran : Lapisan pertama 500 mikron yang bertujuan untuk menyaring kotoran - kotoran dan udang - udang kecil atau ikan - ikan yang tersedot oleh pompa. Lapisan kedua 250

mikron yang bertujuan untuk menyaring telur telur udang , plankton dan organisme lain yang masih bersifat planktonis. Lapisan ketiga 500 mikron yang bertujuan untuk menahan tekanan dari air tehadap 2 lapisan sebelumnya.

D. Persiapan Air Persiapan air merupakan tahap budidaya udang yang di mulai

setelah persiapan tambak selesai sampai dengan tambak siap tebar benur. Persiapan air bertujuan menyediakan air tambak yang layak dan mempunyai kualitas yang baik sesuai kriteria untuk hidup dan

berkembangnya udang. Tahap persiapan air meliputi beberapa tahapan yang diantaranya adalah : 1. Persiapan masuk air ke tambak Pada tahap ini kondisi tambak harus dalam keadaan baik konstruksi, material, dan sarana budidaya serta factor pendukung harus 100% layak untuk proses pengisian air. Prosedur pengisian air diantaranya : a.Amati ketinggian air yang berada di kolam karantina yang akan di gunakan untuk mengisi tambak, ketinggian air harus di atas angka 50 centimeter. b.Pastikan pompa masih berjalan dengan baik, sehingga dapat menyedot air dengan lancar. c.Pastikan keadaan kondom (multiple screening) dalam keadaan baik tidak ada yang berlubang atau sobek, dan pasang di saluran inlet ke kolam. 2. Proses pengisian air Dari setiap tahapan pemasukan air ke tahapan selanjutnya harus melewati saringan kondom (multiple screening). Tahap

pengisian air ke dalam tambak harus diantaranya melalui : a. Air laut

melalui beberapa tahapan

Pengambilan air dari laut sebagai media hidup udang melalui pompa. b. Sediment pond (2 kolam) Air harus diendapkan terlebih dahulu untuk memisahkan antara air dan kotoran kotoran yang tercampur pada saat penyedotan misalnya seperti pasir atau lumpur tidak ada perlakuan terhadap air di tahapan ini karena fungsiya hanya untuk mengendapkan kotoran kotoran yang terbawa bersama air laut dari pompa laut. Terdapat dua kolam pengendapan yang berukuran

Sediment pont panjang 20 meter dengan lebar 2 meter dan ketinggian 1 meter, dengan konstruksi tanah dan ada yang terbuat dari beton. c. Treatment pond (3 kolam) Pada tahap ini sterilisasi air dengan menggunakan makhluk hidup seperti ikan bandeng dan ikan nila. Terdapat 3 kolam treatment pond yang di antaranya kolam treatment 1 dan 2 berukuran p x l , dengan panjang 80 meter dan lebar 40 meter dan ketinggian 1 meter, serta terbuat dari tanah.

d. Quarantine pond (3 kolam) Pada tahap ini air di karantina terlebih dahulu sebelum masuk ke tahapan selanjutnya. Perlakuan terhadap air di kolam karantina dengan pemberian bestacyd 1 ppm dan kapur aktif 1,7 ppm. Konstruksi kolam karantina terbuat terbuat dari tanah, dengan luas 3.200 m dengan panjang kolam 80 meter dan lebar 40 meter dengan ketinggian optimal 130 cm 80 m
Quarantine 1 40 m

Quarantine 2

40 m

40 m

Quarantine 3

Gambar 4. Kolam Karantina

e. Sediment culture ( 1 kolam ) Sediment culture berfungsi sebagai kolam pengendapan

sebelum air masuk ke tahapan culture pond atau kolam budidaya. Sediment culture terbuat dari beton dengan panjang 200 meter dan lebar 3 meter dengan ketiggian tanggul 2 meter, yang memasok kebutuhan air untuk 1 modulbase yaitu 3 blok, dengan 13 petakan tambak. Tidak ada perlakuan khusus menggunakan bahan bahan kimia pada sediment culture. f. Culture pond ( kolam budidaya ) Proses pemasukan air dari sediment culture ke culture pond melalui pompa yang melalui main inlet yang sudah terpasang saringan kondom (multiple screening). Proses pengisian air biasanya tergantung pada ukuran kolam yang akan di isi. Untuk ukuran kolam 4000 m2 5000 m2 pengisian berlangsung selama 3 hari 2 malam secara nonstop pompa berjalan.

3. Desinfeksi air Desinfeksi adalah aktivitas untuk membunuh carrier

(pembawa virus) dan predator dengan menggunakan dsinfektan, meliputi desinfeksi air di inlet , tereatment pond, dan culture pond. Bahan bahan yang biasanya di gunakan dalam deinfeksi air adalah bestacyd, samponen, CuSo4.

Alur kerja desinfeksi air


Masuk air ( 120-150 cm)

Tebar CuSo4

Sterilisasi bestacyd 0,75-1,5 ppm Proses aging selama 3 hari

Pembentukan air

Sterilisasi saponin 2025 ppm

Bioessay

Tebar benur

a. Penebaran CuSo4 CuSo4 adalah bahan kimia yang digunakan untuk

membunuh hewan bercangkang keras misalnya seperti siput, kerang, teritip dan hewan karang karangan lainnya.

Gambar 5. CuSo4

Penghitungan kuprisulfat :

Dosis

alkalitas total 100 + 0,5 ppm

= = 1,2 ppm

120 100,5

CuSo4

L. Tambak x T. Air x 1,7 ppm 1000

3.200 m x 1,2 m x 1,2 ppm 1000

= =

4.608 1000

4,6 liter

Jadi CuSo4 yang di tebar pada kolam dengan luas 2.500 m, dan tinggi air 120 cm adalah sebanyak 3,6 liter

b. Sterilisasi Bestacyd atau Crustacide Bestacyd atau Crustacyd adalah larutan yang di gunakan untuk membunuh hewan ber sel darah merah . Aplikasinya ke tambak adalah dengan cara mencampurkan larutan bestacyd dengan air kolam sebelum di tebar ke kolam. Dosis untuk bestacyd adalah 0,75 1,5 ppm.

Gambar 6. Bestacyd/Crustacyd

Sifat-sifat Bestacyd atau Crustacide (bahan aktif : trichlorfon) 1) Mekanisme kerjanya menghambat enzim cholinesterase 2) Daya racun terhadap palaemon spp meningkat dengan menaiknya suhu, pH dan alkalinitas. 3) Tetap efektif pada kisaran salinitas yang luas 4) Tidak ada pengaruh terhadap phytoplankton sampai

konsentrasi diatas 10 ppm 5) Menurunkan zooplankton tetapi tidak ada pengaruh terhadap rotifera dan copepod

6) Tidak

ada

pengaruh

terhadap

keong

sampai

dengan

konsentrasi > 1 ppm 7) Pada konsentrasi 0,1 0,5 ppm pada suhu 27 C, residu akan hilang setelah 5 6 hari

c. Masa Aging adalah proses mendiamkan air di dalam tambak, dilakukan selama 3 hari, dengan tujuan untuk membunuh Free Living Virus/ virus yang hidup bebas yang ada dalam air. Bila dalam 3 hari tersebut, FLV tidak bisa menemukan sel inang, maka FLV tersebut akan mati.

d. Sterilisasi Saponin Siapkan shaponin/ Tea Seed Meal (TSM) dengan dosis 2025 ppm dengan salinitas >15 ppt dan jika salinitas <15 ppt maka dosis nya <25 ppm aplikasi samponen dilakukan 3 hari setelah aplikasi desinfektan. Rendam TSM selama 8 jam sebelum digunakan kemudian tebar TSM secara merata ke seluruh tambak dan dilakukan pada sore hari.

