Anda di halaman 1dari 43

1.

PENGERTIAN USHUL FIQH, OBJEK, SEJARAH, PERTUMBUHAN DAN PERKEMBAGANNYA PENGERTIAN USUL FIQH

A.

Ilmu dalam hal ini secara bahasa dapat diartikan yakin, sedangkan menurut istilah mengetahui sesuatu yang ada yang merupakan kenyataan. As-Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki dalam bukunya Syarhu MandhumatilWaraqat menyebutkan definisi Usul adalah Sesuatu yang dapat di indra atau yang dapat dirasio yang dijadikan pijakan sesuatu yang lain. Itu definisi Usul secara bahasa, sedangkan menurut istilah, maka lafadz Usul itu mempunyai empat arti; Pertama Dalil, KeduaUnggul, Ketiga Pijakan (qoidah) yang tetap, dan Keempat Tempat pengkiasan. Sedangkan Fiqh sendiri secara bahasa artinya Pemahaman yang mendalam. Sedangkan menurut istilah adalah Mengetahui hukum-hukum syari amali yang diambil dari dalildalinya yang rinci. Maka keluar dari definisi itu disebut Ahkamul-Aqliyah seperti ilmu bahwa satu adalah setengah dari 2, Pengindraan seperti ilmu tentang api itu panas danqothiyah seperti Ilmu bahwa Allah itu satu. Maka ketiga hal ini bukanlah disebut fiqh dalam pengertiannya. Menurut Sayyid al-Jurjaniy, pengertian fiqh yaitu : Ilmu tentang hukum-hukum syara' mengenai perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci." Sedang Usul fiqh menurut Abdul Wahab Kholaf adalah : ) ( Ilmu tentang kaidah-kaidah dan pembahasan-pembahasan yang digunakan sebagai alat untuk memperoleh hukum syara`yang amali dari dalil-dalil yang tafsili. Muhammad Abu Zahrah mendefinisikan Usul Fiqh sebagai berikut, Ushul Fiqh adalah ilmu yang menjelaskan jalan-jalan yang ditempuh oleh imam-imam mujtahid dalam mengambil hukum dari dalil-dalil yang berupa nash-nash syara' dan dalil-dalil yang didasarkan kepadanya, dengan memberi 'illat (alasan-alasan) yang dijadikan dasar ditetapkannya hukum serta kemaslahatan-kemaslahatan yang dimaksud oleh syara'.

B.

OBYEK DAN PEMBAHASAN USUL FIQH USUL FIQH Adapun obyek pembahasan Usul Fiqh itu mencakup berbagi hal yang secara ringkas sebagai berikut :

1.

2. 3. 4. 5.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Membicarakan dan menyelidiki tentang keadaan dalil-dalil syar`i serta menyelidiki pula bagaimana caranya dalil-dalil tersebut menunjukkan hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan mukallaf. Hukum,hakim, al-mahkum `alaih (mukallaf, subyek), al-mahkum fih (perbuatan mukallaf, obyek). Sumber-sumber hukum Metode istinbat hukum/mengeluarkan Ijtihad, syarat-syarat, metode, dll. Dari beberapa obyek diatas, maka pembahasa ilmu usul fiqh itu mencakup 20 bab terperinci. Bab-bab itu adalah: Aqsamul-Kalam (Jenis-jenis ucapan/ kalimat) Sebagaimana ilmu nahwu yang dimaksud Kalam adalah susunan kata-kata yang membentuk kalimat yang dapat dipahami artinya. Kalam sendiri dibagi menjadi (a)Khabar yaitu ucapan yang mungkin mengandung kebenaran atau kesalahan. (b) Insyayaitu ungkapan atau kalimat yang berfungsi meminta pemahaman (bertanya) , memerintah, ataupun melarang yang kalimat itu tidak bisa disifati dengan kebohongan atau kebenaran. (c) Thalab yaitu kalimat atau ungkapan yang tidak mengandung pengertian Insya danKhabar seperti angan-angan, harapan. Al-Amr (Perintah) Perintah adalah meminta terjadinya perbuatan dengan ucapan atau ungkapan perintah kepada orang dibawahnya dan perintah itu bersifat wajib. Apabila derajat yang memerintah dan yang diperintah sama, maka namanya iltimas, dan apabila dari derajat rendah ke tinggi, namanya dua atau sual. An-Nahy (Larangan) Permintaan untuk meninggalkan sesuatu dengan ungkapan atau kalimat tertentu dari orang yang derajatnya tinggi ke orang yang derajatnya dibawahnya. Al-Am (Umum) Am adalah lafadz yang mencakup arti luas dan tidak terdefinisikan secara jelas tentang maksudnya. Seperti kata orang Islam, maka yang dimaksud adalah semuanya tanpa terkecuali. (5) Al-Khas (Khusus) Khas adalah lafadz yang mencakup arti sempit dan terdefinisikan secara jelas tentang maksudnya. Seperti perkataan Ayahmu, Rumah itu dan sebagainya. Mujmal Mujmal adalah sesuatu atau ungkapan yang masih membutuhkan penjelasan seperti ( ) Mubayyan Mubayyan adalah sesuatu atau ungkapan yang sudah jelas yang tidak membutuhkan penjelasan lagi.

8. 9. 10.

11.

12.

13. 14.

15.

16.

17.

18.

19.

20.

Dhahir Adalah lafadz atau ungkapan yang sesungguhnya dan tidak membutuhkan pentakwilan lagi. Muawwal Yaitu lafadz atau ungkapan yang masih membutuhkan penafsiran untuk pemahamannya. Al-Afal Al-Afal adalah aktifitas atau perbuatan Nabi SAW di kala hidup-nya mengenai berbagai hal dan hubungannya dengan hukum syari. An-Nasikh yaitu ayat atau hadits yang menggantikan ayat atai hadits yang lama baik secara lafdzi atau maknawi Mansukh Adalah ayat atau hadits yang di ganti oleh ayat atau hadits yang baru baik secara maknawi atau lafdzi Ijma Yaitu kesepakatan para Ulama terhadap suatu hukum yang belum tersebut dalam nash Akhbar dan Hukumnya Yaitu pembahasan tentang khabar-khabar (ungkapan yang mingkin benar dan mingkin tidak) baik berupa hadits, atsar ataupun yang lainnya. Al-Qiyas Adalah pendekatan pengambilan hukum terhadap perkara yang tidak disebutkan hukumnya dengan perkara yang disebutkan hukumnya dengan cara tertentu. Al-Hadhr dan Al-Ibahah Yaitu pembahasan hukum baik asli maupun cabang yang tidak disebutkan dalam nashakan tetapi perkara itu sudah ada sebelum di utusnya Nabi SAW. Tartibul-Adillah Yaitu bagaimana dalil-dalil itu digunakan dengan sistematis tertentu sehingga dapat ditentukan takhsis dan taqdimnya misalnya Wasful Mufti, Mufti adalah orang yang mampu memberi fawa kepada orang lain dalam suatu urusan yang belum tersebut di dalam nash Mustafti mustafti adalah orang yang meminta fatwa dan taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mempedulikan bagaimana orang tersebut mendapatkan hukum. Ijtihad Adalah Usaha keras ahli fiqh untuk mencapai tujuan yang dimaksud dalam menghasilkan hukum syari karena hukum tersebut tidak tersebut di dalam nash Tahapan-tahapan Perkembangan Ushul Fiqh

Setelah dibukukannya al-Risa>lah, maka banyak ulama lainnya yang juga menyusun ilmu ushul fiqh sebagai disiplin ilmu. Syafei mengatakan secara garis besar, perkembangan ushul fiqh dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu: tahap awal (abad III H), tahap perkembangan (abad IV H) dan tahap penyempurnaan (abad V H). jelasnya, ialah: Tahap Awal (abad III H) Pada abad III H, di bawah pemerintahan Abbasiyah wilayah Islam semakin meluas ke bagian Timur. Khalifah-khalifah Abbasiyah yang berkuasa dalam abad ini adalah: al-Mamu>n (w. 218 H), al-Mutas}im (w. 227 H), al-Wa>thiq (w. 232 H), dan al-Mutawakkil (w. 247 H). pada masa mereka inilah terjadi suatu kebangkitan ilmiah di kalangan Islam, yang dimulai sejak masa pemerintahan Khalifah al-Rashi>d. Kebangkitan pemikiran pada masa ini ditandai dengan timbulnya semangat penerjemahan di kalangan ilmuwan Muslim. Di samping itu, ilmu-ilmu keagamaan juga berkembang dan semakin meluas objek pembahasannya. Hampir dapat dikatakan bahwa tidak ada ilmu keislaman yang berkembang sesudah Abbasiyah, kecuali yang telah dirintis atau diletakkan dasar-dasarnya pada zaman dinasti Abbasiyah. Salah satu hasil dari kebangkitan berpikir dan semangat keilmuan Islam ketika itu adalah berkembangnya bidang fiqh, yang pada gilirannya mendorong untuk disusunnya metode berpikir fiqh yang disebut ushul fiqh. Kitab ushul fiqh yang pertama-tama tersusun secara utuh dan terpisah dari kitab-kitab fiqh ialah al-Risa>lah karya imam al-Sha>fii>. Selain al-Risa>lah, pada abad III H, telah tersusun pula sejumlah kitab ushul fiqh lainnya, misalnya: I>sa Ibn Ibba>n (w. 221 H) menulis kitab Ithba>t al-Qiya>s, Khabar al-Wa>hid dan Ijtiha>d al-Rayu, Ibrahi>m Ibn Siya>r alNaz}z}a>m (w. 221 H) menulis kitab al-Nakt, Daud al-Z}a>hiri> (w. 270 H) menulis kitab al-Ijma>, Ibt}a>l al-Taqli>d, Ibt}a>l al-Qiya>s, al-Khabar al-Muji>b li al-Ilm, al-H}ujjah, al-Khus}u>s} wa al-Umu>m, al-Mufassar wa al-Mujmal dan kitab al-Us}u>l, Muh}ammad Ibn Daud al-Z}a>hiri> menulis kitab al-Us}u>l fi> Marifah al-Us}u>l. Hal lain pada abad ini, ialah lahirnya ulama-ulama besar yang meletakkan dasar berdirinya madhhab-madhhab fiqh. Para pengikut mereka semakin menunjukkan perbedaan dalam mengungkapkan pemikiran ushul fiqh dari para imamnya. Al-Sha>fii> misalnya, tidak menerima cara penggunaan istih}sa>n yang masyhur di kalangan H}anafiyah, sebaliknya H}anafiyah tidak menggunakan cara-cara pengambilan hukum berdasarkan hadith-hadith yang dipegang oleh al-Sha>fii>. Perbedaan-perbedaan pendapat dan metode yang dimiliki oleh masing-masing aliran merupakan salah satu pendorong semangat pengkajian ilmiah di kalangan ulama pada abad III H. Tahap Perkembangan (abad IV H) Abad IV H, merupakan abad permulaan kelemahan dinasti Abbasiyah dalam bidang politik. Pada abad ini dinasti Abbasiyah terpecah-pecah menjadi daulah-daulah kecil yang masingmasing dipimpin oleh seorang sultan. Namun demikian, kelemahan bidang politik ini tidak mempengaruhi perkembangan semangat keilmuan di kalangan para ulama ketika itu.

Abad IV H, mempunyai karakteristik tersendiri dalam karangka sejarah tashri> Islam. Pemikiran liberal Islam berdasarkan ijtihad mutlak berhenti pada abad ini. Oleh karenannya, tidak bisa diingkari bahwa pintu ijtihad pada periode telah tertutup. Akibatnya bagi perkembangan fiqh Islam adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan para ulama terbatas dalam menyampaikan apa yang telah ada, mereka cenderung hanya mensyarahkan (memberi komentar) kitab-kitab terdahulu atau memahami dan meringkasnya. 2. Menghimpun masalah-masalah furu> (cabang) yang sekian banyaknya dalam uraian yang singkat. 3. Memperbanyak pengandaianpengandaian dalam beberapa masalah. Keadaan tersebut, sangat jauh berbeda di bidang ushul fiqh. Terhentinya ijtihad dalam fiqh dan adanya usaha-usaha untuk meneliti pendapat-pendapat para ulama terdahulu dan mentarjihkannya justru memainkan peranan yang sangat besar dalam bidang ushul fiqh. Hal ini karena dalam meneliti dan mentarjih pendapat para ulama terdahulu, diperlukan penelusuran sampai pada akar-akarnya dan pengevaluasian kaidah-kaidah ushul yang menjadi dasarnya. Dengan demikian, semakin berkembanglah ilmu ushul yang menjadi dasarnya dan dengan sendirinya ushul fiqh-pun semakin berkembang, apalagi masing-masing madhhab menyusun kitab ushul fiqh. Sebagai tanda berkembangnya ilmu ushul fiqh dalam abad IV H, ini, yaitu munculnya kitabkitab ushul fiqh yang merupakan hasil karya dari para ulama fiqh. Kitab-kitab yang paling terkenal di antaranya ialah: Kitab Us}u>l al-Karkhi> karya Abu> al-H}asan Ubaydillah Ibn al-H}usayn al-Karkhi> (w. 340 H). Kitab ini bercorak H}anafiyah, memuat 39 kaidah-kaidah ushul fiqh. Kitab al-Fus}u>l fi> al-Us}u>l karya Ah}mad Ibn Ali> Abu> Bakr yang dikenal dengan sebutan imam al-Jas}s}a>s} (w. 370 H). Kitab ini juga bercorak H}anafiyah. Kitab Baya>n Kashf al-Alfa>z} karya Abu> Muh}ammad Badr al-Di>n Mah}mu>d Ibn Ziya>d al-H}anafi>. Tahap Penyempurnaan (abad 5-6 H) Kelemahan politik di Baghdad, yang ditandai dengan lahirnya beberapa daulah-daulah kecil, membawa arti bagi perkembangan peradaban dunia Islam. Peradaban Islam tidak lagi berpusat di Baghdad, tetapi juga di kota-kota, seperti Kairo, Bukhara,Ghaznah dan Markusy. Hal itu, disebabkan adanya perhatian besar dari para sultan, raja-raja penguasa daulah-daulah kecil itu terhadap perkembangan ilmu dan peradaban. Salah satu dampak dari perkembangan itu ialah kemajuan di bidang ilmu ushul fiqh yang menyebabkan sebagian ulama memberikan perhatian khusus untuk mendalaminya, antara lain: al-Ba>qila>ni>, al-Qa>d}i> Abd al-Jabba>r, Abd al-Wahha>b al-Baghdadi>, Abu> Zayd al-Dabbu>si>, Abu> H}usayn al-Bas}ri>, imam al-H}aramayn, Abd al-Malik alJuwayni>, Abu> H}a>mid al-Ghaza>li> dan lain-lainnya.

Kitab ushul fiqh yang ditulis pada zaman ini, di samping mencerminkan adanya kitab ushul fiqh bagi masing-masing madhhabnya, juga menunjukkan adanya dua aliran ushul fiqh, yakni aliran H}anafiyah yang dikenal sebagai aliran fuqaha dan aliran mutakallimin. Dalam sejarah perkembangan ilmu ushul fiqh, pada abad V dan VI H, ini merupakan periode penulisan kitab ushul fiqh terpesat, yang di antaranya terdapat kitab-kitab yang menjadi kitab standar dalam pengkajian ilmu ushul fiqh selanjutnya. Kitab-kitab ushul fiqh yang paling penting, antara lain sebagai berikut: Kitab al-Mughni> fi> al-Abwa>b al-Adl wa al-Tawd}i>h karya al-Qa>d}i> Abd alJabba>r (w. 415 H). Kitab al-Mutamad fi> Us}u>l al-Fiqh karya Abu> al-H}usayn al-Bas}ri> (w. 436 H).

