Anda di halaman 1dari 26

4.

HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG

4.1 Surat Persetujuan Berlayar (SPB) SPB adalah salah satu dokumen untuk kapal perikanan yang wajib dibawa pada saat akan berlayar. SPB yang biasa disebut dengan Surat Persetujuan Berlayar (SIB) Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 01 Tahun 2010 tentang tata cara penerbitan surat berlayar, yang dimaksud surat persetujuan berlayar adalah dokumen negara yang dikeluarkan oleh Syahbandar kepada setiap kapal yang akan berlayar meninggalkan pelabuhan setelah kapal tersebut memenuhi persyaratan kelaiklautan kapal dan kewajiban lainnya. SPB diterapkan untuk semua nelayan/ nahkoda/ pemilik kapal yang akan melakukan operasioanal kapal, baik jauh maupun dekat jarak kapal ke tempat tujuan serta merupakan kapal penangkapan ikan atau hanya kapal pengangkut hasil tangkapan. Tujuan dari surat ini adalah sebagai kontrol pemerintah untuk menjamin masalah dalam rangka keselamatan operasional kapal perikanan, yaitu persyaratan dokumen kapal/ administratif persyaratan teknis dan nautis kapal. Persyaratan administratif adalah Persyaratan permohonan oleh setiap kapal yang dibuktikan dengan sertifikat- sertifikat atau surat-surat dokumen kapal sesuai dengan kategori dan klasifikasi serta kapal masih dalam keadaan berlaku serta telah melaksanakan kewajiban pungutan jasa kepelabuhan seperti jasa tambat labuh dan kebersihan kolam pelabuhan. Persyaratan teknis adalah syarat yang dipenuhi kapal untuk kelayakan teknis dalam kelaikan kapal setelah melalui pemeriksaan dan pengujian,

22

antara lain memenuhi ketentuan konstruksi kapal, permesinan dan listrik kapal serta sistem dan perlengkapan pencegahan pencemaran minyak dari kapal. Persyaratan nautis adalah syarat yang dipenuhi kapal untuk keselamatan pelayaran setelah melalui pemeriksaan dan pengujian, antara lain : konstruksi dan susunan kapal, stabilitas dan garis muat, perlengkapan kapal, sistem dan perlengkapan pemadam kebakaran, perangkat telekomunikasi radio, jumlah dan susunan awak kapal. 4.1.1 Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar Pelaksanaan penerbitan surat persetujuan berlayar (SPB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong sepenuhnya dilaksanakan oleh

Syahbandar dari Kementrian dan Kelautan Perikanan. Berikut

adalah alur

proses pelayanan dan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar yang dikeluarkan oleh kantor Syahbandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong :

23

PETUGAS SYAHBANDAR
1 Pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen / surat-surat kapal (5 menit) A Pemeriksaan seluruh persyaratan teknis dan nautis kapal dari segi pelayaran (5 menit) B (30 menit) Pemeriksaan ulang alat penangkap ikan dan alat bantu penangkapan ikan yang berada / digunakan di atas kapal (10 menit)

Pemilik / Nahkoda kapal mengajukan permohonan penerbitan SPB / SIB (5 menit)

Tidak Memenuhi Persyaratan

Pemeriksaan sijil awak kapal yang akan berangkat berlayar (10 menit)

Pencetakan lembar SPB / SIB (15 menit)

Penerbitan SPB / SIB oleh kepala syahbandar


Gambar 3. Prosedural Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar.(Sumber : Laporan Tahunan Kesyahbandaran PPN Brondong, 2013).

