Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH UPAH TERHADAP PERMINTAAN TENAGA KERJA PADA SEKTOR PERTAMBANGAN KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA Annisa Nisfihani (anchan_hiwatari@yahoo.

com) Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Adi Wijaya Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Agus Junaidi Fakultas Ekonomi Universitas Mulawarman Abstrak Penelitian ini bertujuan mengetahui Pengaruh upah dan output terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara tahun 2013. Permintaan tenaga kerja merupakan salah satu solusi pemerintah bekerjasama dengan Perusahaan untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi pengangguran di Indonesia, dan dilaksanakan untuk memenuhi quota tenaga kerja pada perusahaan khususnya di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara. Tujuan penelitian ini yaitu untuk pengetahui pengaruh upah dan output terhadap permintaan tenaga kerja di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara secara simultan, parsial dan mencari yang paling dominan pengaruhnya di antara upah dan output. Kata kunci: permintaan tenaga kerja, upah, Abstract This research was done at the influence of wage and output on the demand of employees for mining sector in Kutai Kartanegara District. Both simultaneously and partially and to find out which one of the two variables (wage and output) has the most dominant influence. The method and instrument used to analyze the data was multiple linier regression with secondary data of the two independent variables, namely wage variable (X1) and output variable (X2) and one dependent variable (Y), namely the demand of employees. Regression, correlation, and testing were calculated by using SPSS (Statistical Product and Service Solution) version 16.0 for Windows 7 Professional. The research finding revealed there was a strong influence of wage and output on the demand of employees for mining sector in Kutai Kartanegara District, both simultaneosly and partially and wage veriable was the most dominant influence. Keywords : demand of employees, wage,

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laju pertumbuhan penduduk dunia pada abad ke-20 demikian cepatnya, hal tersebut terutama terjadi di negara-negara berkembang. Indonesia, salah satu negara berkembang dengan jumlah penduduk yang relatif besar, memberikan sumbangan yang cukup berarti dari seluruh jumlah penduduk dunia. Berdasarkan data populasi Indonesia, jumlah penduduk Indonesia tahun 1930 sebesar 61 juta jiwa, kemudian menjadi 179 juta jiwa pada tahun 1990. Secara khusus 61,5% populasi Indonesia berada di pulau Jawa dan pulau Bali, yang luasnya hanya 7% dari seluruh daerah di Indonesia. Kepadatan penduduk di Jawa Barat, yang paling tidak padat di pulau Jawa, masih sebesar empat kali lipat dari angka tertinggi di luar pulau Jawa dan pulau Bali, maupun Lampung. Pertambahan penduduk cukup tinggi di Jakarta dan Jawa Barat. Di Jakarta terutama disebabkan oleh migrasi ke dalam, sedang di Jawa Barat mencerminkan tingkat kelahiran tradisional. Walau laju pertumbuhan penduduk di Indonesia telah mengalami penurunan dari 2,34% pada tahun 1970-an menjadi 1,96% pada tahun 1980-an dan 1,66% pada tahun 1990-an, serta pertumbuhan penduduk diperkirakan akan menurun terus menjadi sekitar 261 juta, jiwa pada tahun 2025; namun jumlah penduduk Indonesia secara absolut terus mengalami, peningkatan dari waktu ke waktu. Bertambahnya jumlah penduduk secara absolut tentunya, akan berdampak pada jumlah angkatan kerja di Indonesia (Ignatia Rohana Sitanggang dan Nachrowi Djalal Nachrowi 2004). Struktur kesempatan kerja khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara pada umumnya juga mengikuti pola tersebut. Adanya peranan sektor tersier yang dominan dalam menyediakan kesempatan kerja, baik untuk wilayah tengah dan pantai, proporsi penduduk yang menggantungkan hidupnya pada sektor tersier berkisar antara 59,2% sampai 68.0%, sedangkan proporsi mereka yang bekerja disektor primer hanya berkisar antara 44.25% (Susesnas, 2000). Masalah tenaga kerja adalah masalah yang sangat kompleks dan besar. Kompleks karena masalahnya mempengaruhi sekaligus dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berinteraksi dengan pola yang tidak selalu mudah dipahami. Besar karena menyangkut jutaan jiwa. Untuk menggambarkan masalah tenaga kerja dimasa yang akan datang tidaklah gampang karena disamping mendasarkan pada angka tenaga kerja di masa lampau, harus juga diketahui prospek produksi di masa mendatang. Kondisi kerja yang baik, kualitas output yang tinggi, upah yang layak serta kualitas sumber daya manusia adalah persoalan yang selalu muncul dalam pembahasan tentang tenaga kerja disamping masalah hubungan industrial antara pekerja dengan dunia usaha (Maimun Soleh, 2007). Upah minimum adalah sebuah kontrofersi, bagi yang mendukung kebijakan tersebut mengemukakan bahwa upah minimum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pekerja agar sampai pada tingkat pendapatan "living wage", yang berarti bahwa orang yang bekerja akan mendapatkan pendapatan yang layak untuk hidupnya. Upah minimum dapat mencegah pekerja dalam pasar monopsoni dari eksploitasi tenaga kerja terutama yang low skilled. Upah minimum dapat meningkatkan produktifitas tenaga kerja dan mengurangi konsekuensi pengangguran seperti yang diperkirakan teori ekonomi konverisional (Kusnaini, D, 1998). Berdasarkan laporan data dan evaluasi pengawasan ketenagakerjaan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kukar, Di Kabupaten Kutai karta Negara sendiri, pada tahun 2012 ini jumlah perusahaan di sektor pertambangan yang terdaftar oleh Negara mencapai 332 perusahaan. Terbagi dua dari perusahaan tambang batubara dan tambang minyak. Dengan jumlah tenaga kerja 39.742 orang. batas upah minimum kab. Kutai
2

Karta Negara adalah 1.254.712 rupiah, dan khususnya di sektor pertambangan dihitung dari 7 jam kerja dan belum termasuk lembur. Dan untuk tambang batu bara upah minimum pada tahun 2012 adalah 1.566.250 rupiah, upah minimum tambang minyak adalah 1.313.000 rupiah. dengan upah dan jam kerja demikian, perusahaan tambang di kab. Kukar akan menawarkan kepada masyarakat yang mencari peluang kerja khususnya bekerja di sektor tambang. Upah minimum tenaga kerja pada perusahaan tambang tertinggi di Indonesia terdapat di Propinsi Riau sebesar lebih kurang dari 2.000.000 rupiah, jika di bandingkan dengan negara lain misalnya Singapura, upah minimum Indonesia masih rendah di karenakan perbedaan jam kerja yang padat dan skill tenaga kerja itu sendiri. Semakin tenaga kerja memilik skill, maka upah bisa di dapat lebih tinggi. Potensi output yang dimiliki Kabupaten Kutai Kartanegara pada sektor pertambangan dan penggalian sangat besar, sehingga ditargetkan dan diperkirakan dapat dimanfaatkan secara hemat dan optimal selama 20-25 tahun. Semakin luasnya penggunaan lahan untuk wilayah permukiman pertanian lahan kering, kebun campuran, tegalan, dan perkebunan. Terwujudnya tata kelola lingkungan yang berkelanjutan dan memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup, sehingga daya dukung lingkungan dapat dipertahankan serta ketersediaan SDA terjamin. Meningkatnya aktivitas pertanian, perkebunan, dan penggalian akan berdampak terhadap menurunnya jumlah keanekaragaman hayati, karena beberapa spesies hewan dan tumbuhan tidak dapat bertahan lagi. Struktur perekonomian Kab. Kutai Kartanegara masih sangat bergantung pada sumber daya yang tidak dapat diperharui, yakni sektor pertambangan dan penggalian, khususnya sub sektor pertambangan migas. Ketergantungan terhadap alokasi Dana Perimbangan dari Pemerintah Pusat masih tinggi. Peran lembaga dan instansi penyumbang dan pengumpul PAD belum maksimal. Belum ada peraturan daerah yang mengatur tentang sistem alokasi anggaran pembangunan daerah yang transparan dan akuntabel. Pertumbuhan sektor pertanian selama periode 2001-2005 belum mampu sepenuhnya mencapai pertumbuhan yang stabil atau belum terlepas dari perangkap spiral pertumbuhan rendah (Bappeda Kukar, 2012). Berdasaran uraian diatas maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang pengaruh upah dan output terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara. B. Rumusan Masalah 1. Apakah upah dan output berpengaruh signifikan terhadap permintaan tenaga kerja secara simultan? 2. Apakah upah dan output berpengaruh signifikan terhadap permintaan tenaga kerja secara parsial? 3. Mana diantara kedua variabel bebas yang berpengaruh dominan terhadap permintaan tenaga kerja? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui pengaruh nilai upah dan output terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara secara simultan. 2. Untuk mengetahui pengaruh upah dan output terhadap permintaan pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara secara parsial. 3. Untuk mengetahui yang paling dominan pengaruhnya antara dua variabel bebas yaitu upah dan output kerja terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara.
3