Gambar 7. Saponin

Gambar 8. Penebaran Saponin

e. Pembentukan air Tahapan pembentukan air diantaranya adalah : Pemupukan dapat menggunakan pupuk jenis TSP , UREA , atau KCL. TSP : 0,1 ppm

UREA : 0,5 1 ppm

Fermentasi, biasanya dalam fermentasi terdapat atau terbuat dari bahan bahan seperti dedak, pakan sisa, BKK, MSG. Komposisi fermentasi Dedak MSG Mauripan Aquabak Molase Air tawar : 10 kg : 50 gram : 50 gram : 50 gram : 10 kg : 200 liter

Pengapuran, terdapat beberapa jenis kapur yang dapat di gunakan misalnya seperti Kaptan, Dolomit, HDL (Hydrat Lime), dan QL (Quick Lime) atau kapur api Dolomite : 10 kg x 5

f. Bioessay Tahapan untuk mengetahui prosentase kehidupan (SR) dari benur yang akan ditebar setelah dilakukan sterilisasi/

desinfektan. Yang bertujuan untuk mengetahui apakah air tambak yang digunakan sebagai media hidup udang telah bebas dari residu (desinfektan). Jika SR benur 100 %, maka tambak siap untuk tebar benur.

E. Penebaran Benur Penebaran benur merupakan proses memasukkan benur

kedalam tambak yang didahului dengan proses aklimatisasi. Hari penebaran benur dihitung sebagai awal budidaya atau DOC 1 . penebaran benur di lakukan 14 21 hari setelah pelaksanaan desinfeksi dan air tambak sudah terbebas dari residu sisa desinfektan. Penebaran benur dengan luas kolam 3.200 m dengan ukuran panjang 80 meter dan lebar 40 meter di tebar benur sebanyak 460.000 ekor dan kepadatan 144 ekor/m , penebaran dilakukan pada pagi hari dengan stadia penebaran PL 9 12. 1. Uji Kualitas Benur a. Uji Laboratorium Pengujian benur di laboratorium meliputi pemeriksaan kualitas benur secara mikroskopik, uji stress (formalin/fresh water) , uji keseragaman dan menguji kualitas air di dalam kantong benur. Tebar benur untuk tambak dengan luas 2.500 m sebanyak 275.400 ekor dengan kepadatan 110 ekor/m, penebaran benur pada stadia PL 9 12, dan dilakukan pada pagi hari.

Kriteria kualitas benur yang baik ( berdasarkan uji laboratorium) : 1) Body length 2) Size Variation (Deviation Standard) 3) Luminescent Bacteria 4) GMR 5) Endoparacyte 6) Ectoparacyte 7) Deformity / Necrosis 8) Formalin / Freshwater test 9) PCR test ( WSSV, IHHNV, TSV ) : 10 mm : <1 : ZERO : 1:4 : ZERO : ZERO : ZERO : > 95% : NEGATIVE

b. Uji benur lapangan Pengujian benur di lapangan meliputi : 1) Pengamatan Visual Pigment / Warna Keseragaman Aktivitas berenang Bentuk tubuh : Tajam , Keling : Uniform : Aktif, menyebar : Padat, Feeding Rate (FR) full

2) Penghitungan jumlah benur 3) Pengamatan Mortality benur

Ambil sampel kantong benur kemudian tuang benur dari kantongnya kedalam baskom berwarna putih angkat aerasi dan putar air di baskom lalu amati kondisi benur angkat benur yang menggumpal atau lemah kedalam baskom yang lebih kecil dan di aerasi dan hitung benur yang sehat. Lakukan proses seleksi sekali lagi untuk benur yang

menggumpal atau lemah, dengan menyiponnya kembali setelah airnya diputar. Hitung benur yang sehat dan lemah atau mati. Benur yang lemah dan mati harus dihitung untuk mengetahui jumlah kematian benur akibat transportasi.

c. Penebaran Benur Tahap penebaran benur meliputi penghitungan antong benur, pengecekan ulang kondisi kantong dan benur tiap kantong sebelum masuk ke tambak, pengangkutan kantong ke tambak, aklimatisasi suhu dan salinitas serta pelepasan benur ke tambak. 1) Penghitungan kantong benur Hitung jumlah kantong benur yang diturunkan ke tambak, sesuaikan jumlah kantong benur dengan data pengiriman yang di bawa oleh mobil distribusi. 2) Pemeriksaan packing dan kondisi benur

Cek ulang kondisi kantong dan benur untuk memastikan tidak terjadi penurunan kualitas akibatproses distribusi. Kondisi yang diinginkan adalah kantong dan benur tetap dalam kondisi baik. Pisahkan antara kantong packing yang sesuai atau baik dengan kondisi packing yang bocor dan keadaan benur yang

menggumpal. 3) Pengangkutan benur ke tambak Angkat dan bawa seluruh kantong benur yang dalam kondisi baik dan sesuai kriteria penebaran benur. Masukkan kantong benur ke salah satu sisi tambak yang sudah di beri pembatas agar kantong benur tidak terbawa arus. Operasikan semua kincir agar DO tetap tinggi kecuali pada sisi yang mengarah ke kantong benur. 4) Aklimatisasi dan pelepasan benur Aplikasi konvensional : biarkan kantong kantong benur terapung dan disirami air tambak maksimum selama 15 menit untuk aklimatisasi suhu. Selama aklimatisasi suhu ini kantong benur tetap dalam kondisi tertutup. Kriteria suhu di dalam dan di luar kantong packing yang sama adalah sampai kantong packing berembun.

F. Pengelolaan Kualitas Air Pengelolaan Kualitas air pada dasarnya adalah pengelolaan parameter kualitas air harian agar selalu berada dalam kisaran optimal yang di butuhkan dalam budidaya udang . Hal ini sangat penting untuk mencegahudang mengalami stress yang dapat mempertinggi resiko udang terserang berbagai penyakit. 1. Parameter Kualitas Air Parameter kualitas air yang harus di kelola dengan baik diantaranya adalah : a. Transparansi atau kecerahan Merupakan pencerminan dari jens dan kepadatan plankton yang ada di tambak, kecerahan di ukur dengan menggunakan secchi disk. Kecerahan ideal di tambak mencapai angka 50 60 centimeter untuk ketinggian air 130 centimeter. b. pH ( potential Hydrogen / derajat keasaman ) Dalam budidaya udang kita menginginkan agar nilai pH perairan tambak adalah sama atau mendekati sama dengan nilai pH tubuh udang. Hal ini bertujuan agar udang tidak stress dalam

menyesuaikan pH tubuh udang dengan lingkungan dan tempat hidupnya. Kisaran pH yang harus di jaga berkisar antara 7,5 8,5. Jika pH berada di bawah angka optimal maka di lakukan tindak lanjut dengan penebaran kapur, dan jika pH terlalu tinggi maka di lakukan pemberian saponin aktif.

