Anda di halaman 1dari 13

ABSTRAK

Metabolisme Merupakan Perubahan Kimiawi yang terjadi didalam tubuh untuk pelaksanaan fungsi vitalnya. Termogulasi adalah suatu mekanisme pada mahluk hidup untuk mempertahankan suhu tubuh yang masih aman bagi tubuh. Dipratikum yang telah dilaksanakan pada tanggal 23 desember 2013 bertujuan untuk mengetahui dan mempelajari produksi panas pada hewan homoiotermk dan poikiloterm dan mngetahui kosumsi oksigen yang digunaknnya. Dipratikum ini digunakan 2 objek percoboaan yaitu mencit (homoioterm) dan katak (poikiloterm).Yang sudah diketahui bahwa cara mempertahankan panas tubuh yang berbeda dari 2 objek percobaan sehingga berpenagruh pada metabolisme keduanya.

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Metabolisme adalah suatu proses kimiawi yang terjadi didalam sel baik yang uniseluler maupun multiseluler yang bertujuan menghasilkan energi (ATP) utuk menjamin kelangsungan hidupnya. Termogulasi adalah suatu mekanisme dari tubuh suatu mahluk hidup untuk mempertahankan suhu tubuh yang aman bagi dirinya. I.2 Tujuan Percobaan 1. Mempelajari produksi panas pada hewan poikiotermik dan homoiotermik 2. Menentukan konsumsi oksigen pada mamalia 3. Mempelajari pengaruh penguapan udara terhadap suhu

I.3. Dasar Teori Metabolisme tubuh berarti semua reaksi kimia sederhana pada semua sel tubuh, dan kecepatan metabolisme dalam keadaan normal menyatakan kecepatan pengeluaran panas pada reaksi kimia (Guyton 1995). Metabolisme sangat sensitif terhadap perubahan suhu lingkungan internal makhluk hidup, khususnya hewan dan manusia. Sebagai contoh, laju respirasi seluler meningkat seiring peningkatan suhu sampat titik tertentu dan kemudian menurun ketika suhu itu sudah cukup tinggi sehingga mendenaturasi enzim. Selain itu sifat-sifat membran juga berubah dengan perubahan suhu (Minarma, 2004).

Panas sebagai sebutan umum dari semua energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Tidak semua energi dalam makanan ditransfer menjadi ATP, sebagai gantinya, sebagian besar energi menjadi panas. Di alam, pengaturan suhu tubuh oleh hewan dan manusia dilakukan untuk mengatur panas yang diterimanya atau yang hilang ke lingkungan. Mekanisme perubahan panas tubuh hewan dapat terjadi dengan 4 proses, yaitu konduksi, konveksi, radiasi, dan evaporasi. Konduksi adalah pemindahan panas antara dua kegiatan secara kontak fisik langsung diantaranya keduanya. Konduksi juga bisa berarti perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus. Konveksi adalah transfer panas akibat adanya gerakan udara atau cairan melalui permukaan tubuh. Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5 20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi kinetik pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat dipindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit. Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh. Evaporasi ( penguapan air dari kulit ) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan sistem pernafasan. Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh

melepaskan panas adalah melalui evaporasi. Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh aktual ( yang dapat diukur ) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan. Berdasarkan pengaruh suhu lingkungan terhadap suhu hewan, maka hewan dibagi menjadi dua golongan, yaitu poikiloterm dan homoioterm. Hewan poikiloterm adalah hewan yang sangat bergantung pada suhu di lingkungan luar untuk meningkatkan suhu tubuhnya karena panas yang dihasilkan dari keseluruhan sistem metabolismenya hanya sedikit. Suhu tubuh hewan poikiloterm dipengaruhi oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam lebih tinggi dibandingkan dengan suhu tubuh luar. Hewan seperti ini juga disebut hewan berdarah dingin. Untuk menghadapi cuaca yang sangat buruk (terlalu dingin atau terlalu panas), hewan poikioterm perlu menghemat energi dengan cara hibernasi atau estivasi (Guyton, 1995). Sedangkan hewan homoioterm, adalah hewan yang suhu tubuhnya berasal dari produksi panas di dalam tubuh, yang merupakan hasil samping dari metabolisme jaringan.Di lain pihak hewan homoioterm disebut hewan berdarah panas. Suhu tubuh hewan homoioterm lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya reseptor dalam otaknya sehingga dapat mengatur suhu tubuh. Hewan homoioterm biasanya mempertahankan suhu tubuh mereka di sekitar 35 40C. Suhu tubuh merupakan keseimbangan antara perolehan panas dari dalam (metabolisme) atau luar dengan kehilangan panas. Hewan homoioterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoioterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Proses evaporasi yang dilakukan berfungsi untuk menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia. Pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), pengaturan cairan tubuh, dan ekskresi merupakan elemen-elemen dari homeostasis. Dalam termoregulasi dikenal adanya hewan berdarah dingin (cold-blood animals) dan hewan berdarah panas (warm-blood animals). Namun ahli-ahli Biologi menggunakan istilah ektoterm dan endoterm. Pembagian golongan ini didasarkan pada sumber panas utama tubuh hewan tersebut. Hewan ektoterm

adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari lingkungan (menyerap panas lingkungan). Suhu tubuh hewan ektoterm cenderung berfluktuasi, tergantung pada suhu lingkungan. Hewan dalam kelompok ini adalah anggota invertebrata, ikan, amphibia, dan reptilia. Sedangkan hewan endoterm adalah hewan yang panas tubuhnya berasal dari hasil metabolisme. Suhu tubuh hewan ini lebih konstan. Endoterm umum dijumpai pada kelompok burung (Aves), dan mamalia (Campbell dkk, 1995). Hewan ektotermik dan endotermik mempertahankan suhu tubuhya dengan mengkombinasikan empat kategori umum dari adaptasi, yaitu: 1. Penyesuaian laju pertukaran panas antara hewan dengan sekelilingnya. Insulasi tubuh seperti, rambut, bulu, lemak yang terletak persis di bawah kulit untuk mengurangi kehilangan panas. Penyesuaian ini terdiri dari beberapa mekanisme, diantaranya a. hewan endotermik mengubah jumlah darah yang mengalir ke kulitnya

berdasarkan suhu di sekitarnya. Misal pada suhu dingin maka hewan endotermik akan mengecilkan diameter pembuluh darahnya (vasokontriksi) sehingga terjadi penurunan aliran darah, sedangkan pada musim panas hewan endotermik akan membesarkan diameter pembuluh darahnya (vasodilitasi) sehingga terjadi peningkatan aliran darah. b. Pengaturan arteri dan vena yang disebut penukar panas lawan arus (countercurrent heat exchanger). Pengaturan lawan arus ini memudahkan pemindahan panas dari arteri ke vena di sepanjang pembuluh darah tersebut 2. Pendinginan melalui kehilangan panas evaporatif. Hewan endotermik dan ektotermik terestial kehilangan air melalui pernapasan

dan melalui kulit. Jika kelembapan udara cukup rendah, air akan menguap dan hewan tersebut akan kehilangan panas dengan cara pendingin melalui evaporasi. Evaporasi dari sistem respirasi dapat ditingkatkan dengan cara panting (menjulurkan lidah ke luar). Pendinginan melalui evaporasi pada kulit dapat ditingkatkan dengan cara berendam atau berkeringat 3. Respons perilaku. Banyak hewan dapat meningkatkan atau menurunkan hilangnya panas tubuh dengan cara berpindah tempat. Mereka akan berjemur dibawah terik matahari atau pada batu panas selama musim dingin, menemukan tempat sejuk, lembab atau masuk ke dalam lubang di dalam tanah pada musim panas, dan bahkan bermigrasi ke lingkungan yang lebih sesuai. 4. Pengubahan laju produksi panas metabolik.

