Anda di halaman 1dari 14

PENDAHULUAN

Seorang dokter memiliki tugas untuk membantu memecahkan masalah pasien. Dalam hal ini, dokter bertugas mengobati pasien. Namun, untuk dapat mengobati pasien, seorang dokter harus mengetahui penyebab penyakit yang diderita oleh pasiennya. Untuk itu, pengetahuan yang baik, dan hubungan komunikasi antara pasien dan dokter sangatlah berperan penting dalam mengidentifikasi masalah atau penyakit apa yang diderita oleh pasien. Mengenal dan menetapkan penyakit yang menyebabkan timbulnya keluhan dan, atau tanda-tanda dalam diri pasien, disebut juga menegakkan diagnosis. Untuk dapat menegakkan diagnosis, berikut upayaupaya yang umumnya dilakukan oleh seorang dokter yaitu; anamnesis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan laboratorium, dan pemeriksaan khusus. Setelah melakukan upaya-upaya tersebut, dokter akan memperoleh gambaran tentang penyakit yang menyerang pasien. Tentu saja hal itu dapat dikenali dengan dukungan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki seorang dokter

STUDI KASUS Ny. Dimas 52 tahun, janda seorang pensiunan PNS, berobat karena berat badannya makin menurun. Ia juga mengeluh dalam beberapa bulan terakhir cepar merasa lelah dan kurang bersemangat dan sering merasa lemas tak bertenaga. Ny. Dimas masih tampak cantik. Tetapi, dari caranya berpakaian, ia tampak kurang mampu. Ibu dan Nenek Ny. Dimas adalah penderita kencing manis. Nafsu makan Ny. Dimas baik, bahkan dia cepat merasa lapar dan haus. Ia pun mengaku sering merasa gatal di sekitar selangkangan. Ia pun saat ini menderita sariawan, di samping giginya banyak yang berlubang dan goyang. Akhir-akhir ini hampir setiap malam ia tak dapat tidur, karena tungkai kirinya sering terasa sakit berdenyut-denyut, panas serta semutan. Suhu afrebis, tekanan darah 140/90, pernafasan 20 kali/menit tidak dalam dan tidak berbau aseton, tinggi badan 160 cm, berat badan 46 kg, rambut agak jarang dan mudah rontok, kulit keriput dan kering, turgor kurang. Tampak ada bekas-bekas garukan di beberapa tempat serta ada sebuah ulkus yang sudah mengering di punggung. Pada kedua mata tampak katarak, beberapa gigi goyang, derajat 1 hingga 3, pada gigi M2 bawah kiri tampak karies. Lidah kering agak pucat. Kelenjar getah bening leher dan tiroid tidak membesar. Thorax, jantung, dan paru tidak ditemukan kelainan. Dinding abdomen lemas, hepar terasa satu jari di bawah arcus costae, konsistensi kenyal, tepi tumpul, permukaan licin. Lien tidak teraba, shifting dullness negative, edema ekstremitas tidak ada, bengkak pada sendi-sendi tidak ada. Hasil pemeriksaan laboratorium : Hb 10gr%

Leukosit 9000 LED 52/jam Gula darah sewaktu 190mg% Kolesterol 300 mg% Trigliserid 275 mg% Ureum 40mg% Kreatinin 2 mg%

PEMBAHASAN 1. Apa sajakah kemungkinan-kemungkinan penyakit Ny. Dimas?

Berdasarkan keluhan Ny. Dimas yaitu berat badannya yang makin menurun, cepat merasa lelah dan kurang bersemangat serta sering merasa lemas tak bertenaga, kemungkinan penyakit menurut faktor fisologik disebabkan karena kurang makan dan menurut faktor patologik disebabkan karena diabetes mellitus, penyakit pada saluran pencernaan, dehidrasi, AIDS, stress dan lain-lain.

2. Bagaimana sikap seharusnya seorang dokter dalam menghadapi Ny. Dimas? Apa sebabnya? Sikap yang seharusnya dimiliki adalah - Bersikap ramah pada pasien - Penuh perhatian - tulus - menimbulkan rasa aman - terlihat mantap saat mengobati pasien hal hal diatas penting untuk dimiliki seorang dokter demi terciptanya hubungan dokter-pasien yang baik .