Kitab al-I>da>f fi> Us}u>l al-Fiqh karya Abu> Muh}ammad Yala al-Farra> (w. 458 H). Ia dianggap sebagai ulama besar dalam madhhab pada abad V H, dan pengaruhnya di kalangan H}anbali> sangat besar dan berlanjut sampai ke generasi sunni sesudahnya khususnya pengikut H}anbali>. Kitab al-Burha>n fi> Us}u>l al-Fiqh karya Abd al-Malik Ibn Abdillah al-Juwayni> imam al-H}aramayn (w. 478 H). Kitab al-Mustas}fa> min Ilm al-Us}u>l karya Abu> H}a>mid al-Ghaza>li> (w. 505 H). Dari uraian di atas, bisa ditarik sebuah kesimpulan bahwa perkembangan ushul fiqh dalam dunia Islam terjadi dalam beberapa tahapan dan masing-masing tahapan tanpak jelas perbedaannya dari sebelum dan sesudahnya, misalnya: Tahap pertama, ilmu ushul fiqh telah berhasil dibukukan dengan sempurna dan sistematis berkat usaha dari imam al-Sha>fii> yang kemudian diteruskan oleh para ulama sesudahnya Tahap kedua, sebagai dampak dari tertutupnya ijtihad justru para ulama termotivasi untuk menelaah dan mengkaji ulang hukumhukum yang telah dihasilkan dan diputuskan oleh ulama terdahulunya khususnya imam madhhabnya dengan mengkaji dasar-dasar istinbat hukum tersebut. Yang terakhir tahap ketiga, yaitu tahap penyempurnaan, dalam tahap ini sebagaimana dijeaskan di atas bahwa dalam sejarah perkembangan ilmu ushul fiqh, pada abad V dan VI H, ini merupakan periode penulisan kitab ushul fiqh terpesat. [1] Abdul Wahha>b Khalla>f, Ilmu Us}u>l al-Fiqh (Mesir: Maktabah al-Dawah alIsla>miyah, tt), 11 [2] Perbedaan antara dalil kully dan dalil juzi> dan antara hukum kullydan hukum juzi>. Dalil kully ialah dalil umum yang terkandung/tercakup di dalamnya dalildalil juzi>, misalnya al-nahyu (larangan) dalil kullyyang terkandung di dalamnya semua nas}/lafaz} yang menunjukkan makna larangan. Jelasnya, adalah al-nahyu dalil kully dan nas}/lafaz}} yang menunjukkan makna larangan dalil juzi>. Hukum kully ialah hukum umum yang terkandung/tercakup di dalamnya hukum-hukumjuzi>, misalnya altahrim (haram) hukum kully yang terkandung di dalamnya semua nas}/lafaz} yang menunjukkan makna haram misalnya haram melakukan perzinaan, mencuri dan mabuk-

mabukan. Jelasnya, adalah al-tahrim hukum kully dan nas}/lafaz}} yang menunjukkan makna larangan hukum juzi>. Ahli ushul fiqh, hanya membahas tentang dalil kully dan hukum kully. Sementara, dalil juzi> dan hukum juzi> dibahas oleh ahli fiqh. Khalla>f, Ilmu Ushul, 14.

2.

Pengertian Mukallaf, Muallaf dan hal-hal yang berhubungan dengannya

Mukallaf ialah orang yang berakal sehat dan telah baligh / telah berumur lima belas tahun atau telah mengeluarkan darah putih(air mani) meskipun dengan cara bermimpi bagi pria. Dan bagi wanita apabila telah berumur sembilan tahun, telah mengeluarkan darah haid atau telah mengeluarkan air mani, baik dengan cara persetubuhan suami istri atau dengan cara bermimpi. Orang itulah yang terkena perintah - perintah Alloh dan menjauhi larangan larangan-Nya.

Muallaf berasal daripada bahasa Arab iaitu Allafa bermakna berjinak-jinak atau minat. Jadi, muallaf adalah orang yang mula berjinak-jinak atau mendekati Islam. Adakah mereka yang sudah masuk Islam ataupun belum? Sekiranya mereka telah belajar dan mengamalkan Islam maka tidak layak lagi dipanggil sebagai muallaf tetapi lebih sesuai dipanggil sebagai Mukallaf. Sayangnya di Malaysia sungguhpun mereka telah belajar dan mengamalkan Islam bahkan telah mengajar muslim lain masih tetap digelar sebagai muallaf contohnya Muhammad Ridhuan Tee Abdullah, Muhammad Ravi Abdullah, Muhammad Fitri Abdullah, Muhammad Nicholas Sylvester Shah Kirit Bin Kalulal Govindji dan Lim Jooi Soon. Mereka telah mengamalkan fardhu ain dan menjadi pengajar dan penceramah yang hebat dan ilmunya setanding dengan muslim yang dilahirkan dalam keluarga Muslim tetapi tetap digelar Muallaf. Di Malaysia kita sering menggelar muallaf sebagai Saudara Baru dan Saudara Kita, gelar ini seolah-olah akan membuka ruang untuk membeza-bezakan muslim yang dilahirkan dalam keluarga Islam dengan yang masuk Islam. Sebahagian muallaf tidak menyukai gelaran tersebut dan menimbulkan jurang di antara saudara baru dengan muslim yang lahir dalam keluarga muslim. Mereka lebih suka digelar sebagai saudara muslim dan sekarang gelaran ini lebih popular berbanding muallaf atau saudara baru. 2. Punca Masuk Islam Ada banyak punca seseorang memeluk Islam, antaranya: a) Perkahwinan, ada sebahagian orang masuk Islam kerana perkahwinan campur dengan perempuan atau lelaki muslim. Sebahagian muslim menilai rendah terhadap muallaf yang masuk Islam kerana perkahwinan dengan pasangan Muslim. Sepatutnya orang yang masuk Islam kerana perkahwinan bukan suatu aib kerana hidayah Allah pelbagai cara, yang penting memanfaatkan peluang tersebut untuk membimbing dan mendidik mereka untuk menjadi muslim yang baik. Sebahagian muallaf pada asalnya memeluk Islam disebabkan

perkahwinan, selepas belajar dan dibimbing dengan cara yang sesuai dapat menjadi muslim yang baik. Bahkan lebih baik berbanding muslim yang dilahirkan dalam keluarga Muslim. Sebahagian mereka menjadi pendakwah, penceramah serta pengajar muallaf bahkan muslim yang dilahirkan dalam keluarga Islam. b) Pergaulan, pergaulan antara muslim dengan bukan muslim telah membuka ruang untuk saling kenal dan memahami budaya dan agama masing-masing. Ini adalah peluang terbaik bagi muslim untuk menyampaikan Islam kepada bukan muslim. Hubungan persahabatan yang baik telah memecahkan tembok penghalang di antara perbazaan warna kulit dan juga agama. Seringkali pelajar bukan Islam yang belajar di sekolah kebangsaan akan membuka ruang untuk memahami dan memeluk Islam. Berdasarkan pemerhatian ramai pelajar bukan Islam yang belajar di sekolah kebangsaan atau bercampur dengan muslim akhirnya akan memilih Islam sebagai panduan hidupnya. c) Kebajikan, Sebahagian orang masuk Islam disebabkan oleh kebajikan yang diberikan oleh keluarga muslim. Kebajikan adalah cara yang baik untuk memikat orang bukan Islam supaya kenal dan faham Islam. Dalam Islam sangat digalakkan untuk membantu orang lain, sayang kebanyakan muslim hanya membantu bangsa sendiri. Sebagai contoh apabila muslim memberi bantuan kepada pesakit di hospital maka diutamakan pesakit muslim terlebih dahulu dengan mengabaikan bukan muslim. Mungkin disebabkan bantuan akan membantu mereka untuk memahami dan menerima Islam. Selain itu, kebajikan yang diberikan keluarga muslim dengan mengambil pelajar bukan Islam menjadi keluarga angkat telah membuka ruang dakwah yang cukup luas. d) Kajian, ramai yang masuk Islam disebabkan oleh kajian adalah pelajar universiti atau pekerja profesional. Selepas mengkaji mereka dapati agama Islam adalah agama yang lojik dan mudah serta sesuai dengan perkembangan teknologi. Orang yang masuk Islam kerana kajian akan memudahkan pengajar dalam membimbing sebab mereka telah memahami dan mengamalkan asas Islam seperti sembahyang dan puasa. e) Terharu mendengar suara Azan dan Solat, Sebahagian masuk Islam kerana minat kepada suara azan yang menyejukkan hati. Ada juga kerana kekhusyukan gerakan solat telah menarik minat bukan Islam untuk mengkaji dan mendalami Islam. Kadangkala ada juga yang bermimpi ataupun mendengar suara azan di tengah malam sedangkan orang lain tidak mendengarnya. Mereka mengambil semua ini sebagai petunjuk atau hidayah daripada Allah untuk menerima Islam f) Mendapatkan Status Bumiputera, Sebahagian orang masuk Islam dan berkahwin dengan bumiputera untuk mendapatkan status bumiputera. Sama juga seperti yang diamalkan di Sabah dan Sarawak, mereka berkahwin dan masuk agama bumiputera (kristian) semata-mata untuk mendapatkan status bumiputera. Ini tidak salah dari segi Islam tetapi yang menjadi masalah selepas mereka masuk Islam tidak ada yang membimbing mereka sehingga selepas mereka dapatkan apa yang dihajatkan maka tidak mengamalkan Islam bahkan mengetepikan Islam. Mereka beranggapan status bumi putera akan memberi keuntungan kepada diri dan anak-anaknya kelak.

g) Perniagaan, Ada juga yang masuk Islam untuk mendapatkan projek kerajaan sebab status Islam akan memudahkan mendapat kelulusan projek kerajaan. Sekiranya selepas pengislaman tidak ada yang membimbing secara berterusan maka mereka akan semakin jauh daripada Islam. Gunakan peluang tersebut untuk membimbing mereka supaya menjadi muslim yang baik. h) Memudahkan perceraian, Terdapat agama yang terlampau susah untuk menuntut cerai sungguhpun tidak ada lagi kesefahaman maka undang-undang di Malaysia sekiranya pasangan Islam mempunyai agama yang berbeza selepas tiga bulan maka perkahwinan terbatalkan. Oleh itu, pengislaman digunakan sebagai alasan untuk memisahkan daripada pasangan masing-masing. i) Dakwah, Sangat sedikit masuk islam kerana dakwah daripada muslim. Hanya sebahagian kecil masuk Islam kerana dakwah daripada muslim, ini membuktikan tidak ramai muslim yang melakukan dakwah kepada bukan Islam di Malaysia. Hampir tidak dijumpai mereka masuk islam kerana galakan daripada muslim sungguhpun mereka berkahwin dengan muslim bertahun-tahun dan tinggal serta makan bersama. j). Keharmonian kelaurga islam, Keharmonian yang ditunjukkan dalam kelaurga islam banyak menimbulkan minat bukan islam mengetahui apa yang menyebabkan mereka harmoni. Sungguhpun kelaurga Islam tidak mempunyai kekayaan yang melimpah tetapi mereka tetap harmoni. Jarang berlaku pertengkaran dalam keluarga muslim kalau adapun hanya sedikit keriuhan sahaja. Manakala keluarga bukan islam sungguhpun mempunyai kekayaan yang berlimpah tetap tidak harmoni dan sentiasa beralku pertengkaran di antara suami dan isteri k). Kebersihan, Apapun punca masuk Islam maka pergunakan peluang sebaik mungkin untuk membimbing mereka menjadi muslim yang baik. Jangan hanya pandai melihat dan menghukum sahaja, setiap muslim wajib membimbing muallaf sehingga menjadi muslim yang baik.

3.

Hakim, Mahkun bin/fih dan Mahkumalaikum serta hal-hal yang berhubungan dengannya

A. HAKIM Tidak ada perbedaan pendapat lagi, bahwa hakim, yaitu yang menetapkan hukum atau menetapkan baik buruknya perbuatan ialah Allah. Sebagaimana sudah diketahui, bahwa untuk membawa dan menyampaikan hukum atau syariat kepada manusia, maka Hakim (!llah) membangkitkan utusan-utusan (Rasul-rasulNya). Di sini timbul pertanyaan. Apakah sebelum dibangkitkan Rasul-rasul itu, dapat juga diketahui hukum atau syariat Tuhan itu? Dalam hal ini ada dua pendapat : a. Golongan !syariyah yang dipelopori oleh !bdul Hasan al !syari (lahir 874 M) berpendapat bahwa hukum-hukum Tuhan tersebut tidak dapat diketahui oleh akal semata-mata. Karena itu, perbuatan-perbuatan yang terjadi sebelum dibangkitkan Rasul-rasul Tuhan, tidak ada hukumnya. Umpamanya kufur tidak haram dan iman tidak wajib.

b. Golongan Mutazilah, yang dipelopori oleh Wasil bin !tha (700 749 M) berpendapat bahwa hukum dan syariat Tuhan sebelum dibangkitkan utusan-utusan Tuhan dapat diketahui oleh akal. Akal dapat mengetahui baik atau buruknya sesuatu perbuatan itu sendiri maupun karena sifatsifatnya. Berhubung dengan itu, orang mukallaf harus memperkuat kebajikan dan menjauhkan keburukan. Allah akan memberi balasan terhadapnya berdasarkan apa yang diketahui akalnya sebagaimana juga berdasar syariat yan dibawa utusan-utusan Tuhan. Kalau tidak demikian, maka orang-orang baik dan orang-orang jahat sama kedudukannya dan sama pula balasannya. Sedang pada tiap-tiap masa tentu terdapat orangorang baik dan orang jahat. B. MAHKUM FIH Yang dimaksud dengan mahkum fih, ialah perbuatan yang dihukumkan (perbuatan hukum). Perbuatan yang dihukumkan ada lima, sebab akibat dari bermacammacam isi dan maksud yang terkandung dalam firman Allah dan sabda nabi, di mana keduaduanya telah diterangkan dalam membicarakan dasar hukum. A. Wajib Perbuatan wajib, yaitu sesuatu perbuatan yang diberikan pahala bila dikerjakan, dan diberi siksa bila ditinggalkan. Wajib dibagi seperti berikut: 1. Dilihat dari tertentu atau tidaknya perbuatan yang diminta, wajib dapat dibagi dua: a. Wajib muayyan, yaitu yang telah ditentukan macam perbuatan seperti membaca surat fatihah dalam salat. b. Wajib mukayyar, yaitu yang boleh dipilih salah satu dari beberapa macam yang telah ditentukan. Sebagaimana dalam kifarat sumpah ada 3 macam, yaitu memberi makan 10 orang miskin atau memberi pakaian kepada 10 orang miskin atau membebaskan seorang budak. Disini boleh dipilih salah satu diantara ketiga macam hukum tersebut. 2. Dilihat dari segi waktu mengerjakannya, wajib dibagi dua pula: a. Wajib mudhayyaq : (yang disempitkan) atau miyar; Yakni waktu untuk melakukan puasa yang harus dikerjakan selama satu bulan itu. b. Wajib muwassa : (yang diluaskan waktunya) atau dzarf. Waktunya lebih banyak dari waktu yang dibutuhkan untuk menjalankan kewajiban, seperti waktu salat lima waktu. Dalam kewajiban muwassa, pekerjaan tersebut boleh dilakukan disembarang waktu dalam batas waktu yang telah ditentukan. 3. Dilihat dari segi siapa yang memperbuatnya, wajib dibagi juga: a. Wajib aini: yaitu perbuatan yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang mukallaf, seperti salat lima waktu. b. Wajib kifayah: yaitu perbuatan yang diwujudkan oleh salah seorang anggota masyarakat tanpa melihat siapa yang mengerjakannya. Apabila telah diperbuat, maka hilanglah tuntutan terhadap lainnya. Tetapi bila tak seorang pun yang melakukannya, maka semuanya berdosa, seperti mendirikan tempat peribadatan, rumah sakit, menyembahyangkan dan mengebumikan mayat. 4. Dilihat dari segi qadarnya (kwantitas), wajib dibagi dua: a. Wajib muhaddad: yaitu kewajiban yang ditentukan syara batas qadarnya (jumlahnya), seperti salat fardhu, zakat, kifarat, harga pembelian dan nilai-nilai, kewajiban macam ini kalau tidak dikerjakan pada waktunya, maka menjadi tanggungan kita selamanya, sehingga kita menunaikannya.

