Anda di halaman 1dari 24

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Keluarga Berencana 2.1.1 Pengertian Keluarga Berencana Menurut UU No.10 tahun 1992 (tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera), keluarga berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan (PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga kecil , bahagia dan sejahtera. Keluarga berencana (disingkat KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran (id.wikipedia.org, 2013). Menurut World Health Organization (WHO), Expert Committee 1970, keluarga berencana adalah tindakan yang membantu individu atau pasangan suami istri untuk, (1) Mendapatkan objektif-objektif tertentu, (2) Menghindari kelahiran yang tidak diinginkan, (3) Mendapatkan kelahiran yang memang diinginkan, (4) Mengatur interval di antara kehamilan, (5) Mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan dengan umur suami istri, (6) Menentukan jumlah anak dalam keluarga (Hanafi, 2010). Keluarga Berencana adalah upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran,

10

pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan keluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia dan sejahtera (Juliantoro, 2000). Keluarga Berencana adalah sebagai proses penetapan jumlah dan jarak anak yang diinginkan dalam keluarga seseorang dan pemilihan cara yang tepat untuk mencapai keinginan tersebut (Kenzie, 2006). Keluarga berencana adalah proses yang disadari oleh pasangan untuk memutuskan jumlah dan jarak anak serta waktu kelahiran (Straight, 2005). 2.1.2 1. Jenis-Jenis alat kontrasepsi untuk pria

Vasektomi 1) Pengertian Vasektomi merupakan tindakan penutupan (pemotongan, pengikatan,

penyumbatan) kedua saluran mani pria/suami sebelah kanan dan kiri, sehingga pada waktu senggama sel mani tidak dapat keluar membuahi sel telur, sehingga tidak terjadi kehamilan. Tindakan yang dilakukan adalah lebih ringan daripada sunat atau khitan pada pria, pada umumnya dilakukan sekitar 15 sampai 45 menit, dengan cara mengikat dan memotong saluran mani yang terdapat didalam kantong buah zakar. 2) Peserta Vasektomi / MOP 1). Suami dari pasangan usia subur yang dengan sukarela mau melakukan vasektomi serta sebelumnya telah mendapat konseling tentang vasektomi. 2). Mendapat persetujuan dari isteri : (1) Jumlah anak yang ideal, sehat jasmani dan rohani

11

(2) Umur isteri sekurang-kurangnya 25 tahun (3) Mengetahui prosedur vasektomi dan akibatnya (4) Menandatangani formulir persetujuan (informed consent) 3) Beberapa Metode Ada beberapa macam metode untuk menutup vas deferens, yang pada waktu ini masih dinilai kemantapannya, antara lain : 1). Menjepit vas deferens dengan klip (jepitan) dari tantalum 2). Mengadakan kauterisasi/fulfurasi kedua ujung 3). Menyuntik vas deferens dengan sclerotizing agent (zat yang menyebabkan sklerosis), sehingga jadi buntu, misalnya dengan formalin, fenol dan lainlain. Dilakukan biasa tanpa operasi. 4). Menutup vas derefens dengan tutup semacam jarum 5). Hanya mengikat vas deferens 6). Kombinasi antara dua metode, misalnya mengikat dan kauterisasi 4) Kelebihan 1). Efektifitas tinggi untuk melindungi kehamilan 2). Tidak ada kematian dan angka kesakitannya rendah 3). Biaya lebih murah karena membutuhkan satu kali tindakan saja 4). Prosedur medis dilakukan hanya sekitar 15 45 menit 5). Tidak mengganggu hubungan seksual setelah vasektomi 6). Lebih aman, karena keluhan lebih sedikit dibandingkan dengan kontrasepsi lain