Pengecekkan pH di lakukan pada pagi, siang dan malam hari.

Gambar 9 . Fluktuasi pH harian

c. DO ( Dissolved Oxygen / Oksigen terlarut ) DO merupakan faktor Kualitas Air tambak yang berinteraksi langsung dengan udang sebagai kebutuhan respirasi udang. DO berasal dari difusi air, DO pada pagi hari di satndardkan harus diatas nilai 4 ppm dan di siang harinya kisaran antara 6 8 ppm d. Salinity ( kadar garam ) Kadar garam yang optimal untuk kehidupan udang berkisar antara 15 30 ppt. Hal yang dapat kita lakukan jika kadar garam perairan tambak terlalu tinggi adalah dengan lebih sering mengganti air tambak, sehingga kesegaran air akan lebih terjaga.

e. Suhu Suhu perairan sangat berpengaruh terhadap suhu tubuh udang yang bersifat poikilothermal atau suhu tubuh udang mengikuti suhu lingkungannya, yang artinya jika suhu lingkungan meningkat maka suhu tubuh udang akan meningkat juga yang akibatnya aktifitas dan metabolisme tubuh udang akan meningkat. Suhu yang baik adalah berkisar antara 29 31 C. f. Total Ammoniak Nitrogen ( TAN ) Pengukuran TAN bertujuan untuk mengetahui kandungan ammoniak dalam tambak sebagai sisa hasil metabolisme udang, plankton mati, input bahan organik dan sisa pakan yang tidak terurai. Jika kadar TAN tinggi maka dilakukan penyiphonan. g. Alkalinitas Alkalinitas adalah jumlah basa yang terdapat dalam air. Alkalinitas berfungsi sebagai penyangga perubahan pH karena penambahan asam, tanpa menurunkan pH. Standard nilai alkalinitas dalam perairan tambak adalah 100 ppm. Jika air tambak mempunyai nilai alkalinitas dibawah standard, maka lakukan adalah aplikasi kapur, bakteri pengurai dan penambahan gas CO2. Jika alkalinitas berada dibawah standard yang ditentukan, maka tidak ada lagi unsur yang dapat menyangga perubahan pH. Dengan demikian maka fluktuasi pH pagi dan siang akan menjadi tinggi. Nilai maksimal dari fluktuasi pH adalah 0,5 , jika fluktuasi lebih dari itu maka udang akan

kehabisan energy dalam menyeimbangkan nilai pH tubuh dengan nilai pH lingkungan. Udang akan stress, pertumbuhan lambat, bahkan mengalami kematian. h. Total Vibrio Count (TVC) Keberadaan bakteri Vibrio dalam perairan tambak, dibedakan menjadi dua koloni yaitu koloni hijau (Green colony) dan koloni kuning (yellow colony). Jika kandungan TVC melebihi standard perlakuan yang dilakukan adalah treatment air,diantaranya dengan menambahkan probiotic ke perairan tambak. Bahaya terbesar dari tingginya kandungan TVC perairan adalah terinveksinya

hepatopancreas dan haemolymph udang oleh bakteri vibrio.jika hepatopancreas terinfeksi, maka sel-sel yang ada akan mengalami pembengkakan dan lemak yang ada menjadi berkurang atau hilang. Kondisi ini akan membuat udang tidak mau makan. Jika

haemolymph yan terinfeksi, maka bakteri vibrio akan menjalar keseluruh tubuh. Dengan terinfeksinya hepatopancreas dan

haemolymph maka udang akan menjadi tidak mau makan, tidak bisa molting, dan akhirnya mati

G. Pengelolaan Pakan Udang termasuk jenis hewan pemakan terus menerus . prinsip pemberian pakan ke udang menggunakan prinsip lebih baik kurang sedikit dari pada lebih sedikit , karena sangat mempengaruhi kualitas airnya. Pakan merupakan cost terbesar dalam budidaya udang (50-70%) Penggunaan pakan yang bermutu akan meningkatkan produksi dan keuntungan. Kecukupan nutrien dalam pakan sangat tergantung dari jumlah serta kualitas dari, formula, proses pembuatan, kondisi kemasan serta manajemen pakan yang digunakan.

Tabel 4 . Jenis dan Ukuran Pakan

jenis dan ukuran pakan berat udang (gram) 0,1 1 12 35 58 8 12 12 harvest 12 harvest feeding code 850 851 852 852s 853 854 855 jenis pakan fine crumble fine crumble coarse crumble coarse crumble Starter Finisher Finisher Ukuran 0,4 - 0,7 mm 0,4 - 0,7 mm 0,7 - 1,2 mm 0,7 - 1,2 mm D : 1,8 mm L : 2 - 3 mm D : 2,2 mm L : 8,0 mm D : 2,4 mm L : 8,0 mm

Gambar 10 . sampel pakan

1. Penyimpanan pakan a. Kondisi Gudang kering, tidak lembab dan ventilasi cukup b. Aman dari gangguan binatang (ayam, tikus, dll) perusak pakan c. Terlindung dari cahaya matahari d. Tidak dicampur dengan Bahan Kimia e. Harus memakai alas atau landasan f. Penumpukan tidak melebihi dari 10 sak g. Cukup tempat untuk melakukan penimbangan pakan h. Memakai konsep FIFO (First In First Out) dalam penyimpanan i. Lama penyimpanan maksimum satu bulan j. Pakan kembali ditutup setelah digunakan sebagian k. Kebersihan selalu terjaga

Pakan tidak di berikan pada saat saat tertentu seperti udang mengambang di permukaan air , dan suhu yang rendah yang di akibatkan hujan. Pada saat penebaran pakan kincir tetap di operasikan 100 %.

Gambar 11. Penebaran Pakan

2. Pakan di ancho Ancho merupakan alat yang di sebut sebagai jendela petambak untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan udang udangnya secara langsung. Ancho di pakai untuk mengetahui kemampuan makan udang , kesehatan , berdasarkan kotoran yang ada di ancho dan udang yang terangkat di ancho.

Pemberian pakan di ancho di lakukan setelah penebaran pakan ke tambak selesai. Pakan di tebar secara merata ke ancho.

Gambar 12. Pakan pada ancho

Ketika meletakkan ancho ke dalam tambak harus secara perlahan lahan. Posisi ancho di dasar tambak harus dalam keadaan datar dan tidak miring. Jika posisi ancho miring akan berpengaruh terhadap kebenaran informasi nafsu makan udang, karena pakan yang di tebar tadi akan berkumpul di satu sisi ancho.

