Anda di halaman 1dari 20

Laporan Analisis Kemampuan Bahan Isolasi pada Gardu Distribusi

Oleh : Agusta Surya Laksmana (1104405039)

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA JIMBARAN-BALI 2014

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan petunjuk-Nyalah Laporan ini dapat diselesaikan. Dengan karunia kesehatan dan kesempatan dari-Nya pula, Laporan ini pun dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Ucapan terima kasih kami berikan kepada semua pihak yang telah banyak membantu kami dalam penyusunan Paper ini. Khususnya kepada Ibu Prof.Ir. I. A. Dwi Giriantari, M.Eng,Sc., PhD selaku

dosen Mata Kuliah Teknik Tegangan Tinggi Jurusan Teknik Elektro dan juga berbagai pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu. Penyusunan Laporan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi dan kemampuan bahan isolasi pada beberapa Gardu Distribusi. Kami menyadari sepenuhnya Laporan ini masih jauh dari sempurna, sehingga kami sebagai penyusun mengharapkan berbagai saran dan kritik yang bersifat membangun, agar nantinya dapat dijadikan pedoman bagi kami dalam penyusunan Laporan berikutnya.

Denpasar, 15 Januari 2014

Penulis

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pada semua sistem kelistrikan baik itu sistem transmisi , sistem distribusi ataupun sistem kelistrikan tegangan rendah, bahan isolasi adalah bagian yang sangat penting. Dimana fungsi dari bahan isolasi sebagai untuk memisahkan antara suatu konduktor dengan konduktor lainnya dalam keadaan bertegangan, pengisolasian perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hubung singkat. Oleh karena itu bahan isolasi perlu memiliki nilai resistansi yang sangat tinggi. Tetapi bebarapa peralatan, bahan isolasi memiliki fungsi lebih. Salah satunya penerapan fungsi bahan isolasi yang terdapat pada transformator yaitu minyak transformator. Selain untuk memisahkan antara belitan primer dan belitan sekunder, minyak transformator juga berfungsi sebagai pendingin akibat dari termal yang dihasilkan dari proses induksi dan juga sebagai pemadam busur jika terjadi hubung singkat pada transformator. Jadi pada transformator, bahan isolasi memiliki fungsi ganda. Melihat pentingnya peran minyak transformasi sebagai bahan transformator oleh karena itu sebelum minyak transformator digunakan perlu dilakukan pemurnian dan pengujian untuk mengetahui tingkat kemampuan isolasi dan juga untuk menghindari terjadinya kegagalan isolasi. Kegagalan isolasi dapat diketahui dengan beberapa indikasi diantaranya adanya Partial discharge (terjadi karena kemampuan yang rendah pada suatu bahan dalam peluahan parsial). Dimana Partial discharge peristiwa

pelepasan/loncatan bunga api listrik yang terjadi pada suatu bagian isolasi (pada rongga dalam atau pada permukaan) sebagai akibat adanya beda potensial yang tinggi dalam isolasi tersebut. hal ini dapat mengisolasi. Dan peristiwa ini dapat terjadi pada semua peralatan dan sistem kelistrikan. Karena alasan inilah saya ingin bahas melalui laporan ini yaitu untuk mengetahui dan mengetahui kondisi dan menganalisis seberapa jauh kemampuan bahan isolasi pada salah satu gardu distribusi, baik itu minyak transformator, ataupun isolator kabel penghantar.

1.2 Rumusan Masalah 1. Apa saja gejala-gejala yang terjadi pada transformator distribusi? 2. Bagaimana kondisi bahan isolasi pada traformator tersebut?

1.3 Tujuan 1. Mengehui dan menganalisa gejala-gejala yang terjadi pada salah satu gardu distribusi. 2. Mengetahui kondisi dan menganalisa seberapa jauh kemampuan bahan isolasi pada gardu distribusi tersebut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahan Isolasi Bahan isolasi merupakan alat yang digunakan untuk memisahkan bagianbagianyang bertegangan atau bagian-bagian yang aktif. Bahan isolasi merupakan suatu peralatan yang digunakan sebagai pembatas dan pengaman pada peralatan listrik yang mempunyai kekuatan listrik yang cukup untuk menjamin sistem keselamatan yang diperlukan pada saat peralatan listrik tersebut beroperasi maupun tidak beroperasi. Bahan isolasi yang digunakan dalam teknik tegangan tinggi dibedakan menjadi: bahan isolasigas, bahan isolasi padat, bahan isolasi cair. Pada dasarnya suatu bagian yang aktif peralatan listrik harus diisolasi sehingga mempunyai sistem.

