Anda di halaman 1dari 15

Amalgam Definisi Amalgam Amalgam adalah campuran dari dua atau beberapa logam, salah satunya adalah merkuri.

Aloi amalgam terdiri atas tiga atau beberapa logam. Amalgam itu sendirimerupakan kombinasi aloi dengan merkuri melalui suatu proses yang disebut amalgamasi atau triturasi. Campuran merupakan bahan plastis dimasukkan ke dalam kavitasdan bahan tersebut menjadi keras karena kristalisasi (Baum, 2012). Komposisi Amalgam Komposisi bahan restorasi dental amalgam terdiri dari perak, timah, tembaga, merkuri, platinum, dan seng. Unsur unsur kandungan bahan restorasi amalgam tersebut memiliki fungsinya masing masing, dimana sebagian diantaranya akan saling mengatasi kelemahan yang ditimbulkan logam lain, jika logam tersebut dikombinasikan dengan perbandingan yang tepat. Pada Tabel 1 dapat dilihat komposisi persentase berat kandungan alloy amalgam (Anusavice, 2004). Alloy Silver Tin Copper Zinc Mercury Palladium Presentase Berat (%) 65 (maksimum) 29 (maksimum) 6 (maksimum) 2 (maksimum) 3 (maksimum) 0,5

Klasifikasi Amalgam Amalgam dapat diklasifikasikan atas beberapa jenis menurut Craig (1993) yaitu : 1. Berdasarkan jumlah metal alloy, yaitu : a. Alloy binary, contohnya : silver-tin b. Alloy tertinary, contohnya : silver-tin-copper c. Alloy quartenary, contohnya : silver-tin-copper-indium 2. Berdasarkan ukuran alloy, yaitu : a. Microcut, dengan ukuran 10 - 30 m. b. Macrocut, dengan ukuran lebih besar dari 30 m. 3. Berdasarkan bentuk partikel alloy, yaitu : a. Alloy lathe-cut Alloy ini memiliki bentuk yang tidak teratur. b. Alloy spherical Alloy spherical dibentuk melalui proses atomisasi. Dimana cairan alloy diatomisasi menjadi tetesan logam yang berbentuk bulat kecil. Alloy ini tidak berbentuk bulat sempurna tetapi dapat juga berbentuk persegi, tergantung pada teknik atomisasi dan pemadatan yang digunakan. c. Alloy spheroidal Alloy spheroidal juga dibentuk melaui proses atomisasi. 4. Berdasarkan kandungan tembaga Kandungan tembaga pada amalgam berguna untuk meningkatkan kekuatan (strength), kekerasan (hardness), dan ekspansi saat pengerasan. Pembagian amalgam berdasarkan kandungan tembaga yaitu: a. Alloy rendah copper (low copper alloy) Low copper alloy ini mengandung silver (68-70%), tin (26-27%), copper (4-5%), zinc (0-1%). b. Alloy tinggi copper (high copper alloy) High copper alloy mengandung silver (40-70%), tin (22-30%), copper

(13-30%), zinc (0-1%). Alloy ini dapat diklasifikasikan sebagai: a) Admixed/dispersi/blended alloys Alloy ini merupakan campuran spherical alloy dengan lathe-cut alloy dengan komposisi yang berbeda yaitu high copper spherical alloy dengan low copper lathe-cut alloy. Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (69%), tin (17%), copper (13%), zinc (1%). b) Single composisition atau unicomposition alloys Tiap partikel dari alloy ini memiliki komposisi yang sama. Komposisi seluruhnya terdiri atas silver (40-60%), tin (22-30%), copper (13-30%), zinc (0-4%). 5. Berdasarkan kandungan zinc a. Alloy mengandung seng: mengandung lebih dari 0.01% zinc. b. Alloy bebas seng: mengandung kurang dari 0.01% zinc.

Kelebihan dan Kekurangan Amalgam Menurut Anusavice (2003) Kelebihan dan kekurangan Amalgam dalam kedokteran gigi adalah : Kelebihan :

Dapat dikatakan sejauh ini amalgam adalah bahan tambal yang paling kuat dibandingkan dengan bahan tambal lain dalam melawan tekanan kunyah, sehingga amalgam dapat bertahan dalam jangka waktu yang sangat lama di dalam mulut (pada beberapa penelitian dilaporkan amalgam bertahan hingga lebih dari 15 tahun dengan kondisi yang baik) asalkan tahap-tahap penambalan sesuai dengan prosedur.