Tabel 5 . skoring ancho

skor 0 1 2 3 4

skoring ancho Keterangan Perlakuan Habis ditambah 5% Butiran ditetapkan posisi pakan semula sisa 25% dikurangi 10% sisa 50% dikurangi 25% tak di sentuh dikurangi 50%

Tabel 6. Pemberian pakan pada ancho

MBW (gram) 23 58 8 10 10 12 12 harvest

% ancho 0,50% 0,80% 1% 1,20% 1,50%

Jam Cek 2 2 1,5 1,5 1,5

3. Pakan buta (Blind feeding) Pada awal proses budidaya kebutuhan pakan udang belum dapat di hitung secara akurat, maka pemberian pakan pada awal budidaya ini yaitu dari udang berumur 0 35 hari setidaknya sampai sampling pertama menggunakan sistem pakan buta atau blind feeding, pemberian pakan pada tahap ini berdasarkan estimasi penurunan SR, estimasi ABW dan FR, serta kecukupan pakan alami yag berupa plankton yang dapat di ketahui degan melihat kecerahan di air tambak. Sedangkan cara pemberian pakan pada stadia blind feeding berbeda dengan cara penebaran pakan pada umumnya di karenakan bentuk pakan masih halus, dan daerah tebarannya pun berbeda, karena udang masih kecil yang memiliki kebiasaan berenang di daerah pinggiran tambak sehingga daerah penebaran pakan berada di zona 2 3 meter dari dinding tambak. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar.

Gambar 13. area tebaran pakan blind feeding

4. Demand feeding Sampling pertama pada DOC 35 berfungsi sebagai monitor pertumbuhan dan perkembangan udang serta penghitungan pakan yang di butuhkan oleh udang. Pakan dihitung berdasarkan ABW dan biomass, selain itu penentuan pakan juga berdasarkan FR dan informasi dari ancho. Jika memberi udang pakan maka pakan 1 kilogram yang di berikan pada udang akan menghasilkan : a. 15% pakan tak termakan b. 20% feces udang c. 30% metabolisme udang d. 17% biomass e. 48% molting

Sedangkan daerah tebaran pakan untuk DOC 30 120 sekitar 6 7 meter dari dinding tambak.

Gambar 14 . Area Penebaran Pakan Demand Feeding

Penurunan konsumsi pakan udang dipengaruhi oleh faktor faktor : a.Kualitas air meliputi DO rendah, kandungan amoniak tinggi, plankton mati masal. b.Cuaca , hujan deras, mendung bekepanjangan. c.Kondisi dasar tambak, lumpur dan bahan organik menumpuk di dasar d.Temperatur, suhu rendah kurang dari 28C e.Kualitas pakan, ketahanan kurang, tekstur terlalu keras.

H. Manajemen Sampling Adalah kegiatan rutin mingguan untuk mengambil sampel udang dari tambak yang merupakan kegiatan rutin pemantauan pertumbuhan udang (ADG), berat badan (ABW), estimasi biomass, populasi (SR) serta kualitas udang yang dilakukan seminggu sekali. Apabila sampling tidak dilakukan akan menyulitkan dalam menejemen pakan, monitoring kesehatan, pertumbuhan dan kualitas udang serta proyeksi panen.

Gambar 15 . Penimbangan udang sampel

Alat dan bahan yang di gunakan : 1. Jala sampling 2. Ember penampung udang yang telah dilubangi 3. Keranjang panen 4. Timbangan duduk atau timbangan digital 5. Kalkulator dan alat tulis 6. Larutan desinfektan 7. Box sterofom

Pada saat sampling dilaksanakan jala yang telah digunakan untuk satu kolam harus di celupkan terlebih dahulu ke larutan desinfektan agar jala steril dan menjaga agar sistem biosecurity tetap berjalan dengan baik, dan setelah itu jala dapat masuk lagi ke kolam lainnya. Pada saat sampling di lakukan yang akan dihitung adalah ABW, ADG, Biomass, populasi, dan SR. Data sampling pada saat panen : Diameter jala 1 kali jala Akumulasi pakan Ukuran tambak Stocking Densitas Hasil panen Size panen =4m = 70 170 ekor = 6.236 kg = 3.200 m = 460.000 ekor = 144 ekor/m = 5.571 kg = 50

Tabel 7. Data sampling


no 1 2 3 4 5 6 7 8 9 MBW comulatif feed feed code FCR SR % Biomass (kg % ancho Size Populasi Kriteria Panen 20 5.571 855 1,11 60,5 5570 1,6 50 278.530

Cara menghitung dan mengolah data hasil sampling :

MBW

Total berat udang Jumlah udang 3000 150 20 gram Jumlah benur x SR x MBW 460.000 x 60,5% x 20 5.570.600 gram 5571 kg Jumlah benur x SR 460.000 x 60,5% 278.530 ekor

= = Biomass (gram) = = = = Populasi (ekor) = = =

SR %

Populasi jumlah tebar 278.530 460.000

x 100

x 100

= =

0,605 x 100 60,5 %

FCR

komulatif pakan Biomass

6236 5571

= 1,12

I. Manajemen Dasar Tambak Managemen dasar tambak adalah suatu tahapan proses budidaya yang bertujuan untuk membersihkan dasar tambak guna memperluas areal bersih bagi udang dan mengurangi senyawa-senyawa kimia yang bersifat racun seperti amoniak yang berasal dari limbah tambak. 1. Bahaya penumpukan limbah di dasar tambak : a. Pengotoran dasar tambak, akan berakibat semakin sempit daerah bersih yang bisa dihuni udang. Hal ini menyebabkan tingkat konsumsi udang terhadap pakan menjadi tidak efisien. b. Proses pembusukan limbah banyak menyerap oksigen. Proses pembusukan limbah yang mengendap di dasar tambak dapat menyerap oksigen terlarut dalam air 75 84% atau tingkat penyerapan 239 513 mg O2/m2/jam. c. Sebagai sumber gas-gas beracun. Pakan udang dengan kandungan protein tinggi akan menghasilkan limbah dengan kandungan Nitrogen yang tinggi yang potensial menjadi amonia. d. Menyuburkan jenis-jenis plankton yang merugikan seperti Algae hijau biru (Blue Green Algae) dan Dynoflagellata. e. Merangsang berkembangnya organisme penempel dan bakteri patogen. Organisme penempel misalnya Protozoa golongan cyliata (Zoothamnium spp, Vorticela spp, Epistylis spp, Suctoria spp Acineta spp) dan bakteri patogen (Vibrio spp).

2. Perlakuan terhadap limbah di dasar tambak : a. Usaha penanganan limbah tambak sudah dimulai dari sebelum tebar benur melalui beberapa langkah. Pengaturan konstruksi tambak, khususnya kemiringan dasarnya yang diharapkan bisa membantu pengumpulan kotoran (daerah alur/central). b. Pengaturan tata letak kincir dan titik titik blower. Disamping sebagai sumber oksigen kincir dan blower digunakan untuk mengatur aliran air dalam tambak yang membantu membersihkan feeding area dan mengumpulkan limbah. c. Pergantian air, yang bertujuan untuk mengeluarkan limbah tambak. d. Menggunakan kualitas pakan dan program pemberian pakan yang baik. e. Melakukan siphon dasar tambak. Siphon merupakan cara paling efektif untuk mengeluarkan limbah tambak (93%). Frekwensi siphon minimal dilakukan 4-6 jam dalam seminggu. Penyiponan dasar tambak adalah proses pembuangan bahan bahan organik seperti sisa pakan, sisa kulit udang sesudah molting, dan kotoran kotoran udang. Membuangan limbah menggunakan mesin sipon atau mesin penyedot, mesin sipon adalah mesin yang di gunakan untuk menyedot kotoran yang ada di dasar tambak yang dapat di ketahui lokasinya dengan kontak langsung antara kaki dan dasar

tambak sehingga dapat diketahui secara akurat dimana letak kotoran dan limbah yang ada.