2.2 Kegagalan Isolasi Kegagalan isolasi adalah kejadian yang diindikasikan dengan adanya Partial discharge (peluahan parsial) yaitu peristiwa pelepasan/loncatan bunga api listrik yang terjadi pada suatu bagian isolasi (pada rongga dalam atau pada permukaan) sebagai akibat adanya beda potensial yang tinggi dalam isolasi tersebut Partial discharge dapat terjadi pada bahan isolasi padat, bahan isolasi cair maupun bahan isolasi gas. Mekanisme kegagalan pada bahan isolasi padat meliputi kegagalan asasi (intrinsik), elektro mekanik, streamer, thermal dan kegagalan erosi. Kegagalan pada bahan isolasi cair disebabkan oleh adanya kavitasi, adanya butiran pada zat cair dan tercampurnya bahan isolasi cair. Pada bahan isolasi gas mekanisme townsend dan mekanisme streamer merupakan penyebab kegagalan. Dari uraian di atas menunjukkan bahwa kegagalan isolasi ini berkaitan dengan adanya partial discharge.

2.2.1 Mekanisme Kegagalan Isolasi Zat Cair Jika suatu tegangan dikenakan terhadap dua elektroda yang dicelupkan kedalam cairan (isolasi) maka terlihat adanya konduksi arus yang kecil. Jika tegangan dinaikkan secara kontinyu maka pada titik kritis tertentu akan terjadi lucutan diantara kedua elektroda. Lucutan dalam zat cair ini akan terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut : 1. Aliran listrik yang besarnya ditentukan oleh karakteristik rangkaian 2. Lintasan cahaya yang cerah dari elektroda yang satu ke elektroda yang lain. 3. Terjadi gelembung gas dan butir butir zat padat hasil dekomposisi zat cair 4. Terjadi lubang pada elektroda

Penyebab kegagalan zat cair : 1. Kegagalan Elektroda zat cair Jika elektroda memiliki bagian permukaan tidak rata (ada yang runcing) maka kuat medan yang terbesar terdapat pada bagian yang runcing tersebut. Kuat maksimum ini akan mengeluarkan elektron e1 yang akan memulai terbentuknya banjiran elektron. Elektron yang dihasilkan e1, e2, e3 dan en yang kemudian akan menyebabkan timbulnya arus konduksi dalam zat cair pada kuat medan yang tinggi. 2. Adanya gelembung atau Kavitasi pada Zat cair. Kegagalan gelembung atau kavitasi merupakan bentuk kegagalan isolasi zat cair yang disebabkan oleh gelembung-gelembung gas didalamnya. Sebab sebab timbulnya gelembung gas adalah : Permukaan elektroda tidak rata, sehingga terjadi kantong kantong udara dipermukaannya Adanya tabrakan elektron sehingga terjadi produk-produk baru berupa gas Penguapan cairan karena adanya lucutan pada bagian bagian elektroda yang tajam dan tidak teratur Zat cair mengalami perubahan suhu dan tekanan

3. Adanya Uap Air dalam Zat Cair Air dan uap air jika terdapat medan listrik, maka molekul uap air yang terlarut memisah dari minyak dan terpolarisasi membentuk suatu dipol. Jika jumlah molekul-molekul uap air ini banyak, maka akan tersusun semacam jembatan yaang menghubungkan kedua elektroda, sehingga terbentuk suatu kanal peluahan. Kanal ini akan merambat dan memanjang sampai menghasilkan tembusan listrik. 4. Adanya Butiran Padat dalam Zat Cair Kegagalan ini disebabkan oleh adanya butiran (particle) padat didalam bahan isolasi cair yang akan menyebabkan terjadinya kegagalan 5. Kegagalan Campuran Zat Cair-Padat Kegagalan isolasi cair-padat (isolasi kertas dicelup dalam minyak) biasanya disebabkan oleh pemburukan. Pemburukan yang dapat

menyebabkan kegagalan isolasi cair-padat yaitu : Pemburukan karena pelepasan dalam (internal discharge) Pemburukan elektro-kimiawi

Jika campuran dielektrik zat cair-padat memiliki kekuatan gagal yang berbeda beda maka jika tegangan listrik dinaikkan, akan terjadi kegagalan pada zat yang paling lemah. Hal ini dapat mengakibatkan kegagalan parsial (partial discharge). Pelepasan ini mengakibatkan pemburukan perlahan lahan karena : Disintegrasi dielektrik padat yang diakibatkan pemboman oleh elektron dan ion yang dihasilkan. Aksi kimiawi pada dielektrik karena ionisasi gas Suhu tinggi di daerah pelepasan.