II. Tinjauan Teoritis A. Tinjauan Umum Tenaga Kerja Tenaga kerja atau pekerja adalah tiap orang yang melakukan pekerjaan baik dalam hubungan kerja maupun di luar hubungan kerja yang biasanya disebut dengan buruh bebas misalnya seorang dokter yang membuka praktek, pengacara, penjual koran/majalah di pinggir jalan, petani yang menggarap lahannya sendiri. Tenaga kerja/buruh ini disebut dengan istilah sewa pekerja. Sedangkan karyawan ialah setiap orang yang melakukan karya/pekerjaan seperti karyawan toko, karyawan buruh, karyawan perusahaan dan karyawan angkatan bersenjata, mereka ini disebut dengan istilah tenaga kerja (Muhammad Zainal Abidin, 2011). Permintaan akan tenaga kerja timbul karena ada permintaan akan output. Ada perbedaan yang fundamental antara permintaan konsumen terhadap barang-barang dan jasa-jasa dengan permintaan pengusaha terhadap pekerja. Konsumen membeli barangbarang dan jasa-jasa untuk memenuhi kepuasan, tapi pengusaha membayar tenaga kerja untuk memperoleh keuntungan (laba). Seorang pengusaha akan membandingkan biaya membayar upah seorang tenaga kerja dengan perkiraan sumbangan tenaga kerja tersebut dalam memberikan penerimaan perusahaan. Pemilihan umur 15 tahun sebagai batas umur minimal adalah berdasarkan kenyataan penduduk umur 15 tahun di Indonesia sudah bekerja atau mencari kerja terutama di desa-desa. Demikian juga Indonesia tidak menetapkan batasan umur maksimal tenaga kerja karena belum adanya jaminan sosial nasional. Hanya sebagian kecil penduduk yang menerima tunjangan hari tua, yaitu pegawai negeri dan sebagian pegawai swata. Bagi golongan ini pun pendapatan yang diterima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga mereka yang telah mencapai umur pensiun masih tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhannya, sehingga mereka tetap digolongkan sebagai tenaga kerja ( Simanjuntak, 1998 ). Tenaga kerja (man power) terdiri dari angkatan kerja (labor force) dan bukan angkatan kerja (non labor force). B. Permintaan tenaga kerja Setiap pekerjaan dan kelompok industri setiap tahunnya di penuhi oleh suatu andil dari pekerja-pekerja yang masuk atau masuk kembali ke dalam angkatan kerja dari penduduk yang tidak aktif, di kurangi kematian dan bebas tugas, dan mendapatkan atau kehilangan oleh perimbangan pekerja-pekerja yang pindah ke dan dari pekerjaan dan industri lain sebagaimana juga halnya oleh perimbangan imigrasi dan emigrasi. Studi mengenai komponen-komponen perubahan ini sangat membantu untuk mendapatkan pemahaman mengenai pengaruh faktor penarawan dan permintaan serta meningkatkan dasar untuk proyeksi (Rozy Munir,1985). Menurut Para Ahli Ekonomi Klasik, untuk menentukan jumlah pekerja yang akan digunakan dalam kegiatan ekonomi, analisis mengenai pasaran tenaga kerja perlu dilakukan. Dalam konteks pasaran tenaga kerja, mekanisme pasar yang terjadi bersifat pasar persaingan sempurna. Ini berarti bahawa tingkat upah ditentukan oleh keseimbangan diantara permintaan dan penawaran tenaga kerja. Apabila keadaan itu tercapai, dalam analisis klasik, tingkat kesempatan kerja penuh telah tercapai. Dalam ilmu ekonomi terdapat teori tenaga kerja: a. Teori klasik, bila harga naik maka permintaan tenaga kerja tetep.
4

b. Teori modern (Keynes), bila harga barang naik maka permintaan terhadap tenaga kerja juga naik. Dalam analisis pasaran tenaga kerja secara makro, yang ingin dianalisis adalah permintaan dan penawaran tenaga kerja dalam perekonomian. Permintaan tenaga kerja dan penawaran tenaga kerja dalam perekonomian adalah gabungan dari permintaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan dan gabungan penawaran oleh para pekerja. Dengan demikian kurva permintaan tenaga kerja dalam perekonomian dapat diwujudkan dengan menjumlahkan permintaan tenaga kerja oleh perusahaan-perusahaan. Begitu juga, kurva penawaran tenaga kerja dalam perekonomian dapat ditentukan dengan menjumlahkan kurva penawaran oleh pekerja (Ijon Ridho Faber Purba, 2007). Adapun penyebab suatu perusahaan melalukan permintaan tenaga kerja di karenakan Persediaan Karyawan-Karyawan yang akan pensiun Pengunduran diri karyawan Kematian dan sebagainya Peramalan (Forcast) kebutuhan sumberdaya manusia secara logis dapat dibagi menjadi 3 yakni: 1. Peramalan permintaan sumberdaya manusia Ramalan akan kebutuhan permintaan ini sebaiknya dibagi kedalam permintaan jangka panjang dan permintaan jangka pendek. Dalam membuat ramalan permintaan ini perlu mempertimbangkan atau memperhitungkan rencana strategi organisasi, perkembangan penduduk, perkembangan ekonomi, perkembangan teknologi, serta kecendrungan perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat. 2. Peramalan persediaan sumber daya manusia Dalam membuat ramalan persediaan sumber daya manusia ini perlu memperhitungkan antara lain: persediaan sumberdaya manusia yang sudah ada sekarang ini, baik jumlah maupun kualifikasinya, tingkat produksi atau efektifitas Permintaan Tenaga Kerja, sumberdaya yang ada tersebut, tingkat pergantian tenaga, angka absensi karyawan atau tenaga kerja, dan tingkat rotasi atau pemindahan kerja. 3. Perlakuan atas sumber daya manusia Berdasarkan perhitungan atau ramalan kebutuhan di suatu pihak dan ramalan persediaan sumberdaya manusia saat ini, maka perlu tindak lanjut yaitu (tindakan) yang akan diambil ramalan perlakuan ini misalnya: pengangkatan pegawai baru, penambahan kemampuan terhadap pegawai yang sudah ada melalui pelatihan, pengurangan pegawai, dan sebagainya. Didasarkan atas asumsi bahwa permintaan pasar tenaga kerja diturunkan dari permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa yang dibutuhkannya. Tenaga kerja diminta karena kemampuannya menghasilkan barang dan jasa. Dengan demikian, analisis permintaan tenaga kerja biasanya didasarkan pada teori produktivitas tenaga kerja. Permintaan adalah hubungan antara tingkat upah (yang dilihat dari perspektif seorang majikan adalah harga tenaga kerja) dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh majikan untuk diperkerjakan (dalam hal ini dapat dikatakan dibeli). Secara khusus suatu permintaan menggambarkan jumlah maksimum yang dikehendaki seorang pembeli untuk membelinya pada setiap kemungkinan harga dalam jangka waktu tertentu. Dalam hal tenaga kerja, kurva permintaan menggambarkan jumlah maksimum tenaga kerja yang seorang pengusaha bersedia untuk mempekerjakannya pada setiap kemungkinan tingkat upah dalam jangka waktu tertentu. Secara alternatif, kurva permintaan tenaga kerja dapat dilihat sebagai gambaran bagi setiap kemungkinan jumlah tenaga kerja dengan tingkat upah yang Ekonomi Sumberdaya Manusia (Muhammad Adnan Zain, 2010).

C. Faktor yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja 1. upah Untuk menentukan upah bagi seorang pekerja bukanlah merupakan suatu persoalan yang mudah dan sederhana, karena menyangkut faktor-faktor yang sangat komlpeks dan dinamis, diantaranya menyangkut kesejahteraan para pekerja, kontinuitas dan perkembangan perusahaan dan sebagainya. Faktor-faktor tersebut dapat berubah setiap saat, baik oleh alasan-alasan yang berasal dari dalam perusahaan maupun dari luar perusahaan, sesuai dengan perkembangan kondisi yang ada. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2003Tentang Ketenagakerjaan. Dalam Bab I Pasal 1 angka 30 dijelaskan Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan, atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya, atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan dilakukan. Dalam tentang Pengupahan Pasal 88 diatur sebagai berikut : a. Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusian. b. Untuk mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupanyang layak bagi kemanusiaan sebagaimana pada ayat (1), pemerintah menetapkan kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh. c. Kebijakan pengupahan yang melindungi pekerja/buruh sebagaimana dimaksud pada ayat (2) meliputia. upah minimum; upah kerja lembur; upah tidak masuk kerja karena berhalangan; upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain diluar pekerjaannya; upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya; bentuk dan cara pembayaran upah; denda dan potongan upah; hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah; struktur dan skala pengupahan yang proposional; upah untuk pembayaran pesangon; dan upah untuk perhitungan pajak penghasilan. d. Pemerintah menetapkan upah minimum sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a berdasarkan kebutuhan hidup layak dan dengan memperhatikan produktivitas dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan di dalam Pasal 89 ayat (1) upah minimum terdiri atas: Upah minimum berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota; Upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau kabupaten/kota. Pasal 89 ayat (3) Upah minimum ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari Dewan Pengupahan Provinsi dan atau Bupati/Walikota. Sehubungan dengan ini maka di dalam Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 561.4/52/2008 tentang Upah Minimum Pada 35 (tiga puluh lima) Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009, di dalam butir pertama dan kedua; sebagai berikut : Pertama : Upah minimum pada 35 (tiga puluh lima) Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009 sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. : Upah minimum sebagaimana dimaksud dalam diktum Pertama adalah upah bulanan terendah, terdiri dari upah pokok termasuk tunjangan tetap.
6

Kedua

Ketiga

: Upah minimum hanya berlaku bagi Pekerja/buruh dengan tingkat paling rendah yang mempunyai masa kerja kurang dari 1 (satu) tahun.