Ketahanan terhadap keausan sangat tinggi, tidak seperti bahan lain yang pada umumnya lama kelamaan akan mengalami aus karena faktor-faktor dalam mulut yang saling berinteraksi seperti gaya kunyah dan cairan mulut.

Penambalan dengan amalgam relatif lebih simpel dan mudah dan tidak terlalu technique sensitive bila dibandingkan dengan resin komposit, di mana sedikit kesalahan dalam salah satu tahapannya akan sangat mempengaruhi ketahanan dan kekuatan bahan tambal resin komposit.

Biayanya relatif lebih rendah

Kekurangan :

Secara estetis kurang baik karena warnanya yang kontras dengan warna gigi, sehingga tidak dapat diindikasikan untuk gigi depan atau di mana pertimbangan estetis sangat diutamakan.

Dalam jangka waktu lama ada beberapa kasus di mana tepi-tepi tambalan yang berbatasan langsung dengan gigi dapat menyebabkan perubahan warna pada gigi sehingga tampak membayang kehitaman.

Pada beberapa kasus ada sejumlah pasien yang ternyata alergi dengan logam yang terkandung dalam bahan tambal amalgam. Selain itu, beberapa waktu setelah penambalan pasien terkadang sering mengeluhkan adanya rasa sensitif terhadap rangsang panas atau dingin. Namun umumnya keluhan tersebut tidak berlangsung lama dan berangsur hilang setelah pasien dapat beradaptasi.

Hingga kini issue tentang toksisitas amalgam yang dikaitkan dengan merkuri yang dikandungnya masih hangat dibicarakan. Pada negara-negara tertentu ada yang sudah memberlakukan larangan bagi penggunaan amalgam sebagai bahan tambal.

Sering menyebabkan kebocoran mikro dan sekunder karies. Solusinya enggunakan cavity varnish yang mengandung larutan resin alami atau sintetis dalam pelarut yang menguap misalkan eter dan harus tahan air.

Mengakibatkan rasa nyeri bila menimbulkan arus galvanis bersama dengan tumpatan logam lain. Solusinya dengan melepas tumpatan logam lain sebelum memakai tumpatan amalgam.

Indikasi dan kontra indikasi Indikasi amalgam menurut Anusavice (2003) adalah : 1. Sebagai bahan restorasi permanen pada kavitas klas I, klas II, dan klas V dimana faktor estetis bukanlah suatu hal yang penting. 2. Dapat dikombinasikan dengan pin retentif untuk menempatkan mahkota. 3. Dipergunakan dalam pembuatan die. 4. Sebagai bahan pengisian saluran akar retrograde. 5. Dilihat dari segi biokompatibilitasnya, amalgam memiliki adaptasi yang cukup baik pada jaringan di rongga mulut terutama email dari gigi tersebut. Kontra Indikasi amalgam adalah : Efek Samping Penggunaan Merkuri Kandungan merkuri dalam bahan restorasi amalgam dalam beberapa peristiwa memang dapat menyebabkan terjadinya reaksi hipersensitivitas atau alergi. Tetapi peristiwa alergi yang terjadi pada pasien yang menggunakan restorasi amalgam tidaklah signifikan, karena tidak setiap pasien yang melakukan treatment menggunakan amalgam mengalami alergi.Beberapa penelitian menerangkan bahwa penggunaan restorasi amalgam dapat pula menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan secara sistemik seperti kerusakan pada ginjal, alergi atau hipersensitivitas atau gangguan terhadap neurobehavior. Namun, apabila penggunaan alamgam dilakukan secara benar, tidak akan terjadi masalah terhadap biokombatibilitas dari restorasi amalgam (Craig, 1993). Seseorang dapat terpapar merkuri daridiet makanan, minuman, udara, dan restorasi amalgam.Merkuri yang terlepas dari bahan restorasi amalgam biasanya terjadi akibat adanya penguapan merkuri. Uap merkuri pada manusia dapat ditemukan pada hembusan nafas, pada rongga mulut dengan keadaan mulut terbuka atau teertutupmelalu kateter yang dipasang ditrakea melalu bronkoskop. Data dari penelitian menjelaskan bahwa merkuri secara terus menerus terlepas dalam rongga

