Anda di halaman 1dari 4

KONSELING EKSISTENSIAL HUMANISTIK Prinsip Dasar Teori Konseling Eksistensial Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua

model utama yang lain, yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Kedudukan psikoanalisis bahwa kemerdekaan terbatas pada kekuatan-kekuatan dorongan irasional dan peristiwa yang telah lalu. Kedudukan behaviorisme bahwa kemerdekaan terbatas oleh pengkondisian sosial budaya. Meskipun terapi eksistensial menerima premis bahwa pilihan kita terbatas pada keadaan eksternal, terapi menolak pendapat yang mengatakan bahwa kita ditentukan olehnya. Terapi eksistensial berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan oleh karenanya bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Pandangan eksistensial didasarkan pada model pertumbuhan dan mengkonsepkan kesehatan bukan keadaan sakit. Seperti yang ditulis Deurzen-Smith (1988), konseling eksistensial tidak dirancang untuk menyembuhkan seperti tradisi model medis. Klien tidak dipandang sebagai orang yang sedang sakit melainkan sebagai orang yang merasa bosan atau kikuk dalam menjalani kehidupan Konsep Dasar Teori Konseling Eksistensial Pandangan Tentang Sifat Hakiki Manusia Gerakan eksistensial berarti rasa hormat pada seseorang, menggali aspek baru dari perilaku manusia dan metode memahami manusia yang beraneka ragam. Falsafah eksistensial memberikan landasan bagi pendekatan terapeutik yang memfokuskan pada individu-individu yang terpecah serta bersikap asing antara satu dengan yang lain yang tidak melihat adanya makna dalam lingkungan keluarga serta system sosial yang ada pada waktu itu. Falsafah itu timbul dari keinginan untuk menolong orang dalam mengarahkan perhatian pada tema dalam hidup. Yang diperhatikan adalah orang-orang yang mengalami kesulitan dalam hal mendapatkan makna dari tujuan hidup dan dalam hal mempertahankan identitas dirinya (Holt, 1986). Fokus yang sekarang menjadi arah pendekatan eksistensial adalah rasa kesendirian di dunia dan usaha menghadapi kecemasan akan isolasi ini. Daripada berusaha untuk mengembangkan aturan-aturan bagi terapi, maka sebagai gantinya para praktisi eksistensial berusaha keras untuk memahami pengalaman manusia yang dalam ini. (May & Yalom, 1989). Pandangan eksistensial akan sifat manusia ini sebagian dikontrol oleh pendapat bahwa signifikansi dari keberadaan kita ini tak pernah tetap, melainkan kita secara terus menerus mengubah diri sendiri melalui proyek-proyek kita. Manusia adalah makhluk yang selalu dalam keadaan

transisi, berkembang, membentuk diri dan menjadi sesuatu. Menjadi seseorang berarti pula bahwa kita menemukan sesuatu dan menjadikan keberadaan kita sebagai sesuatu yang wajar. Menurut pendekatan eksistensial, dimensi dasar dari kondisi manusia mencakup: a. Kapasitas kesadaran diri b. Kebebasan serta tanggung jawab c. Menciptakan identitas dirinya dan menciptakan hubungan yang bermakna dengan orang lain d. Usaha pencarian makna, tujuan, nilai, dan sasaran e. Kecemasan sebagai suatu kondisi hidup f. Kesadaran akan datangnya maut serta ketidakbaradaan Tujuan Konseling Teori Konseling Eksistensial Tujuan dari konseling eksistensial, yaitu: a. Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan. b. Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi. membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri. c. Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri. Hubungan Konselor-Klien Teori Konseling Eksistensial Yang paling diutamakan oleh konselor eksistensial adalah hubunganya dengan klien. Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi terapeutik merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Konselor percaya bahwa sikap dasar mereka terhadap klien, karakteristik pribadi tentang kejujuran, integritas dan keberanian merupakan hal-hal yang harus ditawarkan. Konseling merupakan perjalanan yang ditempuh konselor dan klien, suatu perjalanan pencarian menyelidiki kedalam dunia seperti yang dilihat dan dirasakan klien. Konselor berbagi reaksi dengan kliennya disertai kepedulian dan empati yang tidak dibuat-buat sebagai satu cara untuk memantapkan hubungan terapeutik. May dan Yalom (1989) menekankan peranan krusial yang dimainkan oleh kapasitas konselor untuk disana demi klien selama jam terapi yang mencakup hadir secara penuh dan terlibat secara intens dengan kliennya. Sebelum konselor membimbing klien untuk berhubugan dengan orang lain, maka pertama-tama harus secara akrab berhubungan dengan si klien itu (Yalom, 1980). Inti dari hubungan terapeutik adalah rasa saling menghormati, yang mencakup kepercayaan akan potensi klien untuk secara otentik