b. Wajib ghairu muhaddad: yaitu kewajiban yang tidak ditentukan syara batas qadarnya, seperti membelanjakan harta di jalan Tuhan, memberikan makan orang yang sedang kelaparan dan sebagainya. Adanya kewajiban-kewajiban tersebut adalah karena perintah syara tetapi tentang berapa jumlahnya tergantung kepada keadaan. Kewajiban yang semacam ini kalau tidak kita berikan secukupnya pada waktunya, maka tidak menjadi tanggungan atau hutang kita untuk memenuhi kekuranganya pada waktu berikutnya. Dalam waktu berikutnya ini kita sudah dihadapan dengan kewajiban yang lain. B. Mandub Perbuatan mandub (sunat) yaitu sesuatu perbuatan yang bila diperbuat mendapat pahala, tetapi bila ditinggalkan tidak dikenakan siksa. Mandub juga disebut sunat atau mustahab. Sunat dapat dibagi dua, yaitu: a. Sunat ain, ialah perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap orang, seperti salat sunat ratibah (salat sunat yang dikerjakan sebelum atau sesudah salat lima waktu). b. Sunat kifayah, ialah perbuatan yang dianjurkan untuk diperbuat, cukup oleh salah seorang golongan, seperti memberi salam, mendoakan orang-orang bersin. Demikian pula korban apabila sudah dikerjakan oleh salah seorang keluarga suatu rumah, maka sudah mencukupi bagi anggota keluarga lainnya. Selain pembagian tersebut di atas, ada pula pembagian lain yaitu: a. Sunat muakkadah, ialah perbuatan yang telah dikerjakan Rasul, atau lebih banyak dikerjakan dari pada tidak seperti salat hari raya. b. Sunat ghairu muakkadah, ialah segala rupa sunat yang tidak selalu dikerjakan oleh Rasulullah SAW. C. Haram Perbuatan haram, yaitu sesuatu perbuatan yang dilarang, bila ditinggalkan kan diberi pahala dan apabila diperbuat dikenakan siksa; seperti membunuh, mencuri, tidak memberi makan orang yang menjadi tanggungannya. Perbuatan ini juga dinamakan masiat dan perbuatan jahat (qabih). Larangan dibai dua: a. Larangan karena perbuatan itu sendiri (muharram lizatihi), seperti dalam contoh-contoh tersebut di atas. b. Larangan karena bertalian dengan perbuatan lain, seperti larangan jual beli itu sendiri tidak dilarang, akan tetapi karena dilakukan dalam waktu tersebut maka dilarang. Firman Allah, surat Al-Baqarah : 173:

Sesungguhnya Allah Hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqarah : 173) D. Makruh

Perbuatan makruh, yaitu suatu perbuatan yang terlarang, bila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila diperbuat tidak dikenakan siksa. Makruh dibagi tiga: a. Makruh tanzih: yaitu sesuatu perbuatan yang dirasakan meninggalkannya lebih baik daripada memperbuatnya. b. Tarkul-awla: yaitu meninggalkan yang lebih utama, seperti meninggalkan salat Dhuha. c. Makruh tahrim: yaitu sesuatu perbuatan yang dilarang tetapi dalilnya tidak pasti (qati = yakin) E. Mubah Perbuatan mubah, ialah sesuatu perbuatan yang bila diperbuat tidak diberi pahala dan bila ditinggalkan tidak dikenakan siksa. Mubah dinamakan halal dan jaiz. 1. Yang dinyatakan syara boleh memilih, seperti kalau suka, boleh memperbuat, kalau tidak suka, boleh meninggalkannya. 2. Yang tidak ada dalilnya dari syara yang dinyatakan boleh memilih, tetapi syara menyatakan tidak ada halangan (dosa) untuk memperbuatnya. 3. Yang tidak ada keterangan sesuatu apa dari syara; Hukumnya dikembalikan kepada baraah asliyyah, yakni tidak ada hukumnya.

C. MAHKUM ALAIHI Mahkum Alaihi ialah orang mukallaf, di mana perbuatannya menjadi tempat berlakunya hukum Allah dan firmanNya. (subjek hukum). Penjelasan : Allah berfirman : Dirikan salat. Perintah ini ditujukan kepada orang mukallaf yang dapat mengerjakan salat, bukan ditujukan kepada kanak-kanak atau orang yang sedang gila. Sebagai kebijaksanaan Allah, perintah dan larangan (taklif = pertanggung jawab, selanjutnya takilifi, selalu disesuaikan dengan kemampuan (ahliyyah) manusia. Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. Hak-hak Allah maupun hak-hak manusia, bagaimanapun juga macamnya, tidak dibebankan kecuali kepada orang yang mempunyai kemampuan. Karena itu, kemampuan ini menjadi dasar adanya taklif. Pembagian kemampuan Kemampuan dibagi dua: 1. Kemampuan menerima hak dan kewajiban (ahliyyah wujud selanjutnya kemampuan menerima). Yang dimaksud dengan kemampuan ini, ialah kepatuhan seorang untuk mempunyai hak dan kewajiban. a. Dasar kemampuan menerima Dasarnya ialah kemanusiaan. Selama kemanusiaan ada, yaitu selama masih hidup, maka kemampuan tersebut tetap dimiliki. b. Kemampuan menerima dibagi dua: 1) Kemampuan menerima tidak penuh, yaitu bagi bayi yang belum dilahirkan mengingat ia tidak mempunyai wujud tersendiri. Ia dapat menerima hak-hak yang tidak memerlukan penerimaan (qabul), seperti menerima waris, nasab dan lain-lain. Tetapi ia tidak mempunyai kewajiban terhadap orang lain. Kalau walinya memberikan sesuatu (bayi), maka yang terakhir ini tidak diwajibkan membayar dari hartanya, tetapi wali sendiri yang membayarnya. 2) Kemampuan menerima penuh, yaitu yang dimiliki seseorang sesudah dilahirkan. Ia dapat menerima hak-hak dan kewajibankewajiban sepenuhnya. Kemampuan ini dimiliki selama hidupnya. Meskipun ia kehilangan akal ataupun gila terus menerus. Yang dimasud dengan kewajiban yang dikenakan terhadap harta bendanya. Karena belum sempurna akal dan badannya, maka walinya yang melaksanakan.

2. Kemampuan berbuat (ahliyyah adaa) Yang dimaksud dengan kemampuan berbuat, ialah keputusan seseorang untuk dipandang sah kata-kata dan perbuatannya dari sudut syara, baik yang berhubungan dengan hak-hak Allah maupun hak-hak manusia. Kalau ia berpuasa (perbuatan), puasa ini sah, dan ia terkait dengan kewajibakewajiba yang timbul dari perbuatan tersebut. a. Dasar kemampuan berbuat: Dasarnya ialah berakal, artinya karena seseorang sudah berakal maka ia diberi, kemampuan berbuat; Tetapi karena berakal adalah sesuatu yang tidak nampak jelas, maka kedewasaan (bulugh) yang dijadikan ukurannya, yang dapat diketahui dari tanda-tanda yang biasa dikenal atau dari umurnya, kurang lebih 15 tahun. b. Kemampuan dibagi dua: 1) Kemampuan berbuat tidak penuh, yaitu bagi kanak-kanak yang sudah tamyiz, yang dapat mengetahui baik atau buruknyasuatu perbuatan, berguna atau tidaknya, tetapi pengetahuan tersebut belum kuat. 2) Kemampuan berbuat yang penuh, yaitu bagi orang-orang yang sudah dewasa. Adapun kanak-kanak sebelum tamyiz tidak mempunyai kemampuan berbuat sama sekali. Demikian juga yang masih dalam kandungan.

4. 5.

Pembagian hukum syari, Wadhi (syarat, sebab, mani, azimah, batal dan ruhsah) Taklifi, haram, wajib, sunah, makruh dan jaiz, dan perbedaan wadhi dan taklifi Hukum Taklifi Hukum taklifi menurut pengertian kebahasaan adalah hukum pemberian bebansedangkan menurut istilah adalah perintah Allah yang berbentuk pilihan dan tuntutan. Dinamakan hukum taklifi karena perintah ini langsung mengenai perbuatan seorang mukallaf(balig dan berakal sehat). Disebutkan tuntutan karena hukum taklifi menuntut seorang mukallaf untuk melakukan dan meninggalkan suatu perbuatan secara pasti. misalnya firman Allah SWT dalam Al-Quran surah AlBaqarah, 2:110. Artinya: Dan dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat.(Q.S. AlBaqarah,2:110) Tuntutan Allah SWT untuk meninggalkan suatu perbuatan, misalnya firman Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-Isra, 17:33. Artinya: Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan sesuatu alasan yang benar.(Q.S. Al-Isra,17:33) Tuntutan Allah SWT mengandung pilihan untuk melakukan suatu perbuatan atau meninggalkannya, Wajib, yaitu : Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan mendapatkan siksa. Seperti shalat fardhu, puasa ramadhan, mengeluarkan zakat, haji dan lainnya. Wajib ini menunjukkan perintah yang tetap. Sunnah, yakni : Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak mendapat siksa. Seperti shalat tahiyyatul masjid, shalat dhuha, puasa senin-kamis dan lainnya. Sunnah ini menunjukkan perintah yang tidak tetap. Haram, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala dan apabila dikerjakan mendapat siksa. Seperti minum arak, berbuat zina, mencuri, dan lain sebagainya. Haram ini menunjukkan larangan yang tetap. Makruh, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila ditinggalkan mendapat pahala, dan apabila dikerjakan tidak mendapat siksa. Seperti mendahulukan yang kiri atas kanan saat membasuh anggota badan dalam wudhu. makruh ini menunjukkan larangan yang tidak tetap. Mubah, yaitu ; Suatu perbuatan yang apabila dikerjakan atau ditinggalkan sama saja tidak mendapat pahala atau siksa. Seperti makan, minum. Mubah ini tidak menunjukkan perintah yang tetap atau yang tidak tetap. dan tidak menunjukkan larangan tetap atau laraangan tidak tetap.(zid)

B. Hukum Wadhi Hukum wadhi merupakan perintah Allah yang berbentuk ketentuan yang ditetapkan Allah, tidak langsung mengatur pebuatan mukallaf, tetapi berkaitan dengan perbuatan mukallaf itu, dengan kata lain Hukum wadi adalah hukum yang menjadikan sesuatu sebagai sebab bagi adanya sesuatu yang lain atau sebagai syarat bagi sesuatu yang lain. Bisa juga diartikan hukum wadhi adalah hukum yang menjelaskan hukum taklifi atau yang menjadi akibat dari pelaksanaan hukum taklifi.

[1] Amir syrifuddin,Ushul fiqh,Jakarta:fajar interpratama offset. hal 333 [2] Amir syarifuddin,Ushul fiqh,Jakarta:Fajar interpratama offset. Hal 356 [3] Amir syrifuddin,Ushul fiqh,Jakarta:fajar interpratama offset hal 363. [4] (Badaruddin Az-Zarkasyi, Al-Bahrul Muhit, jilid 1, 1994).

6.

Bagaimana peran usul fiqh dalam melahirkan hukum-hukum Islam

Kedudukan Fiqih berada di bawah al Quran dn Hadits di dalam penentuan hukumIslam. Materi yang ada di dalam Fiqih di ambil dari al Quranul Karim dan haditsNabi (sabda-sabda dan perbuatan Rasulullah saw yang menjelaskan al Quran dan menerangkan maksudnya atau biasa disebut dengan as Sunnah). Disamping itu materi dari ilmu Fiqih juga berasal dari pendapat para Fuqaha. Pendapat-pendapat itu meskipun bersandar kepada al Quran dan as Sunnahnamun merupakan hasil pemikiran yang telah terpengaruh yang berbeda-beda sesuai dengan masa yang dialami dan pembawaan-pembawaan jiwa (naluri) bagi setiap faqih. Fiqih dalam Islam sangat penting fungsinya karena ia menuntun manusia kepada kebaikan dan bertakwa kepada Allah SWT. Setiap saat manusia itu mencari atau mempelajari keutamaan fiqih, karena fiqih menunjukkan kita kepada sunnah RasulullahSAW serta memelihara manusia dari bahaya-bahaya kehidupan. Beberapa diantara kegunaan ilmu fiqih adalah : 1. Untuk mencari kebiasaan faham dan mengerti pengertian dari agama Islam. 2. Untuk mempelajari hukum-hukum Islam yang berhubungan dengan kehidupan manusia. 3. Sebagai kaum muslimin kita harus bertafaqquh, artinya memperdalam pengetahuan dalam hukum-hukum agama baik dalam bidang aqidah dan akhlak maupun dalam bidang ibadah maupun muamalat. Jelasnya, tujuan mempelajari ilmu fiqih adalah menerapkan hukum syara pada setiap perkataan dan perbuatan mukallaf, karena itu ketentuan-ketentuan fiqih yang dipergunakan untuk memutuskan segala perkara dan yang menjadi dasar fatwa. Seorang yang mengetahui dan mengamalkan fiqih akan dapat menjaga diri dari kecemaran dan lebih takut dan disegani oleh musuhnya. Peranan dan kedudukan Fiqh adalah menerapkan Hukum Islam, terhadap seluruh tindakan maupun perbuatan, perkataan, tindakk-tanduk dan sebagainya; berdasarkan AlQuran dan Sunnah Rasul-Nya. Peranan ushul fiqh menyiapkan kaidah-kaidah dengan mempergunakan dalil-dalil yang terinci yang diperlukan dalam menetapkan hukum syara. Ringkasnya bahwa peranan Ushul Fiqh itu adalah kaidah-kaidah yang diperguanakan mengistimbathkan hukum dan dalildalil yang terinci dan kuat.