Upah minimum merupakan variabel kebijakan atau intervensi dalam mekanisme ekonomi pasar dengan cara menetapkan nilai dasar diatas nilai keseimbangan. Upah minimum akan berlaku untuk semua jenis industri dan semua skala industri. Upah minimum sangat menguntungkan industri dengan skala ekonomi tinggi, dan mematikan home industry, perusahaan pemula dengan skala kecil yang berjumlah banyak. tingkat upah Ns W1 W0
--------------------------------------------------------------------------->

-------------------------------------------------------------------

E0

W2 ------------------------------------------------------

Kelebihan penerimaan tenaga kerja

ND

Jumlah tenaga kerja N0

Gambar 2.1. Keseimbangan di pasaran tenaga kerja

Kurva ND menggambarkan permintaan tenaga kerja dalam perekonomian. Kurva ini merupakan jumlah dari semua kurva permintaan buruh oleh perusahaan-perusahaan yang ada dalam perekonomian dan dibentuk dengan menjumlahkan kurva penawaran tenaga kerja dari semua pekerja dalam perekonomian. Keseimbangan di pasaran tenaga kerja akan tercapai apabila permintaan tenaga kerja di pasaran adalah sama dengan penawarannya. Keadaan ini tercapai pada E0, yaitu pada tingkat upah Wo dan tingkat kesempatan kerja N0. Kedudukan keseimbangan ini dapat dibuktikan dengan melihat keadaan yang akan berlaku pada tingkat upah yang lain, misalnya pada W1 atau W2 (Ijon Ridho Faber Purba, 2007). 2. Output Dalam pengertian sederhana, produksi berarti menghasilkan barang/jasa. Menurut Ilmu Ekonomi, pengertian produksi adalah kegiatan menghasilkan barang maupun jasa atau kegiatan menambah nilai kegunaan/manfaat suatu barang. Dari pengertian tersebut jelas bahwa kegiatan produksi mempunyai tujuan yang meliputi: 1. 2. 3. 4. 5. menghasilkan barang atau jasa. meningkatkan nilai guna barang atau jasa. meningkatkan kemakmuran masyarakat. meningkatkan keuntungan. memperluas lapangan usaha.
7

6.

menjaga kesinambungan usaha perusahaan.

Secara umum, nilai output setiap komoditi diperoleh dari hasil perkalian antara produksi yang dihasilkan dengan harga produsen komoditi bersangkutan. Menurut sifatnya, output dibedakan atas dua jenis yaitu output utama dan output ikutan. Total output suatu subsektor merupakan penjumlahan dari nilai output utama dan ikutan dari seluruh komoditi ditambah dengan nilai pelengkapnya. Pertumbuhan ekonomi merupakan proses kenaikan output perkapita dalam jangka panjang. Penekanan di sini adalah pada proses karena mengandung unsur perubahan dan indikator pertumbuhan ekonomi dilihat dalam kurun waktu yang cukup lama (Boediono, 1999). D. Teori Keterkaitan antar variabel Menurut Tuckman (dalam Sugiyono, 2007) variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen menjadi hubungan yang tidak langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela / antara variabel independen dengan variabel dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen. 1. Keterkaitan Upah terhadap permintaan tenaga kerja Miller & Meinners (1993), berpendapat bahwa permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh nilai marjinal produk (Value of Marginal Product, VMP). Nilai marjinal produk (VMP) merupakan perkalian antara Produk Fisik Marginal(Marginal Physical Product) dengan harga produk yang bersangkutan. Produk Fisik Marginal (Marginal Physical Product, MPP) adalah kenaikan total produk fisik yang bersumber dari penambahan satu unit input variabel (tenaga kerja). Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi pad pasar kompetitif sempurna maka besarnya VMP yang merupakan perkalian antara MPP x P akan sama dengan harga input produk yang bersangkutan yaitu PN. besarnya VMP = P didapatkan dari pernyataan bahwa kombinasi input optimal atau biaya minimal dalam proses produksi akan terjadi bila kurva isoquan menjadi tangens terhadap isocost. Bila sudut garis pada isoquant sama dengan w/r. sedangkan besarnya sudut disetiap titik pada isoquant sama dengan MPPI/MPPK, maka kombinasi input yang optimal adalah : w/r = MPPL/MPPK atau MPPK/r = MPPi7w. Dimana r adalah tingkat bunga implisit yang bersumber dari modal sedangkan w adalah tingkat upah per unit. Apabila persamaan diatas diperluas secara umum maka akan menjadi : MPPX/PX = MPPY/PY Dalam kalimat lain, minimisasi biaya input atau maksimalisasi output atas penggunaan input mensyaratkan penggunaan kombinasi yang sedemikian rupa sehingga MPP untuk setiap input dengan harganya sama besar untuk setiap input. Dengan demikian kenaikan satu unit input, misalnya x, akan memperbanyak biaya produksi sebanyak Px, sekaligus akan memperbesar volume produk sebanyak MPPx itu berarti Rasio Px / MPPx merupakan tingkat perubahan total biaya perusahaan untuk setiap perubahan output fisiknya yang secara definitif berarti sama dengan biaya marginalnya (Marginal Cost, MC). Dari sini maka persamaan diatas juga bisa dirubah menjadi : MPPX/PX = MPPY/PY = MFPN/PN = 1/MC
8

Dengan mengasumsikan bahwa perusahaan beroperasi pada pasar kompetitif sempurna maka persamaan diatas bisa dirubah menjadi: MPPx/Px = MPPY/PY = MPPN/PN = 1/MC- 1/MR = 1/P Dari persamaan diatas kita bisa mengetahui bahwa : MPPx/Px = 1/MR = 1/P, sehingga MPPx x P = Px untuk semua input. Ini berarti kurva VMP untuk tenaga kerja merupakan kurva permintaan tenaga kerja -jangka pendek- dari perusahaan yang bersangkutan yang beroperasi dalam pasar persaingan sempurna dengan Catatan kuantitas semua input. Lainnya, konstan. Bagi setiap perusahaan yang beroperasi dalam pasar kompetisi sempurna itu, harga outputnya senantiasa konstan terlepas dari berapa kuantitas output yang dijualnya. Harga input disini juga kita asumsikan konstan. Penawarannya elastisitas sempurna untuk semua perusahaan. Dengan demikian kuantitas tenaga kerja yang memaksimalkan laba perusahaan terletak pada titik perpotongan antara garis upah Tingkat upah /uang berlaku untuk pekerja terampil yang dibutuhkan perusahaan dan kurva VMP perusahaan. Ini diperlihatkan oleh gambar 2.2. Kuantitas Tenaga Kerja Yang Memaksimumkan Laba berikut: upah, VMPL

W0

L0 Kuantitas Tenaga Kerja yang Dibutuhkan

Gambar 2.2. Kuantitas Tenaga Kerja Yang Memaksimumkan Laba

Jika tingkat upah per unit pekerja yang kualitasnya konstan adalah wo maka kuantitas pekerja yang optimal adalah Lo. Garis horizontal yang bertolak dari Wo merupakan kurva penawaran tenaga kerja untuk setiap perusahaan yang beroperasi dalam pasar tenaga kerja yang kompetitif sempurna. Perusahaan akan menggunakan tenaga kerja tambahan jika MPPi lebih besar dari biaya tenaga kerja tambahan. Biaya tenaga kerja tambahan ditentukan oleh upah riil yang dihitung sebagai (upah nominal/tingkat harga), upah riil ini mengukur jumlah output riil yang harus dibayar perusahaan untuk setiap pekerjanya, karena dengan mengupah satu pekerja lagi menghasilkan kenaikan output untuk MPPL dan biaya pada perusahaan, Untuk upah riil perusahaan akan mengupah tenaga kerja tambahan selama MPPL melebihi upah riil. Dengan mengasumsikan bahwa tenaga kerja dapat ditambah dan faktor produksi lain tetap, maka perbandingan alat-alat produksi untuk setiap pekerja menjadi lebih kecil dan tanbahan hasil marginal menjadi lebih kecil pula, atau dengan semakin banyak tenaga kerja digunakan
9