Pemburukan elektro-kimiawi terjadi karena ion-ion yang dibebaskan oleh arus pada elektroda bisa menyebabkan kerusakan. Derajat kerusakan yang terjadi tergantung pada sifat ion yang terbawa dan reaksi kimia dengan ionisasi. Kerusakan bisa terjadi pada tegangan DC maupun AC.

2.3 Minyak Transformator Minyak transformator adalah cairan yang dihasilkan dari proses pemurnian minyak mentah. Selain itu minyak ini juga berasal dari bahan bahan organik, misalnya minyak piranol dan silikon, berapa jenis minyak transformator yang sering dijumpai dilapangan adalah minyak transformator jenis diala A, diala B dan Mectrans. Minyak transformator merupakan salah satu bahan isolasi cair yang dipergunakan sebagai isolasi dan pendingin pada transformator. Sebagian bahan isolasi, minyak harus memiliki kemampuan untuk menahan tegangan tembus, sedangkan sebagai pendingin minyak transformator harus mampu meredam panas yang ditimbulkan, sehingga dengan kedua kemampuan ini maka minyak diharapkan akan mampu melindungi transformator dari gangguan. Minyak transformator mempunyai unsur atau senyawa hidrokarbon yang terkandung dalam minyak transformator ini adalah : 1. Senyawa hidrokarbon parafinik. 2. enyawa hidrokarbon naftenik. 3. Senyawa hidrokarbon aromatik. Selain ketiga senyawa diatas minyak transformator masih mengandung senyawa yang disebut zat aditif meskipun kandungannya sangat kecil. Kenaikan suhu pada transformator akan menyebabkan terjadinya proses hidrokarbon pada minyak, nilai tegangan tembus dan kerapatan arus konduksi merupakan beberapa indikator atau variable yang digunakan untuk mengetahui apakah suatu minyak transformator memiliki ketahanan listrik yang memahami persyaratan yang berlaku. No. 1 2 3 4 Celah (mm) 2.5 5 7.5 10 Teg.Tembus (kv) 23,868 40,906 58,782 69,466

Secara analisa kimia ketahanan listrik suatu minyak transformator dapat menurun akibat adanya pengaruh asam dan pengaruh tercampurnya minyak dengan air. Untuk menetralisir keasaman suatuminyak transformator dapat

menggunakan potas hidroksida (KOH). Sedangkan untuk menghilangkan kandungan air yang terdapat dalam minyak tersebut yaitu dengan cara memberikan suatu bahan higroskopis yaitu selikagel. Dalam menyalurkan perannya sebagai pendingin, kekentalan minyak transformator ini tidak boleh terlalu tinggi agar mudah bersikulasi, dengan demikian proses pendinginan dapat berlangsung dengan baik. Kekentalan relatif minyak transformator tidak boleh lebih dari 4,2 pada suhu 200C dan 1,8 dan 1,85 dan maksimum 2 pada suhu 500C. Hal ini sesuai dengan sifat minyak transformator yakni semakin lama dan berat operasi suatu minyak transformator, maka minyak akan akan semakin kental. Bila kekentalan minyak tinggi maka sulit untuk bersikulasi sehingga akan menyulitkan proses pendinginan transformator. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi oleh minyak transformator adalah sebagai berikut : 1.) Kejernihan Kejernihan minyak isolasi tidak boleh mengandung suspensi atau endapan. 2.) Massa jenis Massa jenis dibatasi agar air dapat terpisah dari minyak isolasi dan tidak melayang. 3.) Viskositas kinematika Viskositas memegang peranan penting dalam pendinginan, yakni untuk menentukan kelas minyak. 4.) Titik nyala Titik nyala yang rendah menunjukkan adanya kontaminasi zat gabar yang mudah terbakar. 5.) Titik tuang Titik tuang dipakai untuk mengidentifikasi dan menentukan jenis peralatan yang akan menggunakan minyak isolasi. 6.) Angka kenetralan. Angka kenetralan merupakan angka yang menunjukkan penyusutan asam minyak dan dapat mendeteksi kontaminasi minyak, menunjukkan