12

5) Keterbatasan 1). Karena dilakukan dengan tindakan medis/pembedahan, maka masih memungkinkan terjadi komplikasi, seperti perdarahan, nyeri dan infeksi 2). Tidak melindungi pasangan dari penyakit menular seksual termasuk HIV dan AIDS 3). Harus menggunakan kondom selama 12 15 kali senggama agar sel mani menjadi negatif 4). Pada orang yang mempunyai problem psikologis dalam hubungan seksual, dapat menyebabkan keadaan semakin terganggu 6) Efektifitas Efektifitas vasektomi sangat tinggi, artinya kemungkinan gagal kecil sekali (0,15%) jika tindakan medis dilakukan secara benar 7) Vasektomi tidak dapat dilakukan apabila : 1). Pasangan suami-isteri masih menginginkan anak lagi 2). Suami menderita penyakit kelainan pembekuan darah 3). Jika keadaan suami-isteri tidak stabil 4). Jika ada tanda-tanda radang pada buah zakar, hernia, kelainan akibat cacing tertentu pada buah zakar dan kencing manis yang tidak terkontrol 8) Kemungkinan penyulit dan cara mengatasinya 1). Perdarahan Apabila perdarahan sedikit, cukup dengan pengamatan saja, bila banyak, hendaknya dirujuk segera ke fasilitas kesehatan lain yang lebih lengkap. Di sini akan dilakukan operasi kembali dengan anestesi umum,

13

membuka luka, mengeluarkan bekuan-bekuan darah dan kemudian mencari sumber perdarahan serta menjepit dan mengikatnya. Setiap keluhan pembengkakan isi skrotum pascavasektomi hendaknya dicurigai sebagai perdarahan dan lakukan pemeriksaan yang seksama. Bekuan darah di dalam skrotum yang tidak dikeluarkan akan mengundang kuman-kuman dan menimbulkan infeksi. 2). Hematoma Biasanya terjadi bila daerah skrotum diberi beban yang berlebihan, missal naik sepeda, duduk terlalu lama dalam kendaraan dengan jalanan yang rusak dan sebagainya. 3). Infeksi Infeksi pada kulit skrotum cukup dengan mengobati menurut prinsip pengobatan luka kulit. Apabila basah, dengan kompres (dengan zat yang tidak merangsang). Apabila kering dengan salep antibiotika. Apabila terjadi infiltrate di dalam kulit skrotum di tempat vasektomi sebaiknya segera dirujuk ke rumah sakit. Di sini pasien akan diistirahatkan dengan berbaring, kompres es, pemberian antibiotika, dan pengamatan apabila infiltrate menjadi abses. Mungkin juga terjadi epididimitis, orkitis atau epididimoorkitis. Dalam keadaan seperti ini pasien akan segara dirujuk. Di sini akan dilakukan istirahat baring, kompres es, pemberian antibiotika, dan analgetika.

14

4). Granuloma sperma Dapat terjadi pada ujung proksimal vas atau pada epididimis. Gejalanya merupakan benjolan kenyal dengan kadang-kadang keluhan nyeri. Granuloma sperma dapat terjadi 1-2 minggu setelah vasektomi. Pada keadaan ini dilakukan eksisi granuloma dan mengikat kembali vas deferens. Terjadi pada 0,1-30% kasus. 5). Antibodi sperma Separuh sampai dua pertiga akseptor vasektomi akan membentuk antibodi terhadap sperma. Sampai kini tidak pernah terbukti adanya penyulit yang disebabkan adanya antibodi tersebut. 9) Kegagalan Vasektomi Walaupun vasektomi dinilai paling efektif untuk mengontrol kesuburan pria, namun masih mungkin dijumpai suatu kegagalan. Vasektomi dianggap gagal bila : 1). Pada analisis sperma setelah 3 bulan pascavasektomi atau setelah 15-20 kali ejakulasi masih dijumpai spermatozoa 2). Dijumpai spermatozoa setelah sebelumnya azoosperma 3). Istri (pasangan) hamil Perkumpulan Kontrasepsi Mantap Indonesia (PKMI) menganjurkan tiga syarat untuk menjadi akseptor kontrasepsi mantap, yaitu syarat sukarela, bahagia, dan sehat. Syarat sukarela meliputi pengetahuan pasangan tentang cara-cara kontrasepsi lain, resiko dan keuntungan kontrasepsi mantap, serta pengetahuan tentang sifat permanennya cara kontrasepsi ini. Bahagia

15

bila dilihat dari ikatan perkawinanyang sah dan harmonis, umur istri sekurang-kurangnya 25 tahun dengan sekurang-kurangnya dua orang anak hidup dan anak terkecil berumur lebih dari dua tahun. Kemungkinan rekanalisasi hendaknya selalu ada pada pikiran dokter operator, tetapi bukan pada pikiran calon akseptor (Sulistyawati, 2011).

2.