Gambar 16. Mesin sipon

f. Perlakuan bakteri pengurai, limbah akan berbahaya bagi udang apabila mengalami proses reduksi yang menghasilkan gas-gas beracun. Dengan menggunakan bakteri pengurai, limbah akan dioksidasi secara sempurna sehingga hasil dari proses ini tidak berbahaya bagi udang.

J. Manajemen Hama Penyakit Managemen hama penyakit adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah masuknya penyakit ke dalam tambak budidaya dan menangani udang yang telah terinveksi penyakit yang terutama adalah virus, virus adalah organisme mikroskopis yang melakukan metabolisme dan replikasi dirinya di dalamsel tubuh inangnya (host), organisme tunggal (virion) tersusun atas asamnukleat RNA atau DNA (tetapi tidak dua-duanya) yang diselubungi oleh protein. Virus bisa berasal dari dalam sistem budidaya (on farm) maupun dari luar sistem budidaya (off farm) dan segala aktivitas yang berisikosebagai sumber penyakit. Seperti halnya organisme hidup yang lain, udang memiliki fungsifungsi fisiologis yang spesifik untuk pertumbuhan dan

perkembangannya,dan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dimana mereka hidup rusaknya beberapa fungsi fisiologis akan memacu kondisi yang tidak normal dari suatu organisme dan fenomena ini biasa disebut dengan penyakit. 1. Faktor penyebab penyakit Beberapa faktor yang akan merusak kesehatan dan memacu terjadinya penyakit pada budidaya udang antara lain : a. Lingkungan yang kurang baik b. Densitas tebar tinggi dengan fasilitas ganti air yang minim c. Defisiensi nutrisi/ kualitas pakan yang jelek d. Akumulasi sisa pakan

e. Aerasi yang tidak memadai f. Pertumbuhan plankton yang tidak optimal atau sebaliknya (blooming plankton ) g. Kerusakan fisik h. Kehadiran pathogen dalam jumlah yang banyak 2. Sebab Udang Sakit Ada 3 faktor yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lain yang bisa menyebabkan terjadinya suatu penyakit, ke 3 faktor tersebut adalah Host ( udang ), Lingkungan, dan Pathogen ( agen penyakit ). Interaksi dari ketiga faktor ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

a. Host

Adalah organisme (species) yang dijangkiti penyakit, pada

prosesnya dipengaruhi umur, ukuran, status nutrisi, kepadatan tebar, biomass, status immunitas (Brock, J.A 1992) Seperti halnya crustacea yang lain, tubuh udang ditutupi oleh eksoskeleton yang secara berkala akan diganti yang baru pada saat molting. Pada saat proses ini udang membutuhkan energi yang sangat besar sehingga sehabis molting kondisi udang menjadi lemah dan rentan terhadap infeksi penyakit. b. Envionment Istilah lingkungan di dalam dunia aquaculture meliputi tanah tambak, air dan bermacam-macam organisme di dalamnya. Organisme hidup tidak hanya udang yang dibudidayakan tetapi juga flora fauna akuatik yang lain dan organisme pathogenic. Kehidupan dan pertumbuhan organisme sangat dipengaruhi oleh parameter fisika-kimia seperti pH, Dissolved Oxygen (DO), temperatur dll. Perubahan yang tidak normal dari faktor-faktor tersebut akan berakibat kurang baik terhadap udang. c. Pathogen yang diantaranya adalah beberapa organisme pathogenic (virus,bakteri,jamur dan parasit mungkin sudah ada di dalam system budidaya. Mereka merupakan bagian dari mikro flora dan fauna alami yang ada dalam air tambak maupun tanah. Kehadiran organisme pathogen ini mungkin tidak menyebabkan kondisi sakit, tetapi bila populasinya dalam jumlah yang besar maka akan siap untuk menginfeksi udang. Namun demikian jumlah organisme ini di

lingkungan sangat dipengaruhi oleh sumber makanan,suhu, DO, pH, dan parameter kualitas air lainnya.

Tanda-tanda awal sebagai indikasi udang terserang penyakit : 1) Napsu makan turun 2) Perubahan abnormal dari warna udang 3) Eksoskeleton luka atau busuk 4) Deformiti tubuh 5) Daging berwarna pucat (kapas) 6) Berenang di permukaan 7) Warna insang abnormal 8) Pertumbuhan lambat 9) Adanya mortalitas

3. Penyakit yang di sebabkan virus Beberapa penyakit yang menjangkiti L. Vannamei dianaranya adalah: a. WSSV ( White Spot Syndrome Virus ) Penyebab : Virus SEMBV (Systemic Ectodermal and Mesodermal Baculovirus). Spesies yang diserang : Penaeus monodon, L vannamei. Stadium yang diserang : Larva, Postlarva, Juvenil dan Udang dewasa

Gambar 17 . Infeksi white spot

b. IHHNV (Infectious Hypodermal and Haematopoietic Necrosis Virus) Penyebab : Virus (Kemungkinan termasuk Picornavirus). Spesies yang diserang : Penaeus monodon Litopenaeus vannamei. Stadium yang diserang : Postlarva, Juvenil dan Udang dewasa.

Gambar 18. Serangan IHHNV

c. HPV (Hepatopancreatic Parvo-like Virus) Penyebab : Parvo virus Spesies yang diserang : Penaeus monodon, Penaeus merguiensis, Litopenaeus vannamei. Stadium yang diserang : Juvenil, Udang dewasa

4. Pencegahan penyakit akibat virus: a. Melakukan seleksi mulai dari induk, larva sampai dengan postlarva (benur) menggunakan alat PCR (Polymerase Chain Reactions) untuk mendeteksi keberadaan virus (WSSV) dalam darah dan tubuh udang. b. Mencegah masuknya pembawa virus masuk ke tambak, seperti udang putih, rebon, kepiting dan semua jenis udang air asin. c. Memperhatikan sanitasi secara ketat, baik terhadap peralatan budidaya maupun terhadap orang-orang yang terlibat dalam budidaya udang. d. Melakukan karantina terhadap air yang akan digunakan untuk keperluan budidaya. e. Melakukan karantina terhadap tambak-tambak yang terinfeksi. f. Membakar atau mengubur udang mati yang terinfeksi virus SEMBV. g. Menerapkan aturan biosecurity secara ketat.