3. Langkah-langkah apakah yg harus dilakukan? Dan apa alasannya? Langkah-langkah yang harus dilakukan ialah sebagai berikut : I. Anamnesis Menegakan diagnosis dengan cara berbicara dengan pasien sendiri/orang lain yang dekat hubungannya dengan pasien. Anamnesis yang diperoleh dari pasien sendiri disebut Autoanamnesis, sedangkan anamnesis yang didapat dari oranglain disebut Alloanamnesis. II. Pemeriksaan Fisik

Upaya yang dilakukan dokter untuk menegakan diagnosis dengan cara menemukan tanda-tanda (signs) yaitu kelainan-kelainan atau perubahan-perubahan fisik pada tubuh pasien yang diakibatkan oleh penyakit pada pasien. III. Pemeriksaan Penunjang Menunjang penegakkan diagnosis dengan cara menemukan kelainan-kelainan akibat penyakit dengan pemeriksaan laboratorium / pemeriksaan khusus. Pemeriksaan laboratorium ialah pemeriksaan untuk menemukan tanda-tanda yang terdapat atau terjadi pada zat-zat atau bahan yang berasal dari tubuh penderita seperti darah, urin, feses, cairan otak, jaringan tubuh, dll dengan teknik-teknik pemeriksaan di laboratorium. Pemeriksaan khusus ialah pemeriksaan tubuh yang dilakukan oleh dokter ahli dengan menggunaan peralatan secara teknik khusus. Misalnya USG, EKG, CT Scan, dsb.

Dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang akan diperoleh diagnosis tentang penyakit yang menyerang pasien yang dapat dikenali berdasarkan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki dokter. Kadang-kadang, diagnosis telah dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis saja atau cukup dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Tetapi seringkali untuk dapat menegakkan diagnosis yang tepat perlu dilakukan ketiga upaya itu sekaligus. 4. Hal apa sajakah yang perlu ditanyakan kepada Ny. Dimas dan apa alasannya?

Hal yang Perlu Ditanyakan Kepada Pasien


Telah disebutkan sebelumnya. Bahwa langkah yang paling penting dalam menegakkan diagnosis adalah anamnesis. Bahkan dengan hanya melalui anamnesis saja dapat ditegakkan diagnosis kerja dengan presentase 80%. Dalam melakukan anamnesis yang efektif bentuk pertanyaan haruslah merupakan kombinasi antara pertanyaan tertutup dan terbuka, terinci, dan terkronologis, sehingga tujuan dari anamnessis ini, menegakkan diagnosis kerja, dapat tercapai. Dan perlu dicatat bahwa dalam memberikan pertanyaan, seorang dokter harus menghindari adanya sugesti, biarlah pasien bercertra apa adanya. Berikut adalah sistematika dari hal-hal yang perlu ditanyakan kepada pasien: 1. Keluhan Utama (KU) Bila penderita datang untuk pertama kali kepada dokter harus ditanyakan keluhan utamanya. Keluhan utama ialah keluhan atau gejala utama yang menyebabkan pasien datang

untuk berobat. Hal ini perlu ditanyakan karena keluhan utama itulah acuan seorang dokter dalam bekerja. Sebagai contoh: pasien datang ke dokter dengan kondisi banyak ditemukan ulkus di sekujur tubuhnya, namun yang pasien keluhkan adalah berat badannya yang semakin menurun dan cepat merasa lelah. Maka sudah selayaknya dokter tersebut mencari penyebab dan melakukan pengobatan terhadap penurunan berat badan dan rasa kelelahan yang dialami oleh pasien . Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa ulkus di sekujur tubuhnya tersebut berkaitan dengan penurunan berat badan dan rasa lelah yang pasien rasakan. Perlu diperhatikan bahwa keluhan utama tidak selalu keluhan yang pertama kali disampaikan oleh pasien. Hal ini dapat dikarenakan tingkat pendidikan pasien yang rendah sehingga kurang dapat mengemukakan esensi masalah, atau memang karena tanda-tanda utama yang terdapat pada penyakit tersebut tidak terlihat. Begitu pula halnya, keluhan utama tidak harus sejalan dengan diagnosis utama/diagnosis definitif. 2. Riwayat Penyakit Sekarang (RPS) Merupakan bagian dari anamnesis yang paling penting karena dengan ditanyakannya RPS, dokter dapat mengetahui gambaran penyakit yang diderita oleh pasien secara kronologis dan jelas. Hal ini diperoleh apabila pertanyaan yang diajukan mencakup detail.

