Anda di halaman 1dari 99

PROFIL PANGAN DAN PERTANIAN 2003-2006

Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

PROFIL PANGAN DAN PERTANIAN 2003-2006

Direktorat Pangan dan Pertanian Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2006

Pengarah: Bemby Uripto Penanggung Jawab: Endah Murniningtyas Koordinator Penyusun: Nono Rusono; Jarot Indarto; Noor Avianto Alamat: Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS Gedung 2A, Lantai 5, Jalan Taman Suropati No. 2, Jakarta 10310 Telepon: +62 21 31934323; Faksimili: +62 21 3915404 Website: www.bappenas.go.id Cover: Sumber gambar sampul depan: www.worldcycle.free.fr

ii

Kata Pengantar

KATA PENGANTAR

Penyediaan data dan informasi merupakan aspek yang cukup penting di dalam proses penyusunan perencanaan pembangunan pertanian karena dengan data dan informasi tersebut dapat memberikan gambaran atau profil pangan dan pertanian pada masa lalu dan saat ini, dan berdasarkan gambaran tersebut dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan rencana pembangunan pangan dan pertanian kedepan. Oleh karena itu Direktorat Pangan dan Pertanian akan terus melakukan penyusunan profil pangan dan pertanian secara berkelanjutan. Tahun 2006 merupakan tahun ketiga dalam penyusunan dan penerbitan profil pangan dan pertanian. Oleh karena itu, pada tahun ini, kegiatan pengembangan data base pembangunan pertanian merupakan kegiatan lanjutan yang pada dasarnya adalah kegiatan memelihara dan memperbaharui (update) data profil pangan dan pertanian yang sudah disusun pada tahun sebelumnya. Walaupun demikian kegiatan perbaikan atau pembaharuan (up-dating) pada penyusunan profil pangan dan pertanian tahun 2006 ini masih lebih besar porsinya daripada kegiatan untuk memelihara data dan informasi yang sudah ada. Beberapa perbaikan atau penambahan substansi telah dilakukan dalam penyusunan basis data profil pangan pertanian tahun 2006, diantaranya penambahan Bab yang khusus terkait dengan Prasarana dan Sarana Pertanian, penambahan penjelasan pada masing-masing sub sektor, serta memperbaharui (update) data dengan yang terbaru. Data dan informasi yang terdapat dalam profil pangan dan pertanian tahun 2006 meliputi kurun waktu 2003-2006 sebagai updating dari profil yang telah disusun sebelumnya. Namun demikian beberapa data hanya dapat diterbitkan sampai tahun 2005, karena karakteristik data dan belum dapat dikeluarkannya data tahun 2006 oleh lembaga yang berwenang. Kegiatan penyusunan basis pangan dan pertanian akan diupayakan secara berkelanjutan dengan harapan agar data dan informasi yang sudah tersusun beserta perbaikannya dapat dijaga terus kesinambungannya dan dimanfaatkan untuk kepentingan perencanaan
i

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

pembangunan pangan dan pertanian baik yang jangka pendek, jangka menengah, maupun panjang. Akhirnya, ucapan terima kasih disampaikan kepada Badan Pusat Statistik dan Departemen Pertanian yang telah membantu dalam penyediaan data dan informasi sebagai bahan yang cukup penting dalam penyusunan profil pangan dan pertanian. Demikian pula, penghargaan disampaikan kepada seluruh staf Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS yang telah bekerja dengan baik sehingga Profil Pangan dan Pertanian ini dapat tersusun.

Jakarta, Desember 2006 Direktur Pangan dan Pertanian

Endah Murniningtyas

ii

Daftar Isi

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................... DAFTAR ISI.................................................................................... DAFTAR TABEL ............................................................................ DAFTAR GAMBAR ....................................................................... BAB I. PERTANIAN DAN PEREKONOMIAN NASIONAL ..... 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. 1.5. Sumbangan Pertanian dalam PDB dan Eskpor ....... Perdagangan.............................................................. Tenaga Kerja ............................................................. Rumah Tangga Pertanian......................................... Pendapatan dan Nilai Tukar Petani.........................

i iii v ix 1 1 4 6 8 9 11 11 11 13 15 16 16 20 21 26 27 29 31 32 35 35 39 39 40
iii

BAB II. TANAMAN BAHAN MAKANAN .................................. 2.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas................ 2.1.1. Padi................................................................ 2.1.2. Palawija ......................................................... 2.1.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan................. 2.2. Sebaran Produksi/Agroekosistem ............................ 2.2.1. Padi................................................................ 2.2.2. Palawija ......................................................... 2.2.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan................. 2.3. Pola Panen Tahunan: Padi ....................................... 2.4. Ketersediaan, Kebutuhan, dan Tingkat Kecukupan Beras .......................................................................... 2.5. Neraca Perdagangan (Ekspor-Impor) ...................... 2.6. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain .. 2.7. Strategi Pengembangan............................................ BAB III. PERKEBUNAN ................................................................ 3.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas................ 3.2. Wilayah Produksi/Agroekosistem ........................... 3.2.1. Kopi ............................................................. 3.2.2. Kakao...........................................................

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

3.3.

3.4. 3.5. 3.6.

3.2.3. Teh .............................................................. 3.2.4. Tembakau ................................................... 3.2.5. Kapas........................................................... 3.2.6. Tebu ............................................................ Kelembagaan ............................................................ 3.3.1. Perusahaan Perkebunan ............................ 3.3.2. Perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara, dan Perkebunan Swasta ............................. Neraca Perdagangan (Ekspor-Impor) ..................... Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain.. Strategi Pengembangan ...........................................

41 43 44 45 47 47 50 52 53 55 57 57 57 59 60 64 66 69 70 71 73 73 74 77 77 79 80 81 83

BAB IV. PETERNAKAN................................................................. 4.1. Populasi, Produksi, dan Produktivitas .................... 4.1.1. Populasi Ternak............................................ 4.1.2. Produksi........................................................ 4.1.3. Produktivitas ................................................ 4.2. Konsumsi .................................................................. 4.3. Wilayah Produksi/Egroekosistem........................... 4.4. Kelembagaan ............................................................ 4.5. Perusahaan Pakan Ternak ....................................... 4.6. Akses terhadap Sumber Kredit................................ BAB V. SARANA DAN PRASRANA PERTANIAN .................... 5.1. 5.2. 5.3. 5.4. 5.5. Lahan dan Air........................................................... Pupuk........................................................................ Permodalan............................................................... Prasarana Teknologi Pertanian ............................... Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) Pertanian dan Penyuluhan Pertanian..................... 5.6. Kesehatan Hewan .................................................... 5.7. Karantina Pertanian................................................. TABEL LAMPIRAN........................................................................

iv

Daftar Tabel

DAFTAR TABEL

Tabel I.1. Tabel I.2. Tabel I.3. Tabel I.4. Tabel I.5. Tabel I.6. Tabel I.7. Tabel I.8. Tabel I.9.

Prosentase Kontribusi Sektor terhadap PDB Nasional Tahun 2005-2006............................................................ PDB Sektor Pertanian Berdasar Harga Konstan (Miliar Rupiah) ............................................................... Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Komoditas Pertanian (Nilai FOB Juta US $) .................................... Nilai Ekspor Indonesia Menurut Sektor Januari Oktober 2005 dan 2006 .................................................. Tenaga Kerja (TK) menurut Sektor tahun 2006............ Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian, 2000 dan 2005 Jumlah Rumahtangga menurut Jenisnya....................... Jumlah Rumahtangga Sektor Pertanian Tahun 2003 ... Perkembangan Nilai Tukar Petani ................................

2 3 5 5 6 7 9 9 10

Tabel II.1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi Indonesia......................................................................... Tabel II.2. Produksi Palawija di Indonesia (juta ton), 2000-2006.. Tabel II.3. Perkembangan Produktivitas dan Luas Panen Kedele dan Jagung, 2000-2006 ................................................... Tabel II.4. Perkembangan Produksi Sayur-sayuran dan Buahbuahan (ton).................................................................... Tabel II.5. Perkembangan Produksi dan Luas Panen Beberapa Sayur-sayuran dan Buah-buahan................................... Tabel II.6. Sebaran Wilayah Produksi Padi di Indonesia, 20022006 ................................................................................. Tabel II.7. Perkembangan Persentase Sebaran Luas Panen dan Produksi Padi menurut Agroekosistem, 2000-2006 ..... Tabel II.8. Sebaran Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi menurut Agro-Ekosistem, 2000-2006 ........................... Tabel II.9. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 ................................. Tabel II.10. Sebaran Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis menurut Wilayah (ribu ton) ..........................................

12 13 14 15 16 17 18 19 20 22

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II.11. Perkembangan Distribusi Sebaran Wilayah Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis (%)...................... Tabel II.12. Sebaran Produksi Mangga, Durian, dan Pisang menurut Wilayah (ribu ton).......................................... Tabel II.13. Sebaran Distribusi Wilayah Produksi Mangga, Durian, dan Pisang (%).................................................. Tabel II.14. Perkembangan Tingkat Kecukupan Beras Dalam Negeri ............................................................................. Tabel II.15. Perkembangan Ekspor-Impor Beberapa Komoditas Tanaman Bahan Makanan, 2000-2005 ......................... Tabel II.16. Perbandingan Produktivitas Padi Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha) ...................................................... Tabel II.17. Perbandingan Produktivitas Kedele Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha) ...................................................... Tabel III.1. Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM), 2004 - 2005................................ Tabel III.2. Luas Tanam dan Luas Panen Tanaman Perkebunan Setahun, 2004-2005........................................................ Tabel III.3. Produksi dan Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan, 2004-2005................................................. Tabel III.4. Sasaran Produksi Gula Nasional, 2002-2007 ................ Tabel III.5. Perkembangan Produksi Gula (ton), 2002-2005 .......... Tabel III.6. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kopi, 2004-2005....... Tabel III.7. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kopi, 2004-2005............................................. Tabel III.8. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kakao, 2004 - 2005 .. Tabel III.9. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao, 2004 - 2005 ........................................ Tabel III.10. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Teh, 2004 - 2005 ...... Tabel III.11. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Teh, 2004 - 2005 ............................................ Tabel III.12. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tembakau, 2004 - 2005 ..................................................................... Tabel III.13. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tembakau, 2004 - 2005.................................................. Tabel III.14. Sebaran Wilayah Luas Tanam Kapas, 2004 - 2005.......
vi

23 25 26 28 30 31 32

36 37 37 38 38 39 40 41 41 42 42 43 44 44

Daftar Tabel

Tabel III.15. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Kapas, 2004-2005........................................................................ Tabel III.16. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tebu, 2004 2005 ................................................................................. Tabel III.17. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tebu, 2004 - 2005...................................................................... Tabel III.18. Jumlah Perusahaan Perkebunan menurut Jenis Tanaman Perkebunan .................................................... Tabel III.19. Kapasitas Perusahaan Perkebunan Negara.................... Tabel III.20. Perkembangan Produktivitas Beberapa Komoditas Perkebunan, 2001-2005 ................................................. Tabel III.21. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)............................................................ Tabel III.22. Perkembangan Volume Impor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)............................................................ Tabel III.23. Perbandingan Produktivitas dari Beberapa Komoditas Perkebunan di Beberapa Negara, 2000-2004 ................ Tabel IV.1. Populasi Ternak Tahun 2000 2006 ............................. Tabel IV.2. Produksi Daging, Telur dan Susu, 2004-2006 ............... Tabel IV.3. Perbandingan Rata-rata Berat Hidup Ternak Ruminansia dan Babi Hasil, 1995 dan 2002 (dalam kg) Tabel IV.4. Perbandingan Rata-rata Berat Karkas Ternak Ruminansia dan Babi Hasil, 1976, 1995 dan 2002 ........ Tabel IV.5. Rasio Rata-rata Berat Karkas Terhadap Rata-rata Berat Hidup menurut Jenis Ternak, Hasil Studi Tahun 1995 dan 2002 (dalam kg) .............................................. Tabel IV.6. Parameter Produktivitas Ternak Sapi Perah dan Unggas ............................................................................. Tabel IV.7. Konsumsi Daging, Telur, dan Susu, 2004-2006 ............ Tabel IV.8. Konsumsi Hasil Ternak dan Protein Hewani Tahun 2006 ................................................................................. Tabel IV.9. Persebaran Ternak Besar menurut Wilayah................. Tabel IV.10. Persebaran Ternak Unggas menurut Wilayah.............. Tabel IV.11. Jumlah Rumah Tangga Peternakan dan Perusahaan Ternak ............................................................................. Tabel IV.12. Keterlibatan Rumah Tangga Peternakan dalam Koperasi dan Kelompok Tani.........................................

45 46 46 47 48 51 53 53 54 58 59 61 62

63 64 65 65 67 68 69 69
vii

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel IV.13. Perusahaan Pakan Ternak, 1997 2001 (dalam unit).. Tabel IV.14. Persentase Rumah Tangga Peternakan yang Mendapat Kredit/Tambahan menurut Sumber Kredit dan Jenis Ternak............................................................. Tabel V.1. Tabel V.2. Tabel V.3. Tabel V.4. Tabel V.5. Tabel V.6. Tabel V.7. Tabel V.8. Tabel V.9. Tabel V.10. Luas Lahan Irigasi .......................................................... Kondisi dan Keandalan Prasarana Irigasi...................... Kebutuhan Pupuk untuk Pertanian.............................. Kapasitas dan Produksi Pupuk ...................................... Produksi, Pengadaan dan Kebutuhan Pupuk, Januari Maret 2006...................................................................... Persentase Rumahtangga Pertanian menurut Sumber Permodalan Usaha ......................................................... Prasarana Penelitian Pertanian ..................................... Prasarana Diklat dan Penyuluhan Pertanian ............... Lembaga Kesehatan Hewan yang Mendukung Sistem Kesehatan Hewan Nasional ........................................... Prasarana Karantina Pertanian......................................

70

71 73 74 75 75 76 77 78 79 81 82

viii

Daftar Gambar

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1. Gambar II.2. Gambar II.3. Gambar II.4. Gambar II.5.

Gambar II.6. Gambar II.7. Gambar II.8.

Perkembangan Produksi, Produktivitas, dan Luas Panen Padi, 1999-2006............................................. Perkembangan Produksi Beberapa Komoditas Palawija, 2000-2006.................................................. Perkembangan Pangsa Produksi dan Luas Panen Padi antara Jawa dan Luar Jawa, 2002-2006 ........... Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 (dalam %) ......... Perkembangan Pangsa Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis antara Jawa dan Luar Jawa, 2003-2005.................................................................. Pola Panen Padi Sawah, Padi Ladang, dan Padi, 2000-2006.................................................................. Perkembangan Persentase Kecukupan Beras, 1997-2004.................................................................. Perkembangan Nilai Ekspor Sayur-sayuran dan Buah-buahan, 2001-2004 ......................................... Perkembangan Pangsa Produksi antar Pelaku pada Perkebunan Tebu, Kelapa Sawit, Kakao, dan Karet, 2001-2005.......................................................

12 14 18 21

24 27 28 31

Gambar III.1.

50

ix

Pertanian dan Perekonomian Nasional

BAB I PERTANIAN DAN PEREKONOMIAN NASIONAL

Peran sektor pertanian dalam perekonomian Indonesia dapat dilihat dari kontribusinya terhadap produk domestik bruto (PDB), perolehan devisa/perdagangan, penyerapan tenaga kerja dan kontribusinya dalam peningkatan kesejahteraan petani. 1.1. Sumbangan Pertanian dalam PDB dan Ekspor Pertanian masih menjadi salah satu sektor strategis dalam perekonomian Indonesia, yang ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap PDB nasional. Berdasarkan data BPS, PDB sektor pertanian termasuk perikanan dan kehutanan dalam dua tahun terakhir adalah sebesar 13 14 persen dari nilai total PDB Nasional. Angka ini cukup signifikan, karena kontribusi sektor pertanian tersebut menempati urutan ketiga setelah sektor industri (27 28 persen) dan sektor perdagangan, hotel dan restoran (14 16%). Menurunnya kontribusi sektor pertanian yang diiringi dengan meningkatnya kontribusi sektor industri, sejalan dengan pergeseran perekonomian yang semakin mengarah ke sektor sekunder. Secara luas, tidak berarti bahwa kontribusi sektor pertanian secara keseluruhan (agribisnis) terus mengecil, karena yang dicatat dalam sektor pertanian adalah aspek produksi primernya saja (produksi on farm), sehingga pengolahan/industri pertanian yang semakin meningkat nilainya tercatat dalam sektor industri. Apabila dilihat laju pertumbuhannya, dalam dua tahun terakhir PDB sektor pertanian hanya tumbuh sebesar 4,5%. Laju pertumbuhan tersebut berada di bawah sektor pengangkutan dan komunikasi yang besarnya 12,2%. Sedangkan sektor industri yang kontribusi terhadap PDB nya paling besar ternyata hanya tumbuh 3,1%. Dilihat dari komposisi PDB berdasarkan angka konstan, Nilai PDB 2006 triwulan 1 dan 2 menunjukkan peningkatan dibandingkan triwulan yang sama pada 2005 di dalam sektor pertanian, sub sektor tanaman bahan makanan masih dominan. Nilai PDB TBM 2005 adalah sebesar Rp 125,8 triliun meningkat dibanding 2004 (Rp 248,2 triliun).
1

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel I. 1.
Lapangan Usaha

Prosentase Kontribusi Sektor terhadap PDB Nasional Tahun 2005-2006


2005 Triwln I 14,5 Triwln II 13,9 2006 Triwln I Triwln II 13,5 13,3 Laju tumbuh*

4,5 Pertanian, Peternakan, Kehutanan, Perikanan Pertambangan 9,2 10,1 10,2 10,5 4,5 & Penggalian Industri 27,8 27,9 28,8 28,9 3,1 Pengolahan Listrik, Gas 0,9 0,9 0,9 0,9 5,7 dan Air Bersih Konstruksi 6,3 6,3 6,4 6,5 7,7 16,2 16,1 15,0 14,9 4,7 Perdagangan, Hotel dan restoran Pengangkutan 6,4 6,5 7,0 7,0 12,2 & Komunikasi 8,5 8,4 8,3 8,2 5,2 Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa 10,2 10,0 9,8 9,8 5,7 PDB 100,0 100,0 100,0 100,0 5,0 PDB Tanpa 90,5 89,4 88,6 87,7 5,5 Migas Keterangan: * Laju Pertumbuhan Semester I 2006 terhadap Semester I 2005 Sumber : BPS

Dilihat dari perkembangan antar triwulanan, sub sektor tanaman bahan makanan nampak berfluktuasi dibandingkan sub sektor lainnya. Hal ini disebabkan oleh dominannya produksi padi dalam sub sektor tanaman bahan makanan, yang sangat dipengaruhi oleh musim dan ketersediaan air. Kelangkaan dan kompetisi penggunaan air antar sektor maupun antar tanaman mengakibatkan adanya fluktuasi ini. Demikian pula kompetisi penggunaan lahan, dengan dengan sesuai dinamika harga antar komoditas pertanian.

