Anda di halaman 1dari 6

PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH UNTUK MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Otonomi daerah di Indonesia lahir disaat terjadinya dinamika gejolak sosial yang terjadi di masyarakat pada tahun 1999. Gejolak sosial tersebut dimulai dengan terjadinya krisis ekonomi yang melanda pada tahun 1997, sampai pada puncaknya pemerintahan orde baru yang sudah berkuasa 32 tahun berakhir kekuasaannya. Pada masa pemerintahan orde baru sendiri, sistem yang digunakan cenderung sentralistik, walaupun dalam beberapa bidang diberikan porsi kerja dari daerah. Akan tetapi, porsi kerja dari pemerintah pusat masih sangat dominan. Sebenarnya sudah semenjak sebelum masa zaman kemerdekaan, sistem otonomi daerah telah diterapkan pada bangsa ini, namun mencapai puncaknya pada era reformasi pasca tumbangnya kekuasaan orde baru dengan dikeluarkannya Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan yang kemudian direvisi masing - masing menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004. Setelah masuk era reformasi mencuat sejumlah permasalahan terkait dengan sistem ketatanegaraan dan tuntutan daerah-daerah yang selama ini telah memberikan kontribusi yang besar dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Wacana otonomi daerah kemudian bergulir sebagai konsepsi alternatif untuk menjawab permasalahan sosial dan ketatanegaraan Indonesia yang dianggap telah usang dan perlu diganti. Secara spesifik latar belakang dorongan untuk diberlakukan otonomi daerah itu sendiri terdapat 2 faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang mendorong dari dalam negeri yang mendorong untuk diberlakukannya otonomi daerah. Sedangkan faktor eksternal merupakan faktor dari luar negeri yang mendorong percepatan implementasi otonomi daerrah tersebut. Faktor internal timbul sebagai tuntutan atas buruknya pelaksanaan sistem pemerintahan yang dilaksanakan secara sentralistik. Terdapat kesenjangan dan ketimpangan yang cukup besar antara pembangunan yang terjadi di daerah dengan pembangunan yang dilaksanakan di kota - kota besar. Padahal di daerah mempunyai potensi kekayaan alam yang sangat besar untuk digunakan sebagai modal pembangunan, namun justru daerah potensial tersebut mengalami ketertinggalan dalam pembangunan dari pada kota besar lainya yang dijadikan pusat ekonomi negara. Faktor eksternal yang menjadi salah satu pemicu lahirnya otonomi daerah di Indonesia adalah adanya keinginan modal asing untuk memasifkan investasinya di Indonesia. Penerapan otonomi daerah secara tidak langsung akan menguntungkan para pemodal asing dalam melakukan effesiensi dan biaya investasi yang tinggi sebagai akibat dari korupsi dan rantai birokrasi yang panjang.
1