Target yang hendak dicapai oleh ushul fiqih ialah tercapainya kemampuan seorang untuk mengetahui hukum syara yang bersifat furu dan kemampuannya untuk mengetahui metodeistinbath hukum dari dalil-dalilnya dengan jalan yang benar. Dengan demikian, orang yang mengistinbath hukum dapat terhindar dari kekeliruan. Dengan mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan dalam ilmu ushul fiqih berarti, seorang mujtahid dalam ber-ijtihad-nya berpegang pada kaidah-kaidah yang benar. Target studi fiqih bagi mujtahid ialah agar ia mampu meng-istinbath hukum yang ia hadapi dan terhindar dari kekeliruan. Sebaliknya, bagi nonmujtahid yang mempelajari Fiqih Islam, target ushul fiqih itu ialah agar ia dapat mengetahui metode ijtihad imam mazhab dalam meng-istinbath hukum sehingga ia dapat men-tarjih dan mentakhrij pendapat madzhab tersebut. Tujuan yang hendak dicapai dari ilmu Ushul al-Fiqh adalah untuk dapat menerapkan kaidah-kaidah terhadap dalil-dail syara' yang terinci agar sampai kepada hukum-hukum syara' yang bersifat amali, yang ditunjuk oleh dalil-dalil itu. Dengan kaidah ushul serta bahasannya itu dapat dipahami nash-nash syara' dan hukum yang terkandung di dalamnya. 7. Pengertian kaidah Fiqh dan kaidah usul fiqh serta contohnya masing-masing;

Kaidah fiqh adalah salah satu metode pengambilan hukum yang di rancang sebagai landasan filosofi dari semua rumusan hukum yang di lakukan para ulamadi manapun mereka berada, sehinga setiap ulama yang menguasai dan mendalami kaidah-kaidah fiqh akan mendapati kemudahan di dalam menjalani ketentuan-ketentuan yang di tetapkan Alloh di muka bumi ini serta mampu memberikan solusi dan inovasi-inivasi baru bagi masyarakat dalam menjawab setiap perubahan dan tantangan yang ada. Lantas sudahkah ulama-ulama kita serta para santri -sebagai penerus para ulama- secara intens mendalami ilmu ini? Kalau jawapanya ya lantas mengapa keadaan masyarakat kita masih seperti ini. Penulis pikir pertanyaan ini tidaklah penting untuk dijawab, karena dengan melihat kondisi masyarakatindonesia saat ini kita bisa menyimpulkan sendiri jawabanya, akan tetapi yang sangat diperlukan saat ini adalah adanya tindakan konkrit bagi para ulama serta kita sebagai santri sebagai penangung jawab dari kontrol moral masyarakat, untuk melakukan sebuah gerakan bermazdhab secara manhaji. Salah satu langkah awal dari keseriusan kita dalam permasalahan ini adalah dengan mendalami kaidah fiqh Contoh: Keluar dari perbedaan (menjaga agar perbedaan pendapat tidak terlalu tajam ) adalah sunnah Kaidah ini memotivasi umat islam agar selalu menjaga persatuan dan mencari solusi dari setiap perbedaan yang ada, walaupun sebenarnya perbedaan itu adalah sunnatulloh. Kaidah ini juga menekankan kepada kita agar selalu berhati-hati dalam menyikapi segala perbedaan yang ada. pengertian khilaf(perbedaan) adalah ketidaksamaan dalam memahami sesuatu, tetapi masih mengacu pada satu pokok, sebagaimana perbedaan dikalangan pemikir islam.

Ushul fiqh adalah Pengetahuan mengenai kaidah-kaidah atau dalil umum untuk melakukan istimbath (penggalian hukum). Jadi sasarannya adalah membahas dan membuat kaidah, bukan membahas rincian hukum atau menyimpulkan hukum dari dalil-dalil Alquran dan hadits. Pembahasan mengenai rincian hukum dan pemahaman dalil-dalil rinci Alquran hadits adalah tugas fiqh.Ushul fiqh hanya membahas kaidah-kaidah umumnya saja sehingga tugasushuliyyin hanyalah membuat dan meneliti kaidah ushul. Contoh: Ulama ushuliyyin (ahli ushul fiqh) menyatakan sebuah kaidah ushul: Perintah pada dasarnya berarti wajib Ketika para ahli fiqh (fukaha) mengkaji surat al-Isra ayat 78: )87 ( Dirikanlah shalat ketika matahari tergelincir sampai terbenamnya mega merah dan (dirikan) shalat saat munculnya fajar. Sesungguhnya fajar itu dapat terlihat. Terlihat bahwa perintah tersebut tidak disertai hal-hal yang membuatnya berarti lain selain perintah shalat pada waktu-waktu tertentu. Berdasarkan akidah ushuldi atas, perintah tersebut bermakna wajib. Karena itu, ahli fikih memutuskan bahwa perintah shalat pada waktu tertentu bermaksa wajib. Itu berarti ahli fiqhmenggunakan kaidah-kaidah yang dikaji dan dirumuskan ahli ushul untuk melakukan penggalian hukum dari Alquran.

Sumber Terkait Kaidah Ushul Fiqih: Syaikh Zakariya bin Ghulam Qadir Al Bakistani, 2002M-1423H,Ushul Al Fiqh Ala Manhaj Ahli Al Hadits, Darul Kharaz Imam As Suyuthi, Al Asybah wan Nazhair, 1991M-1411H, Darul Kutub Al Ilmiyah. Imam Tajuddin As Subki, Al Asybah wan Nazhair, Cet. 1, Syaikh Walid bin Rasyid bin Abdul Aziz bin Suaidan, Tadzkir Al Fuhul bitarjihat Masail Al Ushul, Imam Izzuddin bin Abdussalam, Qawaid Al Ahkam fi Mashalihil Anam.

FIQH MODERN 1. Fiqh modern, pengertian fiqh modern, beda dengan fiq klasik (masa lalu), batasnya serta ciri-cirinya;

Fiqh menurut bahasa adalah mengetahui sesuatu dengan mengerti. Adapun fiqh menurut istilah adalah ilmu tentang hokum syara yang bersifat amali diambil dari dalil-dalil yang tafsili. Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian kontemporer berarti sewaktu, semasa, pada waktu atau masa yang sama, pada masa kini,dewasa ini. Jadi dapat disimpulkan bahwa fiqh kontemporer adalah tentang perkembangan pemikiran fiqh dewasa ini. Dalam hal ini yang menjadi titik acuan adalah bagaimana tanggapan dan metodologi hukum islam dalam memberikan jawaban terhadap masalah-masalah kontemporer. Adapun yang melatarbelakangi munculnya isu Fiqh kontemporer yaitu akibat adanya arus modernisasi yang meliputi hampir sebagian besar Negara- Negara yang dihuni oleh mayoritas umat islam. Dengan adanya arus moderenisasi tersebut, mengakibatkan munculya berbagai macam perubahan dalam tataan sosial umat islam, baik yang menyangkut ideologi, politik, sosial, budaya dan sebagainya. Berbagai perubahan tersebut seakan-seakan cenderung menjauhkan umat dari nilai-nilai agama. Perkembangan kehidupan manusia selalu berjalan sesuai dengan ruang dan waktu, dan ilmu fiqh adalah ilmu yang selalu berkembang karena tuntutan kehidupan zaman. Fiqh adalah ilmu yang sangat penting bagi kehidupan umat islam. Dengan semakin berkembangnya arus informasi dan jaringan komunikasi dunia, terjadi pulalah apa yang disebut dengan proses modernisasi. Modernisasi tersebut melahirkan berbagai macam bentuk perubahan baik secara struktural maupun kultural. Perubahan struktural berarti perubahan yang hanya meliputi struktur sosial belaka, yakni jalinan dan hubungan satu sama lain dari keseluruhan unsur sosial. Unsure-unsur sosial yang pokok adalah kaidah-kaidah, lembaga-lembaga, kelompok-kelompok dan lapisan sosial. Sedangkan perubahan secara kultural lebih bersifat ideologis atau immaterial yakni perubahan nilai-nilai, pemikiran dan sebagainya. Dalam era modernisasi dewasa ini, salah satu aspek pemikiran yang turut mengalami tuntutan perubahan adalah di bidang hukum islam. Mengingat hukum islam merupakan salah satu bagian ajaran agama yang terpenting, maka perlu ditegaskan di sini aspek mana yang mengalami perubahan dalam kaitannya dengan hokum islam tersebut. Karena agama dalam pengertiannnya sebagai wahyu Tuhan tidak akan berubah, tetapi tentang pemikiran manusia tentang ajarannya, terutama dalam hubungan dengan penerapannya di dalam dan di tengah-tengah masyarakat yang selalu berubah. Berdasarkan hal tersebut di atas, bahwa perubahan yang dimaksud bukanlah perubahan secara tekstual tetapi secara kontekstual. Teks Al-Quran tentunya tidak mengalai perubahan, tetapai pemahaman dan penerapannya dapat disesuaikan dengan konteks perkembangan zaman. Karena perubanhan sosial merupakan suatu proses kemasyarakatan yang berjalan secara terus menerus, maka perubahan penerapan dan pemahaman ajaran islam juga harus bersifat kontinu sepanjang zaman. Dengan demikian ialam akan tetap relevan dan actual, serta mampu menjawab tantangan modernitas.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan sosial secara umum ada dua macam. Ada yang terletak di dalam masyarakat (factor intern) seperti bertambah dan berkurangnya jumlah penduduk, adanya penemuan-penemuan baru, terjadinya pertentangna atau konflik dalam masyarakatdan timbulnya pemberontakan atau revolusi di dalam masyaakat itu sendiri. Dan ada pula yang bersumber dan sebagai pengaruh dari masyarakat lain (factor ekstern) seperti terjadinya peperangan dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain. Pengaruh-pengaruh unsur perubahan di atas dapat menimbulkan peruhan dalam system pemikiran islam termasuk pembaharuan dalam hokum islam. Dengan demikian hokum islam akan tetap mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan tuntutan zaman (modenitas). Tanpa adanya upaya pembaharuan pemikiran dimaksud tentu akan menimbulkan kesulitan dalam kemasyarakatan hkum sebagai salah satu pilar masyarakat, sedangkan kehidupan masyarakat itu sendiri senantiasa mengalami perkembangan, maka upaya pembaharuan pemahaman hokum islam pun harus dapat mengikuti perubahan itu. Ruang Lingkup Kajian Fiqh Kontemporer Ruang lingkup fiqh kontemporer mencakup masalah-masalah fiqh yang berhubungan dengan situasi kontemporer (modern). Kajian fiqh kontemporer mencakup masalah-masalah fiqh yang berhubungan dengan situasi kontemporer (modern) dan mencakup wilayah kajian dalam Al-Quran dan Hadits. Kajian fiqh kontemporer tersebut dapat dikategorikan ke dalam beberapa aspek : 1. Aspek hukum keluarga, seperti ; akad nikah melalui telepon, penggunaan alat kontra sepsi, dan lain-lain. 2. Aspek ekonomi, seperti ; system bunga dalam bank, zakat profesi, asuransi, dan lainlain. 3. Aspek pidana , seperti ; huku pidana islam dalam sistem hukum nasional 4. Aspek kewanitaan seperti, ; busana muslimah (jilbab), wanita karir, kepemimpinan wanita, dan lain-lain. 5. Aspek medis, seperti ; pencangkokan organ tubuh atau bagian organ tubuh, pembedahan mayat, euthanasia, ramalan genetika, cloning, penyebrangan jenis kelamin dari pria ke wanita atau sebaliknya, bayi tabung, percobaan-percobaan dengan tubuh manusia dan lain-lain. 6. Aspek teknologi, seperti ; menyembelih hewan secara mekanis, seruan adzan atau ikrar basmalah dengan kaset, makmum kepada radio atau televisi, dan lain-lain. 7. Aspek politik (kenegaraan), seperti ; yakni perdebatan tentang perdebatan sekitar istilah Negara islam, proses pemilihan pemimpin, loyalitas kepada penguasa (kekuasaan), dan lain sebagainya. 8. Aspek yang berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, seperti ; tayammum dengan selain tanah (debu), ibadah kurban dengan uang, menahan haid karena demi ibadah haji, dan lain sebagainya. Adapun mengenai kajian yang berkenaan dengan Al-Quran dan hadits yang erat hubungnnya dengan fiqh kontemporer, antara lain adalah masalahmetodologi pemahaman hokum islam (ushul fiqh), persoalan histories dan sosiologis ayat-ayat Al-Quran maupun hadits Nabi, kajian tentang maqaashidut-tasyri (tujuan hokum), keterbukaan kembali pintu

ijtihad, soal kemaslahatan umum, adapt istiadat mayarakat yang berlaku, tentang teori nasakh dan teori ellat hokum, tentang ijma dan lain-lain. Kajian hokum fiqh kontemporer tidak terlepas dari aspek material dan formalnya hokum islam, serta mana yang permanent dalam hokum islam (tasyriiyyah) dan mana yang bersifat relatif (berubah) atau ghairu-tasyri.

2.

Islam meliputi atas konsep fitrah (butuh), rasional (pas/sesuai akal pikiran), sistematis (saling terkait), berurutan, berantai dan praktis (sesuai dengan kebutuhan manusia)

Fitrah Kata fitrah berasal dari kata (fiil) fathara yang berarti menjadikan secara etimologi fitrah berarti kejadian asli,agama, ciptaan, sifat semula jadi, potensi dasar, dan kesucian lalu ada beberapa definisi yang menerangkan tentang masalah fitrah yaitu sebagai berikut : 1. Menurut ibn al-Qayyim dan ibn al-Katsir, karena fatir artinya menciptakan, maka fitrah artinya keadaan yang dihasilkan dari penciptaannya itu 2. Menurut hadist yang diriwayatkan oleh ibnu Abbas, fitrah adalah awal mula penciptaan manusia. Sebab lafadz fitrah tidak pernah dikemukakan oleh al-Quran dalam konteksnya selain dengan manusia 3. Dalam kamus Al Munjid yaitu kamus bahasa arab terluas kata fitrah diartikan atau di definisikan sebagai sunnah, kejadian, tabiat. 4. Menurut Syahminan Zain (1986 : 5), bahwa fitrah adalah potensi laten atau suatu kekuatan yang terpendam yang ada dalam diri manusia, yang dibawanya sejak lahir dan itu semua di miliki oleh setiap manusia Dari berbagai pendapat para ulama bisa di simpulkan bahwa fitrah adalah suatu kemampuan manusia yang di berikan oleh Allah Swt sejak manusia di lahirkan ke dunia dan itu adalah anugrah. Rasional Rasional menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya menurut pikiran dan pertimbangan dengan alasan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal; sesuai dengan akal sehat. Atau sederhananya rasional itu logis atau masuk akal menurut Tesaurus Bahasa Indonesia. Setidaknya ada dua konsep yang dimaksud dengan Islam sebagai agama yang rasional. Pertama, konsep yang biasa beredar di masyarakat. Menurut pengertian ini, yang dimaksud Islam agama rasional adalah Islam memiliki pembenaran rasional atas aturan-aturannya bahkan aqidahnya. Yang kedua, Islam merupakan agama yang rasional karena dasar-dasarnya dibangun atas hujjah-hujjah yang dapat dibuktikan secara rasional. Dengan konsep ini, hal-hal yang kadang dianggap irasional sebenarnya rasional secara logika. Misalnya kisah terbakarnya nabi Ibrahim. Orang-orang yang salah dalam memegang konsep pertama berupa mencari tawil apa maksudnya nabi Ibrahim terbakar. Bagi mereka

kepercayaan bahwa nabi Ibrahim dibakar itu irasional karena mustahil manusia yang dibakar masih bisa hidup. Sedangkan bagi yang memegang konsep kedua, yang diperlukan hanyalah mengecek apakah cerita ini berasal dari sumber yang otentik dan punya otoritas. Bila ya, tentu harus dipercaya. Bila ditinjau lebih dalam, sikap kedua ini malah lebih rasional. Bukankah menolak selamatnya nabi Ibrahim setelah dibakar malah mengecilkan kemahakuasaan tuhan? Taqiyuddin an Nabhani menulis Iman seperti ini, walaupun diperoleh dengan jalan mengutip (naql) dan mendengar (sama), akan tetapi pada hakekatnya merupakan iman yang aqli (rasional, pen) juga. Sebab, dasarnya (al Quran atau as sunnah, pen) telah dibuktikan oleh akal. Sistematis Teori pemikiran sistematis dalam Islam adalah sebuah teori moderat yang dikemukakan dalam rangka menunjukkan berbagai sistem islami dalam aneka ragam bidang yang hingga kini telah beredar. Islam sebagai sebuah agama sistematis inklusif merupakan seperangkat realitas dan ideal saling terkait yang mencakup seluruh segi fikiran, tindakan, keyakinan, praktik, pemikiran, perkataan, dan perbuatan manusia. Prinsip-prinsip Islam tidak dapat dipahami dengan jelas dan tepat tanpa menganalisa dan mengetahui konsep dan prinsip dalam kerangka pemikiran Islam secara menyeluruh. Praktis Islam itu komplit dan mengatur segala macam hal yang berkaitan dengan kaum muslim. Dari yang kecil sampai yang besar. Islam mengatur akidah, akhlak dan ibadah, juga mengatur sistem pemerintahan, sistem hukum, sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan pertanian. Nah kata kunci dari itu semua adalah satu; ideologi. Begitulah Islam yang praktis dan aplikatif. Islam sebagai sebuah Ideologi. Jika kita mempelajari Islam sebagai ideologi maka Islam menjadi sangat aplikatif dalam menjawab segala macam problematika manusia. Namun syaratnya adalah semua komponen Islam itu harus ada, maka akan tampak Islam sebagai solusi. Islam tidak boleh hanya memiliki fikrah (konsep) saja, tapi harus ada thariqah (metode penerapan) yang jelas. Kalau Islam dipelajari sebagai teori belaka tanpa ada aplikasi, maka bukan solusi yang muncul tapi masalah baru yang akan timbul. Begitulah faktanya, Islam adalah sebuah ideologi. Namun sayangnya sekarang ideologi yang agung ini tak bisa diterapkan secara sempurna sebagaimana perintah Allah dalam QS. AlBaqarah ayat 208. Karena tidak ada negara yang mau menerapkannya. Akibatnya banyak hukum-hukum Islam yang tak terpakai. Padahal Allah menurunkan semuanya untuk dilaksanakan, bukan hanya menjadi sebatas teori yang dipelajari namun tak diterapkan secara utuh. Sungguh kita akan ditanya tentang hal ini, maka apa jawaban kita kepada Tuhan kita kelak? Oleh sebab itu, berdasarkan kaidah ushul fiqh; maa la yatimmu al-wajibu illa bihi, fahuwa wajib (jika sebuah kewajiban tak sempurna dengan adanya sesuatu, maka sesuatu itu menjadi

wajib). Maka wajib bagi kita berjuang mewujudkan keberadaan negara yang akan menerapkan Islam secara utuh. Karena banyak kewajiban ummat islam yang tak bisa dilaksanakan tanpa adanya negara yang mau menerapkannya. Jika negara kita hari ini belum mau menerapkan Syariah Islam secara utuh, maka kewajiban kita untuk menuntut penerapan Islam secara utuh dan menyeluruh, bukan setengah-setengah seperti sekarang. Bagaimana caranya? Kita bisa berdiskusi lebih lanjut.