Pertanian dan Perekonomian Nasional

Tabel I. 2. PDB Sektor Pertanian Berdasar Harga Konstan (Miliar Rupiah) 2005* Sektor/ Subsektor Pertanian TBM Perkebunan Peternakan Kehutanan Perikanan PDB PDB Non Migas I 63.783,1 37.576,1 5.754,7 8.041,5 3.616,5 8.794,3 427.760,3 391.088,2 II 65.156,2 32.307,2 10.724,9 7.909,4 4.567,1 9.647,6 434.998,9 399.091,4 III 69.643,3 32.294,4 14.582,5 8.214,9 4.411,9 10.139,6 448.287,5 411.858,7 IV 55.808,7 23.579,8 9.367,8 8.415,4 4.386,4 10.059,3 438.500,2 402.185,8 Total 254.391,3 125.757,5 40.429,9 32.581,2 16.981,9 38.640,8 1.749.546,9 1.604.224,1 I

2006** II 67.601,3 33.700,8 11.147,6 8.190,3 4.535,3 10.027,3 457.082,5 420.839,3

66.539,5 38.837,0 6.293,4 8.496,3 3.567,8 9.345,0 448.284,4 412.374,5

Keterangan: * Angka sangat sementara; ** Angka sangat sangat sementara Sumber : BPS, 2006

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Demikian pula, sub sektor perkebunan merupakan sub sektor dengan peningkatan yang cukup besar dibanding perikanan dan kehutanan yang relatif stabil. Pada triwulan pertama, PDB harga konstan sub sektor tersebut sebesar Rp 6,2 triliun dan menjadi Rp 11,1 triliun pada triwulan kedua pada tahun yang sama. Hal ini disebabkan sangat besarnya fluktuasi harga komoditas ini di pasar dunia. Dalam tiga tahun terakhir harga komoditas minyak saawit dan karet terus meningkat. Hal ini seiring dengan peningkatan harga minyak dunia. Peningkatan harga minyak sawit disebabkan meningkatnya peruntukan CPO untuk produksi biofuel sebagai pengganti/alternatif dari BBM. Demikian pula dengan meningkatnya harga BBM, produksi karet sintetis (syntetic rubber) semakin mahal dan menurun sehingga permintaan karet alam (natural rubber) meningkat. Sub sektor kehutanan masih relatif kecil kontribusinya terhadap PDB nasional. Pada triwulan kedua tahun 2006, kontribusi sub sektor kehutanan terhadap PDB hanya Rp 4,5 triliun. Angka ini merupakan kontribusi tertinggi kedua dari sub sektor tersebut setelah triwulan kedua 2005. Pada tahun 2005, jumlah kontribusi sub sektor kehutanan hanya Rp 16,9 triliun. Jumlah ini tentu masih sangat sedikit dibandingkan kontribusi sub sektor tanaman bahan makanan yang mencapai Rp 125,8 triliun. Relatif rendahnya kontribusi PDB sub sektor kehutanan disebabkan karena menurunnya pasokan kayu yang semula banyak berasal dari illegal logging. Sementara produksi kayu dari hutan tanaman industri masih sangat terbatas. 1.2. Perdagangan Peranan sektor pertanian dalam perdagangan internasional, dapat ditunjukkan oleh posisi beberapa komoditas pertanian di pasar dunia. Beberapa komiditi unggulan Indonesia di pasar dunia adalah karet, tembakau dan minyak kelapa sawit. Berdasarkan data nilai ekspor beberapa komoditas pertanian, dapat terlihat bahwa karet, kopi dan minyak kelapa sawit menunjukkan nilai ekspor yang meningkat dari tahun 2001 sampai tahun 2005 (Tabel I.3). Ketiga komoditas tersebut mengalami peningkatan nilai ekspor sampai dua kali pada tahun 2005 dibandingkan tahun 2001. Sebaliknya, beberapa komoditas mengalami penurunan nilai ekspor. Nilai ekspor teh turun dari US$ 94,7 juta pada tahun 2001 menjadi US$ 47,9 juta.
4

Pertanian dan Perekonomian Nasional

Tabel I. 3.
Komoditas

Perkembangan Nilai Ekspor Beberapa Komoditas Pertanian (Nilai FOB Juta US $)


2001 786,2 203,5 94,7 80.776,2 60.077,6 39.922,3 1.080,9 2002 1.037,6 218,8 98,0 66.450,2 58.968,5 29.167,2 2.092,4 Tahun 2003 1.495,8 250,9 91,8 44.486,1 54.710,8 38.048,9 2.454,6 2004 2.180,0 281,6 64,8 45.613,2 29.650,7 21.271,4 3.441,8 2005 2.582,5 497,8 47,9 62.896,5 34.650,8 21.996,9 3.756,3

Karet Kopi Teh Tembakau Lada Putih Lada Hitam Minyak Kelapa Sawit Sumber: BPS, 2006

Beberapa kendala yang dihadapi dalam persaingan perdagangan dunia adalah rendahnya kualitas komoditas pertanian. Hal ini dapat disebabkan masih rendahnya tingkat inovasi teknologi yang diterapkan serta rendahnya pengawasan terhadap nilai mutu produk tersebut. Berbagai isu dunia mengenai perdagangan dunia, misalnya kebijakan tarif dan keamanan produk, turut membatasi ekspor pertanian Indonesia. Oleh karena itu, dukungan kebijakan pemerintah masih sangat dibutuhkan guna peningkatan ekspor pertanian Indonesia. Tabel I. 4. Nilai Ekspor Indonesia Menurut Sektor Januari Oktober 2005 dan 2006
Nilai FOB (Juta US$) Jan-Okt Jan-Okt 2005 2006 % Perubahan Jan-Okt 2006 thd 2005 % Peran thd Total JanOkt 2006

Uraian

Total Ekspor Migas Non Migas Pertanian Industri Pertamb & lainnya
Sumber : BPS, 2006

70.650,8 15.792,8 54.858,0 2.396,1 46.371,7 6.090,2

82.207,8 17.541,1 64.666,7 2.822,5 53.164,6 8.679,6

16,4 11,1 17,9 17,8 14,7 42,5

100,0 21,3 78,7 3,4 64,7 10,6

Secara keseluruhan, nilai ekspor pertanian serta perbandingannya dengan sektor lainnya dapat dilihat pada Tabel I.4. Dalam tabel tersebut, dapat dilihat bahwa nilai ekspor pertanian, walaupun mengalami peningkatan 17,8 persen dalam satu tahun
5

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

terakhir, namun ternyata nilai ekspor pertanian hanya mampu berperan sekitar 3,4 persen terhadap nilai ekspor Indonesia secara keseluruhan pada periode Januari Oktober 2006. Sedangkan industri dan pertambangan masih memegang peranan penting, dengan berperan sekitar 64,7 persen dan 10,6 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya peningkatan produktivitas dan kualitas pertanian dalam meningkatkan nilai ekspor pertanian. 1.3. Tenaga Kerja Penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian adalah sebesar 42,3 juta atau sekitar 44,4 persen dari total tenaga kerja Indonesia yang besarnya mencapai 95,2 juta jiwa (Tabel I.5). Besarnya presentase ini menempatkan pertanian sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja terbesar, diikuti sektor perdagangan sebesar 19,5 persen dan sektor industri 12,2 persen. Keberadaan tenaga kerja yang besar di sektor pertanian ini merupakan beban yang berat karena kontribusi sektor pertanian terhadap PDB hanya menempati urutan ketiga. Sebaliknya, sektor industri yang memiliki kontribusi terhadap PDB yang besar hanya memapu menyerap 12,2 persen. Demikian pula jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja di sektor lain. Tabel I. 5. Tenaga Kerja (TK) menurut Sektor tahun 2006*
Sektor Pertanian, Kehutanan, Perburuan & Perikanan Pertambangan & penggalian Industri Pengolahan Listrik, Gas & Air Bangunan Perdagangan, RumahMakan & Hotel Angkutan, Pergudangan & Komunikasi Keuangan, Asuransi, Usaha Persewaan Bangunan , Tanah & Jasa Perusahaan Jasa Kemasyarakatan Total Rata-rata TK (juta orang) 42,3 1,0 11,6 0,2 4,4 18,6 5,5 1,2 10,6 95,2 Prosentase TK (sektor/nasional) 44,5 1,0 12,2 0,2 4,6 19,5 5,8 1,2 11,1 100,0

Keterangan: * sampai dengan Februari 2006; Sumber: BPS 2006 diolah 6

Pertanian dan Perekonomian Nasional

Terkonsentrasinya tenaga kerja di sektor pertanian mencerminkan bahwa sektor lain belum mampu menyerap tenaga kerja sebagaimana yang diharapkan. Hal ini bisa terjadi karena relatif kurang berkembangnya sektor-sektor lain, masuknya sektor industri relatif lambat pertumbuhannya dalam dua tahun terakhir. Yang kedua, sektor-sektor lain memiliki standar kualitas tenaga kerja, sedangkan sektor pertanian tidak mensyaratkan standar kualitas. Sebagai contoh, untuk menjadi pekerja di sektor industri membutuhkan ijazah dan keahlian tertentu. Demikian pula untuk memasuki sektor angkutan dan komunikasi yang sangat berkaitan dengan teknologi (IT). Untuk dapat menyebarkan tenaga kerja ke sektor sektor lain, diperlukan pertumbuhan yang lebih besar pada sektor-sektor, penyebaran penggunaan tenaga kerja (padat tenaga kerja) dan peningkatan standar kualitas SDM tenaga kerja Indonesia. Dengan semakin tingginya kualitas SDM tenaga kerja dan diiringi dengan pasar tenaga kerja yang fleksibel, persebaran tenaga kerja antar sektor akan seimbang. Dengan demikian, beban berat tidak hanya berada di sektor pertanian dan pendapatan tenaga kerja secara umum dapat meningkat. Tabel I. 6. Jumlah Tenaga Kerja Sektor Pertanian, 2000 dan 2005
Tahun 2000 2005 (000 (000 (%)* (%)* orang) orang) 35.618 39,7 36.349 38,3 Pertumbuhan 2000-2005 (%) 0,4 5,7 127,0 -16,4 96,3 3,8 0,0 0,6 1,1

Sub Sektor

Tan. Pangan, Perkebunan & Hortikultura Peternakan 1.856 2,1 2.448 2,6 Kombinasi Pertanian, 5 0,0 301 0,3 Perkebunan & Peternakan Jasa Pertanian, 1.075 1,2 440 0,5 Perkebunan & Peternakan Perburuan & Penangkaran 2 0,0 61 0,1 Satwa Liar Kehutanan 456 0,5 550 0,6 Perikanan 1.665 1,9 1.666 1,8 Jumlah Pertanian 40.677 45,3 41.814 44,0 Indonesia 89.838 100,0 94.948 100,0 Ket : * persentase terhadap jumlah tenaga kerja Indonesia Sumber : BPS 2005

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Dilihat dari persebaran sub sektor dalam sektor pertanian, dapat dikatakan hampir tidak terjadi perubahan yang signifikan atas jumlah tenaga kerja yang ada di sub sektor Tanaman Pangan, Perkebunan dan Hortikultura dari tahun 2000 sampai tahun 2005. Kecenderungan yang terjadi adalah meskipun secara absolut penyerapan tenaga kerja di sektor ini masih meningkat, namun prosentasenya terhadap tenaga kerja seluruhnya dalam lima tahun terakhir makin menurun, yaitu dari 39,6 persen menjadi 38,3 persen (Tabel I.6). Demikian juga untuk sub sektor lainnya, kondisi lima tahun terakhir relatif tetap, dan peningkatan yang terjadi tidak cukup signifikan. 1.4. Rumah Tangga Pertanian Penghitungan jumlah rumah tangga di dasarkan kepada keberadaan dapur dalam rumah. Apabila terdapat beberapa kepala keluarga yang tinggal dalam satu rumah dengan dapur yang sama akan dihitung menjadi satu rumah tangga. Dengan demikian penghitungan jumlah rumah tangga akan berbeda dengan jumlah tenaga kerja maupun jumlah kepala keluarga (KK). Dilihat dari jenisnya, rumah tangga dapat dibedakan menjadi rumah tangga pertanian dan non pertanian. Selain itu, rumah tangga juga dapat dibedakan menjadi rumah tangga jawa luar jawa dan rumah tangga kota desa. Jumlah rumah tangga Indonesia pada tahun 2003 adalah 52,9 juta. Sedangkan yang termasuk sebagai rumah tangga pertanian adalah 47,0 persen atau sekitar 24,9 juta (Tabel I.7). Selebihnya, 53,0 persen atau sekitar 28 juta adalah rumah tangga non pertanian. Rumah tangga pertanian sebenarnya mengalami penurunan prosentase walaupun secara nominal meningkat. Pada tahun tahun 1993, jumlah rumah tangga pertanian adalah 50,6 persen dan akhirnya turun menjadi 47,01 persen pada tahun 2003. Sedangkan antara tahun 1983 dan 1993 tidak dapat dibandingkan karena kriteria yang digunakan berbeda. Penurunan antara selang waktu 1993 - 2003 ini diduga karena semakin turunnya minat rumah tangga untuk bekerja di sektor pertanian. Sebaliknya mereka memilih bekerja di sektor lain karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.

Pertanian dan Perekonomian Nasional

Tabel I. 7.
Jenis Rumah tangga

Jumlah Rumahtangga menurut Jenisnya


1983 Jumlah % 60,2 39,8 100,0 1993 Jumlah 20.831 20.372 41.203 % 50,6 49,4 100,0 2003 Jumlah 24.869 28.036 52.904 % 47,0 53,0 100,0 Rata-rata Pertumbuhan 1993 2003 (%) 1,8 3,2 2,5

Pertanian 18.995 Non 12.537 Pertanian Jumlah 31.532 Sumber : BPS

Dilihat dari wilayahnya seperti dijelaskan dalam Tabel I.8, rumah tangga tanaman pangan, hortikultura dan peternakan lebih banyak berada di Jawa. Rata-rata 56,2 dari rumah tangga tersebut berada di pulau Jawa dan rata-rata 87,2 berada di perdesaan Indonesia. Sedangkan untuk rumah tangga perkebunan, sekitar 75,3 persen berada di luar Jawa dan sekitar 93,7 persen berada di perdesaan Indonesia. Tabel I. 8.
Wilaya h Jawa Luar Jawa

Jumlah Rumahtangga Sektor Pertanian Tahun 2003*


Hortikultura Jumlah % 4.747 56,1 3.710 43,9 Peternakan Jumlah % 3.002 53,3 2.626 46,7 Perkebunan Jumlah % 1.717 24,7 5.226 75,3

Padi-Palawija Jumlah % 10.834 59,3 7.425 40,7

Kota Desa

2.267 15.992

12,4 87,6

1.128 7.329

13,3 86,7

709 4.919

12,6 87,4
100,0

435 6.508
6.943

6,3 93,7
100,0

Jumlah 18.259 100,0 8.457 100,0 5.628 Keterangan: * tidak termasuk Perikanan dan Kehutanan Sumber : SUSENAS, 2003

1.5. Pendapatan dan Nilai Tukar Petani Nilai Tukar Petani (NTP) dianggap sebagai salah satu indikator kesejahteraan petani. Hal ini dikarenakan NTP mencerminkan nilai harga yang diterima petani yang dibandingkan dengan nilai harga yang harus dibayarkannya untuk memenuhi kebutuhannya (baik produksi maupun kebutuhan sehari-hari). Apabila dilihat dari tiga tahun terakhir, NTP cenderung berada di atas 100, yang menunjukkan bahwa nilai harga yang diterima petani lebih besar dibandingkan nilai harga
9

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

yang harus dibayarkannya. Dengan demikian, petani dapat dianggap telah mampu memenuhi kebutuhannya. Dari kurun waktu 2004 2006, hanya terdapat dua bulan dimana NTP berada di bawah 100, yaitu bulan Nopember dan Desember 2005 yang nilainya masing-masing 99,5 dan 98,7. Nilai ini mengindikasikan bahwa pada kedua bulan tersebut, nilai yang harus dibayar petani lebih besar daripada nilai harga yang diterimanya. Dari nilai tersebut, berarti baru sekitar 98 99 persen dari jumlah kebutuhan/pengeluaran yang dapat dipenuhi dari total penerimaan petani tersebut. Tabel I. 9.
Bulan Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Rata-rata tahunan

Perkembangan Nilai Tukar Petani


2004 104,4 103,5 103,4 103,3 103,9 104,8 105,8 102,2 101,0 100,7 100,6 101,0 102,9 Tahun 2005 101,3 100,1 100,3 100,8 101,7 101,1 102,8 101,7 101,8 100,2 99,5 98,7 100,8 2006 100,7 100,7 101,0 101,1 101,7

101,1

Sumber: BPS, beberapa tahun penerbitan

10

Tanaman Bahan Makanan

BAB II TANAMAN BAHAN MAKANAN

Tanaman bahan makanan merupakan sub sektor paling utama dari sektor pertanian. Berbeda dari pengelompokan profil pangan dan pertanian sebelumnya, dalam bagian ini tanaman bahan makanan akan mencakup pula uraian tentang sayur-sayuran dan buah-buahan. Pada profil sebelumnya, sayur-sayuran dan buah-buahan menjadi bagian tersendiri dalam pembangunan hortikultura. Penggabungan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya pemahaman menyeluruh tentang bahan makanan itu sendiri dimana sayur-sayuran dan buah-buahan juga merupakan unsur penting dalam pangan masyarakat yang perlu dipromosikan tingkat konsumsinya. Pembahasan akan meliputi aspek produksi, luas panen, produktivitas, sebaran wilayah, sebaran agroekosistem, dan neraca perdagangan (ekspor-impor). Selain itu, bagian akhir tulisan akan mendiskusikan mengenai strategi pengembangan pembangunan tanaman bahan makanan. 2.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas

2.1.1. Padi Selama kurun waktu 1999-2005, produksi padi dalam negeri terus mengalami peningkatan, kecuali pada tahun 2001. Rata-rata kenaikan produksi adalah sekitar 0,6 ton per tahun atau 1,6 persen per tahun; sedangkan, kenaikan produksi tertinggi dicapai pada tahun 2004 yang meningkat sekitar 2 juta ton dibandingkan produksi pada tahun 2003. Data tentang produksi, luas panen, dan produktivitas padi Indonesia disajikan pada Tabel II.1. Tahun 2005, produksi padi mencapai 54,2 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka tetap produksi padi ini lebih tinggi daripada angka ramalan III 2005 yang memperkirakan produksi padi 2005 sekitar 53,9 juta ton (GKG). Kenaikan produktivitas lebih merupakan faktor penjelas terjadinya kenaikan produksi padi pada tahun 2005 ini.

11

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II. 1. Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi Indonesia


Tahun 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) Produksi (juta ton) 50,9 51,9 50,5 51,5 52,1 54,1 54,2 54,7 Luas Panen (juta ha) 12,0 11,8 11,5 11,5 11,4 11,9 11,8 11,9 Produktivitas (ku/ha) 42,5 44,0 43,9 44,7 45,4 45,4 45,8 46,1

Keterangan: *) Angka Ramalan III BPS, 2006 Sumber : BPS, 2006

Untuk tahun 2006 ini, BPS memperkirakan bahwa tingkat produksi padi yang dapat dicapai adalah sekitar 54,7 juta ton (Angka Ramalan III 2006 BPS). Angka ramalan ini dihitung berdasarkan angka realisasi produksi Januari-Agustus 2006 dan angka perkiraan September-Desember 2006. Berbeda dengan tahun 2005 yang kenaikan produksi lebih disebabkan oleh kenaikan produktivitas, pencapaian produksi padi 2006 ini disebabkan baik oleh kenaikan luas panen maupun kenaikan produktivitas (Tabel II.1.).
60 50 40 30 20 10 0 1999

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006*)

Luas P anen (juta ha)

P ro duktivitas (ku/ha)

P ro duksi (juta to n)

Sumber: Diolah dari BPS, berbagai tahun penerbitan

Gambar II. 1. Perkembangan Produksi, Produktivitas, dan Luas Panen Padi, 1999-2006
12

Tanaman Bahan Makanan

2.1.2. Palawija Permasalahan penyediaan bahan makanan tidak hanya terkait dengan produksi padi. Komoditas palawija juga mempunyai peran penting dalam penyediaan bahan makanan bagi masyarakat. Bagian ini akan menyajikan perkembangan produksi beberapa komoditas palawija (jagung, kedele, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar) dari 2000-2006. Tabel produksi beberapa komoditas palawija disajikan pada Tabel II.2. dan visualisasi perkembangannya disajikan pada Gambar II.1. Tabel II. 2. Produksi Palawija di Indonesia (juta ton), 2000-2006
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) Jagung 9,7 9,3 9,7 10,9 11,2 12,5 12,1 Ubi Kayu 16,1 17,1 16,9 18,5 19,4 19,3 19,9 Kedele 1,0 0,8 0,7 0,7 0,7 0,8 0,8 Kc. Tanah 0,7 0,7 0,7 0,8 0,8 0,8 0,8 Kc. Hijau Ubi Jalar 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 0,3 1,8 1,7 1,8 2,0 1,9 1,9 1,8

Keterangan: *) Angka Ramalan III 2006, BPS Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan

Dalam kurun waktu 2000-2006, hanya jagung dan ubi kayu yang produksinya mempunyai kecenderungan meningkat. Produksi jagung meningkat dari 9,7 juta ton pada tahun 2000 menjadi 12,0 juta ton pada tahun 2005, namun diperkirakan akan menurun menjadi 12,1 juta ton pada tahun 2006. Selain itu, peningkatan produksi juga terjadi pada komoditas ubi kayu yang meningkat dari 16,1 juta ton pada tahun 2000 menjadi 19,5 juta ton pada tahun 2005; bahkan BPS memperkirakan produksi ubi kayu pada tahun 2006 akan bisa mencapai 19,9 juta ton. Di lain pihak, produksi komoditas palawija lainnya (kedele, kacang tanah, kacang hijau, dan ubi jalar) relatif tidak mengalami kenaikan produksi dalam kurun waktu tersebut.
13

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006


20 18 16 14 (juta ton) 12 10 8 6 4 2 0 2000 Jagung 2001 Kedele 2002 Kc. Tanah 2003 2004 Kc. Hijau 2005 Ubi Kayu 2006*) Ubi Jalar