mulut dari bahan restorasi amalgam. Tingkat pelepasan merkuri pada seseorang dipengaruhi oleh banyak factor yaitu area restorasi, usia, diet, komposisi amalgam, dan kuantitas permukaan yang mengalami oksidasi. Uap merkuri dapat terlarut pada udara intraoral ataupun oleh saliva, kemudian dapat penetrasi ke organisme melalui banyak cara (Uar and Brantley, 2011). World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa ditemukan kadar merkuri dalam urin yang lebih tinggi yaitu sekitar 5 sampai 20 pada orang yang mengkonsumsi seafood dengan frekuensi seminggu sekali jika dibandingkan dengan kadar merkuri akibat pajanan restorasi amalgam yaitu sekitar 1 atau sekitar 1 mg/(Craig, 1993). WHO merekomendasikan nilai batas paparan merkuri jangka panjang untuk para pekerja atau operator adalah sebesar 25selain itu WHO merekomendasikan paparan yang merkuri untuk wanita dalam masa subur harus lebih rendah dari nilai standar yaitu sekitar 10 (bindslev, 1991). Penguapan merkuri dari bahan restorasi amalgam lebih kecil jika dibandingkan dengan pengkonsumsian berbagai jenis ikan. Peningkatan kadar amalgam dalam urin dan darah dapat dipengaruhi oleh berbagai factor, tidak hanya dipengaruhi oleh merkuri yang berasal dari bahan restorasi amalgam. Secara keseluruhan merkuriyang berasal dari amalgam hanya memberikansedikit pengaruh terhadap total kadar merkuri dalam tubuh .secara epidemiologi, kadar merkuri dalam urin dan darah berkolerasi dengan jumlah paparan yang berasal dari lingkungan dan diet (Craig, 1993). Pencemaran merkuri terhadap lingkungan hidup dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan manusia. Pencemaran tersebut akan menyebabkan terjadinya toksisitas atau keracunan tubuh manusia. Hal ini dapat terjadi pada lingkungan pekerjaan seperti pertambangan, pertanian, industri, farmasi, kedokteran gigi dan aa banyak pekerjaan lain dengan potensi paparan terhadap merkuri. Pencemaran merkuri di lingkungan dokter dapat terjadi pada saat proses pembuatan amalgam sampai pemaaian amalgam sebagai tumpatan gigi (Silalahi, 2002). 1. Toksik merkuri

Toksik merkuri berkaitan dengan afinitasnya untuk membentuk ikatn kovalen dengan gugus sulfhidril yang akan menganggu sistem enzim dalam organ. Keracunan merkuri terjadi karena terbentuknya senyawa yang mudah di serap yaitu merkuri yang teroksidasi atau terikat dengan sulfida. Merkuri dapat diabsorbsi oleh tubuh melalui tiga cara yaitu inhalasi, pencernaan, dan permukaan kulit. Inhlasi adalah jalur utama absorbsi persenyawaan merkuri yaitu sebesar 80% (Silalahi, 2002).

2. Toksisitas akut Lemah,mual, muntah, diare disertai lendir dan darah, sakit kepala, sukar berbicara dan menelan, kulit pucat dingin,iritasi membran mukosa bronkus, pneumonitis yang diikuti demam dan dispena, rasa sakit dan terbakar di kerongkongan dan perut, penyempitan lapangan pandang, serta berkurangnya pengeluaran air seni sampai berhenti sama sekali (Silalahi, 2002). 3. Toksisitas kronis Paparan yang terus menerus dengan merkuri akan menimbulkan tiga gejala berupa eretisme (keadaan sangat mudah terangsang), tremor, dan stomatitis. Gejala-gejala neurologis dan psikis merupakan gejala yang paling karakteristik. Gejala dini nonspesifik berupa anoreksia, penurunan berat badan, dan sakit kepala. Kemudian gejala ini diikuti gangguan-gangguan yang lebih karakteristik seperti iritabilitas meningkat,gangguan tidur,mudah terangsang, kecemasan,depresi,gangguan daya ingat, dan kehilangan

kepercayaan diri. Keracunan berat sering berakibat kelainan bicara terutama mengenai pengecapan (Silalahi, 2002). Sifat sifat Amalgam 1. Sifat Fisik Amalgam a) Creep ( Tekanan )