Kondom Kondom merupakan selubung/sarung karet yang dapat terbuat dari berbagai

bahan di antaranya lateks (karet), plastik (vinil), atau bahan alami (produksi hewani) yang dipasang pada penis saat hubungan seksual. 1) Cara Kerja 1). Kondom menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara mengemas di ujung selubung karet yang dipasang pada penis sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi perempuan 2). Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dan HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan yang lain (khusus kondom yang terbuat dari lateks dan vinil) 2) Macam- macam Kondom 1). Kulit (1) Dibuat dari membrane usus biri-biri (caecum) (2) Tidak meregang atau mengkerut

16

(3) Menjalarkan panas tubuh, sehingga dianggap tidak mengurangi sensitivitas selama senggama (4) Lebih lama (5) Jumlahnya <1% dari semua jenis kondom 2). Lateks (1) Paling banyak dipakai (2) Murah (3) Elastic 3). Plastik (1) Sangat tipis (0,025-0,035 mm) (2) Juga menghantarkan panas tubuh (3) Lebih mahal dari kondom lateks 3) Efektifitas Kondom cukup efektif bila dipakai secara benar pada setiap kali berhubungan seksual. Pada beberapa pasangan, pemakaian kondom tidak efektif karena tidak dipakai secara konsisten. Secara ilmiah didapatkan hanya sedikit angka kegagalan kondom yaitu 2-12 kehamilan per 100 perempuan per tahun. 4) Manfaat 1). Kontrasepsi (1) Efektif bila digunakan dengan benar (2) Tidak mengganggu produksi ASI (3) Tidak mengganggu kesehatan klien

17

(4) Tidak mempunyai pengaruh sistemik (5) Murah dan dapat dibeli secara umum (6) Tidak perlu resep dokter atau pemeriksaan kesehatan khusus (7) Metode kontrasepsi sementara bila metode kontrasepsi lainnya harus ditunda 2). Non Kontrasepsi (1) Memberi dorongan kepada suami untuk ikut be-KB (2) Dapat mencegah penularan IMS (3) Mencegah ejakulasi dini (4) Membantu mencegah terjadinya kanker serviks (mengurangi iritasi bahan karsinogenik eksogen pada serviks) (5) Saling berinteraksi sesama pasangan (6) Mencegah imuno infertilitas 5) Keterbatasan 1). Efektivitas tidak terlalu tinggi 2). Cara penggunaan sangat mempengaruhi keberhasilan kontrasepsi 3). Agak mengganggu hubungan seksual (mengurangi sentuhan

langsung) 4). Pada beberapa klien bisa menyebabkan kesulitan untuk

mempertahankan ereksi 5). Harus selalu tersedia setiap kali berhubungan seksual 6). Beberapa klien malu untuk membeli kondom di tempat umum

18

7). Pembuangan kondom bekas mungkin menimbulkan masalah dalam hal limbah 6) Penilaian Klien Klien tidak memerlukan atau membutuhkan anamnesis atau

pemeriksaan khusus untuk pemakaian kondom, tetapi mereka perlu diberi penjelasan lisan atau instruksi tertulis. Kondisi yang perlu

dipertimbangkan untuk seleksi penggunaan kondom dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 2.1 Seleksi klien pengguna kondom Kondom Sesuai untuk pria yang : Tidak sesuai untuk pria yang : - Ingin berpartisipasi dalam program - Mempunyai pasangan yang beresiko KB tinggi apabila terjadi kehamilan - Ingin segera mendapatkan alat kontrasepsi - Ingin kontrasepsi sementara - Ingin kontrasepsi tambahan - Alergi terhadap bahan dasar kondom - Menginginkan kontrasepsi jangka panjang - Tidak mau terganggu dengan berbagai persiapan untuk melakukan hubungan seksual - Tidak peduli berbagai persyaratan kontrasepsi

- Hanya ingin menggunakan alat kontrasepsi jika akan berhubungan - Beresiko tinggi tertular/menularkan IMS

7) Cara penggunaan/instruksi bagi klien 1). Gunakan kondom setiap akan melakukan hubungan seksual 2). Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke dalam kondom

19

3). Jangan menggunakan gigi, benda tajam seperti pisau, silet, gunting atau benda tajam lainnya pada saat membuka kemasan 4). Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya pada glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada ujung urethra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal penis. Pemasangan ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina. 5). Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada bagian ujungnya, maka saat memakai, longgarkan sedikit bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat ejakulasi. 6). Kondom dilepas sebelum penis melembek 7). Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan lepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan sperma di sekitar vagina. 8). Gunakan kondom hanya untuk sekali pakai 9). Buang kondom bebas pakai pada tempat yang aman 10). Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan 11). Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom tampak rapuh/kusut 12). Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas dari bahan petrolatum karena akan segera merusak kondom.