Sumber: Diolah dari Tabel 2.4

Gambar II. 2. Perkembangan Produksi Komoditas Palawija, 2000-2006 Dalam aspek produktivitas, komoditas kedele dan jagung mampu meningkat produktivitasnya. Laju perkembangan produktivitas jagung relatif lebih cepat, sedangkan peningkatan produktivitas kedele lebih lambat (Tabel II.3.). Pada tahun 2006, diperkirakan produktivitas kedele akan sama dengan tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1,3 ton/ha. Sedangkan, produktivitas jagung diperkirakan sekitar 3,5 ton/ha. Tabel II. 3. Perkembangan Produktivitas dan Luas Panen Kedele dan Jagung, 2000-2006
Komoditas Kedele Produktivitas (ton/ha) Luas Panen (juta ha) Jagung Produktivitas (ton/ha) Luas Panen (juta ha) 2000 1,2 0,8 2001 1,2 0,7 2002 1,2 0,5 2003 1,3 0,5 2004 1,3 0,6 2005 1,3 0,6 2006*) 1,3 0,6

2,8 3,5

2,8 3,3

3,1 3,1

3,2 3,4

3,3 3,4

3,5 3,6

3,5 3,5

Sumber : Departemen Pertanian, 2006; BPS, 2006 Keterangan : *) Angka Ramalan III 2006, BPS 14

Tanaman Bahan Makanan

Selain masalah stagnasinya tingkat produktivitas, upaya peningkatan produksi kedele domestik masih terkendala oleh tidak meningkatnya luas areal penanaman kedele. Hal ini tercermin dari menurunnya luas areal kedele tahun 2006 dibandingkan dengan luas areal tahun 2000-2001. sementara, itu, selama tiga tahun terakhir (2004-2006), luas areal tanam kedele tetap sama yaitu sekitar 600 ribu ha. Hal yang sama juga terjadi pada luas areal tanaman jagung dimana luas areal tahun 2006 diperkirakan akan sama dengan luas areal pada tahun 2000. Namun demikian, terjadi kecenderungan peningkatan luas areal dalam kurun waktu 2002-2006. 2.1.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat (2004-2006). Tingkat produksi sayur-sayuran tahun 2004 sekitar 9,1 juta ton dan menjadi 9,2 juta ton. Rata-rata pertumbuhan produksi sayur-sayuran dalam kurun waktu tersebut sekitar 0,54% per tahun. Sementara itu, produksi buah-buahan tahun 2004 sekitar 14,3 juta ton dan menjadi 15,5 juta ton atau meningkat dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 3,91% per tahun (Tabel II.4.). Tabel II. 4. Perkembangan Produksi Sayuran dan Buah-buahan (ton)
Komoditas Sayur-sayuran Buah-buahan 2004 9.059.676 14.348.456 2005 9.101.987 14.786.599 2006 9.157.404 15.492.248 Pertumbuhan (%/tahun) 0,5 3,9

Sumber: Ditjen Hortikultura, 2006

Secara lebih rinci, Tabel II.5. menyajikan perkembangan produksi dan luas panen dari beberapa komoditas sayur-sayuran dan buah-buahan. Tidak sama dengan gambaran produksi agregat sayursayuran, produksi kentang dan kubis mengalami penurunan dalam kurun waktu 2004-2005, seiring dengan penurunan luas panen pada kurun waktu yang sama. Kecenderungan penurunan produksi sejak tahun 2002 terjadi pada bawang merah, yang di lain pihak terjadi peningkatan luas panen bawang merah dalam kurun 2002-2004.

15

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II. 5. Perkembangan Produksi dan Luas Panen Beberapa Sayursayuran dan Buah-buahan
Komoditas 2002 Kentang Bawang Merah Kubis Mangga Durian Pisang 893,7 766,4 1.232,9 t.a t.a t.a Produksi (ribu ton) 2003 1.010,0 762,7 1.348,6 1.526,0 741,5 4.175,7 2004 1.072,0 757,0 1.433,0 1.437,0 676,0 4.874,0 2005 1.009,6 732,6 1293,0 1.412,9 566,0 5.177,6 Luas Panen (ribu ha) 2002 57,2 79,8 60,2 2003 65,8 87,9 64,7 2004 65,0 89,0 68,0 2005 61,6 83,6 57,8

Keterangan: t.a (tidak ada data) Sumber : Statistik Pertanian, beberapa tahun penerbitan

Kenaikan produksi buah-buahan secara agregat juga tidak terjadi pada kinerja produksi mangga, durian, dan pisang. Kecenderungan peningkatan produksi hanya terjadi pada pisang yang meningkat produksinya dari 4,2 juta ton pada tahun 2003 menjadi 5,2 juta ton pada tahun 2005. Di lain pihak, produksi mangga dan durian malah mengalami penurunan dalam kurun 2003-2005. 2.2. Sebaran Produksi/Agroekosistem Bagian ini akan menyajikan data tentang sebaran produksi dan produktivitas beberapa komoditas bahan makanan menurut wilayah dan menurut agroekosistemnya. Sebaran menurut agroekosistem hanya akan membahas tentang padi/beras, sedangkan sebaran produksi dan produktivitas menurut wilayah akan mencakup padi dan beberapa komoditas palawija. 2.2.1. Padi Selama ini, Pulau Jawa masih merupakan produsen utama padi. Berdasarkan data tahun 2002-2006, rata-rata produksi padi Pulau Jawa sekitar 29,2 juta ton (Tabel II.6.); atau, kontribusi Pulau Jawa terhadap produksi padi nasional sekitar 54,7 persen (Gambar II.3.). Pada tahun 2005, Pulau Jawa memproduksi padi sekitar 29,8 juta ton (GKG), sedangkan Luar Jawa memproduksi sekitar 24,4 juta ton (GKG). Untuk
16

Tanaman Bahan Makanan

tahun 2006, BPS memperkirakan bahwa produksi padi Pulau Jawa akan mencapai 30 juta ton (GKG). Kontribusi besar Pulau Jawa terhadap produksi padi nasional ini disebabkan oleh tingkat produktivitas Pulau Jawa yang relatif lebih tinggi. Walaupun luas panen padi di Luar Jawa relatif lebih tinggi (rata-rata 6,1 juta ha atau 52,1 persen), namun karena produktivitasnya lebih rendah maka kontribusi Luar Jawa terhadap produksi padi nasional masih relatif lebih rendah. Berdasarkan data tersebut (lihat kembali Gambar II.3.), pola kontribusi Jawa dan Luar Jawa terhadap produksi dan luas panen padi nasional diperkirakan tidak banyak mengalami perubahan. Tabel II. 6. Sebaran Wilayah Produksi Padi di Indonesia, 2002-2006
Wilayah Jawa Luar Jawa Indonesia Jawa Luar Jawa Indonesia Jawa Luar Jawa Indonesia 2002 5,6 5,9 11,5 51 38,7 44,7 28,6 22,9 51,5 2003 2004 2005 5,7 6,1 11,8 52,2 39,8 45,7 29,8 24,4 54,2 2006*) 5,7 6,2 11,9 52,5 40,2 46,1 30,0 24,7 54,7 Luas Panen (ha) 5,3 5,7 6,1 6,2 11,4 11,9 Produktivitas (ku/ha) 52,4 51,9 39,2 39,4 45,4 45,1 Produksi (juta ton) 28,1 29,7 24 24,4 52,1 54,9

Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan Keterangan : *) Angka Ramalan III BPS, 2006

Pada tahun 2005, secara lebih rinci, daerah produsen utama padi nasional adalah Jawa Barat (9,8 juta ton), Jawa Timur (9 juta ton), dan Jawa Tengah (8,4 juta ton). Sedangkan, wilayah di luar Jawa yang berkontribusi besar terhadap produksi nasional adalah Sumatera Utara (3,5 juta ton), dan Sulawesi Selatan (3,4 juta ton). Dari sisi produktivitas, produktivitas paling tinggi terjadi di Propinsi Bali (5,5 ton per ha) dan semua propinsi di Jawa mempunyai produktivitas sekitar 5,1 ton per ha. Di lain pihak, propinsi yang masih rendah produktivitasnya (kurang dari 3 ton per ha) antara lain Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur, Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
17

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Produksi Padi
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 44,47 46,07 44,44 45,02 45,16

Luas Panen Padi


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0

51,30

53,51

52,10

51,69

52,10

(% )

55,53

53,93

54,10

54,98

54,84

(% )

48,70

46,49

47,90

48,31

47,90

2002

2003

2004 Jawa Luar Jawa

2005

2006

2002

2003

2004 Jawa Luar Jawa

2005

2006

Sumber: BPS, beberapa tahun penerbitan

Gambar II. 3. Perkembangan Pangsa Produksi dan Luas Panen Padi antara Jawa dan Luar Jawa, 2002-2006 Upaya peningkatan produksi padi nasional memang tergantung pada tingkat produktivitas dan luas panen. Dengan memperhatikan keterbatasan lahan pertanian di Pulau Jawa, peluang peningkatan produksi padi di Jawa relatif terbatas pada upaya peningkatan produktivitas. Dari sisi luas panen, tantangan paling besar di Jawa adalah bagaimana mempertahankan lahan-lahan produktif tanaman padi yang sudah ada. Sedangkan, di Luar Jawa, upaya peningkatan produksi masih dapat dilakukan baik melalui peningkatan luas panen maupun peningkatan produktivitas. Tabel II. 7. Perkembangan Persentase Sebaran Luas Panen dan Produksi Padi menurut Agroekosistem, 2000-2006
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) Rata-rata Luas Panen Sawah Ladang 89,8 10,2 90,4 9,6 91,3 9,6 90,4 9,6 90,8 10,2 90,5 9,5 90,8 9,2 90,6 9,7 Produksi Sawah Ladang 94,8 5,2 94,9 5,2 95,0 5,1 94,8 5,2 94,6 5,7 94,7 5,3 94,7 5,1 94,8 5,2

Sumber: Diolah dari Tabel 2.4 Keterangan : *) Angka Ramalan III BPS, 2006 18

Tanaman Bahan Makanan

Berdasarkan agroekosistemnya, data BPS tahun 2000-2006 menunjukkan bahwa rata-rata 94,8 persen produksi padi berasal dari padi sawah. Sedangkan, dari sisi luas panen, padi sawah mempunyai kontribusi terhadap luas panen padi sekitar 90,6 persen (Tabel II.7). Angka rinci tentang perkembangan sebaran produksi, luas panen, dan produktivitas menurut agroekosistemnya disajikan pada Tabel II.8. Tabel II. 8. Sebaran Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi Padi menurut Agro-Ekosistem, 2000-2006
Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006*) Sawah 10,6 10,4 10,5 10,4 10,8 10,5 10,8 46,3 46,0 46,8 47,5 47,5 47,8 48,1 49,2 47,9 48,9 49,4 51,2 50,2 51,8 Ladang Luas Panen (Juta ha) 1,2 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 Produktivitas (Ku/ha) 22,9 23,7 24,3 25,2 25,9 25,5 26,1 Produksi (Juta ton) 2,7 2,6 2,6 2,7 2,9 2,8 2,8 Padi 11,8 11,5 11,5 11,5 11,9 11,6 11,9 44,0 43,9 44,7 45,4 45,4 45,7 46,1 51,9 50,5 51,5 52,1 54,1 53,0 54,7

Sumber : BPS, beberapa tahun penerbitan Keterangan: *) Angka Ramalan III BPS, 2006

Tabel II.8. juga memberikan gambaran bahwa luas panen tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun (kecuali tahun 2004 dan
19

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

2006). Kenyataan ini mengindikasikan bahwa kenaikan produksi padi dari tahun ke tahun lebih disebabkan oleh peningkatan produktivitas (dimana produktivitas padi sawah dan padi ladang keduanya mengalami kenaikan). 2.2.2. Palawija Pulau Jawa merupakan sentra produksi komoditas jagung, kedele, dan ubi kayu (Tabel II.9.). Pusat produksi yang kedua untuk komoditas jagung dan ubi kayu adalah Pulau Sumatera. Sedangkan untuk komoditas kedele, Bali dan Nusa Tenggara merupakan lokasi produksi yang kedua setelah Pulau Jawa. Tabel II. 9. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006
Propinsi Jawa Sumatera Bali & Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Luar Jawa Indonesia Jagung 2005 2006*) 59,5 21,2 5,8 1,5 11,7 0,3 40,5 100,0 58,2 20,3 6,5 1,9 12,9 0,3 41,8 100,0 Ubi Kayu 2005 2006*) 55,1 30,3 5,9 2,5 4,7 1,5 44,9 100,0 52,5 33,1 5,4 2,6 5,1 1,4 47,5 100,0 Kedele 2005 2006*) 69,7 8,3 14,9 0,9 5,1 1,2 30,3 100,0 69,2 7,4 15,7 1,0 5,4 1,3 30,8 100,0

Keterangan: *) angka ramalan III 2006 Sumber: Angka Ramalan III BPS, 2006

Berdasarkan data yang sama (2005-2006), pangsa produksi dari ketiga komoditas antara Jawa dan luar Jawa tidak banyak mengalami perubahan. Namun demikian, terdapat perbedaan keragaan di antara ketiganya (Gambar II.4.). Pangsa produksi jagung di Pulau Jawa akan semakin menurun, seiring dengan peningkatan pangsa produksi di Sulawesi dan Bali-Nusa Tenggara. Penurunan pangsa produksi di Jawa juga terjadi pada komoditas ubi kayu; sedangkan pangsa produksi ubi kayu di Sumatera dan Sulawesi cenderung meningkat. Di lain pihak, perkembangan pangsa produksi kedele antara Jawa dan luar Jawa relatif tidak mengalami perubahan.
20

Tanaman Bahan Makanan


100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 -

Produksi Jagung

59,5

58,2 40,5 41,8

100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 -

Produksi Ubi Kayu

55,1

52,5

44,9

47,5

Jawa 2005
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 -

Luar Jawa 2006

Jawa 2005 2006

Luar Jawa

Produksi Kedele

69,7

69,2

30,3

30,8

Jawa 2005 2006

Luar Jawa

Sumber: Tabel II.9.

Gambar II. 4. Perkembangan Sebaran Wilayah Produksi Jagung, Ubi Kayu, dan Kedele, 2005-2006 (dalam %) 2.2.3. Sayur-sayuran dan Buah-buahan Pulau Jawa masih merupakan sentra produksi kentang, bawang merah, dan kubis masih (Tabel II.10.). Selain itu, untuk ketiga komoditas tersebut, di luar Jawa, secara relatif, Pulau Sumatera merupakan sentra produksi yang berlokasi di luar Jawa; jumlah produksi di pulau-pulau lain relatif tidak signifikan. Dalam satuan besaran (magnitude), produksi kentang, bawang merah, dan kubis di Pulau Jawa berfluktuasi; begitu juga dengan produksi kentang dan kubis di luar Jawa. Sedangkan, produksi bawang merah di luar Jawa mengalami penurunan dalam kurun 2003-2005. Penurunan produksi juga terjadi untuk ketiga komoditas di Pulau Sumatera.

21

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II. 10. Sebaran Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis menurut Wilayah (ribu ton)
Wilayah 2003 Jawa Bali & Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Luar Jawa Indonesia 598,8 6,6 340,7 63,8 0,1 411,2 1.010,0 Kentang 2004 685,0 8,0 276,0 99,0 4,0 387,0 1.072,0 2005 619,5 7,9 212,0 0,0 166,1 4,0 390,1 1.009,6 2003 590,1 100,8 44,2 0,2 25,4 2,0 172,6 762,7 Bawang Merah 2004 596,0 95,0 44,0 190,0 3,0 161,0 757,0 2005 576,2 96,5 38,4 0,1 17,7 3,7 156,4 732,6 2003 836,7 55,5 374,1 0,9 77,6 3,8 511,9 1.348,6 Kubis 2004 915,0 61,0 365,0 2,0 83,0 7,0 518,0 2005 830,2 45,7 332,6 1,1 76,5 6,9 462,8

1.433,0 1.293,0

Sumber : Statistik Pertanian, 2004; Departemen Pertanian, 2006

22

Tanaman Bahan Makanan

Secara proporsi menurut wilayah, pangsa produksi kentang antara Jawa dan luar Jawa berfluktuasi yang masih didominasi oleh Pulau Jawa sekitar 61,4% pada tahun 2005 (Tabel II.11. dan Gambar II.4.). Peningkatan pangsa produksi kentang paling besar terjadi di Pulau Sulawesi yang meningkat dari 6,3% tahun 2003 menjadi 16,4% dari total produksi nasional tahun 2005. Tabel II. 11. Perkembangan Distribusi Sebaran Wilayah Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis (%)
Wilayah Jawa Bali & NT Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Luar Jawa Indonesia Kentang 2003 59,3 0,7 33,7 6,3 0,0 40,7 100,0 2004 63,9 0,7 25,7 9,2 0,4 36,1 100,0 2005 61,4 0,8 21,0 0,0 16,4 0,4 38,6 100,0 Bawang Merah 2003 77,4 13,2 5,8 0,0 3,3 0,3 22,6 100,0 2004 78,7 12,5 5,8 25,1 0,4 21,3 100,0 2005 78,7 13,2 5,2 0,0 2,4 0,5 21,3 100,0 2003 62,0 4,1 27,7 0,1 5,8 0,3 38,0 100,0 Kubis 2004 63,9 4,3 25,5 0,1 5,8 0,5 36,1 100,0 2005 64,2 3,5 25,7 0,1 5,9 0,5 35,8 100,0

Sumber: Diolah dari Tabel II.10.

Untuk komoditas bawang merah dan kubis, terjadi peningkatan pangsa produksi di Pulau Jawa (dan/atau penurunan pangsa produksi di luar Jawa). Tabel II.11. juga menunjukkan adanya fluktuasi pangsa produksi bawang merah yang sangat tajam di Pulau Sulawesi dimana pangsa produksi pada tahun 2003 dan 2005 sekitar 3,3% dan 2,4%, sedangkan pada tahun 2004 sekitar 25,1% dari total produksi bawang merah nasional. Di luar Jawa, pusat produksi bawang merah berlokasi di Bali dan Nusa Tenggara. Sementara itu, pusat produksi kubis di luar Jawa berlokasi di Pulau Sumatera.

23

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006


70 60 50 40 30 20 10 Jawa 2003 2004 Luar Jawa 2005 63,9 61,4

Produksi Kentang

59,3

90 80 70

Produksi Bawang Merah


77,4 78,7 78,7

40,7

36,1

38,6

60 50 40 30 20 10 Jawa 2003 2004 Luar Jawa 2005 22,6 21,3 21,3

70 60 50 40 30 20 10 -

62,0 63,9 64,2

Produksi Kubis

38,0 36,1 35,8

Jawa 2003 2004

Luar Jawa 2005

Sumber: Tabel II.11.

Gambar II. 5. Perkembangan Pangsa Produksi Kentang, Bawang Merah, dan Kubis antara Jawa dan Luar Jawa, 2003-2005 Produksi mangga dan durian secara nasional menunjukkan terjadinya penurunan produksi. Secara agregat, kecenderungan penurunan produksi ini juga terjadi di Jawa dan luar Jawa dalam kurun waktu 2003-2005 (Tabel II.12.). Di lain pihak, produksi pisang semakin meningkat dalam kurun waktu yang sama, baik di Jawa maupun di luar Jawa. Namun, dalam data yang lebih detail, terdapat juga penurunan produksi pisang, yaitu di Pulau Maluku dan Papua.

24

Tanaman Bahan Makanan

Tabel II. 12. Sebaran Produksi Mangga, Durian, dan Pisang menurut Wilayah (ribu ton) Wilayah 2003 Jawa Bali & Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Luar Jawa Indonesia 1.211,0 128,4 88,6 17,3 74,6 5,7 314,6 1.526,0 Mangga 2004 1.126,0 141,0 68,0 16,0 81,0 5,0 311,0 1.437,0 2005 1.108,3 133,0 57,3 25,1 77,6 11,6 304,6 1.412,9 2003 224,5 8,0 370,0 90,0 43,5 5,5 517,0 741,5 Durian 2004 176,0 13,0 343,0 95,0 44,0 5,0 500,0 676,0 2005 141,0 18,9 271,8 73,1 54,6 7,2 426,0 566,0 2003 2.625,0 175,0 753,7 244,0 234,0 144,0 1.550,7 4.175,7 Pisang 2004 3.108,0 247,0 940,0 241,0 296,0 42,0 1.766,0 4.874,0 2005 3.270,0 297,7 1.008,9 260,8 301,0 39,2 1.907,6 5.177,6

Sumber : Statistik Pertanian, beberapa tahun penerbitan

25

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Pulau Jawa merupakan sentra produksi mangga dan pisang, sedangkan produksi durian lebih banyak dihasilkan oleh luar Jawa terutama di Pulau Sumatera (Tabel II.13.). Selama kurun waktu 20032005, tidak ada perubahan signifikan terhadap pangsa wilayah produksi mangga dan pisang antara Jawa dan luar Jawa, dimana Pulau Jawa masih mendominasi jumlah produksi. Sedangkan untuk komoditas durian, dominasi pangsa produksi durian di luar Jawa semakin meningkat dari 69,7% tahun 2003 menjadi 75,3% tahun 2005. Tabel II. 13. Sebaran Distribusi Wilayah Produksi Mangga, Durian, dan Pisang (%)
Wilayah Jawa Bali & NT Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua Luar Jawa Indonesia Mangga 2003 79,4 8,4 5,8 1,1 4,9 0,4 20,6 100,0 2004 78,4 9,8 4,7 1,1 5,6 0,3 21,6 100,0 2005 78,4 9,4 4,1 1,8 5,5 0,8 21,6 100,0 2003 30,3 1,1 49,9 12,1 5,9 0,7 69,7 100,0 Durian 2004 26,0 1,9 50,7 14,1 6,5 0,7 74,0 100,0 2005 24,9 3,3 48,0 12,9 9,6 1,3 75,3 100,0 2003 62,9 4,2 18,0 5,8 5,6 3,4 37,1 100,0 Pisang 2004 63,8 5,1 19,3 4,9 6,1 0,9 36,2 100,0 2005 63,2 5,8 19,5 5,0 5,8 0,8 36,8 100,0

Sumber: Diolah dari Tabel II.12.