Kategori penyesuaian ini hanya berlaku bagi hewan endotermik, khususnya unggas dan mamalia. Hewan endotermik akan meningkatkan produksi panas metaboliknya sebanyak dua tau tiga kali lipat ketika terpapar ke keadaan dingin (Campbell, 2004). Manusia memiliki rentan suhu normal manusia 36,4 dan 36,7 C. Sedangkan suhu lingkungan normal sekitar 27C. Pada hasil pengamatan, suhu lingkungan dapat berada diatas 27C dan mengalami perubahan di setiap kegiatan dapat disebabkan karena suhu merupakan besaran yang sangat bergantung pada keadaan lingkungan sekitar. Masingmasing tempat memilki keadaan yang berbeda beda, seperti ketinggian dari permukaan laut, tekanan dan kelembapan udara. Jadi tempertur suatu ruang atau daerah dapat berubah ubah menurut fungsi keadaannya. Setelah praktikum, didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan dan penurunan suhu tubuh berdasarkan aktivitas. Hal ini terjadi dikarenakan suatu sistem termoregulasi dalam tubuh, yaitu suatu sistem yang berfungsi mengendalikan naik turunnya suhu tubuh berdasarkan perubahan suhu luar dan aktivitas yang dilakukan oleh organisme. Masing masing organisme yang dalam hal ini adalah manusia , memilki respon tubuh terhadap perubahan suhu yang berbeda. Berikut adalah faktor faktor yang mempengaruhi suhu tubuh manusia 1. Usia Regulasi suhu tidak stabil sampai anak anak mencapai pubertas. Rentang suhu normal turun secara berangsur sampai seseorang mendekati masa lansia. Lansia mempunyai rentang suhu tubuh yang lebih sempit daripada dewasa awal. Suhu oral 35 C tidak lazim pada lansia dalam cuaca dingin. Namun, rentang suhu tubuh pada lansia sekitar 35C. Lansia terutama sensitive terhadap suhu eskrim, karena kemunduran mekanisme control, terutama pada control vasomotor, penurunan jumlah jaringan subkutan, penurunan aktivitas kelenjar, dan penurunan metabolism. 2. Olahraga Aktivitas otot memerlukan peningkatan suplai darah dan pemecahan karbohidrat dan lemak. Hal ini menyebabkan peningkatan metabolisme dan produksi panas. Segala jenis olahraga dapat meningkatkan suhu tubuh. Olahraga berat lama, seperti lari jarak jauh dapat meningkatkan suhu tubuh untuk sementara sampai 41C. 3. Kadar Hormon Secara umum wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar daripada pria. Variasi tubuh dapat digunakan untuk memperkirakan masa paling subur pada wanita untuk hamil. 4.Irama Sirkadian

Suhu tubuh berubah secara normal 0,5 1 C selama periode 244 jam. Bagaimanapun suhu merupakan irama paing stabil pada manusia. Tapi pola suhu tubuh tidak berubah secara otomatis pada orang yang bekerja malam hari dan tidur siang hari. Perlu waktu 1 3 minggu untuk perputaran tersebut berubah. Secara umum irama sirkadian tidak berubah secara usia. 5.Stres Stres fisik dan emosi meningkatkan suhu tubuh melalui stimulasi hormonal dan persyarafan. Perubahan fisiologi tersebut meningkatkan panas. Klien yang cemas saat masuk rumah sakit atau tempat praktik dokter, suhu tubuhnya dapat lebih tinggi dari normal. 6.Lingkungan Lingkungan mempengaruhi suhu tubuh. Jika suhu dikaji dalam ruangan hangat klien mungkin tidak mungkin meregulasi suhu tubuh melalui mekanisme pengeluaran panas dan suhu tubuh akan naik. Jika klien berada diluar lingkungan luar tanpa baju hangat, suhu tubuh mungkin rendah karena penyebaran yang efektif dan pengeluaran panas yang kondusif ( Potter dan Perry, 1997 ). Suhu lingkungan yang tinggi akan meningkatkan suhu tubuh. Udara lingkungan yang lembab juga akan meningkatkan suhu tubuh karena menyebabkan hambatan penguapan keringat, sehingga panas tertahan di dalam tubuh. Pada hasil pengamatan didapatkan bahwa suhu tubuh setelah aktivitas di malam hari lebih tinggi daripada aktivitas yang dilakukan malam hari (anonim, 2009). Hewan homoioterm dapat melakukan aktifitas pada suhu lingkungan yang berbeda akibat kemampuan mengatur suhu tubuh. Hewan homoioterm mempunyai variasi temperatur normal yang dipengaruhi oleh faktor umur, faktor kelamin, faktor lingkungan, faktor panjang waktu siang dan malam, faktor makanan yang dikonsumsi dan faktor jenuh pencernaan air. Hewan berdarah panas adalah hewan yang dapat menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu tertentu yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Sebagian panas hilang melalui proses radiasi, berkeringat yang menyejukkan badan. Proses evaporasi yang dilakukan berfungsi untuk menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Contoh hewan berdarah panas adalah bangsa burung dan mamalia. Termoregulasi manusia berpusat pada hypothalamus anterior. Terdapat tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu termoreseptor, hypothalamus, dan saraf eferen. Termoregulasi dapat menjaga suhu tubuh. Dari perubahan keadaan lingkungan yang terjadi secara tiba tiba ataupun karena jenis akitifitas yang dilakukan