kecendrungan perobahan kimia atau indikasi perubahan kimia dalam bahan tambahan. 7.) Korosi belerang Korosi belerang kemungkinan dihasilkan dari adanya belerang bebas atau senyawa belerang yang tidak stabil dalam minyak isolasi. 8.) Tegangan tembus Tegangan tembus yang terlalu rendah menunjukkan adanya kontaminasi seperti air, kotoran atau partikel konduktif dalam minyak. 9.) Kandungan air Adanya air dalam dalam isolasi menyebabkan menurunnya tegangan tembus dan tahanan jenis minyak isolasi akan mempercepat kerusakan kertas pengisolasi. Sifat sifat listrik yang menentukan unjuk kerja cairan sebagai isolasi adalah :

Withstand Breakdown Kemampuan untuk tidak mengalami kegagalan dalam kondisi tekanan listrik (electric stress ) yang tinggi.

Kapasitansi Listrik Per unit volume yang menentukan permitivitas relatifnya. Minyak petroleum merupakan subtansi nonpolar yang efektif karena merupakan campuran cairan hidrokarbon. Minyak ini memiliki permitivitas kira-kira 2 atau 2.5 . Ketidak bergantungan permitivitas subtansi nonpolar pada frekuensi membuat bahan ini lebih banyak dipakai dibandingkan dengan bahan yang bersifat polar. Misalnya air memiliki permitivitas 78 untuk frekuensi 50 Hz, namun hanya memiliki permitivitas 5 untuk gelombang mikro.

Faktor daya. Faktor dissipasi daya dari minyak dibawah tekanan bolak balik dan tinggi akan menentukan unjuk kerjanya karena dalam kondisi berbeban terdapat sejumlah rugi rugi dielektrik. Faktor dissipasi sebagai ukuran rugi rugi daya merupakan parameter yang penting bagi kabel dan kapasitor. Minyak transformator murni memiliki faktor dissipasi yang bervariasi antara 104

pada 20 oC dan 10-3 pada 90oC pada frekuensi 50 Hz.

Resistivitas Suatu cairan dapat digolongkan sebagai isolasi cair bila resitivitasnya lebih besar dari 109 W-m. Pada sistem tegangan tinggi resistivitas yang diperlukan untuk material isolasi adalah 1016 W-m atau lebih. (W=ohm)

2.1 Pengujian Kualitas Minyak Transformator 2.1.1 Pengujian kekuatan elektrik minyak Transformator Kekuatan listrik merupakan karakteristik penting dalam material isolasi. Jika kekuatan listrik rendah minyak transformator dikatakan memiliki mutu yang jelek. Hal ini sering terjadi jika air dan pengotor ada dalam minyak transformator. Pengujian perlu dilakukan untuk mengetahui kegagalan minyak transformator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan uji kegagalan ini antara lain:

Jarak elektroda 2.5 mm Bejana dan elektroda harus benar-benar kering dan bersih setiap sebelum pengujian, elektroda harus dicuci dengan minyak transformator yang akan diuji.

Minyak yang akan diuji harus diambil dengan alat yang benar-benar bersih, minyak pertama yang keluar dibuang supaya kran-kran menjadi bersih. Minyak lama pada waktu pertama alirannya dibuang.

Botol tempat minyak transformator ditutup dengan lilin supaya kotoran dan uap air tidak masuk.

2.1.2 Pengujian Viskositas Minyak Transformator Viskositas minyak adalah suatu hal yang sangat penting karena minyak transformator yang baik akan memiliki viskositas yang rendah, sehingga dapat bersirkulasi dengan baik dan akhirnya pendinginan inti dan belitan trasformator dapat berlangsung dengan baik pula.

