Anda di halaman 1dari 10

Tugas

ULKUS DEKUBITUS, SKOLIOSIS, DAN KIFOSIS

Oleh: Etika Rahmi, S.Ked 04114705012

DEPT ILMU KESEHATAN REHABILITASI MEDIK RSUP DR MOHAMMAD HOESIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2013

A. ULKUS DEKUBITUS Definisi Ulkus dekubitus adalah suatu keadaan kerusakan jaringan setempat yang disebabkan oleh iskemia pada kulit (kutis dan subkutis) akibat tekanan dari luar yang berlebihan.' 2 Umumnya terjadi pada penderita dengan penyakit kronik yang berbaring lama. Ulkus dekubitus sering disebut sebagai ischemic ulcer; pressure ulcer, pressure sore, bed sore. Etiologi Pada dasarnya ulkus dekubitus terjadi akibat adanya factor primer dan sekunder. a. Faktor primer : Tekanan dari luar yang menimbulkan iskemi setempat. b. Faktor sekunder Faktor-faktor yang menunjang terjadinya ulkus dekubitus antara lain : gangguan saraf vasomotorik, sensorik, motorik. kontraktur sendi dan spastisitas. gangguan sirkulasi perifer. malnutrisi dan hipoproteinemia. anemia. keadaan patologis kulit pada gangguan hormonal. edema. maserasi. infeksi. higiene kulit yang buruk. inkontinensia alvi dan urin. kemunduran mental dan penurunan kesadaran. 1. Lokasi ulkus dekubitus Setiap bagian tubuh dapat terkena, tetapi umumnya terjadi pada daerah tekanan dan penonjolan tulang seperti tuberositas ischii, trochanter mayor, sacrum, tumit, lutut, maleolus, siku, scapula dan prosesus spinosus.
2

Klasifikasi Klasifikasi berdasarkan gambaran klinis yang penting berkenaan dengan

penatalaksanaannya. Stadium 1 : Ulserasi terbatas pada epidermis dan dermis dengan eritema pada kulit. Penderita dengan sensibilitas baik akan mengeluh nyeri. Stadium ini umumnya reversibel dan dapat sembuh dalam 5 - 10 hari. Stadium 2 : Ulserasi mengenai epidermis, dermis dan meluas sampai ke jaringanadiposa.Terlihat eritema dan indurasi. Stadium ini dapat sembuh dalam 10 - 15 hari. Stadium 3 : Ulserasi meluas sampai ke lapisan lemak subkutis, dan otot sudah mulai terganggu dengan adanya edema, inflamasi, infeksi dan hilangnya struktur fibril. Tepi ulkus tidak teratur dan terlihat hiper atau hipopigmentasi dengan fibrosis. Kadang-kadang terdapat anemia dan infeksi sistemik. Biasanya sembuh dalam 3 - 8 minggu. Stadium 4 : Ulserasi dan nekrosis meluas mengenai fasia, otot, tulang serta sendi. Dapat terjadi artritis septik atau osteomielitis dan sering diserti anemia. Dapat sembuh dalam 3 - 6 bulan.

Komplikasi Komplikasi sering terjadi pada stadium 3 dan 4 walaupun dapat juga pada ulkus yang superfisial. Komplikasi yang dapat terjadi antara lain : 1) Infeksi, sering brsifat multibakterial, baik yang aerobik ataupun anerobik. 2) Keterlibatan jaringan tulang dan sendi seperti periostitis, osteitis, osteomielitis, artritis septik. 3) Septikemia. 4) Anemia. 5) Hipoalbuminemia.
3

6) Kematian. Penatalaksanaan A. Pencegahan. Pencegahan ulkus dekubitus adalah hal yang utama karena pengobatan ulkus dekubitus membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Tindakan pencegahan dapat dibagi atas: 1) Umum : a) Pendidikan kesehatan tentang ulkus dekubitus bagi staf medis, penderita dan keluarganya. b) Pemeliharaan keadaan umum dan higiene penderita.

2) Khusus : a) Mengurangi/menghindari tekanan luaryang berlebihan pada daerah tubuh tertentu dengan cara : perubahan posisi tiap 2 jam di tempat tidur sepanjang 24 jam. melakukan push up secara teratur pada waktu duduk di kursi roda. pemakaian berbagai jenis tempat tidur, matras, bantal anti dekubitus seperti circolectric bed, tilt bed, air-matras; gel flotation pads, sheepskin dan lainlain. b) Pemeriksaan dan perawatan kulit.

Pengobatan Pengobatan ulkus dekubitus dengan pemberian bahan topikal, sistemik ataupun dengan tindakan bedah dilakukan sedini mungkin agar reaksi penyembuhan terjadi lebih cepat. Pada pengobatan ulkus dekubitus ada beberapa hal yang perlu diperhatkan antara lain: 1) Mengurangi tekanan lebih lanjut pada daerah ulkus. 2) Mempertahankan keadaan bersih pada ulkus dan sekitarnya.