Secara harfiah otonomi terdiri dari 2 kata bahasa Yunani, yaitu auto berarti sendiri, nomos berarti rumah tangga atau urusan. Otonomi dengan demikian memiliki pengertian mengurus rumah tangga sendiri. Sedangkan daerah adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah. Jika digabungkan dengan kata daerah menjadi otonomi daerah berarti suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas - batas wilayah yang dapat mengurus rumah tangga sendiri. Pada Undang - Undang Nomor 22 Tahun 1999, otonomi daerah mempunyai pengertian kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai pertauran perundang-undangan. Sedangkan berdasar Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004, otonomi daerah diartikan sebagai hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang - undangan. Berbagai pengertian tersebut pada intinya mempunyai makna, bahwa otonomi daerah merupakan kewenangan daerah untuk mengelola sendiri urusannya dengan berdasarkan kepada undang undang. Pelaksanaan otonomi daerah itu sendiri memiliki tujuan yang sangat jelas sebagaimana terdapat pada Undang - Undang Nomor 32 Tahun 2004. Pada pasal 2 ayat 3 disebutkan sebagai berikut : Pemerintahan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah, dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah. Berdasarkan ketentuan tersebut, maka tujuan dari otonomi daerah menjakup 3 poin utama yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum dan daya saing daerah. Peningkatan kesejahteraan masyarakat diharapkan dapat dipercepat perwujudannya melalui peningkatan pelayanan di daerah dan pemberdayaan masyarakat atau adanya peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan di daerah. Sedangkan peningkatan daya saing berkaitan dengan pengoptimalan potensi dan kekhususan yang terdapat pada daerah tersebut. Untuk mewujudkan tujuan otonomi daerah yang diamanatkan oleh Undang Undang, maka konsep otonomi yang diberlakukan adalah dengan prinsip memberikan otonomi seluas luasnya bagi kepala daerah selaku pemimpin. Prinsip tersebut mempunyai makna, bahwa kewenangan yang diberikan Undang Undang kepada daerah untuk membuat kebijakan yang dianggap benar dan adil dalam rangka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Oleh karena itu, maka kepala daerah selaku otoritas penyelenggara otonomi daerah dalam kebijakannya tidak boleh lepas dari upanya meningkatkan
2

kesejahteraan masyarakatnya dengan mempertimbangkan dan menjaring aspirasi dari masyarakat itu sendiri. Sunguh sebuah cita cita yang sangat luar biasa besar. Selama kurang lebih 14 tahun berjalannya pelaksanaan otonomi daerah itu sendiri mengalami

berbagai evaluasi besar dalam penerapannya. Salah satu yang menjadi point utama adalah sejauah mana keberhasilan pelaksanaan otonomi daerah dalam mewujudkan tujuan utamanya yaitu kesejahteraan masyarakat. Hal ini yang sering menjadi parameter dalam menentukan keberhasilan dalam penerapan sistem ini. Jika mengacu pada data dari BPS(Badan Pusat Statistik) yang sudah dipublikasikan ke masyarakat mengenai jumlah data kemiskinan di Indonesia akhir periode September 2012, tercatat 11, 66 % dari total seluruh penduduk atau 28.594.600 jiwa termasuk penduduk miskin. Nominal tersebut merupakan nilai yang cukup besar untuk negeri yang seluas dan semakmur Indonesia ini. Ditambahkan lagi, semenjak pelaksanaan otonomi daerah jumlah kepala daerah baik Bupati, Walikota dan Gubernur yang terjerat kasus korupsi semakin bertambah. Menurut data dari Direktur Jenderal Otonomi Daerah (Dirjen Otda) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) selama tahun 2004 2013 terdapat 291 kepala daerah yang terlibat kasus korupsi. Melihat realita ini dapat memberikan gambaran, bahwa selama beberapa tahun pelaksanaan otonomi daerah mengalami berbagai permasalah yang menghambat perkembangannya. Berbagai permasalahan yang terjadi tidak dapat dipisahkan dengan berbagai macam kendala dalam aplikasinya baik yang sifatnya substantif maupun umum. Permasalah yang substantif terdapat pada peraturan Undang Undang mengenai pemerintahan daerah yang sampai saat ini belum komprehensif ditandai dengan beberapa kali mengalami perubahan. Perubahan regulasi ini secara otomatis berpengaruh pada mekanisme pelaksanaannya terutama di daerah. Sedangkan permasalahan umum yang terjadi di daerah, seperti pemahaman daerah mengenai konsepsi pelaksanaan otonomi daerah yang sering tidak sesuai dengan regulasi yang ada, sehingga seringkali justru bertentangan dengan Undang Undang. Hal ini sebenarnya terkait masalah kualitas sumber daya manusia yang ada di daerah. Sehingga relatif dapat dengan mudah untuk diselesaikan dengan mengadakan pelatihan atau semacamnya. Melihat berbagai problematika yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka sudah menjadi kewajiban semua pihak untuk berusaha memberikan solusinya, sehingga cita cita besar otonomi daerah dapat terwujud. Pada kajian kali ini sengaja mengambil tema pelaksanaan otonomi daerah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat, karena penulis memandang ini merupakan tidak hanya cita cita besar dari dilaksanakannya otonomi daerah, tetapi juga cita cita dari kemerdekaan Indonesia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945. Jadi secara tidak langsung, mewujudkan kesejahteraan masyarakat juga
3