2.3.

Pola Panen Tahunan: Padi

Menurut data BPS sejak 2000-2005, masa panen padi di musim penghujan berkisar antara bulan Februari-April; sedangkan masa panen di musim kemarau pada bulan Juli-September. Karena kontribusi padi sawah relatif besar, maka pola panen bulanan padi nasional mengikuti pola panen padi sawah. Di lain pihak, padi ladang hanya mengalami puncak panen sekali setahun, yaitu pada bulan Februari-Maret. Pola panen padi sawah, padi ladang, dan padi tahun 2000-2006 disajikan pada Gambar II.7.

26

Tanaman Bahan Makanan

Sumber: Angka Ramalan III BPS, 2006

Gambar II. 6. Pola Panen Padi Sawah, Padi Ladang, dan Padi, 20002006 Pada tahun 2006, Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) memperkirakan bahwa awal musim penghujan akan mengalami keterlambatan selama sebulan. Hal ini akan mengakibatkan masa tanam dan masa panen padi tahun 2007 juga akan mengalami kemunduran. 2.4. Ketersediaan, Kebutuhan, dan Tingkat Kecukupan Beras Dalam bagian ini, fokus pembahasan hanya pada komoditas beras sebagai bahan pangan utama masyarakat. Tabel II.14. menyajikan perkembangan tingkat kecukupan beras dalam kurun waktu 19972004. Selama waktu tersebut, produksi beras domestik belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan konsumsi domestik. Walaupun demikian, tingkat kecukupan yang dicapai sudah mencapai rata-rata 95,18%.
27

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II. 14. Perkembangan Tingkat Kecukupan Beras Dalam Negeri


Tahun Tersedia untuk Konsumsi (juta ton) Kebutuhan Konsumsi (juta ton/thn) ProduksiKonsumsi (juta ton) Tingkat Kecukupan (%)

1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

25,6 25,5 26,4 26,5 26,0 26,7 27,0 27,3

26,6 26,9 27,3 27,7 28,0 28,2 28,4 28,7

-1,0 -1,3 -0,9 -1,2 -2,0 -1,5 -1,4 -1,4

96,4 95,0 96,6 95,7 92,8 94,8 95,0 95,1

Sumber: Disadur dari Direktorat Pangan dan Pertanian BAPPENAS, 2005 Keterangan: Tingkat kecukupan dihitung sebagai persentase ketersediaan untuk konsumsi dengan kebutuhan konsumsi.

Berdasarkan tampilan grafis dari tingkat kecukupan beras (Gambar II.8.), nampak bahwa sebenarnya tidak ada pola kecenderungan yang pasti; tingkat kecukupan beras dalam kurun waktu tersebut berfluktuasi. Bila kita hanya fokus pada kurun waktu 2001-2004, ada harapan ke depan bahwa tingkat kecukupan ini akan semakin membaik.
98 97 96 95 94 93 92 91 90 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004

Persentase Tingkat Kecukupan (%)

Sumber: Tabel II.14.

Gambar II. 7. Perkembangan Persentase Kecukupan Beras, 1997-2004 Pada akhir tahun 2006, kondisi perberasan nasional ditandai dengan keterlambatan masa tanam dan masa panen karena faktor
28

Tanaman Bahan Makanan

perubahan awal musim penghujan. Oleh karena itu, terjadi kelangkaan beras di pasaran yang menyebabkan harga beras domestik naik secara signifikan. Upaya penanganan yang dilakukan oleh pemerintah dalam jangka pendek adalah operasi pasar umum dan percepatan distribusi beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Selain itu, pemerintah juga direncanakan akan menambah stok beras pemerintah. Penambahan stok beras pemerintah ini akan diupayakan melalui impor. 2.5. Neraca Perdagangan (Ekspor Impor) Dari aspek perdagangan, sebagian besar komoditas tanaman pangan (beras, jagung, dan kedele) masih terus mengalami defisit neraca perdagangan (Tabel II.15.). Berdasarkan data tahun 2000-2005 tersebut, nampak bahwa sebenarnya tidak ada pola yang pasti tentang kenaikan/penurunan ekspor/impor komoditas tanaman pangan. Untuk beras, pemerintah masih mempunyai kewenangan untuk mengatur tata niaganya, namun untuk komoditas lain, aktivitas ekspor-impor lebih ditentukan oleh mekanisme pasar. Namun demikian, hal terpenting dari data tersebut adalah penanganan terhadap terciptanya kondisi ketergantungan terhadap impor. Bila kondisi ini sampai terjadi, maka akan muncul kerawanan pangan yang sulit untuk diatasi dalam era globalisasi perdagangan ini. Berbeda dengan komoditas tanaman pangan lainnya, neraca perdagangan ubi kayu Indonesia menunjukkan angka yang positif (ekspor lebih tinggi daripada impor). Pengembangan lebih lanjut pada komoditas ubi kayu sebenarnya masih terbuka luas, yang antara lain dengan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan (processing). Hal lain yang diperkirakan akan mampu merangsang peningkatan produksi ubi kayu adalah peluang pengembangan bio-ethanol. Untuk buah-buahan dan sayur-sayuran, dalam kurun waktu 2002-2004, terjadi kecenderungan nilai ekspor buah-buahan (Gambar II.9.). Nilai ekspor buah-buahan tahun 2002 sekitar US$ 138,4 ribu dan menjadi US$ 122,8 ribu. Sedangkan, dalam kurun waktu yang sama, nilai ekspor sayur-sayuran cenderung meningkat dari US$ 56,9 ribu menjadi US$ 59,5 ribu.

29

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel II. 15. Perkembangan Ekspor-Impor Beberapa Komoditas Tanaman Bahan Makanan, 2000-2005
Tahun Ekspor Nilai Volume (juta US$) (ton) 0,3 0,8 1,1 0,3 0,5 8,7 5,0 10,5 3,3 5,5 9,1 9,1 0,1 0,3 0,2 0,3 0,5 0,5 10,8 13,7 6,1 2,0 20,4 1.247 4.010 3.991 676 904 42.286 28.066 90.474 16.306 33.691 32.679 54.009 521 1.188 235 169 1 2 151.439 177.075 70.429 21.999 234.169 0,4 Impor Nilai Volume (juta US$) (ton) Beras 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2000 2001 2002 2003 2004 319,1 134,9 342,5 291,4 61,8 51,5 Jagung 158,0 125,5 138,0 168,7 177,7 30,9 Kedele 275,5 239,3 299,2 330,5 416,9 308,0 Ubi Kayu 0,1 0,1 0,2 0,5 1.355.666 644.733 1.805.380 1.428.506 236.867 189.617 1.264.575 1.035.797 1.154.063 1.345.446 1.088.928 185.597 1.278 1.136 1.365 1.193 1.116 1.086 35 65 155 2.136 1.812 -318,8 -134,1 -341,4 -291,1 -61,3 -42,8 -153,0 -115,0 -134,7 -163,1 -168,6 -21,8 -275,4 -239,0 -299,1 -330,2 -416,4 -307,5 10,8 13,6 5,9 1,5 20,0 -1.354.419 -640.723 -1.801.389 -1.427.830 -235.963 -147.331 -1.236.509 -945.323 -1.137.757 -1.311.755 -1.056.249 -131.588 -757 52 -1.130 -1.024 -1.115 -1.084 151.404 177.010 70.274 19.863 232.357 229.736 Ekspor-Impor Nilai Volume (juta US$) (ton)

2005 25,4 229.789 0,1 53 25,4 Sumber: Balitbang DepTan, 2006; Statistik Indonesia 2005/2006, BPS, 2006

Penurunan nilai ekspor buah-buahan perlu mendapat perhatian bersama tentang faktor-faktor yang menyebabkan fenomena ini terjadi karena data produksi buah-buahan menunjukkan terjadinya
30

Tanaman Bahan Makanan

peningkatan produksi. Sedangkan, kenaikan nilai ekspor sayur-sayuran perlu dijaga, bahkan perlu ditingkatkan.
140.000 120.000 100.000 (US$ 000) 80.000 60.000 40.000 20.000 0 2001 2002
Sayur-Sayuran

2003
Buah-Buahan

2004

Sumber: Diolah dari BPS, beberapa tahun penerbitan

Gambar II. 8. Perkembangan Nilai Ekspor Sayur-sayuran dan Buahbuahan, 2001-2004 2.6. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain Upaya peningkatan produktivitas padi nasional tidak hanya memperhatikan perbandingan antar wilayah (Jawa dan Luar Jawa), namun juga perlu membandingkan dengan negara lain. Dibandingkan dengan Thailand, Malaysia, dan Filipina, rata-rata produktivitas produksi padi Indonesia masih relatif lebih tinggi (Tabel II.16.). Tabel II. 16. Perbandingan Produktivitas Padi Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha)
Negara Thailand Malaysia Filipina Indonesia Vietnam Cina Amerika Serikat 2002 2,6 3,2 3,3 4,5 4,6 6,2 7,4 Tahun 2003 2004 2,7 2,7 3,3 3,3 3,4 3,5 4,5 4,5 4,6 4,9 6,1 6,3 7,4 7,8 2005 2,6 3,4 3,7 4,6 5,0 6,3 7,4 Rata-rata 2,7 3,3 3,5 4,5 4,8 6,2 7,5

Sumber : FAOSTAT, diakses pada 3 Nopember 2006 31

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Namun, dibandingkan dengan Vietnam, Cina, dan Amerika Serikat, produktivitas padi Indonesia masih perlu ditingkatkan. Dengan memperhatikan bahwa Indonesia mempunyai kesamaan kondisi geografis dengan negara tetangga tersebut, maka peluang peningkatan produktivitas masih memungkinkan. Untuk komoditas kedele, dibandingkan dengan produktivitas negara lain (Tabel II.17.), rata-rata produktivitas kedele Indonesia masih relatif rendah. Produktivitas kedele di Thailand dan Cina mampu mencapai sebesar 1,4-1,8 juta ton per ha; bahkan produktivitas kedele Amerika Serikat jauh lebih tinggi, yaitu 2,7 juta ton per ha. Tabel II. 17. Perbandingan Produktivitas Kedele Indonesia dengan Negara Lain (ton/ha)
Negara Filipina Indonesia Vietnam Thailand Cina Amerika Serikat Tahun 2002 1,2 1,2 1,3 1,5 1,9 2,6 2003 1,0 1,3 1,3 1,2 1,7 2,3 2004 1,0 1,3 1,3 1,4 1,8 2,9 2005 1,0 1,3 1,3 1,5 1,8 2,9 Ratarata 1,1 1,3 1,3 1,4 1,8 2,7

Sumber : FAOSTAT, diakses pada 3 Nopember 2006

2.7.

Strategi Pengembangan

Khusus untuk aspek produksi tanaman pangan, setahun ke depan Departemen Pertanian telah menyusun kebijakan, yaitu meliputi beberapa program yang mencakup: a) optimalisasi pemanfaatan sarana dan prasarana, b) percepatan peningkatan produktivitas, c) pengembangan perbenihan, d) pengamanan produksi dalam negeri, e) optimalisasi penanganan pengolahan dan pemasaran hasil, g) pengembangan kelembagaan tanaman pangan, serta h) pemantapan manajemen pembangunan tanaman pangan. Secara nyata, langkah pemerintah dalam pengembangan produksi tanaman pangan adalah melalui pemberian subsidi pupuk dan benih. Selain itu, aspek permodalan juga menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memberikan insentif bagi petani tanaman pangan
32

Tanaman Bahan Makanan

melalui Kredit Ketahanan Pangan. Dukungan dari sektor lain juga sangat diperlukan untuk pembangunan tanaman pangan ini. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah pengamanan pasokan air irigasi melalui rehabilitasi dan pembangunan jaringan irigasi. Melalui berbagai upaya ini, secara makro, sub sektor tanaman pangan diharapkan mampu menyumbang sekitar 1,08% pada PDB sektor pertanian. Secara kuantitatif, berbagai upaya dimaksud diharapkan pula untuk dapat mencapai sasaran produksi padi 55,46 juta ton GKG, jagung 12,87 juta ton, kedele 0,90 juta ton, dan ubi kayu 21,75 juta ton. Untuk komoditas bahan makanan selain pangan utama (termasuk sayur-sayuran dan buah-buahan), selama ini kebijakan yang dilaksanakan melalui pendekatan peningkatan produksi, produktivitas, dan luas panen. Selain itu, kebijakan lain juga telah dikembangkan adalah pengembangan sentra produksi melalui pendekatan usaha agribisnis. Ke depan, kebijakan di atas perlu diperluas sehingga tidak hanya menyangkut aspek-aspek produksi, produktivitas, dan luas areal tanam. Pembangunan tanaman bahan makanan juga memerlukan dukungan kebijakan peningkatan mutu produk, promosi konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan, serta penataan kelembagaan yang dapat menghubungkan kemitraan antar pelaku. Antisipasi peningkatan produksi untuk penggunaan baru perlu dilakukan untuk komoditas ubi kayu yang potensial sebagai bahan bio-ethanol.

33

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

34

Perkebunan

BAB III PERKEBUNAN

Seperti telah dijelaskan pada Bab 1, sub sektor perkebunan merupakan salah satu sub sektor yang mengalami pertumbuhan PDB cukup besar. Hal ini dapat dilihat pada pertumbuhan PDB pada triwulan pertama dan kedua pada tahun 2005. Walaupun dari segi penyerapan tenaga kerjanya relatif rendah dibandingkan sub sektor lainnya, namun perannya sangat strategis bagi perekonomian Indonesia. Pertumbuhan PDB ini dipicu oleh besarnya porsi komoditas perkebunan yang diekspor dan prospek penggunaannya untuk bahan baku industri yang masih meningkat terus dengan penggunaannya untuk bahan baku nabati (biofuel). 3.1. Luas Panen, Produksi, dan Produktivitas Tanaman perkebunan dapat dibagi berdasarkan karakteristik produksinya, menjadi tanaman setahun dan tahunan. Tanaman setahun yaitu tanaman yang siklus hidupnya satu tahun sekali misalnya tebu, kapas, tembakau, dan lain-lain. Tanaman tahunan memerlukan waktu panjang sebelum berproduksi meskipun dapat menghasilkan sampai puluhan tahun, misalnya sawit, karet, dan sebagainya, sehingga untuk tanaman tahunan dikenal tahap-tahap tanaman belum menghasilkan (TBM), tanaman menghasilkan (TM), dan tanaman tidak menghasilkan (TTM). Perkembangan luas tanam kelapa sawit, kelapa, karet dan kakao diharapkan akan meningkat sejalan dengan upaya revitalisasi perkebunan yang mendorong peremajaan dan penggunaan bibit bermutu pada tahun 2007. Sementara itu, untuk kelapa sawit masih akan meningkat dengan adanya prospek penggunaan untuk biofuel. Yang perlu diantisipasi nantinya adalah kompetisi penggunaan minyak sawit untuk konsumen (pangan) dan untuk biofuel (energi).

35

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel III. 1.

Luas Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), Tanaman Menghasilkan (TM) dan Tanaman Tidak Menghasilkan (TTM), 2004 - 2005 TBM (ribu ha) TM (ribu ha) TTM (ribu ha) TOTAL (ribu ha) Komoditas 2004 2005* 2004 2005* 2004 2005* 2004 2005* Kopi 188,1 203,3 925,3 931,6 133,7 158,8 1.247,2 1.293,7

- Kopi Robusta - Kopi Arabika


Kakao Teh Karet Kelapa Sawit

157,2 31,0
245,4 4,4 t.a t.a

173,9 29,4
285,7 5,1 t.a t.a

863,7 61,6
706,4 43,8 t.a t.a

870,1 61,6
793,8 43,7 t.a t.a

119,4 14,3
56,0 13,1 t.a t.a

145,0 13,8
60,9 12,9 t.a t.a

1.140,3 1069
1.007,8 61,3 2.065,8 14.191,2

1.188,9 104,8
1.140,4 61,6 2.128,4 14.968,9

Keterangan: * data sementara; t.a: tidak ada data Sumber: Departemen Pertanian, 2006

36

Perkebunan

Untuk tanaman perkebunan setahun (Tabel III.2), dari ketiga komoditas perkebunan strategis Indonesia, yaitu tembakau, kapas dan tebu, tampak bahwa pada tahun 2005 hanya tembakau yang mengalami penurunan, baik luas tanam maupun luas panen yang masing masing turun sekitar 8 dan 10 ribu ha. Sedangkan untuk kapas dan tebu mengalami peningkatan luas tanam dan luas panen yang cukup signifikan pada tebu, luas panennya mencapai 204 ribu ha pada tahun 2005 dibandingkan pada tahun 2004 yang hanya mencapai 71 ribu ha, atau terjadi peningkatan hampir mencapai tiga kali lipat. Peningkatan luas panen tebu disebabkan oleh membaiknya harga tebu dan adanya revitalisasi produksi tebu melalui dukungan untuk ratoon. Tabel III. 2.
No 1 2 3

Luas Tanam dan Luas Panen Tanaman Perkebunan Setahun, 2004-2005


Luas Tanam (ha) 2004 2005* 197.724 189.943 9.414 10.858 184.283 204.336 Luas Panen (ton) 2004 2005* 196.732 186.879 7.999 10.214 71.935 204.336

Komoditas Tembakau Kapas Tebu

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Sementara itu, pola tanam dan produksi tembakau menurun yang diduga disebabkan oleh stagnannya peruntukan tembakau oleh industri rokok. Tabel III. 3.
No

Produksi dan Produktivitas Beberapa Tanaman Perkebunan, 2004-2005


Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 661,9 663,1 668,6 669,7 567,7 571,1 905,9 910,9 901,4 908,0 761,4 768,4 405,7 349,4 14.300,2 5.814,8

Produksi (ton) 2004 2005* 1 Kopi 612.418 617.810 2 Kopi Robusta 577.455 582.640 3 Kopi Arabika 34.962 35.170 4 Kakao 639.963 723.096 5 Teh 39.463 39.636 6 Tembakau 149.790 143.595 7 Kapas 3.245 3.569 8 Tebu 1.028.681 1.188.174 Sumber : Departemen Pertanian, 2006 Komoditas

37

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Perkembangan produksi tanaman perkebunan tersebut dapat dilihat dalam Tabel III.3. Peningkatan produksi yang cukup besar terjadi pada tanaman tebu yang meningkat sekitar 160 ribu ton atau sekitar 15% (2004-2005). Demikian juga untuk kakao, tingkat produksinya meningkat sekitar 83 ribu ton atau sekitar 13%. Khusus untuk komoditas gula, pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan gula nasional (Tabel III.4.). Dengan penetapan sasaran produksi ini, pemerintah merencanakan bahwa akan diupayakan peningkatan produksi gula nasional, baik melalui peningkatan luas tanam maupun peningkatan produktivitas. Selain itu, revitalisasi pabrik gula juga diharapkan mampu meningkatkan rendemen gula dari tahun ke tahun. Dalam jangka menengah dan panjang, swasembada gula nasional menjadi target bersama. Tabel III. 4.
Uraian Luas (ha) Tebu (ton/ha) Hablur (juta ton) Hablur (ton/ha) Rendemen (%)

Sasaran Produksi Gula Nasional, 2002-2007


2002 350.722 75,8 1,9 5,5 7,2 2003 338.244 77,9 2,1 5,8 7,4 2004 370.064 81,7 2,3 6,4 7,8 2005 373.816 84,9 2,6 7,0 8,2 2006 377.930 86,4 2,8 7,3 8,5 2007 385.773 88,1 2,9 7,7 8,8