3. Riwayat Penyakit Dahulu (RPD) Ialah penyakit-penyakit yang jelas diagnosisnya bagi pasien maupun dokter, karena telah menjalani pengobatan sebelumnya. Yang perlu ditanyakan: Kapan penyakit itu diderita; Bagaimana pengobatannya; Bagaimana kedaan penyakit itu sekarang; Apakah pernah ada riwayat operasi, kecelakaan, keracunan dan alergi; Dan penyakit-penyakit yang diderita pasien sebelumnya, yang sekiranya terdapat hubungan dengan keluhan utama pasien saat ini.

4. Riwayat Penyakit dalam Keluarga (RPK)

Ialah penyakit dalam keluarga; baik itu penyakit keturunan atau sedarah, atau penyakit yang menular pada orang orang yang sangat dekat hidupnya, atau berhubungan dengan pasien. Hal ini perlu diketahui karena terdapat kemungkinan pasien menderita penyakit yang sama. Penyakit keturunan yang penting untuk ditanyakan dalam keluarga antara lain, diabetes mellitus, hipertensi, penyakit batu ginjal dan penyakit lain dalam keluarga yang memperbesar faktor resiko.

5. Riwayat Hidup (RH) Berhubungan dengan hal-hal penting yang terjadi sepanjang perjalanan hidup pasien dan kebiasaan dalam hidupnya yang mungkin berpengaruh terhadap timbulnya suatu penyakit, termasuk penyakit yang dikeluhkannya saat ini. Hal ini juga penting dalam pengaruhnya dengan upaya-upaya pengobatan yang akan dilakukan. Perlu ditanyakan: Kehidupan pasien sejak masa kanak-kanak, remaja,dewasa; Pendidikan; Pekerjaan; Aktivitas di luar rumah; Lingkungan tempat tinggal; Kebiasaan makan, tidur, minum-minuman keras, merokok, b.a.b dan b.a.k; Dan lain-lain.

6. Tinjauan Keluhan Menurut Sistem (TS) Merupakan keluhan-keluhan lain yang tidak termasuk keluhan utama yang mengiringi keluhan utama. Dapat juga disebut Keluhan Tambahan. Hal ini perlu ditanyakan karena diharapkan dengan diketahuinya keluhan tambahan oleh dokter maka akan mempertajam diagnosis penyakit sekarang, atau mungkin dokter dapat menemukan penyakit lain yang mungkin tidak disadari oleh pasien. Hal ini sangat penting mengingat prinsip kerja dari seorang dokter yaitu differential diagnostic dan holistik.

Jadi bila pasien datang dengan keluhan: berat badan menurun, cepat merasa lelah, kurang bersemangat, dan sering merasa lemah tidak bertenaga; sebagaimana tercantum pada kasus, maka perlu ditanyakan: Bagaimana dengan Pola makan ? Kapan kelelahan ini mulai terjadi? Apakah pernah mengalami hal yang sama sebelumnya?dan kapan? Bagaimanakah dengan porsi kegiatan? Apakah pernah menjalani pengobatan dengan kasus yang sama? Kalau iya, bagaimana diagnosisnya? Bagaimana pengobatannya? Apakah ada pengaruhnya terhadap tubuh? Saat ini, bagaimana perkembangannya? dan seterusnya

5. Pemeriksaan fisik apakah yang perlu mendapat perhatian lebih? Apa alasannya? Pemeriksaan fisik yang perlu mendapatkan perhatian lebih adalah pemeriksaan yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan penyakit yang diderita pasien. Dalam kasus ini,diagnosis kerja yang didapat adalah diabetes melitus,dengan diagnosis banding depresi, penyakit pada saluran pencernaan,AIDS, stress ,dan sebagainya. Sebagai contoh,pada diabetes melitus, pemerkisaan fisik yang mendapat perhatian lebih adalah pemeriksaan tanda vital dibagian pernapasan,apakah nafas berbau aseton atau tidak. Jika nafas tersebut berbau aseton maka hal ini akan mendukung diagnosis kerja yang telah ada. Kemudian untuk diagnosis banding dilakukan inspeksi,palpasi,perkusi,dan auskultasi pada regio thorax, abdomen dan visera, juga perlu diperhatikan adanya pembengkakan pada kelenjer getah bening. Hal ini bertujuan untuk memastikan kemungkinan dari diagnosis banding.