K. Biosecurity Didefinisikan sebagai suatu perangkat aturan, perlengkapan atau peralatan yang sangat penting untuk melakukan infeksi pencegahan, yang bisa

pengendalian

dan

pemberantasan

penyakit

menyebabkan kerugian besar secara ekonomi (Zavala, 1999). Juga didefinisikan sebagai suatu kemampuan untuk mencegah kerugiankerugian yang ditimbulkan oleh penyakit melalui pemberantasan patogen penyebab penyakit beserta carriernya (Maria Haws et. al., 2001). Biosecurity Adalah Usaha untuk mencegah masuknya dan atau

menyebarnya virus dan inang (carrier) pembawa penyakit ke dalam sistem budidaya dengan menggunakan berbagai perangkat aturan dan peralatan agar tidak menyebabkan kerugian secara ekonomis. Penerapan

biosecurity pada unit produksi mencakup Biosecurity Tahap Persiapan, Biosecurity Tahap Budidaya, Biosecurity Tahap Panen, Biosecurity Lingkungan. 1. Biosecurity Tahap Persiapan diantaranya aalah : a. Pemasangan Bird Scaring Device (BSD) b. Pemasangan Crab Protection Device (CPD) c. Kebersihan d. Pemasangan Saringan Air e. Desinfeksi Dasar Tambak f. Desinfeksi Air

2. Biosecurity Tahap Budidaya diantaranya : a. Pengurasan Tambak akibat terinfeksi Virus WSSV, TSV, dll pada DOC< 45 atau ABW < 5 gram. b. Pengurasan Tambak Akibat SR Rendah (tidak terdeteksi Virus WSSV,TSV, dll.) c. Pemeliharaan BSD dan CPD d. Sanitasi Orang e. Sanitasi Peralatan f. Isolasi Tambak yang Terinfeksi Virus WSSV, TSV. g. Mengumpulkan Udang Sakit

3. Biosecurity Tahap Panen : a. Khusus WSSV, TSV, dan iveksi lain b. Pemusnahan Bangkai Udang

4. Biosecurity Lingkungan : a. Mencegah masuknya penyakit lewat suplai air ketika Main Inlet terindikasi adanya serangan virus WSSV, TSV pada udang b. Larangan Memelihara Unggas dan Ternak c. Larangan Menangkap Ikan d. Program Kebersihan Lingkungan

Faktor faktor lain yang sangat berpengaruh untuk proses penyebaran penyakit diantaranya adalah manusia, hewan , peralatan, kondisi alam , dan sistem. Manusia merupakan carrier/pembawa penyakit yang paling berbahaya dalam proses budidaya yang sebenarnya mobilitas dari manusia sangat tinggi, bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, dan melakukan kontak langsung dengan tambak budidaya yang ada, dan di khawatirkan jika manusia berada pada satu tambak yang terinfeksi virus dan akan berpindah ke tambak lain akan menginveksi udang di tambak lainnya.

L. Panen dan Pascapanen

1. Panen Panen yaitu pengambilan udang dari tambak yang dijaga kesegarannya untuk kemudian dikirimkan ke Cold Storage (merupakan tahap akhir dari rangkaian proses budidaya udang di tambak). a. Jenis jenis panen Ada beberapa jenis proses panen yang bisa terjadi pada saat produksi diantaranya adalah : 1) Panen normal adalah panen yang dilakukan terhadap udang jika sudah memenuhi kriteria siap panen biasanya dari DOC 105 atau ABW di atas 18 gram 2) Abnormal, panen ini dilakukan jika terjadi Mortalitas terjadi kematian di atas 100 ekor/hari selama 3 hari berturut-turut, SR rendah < 50 %, Pertumbuhan lambat ABW < 13gram untuk udang pada DOC 105, Pakan turun per hari > 50% selama 3 hari berturut-turut, dan Infeksi WSSV 3) Emergency atau keadaan darurat biasanya terjadi jika Udang terinfeksi WSSV, terjadi kematian massal diatas 1000 ekor/hari, dan kejadian tidak terduga misalnya: tanggul longsor, listrik padam.

Gambar 19. Peralatan panen

b. Kriteria udang setelah panen : 1) First quality a. Udang dalam keadaan segar baik daging maupun kulitnya b. Tidak terdapat ada black spot karena melanosis c. Satu kulit pecah tetapi masih menempel daging, panjang 5 mm d. Bruise/goresan seukuran rambut maksimal 3, masingmasing panjangnya 5 mm pada segmen mana saja e. Tidak ada soft shell/kulit lembek f. Ruas tidak ada yang patah g. Lumut karat ringan sekali h. Ekor geripis ringan sekali i. Daging lembek ringan (soft meat ringan) j. 2 titik necrosis, lebar maksimal 1 mm k. Tidak ada white spot.

2) Second Quality a. Semua kulit tipis sekali tetapi tidak keriput, semua sirip ekor kokoh dan mengembang normal b. Satu kulit sobek yang panjangnya 10 mm, kulit tidak lepas dan tidak pengaruh ke daging c. Keempat sirip ekor necrosis/geripis, panjang sirip ekor sampai dengan jarum ekor d. Satu sirip ekor hilang e. 1/3 jarum ekor patah f. Lumut karat sedang g. Tidak decomposisi dan discolorasi h. Daging keropos (soft meat) sedang i. Bruise/goresan nyata hitam > 10 mm dan tidak pengaruh ke daging j. White spot (bintik putih) ringan dan tidak menyolok k. Kaki jalan/kaki renang hilang, tetapi tidak ada

discolorasi/decomposisi

3) Bellow standart a. Keseluruhan kulit udang lembek (molting) ada kulit lama yang menempel / keriput / sangat tipis b. Adanya black spot dibagian mana saja c. Daging udang terbelah/sobek

d. Terdapat tritip yang menempel e. Daging keropos (soft meat) berat f. Lumut karat parah g. Brown meat (daging coklat) h. Discolorasi (perubahan warna) ringan, warna udang

berubah merah dan kurang dari 25% dari seluruh permukaan tubuh udang i. Ekor geripis, sirip ekor lebih pendek dari jarum ekor j. Warna udang pucat (udang yang seluruh tubuhnya berubah menjadi pucat) k. Luka parah/severe bruise, 3 luka yang berukuran besar, lebar, goresannya mudah terlihat meliputi lebih dari separuh ruas tempat luka itu berada dan tembus ke daging atau luka menghitam yang terdapat didalam daging.

2. Pasca panen Udang untuk pasar lokal (dalam negeri), biasanya hanya cukup dicuci dalam keadaan utuh setelah proses pemilihan dan

pengelompokan kualitas udang yang kemudian dipasarkan dalam bentuk segar.

didinginkan guna

Gambar 20. Greeding Udang

Pendinginan udang untuk pasar lokal sama dengan penanganan udang dari tambak ke lokasi prosesing untuk pasar ekspor. Yang dimaksud dengan pendinginan dalam hal ini hanyalah berupa pemberian es batu yang telah dihancurkan.

Udang dimasukkan ke dalam bak plastik secara bersap-sap mulai dari lapisan es, udang, es lagi dan seterusnya.

Gambar 21. Penanganan Pasca Panen

Fungsi pendinginan dalam proses ini untuk mempertahankan tingkat kesegaran udang, tanpa membekukannya.