3.

Pemahaman konsep rizki (kaya miskin), bahagia (prosesnya, usaha mukallaf, tiba pada keadaannya, takdir), celaka (prosesnya, usaha mukallaf, tiba pada keadaannya, takdir) dan Maut dalam Islam (proses maut, menuju maut, penyebab, pandangan syara);

Hakikat Rezeki Dalam Islam Mengenai hakikat rizki harus difahami berdasarkan realitas makna lafaz dan syaranya, baik yang diambil berdasarkan pengertian bahasa maupun syara. Lafadz ar-Rizq, dalam bahasa Arab berasal dari Razaqa-Yarzuqu-Rizq yang berarti: Atha-YuthiItha(pemberian).

Jadi, secara etimologis ar-Rizq berarti pemberian. Adapun menurut terminologis/istilah,"rizki adalah Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) oleh makhluk, baik yang bisa dimanfaatkan atau tidak." Definisi Apa saja yang bisa dikuasai (diperoleh) meliputi semua bentuk rizki; Halal & Haram positif & Negatif Sehat & Sakit Cerdas & Tidak cerdas Cantik & Jelek, dan sebagainya

Semuanya merupakan rizki. Definisi ini menjelaskan, bahwa rizki berbeda dengan hak milik. Sebab, hak milik selalu memperhatikan cara, yaitu syari atau ghayr syari; Jika caranya syari, maka hak miliknya halal , Jika ghayr syari, maka hak miliknya tidak halal.

Tetapi, dua-duanya tetap disebut rizki. Definisi ini juga meliputi rizki yang diperoleh secara mutlak, baik tanpa usaha, seperti pemberian, waris, diyat, ataupun karena usaha, seperti bekerja, menjadi broker, atau yang lain, termasuk kerja yang diharamkan, seperti mencuri, merampok dan sebagainya. Semuanya ini bisa mendatangkan rizki meskipun kemudian ada yang halal dan haram.

Mengenai definisi "baik yang bisa dimanfaatkan maupun tidak meliputi semua bentuk rizki, baik yang positif maupun yang negatif, sekaligus menafikan rizki yang dianggap hanya sesuatu yang bisa dimanfaatkan saja. Inilah makna pemikiran mengenai rizki, yaitu apa saja yang diberikan Allah SWT yang diperoleh oleh manusia. Sekarang kita bicara dalil. Dalam al-Qur'an, Allah SWT juga dinyatakan sebagai sebab bagi rizki manusia. Allah SWT. Berfirman Dan di langit ada (sebab-sebab) rizki kamu, juga apa saja yang telah dijanjikan kepada kalian. Maka, demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benarbenar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (Q.s. Adh-Dhriyt; 22-23). Belum pernah ada satu ayat pun yang menggunakan takd (penegasan) yang sedemikian kuat melebihi ayat rizki ini. Pertama, penegasan kebenaran, bahwa rizki di tangan Allah (di langit) dan sebabnya hanya Allah, dengan menggunakan qasam (sumpah), yaitu Wa Rabbi asSami Wa al-Ardh (demi Tuhan langit dan bumi). Kedua, penegasan dengan menggunakan huruf takd, yaitu Innahu, yang berarti sesungguhnya rizki. Ketiga, penegasan yang menggunakan huruf lam at-takd, yaitu Lahaqqun, yang artinya benar-benar akan terjadi. Keempat, penegasan dengan menggunakan huruf takd, yaitu Innakum, yang artinya sesungguhnya kamu. Kelima, penegasan dengan menggunakan lafadz: Tanthiqn (kamu berbicara) dan bukan yang lain, yaitu antara lafadz: Tanthiqn dengan Rizq disatukan dalam satu konteks kalimat, yang menunjukkan bahwa antara rizki dengan bicara tersebut mempunyai tempat yang sama, yang sekaligus menunjukkan hubungan antara rizki dengan mulut. Ini artinya, bahwa Kalian tidak bisa berbicara dengan menggunakan mulut orang lain, selain mulut kalian sendiri, maka kalian juga tidak bisa memakan rizki orang lain, selain rizki kalian sendiri. Karena itu, setiap makhluk yang diberikan kehidupan oleh Allah pasti telah Dia tetapkan rizkinya, sebagaimana yang dijelaskan olehAllah SWT.: Dan tidak ada satupun hewan melata di muka bumi ini, kecuali rizkinya telah ditetapkan oleh Allah. Dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh) (Q.s. Hd: 6).

Ayat ini secara tegas memaparkan, bahwa tidak satu pun makhluk yang diberi kehidupan oleh Allah, kemudian dibiarkan hidup tanpa jaminan rizki dari-Nya. Sebab, siapakah yang menjamin rezki manusia? Tentu bukan manusia, sebaliknya Allah. Maka, ketika ada orang tua yang takut keturunannya lahir tanpa jaminan rizki, kemudian mereka membunuh keturunannya karena takut akan kelaparan, dengan tegas ketakutan tersebut dibantah oleh Allah: Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. (Q.s. Al-Isr: 31). ...Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan juga kepada mereka... (Q.s. Al-Anm: 151). Melalui ayat ini, Allah SWT. ingin menjelaskan, bahwa rizki itu tidak bisa dihitung dengan angka matematika. Maka, ketika seseorang mempunyai gaji Rp.2,000,000 (dua juta rupiah) dimakan seorang, akan berubah komposisinya ketika masih single, dengan ketika telah menikah, dimana angka di atas sebelumnya dibagi satu, menjadi dua, suami-isteri, dan jika mempunyai satu anak, akan berkurang lagi menjadi Rp. 666,000 per orang. Akhirnya muncul ketakutan dan rasa takut, karena jumlahnya berkurang. Akibatnya muncul rasa takut menikah, mempunyai anak dan ketakutan-ketakutan yang lain. Inilah yang dibantah oleh Allah SWT. seakan ingin menyatakan: Bukan kamu yang menjamin rizki mereka, melainkan Akulah Yang menjamin rizki mereka, juga rizki kamu.Inilah yang dijanjikan oleh Allah SWT. Jaminan rizki tersebut telah diberikan oleh Allah SWT. melalui orang tuanya atau melalui orang lain. Ayat-ayat dan makna pemikiran rizki di atas memberikan gambaran, bahwa rizki di tangan Allah adalah pemikiran yang menjadi keyakinan dan wajib dimiliki oleh setiap orang Islam. Karena pemikiran tersebut memang nyata adanya dan tidak kontradiksi dengan realitasnya. Orang yang mengingkarinya bisa jatuh kepada kekufuran. Keyakinan mengenai rizki di tangan Allah tersebut meliputi keyakinan mengenai segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT. baik pemberian dalam bentuk materi, maupun non materi; baik berupa gaji ataupun bukan. Karena itu, bisa saja gaji seseorang kecil, tetapi rizkinya besar. Dengan demikian, rizki tidak tergantung pada jabatan dan kedudukan, dan tidak tergantung pada akal, ilmu ataupun yang lain. Karena Allah telah memberikan rizki tersebut secara mutlak kepada siapapun. Tepat sekali ungkapan penyair yang menyatakan: Kalaulah rizki tergantung pada akal, Tentu binatang-binatang telah binasa karena kebodohannya. Jadi, rizki tersebut semuanya tergantung pada irdah dan masyah Allah SWT. saja, tetapi bukan berarti menafikan usaha manusia. Sebab, makna pemikiran rizki di tangan Allah adalah masalah keyakinan yang wajib dimiliki oleh setiap muslim. Sedangkan masalah usaha agar rizki di tangan Allah tersebut sampai kepada manusia, adalah masalah hukum syara. Dan ini merupakan dua wilayah yang berbeda. Yaitu, wilayah hati dan fisik. Karena itulah,

maka usaha untuk memperoleh rizki hukumnya adalah wajib bagi setiap muslim. Allah SWT. berfirman: Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah di muka bumi dan carilah anugerah Allah. (Q.s Al Jumuah: 10) Meskipun usaha merupakan kewajiban bagi tiap muslim untuk mendapatkan rizki agar sampai kepadanya, tetapi usaha ini bukanlah sebab yang memastikan datangnya rizki. Usaha hanyalah faktor-faktor kondisional (al-hlah) yang harus diusahakan agar rizki di tangan Allah tersebut datang. Artinya, jika seseorang bekerja, belum tentu mendapatkan rizki. Jika demikian, siapa yang menjadi sebab rizki? Tentu hanya Allah SWT. Firman Allah SWT.: Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rizki kalian, dan terdapat apa yang telah dijanjikan kepada kalian. (Q.s. Adh-Dhriyt: 22). Sebahagian ulama ada yang mengaitkan sebab rizki tersebut dengan tawakkal kepada Allah SWT. Ini artinya, bahwa sebab rizki ini adalah Allah SWT. Karena itu yang menentukan banyak dan sedikitnya rizki adalah keyakinan seseorang kepada Allah sebagai ar-Razzq (Maha Pemberi Rizki), sebagaimana yang dinyatakan oleh hadits Nabi saw.: Jika kalian bertawakkal dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagaimana Dia telah memberi rizki kepada burung yang berangkat (pagi) dengan perut kosong, dan pulang dengan (perut) kenyang. (H.r. AtTirmidzi dan Ahmad).

Jadi, meskipun rizki tersebut ditentukan oleh Allah, dan usaha manusia tidak mempengaruhi besar dan kecilnya rizki, tetapi usaha tetap merupakan faktor yang menentukan halal dan haramnya rizki yang diberikan oleh Allah SWT. Karena itu, mengapa ada perbedaan antara rizki dengan pemilikan rizki. Setiap muslim wajib berusaha mencari rizki dengan usaha yang bisa mengantarkannya pada hasil yang halal. Meskipun hakikat rizki yang halal dan haram tersebut sama-sama dari Allah SWT., tetapi status halal dan haram tersebut adalah manusialah yang menentukan. Yaitu dengan mendapatkan rizki berdasarkan pemilikan yang sahih berdasarkan ketentuan Islam. Karena itu, manusia akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah karena cara memperolehi rizkinya; apakah bertentangan dengan cara yang telah ditetapkan oleh Allah atau tidak? Demikian halnya pertanggungjawaban atas pemanfaatan rizki yang diberikan kepada manusia; apakah untuk sesuatu yang disyariatkan oleh Allah atau tidak? Sebab, semuanya ini merupakan wilayah aktivitas manusia yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT. Hanya manusia tidak akan diminta pertanggungjawaban karena sedikit atau banyaknya, atau karena baik dan buruknya, atau karena positif dan negatifnya rizki yang diberikan kepadanya. Sebab, masalah ini merupakan wilayah Allah, dan bukannya wilayah manusia.

Demikian penjelasan mengenai hakikat rezeki dalam Islam semoga dapat menjadi manfaat bagi kita umat Islam. Inilah yanga perlu kita pahami terlebih dahulu sebelum melaksanakan amalan pembuka pintu rezeki menurut Islam. Kebahagiaan Islam menyatakan bahwa "Kesejahteraan' dan "kebahagiaan" itu bukan merujuk kepada sifat badani dan jasmani insan, bukan kepada diri hayawani sifat basyari; dan bukan pula dia suatu keadaan hayali insan yang hanva dapat dinikmati dalam alam fikiran belaka. Kesejahteraan dan kebahagiaan itu merujuk kepada keyakinan diri akan hakikat terakhir yang mutlak yang dicari-cari itu yakni: keyakinan akan Hak Ta'ala dan penuaian amalan yang dikerjakan oleh diri berdasarkan keyakinan itu dan menuruti titah batinnya.' Jadi, kebahagiaan adalah kondisi hati yang dipenuhi dengan keyakinan (iman) dan berperilaku sesuai dengan keyakinannya itu. Bilal bin Rabah merasa bahagia dapat mempertahankan keimanannya meskipun dalam kondisi disiksa. Imam Abu Hanifah merasa bahagia meskipun harus dijebloskan ke penjara dan dicambuk setiap hari, karena menolak diangkat menjadi hakim negara. Para sahabat nabi, rela meninggalkan kampung halamannya demi mempertahankan iman. Mereka bahagia. Hidup dengan keyakinan dan menjalankan keyakinan. Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannva. Sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Apakah kamu tidak memahaminya? Menurut Imam al-Ghazali, puncak kebahagiaan pada manusia adalah jika dia berhasil mencapai ma'rifatullah", telah mengenal Allah SWT. Selanjutnya, al-Ghazali menyatakan: "Ketahuilah bahagia tiap-tiap sesuatu bila kita rasakan nikmat, kesenangan dan kelezatannya mara rasa itu ialah menurut perasaan masing-masing. Maka kelezatan (mata) ialah melihat rupa yang indah, kenikmatan telinga mendengar suara yang merdu, demikian pula segala anggota yang lain dan tubuh manusia. Ada pun kelezatan hati ialah ma'rifat kepada Allah, karena hati dijadikan tidak lain untuk mengingat Tuhan. Seorang rakyat jelata akan sangat gembira kalau dia dapat berkenalan dengan seorang pajabat tinggi atau menteri; kegembiraan itu naik berlipat-ganda kalau dia dapat berkenalan yang lebih tinggi lagi misalnya raja atau presiden. Maka tentu saja berkenalan dengan Allah, adalah puncak dari segala macam kegembiraan. Lebih dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sebab tidak ada yang lebih tinggi dari kemuliaan Allah. Dan oleh sebab itu tidak ada ma'rifat yang lebih lezat daripada ma'rifatullah. Ma'rifalullah adalah buah dari ilmu. Ilmu yang mampu mengantarkan manusia kepada keyakinan. bahwa tiada Tuhan selain Allah" (Laa ilaaha illallah). Untuk itulah, untuk dapat meraih kebahagiaan yang abadi, manusia wajib mengenal Allah. Caranya, dengan mengenal ayat-ayat-Nya, baik ayat kauniyah maupun ayat qauliyah. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan manusia memperhatikan dan memikirkan tentang fenomana alam semesta, termasuk memikirkan dirinya sendiri. Disamping ayat-ayat kauniyah. Allah SWT juga menurunkan ayat-ayat qauliyah, berupa wahyu verbal kepada utusan-Nya yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw. Karena itu, dalam QS Ali Imran 18-19, disebutkan, bahwa orang-orang yang berilmu adalah orang-orang yang bersaksi bahwa "Tiada tuhan selain Allah", dan bersaksi bahwa "Sesungguhnya ad-Din dalam pandangan Allah SWT adalah Islam." Inilah yang disebut ilmu yang mengantarkan kepada peradaban dan kebahagiaan. Setiap lembaga pendidikan. khususnya lembaga pendidikan Islam. harus mampu mengantarkan