24

Berikut merupakan keterangan dari (Gambar.3) diatas : NB : Perhitungan pengurusan 1 dokumen pengajuan SPB/SIB yaitu berkisar +/- 50 menit. 1 A : Persyaratan administrasi termasuk SLO dari pengawas perikanan : Jika kapal tidak memenuhi persyaratan kelengkapan/ keabsahan dokumen kapal B : Jika kapal tidak memenuhi persyaratan teknis dan nautis kapan dari segi pelayaran C : Jika kapal tidak memenuhi persyaratan alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan D : Jika kapal tidak memenuhi persyaratan Sijil awak kapal. Pengurusan surat Persetujuan Berlayar memerlukan waktu kurang lebih 50 menit, namun jika pemohon SPB sudah memenuhi semua persyaratannya bisa kurang dari waktu tersebut. Adapun prosedur diatas secara lebih rincinya sebagai berikut : Pemilik atau Nakhoda, atau pengurus kapal perikanan, mengajukan permohonan penerbitan SPB kapal perikanan kepada Syahbandar di Pelabuhan Perikanan dengan menggunakan (Form 1) yang tersaji dalam lampiran 2. Permohonan dilampiri dengan: Surat Pernyataan dari Nakhoda kapal perikanan tentang pemberangkatan kapal perikanan (Form 2) yang tersaji dalam lampiran 3. a. Tanda bukti pemenuhan kewajiban kapal perikanan, antara lain: bukti pembayaran jasa kepelabuhanan;

25

bukti pembayaran retribusi lelang ikan bukti pembayaran jasa kebersihan kapal persetujuan bea dan cukai persetujuan imigrasi persetujuan karantina kesehatan; persetujuan karantina ikan

b. Surat Laik Operasional (SLO) kapal perikanan c. Surat Tanda Bukti Lapor Kedatangan Kapal (STBLKK) d. Daftar Awak Kapal diisi seperti dalam form 3 yang tersaji dalam lampiran 4. Pemeriksaan Administrasi a. Syahbandar di di Pelabuhan pelabuhan perikanan perikanan atau wajib petugas melakukan

kesyahbandaran

pemeriksaan administratif secara cermat atas dokumen yang dilampirkan dengan menggunakan (Form 4) yang tersaji dalam lampiran 5. b. Syahbandar di Pelabuhan Perikanan menyampaikan secara tertulis hasil pemeriksaan administratif kepada pemilik atau Nakhoda kapal perikanan apabila persyaratan administratif belum lengkap. Pemeriksaan Fisik Syahbandar di Pelabuhan Perikanan atau Petugas

Kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan melakukan pemeriksaan fisik dengan menggunakan (Form 5) yang tersaji dalam lampiran 6.

26

Syahbandar di Pelabuhan Perikanan menyampaikan secara tertulis kepada Pemilik atau Nakhoda kapal untuk dilengkapi apabila persyaratan fisik kapal perikanan belum terpenuhi.

Apabila semua persyaratan telah dipenuhi, SPB kapal perikanan yang telah ditandatangani oleh Syahbandar di Pelabuhan Perikanan wajib diserahkan kepada pemohon SPB kapal perikanan berlaku selama 24 jam sejak diterbitkan Nakhoda Kapal perikanan wajib menggerakkan kapal perikanan untuk berlayar setelah menerima SPB kapal perikanan sesuai dengan waktu tolak yang ditetapkan dalam SPB kapal perikanan Dalam hal Syahbandar di Pelabuhan Perikanan berhalangan,

Syahbandar di Pelabuhan Perikanan dapat mendelegasikan penerbitan SPB kapal perikanan kepada Petugas Kesyahbandaran yang memiliki kompetensi dan kualifikasi di bidang kesyahbandaran. Apabila Syahbandar di di Pelabuhan Perikanan dan Petugas Kepala

Kesyahbandaran

pelabuhan

perikanan

berhalangan,

Pelabuhan Perikanan karena jabatannya dapat mengeluarkan SPB kapal perikanan. Penerbitan Pembebasan SPB dapat diberikan kepada kapal perikanan yang akan berlayar menuju galangan untuk perbaikan/docking kapal perikanan dan/atau tempat pengisian BBM untuk mengisi BBM di luar Wilayah Kerja dan Pengoperasian Pelabuhan Perikanan (WKOPP) setelah mendapat Surat Keterangan dari Pengawas Perikanan. Dalam penerbitan surat persetujuan berlayar (port clearance) pihak syahbandar sebagai pelaksana mempunyai peranan yang penting dan merupakan unsur penunjang dalam kelancaran pelayaran sesuai dengan