M. Pemasaran Pemasaran adalah sebagai proses penyaluran barang-barang dari produsen sampai ke konsumen. Pemasaran dikatakan afektif apabila

terdapat kesesuaian antara produsen dengan kebutuhan konsumen. Alur pemasaran udang yang telah di panen dapat di lihat pada alur di bawah ini

Produsen PT. Anugerah Tambak Perkasindo

Distributor , Agen, Pengepul

Ekspor

Pasar - pasar

Pengolah

Konsumen

N. Analisa Usaha Analisa usaha adalah pengitungan hasil keuangan dari produksi barang atau jasa yang telah dilakukan. Peghitungan ini menyangkut berhasil atau tidaknya usaha yang di jalankan

Luas kolam Tebar awal Tonase panen Populasi Size panen MBW SR % FCR Komulatif pakan Harga jual udang /kg Padat tebar awal tebar Padat tebar saat panen

= = = = = = = = = = = =

3.200 m 460.000 ekor 5.571 kg 278.530 ekor 50/kg 20 gram 60,55 % 1,12 6.236 kg Rp. 54.000,144 ekor/m 87 ekor/m

Dalam 1 tahun terdapat 2 siklus atau 1 siklus selama 4 bulan dan masa persiapan selama 2 bulan tiap siklusnya

Tabel 8. Biaya investasi


No . 1. 2. 3. 5. 6 7 8 9 10 11 Investasi (JUE) Jumlah Harga satuan (Rp) 20.000.000 500.000 15.000.000 3.000.000 2.500.000 15.000.000 14.000.000 15.000.000 18.000.000 2.000.000 Jumlah Jumlah harga (Rp) 20.000.000 500.000 30.000.000 3.000.000 20.000.000 15.000.000 14.000.000 15.000.000 144.000.000 2.000.000 263.500.000 Penyusutan/s iklus (Rp) 3.333.334 83.334 1.500.000 300.000 1.250.000 2.500.000 2.333.334 2.500.000 24.000.000 1.000.000 38.800.002

Tambak plastik (JUE 3th) Bak biosecurity (JUE 3th) Mes (JUE 10th) Pos (JUE 5th) Kincir (JUE 8th) Blower (JUE 3th) Pompa 5 (JUE 3th) Pompa 6 (JUE 3th) Mesin deasel (JUE 3th) Perlengkapan tambak (JUE 1 th)

1 petak 1 bak 2 unit 1 unit 8 set 1 unit 1 unit 1 unit 8 set 1 set

Tabel 9. Biaya tetap


No. 1. 2 3. 4. 5. 6 Komponen Biaya Servis perlengkapan Konsumsi Gaji Karyawan Listrik Solar Penyusutan TOTAL BIAYA TETAP jumlah 1 1 1 1 1 Biaya bulanan 350.000 500.000 600.000 750.000 250.000 biaya/siklus 1.400.000 2.000.000 2.400.000 3.000.000 1.000.000 38.800.002 48.600.002

Table 10. Biaya variabel


No Jenis barang 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Benur Pakan 850 Pakan 851 Pakan 852 S Pakan 852 S Pakan 853 Pakan 854 Pakan 855 Pakan Brain Pellet CUSO4 Dedak Urea TSP Samponin ZA kapur dolomite Hidrat Lime Kaolin Mauripan bestacide Bestacid Kaporit Molase / Gula Tetes Hl Quick lime Penggunaan 460.000 ekor 60 kg 142 kg 345 kg 607 kg 2913 kg 359 kg 1113 kg 697 kg 5,5 kg 140 kg 25 kg 0,5 kg 102 kg 10,5 kg 275 kg 1387 kg 40 kg 100 kg 63,5 kg 12 kg 60 kg 100 kg 100 kg Harga satuan Rp 33 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 10.500 Rp 910 Rp 3.000 Rp 4.500 Rp 2.400 Rp 160 Rp 4.500 Rp 280 Rp 300 Rp 2.125 Rp 56 Rp 17.000 Rp 98.000 Rp 17.000 Rp 2.800 Rp 300 Jumlah harga Rp 15.180.000 Rp 630.000 Rp 1.491.000 Rp 3.622.500 Rp 6.373.500 Rp 30.586.500 Rp 3.769.500 Rp 11.686.500 Rp 7.318.500 Rp 5.005 Rp 420.000 Rp 112.500 Rp 1.200 Rp 16.320 Rp 47.250 Rp 77.000 Rp 416.100 Rp 85.000 Rp 5.600 Rp 1.079.500 Rp 1.176.000 Rp 1.020.000 Rp 280.000 Rp 30.000 Rp 120.000 85.549.475

400 kg Rp 300 Jumlah harga total

Total biaya = = =

( total biaya tetap + total biaya variable ) (Rp. 48.600.002 + Rp. 85.549.475 ) Rp. 134.149.477

Pendapatan
Tabel 11.Pendapatan
Penjualan Hasil final panen Tonase panen 5.571 kg Harga satuan/kg 54.000 Jumlah total 310.800.000 310.800.000

Jumlah pendapatan (Rp)

1. Perhitungan Analisa Usaha Rugi / Laba Analisa laba/rugi bertujuan untuk mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian dari usaha pembesaran pembesaran udang vannamei. Keuntungan = = = = Penerimaan (total biaya tetap + total biaya variabel) 310.800.000 (48.600.002 + 85.549.475) 310.800.000 134.149.477 Rp. 176.650.523,-

Artinya, dalam 1 siklus produksi pembesaran udang vannamei dengan luas kolam 3.200 m dengan tebar awal sebanyak 460.000 ekor benur di farm Anugerah Tambak Perkasindo menghasilkan keuntungan sebesar Rp. 176.650.523,-

Revenue cost ratio (R/C) Analisa R/C merupakan analisa untuk melihat keuntungan relatif usaha pembesaran udang vannamei. Total penerimaan Total biaya tetap + Total biaya varibel = Rp. 310.800.000 Rp. 48.600.002 + Rp. 85.549.475 = = 2,3 Artinya, setiap Rp. 1.000 yang dikeluarkan untuk biaya produksi untuk menghasilkan penerimaan sebesar Rp. 2300 atau keuntungan sebesar Rp. 1.300,Rp. 310.800.000 Rp. 134.149.477

R/C

Payback period (PP) Analisa PP adalah analisa yang digunakan untuk mengetahui jangka waktu berapa lama seluruh biaya yang dikeluarkan dapat kembali. Total inventasi Keuntungan Rp. 263.500.000 Rp. 176.650.523 = = 1,5 siklus 8 bulan modal yang dikeluarkan dalam usaha

PP

1 siklus

1 siklus

Artinya,

pembesaran udang vannamei ini akan dapat dikembalikan dalam jangka waktu sekitar 8 bulan.

