Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH JIWA DEFISIT PERAWATAN DIRI Dosen Pengampu : team

Oleh Kelompok VII M. Fajrin M. ikhwanudin Setap Adiatma Sri Sugiarti N. Ratih Villan P Windi muliana putra Wirajayadi Wirman PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO JL. GEDONGSONGO, CANDIREJO UNGARAN TAHUN AJARAN 2011/2012

DPD (DEFISIT PERAWATAN DIRI ) A. DEFINISI Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klian dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri (DEPKES 2000). Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting). ( Nurjanah 2004). Defisit perawatan diri adalah suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melakukan atau melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi (hygiene), berpakaian/berhias, makan, dan BAB/BAK (Toileting). ( fitria, nita. 2010 ) Jenis-jenis Perawatan Diri 1. Kurang perawatan diri : Mandi/kebersihan diri Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemempuan utnuk melekukan aktifitas mandi / kebersihan diri. 2. Kurang perawatan diri : Mengenakan pakaian/berhias Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktifitas berdandan sendiri. 3. Kurang perawatan diri : Makan Kurang perawatan diri (Makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukan aktifitas makan 4. Kurang perawatan diri : Toeliting Kurang perawatan diri toeliting adalah gangguan kemampuan utnuk melekukan atau menyelesaikan aktifitas toeliting sendiri.

B. ETIOLOGI Menurut tarwoto dan wartonah 2000 penyebab kurang perawatn diri sebagai berikut: Kelelah fisik Penurunan kesadaran

Menurut depkes 2000 penyebab kurang perawatan diri adalah : 1. Faktor predisposisi a. Perkembangan Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu b. Biologis Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri. c. Kemampuan realitas diri Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri. d. Sosial Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri. 2. Faktor presipitasi Yang merupakan faktor presifitasi deficit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri. Menurut DEPKES (2000:59) faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah: a. Body image Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. b. Praktik social Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. c. Status social ekonomi Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, sampo, dan alat mandi yang semua memerlukan uang untuk menyediakannya. d. Pengetahuan Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes melitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.

e. Budaya Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan. f. Kebiasaan seseorang Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentudalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo, dll. g. Kondisi fisik atau psikis Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya. Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene : Dampak fisik Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangandengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah : gangguan integritas kulit, gangguanmembran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. Dampak psikososial Masalah social yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi social.

C. TANDA DAN GEJALA Menurut Depkes (2000 : 20) tanda dan gejala klien dengan deficit perawatan diri adalah : a. Fisik Badan bau, pakaian kotor Rambut dan kulit kotor Kuku panjang dan kotor Gigi kotor disertai mulut bau Penampilan tidak rapi

b. Psikologis Malas, tidak ada inisiatif Menarik diri, isolasi diri Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina

c. Social Interaksi kurang Kegiatan kurang Tidak mampu berprilaku sesuai norma Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat , gosok, gigi dan mandi tidak mampu mandiri. Data yang biasa ditentukan dalam defisit perawatan diri adalah : Masalah Keperawatan Defisit perawatan diri Data Subjektif: Klien mengatakan dirinya malas mandi karena airnya dingin, atau di RS tidak tersedia alat mandi. Klie mengatakan dirinya malas berdandan Klien mengatakan ingin disuapi makan Klien mengatakan jarang membersihkan alat kelaminnya setelah BAK ataupun BAB.

Objektif: Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri ditandai dengan

rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki, dan berbau, serta kuku panjang dan kotor. Ketidakmampuan berpakaian/berhias ditandai dengan rambut acakacakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak bercukur (laki-laki), atau tidak berdandan (wanita). Ketidakmampuan makan secara mandiri ditandai dengan

ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada tempatnya, Ketidakmampuan BAB/BAK secara mandiri ditandai BAB/BAK tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah BAB/BAK. (fitria, nita. 2010 )

D. PENYEBAB & AKIBAT Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat adanya perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri menurun. Sehingga menyebabkan timbulnya masalah defisit perawatan diri yaitu kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias diri secara mandiri, dan toleting (buang air besar dan buang air kecil) secara mandiri.

E. PATHWAY

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN Menurut Depkes (2000 : 32) diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien deficit perawatan diri yaitu : Defisit perawatan diri

G. FOKUS INTERVENSI 1. Intervensi untuk klien / pasien a. Tujuan : Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri Pasien mampu melakukan berhias/berdandan secara baik Pasien mampu melakukan makan dengan baik Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri

b. Tindakan keperawatan 1. mendiskusikan pentingnya kebersihan diri, cara cara merawat diri dan melatih pasien tetang cara cara perawatan diri. Untuk melatih pasien dalam menjaga kebersihan diri kita dapat melakukan tindakan yang meliputi: Menjelaskan Pentingnya menjaga kebersihan diri Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri Melatih pasien mempraktekan cara menjaga kebersihan diri

2. Melatih pasien berdandan/berhias Kita sebagai perawat dapat melatih pasien berdandan. Untuk pasien laki-laki tentu harus dibedakan dengan wanita. Untuk pasien laki-laki latihan meliputi: Berpakaian Menyisir rambut Bercukur

Untuk pasien wanita latihannya meliputi: Berpakaian Menyisir rambut dan juga berhias

3. Melatih pasien makan secara mandiri Untuk melatih makan pasien kita dapat melakukan tahapan sebagai berikut: Menjelaskan cara mempersiapkan makan Menjelaskan cara makan yang tertib Menjelaskan cara merapikan peralatan makan setelah makan Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik

4. Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri Kita dapat melatih pasien untuk BAB dan BAK mandiri sesuai tahapan berikut: Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK

2. Intervensi untuk keluarga a. Tujuan Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan diri b. Untuk membantu kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri yang baik maka kita harus melakukan tindakan kepada keluarga agar keluarga dapat meneruskan melatih pasien dan mendukung agar kemampuan pasien dalam perawatan dirinya meningkat. Tindakan yang dapat kita lakukan memberiakan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat anggota keluarga yang mengalami masalh defisit perawatan diri dengan tahapan yang dapat dilakukan adalah : Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh pasien untuk menjaga perawatan diri pasien. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan membantu mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadwal yang telah disepakati) Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien dalam merawat diri. Latih keluarga cara merawat pasien dengan defisit perawatan diri

DAFTAR PUSTAKA Depkes. 2000. Standar Pedoman Perawatan jiwa. Dr Budi Anna Keliat. 2006. Modul model praktek keperawatan profesional jiwa. Jakarta : fakultas ilmu keperawatan universitas indonesia. Jalil, Abdul. 2011. Pedoman Pengkajian Asuhan Keperawatan Jiwa Dan Penetapan Diagnosa Keperawatan. Magelang : Clinical Instructur Ners Wisma Drupada. Fitria, Nita. 2010. Prinsip Dasar Dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan ( Lp Dan Lk ). Jakarta : Salemba Medika.