27

Undang-undang Nomor 17 Tahun 2008 tentang pelayaran, yang berbunyi Setiap kaal yang akan berlayar wajib memiliki Surat Persetujuan Berlayar yang dikeluarkan oleh syahbandar. Penerbitan surat persetujuan berlayar tesebut akan diterbitkan sesuai dengan permintaan perusahaan pelayaran/ Agent/ nelayan dengan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan. Disini pihak syahbandar dalam menerbitkan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) tersebut harus benar-benar memeperhatikan telah terpenuhinya persyaratan kelaiklautan dan memeriksa kondisi apal secara riil. Dan untuk kapal perikanan, sebelum memohon penerbitan surat persetujuan berlayar maka harus mendapatkan Surat Laik Operasional (SLO) yang dikeluarkan oleh Pengawasan sumberdaya kelautan dan Perikanan (PSDKP) terlebih dahulu. Salah satu hal yang menjadi penghambat kelancaran dalam penerbitan SPB adalah minimnya petugas yang melayani penerbitan surat tersebut, di PPN Brondong hanya terdapat 1-2 orang petugas kantor Syahbandar yang menanganinya sehingga terkadang mengalami pengantrian yang cukup lama, hal tersebut menjadikan kebanyakan nelayan pada umumnya enggan mengurus SPB dan juga menyebabkan lalainya pemeriksaan fisik kapal yang dapat membahayakan nelayan. Selain itu sarana mesin ketik yang digunakan penulisan SPB jumlahnya kurang memadai seiring dengan bertambahnya armada saat ini. 4.1.2 Persyaratan Dokumen Penerbitan Surat Persetujuan Berlayar Di dalam pengajuan Penerbitan SPB memiliki beberapa persyaratan yang harus dilengkapi oleh pemohon, yang akan dijabarkan sebagai berikut : Surat Ijin Penangkapan Ikan (SIPI) tersaji dalam lampiran 7, secara umum memuat informasi identitas perusahaan, identitas kapal, jenis

28

kapal/ alat penangkapan ikan, spesifkasi kapal, daerah penangkapan dan pelabuhan penangkapan serta masa berlaku surat ijin tersebut. Surat Ijin Usaha Perikanan (SIUP) tersaji dalam lampiran 8, secara umum memuat informasi identitas perusahaan, jenis kegiatan, kapal dan daerah usaha (jenis, ukuran, dan jumlah, daerah penangkapan, pelabuhan pangkalan, pelabuhan muat/singgah) dan terakhir masa berlaku surat ijin tersebut. Surat iIjin Laik Operasi (SLO) tersaji dalam lampiran 9, secara umum memuat informasi identitas perusahaan, kapal (nama, jenis, ukuran), nomor dan masa berlaku SIPI. Surat Tanda Bukti Lapor Kedatangan Kapal (STBLKK) tersaji dalam lampiran 10, secara umum memuat informasi identitas perusahaan, identitas kapal, alat penangkapan ikan, tanggal keberangkatan kapal, jumlah awak kapal, nahkoda kapal. Log Book penangkapan ikan yang sudah diisi oleh nahkoda tersaji dalam lampiran 11, secara umum memuat informasi identitas perusahaan kapal, identitas kapal, alat tangkap, jenis dan jumlah ikan yang ditangkap,

banyaknya setting dan jam melakukan setting. Dari persyaratan tersebut kebanyakan nelayan pada umumnya banyak yang tidak pernah mengurus permohnan SPB saat akan beroperasi dikarenakan belum memiliki SIPI ataupun SIUP, dari salah satu nelayan disana mengatakan mengurus surat tersebut ribet dan tergolong mahal bagi nelayan. Sehingga dibanding mengeluarkan banyak uang untuk mengurus tersebut nelayan lebih memilih untuk meneruskan beroperasi tanpa adanya SPB untuk mendapatkan uang dengan menanggung resiko jika ada bahaya di tengah laut seperti kebakaran, tenggelam dan lain-lain.