semakin turun MPPi, nya karena nilai MPPi. mengikuti hukum pertambahan hasil yang semakin berkurang. Bila harga atau tingkat upah tenaga kerja naik, kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun, ini diperlihatkan oleh kenaikan arus upah yang berpotongan dengan kurva VMP dalam kuantitas tenaga kerja yang lebih sedikit. Dengan berkurangnya pekerja, produk fisik marginal dari input modal, atau MPPR, akan menurun karena kini setiap unit modal digarap oleh lebih sedikit pekerja. Jika sebuah mesin dioperasikan oleh satu orang , produk fisik marginal mesin itu akan menurun dibandingkan saat sebelumnya ketika mesin itu diuais oleh beberapa orang. Karena kini hanya ada satu pekerja, mereka tidak bisa bergantian menjalankan mesin, sehingga hasilnya lebih sedikit. Dalam kalimat lain, modal bersifat komplementer terhadap tenaga kerja, atau ada komplementaritas (complementary) diantara keduanya. 2. Keterkaitan output terhadap permintaan tenaga kerja Hasil yang konstan atas skala produksi (constans returns to scale) berarti bahwa jika semua faktor produksi dinaikkan dengan proporsi tertentu, maka output yang akan meningkat dengan proporsi yang persis sama. Jadi, jika jumlah tenaga kerja maupun barang modal yang digunakan per unit waktu dinaikkan sebesar !0%, maka output juga akan naik sebesar 10%; jika tenaga kerja dan barang modal dilipatgandakan, output akan menjadi dua kali lipat. Jika kita mempekerjakan dua pekerja yang sama dan dua mesin yang identik, maka secara normal kita harapkan output sebesar dua kali lipat dari pada output yang hasilkan dengan satu pekerja dan mesin. Demikian pula, jika semua input dikurangi dengan porposi tertentu, maka output berkurang dengan porposi yang sama. Jika output bertambah dengan proporsi yang lebih kecil daripada kenaikan semua inputnya, terdapat hasil yang menurun atas skala produksi. Hal ini dapat terjadi karena bila skala operasi naik, kesulitan komunikasi mungkin membuat pengusaha semakin sukar dalam menjalankan perusahaannya secara efektif. Umumnya, pada skala operasi yang sangat kecil, perusahaan menghadapi hasil yang meningkat atas skala produksi. Jika skala operasi dinaikkan, hasil yang meningkat atas skala produksi justru berubah menjadi yang konstan atas skala produksi dan akhirnya menjadi hasil yang menurun atas skala produksi justru berubah menjadi yang konstan atas skala produksi dan akhirnya menjadi hasil yang menurun atas skala produksi. Apakah ini merupakan kasus khusus atau bukan masih menjadi pertanyaan empiris. E. Definisi Konsepsional Suatu kerangka konsepsional merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsep-konsep khususnya yang ingin atau akan diteliti, suatu konsep bukan merupakan suatu gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari gejala yang akan diteliti. Gejala itu sendiri biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut (Soekamto, 1984: 132). Kerangka konsepsional mengenai objek penelitian dan pembahasan dalam penelitian ini menggambarkan bagaimana hubungan antara konsep-konsep secara teoritis yang menyangkut ketentuan perundang-undangan tertulis berikut instansi terkait, dengan konsep-konsep khusus dalam prakteknya, sehingga melahirkan apa yang akan diteliti dari hubungan-hubungan dalam fakta-fakta yang ada. Demikian juga dalam penulisan skripsi
10

ini yang akan membahas mengenai pengaruh upah dan output terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di kab. Kutai Kartanegara. Dalam hal ini penulis mengadakan penelitian mengenai gambaran hubungan antara teori-teori yang ada dengan fakta-fakta yang ada di dalam prakteknya. F. Kerangka Konsep Penelitian Berdasarkan hubungan tingkat upah, ketentuan output, dengan terjadinya permintaan tenaga kerja pada perusahaan tambang di Kab. Kutai Kartanegara maka dapat dilihat bagan kerangka penelitian sebagai berikut :

Upah X1 output X2 Permintaan tenaga kerja Y

Gambar 2.4. Kerangka konsep studi dengan pendekatan regresi linier berganda. G. Hipotesis Hipotesa dalam penelitian ini adalah : 1. Diduga upah dan output berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan secara simultan. 2. Diduga upah dan output berpengaruh secara signifikan terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan secara parsial. 3. Diduga output lebih dominan pengaruhnya terhadap permintaan tenaga kerja. III. METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Agar penulisan skripsi ini dapat mencapai tujuan yang telah disebutkan pada bagian terdahulu, maka penulis akan menjabarkan secara operasional indikator-indikator dalam penelitian ini. Variabel-variabel penelitian yang akan diukur dalam penelitian ini meliputi variabel terikat (dependent) adalah (Y) dan variabel bebas (independent) adalah (X). Variabel terikat (Y), yaitu permintaan tenaga kerja pada perusahaan tambang di kab. Kutai Kartanegara. Variabel bebas (X1) adalah upah, variabel bebas (X2) adalah output, dengan alat ukur data base yang sudah ada. Untuk memperjelas model analisis dan kerangka pikir yang di pergunakan dalam pembahasan penelitian ini, maka perlu diberikan definisi operasional sebagai berikut: 1. Permintaan tenaga kerja (Y) adalah suatu perusahaan yang meminta tenaga kerja untuk memenuhi nilai optimal kerja perusahaan di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara, terhitung dari tahun 2001 2010 dengan satuan orang. 2. Upah (X1) adalah imbalan yang dibayar setelah bekerja dalam bentuk uang. Keriteria objektifnya adalah Nilai yang di bayarkan bisa di atas UMK (Upah
11

Minimum Kabupaten), atau setara dengan UMK.berlaku setiap perusahaan di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara, terhitung dari tahun 2001 2010 dengan satuan rupiah. 3. Output (X2) adalah hasil produksi yang di hasilkan oleh perusahaan tambang di kab. Kutai Kartanegara. terhitung dari tahun 2001 2010 dengan satuan rupiah. B. Jenis dan Sumber Data Menggunakan Data Sekunder. Data yang didapatkan dari Departemen Tenaga Kerja kab. Kutai Kartanegara, dinas pertambangan kab. Kutai Kartanegara maupun Badan Pusat statistik serta literatur yang memiliki relevansi dengan masalah yang dibahas. C. Teknik Analisis Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer Data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi disertai penjelasan-penjelasan dan selain itu dilakukan dalam bentuk tabulasi silang antara variabel terikat dan variabel bebas. Dengan Analisis regresi berganda. Analisis ini digunakan untuk meramalkan nilai variabel terikat (Y) apabila variabel bebas minimal dua atau lebih. Regresi ganda adalah alat analisis peramalan nilai pengaruh dua variabel bebas atau lebih terhadap satu variabel terikat untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional atau hubungan kausal antara dua variabel bebas atau lebih. (X1) , (X2), (X3) ... (Xn) dengan satu variabel terikat (riduwan, 2003). Menurut Usman dan Akbar (2003) persamaan garis regresi ganda untuk dua predictor adalah : Y = a + b1X1 + b2X2 Keterangan : Y A B : Permintaan tenaga kerja

: Harga Y bila X = 0 ( harga konstan ) : Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukan angka peningkatan ataupun penurunan permintaan tenaga kerja yang didasarkan pada pengaruh upah dan output. Bila b (+) maka naik, dan bila (-) maka terjadi penurunan : Upah : Output

X1 X2

Untuk menghitung a, B1, B2, dapat menggunakan persamaan sebagai berikut : A B1 B1 x12 x22 = = = = = x12 x22
12

+ b1

+ b2

y2 x1 y x2 y x1x2

= = = =

Y2 x1 y x2 y x1x2

Korelasi ganda ( multiple correlation ) ialah suatu nilai yang memberikan kuatnya pengaruh atau hubungan dua variabel atau lebih secara bersama-sama dengan variabel lain. Rumus korelasi ganda dua variabel ditunjukkan pada rumus berikut : R =

( Riduwan, 2003 ). Untuk melihat kuatnya pengaruh antara variabel X1 dan X2 dengan Y, menggunakan tabel Interpretasi Koefisien Korelasi berikut : Interval Koefisien 0,00 0,199 0,20 0,399 0,40 0,599 0,60 0,799 0,80 1,000 Tingkat Hubungan Sangat Rendah Rendah Cukup Kuat Sangat Kuat

Tabel 3.1. Interpretasi Koefisien Korelasi Setelah mendapatkan nilai R, maka nilai tersebut tersebut di kuadratkan manjadi koefisien penentu / diterminansi (R2). Sedangkan untuk menyatakan besar kecilnya nilai Kontribusi Kolerasi Ganda terhadap Y dapat digunakan rumus :
R2 x 100 %

Selanjutnya untuk mengetahui signifikansi korelasi ganda X1 dan X2 terhadap Y di tentukan dengan rumus Fhitung kemudian di bandingkan dengan Ftabel sebagai berikut : Fh =

Keterangan : R = Nilai Koefisien korelasi ganda


13

K N

= =

Jumlah Variabel bebas Jumlah sampel

Untuk mengetahui di tolak atau di terimanya hipotesis, di pergunakan kaidah sebagai berikut : a. b. Fhitung > Ftabel = H0 ditolak, Ha diterima, berarti hipotesis diterima atau variabel X berpengaruh signifikan terhadap variabel Y. Fhitung < Ftabel = H0 diterima, Ha ditolaka, berarti hipotesis ditolak atau variabel X tidak signifikan terhadap variabel Y.