20

Tabel 2.2 Penanganan efek samping dan masalah kesehatan lainnya Efek samping atau masalah Penanganan

Kondom rusak atau diperkirakan Buang dan pakai kondom baru atau pakai bocor (sebelum berhubungan) spermisida digabung kondom dicurigai ada kebocoran,

Kondom bocor atau dicurigai ada Jika curahan di vagina saat berhubungan

dipertimbangkan pemberian Morning After Pill

Dicurigai

adanya

reaksi

alergi Reaksi alergi, meskipun jarang, dapat sangat mengganggu dan bisa berbahaya. Jika keluhan menetap sesudah berhubungan dan tidak ada gejala IMS, berikan kondom alami (produk hewani : lamb skin atau gut) atau bantu klien memilih metode lain.

(spermisida)

Mengurangi kenikmatan hubungan Jika seksual

penurunan

kepekaan

tidak

bisa

ditolerir biarpun dengan kondom yang lebih tipis, anjurkan pemakaian metode lain.

3. Koitus Interuptus (Senggama terputus) Adalah suatu metode kontrasepsi dimana senggama diakhiri sebelum terjadi ejakulasi intra-vaginal. Ejakulasi terjadi jauh dari genetalia eksterna wanita. 1) Keuntungan : 1). Tidak memerlukan alat/murah 2). Tidak menggunakan zat-zat kimiawi 3). Selalu terjadi setiap saat

21

4). Tidak mempunyai efek samping 2) Kerugian : 1). Angka kegagalan cukup tinggi (1) 16-23 kehamilan per 100 wanita per tahun (2) Faktor-faktor yang menyebabkan angka kegagalan yang tinggi ini adalah : (1). Adanya cairan pra-ejakulasi (yang sebelumnya sudah tersimpan dalam kelenjar prostat, urethra, kelenjar cowper), yang dapat keluar setiap saat, dan setiap tetes sudah dapat mengandung berjuta-juta spermatozoa. (2).Kurangnya kontrol-diri pria, yang pada metode ini justru sangat penting 2). Kenikmatan seksual berkurang bagi suami-istri, sehingga dapat mempengaruhi kehidupan perkawinan 3) Kontra-indikasi Ejakulasi prematur pada pria 4) Hal-hal penting yang harus diketahui oleh akseptor : 1). Sebelum senggama, cairan pra-ejakulasi pada ujung penis harus dibersihkan terlebih dahulu 2). Bila pria merasa akan berejakulasi, ia harus segera mengeluarkan penisnya dari dalam vagina, dan selanjutnya ejakulasi dilakukan jauh dari orificium vagina

22

3). Koitus interuptus bukan merupakan metode kontrasepsi yang baik bila pasangan suami-istri menginginkan senggama yang berulang kali, karena semen yang masih dapat tertinggal di dalam cairan bening pada ujung penis 4). Koitus interuptus bukan metode kontrasepsi yang baik bila suami mempunyai kesulitan untuk mengetahui kapan ia akan berejakulasi 5). Koitus interuptus cukup tepat untuk suami yang tidak mempunyai perembesan dari cairan pra-ejakulasi sebelum senggama 6). Koitus interuptus masih merupakan metode kontrasepsi yang lebih baik dari pada sama sekali tidak memakai metode apa pun

2.2 Partisipasi pria/suami dalam KB dan kesehatan reproduksi adalah tanggung jawab pria/suami dalam kesertaan ber KB dan kesehatan reproduksi , serta berperilaku seksual yang sehat dan aman bagi dirinya, pasangan dan keluarganya. Bentuk partisipasi pria/suami dalam KB antara lain : 1. Sebagai peserta KB Partisipasi pria dalam program KB dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Partisipasi pria/suami secara langsung dalam program KB adalah menggunakan salah satu cara atau metoda pencegahan kehamilan seperti: metode senggama terputus, metode pantang berkala, kontrasepsi kondom, vasektomi, kontrasepsi lain yang sedang dikembangkan. Metode pantang