29

4.1.3 Data Permohonan Surat Persetujuan Berlayar Berdasakan laporan tahunan Syahbandar Pelabuhan Perikanan

Nusantara Brondong tahun 2012,

Data Jumlah Surat Persetujuan Berlayar /

Surat Ijin Berlayar yang diterbitkan pada tahun tahun 2012 yaitu sebanyak 1.077 dokumen (Data tersaji pada lampiran 12). Adapun kunjungan kapal yang masuk di PPN Brondong tahun 2012 sebanyak 11.973 kapal (Data tersaji pada lampiran 13). Penerbitan SPB pada tahun 2012 berjumlah 1.077 dokumen, dimana

terdapat peningkatan sebesar 146 dokumen atau terjadi peningkatan sebesar 15 % dibandingkan penerbitan SPB pada tahun 2011 yang berjumlah 931 dokumen. Jika dibandingkan antara jumlah kunjungan kapal dengan surat ijin berlayar yang diterbitkan dari tahun ke tahun terdapat perbedaan yang sangat mencolok, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran nelayan untuk melengkapi dokumen kapalnya untuk melaut masih sangat rendah, sehingga perlu diambil langkah-langkah pembinaan yang lebih intensif, serta perlunya di lalukan penindakan hukum sesuai dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan. (Gambar.4) Berikut ini adalah grafik jumlah kapal pemohon SPB di Pelabuhan Perikanan Brondong (PPN) pada tahun 2012 :

30

Jumlah Kapal pemohon SPB 2012


800 JUMLAH KAPAL (UNIT) 700 600 500 400 300 200 100 0 Dogol Payang Purse Seine Pancing Rawai gillnet Collecting

ALAT TANGKAP

Gambar 4. Grafik Jumlah Kapal Pemohon Surat Persetujuan Berlayar Di PPN Brondong (Sumber : Laporan Tahunan Kesyahbandaran PPN Brondong, 2012). 4.1.4 Masalah dan Kendala yang dihadapai Dalam Pernerbitan SPB Terdapat beberapa masalah dan kendala dalam penerbitan Surat Persetujuan Berlayar (SPB) sebagai berikut : Kurangnya kesadaran masyarakat nelayan akan menjaga keselamatan di laut dengan melengkapi dokumen- dokumen kapal Faktor ekonomi nelayan yang tidak memungkinkan untuk mengurus dokumen- dokumen tersebut Rumitnya mengurus Dokumen- dokumen persyaratan SPB seperti SIUP,SIPI dan lain-lain. Masih bayak terdapat nelayan pemohon SPB yang peralatan kapalnya tidak lengkap khususnya peralatan untuk keselmatan seperti life jacket dll Nelayan Tidak segera melapor saat kapal tiba di pelabuhan, sehingga dalam mengurus SPB perlu di cek ulang tanggal keberangkatan kapal sebelumnya.

31

Terdapat Pembayaran sukarela dalam pemohonan SPB, padahal disana sudah jelas tercantum dengan jelas bahwa dalam penerbitan SPB tidak dipungut biaya atau gratis. Solusi dan kebijakan yang diambil oleh petugas Kepala Seksi

Operasioanl dan Syahbandar di Pelabuhan Perikanan (PPN) Brondong untuk saat ini hanyalah dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada nelayan pemilik kapal mengenai SPB. 4.2 Log Book Penangkapan Ikan di PPN Brondong Berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor.

PER.18/MEN/2010 Tentang Log Book Perikanan pasal 2 menyatakan bahwa Setiap kapal perikanan yang memiliki SIPI wajib mengisi Log Book penangkapan ikan. Pengisian Log Book penangkapan ikan dilakukan pada setiap kapal yang beroperasi, pengisian tersebut merupakan tanggung jawab Nakhoda. Atas dasar tersebut maka Syahbandar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Brondong akan memeriksa setiap Log Book yang diisi Nakhoda kapal dan merupakan salah satu syarat yang harus dilengkapi bagi kapal yang akan mengambil Surat Persetujuan Berlayar (SPB) selanjutnya. 4.2.1 Penerbitan Log Book Penangkapan ikan di PPN Brondong Di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong penerbitan Log Book dilakukan pada saat nelayan akan melakukan operasi penangkapan yang mengurus permohonan SPB. Adapun langkah- langkahnya sebagai berikut : Nelayan yang akan melakukan operasi penangkapan mengurus

Permohonan Surat Persetujauan Berlayar di kantor Syahbandar Setelah Permohonan Surat Persetujuan Berlayar selesai, Perugas Syahbandar akan memeberikan selembaran Log Book yang nantinya harus diisi oleh nahkoda.