Setelah diuji dengan uji F, selanjutnya diuji lagi dengan uji t (uji dua sisi), untuk mengetahui hubungan yang nyata dan signifikan dengan rumus : th dimana : =

= koefisien regresi hasil estimasi untuk variable ke h. ` = parameter koefisien regresi populasi ( ), untuk variabel ke h. Biasanya dianggap nol. Nilai ini menunjukan hipotesis nol bagi . SE( ) = standar error koefisien (Sarwoko, 2005 ). Dimana : H0 = tidak terdapat hubungan yang berarti antar variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y. Ha = terdapat hubungan yang berarti antara variabel X1 dan X2 terhadap variabel Y. Setelah itu dapat ditarik kesimpulan, jika : a. thitung > ttabel = H0 di tolak, Ha diterima atau signifikan. Berarti ada hubungan secara nyata ( positif ) antara upah ( X1 ) dan output ( X2 ) terhadap permintaan tenaga kerja ( Y ). b. thitung < ttabel = H0 di terima, Ha di tolak atau tidak signifikan. Berarti tidak ada hubungan secara nyata ( negatif ) antara upah (X1 ) dan output ( X2 ) terhadap permintaan tenaga kerja ( Y ). Dengan taraf signifikansi = 0.10. Untuk mengetahui upah ( X1 ) mana yang berpengaruh dominan terhadap output ( X2 ) dapat di lihat dari variabel X1 yang memiliki thitung paling besar. Untuk melakukan perhitungan regresi dan korelasi beserta pengujian dilakukan dengan bantuan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions ) Versi 16.0 for Windows 7 Professional. IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Dinamika Variabel Penelitian 1. Dinamika Ketenagakerjaan di Kab. Kutai Kartanegara Ketenagakerjaan meliputi angkatan kerja dan Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal 1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja. Penduduk tergolong tenaga kerja jika penduduk tersebut telah memasuki usia kerja.
14

Batas usia kerja yang berlaku di Indonesia adalah berumur 15 tahun 64 tahun. Menurut pengertian ini, setiap orang yang mampu bekerja disebut sebagai tenaga kerja. Ada banyak pendapat mengenai usia dari para tenaga kerja ini, ada yang menyebutkan di atas 17 tahun ada pula yang menyebutkan di atas 20 tahun, bahkan ada yang menyebutkan di atas 7 tahun karena anak-anak jalanan sudah termasuk tenaga kerja. Per tahun ada penambahan sekitar 1.070 tenaga kerja lokal di sektor tersebut. Adapun penambahan jumlah KKSK (kontraktor kerja sama) sebanyak 13 buah per tahun. Maka, dapat terlihat bahwa penambahan tenaga kerja tersebut signifikan, sejak tahun 2008, porsi tenaga kerja lokal di industri tersebut terus bertambah. Porsi tersebut sebesar 96% dari total tenaga kerja. Biaya untuk tenaga kerja asing di sektor migas, juga terus menurun. Tentang pasokan gas, bahwa di tahun 2003 sampai 2009, ekspor yang dilakukan Indonesia terus turun. Dan sebaliknya, pasokan untuk kebutuhan domestik terus naik. Pada tahun 2013 ini, diharapkan bahwa pasokan gas untuk domestik terus membesar. Tahun 2014, pasokan gas untuk lokal bisa melebihi 50% dari produksi. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Kutai Kartanegara Surianyah HM menutup pelatihan kejuruan mekanik alat berat, operator alat berat, las, listrik instalasi dan sepeda motor kerjasama Balai Latihan Kerja Industri (BLKI), di ruang pertemuan BLKI Samarinda. Melalui pelatihan yang diadakan adalah guna meningkatkan jumlah tenaga kerja yang berkompeten dan menyiapkan tenaga kerja yang handal dalam bidangnya agar bisa bekerja secara mandiri dan siap di pekerjakan di perusahaan yang membutuhkan sesuai dengan keahliannya masing masing. Peserta yang mengikuti pelatihan sebanyak 168 orang yang dilatih selama 1 bulan berasal dari 5 Kecamatan diantaranya dari Kecamatan Sebulu, Loa Janan, Tenggarong Seberang, Muara Badak dan Sangasanga, hal tersebut guna mewujudkan klinik ketenagakerjaan di Kabupaten Kukar. Kedepannya pihak Disnakertrans akan membuka bursa kerja online, dibangun untuk menjembatani para pencari kerja dan pengguna tenaga kerja guna mempermudah proses rekrutmen, mulai dari tahap penyebaran informasi sampai tahap penerimaan tenaga kerja. Dalam bursa kerja online ini dimaksudkan untuk memfasilitasi para pencari kerja dan pengguna tenaga kerja agar lebih mudah mengetahui keberadaan masing-masing dan sekaligus memfasilitasi proses hubungan langsung antara pencari dan pemberi kerja. 2. Dinamika Perburuhan di Kab. Kutai Kartanegara Secara umum, gerakan buruh dunia termasuk Indonesia sedang mengalami tantangan yang sangat berat. Pakar perburuhan Richard Hyman menjelaskan, tantangan yang sedang dihadapi ini meliputi lingkup eksternal aksi dan internal organisasi buruh. Pengaruh eksternal ditandai dengan semakin meningkatnya kompetisi di tingkat global yang meletakkan tekanan-tekanannya pada relasi industri di tingkat nasional. Situasi semacam itu mendorong pemerintah untuk lebih beradaptasi dan gerakan buruh menjadi tidak diinginkan terutama di negara-negara yang gerakan buruhnya cukup mapan. Kondisi kerja yang demikian buruk memicu munculnya bentuk perlawanan yang khas sebuah gerakan buruh: pemogokan. Salah satu pemogokan pertama dalam sejarah Indonesia tercatat di tahun 1882 di Yogyakarta, di mana pada puncak
15

gelombang pemogokan ini 21 pabrik gula terpaksa menghentikan produksinya karena pemogokan. Isu yang diangkat adalah 1) Upah; 2) kerja gugur-gunung yang terlalu berat; 3) kerja jaga 1 hari tiap 7 hari; 4) kerja moorgan yang tetap dijalankan padahal tidak lazim lagi; 5) upah tanam sering tidak dibayar; 6) banyak pekerjaan tidak dibayar padahal bukan kerja wajib; 7) harga yang dibayar pengawas terlalu murah dibandingkan harga pasar; 8) pengawas Belanda sering memukul petani. Kasus-kasus perburuhan, seperti aksi unjuk rasa dan PHK terhadap buruh kerap mewarnai pemberitaan media-media massa. Dari tahun ke tahun persoalan tersebut terus muncul dan tak pernah terselesaikan. Kondisi buruh di Indonesia terus memburuk terutama di sektor-sektor padat karya yang banyak memberlakukan tenaga kerja tidak tetap. Hal ini mau tidak mau menunjukkan ketidakmampuan negara dalam menyelesaikan masalah perburuhan dan mencerminkan tidak berkembangnya gerakan buruh di Indonesia. 3. Dinamika Produktifitas Pertambangan Batu Bara di Kab.Kutai Kartanegara Pertumbuhan industri batu bara Indonesia mengalami lonjakan yang pesat dalam 10 tahun belakangan ini. Sampai tahun 1997 produksi batu bara hanya 13,2 juta metrikton dan meningkat 3 kali lipat atau 243 persen pada tahun 2007 menjadi 53,3 juta metrikton. Tahun 2007 Indonesia tercatat sebagai produsen batu bara terbesar ke 7 dan menempati posisi ke 2 sebagai eksportir batu bara dengan total ekspor 202 juta metrikton. Penerimaan negara dari sektor batu bara terus mengalami peningkatan yang signifikan. Dari 2.57 trilyun pada tahun 2004 menjadi 8,7 trilyun, pada tahun 2007. Dan pada tahun 2009 kontribusi batu bara lebih dari 10 trilyun. Kalimantan Timur memiliki sumber daya alam yang melimpah berupa pertambangan seperti emas, batubara, minyak dan gas bumi, penyebarannya terdapat di Kabupaten/Kota yang ada di Kaltim. Perkembangan kegiatan Sektor Pertambangan Tanpa Migas terutama tambang batubara juga dapat dilihat dari data ekspor batubara, pada tahun 2005 volume ekspor meningkat sebesar 12 persen dan pada tahun 2006 meningkat cukup tajam mencapai 60 persen. Bila di bandingkan dengan nilai tambah yang dihasilkan oleh Kabupaten/Kota dan Provinsi, pada tahun 2005 terdapat perbedaan gerakan pertumbuhan subsektor tambang tanpa migas antara Kabupaten/Kota dengan Propinsi. Pertumbuhan yang cukup tinggi dari nilai tambah kabupaten/kota disebabkan tingginya pertumbuhan sektor pertambangan tanpa migas di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Pasir, dimana ketiga daerah tersebut merupakan penyumbang terbesar pada subsektor tambang tanpa migas di Kalimantan Timur. Produksi batu bara 2013 akan flat dan tertahan. Begitu juga dengan alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO). Sebelumnya, Pemerintah memangkas alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) tahun ini sekitar 15 juta ton, dari rencana semula 82,07 juta ton menjadi hanya 67,25 juta ton. Tahun 2013 akan tetap DMO dengan tahun ini, karena outoputnya tetap. Melihat pada ekspektasi dan realisasi permintaan batu bara. Pada 31 Oktober 2012, pemerintah menerbitkan Kepmen ESDM No.909.K/30/DJB/2012 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM No.1991 K/30/MEM/2011 tentang Penetapan Kebutuhan dan Persentase Minimal Penjualan Batu bara untuk Kepentingan Dalam Negeri Tahun 2012.
16