Sumber : Departemen Pertanian, 2003

Bila membandingkan antara luas panen aktual dan rencana sasarannya, nampak bahwa pencapaian luas tanam maupun luas panen masih lebih rendah dari sasaran yang akan dicapai. Hal yang sama juga terjadi pada aspek produksi (Tabel III.5.), dimana pencapaian produksi selama ini belum bisa mencapai sasaran yang telah ditetapkan. Tabel III. 5.
Musim Giling MG 2002 MG 2003 MG 2004 MG 2005

Perkembangan Produksi Gula (ton), 2002-2005


Jawa 1.093.056 1.024.672 1.174.905 t.a Luar Jawa 656.371 607.158 831.670 t.a Total 1.749.427 1.631.830 2.006.575 2.242.311 Program Akselerasi 1.891.041 2.072.575 2.337.907 2.597.113 % Pencapaian 92,5 78,7 85,8 86,3

Keterangan: t.a: tidak ada data Sumber : Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen Pertanian 38

Perkebunan

Namun demikian, dengan mempertimbangkan kecenderungan terjadinya peningkatan luas tanam, produktivitas, dan produksi, diharapkan revitalisasi pembangunan perkebunan ini akan mampu mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan. 3.2. Wilayah Produksi/Agroekosistem Gambaran nasional tentang produksi, produktivitas, dan luas areal beberapa komoditas perkebunan telah disajikan. Namun demikian, dipahami bahwa sebaran wilayah pengembangan komoditas perkebunan beragam. Bagian di bawah ini akan menyajikan sebaran wilayah yang dikelompokkan berdasarkan pulau-pulau besar, baik sebaran produksi maupun luas areal dari beberapa komoditas perkebunan (kopi, kakao, teh, tembakau, kapas, dan tebu). 3.2.1. Kopi Pulau Sumatera mendominasi luas penanaman kopi di Indonesia; sekitar 66% (2004) dan 64% (2005) luas tanaman kopi berada di Pulau Sumatera (Tabel III.6.). Pulau Sulawesi dan Pulau juga mempunyai andil yang relatif penting dengan luas penanaman sekitar 10-11% (Sulawesi) dan 9-12% (Jawa) dari total luas tanam kopi. Dengan melihat perkembangan yang ada, nampaknya sebaran penanaman kopi tidak mengalami perubahan signifikan ke depan. Tabel III. 6.
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia

Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kopi, 2004-2005


Luas (Ha) 2004 823.344 114.693 112.135 47.269 133.110 16.612 1.247.163 2005* 828.319 155.193 108.792 50.628 135.254 15.557 1.293.743 Sebaran (%) 2004 66,0 9,2 9,0 3,8 10,7 1,3 100,0 2005* 64,0 12,0 8,4 3,9 10,5 1,2 100,0

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah 39

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Dari aspek produktivitas, tanaman kopi di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi mempunyai produktivitas yang relatif lebih tinggi dibanding di tempat lain (Tabel III.7.). Sementara itu, sesuai dengan proporsi luas tanam dan tingkat produktivitas yang tinggi, sekitar 73,9% (2004) atau 71% (2005) produksi kopi nasional dihasilkan oleh Pulau Sumatera. Tabel III. 7. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kopi, 2004-2005
Produksi (ton) 2004 2005* 452.422 43.367 38.958 15.512 55.275 6.884 612.418 438.560 47.347 40.424 16.777 59.145 15.557 617.810 Sebaran Produksi (%) 2004 2005* 73,9 7,1 6,4 2,5 9,0 1,1 100,0 71,0 7,7 6,5 2,7 9,6 2,5 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 699 528 559 536 640 616 662 694 455 590 555 680 657 663

Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

3.2.2. Kakao Berbeda dengan tanaman kopi, tanaman kakao paling banyak ditanam di Pulau Sulawesi, yaitu sekitar 70,5% (2004) atau 68,1% (2005) dari total luas tanam; sedangkan Pulau Sumatera hanya sekitar 10,6% (2004) atau 9,5% (2005) (Tabel III.8.). Satu hal yang patut dicatat dari perkembangan sebaran lokasi tanaman kakao ini adalah bahwa Pulau Bali-Nusa Tenggara mempunyai peningkatan luas tanam yang relatif tinggi dari 50,6 ribu ha (2004) menjadi 99,1 ribu ha (2005). Sebaran wilayah produksi seiring dengan sebaran wilayah penanaman, begitu juga dengan tingkat produktivitas. Pulau Sulawesi mempunya tingkat produktivitas paling tinggi, diikuti oleh Pulau Sumatera. Pulau Sulawesi juga memproduksi 78,8% (2004) atau 75,8% dari total produksi nasional. Terjadi juga di aspek luas tanam, terjadi peningkatan produksi yang signifikan di Pulau Bali-Nusa Tenggara (Tabel III.9.).
40

Perkebunan

Tabel III. 8.
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan

Sebaran Wilayah Luas Tanaman Kakao, 2004 - 2005


Luas (ha) 2004 106.783 21.371 50.552 45.948 710.643 72.545 1.007.842 2005* 108.247 23.107 99.077 45.791 777.122 87.095 1.140.439 Sebaran Luas Tanam (%) 2004 10,6 2,1 5,0 4,6 70,5 7,2 100,0 2005* 9,5 2,0 8,7 4,0 68,1 7,6 100,0

Sulawesi Maluku-Papua Indonesia

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006 diolah

Tabel III. 9.

Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Kakao, 2004 - 2005


Produksi (ton) 2004 2005* 56.941 5.121 21.754 20.780 504.015 31.352 639.963 58.100 5.273 47.271 27.239 547.755 37.458 723.096 Sebaran Produksi (%) 2004 2005* 8,9 0,8 3,4 3,3 78,8 4,9 100,0 8,0 0,7 6,5 3,8 75,8 5,2 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 870 470 792 693 972 581 906 879 479 774 908 972 604 911

Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

3.2.3. Teh Sentra produksi utama komoditas teh masih bertumpu di Jawa (Tabel III.10.). Bahkan secara nasional, hanya Jawa dan Sumatera yang berkontribusi terhadap tanaman teh. Sebagian besar teh ditanam di Jawa (97% dari total luas tanam), sedangkan luas tanam di Sumatera hanya 3% (tahun 2005). Dari tabel yang sama, nampak pula bahwa sedikit terjadi proporsi wilayah tanaman teh dimana luas tanam di Jawa menurun dan di Sumatera meningkat.
41

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel III. 10. Sebaran Wilayah Luas Tanaman Teh, 2004 - 2005
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Luas (ha) 2004 1.569 59.755 61.324 2005* 1.850 59.790 61.640 Persentase Sebaran (%) 2004 2,6 97,4 100,0 2005* 3,0 97,0 100,0

Sumber: Departemen Pertanian

Sebaran produksi teh seiring dengan sebaran luas tanamnya (Tabel III.11.). Namun demikian, proporsi antara persentase sebaran wilayah luas tanam tidak sama dengan proporsi persentase sebaran wilayah produksi. Di Pulau Jawa, dengan luas tanam sekitar 97%, mampu menghasilkan produksi sekitar 98% dari total produksi nasional. Hal ini disebabkan oleh relatif lebih tingginya produktivitas teh di Pulau Jawa dibanding dengan produktivitas di Pulau Sumatera. Kecenderungan semakin meningkatnya produktivitas teh diharapkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Tabel III. 11. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tanaman Teh, 2004 - 2005
Produksi (ton) Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia 2004 707 38.756 39.463 2005* 812 38.824 39.636 Sebaran Produksi (%) 2004 2005* 1,8 98,2 100,0 2,1 97,9 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 663 907 901 835 910 908

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

42

Perkebunan

3.2.4. Tembakau Sebagian besar pertanaman tembaku masih berlokasi di Pulau Jawa, yaitu sekitar 83,7% (tahun 2005) dari total luas tanam nasional. Pulau Bali-Nusa Tenggara juga mempunyai luas tanam yang relatif besar dibandingkan Pulau Sumatera dan Sulawesi (Tabel III.12.). Berdasarkan perkembangan 2004-2005, persentase luas tanam tembaku mengarah ke luar Jawa, dimana peningkatan luas tanam terjadi di Pulau Sulawesi. Tabel III. 12. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tembakau, 2004 - 2005
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Luas Tanam (ha) 2004 2005* 2.919 167.189 25.013 2.603 197.724 2.835 158.936 24.505 3.667 189.943 Sebaran Wilayah (%) 2004 2005* 1,5 84,6 12,7 1,3 100,0 1,5 83,7 12,9 1,9 100,0

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Sebaran wilayah produksi tembakau sama dengan sebaran wilayah penanamannya, namun dengan proporsi yang tidak seiring. Dengan persentase luas tanam yang hanya sekitar 12,9%, Pulau BaliNusa Tenggara mampu berproduksi sekitar 21,4% dari total produksi nasional. Hal ini disebabkan oleh sangat tingginya produktivitas tembakau di pulau ini, yaitu sekitar 1,3 ton/ha. Bila angka produktivitas ini dibandingkan dengan tingkat produktivitas di pulau lain, nampaknya diperlukan verifikasi terhadap validitas angka produktivitas ini karena perbedaannya sangat tinggi (Tabel III.13.).

43

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel III. 13. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tembakau, 2004 - 2005
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Produksi (ton) 2004 1.304 111.880 34.941 1.665 149.790 2005* 1.540 109.125 30.719 2.211 143.595 Sebaran Produksi (%) 2004 0,9 74,7 23,3 1,1 100,0 2005* 1,1 76,0 21,4 1,5 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 520 671 1.397 665 761 2005* 608 698 1.254 620 768

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

3.2.5. Kapas Hanya tiga kawasan pulau yang menghasilkan kapas, yaitu Pulau Sulawesi (49,4%), Pulua Jawa (30,9%), dan Pulau Bali-Nusa Tenggara (19,7%). Kecuali di Pulau Jawa, berdasarkan perkembangan 2004-2005, terjadi peningkatan luas tanam (Tabel III.14.). Perkembangan persentase sebaran wilayah penanaman juga menunjukkan hal yang sama, sehingga ke depan diperkirakan akan terus terjadi penurunan luas tanam kapas di Pulau Jawa seiring dengan meningkatnya luas tanam di luar Pulau Jawa. Tabel III. 14. Sebaran Wilayah Luas Tanam Kapas, 2004 - 2005
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Luas Tanam 2004 3.727 1.492 4.195 9.414 2005* 3.360 2.138 5.360 10.858 Sebaran Luas Tanam (%) 2004 39,6 15,9 44,6 100,0 2005* 30,9 19,7 49,4 100,0

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006 44

Perkebunan

Perkembangan produktivitas kapas kurang menggembirakan karena terjadi penurunan rata-rata produktivitas nasional dari 406 kg/ha tahun 2004 menjadi 349 kg/ha tahun 2005 (Tabel III.15.). Peningkatan produktivitas di Pulau Jawa tidak mampu diimbangi oleh penurunan produktivitas di wilayah lain. Dari sisi produksi, dengan produktivitas yang relatif tinggi, Pulau Jawa mampu menghasilkan 59,4% dari total produksi kapas nasional; sedangkan Pulau Sulawesi, yang luas tanamnya paling besar (49,4% dari total luas tanam nasional), hanya berproduksi sekitar 22,8% dari total produksi nasional. Selain itu, di seluruh wilayah produksi terjadi peningkatan produksi (walaupun ada penurunan produktivitas di Pulau Sulawesi dan Pulau Bali-Nusa Tenggara). Di Pulau Jawa, peningkatan produksi disebabkan oleh peningkatan produktivitas, sedangkan di pulau lain peningkatan produksi disebabkan oleh peningkatan luas tanam. Tabel III. 15. Sebaran Produksi dan Produktivitas Kapas, 2004-2005
Wilayah Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Produksi (ton) 2004 2005* 1.927 580 738 3.245 2.119 638 812 3.569 Sebaran Produksi (%) 2004 2005* 59,4 17,9 22,7 100,0 59,4 17,9 22,8 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 547 512 221 406 705 308 158 349

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

3.2.6. Tebu Pulau Jawa masih merupakan wilayah penanaman tebu utama (94,8% dari total luas tanam nasional). Bahkan, terjadi peningkatan luas tanam yang relatif lebih tinggi (dibanding peningkatan luas tanam di Pulau Sumatera) di Pulau Jawa dalam kurun 2004-2005 (Tabel III.16.). Selain itu, perkembangan sebaran persentase luas tanam juga menunjukkan peningkatan persentase di Pulau Jawa (sementara terjadi penurunan di Pulau Sumatera dan Pulau Sulawesi).
45

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel III. 16. Sebaran Wilayah Luas Tanam Tanaman Tebu, 2004 2005
Komoditas Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Luas Tanam (ha) 2004 2005* 7.908 174.055 2.320 184.283 8.226 193.790 2.320 204.336 Luas Panen (ha) 2004 2005* 7.908 61.707 2.320 71.935 8.226 193.790 2.320 204.336 Sebaran Luas Tanam (%) 2004 2005* 4,3 94,5 1,3 100,0 4,0 94,8 1,1 100,0

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

Pola sebaran wilayah produksi sama dengan pola sebaran wilayah penanaman (Tabel III.17.) dimana Pulau Jawa mampu menghasilkan sekitar 97% dari total produksi nasional atau 1,2 juta ton tebu pada tahun 2005. Selain di Pulau Sulawesi, terjadi peningkatan produksi, baik dari aspek volume produksi maupun persentase sebaran wilayah produksinya. Tabel III. 17. Sebaran Wilayah Produksi dan Produktivitas Tebu, 2004 - 2005
Komoditas Sumatera Jawa Bali - NT Kalimantan Sulawesi Maluku-Papua Indonesia Produksi (ton) 2004 2005* 33.479 34.917 982.810 1.151.965 1.239 1.292 1.028.681 1.188.174 Produksi (%) 2004 2005* 3,3 95,5 1,2 100,0 2,9 97,0 0,1 100,0 Produktivitas (kg/ha) 2004 2005* 4.234 15.927 5.341 14.300 4.245 5.944 5.570 5.815

Keterangan: * Data Sementara Sumber: Departemen Pertanian, 2006

46

Perkebunan

3.3. Kelembagaan Penyajian gambaran tentang kelembagaan dalam pembangunan perkebunan merupakan hal yang baru dalam profil pangan dan pertanian ini. Cakupan kelembagaan memang luas. Namun, dalam bagian berikut hanya akan mendiskusikan tentang dua hal, yaitu perkembangan jumlah perusahaan perkebunan serta gambaran kinerja (produksi dan produktivitas) pelaku perkebunan (yang meliputi perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta). 3.3.1. Perusahaan Perkebunan Secara umum, jumlah perusahaan perkebunan relatif sama dari tahun ke tahun (2002-2005) walaupun ada kecenderungan fluktuasi yang menurun. Peningkatan jumlah perusahaan hanya terjadi di pengusahaan kelapa sawit. Sedangkan, penurunan jumlah perusahaan terjadi pada jumlah perusahaan yang bergerak dalam tanaman karet, kopi, dan tebu (Tabel III.18.). Tabel III. 18. Jumlah Perusahaan Perkebunan menurut Jenis Tanaman
Jenis Tanaman Karet Kelapa Sawit Kopi Kakao Tebu Tembakau 2002 418 882 132 150 88 19 2003 418 882 132 150 86 19 2004* 414 885 131 145 85 19 2005** 414 885 131 145 85 19

Sumber: Statistik Indonesia 2005/2006, BPS, 2006 Keterangan: * : angka sementara; **: angka sangat sementara

Khusus mengenai perkebunan negara atau Perusahaan Perkebunan Nasional (PTPN), terdapat empat belas (14) PTPN. Bila dikelompokkan menurut jenis komoditas yang diusahakan, terdapat 6 (enam) komoditas yang menjadi fokus pengusahaan PTPN, yaitu sawit, karet, kakao, kopi, teh, dan gula. Tabel III.19. mencoba menyajikan kinerja setiap PTPN yang didekati dengan memperhitungkan kapasitas terpasang dan kapasitas terpakai dari setiap unit kegiatan pengusahaan di setiap PTPN.
47

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel III. 19. Kapasitas Perusahaan Perkebunan Negara


Perusahaan PTPN I Jenis Pabrik PKS Pulau Tiga PKS Tanjung Seumantoh PIS Tanjung Seumantoh PKS Cot Girek PTPN II PKS (8 unit) Pabrik Fraksionasi (1 unit) Pabrik Karet : a. Pabrik Crumb Rubber (2 unit) b. Pabrik RSS (3 unit) c. Pabrik Lateks (1 unit) Pabrik Kakao (4 unit) Pabrik Gula (2 unit) PTPN III PKS (11 unit) Pabrik Karet : a. Lateks pekat (2 unit) b. Sheet (6 unit) c. Crumb Rubber (3 unit) PTPN IV PKS (16 unit) Pabrk Fraksionasi & Rafinasi (1 unit) Pabrik Pengolahan Inti Sawit (1 unit) Pabrik Kakao (4 unit) Pabrik Teh (6 unit) Pabrik perakitan Mesin (1 unit) Pabrik Kompos PTPN V PTPN VI PKS (12 unit) Pengolahan Karet PKS (4 unit) Pabrik Karet / Crumb Rubber (2 unit) Pabrik Teh (2 unit) Mesin Pengepakan Teh Kemasan (2 unit) PTPN VII Pabrik Karet (15 unit) PKS (7 unit) Pabrik Pengolahan Inti Sawit (2 unit) Pabrik Teh (1 unit) Pabrik Gula (2 unit) 49,73 66,47 58,39 78,22 103,33 75,50 34,87 62,72 t.a t.a 73,83 t.a 78,24 40,71 91,20 t.a 100,00 100,00 66,67 92,50 41,62 33,83 38,48 t.a 7,94 45,10 61,28 % Kapasitas 100,00 66,67 80,00 66,67 65,36 t.a

48

Perkebunan

Perusahaan PTPN VIII Kopi Arabika Kopi Robusta Kakao Edel Kakao Bulk Karet Teh PTPN IX

Jenis Pabrik

% Kapasitas t.a t.a t.a t.a t.a t.a 51,20 67,19 28,04 35,90 91,03 91,97 t.a 112,00 t.a 100,97 t.a 48,22 61,08 78,87 t.a t.a 100,00 100,00 68,50 82,25 41,67 10,08 29,08 39,15 85,71 73,33 49,20

Pabrik Karet (19 unit) Pabrik Teh (3 unit) Pabrik Kopi (4 unit) Pabrik Kakao (4 unit) Pabrik Gula (8 unit)

PTPN X PTPN XI

Pabrik Gula (11 unit) Pabrik Gula (17 unit) Pabrik Karung Plastik/Goni (1 unit) Pabrik Alkohol & Spiritus (1 unit) Rumah sakit (4 unit)

PTPN XII

Pabrik Pengering Kakao Edel & Bulk Pabrik Pengering Kopi Arabika Pabrik Pengering Kopi Robusta Pabrik Karet (RSS) Pabrik Karet (Crumb Rubber) Pabrik Karet (Lateks pekat)

PTPN XIII PTPN XIV

Pabrik Minyak Sawit (7 unit) Pabrik Karet Remah (2 unit) Pabrik Gula (3 unit) Pabrik CPO (1 unit) Pabrik Inti Sawit (1 unit) Pabrik Tapioka (1 unit) Pabrik karet / sheeter (4 unit) Pabrik karet / Creeper (4 unit) Asaran Kopra (10 unit) Kakao Dryer (6 unit) Lantai Jemur Kako (3 unit)

Keterangan: PKS (Pabrik Kelapa Sawit); PIS (Pabrik Inti Sawit); t.a (tidak ada data) Sumber: Departemen Pertanian, 2006

49

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

3.3.2 Perkebunan Rakyat, Perkebunan Negara, dan Perkebunan Swasta Berdasarkan pelaku perkebunan, perkebunan dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori, yaitu perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta. Gambar 3.1 menyajikan pangsa (persentase) produksi perkebunan berdasarkan ketiga kategori tersebut. Untuk komoditas tebu, kakao, dan karet, perkebunan rakyat mempunyai kontribusi terbesar dalam produksi nasional. Sedangkan, perkebunan swasta berkontribusi besar dalam produksi kelapa sawit.
100% Pangsa Produksi Tebu 80% 60% 40% 20% 0% 2001 2002 2003 2004 2005 47,1 55,1 51,4 50,1 53,0 34,8