32

Petugas Syahbandar memberi petunjuk cara pengisian Log Book yang diberikan tersebut dengan baik dan benar. Petugas memberi tahu untuk segera memberikan Selembaran Log Book tersebut ke kantor Syahbandar untuk syarat permohonan SPB

selanjutnya. Berikut (Gambar.5) merupakan grafik jumlah penerbitan Log Book

berdasarkan ukuran kapal di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong pada tahun 2012 :

Jumlah logbook berdasarkan ukuran kapal tahun 2012


40 JUMLAH KAPAL (UNIT) 35 30 25 20 15 10 5 0 jan feb mar apr mei jun jul agt sep okt nov des BULAN <10 10 s/d 20 21 s/d 30 >30

Gambar 5. Grafik jumlah Log Book berdasarkan ukuran kapal oleh Syahbandar di PPN Brondong (Sumber : Laporan Tahunan Kesyahbandarah PPN Brondong, 2012).

Dari (gambar.5) diatas menunjukan bahwa jumlah Log Book terbayak pada kapal ukuran 21 GT sampai 30 GT, sedangkan ukuran kapal lainnya jauh lebih sedikit. (data jumlah Log Book tersaji dalam lampiran 14). 4.2.2 Masalah dan Kendala yang dihadapai Dalam Pernerbitan Log Book Terdapat beberapa masalah dan kendala dalam penerbitan Surat Log Book sebagai berikut :

33

Kurangnya kesadaran masyarakat nelayan akan pentingnya pengisian Log Book penangkapan ikan

Nelayan yang cenderung malas untuk mengisi dan menjaga akan keberadaan selembaran Log Book, Sehingga banyak nelayan yang menghilangkan selembaran Log Book tersebut

Banyaknya isian yang harus diisi dalam selembaran Log Book oleh nahkoda. Solusi dan kebijakan yang diambil oleh petugas Kepala Seksi

Operasioanl dan Syahbandar di Pelabuhan Perikanan (PPN) Brondong untuk saat ini hanyalah dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan kepada nahkoda untuk mau mengisi Log Book, dan jika tedapat selembaran Log Book yang hilang dengan terpaksa pihak petugas kantor Syahbandar mengisi sendiri Log Book dengan menanyakan langsung kepada nahkoda kapal tentang data-data ikan, berapa kali trip dan lain-lain. 4.3 Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan (PIPP) Data Entri PIPP merupakan aplikasi desktop yang digunakan oleh setiap lokal pelabuhan/pangkalan perikanan untuk melakukan pemasukan data periodik (harian, bulanan) atau data yang bersifat situasional. Aplikasi ini menerima sejumlah data dari enumerator yang telah bertugas melakukan survey langsung ke TPI, dermaga, kapal-kapal ataupun tempat-tempat lain yang berkaitan dengan aktivitas perikanan. Data pengisian enumerator (tersaji dalam lampiran 15), yang terdiri dari nama kapal dan nama pemilik kapal, jenis ikan yang tertangkap, jumlah ikan (kg), harga ikan /kg, dan nilai produksi. Selama Praktek Kerja Lapang, hanya melakuan pengentrian data harian. Pencatatan data inspeksi pembongkaran ikan di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong dilakukan dua kali sehari, pencatatan data tahap pertama yaitu mulai pukul 06.00 sampai pukul 08.00 WIB untuk kapal yang melakukan

34

penangkapan antara 7-14 hari. Sedangkan pencatatan data tahap kedua dilakukan mulai pukul 12.30 sampai pukul 14.30 WIB untuk kapal harian. Pencatatan data dilakukan oleh petugas ketika kapal datang dan dilakukan

pembongkaran. Data yang di dapat pada pencatatan di lapang tersebut masih berupa data mentah, setelah data di dapat kemudian data tersebut di ketik kembali dalam aplikasi Microsoft excel, yang kemudian akan dimasukkan ke dalam basis data lokal dan kemudian secara berkala akan dikirimkan ke basis data pusat melalui aplikasi ini, data tersebut disimpan untuk membuat laporan bulanan, laporan triwulan, dan laporan tahunan pelabuhan. sehingga aktivitas perikanan suatu pelabuhan dapat dipantau oleh publik. Aplikasi data entri PIPP hanya dapat diakses oleh operator pelabuhan beserta pejabat pelabuhan yang telah ditunjuk. 4.3.1 Diagram Konteks PIPP Konteks Pusat Informasi Pelabuhan Perikanan di Pelabuhan Perikanan (PNN) Brondong terdapat beberapa data yang kemudian nantinya akan dikirimkan langung ke pusat. Konteks detailnya dapat diihat seperti pada (Gambar.6) dibawah ini :