B. Analisis Untuk mencapai tujuan dan penelitian dan membuktikan hipotesis penulis, Tabel 4.1 permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010. Berikut data-data yang telah penulis persiapkan dan Tabel ini merupakan tahap awal penulis dalam menganalisis data pada penelitian ini. Tabel 4.1. permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010 tahun Upah (Rp) Output (ton) Permintaan tenaga X1 X2 kerja (orang) Y 2001 470000 7371294 2285 2002 500000 692227863 449 2003 703000 897995702 2988 2004 740000 171112229 2846 2005 791800 13979235 5176 2006 795244 13208131 2907 2007 985000 12518934 3777 2008 1050000 13487541 5727 2009 1144000 20883783 2415 2010 1583600 1416467329 1918 Sumber: BPS propinsi tahun 2001-2010 Tabel 4.1 memberikan gambaran tentang besarnya jumlah permintaan tenaga kerja, upah dan output sejak 10 tahun dimulai dari tahun 2001 hingga 2010. Dari data tersebut kemudian diolah dengan bantuan program komputer statistik Statiscital Package for Social Science (SPSS) Release 16.0, Adapun hasil olahan software tersebut sebagaimana Tabel 4.2 Destrictive Statistics berikut : Tabel 4.2. Descriptive Statistics Mean permintaan tenaga kerja upah Minimum Kabupaten output/produksi 3053.80 876264.40 176000000000 Std. Deviation 1529.632 330475.454 3329000000000 N 10 10 10

Sumber: dari hasil perhitungan tabel 4.2 permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010 Dari Tabel 4.2. Descriptive statistics, data output dapat dilihat rata-rata permintaan tenaga kerja dari 10 tahun adalah 3053.80 dengan standar deviasi 1529.632, sedangkan rata-rata upah minimum Kabupaten adalah 876264.40 dengan standar
17

deviasi 330475.454, dan rata-rata output sendiri 48915612.00 dengan standar deviasi 3329000000000. Untuk mengetahui korelasi antara variabel-variable bebas dan variabel terikat masih dengan bantuan program komputer statistik Statiscital Package for Social Science (SPSS) Release 16.5 dilakukan analisa dengan metode pearson, yang hasil outputnya dapat dilihat pada Tabel 4.3 sebagai berikut: Tabel 4.3. Correlations permintaan tenaga kerja Pearson Correlation permintaan tenaga kerja upah tenaga kerja output/produksi permintaan tenaga kerja upah tenaga kerja output/produksi permintaan tenaga kerja upah tenaga kerja output/produksi 1.000 .157 -.434 . .332 .105 10 10 10 upah tenaga output/pro kerja duksi .157 1.000 -.321 .332 . .183 10 10 10 -.434 -.321 1.000 .105 .183 . 10 10 10

Sig. (1-tailed)

Sumber: dari hasil perhitungan tabel 4.3 permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010 dengan program (SPSS). Dari Tabel 4.3 Correlations di atas diketahui bahwa dengan metode Pearson, korelasi antara variabel terikat dengan variabel bebas yaitu upah minimum sebesar 0.332 dan output sebesar 0.095. Dari uji satu sisi diketahui bahwa variable bebas upah minimum dan output memberikan pengaruh terhadap variabel terikat (dibawah 0,05) dengan jumlah data yang diproses sebanyak 10. Selanjutnya untuk mengetahui nilai koefisien korelasi (R) variabel bebas terhadap variabel terikat dilakukan kembali pemerosesan data dengan program komputer SPSS (Statistical Product and Service Solutions ) Versi 16.0 for Windows 7 Professional. Hasil dapat dilihat pada Tabel 4.4 . Tabel 4.4. Variables Entered/Removedb Variables Removed . Enter

Model Variables Entered 1

Method

output/produksi, upah tenaga kerja a a. All requested variables entered.

Sumber: dari hasil perhitungan tabel 4.4 permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010 dengan program (SPSS)

18

Dari Tabel 4.4. Variables entered/removed (b) diketahui bahwa metode yang digunakan dalam pemprosesan data dengan SPSS adalah metode enter yang berarti keseluruhan variabel bebas dimasukkan ke dalam proses perhitungan tanpa ada variabel yang dikeluarkan (variable remove). Hasil perhitungan yang dapat memberikan gambaran tentang nilai koefisien korelasi (R) variabel bebas terhadap variabel terikat ada pada tabel 4.5 model summary (b) berikut ini: Tabel 4.5. Model Summaryb Model R
a

R Square

Adjusted R Square

Std. Error of the Estimate

1 .434 .188 -.044 1562.625 a. Predictors: (Constant), output/produksi, upah tenaga kerja b. Dependent Variable: permintaan tenaga kerja Sumber: dari hasil perhitungan tabel 4.5 permintaan tenaga kerja, upah dalam rupiah dan output dalam persen tahun 2001-2010 dengan program (SPSS) Dari Tabel 4.5. Model summary (a) diketahui bahwa nilai koefisien korelasi (R) variabel bebas terhadap variabel terikat adalah sebesar 0.434. koefisien determinasi (R square) sebesar 0.188. Adjusted (R Square) sebesar - 0.044, dengan Standard Error of the Estimate sebesar 1562.625. Untuk mengetahui nilai regresi dan nilai residu yang juga didapat dari perhitungan dengan program SPSS dapat dilihat pada Tabel berikut: Tabel 4.6. ANOVAb Model 1 Regression Residual Total Sum of Squares 3965405.659 17090000000 21060000000 Df 2 7 9 Mean Square 1982702.830 2441795.420 F .812 Sig. .482a

a. Predictors: (Constant), output/produksi, upah tenaga kerja b. Dependent Variable: permintaan tenaga kerja Sumber: dari perhitungan komputer SPSS Dari Tabel 4.6 ANOVA (b) dapat diketahui bahwa sum of squares untuk nilai regresi adalah sebesar 3965405.659, nilai residu sebesar 17090000000, dan total sebesar 21060000000. Mean square yang diperoleh untuk nilai regresi adalah 1982702.830, dan nilai untuk residual adalah 2441795.420 dengan Fhitung sebesar 0.812 dan signifikansi 0.482a. Selanjutnya tetap dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions ) Versi 16.0 for Windows 7 Professional juga dilakukan uji thitung yang hasilnya ada pada Tabel 4.7. Coefficients (a) dan Tabel 4.8. Residuals Statistics (a) berikut ini:

19

Tabel 4.7. Coefficientsa Standardized Unstandardized Coefficients Coefficients Model 1 (Constant) upah Minimum kabupaten output/pro duksi B Std. Error Beta t 2.009 Sig. .084

3317.664 1651.313

0.000009246

.002

.020

.056

.957

-0.00000001963

.000

-.427 -1.188

.274

a. Dependent Variable: permintaan tenaga kerja

Tabel 4.8. Residuals Statisticsa Minimum Predicted Value Residual Std. Predicted Value Std. Residual 1620.10 -1506.210 -2.160 -.964 Maximum 3419.34 2314.900 .551 1.481 Mean 3053.80 .000 .000 .000 Std. Deviation 663.778 1378.105 1.000 .882 N 10 10 10 10

a. Dependent Variable: permintaan tenaga kerja

C. Pembahasan Berdasarkan Hasil t hitung (t) yang diperoleh adalah 2.009 dengan tingkat signifikansi 0.084 untuk konstanta, 0.056 untuk variabel upah dengan tingkat signifikansi 0.957, -1.188 untuk variabel output dengan tingkat signifikansi 0.274. Dari hasil analisis data diperoleh nilai koefisien determinasi (R Square) sebesar 0.434, hal ini secara statistik dapat dikatakan bahwa model yang digunakan tidak cukup baik, karena nilai koefisien determinasi menunjukan besarnya sumbangan variabel bebas terhadap variabel terikat dimana nilai 0.434 berarti 43,4% variabel terikat (Y) dipengaruhi
20