3) Mengangkat jaringan nekrotik. 4) Menurunkan dan mengatasi infeksi. Perlu pemeriksaan kultur dan tes resistensi. Antibiotika sistemik dapat diberikan bila penderita mengalami sepsis, selulitis. Ulkus yang terinfeksi hams dibersihkan beberapa kali sehari dengan larutan antiseptik seperti larutan H202 3%, povidon iodin 1%, seng sulfat 0,5%. Radiasi ultraviolet (terutama UVB) mempunyai efek bakterisidal. 5) Merangsang dan membantu pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi. Hal ini dapat dicapai dengan pemberian antara lain : a) Bahan-bahan topikal misalnya : salep asam salisilat 2%, preparat seng (Zn 0, Zn SO4). b) Oksigen hiperbarik; selain mempunyai efek bakteriostatik terhadap sejumlah bakteri, juga mempunyai efek proliferative epitel, menambah jaringan granulasi dan memperbaiki keadaan vaskular. c) Radiasi infra merah, short wave diathermy, dan pengurutan dapat membantu penyembuhan ulkus karena adanya efek peningkatan vaskularisasi. d) Terapi ultrasonik; sampai saat ini masih terus diselidiki manfaatnya terhadap terapi ulkus dekubitus. 6) Tindakan bedah selain untuk pembersihan ulkus juga diperlukan untuk mempercepat penyembuhan dan penutupan ulkus, terutama ulkus dekubitus stadium III & IV dan karenanya sering dilakukan tandur kulit ataupun myocutaneous flap.

Prognosis Terjadinya proses penyembuhan ulkus tergantung faktorfaktor primer dan sekunder serta penatalaksanaan ulkus itu sendiri. Perlu diingat pentingnya tindakan pencegahan karena pada dasarnya ulkus dekubitus sesungguhnya dapat dicegah.

B. SKOLIOSIS Skoliosis adalah kelainan pada vertebra berupa lengkungan abnormal kearah lateral, dapat terjadi pada satu regio vertebra atau lebih. skoliosis idiopatik pada orang dewasa disamping lengkungan kelateral kebanyakan disertai rotasi ruas vertebra terutama terjadi pada usia 10-17 tahun. Lokasi skoliosis ditentukan berdasarkan region vertebra, yaitu cervical, thoracal, thoracolumbal, lumbal dan double major (terdapat 2 lengkungan ditempat yang berbeda). Beratnya skoliosis dinilai berdasarkan sudut skoliosis, disebut ringan: <1-15 derajat, sedang: 20-50 derajat, berat: >45-50 derajat dan membahayakan respirasi: >90 derajat3. Klasifikasi Lippman- Cobb yang lebih rinci dari menurut Rajiah (2011) sebagai berikut4: I. < 20, II. 21-30, III. 31-50, IV. 51-75, V. 76100, VI. 101-125, VII. > 125. Skoliosis dibagi menjadi 3 tipe besar. Pertama tipe fungsional, skoliosis berkembang akibat kelainan pada bagian lain tubuh, misalnya salah satu kaki lebih pendek. Kedua tipe neuromuskuler, ada hubungannya dengan kelainan spinal, penyakit kongenital, muscular dystrophy, cerebral palsy dan Marfans diseases. Ketiga tipe degeneratif, terjadi pada orang tua akibat penyakit pada vertebra seperti artritis dan spur formation5. Ditemukan juga pembagian lain, yaitu skoliosis struktural (berkaitan dengan penyakit pada sistem saraf dan neuromuskuler) dan skoliosis non struktural (sama dengan skoliosis fungsional, bersifat sementara dan berhubungan dengan penyakit tertentu misalnya spasme otot) . Ada pula pembagian skoliosis idiopatik berdasarkan usia yaitu infantil (< 3 tahun); juvenile (4-10 tahun); adolescent (11-18 tahun). Kelainan ini lebih banyak terjadi pada anak wanita. Sebagian besar kasus skoliosis tidak diketahui penyebabnya atau idiopatik, terjadi pada 80% kasus, dan kejadian pada wanita 7 kali lebih tinggi daripada laki-laki1. Diantara penyebab skoliosis adalah heriditer, kongenital, penyakit neuromuskuler, abnormalitas medulla spinalis dan brainstem, hormon, gangguan fungsi vestibuler, melatonin dan struktur jaringan dan sel darah. Faktorfaktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya
6

skoliosis adalah jenis kelamin (anak wanita usia diatas 3 tahun); usia (skoliosis yang terjadi pada anak usia muda berkembang lebih berat); sudut lengkungan (sudut besar cepat menjadi lebih buruk); lokasi (lengkungan diatas lebih jelek); adanya gangguan vertebra saat lahir (skoliosis menjadi lebih berat).

