Anda di halaman 1dari 6

Tugas Fungsi Engineering Pada Proyek Konstruksi

OPINI | 04 April 2013 | 07:57 Dibaca: 5097 Komentar: 8 1

www.usc.edu

Dalam pelaksanaan sebuah proyek konstruksi, kontraktor pelaksana akan membentuk satu tim dengan struktur organisasi proyek yang mewakili kompleksitas proyek tersebut. Beberapa kontraktor menerapkan pola manajemen yang berbeda satu sama lain, yang kemudian tercermin pada struktur organisasi proyeknya. Namun struktur organisasi yang berbeda tersebut pada intinya tetap harus mewakili fungsi-fungsi utama pada sebuah organisasi proyek. Dalam hal penulis akan memberikan contoh struktur organisasi di perusahaan di mana penulis bekerja. Dalam berbagai proyeknya, struktur organisasi yang dibentuk selalu mewakili fungsi-fungsi utama sebagai berikut: 1. Safety Officer, fokus pada masalah pengelolaan aspek keselamatan dan kesehatan kerja, serta pengelolaan proyek yang berwawasan lingkungan. 2. Construction Manager (Site Manager), fokus pada pengelolaan pelaksanaan pekerjaan, dengan memperhatikan metode kontsruksi, sistematika dan tahapan pelaksanaan. 3. Chief Engineer (Site Engineer), fokus pada perhitungan construction engineering, value engineering, pembuatan shop drawing, time control dan pengawasan pelaksanaan engineering proyek. 4. Commercial Manager, fokus pada pengelolaan pengadaan jasa dan material, contract administration dan quantity surveyor.

5. General Affair, fokus pada pengelolaan urusan umum antara lain pergudangan, kesekretariatan, kepersonaliaan proyek, perijinan, monitoring pembayaran kas proyek, keamanan dan hubungan sosial. Dari lima fungsi utama tersebut, penulis ingin membahas lebih lanjut pada poin nomor tiga, yaitu fungsi engineering. Tugas fungsi engineering, yang dalam ini dijabat oleh Chief Engineering atau Site Engineering (tergantung besar kecilnya proyek), adalah sebagai berikut: 1. Mengkoordinir pembuatan master schedule dan breakdown aktivitas bulanan dan mingguan. 2. Mengkoordinir penentuan schedule material dan persetujuan material dari owner. 3. Mengkoordinir pembuatan shop drawing. 4. Memaksimalkan kemungkinan pemanfaatan value engineering (VE). 5. Mengkoordinir pembuatan laporan progres pelaksanaan proyek secara periodik. Fungsi engineering sendiri menempati tahap ketiga dari lima tahapan pelaksanaan proyek, yaitu pada tahapan sosialisasi dan penjabaran. Ada pun kelima tahapan tersebut terdiri dari tahap pemahaman dan perencanaan,tahap pengadaan, tahap sosialisasi dan penjabaran, tahap pelaksanaan pekerjaan dan tahap serah terima pekerjaan. Dalam pelaksanaannya, fungsi engineering merencanakan tugas-tugas tersebut di atas pada tiga aspek, yaitu stuktur, arsitektur dan mekanikal elektrikal. Lingkup pekerjaan struktur meliputi pekerjaan sub structure (pondasi), upper structure (struktur gedung) dan struktur atap. Jenis pekerjaan struktur meliputi pekerjaan beton dan baja. Untuk lingkup pekerjaan arsitektur meliputi pekerjaan finishing yang terdiri dari finishing dinding, lantai, plafond, pintu jendela dan penutup atap. Jenis pekerjaan atau material arsitektur (finishing) sangat beragam, sehingga memerlukan pembahasan tersendiri. Sedangkan lingkup pekerjaan mekanikal elektrikal, meliputi instalasi penerangan (elektrikal), air bersih, air kotor & limbah, tata udara, pemadan kebakaran dan pekerjaan instalasi elektronik. Pada tulisan berikutnya, penulis akan membahas khusus untuk engineering arsitek, baik secara teoretik maupun pengalaman di lapangan, baik di lingkunan internal maupun eksternal. (bersambung)
http://ekonomi.kompasiana.com/manajemen/2013/04/04/tugas-fungsi-engineering-pada-proyekkonstruksi-547755.html