Creep adalah sifat viskoelastik yang menjelaskan perubahan dimensi secara bertahap yang terjadi ketika material diberi tekanan atau beban. Untuk tumpatan amalgam, tekanan menguyah yang berulang dapat menyebabkan creep. ANSI-ADA specification no.1 menganjurkan agar creep kurang dari 3%. Amalgam dengan kandungan tembaga tinggi mempunyai nilai creep yang jauh lebih rendah, beberapa bahkan kurang dari 0,1% (Anusavice, 2004). Tingkat creep terbukti mempunyai hubungan dengan kerusakan tepi dari amalgam tradisional yang kandungan tembaganya rendah, yaitu makin tinggi creep, semakin besar derajat kerusakan tepi. Tepi dari amalgam dengan tingkat creep tinggi tampak tercungkil cukup parah (Anusavice, 2004). b) Stabilitas Dimensional Idealnya amalgam harus mengeras tanpa perubahan dimensinya dan kemudian tetap stabil. Amalgam dapat memuai dan menyusut tergantung pada cara manipulasinya, idealnya perubahan dimensi kecil saja. Perubahan

dimensional dari amalgam bergantung pada seberapa banyak amalgam tertekan pada saat pengerasan dan kapan pengukuran dimulai. ADA menyebutkan bahwa amalgam dapat berkontraksi atau berekspansi lebih dari 20m / cm, diukur pada 30C, 5 menit dan 24 jam sesudah dimulainya triturasi dengan alat yang keakuratanya tidak sampai 0,5m. Ekspansi yang berlebihan juga dapat menimbulkan tekanan pada pulpa dan kepekaan pascaoperatif (Anusavice, 2004). Beberapa faktor penting yang mempengaruhi perubahan dimensi adalah : Komposisi alloy : semakin banyak jumlah silver dalam amalgam, maka akan lebih besar pula ekxpansi yang terjadi Rasio mercury (alloy) : makin banyak mercury, akan semakin besar tingkat ekspansinya. Ukuran partikel alloy : dengan berat yang sama, jika ukuran partikel menyusut, maka total area permukaan alloy akan meningkat. Waktu triturasi : merupakan faktor paling penting. Secara umum, semakin lama waktu triturasi, maka ekspansi akan lebih kecil.

Tekanan kondensasi : jika amalgam tidak mengalami kondensasi setelh triturasi, akan terjadi kontraksi dalam skala besar karena tidak tergantung difusi mercury ke alloy (Anusavice, 2004). c) Difusi Termal Difusi termal amalgam adalah 40 kali lebih besar dari dentin sedangkan koefisien ekspansi termalnya 3 kali lebih besar dari dentin yang mengakibatkan mikroleakage dan sekunder karies (Anusavice, 2004). d) Abrasi Proses abrasi yang terjadi saat mastikasi makanan, berefek pada hilangnya sebuah substansi / zat, biasa disebut wear. Mastikasi melibatkan pemberian tekanan pada tumpatan, yang mengakibatakan kerusakan dan terbentuknya pecahan / puing amalgam (Anusavice, 2004).

2. Sifat Kimia Amalgam a) Reaksi Elektrokimia Sel Galvanik Korosi galvanik atau bimetalik terjadi ketika kedua atau lebih logam berbeda atau alloy berkontak dengan larutan elektrolit, dalam hal ini adalah saliva. Besarnya arus galvanis dipengaruhi oleh lama / usia restorasi, perbedaan potensial korosi sebelum berkontak dan daerah permukaan ( Craig, 2002). Jarak yang cukup lebar / besar dihasilkan dan berkontak elektrik dari beberapa restorasi secara in vivo. Untuk restorasi amalgam amalgam, perbedaan potensial korosi sebelum berkontak mungkin akan berguna dalam memprediksi besarnya arus galvanis, yang mana paling tidak perbedaan keluar adalah 24 V ( Craig, 2002).

Hubungan lama restorasi dengan besar arus galvanis berbanding terbalik, artinya semakin lama usia restorasi amalgam dengan tumpatan lainnya, semakin kecil arus galvanis yang dihasilkan ( Craig, 2002). b) Korosi Korosi adalah reaksi elektrokimiawi yang akan menghasilkan degradasi struktur dan properti mekanis. Banyak korosi amalgam terjadi pada bagian pits dan cervical. Korosi dapat mengurangi kekuatan tumpatan sekitar 50%, serta memperpendek keawetan penggunaannya ( Craig, 2002). c) Tarnis Reaksi elektrokimia yang tidak larut, adherent, serta permukaan film yang terlihat dapat menyebabkan tarnish. Penyebab discoloration yang paling terkenal adalah campuran silver dan copper sulfida karena reaksi dengan sulfur dalam makanan dan minuman ( Craig, 2002). 3. Sifat Mekanik Amalgam a). Kekuatan Dental amalgam mempunyai berbagai macam struktur, dan kekuatan struktur tersebut tergantung dari sifat individu dan hubungannya antara satu struktur dengan struktur yang lainnya (Anusavice, 2004). Dental amalgam adalah material yang brittle / rapuh. kekuatan tensile amalgam lebih rendah dibanding kekuatan kompresif. kekuatan komperesif ini cukup baik untuk mempertahankan kekuatan amalgam, tetapi rendahnya kekuatan tensile yang memperbesar kemungkinan terjadinya fraktur / retakan (Anusavice, 2004). Faktor yang mempengaruhi kekuatan amalgam: Rasio mercury (Alloy) : jika mercury yang digunakan terlalu sedikit, maka partikel alloy tidak akan terbasahi secara sempurna sehingga bagian