Produksi Tebu
10 0 %
27,9 17,0 18,0 25,9 31,1 26,8

Produksi Kelapa Sawit


80%
20,2

4 8 ,6

4 7,9

4 9 ,9

51,8

52 ,8

22,7

18,7

60% 40% 20% 0% 2001 2002 2003 2004 2005 18 ,1 3 3 ,3 16 ,8 3 5,3 16 ,7 3 3 ,4 16 ,8 3 1,4 16 ,4 3 0 ,8

Perkeb unan Rakyat Perkeb unan Swas ta

Perkeb unan Neg ara

Perkebunan Rakyat
100% Pangsa Produksi Kakao 80% 60% 40% 20% 0% 2001 88,8

Perkebunan Negara

Perkebunan Swasta

4,8 6,3

Produksi 4,5 4,6 Kakao 4,9 4,6 6,0 5,1

5,0 5,1

100% Pangsa Produksi Karet 80% 60% 40% 20% 0%

13,4 11,4

13,3 11,4

Produksi Karet 11,4


10,7

10,1 9,5

9,8 9,2

89,5

90,9

90,0

89,9

75,2

75,2

77,9

80,5

81,0

2002

2003

2004

2005

2001 Perkebunan Rakyat

2002

2003

2004

2005

Perkebunan Rakyat

Perkebunan Negara

Perkebunan Swasta

Perkebunan Negara

Perkebunan Swasta

Sumber: Departemen Pertanian, 2006, diolah

Gambar III. 1. Perkembangan Pangsa Produksi antar Pelaku pada Perkebunan Tebu, Kelapa Sawit, Kakao, dan Karet, 2001-2005 Walaupun demikian, perkebunan rakyat pada kelapa sawit juga mempunyai kontribusi produksi yang signifikan, yaitu sekitar 30,8% dari produksi nasional pada tahun 2005. Sementara itu, dibandingkan dengan perkebunan rakyat dan perkebunan swasta, perkebunan negara mempunyai kontribusi produksi yang relatif rendah dimana pada tahun 2005 kontribusi produksinya sekitar 20,2% untuk tebu, 16,4% untuk kelapa sawit, 5,1% untu kakao, dan 9,2% untuk karet.
50

Perkebunan

Dari sisi temporal, selama kurun waktu 2001-2005, pangsa produksi perkebunan rakyat meningkat untuk komoditas tebu dan karet, di lain pihak, mengalami penurunan dan stagnasi untuk komoditas kelapa sawit dan kakao. Peningkatan pangsa produksi dari perkebunan negara hanya terjadi pada komoditas tebu; sedangkan peningkatan pangsa produksi dari perkebunan swasta terjadi pada komoditas kelapa sawit dan kakao. Tabel III. 20. Perkembangan Produktivitas Beberapa Komoditas Perkebunan, 2001-2005 (dalam ton/ha)
Tahun Tebu 2001 2002 2003 2004 2005 Kelapa Sawit 2001 2002 2003 2004 2005 Kakao 2001 2002 2003 2004 2005 Karet 2001 2002 2003 2004 2005 Perkebunan Rakyat 4,5 4,9 4,9 5,6 5,8 3,2 3,2 3,3 3,3 3,4 1,0 1,0 1,1 1,0 1,0 0,6 0,6 0,7 0,8 0,8 Perkebunan Negara 3,5 3,7 4,2 4,9 4,9 3,7 3,7 3,9 4,1 4,3 0,7 0,7 0,8 0,9 0,9 1,0 1,1 1,1 1,0 1,0 Perkebunan Swasta 7,7 6,6 5,5 7,8 7,1 3,5 3,6 3,9 4,3 4,2 0,7 0,7 0,9 0,9 0,9 1,2 1,2 1,1 1,2 1,2

Sumber: Diolah dari Departemen Pertanian, 2006

51

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Secara umum, baik perkebunan rakyat, perkebunan negara, dan perkebunan swasta mampu meningkatkan produktivitasnya dari tahun ke tahun. Pengecualian terjadi pada perkebunan kakao rakyat, perkebunan karet negara, dan perkebunan karet swasta yang produktivitasnya mengalami stagnasi (Tabel III.20.). Untuk komoditas tebu, perkebunan swasta mempunyai tingkat produktivitas yang lebih tinggi. Produktivitas perkebunan swasta juga unggul dalam pengusahaan tanaman karet. Sementara itu, perkebunan negara mempunyai tingkat produktivitas kelapa sawit yang sedikit lebih tinggi daripada perkebunan swasta. Sedangkan, perkebunan rakyat mempunyai tingkat produktivitas kakao yang paling tinggi dibandingkan perkebunan negara maupun swasta. Dari Tabel III.20., nampak pula bahwa upaya peningkatan produktivitas masih dapat dilakukan berdasarkan pengelompokan ketegori tersebut. Upaya peningkatan produktivitas ini juga dapat difokuskan pada jenis perkebunan yang mempunyai pangsa produksi tinggi tetapi masih mempunyai tingkat produkvitas yang rendah (lihat Gambar III.1. dan Tabel III.20.), misal perlu upaya peningkatan produktivitas pada perkebunan karet rakyat (pangsa produksi perkebunan karet rakyat tertinggi tetapi mempunyai tingkat produktivitas terendah). 3.4. Neraca Perdagangan (Ekspor Impor) Nilai ekspor yang dihasilkan oleh komoditas perkebunan belum dapat disajikan dalam bagian ini; data yang ada baru pada volume ekspor dari beberapa komoditas perkebunan (Tabel III.21.). Volume ekspor ini tidak dapat dijumlahkan menjadi volume total ekspor komoditas perkebunan. Oleh karena itu, gambaran mengenai perkembangan ekspor perkebunan dari tahun ke tahun hanya diperoleh dari gambaran perkembangan volume ekspor per komoditas. Untuk komoditas kopi, terdapat kecenderungan meningkatnya volume ekspor kopi sejak 2001 (kecuali pada tahun 2002). Bahkan, peningkatan volume ekspor tahun 2005 meningkat secara signifikan dibandingkan tahun 2004. Pola kecenderungan peningkatan volume ekspor juga terjadi volume ekspor komoditas miyak kelapa sawit dan karet. Di lain pihak, terjadi pula kecenderungan penurunan volume ekspor beberapa komoditas perkebunan, yaitu lada, tembakau, dan teh.
52

Perkebunan

Tabel III. 21. Perkembangan Volume Ekspor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)
Komoditas Kopi Karet Teh Tembakau Minyak Sawit Kakao Lada 2000 339.201 t.a t.a t.a t.a 424.098 65.011 2001 250.818 1.453,4 95,0 35.601,0 4.903,2 393.244 53.638 2002 325.010 1.496,0 95,5 30.707,0 6.333,7 465.621 63.214 2003 323.904 1.663,0 84,6 27.508,6 6.386,4 357.737 51.546 2004 344.077 1.874,3 55,8 27.650,3 8.661,6 368.758 32.364 2005 442.700 2.023,8 45,7 18.810,3 10.376,2 t.a t.a

Sumber: Departemen Pertanian, beberapa tahun penerbitan

Pada sisi volume impor, sub sektor perkebunan harus menaruh perhatian pada komoditas kakao yang kecenderungan volume impornya terus meningkat dari tahun ke tahun (Tabel III.22.). Komoditas lain yang mempunyai kecenderungan peningkatan volume impor sejak tahun 2003, yaitu kopi dan lada. Untuk komoditas kelapa sawit, sejak tahun 2002 terjadi penurunan volume impor. Tabel III. 22. Perkembangan Volume Impor Beberapa Komoditas Perkebunan (ton)
Komoditas Kakao Kelapa Sawit Kopi Lada 2000 10.143,4 1.258,0 8.630,0 536,0 2001 37.480 5.223 8.294 3.308 2002 36.584,7 11.897,1 7.664,6 2.282,7 2003 41.339,3 5.613,1 4.328,0 251,0 2004 51.017 4.320 5.691 343 2005 t.a t.a t.a t.a

Sumber: Departemen Pertanian, beberapa tahun penerbitan

3.5. Perbandingan Produktivitas dengan Negara Lain Data tentang produktivitas dari beberapa komoditas perkebunan di beberapa negara disajikan pada Tabel III.23. Dengan menggunakan data tahun 2004, produktivitas kakao dan teh Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas komoditas tersebut di beberapa negara yang lain. Namun demikian, untuk komoditas tebu, produktivitas Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan
53

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

dengan produktivitas tebu di Filipina, Malaysia, dan Amerika Serikat. Selain itu, produktivitas kelapa sawit Indonesia juga masih lebih rendah daripada produktivitas kelapa sawit di Malaysia. Tabel III. 23. Perbandingan Produktivitas dari Beberapa Komoditas Perkebunan di Beberapa Negara, 2000-2004
Komoditas / Negara Kakao (ton/ha) Indonesia Malaysia Filipina Thailand Tebu (ton/ha) Filipina Malaysia Amerika Serikat Indonesia Thailand Vietnam Teh (ton/ha) Indonesia Malaysia Vietnam Thailand Kelapa Sawit (ton/ha) Malaysia Indonesia Thailand Filipina 2000 0,9 0,9 0,6 0,5 62,0 74,8 78,4 54,7 59,2 49,8 1,3 1,9 1,0 0,3 18,4 18,1 15,6 13,3 2001 0,9 1,0 0,5 0,5 73,7 75,9 75,4 55,1 56,5 50,4 1,4 1,6 1,0 0,3 17,8 18,2 17,6 13,0 2002 1,2 1,0 0,5 0,5 70,9 70,7 77,9 60,5 59,4 53,5 1,4 1,5 1,0 0,3 17,6 16,8 15,2 13,3 2003 1,2 0,8 0,5 0,5 76,7 76,5 76,3 56,8 65,2 53,8 1,5 1,2 1,0 0,3 20,5 17,3 17,0 12,8 2004 1,2 0,8 0,5 0,5 82,3 75,0 69,3 64,2 57,9 55,3 1,4 1,1 1,1 0,3 20,5 18,2 16,7 13,1

Sumber : FAO Statistics Division 2006, diakses pada 22 Desember 2006

Dengan melihat tingkat produktivitas negara lain tersebut, terutama untuk komoditas tebu dan kelapa sawit, peluang peningkatan produktivitasnya masih mungkin untuk diupayakan. Aspek lain yang perlu diperhatikan pula adalah sisi kualitas produksi, termasuk tingkat rendemen.

54

Perkebunan

3.6.

Strategi Pengembangan

Pada tahun 2007, pembangunan perkebunan akan dilaksanakan melalui beberapa fokus kegiatan, yaitu: a) program akselerasi peningkatan produksi dan produktivitas (misal pada komoditas tebu); b) program revitalisasi perkebunan untuk peningkatan produksi dan produktivitas; serta c) program pengembangan bahan bakar nabati, termasuk pengembangan produksi tanaman jarak, kelapa sawit, dan tebu. Melalui ketiga program besar tersebut, pembangunan perkebunan ke depan ditujukan untuk: a) meningkatkan produksi, produktivitas, nilai tambah dan daya saing perkebunan, b) meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia perkebunan, c) meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat perkebunan, d) meningkatkan penerimaan dan devisa negara, e) meningkatkan peran perkebunan sebagai penyedia lapangan kerja, f) memenuhi kebutuhan konsumsi dan meningkatkan penyediaan bahan baku industri dalam negeri, g) mendukung penyediaan pangan di wilayah perkebunan, serta h) mengoptimalkan pengelolaan sumberdaya secara arif dan berkelanjutan serta mendorong pengembangan wilayah. Sedangkan sasaran yang pembangunan perkebunan yang akan dicapai adalah: a) meningkatnya produktivitas perkebunan hingga mencapai 75% dari potensi produksi di lapangan, b) meningkatnya penerimaan devisa ekspor komoditas perkebunan sebesar US$ 9 milyar, c) meningkatnya pendapatan petani perkebunan hingga mencapai ratarata US$ 2.000/KK, d) meningkatnya kemampuan penyerapan tenaga kerja baru di perkebunan sebanyak 670 ribu orang, serta e) tercapainya pertumbuhan PDB perkebunan sekitar 6,2%. Strategi pengembangan sub sektor perkebunan tidak hanya menjadi bidang tugas sektor pertanian, namun juga terkait dengan kebijakan dan strategi non-pertanian. Pembangunan perkebunan memerlukan dukungan kredit. Kebijakan harga juga akan mempengaruhi pengembangan perkebunan ke depan (misal patokan harga gula di tingkat produsen atau insentif harga untuk pengembangan biofuel). Selain itu, masih ada kebijakan tarif impor dan kebijakan pajak ekspor yang secara tidak langsung juga mempengaruhi pembangunan perkebunan.
55

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

56

Peternakan

BAB IV PETERNAKAN

Peternakan merupakan sub sektor yang relatif stabil peningkatan PDB-nya, pertumbuhannya di atas rata-rata pertanian dan prospek permintaan yang meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan (konsumsi protein) dan peningkatan kualitas sumberdaya manusia. Selain itu, produk ternak memiliki prospek untuk pupuk organik dalam membantu mengatasi keterbatasan pupuk kimia, serta produksi energi/biofuel (biomassa). 4.1. Populasi, Produksi, Produktivitas 4.1.1. Populasi Ternak Jenis ternak yang merupakan ternak utama yang sudah banyak dibudidayakan oleh masyarakat Indonesia ada 11 (sebelas), yaitu : sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing domba, babi, kuda, ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging dan itik. Jenis ternak tersebut dibagi dalam 2 kelompok ternak, yaitu kelompok ternak besar, yaitu sapi potong, sapi perah, kerbau, kambing, domba, babi dan kuda; dan kelompok ternak unggas yang meliputi ternak ayam buras, ayam ras petelur, ayam ras pedaging, dan itik. Secara total, pada tahun 2006 populasi ternak, baik ternak besar dan unggas mengalami peningkatan. Sapi potong merupakan sumber utama penghasil daging untuk kebutuhan konsumsi. Populasi sapi potong berkisar antara 10-11 juta ekor. Populasi sapi potong antara periode 2000 sampai dengan 2003 mengalami penurunan dan mulai tahun 2004 meningkat kembali sampai dengan tahun 2006. Selama periode 2000-2005, populasi sapi potong rata-rata menurun -0,6% per tahun, namun pada tahun 2006 pada tahun 2005 meningkat sebesar 2,5% dibanding tahun 2005. Ternak besar sumber penghasil daging penting lainnya adalah kambing, domba dan babi. Populasi ketiga ternak tersebut mengalami peningkatan terus selama periode 2000-2005, demikian pula dari tahun 2005 ke tahun 2006. Selama periode 2000-2005 rata-rata peningkatan populasi kambing, domba, dan babi masing-masing meningkat 1,1%,
57

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

1,9%, dan 4,2%. Kemudian dari tahun 2005 ke 2006 masing-masing meningkat 4,6%, 2,6% dan 4,2%. Sebaliknya pada ternak kerbau dan kuda, populasi kedua ternak tersebut selama periode 2000-2005 mengalami penurunan, masing-masing rata-rata -1,90% dan -1,03% per tahun (Tabel IV.1.). Tabel IV. 1.
Jenis

Populasi Ternak Tahun 2000 2006


2004 2005*) 2006**) 2004-2006 (%) -0,6 0,3 -1,9 1,1 1,9 4,2 -1,0 1,2 3,8 8,4 3,9 2005-2006 (%) 2,5 5,8 3,4 4,8 2,6 4,2 3,1 7,0 12,6 19,8 6,8

Sapi Potong Sapi Perah Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras A. Ras Petelur A. Ras Pedaging Itik

10.533 364 2.403 12.781 8.075 5.980 397 276.989 93.416 778.970 32.573

10.569 361 2.128 13.409 8.327 6.801 387 278.954 84.790 811.189 32.405

10.836 382 2.201 14.051 8.543 7.087 399 298.432 95.478 972.221 34.612

Keterangan : * Angka sementara, **) Angka sangat sementara

Kelompok ternak unggas, selain sebagai sumber penghasil daging juga sebagai sumber penghasil telur untuk konsumsi. Ternak unggas yang populasinya paling besar adalah ayam ras pedaging, kemudian disusul ayam buras, ayam ras petelur dan itik. Pada tahun 2006, populasi ayam ras pedaging secara kumulatif dalam 1 tahun mencapai 972,2 juta ekor. Kemudian populasi ayam buras, ayam ras petelur dan itik masing-masing 298,4 juta ekor, 95,5 juta ekor dan 34,6 juta ekor. Dengan demikian total populasi (kumulatif dalam 1 tahun) unggas setiap tahunnya adalah sekitar 1,4 juta ekor. Selama periode 2004-2006 populasi ternak unggas tersebut di atas meningkat terus. Populasi ayam ras pedaging, ayam buras, ayam ras petelur dan itik masing-masing meningkat 8,4%, 1,2%, 3,8%, dan 3,9%. Pertumbuhan populasi terbesar pada ternak ayam ras pedaging, diikuti ternak ayam ras petelur. Pada tahun 2006, kedua ternak unggas inipun menunjukkan peningkatan paling besar dibandingkan ternak
58

Peternakan

unggas lainnya, yaitu masing-masing meningkat 19,9% dan 12,6% (Tabel IV.1). Besarnya peningkatan populasi kedua jenis ternak unggas tersebut kemungkinan disebabkan karena semakin meningkatnya permintaan masyarakat terhadap produk yang dihasilkan oleh kedua jenis ternak ini, yaitu berupa daging unggas dan telur. 4.1.2. Produksi Produksi daging nasional untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sebesar 65 persen berasal dari daging unggas dan sebesar 19 persen daging sapi. Untuk daging unggas sekitar 70 persen berasal dari daging ayam pedaging (broiler) dan 24 persen berasal dari daging ayam buras (Tabel IV.2). Tabel IV. 2.
No

Produksi Daging, Telur dan Susu, 2004-2006


2004 2.020,4 447,6 40,2 57,1 66,1 194,7 1,6 1.213,1 296,4 48,4 846,1 22,2 1.127,3 172,1 782,0 173,2 549,9 Tahun 2005 1.817,1 358,7 38,1 50,6 47,3 173,7 1,6 1.147,1 301,4 45,2 779,1 21,4 1.051,5 175,4 681,1 195,0 536,0 2006 2.070,3 389,3 39,5 53,3 51,9 179,4 1,7 1.355,2 322,8 54,3 955,8 22,3 1.133,8 181,1 751,0 201,7 577,6 Pertumb. (%) 04-06 05-06 6,5 3,1 -2,4 3,5 11,3 1,9 11,9 9,1 3,4 41,2 11,9 10,7 6,5 4,6 7,7 5,9 2,7 13,9 8,5 3,7 5,3 9,7 3,3 6,3 18,1 7,1 20,1 22,7 4,2 7,8 3,2 10,3 3,4 7,8 Pangsa (%)

Ternak

I 1 2 3 4 5 6 7

Daging Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Unggas - A. Buras - A Petelur - A. Broiler - Itik Telur - A. Buras - A. Petelur - Itik Susu

18,8 1,9 2,6 2,5 8,7 0,1 65,5 23,8 4,0 70,5 1,6 16,0 66,2 17,8

II

III

Sumber : Ditjen Peternakan, 2006

59

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Produksi daging secara total pada tahun 2006 masih mengalami peningkatan sebesar 13,9 persen dibandingkan. Peningkatan ini lebih besar dari rata-rata peningkatan selama periode 2004-2006 yang besarnya 6,5 persen. Peningkatan produksi daging yang cukup cukup besar ini terutama disebabkan oleh meningkatnya produksi daging putih/unggas yang mencapai sebesar 18,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dan produksi daging domba dan daging sapi yang masingmasing meningkat sebesar 9,7 persen dan 8,5 persen (Tabel IV.2). Produksi telur untuk kebutuhan konsumsi dalam negeri sebagian besar dipenuhi dari telur ayam ras yang memberikan kontribusi sekitar 66 persen dari total produksi telur nasional (Tabel IV.2). Produksi telur pada tahun 2006 meningkat lebih besar dari peningkatan produksi rata-rata selama periode 2000-2006. Pada tahun 2006 produksi telur meningkat sekitar 7,8 persen dibandingkan tahun 2005, sementara selama periode 2004-2006 peningkatan rata-rata hanya 6,5 persen per tahun. Peningkatan tertinggi dicapai pada produksi telur yang berasal dari ayam ras petelur yang mencapai sekitar 10,3 persen pada tahun 2006. Peningkatan produksi telur ayam buras dan itik pada tahun 2006 lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata peningkatan produksi selama periode 2004-2006. Kondisi tersebut kemungkinan menunjukkan bahwa iklim usaha ayam ras petelur pada tahun 2006 sudah semakin membaik dan berkembang kembali. Produksi susu dalam negeri pada tahun 2006 juga terus meningkat dibanding tahun sebelumnya, bahkan peningkatan pada tahun 2006 jauh lebih besar dibandingkan rata-rata peningkatan selama periode 2000-2006. Pada tahun 2006, produksi susu di dalam negeri meningkat sekitar 7,8 persen jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata peningkatan selama periode 2000-2006 yang hanya mencapai 2,7 persen (Tabel IV.2). 4.1.3. Produktivitas Produktivitas ternak dapat diukur dengan perkembangan berat hidup, berast karkas dan rasionya, produksi susu untuk sapi perah, dan produksi telur untuk unggas. Berat hidup pada umumnya digunakan dalam perdagangan ternak di masyarakat, sedangkan berat karkas dan
60