sivitas akademika-nya menuju kepada tangga kebahagiaan yang hakiki dan abadi. Kebahagiaan yang sejati adalah yang terkait antara dunia dan akhirat. Kriteria inilah yang harusnya dijadikan indikator utama, apakah suatu program pendidikan (ta'dib) berhasil atau tidak. Keberhasilan pendidikan dalam Islam bukan diukur dari berapa mahalnya uang bayaran sekolah; berapa banyak yang diterima di Perguruan Tinggi Negeri dan sebagainya. Tetapi apakah pendidikan itu mampu melahirkan manusia-manusia yang beradab yang mengenal Tuhannya dan beribadah kepada Penciptanya. Manusia-manusia yang berilmu seperti inilah yang hidupnya hahagia dalam keimanan dan keyakinan: yang hidupnya tidak terombang-ambing oleh keadaan. Dalam kondisi apa pun hidupnya bahagia, karena dia mengenal Allah, ridha dengan keputusanNya dan berusaha menyelaraskan hidupnya dengan segala macam peraturan Allah yang diturunkan melalui utusan-Nya. Karena itu kita paham, betapa berbahayanya paham relativisme kebenaran yang ditaburkan oleh kaum liberal. Sebab, paham ini menggerus keyakinan seseorang akan kebenaran. Keyakinan dan iman adalah harta yang sangat mahal dalam hidup. Dengan keyakinan itulah, kata Igbal, seorang Ibrahim a.s. rela menceburkan dirinya ke dalam api. Penyair besar Pakistan ini lalu bertutur hilangnya keyakinan dalam diri seseorang. lebih buruk dari suatu perbudakan. Sebagai orang Muslim, kita tentu mendambakan hidup bahagia semacarn itu; hidup dalam keyakinan: mulai dengan mengenal Allah dan ridha, menerima keputusan-keputusan-Nva, serta ikhlas menjalankan aturan-aturan-Nya. Kita mendambakan diri kita merasa bahagia dalam menjalankan shalat, kita bahagia menunaikan zakat, kita bahagia bersedekah, kita bahagia menolong orang lain, dan kita pun bahagia menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar. Dalam kondisi apa pun. maka "senangkanlah hatimu!" Jangan pernah bersedih. "Kalau engkau kaya. senangkanlah hatimu! Karena di hadapanmu terbentang kesempatan untuk mengerjakan yang sulit-sulit melalui hartamu. "Dan jika engkau fakir miskin, senangkan pulalah hatimu! Karena engkau telah terlepas dari suatu penyakit jiwa, penyakit kesombongan yang sering menimpa orang-orang kaya. Senangkanlah hatimu karena tak ada orang yang akan hasad dan dengki kepadamu lagi, lantaran kemiskinanmu..." "Kalau engkau dilupakan orang, kurang masyhur, senangkan pulalah hatimu! Karena lidah tidak banyak yang mencelamu, mulut tak banyak mencacimu..." Mudah-mudahan. Allah mengaruniai kita ilmu yang mengantarkan kita pada sebuah keyakinan dan kebahagiaan abadi, dunia dan akhirat. Amin. Maut dalam Islam

Kematian akan menghadang setiap manusia. Proses tercabutnya nyawa manusia akan diawali dengan detik-detik menegangkan lagi menyakitkan. Peristiwa ini dikenal sebagai sakaratul maut. Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: "Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada

penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya"[2]. Di antara dalil yang menegaskan terjadinya proses sakaratul maut yang mengiringi perpisahan jasad dengan ruhnya, firman Allah:

"Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya". [Qaaf: 19] Maksud sakaratul maut adalah kedahsyatan, tekanan, dan himpitan kekuatan kematian yang mengalahkan manusia dan menguasai akal sehatnya. Makna bil haq (perkara yang benar) adalah perkara akhirat, sehingga manusia sadar, yakin dan mengetahuinya. Ada yang berpendapat al haq adalah hakikat keimanan sehingga maknanya menjadi telah tiba sakaratul maut dengan kematian[3]. Juga ayat: {26} {27} {28} {29}

"Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai kerongkongan. Dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan". Dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan. Dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan). Dan kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau". [Al Qiyamah: 26-30]

4.

Masail Fiqhiyah, pengertian anak angkat, wanita karir, bayi tabung, anak hasil inseminasi, pencangkokan organ tubuh, KB, azzal, jimak

Masail Fiqhiyah terurai dari kata masalahmasail fiqihiyah ialah persoalan persoalan yang muncul pada konteks kekinian sebagai refleksi kompleksitas problematika pada suatu tempat, kondisi dan waktu. Dan persoalan tersebut belum pernah terjadi pada waktu yang lalu, karena adanya perbedaan situasi yang melingkupinya dalam bentuk mufrad (singular) yang dijamakkan (plural) dan dirangkaikan dengan kata fiqih. Masail fiqihiyah adalah masalah yang terkait dengna fiqih, dan yang dimaksud masalah fiqih pada term. Anak Adopsi (Anak Angkat) Yusuf Qardhawi, ulama kelahiran Mesir tahun 1926 yang sejak tahun 1961 tinggal Doha Qatar, dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam, menguraikan secara singkat perihal pengangkatan anak menurut Islam. Tradisi mengadopsi anak telah terjadi dari zaman jahiliyah di mana seseorang dibolehkan memungut anak orang lain untuk dijadikan sebagai anak kandung sendiri, dan berhak dibangsakan namanya kepada orang tua angkatnya, dan berikut berlaku hukum saling mewarisi antara anak angkat dan orang tua angkat. Inilah yang diharamkan.dalam Islam. Prof. Dr. Amir Syarifuddin dalam bukunya Hukum Kewarisan Islam menyatakan bahwa Hukum Islam tidak mengenal lembaga anak angkat atau dikenal dengan adopsi dalam arti terlepasnya anak angkat dari kekerabatan orang tua asalnya dan beralih ke dalam kekerabatan orang tua angkatnya. Islam mengakui bahkan menganjurkan mengangkat anak orang lain, dalam arti pemeliharaan. Hal itu pernah terjadi pada diri Nabi Muhammad Saw dengan mengadopsi Zaid bin Haritsah seorang hamba sahaya yang dihadiahkan oleh isterinya Khadijah kepada Nabi Saw untuk merawatnya. Lalu karena sayangnya Nabi Saw kepada Zaid, beliau mengangkat Zaid menjadi anaknya sendiri, sehingga nama Zaid dipanggil oleh orang banyak menjadi Zaid bin Muhammad. Sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, Turmuzi dan Nasai, dari Ibnu Umar radhiallahuanhu : Tidaklah kami memanggil Zaid bin Harisah melainkan dengan panggilan Zaid bin Muhammad. Tradisi jahiliyah tersebut tidak dibatalkan dalam Islam secara keseluruhan, artinya pengangkatan anak orang lain menjadi seperti anak sendiri tetap dianjurkan dalam Islam, akan tetapi hukumnya tidak sama dengan hukum adopsi yang berlaku pada masa jahiliyah, antara lain tidak boleh dinisbahkan namanya kepada orang tua angkatnya, tidak mewarisi, tidak berlaku seperti mahram.

Untuk pembatalan kebiasaan jahiliyah tersebut Allah Swt menurunkan ayat 4-5 surah al-Ahzab, dan peristiwa itu dikenal dengan peristiwa ibthaluttabanni (pembatalan hukum anak angkat), maka pembatalan itu direalisasikan oleh Nabi Saw dengan mengawini mantan isteri Zaid bin Haritsah, yang mana sebelumnya orang beranggapan bahwa isteri Zaid bin Haritsah yaitu Zainab binti Jahsy adalah menantu Nabi Muhammad Saw. Dengan kata lain, nikahnya Nabi Saw dengan Zainab binti Jahsy pupuslah anggapan orang tentang Zaid sebagai anak kandung Rasul Saw, dan mulai saat diturunkan ayat di atas Rasul Saw memanggil Zaid bin Harisah dan berkata : Engkau adalah Zaid bin Haritsah bin Syarahil. Perkawinan Rasul Saw dengan Zainab binti Jahsy setelah diceraikan oleh Zaid dan habis masa tunggunya (iddah), menjadi dasar hukum dalam Fikih Islam untuk tidak memberlakukan anak angkat seperti anak kandung, dan berlakulah seperti orang lain, namun demikian tidak pula menutup kemungkinan untuk berbuat baik kepada anak angkat, atas prinsip tolong menolong, dalam berbuat baik dan ketaqwaan. Secara panjang lebar Allah s.w.t. menjelaskan tentang halalnya mengawini bekas isteri anak angkat, yaitu ketika Rasulullah s.a.w. ragu dan takut bertemu dengan orang banyak ketika akan mengawini Zainab binti Jahsy, karena Zainab adalah mantan isteri Zaid bin Haritsah, atau dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini sebagaimana difirmakan-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 37 40. Mengangkat anak hukumnya Haram apabila, nasabnya dinisbatkan kepada orang tua yang mengangkatnya. Sedangkan mengangkat anak, apalagi anak yatim, yang tujuannya adalah untuk diasuh dan dididik tanpa menasabkan pada dirinya, maka cara tersebut sangat dipuji oleh Allah SWT. Hal ini sebagaimana dikatakan sendiri oleh Rasulullah SAW. dalam hadits riwayat Bukhari, Abu Daud dan Turmudzi: Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim, seperti ini, sambil beliau menunjuk jari telunjuk dari jari tengah dan ia renggangkan antara keduanya. Laqith atau anak yang dipungut di jalanan, sama dengan anak yatim, namun Yusuf Qardhawi menyatakan, bahwa anak seperti ini lebih patut dinamakan Ibnu Sabil, yang dalam Islam dianjurkan untuk memeliharanya. Asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fuqaha menetapkan, biaya hidup untuk anak pungut diambil dari baitul-mal muslimin. Hal ini sebagaimana dikatakan Umar bin Khattab r.a. ketika ada seorang laki-laki yang memungut anak, pengurusannya berada di tanganmu, sedangkan kewajiban menafkahinya ada pada kami.

Ummat Islam wajib mendirikan lembaga dan sarana yang menanggung pendidikan dan pengurusan anak yatim. Dalam kitab Ahkam al-Awlad fil Islam disebutkan bahwa Syariat Islam memuliakan anak pungut dan menghitungnya sebagai anak muslim, kecuali di negara non-muslim. Oleh karena itu, agar mereka sebagai generasi penerus Islam, keberadaan institusi yang mengkhususkan diri mengasuh dan mendidik anak pungut merupakan fardhu kifayah. Karena bila pengasuhan mereka jatuh kepada non-muslim, maka jalan menuju murtadin lebih besar dan ummat Islam yang tidak mempedulikan mereka, sudah pasti akan dimintai pertanggungjawaban Allah SWT. Karena anak angkat atau anak pungut tidak dapat saling mewarisi dengan orang tua angkatnya, apabila orang tua angkat tidak mempunyai keluarga, maka yang dapat dilakukan bila ia berkeinginan memberikan harta kepada anak angkat adalah, dapat disalurkan dengan cara hibah ketika dia masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka sebelum yang bersangkutan meninggal dunia. Wanita karir Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum wanita cukup luas meliputi berbagai bidang, terutama yang berhubungan dengan dirinya sendiri, yang diselaraskan dengan Islam, dalam segi akidah, akhlak dan masalah yang tidak menyimpang dari apa yang sudah digariskan atau ditetapkan oleh Islam. Allah Taala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak. Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera makan berkurang, pusing-pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana disitir di dalam Al-Quran , Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapanya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun. Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu, sehingga mengurangi staminanya. Oleh karena itu, Dienul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja, kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan. Dienul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi keluarganya. Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa menunggu (iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal mati, maka nafkahnya dibebankan ke

atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita. Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa iddah (menunggu) sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda, memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka, sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut. Selain itu, bila si wanita tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin. Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah. Tidak seperti yang banyak dipahami orang. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang yang melarang wanita mau datang ke masjid. Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah mereka itu lebih baik bagi mereka. Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda: Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjamaah di masjid) maka janganlah mencegahnya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda: Janganlah kamu mencegah kaumwanita untuk pergi ke masjid, tetapi hendaklah mereka keluar tanpa wangi-wangian.. Padahal di masjid sudah bisa dipastikan banyak orang laki-laki. Dan perjalanan dari rumah ke masjid serta begitu juga kembalinya, pasti akan bertemu dengan lawan jenis yang bukan mahram. Bahkan masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW tidak ada hijabnya. Tidak seperti masjid kita di zaman sekarang ini yang ada tabir penghalangnya. Di masa kenabian, posisi jamaah laki-laki dan jamaah wanita hanya dipisahkan tempatnya saja. Shaf laki-laki di bagian depan dan shaf wanita di bagian belakang. Anak kecil yang laki di belakang shaf laki dan anak kecil perempuan berada di shaf terdepan dari shaf perempuan. Dan tidak ada kain, tembok, tanaman atau penghalang apapun di antara barisan laki dan perempuan. Jadi kalau dikatakan bahwa wanita itu haram keluar rumah, harus lebih banyak dikurung di dalamnya, rasanya tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW dan salafus-shalih. Boleh dibilang mengurung wanita di dalam rumah adalah sebuah perkara bidah yang sesat. Dalam hal kepemimpinan dan politik, wanita tidak dibenarkan menjadi pemimpin laki-laki. Para pendukung emansipasi wanita menuduh ketentuan ini sebagai diskriminasi berdasarkan gender, dan oleh demokrasi barat dianggap sebagai hal yang melanggar hak asasi manusia. Sekalipun mendapat kritikan serta pelecehan dari kaum anti agama, ketetapan Ilahiyah seperti ini tidak boleh diamandemen untuk kepentingan apapun jua, kecuali dengan alasan yang dibenarkan oleh syariah. Hal ini disandarkan pada firman Allah yang artinya: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki)atas bagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka. Kaum laki-laki adalah qauwamuna alan nisa, pemimpin, pemelihara dan pendidik bagi kaum wanita. Bukan sebaliknya laki-laki dipimpin, dikuasai dan disantuni olah wanita yang mempunyai kekurangan akal dan ibadah. Sudah selayaknya yang memiliki kelebihan dan kesempurnaan menyantuni dan menyayangi yang lemah dan kekurangan. Demikian pula