23

berkala dan senggama terputus dilaksanakan atas dasar komunikasi mendalam antara suami dan istri

2. Mendukung istri dalam ber-KB Apabila disepakati bahwa istri yang akan ber KB, peranan suami adalah mendukung dan memberikan kebebasan kepada istri untuk menggunakan kontrasepsi atau cara/ metode KB yang diawali sejak pria tersebut melakukan akad nikah dengan wanita pasangannya dalam merencanakan jumlah anak yang akan dimiliki sampai akhir masa reproduksi (menopause). Dukungan tersebut antara lain meliputi: (a) memilih kontrasepsi yang cocok, yaitu kontrasepsi yang sesuai dengan keinginan dan kondisi istrinya; (b) membantu pasangannya dalam menggunakan kontrasepsi secara benar, seperti mengingatkan saat minum pil KB dan mengingatkan istri untuk kontrol; (c) membantu mencari pertolongan bila terjadi efek samping maupun komplikasi; (d) mengantar istri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk kontrol atau rujukan ; (e) mencari alternatif lain bila kontrasepsi yang digunakan saat ini terbukti tidak memuaskan; (f) menggantikan pemakaian kontrasepsi bila keadaan kesehatan istri tidak memungkinkan; (g) membantu menghitung waktu subur, apabila menggunakan metode pantang berkala. Agar rencana yang telah diputuskan bersama dapat berhasil dan memberikan manfaat dalam membina rumah tangga, maka peranan dukungan pihak pria (suami) perlu dilakukan secara terus menerus.

24

3. Sebagai motivator/ promotor Pria/suami dapat berperan sebagai motivator yang dapat memberikan motivasi kepada anggota keluarga/ saudara yang sudah berkeluarga dan masyarakat di sekitarnya untuk menjadi peserta KB dengan menggunakan salah satu kontrasepsi. Seorang calon motivator harus sudah menjadi

peserta KB karena keteladannya sangat dibutuhkan. Calon motivator telah mengetahui: (1) Keuntungan dan kelemahan memakai salah satu alat kontrasepsi; (2) Bersedia melakukan KIE KB kepada masyarakat disekitarnya dengan idealisme 20 2 3 30 yaitu melahirkan yang aman setelah umur istri lebih dari 20 tahun, cukup 2 anak laki-laki perempuan sama saja, jarak kelahiran yang aman adalah 3 tahun dan stop melahirkan setelah umur istri lebih dari 30 tahun; (3) Bersedia sebagai kader atau relawan penggerak masa pedesaan 4. Merencanakan jumlah anak Merencanakan jumlah anak dalam keluarga perlu dibicarakan antara suami dan istri dengan mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain : kesehatan dan kemampuan untuk memberikan pendidikan dan kehidupan yang layak. Perencanaan keluarga menuju keluarga berkualitas perlu memperhatikan usia reproduksi istri, yaitu: masa menunda kehamilan anak pertama bagi pasangan yang istrinya berumur di bawah 20 tahun , masa mengatur jarak kelahiran untuk usia istri 20 30 tahun, dan masa mengakhiri kehamilan untuk usia istri di atas 30 tahun. Wanita merasa dirugikan apabila mempertahankan hubungan yang baik dengan laki-laki

25

hanya untuk memuaskan mereka dengan menanggung semua bentuk resiko sebagai individu (personal cost), misalnya wanita harus menggunakan jamu dan produk-produk serupa untuk mengabsorbsi sekresi vagina karena lakilaki lebih suka vagina kering selama hubungan kelamin. Dalam hubungannya dengan suami, diperlukan keputusan wanita secara suka rela untuk mempunyai anak lagi atau tidak, ketakutan akan efek samping, hak mengambil keputusan secara independen, lepas dari pengaruh suami. Semua itu disebabkan pada dasarnya oleh pembentukan keluarga (family formation) merupakan tanggung jawab bersama (joint responsibility) antara laki-laki dan wanita. Praktik KB merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keluarga. Di samping itu partisipasi pemakaian kontrasepsi bagi laki- laki dipandang penting karena laki-laki menjadi target dalam prevensi terhadap penyakit menular seksual (PMS), khususnya AIDS.