6. Pemeriksaan penunjang apa sajakah yang perlu dilakukan? Apa alasannya?

Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan laboratorium dalam arti luas adalah setiap pemeriksaan yang dilakukan di luar pemeriksaan fisis. Pemeriksaan penunjang dalam garis besarnya dimaksudkan untuk: 1. Alat diagnostik, baik diagnosis klinis (misalnya foto dada untuk mengkonfirmasi diagnosis

efusi pleura) , maupun diagnosis etiologik (misalnya biakan darah pada pasien yang diduga

sepsis). Dengan pemeriksaan penunjang yang terarah juga dapat diharapkan tersingkirnya berbagai penyakit yang tercantum dalam diagnosis banding. 2. 3. Petunjuk tata laksana, Petunjuk prognosis

Dikenal 2 jenis pemeriksaan penunjang, yaitu pemeriksaan penunjang rutin dan pemeriksaan penunjang khusus. Pengertian rutin dan khusus ini harus diartikan relatif, sebab pada disiplin tertentu, pemeriksaan penunjang yang biasanya bersifat khusus dapat menjadi rutin. Misalnya, dalam evaluasi penyakit jantung, pemeriksaan elektrokardiografi adalah pemeriksaan penunjang yang rutin.

Yang dimaksud dengan pemeriksaan penunjang rutin adalah pemeriksaan penunjang yang dilakukan kepada semua pasien, tanpa indikasi. Sedangkan pemeriksaan penunjang khusus adalah pemeriksaan penunjang yang dilakukan atas indikasi.

Pada tingkat pertama, pemilihan pemeriksaan penunjang khusus ditentukan oleh keadaan klinis serta hasil pemeriksaan penunjang rutin. Pada kasus ini, didapatkan beberapa diagnosis banding. Maka, untuk menegakkan diagnosis kerja, diperlukan beberapa pemeriksaan penunjang khusus (setelah dilakukan pemeriksaan penunjang umum) terhadap beberapa diagnosis banding tersebut, yaitu: A. Pemeriksaan Penunjang untuk Diabetes Melitus1,2,3 Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan pemeriksaan glukosa darah sewaktu, kadar glukosa darah puasa, kemudian diikuti dengan Tes Toleransi Glukosa Oral standar. Untuk kelompok resiko tinggi DM, seperti usia dewasa tua, tekanan darah tinggi, obesitas, dan adanya riwayat keluarga, dan menghasilkan hasil pemeriksaan negatif, perlu pemeriksaan penyaring setiap tahun. Bagi beberapa pasien yang berusia tua tanpa faktor resiko, pemeriksaan penyaring dapat dilakukan setiap 3 tahun

Tabel interpretasi kadar glukosa darah (mg/dl) Bukan DM DM Belum pasti DM

Kadar sewaktu

glukosa

darah 110 199 90 199 110 125 90 109

Plasma vena Darah kapiler Kadar glukosa darah puasa Plasma vena Darah kapiler

<110 <90

>200 >200

<110 <90

>126 >110

Tes Toleransi Glukosa Oral/TTGO Tes ini telah digunakan untuk mendiagnosis diabetes awal secara pasti, namun tidak dibutuhkan untuk penapisan dan tidak sebaiknya dilakukan pada pasien dengan manifestasi klinis diabetes dan hiperglikemia Pada keadaan sehat, kadar glukosa darah puasa individu yang dirawat jalan dengan toleransi glukosa normal adalah 70 110 mg/dl. Setelah pemberian glukosa, kadar glukosa akan meningkat, namun akan kembali ke keadaan semula dalam waktu 2 jam. Kadar glukosa serum yang < 200 mg/dl setelah . 1, dan 1 jam setelah pemberian glukosa, dan <140 mg/dl setelah 2 jam setelah pemberian glukosa, ditetapkan sebagai nilai TTGO normal.