yang kaya harus menolong si miskin dan orang yang mampu membantu yang tidak mampu. Dengan kelebihan ini tepatlah jika laki-laki sebagai pemimpin Kloning (Bayi Tabung) Kloning adalah teknik membuat keturunan derngan kode genetik yang sama dengan induknya, pada manusia kloning dilakukan dengan mempersiapkan sel telur yang sudah di ambil intinya lalu disatukan dengan sel somatic dari suatu organ tubuh, kemudian hasilnya ditanamkan dalam rahim seperti halnya pada bayi tabung. Macam-macam teknik pengkloningan: kloning dapat dilakukan terhadap semua makhluk hidup tumbuhan,hewandan manusia.Pada tumbuhan kloning dapat dilakukan dengan tekhink okulasi,sedangkan pada hewan dan manusia,ada beberapa tekhnik-tekhnik yang dapat dilakukan, kloning ini dapat berupa kloning embrio dan kloning hewan atau manusia itu sendiri. Contoh nyata kloning alami adalah adanya kembar dari dua pasang bersaudara. Keduanya identik secara bentuk tetapi berbeda pada perilakunya. Tujuannya pun bermacam-macam. Tetapi dari tujuan tersebut setidaknya ada dua tujuan besar mengapa kloning diteliti, yaitu untuk tujuan pengobatan dan tujuan reproduksi. Kloning, dalam ranah kloning manusia tidak bisa ditentukan secara pasti (halal/haramnya) karena ide tersebut masih dalam tataran ide dan belum diaplikasikan. Dalam hal ini segala bentuk penelitian ilmiah hukumnya mubah/boleh. Kita bisa mengambil kesimpulan keputusan hukumnya setelah ide tersebut diaplikasikan dengan menimbang dampak-dampaknya terhadap kehidupan, tentang maslahah atau tidaknya hasil penelitian tersebut. a. Pendapat Sheikh Muhammad Thanthawi dan Sheikh Muhammad Jamil Hammud AlAmily yang mengatakan bahwa kloing dalam upaya mereproduksi manusia terdapat pelecehan terhadap kehormatan manusia. Kloning mengarah kepada goncangnya sistem kekeluargaan serta penghinaan dan pembatasan peranan perempuan. Ia bukan saja memutuskan silaturahim tetapi juga mengikis habis cinta. Ia adalah mengubah ciptaan Allah dan bertentangan dengan Sunatullah. Itu adalah pengaruh setan bahkan merupakan upayanya untuk menguasai dunia dan manusia. b. Sheikh Muhammad Ali al-Juzu (Mufti Lebanon yang beraliran Sunni) menyatakan bahwa kloning manusia akan mengakibatkan sendi kehidupan keluarga menjadi terancam hilang atau hancur, karena manusia yang lahir melalui proses kloning tidak dikenal siapa ibu dan bapaknya, atau dia adalah percampuran antara dua wanita atau lebih sehingga tidak diketahui siapa ibunya. Selanjutnya kalau cloning dilakukan secara berulang-ulang, maka bagaimana kita dapat membedakan seseorang dari yang lain yang juga mengambil bentuk dan rupa yang sama. c. Sheikh Farid Washil (mantan Mufti Mesir) menolak kloning reproduksi manusia karena dinilainya bertentangan dengan empat dari lima Maqashid asy-Syariah: pemeliharaan jiwa, akal, keturunan, dan agama. Dalam hal ini cloning menyalahi pemeliharaan keturunan. Dari beberapa pendapat tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa cloning hukumnya haram karena lebih berpotensi menghasilkan dampak buruk daripada dampak baiknya. Keharaman cloning ini lebih didasarkan pada hilangnya salah satu hal yang harus dilindungi manusia yaitu faktor keturunan. Disandarkan pada qaidah darul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih yang artinya Menampik keburukan lebih diutamakan daripada mendatangkan manfaat. Hilangnya garis keturunan manusia yang dikloning akan menghilangkan hak-hak manusia tersebut, seperti misalnya hak untuk mendapat penghidupan dari keluarganya, warisan, lebih parah lagi hak untuk mendapatkan kasih saying dari orang tua geneticnya, dan hak-hak lain yang harus ia dapatkan. Pengharamannya diambil dari kaedah yang ditegaskan

oleh firman Allah ((QS. 2: 219) tentang minuman keras yang artinya, Dosa keduanya (minuman keras dan perjudian) lebih besar daripada manfaatnya. Dari sana kita bisa menarik benang merah bahwa cloning yang bertujuan untuk pengobatan misalnya penggantian organ tubuh manusia dengan organ cloning menurut kami diperbolehkan sepanjang hal itu mendatangkan maslahah dan karena kondisi dlarurat yang dialami oleh pasien (Sheikh Farid Washil : 2003). Adapun kloning dalam ranah binatang dan tumbuh-tumbuhan, maka Islam secara jelas membolehkannya, apalagi kalau tujuannya untuk meningkatkan mutu pangan dan kualitas daging yang dimakan manusia. Selain itu, karena binatang dan tumbuh-tumbuhan tidak perlu mengetahui tentang asal-usul garis keturunannya. Anak hasil inseminasi Inseminasi adalah teknik pembuahan (fertilisasi) antara sperma suami dan sel telur isteri yang masing-masing diambil kemudian disatukan di luar kandungan (in vitro) sebagai lawan di dalam kandungan (in vivo). Upaya inseminasi buatan dan bayi tabung, dibolehkan dalam Islam jika perpaduan sperma dengan ovum itu bersumber dari suami-istri yang sah (Inseminasi Homolog). Dan yang dilarang adalah inseminasi buatan dan bayi tabung yang berasal dari perpaduan sperma dan ovum dari orang lain (Inseminasi Heterolog). Iseminasi yang dilarang(Inseminasi Heterolog) ini selain menimbulkan kemudaratan bagi pasangan suami isteri tersebut di mata agama juga menimbulkan pula kemudaratan bagi anak. Setidaknya dalam pandangan hukum Islam anak yang dihasilkan dari Inseminasi Heterolog, akan dikatakan sebagai anak hasil zina. Berdasarkan hal demikian, maka kemudaratan-kemudaratan itu perlu dihindari, bahkan dihilangkan. Hal ini sesuai dengan kaidah Fiqhiyah yang mengatakan : Artinya: Kemudaratan itu harus dihilangkan. Selain itu, untuk mencegah agar suami-istri tidak lagi mengalami kesulitan akibat tidak hamil dengan cara senggama, maka perlu ditolong oleh dokter ahli, dengan cara inseminasi buatan dan bayi tabung, yang diambil dari zat sperma dengan ovum suami-istri yang sah. Dan sebaliknya, bila bersumber dari orang lain, maka dikategorikan perbuatan zina, dan dapat menyulitkan persoalan hukum sesudahnya. Dari uraian-uraian di atas, dapat ditarik sebuah pemikiran bahwa : a. Inseminasi buatan dengan sel sperma danovum dari suami istri sendiri dan tidak ditransfer embrionya ke dalam rahim wanita lain (ibu titipan) diperbolehkan Islam, jika keadaan kondisi suami istri yang bersangkutan benar-benar memerlukannya (ada hajat, jadi bukan untuk kelinci percobaan atau main-main). Dan status anak hasil inseminasi macam ini sah menurut Islam; b. Inseminasi buatan dengan sperma dan/atau ovum donor diharamkan (dilarang keras) Islam. Hukumnya sama dengan zina dan anak yang lahir dari hasil inseminasi macam

ini/bayi tabung ini statusnya sama dengan anak yang lahir di luar perkawinan yang sah; c. Pemerintah hendaknya melarang berdirinya Bank Nuthfah/Sperma dan Bank Ovum untuk pembuatan bayi tabung, karena selain bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945, juga bertentangan dengan norma agama dan moral, serta merendahkan harkat manusia sejajar dengan hewan yang diiseminasi tanpa perlu adanya perkawinan; d. Pemeritah hendaknya hanya mengizinkan dan melayani permintaan bayi tabung dengan sel sperma dan ovum suami istri yang bersangkutan tanpa ditransfer ke dalam rahim wanita lain (ibu titipan), dan pemerintah hendaknya juga melarang keras dengan sanksi-sanksi hukumannya kepada dokter dan siapa saja yang melakukan inseminasi buatan pada manusia dengan sperma dan/atau ovum donor

Transplantasi (Pencangkokan Organ Tubuh) Transplantasi ialah pemindahan organ tubuh yang masih mempunyai daya hidup sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi lagi dengan baik. Pencangkokan tubuh yang menjadi pembicaraan pada saat ini adalah: mata, ginjal, dan jantung, karena ketiganya sangat penting fungsinya bagi manusia. 1. Donor Orang yang masih Hidup Walaupun ada donor yang bersedia memberikan organ tubuhnya selagi hidup, dalam pelaksanaannya harus hati-hati, karena bisa berbahaya bagi donor dan resipien. Yang perlu diperhatikan: a. Kecocokan organ tubuh antara donor dan resipien b. Kesehatan si donor, baik sebelum diangkat orgen tubuhnya aupun sesudahnya. Keinginan menolong seseorang ialah perbuatan terpuji, tetapi jangan mencelakakan dirinya sendiri. Firman Allah: .....Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan... (Al- baqarah: 195) Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan koma, menurut M. Ali Hasan, selama orang itu masih hidup, tidak boleh organ tubuhnya diambil, karena itu mempercepat kematiannya, dan berarti mendahului kehendak Allah, juga tidak etis memperlakukan orang yang sudah koma dengan memeprcepat kematiannya. Selama masih ada nyawanya, wajib berikhtiar untuk menyembuhkannya. 2. Donor Orang yang Sudah Meninggal Adapun donor organ tubuh seperti mata, jantung dan ginjal menurut M. Ali Hasan tidak menyalahi aturan agama islam, dengan alasan: a. Alangkah terpuji, bila organ tubuh itu dapat dimanfaatkan oleh orang lain yang masih memerlukannya daripada rusak begitu saja setelah dikubur. b. Tindakan kemanusiaan sangat dihargai oleh agama Islam c. Menghilangkan penderitaan orang lain (Bahaya Kemudharatan dihilangkan). Kendatipun dibenarkan, tetapi perlu diperhatikan beberapa hal: a. Izin dari keluarga si mayat, supaya tidak timbul fitnah dikemudian hari. b. Mungkin juga berbentuk wasia t dari pendonor selagi masih hidup. Namun ada juga perbedaan pendapat dari sebagian ulama didasarkan pada Hadits Nabi:

Sesungguhnya memecahkan tulang mayat, sama seperti memecahkan tulangnya sewaktu hidup (H.R. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majad) Menurut M. Ali Hasan hall tersebut haram hukumnya, apabila ada unsur merusak mayat sebagai penghinaan baginya. Kekhawatiran lain adalah menenai orang yang mendonorkan tubuhnya kepada orang yang berlainan agama atau orang yang berbuat maksiat dengan pemikiran perbuatan maksiatnya akan berkelanjutan. Kekhawatiran ini terjawab oleh ayat-ayat berikut: dan bahwa manusia itu tidak memproleh selain apa yang ia usahakan. Dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan. Kemudian akan diberi balasannya dengan balasan yang paling sempurna (An-Najm: 39-41) Berdasar ayat tersebut, seorang akan mendapat balasan sesuai amalnya didunia, dosa orang lain tidak menjadi tanggungjawabnya. Mengenai organ tubuh yang diharamkan yang dicangkokkan kepada manusia, ada dua pendapat: a. Halal karena darurat dan tidak ada jalan lain lagi b. Haram. Hukum KB dalam Islam KB dalam arti sebuah program nasional untuk membatasi jumlah populasi penduduk (tahdid anl-nasl), hukumnya haram. Tidak boleh ada sama sekali ada suatu undang-undang atau peraturan pemerintah yang membatasi jumlah anak dalam sebuah keluarga. KB sebagai program nasional tidak dibenarkan secara syara karena bertentangan dengan Aqidah Islam, yakni ayat-ayat yang menjelaskan jaminan rezeqi dari Allah untuk seluruh makhluknya. Allah SWT berfirman : Dan tidak ada satu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkinya. (QS Huud 11 : 6) KB dalam arti pengaturan kelahiran, yang dijalankan oleh individu (bukan dijalankan karena program negara) untuk mencegah kelahiran (manu al-hamli) dengan berbagai cara dan sarana, hukumnya mubah, bagaimana pun juga motifnya. Dalil kebolehannya antara lain hadits dari sahabat Jabir RA yang berkata, Dahulu kami melakukan azl (senggama terputus) pada masa Rasulullah SAW sedangkan al-Qur`an masih turun. (HR Bukhari). Namun kebolehannya disyaratkan tidak adanya bahaya (dharar). Kaidah fiqih menyebutkan : Adh-dhararu yuzaal (Segala bentuk bahaya haruslah dihilangkan). Kebolehan pengaturan kelahiran juga terbatas pada pencegahan kehamilan yang temporal (sementara), misalnya dengan pil KB dan kondom. Adapun pencegahan kehamilan yang permanen (sterilisasi), seperti vasektomi atau tubektomi, hukumnya haram. Sebab Nabi SAW telah melarang pengebirian (al-ikhtisha`), sebagai teknik mencegah kehamilan secara permanen yang ada saat itu. Ini adalah permasalahan yang muncul sekarang, dan banyak pertanyaan muncul berkaitan dengan hukum KB ini. Permasalahan ini telah dipelajari oleh Haiah Kibaril Ulama (Lembaga di Saudi Arabia yang beranggotakan para ulama) di dalam sebuah pertemuan yang telah lewat dan telah ditetapkan keputusan yang ringkasnya adalah tidak boleh mengkonsumsi pil-pil KB untuk mencegah kehamilan. Karena Allah SWT mensyariatkan untuk hamba-Nya sebab-sebab untuk mendapatkan keuturunan dan memperbanyak jumlah umat. Rasulullah SAW bersabda. Artinya : Nikahilah wanita yang banyak anak lagi

penyayang, karena sesungguhnya aku berlomba-lomba dalam banyak umat dengan umatumat yang lain di hari kiamat (dalam riwayat yang lain : dengan para nabi di hari kiamat). (HR Abu Daud). Karena umat itu membutuhkan jumlah yang banyak, sehingga mereka beribadah kepada Allah SWT, berjihad di jalan-Nya, melindungi kaum muslimin dengan ijin Allah SWT, dan Allah SWT akan menjaga mereka dan tipu daya musuh-musuh mereka. Maka wajib untuk meninggalkan perkara ini (membatasi kelahiran), tidak membolehkannya dan tidak menggunakannya kecuali darurat. Jika dalam keadaan darurat maka tidak mengapa, seperti : Sang istri tertimpa penyakit di dalam rahimnya, atau anggota badan yang lain, sehingga berbahaya jika hamil, maka tidak mengapa menggunakan KB untuk keperluan ini. Demikian juga, jika sudah memiliki anak banyak, sedangkan isteri keberatan jika hamil lagi, maka tidak terlarang mengkonsumsi pil-pil KB dalam waktu tertentu, seperti setahun atau dua tahun dalam masa menyusui, sehingga ia merasa ringan untuk kembali hamil, sehingga ia bisa mendidik dengan selayaknya. Adapun jika penggunaannya dengan maksud berkonsentrasi dalam berkarier atau supaya hidup senang atau pencegah kehamilan karena takut banyak anak, atau karena harus memberikan tambahan belanja dan hal-hal lain yang serupa dengan itu, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan wanita zaman sekarang, maka hal itu tidak boleh. Para ulama telah menegaskan bahwa memutuskan keturunan sama sekali adalah haram, karena hal tersebut bertentangan dengan maksud Nabi mensyariatkan pernikahan kepada umatnya, dan hal tersebut merupakan salah satu sebab kehinaan kaum muslimin. Karena jika kaum muslimin berjumlah banyak, maka hal itu akan menimbulkan kemuliaan dan kewibawaaan bagi mereka. Karena jumlah umat yang banyak merupakan salah satu nikmat Allah SWT kepada Bani Israi. Artinya : Dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar (Al-Isra : 6) Artinya : Dan ingatlah di waktu dahulunya kamu berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu (Al-A'raf : 86) Kenyataanpun mennguatkan pernyataan di atas, karena umat yang banyak tidak membutuhkan umat yang lain, serta memiliki kekuasaan dan kehebatan di depan musuhmusuhnya. Maka seseorang tidak boleh melakukan sebab/usaha yang memutuskan keturunan sama sekali, kecuali dikarenakan darurat, seperti Seorang Ibu jika hamil dikhawatirkan akan binasa atau meninggal dunia, maka dalam keadaan seperti inilah yang disebut darurat, dan tidak mengapa jika si wanita melakukan usaha untuk mencegah keturunan. Inilah dia udzur yang membolehkan mencegah keturunan, juga seperti wanita tertimpa penyakit di rahimnya, dan ditakutkan penyakitnya akan menjalar sehingga akan menyebabkan kematian, sehingga rahimnya harus diangkat, maka tidak mengapa jika menggunakn KB. Seorang istri boleh menggunakannya untuk mencegah kehamilan dikarenakan. Adanya penyakit yang membahayakan jika hamil Dia melahirkan dengan cara yang tidak normal bahkan harus melakukan operasi jika melahirkan dan bahaya-bahaya lain yang serupa dengan hal tersebut. Maka dalam keadaan seperti ini boleh baginya mengkonsumsi pil pencegah hamil, kecuali jika ia mengetahui dari dokter spesialis bahwa mengkonsumsinya membahayakan si wanita dari sisi lain.