35

Gambar 6. Program Data Entri PIPP. (Sumber : Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Brondong, 2012).

4.3.2 Langkah- Langkah Menjalankan Program Data Entri PIPP Urutan yang terjadi ketika pengguna atau operator menjalankan program Data Entri PIPP adalah sebagai berikut : 1. Pengguna meng-klik shortcut aplikasi yang berada di Dekstop ataupun program menu komputer 2. Selanjutnya muncul sebuah splash screen yang menampilkan identitas aplikasi. Dapat dilihat (Gambar.7) di bawah ini :

36

Gambar 7. Splash Screen Identitas Aplikasi. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2013).

3. Setelah 5 detik berlalu, muncul sebuah form login yang harus diisi oleh pengguna. User ID dan Pasword harus terisi dengan benar, Lihat pada (Gambar.8) di bawah ini :

Gambar 8. Layar Log in. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

4. Jika login berhasil, maka pada layar akan muncul tampilan utama Data Entri PIPP, sebagai berikut :

37

Gambar 9. Layar Utama Aplikasi. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

Pada Tampilan utama data entri PIPP terbagi atas 5 bagian, yaitu : 1. Menu Bar Menu Bar berisikan menu-menu standar sebuah aplikasi, yaitu File, Tools, Help). File merupakan menu untuk membuka. 2. Menu Navigator Menu Navigator berfungsi untuk menampilkan menu utama aplikasi Data Entri PIPP, yaitu : Data Harian, Data Bulanan, Data Situasional, Report dan Migrasi Data.

38

3. Menu Detail Ketika salah satu menu pada Menu Navigator di-klik, maka menu detail akan menampilkan daftar menu detail dalam format Flat (datar) ataupun Tree (pohon). 4. Form Content Form Content berfungsi untuk menampilkan form isian yang bersesuaian dengan menu yang dipilih. 5. Status Bar Status Bar menampilkan status kemajuan sebuah aksi atau proses yang sedang dijalankan. Di bagian kanan Status Bar terdapat informasi tentang nama pelabuhan lokal dan waktu (tanggal dan jam) yang sedang berjalan. 4.3.3 Entri Data Setelah itu memaski pengentryan data PIPP yang dapat disimak dalam fitur untuk entri data sebagai berikut : 1. Setelah muncul layar utama diatas kemudian klik H1 Operasional kapal masuk pelabuhan pada kolom data harian pada menu detail. Lalu masukkan data yang telah diolah. Data yang dimasukkan pada form H1 meliputi nama kapal, pemilik kapal, nama nahkoda ukuran kapal, isi kotor, nomor solar, merk mesin, PK, alat tangkap utama, alat bantu penangkapan dan jumlah ABK. Tiap form entri terdiri dari dua bagian, yaitu bagian Entri dan Record Basis Data. seperti pada gambar dibawah ini :

39

Bagian Entri

Bagian record basis data

Gambar 10. Bagian dari Layar Entri. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

Bagian Entri memiliki dua fitur yaitu untuk menyimpan (Save) atau membersihkan seluruh layar (Reset). a. Bagian Record Basis Data memiliki empat fitur, yaitu untuk mengubah data yang sudah tercatat di basis data (Edit), menghapus data (Delete), mencetak semua data yang sudah tersimpan di basis data (Print), dan ekspor data menjadi bentuk file Excel untuk digunakan mendukung operasional pelabuhan (Export). b. Terdapat tiga karakter pengisian dari field field yang ada, dibedakan dengan warna field (lihat pada Gambar.10) , yaitu :

40

a. Field berwarna putih. Field ini tidak harus diisi/boleh dikosongkan. Sedangkan pengisian dilakukan baik secara ketik manual atau memilih dari pilihan yang ada pada box field tersebut. b. Field berwarna putih. Field ini harus diisi. c. Field berwarna biru. Field ini tidak dapat diubah (baik diubah datanya ataupun diisi), merupakan data referensi.