merupakan salah satu dari dalam rangka penguatan negara kesatuan republik Indonesia. Oleh kerana itu, dalam pembahasannya nanti lebih memberikan gagasan perbaikan pelaksanaan otonomi daerah dalam kaitan mewujudkan kesejateraan masyarakat. Jika mengacu pada penjelasan yang telah dipaparkan, maka menurut penulis masalah utamanya terdapat pada sistem regulasi dan kualitas sumber daya manusia di daerah yang akan mendukung terealisasinya otonomi daerah. Regulasi berkaitan dengan tata aturan yang jelas terhadap pelaksanaannya, sedangkan sumber daya manusia berkaitan dengan komponen yang akan melaksanakan regulasi tersebut. Regulasi dalam pelaksanaan otonomi memang sudah dinaungi dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Didalam aturan tersebut sudah dijelaskan mengenai pelaksanaan pemerintahan di daerah, namun permasalahnya didalamnya belum dapat menjabarkan secara spesifik. Beberapa subjek yang harus segera diperbaiki dalam regulasi aturan pelaksanaan ini antara lain sebagai berikut :

1.

Peningkatan Efektifitas Struktur Pemerintahan Daerah Selama ini mengenai mekanisme struktur pemerintah daerah sudah diatur dalam UU nomor 23 tahun

2004. Akan tetapi di dalam undang undang tersebut kurang tegas mengenai kepegawaian di pemerintah daerah. Beberapa permasalahan yang sering terjadi adalah terdapatnya struktur pemerintah daerah yang tidak dianggap perlu ada. Hal ini mempengaruhi proses efektifitas kerja dalam struktur kerja di pemerintahan. Belum lagi mengenai jumlah postur pegawai negeri yang cenderung terlalu gemuk di beberapa pos kerja tertentu, namun dengan tingkat produktivitas yang sangat minim. Kondisi ini yang sering menyebabkan porsi pengeluaran untuk gaji pegawai negeri dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah(APBD) justru lebih besar dibandingkan dengan pengeluaran di pos pos yang lebih penting seperti program untuk kesejahteraan masyarakat. Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka tujuan utama dari otonomi sulit untuk dapat diraih. 2. Pengawasan Pemerintah Daerah Selama ini pengawasan pihak pemerintah pusat terhadap kinerja pemerintahan di daerah masih sangat kurang, walaupun ada masih sebatas pada koordinasi atau ekstrimnya hanya teguran saja. Semenjak kepala daerah dipilih secar langsung oleh rakyatnya memang terjadi sebuah perubahan paradigma, bahwa terkesan dalam hubungan secara struktural antara kedudukan kepala daerah dengan pemerintah pusat bukan lagi sebuah instruksi antara atasan dengan bawahan. Kepala daerah menganggap mereka diangkat oleh rakyatnya secara demokrasi, bukan oleh pemerintah pusat, sehingga tidak semestinya harus mengikuti instruksinya.
4

Kondisi ini akan menjadi sebuah masalah besar jika tidak ada persamaan gerak dalam rangga untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pengawasan dari pemerintah pusat lebih harus diperketat lagi dalam proses mewujudkan otonomi daerah yang berkualitas serta ditambah dengan ketegasan dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah daerah. 3. Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah

Selama ini pemerintah daerah mendapatkan dana alokasi khusus(DAK) dari pemerintah pusat sebagaimana yang terdapat pada APBN. Dalam pelaksanaannya seharusnya dana tersebut dioptimalkan untuk pos pengeluaran yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Untuk pengeluaran operasional daerah bisa berasal dari insentif pemasukan yang potensial di daerah tersebut dan sesuai dengan Undang Undang. Selain itu, regulasi mengenai presentasi pengeluaran terhadap pos kesejahteraan masyarakat dalam APBD perlu diberikan. Hal ini bertujuan untuk menyamakan gerakan antara pemerintah pusat dan seluruh pemerintahan daerah se Indonesia.