Break event point Analisa BEP merupakan analisa untuk mengetahui batas nilai produksi usaha pembesaran udang vannamei mencapai titik impas atau balik modal. BEP harga = 1biaya tetap biaya variabel Pendapatan

= 1-

48.600.002 85.549.475 310.800.000

48.600.002 1 0,78

47.600.002 0,22 Rp. 67.500.002,78

Artinya, titik impas usaha pembesaran akan dicapai pada total penerimaan sebanyak Rp. 67.500.002,78

BEP unit

48.600.002 54.000 - (85.549.475: 5.571)


48.600.002 54.000 15.356,21

48.600.002 38.643,79 1.257,64 kilogram

Artinya, titik impas usaha pembesaran udang vannamei akan dicapai pada produksi sebanyak 1.257,64 kilogram. Return on Invesment (ROI) Analisa ROI merupakan analisa yang digunakan untuk

membandingkan hasil usaha yang diperoleh dari operasi perusahaan atau nilai keuntungan yang diperoleh dari modal. ROI = Laba usaha Modal produksi = Rp. 176.650.523 Rp. 397.649.477 = Artinya, bahwa pada 0,44 farm Anugerah Tambak Perkasindo

memperoleh keuntungan 0,44 % dari setiap modal produksi pertahun.

Usaha pembesaran udang vannamei menghasilkan untung yang yang cukup besar untuk menutupi dari biaya investasi dan biaya variabel yang telah digunakan selama proses budidaya. Karena keuntungan yang didapat cukup tinggi maka usaha pembesaran udang vannamei ini tetap berlanjut untuk menghasilkan keuntungan di bidang ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

BAB V. MASALAH DAN PEMECAHAN

A. Masalah Masalah yang sering terjadi di PT. Anugerah Tambak Perkasindo di antaranya adalah : 1. Pada saat proses pengeringan air di tambak tidak 100% kering 2. Terjadinya kematian masal akibat serangan penyakit 3. Kematian udang masal akibat padat tebar terlalu tinggi 4. Tidak adanya laboratorium yang khusus untuk menangani hama dan penyakit udang

B. Pemecahan Adapun pemecahan masalah yang dilakukan adalah : 1. Pada saat pengeringan di bantu dengan menggunakan mesin pompa untuk membuang airnya sehingga dasa tambak kering 100% 2. Sebelum terjadinya kematian yang lebih banyak, dilakukannya pemanenan total karena di khawatirkan akan mengalami kerugian besar 3. Penanganan udang yang mengalami padat tebar tinggi harus di lakukannya panen parsial untuk mengurangi kepadatan

sehingga faktor kematian menurun.

4. Kualitas air harus dijaga dengan baik dan jika udang terinfeksi virus, sampel udang akan dkirim ke laboratorium lain untuk di cek kualitas kesehatannya.

BAB VI. KESIMPULAN DAN SARAN

C. Kesimpulan Berdasarkan hasil Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada kegiatan pembesaran udang putih (L, vannamei) yang dilakukan di farm ATP dapat disimpulkan bahwa : 1. Proses pembesaran udang vannamei terdapat beberapa tahapan yang sangat mempengaruhi diantaranya adalah persiapan lahan, persiapan air, desinfeksi air, penebaran benur, pengelolaan kualitas air, pengelolaan pakan, managemen sampling, managemen dasar tambak, managemen hama penyakit, biosecurity, panen dan pasca panen 2. Proses persiapan lahan mencakup beberapa hal yang diantaranya adalah Pembersihan Tambak dan Peralatannya, Perbaikan dinding dan dasar tambak, Perbaikan pipa dasar tambak, Perbaikan kincir, mesin sipon, dan instalasi listrik, Pengeringan dan penjemuran ulang tambak setelah pencucian, Pembenahan dan pemasangan perlengkapan tambak. 3. Proses persiapan air dimulai dari Persiapan masuk air ke tambak, Proses pengisian air, Desinfeksi Air dengan melakukan Penebaran CuSo4 Sterilisasi bestacyd atau crustacyd, Masa aging, Sterilisasi saponin, Pembentukan air dan Bioessay.

4. Penebaran benur meliputi beberapa tahapan yang diantaranya adalah Uji kualitas benur yang dilakukan di laboratorium, dan Uji benur lapangan, dan jika sesuai benur di tebar ke tambak pada pukul 06.00 alkalinitas, 5. Parameter yang harus selalu di jaga dalam kualitas air tambak adalah kecerahan, Vibrio Count 6. Pengelolaan pakan mencakup tentang manajemen penyimpanan pakan, pakan untuk bulan pertama, pakan pada ancho dan demand feeding. 7. Manjemen sampling berguna untuk mengetahui tingkat pertumbuhan dan kesehatan udang, kegiatan sampling dilakukan seminggu sekali 8. Manajemen dasar tambak berguna untuk membersihkan area hidup udang yang berada di dasar tambak, selain berfungsi mengurangi kadar bahan organik sebagai penyebab timbulnya ammoniak. 9. Pada saat udang terserang penyakit sebaiknya ditangani secara langsung agar tidak mengalami kerugian besar, dan untuk tambak yang lain dilakukan pencegahan langsung, dan menerapkan bio security dengan sangat ketat. 10. Pemanenan udang dilakukan dengan 2 cara yaitu panen parsial atau panen sebagian dan panen total atau keseluruhan. pH, DO, salinitas, suhu, Total Amoniak Nitrogen, Total

11. Kegiatan setelah pemanenan adalah proses pemasaran dan pada saat pemasaran udang sudah berada di luar tambak dan berada di ruang timbang untuk mengetahui jumlah dan harga yang harus di sepakati 12. Manajemen analisa usaha untuk pembesaran udang vannamei, dengan biaya total modal usaha Rp. 134.149.477, akan menghailkan keuntungan sebesar Rp. 176.650.523, dan apabila mengeluarkan modal sebesar Rp. 1000 akan menghasilkan pendapatan sebanyak Rp. 2.300, dan modal akan kembali dalam jangka waktu 1,5 siklus atau 8 bulan.

D. Saran Adapun saran yang dapat di berikan untuk kesuksesan di produksi selanjutnya yang diantaranya adalah : 1. Untuk periode produksi sebelumnya kualitas air yang ada di kolam karantina harus di cek kelayakannya untuk bisa masuk ke dalam kolam budidaya 2. Kelengkapan alat cek Kualitas air yang kurang harus secepatnya di lengkapi untuk mengetahui kualitas air secara lebih baik 3. Sebaiknya memperbaiki konstruksi tambak sesuai dengan standar yang baik, untuk mempermudah pada saat pengeringan dasar tambak. 4. Sebaiknya pengambilan air dari laut tidak mengandalkan pasang surut air laut

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011, teknik pengambilan data (observasi, wawancara, kuisioner, sampling), http://wikipedia.co.id/observasi Jurnal Kelautan dan Perikanan, 2012, BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (litopenaeus vannamei) POLA TRADISIONAL PLUS, Nehe Mia, 2009, PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei), http://nehiaquaculture.blogspot.com/2009/04/pembesaranudang-vaname-litopenaeus.html. Maghfur, Arayhan, 2012, TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAMIE, http://arayhanmaghfur.blogspot.com/2012/06/teknik-pembesaran-udangvanamie.html. SOP Pembesaran Udang Vannamei PT. Intraco Agro Industry,2007, Medan Sumatera Utara Zaenal Arifin, Komang Andrat dan Subiyanto, 2008, PENERAPAN TEKNOLOGI SEDERHANA DALAM PRODUKSI UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei), http://budidayaudang.blogspot.com/2008/07/teknik-produksi-zaenal-arifinkomang.html.