2.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi pria dalam program KB 2.3.1 Pengetahuan pria terhadap KB Pengetahuan seseorang biasanya dipengaruhi dari pengalaman yang berasal dari berbagai macam sumber, misalnya media massa, media elektronik, buku petunjuk, petugas kesehatan, media poster, kerabat dekat dan sebagainya. Pengetahuan ini dapat membentuk keyakinan tertentu sehingga seseorang berperilaku sesuai keyakinan tersebut. Notoatmojo (1993) mengatakan bahwa pengetahuan merupakan resultan akibat proses pengindraan terhadap suatu obyek. Pengindraan tersebut sebagian besar berasal dari penglihatan dan pendengaran.

26

Pengukuran atau penilaian pengetahuan pada umumnya dilakukan melalui tes atau wawancara dengan alat bantu kuesioner berisi materi yang diukur dari responden (Notoatmojo, Soekijo, 1990). Dari studi kualitatif di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2001 menunjukkan pengetahuan menjadi salah satu faktor rendahnya partisipasi pria dalam KB. 2.3.2 Tingkat pendidikan

Pengaruh pendidikan pria terhadap penggunaan alat kontrasepsi dalam KB telah dikemukakan oleh Ekawati. Menurutnya pendidikan pria berpengaruh positif terhadap persepsi pria untuk KB. 2.3.3 Persepsi

Adanya persepsi bahwa wanita yang menjadi target program KB menjadi salah satu faktor rendahnya partisipasi pria dalam KB. Hasil penelitian Purwanti (2004) menyimpulkan bahwa suami dengan persepsi positif terhadap alat kontrasepsi pria lebih tinggi pada kelompok kontrasepsi pria dari pada kelompok kontrol. 2.3.4 Sikap istri terhadap suami untuk KB suami yang menggunakan alat

Dari hasil penelitian di Sumatera Selatan dan Jawa Barat yang dilakukan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tahun 2001 menunjukkan 66,26% istri tidak setuju suaminya ber KB. 2.3.5 Aksesibilitas pelayanan KB pria

Adanya kemudahan dan ketersediaan sarana pelayanan berdampak positif terhadap penggunaan suatu alat kontrasepsi. Menurut suami pelayanan KB pria

27

yang paling disukai adalah dekat dengan rumah atau dekat dari tempat mereka bekerja (48,85%), sebanyak 12,8% menginginkan tempat pelayanan dengan trasportasi yang mudah, biaya terjangkau (9,9%), fasilitas lengkap (9,3%), dilayani dengan tenaga ahli yang ramah (9%) dan dapat menjaga privasi (2,2%). Sedangkan tempat memperoleh pelayanan KB pria adalah rumah sakit pemerintah 36,1%, Puskesmas 29,1%, dan rumah sakit swasta 8,6%. Belum semua pelayanan kesehatan mampu memberikan pelayanan

vasektomi. Hanya 5 81 persen pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan vasektomi dengan rata-rata 41 persen pelayanan kesehatan pemerintah (Wibowo, 1994). Bahkan hasil baseline survei di 4 propinsi Sumatera Selatan, Jawa Barat, Kalimantan Barat, dan NTT tahun 2002 memperlihatkan bahwa dari 30% pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan vasektomi, hanya 4% yang melayani vasektomi. Dari sisi provider terlihat bahwa keberadaan dan kesiapan provider pemberi pelayanan secara teknis telah mendukung pelaksanaan vasektomi. Namun secara mental masih ada hambatan, disamping itu mutasi dokter terlatihpun sangat cepat . Terbatasnya akses ke tempat pelayanan disebabkan antara lain oleh : 1. Citra terhadap tempat pelayanan KB yang dipersiapkan sebagai tempat pelayanan untuk wanita. 2. 3. 4. 5. Kurangnya tenaga terlatih untuk vasektomi Kurangnya motivasi provider untuk pelayanan vasektomi Kurangnya dukungan peralatan dan medical suplies untuk vasektomi Kurang dukungan logistik kondom

28

2.3.6 1.