2.1.3

Titik Nyala (flash point) Temperatur ini adalah temperatur campuran antara uap dari minyak dan

udara yang akan meledak (terbakar) bila didekati dengan bunga api kecil. Untuk mencegah kemungkinan timbulnya kebakaran dari peralatan dipilih minyak dengan titik nyala yang tinggi. Titik nyala dari minyak yang baru tidak boleh lebih kecil dari 135 oC, sedangkan suhu minyak bekas tidak boleh kurang dari 130 oC. Untuk mengetahui titik nyala minyak transformator dapat ditentukan dengan menggunakan alat Close up tester. 2.1.4 Pemurnian Minyak Transformator Minyak transformator dapat terkontaminasi oleh berbagai macam pengotor seperti kelembaban, serat, resin dan sebagainya. Ketidakmurnian dapat tinggal di dalam minyak karena pemurnian yang tidak sempurna. Pengotoran dapat terjadi saat pengangkutan dan penyimpanan, ketika pemakaian, dan minyak itu sendiri pun dapat membuat pengotoran pada dirinya sendiri. Beberapa metode pemurnian minyak transformator dijelaskan dalam bagian berikut ini a.) Mendidihkan (boiling) Minyak dipanaskan hingga titik didih air dalam alat yang disebut Boiler. Air yang ada dalam minyak akan menguap karena titik didih minyak lebih tinggi dari pada titik didih air. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana namun memiliki kekurangan. Pertama hanya air yang dipindahkan dari minyak, sedangkan serat, arang dan pengotor lainnya tetap tinggal. Kedua minyak dapat menua dengan cepat karena suhu tinggi dan adanya udara. Kekurangan yang kedua dapat diatasi dengan sebuah boiler minyak hampa udara (vacum oil boiler). Alat ini dipakai dengan minyak yang dipanaskan dalam bejana udara sempit (air tight vessel) dimana udara dipindahkan bersama dengan air yang menguap dari minyak. Air mendidih pada suhu rendah dalam ruang hampa oleh sebab itu menguap lebih cepat ketika minyak dididihkan dalam alat ini pada suhu yang relatif rendah. Alat ini tidak menghilangkan kotoran pada kendala pertama, sehingga pengotor tetap tinggal.

b.) Alat Sentrifugal (Centrifuge reclaiming) Air serat, karbon dan lumpur yang lebih berat dari minyak dapat dipindahkan minyak setelah mengendap. Untuk masalah ini memerlukan waktu lama, sehingga untuk mempercepatnya minyak dipanaskan hingga 45 - 55 oC dan diputar dengan cepat dalam alat sentrifugal. Pengotor akan tertekan ke sisi bejana oleh gaya sentrifugal, sedangkan minyak yang bersih akan tetap berada ditengah bejana. Alat ini mempunyai efesiensi yang tinggi. Alat sentrifugal hampa merupakan pengembangannya. Bagian utama dari drum adalah drum dengan sejumlah besar piring / pelat (hingga 50) yang dipasang pada poros vertikal dan berputar bersama-sama. Karena piring mempunyai spasi sepersepuluh millimeter, piring piring ini membawa minyak karena gesekan dan pengotor berat ditekan keluar. c.) Penyaringan (Filtering) Dengan metode ini minyak disaring melalui kertas penyaring sehingga pengotor tidak dapat melalui pori-pori penyaring yang kecil, sementara embun atau uap telah diserap oleh kertas yang mempunyai hygroscopicity yang tinggi. Jadi filter press ini sangat efesien memindahkan pengotor padat dan uap dari minyak yang merupakan kelebihan dari pada alat sentrifugal. Walaupun cara ini sederhana dan lebih mudah untuk dilakukan, keluaran yang dihasilkan lebih sedikit jika dibandingkan dengan alat sentrifugal yang menggunakan kapasitas motor penggerak yang sama. Filter press ini cocok digunakan untuk memisahkan minyak dalam circuit breaker (CB), yang biasanya tercemari oleh partikel jelaga (arang) yang kecil dan sulit dipisahkan dengan menggunakan alat sentrifugal. d.) Regenerasi (Regeneration) Produk-produk penuaan tidak dapat dipindahkan dari minyak dengan cara sebelumnya. Penyaringan hanya baik untuk memindahkan bagian endapan yang masih tersisa dalam minyak. Semua sifat sifat minyak yang tercemar dapat dipindahkan dengan pemurnian menyeluruh yang khusus yang disebut regenerasi. Dalam dengan menggunakan absorben untuk regenerasi minyak

transformator sering dipakai di gardu induk dan pembangkit. Adsorben adalah substansi yang partikel partikelnya dapat menyerap produk produk penuaan dan

kelembaban pada permukaannya. Hal yang sama dilakukan adsorben dalam ruang penyaring tabung gas yang menyerap gas beracun dan membiarkan udara bersih mengalir. Regenerasi dengan adsorben dapat dilakukan lebih menyeluruh bila minyak dicampur dengan asam sulfur. Ada dua cara merawat minyak dengan adsorben yaitu :
o

Pertama, minyak yang dipanasi dapat dicampur secara menyeluruh dengan adsorben yang dihancurkan dan kemudian disaring.