Peternakan

rasionya digunakan untuk memperkirakan berat daging dan jeroan yang dapat dimakan. Berat Hidup. Berdasarkan rata-rata berat hidup, produktivitas ternak sangat bervariasi. Ternak sapi, kerbau, kambing dan babi, menunjukkan peningkatan rata-rata berat hidup, sedangkan kuda dan domba mengalami penurunan. Rata-rata berat hidup sapi berdasarkan hasil survei tahun 1995 adalah 301,0 kg, dan pada hasil survei tahun 2002 mencapai 340,7 kg atau meningkat sebesar 13,2 persen. Rata-rata berat hidup ternak kerbau meningkat sebesar 3,2 persen dari 353,9 kg menjadi 365,0 kg, dan ternak kambing meningkat sebesar 8,4 persen dari 23,4 kg menjadi 25,3 kg pada periode yang sama. Demikian pula pada ternak babi, rata-rata berat hidupnya meningkat dari 90,0 kg (1995) menjadi 96,0 kg (2002) atau meningkat 6,6 persen (Tabel IV.3). Sebaliknya pada ternak kuda dan domba, berdasarkan hasil survei tahun 1995 dan 2002, menunjukkan penurunan dari 177,7 kg menjadi 160,5 kg atau menurun 9,7 persen. Ternak domba menurun dari ratarata berat hidup 28,5 kg (1995) menjadi 26,6 kg (2002) (Tabel IV.3). Tabel IV. 3.
Jenis Ternak Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi
Sumber:

Perbandingan Rata-rata Berat Hidup Ternak Ruminansia dan Babi Hasil, 1995 dan 2002 (dalam kg)
1995 2002 Min. 105,0 150,5 129,0 11,0 15,0 26,5 Maks. 790,0 549,0 212,0 44,0 45,0 160,0 Rata-rata 340,7 365,0 160,5 25,3 26,6 96,0 Perubahan (%) 13,2 3,2 -9,7 8,4 -6,5 6,6

301,0 353,9 177,7 23,4 28,5 90,0

Laporan Akhir Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Peternakan dalam rangka NBM, Kerjasama Deptan dan BPS, 2002

Kondisi tersebut menunjukkan adanya keberhasilan peningkatan kualitas perbibitan pada ternak sapi, kerbau dan kambing, namun masih kurang berhasil pada ternak kuda dan domba. Meningkatnya rata-rata berat hidup ternak sapi terutama disebabkan adanya impor bibit ternak sapi baik melalui program pemerintah maupun swasta.
61

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel IV. 4. Jenis Ternak

Perbandingan Rata-rata Berat Karkas Ternak Ruminansia dan Babi, 1976, 1995 dan 2002 Rata-rata Berat Karkas 1976 Rata-rata Berat Karkas 1995 Berat Hidup 2002 Minimum Maksimum Rata-rata 1976-2002 (%/thn) 1995-2002 (%/thn)

Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi

156,4 160,0 125,0 10,0 10,0 50,0

146,7 157,6 81,2 11,0 13,5 55,9

54,5 91,0 703,0 6,0 6,2 17,9

370,0 283,0 126,0 20,0 22,0 111,2

167,8 169,5 92,2 11,7 12,3 64,6

0,3 0,2 -1,0 0,7 0,9 1,1

2,1 1,1 1,9 1,0 -1,3 2,2

Sumber: Laporan Akhir Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Peternakan dalam rangka NBM, Kerjasama Deptan dan BPS, 2002

62

Peternakan

Berat Karkas. Berat karkas merupakan indikator produktivitas yang biasa dipakai dan dinilai lebih akurat daripada berat hidup untuk ternak ruminansia dan babi. Berdasarkan indikator berat karkas, hanya ternak domba yang mengalami penurunan (hasil survei pada dua tahun 1995 dan 2002), dengan rata-rata 1,3 persen, yaitu dari 13,3 kg menjadi sebesar 12,3 kg (Tabel IV.4). Rasio Berat Karkas terhadap Berat Hidup. Rasio berat karkas terhadap berat hidup sering digunakan sebagai indikator untuk melihat perkembangan produksi daging. Semakin besar rasionya, maka produksi daging yang dihasilkan ternak semakin besar. Berdasarkan hasil survei Departemen Pertanian dan BPS tahun 1995 dan 2002 yang dilakukan Departemen Pertanian bekerjasama dengan BPS, rasio berat karkas terhadap berat hidup untuk ternak sapi, kerbau, kuda dan babi menunjukkan penurunan, masing-masing sebesar -0,2%, -0,6%, -2,9%, dan -1,1% (Tabel IV.5). Untuk ternak kambing dan domba menunjukkan peningkatan, yaitu masing-masing 0,2 persen dan 0,4 persen per tahun (Tabel IV.5). Tabel IV. 5.
Jenis Ternak

Rasio Rata-rata Berat Karkas terhadap Rata-rata Berat Hidup menurut Jenis Ternak, 1995 dan 2002 (dalam kg)
Persentase 1995 49,2 46,4 57,4 46,2 46,1 67,3 2002 48,7 44,5 45,7 46,9 47,3 62,0 Perubahan (%) -0,2 -0,6 -2,9 0,2 0,4 -1,1

Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi


Sumber:

Laporan Akhir Penyempurnaan Neraca Pangan Komoditas Peternakan dalam rangka NBM, Kerjasama Deptan dan BPS, 2002

Parameter Produktivitas Lainnya. Parameter produktivitas untuk ternak sapi perah adalah produksi susu dan persentase jumlah betina produktif. Sedangkan untuk ternak unggas biasanya digunakan parameter beras karkas dan jeroan serta produksi telur. Rata-rata produksi susu sapi perah di dalam negeri saat ini mencapai 3,1 ton/ekor/ tahun, dengan jumlah betina produktif mencapai 49%. Rata63

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

rata berat karkas ayam buras termasuk jeroan mencapai 0,7 kg/ekor, dan produksi telurnya sebesar 2,1 kg/ekor/tahun. Selanjutnya produksi ayam ras petelur saat ini rata-rata mencapai 13,6 kg/ekor/tahun, dan berat karkas ditambah jeroan mencapai 1,1 kg/ekor. Pada ayam ras pedaging rata-rata berat karkas termasuk jeroan mencapai 1,2 kg/ekor lebih berat dari ayam buras dan ayam petelur (Tabel IV.6). Tabel IV. 6.
Jenis Ternak Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik

Parameter Produktivitas Ternak Sapi Perah dan Unggas


Parameter Berat Karkas + Jeroan Produksi Telur Berat Karkas + Jeroan Produksi Telur Berat Karkas + Jeroan Berat Karkas + Jeroan Produksi Telur Produktivitas (kg/ekor) 0,7 2,1 1,1 13,6 1,2 1,1 8,1 Betina Produktif (%) 30,0 60,2 0,0 65,4

Sumber : Ditjen Peternakan, 2006

4.2. Konsumsi Peningkatan kesejahteraan masyarakat yang ditunjukkan oleh peningkatan pendapatan, pendidikan dan kesehatan sangat berpengaruh terhadap peningkatan konsumsi daging, telur dan susu. Tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk daging, telur dan susu rata-rata menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. Selama periode tahun 2004 sampai dengan 2006, rata-rata konsumsi daging, telur, dan susu masing-masing meningkat sebesar 2,5 persen, 4,9 persen, dan 9,1 persen per tahun. Bahkan pada tahun 2006, peningkatan konsumsi masyarakat terhadap daging dan telur menunjukkan peningkatan lebih besar, yaitu masing-masing 11,1 persen dan 6,9 persen per tahun. Sedangkan untuk susu peningkatan konsumsi tahun 2006 masih di bawah rata-rata periode 2004-2006. Pada tahun 2006 tingkat konsumsi daging dari masyarakat Indonesia mencapai 6,4 kg per kapita per tahun. Tingkat konsumsi daging sebesar itu dipenuhi dari konsumsi daging ayam ras yaitu mencapai sekitar 35,8 persen, dari jeroan sebanyak 19,8 persen, daging
64

Peternakan

sapi 18 persen dan daging ayam buras 11,4 persen. Untuk konsumsi telur, sebagian besar dipenuhi dari ayam ras petelur yaitu sebesar 71,3 persen, dan dari itik serta ayam buras masing-masing sekitar 16,2 persen dan 12,5 persen. Konsumsi susu pada tahun 2006 diperkirakan mencapai sekitar 9,3 kg per kapita per tahun, yang dipenuhi dari susu impor sekitar 77 persen (Tabel IV.7). Tabel IV. 7.
Ternak Daging Telur Susu

Konsumsi Daging, Telur, dan Susu, 2004-2006


Konsumsi (kg/kapita/tahun) 2004 6,3 4,7 9,5 2005 5,8 4,3 9,382 2006 *) 6,4 4,6 9,4 Pertumb (%) 2000-2005 2,5 4,9 9,1 2005-2006 11,1 6,9 0,3

Keterangan: *) angka sementara Sumber : Ditjen Peternakan, 2006

Berdasarkan tingkat konsumsi hasil ternak di atas, tingkat konsumsi protein hasil ternak pada tahun 2006 sudah mencapai 5,3 gram protein per kapita per hari. Dari total konsumsi protein tersebut sekitar 3,0 gram berasal dari daging, 1,5 gram dari telur dan hanya 0,8 gram berasal dari susu (Tabel IV.8). Untuk mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia, masih diperlukan peningkatan konsumsi protein hewani. Tabel IV. 8. Konsumsi Hasil Ternak dan Protein Hewani Tahun 2006
Konsumsi/Kapita Hasil Ternak Daging Telur Susu Minyak & Lemak Total Kg/tahun 6,4 4,6 9,3 0,1 Gram/ hari 17,6 12,7 25,6 0,4 Kal./ hari 44,4 19,0 15,6 3,1 82,1 Protein/ hari 3,0 1,5 0,8 5,3 Lemak/ hari 3,5 1,4 0,9 0,3 6,1

Sumber : Ditjen Peternakan, 2006

65

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

4.3. Wilayah Produksi / Agroekosistem Berdasarkan persebaran jumlah ternak, pusat ternak sapi potong berada di Jawa (Tabel IV.9). Sekitar 80% jumlah populasi ternak sapi potong berada di Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara dan Bali, serta Sulawesi. Untuk ternak sapi perah dan domba seluruhnya berada di Jawa. Separuh dari populasi ternak kerbau berada di Sumatera, diikuti Jawa serta Nusa Tenggara dan Bali. Populasi ternak kambing sebagian besar masih berada di Jawa dan Sumatera. Populasi ternak babi agak tersebar yaitu di Kalimantan (25%) dan Maluku (18%) diikuti oleh Sumatera, Jawa, dan Sulawesi, masing-masing sekitar 15%. Selanjutnya, pusat jenis ternak kuda berada di Nusa Tenggaran dan Bali (44,5%), serta Sulawesi (36,4%). Untuk ternak unggas masih berpusat di wilayah Jawa dan Sumatera. Hal ini terlihat dari sebaran populasi ternak tersebut. Populasi ternak ayam buras sebesar 41 persen berada di wilayah Jawa dan 32 persen berada di wilayah Sumatera dan sisanya tersebar di Sulawesi, Kalimantan serta Nusa Tenggara dan Bali. Demikian pula untuk ternak ayam ras petelur dan pedaging masih berpusat di wilayah Jawa dan Sumatera. Ternak ayam petelur sekitar 61 persen berada di wilayah Jawa dan 23 persen berada di wilayah Sumatera. Untuk ternak ayam ras pedaging sekitar 74 persen berada di wilayah Jawa dan 15 persen berada di wilayah Sumatera. Sedangkan untuk ternak itik potensi besar berada di wilayah Kalimantan dengan populasi itik sekitar 11 persen (Tabel IV.10).

66

Peternakan

Tabel IV. 9.
Pulau/ Propinsi

Persebaran Ternak Besar menurut Wilayah


Jenis Ternak Sapi Potong Ribu ekor 2.653,8 4.458,1 % 24,5 Sapi Perah Ribu ekor 8,3 % Kerbau Ribu ekor % 52,4 22,1 Kambing Ribu ekor 3.504,1 7.958,8 % 24,9 Domba Ribu ekor 629,9 % Babi Ribu ekor % 15,4 15,5 Kuda Ribu ekor 14,249 49,923 % 3,6 12,5

Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku


TOTAL

2,2 1.151,7 97,5 486,1

7,4 1.089,7 91,4 1.100,7

41,1 372,9

56,6 7.808,0

1.600,4 489,6 1.441,9 110,5 10.835,7

14,8 4,5 13,3 1,0

0,1 0,2 0,8 -

0,0 0,0 0,2 0,0

304,8 76,8 155,5 23,0

13,9 3,5 7,1 1,0

922,5 319,2 1.042,5 254,1

6,6 2,3 7,4 1,8

77,5 8,7 4,5 13,5

0,9 1.778,4 0,1 696,9

25,1 177,258 9,8 0,810

44,5 0,2 36,4 2,2 100

0,1 1.090,5 0,2 1.288,9 100 7.086,9

15,4 145,202 18,2 8,935

100 382,3

100 2.199,1

100 14.052,2

100 8.543,2

100 398,656

Sumber : Ditjen Peternakan 2006

67

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Tabel IV. 10. Persebaran Ternak Unggas menurut Wilayah Jenis Ternak Pulau Ayam Buras Ribu ekor Sumatera Jawa Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku INDONESIA 96.931,5 122.298,7 18.844,0 23.694,9 32.131,5 2.535,4 298.431,9 % 32,5 41,0 6,3 7,9 10,8 0,8 Ayam Ras Petelur Ribu ekor 22.136,9 57.956,7 4.375,4 4.978,9 5.835,9 15,6 184.625,5 % 23,2 60,7 4,6 5,2 6,1 0,2 Ayam Ras Pedaging Ribu ekor 149.020,9 718.233,0 16.800,7 66.094,7 20.287,9 184,1 972.421,5 % 15,3 73,9 1,7 6,8 2,1 0,0 Itik Ribu ekor 10.470,6 14.688,9 1.545,0 3.997,5 3.428,9 254,5 34.612,1 % 30,3 42,4 4,5 11,5 9,9 0,7

Sumber : Ditjen Peternakan 2006

68

Peternakan

4.4. Kelembagaan Profil kelembagaan sub sektor peternakan dapat digunakan untuk melihat komposisi ternak rakyat dan perusahaan peternakan. Berdasarkan data Departemen Pertanian dan BPS terdapat 5,6 juta rumah tangga peternakan dan 2.305 perusahaan ternak unggas, 417 perusahaan sapi perah, dan 437 perusahaan ternak sapi potong, kerbau, kambing, domba dan babi. Apabila lainnya mendekati jumlah establishment, maka jumlah peternakan rakyat jumlahnya melebihi perusahaan ternak (Tabel IV.11). Tabel IV. 11. Jumlah Rumahtangga Peternakan dan Perusahaan Ternak No Establishment Jumlah 1 Rumah Tangga Peternak 5,6 juta RT 2 Perusahaan Ternak Unggas 2.305 Unit 3. Perusahaan Ternak Sapi Perah 417 Unit 4. Perusahaan Ternak Besar 437 Unit
Sumber: Ditjen Peternakan, 2006

Tabel IV. 12. Keterlibatan Rumah Tangga Peternakan dalam Koperasi dan Kelompok Tani
Jenis Kelembagaan/ Pelayanan Menjadi Anggota Koperasi Pernah Mendapat Pelayanan koperasi Menjadi Anggota Kelompok Tani Mengikuti Bimbingan Penyuluhan Jumlah Rumah Tangga Peternakan Rumah Tangga 363.244 Persentase thd RT Peternakan 6,5 Jenis pelayanan koperasi : kredit uang, pengadaan bibit, pengadaan sapronak, pemasaran produksi, kesehatan ternak Keterangan

156.228

2,8

223.433

4,0 Jenis penyuluhan : teknis budidaya, penyusunan ransum dan pengobatan ternak

353.171

6,3

5.627.395

Sumber : Survei Pertanian, 2003 69

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Sementara itu, hanya 6,5 persen rumah tangga peternak yang menjadi anggota koperasi. Dengan kondisi seperti ini, akan sulit untuk meningkatkan kualitas usaha peternakan rakyat, atau menghubungkan peternakan rakyat dengan perusahaan ternak. Demikian pula, hanya 4 persen dari jumlah rumah tangga peternak yang menjadi anggota kelompok tani, dan hanya 6,3 persen yang pernah mengikuti bimbingan penyuluhan (Tabel IV.12). 4.5. Perusahaan Pakan Ternak Terbatasnya sumber keuangan tersebut di atas, diiringi pula dengan keterbatasan ketersediaan pakan ternak. Dari Tabel IV.13 nampak bahwa jumlah perusahaan pakan ternak mengalami penurunan. Bisa saja jumlah perusahaan menurun, namun jumlah produksi meningkat karena skala perusahaan bisa bertambah karena perusahaan-perusahaan tersebut mengalami penggabungan (merger). Tabel IV. 13. Perusahaan Pakan Ternak, 1997 2001 (dalam unit)
Propinsi Sumatera Utara Sumatera Selatan Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah Jawa Timur Sulawesi Selatan Banten Indonesia Tahun 1997 10 1 5 4 18 8 16 1 0 63 1998 11 1 5 4 20 8 17 1 0 67 1999 11 1 5 4 20 8 17 1 0 67 2000 10 1 4 4 19 8 14 1 0 61 2001 5 0 4 4 8 6 11 1 9 48 Perubahan 1997-2001 -5 -1 -1 0 -10 -2 -5 0 9 -15

Sumber : Statistik Peternakan 2005, Ditjen Peternakan

Namun demikian, dengan makin sedikitnya perusahaan peternakan, maka: (i) ketersediaan pakan ternak akan menurun, atau (ii) meningkatnya monopoli produksi pakan ternak. Kedua kemungkinan tersebut akan dapat meningkatkan harga pakan ternak di lapangan, yang akan mempersulit berlangsungnya usaha ternak terutama peternakan rakyat. Kondisi ini secara makro akan
70

Peternakan

memperlambat upaya peningkatan produktivitas dan produk ternak untuk dapat mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia. Secara mikro, kondisi ini akan menghambat diversifikasi usaha petani kecil dalam rangka menstabilkan dan meningkatkan pendapatan mereka. 4.6. Akses terhadap Sumber Kredit Selanjutnya peran lembaga keuangan, terutama perbankan juga masih sangat terbatas. Sebagian besar rumah tangga peternakan di layani kebutuhan kreditnya oleh perorangan, bisa berupa modal sendiri atau peminjam dari individu lain diantaranya adalah rentenir. Dengan kondisi dukungan keuangan seperti ini akan sulit untuk mengembangkan usaha peternakan. Tabel IV. 14. Rumahtangga Peternakan yang Mendapat Kredit/ Tambahan menurut Sumber Kredit dan Jenis Ternak (%)
Sumber Kredit Bank Koperasi Perorangan Lainnya Total Sapi 10,6 5,0 6,3 78,1 100,0 Babi 19,8 21,1 1,8 57,3 100,0 Kambing 12,7 13,5 55,4 18,4 100,0 Ayam Buras 19,7 21,3 2,2 56,8 100,0 Itik 17,6 7,6 55,2 19,6 100,0 Semua Ternak 26,2 7,5 47,0 19,4 100,0

Sumber : Sensus Pertanian, 2003

71

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

72

Sarana dan Prasarana Pertanian

BAB V SARANA DAN PRASARANA PERTANIAN

Keberadaan sarana dan prasarana pertanian sangat diperlukan untuk revitalisasi pertanian. Untuk itu kualitas pelayanannya, jumlah dan kualitas prasarana pertanian sangat penting untuk dapat melayani dan dimanfaatkan oleh petani untuk mengembangkan usahataninya agar lebih produktif dan menguntungkan. Beberapa sarana dan prasarana dalam pembangunan pertanian adalah lahan dan air, pupuk, lembaga teknologi, permodalan, kesehatan hewan dan perkarantinaan. 5.1. Lahan dan Air Keberadaan lahan sangat diperlukan untuk menjaga tingkat produksi pertanian, baik secara luasan lahan, maupun tingkat kesuburannya. Oleh karena, pengelolaan lahan secara baik untuk kedua hal tersebut sangat diperlukan. Dari total luas lahan yang dikuasai rumah tangga pertanian sebesar 76,5 hektar, seluas 8,4 juta hektar adalah lahan sawah dan 68,1 hektar adalah lahan kering. Lahan sawah yang hanya seluas 8,4 juta hektar tersebut dikuasai oleh 18,3 juta rumah tangga petani sawah. Berarti rata-rata kepemilikan adalah 0,5 ha/RT. Lahan sawah ini hanya 2,4 hektar yang beririgasi teknis. Tabel V. 1. Luas Lahan Irigasi Luas Lahan Irigasi 3,27 Juta Ha 1,83 Juta Ha 0,79 Juta Ha 0,46 Juta Ha 0,39 Juta Ha 0,06 Juta Ha 6,80 Juta Ha Prosentase (%) 55,3 22,7 10,0 6,4 5,2 0,4 100,0