Tes Benedict Pada tes ini, digunakan reagen Benedict, dan urin sebagai spesimen. Tes ini lebih bermakna ke arah kinerja dan kondisi ginjal, karena pada keadaan DM, kadar glukosa darah amat tinggi, sehingga dapat merusak kapiler dan glomerulus ginjal, sehingga pada akhirnya, ginjal mengalami kebocoran dan dapat berakibat terjadinya Renal Failure, atau Gagal Ginjal. Jika keadaan ini dibiarkan tanpa adanya penanganan yang benar untuk mengurangi kandungan glukosa darah yang tinggi, maka akan terjadi berbagai komplikasi sistemik yang pada akhirnya menyebabkan kematian karena Gagal Ginjal Kronik.

Hasil dari Benedic Test

Interpretasi (mulai dari tabung paling kanan) : 0 = Berwarna Biru. Negatif. Tidak ada Glukosa.. Bukan DM +1 = Berwarna Hijau . Ada sedikit Glukosa. Belum pasti DM, atau DM stadium dini/awal +2 = Berwarna Orange. Ada Glukosa. Jika pemeriksaan kadar glukosa darah mendukung/sinergis, maka termasuk DM +3 = Berwarna Orange tua. Ada Glukosa. Positif DM +4 = Berwarna Merah pekat. Banyak Glukosa. DM kronik

Rothera test Pada tes ini, digunakan urin sebagai spesimen, sebagai reagen dipakai, Rothera agents, dan amonium hidroxida pekat Test ini untuk berguna untuk mendeteksi adanya aceton dan asam asetat dalam urin, yang mengindikasikan adanya kemungkinan dari ketoasidosis akibat DM kronik yang tidak ditangani. Zat zat tersebut terbentuk dari hasil pemecahan lipid secara masif oleh tubuh karena glukosa tidak dapat digunakan sebagai sumber energi dalam keadaan DM, sehingga tubuh melakukan

mekanisme glukoneogenesis untuk menghasilkan energi. Zat awal dari aceton dan asam asetat tersebut adalah Trigliseric Acid/TGA, yang merupakan hasil pemecahan dari lemak. B. Pemeriksaan penunjang TBC Paru-Paru8 - Tuberculin skin testing Dilakukan dengan menginjeksikan secara intracutaneous 0.1ml Tween-stabilized liquid PPD pada bagian punggung atau dorsal dari lengan bawah. Dalam wkatu 48 72 jama, area yang menonjol (indurasi), bukan eritema, diukur. Ukuran tes Mantoux ini sebesar 5mm diinterpretasikan positif pada kasus-kasus : 1. Individu yang memiliki atau dicurigai terinfeksi HIV 2. Memiliki kontak yang erat dengan penderita TBC yang infeksius 3. Individu dengan rontgen dada yang abnormal yang mengindikasikan gambaran proses penyembuhan TBC yang lama, yang sebelumnya tidak mendpatkan terapo OAT yang adekuat 4. Individu yang menggunakan Narkoba dan status HIV-ny tidak diketahui Sedangkan ukuran 10mm uji tuberculin, dianggap positif biasanya pada kasus-kasus seperti : 1. Individu dengan kondisi kesehatan tertentu, kecuali penderita HIV 2. Individu yang menggunakan Narkoba (jika status HIV-ny negative) 3. Tidak mendapatkan pelayanan kesehatan, populasi denganpendapatan yang rendah, termasuk kelompok ras dan etnik yang beresiko tinggi 4. Penderita yang lama mondokdirumah sakit 5. Anak kecil yang berusi kurang dari 4 tahun Uji ini sekarang sudah tidak dianjurkan dipakai,karena uji ini haya menunjukkan ada tidaknya antibodi anti TBC pada seseorang, sedangkan menurut penelitian, 80% penduduk indosia sudah pernah terpapar intigen TBC, walaupun tidak bermanifestasi, sehingga akan banyak memberikan false positif. - Pemeriksaan radiologis 1. Adanya infeksi primer digambarkan dengan nodul terkalsifikasi pada bagian perifer paru dengan kalsifikasi dari limfe nodus hilus 2. Sedangkan proses reaktifasi TB akan memberikan gambaran : a) Nekrosis