oleh seseorang. Pada suhu tubuh yang konstan biasanya lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya. Mekanisme pengaturan suhu tubuh merupakan penggabungan fungsi dari organ-organ tubuh yang saling berhubungan. Mamalia memiliki dua jenis sensor pengatur suhu, yaitu sensor panas dan sensor dingin yang berbeda tempat pada jaringan sekeliling (penerima di luar) dan jaringan inti (penerima di dalam) dari tubuh. Penyesuaian ini dilakukan untuk mencegah kerusakan dan gangguan sistem dalam tubuh yang dapat mengganggu kestabilan sel sel, sehingga sel sel rusak dan tidak mampu bermetabolisme secara sempurna. Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan suhu lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin atau lebih panas. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit. Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap (Guyton, 1995)

BAB II BAHAN DAN CARA KERJA

2.1 Alat dan Bahan 2.1.1 Alat Manometer 3 Set gelas kimia masing-masing terdiri atas gelas kimia berukuran besar (1000 ml) ; sedang (600 ml) dan kecil (300 ml) Termometer Batu Spluit 20 cc Stoples Pipa plastik Alas kawat kasa Kendi biasa Kendi yang dipernis

2.1.2 Bahan Katak Mencit Air dingin 4-10C Absorben CO2 dan O2 dan udara

2.2 Cara Kerja 2.2.1 Mempelajari produksi panas pada hewan poikiotermik dan homoiotermik Kedalam gelas kimia yang besar diisi air dingin 4-10C sampai beberapa cm dibawah tepi gelas piala ukuran sedang yang terletak didalamnya. Gelas kimia yang sedang tidak diisi air, tetapi diisi oemberta agar tetap melekat dengan dasar gelas piala yang besar dan tidak terangkat air Ke dalam gelas piala yang paling kecil masing-masing diisi dengan katak, mencit dan kosong. Ditempatkan thermometer pada masing-masing gelas kimia Dibaca temperature setiap 10 menit, selama 1 jam, dicatat hasilnya

2.2.2 Menentukan konsumsi oksigen pada mamalia

Disiapkan alat pengukur konsumsi oksigen yang terdiri atas stoples yang dapat ditutup rapat dengan tutup berkaret dan memiliki 2 buah katup tiap sisi, Stoples pertama diisi dengan adsorben CO2 dan ditutup dengan penutup karet,

Ditutup stoples rapat-rapat, tetapi katupnya dibiarkan terbuka, agar berhubungan dengan udara kamar. Stoples memiliki 2 pipa yang berada ditiap sisi stoples, sebuah pipa dihubungkan dengan pipa U atau manometer melalui selang sedangkan pipa yang lainnya dihubungkan dengan stoples lain yang berisi mencit, lalu pipa lain pada stoples yang berisi mencit dihubungk an dengan spluit 20 cc melalui selang untuk mengisi sejumlah volume udara. Apabila tekanan udara diluar dan didalam stoples sama maka permukaan air pada manometer akan sama tingginya