MANAJEMEN PROYEK
Defenisi Manajemen Manajemen merupakan proses terpadu dimana individu-individu sebagai bagian dari organisasi dilibatkan untuk merencanakan, mengorganisasikan, menjalankan dan mengendalikan aktivitasaktivitas, yang kesemuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditetapkan dan berlangsung terusmenerus seiring dengan berjalannya waktu. Agar proses manajemen berjalan lancar, diperlukan sistem serta struktur organisasi yang solid. Pada organisasi tersebut, seluruh aktivitasnya haruslah berorientasi pada pencapaian sasaran. Organisasi tersebut berfungsi sebagai wadah untuk menuangkan konsep, ide-ide serta pemikiran dari individu-individu yang memikul tanggung jawab manajemen. Jadi, dapat dikatakan bahwa manajemen merupakan suatu rangkaian tanggung jawab yang berhubungan erat satu sama lainnya. Selain itu, dalam pencapaian tujuan, terdapat beberapa fungsi manajerial lainnya yang diemban oleh pihak manajemen yakni sebagai inspirator, motivator, fasilitator, auditor, acsessor, executor dan lainlain. Penekanan mana yang lebih penting dari fungsi-fungsi tersebut tergantung pada permasalahan yang dihadapi para manajer dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Selanjutnya, apabila kedalam suatu manajemen diberikan masukan-masukan (input) secukupnya, maka diharapkan manajemen dapat menghasilkan keluaran-keluaran (output), yaitu tercapainya tujuan ataupun sasaran sebagaimana diharapkan.

1.2. Defenisi Proyek

Sebuah proyek merupakan suatu usaha/aktivitas yang kompleks, tidak rutin, dibatasi oleh waktu, anggaran, resources dan spesifikasi performansi yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Sebuah proyek juga dapat diartikan sebagai upaya atau aktivitas yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran dan harapan-harapan penting dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia, yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Proyek selalu melibatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Senantiasa dibutuhkan pemberdayaan sumber daya yang tersedia, yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran, dan harapan penting tertentu. Aktivitas/kegiatan-kegiatan pada proyek merupakan sebuah mata rantai, yang dimulai sejak dituangkannya ide, direncanakan, kemudian dilaksanakan, sampai benar-benar memberikan hasil yang sesuai dengan perencanaannya semula. Akhirnya kita akan dapat melihat bahwa pelaksanaan proyek pada umumnya merupakan rangkaian mekanisme tugas dan kegiatan yang kompleks, membentuk saling ketergantungan, dan secara otomatis mengandung permasalahan tersendiri. Proyek merupakan aktivitas yang bersifat temporer. Selalu ada pembatasan dalam pelaksanaannya dan juga skalanya tertentu pula. Dalam kehidupan sehari-hari ada sekumpulan aktivitas yang mirip dengan proyek, tetapi diberi istilah program. Bila dibandingkan dengan proyek, program mempunyai jangka waktu yang lebih lama, lingkupnya lebih luas dan sumberdaya yang dibutuhkan juga lebih banyak. Contohnya adalah program

reboisasi nasional, program imunisasi anak, program wajib belajar 9 tahun, program Inpres Desa Tertinggal (IDT), program Keluarga Berencana, dan lain sebagainya. Untuk membedakan antara proyek dan program, maka berikut ini adalah beberapa karakteristik yang dimiliki oleh proyek, yakni: 1. Memiliki sebuah tujuan tetentu 2. Memiliki titik (saat) awal dan titik akhir tertentu 3. Melibatkan beberapa departemen dan profesi 4. Seringkali melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya 5. Spesifik dalam waktu, biaya dan syarat performansi