Kedua, minyak yang dipanaskan dapat dilewatkan melalui lapisan tebal adsorben yang disebut perkolasi. Adsorben untuk regenerasi minyak transformator terdiri dari selinder yang

dilas dengan lubang pada dasarnya dimana adsorber ditempatkan dengan minyak yang dipanaskan (80-100o C) hingga mengalir ke atas melalui adsorber. Ketika minyak mengalir ke atas, filter tersumbat oleh partikel halus adsorber dan udara dibersihkan dari adsorber lebih cepat dan lebih menyeluruh pada awalnya. Adsorber yang digunakan untuk regenerasi minyak transformator kebanyakan yang terbuat silica gel dan alumina atau sejenis tanah liat khusus yang dikenal sebagai pemutih (bleaching earth), lempung cetakan (moulding clay). Transformator tentunya harus diistirahatkan (deenergized) ketika minyaknya akan dimurnikan atau diregenerasi dengan salah satu metode diatas, walaupun demikian hal di atas dapat dilaksanakan dalam keadaan berbeban jika dilakukan perlakuan khusus. Pengembangan metode regenerasi minyak transformator dalam kedaan berbeban adalah dengan filter pemindah pemanas (thermal siphon filter) yang dihubungkan dengan tangki minyak transformator. Filter ini diisi dengan adsorben sebanyak 1 % dari berat minyak transformator.

BAB III HASIL PENGAMATAN

Gambar 3.1 Trafo Gardu Ditribusi DB 0414 (kiri) dan Gardu Distribusi DB 0874 (kanan)

Gambar 3.1 Trafo Gardu Ditribusi DB 0682

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, didapatkan data-data sebagai berikut: Waktu Pengamatan Trafo DB 0 DB 0874 1) 13/01/2014, 21.00 ( Cuaca Hujan ) 2) 15/01/2014 , 07.00 ( Cuaca Cerah ) 3) 15/01/2014 , 22.00 ( Cuaca Cerah ) 4) 16/01/2014 , 18.30 ( Cuaca Cerah ) 5) 18/01/2014 , 09.00 ( Cuaca Cerah ) Trafo DB 0414 1) 13/01/2014, 21.00 ( Cuaca Hujan ) 2) 15/01/2014 , 07.00 ( Cuaca Cerah ) 3) 15/01/2014 , 22.00 ( Cuaca Cerah ) 4) 16/01/2014 , 18.30 ( Cuaca Cerah ) 5) 18/01/2014 , 09.00 ( Cuaca Cerah ) Trafo DB 0682 1) 13/01/2014, 21.00 ( Cuaca Hujan ) 2) 15/01/2014 , 07.00 ( Cuaca Cerah ) 3) 15/01/2014 , 22.00 ( Cuaca Cerah ) 4) 16/01/2014 , 18.30 ( Cuaca Cerah ) 5) 18/01/2014 , 09.00 ( Cuaca Cerah ) 1) Tidak ada gejala 2) Tidak ada gejala 3) Tidak ada gejala 4) Tidak ada gejala 5) Tidak ada gejala 1) Tidak ada gejala 2) Tidak ada gejala 3) Tidak ada gejala 4) Tidak ada gejala 5) Tidak ada gejala 1) Terdengar suara mendengung 2) Tidak ada gejala 3) Tidak ada gejala 4) Terdengar suara mendengung 5) Tidak ada gejala Kejadian

Setelah kita melakukan survey di beberapa waktu yang berbeda, kondisi Gardu Distribusi rata-rata tidak menunjukkan gejala terjadinya gangguan. hanya mungkin pada waktu-waktu tertentu pada Gardu Distribus terdengar suara mendengung pada transformator dan rata-rata suara mendengungn muncul pada waktu-waktu beban puncak.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Isolasi Pada Gardu Distribusi

1
1. Isolator Karet 2. Isolator Keramik

1. Kondisi Isolasi Karet Penghantar Saat saya melakukan pengamatan pada Gardu Distribusi DB 0874, DB 0414 dan DB 0682, dalam pengamatan saya tidak ada isolator yang terkelupas pada ketiga Gardu distribusi tersebut. tidak ada gejala lompatan api meskipun diamati pada malam hari. tidak suara pada penghantar yang mengindikasikan terjadinya loncatan api ataupun terjadinya gangguan. jadi dapat dianalisa bahwa kondisi isolasi karet untuk penghantar pada Gardu induk tersebut baik, dan dan kerana tidak ada gejala yang mengidikasikan terjadinya gangguan maka kemampuan bahan tersebut dalam mengisolasi juga cukup baik.