menangani kesulitan mereka dan akan kemampuan mereka menemukan jalan alternatif akan keberadaan mereka. Sidney Jourad (1971) mendesak konselor untuk mengajak klien mereka benar-benar menunjukkan keotentikan dirinya melalui perilaku yang otentik dan pengungkapan diri. Oleh karena itu konselor mengajak klien untuk tumbuh dengan mencontoh perilaku otentik. Mereka bisa menjadi transparan apabila dianggap cocok untuk diterapkan dalam hubungan itu, dan sifat kemanusiaannya bisa menjadi stimulus untuk diambil potensi riilnya oleh klien. Proses Konseling Teori Konseling Eksistensial Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensial-humanistik. Selama tahap pendahuluan, konselor membantu klien dalam hal mengidentifikasi dan mengklarifikassi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak untuk mendefinisikan dan menanyakan tentang cara mereka memandang dan menjadikan eksistensi mereka bisa diterima. Mereka meneliti nilai mereka, keyakinan, serta asumsi untuk menentukan kesahihannya. Bagi banyak klien hal ini bukan pekerjaan yang mudah oleh karena mereka mungkin pada awalnya memaparkan problema mereka sebagai hamper seluruhnya sebagai akibat dari penyebab eksternal. Mereka mungkin berfokus pada apa yang orang lain jadikan mereka merasakan sesuatu atau betapa orang lain bertanggung jawab sepenuhnya akan apa yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Konselor mengajar mereka bagaimana caranya untuk becermin pada eksistensi mereka sendiri dan meneliti peranan mereka dalam hal penciptaan problem mereka dalam hidup. Pada tahap tengah dari konseling eksistensial, klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka. Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yang mereka anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan yang jelas tentang proses pemberian nilai internal mereka. Tahap terakhir dari konseling eksistensial berfokus pada menolong klien untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan yang kongkrit. Biasanya klien menemukan kekuatan mereka dan menemukan jalan untuk menggunakan kekuatan itu demi menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Teknik-teknik Konseling Eksistensial

Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai pada pemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh dari situasi masa lalu (May &Yalom, 1989). Biasaya terpis eksistensial menggunakan metode yang mencakup ruang yang cukup luas, bervariasi bukan saja dari klien ke klien, tetapi juga dengan klien yang sama dalam tahap yang berbeda dari proses terapeutik. Di satu sisi, mereka menggunakan teknik seperti desentisasi (pengurangan kepekaan atas kekurangan yang diderita klien sehabis konseling), asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan mereka mungkin mendapatkan pemahaman dari konselor yang berorientasi lain. Tidak ada perangkat teknik yang dikhususkan atau dianggap esensial (Fischer & Fischer, 1983). Di sisi lain, beberapa orang eksistensialis mengesampingkan teknik, karena mereka lihat itu semua memberi kesan kekakuan, rutinitas, dan manipulasi Sepanjang proses terapeutik, kedudukan teknik adalah nomor dua dalam hal menciptakan hubungan yang akan bisa membuat konselor bisa secara efektif menantang dan memahami klien. Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu: 1. Penerimaan 2. Rasa hormat 3. Memahami 4. Menentramkan 5. Memberi dorongan 6. Pertanyaan terbatas 7. Memantulkan pernyataan dan perasaan klien 8. Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien 9. Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna. Kecocokannya Untuk di Terapkan di Indonesia Dari pembahasan diatas, focus terapi eksistensial lebih pada pemahaman seorang individu dari pada penguasaan teknik. Dengan berorientasi pada eksistensialisme konselor, ada kebebasan untuk menarik dari system lain demi teknik spesifik yang bisa secara fleksibel digunakan dalam kerja terapeutik dengan populasi klien yang beraneka ragam latar belakang budayanya. Konselor eksitensial memiliki teori untuk membimbing intervensi (campur tangan) mereka. Meskipun mereka asumsikan bahwa menggunakan beraneka ragam teknik dan prosedur yang tidak terintegrasi yang berlandaskan asumsi yang berbeda-beda tentang

perkembangan manusia bisa lebih banyak membawa mudharat dari pada manfaat, mereka benar-benar menggunakan beraneka dasar ketrampilan konseling. Kecocokannya untuk diterapkan di Indonesia terletak pada pendapat kalangan eksistensial tentang kebebasan dan control dapat bermanfaat untuk menolong klien menangani nilai-nilai budaya mereka. Indonesia adalah Negara multicultural. Ada kalanya klien mungkin merasa bahwa hidup mereka tidak terkontrol, dan mereka mungkin ada perasaan bahwa merekalah yang digiring bukan menggiring. Apa yang orang kerjakan atau yang tidak kerjakan selalu membawa konsekuensi. Klien bisa ditantang untuk melihat harga yang harus dibayar atas keputusan yang telah mereka ambil. Meskipun benar bahwa beberapa klien dari suatu kelompok etnik tertentu mungkin tidak memiliki rasa kebebasan, kebebasan mereka bisa ditingkatkan melalui pengenalan akan keterbatasan social yang mereka hadapi. Memang benar bahwa kebebasan mereka dapat terhalangi oleh institusi dan bahwa keterbatasan kebebasan mereka bisa disebabkan oleh kalangan kelurga. Pada hakekatnya, mungkin susah untuk memisahkan kebebasan individu dari konteks struktur keluarga mereka. Kesimpulan Terapi eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Yang paling diutamakan dalam konseling eksistensialhumanistik adalah hubunganya dengan klien. Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensial-humanistik. Dan tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik. Kecocokannya untuk diterapkan di Indonesia terletak pada pendapat kalangan eksistensial tentang kebebasan dan control dapat bermanfaat untuk menolong klien menangani nilai-nilai budaya mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka. DAFTAR PUSTAKA Corey, G. 1986. Theory and practice of counseling and psychotherapy. Monterey, California: Brooks/ Cole Publishing Company