1.3. Manajemen Proyek

Dari sub bab 1.1 dan 1.2. telah digambarkan dengan jelas defenisi manajemen dan defenisi proyek. Sehingga akhirnya dapat ditarik benang merah diantara keduanya. Manajemen proyek dapat diartikan sebagai penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan proyek. Dengan perkataan lain, manajemen proyek adalah kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengendalikan sumber daya organisasi perusahaan untuk mencapai tujuan tertentu dalam waktu tertentu dengan sumber daya tertentu pula. Manajemen proyek sangat cocok untuk suatu lingkungan bisnis yang menuntut kemampuan akuntansi, fleksibilitas, inovasi, kecepatan, dan perbaikan yang berkelanjutan. 1.4. Jenis-jenis Proyek Terdapat berbagai jenis kegiatan proyek, yakni kegiatan-kegiatan yang terkait dengan pengkajian aspek ekonomi, masalah lingkungan, desain engineering, marketing, manufaktur,dan lain-lain. Secara realita, kita tidak dapat membagi proyek-proyek kepada satu jenis tertentu saja, karena umumnya merupakan kombinasi dari beberapa jenis kegiatan sekaligus. Namun berdasarkan aktivitas yang paling dominan dilakukan pada sebuah proyek, maka jenis-jenis proyek dapat dikategorikan pada:
1. Proyek Engineering-konstruksi, aktivitas utama jenis proyek ini terdiri dari pengkajian kelayakan, desain Engneering, pengadaan dan konstruksi. Contoh : pembangunan real estate, jalan layang, bangunan pabrik, dan lain-lain. 2. Proyek Engineering Manufaktur, aktivitas proyek ini adalah untuk menghasilkan produk baru. Jadi proyek manufaktur merupakan proses untuk menghasilkan produk baru. Contoh : pembuatan boiler, kendaraan, komputer, dan lain-lain. 3. Proyek Pelayanan Manajemen, aktivitas utamanya antara lain adalah : merancang sistem informasi manajemen, merancang program efisiensi dan penghematan, diversifikasi, penggabungan dan pengambilalihan, memberikan bantuan emergency untuk daerah yang

terkena musibah, merancang strategi untuk mengurangi kriminalitas dan penggunaan obatobatan terlarang, dan lain lain. 4. Proyek Penelitian dan Pengembangan, aktivitas utamanya adalah melakukan penelitian dan pengembangan suatu produk tertentu. Misalnya, penelitian pengaruh penggunaan metode tertentu dalam pembuatan sebuah produk, penelitian pengaruh tingkat pendidikan terhadap kesadaran berpolitik, dan lain sebagainya. 5. Proyek Kapital, biasanya digunakan oleh sebuah badan usaha atau pemerintah. Proyek kapital umumnya meliputi : pembebasan tanah, penyiapan lahan, pembelian material dan peralatan, manufaktur dan konstruksi pembangunan fasilitas produksi.

Berdasarkan uraian diatas, untuk satu jenis proyek yang memiliki beberapa aktivitas sekaligus maka pembagian jenisnya adalah merupakan kombinasi. Sebagai contoh adalah proyek pembuatan sumur minyak dan gas, dari segi pembangunannya, dapat digolongkan sebagai proyek Engineeringkonstruksi tetapi dari seluruh tahapan dan biaya yang dibutuhkan pada pelaksanaannya dapat di kategorikan pada Proyek Kapital. 1.5. Pentingnya Manajemen Proyek Manajemen proyek kini merupakan sebuah manajemen yang dibutuhkan secara khusus. Masa mendatang menjanjikan satu peningkatan peran manajemen proyek dalam mendukung organisasiorganisasi kearah strategis. Ada beberapa alasan yang menguatkan pentingnya Manajemen Proyek yakni: 1. Kompresi Daur Hidup Produk Manajemen proyek semakin penting karena daur hidup produk semakin pendek. Sebagai contoh, pada masa dahulu, siklus kehidupan sebuah produk bisa mencapai 10 hingga 15 tahun. Namun saat ini industri berteknologi tinggi memiliki siklus daur hidup rata-rata 1,5 sampai 3 tahun. Siklus yang semakin pendek ini akan memaksa produsen untuk secepat mungkin memasarkan produk mereka. Oleh karenanya, kecepatan menghasilkan produk merupakan sebuah keuntungan kompetitif, sehingga banyak organisasi yang menghandalkan fungsi silang dari tim-tim proyek untuk mendapatkan produk dan jasa baru dengan secepat mungkin. 2. Kompetisi Global Saat ini, permintaan pasar tidak hanya pada produk dan jasa yang murah tetapi juga pada produk dan jasa yang terbaik. Inilah yang mengakibatkan timbulnya sertiifikasi ISO yang merupakan suatu persyaratan dalam menjalankan bisnis. ISO merupakan standard internasional untuk manajemen mutu dan jaminan mutu. Standard-standar ini mencakup perancangan, pembelian, jaminan mutu, dan proses pengiriman mulai dari perbankan sampai manufaktur. Manajemen mutu sangat berkaitan dengan manajemen proyek. Kebanyakan, awal dari teknik manajemen proyek berada pada ruang lingkup manajemen mutu. Meningkatnya tekanan untuk mengurangi biaya-biaya akan menyebabkan operasi pabrik di negara maju akan berpindah ke negara berkembang. Proyek-proyek ini sangat penting, akan