Bagaimanapun juga, jika sistem regulasi sudah disusun secara komprehensip sedangkan manusia terutama yang berada di daerah selaku operator peraturan tersebut tidak memahami dengan baik, maka akan menjadi sia sia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah menjadi hal mutlak untuk dapat merealisasikan peraturan tersebut. Beberapa masukan yang harus segera diperbaiki dalam bagian ini antara lain sebagai berikut : 1. Manajemen Pengelolaan Pemerintah Daerah Pengelolaan pemerintah daerah secara baik dapat dimulai dengan peningkatan kualitas dari para penyelengaranya. Selain itu juga dengan memperbaiki dan melengkapi manajemen sistem tata kelola pemerintahan dalam upaya merealisasikan pemerintahan yang efektif dan efesien untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakatnya. Jika memang ini sudah menjadi agenda utama dari kepala daerah, maka kemungkinan besar sumber daya penyelenggara pemeritahan sudah siap untuk melaksanakan otonomi daerah sepenuhnya. 2. Keterbukaan Informasi Publik Bagaimapun juga publik merupakan termasuk dalam subyek yang terdapat dalam pelaksanaan otonomi daerah, bukan hanya sebagai objek yang menjadi tujuan saja. Masalah kesejahteraan masyarakat hanya akan dapat teratasi jika masyarakat itu sendiri peduli dengan dirinya sendiri dan adanya kemauan untuk berubah. Sehingga pemerintah harus membuka informasi selebar - lebarnya mengenai berbagai macam program yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama penggunaaan dananya. Kemudahan mendapatkan informasi juga merupakan sarana penyadaran masyarakat mengenai kondisinya sendiri,
5

sehingga sebenarnya ini sangat membantu pemerintahan daerah dalam menuntaskan kasus kesejahteraan yang terdapat di daerahnya. 3. Pelibatan Publik Masyarakat Dalam Proses Pengambilan Kebijakan di Daerah Termasuk didalamnya adalah dengan melibatkan masyarakat dalam setiap kebijakan dari pemerintah daerah yang berkaitan dengan kesejahteraan. Hal ini merupakan sebagai salah satu usaha antisipasi agar setiap kebijakan dari pemerintah daerah tidak tepat. Sebenarnya ini sudah dilaksanakan saat awal penyusuna APBD di forum Musrembang, namun keefektifan dari pelaksanaan ini kurang sekali melibatkan dari masyarakat. Jika memang ada juga hanya beberapa kelompok tertentu yang punya kepentingan tertentu pula. Berbagai kajian dan diskusi mengenai format pengembangan pelaksanaan otonomi daerah yang efektif serta sesuai dengan kondisi Indonesia memang masih menjadi perjalanan panjang bangsa ini, namun sebuah rasa optimisme yang besar harus senantiasa ada dalam diri manusia Indonesia untuk terwujudnya kesejahteraan masyarakat sebagaimana yang diamanatkan dalam pembukaan UUD 1945.

Daftar Pustaka Noor, Isran. Politik Otonomi Daerah Untuk Penguatan NKRI. Mungkasa, Oswar. Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia: Konsep, Pencapaian dan Agenda Kedepan. Jakarta. Makalah Forum Internal Terbatas Bappenas. 2012 Undang Undang Nomer 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Undang Undang Nomer 33 Tahun 2004 Tentang Dana Perimbangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daeah http://www.otonomidaerah.com