b) Cavitasi (terutama tampak pada foto posisi apical lordotik) c) Fibrosis dan retraksi region hilus d) Bronchopneumonia e) Infiltrate interstitial f) Pola milier g) Gambaran diatas juga merupakan gambaran dari TB primer lanjut 3. TB pleurisy, memberikan gambaran efusi pleura yang biasanya terjadi secara massif 4. Aktivitas dari kuman TB tidak bisa hanya ditegakkan hanya dengan 1 kali pemeriksaan rontgen dada, tapi harus dilakukan serial rontgen dada. Tidak hanya melihat apakah penyakit tersebut dalam proses progesi atau regresi. Pemeriksaan darah Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian karena hasilnya kadang-kadang meragukan, tidak sensitif, tidak juga spesifik. Pada saat TB baru mulai (aktif) akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih dibwah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Jika penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal, dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi. Bisa juga didapatkan anemia ringan dengan gambaran normokron dan normositer, gama globulin meningkat dan kadar natrium darah menurun. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum adalah penting, karena dengan ditemukannnya kuman BA, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. Kriteria BTA positif adalah bila sekurang-kurangnya ditemukan 3 batang kuman BTA pada satu sediaan. C. Pemeriksaan Penunjang Hipertiroid7 Untuk menegakkan diagnosa, perlu dilakukan pemeriksaan tentang ada atau tidaknya pembesaran di daerah leher dan tes darah. Dalam tes darah, bila kadar Thyroxine Stimulating Hormone (TSH) melebihi 20 mikro-unit per liter, berarti pasien terkena hipertiroid. Normalnya, kadar TSH adalah 1-5 mikro-unit per liter. Mengenai benjolan, perlu diperhatikan bagaimana benjolannya. Sebab pada pneyakit gondok (hipotiroid) juga terdapat benjolan. Hanya saja, pembesaran di sekitar leher pada penyakit hipotiroid tidak merata, yaitu biasanya di bagian depan leher. Sedangkan pada hipertiroid, pembesaran yang terjadi merata di sekitar leher, sehingga kurang terlihat.

D. Pemeriksaan Penunjang Depresi Diagnosis depresi pada anak maupun dewasa tidak sejelas seperti pada penyakit lain. Tidak ada tes khusus yang dapat membantu menentukan bahwa seseorang individu menderita depresi, dan sangat sedikit yang dapat ditentukan penyebabnya.3 Faktor neuroendokrin dapat mempengaruhi kejadian depresi, sehingga dapat dilakukan deksametason supression test (DST) berupa sekresi berlebihan kortisol, kadar hormon pertumbuhan menurun jika disuntik insulininduced hypoglicemia, kadar tiroksin total lebih rendah, peningkatan sekresi kortisol pada malam hari.4

E. Pemeriksaan Penunjang AIDS dilakukan pemeriksaan laboratorium seperti pemeriksaan (enzyme immunoassay)/ELISA untuk mendeteksi antibodi virus di dalam serum/darah. Pemeriksaan lainnya seperti pemeriksaan kadar sel CD4, HIV RNA dan lain lain dilaksanakan berdasarkan kebutuhan.6 F. Pemeriksaan penunjang hepatitis dan sirosis hati5 Darah : bisa dijumpai HB rendah, anemia normokrom normositer, hipokrom normositer, hipokrom mikrositer, atau hipokrom makrositer. Anemia bisaakibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia. Kolesteroldarah yang selalu rendah mempunyai prognosis yang kurang baik. Kenaikan kadar enzim transaminase/SGOT, SGPT tidak merupakan petunjuktentang berat dan luasnya kerusakan parenkim hati. Kenaikan kadarnyadalam serum timbul akibat kebocoran dari sel yang mengalami kerusakan.Peninggian kadar gamma GT sama dengan transaminase, ini lebih sensitiftetapi kurang spesifik. Pemeriksaan laboratorium bilirubin, transaminase dangamma GT tidak meningkat pada sirosis inaktif. Albumin : kadar albumin yang merendah merupakan cerminan kemampuan