tetapi perpindahan ini akan mengakibatkan ketatnya penjadwalan dan anggaran dana agar lebih tepat waktu, efisien, dan mudah dalam penyelesaiannya. 3. Perkembangan Pengetahuan yang Pesat Perkembangan yang pesat dalam pengetahuan, telah meningkatkan kompleksitas proyek. Sebagai contoh, pembangunan jalan pada masa dahulu merupakan sebuah proses yang sederhana. Saat ini, terjadi peningkatan kompleksitas terutama untuk jalan layang, maupun jalan antar propinsi. Hal ini berpengaruh terhadap spesifikasi, penggunaan bahan, peraturan,nilai estetika, peralatan dan lain sebagainya, yang akhirnya semakin kompleks juga. Hal yang sama, juga terlihat pada dunia digital saat ini, hampir tidak ada peralatan elektronik yang tidak memiliki mikrochip di dalamnya. Kompleksitas produk ini telah meningkatkan kebutuhan terhadap integrasi teknologi. Hal ini membuat kebutuhan terhadap manajemen proyek meningkat dan menjadi sangat penting. 4. Perampingan Badan Usaha Pada dekade terakhir dapat dilihat aksi-aksi restrukturisasi pada perusahaan. Perampingan berbasis kompetensi-kompetensi inti menjadi penting untuk keberlangsungan suatu badan usaha. Perampingan badan usaha juga berpengaruh pada cara organisasi dalam menangani proyek-proyek. Perusahaanoutsource merupakan bagian penting dari pelaksanaan proyek,sehingga manajer proyek tidak hanya menangani personil-personil yang ada pada perusahaan mereka, tetapi juga harus mampu bersinergi dengan pihak lain. 5. Fokus pada Pelanggan Peningkatan kompetensi harus difokuskan pada kepuasan pelanggan. Pelanggan tidak lagi menginginkan produk dan jasa-jasa yang umum. Mereka menginginkan produk dan jasa yang dapat benar-benar memenuhi kebutuhan mereka. Persyaratan ini sangat membutuhkan hubungan kerja sama yang lebih dekat antara produsen dan konsumen. Eksekutif-eksekutif keuangan dan sales representative dapat berperan sebagai pimpinan proyek ketika fokus proyek adalah pada pemenuhan kebutuhan dan permintaan dari pelanggan. Sebuah organisasi professional untuk para ahli manajemen proyek didirikan dengan nama Project Manajement Institute (PMI).Organisasi ini memiliki anggota lebih dari 240.000 orang dari 160 negara, yang mempraktekkan manajemen proyek di berbagai area industri meliputi otomotif, konstruksi, jasa financial, teknologi informasi dan telekomunikasi, dan lain-lain. http://chalisbrother-engineering.blogspot.com/2009/12/manajemen-proyek.html