variabel bebas (X1) dan (X2) sedangka sisanya sebesar 67,6% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam variabel bebas. Berdasarkan hasil analisis regresi linier berganda maka persamaan regrsinya adalah sebagai berikut: Y =3317.6 + 0.000009246 X1 - 0.00000001963 X2 + E Persamaan regresi bergada tersebut bermakna: 1. Koefisien konstanta sebesar 3317.6 bermakna jika upah dan output tidak mengalami perubahan maka permintaan tenaga kerja sebesar 3317.6 berarti jika upah meningkat maka permintaan tenaga kerja di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara akan menurun, sedangkan output meningkat maka permintaan tenaga kerja di sektor pertambangan Kab. Kutai Kartanegara juga meningkat. Seperti yang dimukakan oleh para ahli, menurut Junaedi (2011). Peningkatan produktivitas terjadi seiring peningkatan keseimbangan antara pendapatan dan perluasan kesempatan kerja membawa pada kondisi keseimbangan awal dan keseimbangan output pada sisi penawaran meningkat. Apabila upah dan produktivitas marginal tenaga kerja tumbuh pada tingkat yang sama, terjadi peningkatan penawaran perekonomian yang tetap. Jika produktivitas tenaga kerja dan tingkat upah mengalami peningkatan dengan jumlah sama, keseimbangan harga dan tenaga kerja akan tetap. Tingkat awal employment dan harga konsisten dengan tingkat upah yang tinggi dan tingkat output, dalam kaitan dengan kenaikkan produktivitas. Dengan demikian, untuk memelihara equilibrium pada perekonomian saat harga meningkat, equilibrium output sisi permintaan juga harus diperluas. 2. Koefisien b1 sebesar 0.000009246 dengan sebesar 0.95 bermakna tingkat upah (X1) tidak berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja pada sektor pertambangan di Kab. Kutai Kartanegara. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan para pakar. Menurut Ananta (1993) bahwa permintaan tenaga kerja merupakan sebuah daftar berbagai alternatif kombinasi tenaga kerja dengan input lainnya yang tersedia dan berhubungan dengan tingkat gaji atau upah. Menurut (Ehrenberg, 1998) menyatakan apabila terdapat kenaikan tingkat upah rata-rata, maka akan diikuti oleh turunnya jumlah tenaga kerja yang diminta, berarti akan terjadi pengangguran. Atau kalau dibalik, dengan turunnya tingkat upah rata-rata akan diikuti oleh meningkatnya kesempatan kerja, sehingga dapat dikatakan bahwa kesempatan kerja mempunyai hubungan terbalik dengan tingkat upah. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Kuncoro (2001), di mana kuantitas tenaga kerja yang diminta akan menurun sebagai akibat dari kenaikan upah. Apabila tingkat upah naik sedangkan harga input lain tetap, berarti harga tenaga kerja relatif lebih mahal dari input lain. Situasi ini mendorong pengusaha untuk mengurangi penggunaan tenaga kerja yang relatif mahal dengan input-input lain yang harga relatifnya lebih murah guna mempertahankan keuntungan yang maksimum. Ada pun dari hasil penelitian terdahulu didapat hasil perumusan hipotesis sebagai berikut : Ho : 1 = 0, Tidak ada pengaruh yang negatif dan signifikan antara upah/gaji (X1) secara parsial terhadap penyerapan tenaga kerja (Y) Ha : 1 < 0, Ada pengaruh yang negatif dan signifikan antara upah/gaji (X1) secara parsial terhadap penyerapan tenaga kerja (Y) Hasil perhitungan statistik diperoleh untuk variabel upah/gaji (X1), diperoleh nilai t hitung = -2,384 dengan signifikansi t sebesar 0,007. Dengan menggunakan signifikansi dan 0,05, nilai t tabel dengan df = n-k = 222-4 = 218 diperoleh t tabel sebesar -1,660. Maka diperoleh t hitung (-2,384) < t tabel (-1,660). Hal ini menunjukkan ada pengaruh yang negatif antara upah/gaji (X1) terhadap penyerapan tenaga kerja (Y). Hasil signifikansi pengujian sebesar 0,005 menunjukkan bahwa nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 menggambarkan pengaruh
21

yang signifikan antara upah/gaji (X1) terhadap penyerapan tenaga kerja (Y). Dengan demikian maka Ho ditolak dan Ha diterima, sehingga hipotesis yang menyatakan ada pengaruh yang negatif dan signifikan antara upah/gaji (X1) secara parsial terhadap penyerapan tenaga kerja (Y) dapat diterima.Variabel tingkat upah/gaji mempunyai pengaruh yang negatif dan signifikan, hal ini dapat dilihat dari hasil analisis data bahwa t-hitung untuk modal mempunyai nilai sebesar 2,384. Dimana apabila terjadi kenaikan tingkat upah/gaji maka akan menyebabkan penurunan penyerapan tenaga kerja. Hubungan negatif yang terjadi ini sesuai dengan apa yang dikemukakan dalam permintaan tenaga kerja, bahwa pada saat tingakt upah/gaji tenaga kerja meningkat akan terjadi penurunan jumlah tenaga kerja yang diminta, demikian pula sebaliknya dengan adanya peningkatan dalam permintaan jumlah tenaga kerja disebabkan karena adanya penurunan tingkat upah/gaji. Sehingga apabila terjadi peningkatan tungkat upah/gaji maka perusahaan akan mengurangi penyerapan tenaga kerja dan lebih memilih untuk menggantikan dengan alat produksi (mesinmesin). yang tidak perlu mengeluarkan biaya lebih. Namun hasil penelitian ini bertentangan dengan Nadia Nasir (2008) bahwa Berdasarkan nilai koefisien beta dan t hitung didapatkan bahwa variabel yang dominan mempengaruhi peningkatan produktivitas kerja adalah tingkat upah, karena upah memiliki nilai t hitung dan koefisien beta yang paling tinggi. t test antara X1 (tingkat upah) dengan Y (produktivitas kerja) menunjukkan t hitung = 5,534. Sedangkan t tabel ( = 0.05 ; db residual = 46) adalah sebesar 2.013. Karena t hitung > t tabel yaitu 5,079 > 2,013 maka pengaruh X1 (upah) adalah signifikan pada tingkat kesalahan = 5%. Hal ini berarti H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja dapat dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat upah atau dengan kata lain bahwa upah merupakan faktor yang dapat meningkatkan produktivitas kerja perusahaan secara nyata. 3. Koefisien b1 sebesar -0.00000001963 dengan sebesar 0.27 bermakna bahwa output (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap permintaan tenaga kerja di Kab. Kutai Kartanegara. Seperti yang dikemukakan oleh (Mul Irawan, 2011) hasil yang semakin menurun ( juga disebut sebagai hasil tambahan yang semakin menurun ) merujuk pada bagaimana nilai penambahan produksi dari sebuah faktor produksi mulai mengalami penurunan, saat faktor produksi tersebut meningkat, berlawanan terhadap peningkatan yang seharusnya normal diharapkan. Berdasarkan hubungan ini, dalam sebuah system produksi dengan input-input tetap dan variabel, ( seperti ukuran pabrik dan jumah tenaga kerja ), setiap tambahan unit faktor produksi variabel (yaitu, orang-jam) menghasilkan peningkatan yang semakin mengecil pada output, yang berarti juga mengurangi produktivitas setiap pekerja. Sebaliknya, memproduksi satu unit output membutuhkan biaya yang lebih besar (karena jumlah input variabel utama yang digunakan, pengaruhnya sangat kecil). Terdapat hubungan terbalik antara tingkat pengembalian input dan biaya produksi. Misalkan bahwa 1 kg bibit berharga 1 dollar, dan harga ini tidak berubah ; meskipun ada biaya-biaya lain, anggaplah bahwa biaya2 ini tidak mempengaruhi jumlah ouput/hasil dan merupakan biaya tetap. 1 kg bibit menghasilkan 1 ton panenan, sehingga 1 ton pertama berbiaya 1 dollar untuk memproduksinya. Karena itu, untuk 1 ton panenan pertama, biaya marginal ( MC) nya adalah $1 /ton. Jika tidak perubahan dalam factor produksi lain, maka 1 kg bibit yang kedua yang ditambahkan ke lahan hanya menghasilkan dari hasil yang pertama, maka MC = $1 per ton hasil, atau $2 per 1 ton. Hal yang sama terjadi, jika 1 kg yang ketiga ditambahkan, hanya mengahasilkan tambahan ton, maka MC = $1 per ton atau $4 per ton. Dengan demikian, hasil marginal yang semakin menurun mengakibatkan peningkatan biaya marginal. Hal ini juga mengakibatkan pada meningkatkan biaya rata-rata. Dalam
22

contoh angka-angka, biaya rata2 naik dari $1 per ton, menjadi $2 per 1.5, dan kemudian menjadi $3 untuk 1.75 ton, atau sekitar 1 hingga 1.3 hingga 1.7 dolar per ton. Dan pengaruhnya terhadap permintaan tenaga kerja dapat menimbulkan dampak negatif akibat banyaknya biaya yang dikeluarkan maka kecil kemungkinan membuka permintaan tenaga kerja. Namun hasil penelitian ini bertolak belakang dengan pendapat Ahli yang lain, Sampurno Wibowo (2009). Permintaan akan tenaga kerja timbul karena ada permintaan akan output. Ada perbedaan yang fundamental antara permintaan konsumen terhadap barang-barang dan jasa-jasa dengan permintaan pengusaha terhadap pekerja. Konsumen membeli barang-barang dan jasa-jasa untuk memenuhi kepuasan, tapi pengusaha membayar tenaga kerja untuk memperoleh keuntungan (laba). Seorang pengusaha akan membandingkan biaya membayar upah seorang tenaga kerja dengan perkiraan sumbangan tenaga kerja tersebut dalam memberikan penerimaan perusahaan. Apabila tambahan biaya per hari yang diakibatkan oleh penambahan satu tenaga kerja lebih sedikit dibanding tambahan penerimaan per hari dari tambahan hasilnya, maka perusahaan akan menambah jumlah pekerja. Dengan demikian, permintaan tenaga kerja tergantung pada tambahan output yang dapat disumbangkan tenaga kerja lainnya, harga tambahan output itu dan biaya yang disebabkan tambahan tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja timbul sebagai akibat dari permintaan konsumen atas barang dan jasa, sehingga permintaan tenaga kerja merupakan permintaan turunan (derived demand) (Payaman, 2001). (Arfida BR, 2003) menyatakan pengaruh output terhadap permintaan tenaga kerja dimulai dari penurunan upah pasar. Turunnya upah pasar, biaya produksi perusahaan akan mengalami penurunan. Dalam pasar persaingan sempurna, jika diasumsikan harga produk konstan, maka penurunan biaya ini akan menaikkan kuantitas output yang memaksimalkan keuntungan. Untuk alasan tersebut perusahaan akan memperluas penggunaan tenaga kerja. Adapun penjelasan dari hasil penelitian, dasar pengusaha untuk menambah atau mengurangi pekerja adalah dengan memperkirakan tambahan output yang diperoleh pengusaha sehubungan dengan penambahan seorang pekerja (marginal physical product of labor=MPPL). Selain itu, pengusaha perlu menghitung nilai dari produk fisik marjinal. Nilai produk fisik marjinal tenaga kerja (value marginal physical product of labor=VMPPL) adalah tambahan penerimaan dalam dolar yang dihasilkan oleh tambahan pekerja, ceteris paribus. Nilai produk fisik marjinal tenaga kerja sama dengan produk fisik marjinal tenaga kerja dikalikan dengan harga output. Wage ($) W2