Diagnosis Dari riwayat penyakitnya, pertama-tama tidak dikeluhkan adanya nyeri. Biasanya skoliosis baru disadari oleh orangtua ketika anak beranjak besar, yaitu terlihat keadaan bahu yang tidak sama tinggi, tonjolan skapula yang tidak sama, atau pinggul yang tidak sama. Pada keadaan ini, biasanya derajat pembengkokan kurva sudah lebih dari 30 derajat. Pada pemeriksaan fisis, dapat dilakukan beberapa pemeriksaan, antara lain : *) Berdiri tegak, untuk melihat adanya : Asimetri bahu, leher, tulang iga, pinggul, skapula Plum line (kesegarisan antara leher dan pinggul) Body arm distance (jarak antar lengan dengan badan) *) Membungkuk, untuk melihat adanya : Rotasi (perputaran dari tulang punggung) Derajat pembungkukan (kifosis) Mengukur perbedaan panjang tungkai bawah (leg length discrepancy)

Pemeriksaan Tambahan *) Pemeriksaan dasar yang penting adalah foto polos (roentgen) tulang punggung yang meliputi : Foto AP dan lateral ada posisi berdiri : foto ini bertujuan untuk menentukan derajat pembengkokan skoliosis Foto AP telungkup Foto force bending R and L : foto ini bertujuan untuk menentukan derajat pembengkokan setelah dilakukan bending
7

Foto pelvik AP Pada keadaan tertentu seperti adanya defisit neurologis, kekakuan pada leher, atau sakit kepala, dapat dilakukan pemeriksaan MRI

Penatalaksanaan Tujuan dilakukannya tatalaksana pada skoliosis meliputi 4 hal penting : 1. Mencegah progresifitas dan mempertahankan keseimbangan 2. Mempertahankan fungsi respirasi 3. Mengurangi nyeri dan memperbaiki status neurologis 4. Kosmetik Adapun pilihan terapi yang dapat dipilih, dikenal sebagai The three Os adalah : 1. Observasi Pemantauan dilakukan jika derajat skoliosis tidak begitu berat, yaitu <25o pada tulang yang masih tumbuh atau <50o pada tulang yang sudah berhenti pertumbuhannya. Rata-rata tulang berhenti tumbuh pada saar usia 19 tahun. Pada pemantauan ini, dilakukan kontrol foto polos tulang punggung pada waktuwaktu tertentu. Foto kontrol pertama dilakukan 3 bulan setelah kunjungan pertama ke dokter. Lalu sekitar 6-9 bulan berikutnya bagi yang derajat <20 dan 4-6 bulan bagi yang derajatnya >20. 2. Orthosis Orthosis dalam hal ini adalah pemakaian alat penyangga yang dikenal dengan nama brace. Biasanya indikasi pemakaian alat ini adalah : Pada kunjungan pertama, ditemukan derajat pembengkokan sekitar 30-40o Terdapat progresifitas peningkatan derajat sebanyak 25 derajat. 3.Operasi Tidak semua skoliosis dilakukan operasi. Indikasi dilakukannya operasi pada skoliosis adalah : Terdapat progresifitas peningkatan derajat pembengkokan >40-45 derajat pada anak yang sedang tumbuh
8

Terdapat kegagalan setelah dilakukan pemakaian alat orthosis Terdapat derajat pembengkokan >50 derajat pada orang dewasa

C. KIFOSIS Kifosis didefinisikan sebagai pembungkukan tulang belakang lebih dari 40 derajat. 20-40% terjadi pada orang dewasa dan lebih banyak pada wanita. Faktor resiko terjadinya kifosis adalah usia, hereditas, fraktur vertebra, degenarasi diskus, kadar mineral tulang rendah, dan kelemahan otot spinal. Gejala kifosis yaitu postur tubuh membungkuk ke depan, sakit pada leher dan punggung, kelelahan, pada kifosis berat dapat terjadi sesak napas karena pengembangan paru terganggu. Untuk konfirmasi, dilakukan pemeriksaan X-ray untuk menentukan tingkat kelengkungan dan mendeteksi setiap kelainan bentuk tulang. Terapi yang dapat dilakukan antara lain fisioterapi (exercise), pada kasus yang lebih berat dapat diberikan brace (penyangga) tulang belakang, dan bila keadaan semakin memburuk dapat dilakukan tindakan pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat D., Daili SF., Hamzah M. Ulkus Dekubitus. Bagian I/mu Penyakit Kulit & Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RS. Cipto Mangunkusumo, Jakarta..1990. Anders J., dkk. Decubitus Ulcer: Pathophysiology and preventive treatment. Dtsch Arztebl Int. 2010 May; 107(21): 371382. Faisal A. Pengukuran Skoliosis. Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran UGM/RSUP. Dr. Sardjito, Yogyakarta. Buletin Ilmiah Radiologi. Mei 2012; 1(2):1-9 Katzman W. Kyphosis: causes, concequences, and treatments. Department of Physical Therapy and Rehabilitation Science University of California San Fransisco. 2012.

10