2. Kondisi Isolasi Keramik Demikian juga pada Isolasi keramik, tidak menunjukkan adanya kejadian lompatan api meskipun diamati pada malam hari, tidak ada suara yang mengindikasikan terjadinya lompatan api dan juga suara yang mengindikasikan terjadinya gangguan. jadi dapat dianalisa bahwa kondisi isolasi keramik pada ketiga Gardu distribusi tersebut baik dan kemampuan bahan tersebut dalam mengisolasi juga cukup baik

3. Kondisi Isolasi Minyak Transformator Saat saya melakukan pengamatan transformator pada Gardu Distribusi DB 0414 dan DB 0682 tidak ada gejala yang menunjukkan terjadinya gangguan. ini mengindikasikan bahwa kondisi isolasi pada transformator di kedua Gardu Distribusi tersebut baik dan kemampuan minyak transfotmator dalam mengisolasi juga cukup baik. Namun saat saya melakukan pengamatan pada pukul 18.30 dan 21.00 pada transformator pada Gardu Distribusi DB 0874, dimana saat beban puncak, pada transformator terdengar suara mendengung. seperti yang kita ketahui suara mendengung pada transformator dapat disebabkan oleh banyak faktor. Dalam kondisi normal transformator sebenarnya mengeluarkan suara mendengung karena proses induksi pada transformator. Semakin besar arus yang dinduksi semakin keras suara mendengung tersebut. Tetapi suara mendengung pada trafo juga bisa disebabkan karena gangguan isolasi pada trafo. Oleh karena itu untuk mengetahui kondisi isolasi yaitu minyak trafo perlu dilakukan pengujian untuk mengukur kekuatan dielektrik rata rata minyak mencapai tingkat yang stabil. Stabiliasi ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor seperti daerah elektroda, jarak celah, kualitas minyak, energi yang dilepas dalam celah, elektroda pre treatment dan waktu antara kegagalan.

BAB V KESIMPULAN

5.1 Simpulan Dari hasil pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain: 1. Kondisi Isolasi karet pada penghatar di ketiga Gardu Distribusi tersebut baik karena tidak menunjukkan gejala-gejala terjadinya gangguan. 2. Kondisi Isolasi keramik pada ke di ketiga Gardu Distribusi tersebut juga baik 3. Kondisi Isolasi Minyak transformator pada Gardu Distribusi DB 0414 dan DB 0682 tidak ada gejala yang menunjukkan terjadinya gangguan pada transformator di kedua gardu induk tersebut. 4. Transformator pada Gardu Distribusi DB 0874 terdengar suara mendengung pada waktu-waktu beban puncak. Dan perlu dilakukan pengujian minyak transformator untuk mengetahui penyebab dari suara mendengung tersebut. 5. Pengujian minyak transformator untuk mengetahui lebih rinci tentang kegagalan minyak transformator dalam kondisi tertekan, medan seragam maupun tak seragam

DAFTAR PUSTAKA

Danikas M.G., 1990, Breakdown of Transformer Oil, IEEE Electtrical Insulation Magazines Vol.6, No.5, September/October. Arismunandar, 1990, Teknik Tegangan Tinggi, Jakarta : Pradnya Paramita. Edminister Joseph A., 1990, Elektromagnetika-Schaum Series, Jakarta: Erlangga Kawaguchi, Y, et. Al, 1972, Breakdown of Transformer Oil, IEEE Trans. On Power App. Syst.Vol. PAS-91 No.1 p.9-19. Tareev, B.M., 1995, Material for Electrical Engineering, High School Publishing House Moscow. http://www.elektroindonesia.com/elektro/ener13a.html http://syahwilalwi.blogspot.com/2010/12/14-kegagalan-isolasi-bahan-cair.html