Pulau Jawa Sumatera Sulawesi Kalimantan Nusa Tenggara Bali Maluku - Papua Total

Keterangan: Tahun 2004 : dari 6,7 juta ha total lahan irigasi menyumbangkan 80 % 85 % produksi beras nasional) Sumber: Ditjen Sumberdaya Air, DepPU, 2006

73

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

Lahan irigasi ini menyumbang 80-85% produksi beras nasional. Luas lahan irigasi Indonesia ini, seluas 3,3 juta ha atau 55,3% berada di pulau Jawa dan Sumatera 1,83 juta hektar atau 22,7% (Tabel V.1). Dari lahan beririgasi teknis tersebut, 22,4% jaringan irigasi dalam kondisi rusak. Selain itu 49 bendung dan 14 waduk juga dalam kondisi rusak berat (Tabel V.2). Tabel V. 2.
Prasaran Terbangun Jaringan Irigasi Bendung Waduk

Kondisi dan Keandalan Prasarana Irigasi


Jumlah 6.771.826 ha 11.547 buah 273 buah Kondisi Rusak Rusak Berat Ringan 341.327 (5,0 %) 49 (0,2 %) 14 (5,1 %) 1.178.548 (17,4 %) 5 (1,8) Keandalan Air (Ha) Non Waduk Waduk 719.173 (10,6) 6.052.653 (89,4) -

Sumber : Ditjen Sumberdaya Air, Dep PU 2006

Dalam rangka meningkatkan optimalisasi jaringan irigasi terutama di tingkat petani, pemerintah menyediakan DAK irigasi dan DAK pertanian serta pembinaan dan dukungan pemeliharaan irigasi di tingkat usaha tani yang dilakukan secara partisipatif oleh masyarakat. 5.2. Pupuk

Pupuk sangat diperlukan dalam meningkatkan produktivitas pertanian, baik pupuk organik maupun pupuk anorganik. Pupuk anorganik adalah pupuk yang diproduksi dari bahan-bahan kimia dan menggunakan proses industri dalam pembuatannya. Pupuk organik lebih menggunakan bahan-bahan organik (sisa tumbuhan, kotoran, dsb) serta menggunakan proses alamiah dalam pembuatannya. Berdasarkan luas lahan terutama sawah untuk meningkatkan produksi padi, dibutuhkan 3,4 juta ton pupuk Urea, 463 ribu ton pupuk SP-36, 347 ribu ton pupuk ZA, dan 321 ribu ton pupuk NPK. Sementara itu untuk perkiraan kebutuhan pertanian lainnya adalah 855 ribu ton pupuk Urea, 236 ribu ton SP-36, 252 ribu ton ZA dan 78 ribu ton NPK (Tabel V.3).
74

Sarana dan Prasarana Pertanian

Tabel V. 3.

Kebutuhan Pupuk untuk Pertanian Urea 3.444.708 843.241 12.051 4.300.000 SP-36 463.068 234.374 2.558 700.000 ZA 347.955 250.000 2.045 600.000 NPK 321.559 78.441 400.000

Sub Sektor Tanaman Pangan dan Hortikultura Perkebunan Rakyat Peternakan Jumlah

Sumber : Ditjen Tanaman Pangan, Departemen Pertanian, 2006

Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, kapasitas produksi pupuk urea Indonesia, pada tahun 2005 mencapai 5,76 juta ton, dan tahun 2006 diperkirakan sebesar 5,47 juta ton. Tingkat utilisasi dari produksi pupuk tersebut pada tahun 2005 mencapai 73,1 persen dan tahun 2006 diperkirakan 69,5 persen (Tabel V.4). Produksi pupuk untuk tahun 2006, diperkirakan hanya sebesar 5,5 juta ton (69,5 persen dari 7,9 juta ton). Tabel V. 4.
Produsen Urea (Non AAF) PT. Petrokimia Gresik PT. Pupuk Kujang PT. Pupuk Kaltim PT. Pupuk Iskandar Muda JUMLAH

Kapasitas dan Produksi Pupuk


Kapasitas Produksi 2005* 2006** 403.172 500.472 2.559.096 249.300 5.757.347 440.000 471.500 2.550.000 5.471.500 Utilisasi 2005* 2006** 87,3 43,9 89,8 21,9 73,1 95,2 41,4 89,5 69,5

462.000 1.140.000 2.850.000 1.140.000 7.872.000

Keterangan: * Prognosa; ** Rencana Sumber : Ditjen Industri Agro dan Kimia, Depperin 2006

Sedangkan volume pengadaan pupuk bersubsidi pada tahun 2006 adalah sebesar 1,1 juta ton pupuk Urea, 191,7 ribu ton pupuk SP-36, 171,2 ribu ton pupuk ZA, dan 76,9 ribu ton pupuk NPK (Januari Maret 2006) (Tabel V.5). Pengadaan pupuk Urea dan NPK yang lebih rendah daripada tingkat kebutuhan. Dengan kondisi tersebut, maka belum seluruh kebutuhan dapat dipenuhi dari pupuk bersubsidi. Kekurangan volume tersebut dapat mengakibatkan adanya mis75

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

targetting pupuk dan penyediaan pupuk tidak memenuhi kriteria 4


(empat) tepat, tepat waktu, tepat sasaran, tepat harga dan tepat jumlah. Untuk memenuhi kekurangan kebutuhan ini, perlu ditingkatkan penggunaan pupuk organik. Peningkatan penggunaan pupuk organik dapat dimulai dari 2 (dua) sisi,yaitu sisi supply/penyediaan dan sisi demand. Dari sisi supply, penanganan dan pengadaan secara besar-besaran dan skala nasional sulit dilakukan karena : (i) produksi pupuk organik mengandalkan hasil alam sehingga faktor koleksi menjadi hambatan baik secara volume maupun waktu; (ii) penggunaan pupuk organik harus dekat dengan tempat produksi karena sifat bulky akan memerlukan biaya transport yang relatif besar dari nilai komoditas/pupuk; (iii) standar pupuk organik belum dikembangkan. Untuk itu pengelolaan dari sisi demand menjadi lebih realistis, yaitu dengan penggunaan langsung di tingkat masyarakat dengan cara : (i) menggalakkan produksi pupuk organik penggunaan langsung dengan mendorong petani memiliki ternak (diversifikasi usaha); (ii) petani disarankan menggunakan pupuk organik atau campuran organik dan nonorganik. Dengan kedua cara ini maka pupuk anorganik dapat dikurangi, sehingga penggunaan pupuk tidak lagi menjadi permasalahan nasional, tetapi dapat secara fleksibel dilakukan di tingkat petani. Untuk dapat mewujudkan ini, peran penyuluh dan dinas pertanian menjadi sangat penting untuk dapat membimbing petani memproduksi dan menggunakan pupuk organik. Tabel V. 5. Pupuk Urea SP 36 ZA NPK Produksi, Pengadaan dan Kebutuhan Pupuk, Januari Maret 2006 Produksi 1.285.148 196.583 211.500 77.440 Pengadaan 1.125.844 191.663 171.187 76.910 Kebutuhan 1.147.097 186.625 160.479 106.986

Keterangan: kuantum dalam ton; pengadaan untuk sektor pertanian/bersubsidi; kebutuhan sesuai SK Menteri Pertanian Sumber : Ditjen Industri Agro dan Kimia, Depperin 2006

76

Sarana dan Prasarana Pertanian

5.3. Permodalan Salah satu faktor penyebab lemahnya pertanian Indonesia adalah kurangnya permodalan, karena sulitnya petani mendapatkan akses ke sumber modal yang ada. Dari hasil Sensus Pertanian tahun 2003, ternyata 85,4 persen rumah tangga pertanian masih menggunakan modal sendiri dan hanya 4,8 persen yang menggunakan sumber dari lembaga keuangan bank dan non bank. Tabel V. 6. Persentase Rumahtangga Pertanian menurut Sumber Permodalan Usaha Jawa 85,2 3,6 1,8 9,5 100,0 Luar Jawa 85,8 2,5 1,8 9,9 100,0 Indonesia 85,4 3,1 1,8 9,7 100,0

Sumber Permodalan Usaha Sendiri Bank Non bank Lainnya Jumlah

Sumber : Sensus Pertanian, BPS 2003

Persentase ini menunjukkan bahwa akses petani ke perbankan sangat lemah, yang dapat disebabkan karena : (i) petani tidak memiliki jaminan / agunan guna mendapatkan kredit; (ii) pertanian dianggap sebagai usaha yang memiliki high risk sehingga perbankan mengalami kesulitan dalam menyalurkan kreditnya; dan (iii) skala kredit yang dibutuhkan RT petani sangat kecil (karena sempitnya lahan) sehingga tidak memenuhi skala kredit kecil dari perbankan. 5.4. Prasarana Teknologi Pertanian Dalam rangka pembangunan pertanian, pemerintah melalui Departemen Pertanian melakukan penelitian-penelitian melalui berbagai pusat dan blai penelitian pertanian dan diseminasi hasil-hasil penelitian, melalui Balai Pengkajian Teknologi Pertanian dan Balai Penyuluhan Pertanian. Kegiatan penelitian pertanian tersebut sangat penting untuk mendorong kemajuan pembangunan pertanian melalui perbaikan teknologi pertanian. Untuk dapat melakukan upaya
77

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

penelitian, Departemen Pertanian memiliki 6 pusat penelitian, 15 balai penelitian dan 4 balai besar penelitian. Prasarana penelitian untuk diseminasi hasil penelitian di seluruh Indonesia terdapat 31 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang berada di tingkat propinsi (Tabel V.7). Tabel V. 7.
No 1. 2. 3. 4. 5.

Prasarana Penelitian Pertanian


Prasarana Penelitian Jumlah 6 Unit 6 Unit 31 Unit 15 Unit 4 Unit 62 Unit

Pusat-pusat Penelitian Loka Pengkajian/Penelitian Pertanian Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP/PTP) Balai-balai Penelitian Balai Besar Penelitian dan Pengembangan JUMLAH

Sumber : Badan Litbang, Departemen Pertanian, 2006:

Pusat/Loka penelitian yang ada terdiri dari : (i) tanaman sela perkebunan yang berlokasi di Pakuwon, (ii) penyakit tungro berlokasi di Lanrang Maros, (iii) penelitian tanaman jeruk dan hortikultura sub tropis berlokasi di Malang, (iv) penelitian sapi potong berlokasi di Pasuruan, (v) penelitian kambing potong berlokasi di Sei Putih Sumatera Utara, dan (vi) penelitian pencemaran lingkungan pertanian berlokasi di Jakenan Jawa Tengah (Tabel Lampiran). Dalam rangka lebih membantu daerah dalam rangka penelitian dan pengembangan pertanian, terdapat 31 Balai Pengkajian Tenologi Pertanian untuk mendorong pengembangan penelitian yang lebih spesifik daerah (kecuali di propinsi Kepulauan Riau dan Sulawesi Barat). Selanjutnya, 15 unit Balai-balai penelitian, ditujukan untuk menghasilkan inovasi teknologi yang dapat diterapkan kepada masyarakat dan spesifik pada aspek yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat petani atau pengusaha (Tabel Lampiran). Selanjutnya prasarana penelitian lainnya yang lebih besar dari balai-balai penelitian adalah balai besar penelitian dan pengembangan pertanian yang saat ini berjumlah 4 unit, yaitu : (i) Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian di Serpong Jawa Barat, (ii) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian di Bogor, (iii) Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen
78

Sarana dan Prasarana Pertanian

Pertanian di Jakarta, dan (iv) Balai Besar Pengembangan Teknologi Pertanian di Jakarta.

Pengkajian

dan

5.5. Pengembangan Sumberdaya Manusia (SDM) Pertanian dan Penyuluhan Pertanian Tidak kalah pentingnya dari lembaga penelitian adalah balai pelatihan dan pelayanan penyuluhan pertanian. Hal ini penting karena pengusaha pertanian adalah petani, sehingga peningkatan daya saing pertanian dan komoditas pertanian pada dasarnya adalah peningkatan daya saing petani. Untuk melatih petani terutama petani rakyat, pemerintah memiliki 8 balai pendidikan dan pelatihan (Diklat) yang berada di Kayu Ambon Lembang, Cinagara Bogor, Ketindan Malang, Batu Malang, Batang Kaluku, Jambi, Binuang Kalsel, dan Kupang. Sementara itu, untuk meningkatkan kualitas aparat yang memberikan pelayanan pertanian, dimiliki 7 Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STTP) dan 3 Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP), serta 1 pusat Manajemen Pengembangan SDM Pertanian di Ciawi (Tabel V.8). Tabel V. 8.
No 1 2 B. 1 2 3 4 5

Prasarana Diklat dan Penyuluhan Pertanian


Jumlah 26.820 PPL 3.557 BPP 19 Unit 3 Unit 7 Unit 5 Unit 3 Unit 1 Unit

Nama Prasarana Diklat dan Penyuluhan Pertanian Tenaga penyuluh Pertanian Balai Penyuluh Pertanian (BPP) LEMBAGA PENDIDIKAN DAN LATIHAN Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian (STPP) Balai Besar Diklat Agribisnis Balai Diklat Agribisnis Pusat Manajemen Pengembangan SDM Pertanian Ciawi

Sumber : Badan Pengembangan SDM Pertanian, Deptan, 2006

Dalam rangka penyuluhan pertanian, Departemen Pertanian memiliki 26.820 orang tenaga Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan 3.557 unit Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang berada di tingkat kecamatan. Dengan jumlah penyuluh tersebut, berarti tiap penyuluh melayani 927 rumah tangga petani, jumlah yang dirasakan masih
79

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

terlalu berat. Idak mengharuskan jika formulasi pelayanan penyuluh kepada petani masih rendah dan tidak signifikan hasilnya terhadap peningkatan produktivitas pertanian. Sementara itu, jumlah BPP masih terbatas yaitu belum seluruh kecamatan memiliki BPP. Mengingat keterbatasan tersebut, maka untuk meningkatkan fasilitas penyuluhan, pemerintah menyediakan insentif kepada penyuluh yang masih berfungsi serta dukungan penyediaan sarana penyuluhan melalui DAK pertanian. Peningkatan penyuluhan masih terus dilakukan dengan melaksanakan revitalisasi penyuluhan pada tahun 2007 ini dengan memberikan dukungan kepada kabupaten/kota untuk memperbaiki fasilitas BPP dan pelayanan penyuluhannya. Selain melalui prasarana pendidikan dan latihan (diklat) pertanian yang ada sekarang, pemerintah juga mengembangkan pelatihan/sekolah lapang agar petani dilatih tanpa harus meninggalkan tempat usahataninya. 5.6. Kesehatan Hewan

Sistem kesehatan hewan sangat penting untuk mendukung pengembangan peternakan di dalam negeri terutama untuk menjaga kesehatan hewan dan keamanan pangan asal produk hewan bagi masyarakat. Pelayanan sistem kesehatan hewan ini perlu didukung oleh lembaga kesehatan hewan yang memadai. Saat ini lembaga kesehatan hewan yang dimiliki oleh pemerintah meliputi 7 Balai Penyidikan Penyakit Veteriner di tingkat region yang bisa mencakup beberapa wilayah administrasi propinsi, 22 laboratorium kesehatan hewan tipe B di tingkat propinsi, 93 laboratorium kesehatan hewan tipe C di tingkat kabupaten/kota, 387 pos kesehatan hewan di tingkat kecamatan/desa (yang masih diragukan apakah masih berfungsi seluruhnya), 304 tenaga medik, dan 5 Fakultas Kedokteran Hewan (Tabel V.9).

80

Sarana dan Prasarana Pertanian

Tabel V. 9.

Lembaga Kesehatan Hewan yang Mendukung Sistem Kesehatan Hewan Nasional


Jumlah (Unit) 7 Lokasi Medan, Bukit Tinggi, Tanjung Karang, Yogyakarta, Banjar Baru, Maros, Denpasar NAD, Riau, Jambi, Bengkulu, Babel, Sumsel, Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, Kalbar, Kalteng, Kaltim, Kalsel, Sulut, Sulteng, Sulsel, Sultra, NTB, NTT, Maluku, Papua

Lembaga Kesehatan Hewan/Tenaga Pendukung Balai Penyidikan Penyakit Veteriner (BPPV) : Laboratorium Tipe A

Laboratorium Tipe B

22

Laboratorium Tipe C Pos Kesehatan Hewan Tenaga Medik Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Sumber : Ditjen Peternakan, 2005

93 387 304 5 Banda Aceh, Bogor, Yogyakarta, Surabaya, Bali,

5.7. Karantina Pertanian Perkarantinaan merupakan salah satu tugas pokok Departemen Pertanian yang tidak didesentralisasikan kepada pemerintah daerah, sehingga pelaksanaan sistem karantina pertanian masih merupakan tugas pemerintah pusat. Peran karantina pertanian sangat penting baik secara global maupun nasional. Secara global sistem karantina digunakan untuk mencegah masuknya hama dan penyakit berbahaya agar tidak masuk ke wilayah Indonesia dan mengganggu produksi dan keamanan pangan nasional. Sistem karantina juga merupakan bagian dari sistem global dalam menerapkan ketentuan sanitary and phytosanitary (SPS) dan technical borrower lain yang memenuhi ketentuan perdagangan dunia. Sistem karantina pertanian bermanfaat pula untuk mencegah perdagangan atau transportasi plasma nutfah Indonesia yang merupakan kekayaan alam (biodiversity) nasional. Secara domestik, sistem karantina dapat digunakan untuk mencegah beredarnya hama penyakit antar pulau sehingga penyebarannya/ perluasannya dapat dicegah. Sistem karantina juga sangat penting
81

Profil Pangan dan Pertanian 2003-2006

untuk mencegah masuknya dan menyebarnya penyakit zoonosis yang dapat mengganggu kesehatan manusia, seperti kasus flu burung. Pelayanan karantina pertanian meliputi perkarantinaan tumbuhan dan perkarantinaan hewan, sedangkan yang terkait dengan karantina perikanan berada di bawah kewenangan Departemen Perikanan dan Kelautan. Sistem karantina pertanian Indonesia dilengkapi dengan 2 Balai Besar Karantina Hewan, 8 Balai Karantina Hewan Kelas I, dan 4 Balai Karantina Hewan Kelas II, serta 25 Stasiun Karantina Hewan Kelas I dan Kelas II. Untuk karantina tumbuhan terdapat 3 Balai Besar Karantina Tumbuhan, 11 Balai Karantina Tumbuhan Kelas I dan Kelas II, serta 29 Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas I dan Kelas II. Selain itu untuk meningkatkan kualitas pelayanan perkarantinaan pertanian ini juga dilengkapi dengan Balai Besar Uji Standar yang berada di pusat, dan 1 unit karantina di Batam. Dengan demikian jumlah lembaga dan prasarana perkarantinaan yang ada sekarang ini berjumlah 88 unit (Tabel V.10). Tabel V. 10. Prasarana Karantina Pertanian
No A. 1 2 3 4 5 B. 1 2 3 4 5 C. 1 2 Sasaran KARANTINA HEWAN Balai Besar Karantina Hewan Balai Karantina Hewan Kelas I Balai Karantina Hewan Kelas II Stasiun Karantina Hewan Kelas I Stasiun Karantina Hewan Kelas II KARANTINA TUMBUHAN Balai Besar Karantina Tumbuhan Balai Karantina Tumbuhan Kelas I Balai Karantina Tumbuhan Kelas II Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas I Stasiun Karantina Tumbuhan Kelas II PUSAT Balai Besar Uji Standar Karantina Karantina Batam (Hewan dan Tumbuhan) JUMLAH Jumlah 39 Unit 2 Unit 8 Unit 4 Unit 5 Unit 20 Unit 43Unit 3Unit 7 Unit 4 Unit 8 Unit 21 Unit 2 Unit 1 Unit 1Unit 84 Unit

Sumber : Badan Karantina Pertanian, 2006 82

Lampiran

TABEL LAMPIRAN

83