Konsep Sikap Definisi/ Batasan

Sikap adalah merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2003). Sedangkan menurut Purwanto sikap adalah pandangan atau perasaan yang disertai kecenderungan untuk bertindak sesuai dengan sikap. 2. Ciri-ciri Sikap 1) Sikap bukan dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang itu dalam hubungan dengan objeknya. 2) Sikap dapat berubah-ubah, karena itu pula sikap dapat dipelajari dan karena itu pula sikap dapat berubah pada orang-orang bila terdapat keadaan-keadaan dan syarat-syarat tertentu yang mempermudah sikap pada orang itu. 3) Sikap itu tidak berdiri sendiri, etapi senantiasa mempunyai hubungan tertentu terhadap suatu objek. Dengan kata lain sikap itu terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan dengan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas. 4) Objek sikap itu dapat merupakan satu hal tertentu, tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. 5) Sikap mempunyai segi motivasi dari segi-segi perasaan, sifat inilah yang membedakan sikap dari kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-

pengetahuan yang dimiliki orang.

29

3.

Faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap Pembentukan sikap terjadi melalui proses tertentu, yaitu kontak sosial terus

menerus antara individu dengan individu lain disekitarnya. Dalam hubungan ini faktor yang mempengaruhi terbentuknya sikap adalah: 1) Faktor Intern Yaitu faktor yang terdapat dalam diri orang yang bersangkutan sendiri seperti selektivitas. 2) Faktor ekstern Merupakan faktor di luar manusia : 1). Sifat objek yang dijadikan sasaran sikap 2). Kewibawaan orang yang mengemukakan suatu sikap 3). Sifat orang-orang atau kelompok yang mendukung sikap tersebut 4). Media komunikasi yang digunakan dalam menyampaikan sikap 5). Situasi pada saat sikap terbentuk 4. Tingkatan sikap 1) Menerima Menerima diartikan bahwa orang (subjek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (objek) 2) Merespon Memberikan jawaban, apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.

30

3) Menghargai Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat 3. 4) Bertanggung jawab Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dpilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi (Notoatmodjo, 2003).

31

KERANGKA KONSEP

Predisposing factors (faktor predisposisi) : - Tingkat pendidikan - Pengetahuan tentang partisipasi pria dlm KB - Sikap terhadap partisipasi pria dlm KB - Persepsi tentang partisipasi pria dlm KB - Nilai-nilai sosial budaya tentang partisipasi pria dlm KB Ikut KB Kesehatan Reproduksi Meningkat

Reinforcing factors (Factor Pendorong) : - Sikap istri terhadap partisipasi pria dlm KB - Praktik istri terhadap partisipasi pria dlm KB - Sikap teman terhadap partisipasi pria dlm KB - Praktik teman terhadap partisipasi pria dlm KB

Partisipasi pria dlm ber- KB :

- Sebagai peserta KB - Mendukung istri dalam ber-KB - Sebagai motivator / promotor - Merencanakan jumlah anak.

Tidak Enabling Factors (Faktor Pendukung) : Akses pelayanan terhadap partisipasi pria dlm KB Menurunnya kesehatan reproduksi Ikut KB

= Diteliti

= Tidak Diteliti Gambar 2.1 Kerangka Konsep Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Partisipasi Pria dalam ber-KB

32

Berdasarkan kerangka teori dijelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan seorang pria berpartisipasi dalam KB adalah: Predisposing Factor (tingkat pendidikan, pengetahuan, sikap, nilai-nilai budaya, persepsi), Reinforcing Factor (Sikap istri terhadap partisipasi pria dlm KB, Praktik istri terhadap partisipasi pria dalam KB, Sikap teman terhadap

partisipasi pria dlm KB, Praktik teman terhadap partisipasi pria dlm KB ), Enabling Factor (Akses pelayanan terhadap partisipasi pria dlm KB). Partisipasi pria terdiri dari keikutsertaan menjadi peserta KB, mendukung istri dalam ber-KB, sebagai motivator / promoter, dan merencanakan jumlah anak. Diharapkan setelah pria ikut serta dalam program KB, kesehatan reproduksi ibu dan anak juga meningkat. Dalam penelitian ini variabel akan diteliti adalah Predisposing Factor (tingkat pendidikan, pengetahuan, persepsi, sikap), Reinforcing Factor (Sikap istri terhadap partisipasi pria dlm KB), Enabling Factor (Akses pelayanan terhadap partisipasi pria dlm KB). Dan variabel partsipasi pria dalam ber-KB yang akan diteliti adalah keikutsertaan pria dalam ber-KB.