restorasi alloy tidak akan bereaksi dengan mercury, menyisakan peningkatan lokal porositas dan membuat amalgam menjadi lebih rapuh

Ukuran dan Bentuk partikel : kekuatan amalgam diperoleh dengan ukuran partikel yang kecil, mendukung kecenderungan fine atau microfine particles. Porositas : sejumlah kecil porositas pada amalgam akan mempengaruhi kekuatan. Efek triturasi : efek ini tergantung pada jenis lugam campur amalgam, waktu triturasi, dan kecepatan amalgamator. Efek laju pengerasan amalgam : spesifikasi ADA menyebutkan kekuatan kompresif minimal adalah 80 Mpa pada 1 jam dari amalgam komposisi tunggal yang kandungan tembaganya tinggi sangatlah besar.

4. Sifat Biologi Amalgam a). Alergi secara khas respon alergi mewakili antigen dengan reaksi antibodi yang ditandai dengan rasa gatal, ruam, bersin, kesulitan bernapas, pembengkakan, dan gejal lain ( Craig, 2002). Dermaititis kontak atau reaksi hipersnsitif tipe 4 dari commbs mewakili efek samping fisiologis yang paling mungkin terjadi pada amalgam gigi, tetapi reaksi ini terjadi kurang dari 1% dari populasi yang dirawat ( Craig, 2002). b). Toksisitas sejak awal penggunaannya kemungkinan efek samping dari air raksa sudah mulai dipertanyakan. kadang - kadang masi ada dugaan bahwa keracunan air raksa dari tambalan gigi adalah penyebab dari penyakit - penyakit tertentu yang diagnosisnya tidak jelas dan ada bahaya bagi dokter gigi atau pasiennya. Ketika uap air raksa terhirup selama pengadukan, penempatan dan pembuangan. suatu analisis pada dentin dibawah tambalan amalgam mengungkapkan adanya air raksa yang turut berperan dalam perubahan warna gigi ( Craig, 2002).

Sejumlah air raksa dilepaskan pada saat pengunyahan tetapi kemungkinan keracunan dari air raksa yang menembus gigi atau sensititasi terhadap garam -garam air raksa yang larut dari permukaan amalgam jarang tejadi ( Craig, 2002). Jenis-jenis Amalgam Menurut Baum, dkk pada tahun 1997 jenis-jenis amalgam yaitu : 1. Amalgam klas II insipient Lesi insipien biasanya kecil dan terletak tepat di bawah titik kontak anatomik dari gigi. Pada gigi yang maposisi titik kontak yang sesungguhnya bisa berada dilain kontak, yang tentunya akan mengubah lokasi lesi. 2. Amalgam klas II yang diperluas Amalgam yang diperluas jelas lebih besar karena daerah-daerah dalam kavitas atau karies rekuren di sekitar tambalan lama. Ukuran resorasi yang diperluas tergantung pada situasi. Jika misalnya karies merunyak di bawah email sepanjang pinggir gingival, dasar gingiva harus diperluas kearah akar untuk menghilangkan email yang tidak mempunyai dukungan. Juga perluasan fasial dan lingual dari karies menentukan lebar preparasi kavitas. 3. Preparasi klas V amalgam Restorasi ini dibatasi oleh permukaan fasial dari molar dan premolar (kadangkadang meliputi permukaan lingual dari molar), dimaksud untuk menambal karies dan untuk menggantikan substansi gigi yang berpotensi karies didekat gingiva. Secara umum, ragangan kavitas klas v hanya meliputi email dan dentin. Suatu kesalahan yang umum terjadi adalh membatasi panjangnya kavitas dan mengakhiri tepi mesial dan distal ditengah-tengah email yang terdekalsifikasi. Reaksi Pengerasan Amalgam Reaksi pengerasan amalgam dimulai setelah alloy dan merkuri dicampur. Pencampuran ini menyebabkan lapisan luar partikel alloy larut

dalam merkuri dan membentuk dua fase baru yang solid pada temperatur kamar. Reaksinya adalah sebagai berikut:

Ag3Sn +

Hg

Ag3Sn + Ag2Hg3 + Sn(7-8)Hg + 1 + matriks 2

+ merkuri liquid

powder

alloy yang tidak bereaksi

Tidak semua partikel alloy akan larut dalam merkuri. Struktur bahan setelah reaksi pengerasan berupa struktur inti ( yang tidak bereaksi), 1 dan 2 yang secara mikroskopis membentuk suatu susunan jala yang tidak terputus-putus. Menurut ANSI/ADA specificatin no.1, kekerasan maksimal amalgam dicapai setelah 24 jam pengerasan. Reaksi pengerasan yang baik dengan pemampatan yang cukup akan mencegah terjadinya ekspansi maupun kontraksi yang tidak diinginkan. Ekspansi maupun kontraksi tersebut merupakan manifestasi dari perubahan dimensi. Pada high-copper amalgam, tembaga akan terdisitribusi secara merata. Peningkatan kandungan tembaga dalam alloy akan mempengaruhi reaksi pengerasan. Sehingga untuk amalgam tipe high copper terdapat reaksi sekunder yang berlangsung setelah reaksi pertama. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut: 2 + Ag-Cu Cu6Sn5 + 1

Setelah reaksi sekunder ini terjadi, amalgam tidak mengandung atau sedikit mengandung fase 2. Modifikasi reaksi pengerasan yang terjadi pada amalgam tipe high copper menghasilkan beberapa kelebihan, yaitu: a. Compressive strength lebih tinggi b. Final strength terjadi lebih cepat c. Meminimalisasi creep d. Meminimalisasi korosi

e. Hardness yang lebih tinggi Proses amalgamasi Amalgam merupakan kombinasi alloy dengan merkuri melalui suatu proses yang disebut amalgamasi atau triturasi. Campuran yang merupakan bahan plastis dimasukkan ke dalam kavitas dan bahan tersebut menjadi keras karena kristalisasi. Triturasi amalgam dapat dilakukan dengan cara manual dan masinal. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alu dan mortal. Homogenitas amalgam tergantung dari tekanan yang terjadi antara alu dan lumpang. Tekanan yang berbeda beda dari operator menyebabkan kekuatan amalgam yang berbeda homogenitasnya sehingga hasilnya kurang baik. Lain halnya dengan cara masinal yang tekanannya selalu sama sehingga menghasilkan amalgam yang homogen. Manipulasi Amalgam Manipulasi amalgam dapat melalui proses : 1. Proportioning Perbandingan antara alloy dan merkuri harus sesuai. Menggunakan perbandingan alloy dan mercury 5:7 atau 5:8. Kelebihan mercury mempermudah triturasi dan dapat diperoleh hasil campuran yang plastis Jika mercury yang digunakan terlalu sedikit, maka partikel alloy tidak akan terbasahi secara sempurna sehingga bagian restorasi alloy tidak akan bereaksi dengan mercury, menyisakan peningkatan lokal porositas dan membuat amalgam menjadi lebih rapuh. 2. Triturasi Pencapuran amalgam alloy dan merkuri dengan menggunakan

amalgamator selama waktu yang telah ditentukan. Proses triturasi dapat dilakukan dengan cara manual dan mekanis.

3. Kondensasi Teknik kondensasi yang baik akan memeras keluar merkuri dan menghasilkan fraksi volume dari fase matriks yang lebih kecil. Tekanan kondensasi yang tinggi diperlukan untuk mengurangi porositas dan mengeluarkan merkuri dari amalgam lathe- cut. Sebaliknya, amalgam sferis yang dimampatkan dengan tekanan ringan akan mempunyai kekuatan yang baik. 4. Trimming dan Carving Amalgam yang dibuat dari serbuk alloy yang kasar lebih sukar mengukirnya karena kepingan alloy yang agak besar dapat tertarik oleh instrument dari permukaan. Apabila dikehendaki pengukiran yang mudah, dapat menggunakan alloy spheris. 5. Polishing. Amalgam konvensional baru dapat dipoles palng cepat 24 jam setelah penambalan, yaitu setelah tambalan cukup kuat. Amalgam yang terbuat dari alloy kaya kuprum lebih cepat mendapatkan kekuatannya, disebutkan bahwa bahan ini dipoles tidak lama setelah penambalan.