Gambar 11. pengisian field H1 Operasional kapal masuk pelabuhan. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

2. Setelah selesai mengisikan data pada form H1 operasional kapal masuk pelabuhan kemudian klik save untuk menyimpan data yang telah

41

dimasukkan. Lalu mengisikan data berikutnya pada form H2 Produksi ikan per kapal, data yang dimasukkan meliputi nama kapal, pemilik kapal, asal kapal, nomor selar, dan sumber data. Setelah itu mengisikan jenis ikan, jumlah ikan, harga ikan/ kg, alat tangkap seperti pada gambar berikut :

Gambar 12. pengisian field H2 Produksi ikan per kapal. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

3. Setelah memasukkan data pada form H2 produksi ikan per kapal klik save untuk menyimpan data yang telah dimasukkan. 4. Selanjutnya klik H3 distribusi ikan dari luar pelabuhan pada kolom data harian setelah itu mengisikan jenis ikan, kondisi, volume ikan (kg), harga ikan (kg) dan kota asal seperti pada gambar berikut :

42

Gambar 13. pengisian field H3 Distribusi ikan dari luar pelabuhan. (Sumber: Software PIPP PPN Brondong, 2012).

5. Setelah data selesai dimasukkan klik save untuk menyimpan data yang telah dimasukkan ke dalam form. Setelah itu klik H4 harga ikan di tingkat pedagang pada kolom data harian, setelah muncul form H4 kemudian isi kolom jenis ikan dan harga ikan (kg) seperti pada gambar di bawah ini :

43

Gambar 14. pengisian field H4 Harga ikan di tingkat pedagang. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

6. Setelah form jenis ikan dan harga ikan diisi kemudian klik save untuk menyimpan. Setelah data tersimpan kemudian klik H5 operasional kapal keluar pelabuhan, setelah mumcul form H5 kemudian mengisi data pada form yang H5 seperti pada gambar berikut :

44

Gambar 15. pengisian field H5 operasioanal keluar pelabuhan. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

7. Setelah selesai klik save untuk menyimpan data yang telah dimasukkan. 4.3.4 Migrasi data Setelah data terisi, maka data tersebut dikirim dengan langkah sebagai berikut : 8. Setelah semua form selesai di isi kemudian klik migrasi kemudian klik kirim data maka akan muncul form yang menampilkan seluruh data yang telah dimasukkan seperti pada gambar dibawah ini :

45

Klik disini

Gambar 16. Daftar data yang dientri. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

9. Setelah itu klik kirim dan ok, data tersebut telah dikirim ke pusat melalui website PIPP dan dapat dilihat secara online di www.pipp.kkp.go.id. Saat pengiriman data akan muncul seperti gambar sebagai berikut :

Gambar 17. Tampilan pengiriman data. (Sumber : Software PIPP PPN Brondong, 2012).

46

4.4 Masalah dan Kendala yang dihadapai Dalam PIPP Pengambilan data enumerasi yang sifatnya kondisional, artinya

pengambilan data tergantung kapal yang melakukan pembongkaran ikan dan terdapat juragan/ pemilik kapalnya. Jika tidak ada juragannya maka petugas sulit untuk mendpatkan data ikan. Kurangnya Komunikasi antara petugas dengan nelayan sehingga nelayan merasa enggan memberi informasi tentang hasil ikannya. Kurangnya kedisiplinan pada petugas dalam mengambil data ikan ataupun pengentrian data sehingga banyak data harian yang seharusnya tiap hari di entri tai belum dientri. Nelayan merasa terganggu dengan adanya petugas yang melakukan pendataan. Solusi dan kebijakan yang diambil oleh Kepala Seksi Operasioanl di Pelabuhan Perikanan (PPN) Brondong untuk saat ini hanyalah dengan memberikan peringatan secara lisan kepada petugas PIPP agar dengan segera mengentri data.