KONSELING REBT Teori REBT dipelapori oleh Albert Ellis (1913). Beliau berasal dari Pennsylvania, Amerika Serikat. Beliau awalnya berminat tentang psikoanlaisis dan teori pembelajaran, dan pandangan tentang pemikiran negative dapat menyebabkan bertahannya pengalaman traumatic yang mengganggu. Ketidak puasan dan kekurangan yang terdapat pada terapi psikoanalisis dan tingkahlaku, pada tahun 1959, Ellis menggagas berdirinya Institut Terapi Rasional Emotif di New York. Pada tahun 1993, nama institute itu ditukar menjadi Institut Raional Emotif Behavioral, yang merangkumi kesemua komponen utama, yaitu, kognitif, emotif, dan behavioral yang berkaitan erat dengan pengalamanan manusia Teori REBT Ellis berpendapat masalah emosi dan neurotic timbul dari tiga sumber utama yaitu pikiran, emosi dan behavioral, pikiran memainkan peranan penting dalam mempertahankan gangguan psikologis. Menurut Ellis manuasia bertanggungjawab atas perasaan gangguan yang ditimbulkan oleh mereka sendiri, baik sadar maupun tidak sadar. Oleh karenanya individu memerlukan niat untuk bisa melakukan sebuah perubahan. Model ABC Berdasarkan teori yang diperkenalkan Albert Ellis (1913-2007) membentuk model ABC

Pemikiran Rasional dan Tidak Rasional Ellis (1995) berpendapat manusia mempunyai pemikiran rasional dan tidak rasional. Pemikiran tidak rasional merupakan sumber awal

terjadinya gangguan psikologis. Menurut Ellis (1962) kepercayaan yang tidak rasional (Irrational belief ) diwarisi dari generasi ke generasi dan diterima secara permanen sebagai panduan hidup. Berikut beberapa contoh Irrational belief diantaranya: 1. Untuk menjadi orang yang bergunam saya harus berprestasi tinggi dalam segala bidang. 2. Orang jahat, termasuk saya, patut dihukum seberat-beratnya. 3. Saya perlu sering mengingatkan diri akan peristiwa besar yang mungkin terjadi. 4. Saya seharusnya disayangi oleh setiap orang. 5. Lebih mudah menghindar dari masalah dari pada menghadapi atau memikul tanggung jawab. 6. Saya selalu memerlukan bantuan orang lain 7. Saya tidak dapat merubah tingkah laku saya karena sudah menjadi sifat saya Tujuan Terapi REBT REBT bertujuan membantu klien mengembangkan pikiran rasional dengan menggalakkan klien berpikir dan memahami pemikiran tidak rasional yang diwarisi dari masa lalu yang menjadi sumber permasalahan psikologis pada masa sekarang. Klien dibimbing untuk melihat dan menganalisis peristiwa yang diaktifkan dan gangguan emosi yang dialami. Pencapaian tujuan REBT hanya akan sukses apabila klien benar-benar memahami sumber dasar yang menimbulkan gangguan emosi yaitu kepercayaan yang tidak rasional yang dimilikinya, dan harus berusaha mengikisnya dan perlahan menggantikannya dengan rasional belief. Proses REBT Tahap I : Membina hubungan Konselor-klien dengan teknik mendengar secara empatik dan menjadikan suasana kondusif Tahap II : Membimbing klien supaya memaparkan tingkah laku emotif dan behavioral si bawah system Model ABC Tahap II : Konselor membantu klien membedakan keperyaan yang rasional dan tidak rasional, dan memberikan pemahaman bahwa pemikiran rasional akan membawa hasil positif dan pemikian tidak rasional akan membawa dampak negative. Tahap IV : Menggunakan teknik debat dari waktu ke waktu, untuk melatih klien dapat menantang kondisi iirasional belief-nya. Klien juga diminta untuk berlatih setelah sesi konseling untuk membiasakan rasional belief-nya yang baru dilatihkan.

Sumber: diterjemahkan dari Mook Soon Sang. 2010. Penilaian Tahap Kecekapan, Bahagian II: Kompetensi Fungsional Pengurusan Bimbingan dan Kaunseling. Selangor. Penerbitan Multimedia Sdn. Bhd.