sel hati yang kurang. Penurunan kadar albumin dan peningkatan kadarglobulin merupakan tanda kurangnya daya tahan hati dalam menghadapistress seperti : tindakan operasi. Pemeriksaan CHE (kolinesterase) : penting dalam menilai sel hati. Bila terjadi

kerusakan sel hati, kadar CHE akan turun, pada perbaikan terjadi kenaikanCHE menuju nilai normal. Nilai CHE yang bertahan dibawah nilai normal,mempunyai prognosis yang jelek.

Pemeriksaan kadar elektrolit penting dalam penggunaan diuretik danpembatasan garam dalam diet. Dalam hal ensefalopati, kadar Na 500-1000,mempunyai nilai diagnostik suatu kanker hati primer.

7. Apakah masalah-masalah (termasuk diagnosis kerja) Ny.Dimas? Berdasarkan hasil anamnesis lanjutan dan pemeriksaan fisik, didapat masalah-masalah Ny. Dimas sebagai berikut: Cepat merasa lapar dan haus (polydipsi) Merasa gatal-gatal (pruritus) di sekitar selangkangan Sariawan, gigi tampak karies pada M2 bawah kiri dan goyang derajat 1 hingga 3 Tungkai kiri sakit berdenyut-denyut, panas, dan kesemutan hingga tidak dapat tidur Penurunan berat badan Rambut agak jarang dan mudah rontok Kulit keriput dan kerting,serta berkurangnya turgir kulit. Adanya bekas garukan di beberapa tempat,dan ulkus yang sudah mengering di punggung. Katarak dikedua mata lidah Dinding abdomen lemas Hepar teraba satu jari dibawah arcus costae,dengan konsistensi : kenyal, tepi tumppul,permukaan licin. Dari hasil anamnesis di atas, pasien didiagnosis mengidap penyakit Diabetes Melitus. 8. Informasi dari anamnesis serta kelainan fisik apa yang mendukung

masalah/diagnosis kerja saudara? Informasi beserta pemeriksaan fisik yang mendukung diagnosis kerja (diabetes mellitus) adalah keadaan dimana pasien mengalami rasa cepat lapar, polydipsi, dan pruritus. Pasien juga mengidap sariawan, gigi goyang derajat 1 hingga 3 dan gigi M2 bawah kiri mengalami karies. Hal ini menandakan pasien rentan terhadap infeksi. Pasian merasa gatal-gatal (pruritus) di sekitar selangkangan dan Pada tubuh pasien juga terdapat bekas-bekas garukan serta ulkus pada bagian panggung ....... 9. Apakah kemungkinan penyebab lain dari kelainan-kelainan fisik yang ditemukan?

Kemungkinan penyebab lain dari kelainan fisik yang ditemukan adalah hepatitis,dengan terabanya hepar satu jari di bawah arcus costae dengan konsistensi kenyal, tepi tumpul, permukaan licin. 10. Pemeriksaan laboratorium apa yang mendukung diagnosis kerja saudara?

Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosis kerja (diabetes mellitus) adalah pemeriksaan kadar gula darah sewaktu dengan hasil 190mg% (normal sewaktu: < mg% ) Serta kadar kreatinin .....dan trigliserid....kolesterol....yang menunjukan.... 11. Pemeriksaan apakah yang masih diperlukan untuk memastikan diagnosis?

Apa alasannya? Pemeriksaan yang masih diperlukan untuk memastikan diagnosis kerja adalah pemeriksaan kadar gula darah puasa. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan data kadar gula darah yang lebih akurat mengingat hasil pemeriksaan kadar gula darah sewaktu dapat dipengaruhi oleh beberapa factor seperti makanan dan minuman yang dikonsumsi sebelum pemeriksaan. 12. Pemeriksaan apa saja yang masih diperlukan untuk mengetahui adanya

penyakit lain? Apa alasannya? Pemeriksaan yang masih diperlukan untuk mengetahui adanya penyakit lain adalah SGOT/SGPT yang bertujuan untuk memeriksa fungsi hepar pasien.