Azzal,
Dalam hadits disebutkan, bahwa seorang dari Anshor bertanya kepada tentang Azl, yaitu : Menyingkirkan air mani dari farji seorang wanita (istri), agar ia tidak hamil. AlAzhary berkata : Azl adalah seseorang menyingkirkan air maninya dari farji budaknya, agar ia tidak hamil. Imam An-Nawawi berkata: Melakukan Azl diluar farj ketika bersetubuh adalah makruh, berdasarkan hadits yang bersumber dari Judzamah binti Wahb : itu adalah pembunuhan tersembunyi. Adapun melakukan Azl terhadap budak wanita tidaklah diharamkan, dan dibolehkan tanfa seizin darinya, karena jima adalah hak baginya (bagi seorang tuan yang memiliki budak tersebut) namun bukan hak budak wanita tersebut, dan karena dalam Azl tersebut (sarana) yang menyebabkan ia tetap menjadi budak, sehingga ia tidak menjadi merdeka. Adapun terhadap istri (dari budak) yang tekah merdeka, maka tidak boleh melakukan Azl terhadapnya, kecuali seizin darinya, adapun bila ia tidak mengizinkannya maka ada dua pendapat: 1. Tidak haram, karena hak istri adalah jima bukan inzal (yaitu masuknya air mani kedalam farji istri). 2. Haram, karena hal itu memutuskan keturunan. Ibnu Qudamah berkata: Adapun Azl maka hukumnya adalah makruh, maksudnya yaitu seseorang mencabut kemaluannya dari farji istrinya ketika telah dekat keluar air mani, lalu ia mengeluarkannya di luar farji istrinya. Wallahu Alam Bishshowab.

Jimak
Islam adalah agama yang mulia dan memuliakan. Ia menjunjung tinggi akhlak dan etika. Setiap perbuatan baik di dalam Islam, pastilah ada tuntunan adabnya. Demikian pula dengan jima. Adab di dalam jima bukan hanya membuat hubungan suami istri lebih intim, tetapi juga menjadikan kenikmatan dunia itu sebagai ladang pahala. Menjalankan adab-adab jima bukan hanya membawa kebahagiaan bagi suami dan istri, tetapi juga mendatangkan keberkahan bagi keluarga dan keturunan yang ditakdirkan Allah lahir dari proses tersebut.

Sebagai salah tujuan dilaksanakannya nikah, hubungan intim menurut Islam termasuk salah satu ibadah yang sangat dianjurkan agama dan mengandung nilai pahala yang sangat besar. Karena jima dalam ikatan nikah adalah jalan halal yang disediakan Allah untuk melampiaskan hasrat biologis insani dan menyambung keturunan bani Adam.

Selain itu jima yang halal juga merupakan ibadah yang berpahala besar. Rasulullah Shollallohu Alaihi Wasallam bersabda, Dalam kemaluanmu itu ada sedekah. Sahabat lalu bertanya, Wahai Rasulullah, apakah kita mendapat pahala dengan menggauli istri kita?. Rasulullah menjawab, Bukankah jika kalian menyalurkan nafsu di jalan yang haram akan berdosa? Maka begitu juga sebaliknya, bila disalurkan di jalan yang halal, kalian akan berpahala. (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah) Karena bertujuan mulia dan bernilai ibadah itu lah setiap hubungan seks dalam rumah tangga harus bertujuan dan dilakukan secara Islami, yakni sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan sunah Rasulullah Shollallohu Alaihi Wasallam. Hubungan intim, menurut Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Ath-Thibbun Nabawi (Pengobatan ala Nabi), sesuai dengan petunjuk Rasulullah memiliki tiga tujuan: memelihara keturunan dan keberlangsungan umat manusia, mengeluarkan cairan yang bila mendekam di dalam tubuh akan berbahaya, dan meraih kenikmatan yang dianugerahkan Allah. Ulama salaf mengajarkan, Seseorang hendaknya menjaga tiga hal pada dirinya: Jangan sampai tidak berjalan kaki, agar jika suatu saat harus melakukannya tidak akan mengalami kesulitan; Jangan sampai tidak makan, agar usus tidak menyempit; dan jangan sampai meninggalkan hubungan seks, karena air sumur saja bila tidak digunakan akan kering sendiri.

5. Hal-hal lain yang berhubungan dengan masail fiqhiyah


Pacaran Pada Zaman-zaman sekarang ini anak muda sekarang sangatlah lumrah mereka saling berpacaran dengan pasangan-pasangan mereka masing-masing. Akan tetapi hendaknya mereka tahu apa alas an mereka melakukan pacaran, bagaimana dinamakan pacaran yang baik atau bagaimana yang dinamakan pacaran yang tidak baik. Dan apa dasar mereka melakukan pacaran atau memilih pacar, apa yang perlu dipikir sebelum serius, bagaimana memahami sifat pasangan , dan batasan-batasan tentang seks yang perlu dihormati dari setiap pasangan Pacaran Menurut Perspektif Islam Dalam islam sebelumnya tidak mengenal kata pacaran, namun seiring waktu dan perkenbangan zaman yang di kuasai Barat maka Islam pun mendapatkan pelajaran tersebut melalui beberapa media yang dengan gencarnya memberikan praktek-praktek pacaran. Suatu kewajaran kalau antara laki-laki dan perempuan saling tertarik satu sama lainnya. Hal ini karena memang Allah menciptakan mereka dari satu jiwa lalu menciptakannya berpasang-pasangan dan kemudian mengembangkannya menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak. (QS. Annisa : 1) yang artinya: Wahai manusia Bertakwalah Kepada tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang

dengan nama-Nya kamu saling meminta, dan perihalah hubungan kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. Penciptaan manusia secara berpasang-pasangan dan menjadikannya berkembang menjadi bersukusuku dan berbangsa-bangsa, bertujuan untuk saling kenal-mengenal dan berhubungna satu sama lain. Hubungan yang paling baik adalah yang mampu memelihara diri dan hubungan dengan Allah dan Mahkluknya, dalam konteks memelihara hubungan antar laki-laki dan perempuan, islam menganjurkan perkawinan bagi yang sudah mampu dan melarang mendekati segala perbuatan yang segala bentuk perzinaan. Kesimpulan saya bahwa pacaran memang sangat rawan dengan perzinaan, oleh karena itu untuk apa kita mendekati pacaran apalagi mencobanya, padahal dengan jalan khitbah saat nanti umur kita memcukupi dan siap lahir batin maka semua itu akan berjalan lebih indah.. karena dalam Islam, hanya mengenal hubungan antara pria dan wanita yang dibagi menjadi dua, yaitu hubungan mahram dan hubungan nonmahram. Hubungan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa: 23, yaitu mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas. Pergaulan Bebas Seks adalah proses m enjalani kehidupan bersama dengan suami-isteri. Seks merupakan proses hubungan intim antara 2 orang yang berlainan jenis kelamin atau jenis kelamin yang sama ( Homosexual ) serta melakukan hubungan seks. Istilah seks lebih tepat untuk menunjukan alat kelamin. Namun, seringkali masyarakat awam memiliki pengertian bahwa istilah seks adalah lebih mengarah pada bagaimana hubungan seksual antara 2 oang yang berlainan jenis kelamin. Dan tidak sepantasnya masalah seks dipandang ebagai suatu permasalahan yang sepele, bakan mesti diatasi sesuai dengan solusi yang diturunkan Allah SWT. Kerana Seks bukanlah masalah yang sekunder, pergaulan bebas khususnya melakukan hubungan seks secara bebas telah menghancurkan banyak peradaban yang pernah menguasai dunia. Perspektif Hukum Islam Terhadap Seks Pergaulan bebas dan seks bebas merupakan fenomena yang sudah terjadi sejak lama bertentangan dengan etika agama islam dan kesusialaan yang ada dimasyarakat, yang pada akhirnya merusak pemuda-pemudi dikalangan kita. Seks bebas adalah hubungan seksual yang tidak sah, islam telah melarang segala bentuk hbungan seksual yang diluar pernikahan dan menetapkan hukuman yang berat terhadap pelaggaran hukum yang telah ditentukan. Dengan demikian perbuatan-perbuatan yang dapat menjerumuskan pada perbuatan zina adalah haram. Dan diperkuat denga kaidah-kaidah yang membawa pada hal haram maka hukumnya haram. Allah Taala berfirman, Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan

hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau lakilaki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin, (an-Nuur: 2-3). Allah Taala juga berfirman, Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk, (Qs. al-Israa: 32) Ulama Fiqih membagi zina menjadi 2 bagian 1. Pezina Muhson yaitu: bagi wanita yang sudah bersuami atau pernah bersuami dan bagi lakilaki mereka yang sudah beristeri atau pernah beristeri. 2. Pezina Ghoiru Muhson Yaitu: mereka yang belum pernah bersuami atau beristeri Dan yang sering melakukan perzinaan adalah pezina Ghoiru Muhson, antara remaja laki-laki dengan wanita yang belum menikah atau dengan wanita yang sudah menikah ataupun sebaliknya. Biro Jodoh Biro jodoh adalah tempat untuk membantu orang baik perempuan atau orang baik laki-laki yang mengalami kesulitan dala mencari jodoh ( pasangan ), sehingga adanya biro jodoh ini diharapkan dapat mengatasi hambatan dalam pencarian dan pemilihan jodoh ( pasangan ) sesuai criteria yang diinginkan. Biro jodoh ini dapat berupa badan ataupun orang yang akan mencari jodoh.dan pada zaman ini kebanyakan biro jodoh sering dilakukan dengan suasana hiburan saja sehingga antara lakilaki dan perempuan yang bukan mahram bisa dapat berkumpul mungkin tanpa batasan. Pandangan Islam Dalam Biro Jodoh Penciptaan manusia secara berpasangan dan menjadikan berkembang menjadi bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, untuk saling kenal dan berhubungan satu sama lain. Islam menganjurkan kepada umat islam agar saling mengenal antara satu dengan yang lain. Sesuai dengan rambu-rambu keislaman dan perspektif islam. Untuk sebatas mengenal dan mencintai seseoran karena Allah dan tiak melanggar larangan. Hukum Biro Jodoh Hukum biro jodoh ini sama dengan hukum peminangan, karena tidak terdapat dalam Al-quran dan Hadist , oleh karena itu, hukumnya MUBAH. Hal ini dikarenakan dari sudut mana kita memandang dan bagaimana cara teknis dari biro jodoh itu sendiri serta niat dari yang mencari jodoh.

HOMOSEKSUAL DAN LESBIAN 1. Pengertian Homoseksual Homoseksual adalah hubungan seksual antara orang yang sejenis kelaminnya, baik sesama pria maupun wanita. Namun istilah homoseks ini digunakan untuk pria. Dr. Ali Akbar mengemukakan, homoseksual adalah mencari kepuasan seksual dengan jenis yang sama, baik secara rangsang-merangsang maupun tindakan yang menyerupai senggama.

2. Sebab- sebab terjadinya homoseksual Dibawah ini dikemukakan beberapa sebab: a. Moerthiko : homoseksual terjadi karena pengalaman-pengalaman masa lampau tentang seks yang membekas pada pikiran bawah sadarnya b. Ann Landers : homoseksual terjadi disebabkan salah asuh atau perlakuan orang tua yang salah. c. Tidak pernah seorang lelaki memperhatikan lawan jenisnya menurut Said Sabiq. d. Zakiah Darajat : pengaruh lingkungan yang terpisahkan dari lawan jenisnya e. Dr. Cairo : suatu gejala kekacauan syaraf, yang berasal karena ada hubungan dengan orang-orang yang berpenyakit syaraf. Menurut Majalah ayah Bunda edisi 21 faktor-faktor penyebab homoseksual: a. Peran Orang tua yang salah, konflik antara anak dan orang tua yang berjenis kelamin yang beralawanan yang tidak terselesaikan. b. Peran yang tidak proporsional. Salah satu orang tua terlalu dominan dan yang lain pasif. c. Pribadi yang lemah 3. Pengaruh homoseksual terhadap jiwa a. Kegoncangan Batin b. Depresi Mental c. Akhlak, karena tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. d. Menimbulkan suatu sindrom atau himpunan-himpunan gejala penyakit mental yang disebut harastenia. Dampak negatif terhadap kehidupan pribadi dan masyarakat: a. Seorang homo tidak mempunyai keinginan terhadap wanita b. Perasaan cinta sesama jenis menimbulkan perilaku yang ganjil, karena terkadang seorang homo berperilaku sebagai laki-laki dan wanita. c. Mengakibatkan rusak saraf otak, melemahkan akal dan menghilangkan semangat kerja d. Terjangkit berbagai macam penyakit. 4. Hukum dan Pendapat Ulama Syariat Islam memandang bahwa perbuatan homoseks itu haram, dan para ulama juga telah sepakat tentang keharamannya. Akan tetapi ullama fiqh berbeda pendapat tentang hukumannya. a. Imam Syafii Pasangan homoseks dihukum mati berdasar hadits nabi: barangsiapa menjumpai orang yang berbuat homoseks seperti praktek kaum Luth, maka bunuhlah sipelaku dan yang diperlakukannya (HR. Lima Ahli Hadits) b. Al- Auzai, Abu Yusuf dan lain-lain. Hukumannya disamakan dengan hukuman zina, yakni dera dan pengasingan bagi yang belum kawin, dan dirajam untukpelaku yang sudah kawin. Hadits Nabi: Apabila seorang pria melakukan hubungan seks dengan pria lain, maka kedua-duanya adalah berbuat zina c. Abu Hanifah Dihukum tazir, sejenis hukuman yang bertujuan edukatif, berat ringan diserahkan kepada pengadilan. 5. Lesbian Istilah ini diperuntukkan bagi panggilan wanita-wanita yang melakukan hubungan seks sesamanya. Artinya para lesbian cenderung mencintai sejenisnya dan ia akan mendapatkan kepuasan seks bila dilakukan dengan wanita dan bukan laki-laki. Hadits Nabi:

janganlah pria melihat aurat pria dan janganlah wanita melihat aurat wanita lain dan janganlah pria bersentuh dengan pria lain di bawah sehelai kain dan janganlah wanita dengan wanita lain dibawah sehelai kain (H.R. Abu Daud, muslim, Ahmad dan Tirmidzi) Menurut Sayyid Sabiq, lesbian dihukum tazir yaitu suatu hukuman yang berat atau ringannya diputuskan oelh pengadilan. Hal ini disebabkan karena lesbian melakukan hubungan seks dengan menggesek-gesekkan saja berbeda dengan homoseks.