W1

D VMPPL

L3

L2 L1

Jumlah tenaga kerja

Gambar 4.2. Kurva permintaan tenaga kerja jangka pendek dan jangka panjang
VMPPL = P x MPPL

Dimana:
23

VMPPL = nilai produk fisik marjinal tenaga kerja P = harga output MPPL = produk fisik marjinal tenaga kerja (tambahan output yang diperoleh sehubungan dengan penambahan pekerja). Jika harga output sebesar $2, maka lima orang pekerja dengan produk fisik marjinal tenaga kerja 15 akan memberikan kontribusi bagi penerimaan perusahaan sebesar $30. Pada nilai produk fisik marjinal terjadi hukum penambahan hasil yang semakin berkurang karena perolehan dolar dari mempekerjakan tambahan pekerja semakin berkurang setelah melampaui titik tertentu. Sedangkan nilai produk fisik rata-rata (value average physical productof labor=VAPPL) menunjukkan nilai dalam dolar dari output yang dihasilkan pekerja.
VAPPL = P x APPL

Dimana: VAPPL = nilai produk fisik rata-rata APPL = produk fisik rata-rata P = harga output Jika harga output sebesar $2, maka lima orang pekerja dengan produk fisik rata-rata 19 akan memberikan kontribusi nilai produk rata-rata bagi perusahaan sebesar $38.

V. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Secara simultan, variabel upah (X1) dan output (X2) tidak berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja (Y). 2. Upah tidak berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja. 3. Output tidak berpengaruh terhadap permintaan tenaga kerja. 4. Upah yang paling dominan pengaruhnya terhadap permintaan tenaga kerja. B. Saran 1. Dalam rangka mengurangi tingkat pengangguran pemerintah dapat melakukan kebijakan intensifikasi maupun ekstensifikasi pertambangan dengan catatan bahwa tetap mesti memperhatikan prinsip pembangunan berkelanjutan. 2. Dalam rangka memperbaiki tingkat kesejahteraan buruh, berdasarkan hasil anlisis masih dapat meningkatkan upah buruh sehingga semakin mendekati pada Kebutuhan Hidup Layak (KHL). 3. Pemerintah agar senantiasa berupaya menciptakan peluang kerja agar para buruh memiliki bargaining position yang lebih baik dihadapan pemilik modal/pengusaha. DAFTAR PUSTAKA Abidin, Muhammad Zainal. 2011. tinjauan umum tentang tenaga kerja di indonesia berdasarkan uu perburuhan. http://www.masbied.com/2011/04/04/ (diakses tanggal 22 april 2012).
24

Achas. 2012. Analisis kinerja, Fungsi Upah dan Fungsi PenawaranTenaga Kerja Dosen Perguruan Tinggi Negeri di Palu. Palu. http://www.scribd.com/doc/46788848/3/Kerangka-Konseptual (diakses pada tanggal 10 juli 2012). Afifanida. 2012. Melalui Hasil Pengamatan dan penelitian. http://afifanida.blogspot.com/2012/10/melalui-hasil-pengamatan-dan-penelitian.html (diakses pada tanggal 30 oktober 2012). Bab II. tenaga kerja http://repository.usu.ac.id (diakses tanggal 22 april 2012). Bappeda kab. Kutai Kartanergara. 2005. Kondisi Analis dan Prediksi Kondisi Umum Daerah. http://bappeda.kutaikartanegarakab.go.id/dokumen/RPJPD_BAB_II_KONDISI_ANA LISIS_DAN_PREDIKSI_KONDISI_UMUM_DAERAH.pdf (diakses pada tanggal 30 Oktober 2012). Denny. 2012. Output tambang turun, produksi industri flat. Financeroll. http://financeroll.co.id/news/27119/output-tambang-turun-produksiindustri-flat (diakses pada tanggal 27 oktober 2012). Demographic Aspects of Manpower (ChapterXI).1973.Munir, Rozy dan Budiarto. (terjemahan). Aspek demografis tenaga kerja. Akademika Presindo. Jakarta. Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, 2012. Laporan data dan evaluasi pengawasan ketenagakerjaan. Tahun 2012. Kab. Kutai Kartanegara. ________. 2012. Data pemetaan kerawanan tenaga kerja dan pengawasan norma kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada perusahaan di kecamatan Tenggarong. Tahun 2012. Kab. Kutai Kartanegara. Dumairy. 1996. Perekonomian Indonesia, Cetakan kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta. Elib. 2012. Metodelogi penelitian. Unikom. http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/526/jbptunikompp-gdl-riskariast-26277-5unikom_r-i.pdf (diakses pada tanggal 16 juli 2012). Esdm. 2012. Perlu Diperkuat, Interaksi Hulu-Hilir Industri Pertambangan http://www.esdm.go.id/berita/37-umum/574-perlu-diperkuat-interaksi-hulu-hilirindustri-pertambangan.html (diakses pada tanggal 30 oktober 2012). Fakultas Ekonomi. 2011. Panduan Penulisan Skripsi. Samarinda : Universitas Mulawarman. Farchan. 2008. Makalah Tentang Perekrutan Tenaga Kerja (Dasar-Dasar Bisnis). http://organisasi.org/ (diakses tanggal 29 april 2012). GP,Dhisto. 2008. Resume Produksi. www.dikmenum.go.id (diakses tanggal 25 oktober 2012). Hasan, M. Iqbal. 2003. Pokok-pokok materi Statistika 2 (Statiska Inferensif), Cetakan kedua. PT Bumi Askara. Jakarta. HR, Syaukani.2003. Karakterisrik dan Struktur Kesempatan Kerja di Kabupaten Kutai Kartanegara , Jurnal Ekonomi Pembangunan 8 (1) Juni : 63 71. Ignatia Rohana Sitanggang dan Nachrowi Djalal Nachrowl.2004.Pengaruh Struktur Ekonomi pada Penyerapan Tenaga Kerja Sektoral: Analisis Model Demometrik di 30 Propinsi pada 9 Sektor di Indonesia, Jurnal Ekonomi dan Pembangunan Indonesia 5 (1) Juli : 103 133. IPB. 2012.metodelogi penelitian. Bogor. http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/53611/BAB%20III%20Metodo logi%20Penelitian.pdf?sequence=3 (di akses tanggal 15 juli 2012). Kabupaten Kutai Kartanegara [online] http://kabupaten.kutaikartanegara.com/ (di akses tanggal 22 april 2012).
25

Khoiriyah, Lilik . 2009. Pengaruh upah dan kingkungan kerja terhadap kinerja karyawan pada CV. Aji Bali Jayawijaya. Surakarta.http://etd.eprints.ums.ac.id/5725/1/A210050131.pdf (diakses pada tanggal 10 juli 2012). LPEM. 2004. Tinjauan dan Manfaat Industri Tambang di Indonesia . Jakarta : Universitas Indonesia. http://www.pt-inco.co.id/pdf/Paper%20Seminar%20Pertambangan%20LPEMKADIN.pdf (diakses pada tanggal 30 oktober 2012). Nazir, Moh. 2005. Metode Penelitian. Bogor : Ghalia Indonesia, hal 123. Octariza, Gerry. 2007.pengaruh lingkungan kerja terhadap produktivitas kerja pegawai pada kantor kelurahanpasar pagi kecamatan Samarinda ilir kota Samarinda. Samarinda. Pitoyo, Whimbo. 2010. Panduan Praktis Hukum Ketenagakerjaan, cetakan pertama. Transmedia Pustaka. Jakarta Selatan. Purba, Ijon Ridho Feber. 2007. Analisis Faktor-Faktor yang mempengaruhi Permintaan Tenaga Kerja di Sumatera Utara. Medan. Repository. Bab II, Pertumbuha Ekonomi. Sumatra Utara: Universitas Sumatra Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25176/4/Chapter%20II.pdf (diakses pada tanggal 30 oktober 2012). S, Mulyadi. 2003. Ekonomi Sumber Daya Manusia dalam Perspektif Pembangunan. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta. Sholeh Maimun. 2005. Permintaan dan Penawaran Tenaga Kerja Serta Upah: Teori Serta Beberapa Potretnya Di Indonesia. Jogjakarta http:// staff.uny.ac.id (di akses pada tanggal 10 juli 2012). Sugiyono. 2010. Statistika untuk Penelitian, Cetakan keenam belas. ALFABETA. Bandung. Teori Online. 2012. Intervening Variable. http://teorionline.wordpress.com/2010/03/15/variabel-intervening-interveningvariable/ (diakses pada tanggal 15 juli 2012). _____ 2012. variabel metode penelitian independen dependen bebas terikat moderator intervening. http://teorionline.wordpress.com/tag/variabel-metode-penelitian-independendependen-bebas-terikat-moderator-intervening/ (diakses pada tanggal 15 juli 2012). Zain, Muhammad Adnan. 2010. esm 03 bab ii permintaan tenaga kerja. http://www.slideshare.net/ (diakses tanggal 29 April 2012).

26

Anda mungkin juga menyukai