.2 Diisi udara melalui spluit, lalu dicatat waktu sejak dari memasukkannya udara tersebut yang ditandai dengan adanya permukaan air pada manometer naik sampai permukaan tersebut kembali menjadi rata (waktu yang dicatat merupakan waktu yang dibutuhkan oleh hewan tersebut untuk menggunakan oksigen). 2.2.3 Mempelajari pengaruh penguapan udara terhadap suhu Diambil 2 buah gelas piala, isi air panas 70 C dengan volume yang sama. Letakkan pada gelas kedua minyak paraffin sehingga membuat lapisan tipis diatas permukaannya. Diukur suhu kedua gelas dengan menggunakan thermometer tiap 5 menit selama 30 menit. Dicatat dan bandingkan hasil yang diperoleh. Diambil 2 buah kendi yang berbeda, diisi keduanya dengan air yang sama suhu dan volumenya. Diukur suhu pada permulaan dan setiap 5 menit sekali sampai 30 menit. Dicatat dan bandingkan hasil yang diperoleh.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan

3.2 Pembahasan Berdasarkan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh hewan dibagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu hewan poikiloterm ( reptil, amphibi) dan hewan homoioterm (mamalia dan aves). Seperti diketahui bahwa hewan tipe poikiloterm suhu tubuhnya akan selalu berubah ubah mengikuti keadaan suhu lingkungannya. Dimana berbeda dengan tipe hewan homoioterm yang akan tetap menjaga suhu tubuhnya di batas aman untuk menjaga organ di setiap tubuhnya bekerja maksimal. Mencit (mamalia) adalah hewan bertipe homoiotermk, dimana ia tetap menjaga suhu tubuhnya dibatas ama. Ini ditunjukan dengan prilaku yang hyperaktif seperti mengaruk garuk gelas kimia untuk menyimpannya, loncat locat, berlari lari tak tentu arah. Bertujuan untuk menjaga metabolismenya tetap maksimal sehingga membantu menghasilkan panas tubuh yang aman bagi dirinya. Berbeda dengan katak (amphibi) yang bertipe poikilotermk. Pada percobaan terlihat katak berprilaku pasif tidak menunjukan sesuatu yang aktif. Dan suhu pada lingkungan katak tidak berubah hanya mengikuti keaadan suhu disekitar lingkungaanya pada gelas kimia. Dimana keadaan ini sesuai dengan litertur dimana tipe hewan poikilotermk akan berubah mengikuti keadaan suhu lingkunagan sekitarnya. Dipercobaan kedua digunakan udara yang mampu mendorong manometer, diamana kadar oksigen lebih besar dibandingkan dengan karbondioksida yang menyebabkan salah satu permukaan manometrnya lebih tinggi dibandingkan dengan permukaan satunya. Oksigen yang dihirup mencit menyebabkan tekanan udara lebih rendah dan memungkinkan salah satu permukaan turun secara perlahan. Untuk menghitung kadar oksigen yang diguankan perharinya digunakan rumus yaitu : Liter konsumsi O2 /hari = Liter O2 yang dikonsumsi x 1440 menit / hari Setelah dihitung, mencit mengkosumsi oksigen perharinya sebanyak Dimana Volume tersebut harus dikoreksi dengan keadaan liter. standar

menggunakan rumus :

Liter Koreksi = Liter obs x 273absolut x Tekanan obs Temp obs 760 mmHg

Diperoleh volume sebesar

Liter/hari. Hasil yang didapatkan dari kedua

rumus yangdigunakan tidak terlalu berbeda jauh. Dirumus pertama okigen yang dikosumsi sebesar Liter. Dimana hasil ini

tidak dipengaruhi oleh tekanan dan susu standar. Sedangkan rumus kedua untuk mengkoreksi diperoleh hasil sebesar temperatur standar. Liter, didasarkan pengaruh

BAB IV KESIMPULAN

Mencit tetap mempertahankan suhu tubuhnya secara konstan sehingga termasuk hewan bertipe homoiotermk

Katak menyesuaikan suhu tubuhnya dengan linkingan sekitarnya sehingga termasuk hewan bertipe poikilotermk

Volume kosumsi oksigen perhari mencit sebesar sebesar Liter.

Liter, dan volume koreksinya

Daftar Pustaka

Fictor, Ferdinand P., Moekti Ariebowo. 2007. Praktis Belajar Biologi. Me-dia Visindo Persada: Jakarta. Sherwood, L. 2008. Human Physiology From Cells to Systems edisi 7. World Inc: USA Graphic